• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Induksi Kuat dan Bentuk Induksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Prinsip Induksi Kuat dan Bentuk Induksi"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PRINSIP INDUKSI KUAT DAN BENTUK INDUKSI SECARA

UMUM

MAKALAH

Oleh:

Wahyu Dwi Lesmono

064112012

PROGRAM STUDI MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGENTAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PAKUAN

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat

dan keridhoan-Nya makalah ini dapat terselesaikan. Terima kasih saya ucapkan

kepada dosen pengajar untuk mata kuliah Matematika Diskrit, ibu Embay

Rohaeti, M.Si, yang selama ini telah banyak memberi arahan dan bimbingan

kepada saya.

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah

Matematika Diskrit dan membahas tentang prinsip induksi kuat dan bentuk

induksi secara umum berserta contoh soal dan penyelesaiannya.

Akhir kata, tiada gading yang tak retak. Sama halnya dengan makalah ini

yang masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu saya menerima dengan sepenuh

hati saran maupun kritik yang konstruktif agar kedepannya saya dapat

memperbaiki dan membuat makalah lain yang lebih baik.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bogor, 20 Oktober 2013

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 2

1.3 Ruang Lingkup ... 2

1.4 Manfaat ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Prinsip Induksi Kuat ... 3

2.2 Bentuk Induksi Secara Umum ... 4

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Contoh Soal dan Pembahasan Soal Prinsip Induksi Kuat ... 6

3.2 Contoh Soal dan Pembahasan Soal Bentuk Induksi Secara Umum .... 9

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 12

4.2 Saran ... 12

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu pola bilangan atau rumus matematika diperlukan pembuktian

berdasarkan definisi, teorema, maupun hukum-hukum yang sudah pernah

dibuktikan. Hampir semua rumus dan hukum yang berlaku tidak terbentuk begitu

saja sehingga diragukan kebenarannya. Ada banyak cara untuk membuktikan

suatu teorema dan kadang suatu teorema dapat dibuktikan dengan beberapa cara

yang berbeda, yaitu dengan metode pembuktian langsung dan metode pembuktian

tidak langsung. Saat akan membuktikan teorema terdapat banyak kesulitan, bagi

yang tidak terbiasa melakukan pembuktian maka kesulitan muncul pada langkah

pertama yaitu pada menentukan darimana pembuktian harus dimulai.

Teknik pembuktian yang baku dalam matematika pada bilangan bulat

adalah induksi matematika. Pembuktian dengan induksi matematika berguna

untuk mengurangi langkah-langkah pembuktian bahwa semua bilangan bulat

termasuk ke dalam suatu himpunan kebenaran dengan hanya sejumlah langkah

terbatas. Prinsip sederhana dalam membuktikan suatu pernyataan atau proposisi

dengan menggunakan teknik induksi matematika yaitu menunjukkan kebenaran

P(1) untuk n = 1 sebagai langkah dasar, menganggap untuk n = k, P(k) benar sebagai langkah induksi, dan harus ditunjukkan pula bahwaP(k + 1)adalah benar. Sehingga ketika langkah basis dan langkah induksi telah tertunjuk benar maka

kesimpulan dari pernyataan atau proposisi yang diberikan tersebut adalah benar.

Selain prinsip sederhana, untuk membuktikan suatu pernyataan P(n)

adalah benar pada semua bilangan bulatn lebih besar atau sama dengann0, dapat

menggunakan prinsip sederhana induksi matematika yang dirampatkan. Untuk

membuktikan pernyataan tersebut, hanya perlu menunjukkan bahwa P(n0) benar

dan jikaP(n)benar makaP(n + 1) benar untuk setiapn≥ n0, sehinggaP(n)benar

(5)

Pada pembuktian induksi matematika tingkat lanjut, diperlukan banyak

pengandaian agar tercapai sebuah bukti yang diinginkan sehingga induksi

matematika tidak dapat digunakan untuk menemukan rumus atau teorema tetapi

hanya sekedar untuk melakukan pembuktian.

1.2 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari induksi

matematika dengan menggunakan prinsip induksi kuat dan bentuk induksi umum.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup makalah ini dibatasi pada induksi kuat dan bentuk induksi

umum dengan beberapa pengantar mengenai teknik terurut dengan baik.

1.4 Manfaat

Manfaat yang diharapkan dalam makalah ini menjadi suatu pembelajaran

untuk memahami konsep penyelesaian dalam membuktikan suatu pernyataan

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prinsip Induksi Kuat

Menurut Rosen (2012), induksi matematika kuat merupakan teknik

pembuktian matematika yang serupa dengan induksi matematika biasa, yaitu

suatu teknik untuk menetapkan kebenaran dari urutan pernyataan tentang bilangan

bulat dan terdiri dari langkah basis, langkah induktif, dan kesimpulan. Oleh

karena itu, langkah basis boleh mengandung pembuktian untuk beberapa nilai

awal, dan pada langkah induktif kebenaran P(n) diasumsikan tidak hanya satu nilai n tapi untuk semua nilai menuju k, dan setelah itu kebenaran P(k + 1)

terbukti.

Misalkan P(n) merupakan suatu pernyataan yang didefinisikan untuk bilangan bulatn, dan misala danbmerupakan bilangan bulat tetap dengan ab. Anggap dua pernyataan berikut adalah benar:

1. P(a),P(a + 1), ..., danP(b)adalah benar (langkah basis)

2. Untuk setiap bilangan bulat kb, jika P(i) benar untuk semua bilangan bulatidariamenujuk, makaP(k + 1)adalah benar (langkah induktif)

Maka pernyataan untuk semua bilangan bulatna,P(n)adalah benar.

Anggapan bahwa P(i) adalah benar untuk semua bilangan bulat i dari a

menuju kdisebut hipotesis induksi. Cara lain untuk menyatakan hipotesis induksi adalah dengan menjelaskan bahwaP(a),P(a + 1), ...,P(k)semuanya benar.

(7)

hal ini, beberapa ahli matematika selalu menggunakan induksi kuat dibandingkan

induksi matematika, bahkan ketika pembuktian dengan induksi matematika

mudah untuk dicari.

Induksi matematika dengan induksi kuat adalah ekivalen. Artinya,

masing-masing dapat ditunjukkan menjadi teknik pembuktian yang sah. Secara khusus,

setiap pembuktian menggunakan induksi matematika juga dapat dianggap sebagai

pembuktian dengan induksi kuat karena hipotesis induksi pada induksi

matematika merupakan bagian dari hipotesis induksi pada induksi kuat. Artinya,

jika dapat menyelesaikan langkah induktif pada suatu pembuktian menggunakan

induksi matematika dengan menunjukkan bahwa P(k + 1) mengikuti dari P(k)

untuk setiap bilangan bulat positif k, maka mengikuti juga bahwa P(k + 1)

mengikuti dari semua pernyataanP(1), P(2), ..., P(k), karena hal ini diasumsikan bahwa tidak hanya P(k) benar, namun melainkan juga bahwa suatu k 1

pernyataan P(1), P(2), ..., P(k 1) adalah benar. Oleh karena itu, sangat aneh untuk mengubah suatu pembuktian dengan induksi kuat ke dalam suatu

pembuktian dengan prinsip induksi matematika.

Induksi kuat kadang disebut dengan prinsip kedua pada induksi

matematika atau induksi lengkap. Apabila terdapat istilah induksi lengkap, maka

terdapat pula induksi tidak lengkap yang kadang disebut dengan prinsip induksi

matematika.

2.3 Bentuk Induksi Secara Umum

Menurut Munir (2005), bentuk induksi secara umum adalah mungkin

membuat bentuk umum metode induksi sehingga dapat diterapkan tidak hanya

untuk pembuktian proposisi yang menyangkut himpunan bilangan bulat positif,

tetapi juga pembuktian yang menyangkut himpunan objek yang lebih umum.

Syaratnya, himpunan objek tersebut harus mempunyai keterurutan dan

mempunyai elemen kecil.

(8)

i. Diberikanx, y, zX, jikax < y, dany < z, makay > z.

ii. Diberikan x, yX. Salah satu dari kemungkinan ini benar: xy atau x

y ataux = y.

iii. Jika A adalah himpunan bagian tidak kosong dari X, terdapat elemen X

x sedemikian sehingga x ≤ y untuk semua yA. Dengan kata lain, setiap himpunan bagian kosong dariXmengandung “elemen terkecil”.

Himpunan bilangan real tak-negatif tidak terurut dengan baik oleh relasi

<”, himpunan semua bilangan real yang lebih besar dari 1, yaitu {x | x adalah bilangan real dan x > 1}, tidak mengandung elemen terkecil.

Himpunan pasangan terurut bilangan bulat tidak negatif terurut dengan

baik oleh relasi “<”, dengan kata lain “<” didefinisikan oleh (n1, n2) (n3< n4) jika

dan hanya jika (n1 < n2) atau (n1 = n3 dan n2 < n4). Properti (i), (ii), dan (iii)

dimiliki oleh himpunan ini.

Misalkan X merupakan sebuah himpunan terurut dengan baik oleh relasi “<” dan P(x) merupakan sebuah pernyataan mengenai suatu elemen x pada X. Untuk membuktikan bahwa P(x) adalah benar untuk semua xX , hal tersebut mencukupi untuk membuktikan dengan: (Anonim, 20/10/2013)

i. P(x0)adalah benar, denganx0merupakan elemen terkecil padaX.

ii. Untuk semua xX sedemikian sehingga x0 < x, jika P(y) adalah benar

untuk semuay < x, makaP(x)juga benar.

Jika X adalah suatu himpunan pada bilangan bulat yang lebih besar atau sama dengan untuk beberapa x0 dan “<” untuk relasi urutan biasa pada bilangan

(9)

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Contoh Soal dan Pembahasan Prinsip Induksi Kuat

Untuk memahami dengan baik prinsip induksi kuat, dapat diambil salah

satu contoh dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Salah satunya yaitu anak

tangga. Dalam prinsip induksi kuat dapat dijelaskan bahwa seseorang dapat

mencapai semua anak tangga apabila:

i. dapat mencapai anak tangga pertama, dan

ii. untuk bilangan bulatk, jika seseorang dapat mencapai semua anak tangga k

pertama, maka seseorang tersebut mencapai anak tangga ke-(k + 1)

Hal ini dapat dijelaskan bahwa P(n) merupakan pernyataan bahwa seseorang dapat mencapai anak tangga ke-n pada suatu tangga, dengan induksi matematika dapat diketahui bahwa P(n) adalah benar untuk semua bilangan bulat positif n, karena pernyataan (i) mengatakan bahwa P(1) adalah benar, maka langkah basis terselesaikan dan karena pernyataan (ii) mengatakan bahwa jika

P(k) ... P(2)

P(1)   maka P(k1), maka langkah induktif terselesaikan.

Berikut ini merupakan bentuk soal berserta pembahasan mengenai anak tangga

dengan menggunakan induksi kuat.

Contoh soal 1:

Anggaplah seseorang dapat mencapai anak tangga pertama dan kedua pada suatu

tangga tak terbatas, dan seseorang tersebut tahu bahwa jika seseorang dapat

mencapai suatu anak tangga, maka seseorang tersebut dapat mencapai dua anak

tangga selanjutnya. Dapatkah hal tersebut dibuktikan bahwa seseorang dapat

mencapai setiap anak tangga menggunakan prinsip induksi matematika? Dapatkah

hal tersebut dibuktikan bahwa seseorang dapat mencapai setiap anak tangga

(10)

Pembahasan soal 1:

Dengan menggunakan prinsip induksi matematika, maka langkah-langkah untuk

menghasilkan suatu pembuktian yaitu:

Langkah Basis: Seseorang dapat mencapai anak tangga pertama.

Langkah Induktif: Hipotesis induktifnya ialah sebuah pernyataan bahwa

seseorang dapat mencapai anak tangga ke-k pada sebuah tangga. Untuk melengkapi langkah induktif, diperlukan menunjukkan bahwa hal tersebut

diasumsikan pada hipotesis induktif untuk bilangan positif k, jika diasumsikan bahwa seseorang dapat mencapai anak tangga ke-k pada sebuah tangga, maka dapat ditunjukkan bahwa seseorang dapat mencapai anak tangga ke-(k + 1)pada sebuah tangga. Oleh karena itu, tidak ada langkah yang jelas untuk melengkapi

langkah induktif ini karena tidak diketahui dari informasi yang didapat bahwa

seseorang dapat mencapai anak tangga ke-(k + 1) dari anak tangga ke-k. Dalam hal ini, hanya dapat diketahui bahwa jika seseorang mencapai suatu anak tangga

seseorang dapat mencapai dua anak tangga lebih tinggi.

Dengan menggunakan prinsip induksi kuat, maka langkah-langkah untuk

menghasilkan suatu pembuktian yaitu:

Langkah Basis: Seseorang dapat mencapai anak tangga pertama.

Langkah Induktif: Hipotesis induktif menyatakan bahwa seseorang dapat

mencapai masing-masing k anak tangga pertama. Untuk menyelesaikan langkah induktif, perlu ditunjukkan bahwa jika hal tersebut diasumsikan bahwa hipotesis

induktif adalah benar, artinya jika seseorang dapat mencapai masing-masing k

anak tangga pertama, maka seseorang dapat mencapat anak tangga ke-(k + 1). Telah diketahui bahwa seseorang dapat mencapai anak tangga kedua. Hal tersebut

dapat melengkapi langkah induktif dengan mencatat bahwa sepanjang k ≥ 2, seseorang dapat mencapai anak tangga ke-(k + 1) dari anak tangga ke-(k 1)

(11)

tangga yang telah dicapainya, dan karena k 1 ≤ k, dengan hipotesis induktif seseorang dapat mencapai anak tangga ke-(k –1). Hal ini langkah induktif sudah lengkap dan pembuktian dengan prinsip induksi kuat terselesaikan.

Berikut ini adalah contoh soal pembuktian lainnya yang menggunakan

prinsip induksi kuat mengenai membuktikan suatu properti pada suatu barisan.

Contoh soal 2:

Didefinisikan sebuah barisan U0, U1, U2, .... dengan U0 = 0, U1 = 4,

2 -k 1 k

k 6U 5U

U    untuk semua bilangan bulat k ≥ 2. Untuk masing-masing

bilangan bulat n ≥ 0, suku ke-n dari barisan tersebut memiliki nilai yang sama dengan rumus5n–1. Dengan kata lain, dikatakan bahwa semua suku pada barisan itu memenuhi persamaanUn= 5n–1. Buktikan bahwa pernyataan tersebut benar!

Pembahasan soal 2:

Cara menggunakan prinsip induksi kuat untuk menunjukkan bahwa setiap suku

pada suatu barisan memenuhi persamaan tersebut, langkah basis harus

ditunjukkan bahwa suku kedua pertama memenuhi persamaan tersebut. Hal ini

sangat penting karena sesuai dengan definisi barisan bahwa untuk menghitung

suku selanjutnya diperlukan dua suku sebelumnya yang telah diketahui. Jadi, jika

langkah basis hanya menunjukkan suku pertama yang memenuhi persamaan

tersebut, maka tidak mungkin menggunakan langkah induktif untuk

menyimpulkan bahwa suku kedua memenuhi persamaan tersebut. Anggaplah

pada langkah induktif dipilih sembarang bilangan positif k ≥ 1, semua suku pada barisan dari U0 hingga Uk memenuhi persamaan yang diberikan dan selanjutnya

dapat disimpulkan bahwaUk + 1juga harus memenuhi persamaan tersebut.

Misalkan sebuah barisanU0,U1,U2, .... denganU0= 0,U1= 4,Uk6ak15k-2

untuk semua bilangan bulat k ≥ 2, dan misalkan sebuah properti P(n)merupakan suatu rumus Un = 5n 1. Dibuktikan untuk semua bilangan bulat positif n ≥ 0,

(12)

Langkah Basis: untuk membuktikan P(0) dan P(1), harus ditunjukkan bahwa

Langkah Induktif: Misalkan k merupakan bilangan bulat dengan k ≥ 1 dan anggap bahwa hipotesis induktifnya Ui5i1 untuk semua bilangan bulat i

Karena langkah basis dan langkah induktif telah dibuktikan dan menghasilkan

benar, dapat disimpulkan bahwa pernyataan yang diberikan tersebut adalah benar.

3.2. Contoh Soal dan Pembahasan Bentuk Induksi Umum

Berikut ini adalah contoh soal berserta pembahasannya mengenai teknik

(13)

Contoh soal 3:

Tinjau barisan bilangan yang didefinisikan sebagai berikut:

Buktikanlah dengan induksi matematika bahwa untuk pasangan tidak negatif m

dann, Sm,nmn.

(14)

n 1) (m

Sm1,n    sehingga Sm,nSm1,n1(m1)n1mn

Kasus 2: Jika n0, maka dari definisi Sm,nSm,n11. Karena (m,n-1)(m,n),

maka dari hipotesis induksi,

1) (n m

Sm,n1   sehingga Sm,nSm,n11m(n1)1mn

Karena langkah basis dan langkah induktif sudah diperlihatkan benar, maka

(15)

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Penggunaan teknik pembuktian dengan prinsip induksi kuat lebih luas

pengandaiannya dibandingkan teknik pembuktian dengan induksi matematika.

Prinsip induksi kuat digunakan ketika ada suatu pernyataan yang tidak bisa

diselesaikan dengan pembuktian induksi matematika. Walaupun prinsip induksi

kuat sama dengan induksi matematika, namun prinsip induksi kuat lebih fleksibel

teknik pembuktiannya karena lebih banyak dan luas pengandaiannya. Oleh karena

itu, prinsip induksi kuat sering digunakan untuk membuktikan suatu hasil bukti

dari suatu pernyataan.

Prinsip bentuk induksi secara umum identik dengan prinsip induksi kuat.

Bentuk induksi secara umum digunakan ketika membuktikan suatu pernyataan

atau proposisi yang menyangkut himpunan bilangan bulat positif dan

menyangkut himpunan objek yang lebih umum dengan syarat himpunan objek

tersebut harus mempunyai keterurutan dan mempunyai elemen kecil.

4.2 Saran

Cara memahami kasus maupun soal pada suatu pernyataan yang harus

dibuktikan, diperlukan analisis, penguasaan, dan pemahaman pada pernyataan

yang diberikan agar dapat dibuktikan dengan teknik prinsip induksi kuat dan

prinsip bentuk induksi secara umum. Namun, untuk menguasai teknik prinsip

induksi kuat dan prinsip bentuk induksi secara umum diperlukan penguasaan dan

pemahaman pada induksi matematika yang sederhana dan dirampatkan karena

kedua teknik tersebut merupakan dasar-dasar dalam membuktikan suatu

pernyataan yang ingin dibuktikan kebenarannya. Apabila hal tersebut telah

dikuasai, maka pembuktian suatu pernyataan yang rumit dapat dibuktikan

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013.IV.7. www.dartmouth.edu [20/10/2013]

Munir, R. 2005. Buku Teks Ilmu Komputer Matematika Diskrit. Edisi Ke-3. Bandung: Penerbit Informatika Bandung.

Rosen, KH. 2012. Discrete Mathematics and Its Applications. Edisi ke-7. New York: Mc.Graw-Hill.

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 1.11 Kalkulator.. Bagaimana kamu dapat menuliskan sebuah bilangan dalam bentuk notasi ilmiah?. 2. Coba kamu buat penelitian secara mandiri seperti pada Kegiatan 1.10,

Penelitian ini membahas salah satu aplikasi dari bilangan Catalan yaitu ketika menghitung banyaknya cara yang dapat dilakukan oleh seseorang dalam memilih rute perjalanan

Pada pembagian bentuk aljabar, jika pembagi merupakan suku satu maka hasil pembagian dapat ditentukan dengan cara seperti pembagian pada bilangan bulat, tetapi jika pembagi lebih

Dari batasan batasan itu maka dapat diperoleh batasan-batasan nilai penyelesaian seperti pada garis bilangan di bawah ini.. Dengan garis bilangan tersebut maka pengerjaanya

Dalam operasi aljabar pada bilangan pecahan, pecahan yang penyebutnya mengandung bentuk akar dapat diubah atau disederhanakan dengan merasionalkan penyebut berbentuk akar, dengan cara

Bilangan terhubung pelangi pada graf merupakan sebuah bilangan bulat positif, dengan pewarnaan sisi : ( ) → {1,2, … , }, sehingga dua sisi yang bertetangga dapat memiliki

GGL induksi pada dinamo dapat diperbesar dengan cara putaran roda dipercepat, menggunakan magnet yang kuat (besar), jumlah lilitan diperbanyak, dan menggunakan inti besi lunak di

Untuk itu, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H1: Variabel kemenarikan desain berpengaruh positif pada minat beli seseorang berbelanja di situs Bukalapak H2: