• Tidak ada hasil yang ditemukan

Barack Obama dalam Politik Luar Negeri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Barack Obama dalam Politik Luar Negeri"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Barack Obama dalam Politik Luar Negeri AS pada Abad

XXI: Membangun sebuah Imperium Amerika?

Oleh:

Muhammad Darmawan Ardiansyah (1112113000007)

Muhammad Ismail (

Devi Hapsari (1112113000020)

Dosen Pengampu

Rahmi Fitriyanti, S. Sos., M. Si.

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah... B. Rumusan Masalah... C. Tujuan Penelitian...

BAB II LANDASAN TEORI

A. Level Analisis... B. Teori Politik Luar Negeri...

BAB III PEMBAHASAN

A. Koridor Politik Luar Negeri AS... B. Visi dan Misi Obama... C. Dibalik Visi dan Misi Obama... D. Perubahan di Masa Obama...

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan... ...

(3)

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Berakhirnya perang dunia kedua menjadikan Amerika Serikat sebagai negara yang paling diuntungkan dalam perang tersebut. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena AS menjadi pemimpin dari blok barat yang menjadi pihak pemenang dalam pertempuran itu. Kemenangan AS dan sekutunya menempatkannya sebagai negara superpower yang sangat disegani dalam kancah perpolitikan dunia.

Jatuhnya Uni Soviet pasca perang dingin merupakan awal dari runtuhnya era komunisme yang pada masanya berperan sebagai penyeimbang dari ideologi liberalisme yang diusung oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Dengan jatuhnya ideologi komunisme, semakin memperkuat dominasi Amerika Serikat dalam percaturan politik internasional, sehingga hampir sangat terasa bahwa kontrol politik internasional berada dalam genggaman Amerika Serikat dan negara-negara di dunia harus menyesuaikan politik luar negerinya dengan politik luar negeri Amerika Serikat.

Setelah perang dingin usai, fokus dunia beralih pada banyaknya isu-isu baru yang muncul, khususnya terorisme. Puncak dari isu terorisme ini adalah saat gedung World Trade Centre dan Pentagon di AS dihancurkan oleh para teroris yang terindikasi berasal dari jaringan teroris Al-Qaeda di Afghanistan. Publik dunia dibuat heran oleh peristiwa tersebut, karena AS yang dikenal sebagai negara yang adidaya dalam segala hal terutama militer dapat dengan mudah sistem keamanannya ditembus oleh para teroris.

(4)

Bush sebagai reaksi atas peristiwa 9/11. Doktrin ini dikeluarkan Bush dihadapan kongres AS pada 20 September 2001, dengan tegas dia mengatakan,”either you with us or you are with the terroris”. Dia juga menegaskan bahwa,”if you are not with us, you are againts us”(Kavoori, 2006: 168).

Dengan dikeluarkannya doktrin tersebut secara tidak langsung telah membagi dunia menjadi dua bagian, teroris dan bukan teroris, serta memaksa negara-negara di dunia untuk menentukan sikapnya terhadap pernyataan itu. Mau tidak mau negara-negara di dunia dipaksa untuk membuat sebuah kebijakan luar negeri yang menempatkan dirinya menjadi sekutu AS dalam memerangi terorisme, atau sebagai musuh AS dan mendukung gerakan terorisme tersebut.

Pernyataan tersebut dikeluarkan AS untuk mencari simpati dunia internasional dalam memberantas jaringan terorisme di seluruh dunia. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengamankan kepentingannya di dalam dan di luar negeri serta menciptakan rasa aman bagi warga negaranya yang tersebar di seluruh dunia. Akan tetapi perang terhadap terorisme yang diusungnya banyak menuai pro dan kontra, baik itu dari negara-negara maupun dari rakyatnya sendiri.

Sejak AS melancarkan invasinya ke timur tengah pada tahun 2003, pihak sipil menjadi pihak yang paling dirugikan. Hal tersebut terjadi tidak lain adalah karena banyak sekali pihak sipil yang menjadi korban dari pertempuran ini. Ide Hak Asasi Manusia yang dikumandangkan AS ke seluruh dunia seakan-akan hanya dijadikan sebagai alat politik untuk mencapai kepentingannya terhadap negara lain, tanpa peduli apakah dia melanggar ide tersebut atau tidak. Hal inilah yang paling banyak disoroti oleh para pengamat politik internasional.

(5)

tantangan tersendiri bagi presiden Barack Obama di awal masa kepemimpinannya.

Sejak terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden AS yang ke-44 serta lengsernya Bush menjadi awal baru bagi AS untuk merubah arah kebijakan politik luar negerinya, khususnya yang berkaitan dengan isu HAM. Obama ingin mengembalikan citra AS sebagai penjunjung tinggi HAM dan Demokrasi yang sebelumnya hancur akibat invasi AS ke timur tengah.

Momen pada saat dilantiknya Barrack Obama sebagai presiden AS yang ke-44 pada tanggal 20 januari 2009 menjadi momen bersejarah yang disaksikan oleh dunia internasional dan publik AS, karena selain menjadi orang kulit hitam pertama yang menjabat sebagai presiden AS, rakyat AS juga bersuka cita dengan berakhirnya masa kepemimpinan Bush yang banyak dianggap gagal dan terburuk.

Terpilihnya Presiden Barrack Obama pada pemilu 2008 menjadi awal dari perubahan-perubahan arah kebijakan luar negeri AS. Arah kebijakan luar negeri yang semula sangat kental dengan unsur-unsur militeristik di bawah kepemimpinan presiden Bush, berubah drastis menuju ke arah isu-isu kerjasama di segala bidang dalam menjalin hubungan luar negeri dengan negara-negara lainnya di bawah kepemimpinan Obama (Carter, 2013: 156).

Untuk menghapus citra buruk AS di mata dunia, Obama menjalin hubungan baik khususnya dengan negara-negara Islam, dengan cara meningkatkan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Usahanya dalam memperbaiki citra AS tidak sampai disitu saja. Di awal masa kepemimpinannya Obama menutup penjara Guantanamo yang pada saat itu dicap sebagai penjara yang sangat tidak berprikemanusiaan serta tidak ada jaminan HAM bagi para tahanannya.

(6)

kunjungan kenegaraan ke Turki. Dalam isi pidatonya di Ankara dia menyampaikan bahwa AS tidak akan dan tidak pernah akan berperang dengan umat Islam.

Komitmen Obama untuk mengembalikan citra baik AS dimata dunia patut diberi apresiasi yang sebesar-besarnya. Karena butuh usaha yang besar dalam mengembalikan kepercayaan dunia terhadap AS. Usaha yang paling banyak dilakukan oleh Obama dalam hal ini terfokus dalam menjalin hubungan kerjasama yang baru dengan negara-negara di dunia khusunya Islam.

Perubahan kebijakan politik luar negeri AS di bawah kepemimpinan Obama sangat signifikan sekali. Kebijakan politik luar negeri AS yang semula dikenal sangat dominan dengan unsur-unsur militeristik dibawah pimpinan Bush, secara perlahan-lahan berubah di bawah pimpinan Obama yang lebih mengedepankan soft diplomacy dalam menjalankan politik luar negerinya untuk menghapus citra buruknya dimata dunia.

B. Rumusan Masalah

1) Bagaimana pengaruh presiden Brrack Obama terhadap perubahan politik luar negeri AS di abad ke 21 ini?

2) Perubahan apa saja yang telah dilakukan oleh presiden Barack Obama di masa kepemimpinannya?

C. Tujuan Penelitian

1) Untuk dapat lebih memahami arah kebijakan politik luar negeri AS.

2) Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perubahan arah kebijakan politik luar negeri AS di era kepemimpinan Obama.

3) Untuk memenuhi tugas kelompok Politik Luar Negeri Amerika Serikat.

(7)

Landasan Teori

A. Level Analisis

Untuk memahami serta menganalisis perubahan sifat politik luar negeri Amerika Serikat pada masa pemerintahan Barrack Obama, kami menggunakan level analisis individu untuk mengetahui bagaimana pengaruh Obama dalam pembuatan kebijakan politik luar negeri AS di masa pemerintahannya. Dalam hal ini Obama sebagai individu dilihat sebagai aktor yang dapat mempengaruhi kebijakan politik luar negeri AS dengan hak-hak yang diperolehnya sebagai presiden.

Sebelum kita beranjak lebih jauh mengenai hal di atas, kami ingin memaparkan pengertian dari level analisis individu itu sendiri. Level analisis individu mempunyai fokus penelitian yang berpusat pada seorang manusia yang berperan sebagai aktor penting dalam hal tersebut. Dalam hal ini diperlukan pemahaman mengenai beragam faktor yang dapat mempengaruhi aktor dalam mengambil sebuah keputusan, terutama faktor idiosinkratik yang mempunyai pengaruh besar dalam pengambilan kebijakan luar negeri (Rourke, 1995: 76).

Kenapa dalam hal ini kami lebih memfokuskan penelitian pada level individu, karena pada dasarnya negara tidak bisa mengambil tindakan dalam menentukan kebijakan luar negeri, yang melakukannya adalah pemimpin atau aktor penting negara tersebut. Maka dari itu individu dianggap sebagai unit analisis yang paling dasar dalam analisis politik luar negeri.

(8)

Variabel individu mencangkup beberapa aspek nilai, bakat, pengalaman, dan personalitas dari elit politik yang mempengaruhi persepsi dan perilaku terhadap politik luar negeri. Rosenau menyebutkan beberapa ketentuan yang mempengaruhi proses pembentukan politik luar negeri yang berasal dari proses idiosinkratik, yaitu :

a) Personality

b) Experience (pengalaman)

c) Leadership Style (GayaKepemimpinan)

Sehingga tindakan luar negeri mengacu pada perilaku politik. Secara umum perilaku politik luar negeri suatu negara dapat berbentuk pernyataan-pernyataan politik luar negeri pemerintah, dan juga tindakan-tindakan politik luar negeri yang dilakukan pemerintah. (Holsti, 1992: 26).

B. Teori Politik Luar Negeri

Politik luar negeri merupakan suatu studi yang kompleks karena pada kenyataannya tidak saja melibatkan faktor-faktor eksternal negara, akan tetapi juga aspek-aspek internal negara tersebut (Rosenau, 1976: 15). Seperti istilah yang dikemukakan oleh Henry Kissinger menyatakan bahwa,”foreign policy begins when domestic policy ends”(Wolfram, 1971: 22). Negara yang merupakan aktor dalam melakukan politik luar negeri, tetap menjadi aktor utama dalam sistem internasional, walaupun telah banyak sekali aktor-aktor non-negara yang bermunculan.

(9)

disesuaikan dengan kapabilitas negara tersebut dalam mencapai tujuan itu (Rosenau, 1980: 171-173).

Politik luar negeri dapat disebut sebagai sebuah strategi, rencana, tindakan, atau respon yang dibuat oleh para pengambil keputusan negara sebagai jawaban dari politik luar negeri negara lain. Politik luar negeri ditujukan untuk mencapai dan mengamankan kepentingan nasional suatu negara terhadap negara lain (Plano & Olton, 1999: 5), walaupun pada prakteknya kepentingan nasional suatu bangsa bergantung pada aktor yang berkuasa pada saat itu (Mas’oed, 1994: 184).

Pengertian dari politik luar negeri itu sendiri adalah upaya yang dilakukan oleh suatu negara melalui keseluruhan sikap dan aktivitasnya dalam mengatasi dan memperoleh keuntungan dari lingkungan eksternalnya. Dalam hal ini politik luar negeri ditujukan untuk memelihara dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu negara (Rosenau, 1976: 27). Sehingga negara akan selalu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan eksternalnya untung mencapai kepentingan nasional negara tersebut.

Tujuan dari politik luar negeri itu sendiri sebenarnya adalah manifestasi dari kepentingan nasional sebuah negara. Tujuan tersebut juga dipengaruhi oleh masa lalu dan keinginan yang dicapai di masa yang akan datang. Dalam hal ini tujuan dari politik luar negeri dibedakan dalam tiga kategori yaitu, tujuan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Pada dasarnya hampir seluruh tujuan jangka panjang politik luar negeri negara-negara di dunia adalah untuk mencapai perdamaian, keamanan, dan kekuasaan (Rosenau, 1969: 167). Tujuan politik luar negeri dapat dikatakan sebagai citra mengenai keadaan dan kondisi masa depan suatu negara, dimana pemerintah melalui para perumus kebijakan dapat mencapai tujuan tersebut semaksimal mungkin.

BAB III

(10)

A. Koridor Politik Luar Negeri AS

Pada konteks politik luar negeri AS, dalam menjalin hubungan ataupun kerjasama dengan negara-negara di dunia dalam mencapai kepentingan nasionalnya AS mempunyai empat kerangka kerja utama. Kerangka kerja politik luar negeri AS untuk mencapai kepentingan nasional terdiri dari power, peace, prosperity, dan principles (Ikenberry, 2007: 8). Di bawah ini akan dijelaskan masing-masing dari keempat poin di atas.

1. Power: Merupakan sebuah keharusan yang dimiliki oleh AS dalam merumuskan dan mempertimbangkan setiap kebijakan yang dikeluarkannya. Tanpa power kepentingan AS di seluruh dunia tidak akan pernah terwujud adanya. Dengan power setiap aktor negara dapat mengontrol segala hal agar sesuai dengan kepentingan yang dimiliki oleh negaranya.

2. Peace: Secara makna perdamaian diartikan sebagai sebuah kondisi dimana tidak ada perang. Dalam konteks politik luar negeri AS, sebagai sebuah negara yang superpower AS memposisikan dirinya sebagai polisi dunia yang berhak melakukan apa saja demi terwujudnya dunia yang damai dan yang paling utama adalah seluruh kepentingannya di dunia berada dalam kondisi aman. Apabila AS merasa kepentingannya terancam maka dia akan mengeluarkan seluruh power nya demi menyelamatkan kepentingannya tersebut dengan dalih ingin menjaga ketertiban dunia dan segala bentuk alasan yang dibuat-buat.

3. Prosperity: Setiap negara dalam kepentingan nasionalnya pasti mempunyai salah satu tujuan yang terpenting bagi bangsanya, yaitu kemakmuran. Dalam konteks AS, politik luar negerinya ditujukan untuk mencapai keuntungan dalam hal ekonomi. Mereka melakukan apapun demi kepentingan ini tercapai.

(11)

demokrasi yang selalu dikumandangkan AS ke seluruh dunia. Hal ini dilakukan agar kepentingannya di wilayah-wilayah yang ditargetkan dapat tercapai semaksimal mungkin dengan adanya penyebaran nilai-nilai demokrasi di negara yang dituju.

Keempat prinsip di atas inilah yang menjadi pedoman sekaligus koridor bagi para pemimpin AS agar dalam menjalankan politik luar negerinya mereka tidak keluar dari jalur dan cita-cita yang telah dibuat oleh AS sejak dulu. Walaupun sebenarnya setiap presiden AS mempunyai kebijakan yang cenderung berbeda-beda, akan tetapi secara tidak langsung kebijakan luar negeri yang mereka tetapkan tidak pernah lepas dari empat kerangka kerja di atas.

B. Visi-Misi Barack Obama

Barack Obama dalam kampanye menuju calon presiden Amerika Serikat tahun 2008 menulis sebuah artikel yang berjudul “Renewing American Leadership”, dimana dalam artikel ini ia memaparkan visi-misi yang akan dipenuhi jika terpilih menjadi presiden Amerika Serikat. Hal pertama yang ditekankan Obama adalah adanya perbedaan ancaman dalam dan luar negeri yang sangat signifikan dari masa lalu. Ancaman di abad ke-21 ini lebih berbahaya dan lebih kompleks karena adanya perkembangan teknologi yang lebih maju.

Ancaman-ancaman tersebut dapat berasal dari negara yang beraliansi dengan sekelompok teroris tertentu maupun dari sebuah kekuatan baru yang berani menantang kekuatan AS. Ancaman juga dapat berasal dari negara-negara yang lemah dalam mengontrol batasan teritorinya atau lemah dalam menyediakan kebutuhan pokok rakyatnya sehingga timbul kelompok ancaman bagi AS. Hal ini dapat terlihat dari konflik yang melanda negara-negara Timur Tengah karena rakyat menuntut kebebasan berekspresi melalui sistem demokrasi.

(12)

Bush dalam menghadapi serangan 9/11 dengan pemikiran konvensional, yaitu dengan cara melihat keseluruhan masalah berorientasikan negara dan satu-satunya solusi adalah dengan cara militer (Obama, 2008: 4).

Enam visi-misi utama Barack Obama dalam kampanyenya menuju kursi presiden Amerika Serikat yang mencakup beberapa topik penting permasalahan dalam dan luar negeri AS adalah sebagai berikut (Obama, 2008: 4-15):

1. Untuk memperbaharui kepemimpinan Amerika di dunia, Obama harus mengakhiri Perang Iraq dengan cara yang bertanggung jawab dan akan membuat ulang fokus Amerika terhadap wilayah Timur Tengah secara lebih luas dan tidak terpaku hanya pada satu wilayah saja.

2. Untuk memperbaharui kepemimpinan Amerika di dunia, Obama harus segera menghidupkan kembali militer AS karena militer yang kuat itu sangatlah diperlukan demi mempertahankan perdamaian dunia. Sementara itu, Angkatan Darat Amerika Serikat dan Kesatuan Angkatan Laut menurut pemimpin militer AS sedang mengalami krisis. Dengan pergantian kepemimpinan, nantinya momentum ini akan digunakan untuk memperbaiki kemiliteran dan mempersiapkannya untuk misi di masa depan. Obama juga memiliki rencana akan menambah kekuatan darat sebanyak 65.000 tentara ke bagian angkatan darat dan 27.000 pelaut ke bagian angkatan laut. Namun penambahan anggota kemiliteran saja tidak cukup, sebagai pemimpin Obama berjanji akan menggunakan kekuatan bersenjata dengan bijaksana.

(13)

nantinya akan mengembangkan koalisi internasional yang kuat untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklirnya dan mengeliminasi program senjata nuklir Korea Utara. Dalam menangani ancaman nuklir, tentu opsi militer tidak akan ditinggalkan oleh Obama. Namun cara yang diutamakan adalah dengan diplomasi terus-menerus, langsung dan agresif, sebuah cara yang tidak dilakukan pada masa kepemimpinan Bush.

4. Untuk memperbaharui kepemimpinan Amerika di dunia, Obama harus membina dan menempa respos internasional yang efektif mengenai terorisme. Ancaman dunia yang baru berupa sekelompok teroris yang sama sekali menolak modernitas, menentang Amerika secara keras, dan menyimpang dari ajaran agama Islam telah membunuh ribuan orang pada dekade ini. Para teroris beroperasi secara global, maka harus pula dihadapi secara global sehingga pemerintahan Obama akan mengutamakan pembentukan sekutu dalam menghadapinya. Obama juga akan memusatkan kembali upayanya di Afghanistan dan Pakistan, yaitu bidang sentral dalam perang melawan Al-Qaeda. Untuk mengalahkan Al-Qaeda, Obama akan membangun militer abad ke-21 dan menjalin persekutuan yang kuat. Sementara itu di dalam negeri sendiri Obama akan memperkuat keamanan tanah air dan menjaga infrastruktur yang dilihat penting. Upayanya dapat dengan cara menginvestasikan sumber penghasilan yang lebih banyak untuk mempertahankan mass transit, mempertinggi keamanan penerbangan dengan cara menyaring kargo para penumpang serta mengawasi semua penumpang dalam segala hal, serta memperbarui keamanan bandara dengan memastikan kargo yang diawasi dengan radiasi.

(14)

yang telah membuat langkah hebat dengan melakukan transformasi dirinya sendiri dari awalnya yaitu sebagai struktur keamanan pada masa Perang Dingin menjadi sebuah persekutuan yang memperjuangkan perdamaian. Selain memperkuat NATO, AS juga harus membangun aliansi dan sekutu baru di wilayah vital lainnya, seperti kebangkitan China, timbulnya Jepang dan Korsel yang menonjolkan diri di kancah internasional. Obama juga nantinya akan terus mengupayakan kerangka kerjasama efektif di Asia melalui perjanjian bilateral dan rangkaian ad-hoc.

6. Untuk memperbaharui kepemimpinan Amerika di dunia, Obama akan memperkuat keamanan umum dengan menginvestasikan dana pada bidang kemanusiaan. Demi menciptakan dunia yang lebih baik, Obama berpikir harus berperilaku yang mencerminkan kelakuan baik dan menjadi aspirasi bagi masyarakat Amerika. Masyarakat dimana pun harus bisa dan diberi kesempatan untuk dapat memilih pemimpin mereka sendiri dalam suasana bebas rasa takut. Amerika juga harus berkomitmen untuk memperkuat pilar dari masyarakat dunia yang adil. C. Dibalik Visi & Misi Obama

(15)

Hal terpenting yang didapat Obama dari para penasehat keamanan, politik luar negeri, dan ekonominya adalah bahwa Amerika Serikat harus menjalin hubungan tidak hanya dengan para sekutu dan sahabatnya, akan tetapi jalinan hubungan itu juga perlu dibentuk dengan musuh-musuh AS. Sehingga dengan adanya jalinan komunikasi dengan pihak musuh, AS akan dapat lebih mudah dalam mengontrol gejolak perlawanan yang ada di pihak musuh, serta menurunkan intensitas ketegangan di antara kedua belah pihak.

Apabila kita kembali pada masa pemerintahan Bush Jr, kebijakan yang dikeluarkan olehnya sangat berbeda sekali dengan apa yang dirumuskan oleh Obama. Adanya perbedaan tersebut tidak terlepas dari watak masing-masing presiden, yang di mana Bush lebih bertindak agresif dalam menjalankan politik luar negerinya yang mengakibatkan sentimen luas di benak dunia tentang Amerika. Di masa kepemimpinannya Obama ingin menghapus citra tersebut dengan lebih mengedepankan kerjasama dan diplomasi untuk menarik kembali simpati dunia terhadap AS.

Seluruh prinsip dasar kebijakan yang dikeluarkan Obama tidak terlepas dari lima belas orang penting yang selalu berada di sekelilingnya untuk meminta nasehat terkait dengan apa yang harus dilakukannya dalam menghadapi fenomena politik internasional pada saat itu. Kelima belas orang itu dibagi menjadi tiga tim, yaitu tim penasehat keamanan, tim kebijakan luar negeri, serta tim kebijakan ekonomi.

Penasehat keamanan yang berada di lingkaran utama Obama disebut-sebut sebagai orang-orang yang menolak perang, dan lebih mengedepankan diplomasi dalam menjalankan kebijakannya. Ada enam orang yang menjadi penasehat keamanannya, yaitu:

(16)

2) Richard Danzig: Merupakan seorang mantan menteri angkatan laut dan pakar di CSIS Washington yang bersuara keras untuk mengakhiri konflik-konflik di seluruh dunia.

3) Jonathan Scott Gration: Seorang veteran perang teluk yang aktif berkampanye mengenai anti kemiskinan global, dia juga menjadi salah satu orang yang bersuara keras dalam penarikan pasukan AS di Irak. 4) Sam Nunn: Merupakan pakar perlucutan senjata yang diharapkan mampu

menjadi negosiator ulung dalam mengatasi krisis nuklir dengan Korea Utara dan Iran.

5) William J. Perry: Seorang mantan penasehat keamanan di masa presiden Clinton yang aktif bersuara mengenai perlucutan senjata nuklir serta sangat menentang sekali penggunaan militer di wilayah Irak.

6) Sarah Sewall: Merupakan seorang mantan Deputi Pertahanan di masa presiden Clinton, dia juga adalah seorang pakar strategi militer AS.

Dalam urusan kebijakan luar negeri, ada lima penasehat yang mempunyai komitmen tinggi dalam hal demokratisasi, kerjasama internasional, dan penegakan HAM. Kelima orang itu adalah:

1) Anthony Lake: Mantan penasehat keamanan di masa Clinton, yang sangat pro terhadap multilateralisme dan juga mengupayakan NATO untuk terus mengeksistensikan dirinya di Eropa.

2) Mark Lippert: Adalah seorang yang merancang kampanye Obama mengenai masalah internasional.

3) Susan E. Rice: Seorang pakar ekonomi global yang juga sekaligus menjadi orang terdepan yang selalu mengkampanyekan kemanusiaan global serta pengentasan kemiskinan.

4) Gregory B. Craig: Adalah orang yang menginginkan terjalinnya kembali hubungan baik antara AS dan Amerika Latin.

(17)

Dibidang ekonomi ada empat orang penasehat Obama yang cenderung pada kebijakan ekonomi yang protektif tetapi tidak juga menafikan terbentuknya pasar bebas. Mereka itu adalah:

1) Austan Goolsbee: Adalah seorang ekonom lulusan Universitas Chicago serta peneliti utama di NBER.

2) Jason Furman: Seorang peneliti ekonomi senior, serta pernah menjabat sebagai pegawai di menteri keuangan di masa presiden Clinton.

3) William M. Daley: Seorang ekonom yang terlibat aktif dalam pembentukan NAFTA.

4) Daniel K. Tarullo: Merupakan seorang spesialis hukum dagang internasional, hukum internasional, dan hukum perbankan.

Apabila kita lihat dan perhatikan lebih lanjut analisis yang dilakukan oleh Jafar paling tidak telah memberikan gambaran kepada kita bagaimana alur politik luar negeri yang akan dijalankan oleh Obama di masa kepemimpinannya. Sehingga dari analisis tersebut kita bisa menebak walaupun tebakan kita tidak 100% bisa dibenarkan akan tetapi dapat mewakili prediksi-prediksi yang telah dilakukan sebelumnya.

D. Perubahan di Masa Obama

Perubahan sifat kepemimpinan Barack Obama terlihat jelas jika dibandingkan dengan mantan Presiden AS sebelumnya yaitu George W. Bush. Perubahan fundamental tersebut berupa perubahan strategi kemiliteran, dimana Amerika Serikat dituntut untuk merubah ulang sikap militer globalnya. Apalagi saat ini China dan India mengalami kebangkitan sehingga telah merubah pergerakan kekuasaan di Asia dan dunia secara keseluruhan.

(18)

Penempatan kekuatan Amerika di luar negeri haruslah bertujuan untuk mencegah konflik, membina dan mempertahankan aliansi utama, mengembangkan kekuatan dari partner penting, serta memastikan kekuatan militer AS untuk dapat menjadi penjaga kepentingan Amerika di wilayah kritis. Sifat kepemimpinan Obama disini terlihat bersifat lebih kepada cara yang soft way karena mengutamakan menjaga aliansi atau sekutu dengan negara lain.

Sikap yang signifikan ditunjukkan Obama dalam pemusatan perhatian pada negara-negara di Asia Pasifik, dan Obama sendiri telah menjelaskan bahwa Amerika Serikat adalah “a Pacific nation” dan AS akan “memainkan peran besar dan berskala waktu jangka panjang dalam membentuk wilayah Pasifik dan masa depannya” (Michele Flournoy & Janine Davidson, 2012).

Ketegasan Obama juga terlihat dari sebuah dokumen “panduan strategis” yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan pada Januari 2012. Dokumen tersebut menyatakan bahwa “kepentingan ekonomi dan keamanan AS akan terhubung pada pembangunan yang meluas dari Pasifik Barat dan Asia Timur sampai ke wilayah Laut Indiana dan Asia Selatan (Michele Flournoy & Janine Davidson, 2012).

Amerika Serikat juga hadir di negara yang baru menonjolkan diri di kancah internasional yaitu Jepang dan Korea Selatan. Kehadiran Amerika di dua negara ini merupakan langkah awal strategi Amerika di Asia Pasifik. Namun AS juga membangun hubungan baik dengan negara-negara Asia lainnya, terutama dengan negara-negara di Asia Tenggara (Michele Flournoy & Janine Davidson, 2012).

Terkait negara-negara Timur Tengah, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Obama juga sudah menentukan sikap. Salah satunya adalah AS masih akan terus memegang teguh komitmen pada keamanan Israel. Tindakan strategis AS di Timur Tengah juga harus dapat dipercaya untuk dapat menghadapi ancaman seperti Iran, tanpa menghalangi batasan toleransi negara tuan rumah dalam menyikapi kekuatan asing yang masuk wilayah negara mereka (Michele Flournoy & Janine Davidson, 2012).

(19)

memperkuat angkatan bersenjata di banyak negara sekutu. Melindungi kepentingan Amerika Serikat saat ini dan masa depan membutuhkan pemikiran dalam waktu jangka panjang, yaitu perjanjian strategis ke depan.

BAB IV Kesimpulan

Barack Obama sebagai presiden AS yang ke-44 dan menjadi orang kulit hitam pertama yang menjabat sebagai presiden telah membawa perubahan yang sangat signifikan di awal masa kepemimpinannya. Hal tersebut tidak terlepas dari faktor-faktor individu yang dimilikinya, yang tentunya sangat berbeda sekali dengan faktor individu yang dimiliki oleh G. W. Bush.

Walaupun terdapat perbedaan yang sangat signifikan diantara kedua presiden tersebut, akan tetapi sebenarnya tujuan setiap presiden AS, khususnya mereka berdua tidak jauh berbeda. Tujuan tersebut yaitu tetap menjadikan AS sebagai negara adidaya serta mengamankan kepentingan-kepentingannya yang tersebar di seluruh dunia. Tetapi patut kita ketahui bahwa setiap presiden AS mempunyai cara tersendiri dalam mewujudkan hal-hal tersebut.

(20)

kebijakan luar negerinya, sekarang cenderung lebih bersahabat dalam setiap tindakannya.

Terlihat jelas di bawah kepemimpinan Obama, dia ingin mempertahankan dominasi AS terhadap dunia seperti yang telah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya. Akan tetapi Obama mempunyai cara tersendiri dalam mencapai hal tersebut, yaitu dengan menciptakan sebuah image/citra bahwa AS adalah negara yang bersahabat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan HAM, untuk menghapus stigma pelanggar HAM yang muncul sejak invasi AS ke Irak dimasa pemerintahan presiden Bush.

Daftar Pustaka

Carter G Ralph,”Contemporary Cases in US Foreign Policy: From Terrorism to Trade”, SAGE Publications Ltd, United Kingdom: 2014.

Hanrieder Wolfram F,”Comparative Foreign Policy: Theoretical Essays”, David McKay Co, New York: 1971.

Holsti K J,”Politik International: Suatu Kerangka Analisis”, Bina Cipta, Bandung: 1992.

Ikenberry G John,”American Foreign Policy Theoretical Essay”, W.W. Norton & Company Inc, New York: 2007.

Kavoori P Anandam & Tood Fraley,”Media, Terrorism, and Theory: A Reader”, Rowman &Littlefield publishers Inc, USA: 2006.

Mas’oed Moechtar,”Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi”, LP3ES, Jakarta: 1994.

Plano C Jack & Roy Olton,”Kamus Hubungan Internasional”, Abardin, Bandung: 1999.

(21)

Rosenau N James,”The Scientific Study of Foreign Policy”, The Free Press, New York: 1980.

Rosenau N James, Gavin Boyd, Kenneth W. Thompson,”World Politics: An Introduction”, The Free Press, New York: 1992.

T. Rourke John,”International Politics on The World Stage”, The Dushkin Publishing Group Inc, London: 1991.

Ernst Douglas,

http://www.washingtontimes.com/news/2014/aug/28/significant-increase-in-terror-chatter-as-911-near/, diakses pada tanggal 7 September

2014, pukul 12:33.

Marzuq Achmad,

http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2009/04/090414-obama-muslim-.shtml, diakses pada tanggal 7 September 2014, pukul 12:45.

Robinson Eugene, http://www.washingtonpost.com/opinions/eugene-robinson-

paying-for-bushs-2003-invasion-of-iraq/2014/08/11/2eee77ac-218a-11e4-86ca-6f03cbd15c1a_story.html, diakses pada tanggal 7 September 2014,

Referensi

Dokumen terkait

Bagian penting dari kebebasan ekonomi adalah kebebasan untuk memilih bagaimana menggunakan penghasilan kita: berapa banyak untuk dibelanjakan untuk

Dokumen II berisi sil abus dan RPP yang esensinya ada pada KD; Tiap KD harus dianal isis unt uk memperol eh indikat or pencapaian sebagai dasar pengembangan

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh. Gelar Sarjana Psikologi pada Fakultas

siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR), untuk mengetahui pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang

Oleh yang demikian, kajian ini dijalankan bertujuan untuk menjelaskan konsep bandar selamat yang telah dilaksanakan serta keberkesanannya dalam mengurangkan perasaan tidak selamat

EFEK LARVISIDA EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI ( Ocimum sanctum Linn) TERHADAP LARVA INSTAR III Aedes aegypti.. Kartika F.D 1 , ,VWL¶DQDK S 2

Menandatangani perjanjian dan pernyataan penanggungan hutang yang antara lain memuat kesediaan untuk menanggung hutang debitur serta melepas hak- hak istimewa dan hak

Sementara untuk kinerja keuangan berdasarkan tingkat efektivitas dapat diketahui bahwa antara target atau anggaran Pendapatan Asli Daerah sudah banyak yang