• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Komitmen Organisasi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Komitmen Organisasi."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

Organizational culture is no longer seen as a legacy of the past is seen as a mere, but also must be designed and deployed as a strategic tool to achieve corporate objectives. Culture is also an indicator to see how committed an employee of the company. Using a questionnaire survey, this study examined the effect to corporate culture on organizational commitment. Specifically, this study examines four dimensions of corporate culture, the teamwork, communication, rewards and recognition, and training and development of employee commitment to the organization. Six hundred and fifty-six respondents from three different companies and industries to be a part of this survey. The research hypotheses were tested using a multiple hierarchical regression analysis. The results showed that all dimensions of corporate culture that is selected in this study can uses as a determinant / indicator of organizational commitment.

(2)

ABSTRAK

Budaya organisasi bukan lagi dipandang sebagai sebagai warisan masa lalu belaka, tetapi juga harus direkayasa dan ditempatkan sebagai strategic tools untuk mencapai tujuan perusahaan. Budaya juga merupakan suatu indikator untuk melihat seberapa komitmen seorang karyawan terhadap perusahaannya. Dengan menggunakan survei kuesioner, penelitian ini menguji pengaruh budaya perusahaan pada komitmen organisasi. Secara khusus, penelitian ini mengkaji empat dimensi dari budaya perusahaan, yaitu kerja sama tim, komunikasi, penghargaan dan pengakuan dan pelatihan dan pengembangan komitmen karyawan terhadap organisasi. Seratus lima puluh enam responden dari tiga perusahaan dan industri berbeda menjadi bagian dalam survei ini. Pengujian hipotesis dilakukan dengan metode analisis regresi liner berganda hirarkis. Hasil menunjukkan bahwa semua dimensi budaya perusahaan yang dipilih dalam penelitian ini menjadi penentu / indikator dalam melihat komitmen seorang karyawan.

Kata-kata kunci: budaya organisasi, komitmen organisasi, penghargaan dan

(3)

DAFTAR ISI

Daftar Lampiran ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Kegunaan Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka ... 9

2.1.1 Budaya Organisasi ... 9

2.1.1.1 Fungsi Budaya Organisasi ... 10

2.1.1.2 Elemen Budaya Organisasi ... 11

2.1.1.3 Tipologi Budaya Organisasi ... 11

(4)

2.1.1.5 Penelitian Terdahulu Mengenai Budaya Organisasi ... 13

2.1.2 Komitmen Organisasi ... 14

2.1.2.1 Penelitian Terdahulu Mengenai Komitmen Organisasi ... 15

2.2 Kerangka Penelitian dan Hipotesis ... 16

2.3 Hipotesis ... 16

2.4 Model Penelitian ... 17

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Riset ... 18

3.2 Populasi dan Sample ... 18

3.3 Definisi Operasional Variabel ... 19

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 20

3.5 Metode Analisis Data ... 20

3.5.1 Uji Validitas ... 20

3.5.2 Uji Reliabilitas ... 21

3.5.3 Uji Korelasi ... 22

3.5.4 Uji Hipotesis ... 23

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum ... 25

4.2 Karakteristik Responden ... 26

4.3 Uji Asumsi Klasik ... 29

4.3.1 Uji Normalitas ... 29

4.4 Uji Validitas ... 30

4.5 Uji Reliabilitas ... 32

(5)

4.7Analisis Regresi Linier Berganda Hirarkis ... 36

4.8 Analisis rata-rata nilai Gen X dan Gen Y. ... 39

4.9 Tipologi Budaya Organisasi. ... 40

4.10 Pembahasan... 41

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI MANAJERIAL, KETERBATASAN DAN SARAN PENELITIAN 5.1 Simpulan ... 44

5.2 Implikasi Manajerial ... 46

5.3 Keterbatasan dan Saran Penelitian ... 47

Daftar Pustaka ... 49

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Terbentuknya Budaya Organisasi ... 13

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran ... 16

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel. ... 19

Tabel 4.1 Jumlah Responden. ... 25

Tabel 4.2 Karakteristik Responden ... 27

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas ... 29

Tabel 4.4 Hasil Uji Validitas ... 30

Tabel 4.5 Hasil Uji Reliabilitas ... 32

Tabel 4.6 Hasil Uji Korelasi... 35

Tabel 4.7Uji Regresi Linier Berganda Hirarkis ... 36

Tabel 4.8Rata-rata Komitmen Gen X dan Gen Y ... 38

Tabel 4.9Rata-rata Tipologi Budaya Organisasi ... 39

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian ... 52

Lampiran 2 Uji Normalitas ... 56

Lampiran 3 Uji Validitas ... 57

Lampiran 4 Uji Realibilitas ... 61

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Masuknya gen X dan gen Y dalam lingkungan organisasi memberi dampak penting

terhadap perusahaan. Gen X merupakan generasi yang lahir sekitar 1965-1980,

mereka cenderung matrealistis, sinisme, dan pesimis (Miles, 1997). Karyawan tipe

ini memiliki kecenderungan tingkat yang lebih rendah terhadap continuance

commitment dan mempunyai niat yang lebih tinggi untuk keluar dari perusahaan

(Ferres dkk, 2003).

Adapun gen Y yang lahir setelah tahun 1980 memiliki sikap yang mandiri,

yakin, dan berorientasi pada tujuan (Meier dan Austin, 2010). Banyak perusahaan

tidak menghargai ataupun memberikan sebuah penghargaan kecil bagi karyawan gen

Y. Dampaknya adalah mereka memberikan umpan balik yang negatif dan

ketidakpuasan dalam bekerja bisa saja muncul. Tidak sedikit dari mereka menjadi

kutu loncat dengan berpindah-pindah organisasi. Hal ini perlu dicermati dengan lebih

baik bahwa fenomena yang terjadi bukan saja akan menjadi suatu pertanda buruk

bagi organisasi, akan tetapi ketika organisasi dapat memahami dan mempelajari cara

yang tepat untuk menyelesaikannya bukan tidak mungkin akan menjadi satu

keunggulan yang baik.

Dalam suatu penelitian dikatakan bahwa lebih dari setengah dari mereka

mengatakan untuk berhenti bekerja, bahkan 71% dari pekerja yang disurvei, berniat

(10)

terlepas dari generasi baru karyawan dimana generasi yang disebut gen X dan gen Y

telah memasuki dunia kerja saat ini.

Fenomena lain yang berkembang dalam dunia industri dan organisasi saat ini

adalah para profesional cenderung lebih berkomitmen terhadap profesi daripada

bekerja diperusahaan tempatnya bekerja. Karyawan yang berkomitmen terhadap

profesi tidak selalu merujuk pada suatu organisasi, sehingga karyawan seperti ini

selalu berpindah–pindah kerja ke tempat lain (Fineman dkk, 2005). Fenomena

tersebut salah satunya disebabkan oleh adanya kesenjangan antara karyawan yang

bekerja disatu perusahaan dengan karyawan yang bekerja di tempat lain, walaupun

mereka memiliki fungsi pekerjaan yang sama. Beberapa orang yang terpengaruh

pada akhirnya mengambil keputusan untuk berpindah kerja ke perusahaan lain, tapi

tidak sedikit pula yang memutuskan untuk tetap bekerja di perusahaan terkait (Erika,

2011).

Komitmen organisasi merupakan salah satu faktor penting bagi keutuhan

suatu organisasi. Tanpa adanya komitmen organisasi yang kuat dalam diri individu,

kinerja organisasi tidak dapat dicapai secara maksimal. Komitmen organisasi

didefinisikan sebagai kepercayaan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai-nilai

organisasi, kemauan untuk bekerja keras, dan memelihara keanggotannya dalam

organisasi yang bersangkutan. Hal ini berarti ada keinginan yang kuat dari anggota

untuk tetap berada dalam organisasi atau adanya ikatan psikologis terhadap

organisasi. Terdapat 3 komponen komitmen organisasi yang dikemukakan oleh

Meyer dan Allen (1991), yaitu: affective commitment, terjadi apabila karyawan ingin

(11)

Continuance commitment, muncul apabila karyawan tetap bertahan pada suatu

organisasi karena membutuhkan gaji dan keuntungan-keuntungan lain, atau karena

karyawan tersebut tidak menemukan pekerjaan lain. Normative commitment, timbul

dari nilai-nilai diri karyawan. Karyawan bertahan menjadi anggota organisasi karena

ada kesadaran bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan hal yang memang

seharusnya dilakukan.

Komitmen organisasi menjadi bagian penting dalam terciptanya lingkungan

kerja yang kondusif dan produktivitas karyawan yang maksimal. Terbukti ketika

karyawan yang tidak puas akan pekerjaannya atau kurang berkomitmen pada

organisasi akan terlihat menarik diri dari organisasi melalui ketidakhadiran dan

turnover (Mathis dan Jackson, 2001). Hal ini sering terjadi didalam organisasi

dimana tingkat turnover yang tinggi diakibatkan oleh kurangnya kepuasan kerja yang

didapat dari perusahaan.

Dampak dari kurangnya komitmen karyawan akan menjadi masalah baru bagi

organisasi. Rousseau (1984) dalam Witasari (2009) mengemukakan bahwa biaya

atau kerugian atas adanya turnover meliputi biaya langsung yang terkait dengan

kegiatan rekrutmen (antara lain: biaya iklan, biaya agen) dan biaya pencarian; biaya

tidak langsung misalnya biaya-biaya yang berhubungan dengan pelatihan karyawan

baru dan kerugian produktivitas oleh proses pembelajaran karyawan baru. Tingginya

komitmen organisasi akan mendukung pula tingginya kinerja karyawan dan

kepuasan kerja karyawan. Komitmen karyawan yang tinggi akan mengurangi

kemungkinan karyawan meninggalkan pekerjaan (Green dkk, 2000 dalam Khyzer,

(12)

Komitmen karyawan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor dan salah satunya

adalah budaya organisasi. Pemahaman budaya organisasi terbukti ketika sebagian

besar organisasi mengakui fakta bahwa budaya organisasi juga dapat memberikan

kontribusi untuk pencapaian organisasi dalam setiap aspek kinerja baik di bidang

ekonomi, pertumbuhan dan keuangan (Maloney dan Federle, 1990 dalam Flamholtz

dan Randle, 1998). Budaya organisasi pada mulanya akan dipengaruhi oleh budaya

sekitar dari para anggota organisasi. Budaya organisasi merupakan karakteristik

organisasi, bukan individu anggotanya. Budaya organisasi didefinisikan sebagai

sistem nilai bersama dalam suatu organisasi yang menentukan tingkat bagaimana

para karyawan melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi (Robins,

1999).

Pengetahuan yang baik dan kesadaran budaya organisasi harus mampu

meningkatkan kemampuan untuk memeriksa perilaku organisasi yang membantu

untuk mengelola dan memimpin (Brooks, 2006). Pelaksanaan strategi mengenai

budaya organisasi mendukung komitmen karyawan. Strategi kepemimpinan dan

nilai-nilai mengurangi ketidakpastian karyawan dan mendorong komitmen mereka

dengan organisasi (Whetten dan Cameron, 2004 dalam Sabir dkk, 2010). Pada

dasarnya budaya organisasi membentuk perilaku karyawan ditempat kerja, budaya

organisasi yang kuat dan lingkungan organisasi yang kondusif mendorong tingkat

komitmen karyawan yang tinggi terhadap perusahaan. Sutanto (2006)

mengungkapkan bahwa budaya perusahaan bukan hanya dipandang sebagai warisan

masa lalu belaka, tetapi juga harus direkayasa dan ditempatkan sebagai strategic

(13)

untuk meningkatkan motivasi terhadap karyawan yang mana pada akhirnya budaya

organisasi dapat meningkatkan komitmen.

Banyak penelitian yang mengemukakan hubungan antara budaya organisasi

dengan komitmen organisasi. Beberapa peneliti menemukan bahwa budaya

organisasi mempunyai hubungan yang kuat terhadap komitmen organisasi. Penelitian

yang dilakukan oleh (Zai dkk, 2009) pada perusahaan MAHB (Malaysian Airports

Holding Berhad) menemukan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif terhadap

komitmen organisasi, yang mana pada akhirnya menyebabkan keberhasilan

organisasi. Penelitian lain mengungkapkan bahwa budaya organisasi merupakan

salah satu yang menimbulkan efek yang cukup signifikan pada sikap karyawan

terhadap komitmen dan mempertahankan karyawan untuk tetap dalam organisasi

(Ghina, 2012). Boon dan Arumugam (2006) mengukur komitmen organisasi dari

empat dimensi budaya organisasi: kerja sama tim, komunikasi, pelatihan dan

pengembangan, penghargaan dan pengakuan. Hasil menunjukkan bahwa semua

dimensi budaya organisasi yang dipilih dalam penelitian ini berpengaruh signifikan

terhadap komitmen organisasi. Ritchie (2000) menunjukkan bahwa budaya

perusahaan memiliki potensi untuk mempengaruhi hasil organisasi yang diinginkan

seperti komitmen, kinerja produktivitas, dan perilaku etis. Dengan demikin jelas

bahwa budaya organisasi dapat mengukur tingkat komitmen seorang karyawan.

Oleh karena itu dalam mempertahankan komitmen seorang karyawan.

Terdapat beberapa dimensi yang dapat diukur dari budaya organisasi terhadap

komitmen. Kerangka ini didasarkan pada Lau dan Idris (2001) dalam Boon dan

(14)

empat dimensi budaya organisasi dimana keempat dimensi tersebut adalah kerja

sama tim, penelitian yang dilakukan oleh Powell, et al. (2006) menunjukkan bahwa

betapa lebih pentingnya proses kerja sama tim adalah untuk terciptanya kepercayaan,

dan akhirnya komitmen. Komunikasi, Walker, et al. (2009) menyatakan bahwa

komunikasi memiliki hubungan positif dengan komitmen afektif dan normatif.

Pelatihan dan pengembangan, dari sudut pandang manajemen, pelatihan dapat

dianggap sebagai sarana untuk melibatkan komitmen karyawan terhadap organisasi

(Heyes dan Stuart, 1996;Soltani dan Liao, 2010;Bartlett, 2001). Penghargaan dan

pengakuan menurut Herzberg (1996) dalam Boon dan Arumugam (2006) dalam teori

motivasi, pengakuan merupakan salah satu dari empat motivasi, yang dapat

berkontribusi terhadap komitmen karyawan. Keempat dimensi ini dipilih karena

memiliki efek terbesar pada perilaku karyawan (Ricardo dan Jolly, 1997;Lau dan

Idris, 2001 dalam Boon dan Arumugam, 2006).

Berdasarkan apa yang telah dikemukakan dalam latar belakang, peneliti

tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Budaya Organisasi

terhadap Komitmen Organisasi”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka yang menjadi identifikasi masalah

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

• Apakah terdapat pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasi

(15)

• Apakah terdapat pengaruh pelatihan dan pengembangan, penghargaan dan

pengakuan, kerja sama tim, komunikasi, terhadap komitmen organisasi?.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasi

pada karyawan.

2. Untuk mengetahui pengaruh pelatihan dan pengembangan, penghargaan dan

pengakuan, kerjasama tim, komunikasi terhadap komitmen organisasi.

1.4 Kegunaan Penelitian

1. Bagi perusahaan, penelitian ini berguna agar organisasi dapat meninjau dan

memperbaiki budaya perusahaan agar karyawan dapat tetap berkomitmen

terhadap perusahaan, yang mana perusahaan dapat mengendalikan tingkat

turn over karyawan dan diharapkan produktivitas karyawan semakin baik.

2. Bagi akademisi, Hasil penelitian pengaruh budaya organisasi terhadap

komitmen organisasi diharapkan memberikan kontribusi pada pengembangan

ilmu manajemen khususnya manajemen sumber daya manusia. Penelitian ini

juga diharapkan dapat menjadi model yang baik untuk mahasiswa agar

(16)

3. Bagi perkembangan ilmu sumber daya manusia, penelitian ini diharapkan

mampu menjadi salah satu referensi bagi perkembangan ilmu sumber daya

manusia, khususnya menyangkut dalam peningkatan dan pemeliharaan

komitmen karyawan terhadap organisasi dalam kaitannya dengan budaya

(17)

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI MANAJERIAL, KETERBATASAN

DAN SARAN PENELITIAN

Dalam bab terakhir ini akan dibahas mengenai simpulan, implikasi manajerial, dan

saran bagi perusahaan serta keterbatasan untuk penelitan mendatang.

5.1 Simpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab empat dengan menggunakan metode analisis

regresi linier berganda hirarkis yang telah mengidentfikasi keseluruhan dimensi dari

budaya organisasi dimana keempat dimensi organisasi yaitu pelatihan dan

pengembangan, penghargaan dan pengakuan, kerjasama tim, dan komunikasi

berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi. Berikut beberapa simpulan

berdasarkan hasil penelitian ini.

Pertama, dimana pelatihan dan pengembangan berpengaruh positif terhadap

komitmen organisasi. Pelatihan dan pengembangan menjadi bagian yang sangat

penting dalam meningkatkan komitmen organisasi. Dari ketiga perusahaan yang

menjadi objek penelitian budaya organisasi yang dibangun telah mendukung

terjadinya pelatihan dan pengembangan yang baik dan menjadi satu keunggulan dari

perusahaan tersebut. Hal ini sejalan dengan penilitian yang dilakukan oleh Karia

(1999) dalam Boon dan Arumugam (2006) menyatakan bahwa memberikan

(18)

dapat meningkatkan produktivitas karyawan dan efisiensi akan sejalan dengan

peningkatan komitmen.

Kedua, hasil penelitian menunjukkan penghargaan dan pengakuan

berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi. penghargaan dan pengakuan

bukan hanya menjadi motivasi bagi karyawan dalam peningkatan produktivitasnya.

Akan tetapi dari hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa penghargaan dan pengakuan

telah menjadi bagian dari dimensi budaya organisasi dalam meningkatkan komitmen

organisasi. Hasil ini didukung penelitian Chew dan Chan (2008) yang menyatakan

bahwa rumenerasi dan pengakuan berpengaruh positif dalam memprediksi komitmen

organisasi dan keinginan untuk menetap lebih lama didalam organisasi.

Ketiga, hasil penelitian menunjukkan kerjasama tim berpengaruh positif

terhadap komitmen organisasi. Membangun budaya organisasi dengan didasari

kerjasama tim yang baik akan menimbulkan hasil yang maksimal. Terbukti dari

ketiga perusahaan yang menjadi objek penelitian, dari paparan visi dan misinya

menekankan untuk bekerja secara tim yang membuktikkan perusahaan-perusahaan

tersebut menjadi perusahaan yang kuat secara capital maupun secara struktural.

Penelitian juga mengatakan hal yang sama dimana bekerja sama dalam unit

produksi/divisi menyebabkan sikap karyawan yang lebih baik yang pada akhirnya

penigkatan pada produktivitas karyawan (Osland, 1997 dalam Boon dan Arumugam,

2006).

Keempat, hasil penelitian menunjukkan komunikasi berpengaruh positif

terhadap komitmen organisasi. Untuk membangun budaya organisasi yang kuat

diperlukan komunikasi yang baik antar semua orang yang terlibat di dalam sebuah

(19)

menjadi objek penelitian ini dibangun dengan komunikasi aktif dari semua

pemangku kepentingan didalam organisasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan Boon dan Arumugam (2006) dimana komunikasi sebagai

salah satu dimensi budaya organisasi yang dapat meningkatkan komitmen organisasi.

Disisi lain sebagai variabel kontrol jenis kelamin, usia, status perkawinan,

pendidikan, dan masa kerja menjadi prediktor penting dalam mengukur komitmen

organisasi. variabel ini menjelaskan beberapa kaitan yang penting didalam mengukur

komitmen organisasi, salah satunya usia dimana kategori usia relatif lebih tua lebih

berkomitmen dibandingkan dengan usia yang relatif muda.

Dari hasil penelitian secara jelas bahwa budaya organisasi mempengaruhi

komitmen organisasi. Budaya organisasi bukan saja menjadi satu pedoman ataupun

kesamaan perilaku didalam organisasi. Akan tetapi dari hasil penelitian ini dapat

disimpulkan bahwa didalam praktek manajemen bukan hanya mempertahankan akan

tetapi membangun budaya organisasi yang sesuai dengan perkembangan organisasi

akan menimbulkan efek yang positif terhadap organisasi yang pada akhirnya

menimbulkan komitmen organisasi yang tinggi.

5.2 Implikasi Manajerial

Berdasarkan hasil pengujian dari budaya organisasi terhadap komitmen organisasi.

Terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai masukan ataupun rujukan untuk

ketiga perusahaan yang menjadi objek penelitian dalam penelitian ini.

Pertama, budaya organisasi jangan lagi dipandang sebagai warisan masa lalu

ataupun hanya sebagai pedoman tertulis bagi organisasi. Budaya organisasi harus

(20)

Kedua, untuk meningkatkan komitmen karyawan perusahaan perlu untuk

terus mengelola dan mengembangkan bentuk-bentuk lain dari penghargaan dan

pengakuan yang menjadi indikator paling tinggi dalam penelitian ini. Dengan

mengembangkan sistem penghargaan yang tepat sesuai basis kinerja karyawan.

Ketiga, perusahaan perlu untuk mengelola Gen y yang berasal dari kelompok

usia muda dimana karyawan ini perlu untuk diberikan stimulus yang tepat untuk

menghindari tingkat turnover yang tinggi dimana karyawan tipe Gen y cenderung

untuk berpindah-pindah organisasi.

5.3 Keterbatasan dan Saran Penelitian

Beberapa keterbatasan penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut. Pertama,

penelitian ini menggunakan sampel dari tiga perusahaan yang mana perusahaan

tersebut berbeda dalam hal kegiatan operasinya dampaknya terdapat

ketidakseragaman hasil yang didapat dari dimensi budaya organisasi. Kedua,

penelitian ini hanya menggunakan kuesioner yang diisi oleh responden dalam teknik

pengambilan sampel yang mana hasil yang didapat hanya diukur dari

pernyataan-pernyataan dalam indikator pertanyaan yang diajukan bukan dari hasil pendapat

terbuka.

Dengan demikian, untuk penelitian mendatang beberapa hal yang disarankan.

Pertama, diharapkan penelitian dapat dilakukan pada satu jenis industri yang sama

dengan skala pengambilan sampel yang lebih besar dan lebih spesifik. Kedua,

(21)

kuesioner akan tetapi dapat dilakukan dengan wawancara, observasi langsung

terhadap objek penelitian.

Atas dasar hasil analisis dalam penelitian pengaruh budaya organisasi

terhadap komitmen organisasi maka peneliti menyarankan.

Pertama, Agar penelitian selanjutnya mencoba menggunakan sampel yang

lebih besar yang melibatkan karyawan dari tingkat non manajerial sampai top

manajemen.

Kedua, penelitian sebaiknya menggunakan dimensi-dimensi lain dari budaya

organisasi, terlepas dari keempat dimensi yang telah diuji dalam penelitian ini.

Ketiga, penelitian sebaiknya menggunakan metode analisis lain dengan

membandingkan dimensi-dimensi budaya organisasi dengan dimensi dari komitmen

organisasi yaitu: affective commitment, continuance commitment, normative

commitment. Agar hasil yang diperoleh lebih spesifik kaitannya dengan komitmen

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Boduszek, D. (2012). Statistical Analysis: Hierarchical Multiple Regression in SPSS.

Tersedia dalam: http://www.danielboduszek.com/statistical-analysis.

Danish R dan Usman A. (2010). Impact of Reward and Recognition on Job

Satisfaction and Motivation: An Empirical Study from Pakistan. International

Journal of Business and Management Vol. 5, No. 2.

Fajar. (2011). Survei Kelly: 71% Pekerja Berniat Mencari Pekerjaan dan Atasan

Baru. Tersedia dalam http://swa.co.id/business-strategy/management/survei-kelly-71-pekerja-berniat-mencari-pekerjaan-dan-atasan-baru.

Ferres N, Travaglione A, Fims, A. (2003). Attidunial Differences Between G

eneration-X and Older Employees. International Journal of Organisational Behaviour, Volume 6(3), 320-333.

Fineman, S., Sims, D., and Gabriel, Y. 2005. Organizing and Organizations Third

Edition. British : Sage Publication, Ltd.

Ghina A, (2012), The Influence of Corporate Culture on Organizational

Commitment; Case Study of Civil Government Organizations in Indonesia, International Journal of Basic and Applied Science.

Jogiyanto. (2011). Metodologi Penelitian Bisnis. BPFE UGM. Jogjakarta.

Khyzer, M dan Shafi, N. (2011). Impact of Employee Commitment on Organizational

(23)

Mariam, R. (2009). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi

Terhadap Kinerja Karyawan Sebagai Variabel Intervening. Tesis Magister

Manajemen Universitas Diponegoro. Semarang.

Meier, J dan Crocker, M. (2010). Generation Y in the Workforce: Managerial

Challenges. The Journal of Human Resource and Adult Learning Vol. 6, Num. 1.

Ooi, K.B dan Arumugam, V. (2006). The influence of corporate culture on

organisational commitment: Case study of semiconductor organisations in Malaysia. Sunway Academic Journal.

Praptadi, T. (2009). Analisis Pengaruh Budaya Organisasi Dan Pemberdayaan

Terhadap Komitmen Organisasional Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai.

Tesis Magister Manajemen Universitas Diponegoro. Semarang.

Robbins S dan Coulter M. (2007). Manajemen. Indeks. Jakarta

Sawalha N, Zaitouni M, Elsharif A. (2012), Corporate Culture Dimensions

Associated With Organizational Commitment: An Empirical Study, The Journal of Applied Business Research

Suliyanto. (2006). Metode Riset Bisnis. Penerbit Andi. Jogjakarta.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Alfabeta.

Bandung.

Witasari, L. (2009). Analisis Pengaruh Kepuasan Kerja Dan Komitmen

Organisasional Terhadap Turnover Intentions. Tesis Magister

(24)

Zain Z, Ishak R, dan Ghani E.(2009). The Influence of Corporate Culture on

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji pengaruh gaya kepemimpinan, kedisiplinan, budaya organisasi, motivasi, dan komitmen organisasi terhadap

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur audit, budaya organisasi, komitmen organisasi dan pelatihan profesional memiliki pengaruh terhadap kinerja auditor,

Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh komitmen organisasi, budaya organisasi, akuntabilitas publik dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Budaya dan Komitmen Organisasi Terhadap Motivasi Kerja Karyawan (Studi Pada

Alat ukur penelitian adalah skala komitmen karyawan pada organisasi yang disusun oleh peneliti berdasarkan aspek komitmen karyawan pada organisasi, skala budaya organisasi

Pengaruh Budaya Organisasi Dan Kepuasan Kerja Terhadap Komitmen Organisasi ( Studi Empiris Pada Kantor Akuntan Publik Di Semarang ).. Benar – benar merupakan karya

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, penulis ucapkan atas berkat dan kasih-Nya Karena skripsi dengan judul “Pengaruh Komitmen Organisasi, Komitmen Profesional, Konflik

Angkasa Pura 1 Kantor Cabang Bandara Juanda Surabaya” 2020, menyimpulkan bahwa: a Budaya organisasi dan komitmen organisasional secara simultan memiliki pengaruh terhadap