• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM DAN KEHAKIMAN DALAM AL QURAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUKUM DAN KEHAKIMAN DALAM AL QURAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

A. Pendahuluan.

Penggunaan kata mempunyai empat makna, yaitu :

!"#

“makna yang pertama al-hukm berarti menetapkan sesuatu terhadap sesuatu. Pengertian ini berasal dari kalangan ahli manthiq, seperti engkau mengatakan, Zaid adalah seorang yang alim, maka yang engkau maksud adalah menetapkan kata berilmu kepada si Zaid”.

2 .

“Makna yang kedua, adalah hukum-hukum yang ditetapkan oleh hakim, inilah pengertian hukum secara hakiki”.

? .

adalah nash yang bersumber dari Syari’. Ini pengertian menurut ahli Ushul”. seterusnya yang menunjukkan hukum syar’I”

(2)

Berdasarkan keempat pandangan para ahli ini dapat dinyatakan

bahwa kata hukum mempunyai makna yang berbeda sesuai dengan

disiplin ilmu ahli yang mendefenisikannya.

Abdul Wahab Khalaf (seorang ahli ushul fikih) memformulasikan

bahwa hukum adalah :

U

/V

/:>

% (

4 K W

XF4

-YO%3N

Z

9 :;

/:>

@ AB

H4

[" \

+*J

<L":

] 8\#

-^Q=_

-^ `

a

“Pengarang menjelaskan pengertian al- hukm menurut Jumhur

sebagaimana yang dimaksud oleh al- Amidy, bahwa pengertian hukum

secara terminologi adalah, khitab (titah) Allah yang berhubungan

dengan perbuatan mukallaf yang berbentuk tuntutan atau kebolehan

memilih (antara mengerjakan atau meninggalkan), atau berupa

ketetapan”.

Yang menjadi kata kunci pada terminologi hukum syar’I di atas

adalah bahwa hukum itu sebagai khitab (titah) Allah.

Sebagai sumber utama dari hukum Islam adalah syari'ah,

karena syariah tersebut merupakan khitabullah yang berisikan

teks-teks suci dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad

SAW melalui Jibril, sebagaimana pengertian syari'ah yang

(3)

diungkapkan oleh Fathi al-Dhurainy (guru besar Fakultas Syari'ah

Univesitas Damaskus) berikut :

!" #

$%

$ &

4

Seorang ahli hukum Islam dari kalangan orientalis, Noel J.

Coulson, menyimpulkan, bahwa hukum adalah (the principle that God

was the only lawgiver and that his command was not ekpressed in the

form of complete or comprehensive charter for the Muslim community).

“Prinsip bahwa Tuhan adalah satu-satunya pembentuk hukum dan

bahwa semua perintah-Nya harus dijadikan kendali utama dan

segenap aspek kehidupan (masyarakat muslim) sudahlah mapan5.

Namun, tidak mudah mengeluarkan suatu hukum dari

khitabullah tersebut. Untuk mengeluarkan suatu hukum dari

khitabullah mesti dengan menguasai metodenya. Dalam istilah hukum

Islam dikenal dengan metode istinbath hukum. Makalah akan

membahas tentang hukum dan kehakiman dalam al- Quran, yang

meliputi tentang hukum dalam al- Quran, perhatian al-Quran tentang

hukum, jumlah ayat-ayat hukum, qath'I dan zhanny dalam al- Quran,

kaedah penggalian hukum dan keadilan dalam al-Quran.

B. Hukum dalam Al-Quran.

4 Fathi al- Dhurainy, Fiqh al- Islamy al-Muqaran Ma'a al- Mazahib, (Damaskus: Thab'ah Thariyin, 1399H/ 1979), h. 4

5 Kutipan Prof. Dr. Drs, KH. Muhammad Amin Suma, MA, SH, dari Noel J. Coulson, A

(4)

Kandungan al-Quran secara umum meliputi enam hal, yaitu : 1. Pokok-pokok Aqidah, yaitu rukun iman sebagai batas antara keimanan dan kekafiran. 2. Akhlak yang mulia maupun yang tercela sebagai pedoman seorang muslim untuk menghiasi diri dengan kemultaan akhlak dan menghindari semua yang tercela dalam kehidupannya. 3. Anjuran untuk merenungkan kebesaran Allah pada semua makhluk ciptaan-Nya yang ada di langit dan di bumi. 4. Kisah-kisah umat terdahulu sebagai pelajaran bagi siapa saja yang membacanya. Juga kisah-kisah tentang kejadian yang akan datang sebagai bukti atau mukjizat dari Allah; seperti kemenangan dan kekalahan bangsa Romawi6. 5.Peringatan dan kabar gembira sebagai metode dakwah al-Quran. 6. Hukum-hukum syari‘iy.7

Enam poin diatas adalah kandungan umum al- Quran yang tentu saja semuanya masih bisa dijabarkan lebih lanjut dalam disiplin ilmu masing-masing. Tema al-Quran yang sangat luas ini tentu tidak akan cukup untuk dibahas hanya dengan sebuah tulisan yang singkat; walaupun itu kita batasi dalam kapasitasnya sebagai sumber hukum. Oleh karena itu, penulis hanya akan mengambil dua hal yang berimplikasi terhadap penggalian hukum syar‘iy; yaitu bahasa Arab dan Qirâ’ât.

Al- quran menaruh perhatian yang sangat besar terhadap

hukum, hal ini dapat dibuktikan dengan hal-hal berikut :

1. Al- Quran sendiri menjuluki dirinya dengan hukum, seperti Firman

Allah dalam surat Al- Ra'd ayat 37:

6

Muhammad Abd. al-‘Adzîm al-Zarqâniy, Manâhilu al-‘Irfan fî ‘ulûmi al-Qur’ân, juz 2, (Beirut, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 1988), hal. 409

7

(5)

!

"Dan demikianlah telah Kami tidak menurunkan al-Quran sebagai peraturan dalam Bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah dating pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak akan ada perlindungan dan pemelihara bagi kamu terhadap Allah".

2. Surat dan ayat terpanjang al-Quran dalah surat dan ayat hukum,

yaitu firman Allah dalam surat al- Baqarah ayat 282:

(6)

kepada tidak menimbulkan keraguan. Kecuali jika perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, jika kamu menuliskannya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan, jika kamu lakukan yang demikian maka sesunguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu".

3. Dalam al- Quran terdapat puluhan bahkan ratusan ayat tentang perintah berlaku adil dan larangan bertindak zhalim.

Perintah berlaku adil dan larangan berbuat zhalim dapat dipahami dari kenyataan bahwa di dalam al- Quran dijumpai sekitar:

A. 29 kali kata al- 'adl dan serumpun dengannya, yang berarti adil atau keadilan.

B. 27 kali kata al-qisth dalam berbagai bentuknya, yang juga berarti adil.

C. 299 kali kata zhulm dan yang serumpun, yang pada dasarnya melarang berbuat aniaya;

D. 20 kali kata i'tada, yang maksudnya mencegah bertindak melampaui batas;

E. 20 kali kata 'udwan yang pada intinya melarang sikap bermusuhan.8

b. Pembagian Hukum

Al-Quran mencakup semua hukum syari’ah baik secara global ataupun terperinci. Hukum-hukum ini dapat kita bagi sebagai berikut:

1. Hukum-hukum ketauhidan: berhubugan dengan keyakinan seseorang terhadap hal-hal ghaib sesuai dengan ajaran Islam.

2. Hukum-hukum akhlak: berkaitan dengan etika dan moral.

(7)

3. Hukum-hukum ‘amaliyah (fikih): berkaitan dengan perkataan dan perbuatan seseorang.

Selanjutnya, hukum-hukum ‘amaliyah dibagi lagi menjadi dua:

1. Ibadah: mengatur hubungan seseorang dengan Tuhannya. Banyak dari ayat-ayatnya disebutkan terperinci karena sebagian besar bersifat

ta‘abbudy tanpa alasan logis yang mendasarinya dan tidak berubah-ubah sesuai dengan lingkungan.

2. Muamalat: mengatur hubungan antara individu dengan individu lain atau dengan masyarakat. Kebanyakan ayat-ayatnya disebutkan secara global karena hukum-hukum ini berubah-ubah sesuai dengan lingkungan dan maslahatnya.

Dalam istilah hukum konvensional, hukum-hukum ini kita kenal dengan:

a. Hukum-hukum perdata. Kurang lebih ada sekitar 70 ayat dalam al-Quran. b. Hukum-hukum sipil kurang lebih ada sekitar 70 ayat.

c. Hukum-hukum pidana. Kurang lebih ada sekitar 30 ayat.d. Hukum-hukum acara. Kurang lebih ada sekitar 13 ayat.

e. Hukum-hukum/ konstitusi dasar. Kurang lebih ada sekitar 10 ayat.

f. Hukum-hukum internasional. Kurang lebih ada sekitar 25 ayat.g. Hukum-hukum ekonomi dan finansial. Kurang lebih ada sekitar 10 ayat.9

d.JUMLAH AYAT HUKUM

Muhammad Amin Suma berpendapat bahwa jumlah ayat-ayat hukum dalam al-Quran sangat relative sekali tergantung dari cara ulama tafsir menghitungnya dan memberikan kategorinya.

Perbedaan pendapat tentang jumlah ayat hukum diawali dengan cara pandang ulama terhadap suatu ayat. Misalnya ayat-ayat yang sepertinya

(8)

berbicara tentang akhlak atau adab. Tetapi bisa termasuk kepada ayat hukum. Misalnya Firman Allah :

8' '

J

, 1 '

%,

K F

, 1 ' 1

4 ' '

L 0

' - ,

*1'

; =

' , 1 '

K F

' 1 ' 1

*1' '

M'/ 1 '

3

' ' , 1

8 B

4 /

10

"Dan janganlah kamu berjalan (berlalu lintas11) dimuka bumi ini

dengan sombong, karena sekali-kali kamu tidak akan pernah dapat

menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi

gunung."

c. Qath‘iy dan Zhanniy Dalam Al- Quran.

Tentang qhat'I dan zhanny dalam al-Quran, menurut penulis hal ini sampai sekarang masih relative. Suatu ayat yang menurut ulama adalah qhat'I yang tidak lagi merupakan lahan ijtihad. Tetapi bagi ulama lain masih bersifat zhanny sehingga menjadi lahan untuk ijtihad.

Misalnya ayat kewarisan,

Bila dipandang dari riwayat dan tsubûtnya al-Quran adalah qath‘iy al-tsubût. Karena al-Quran diriwayatkan secara mutawatir dan semua yang mutawatir adalah qath‘iy al-tsubût.12

Apabila dipandang dari dilâlah-nya maka al-Quran terbagi menjadi dua; qath‘iy al-dilâlah dan dhanniy al-dilâlah. Yang dimaksud dengan qath‘iy al-dilâlah adalah dilâlah suatu ayat yang tidak memiliki makna lain. Jadi makna yang dimaksud sudah jelas. Contohnya seperti:

13

O'

!

'

*/$

- '

*1/ '

1 '

*01,

1 /

/3

' 1 '

(

L'' '

'

/N1 ,

1 / ' '

10 QS. Al- Isra' - 37

11 Kata berlalu lintas ini adalah terjemahan dari Amin Suma Lihat. Moh. Amin Suma,

Pengantar Tafsir Ahkam, Ibid., h. 44 12

!""#$ %

(9)

Kata nishf disini tidak memiliki makna lain selain seperdua sehingga makna yang dimaksud sudah jelas yaitu seperdua dari harta warisan bagi suami yang ditinggalkan isterinya. Jadi disini al-Quran adalah qath‘iy al-tsubût

sekaligus qath‘iy al-dilâlah

Sedangkan dhanniy al-dilâlah adalah dilâlah suatu ayat yang memiliki lebih dari satu makna tanpa penekanan pada salah satu maknanya. Disini ulama dituntut berijtihad untuk menjelaskan makna yang dimaksud. Oleh karena itu keahlian seorang mujtahid menguasai bahasa Arab sangat dibutuhkan. Contoh dhanniy al-dilâlah al-Quran seperti:

“dan wanita yang diceraikan oleh suaminya menunggu 3 kali quru’14 Kata quru ’ dalam bahasa Arab memiliki dua makna, yaitu bersih dari haidl dan haidl itu sendiri. Salah satu dari dua makna ini tidak ditekankan dalam ayat tersebut sehingga berimplikasi pada pendapat ulama mengenai ‘iddah wanita yang dicerai. Maka disini al-Quran tetap qath‘iy al-tsubût tapi

dhanniy al-dilâlah. Artinya, dasar hukum yang diambil dari ayat tersebut tidak pasti meskipun ia benar-benar dari al-Quran.

Untuk pembahasan lebih mendalam mengenai qath‘iy al-dilâlah atau dhanniy al-dilâlah, bisa merujuk kitab-kitab ushul fikih pada bab al-dilâlah.

d. Kaedah Penggalian Hukumnya

Sebagai bahasa pengantar, sebenarnya bahasa Arab masih sangat terbatas untuk menerjemahkan kalam ilahiy yang maha luas. Karena sebuah bahasa adalah bagian dari budaya manusia yang sudah tentu bersifat terbatas. Oleh karena itu, kita tidak bisa terpaku hanya pada teks al-Quran. Seorang mujtahid harus menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan erat dengan al-Quran guna memahami makna di balik teks tersebut. Tanpa memperhatikan

(10)

hal ini, mujtahid akan terjebak pada pemahaman yang kaku terhadap teks al-Quran. Untuk itu, para ulama menambahkan beberapa kaedah penggalian hukum dari al-Quran yang harus diperhatikan, selain dari syarat-syarat mujtahid:

1. Menjadikan al-Quran sebagai rujukan utama dalam mencari dalil dan menggali hukum. Lalu al-Sunnah sebagai pendamping untuk menjelaskan maksudnya.

2. al-Quran mencakup semua hukum syariah secara global atau terperinci.

3. Mengetahui sebab turunnya (asbâb al-nuzûl) suatu ayat. Karena dengan mengetahui sebab turunnya ayat kita dapat mengerti alasan dan maksud diturunkannya ayat tersebut. 15

Dalam al-Muwâfaqât al-Syathibiy mencontohkannya dengan jawaban Ibnu Abbas atas kesalahpahaman Marwan terhadap ayat 188 surat Al Imran:

8'

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka mereka terlepas dari siksa..”

Marwan mengira, seseorang akan diazab karena senang apabila diberi dan dipuji atas apa yang belum kita lakukan. Ibnu Abbas menyangkal ini dan mengatakan, ayat ini diturunkan pada orang-orang Yahudi ketika Nabi bertanya tentang sesuatu, tapi mereka menutup-nutupinya dengan jawaban tentang sesuatu yang lain. Mereka senang dipuji atas jawaban yang belum

(11)

mereka berikan juga senang dengan pemberian (ilmu dari Allah) yang mereka sembunyikan.16 Dengan mengetahui ini kita juga akan memahami konteks suatu ayat diturunkan. Sehingga penerapan sebuah hukum dari al-Quran tidak terkesan kaku dan tekstual.Pengetahuan tersebut di antaranya :

1. Mengetahui adat istiadat dan kebiasaan orang Arab. Tanpa mengetahui ini seorang mujtahid bisa mengalami kesulitan dalam memahami ayat. Contohnya:

(

) , ' '

R-' 1

H /

' '

1 1

'

S

,

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah...”17

Digunakan kata “sempurnakan” karena orang Arab jahiliyah juga melaksanakn haji dan umrah.

2. Setiap pernyataan yang disebutkan dalam al-Quran lalu disebutkan juga sanggahannya maka sanggahan ini adalah dalil mutlak atas kesalahan pernyataan pertama. Contohnya:

“...dikala mereka berkata:"Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada

manusia".” (QS. al-An‘âm).

Diikuti dengan:

“Katakanlah:"Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa

oleh Musa...” (QS. al-An‘âm).

Namun bila tidak terdapat sanggahan dalam al-Quran maka pernyataan tersebut adalah benar. Atas dasar ini, sebagian ulama mengatakan, syariat sebelum Islam yang disebutkan dalam al-Quran tanpa ada sanggahannya, menjadi syariat kita juga. Sebagian lainnya mengatakan,

16

Ibrahîm bin Mûsâ al-Syâthibiy, al-Muwâfaqât fî Ushûli al-Syarî‘ah, Dâr Kitâb al-‘Arabiy, Beirut, cet. I, 2002, hal. 627

(12)

meski syariat ini benar (tidak disanggah) tetapi tetap mansûkh digantikan oleh syariat Islam.

3. Mengetahui nâsikh dan mansûkh al-Quran.

Metode dakwah yang dipakai islam adalah metode tadrîjiy (bertahap). Oleh karena itu pada awalnya Islam masih memandang hal-hal yang bertentangan dengan syariah boleh untuk dilakukan. Namun pada akhirnya nanti ketika umat sudah mulai matang, secara bertahap semua itu menjadi terlarang (mansûkh) dan hukum yang sebelumnya (boleh dilakukan) menjadi tidak berlaku. Maka dengan mengetahui nasîkh dan mansûkh al-Quran kita akan mampu untuk membedakan mana ayat yang masih berlaku hukumnya dan mana yang tidak.

E. KLASIFIKASI AYAT-AYAT HUKUM DALAM AL-QURAN.

Ayat- ayat hukum dalam al-Quran terbagi kepada 2, yaitu ayat-ayat hukum Pidana dan ayat-ayat hukum perdata. Berikut ini akan penulis tampilkan klasifikasi tersebut.

1. Hukum Pidana

Sanksi-sanksi

• Macam-macam hukuman

o Hudud (hukuman yang telah ditentukan): 2:178, 5:45

Kejahatan murtad (keluar agama)

• Yang dianggap murtad o Mencaci Nabi: 9:12

o Memaksa untuk murtad: 16:106 • Sanksi murtad

o Hukuman murtad di akhirat: 2:217

Kejahatan membunuh

• Hukum membunuh

o Kekejian membunuh: 17:33

o Membunuh adalah dosa besar: 2:84, 4:29, 4:30, 4:92, 4:93,

(13)

o Ancaman terhadap pembunuhan: 2:85, 4:92, 4:93, 5:32 o Membunuh diharamkan

Membunuh anak: 6:137, 6:140, 6:151, 16:58, 16:59, 25:68, 60:12, 81:8, 81:9

Orang yang pertama membunuh: 5:27, 5:28, 5:29, 5:30

• Jenis-jenis pembunuhan

o Pembunuhan dengan sengaja: 2:178, 4:93 o Pembunuhan tidak sengaja: 4:92

• Sanksi membunuh

o Kisas (hukuman balasan)

Diwajibkannya kisas: 2:178, 2:179, 5:45, 6:151, 17:33 Hikmah pelaksanaan kisas: 2:179

Kisas di kalangan Bani Israel: 5:45 Memaafkan kisas: 2:178, 5:45 Pilihan dalam kisas: 2:178

Kisas antara laki-laki dan wanita: 2:178

Membunuh hamba dibalas dengan hamba: 2:178 Wali si mayit yang menentukan kisas: 5:45, 17:33 Menuntut kisas dengan cara yang tidak benar: 6:151, 17:33, 25:68

o Diat (denda) pembunuhan

Diwajibakannya diat: 2:178, 4:92

Membunuh setelah menerima diat: 2:178

o Kafarat membunuh: 4:92

o Penyesalan si pembunuh dan taubatnya: 4:92

Kejahatan selain membunuh

• Sanksi melukai orang lain

o Kisas bagi yang melukai orang lain: 5:45 o Gugurnya hukuman melukai orang lain: 5:45

Kejahatan berzina

• Hukum berzina

o Kekejian berzina: 4:24, 4:25, 5:5, 17:32, 19:28, 23:7, 70:31 o Keutamaan meninggalkan hal-hal yang keji: 4:31, 17:32, 23:5,

23:10, 23:11, 42:37, 53:32, 70:29, 70:30, 70:31

o Dipaksa berbuat zina: 24:33 o Zina anggota badan: 24:30, 24:31 • Penetapan berzina

o Kesaksian atas zina: 4:15, 24:4, 24:13 • Sanksi berzina

o Mendera pelaku zina

(14)

Mendera perawan pelaku zina: 24:2

Mendera hamba wanita pelaku zina: 24:25 Cara-cara mendera pelaku zina: 24:2

Kejahatan menuduh orang lain berbuat zina

• Hukum menuduh orang lain berbuat zina

o Menuduh berzina adalah dosa besar: 24:4, 24:23 • Sanksi menuduh orang lain berbuat zina

o Mendera orang yang menuduh berzina: 24:4 o Kesaksian penuduh zina tidak diterima: 24:4

o Penuduh zina yang menyesal dan menarik kembali tuduhannya:

24:5

Kejahatan mencuri

• Sanksi mencuri

o Pemotongan tangan pencuri

Hukum memotong tangan pencuri: 5:38

Kejahatan begal-rampok

• Hukum begal dan perampokan

o Taubatnya perampok dan pembegal: 5:34 • Sanksi perampok dan pembegal: 5:33

Kejahatan menentang penguasa

• Sanksi penentang

o Memerangi penentang: 49:9 18

2. Hukum Perdata.

• Anak-anak

• Mengandung

o Pembentukan janin: 3:6, 7:189, 22:5, 23:12, 23:13, 23:14, 32:8, 32:9, 35:11, 36:77, 39:6, 53:46, 70:39, 71:14, 75:37, 75:38, 76:2, 77:20, 77:21

o Waktu yang paling singkat untuk mengandung: 31:14, 46:15 • Kelahiran

o Memohon anak: 3:38, 18:46, 19:3, 19:4, 19:5, 19:6, 37:100 o Pemberian nama: 3:36

18

(15)

o Membunuh anak: 6:137, 6:140, 6:151, 16:58, 16:59, 25:68, 60:12, 81:8, 81:9

o Anak mengikuti agama ayahnya: 71:27 • Nasab (keturunan)

o Mengikuti nasab ayah: 33:5

o Menasabkan anak kepada selain ayahnya: 33:4, 33:5 o Anak angkat: 33:4, 33:5, 33:37

o Memasukkan anak orang lain kepada suami: 60:12 o Menetapkan keibuan: 58:2

• Penyusuan

o Waktu menyusui yang menyebabkan muhrim: 2:233, 46:15 o Mengambil upah dengan cara menyusui: 2:233, 65:6 • Merawat anak

o Orang yang berhak merawat anak: 3:37, 3:44 o Kasih sayang ibu: 28:10, 28:13

o Ibu lebih berhak merawat anak: 2:233 • Nafkah untuk keluarga

o Perintah memberi nafkah keluarga: 2:177, 2:215, 17:26

o Orang yang paling berhak diberi nafkah: 2:177, 2:215, 2:233, 2:273, 4:8, 4:36, 17:26, 24:22

o Sederhana dalam memberi nafkah: 2:233, 17:29, 25:67, 65:6, 65:7 • Pendidikan anak

o Cinta orang tua kepada anak: 12:13, 12:64, 12:66, 12:67, 12:84, 12:85 o Anak sebagai fitnah (cobaan): 3:14, 8:28, 9:85, 18:46, 63:9, 64:15 o Mendoakan anak dengan keberkahan: 19:6, 25:74, 46:15

o Bebaikan orang tua bermanfaat untuk anaknya: 18:82 o Berlaku adil di antara anak-anak: 12:8

o Nasehat orang tua untuk anaknya: 2:132, 2:133, 11:42, 11:43, 12:5, 12:67, 12:87, 31:13, 31:16, 31:17, 31:18, 31:19

o Memerintahkan anak untuk selalu berbuat baik: 31:13, 31:17, 31:18, 31:19

o Pengajaran anak

Mengajarkan anak berdikari: 21:78, 21:79

Mengajarkan anak beribadat: 2:132, 2:133, 31:17, 66:6 • Anak yatim

o Keutamaan memelihara anak yatim: 4:36, 89:17, 93:9 o Makan harta anak yatim

Hukum memakan harta anak yatim dan sanksinya: 4:2, 4:6, 4:10, 107:2

Wali memakan harta anak yatim dengan cara yang benar: 4:6, 6:152, 17:34

o Memelihara anak yatim

Makan bersama-sama anak yatim: 2:220 Mengembalikan harta anak yatim: 4:6, 6:152

(16)

o Berakhirnya masa keyatiman: 4:6, 6:152 • Kewajiban anak-anak terhadap orang tua

o Taat kepada orang tua: 9:23, 17:23, 17:24, 29:8, 31:15, 37:102 o Berbakti kepada orang tua: 2:83, 4:36, 6:151, 12:99, 12:100, 17:23,

17:24, 19:14, 19:32, 29:8, 31:14, 46:15

o Memberi nafkah kedua orang tua: 2:215, 30:38

o Nasihat anak kepada orang tua: 19:42, 19:43, 19:44, 19:45

o Doa untuk orang tua: 14:41, 17:23, 17:24, 19:47, 26:86, 31:14, 71:28 o Memelihara orang tua: 17:23, 17:24, 29:8, 31:14, 31:15, 46:15

• Perkawinan

• Perintah nikah: 4:3, 24:32, 30:21

• Perkawinan merupakan sunnahnya para rasul: 13:38 • Wanita-wanita yang diharamkan menikahinya

o Haram menikahi isteri-isteri Nabi: 33:6, 33:53

o Wanita-wanita yang diharamkan mengawininya karena nasab Yang diharamkan atas wanita karena nasab: 4:23 Menghimpun dua saudara (kakak-beradik): 4:23 o Wanita yang diharamkan kawin karena satu susuan: 4:23 o Wanita yang diharamkan kawin karena akad nikah

Yang diharamkan atas wanita sebab pernikahan: 4:23 Haram menikahi anak tiri: 4:23

Haram menikahi ibu tiri: 4:22 o Kawin lebih dari empat

Nabi kawin lebih dari empat: 33:50 o Menikahi selain wanita muslimah

Kawin dengan perempuan ahli kitab: 5:5

Kawin dengan perempuan musyrik: 2:221, 60:10

Kawin dengan perempuan kafir yang memeluk Islam: 2:221 o Muhrim

Muhrim perempuan: 24:31, 33:55 Muhrim melihat perhiasan wanita: 33:55

o Kawin dengan wanita yang sedang dalam masa 'iddah: 2:235 o Kawin dengan wanita yang bersuami: 4:24, 4:25

• Pertunangan

o Disyariatkannya pertunangan: 2:235 o Apa yang dibolehkan bagi pihak laki-laki

Memilih wanita

Kebebasan memilih wanita: 2:240

Cara terbaik memilih wanita: 4:25, 24:3, 25:74 Hukum menikahi perawan: 66:5

(17)

Memilih wanita yang shaleh: 4:34, 24:26, 25:74, 66:5 Hukum menikahi hamba wanita: 4:25, 24:32

Melihat wanita: 24:30

Hukum wanita melihat laki-laki: 24:31 o Memperlihatkan wanita kepada peminang: 28:27 o Hukum nikah: 24:32

o Hukum nikah muhallil: 2:230 • Akad nikah

o Syarat-syarat akad nikah

Perwalian dalam akad nikah

Syarat adanya wali dalam akad nikah: 2:232 Wali kafir atas wanita muslimah: 60:10 Menolaknya wali: 2:232, 4:127

Syarat adanya mahar (mas kawin) dalam nikah Mahar merupakan hak isteri

Perkawinan tanpa mahar: 4:4, 4:20, 4:21, 4:24, 4:25, 5:5, 60:10

Batas mahar: 2:236, 4:4

Sederhana dalam menetapkan mahar: 4:20 Pembebasan suami dari mahar: 4:25 Menahan mahar dari isteri: 2:237, 4:4

Yang boleh dijadikan mahar: 2:229, 4:4, 4:20, 4:21 Menjadikan manfaat sebagai mahar: 28:27 Sebab wajibnya mahar: 4:21, 4:24

• Kewajiban suami isteri

o Kewajiban isteri terhadap suami

Ketaatan isteri kepada suami: 4:34 Kedurhakaan isteri

Cara bergaul dengan isteri yang durhaka: 4:34 Memperbaiki hubungan antara suami dan isteri yang durhaka: 4:35

Menjaga kehormatan suami dan rumahnya Isteri menjaga rumah suaminya: 4:34 Menjaga harta suami: 4:34

o Kewajiban suami terhadap isteri

Berlemah-lembut dengan isteri: 4:19, 4:34, 65:6 Memberi nafkah isteri

Ukuran nafkah keluarga: 2:233, 65:6, 65:7 Pergaulan

Pergaulan baik: 2:228, 2:229, 2:231, 4:19, 65:2 Lebih condong kepada salah satu sebagian isteri-isteri: 4:129

Etika bersetubuh: 2:222, 2:223

(18)

Menyetubuhi wanita yang sedang haid: 2:222 Bersetubuh dengan hamba: 4:3, 4:24, 23:6, 33:50, 33:52, 70:30

o Kewajiban bersama (suami-isteri) Kesetiaaan: 4:129, 7:199 • Poligami

o Etika berpoligami

Kewajiban mengatur giliran di antara isteri-isteri: 4:128, 4:129, 33:51

Berlaku sama terhadap semua isteri: 4:3, 4:129 o Keakuran di antara isteri-isteri: 66:4

o Wanita sebagai fitnah (cobaan): 3:14

• Perceraian

• Talak

o Mendamaikan di antara suami isteri

Kebencian suami kepada isterinya: 4:128 Menasihati isteri: 4:34

Menjauhi isteri: 4:34 Memukul isteri: 4:34

Dua orang hakim pada satu pertengkaran: 4:35 o Hukum talak

Disyariatkannya talak: 2:227, 2:229, 2:230, 2:232, 2:236, 4:130, 33:49

o Bagian-bagian talak

Talak sunnah (yang sesuai dengan sunnah): 65:1 Talak bid'ah (yang tidak sesuai dengan sunnah): 65:1 Talak tiga: 2:229

o Lafaz-lafaz talak

Kebebasan memilih isteri: 33:28, 33:29 o Rujuk (kembali)

Talak yang boleh kembali: 2:228, 2:229, 2:231, 65:2 Talak bain (yang tidak boleh kembali)

Talak bain bainunah kubra: 2:230

Talak sebelum dukhul (digauli): 2:236, 2:237, 33:49 • Khulu' (tebusan talak)

o Menzalimi isteri: 2:229, 2:231, 4:19, 65:6, 2:229 o Hukum khulu'

• Li'an (menuduh isteri berbuat zina) o Hukum li'an: 24:6

o Cara-cara li'an: 24:6, 24:7, 24:8, 24:9

(19)

• Akibat-akibat perceraian

o Iddah (masa setelah cerai)

Ayat-ayat 'iddah: 2:228, 65:4 Iddah wanita yang tidak haid: 65:4 Iddah wanita hamil: 65:4

Iddah anak-anak: 65:4 Iddah cerai mati

Masa 'iddah cerai mati: 2:234 Tempat 'iddah cerai mati: 2:240 Iddah wanita yang sudah digauli: 2:228 Iddah wanita yang belum digauli: 33:49 Tempat 'iddah: 65:1, 65:6

Berhias setelah 'iddah: 2:234 Merujuk isteri setelah 'iddah: 2:230 o Nafkah selama masa 'iddah

Nafkah wanita yang sedang menjalani masa 'iddah: 2:233, 65:6, 65:7

Tempat tinggal wanita yang sedang menjalani masa 'iddah: 2:240, 65:1, 65:6

Mut'ah (biaya) untuk isteri yang dicerai: 2:236, 2:237, 2:241, 33:49

• Zhihar (menyerupakan isteri dengan ibunya)

• Sebab turunnya ayat zhihar: 58:1 • Hukum zhihar: 33:4, 58:2 • Kafarat zhihar: 58:3, 58:4

• Warisan

• Warisan di awal Islam: 2:180, 4:7, 8:72

• Kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan warisan: 4:11, 4:12 • Sebab-sebab terjadinya pewarisan

o Pewarisan karena hubungan kerabat: 4:11, 4:176, 8:75 o Pewarisan karena hubungan perkawinan: 4:12

o Pewarisan karena hubungan wala': 4:33 • Bagian-bagian warisan

o Warisan karena sumpah setia: 4:33 o Ashobah (sisa)

Ashobah dari jalur anak: 4:11 Ashobah dari jalur saudara: 4:176 o Faraidh (bagian tetap)

(20)

Bagian ibu: 4:11

Bagian anak wanita: 4:11 Bagian suami: 4:12 Bagian isteri: 4:12

Bagian saudara wanita: 4:176

• Waris kalalah (mayit tidak meninggalkan anak atau orang tua): 4:12, 4:176

Memberi sebagian warisan kepada selain ahli waris: 4:819

F. KEHAKIMAN DALAM AL-QURAN

Setelah Penulis menyajikan tentang hukum dalam Al-Qur'an, selanjutnya penulis akan menyampaikan tentang kehakiman dalam Al-Qur'an. Kehakiman merupakan sarana untuk menegakkan hukum. Hukum akan sulit dijalankan tanpa melalui lembaga kehakiman.

Berbicara tentang kehakiman berarti berbicara tentang lembaga yang berwenang untuk menegakkan keadilan. Dalam istilah hukum Indonesia lembaga ini disebut dengan peradilan.

Ketika mengkaji tentang kehakiman dalam al- Quran dapat dilihat melalui al-Nusush al-Muqaddasah itu sendiri.

Allah berfirman :

*0

- ,

'

-/ -/ 91'

!

, 1 ' 1 ,

* P T

, '

1 , 1

'

C P 0

, ' , '

:+,

P "

' 1 / 1

P$' ' '

1

*P

, '

C P @

, '

'1 1

P /

, ' 1 1 '

PG

, 1 ' '

1

U

1 / / , '

1 / '

- '

* / +

'

- ' '

20

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu Agar kamu dapat megambil pengajaran".

(21)

• Peradilan

• Keutamaan keadilan dalam hukum: 4:58, 4:135, 5:42 • Etika peradilan

o Berlaku adil dalam menjatuhi hukuman: 4:58, 4:135, 6:152, 38:22, 42:15

o Menjauhi suap dan hadiah: 2:188, 27:36

o Keburukan tergesa-gesa dalam menjatuhi hukuman: 7:150, 49:6 o Keputusan hukum bersandar pada apa yang nampak: 12:79, 20:93 o Kewajiban menggunakan hukum agama: 2:213, 3:23, 4:60, 4:105,

5:43, 5:44, 5:45, 5:47, 5:48, 5:49, 5:50, 5:68, 7:142, 45:18 • Mahkamah-pengadilan

o Hakim mendengarkan semua tuduhan dan pembelaan: 7:150, 12:52, 27:22, 27:23

• Cara hakim mengambil keputusan

o Keputusan hukum dengan berdasarkan pada sumpah

Ancaman keras untuk pelaku sumpah palsu: 24:7, 24:9 Pemberatan sumpah: 24:7, 24:9

Cara pengambilan sumpah: 5:107

o Keputusan hukum dengan bersandar pada pengakuan: 12:52 • Pertentangan

o Zhafr (berdamai): 42:41

• Saksi dan bukti

• Syarat-syarat saksi

o Keadilan saksi

Seorang saksi disyaratkan adil: 4:135, 5:106, 65:2 Kesaksian palsu: 4:135, 5:8

Saksi terbebas dari tuduhan: 4:135, 6:152 o Kesaksian wanita: 2:282

• Orang yang diberi kesaksian

o Kesaksian atas kelaliman: 25:72 o Kesaksian atas perbuatan zina: 4:15 o Kesaksian atas talak dan rujuk: 65:2

o Kesaksian atas hutang dan harta: 2:282, 4:6, 5:106 • Keputusan hukum dengan bersandar pada kesaksian

o Perintah untuk memberikan kesaksian: 2:282 o Memilih saksi: 2:282

o Sebaik-baik saksi: 70:33

o Jumlah saksi: 2:282, 4:15, 5:106, 24:4, 24:13, 65:2 o Mencari bukti: 2:282, 21:61, 49:6

(22)

o Perselisihan antara saksi: 5:107, 5:108

o Bersegera dalam memberikan kesaksian: 2:282 o Pengundian pada saat yang sulit: 3:44, 37:141

G. Dasar Hukum Peradilan dalam al- Quran.

Peradilan (al-Qadha') adalah kebutuhan vital masyarakat (dharury lil mujtami') artinya seluruh manusia butuh kepada peradilan tanpa terkecuali baik yang beragama Islam maupun tidak. Justru itu Islam memerintahkan untuk membentuk lembaga peradilan sesuai dengan Firman Allah SWT :

P KP *P L P @ *(

+P

C P ( AP 8

P ( P

$ P

*(

*P

P V *0 $ + K

$

*(

!

(

%

*?% L 0

(

* " @ <

21

" Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan

sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya

kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik".22

Adapun dasar peradilan dalam sunnah adalah bahwa, Rasulullah SAW juga mengadili antara orang-orang yang bersengketa, bahkan Rasulullah juga memerintahkan para sahabat ke kota Madinah al- Munawwarah. Oleh karena itu ijma' para ulama juga menetapkan bahwa

21 QS. Al Maidah : 49

22 Terjemahan ini berdasarkan aplikasi al- Quran dan Terjemah Digital. Lengkapnya lihat:

(23)

peradilan (al- Qadha') adalah fardhu kifayah sebagaimana hukum jihad

dan imamah.23

Peradilan adalah sarana untuk menegakkan keadilan dan sarana untuk menegakkan amar ma'ruf dan nahy mungkar, sehingga hukum untuk membuat lembaga peradilan adalah fardhu kifayah.24 Hal ini didasari oleh firman Allah SWT:

*

"

* * ( * * G

3

%(

25

Abu Ja'far berpendapat, maksud Firman Allah di atas adalah apakah mereka orang-orang kafir tersebut akan datang kepada mu (Muhammad) agar kamu menetapkan hukum di antara mereka?. Sesungguhnya orang-orang kafir tersebut tidak akan redha jika kamu menetapkan hukum di antara mereka dengan adil. Kecuali jika kamu mengadili mereka dengan hukum jahiliyah. 26

Untuk mewujudkan peradilan yang baik harus didukung oleh beberapa hal :

2. Hakim yang shalih, berdedikasi yang harus memenuhi persyaratan yang dibutuhkan.

3. Menghukum dengan adil. 4. Kemerdekaan Hakim.

5. Putusan hakim adalah putusan Negara. 6. Hakim harus dilindungi oleh Negara.27

23 Ibn Qudamah al- Hanbaly, al- Mughny, jilid 9, h. 34. Lihat juga Abdul Karim Zaidan,

Nizham al- Qadha' Fi Syari'at al- Islamiyah, (Baghdad: Matba'ah al- 'Any, 1404 H/ 1984 M), cet ke-1, h. 13-14

24 Abdul Karim Zaidan, Ibid., h. 15 25

QS. Al- Maidah : 50

26 Muhammad Ibn Jarir Ibn Yazid Ibn Khalid al- Thabary Abu Ja'far, Jami' al- Bayan 'An

Ayi al- Quran,

(24)

H. Kesimpulan dan Saran.

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Masalah hukum dalam al- Quran masalah yang mendapat perhatian besar, hal ini terbukti bahwa ayat terpanjang adalah ayat hukum. Tentang jumlah ayat-ayat hukum terdapat perpedaan pendapat ulama. Hal ini disebabkan berbedanya pandangan ulama dalam mengklasifikasikan ayat-ayat tersebut.

(25)

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al- Quran al- Karim

Abdul Wahhab Khallaf, Ushul al- Fiqh, Jakarta- Indunisiya, al- Majlis al- ‘A’la li al- Dakwah al- Islamiyyah, 1973,

CD program al- Maktabah al- Syamilah, Syarh al- Mu’tamad, Juz -1

Coulson, Noel J. A History of Islamic Law, (Edinburg: University of London, 1994),

Fathi al- Dhurainy, Fiqh al- Islamy al-Muqaran Ma'a al- Mazahib, (Damaskus: Thab'ah Thariyin, 1399H/ 1979),

http://geocities.com/alquran_indo, E-mail [email protected], Aplikasi

al- Quran dan Terjemah Digital.

Hamid Ahmad, Hukum Islam dalam Perspektif Sejarah (terjemahan), (Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

al- Hanbaly, Ibn Qudamah al- Mughny, jilid 9,

Ja'far, Muhammad Ibn Jarir Ibn Yazid Ibn Khalid al- Thabary Abu, Jami' al- Bayan 'An Ayi al- Quran,

(26)

Karâr, ‘Izzet Syahâta Atsâru Qirâ’ât Qur’âniyyah fî istinbâthi al-Ahkâm al-Fiqhiyyah, (Kairo: Mu’assasah Mukhtâr li Nasyr wa al-Tauzî‘, cet. I, 2003),

Suma, Muhammad Amin Pengantar Tafsir Ahkam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), cet. Ke-2

Syaltut, Mahmud al-Islam Aqidah wa al-Syari’ah, (Kairo: Dâr al- Shorouk, cet. XVIII, 2001),

al-Syâthibiy, Ibrahîm bin Mûsâ al-Muwâfaqât fî Ushûli al-Syarî‘ah, Dâr al-Kitâb al-‘Arabiy, Beirut, cet. I, 2002,

al-Zarqâniy, Muhammad Abd. al-‘Adzîm Manâhilu ‘Irfan fî ‘ulûmi al-Qur’ân, juz 2, (Beirut, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet. I, 1988),

Zaidan, Abdul Karim Nizham al- Qadha' Fi Syari'at al- Islamiyah, (Baghdad: Matba'ah al- 'Any, 1404 H/ 1984 M), cet ke-1,

Referensi

Dokumen terkait

bertoleransi dalam masalah aqidah dan syari’ah kepada orang kafir bahkan di ayat itu juga, secara tidak langsung Allah melalui Nabi-Nya menyuruh ummatnya agar menyebut mereka

Kalau pada ayat yang lalu dinyatakan bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri, ayat ini juga menyatakan bahwa Allah juga tidak senang kepada mereka

Pada masa turunya Alqur’an ditengah – tengah bangsa Arab dengan segala aktifitas kebudayaan mereka, setiap ayat diturunkan Allah tidak dipahami sebagai kalimat –

Penghormatan yang Allah berikan kepada golongan yang suka mengkaji alam, sehingga menggelar mereka sebagai ulul albab, begitu signifikan bagi umat islam. Ia adalah

membedakan derajat manusia di sisi Allah adalah ketakwaan kepada Allah SWT bukan keturunan, suku atau bangsa.Imam Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa di dalam ayat

Disiplin kajian ini pada akhirnya juga sangat membantu dalam melacak makna dan spirit (semangat) dari suatu ayat, dimana hal ini tentunya sangat berguna dalam upaya

terima kasih kerana berkongsi ilmu yang sangat brmanfaat.semoga Allah swt merahmati kamu..doakn sy agar mudah belajar membaca ayat suci al-quran dan memahami maknanya.

Maka Allah menyamakan mereka dengan keldai yang membawa buku.24 Melihat kepada terjemahan Mahmud Yunus terhadap ayat ini, kita boleh melihat bahawa terjemahan Mahmud Yunus pada ayat