di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur)
Oleh : Lita Aryani A14102114
PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
RINGKASAN
LITA ARYANI. Analisis Pengaruh Kemitraan Terhadap Pendapatan Usahatani Kacang Tanah (Kasus Kemitraan PT Garudafood dengan Petani Kacang Tanah di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur). Di bawah bimbingan DWI RACHMINA.
Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan bahan pangan akan semakin meningkat. Untuk itu diperlukan berbagai upaya strategis untuk meningkatkan produksi bahan pangan sehingga ancaman kerawanan pangan di berbagai daerah bisa dicegah. Guna mewujudkan kemandirian pangan pemerintah berusaha meningkatkan jumlah produksi pangan nasional. Salah satu usaha dalam mewujudkan kemandirian pangan tersebut adalah dengan meningkatkan produksi kacang tanah. Dalam kurun waktu 2001-2006 produksi kacang tanah di Indonesia cenderung terus meningkat. Meskipun demikian, peningkatan produksi kacang tanah masih belum dapat memenuhi kebutuhan kacang tanah. Sehingga defisit yang terjadi dipenuhi dari impor.
Kekurangan ketersediaan produksi kacang tanah dapat diatasi dengan meningkatkan produksi kacang tanah. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi kacang tanah tersebut adalah dengan kegiatan kemitraan. PT Garudafood merupakan salah satu perusahaan yang melaksanakan kegiatan kemitraan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya. Dalam pelaksanaan kemitraan antara PT Garudafood dengan petani mitra masih terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan surat perjanjian kerjasama. Di samping masih terdapat beberapa masalah, pelaksanaan kemitraan juga memberikan keuntungan kepada petani mitra dalam hal meningkatkan produksi kacang tanah dan meningkatkan pendapatan usahatani petani mitra. Dari data yang diperoleh dari kelompok tani di Desa Palangan, selama kurun waktu tahun 2001-2008 total produksi dan produktivitas kacang tanah petani mitra di Desa Palangan relatif meningkat.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pelaksanaan kemitraan antara PT Garudafood dengan petani mitra di Desa Palangan dan menganalisis pengaruh kemitraan terhadap peningkatan pendapatan usahatani kacang tanah di Desa Palangan. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh petani dan PT Garudafood.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur pada bulan September-Oktober 2008.
Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan hasil wawancara dengan petani kacang tanah dan pihak PT Garudafood. Sedangkan data sekunder diperoleh dari BPS, Departemen Pertanian, Kantor Desa Palangan, PT Garudafood, buku dan internet. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan metode Simple Random Sampling. Responden yang diambil berjumlah 41 petani responden, yaitu 30 responden petani mitra dan 11 responden petani non mitra.
Jumlah responden ini merupakan 50 persen dari jumlah populasi petani kacang tanah di Desa Palangan.
Berdasarkan evaluasi pelaksanaan kemitraan yang terjadi antara PT Garudafood dengan petani kacang tanah di Desa Palangan, masih terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan perjanjian. Seperti masih ada petani yang menggunakan pupuk tidak sesuai dosis anjuran, menjual hasil produksi ke perusahaan lain, dan waktu tanam yang tidak sesuai dengan perjanjian. Meskipun demikian, pelaksanaan kemitraan tersebut memberikan manfaat kepada petani, yaitu adanya jaminan pasar, kepastian harga, meningkatkan pendapatan dan menambah pengetahuan mengenai budidaya kacang tanah. Pelaksanaan kemitraan antara PT Garudafood dengan petani kacang tanah di Desa Palangan dapat diteruskan karena meskipun masih terdapat kendala-kendala dalam kemitraan, pelaksanaan kemitraan tersebut memberikan manfaat bagi perusahaan dan petani mitra.
Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani, petani mitra memperoleh pendapatan usahatani lebih besar dari pada petani non mitra, baik untuk pendapatan atas biaya tunai maupun pendapatan atas biaya total. Hasil imbangan penerimaan dan biaya (R/C rasio), dapat diketahui R/C rasio atas biaya tunai dan R/C rasio atas biaya total petani mitra yaitu 2,77 dan 1,47. Sedangkan R/C rasio atas biaya tunai dan R/C rasio atas biaya total petani non mitra adalah 1,92 dan 0,96. Dari nilai R/C rasio atas biaya tunai dan R/C atas biaya total dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kemitraan antara PT Garudafood dengan petani mitra di Desa Palangan memberikan keuntungan bagi petani mitra. Sehingga pelaksanaan kemitraan dapat diteruskan.
Agar pelaksanaan kemitraan berjalan sesuai dengan yang diharapkan kedua pihak, disarankan agar petani mitra lebih mematuhi anjuran dari PT Garudafood dalam penggunaan pupuk dan pelaksanaan waktu panen. Selain itu, pihak perusahaan seharusnya membedakan harga beli kacang tanah antara petani mitra dengan petani non mitra, serta memberikan pembinaan budidaya kacang tanah minimal dua kali dalam satu tahun. Pembinaan tersebut lebih ditekankan dalam penggunaan input yang sesuai anjuran PT Garudafood dan peningkatan kualitas hasil produksi petani mitra. Sehingga petani mitra dapat lebih efisien dalam penggunaan input produksi dan dapat meningkatkan pendapatan usahatani petani mitra.
ANALISIS PENGARUH KEMITRAAN TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI KACANG TANAH
(Kasus Kemitraan PT Garudafood dengan Petani Kacang Tanah di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten
Situbondo, Jawa Timur)
Oleh : Lita Aryani A14102114
Skripsi
Sebagai Bagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
Judul : Analisis Pengaruh Kemitraan Terhadap Pendapatan Usahatani Kacang Tanah (Kasus Kemitraan PT Garudafood dengan Petani Kacang Tanah di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur)
Nama : Lita Aryani
NRP : A14102114
Menyetujui,
Dosen Pembimbing Skripsi
Ir. Dwi Rachmina, MS NIP. 131 918 503
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019
Tanggal Lulus : 19 Desember 2008
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI SAYA YANG BERJUDUL “ANALISIS PENGARUH KEMITRAAN TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI KACANG TANAH (KASUS KEMITRAAN PT GARUDAFOOD DENGAN PETANI KACANG TANAH DI DESA PALANGAN, KECAMATAN JANGKAR, KABUPATEN SITUBONDO, JAWA TIMUR)” BENAR-BENAR MERUPAKAN KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN
Jakarta, Januari 2009
Lita Aryani
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 30 Oktober 1984. Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Bidawi Hasyim dan Ibu Erna Marliana.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 010 Pagi Pekayon pada tahun 1996. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 184 Jakarta dan lulus pada tahun 1999. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMU Negeri 98 Jakarta dan lulus pada tahun 2002.
Pada tahun 2002, Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Selama menempuh pendidikan di perkuliahan, penulis aktif dalam klub fotografi LENSA yang merupakan Lembaga Struktural BEM Fakultas Pertanian.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul Analisis Pengaruh Kemitraan Terhadap Pendapatan Usahatani Kacang Tanah (Kasus Kemitraan PT Garudafood dengan Petani Kacang Tanah di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur). Karya ini disusun dalam rangka menyelesaikan pendidikan untuk program sarjana (S1) pada Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dan memberi dukungan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. Penulis telah berusaha memberikan yang terbaik dalam penyusunan skripsi ini. Walaupun demikian penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mohon maaf apabila dalam penulisan masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan pihak-pihak lain yang membutuhkan.
Jakarta, Januari 2009
Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis dengan tulus ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Ir. Dwi Rachmina, MS selaku dosen pembimbing skripsi atas semua bimbingan, perhatian, dan arahan yang diberikan selama menyusun skripsi.
2. Dr. Ir. Ratna Winandi, MS selaku dosen penguji utama, yang telah memberikan masukan untuk perbaikan akhir skripsi ini
3. Etriya, SP, MM selaku dosen komisi pendidikan, yang telah memberikan saran dan kritik kepada penulisan agar menjadi lebih baik untuk perbaikan akhir skripsi ini
4. Kedua orang tuaku, Papa Bidawi Hasyim dan Mama Erna Marliana, yang selalu memberikan doa, dorongan, dan motivasi kepada penulis.
5. Pak Totok dan Pak Budi dari PT Garudafood atas informasi dan data yang telah diberikan.
6. Seluruh staf pengajar, sekretariat program studi manajemen agribisnis, Komdik, perpustakaan LSI, perpustakaan Faperta, dan perpustakaan Sosek, terutama Mbak Dewi, Mbak Dian, dan Ibu Ida atas bantuan yang diberikan kepada penulis.
7. Kakak dan adik-adikku, Mas Ardi, Mbak Aulia, Lukman, Budi, dan Arli, atas doa dan dukungannya.
8. Keluarga besarku, Mbah Pepen, Om Mijo, Bule Rina, Bule Dewi, Om Huda, Mas Timung, Mbak Evi, Mas Tiwid dan Mbak Santi, atas doa dan dukungannya.
9. Teman-temanku, Emma, Tiya, Indri, Putri, Mia, Dewi, Silvi, Pipit, Toni, Mas Il, dan Dudung, yang telah memberikan masukan dan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
10. Mbak Nunung, Mbak Vivi, Om Bambang, Mas Fafa, dan Pak Aceng, atas doa, bantuan dan informasinya selama penulisan skripsi ini.
11. Seluruh teman-temanku terutama teman-teman di Agb 39 dan Lensa.
12. Semua pihak yang telah berperan dan memberi bantuan dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu
DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR TABEL...
DAFTAR GAMBAR...
DAFTAR LAMPIRAN...
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...
1.2 Perumusan Masalah...
1.3 Tujuan Penelitian...
1.4 Kegunaan Penelitian...
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gambaran Umum Kacang Tanah...
2.1.1 Syarat Tumbuh Kacang Tanah...
2.1.2 Kandungan Gizi Kacang Tanah...
2.1.3 Varietas Kacang Tanah...
2.2 Kajian Empirik Kemitraan...
2.3 Kajian Empirik Usahatani Kacang Tanah...
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis...
3.1.1 Pendapatan Usahatani...
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional...
IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...
4.2 Jenis dan Sumber Data...
4.3 Metode Pengumpulan Data...
4.4 Metode Penarikan Sampel...
4.5 Metode Analisis Data...
4.5.1 Analisis Pendapatan Usahatani...
4.5.3 Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya...
V. GAMBARAN UMUM DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1 Gambaran Umum PT Garudafood...
5.1.1 Sejarah dan Perkembangan PT Garudafood...
5.1.2 Nilai-Nilai, Visi, dan Misi PT Garudafood...
5.1.3 Struktur Organisasi...
5.2 Gambaran Umum Desa Palangan...
5.2.1 Letak Geografis dan Tata Guna Lahan...
5.2.2 Sumber Daya Manusia...
5.3 Karakteristik Petani Responden...
5.3.1 Umur Responden...
5.3.2 Tingkat Pendidikan...
5.3.3 Pengalaman Usahatani Kacang Tanah...
5.3.4 Luas Lahan dan Status Kepemilikan...
x xii xii 1 7 10 10 12 12 13 14 15 19 22 22 26 29 29 30 30 31 32 33 36 36 37 39 40 404 2 44 44 45 46 47
VI. EVALUASI PELAKSANAAN KEMITRAAN
5.1 Gambaran Umum Kemitraan di PT Garudafood...
5.2 Surat Perjanjian Kerjasama...
5.3 Tujuan Kemitraan PT Garudafood...
5.4 Evaluasi Pelaksanaan Kemitraan...
5.5 Manfaat Kemitraan...
5.6 Permasalahan dan Alternatif Perbaikan Pelaksanaan Kemitraan...
VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI KACANG TANAH 6.1 Keragaan Usahatani Kacang Tanah...
6.2 Analisis Pendapatan Usahatani...
6.2.1 Penerimaan Usahatani...
6.2.2 Biaya Produksi...
6.2.3 Analisis Pendapatan Usahatani dan Analisis Imbangan
Penerimaan Terhadap Biaya (R/C Rasio)...
VII. KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan...
7.2 Saran...
DAFTAR PUSTAKA...
LAMPIRAN...
49 50 51 52 62 63 68 76 77 80 93 99 100 102 104
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Produksi Tanaman Pangan di Indonesia, 2001-2006...
Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Kacang Tanah
di Indonesia, 2001-2006...
Sentra Produksi Kacang Tanah di Indonesia, 2001-2006...
Konsumsi Kacang Tanah di Indonesia, 2001-2006...
Volume Impor dan Ekspor Kacang Tanah di Indonesia, 2001-2006...
Daerah Kemitraan PT Garudafood di Pulau Jawa, 2007...
Produksi dan Produktivitas Kacang Tanah Petani Mitra
di Desa Palangan, 2001-2007...
Kandungan Gizi Kacang Tanah...
Persamaan dan Perbedaan dengan Kajian Kemitraan Terdahulu...
Analisis Pendapatan dan R/C rasio Usahatani Kacang Tanah...
Pemanfaatan Lahan Desa Palangan, 2007...
Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Pertanian
di Desa Palangan, 2007...
Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
di Desa Palangan, 2007...
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Desa Palangan, 2007...
Responden Petani Mitra dan Non Mitra Berdasarkan Umur
di Desa Palangan, 2008...
Responden Petani Mitra dan Non Mitra Berdasarkan Pendidikan
di Desa Palangan, 2008...
Responden Petani Mitra dan Non Mitra Berdasarkan
Pendidikan di Desa Palangan, 2008...
Responden Petani Mitra dan Non Mitra Berdasarkan Luas Lahan Usahatani Kacang Tanah di Desa Palangan, 2008...
Matriks Evaluasi Pelaksanaan Kemitraan Usahatani
Kacang Tanah di PT Garudafood...
Manfaat Kemitraan PT Garudafood dengan Petani Mitra
di Desa Palangan, 2008...
Kegiatan Pengolahan Lahan Petani Mitra dan Petani Non Mitra
di Desa Palangan, Agustus 2008...
1 2 4 5 6 8 10 13 19 35 41 42 43 44 45 46 47 48 53 62 69
22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Penggunaan Bibit Kacang Tanah Petani Mitra dan Petani Non Mitra di Desa Palangan, Agustus 2008...
Kegiatan Penyulaman Petani Mitra dan Petani Non Mitra
di Desa Palangan, Agustus 2008...
Penggunaan Pupuk Anorganik Petani Mitra dan Petani Non Mitra di Desa Palangan, Agustus 2008...
Kegiatan Pemeliharaan Petani Mitra dan Petani Non Mitra
di Desa Palangan, Agustus 2008...
Penggunaan Obat-Obatan Petani Mitra dan Petani Non Mitra
di Desa Palangan, Agustus 2008...
Rata-Rata Penggunaan Pupuk Per Hektar Petani Mitra dan
Petani Non Mitra di Desa Palangan, Agustus 2008...
Rata-Rata Penggunaan Obat-Obatan Per Hektar Petani Mitra dan Petani Non Mitra di Desa Palangan, Agustus 2008...
Biaya Penyusutan Peralatan Pertanian Petani Mitra dan Non Mitra Per Musim di Desa Palangan, Agustus 2008...
Struktur Biaya Usahatani Kacang Tanah Petani Mitra dan
Petani Non Mitra di Desa Palangan, Agustus 2008...
Analisis Pendapatan Usahatani dan R/C Rasio Usahatani Kacang Tanah pada Petani Mitra dan Petani Non Mitra di
Desa Palangan, 2008...
70 71 72 73 74 86 87 91 93
95
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1 2
Propinsi Sentra Produksi Kacang Tanah di Indonesia,
2001-2006...
Kerangka Pemikiran Operasional...
3 28
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1 2 3 4 5
Surat Perjanjian Kerjasama...
Pendapatan Usahatani Kacang Tanah Petani Mitra Per Hektar
Per Musim Tanam di Desa Palangan, 2008...
Pendapatan Usahatani Kacang Tanah Petani Non Mitra Per Hektar Per Musim Tanam di Desa Palangan, 2008...
Daftar Responden Petani Mitra...
Daftar Responden Petani Non Mitra...
104 111 112 113 114
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara agraris memiliki sumberdaya alam yang baik untuk dikembangkan. Hal ini menjadikan pertanian sebagai sektor potensial di Indonesia. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan bahan pangan juga semakin meningkat. Untuk itu diperlukan berbagai upaya strategis untuk meningkatkan produksi bahan pangan, sehingga ancaman kerawanan pangan di berbagai daerah bisa dicegah. Guna mewujudkan kemandirian pangan, pemerintah berusaha untuk meningkatkan jumlah produksi pangan nasional. Dalam kurun waktu 2001-2006 produksi tanaman pangan di Indonesia berfluktuasi tetapi cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2,01 persen per tahun (Tabel 1). Dari rata-rata pertumbuhan total produksi pangan, penurunan terjadi pada tahun 2002 sebesar 0,88 persen per tahun.
Sedangkan peningkatan produksi pangan terjadi pada tahun 2004 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,15 persen per tahun. Kemudian menurun di tahun-tahun berikutnya (Tabel 1).
Tabel 1. Produksi Pangan di Indonesia, 2001-2006
Produksi (Ton) Komoditas
2001 2002 2003 2004 2005 2006 Rata-Rata Pertumbuh- an (%/thn) Padi 51.898.852 50.460.782 51.489.584 52.137.604 54.088.378 54.151.097 0,82 Jagung 9.264.879 9.347.192 9.585.277 10.886.442 11.225.243 12.523.894 5,74 Ubi Jalar 1.827.687 1.749.070 1.771.050 1.645.966 1.901.802 1.856.969 0,04 Ubi Kayu 16.088.590 17.054.648 16.912.901 18.523.810 19.424.707 19.321.183 3,52 Kedelai 1.017.634 762.032 673.056 671.600 723.483 808.353 - 5,86 Kacang
Tanah 709.770 718.071 785.526 837.495 836.295 838.096 3,20 Kacang hijau 289.876 301.021 288.089 335.224 310.412 320.963 1,71
Rata-Rata Pertumbuh-
an (%/thn)
- - 0,88 1,37 4,15 3,92 1,46 2,01
Sumber : BPS diolah oleh Pusat Data dan Informasi Pertanian (Pusdatin), 2007 Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kacang tanah memiliki kontribusi terhadap ketersediaan pangan. Kontribusi kacang tanah terhadap pangan nasional semakin meningkat, yaitu sebesar 0,88 persen pada tahun 2001 menjadi 0,93 persen pada tahun 2006. Dilihat dari peningkatan produksi kacang tanah kurun waktu 2001-2006, rata-rata pertumbuhan kacang tanah terbesar ketiga setelah jagung dan ubi kayu, yaitu sebesar 3,20 persen per tahun. Dengan demikian, salah satu upaya dalam mewujudkan kemandirian pangan dapat dilakukan dengan meningkatkan produksi kacang tanah.
Produksi kacang tanah di Indonesia dalam selang tahun 2001-2006 secara umum mengalami peningkatan yaitu dari 709.770 ton pada tahun 2001 menjadi 838.096 ton pada tahun 2006 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,20 persen per tahun (Tabel 2). Peningkatan produksi kacang tanah tersebut dipengaruhi oleh peningkatan luas panen dan produktivitas kacang tanah (Tabel2).
Tabel 2. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Kacang Tanah di Indonesia, 2001-2006
Tahun Produksi (Ton)
Luas Panen (Ha)
Produktivitas (Ton/Ha) 2001
2002 2003 2004 2005 2006
709.770 718.071 785.526 837.495 836.295 838.096
654.838 646.953 683.537 723.434 720.526 706.753
1,08 1,11 1,15 1,16 1,16 1,19 Rata-Rata
Pertumbuhan (%/Thn)
3,20 1,46 1,14 Sumber : BPS diolah oleh Pusdatin, 2007
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa meskipun luas panen kacang tanah pada tahun 2006 menurun sebesar 1,95 persen dari luas panen tahun 2005, tetapi peningkatan produktivitas kacang tanah tahun 2006 lebih tinggi dari pada
penurunan luas panen, yaitu meningkat sebesar 2,11 persen dibandingkan tahun 2005. Sehingga produksi kacang tanah di Indonesia tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 0,21 persen dibandingkan produksi tahun 2005. Selama kurun waktu 2001-2006 rata-rata pertumbuhan luas panen dan produktivitas kacang tanah mengalami kenaikan sebesar 1,46 persen per tahun. dan 1,14 persen per tahun. Peningkatan yang terjadi pada luas panen dan produktivitas kacang tanah mempengaruhi peningkatan produksi kacang tanah, dengan rata-rata pertumbuhan yang meningkat sebesar 3,20 persen per tahun.
Peningkatan produksi kacang tanah nasional dikarenakan adanya peningkatan produksi kacang tanah di beberapa propinsi di Indonesia. Terdapat enam propinsi yang menjadi sentra produksi kacang tanah di Indonesia, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat (Gambar 1). Di antara keenam propinsi tersebut, propinsi Jawa Timur merupakan sentra produksi kacang tanah terbesar di Indonesia.
5.08%
5.48%
7.50%
11.74% 21.91%
22.90% 25.39%
Jatim Jateng Jabar DIY
Sulsel NTB Lainnya
Gambar 1. Propinsi Sentra Produksi Kacang Tanah di Indonesia, 2001-2006 Sumber : Pusat Data dan Informasi Pertanian, 2007
Gambar 1 menunjukkan bahwa enam propinsi sentra produksi kacang tanah di Indonesia berkontribusi lebih dari 75 persen terhadap produksi kacang
tanah nasional. Berdasarkan data rata-rata tahun 2001-2006, Propinsi Jawa Timur merupakan sentra produksi kacang tanah terbesar di Indonesia yang berkontribusi sebesar 25,39 persen. Propinsi lain yang menjadi sentra produksi kacang tanah, yaitu Jawa Tengah berkontribusi sebesar 21,91 persen, Jawa Barat sebesar 11,74 persen, DI Yogyakarta sebesar 7,50 persen, Sulawesi Selatan sebesar 5,48 persen, dan Nusa Tenggara Barat sebesar 5,14 persen.
Tabel 3. Sentra Produksi Kacang Tanah di Indonesia, 2001-2006
Produksi (Ton) Propinsi
2001 2002 2003 2004 2005 2006
Rata-Rata Pertumbuh- an (%/thn) Jawa Timur
Jawa Tengah Jawa Barat DI Yogyakarta Sulawesi Selatan NTB
Lainnya
176.889 161.182 87.863 50.552 42.156 30.595 160.533
188.001 150.527 86.468 58.482 42.415 32.225 159.907
194.676 174.332 90.170 57.767 52.763 40.489 175.329
212.325 184.316 97.724 61.048 41.191 49.226 191.665
208.749 185.797 100.775 60.324 39.092 43.397 198.161
218.910 179.067 91.817 66.359 41.759 43.955 196.229
4,12 1,18 0,70 5,12 -1,37 6,21 3,84
Indonesia 709.770 718.071 785.526 837.495 836.295 838.096 3,20
Sumber : BPS diolah oleh Pusdatin, 2007
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa Jawa Timur memberikan kontribusi terbesar terhadap produksi kacang tanah nasional. Terdapat 27 propinsi lain di Indonesia yang juga berkontribusi terhadap produksi kacang tanah nasional, antara lain Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara , Lampung, Bali, Nusa Tenggara timur, dan Kalimantan Selatan. Tetapi produksi kacang tanah propinsi- propinsi tersebut tidak sebesar produksi dari enam propinsi sentra produksi kacang tanah.
Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, konsumsi kacang tanah juga menunjukkan peningkatan (Tabel 4). Secara keseluruhan rata- rata pertumbuhan dari konsumsi kacang tanah tahun 2001-2006 mengalami peningkatan sebesar 4,27 persen per tahun. Dari rata-rata konsumsi kacang tanah
di Indonesia tahun 2001-2006, konsumsi kacang tanah terbesar digunakan sebagai bahan baku industri, yaitu sebesar 50,70 persen (Tabel 4). Selanjutnya sebesar 33,81 persen adalah konsumsi kacang tanah oleh rumah tangga. Sedangkan lainnya yaitu sebesar 11,94 persen dan 4,01 persen merupakan rata-rata konsumsi kacang tanah yang tercecer dan digunakan sebagai bibit (Tabel 4).
Tabel 4. Konsumsi Kacang Tanah di Indonesia, 2001-2006 Konsumsi (Ton)
Tahun
Bibit Industri Rumah
Tangga Tercecer
Total (Ton)
2001 2002 2003 2004 2005 2006
28.000 44.000 39.000 41.000 30.000 34.000
410.500 419.400 425.400 463.800 492.800 520.400
269.785 276.400 292.613 329.697 318.007 335.287
98.000 94.000 96.000 104.000 112.000 115.000
806.285 833.800 853.013 938.497 952.807 1.004.687 Rata-Rata
Pertumbuhan (%/thn)
0,70 4,60 4,13 3,05 4,27
Sumber : BPS diolah oleh Pusdatin, 2007
Tabel 4 menunjukkan bahwa total konsumsi kacang tanah pada tahun 2006 menunjukkan peningkatan sebesar 5,16 persen dibandingkan tahun 2005. Rata- rata pertumbuhan konsumsi kacang tanah untuk bibit sebesar 0,70 persen per tahun, untuk industri sebesar 4,60 persen per tahun, untuk konsumsi rumah tangga sebesar 4,13 persen pertahun, dan kacang tanah yang tercecer sebesar 3,05 persen per tahun. Perkembangan ini diharapkan menjadi pemicu dalam meningkatkan produksi kacang tanah nasional.
Dengan memperhatikan data pada Tabel 2 dan Tabel 4 nampak adanya ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi kacang tanah, dalam hal ini kebutuhan selalu lebih tinggi dibandingkan produksi sehingga terjadi defisit.
Defisit tersebut dapat dipenuhi dari impor. Karena permintaan kacang tanah terus meningkat maka impor kacang tanah juga meningkat tiap tahunnya. Di sisi lain, ternyata Indonesia juga mampu mengekspor kacang tanah dengan volume ekspor yang fluktuatif (Tabel 5).
Tabel 5. Volume dan Nilai Impor dan Ekspor Kacang Tanah di Indonesia, 2001-2006
Volume (Ton) Tahun
Impor Ekspor 2001
2002 2003 2004 2005 2006
98.483 119.196 71.017 101.824 121.614 169.111
1.968 3.467 3.530 822 5.102 2.520 Rata-Rata
Pertumbuhan (%/thn) 4,83 - 60,60
Sumber : BPS diolah oleh Pusdatin, 2007
Tabel 5 menunjukkan terjadi peningkatan volume impor pada tahun 2006 sebesar 28,09 persen dibandingkan tahun 2005. Pada tahun 2001-2006 volume impor terbesar terjadi pada tahun 2006 dengan volume impor kacang tanah mencapai 169.111 ton. Selama kurun waktu 2001-2006 rata-rata volume impor kacang tanah di Indonesia sebesar 113,541 ton per tahun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,83 persen per tahun.
Kebalikan dari impor, volume ekspor tahun 2006 mengalami penurunan sebesar 102,46 persen dibandingkan tahun 2005. Selama tahun 2001-2006 volume ekspor terbesar terjadi pada tahun 2005 dengan volume ekspor kacang tanah mencapai 5.102 ton, tetapi kemudian menurun pada tahun 2006 dengan volume ekspor menjadi 2.520 ton. Pada kurun waktu 2001-2006, rata-rata volume ekpor
kacang tanah di Indonesia sebesar 2.906 ton per tahun dengan rata-rata pertumbuhan yang menurun sebesar 60,60 persen per tahun.
Adanya ketidakseimbangan antara produksi dengan kebutuhan kacang tanah, volume impor yang terus meningkat, dan volume ekspor yang cenderung menurun diperlukan upaya pengembangan usahatani kacang tanah di Indonesia yang dapat membantu petani kacang tanah baik dalam meningkatkan produksi kacang tanah, meningkatkan kualitas produk, dan pemasaran. Salah satu solusi yang diterapkan untuk mengatasi kendala tersebut adalah melalui kemitraan.
Kemitraan adalah salah satu kegiatan yang dipilih dalam upaya mendorong pengembangan dan peningkatan produksi kacang tanah. Kondisi ini mendorong adanya suatu pengkajian terhadap pelaksanaan kemitraan antara petani/kelompok tani dengan perusahaan dalam mengembangkan usahatani kacang tanah. Dari data yang terdapat pada Tabel 4 diketahui bahwa konsumsi kacang tanah terbesar adalah industri. Sehingga PT Garudafood sebagai salah satu industri makanan olahan yang menggunakan kacang tanah sebagai bahan baku, melaksanakan kegiatan kemitraan sebagai upaya peningkatan produksi kacang tanah dan memenuhi kebutuhan bahan baku.
1.2 Perumusan Masalah
Seiring dengan pesatnya pertambahan jumlah penduduk di Indonesia, menyebabkan semakin bertambahnya permintaan kacang tanah. Tetapi, produksi kacang tanah nasional belum dapat memenuhi permintaan kacang tanah tersebut.
Kekurangan ketersediaan produksi kacang tanah yang terjadi dapat diatasi dengan meningkatkan produksi kacang tanah. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi kacang tanah tersebut adalah dengan kegiatan kemitraan. Adanya
program kemitraan diharapkan mampu meningkatkan produksi kacang tanah dan pendapatan para petani.
PT Garudafood merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan olahan yang menggunakan kacang tanah sebagai bahan baku utama. Salah satu usaha yang dilakukan PT Garudafood untuk memenuhi pasokan bahan baku adalah dengan melaksanakan kegiatan kemitraan. Kegiatan kemitraan antara PT Garudafood dengan petani kacang tanah pertama kali dilaksanakan pada tahun 1996 di Tuban. Saat ini kemitraan PT Garudafood tidak hanya di Tuban tetapi telah berkembang di beberapa daerah yang ada di Pulau Jawa (Tabel 6) Tabel 6. Daerah Kemitraan PT Garudafood di Pulau Jawa, 2007
Propinsi Kota/Kabupaten
Jawa Barat • Banten
• Sukabumi
• Garut
• Cianjur
• Sumedang
• Tasikmalaya
• Majalengka
• Kuningan
• Banjar
• Cilacap
Jawa Tengah • Sragen
• Solo
• Jepara
• Kudus
• Pati
• Yogyakarta
• Rembang
Jawa Timur • Tuban
• Bojonegoro
• Jember
• Banyuwangi
• Situbondo Sumber : Divisi Produksi PT Garudafood, 2008
Salah daerah kemitraan dari PT Garudafood adalah Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kemitraan yang dilaksanakan oleh petani kacang tanah di Desa Palangan sudah berlangsung sejak tahun 1998 hingga saat ini. Dalam melakukan kemitraan, pihak petani mitra dan PT Garudafood terikat dalam surat perjanjian kerjasama yang disepakati kedua belah pihak. Surat perjanjian kerjasama ini berisi bahwa bimbingan budidaya kacang tanah dan penjamin pasar menjadi tanggung jawab PT Garudafood.
Sedangkan petani mitra berkewajiban melakukan budidaya sesuai dengan bimbingan yang telah diberikan oleh PT Garudafood, serta berkewajiban mengirimkan seluruh hasil panennya ke pabrik PT Garudafood dengan harga yang sudah disepakati di surat perjanjian kerjasama. Dilihat dari pelaksanaan kemitraan tersebut maka pola kemitraan yang dilakukan antara PT Garudafood dengan petani mitra adalah model kontrak beli.
Dalam pelaksanaan kemitraan antara PT Garudafood dengan petani mitra masih terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan surat perjanjian kerjasama, seperti petani mitra yang menjual hasil produksi kacang tanahnya selain ke PT Garudafood dan pelaksanaan periode tanam yang tidak sesuai dengan perjanjian.
Di samping masih terdapat beberapa pelanggaran, pelaksanaan kemitraan memberikan keuntungan kepada petani mitra dalam hal meningkatkan produksi kacang tanah dan meningkatkan pendapatan usahatani petani mitra. Terlihat pada Tabel 7 selama kurun waktu tahun 2001-2007, produksi dan produktivitas kacang tanah petani mitra di Desa Palangan relatif meningkat .
Tabel 7. Produksi dan Produktivitas Kacang Tanah Petani Mitra di Desa Palangan, 2001-2007
Tahun Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
2001 87 0,91
2002 90 1,07
2003 107 1,08
2004 132 1,29
2005 140 1,57
2006 155 1,75
2007 163 1,87
Sumber : Kelompok Tani Desa Palangan, 2008
Melihat dari peningkatan produksi dan produktivitas kacang tanah petani mitra, apakah peningkatan produksi dan produktivitas tersebut merupakan pengaruh dari kegiatan kemitraan dengan PT Garudafood? Dan apakah peningkatan produksi dan produktivitas tersebut dapat berpengaruh pada peningkatan pendapatan usahatani kacang tanah petani mitra?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengevaluasi pelaksanaan kemitraan antara PT Garudafood dengan petani
mitra di Desa Palangan.
2. Menganalisis pengaruh kemitraan terhadap peningkatan pendapatan usahatani kacang tanah di Desa Palangan.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini dapat berguna dalam memberikan informasi dan masukan terhadap berbagai pihak yang berkepentingan, antara lain :
1. Bagi petani dan perusahaan, penelitian berguna sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan kemitraan sehingga dapat menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam kemitraan.
2. Bagi penulis, agar dapat menetapkan teori-teori yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan terutama yang berhubungan dengan analisis pendapatan usahatani.
3. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi penelitian selanjutnya atau pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam kemitraan usahatani kacang tanah ini.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran Umum Kacang Tanah
Kacang tanah yang ada di Indonesia semula berasal dari Benua Amerika.
Pertama kali kacang tanah masuk ke Indonesia diperkirakan dibawa oleh pedagang Spanyol ke Maluku pada tahun 1597.
Jenis tanaman kacang tanah yang ada di Indonesia ada dua tipe, yaitu tipe tipe tegak dan tipe menjalar. Tipe tegak adalah jenis kacang yang tumbuh lurus atau sedikit miring ke atas, buahnya terdapat pada ruas-ruas dekat rumpun, umumnya pendek, dan kemasakan buahnya serempak. Sementara itu, kacang tanah tipe menjalar adalah jenis yang tumbuh ke arah samping, batang utama berukuran panjang, buah terdapat pada ruas-ruas yang berdekatan dengan tanah, dan umumnya berumur panjang.
Kacang tanah berkembang sejalan dengan meningkatnya industri makanan berbahan baku kacang tanah. Varietas yang paling lama dikenal adalah Gajah dan Banteng. Beberapa varietas yang saat ini banyak ditanam, antara lain Kelinci, Jerapah, Anoa, Tapir, Panter, Kacang Garuda Tiga, dan Kacang Garuda Dua.
2.1.1 Syarat Tumbuh Kacang Tanah
Kacang tanah menyukai tanah gembur dengan drainase yang baik. Tanah gembur mempermudahkan dan mempercepat pembentukan polong yang terjadi di dalam tanah. Meskipun kacang tanah toleran terhadap kering dan tanah masam (pH tanah 4,5), kondisi tersebut akan berpengaruh pada banyaknya polong yang
terisi. Untuk pembentukan polong diperlukan kalsium. Oleh karena itu, penting untuk menyediakan kalsium yang cukup di sekitar tanaman kacang tanah.
Ada beberapa penyakit yang dapat menyerang tanaman kacang tanah, misalnya bercak daun, karat, dan busuk pangkal batang. Selain itu, ada juga gangguan hama. Untuk memutus siklus hama dan penyakit tanaman kacang, sebaiknya lahan dirotasi dengan tanaman lain yang tidak termasuk tanaman kacangan.
2.1.2 Kandungan Gizi Kacang Tanah
Tahun 2002, konsumsi energi masyarakat Indonesia rata-rat 1.789,04 kal per hari. Sedangkan konsumsi proteinnya rata-rata 49,11 gram. Pemenuhan kalori dan protein tersebut dapat diperoleh dari kacang tanah, karena kandungan kedua zat tersebut dalam tanaman kacang tanah tergolong besar (Tabel 8). Kalori merupakan sumber energi bagi tubuh. Sementara itu, protein berfungsi sebagai zat pembangun dan sumber energi setelah kalori. Selain sebagai sumber kalori dan protein, kacang tanah mengandung zat gizi lainnya (Tabel 8).
Tabel 8. Kandungan Gizi Kacang Tanah
Komponen Gizi Satuan Kandungan
Kalori kal 452,0
Protein gram 25,3
Lemak gram 42,8
Karbohidrat gram 21,1
Kalsium mg 58,0
Fosfor mg 335,0
Zat besi mg 1,3
Vitamin B1 mg 0,3
Vitamin C mg 3,0
Sumber : Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1981
Kandungan lemak dalam kacang termasuk tinggi kadarnya dibandingkan zat gizi lain. Lemak yang terkandung dalam kacang tanah tidak mengandung kolesterol. Adapun asam amino esensial yang terkandung dalam kacang tanah yang dikenal sebagai fitosterol dan tokoferol. Zat fitosterol memiliki peran sebagai penghambat pembentukan kolesterol darah, sedangkan tokosferol sebagai antioksigen dan antipenuaan dini. Sedangkan kandungan karbohidrat yang terdiri dari sejumlah pati dan gula jenis sukrosa selain memberikan rasa manis, juga berperan sebagai penyuplai kalori dan energi
2.1.3 Varietas Kacang Tanah
Kacang tanah berkembang sejalan dengan meningkatnya industri makanan dengan menggunakan bahan baku kacang tanah. Beberapa varietas kacang tanah yang banyak ditanam adalah gajah, anoa, kelinci, garuda dua, garuda biga, tapir, dan kidang. Karakteristik dari varietas-varietas tersebut adalah sebagai berikut : 1. Gajah
Berumur panen 100-110 hari, berbentuk bulat lonjong, warna kulit ari merah muda, produktivitas mencapai 1,2-1,8 ton/ha, tahan terhadap penyakit layu, peka terhadap penyakit karat dan bercak daun.
2. Anoa
Berumur panen 100-110 hari, berbentuk bulat lonjong, warna kulit ari merah muda, produktivitas mencapai 1,8 ton/ha, tahan terhadap penyakit layu, karat daun, dan bercak cokelat daun.
3. Kelinci
Berumur panen 100-110 hari, berbentuk pipih, warna kulit ari ungu, produktivitas mencapai 1,2-1,8 ton/ha, toleran terhadap penyakit layu, dan agak tahan penyakit karat dan bercak daun.
4. Garuda dua
Berumur panen sekitar 85-90 hari, berbentuk bulat, warna kulit ari merah muda, produktivitas mencapai 2,3 ton/ha, dan toleran terhadap penyakit layu, peka penyakit karat dan bercak daun.
5. Garuda biga
Berumur panen sekitar 85-90 hari, berbentuk bulat, warna kulit ari merah muda, produktivitas mencapai 2,25 ton/ha, dan toleran terhadap penyakit layu.
6. Tapir
Berumur panen sekitar 95-100 hari, berbentuk bulat, warna kulit ari merah muda, produktivitas mencapai 1,8-2 ton/ha, tahan penyakit layu.
7. Kidang
Berumur panen sekitar 100-110 hari, berbentuk bulat, warna kulit ari merah, produktivitas mencapai 1,2-1,8 ton/ha, tahan penyakit layu
2.2 Kajian Empirik Kemitraan
Kajian empirik meliputi penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang terdiri dari analisis pengaruh kemitraan terhadap pendapatan petani. Terdapat beberapa penelitian mengenai kemitraan yang telah dilakukan.
Sebagian besar penelitian tersebut lebih mengarah kepada evaluasi kemitraan yang dilakukan serta pengaruhnya terhadap pendapatan usahatani dari para pelaku
kemitraan tersebut. Pelaksanaan kemitraan yang telah diteliti antara lain kemitraan antara PT Agro Inti Pratama dengan petani ubi jalar (Puspitasari, 2003), kemitraan antara PT Great Giant Pineapple dengan petani ubi kayu yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA) (Sulistyo,2004), kemitraan antara PT Sierad Produce dengan peternak ayam broiler (Deshinta, 2006), dan kemitraan Pemuda Tani Indonesia (PTI) (Rahman, 2008).
Dalam evaluasi kemitraan terhadap pendapatan usahatani dilakukan dengan menganalisis pendapatan usahatani petani mitra dan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C rasio). Dan untuk melihat perbandingan pendapatan antara peternak mitra dengan peternak mandiri Deshinta (2006) menggunakan uji-t. Hal yang sama dilakukan oleh Puspitasari (2003) dan menambahkan dengan menganalisis imbangan keuntungan dan biaya (B/C rasio). Selain mengevaluasi pendapatan usahatani, Sulistyo (2004) juga menganalisis efisiensi penggunaan faktor produksi.
Pelaksanaan kegiatan kemitraan diharapkan memberikan manfaat kepada petani mitra. Dari penelitian Puspitasari (2003), Sulistyo (2004), Deshinta (2006), dan Rahman (2008) manfaat yang diperoleh petani mitra antara lain : 1) mendapatkan modal pinjaman dari perusahaan, 2) mendapatkan bimbingan teknik budidaya, 3) mendapatkan jaminan penjualan, dan 4) membantu petani dalam pengadaan sarana produksi.
Pada kegiatan kemitraan diharapkan agar manfaat atau keuntungan dapat dirasakan oleh kedua pihak. Namun tak jarang manfaat atau keuntungan tersebut hanya dirasakan oleh salah satu pihak saja, yang biasanya hanya dirasakan oleh pihak perusahaan. Masalah yang terkadang ditemui adalah hubungan kemitraan
yang tidak saling menguntungkan. Seperti yang terjadi pada penelitian Deshinta (2006), dari semua pasal yang ada dalam surat kesepakatan, tidak ada satu pun membahas mengenai larangan yang tidak boleh dilakukan oleh perusahaan dan sanksi yang dikenakan bila perusahaan merugikan peternak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan dalam kemitraan yang dijalankan oleh perusahaan.
Kesenjangan tersebut juga terlihat dalam masih adanya ketidaksesuaian dari pelaksanaan hak dan kewajiban petani mitra dan perusahaan.
Kendala yang terjadi pada penelitian Puspitasari dan Deshinta (2006), antara lain : 1) keterlambatan waktu panen, dan 2) Terjadi penjualan ubi jalar keluar perusahaan. Sulistyo (2004) dan Rahman (2008) menambahkan kendala dalam kegiatan kemitraan adalah adanya penyalahgunaan dana usaha yang dilakukan oleh petani dan banyaknya tunggakan pinjaman modal karena petani mitra tidak mengembalikan cicilan pinjaman modal.
Hasil analisis pendapatan usahatani petani mitra pada penelitian Sulistyo (2004) dan Rahman (2008) menunjukkan pendapatan usahatani petani lebih besar jika mengikuti kemitraan dan petani akan mendapatkan keuntungan dari kegiatan kemitraan. Penelitian Puspitasari (2006) menunjukkan bahwa jika dilihat dari biaya tunai petani akan mendapatkan keuntungan tetapi nilainya lebih sedikit daripada petani non mitra, sedangkan jika dilihat dari biaya total baik petani mitra maupun non mitra akan mendapat kerugian. Hasil penelitian yang telah dilakukan Deshinta (2006) menunjukkan bahwa meskipun peternak mitra memperoleh penerimaan lebih besar namun pendapatan yang diperoleh hanya sebesar Rp 4.972.514. Sedangkan peternak mandiri memperoleh pendapatan sebesar Rp 5.850.476. Hal ini dikarenakan jumlah biaya yang ditanggung peternak mitra lebih
besar 2,2 persen dari peternak mandiri. Sehingga R/C rasio yang diperoleh peternak mitra sebesar 1,066 sedangkan peternak mandiri sebesar 1,079.
Berdasarkan hasil kajian kemitraan terdahulu dapat disimpulkan bahwa agar pelaksanaan kemitraan berjalan seperti yang diharapkan perlu adanya perbaikan dari kedua pihak yang bermitra. Kedua pihak harus lebih berkomitmen terhadap kontrak perjanjian kemitraan yang telah dibuat dan disepakati bersama pada awal pelaksanaan kemitraan. Untuk mengatasi kendala juga dapat dilakukan dengan menerapkan sanksi-sanki atas pelanggaran kontrak perjanjian kemitraan, sanksi tersebut tidak hanya berlaku bagi petani mitra tetapi juga untuk perusahaan agar tidak terjadi kesenjangan antara petani mitra dengan perusahaan.
Penelitian yang akan dilakukan adalah mengevaluasi pengaruh kemitraan terhadap pendapatan usahatani petani mitra. Penelitian ini diawali dengan mengevaluasi pelaksanaan kemitraan antara PT Garudafood dengan petani mitra di Desa Palangan. Selanjutnya penelitian dilanjutkan dengan menganalisis pendapatan usahatani dan imbangan penerimaan dan biaya (R/C rasio).
Pendapatan usahatani dan R/C rasio yang diperoleh petani mitra dibandingkan dengan pendapatan usahatani dan R/C rasio yang diperoleh petani non mitra.
Hasil penelitian ini akan menunjukkan pengaruh kemitraan terhadap pendapatan usahatani petani mitra. Sehingga petani mitra dapat mengetahui pendapatan dan keuntungan yang diperoleh dengan mengikuti kemitraan dan dapat memutuskan untuk melanjutkan kemitraan atau tidak. Beberapa persamaan dan perbedaan antara penelitian yang akan dilakukan terhadap penelitian terdahulu diringkas dalam Tabel 9.
Tabel 9. Persamaan dan Perbedaan dengan Kajian Kemitraan Terdahulu
Peneliti Persamaan Perbedaan
Puspitasari (2003)
Topik yang diteliti mengenai kemitraan tanaman pangan
1. Penelitian dilakukan terhadap tanaman kacang tanah, sedangkan Puspitasari (2003) melakukan penelitian terhadap tanaman ubi jalar
2. Penelitian dilakukan dengan analisis pendapatan dan analisis R/C rasio, sedangkan Puspitasari (2003) menambahkan B/C rasio dan uji-t
Sulistyo (2004)
Topik yang diteliti mengenai kemitraan tanaman pangan
1. Penelitian dilakukan pada tanaman kacang tanah, sedangkan Sulistyo (2004) melakukan penelitian pada tanaman ubi kayu
2. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengevaluasi pelaksanaan kemitraan dan menganalisis pendapatan usahatani petani mitra, sedangkan salah satu tujuan penelitian Sulistyo (2004) adalah menganalisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi usahatani
Deshinta (2006)
Topik yang diteliti mengenai kemitraan
Penelitian dilakukan pada komoditi pertanian yaitu kacang tanah, sedangkan Sulaksana (2005) melakukan penelitian pada komoditi peternakan yaitu ayam broiler
Rahman (2008)
Topik yang diteliti mengenai kemitraan
1. Penelitian dilakukan pada petani kacang tanah di Desa Palangan, sedangkan Rahman (2008) melakukan penelitian pada semua petani di Kelurahan Sukatani tanpa dibedakan komoditinya.
2. Penelitian dilakukan dengan membandingkan pendapatan usahatani petani mitra dengan petani non mitra, sedangkan Rahman (2008) melakukan penelitian dengan membandingkan pendapatan usahatani sebelum bermitra dengan setelah bermitra.
2.3 Kajian Empirik Usahatani Kacang Tanah
Kacang tanah merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang memiliki peran dalam ketersediaan pangan. Hingga saat ini kacang tanah masih terus ditanam oleh petani karena memberikan keuntungan bagi petani. Beberapa penelitian mengenai pendapatan usahatani kacang tanah telah dilakukan.
Penelitian pendapatan usahatani kacang tanah yang telah dilakukan antara lain oleh Yursak (2005), Kasno (2005), dan Tirtosuprobo (2006). Penelitian Yursak (2005) dilakukan di Kabupaten Serang, Banten dengan menganalisis sistem usahatani kacang tanah di lahan kering. Sebesar 7,38 persen lahan kering di Banten baru dimanfaatkan untuk tanaman kacang tanah. Oleh karena itu, peluang pengembangan tanaman kacang tanah di lahan kering di Kabupaten Serang masih terbuka. Yursak (2005) melakukan analisis usahatani dengan membandingkan pendapatan usahatani varietas kidang dengan varietas lokal. Karena berdasarkan hasil penelitian diperoleh varietas kacang tanah yang mampu beradaptasi di lahan kering adalah varietas kidang yang nilai produksinya lebih tinggi dibanding varietas lainnya. sedangkan varietas lokal nilai produksinya paling rendah dibandingkan varietas lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa biaya usahatani kacang tanah varietas Kidang lebih besar daripada varietas lokal. Meskipun demikian, hasil produksi varietas kidang juga yang lebih tinggi daripada varietas lokal, sehingga penerimaan usahatani untuk varietas kidang lebih besar dibandingkan varietas lokal. Maka pendapatan usahatani kacang tanah yang diperoleh pada varietas kidang lebih tinggi daripada menggunakan kacang tanah varietas lokal. Nilai R/C ratio pada varietas kidang menunjukkan di atas angka satu yang artinya dalam usahatani tersebut memberi keuntungan bagi petani.
Penelitian oleh Kasno (2005) dilakukan di Malang yang melakukan analisis usahatani dengan membedakan pendapatan usahatani dengan beberapa teknik produksi, yaitu 1) teknologi petani, dan 2) dan teknologi inovatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun petani mendapatkan keuntungan dengan menggunakan teknologi petani, tetapi keuntungan yang diperoleh petani dengan
menggunakan teknologi inovatif lebih besar. Hal ini dikarenakan hasil produksi yang diperoleh petani dengan menggunakan teknologi inovatif lebih besar daripada teknologi petani. Sehingga pendapatan usahatani akan bertambah jika petani menggunakan teknologi inovatif dalam usahatani kacang tanah.
Penelitian Tirtosuprobo (2006) dilakukan di lahan sawah irigasi terbatas, di Desa Slengen, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian dilakukan pada lahan petani yang ditanami kacang tanah dan kapas secara tumpangsari. Dan sebagai pembanding dilakukan juga analisis usahatani pada lahan yang ditanami kacang tanah dengan cara monokultur. Hasil penelitian menunjukkan pendapatan usahatani kacang tanah secara monokultur memberikan keuntungan kepada petani. Meskipun demikian, pendapatan usahatani secara tumpang sari lebih besar 124,7 persen dibandingkan dengan penanaman kacang tanah secara monokultur.
Dari hasil penelitian usahatani kacang tanah yang telah dilakukan oleh Yursak (2005), Kasno (2005), dan Tirtosuprobo (2006) dapat disimpulkan bahwa usahatani kacang tanah akan memberikan keuntungan kepada petani kacang tanah. Usahatani kacang tanah akan memberikan keuntungan baik dengan menggunakan teknologi petani ataupun teknologi inovatif, dan dapat ditanam secara monokultur ataupun tumpang sari.
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka pemikiran teoritis merupakan suatu kerangka yang mengungkapkan teori-teori yang sesuai dengan topik penelitian. Dalam bab ini akan dibahas teori-teori mengenai pendapatan usahatani.
3.1.1 Pendapatan Usahatani
Menurut Suratiyah (2006), komponen yang terdapat dalam usahatani terdiri dari alam, tenaga kerja, modal dan manajemen. Alam merupakan faktor yang sangat menentukan pada usahatani. Faktor alam dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tanah dan lingkungan alam sekitarnya. Faktor alam berkaitan dengan jenis tanah dan kesuburan tanah. Sedangkan faktor lingkungan alam sekitar adalah iklim yang berkaitan dengan keadaan suhu, ketersediaan air dan sangat menentukan dalam pemilihan komoditas yang akan diusahakan. Dalam usahatani, tanah mempunyai peranan yang penting karena tanah merupakan tempat tumbuhnya tanaman, ternak dan usahatani keseluruhan.
Tenaga kerja adalah salah satu unsur penentu bagi usahatani yang tergantung pada musim tanam. Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk. Menurut sumber tenaga kerja, dalam usahatani tenaga kerja berasal dari tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja luar keluarga yang diperoleh dengan sistem upahan. Sedangkan menurut jenisnya, tenaga kerja dalam usahatani terdiri dari tenaga kerja manusia, ternak dan mekanik (Hernanto, 1995). Tenaga
kerja manusia dibedakan atas tenaga kerja pria, wanita dan anak-anak. Tenaga kerja ternak digunakan untuk pengolahan lahan dan pengangkutan. Tenaga kerja mekanik bersifat substitusi, yaitu digunakan sebagai pengganti tenaga kerja manusia dan ternak.
Kebutuhan tenaga kerja dapat diketahui dengan cara menghitung setiap kegiatan produksi masing-masing pada komoditas yang diusahakan, kemudian dijumlah untuk seluruh usahatani. Satuan yang sering digunakan dalam menghitung kebutuhan tenaga kerja adalah man days atau HKO (Hari Kerja Orang) dan JKO (Jam Kerja Orang) (Suratiyah, 2006).
Modal adalah syarat utama berlangsungnya suatu usaha, demikian pula dengan usahatani. Dalam pengertian ekonomi, modal adalah barang atau uang yang dipergunakan bersama dengan faktor produksi tanah dan tenaga kerja serta dengan pengelolaan yang baik maka akan menghasilkan barang-barang baru, yaitu produksi pertanian (Hernanto, 1995). Dengan modal, maka faktor produksi tanah dan tenaga kerja dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi manusia.
Menurut sifatnya, modal dibedakan atas modal tetap yaitu modal yang tidak akan habis pada satu periode produksi dan modal bergerak yaitu modal yang habis dalam satu periode produksi.
Manajemen sebagai unsur pokok keempat dalam usahatani merupakan kemampuan petani dalam menentukan, mengorganisir, dan mengkoordinasikan input produksi yang digunakan dengan sebaik-baiknya dan dapat memberikan output seperti yang diharapkan (Hernanto, 1995). Ukuran keberhasilan suatu manajemen usahatani adalah produktivitas yang diperoleh dari usahatani tersebut.
Menurut Osburn (1978) dalam Suratiyah (2006) bahwa manajemen usahatani terdiri atas tiga hal yang saling terkait, yaitu manajemen sebagai suatu pekerjaan, manajemen sebagai sumber daya, dan manajemen sebagai prosedur.
Manajemen sebagai suatu pekerjaan mengartikan bahwa petani harus dapat menjelaskan dan merealisasikan idenya dalam mengelola usahatani untuk memperoleh hasil seperti yang diinginkan. Manajemen sebagai sumber daya juga sangat penting karena menentukan keberhasilan suatu usahatani dari cara petani mengelola input produksi yang digunakan dan mendapatkan output seperti yang diharapkan. Sedangkan manajemen sebagai prosedur diartikan bahwa dengan petani melakukan pengelolaan yang baik dan benar maka hasil yang diperoleh akan baik pula.
Suatu usahatani dikatakan berhasil jika petani dapat membayar semua biaya-biaya yang dikeluarkan dan dapat menjaga kontinuitas usahanya. Atau penerimaan yang diterima lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
Penerimaan usahatani adalah semua nilai produk yang dihasilkan dari suatu usahatani pada periode waktu tertentu. Penerimaan mencakup produk usahatani yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan untuk bibit dan pakan ternak, digunakan untuk pembayaran dan disimpan (Soekartawi dkk, 1991).
Penerimaan usahatani diperoleh dari perkalian antara total produksi dengan harga pasar yang berlaku pada periode waktu tertentu.
Menurut Hernanto (1995) dan Soekartawi (1995) biaya usahatani secara umum meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan tidak berpengaruh terhadap besarnya jumlah produksi. Biaya tetap terdiri dari pajak, penyusutan alat-alat
produksi, bunga pinjaman, sewa tanah dan iuran irigasi. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang jumlahnya selalu berubah dan besarnya tergantung dari jumlah produksi. Biaya yang termasuk biaya variabel adalah biaya input produksi dan upah tenaga kerja.
Pengelompokan biaya usahatani yang lain adalah biaya tunai dan biaya tidak tunai (diperhitungkan) (Hernanto, 1995). Biaya tunai dan biaya tidak tunai berasal dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap yang termasuk dalam biaya tunai adalah iuran irigasi dan pajak tanah. Sedangkan untuk biaya variabel antara lain biaya input produksi dan upah tenaga kerja. Biaya diperhitungkan yang merupakan biaya tetap adalah biaya penyusutan dan biaya untuk tenaga kerja keluarga. Dan yang termasuk dalam biaya variabel yaitu sewa lahan.
Pendapatan usahatani merupakan ukuran keuntungan yang digunakan sebagai pembanding dalam beberapa usahatani. Pendapatan usahatani diperoleh dari selisih antara penerimaan total dengan biaya total. Sehingga keuntungan yang didapatkan petani ditentukan dari besar atau kecilnya biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh petani.
Besarnya biaya dan pendapatan usahatani dipengaruhi oleh dua faktor yaitu (Suratiyah, 2006) :
1. Faktor internal dan eksternal
Faktor internal maupun eksternal akan bersama-sama mempengaruhi biaya dan pendapatan usahatani. faktor internal yang dapat mempengaruhi biaya dan pendapatan antara lain umur petani, pendidikan, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan, jumlah tenaga kerja keluarga, luas lahan, dan modal. Sedangkan
faktor eksternal yang dapat mempengaruhi biaya dan pendapatan adalah ketersediaan input, permintaan output, dan harga input dan output.
2. Faktor manajemen
Petani harus dapat mengatasi faktor ekternal yang selalu berubah. Petani sebagai juru tani harus dapat melaksanakan usahataninya dengan sebaik-baiknya dengan menggunakan faktor produksi dan tenaga kerja secara efisien sehingga akan memperoleh manfaat setinggi-tingginya. Selain sebagai juru tani, petani juga bertindak sebagai manajer yang harus dapat mengambil keputusan dengan berbagai pertimbangan ekonomis, sehingga didapatkan hasil yang akan memberikan pendapatan yang maksimal. Agar dapat mengantisipasi perubahan supaya tidak salah pilih dan merugi, petani memerlukan berbagai informasi tentang kombinasi faktor produksi dan informasi mengenai harga, baik harga input maupun output.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Dalam pelaksanaan usahatani kacang tanah diperlukan input untuk mendukung kegiatan produksi kacang tanah, yaitu tenaga kerja, bibit, pupuk, dan obat-obatan. Harga yang diberikan untuk input tersebut ditentukan oleh pasar.
Dari besarnya input yang digunakan untuk usahatani kacang tanah dan harga untuk penggunaan input diperoleh biaya produksi. Karena petani hanya dapat mengkontrol penggunaan input dan tidak mempunyai peranan dalam menentukan harga input, maka besarnya biaya produksi ditentukan oleh besarnya penggunaan input. Semakin besar input yang digunakan, maka biaya produksi yang dikeluarkan juga semakin besar, begitu juga sebaliknya.
Dari input yang digunakan akan menghasilkan output, dalam hal ini output yang dimaksud adalah kacang tanah. Harga untuk output juga ditentukan oleh pasar dan petani juga tidak mempunyai peran dalam menentukan harga output.
Oleh karena itu, penerimaan yang diterima oleh petani ditentukan dari besarnya output yang dihasilkan oleh petani. Semakin besar jumlah output, semakin besar penerimaan usahataninya. Sebaliknya, semakin sedikit jumlah output, maka penerimaan usahatani yang diperoleh juga akan semakin sedikit.
Besarnya biaya produksi dan penerimaan usahatani akan mempengaruhi pendapatan usahatani yang akan diperoleh petani. Dalam pelaksanaannya, petani dapat mengatur biaya produksi dalam usahatani tetapi tidak dapat mengatur harga output. Sehingga untuk meningkatkan perdapatan usahatani, petani harus dapat mengurangi biaya produksi dengan mengefisienkan penggunaan input. Untuk menganalisis pendapatan usahatani kacang tanah, digunakan analisis pendapatan dan analisis R/C rasio. Dengan analisis tersebut akan diketahui besarnya pendapatan usahatani yang diperoleh petani kacang tanah dan dapat melihat usahatani yang dijalankan memberikan keuntungan atau kerugian kepada petani.
Kerangka alur penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Biaya
Produksi Harga
Input
Harga Output Output
Produksi Usahatani
Kacang Tanah
Penerimaan Usahatani
Pendapatan Usahatani Input Produksi
Tenaga Kerja Bibit
Pupuk Obat-Obatan
IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Desa Palangan, Kecamatan Jangkar, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur. Penelitian dilakukan pada bulan September- Oktober 2008. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan-pertimbangan :
1. Propinsi Jawa Timur merupakan sentra produksi kacang tanah terbesar di Indonesia.
2. Kabupaten Situbondo merupakan salah satu daerah kemitraan PT Garudafood di Jawa Timur dengan jumlah produksi kacang tanah terkecil.
3. Kecamatan Jangkar merupakan kecamatan dengan produksi kacang tanah terbesar di Kabupaten Situbondo.
4. Desa Palangan merupakan satu-satunya desa di Kabupaten Situbondo yang petani kacang tanahnya bermitra dengan PT Garudafood.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi data input dan output usahatani kacang tanah, harga input, harga output, dan data lain yang berhubungan dengan tujuan penelitian. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan hasil wawancara dengan petani kacang tanah dan pihak PT Garudafood.
Data sekunder yang dikumpulkan meliputi data luas panen kacang tanah nasional, produksi kacang tanah nasional, produktivitas kacang tanah nasional,
konsumsi kacang tanah nasional, volume dan nilai impor dan ekspor kacang tanah nasional, produksi kacang tanah petani mitra di Desa Palangan, data potensi dan keadaan umum daerah penelitian, dan kontrak kemitraan. Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi yang terkait dengan permasalahan penelitian, antara lain Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Pertanian, Kantor Desa Palangan, serta dari data yang dimiliki oleh PT Garudafood. Selain itu data sekunder juga didapat dari literatur atau buku serta media elektronik yaitu internet.
4.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara langsung dengan petani kacang tanah dipandu dengan kuisioner yang telah dipersiapkan sebelumnya dan mengadakan pengamatan terhadap keadaan usahatani kacang tanah di Desa Palangan. Kuisioner yang digunakan berisi pertanyaan mengenai jumlah pemakaian input, harga input, pemakaian dan upah tenaga kerja, jumlah output, harga jual output, dan pertanyaan lain yang berhubungan dengan analisis usahatani kacang tanah. Selain itu, pada kuisioner juga terdapat pertanyaan untuk mengevaluasi pelaksanaan kemitraan yang terjadi antara petani mitra dengan PT Garudafood.
4.4 Metode Penarikan Sampel
Petani yang menjadi responden pada penelitian ini adalah petani kacang tanah di Desa Palangan. Pemilihan petani responden diperoleh dari daftar nama petani kacang tanah yang merupakan anggota kelompok tani di Desa Palangan.
Informasi anggota kelompok tani tersebut didapat dari ketua kelompok tani Desa Palangan.
Penarikan sampel dilakukan dengan melakukan perbandingan antara petani mitra dengan petani non mitra. Karena mendapatkan data series usahatani sebelum petani melakukan kemitraan sangat sulit, sebagai akibat kemitraan yang telah berlangsung cukup lama. Sehingga sebagai pembanding digunakan petani non mitra, untuk melihat sampai sejauh mana pengaruh kemitraan terhadap pendapatan usahatani petani mitra.
Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan metode Simple Random Sampling. Hal ini dikarenakan petani kacang tanah di Desa Palangan bersifat
homogen. Sifat petani kacang tanah yang homogen dilihat dari teknologi budidaya kacang tanah yang digunakan oleh petani kacang tanah di Desa Palangan. Jumlah populasi petani kacang tanah di Desa Palangan adalah 82 petani yang terdiri dari 60 petani mitra dan 22 petani non mitra. Dalam penelitian ini jumlah responden yang diambil adalah 50 persen dari jumlah populasi petani kacang tanah tersebut, yaitu 41 petani responden yang terdiri dari 30 responden petani mitra dan 11 responden petani non mitra. Responden dipilih secara acak dengan cara diundi.
4.5 Metode Analisis Data
Data yang diolah dan dianalisis dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif yang bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan kemitraan yang meliputi realisasi hak dan kewajiban, kendala-kendala dan alternatif pemecahan kendala tersebut.
Sedangkan untuk analisis data kuantitatif menggunakan analisis pendapatan
usahatani dan analisis R/C ratio yang bertujuan menganalisis besarnya pendapatan petani kacang tanah, baik petani mitra maupun petani non mitra. Perhitungan analisis data kuantitatif dibantu dengan kalkulator dan komputer dengan menggunakan software Microsoft Office Excel.
4.5.1 Analisis Pendapatan Usahatani
Penerimaan usahatani adalah semua nilai output yang dihasilkan dari suatu usahatani pada jangka waktu tertentu. Adapun rumus penerimaan adalah sebagai berikut (Soekartawi, 1995) :
TR = Y x P
Dimana : TR = Total penerimaan (Rp) Y = Output yang dihasilkan (Kg) P = Harga jual produk (Rp)
Biaya adalah semua nilai input produksi yang digunakan dalam kegiatan usahatani untuk menghasilkan output pada periode waktu tertentu. Biaya usahatani dapat dibedakan menjadi dua, yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai adalah semua biaya yang dibayarkan dengan uang, seperti biaya pembelian sarana produksi (bibit, pupuk, dan obat) dan upah tenaga kerja luar keluarga. Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung pendapatan petani yang sebenarnya jika penyusutan alat dan nilai tenaga kerja dalam keluarga diperhitungkan.
Dalam usahatani kacang tanah ini menggunakan peralatan, sehingga perlu diperhitungkan biaya penyusutan. Biaya penyusutan alat-alat pertanian diperhitungkan dengan membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa
yang ditafsirkan dengan lamanya modal dipakai (Metode Garis Lurus), dengan rumus sebagai berikut :
Biaya penyusutan = n
Ns Nb
Dimana : Nb = Nilai pembelian (Rp) Ns = Tafsiran nilai sisa (Rp) n = Jangka usia ekonomi (tahun)
Pendapatan dalam penelitian ini akan dibedakan menjadi dua. Pertama pendapatan atas seluruh biaya tunai (pendapatan tunai) yaitu biaya yang benar- benar dikeluarkan oleh petani. Kedua, pendapatan atas biaya total (pendapatan total) dimana semua input milik keluarga juga diperhitungkan sebagai biaya.
Secara umum pendapatan adalah selisih antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani pada periode waktu tertentu. Secara matematis tingkat pendapatan usahatani dapat ditulis sebagai berikut (Suratiyah, 2006) :
Pendapatan Tunai = Penerimaan - Biaya Tunai = P.Y - BT Pendapatan Total = P.Y - (BT+BD) Dimana : P = Harga produksi (Rp/Kg)
Y = Jumlah Produksi (Kg) BT = Biaya tunai (Rp)
BD = Biaya diperhitungkan (Rp)
4.5.2 Analisis Imbangan Penerimaan dan Biaya
Agar petani dapat memberikan penilaian terhadap keputusan dan kemungkinan pengembangan usahatani, diperlukan ukuran kedudukan ekonomi
terhadap usahatani tersebut. Nilai bandingan atau ratio digunakan untuk mengukur kedudukan ekonomi suatu usahatani. Pada analisis usahatani, rasio yang digunakan untuk menganalisis keuntungan dari pendapatan usahatani adalah R/C rasio. R/C rasio ini menunjukkan penerimaan yang didapat untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memproduksi. Perhitungan ratio R/C dapat dirumuskan sebagai berikut (Soekartawi, 1995):
R/C rasio = (Py.Y) / (BT+BD) Dimana : R = Penerimaan
C = Biaya
Py = Harga Output (Rp) Y = Output (Kg) BT = Biaya Tunai (Rp)
BD = Biaya Diperhitungkan (Rp)
Suatu usaha dikatakan berhasil jika nilai R/C rasio lebih besar dari satu (R/C rasio > 1). Nilai tersebut mengartikan bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan untuk usaha akan memberikan tambahan penerimaan lebih besar dari satu rupiah. Sebaliknya, bila nilai R/C rasio lebih kecil dari satu (R/C rasio < 1) maka setiap satu rupiah yang dikeluarkan akan memberikan tambahan penerimaan kurang dari satu rupiah, sehingga petani menderita kerugian. Jika R/C rasio sama dengan satu (R/C rasio = 1) berarti kegiatan usahatani berada pada kondisi keuntungan normal. Perhitungan analisis pendapatan usahatani dan analisis R/C rasio secara rinci dapat dilihat pada tabel 10.