• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSIDING SEMNASBAHTERA 2017 ISBN Implementasi Gerakan Literasi Menuju Masyarakat Mandiri Berkemajuan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSIDING SEMNASBAHTERA 2017 ISBN Implementasi Gerakan Literasi Menuju Masyarakat Mandiri Berkemajuan"

Copied!
484
0
0

Teks penuh

(1)

PROSIDING

SEMNASBAHTERA 2017

Implementasi Gerakan Literasi Menuju Masyarakat Mandiri Berkemajuan

Purworejo, 15 Juli 2017

Auditorium Kasman Singodimedjo, Kampus 1

ISBN 978-602-50363-0-9

(2)

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA

“ Implementasi Gerakan Literasi Menuju Masyarakat Mandiri Berkemajuan”

Purworejo, 15 Juli 2017

Auditorium Kasman Singodimedjo

Editor:

Suci Rizkiana, M. Pd.

Penerbit:

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Purworejo ISBN 978-602-50363-0-9

(3)

ii SEMNASBAHTERA

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA

“ Implementasi Gerakan Literasi Menuju Masyarakat Mandiri Berkemajuan”

Purworejo, 15 Juli 2017

Auditorium Kasman Singodimedjo

Editor:

Suci Rizkiana, M. Pd.

Diterbitkan oleh:

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Purworejo ISBN 978-602-50363-0-9

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun, Tanpa izin tertulis dari Penulis dan Penerbit

(4)

iii SEMNASBAHTERA

KATA PENGANTAR

Prosiding hasil seminar nasional Bahasa, Sastra, dan budaya dengan tema

“Implementasi Gerakan Literasi Menuju Masyarakat Mandiri Berkemajuan” dapat diselesaikan dengan baik meskipun agak terlambat dari rencana awal. Hal ini karena isi di dalam prosiding bukan sekedar kumpulan makalah tetapi disertai pula dengan hasil diskusi makalah. Karena itulah tidak mungkin prosiding dapat dibagi ketika seminar sedang berlangsung.

Prosiding ini pada dasarnya terdiri atas dua bagian, yaitu bagian A memuat makalah pembicara tamu dan bagian B memuat makalah pembicara utama. Isi prosiding bagian B terdiri atas 6 topik.

Penyajian isi prosiding pada bagian B dikelompokkan atas dasar kedekatan topik yang ditulis oleh peserta. Dengan demikian, pembagian isi prosiding disesuaikaan dengan kelompok-kelompok sidang pada saat seminar berlangsung. Setelah disusun menjadi prosiding, seluruh makalah dimasukkan ke dalam kelompok 1 s.d. 6 sesuai dengan topik sehingga isi prosiding bagian B terdiri atas 6 (enam) topik, yaitu:

Topik I : Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra, Topik II : Bidang Ilmu Bahasa,

Topik III : Bidang Ilmu Sosial Humaniora, Topik IV : Bidang Ilmu Pendidikan, Topik V : Bidang Ilmu Psikologi, dan

Topik VI : Bidang Ilmu Seni, Desain, dan Media.

Atas dasar pengelompokkan penyajian ini, pembaca dapat memperoleh gambaran mengenai topik-topik makalah dalam memberikan kontribusi terhadap pencapaian tema seminar. Memang, belum sepenuhnya setiap topik dapat menggambarkan kontribusi terhadap pencapaian tema tetapi setidaknya arah menuju pencapaian tema sudah berada pada jalan yang benar. Belum terwujudnya kontribusi pencapaian tema dari setiap makalah karena panduan penulisan makalah hanya berpegang pada tema dan belum dipandu oleh topik-topik khusus yang mengarah pada tema. Untuk itu, panitia mohon maaf sedalam dalamnya.

Terlaksananya seminar bahtera 2017 tidak lepas dari dukungan Rektor, Dekan FKIP, Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purworejo. Di samping itu, dukungan konkret dari perguruan tinggi Muhammadiyah dan ketua program studi PBSI di seluruh Indonesia, dan seluruh peserta semnasbahtera 2017. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya.

(5)

iv SEMNASBAHTERA

Akhirnya, panitia semnasbahtera 2017mohon maaf sedalam-dalamnya atas segala kekurangan yang terjadi dalam memberi pelayanan selama berlangsungnya seminar.

Purworejo, 19 Agustus 2017

Ketua SEMNASBAHTERA 2017

Dr. Khabib Sholeh, M.Pd.

(6)

v SEMNASBAHTERA

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN HAK CIPTA ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

MAKALAH UTAMA ... 1

BUDAYA LITERASI, MARTABAT BANGSA, DAN PENGAJARAN SASTRA ... 2

Suminto A. Sayuti PENGEMBANGAN TEKS MATERI AJAR BAHASA BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM KURIKULUM 2013 ... 11

Khabib Sholeh LINGUISTIK FORENSIK KESAKSIAN ILMU BAHASA DALAM SIDANG PENGADILAN ... 20

Suhandano MAKALAH PENDAMPING ... 30

TOPIK I BIDANG ILMU PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA ... 31

PENDEKATAN MULTIKULTURAL DALAM APRESIASI CERPEN DI PERGURUAN TINGGI ... 32

Muhamad Sholahudin PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS BIOGRAFI MENGGUNAKAN METODE PENGAJARAN LANGSUNG PADA SISWA SMA NEGERI 3 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2016/2017 ... 45

Erlita Cahya Widha Wardhani, Khabib Sholeh, Bagiya PENGARUH MODEL COOPERATIVE LEARNING THINK-PAIR-SHARE TERHADAP PEMBELAJARAN MEMBACA BERITA PADA KELAS VIII SMP N 1 KUWARASAN TAHUN AJARAN 2016/2017 ... 51 Mida Gita Fitria, Khabib Sholeh, Umi Faizah

(7)

vi SEMNASBAHTERA

COMBINING NEW TECHNOLOGY IN ELT TO CREATE INNOVATION IN

STUDENT’S LEARNING ... 62 Khusnul Khotimah, Edi Sunjayanto, Masykuri, Istighfarin

INDEKS TINGKAT KESULITAN (ITK) DAN KEBERFUNGSIAN DISTRAKTOR SOAL PILIHAN GANDA UAS GENAP MATA PELAJARAN BAHASA

INDONESIA ... 66 Rani Setiawaty, Tety Bekti Sulistyorini, Margono,, Laili Etika Rahmawati

PELESAPAN STRUKTUR KALIMAT BAHASA IKLAN SEBAGAI INOVASI BAHAN AJAR KALIMAT MAJEMUK BAHASA INDONESIA SMP KELAS VII

SEMESTER1 ... 77 Meliana Nur Rohmah, Agus Budi Wahyudi

PEMANFAATAN PUISI KARYA PENYAIR JAWA TIMUR SEBAGAI BAHAN

BUKU TEKS MATA KULIAH SEJARAH SASTRA DI PERGURUAN TINGGI ... 85 Sutrimah

PENGARUH MODEL CONCEPT SENTENCE TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS TEKS EKSPLANASI KOMPLEKS PADA SISWA KELAS XI SMA

NEGERI 1 PEJAGOAN TAHUN PELAJARAN 2016/2017 ... 94 Dwi Aprilia, Khabib Sholeh, Nurul Setyorini

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MELALUI MODEL VAK PADA SISWA KELAS VII B SMP NEGERI 2 ADIMULYO TAHUN PELAJARAN

2016/2017 ... 103 Siti Fatonah, Bagiya, Nurul Setyorini

TEACHING STRUCTURE AND WRITTEN EXPRESSION OF TOEFL BASED ON

FINITE AND NON FINITE APPROACH ... 113 Abdur Rofik

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN STRUKTURALISME GENETIK DENGAN PENDEKATAN CONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)

MATA KULIAH TEORI SASTRA DI PERGURUAN TINGGI ... 122 Masnuatul Hawa

STUDENTS’ DIFFULTIES IN DELIVERING A SPEECH IN PUBLIC SPEAKING CLASS AT FOURTHSEMESTER OF ENGLISH DEPARTMENT OF STKIP YDB

LUBUK ALUNG IN THE 2016/2017 ACADEMIC YEAR ... 131 Niza Syaveny, Indra Johari

(8)

vii SEMNASBAHTERA

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING DENGAN MEDIA APLIKASI BAMBOO MEDIA BM GAMES APPS SEBAGAI UPAYA MELATIH KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN SISWA SEKOLAH

DASAR ... 136 Cahyo Hasanudin, Abdul Ghoni Asror

KAJIAN INTERTEKSTUAL DAN NILAI PENDIDIKAN NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA DAN NOVEL 5 CM KARYA DONNY

DHIRGANTORO ... 147 Suci Rizkiana, Femelia Arlin Fianti

FACEBOOK: SALAH SATU MEDIA BERSASTRA ... 164 Winarti

TOPIK II BIDANG ILMU BAHASA ... 182 MEMUDARNYA BASE ALUS DIKALANGAN GENERSASI MUDA PENUTUR

BAHASA SASAK DI DESA TEMBENG PUTIK LOMBOK TIMUR ... 183 M. Rosyidi, Sri Marmanto, Djatmika

KAJIAN RELIGIUSITAS UNGKAPAN FALIA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN

KARAKTER MASYARAKAT ETNIS MUNA ... 191 Hardin, Sitti Hermina, Irma Magara

STRATEGI PEMUDA DALAM PENGEMBANGAN MINAT BACA : STUDI

KASUS KARANG TARUNA GUYUB RUKUN... 202 Ahmad Anwar

LEKSIKON HEWAN PENANDA KECERDASAN EKOLOGI DALAM

PERIBAHASA NUSANTARA ... 214 Margono, Agus Budi Wahyudi

ANALISIS KESANTUNAN SMS MAHASISWA ... 224 Eko Suroso

TOPIK III BIDANG ILMU SOSIAL HUMANIORA ... 238 INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DAN PELESTARIAN BUDAYA DAERAH MELALUI PERTUNJUKAN KETHOPRAK ... 239

(9)

viii SEMNASBAHTERA

Budi Waluyo, Astiana Ajeng Rahadini, Favorita Kurwidaria, Dewi Pangestu Said MINTARAGA GANTJARAN KARYA PRIJOHOETOMO DAN RELEVANSINYA

DENGAN SITUASI SOSIAL BUDAYA MODERN DI INDONESIA... 246 Djoko Sulaksono, Budi Waluyo

PUSH FACTOR PARTISIPASI DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN BADAN USAHA MILIK PEDESAAN (BUMDES) (STUDI KASUS FHirAKTOR PENDORONG PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM UPAYA MEMBANGUN BUMDES DI DESA SERANG KECAMATAN

KARANGREJA KAB.PURBALINGGA) ... 239 Endang Dwi Sulistyoningsih

LIBRARIAN AS PARTNER OF KNOWLEDGE: PERAN DAN KONTRIBUSINYA

DALAM TRANSFORMASI PENGETAHUAN ... 256 Mukhlis

MAKNA KEBERSYUKURAN BERDASARKAN KAJIAN PSIKOLOGI DAN

TAFSIR AL-MISBAH ... 276 Wanodya Kusumastuti, Nurul Setyorini

THE PERSONALITY OF THE MAIN CHARACTER AS REFLECTED IN KHALED

HOSSEINI'S AND THE MOUNTAINS ECHOED: A PSYCHOLOGICAL APPROACH .. 283 Inike Tesiana Putri

PSIKOLOGI RAOS TOKOH RADEN GATUTKACA DALAM LAMPAHAN

CERITA WAYANG AJI NARANTAKA PATHET MANYURA ... 395 Exwan Andriyan Verrysaputro

KAJIAN KEPRIBADIAN REAL SELF DAN IDEAL SELF TOKOH UTAMA PADA

NOVEL GORNANTHOH KARYA RADWA ASHOUR ... 309 Muhammad Iqbal

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN STRUKTURALISME GENETIK DENGAN PENDEKATAN CONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) MATA KULIAH TEORI SASTRA DI PERGURUAN TINGGI OLEH FAKTOR PENYEBAB REMAJA TIDAK MELANJUTKAN PENDIDIKAN SAMPAI

KEPERGURUAN TINGGI DI PASIR KANDANG KECAMATAN KOTO TANGAH

KOTA PADANG ... 322 Desi Mardianti

(10)

ix SEMNASBAHTERA

PSIKOEDUKASI LITERASI BERBASIS KELUARGA UNTUK MEMBANGUN

BANGSA ... 332 Wakhid Mustofa

FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MINAT MAHASISWA STKIP YDB LA DALAM MENGEMBANGKAN KEWIRAUSAHA TERHADAP PENGURANGAN

PENGANGURAN... 346 Reni Nastuti, Lelfita

TOPIK IV BIDANG ILMU PENDIDIKAN ... 355 PENGEMBANGAN KOMPETENSI LINTAS BUDAYA DALAM BUKU AJAR

KURIKULUM 2013 KELAS 4 ... 356 Endah Widyawati

PEMBELAJARAN KARAKTER PADA ANAK: POLA ASUH DI DALAM

KELUARGA PONDASI DALAM MEMBANGUN PROSES KEPRIBADIAN ANAK ... 368 Yulia Palupi

PENGUATAN KARAKTER ANTIKORUPSI MELALUI PROGRAM

PENDAMPINGAN PENULISAN DAN PENERBITAN ANTOLOGI PUISI BAGI

SISWA SMP DI SALATIGA ... 377 Chafit Ulya, Yant Mujiyanto

UPAYA MENINGKATKAN KARAKTER MAHASISWA MELALUI PEMBUATAN VIDEO BERMUATAN BUDAYA LOKAL JAWA TENGAH ... 391 Laily Nurlina, Siti Fathonah

PERSEPSI SISWA TERHADAP KETERAMPILAN MENGAJAR MAHASISWA PPLK DI SMP NEGERI 24 SIJUNJUNG ... 398 Silvia Anggreni BP

UPAYA PERSUASIF-KREATIF PENYULUHAN BAHAYA NARKOBA MELALUI PERTUNJUKAN SENI KETOPRAK ... 411 Favorita Kurwidaria, Budi Waluyo, Astiana Ajeng Rahadini, Dewi Pangestu Said

(11)

x SEMNASBAHTERA

TOPIK V BIDANG ILMU PSIKOLOGI ... 421 BERMAIN PERAN SEBAGAI INTERVENSI UNTUK ANAK DENGAN HAMBATAN ASERTIVITAS ...

422 Widyaning Hapsari, TitiAnjarini

MODEL PERMAINAN ULAR TANGGA “S.M.S” (SAYA MEMANG SHOLIH) SEBAGAI PENGEMBANGAN INTERVENSI KOGNITIF – PERILAKU PADA

ANAK DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU MENENTANG ... 431 Muh. Ibnu Sina, Itsna Iftayani

TOPIK VI BIDANG ILMU SENI, DESAIN, DAN MEDIA ... 447 LITERASI MEDIA PADA ANAK (STUDI TENTANG LITERASI MEDIA PADA

ANAK DALAM MEMBANGUN PEMAHAMAN TENTANG PENGGUNAAN

MEDIA) ... 448 Yustikasari, Lukiati Komala

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA

MUSIK ... 464 Nurul Setyorini, Bayu Aji Wibowo

(12)

1 SEMNASBAHTERA

MAKALAH

UTAMA

(13)

2 SEMNASBAHTERA

BUDAYA LITERASI, MARTABAT BANGSA, DAN PENGAJARAN SASTRA

Prof. Dr. Suminto A. Sayuti Universitas Negeri Yogyakarta 1/.

Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang menjunjung tinggi budayanya.

Kebesaran atau potensi-potensi kebesaran suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh satu faktor. Simultanitas dan sinergi sejumlah faktor yang bersifat lintasbidang, meniscayakan tercapai atau terwujudkannya potensi kebesaran tersebut. Individu atau kelompok tertentu mana pun tidak mungkin mampu bertindak untuk itu tanpa berbagi dan bersinergi secara berbarengan. Dengan cara demikianlah suatu bangsa akan mampu menghasilkan warisan yang berharga yang bersifat lintasgenerasi. Dalam hubungan ini, bahasa sebagai salah satu aspek kebudayaan akan memainkan peran utamanya. Karena, dalam dan melalui tindakan berbahasa nilai-nilai menjadi terwujud dan terkomunikasikan. Bahasa pun menjadi aspek kebudayaan yang bersifat lintasgenerasi karena dalam bahasalah nilai-nilai budaya

“dirumahkan.” Budi dan bahasa merupakan dua hal yang merefleksikan identitas kebangsaan.

Artinya, makin tinggi budi (watak, perilaku, pekerti) suatu bangsa yang diwujudkan dalam tindak berbahasa, makin bermartabat dan mulia juga bangsa pemiliknya. Artinya lebih jauh, budaya literasi merupakan modal utama bagi sebuah peradaban bangsa.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, ada baiknya sejenak kita mengingat kembali kelahiran bangsa ini secara kultural: peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Dengan kesadaran budaya yang penuh, para pemuda pendekar bangsa dari berbagai penjuru tanah air pada masa itu mengikhlaskan ikatan-ikatan lokalitasnya demi kepentingan bangsa yang lebih besar.

“Puisi besar” Sumpah Pemuda yang begitu dahsyat dan cemerlang itu niscaya bukan merupakan hasil pemikiran perseorangan, melainkan hasil kerja keras bersama ketika berbagai perkumpulan pemuda dari berbagai penjuru secara konseptual berbagi dan bersinergi untuk merumuskan kebangsaan, ketanahairan, dan kebahasaan berbasis realitas keindonesiaan. Melalui tiga ayat “puisi besar” itulah Indonesia lahir dari rahim kebudayaan.

Tidak ada di antara kelompok-kelompok pemuda pada masa itu yang berupaya menjadikan kelompoknya superordinat bagi yang lainnya. Mereka tidak memiliki niat untuk mengalahkan kelompok lain karena mereka menyadari bahwa hidup itu bukan kalah dan menang. Mereka hanya berpikir bagaimana kepentingan dan cita-cita bersama dapat dicapai, bagaimana kebajikan sosial dapat ditegakkan sebagai “saka-guru” bagi terbangunnya “rumah-besar”

(14)

3 SEMNASBAHTERA

bernama Indonesia. Maknanya bagi mereka, kekuatan yang ada dan dimiliki oleh suatu kelompok sebagai sebuah modal memang harus ditransformasikan secara ikhlas menjadi kebajikan sosial dan kepentingan yang jauh lebih besar.

Dengan cara tersebut, nilai-nilai budaya yang beragam pun memperoleh rumahnya yang tepat, yakni “rumah besar” yang berdiri kokoh di bumi pertiwi sebagai tempat serba- neka budaya bertemu dan menyatu. Di dalamnya, nilai-nilai luhur bangsa yang bertumpu pada makna kemerdekaan dan keadilan, kemajemukan dan persatuan, serta harkat dan kehormatan bersama menjadi perhatian utama demi pencapaian cita-cita yang lebih besar, yang akhirnya terwujud menjadi Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sejak kita merdeka, sebagai bangsa, kita selalu berupaya agar kehidupan di berbagai bidang seperti kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya tidak ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bahkan, kita mendambakan lebih maju daripada bangsa-bangsa lain. Gambaran selintas tersebut menunjukkan betapa pentingnya bahasa dan “berbahasa,”

betapa pentinya budaya literasi dalam kaitannya dengan pemartabatan dan pemberadaban bangsa. “Gapura besar” yang bernama budaya literasi musti segera dibuka dan dimasuki.

2/.

Sejak semula, menjadi bangsa yang bermartabat di antara bangsa-bangsa lain, pada dasarnya merupakan cita-cita kita bersama. Ia menjadi tujuan perubahan sosial dan karenanya, harus dimaknai sebagai salah satu imperatif historis yang harus ditunaikan.

Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang perikehidupannya didasarkan pada prinsip- prinsip moral, yang di dalamnya organisasi-organisasi kewargaan disemai dan tumbuh, yang di dalamnya perbedaan dalam sejumlah hal tetap mendapatkan harganya. Bangsa yang bermartabat selalu mengandaikan pencarian keunggulan dan pengupayaan kebaikan untuk menggantikan sesuatu yang hanya bersifat mediokratis dan filistinistik -- atmosfer yang minatnya melulu kepada benda-benda material, bukan nilai-nilai intelektual dan artistik. Oleh karena itu, perubahan menuju itu sekaligus harus mampu pula menemukan, menghidupkan, dan menyegarkan kembali semangat kebebasan, individualisme, kemanusiaan, dan toleransi dalam jiwa kita. Untuk itu, pengutamaan kecendekiaan dan pengayaan kultural merupakan suatu hal yang tidak boleh diabaikan.

Perubahan sosial menuju bangsa yang bermartabat pada dasarnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perubahan sosial yang selama ini sudah kita lakukan. Itulah sebabnya, bagi kita, perubahan yang kini tengah berlangsung merupakan bagian dari

“panggilan atau tugas sejarah” yang harus ditunaikan secara sadar. Mengapa demikian?

Karena, perubahan sosial mana dan apapun hampir dipastikan memunculkan sejumlah akibat.

(15)

4 SEMNASBAHTERA

Oleh karena itu, walaupun proses tersebut merupakan bagian dari panggilan sejarah, ia juga merupakan “sebab.” Pergeseran yang terus-menerus, pecah dan bercabangnya pandangan dunia, dan dislokasi, untuk sekadar menyebut sejumlah contoh kasus, pada hakikatnya juga merupakan akibat yang tak terhindarkan dari dipilihnya proses perubahan.

Akhir-akhir ini kita juga menyaksikan bagaimana histeria sosial terjadi, bahkan sementara orang mengatakan bahwa sebagian masyarakat kita sedang mengidap schizofrenia kultural, masyarakat manusia yang berwajah garang, berwatak keras, berperilaku keras dan brutal, agresif, saling bermusuhan satu sama lain. Seperti sering diduga, hal itu antara lain disebabkan oleh runtuhnya pilar-pilar nilai. Dalam hubungan ini, terwujudnya keterbukaan dalam rangka menciptakan tegur-sapa dialektis-resiprokal di kalangan warga menjadi penting.

Karena apa? Karena, keterbukaan adalah konsekuensi dari perikemanusiaan, suatu pandangan yang melihat sesama manusia secara positif dan optimis. Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, dan egaliter. Karenanya, proses demokratisasi pun perlu dikawal oleh prinsip-prinsip etika dan kebenaran moral yang berasal dari cita-cita peradaban dan warisan intelektual yang benar-benar berakar pada kultur sendiri, yang hakikatnya selalu bersifat plural.

Yang namanya “merdeka” tentulah bukan hanya terbatas pada pengertian merdeka politik (dalam batasan negara dan bangsa), tetapi juga merdeka dalam hal pemikiran dan jiwa (dalam batasan sebagai manusia-manusia hamba Tuhan). Cita-cita ini mengandaikan pula kemerdekaan dari semua bentuk dominasi “umat/manusia” lain. Keterbukaan penanganan berbagai hal merupakan salah satu jalan menuju cita-cita bersama itu. Lalu di manakah sesungguhnya posisi budaya literasi dalam konteks semacam ini.

Ketika politik dihayati dalam sejarah riil kebudayaan, di mana pun, politik amat biasa memakai ekspresi bahasa (utamanya sastra, dan seni umumnya) sebagai alat atau kendaraan demi mencapai tujuan politik itu dalam mewujudkan kepentingannya, dan politik dalam artinya yang positif sering diabaikan. Seharusnya, “ruang batin cipta,” baik bagi ekspresi seni maupun politik (dalam arti positif), menjadi jembatan tegur-sapa untuk secara bersama memperjuangkan kemanusiaan.

Akan tetapi, dalam kenyataannya, di masa lalu politik kita hanya memanfaatkan sastra (dan seni), bahkan jika diperlukan memanipulasikannya dengan beragam cara, bukan demi tujuan pemanusiaan. Oleh karena itu, dilema utama para sastrawan (seniman) terletak pada pilihan mengolah secara kreatif peresapan keresahan dan nilai-nilai yang dibungkam kekuasaan, ataukah berhadapan dengan politik kekuasaan yang mengendalikannya. Dilema

(16)

5 SEMNASBAHTERA

ini mencapai kulminasinya pada diam-bisunya masyarakat yang tidak pernah disuarakan oleh para kreator, sehingga masyarakat berada dalam tidur panjang keterpasungan.

Rekayasa ulang masyarakat, menciptakan masyarakat yang lebih terbuka, transparan, dan toleran, dengan demikian, juga sangat bergantung pada tersedianya iklim intelektual yang sehat. “Lembaga-lembaga kecendekiaan” musti dibangun dan diberdayakan, untuk melakukan transformasi dan melepaskan diri dari telikung sikap tribalistik, feodalistik, dan fanatisme yang berlebihan.

Para cendekiawan dan calon cendekiawan, harus berdiri di depan. Tidak bisa tidak:

budaya literasi harus menjadi identitas utama keberadaan “lembaga-lembaga kecendekiaan”

itu. Lembaga ini diharapkan mampun menjadi teladan masyarakat dalam hal, misalnya saja, memperbaharui komitmen kepada nilai-nilai luhur seperti keadilan, kebajikan, dan kasih sayang, sebagai nilai-nilai universal. “Gapura besar” yang bernama budaya literasi musti segera dibuka dan dimasuki. Dengan demikian, multikulturalitas pun akan dengan mudah disemai dan ditumbuhkan demi membentuk sebuah habitat budaya kewargaan yang sehat, suatu habitat yang meniscayakan lingkungan politik membuka kemungkinan bagi partisipasi penuh dan interaksi terbuka semua unsur masyarakat yang beragam. Tidak satu kelompok atau sektor khusus pun diperlakukan tidak adil sehingga merasa teralienasikan, ditelantarkan, atau ditindas.

Ketika ruang-ruang ekspresi telah dibuka, keberanian untuk berekspresi melalui berbagai bentuk “bahasa pilihan” harus dibangunkan dalam diri kita masing-masing. Gerakan literasi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu format yang secara spiritual-psikologis ikut mendukung berbagai upaya baru dalam rangka menemukan kembali tatanan sosial dan politik sebagai bagian integral dari rangkaian perubahan sosial menuju bangsa yang bermartabat.

3/

Paparan di atas menunjukkan bahwa budaya literasi begitu kuat mendorong kehidupan, utamanya dari sisi demokratisasi kehidupan itu secara keseluruhan. Hingga masa tertentu, bahkan hari ini, tulisan dan buku-buku telah menjadi baling-baling terbaik dan tempat penyimpanan pengetahuan, di samping sebagai sumber kesenangan yang tak tergantikan.

Walaupun demikian, dalam beberapa hal masa depannya tidak pasti. Tulisan dan buku sebagai perwujudan budaya literasi bisa saja bakal “menemui ajalnya.” Tesis ini agaknya tidak berlebihan tatkala disadari bahwa budaya audio-visual telah datang menyergap kita.

Bisa saja berbagai hal yang dikemukakan dalam teks-teks alfabetik akan dianggap sebagai sesuatu yang anakronistik. Kini, beragam “narasi pemikiran” yang menuntut pengalaman hidup kita tidak lagi dipindah dan disimpan dalam teks-teks yang dibuku-tuliskan, tetapi

(17)

6 SEMNASBAHTERA

disimpan dalam mesin-mesin, yakni mesin yang memiliki signal-signal dan bukan huruf- huruf atau satuan-satuan lingual yang selama ini kita kenal sebagai sarananya. Cara komunikasi semacam itulah yang kini dipandang, dan memang dalam kenyataannya, lebih efektif, efisien, dan universal.

Harus diakui, untuk menjadikan suatu masyarakat menjadi literasi: paham dan menguasai bagaimana membaca dan menulis, seharusnya lebih diperkenalkan hal-hal yang menjadi sumber pengetahuan yang bersifat primordial, dan bukannya lebih diorientasikan pada mesin. Akan tetapi, dalam kenyataannya, yang diutamakan bukan lagi buku-buku yang dibaca secara individual, melainkan perkakas-perkakas praktis. Hiburan bagi semua orang, terlebih-lebih anak-anak, telah dan agaknya akan terus dikerjakan dan diperoleh melalui proyektor, layar monitor, speaker, dan tape. Periode alfabetik dalam sejarah manusia bisa saja menjadi singkat hidupnya.

Sebagaimana dalam kehidupan umat manusia masa lalu, peradaban yang begitu baik telah diciptakan tanpa buku-buku, sehingga jika sesuatu yang sama akan terjadi pada masa yang akan datang, bukanlah sebuah kemustahilan. Akan tetapi, kita juga sah untuk menduga dan berharap bahwa budaya literasi akan hidup terus di kantong-kantong kultural tertentu karena kenikmatan dan keuntungannya, karena teks-teks tertulis merupakan suatu hal yang membangkitkan rasa ingin tahu dan dapat menjadi sumber nilai kehidupan.

Kini televisi, misalnya saja, telah menggantikan surat kabar dan majalah sebagai sumber informasi utama tentang kejadian-kejadian masa kini, dan walaupun pertumbuhan jumlah pembaca di dunia tidak diragukan lagi, untuk mengatakannya secara relatif, kata-kata tertulis pada masa kini telah berkurang pengaruhnya jika dibandingkan dengan pada masa lalu. Buku-buku kurang penting bagi masyarakat literasi kini dibandingkan dengan masyarakat literasi masa lalu. Orang boleh saja menduga bahwa keadaan semacam ini bakal menjadi salah satu bagian dari bencana kemanusiaan, walaupun bisa juga anggapan semacam ini dipandang berlebihan.

Kecemasan tersebut bukannya tidak beralasan. Bahwa budaya perkakas lebih mudah dikendalikan, dimanipulasikan, dan didegradasikan oleh kekuasaan, semua orang memahaminya. Ia berbeda dengan kata-kata tertulis dalam hal, misalnya saja dalam teks kreatif, kerahasiaanya menyampaikan pesan-pesan dan tanda-tanda keabadian mengenai hati nurani manusia lewat imaji-imaji dan simbol-simbol literer. Teks-teks kreatif sering mewujudkan dirinya sebagai benteng terakhir kebebasan. Dengan kematiannya, jika tesis di atas terbukti, kepatuhan pikiran pada kekuasaan politik dapat bersifat total. Di “kerajaan perkakas audio-visual,” nahkoda teknologi kebudayaan adalah seorang raja produksi kultural.

(18)

7 SEMNASBAHTERA

Dan dalam masyarakat tertentu, seperti masyarakat kita, langsung atau tak langsung, hal itu bisa saja menimbulkan sejumlah akibat yang tidak diinginkan. Karena apa? Karena, perlawanan budaya pun tidak mungkin dilakukan, bahkan bisa saja tidak ada sama sekali.

Karena, prakarsa dalam aktivitas kultural akan secara mudah diganti dan akhirnya tergelincir dalam pikiran-pikiran yang memperbudak.

Kita pun dapat terjebak secara bersama-sama menjadi masyarakat robot, yakni robot yang mungkin juga menjadi bisu, kelu, dan goblok. Karena apa? Karena, tidak seperti teks- teks tertulis, produk budaya perkakas cenderung membatasi imajinasi, memajalkan sensibilitas, dan menciptakan pikiran-pikiran yang pasif. Pemikiran semacam ini bukanlah perwujudan alergi pada budaya perkakas. Juga bukan merupakan sebuah “tangisan romantis”

dan pernyataan belasungkawa atas terancamnya eksistensi budaya literasi umumnya.

Yang jelas, pengaruh budaya perkakas tidak pernah menjadi sebanding dengan teks- teks tertulis dalam hal pengaruhnya pada kejiwaan manusia, terlebih manusia yang sedang tumbuh berkembang. Pengaruh produk budaya perkakas itu berlangsung hanya sebentar saja, karena fantasi dan pikiran “penonton” begitu minimal dibandingkan dengan intelek dan fantasi para pembaca buku. Oleh karena itu, kecemasan sebagaimana dikemukakan menjadi wajar adanya. Hanya saja terasa terlampau sepihak. Karena, dalam kenyataannya kita pun memiliki daya tolak terhadap produk-produk budaya perkakas. Karenanya pula, kita mestinya tidak berpikir bahwa kekalahan buku-buku oleh perkakas akan benar-benar terjadi. Hakikat kebudayaan, baik alfabetik maupun audio-visual, baik yang bebas maupun yang diperpudak, tidak pernah buta dalam perspektif evolusi pengetahuan kita secara keseluruhan. Faktor yang menentukannya tetaplah pada sikap kultural kita. Dalam kaitan ini, pembelajaran bahasa dan sastra yang ditangani secara baik akan menemukan relevansi dan signifikansinya.

4/.

Seperti apa pun kurikulumnya, pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah hendaknya diorientasikan pada pengalaman berbahasa dan bersastra. Orientasi itu dapat diturunkan menjadi knowing, doing, dan being bahasa dan sastra; atau dapat dirumuskan dalam (istilah Jawa) nga-3: ngerti, nglakoni, dan ngrasakke bahasa dan sastra. Karenanya, “teks” apapun yang diisyaratkan di dalam kurikulum yang berlaku hendaknya diupayakan kontekstualisasinya secara lebih luas, dengan cara didialogkan dengan “teks-teks” lain. Bagi saya, pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah dengan kurikulum manapun esensinya sama . Pengalaman berbahasa dan bersastra hendaknya tetap berfungsi kontributif bagi pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Fungsi-fungsi edukatif, ideologis, dan kultural harus selalu melekat dalam praksis pembelajaran bahasa dan sastra di tingkat persekolahan. Dalam

(19)

8 SEMNASBAHTERA

kaitan inilah kehadiran seorang guru yang kreatif berada di atas segalanya. Seideal apapun kurukulumnya, selengkap apapun fasilitas dan media pembelajaran yang ada, semuanya akan sia-sia jika materi bahasa dan sastra tidak disikapi secara kreatif dalam praksis pembelajaran.

Mengajarkan bahasa dan sastra pada dasarnya merupakan sebuah upaya menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar bahasa dan sastra itu sendiri. Sistem lingkungan ini terdiri atas komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yang terdiri atas: (a) tujuan instruksional yang ingin dicapai; (b) teks sastra yang diajarkan; (c) guru-siswa yang harus memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu; (d) bentuk kegiatan pembelajaran yang dilakukan; (e) sarana dan prasarana belajar-mengajar yang tersedia. Komponen-komponen sistem lingkungan ini saling mempengaruhi secara bervariasi. Dengan demikian, setiap peristiwa belajar-mengajar bahasa dan sastra pun menuntut “profil” yang unik.

Untuk mencapai tujuan belajar bahasa dan sastra harus diciptakan sistem lingkungan belajar bahasa dan sastra yang khas pula. Dalam kaitan ini, tujuan-tujuan belajar bahasa dan sastra yang diusahakan dengan tindakan instruksional untuk mencapai efek instruksional menjadi penting. Akan tetapi, tujuan-tujuan yang lebih merupakan efek pengiring juga tidak kalah pentingnya. Dinyatakan demikian karena siswa menjadi to live in lingkungan belajar bahasa dan sastra, misalnya saja mereka menjadi berkemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, dan bersikap terbuka dalam menerima pendapat orang lain, termasuk di dalamnya adalah terbentuknya kesadaran bahwa bahasa dan sastra merupakan sebuah ruang tempat mereka “merumahkan” pengalaman-pengalaman kemanusiaannya..

Seorang guru harus memilih satu (atau biasanya lebih) strategi belajar-mengajar jika ingin mencapai efek instruksional, efek pengiring tertentu, atau karena ingin mencapai kedua- duanya. Apapun yang dikehendaki, kesadaran pertama dan utama yang harus selalu dipegang adalah bahwa penekanan lebih ditujukan pada “siswa-belajar bahasa dan sastra” dan bukan pada “guru-mengajarkan sastra.” Karena, the learning process is complete only when the learner understands, accepts and puts the knowledge acquired into practice. Oleh karena itu,

“continuous interplay between texts and the reader” menjadi imperatif yang seharusnya ditunaikan dalam pelaksanaan pembelajaran.

Uraian di atas menunjukkan bahwa untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, dalam arti memilih dan melaksanakan SBM yang efektif, seorang guru membutuhkan wawasan yang cukup memadai tentang kemungkinan-kemungkinan strategi belajar-mengajar bahasa dan sastra yang sesuai dengan tujuan-tujuan belajar bahasa dan sastra tersebut, baik dalam arti efek instruksional maupun efek pengiring, yang ingin dicapai berdasarkan rumusan

(20)

9 SEMNASBAHTERA

tujuan pendidikan yang utuh. Di samping itu, ia juga memerlukan penguasaan teknis di dalam menyiapkan (baca: mendesain) sistem lingkungan belajar-mengajar bahasa dan sastra berikut implementasinya secara efektif. Dengan metode “menanamkan kerinduan,” niscaya pelajaran bahasa dan sastra akan selalu dinantikan oleh para siswa.

Agar siswa merasa athome dan selalu merindukan kehadiran pelajaran bahasa dan sastra hal-hal berikut ini perlu diperhatikan: (a) berikan peluang kepada siswa agar dirinya terbuka terhadap pengalaman baru melalui dan dengan bahasa dan sastra, bukan tentang bahasa dan sastra. Upayakan agar bahasa dan sastra menjadi sebuah “jagat” yang menyediakan ruang bagi para siswa untuk menjelajahi pengalaman-pengalaman dan alternatif-alternatif baru mengenai suatu keadaan; (b) doronglah siswa agar memiliki keluwesan berpikir dengan cara melibatkan mereka dalam kesadaran bahwa bahasa adalah sarana berpikir dan sastra merupakan dunia pemikiran reflektif; (c) sediakan peluang kebebasan yang besar kepada para siswa dalam mengemukakan pandangan sesuai dengan pilihan bahasa mereka sebagai “private domain.” Upayakan agar siswa tidak berdiam diri tanpa mengemukakan pandangan apapun dalam komunitasnya. Bahasa dan sastra telah menyediakan ruang bagi siapapun untuk membentuk kemungkinan baru berdasarkan suatu objek yang teramati dan terhayati; (d) dorong dan kembangkan daya imajinasi siswa karena pencarian alternatif baru hampir selalu dimulai dengan memberdayakan imajinasi, dan a good imagination should be based on the reality. Peristiwa tertentu sesederhana apapun dapat dijadikan sebagai suatu rangsang buat menggelandangkan imajinasi.

5/.

Secara sederhana, butir-butir di atas dapat dilaksanakan melalui membaca, menulis, dan apresiasi sastra (MMAS), yang menghindarkan diri dari kecenderungan pemilihan materi bahasa dan sastra yang berhenti pada informasi konseptual dan kognitif. Siswa dilibatkan langsung dalam pengalaman berbahasa dan bersastra. Kaidah-kaidah teoretis berfungsi menjadi bingkai pengalaman, bukan sebagai hal yang utama, demi peningkatan pengalaman dan kemampuan berbahasa dan bersastra mereka di saat mendatang.

Kegiatan membaca diharapkan mampu mendorong, dan hendaknya selalu diikuti dengan, kegiatan menulis. Dua jenis kemampuan berbahasa ini sudah dengan sendirinya akan mencorong dua kemampuan yang lain, menyimak dan berbicara, apabila pentas pembelajaran benar-benar diciptakan secara dinamis. Dengan cara demikian, sikap teguh para siswa dalam mengajukan pandangan sedikit demi sedikit dapat ditumbuhkan. MMAS hendaknya mampu menyediakan ruang bagi para siswa agar dalam menghadapi suatu kegagalan disikapi sebagai munculnya tantangan dan situasi serta harapan baru untuk menemukan jawaban yang lebih

(21)

10 SEMNASBAHTERA

komprehensif. Dalam hubungan ini, mendorong kemandirian siswa dalam mengambil keputusan sehingga berani menanggung resiko dan mantap dalam berkeyakinan dalam MMAS menjadi penting. MMAS diposisikan sebagai sebuah ruang kesadaran bagi siswa agar mereka tidak dengan mudah mengerjakan sesuatu sekedar ikut-ikutan saja, tidak mudah menerima pendapat orang lain, dan tidak ragu-ragu untuk mengemukakan pendapatnya sendiri karena pendapat yang disetujui orang banyak tidak selalu identik dengan kebenaran.

Apabila catatan-catatan yang sudah diberikan di atas mampu diimplementasikan dalam praksis pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah, dalam kaitannya dengan kurikulum manapun, niscaya kebuntuan dapat dihindari. Terlebih lagi jika praksis tersebut juga diberi bingkai tambahan yang bersifat multidimensional dan multikultural yang tidak harus kehilangan sifatnya yang ilmiah, relevan, sistematis, aktual, kontekstual, dan fleksibel Artinya, pembelajaran bahasa dan sastra akan mampu menunaikan imperatif-imperatif yang diembannya: edukatif, ideologis, dan kultural. Semoga begitu.

Lereng Merapi: Juli 2017

(22)

11 SEMNASBAHTERA

PENGEMBANGAN TEKS MATERI AJAR BAHASA BERBASISKECERDASAN MAJEMUKDALAM KURIKULUM 2013

Khabib Sholeh

FKIP, Universitas Muhammadiyah Purworejo [email protected]

ABSTRAK

Sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik yang hanya menekankan kemampuan logika dan bahasa perlu direvisi. Kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter tersebut, tetapi juga harus dilihat dari aspek yang lainnya, misalnya:

kecerdasan kinestetis, musikal, visual-spasial, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Oleh karena itu, pengembangan teks materi pembelajaran bahasa berbasis kecerdasan majemuk mensyaratkan beberapa hal dalam pengembangan teks. Penggunaan teks dalam pembelajaran bahasa harus mendorong peserta didik untuk beraktivitas dan juga harus memiliki keberagam tanggapan dengan pertanyaan yang bervariasi sehingga membuat anak tidak merasa terbebani. Teks bahan pembelajaran hendaknya disusun dengan optimalisasi modalitas belajar dengan menyajikan teks yang berbentuk verbal maupun nonverbal secara bervariasi. Teks pembelajaran hendaknya memiliki makna dan manfaat bagi peserta didik, sehingga mereka akan menyadari bahan yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya. Pendidik harus meyakini bahwa teks pembelajaran yang disampaikannya akan membawa perubahan dalam kehidupan peserta didik yang diajarnya, sehingga mereka akan sangat tertarik dengan pelajaran tersebut.

Kata Kunci: teks materi pembelajaran bahasa, kecerdasan majemuk

Pendahuluan

Pengembangan teks materi ajar yang jelas, cermat dan efektif sangat penting dalam setiap teks tertulis yang bersifat resmi, tidak terkecuali penggunaan teks materi ajar bahasa yang digunakan sebagai sarana belajar mengajar di berbagai tingkat satuan pendidikan. Teks materi ajar sengaja dirancang untuk digunakan dalam proses belajar-mengajar, sedangkan di luar teks materi ajar tidak secara sengaja dirancang untuk keperluan belajar mengajar. Karena sengaja dirancang untuk keperluan proses belajar-mengajar, penyusunan teks materi ajar harus banyak melibatkan pertimbangan segi pendidikan. Beberapa diantaranya adalah kesesuaiannya dengan tujuan pendidikan; kesesuaiaannya (termasuk kesesuaian bahasa) dengan tingkat kemampuan yang akan menggunakannya; dan kesesuiannya dengan kurikulum yang berlaku (Richadeu, 1980:11). Mengingat berbagai pertimbangan itu, pengembangan teks materi ajar sebenarnya tidak mudah.

Pendidikan menjadi salah satu modal bagi seseorang agar dapat berhasil dan mampu meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Mengingat pentingnya pendidikan, pemerintah pun mencanangkan program wajib belajar 9 tahun, melakukan perubahan kurikulum untuk mencoba mengakomodasi kebutuhan peserta didik. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan bukan hanya dirasakan oleh pemerintah, tetapi juga kalangan swasta yang mulai melirik dunia

(23)

12 SEMNASBAHTERA

pendidikan dalam mengembangkan usahanya. Sarana pendidikan yang disediakan oleh pemerintah masih dirasakan sangat kurang dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat.

Hal tersebut terlihat dengan semakin menjamurnya sekolah-sekolah swasta yang dimulai dari Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi. Kendala bagi dunia pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas adalah masih banyaknya sekolah yang mempunyai pola pikir tradisional di dalam menjalankan proses belajarnya, yaitu sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kenyataan ini senada dengan pendapat Mulyadi (2003), bahwa suatu kekeliruan yang besar jika setiap kenaikan kelas, prestasi anak didik hanya diukur dari kemampuan matematika dan bahasa. Dengan demikian sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik yang hanya menekankan kemampuan logika dan bahasa perlu direvisi. Kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter tersebut, tetapi juga harus dilihat dari aspek kinestetis, musikal, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, dan natural.

Dari prespektif pemikiran seperti itu jelaslah bahwa teks materi ajar adalah sarana yang sangat penting di dalam proses belajar-mengajar terutama di tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Pentingnya teks materi ajar itu sangat jelas karena teks itulah yang merupakan penjabaran secara praktis dari kurikulum yang sedang berlaku. Oleh karena itu, teks materi ajar mempunyai kedudukan strategis, yaitu sebagai implementasi praktis dari kurikulum, dan oleh karenanya kebutuhan akan adanya teks materi ajar yang bermutu sangat didambakan oleh semua pihak.

Dalam artikel ini dipaparkan beberapa cara mengembangkan teks materi ajar bahasa berbasis kecerdasan majemuk dengan beberapa persyaratan yang memungkinkan teks pembelajaran menarik perhatian peserta didik.

Teks Materi Ajar Bahasa

Teks materi ajar yang biasanya dimuat dalam buku ajar yang digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran harus berkualitas. Menurut Tarigan (1986 : 22-24), kriteria yang digunakan untuk menentukan kualitas materi ajar, yaitu:

sudut pandang (point of view), kejelasan konsep, relevansi dengan kurikulum, menarik minat, menumbuhkan motivasi, menstimulasi aktivitas siswa, ilustrasi, komunikatif, menunjang mata pelajaran yang lain, menghargai perbedaan individu, dan memantapkan nilai-nilai.

Teks materi ajar harus mempunyai sudut pandang, landasan dan prinsip-prinsip tertentu yang menjiwai atau melandasi isi teks materi ajar secara keseluruhan. Sudut pandang dari teks materi ajar tersebut dapat berupa teori dari ilmu jiwa, bahasa dan sebagainya. Selain

(24)

13 SEMNASBAHTERA

menggunakan sudut pandang tertentu, konsep-konsep yang digunakan dalam buku ajar harus jelas. Keremang-remangan harus dihindari agar siswa atau pembaca lebih mudah memahami pengertian dan konsep-konsep yang disajikan dalam buku ajar tersebut, Burhan (1971 : 146) mengemukakan bahwa bahasa yang digunakan dalam buku-buku ilmu pengetahuan lebih bersifat denotatif, dan sejauh mungkin menghindari makna-makna yang emotif. Dengan bahasa yang denotatif diharapkan para pembaca dapat memahami materi yang disajikan dalam buku-buku ilmu pengetahuan tersebut secara jelas sesuai dengan maksud pengarangnya. Karena teks materi ajar berisi ilmu pengetahuan, materi pembelajaran yang disajikan harus menggunakan bahasa yang bersifat denotatif.

Teks materi ajar yang baik harus sesuai dengan kurikulum. Buku ajar disusun untuk membantu siswa mempelajari materi pembelajaran setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Setiap jenjang sekolah mempunyai kurikulum masing-masing sesuai dengan jenis sekolah. Untuk menentukan relevan tidaknya materi pembelajaran yang disajikan dalam buku ajar dengan kurikulum yang berlaku digunakan dengan beberapa kreteria tertentu. Misdan (1986 : 34) mengemukan bahwa empat kriteria yang digunakan untuk menentukan relevan atau tidaknya materi pembelajaran yang disajikan dalam buku ajar dengan kurikulum yang berlaku.

Kriteria yang dimaksud adalah (1) isi buku ajar sama persis dengan yang ditetapkan dalam deskripsi pembelajaran, (2) isi buku ajar tidak hanya sesuai, tetapi melebihi tuntutan deskripsi pembelajaran dalam batas kewajaran, (3) isi buku ajar tidak jauh berbeda dari tuntutan deskripsi pembelajaran, artinya terdapat kekurangan-kekurangan yang tidak begitu mengganggu karena dapat dipenuhi oleh guru, (4) isi buku ajar tidak jauh berbeda dengan deskrepsi pembelajaran, di samping itu juga terdapat kelebihan-kelebihan yang memang diperlukan. Kriteria nomo1 sampai dengan nomor 4 apabila diurutkan dari yang terbaik urutannya adalah (2), (1), (4), dan (3). Apabila buku ajar sesuai dengan salah satu dari keempat kriteria di atas, buku ajar tersebut dikatakan relevan dengan kurikulum.

Teks materi ajar disusun untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam kegiatan belajar.

Oleh karena itu, teks materi harus memperhatikan minat siswa yang menggunakan buku ajar tersebut. Teks materi ajar yang baik dapat membuat siswa, ingin, mau, senang mengerjakan apa yang diinstruksikan dalam buku tersebut. Di samping itu, teks materi ajar juga harus dapat menstimulasi aktivitas siswa. Teks materi ajar yang baik ialah yang dapat merangsang, menantang, dan menggiatkan aktivitas siswa. Hal ini sesuai dengan pendekatan contextual teaching learning (CTL). Oleh karena itu, di samping tujuan dan bahan, faktor strategi juga sangat menentukan dalam hal ini.

(25)

14 SEMNASBAHTERA

Teks materi ajar untuk mata diklat tertentu harus menunjang mata diklat lain. Teks materi ajar bahasa Indonesia misalnya, di samping menunjang mata diklat bahasa Indonesia, juga menunjang mata diklat lain. Dengan pembelajaran bahasa Indonesia, pengetahuan siswa dapat betambah dengan soal-soal sejarah, ekonomi, matematika, geografi, kesenian, transportasi, olah raga, dan lain-lain. Teks materi ajar juga harus menghargai perbedaan individu dan memantapkan nilai-nilai. Teks materi ajar yang baik tidak membesar-besarkan perbedaan individu tertentu. Perbedaan dalam kemampuan, bakat, minat, ekonomi, sosial, budaya setiap individu tidak dipermasalahkan tetapi diterima sebagaimana adanya. Di samping menghargai perbedaan individu, teks materi ajar yang baik juga dapat memantapkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Uraian-uaraian yang menjurus kepada penggoyahan nilai-nilai yang berlaku pantas dihindarkan.

Kerangka Dasar Kurikulum 2013

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 Bab I pasal 1 disebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenaim isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar. Unsur-unsur dari definisi tersebut adalah (1) seperangkat rencana, (2) pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran, (3) pengaturan cara yang digunakan, dan (4) sebagai pedoman kegiatan proses belajar-mengajar (Dakir, 2004 : 4).

Seperangkat rencana artinya bahwa di dalamnya berisi berbagai rencana yang berhubungan proses pembelajaran. Rencana bukan ketetapan, ini berarti bahwa segala sesuatu yang direncanakan dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi (fleksibel).

Sementara itu, bahan pelajaran diatur oleh pusat (kurnas) dan oleh daerah setempat.

Pengaturan cara yang digunakan maksudnya, cara pembelajaran yang digunakan dengan berbagai cara misalnya, ceramah, diskusi, demonstrasi, inkuiri, recitasi, membuat laporan portofolio dan sebagainya. Disarankan dalam pelaksanaan pembelajaran hendaknya guru menggunakan pendekatan terpusat pada siswa (student centered) bukan pada guru (teacher centered), bersifat heuristik (dengan diolah) bukan yang bersifat ekspositorik (yang dijelaskan). Kurikulum juga digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang terdiri atas tenaga kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan dan tenaga pendidik, yaitu anggota masyarakat yang bertugas membimbing dan melatih peserta didik.

Ada beberapa pendekatan dalam pengembangan kurikulum pendidikan. Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan content-based, dengan ciri utama kurikulum berisi, daftar

(26)

15 SEMNASBAHTERA

materi yang perlu diajarkan, sesuai dengan bidang studi yang diajarkan. Kurikulum 2013 dikembangkan dengan berbasis kompetensi (competency-based curriculum), dengan ciri utama pencapaian kompetensi minimal dalam studi tertentu.

Kurikulum 2013 berisi seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan nasional dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah, sekolah, dan madrasah. Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap serta nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi dapat dikenali dengan sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pembelajaran secara kontekstual. Pada pendidikan kejuruan kompetensi yang berkait dengan tugas-tugas lulusan di tempat kerja, ditetapkan berdasarkan standar kompetensi yang berlaku di dunia kerja sesuai dengan keahliannya.

Kompetensi dikembangkan secara berkesinambungan sejak Taman Kanak-Kanak dan Raudhatul Athfal, kelas I sampai dengan kelas XII yang menggambarkan suatu kemampuan yang bertahap, berkelanjutan dan konsisten seiring dengan perkembangan psikologi peserta didik. Khusus pendidikan kejuruan kompetensi yang dituangkan dalam kurikulum adalah standar kompetensi yang berlaku di dunia kerja yang bersangkutan.

Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurkulum 2013

Fungsi utama bahasa adalah alat untuk berkomunikasi. Dengan demikian,. Setiap warga dituntut untuk terampil berbahasa. Komunikasi yang baik dalam berbahasa dapat membuat komunikasi antarwarga berlangsung tenteram dan damai.

Komunikasi yang dimaksud di sini adalah suatu proses penyampaian maksud pembicara kepada orang lain dengan saluran tertentu. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, gagasan, ide, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa, dan lain-lain. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata, kalimat, paragraf dengan mempertimbangkan ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis serta unsur-unsur prosodi (intonasi, nada, irama, tekanan, tempo) dalam bahasa lisan.

Dalam berkomunikasi, agar kedua belah pihak (yang berperan sebagai penyampai maksud dan penerima maksud) dapat menjalankan komunikasi dengan baik, diperlukan prinsip kerja sama antarkeduanya. Kerja sama itu dapat diciptakan dengan memperhatikan beberapa faktor, antara lain siapa yang mengajak berkomunikasi, kepada siapa disampaikan, pada situasi atau tempat yang seperti apa, pada waktu yang baimana, dengan isi pembicaraan yang bagaimana, dan media apa yang digunakan.

(27)

16 SEMNASBAHTERA

Karena fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat komunikasi, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan agar peserta didik terampil berkomunikasi. Keterampilan ini diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk penghalusan budi, peningkatan rasa kemanusiaan, dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imajinasi, ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tertulis. Siswa dilatih untuk menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, bukan dituntut lebih banyak untuk menguasai atau menghafalkan tentang pengetahuan bahasa. Pengajaran sastra ditujukan untuk meningkatkan kemampuan siswa menikmati, menghayati, dan memahami karya sastra.

Pengetahuan tentang sastra hanyalah sebagai penunjang dalam mengapressiasi karya sastra.

Kurikulum 2013 ini merupakan kerangka tentang deskripsi pembelajaran Bahasa Indonesia yang harus diketahui, dilakukan, dan dimahirkan oleh siswa pada setiap tingkatan.

Kerangka ini disajikan dalam tiga komponen utama yaitu (1) indikator, (2) materi pembelajaran, (3) kegiatan pembelajaran.

Indikator mencakup aspek kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra. Aspek- aspek tersebut perlu mendapat porsi yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu adalah mendengar, berbicara, membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang dicantumkan dalam deskripsi pembelajaran merupakan bahan minimal yang harus dikuasi siswa. Oleh karena itu, daerah, sekolah atau guru dapat mengembangkan, menggabung atau menyesuaikan bahan yang disajikan mengikuti situasi dan kondisi setempat.

Berdasar isu mutakhir terkait dengan penataan kurikulum tersebut adalah munculnya implikasi terhadap pengembangan teks materi ajar. Mata pelajaran bahasa Indonesia di SD menjadi sentral dari mata pelajaran IPA, IPS, dan Matematika. Sementara itu, mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SMA menjadi sentral pengembangan literasi lebih lanjut.

Jenis teks yang digunakan adalah teks pengalaman kesastraan dan pemerolehan serta pengunaan informasi (IPA, IPS, dan matematika). Teks sastra 50% dan teks informasi 50%

dengan rincian 20% difokuskan pada informasi yang dinyatakan secara tersurat untuk diulang, 30% membuat inferensi, 30% menafsirkan dan memadukan gagasan dan informasi, serta 20%

memeriksa dan menilai isi, dan unsur-unsur yang terdapat di dalam teks.

Teks dan Proses Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk

Beberapa persyaratan yang memungkinkan pengembangan teks materi pembelajaran dalam teks materi ajar tersusun dengan baik sehingga menarik perhatian peserta didik.

(28)

17 SEMNASBAHTERA

Pertama, proses transfer pengetahuan dalam pembelajaran akan berhasil apabila waktu yang tersedia difokuskan pada kondisi peserta didik beraktivitas, bukan pada kondisi pendidik mengajar. Penggunaan teks materi ajar dalam pembelajaran harus mendorong peserta didik untuk beraktivitas. Di samping itu, keberhasilan pembelajaran akan lebih cepat terwujud apabila proses transfer dilakukan dengan suasana menyenangkan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa paradigma belajar-mengajar yang harus diyakini oleh pendidik adalah ketika guru mengajar, belum tentu siswa ikut belajar. Oleh karena itu, dalam tahap pelaksanaan pembelajaran peserta didik dilibatkan dalam pengembangan bahan (teks materi pembelajaran) yang cocok dengan kebutuhan belajar dan tempat untuk mencapai tujuan belajar atau peserta didik lebih banyak berperan dalam proses kegiatan pembelajaran.

Dalam pengembangan kemampuan literasi, kegiatan ini dilakukan melalui membaca mandiri, diskusi kelompok kecil dan kiskusi kelompok besar, presentasi hasil diskusi, dan menulis.

Kedua, dalam dunia sekolah kita yang serba seragam, perbedaan karakter peserta didik sering menjadi masalah bagi pihak sekolah dan pendidik, khususnya yang langsung bersentuhan dengan pendidik dalam proses pembelajaran. Adanya peserta didik yang

"berbeda" dengan karakter peserta didik yang normal lainnya sering dianggap nakal, gagal, bodoh, lambat, bahkan dianggap peserta didik tersebut mempunyai keterbelakangan mental.

Jika kita renungkan lebih dalam, ternyata bukan mereka yang bermasalah, melainkan sebenarnya mereka mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran karena tidak mampu mencerna materi yang diberikan oleh pendidik. Teks materi ajar harus memiliki keberagam tanggapan dengan pertanyaan yang bervariasi, dimulai dengan cara-cara belajar dan mengajar yang membuat anak tidak merasa menjadi beban. Kita mulai dari diri kita sebagai orang tua maupun sebagai pendidik untuk mengubah pola pikir kita dalam membelajarkan. Anak bukanlah gelas kosong yang bisa kita isi apapun. Setiap anak adalah istimewa. Mereka mempunyai kemampuan masing-masing sesuai dengan gaya belajarnya. Kita tidak bisa memaksakan gaya belajar kita kepada murid kita.

Ketiga, pada awal pengalaman belajar salah satu di antara langkah-langkah pertama adalah mengenali modalitas seseorang sebagai modalitas visual, auditorial, atau kinestetik.

Walaupun masing-masing dari kita belajar menggunakan ketiga modalitas ini pada tahapan tertentu, setiap orang lebih cenderung pada salah satu diantara ketiganya. Grinder (1991) pengarang Rightting the Education Conveyor Belt, telah mengajarkan gaya-gaya belajar dan mengajar kepada banyak instruktur. Ia mencatat bahwa dalam setiap kelompok yang terdiri dari tiga puluh murid, sekitar dua puluh dua orang mampu belajar secara cukup efektif dengan cara visual, auditorial, dan kinestetik sehingga tidak membutuhkan perhatian khusus.

(29)

18 SEMNASBAHTERA

Dari sisa delapan orang, sekitar enam orang memilih satu modalitas belajar dengan sangat menonjol melebihi dua modalitas lainnya. Bagi orang-orang ini, mengetahui cara belajar terbaik mereka bisa berarti mengidentifikasi perbedaan antara keberhasilan dan kegagalan.

Teks materi pembelajaran dengan optimalisasi modalitas belajar ini dilakukan dengan menyajikan teks yang berbentuk verbal maupun nonverbal secara bervariasi. Belajar secara individual dan optimalisasi kemampuan literasi informasi melalui kegiatan membaca mandiri, berburu referensi.

Keempat, landasan filosofis komponen ini adalah konstruktivisme, yaitu filosofis belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Peserta didik harus mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah- pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Pendekatan pembelajaran hendaknya menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan (Sanjaya 2005:109). Dalam konteks ini teks materi pembelajaran perlu dimengerti oleh peserta didik apa makna dan manfaatnya. Mereka akan menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya.

Kelima, pengabaian keterlibatan emosi dalam sebuah proses pembelajaran akan mengakibatkan terjadinya proses transfer ilmu dari pendidik kepada peserta didik semakin lambat. Jika hal ini terjadi, bisa dipastikan proses belajar-mengajar semakin tidak efektif dan efisien. Kondisi kelas yang kurang kondisif tersebut bisa dirubah menjadi kelas yang penuh dengan semangat belajar jika pendidik juga semangat dalam menyampaikan pelajaran.

Semangat dalam hal ini tidak sekedar mengajar dengan suara lantang atau gerakan tubuh yang berlebihan. Yang paling penting adalah perasaan pendidik tersebut terhadap teks materi pembelajaran yang disampaikannya. Jika dia meyakini bahwa yang disampaikannya akan membawa perubahan dalam kehidupan peserta didik yang diajarnya, peserta didik akan sangat tertarik dengan pelajaran tersebut. Dengan kondisi seperti itu, para siswa lebih sering ikut serta dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahan pelajaran.

Simpulan

Teks materi ajar berfungsi sebagai fasilitator sehingga peserta didik mampu menemukan sendiri solusi dari masalah yang disediakan di dalam materi ajar yang disediakan.

Peserta didik menjadi lebih aktif dalam mencari sumber-sumber lain, secara individual maupun berkelompok. Peserta didik lebih terbuka dalam menilai pekerjaanya sendiri maupun

(30)

19 SEMNASBAHTERA

teman-temannya secara objektif. Teks materi pembelajaran harus memiliki keberagam tanggapan dengan pertanyaan yang bervariasi, dimulai dengan cara-cara belajar dan mengajar yang membuat anak tidak merasa menjadi beban sehingga peserta didik lebih berani mengungkapkan pendapat dan mempertahankan pendapatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Burhan, Jazir. 1971. Problema Bahasa dan Penagajran Bahasa Indonesia. Bandung: Ganaco NV.

Darmadi, Kaswan. 2000. “Keterbacaan Buku Ajar Wajib di SD, SLTP, dan SMU: Studi Kasus di Surakarta” dalam Humaniora Volume 1, Nomor 2 Agustus 2000. Hlm. 129 – 144.

Depdiknas. 2003. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Jakarta:

Depdiknas. 2003. Pedoman Umum Pengembangan Penilaian Kurikulum 2004.

Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2006. Silabus Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

Gardner, H. 2011. Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: Basic Books.

Grinder, Michael. 1991. Righting the Educational Conveyor Belt. Portland,Ore:

Metamorphous Press.

Mulyadi. 2008. ”Efektivitas Pembelajaran Matematika Berbasis Multiple Intelligences dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa” Skripsi. UPI Bandung.

Richadeau, F. 1980. The Design and Production of Textbooks: A Practical Guide. Gower.

Senjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 1986. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia.

Bandung: Angkasa.

(31)

20 SEMNASBAHTERA

LINGUISTIK FORENSIK

KESAKSIAN ILMU BAHASA DALAM SIDANG PENGADILAN Suhandano

Universitas Gadjah Mada 1. Pengantar

Manusia adalah makhluk sosial, tidak dapat hidup seorang diri.Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka memerlukan bantuan orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan dasar makan, misalnya, orang tidak dapat mengusahakannya seorang diri. Memang, orang dapat saja makan dari hasil tanaman yang mereka tanam sendiri, tetapi untuk menanam tanaman atau memproses hasil tanaman menjadi makanan, orang tidak dapat membuat sendiri alat menanam dan alat memproses hasil tanaman, ia memerlukan bantuan orang lain.

Demikianlah, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, manusia harus berinteraksi dengan sesamanya, bahkan berinteraksi itu sendiri juga merupakan kebutuhan manusia.

Bahasa merupakan media utama dalam proses interaksi antarmanusia. Sebagian besar interaksi antarmanusia dilakukan lewat bahasa dan proses interaksi biasanya berjalan mulus.

Mereka saling tegur sapa dengan ramah. Seseorangbertanya kepada orang lain dan dijawab dengan baik, tanpa menimbulkan perasaan tidak enak. Mereka melakukan jual beli dengan lancar, penjual mendapatkan keuntungan dan pembeli mendapat barang yang diperlukan.

Mereka membuat perjanjian dan masing-masing pihak yang berjanji melaksanakannya dengan baik. Akan tetapi, kadang-kadang juga muncul persoalan dalam proses interaksi antarmanusia. Misalnya, seseorang yang bertanya kepada orang lain tidak mendapat jawaban yang baik karena pertanyaannya malah dianggap menghina. Pada proses jual beli dapat saja ada pihak yang merasa dirugikan sehingga timbul sengketa di antara mereka. Demikian pula, dalam melaksanakan perjanjian, dapat terjadi ada pihak yang mengingkarinya sehingga timbul perselisihan di antara pihak-pihak yang telah mengikat janji tadi.

Banyak perselisihan yang muncul dalam proses interaksi antarmanusia dapat diselesaikan sendiri oleh pihak-pihak yang berselisih. Dalam kasus terjadinya salah paham terhadap pertanyaan yang dianggap menghina tadi, misalnya, penanya lalu meminta maaf dan permintaan maafnya diterima oleh orang yang merasa dihina sehingga persoalannya pun dianggap selesai. Dalam kasus jual beli, pihak yang merasa dirugikan dapat meminta ganti rugi, dan apabila permintaannya itu dipenuhi, maka selesailah persoalan di antara mereka.

Dalam kasus ingkar terhadap perjanjian pun, pihak-pihak yang terlibat dapat menempuh jalan damai sehingga perselisihan yang timbul dapat mereka atasi sendiri.

(32)

21 SEMNASBAHTERA

Jika dalam perselisihan pihak-pihak yang berselisih dapat menyelesaikan sendiri perselisihan mereka dengan cara damai, kehidupan di dunia ini akan terasa sangat nyaman.

Sayangnya, penyelesaian secara damai seperti itu tidak selalu dapat dicapai. Pihak-pihak yang berselisih kadang-kadang tidak mau berkompromi sehingga harus ada pihak lain yang dapat menyelesaikan perselisihan mereka. Pihak yang dimaksud adalah pengadilan, mereka membawa persoalan yang mereka perselisihkan ke pengadilan untuk mendapatkan penyelesaian. Demikianlah, pengadilan berfungsi menyelesaikan perselisihan yang terjadi dalam masyarakat berdasarkan peraturan yang ada. Selain itu, pengadilan juga berfungsi mengadili orang-orang yang melanggar peraturan. Seperti diketahui, agar kehidupan dalam masyarakat berjalan dengan tertib, diperlukan aturan yang mengatur banyak hal.

Persoalan yang menjadi bahan sengketa di pengadilan bermacam-macam, salah satunya adalah persoalan yang berkaitan dengan bahasa.Dalam masyarakat Indonesia sengketa mengenai masalah ini cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berita mengenai kasus pencemaran nama baik, penghinaan, ujaran kebencian, penistaan agama, tulisan yang bernada mengancam, berita hoax, penjiplakan, dan sejenisnya sering muncul di media massa. Tidak sedikit kasus tersebut yang harus diselesaikan di pengadilan dan untuk mengadilinya ahli linguistik sering dimintai pendapatnya. Tulisan singkat ini akan membicarakan aspek-aspek linguistik yang perlu dipertimbangkan ketika ahli linguistik dimintai pendapatnya sebagai saksi ahli dalam sidang di pengadilan.

2. Variasi Bentuk Kebahasaan yang Menjadi Sengketa di Pengadilan

Seperti disebutkan di muka dalam beberapa tahun terakhir kasus yang berkaitan dengan bahasa di pengadilan cenderung meningkat. Hal ini antara lain disebabkan oleh kemajuan teknologi informasi. Dengan diciptakannya smartphone, misalnya, orang begitu mudah mempublikasikan apa yang dirasakan atau dipikirkan melalui media sosial di dunia maya. Kadang-kadang apa yang dipublikasikan membuat perasaan orang lain tidak enak atau dipandang merugikan pihak lain, baik secara individu maupun kelompok.Akibatnya, timbullah kasus penghinaan, pencemaran nama baik, ujaran kebencian, penistaan agama, dan sejenisnya.

Selain itu, munculnya berbagai sengketa yang berkaitan dengan bahasa di pengadilan dapat pula disebabkan karena kemampuan literasi masyarakat belum seperti yang diharapkan.

Masyarakat memang sudah dapat membaca dan menulis, tetapi sebagian dari mereka belum mampu mencerna informasi dengan baik, belum mampu menyaring informasidengan baik.

Apa yang dibaca di dunia maya dianggap sebagai suatu kebenaran di dunia nyata, padahal

(33)

22 SEMNASBAHTERA

kenyataannya tidak demikian. Sebagian dari mereka juga belum mampu memilah informasi yang pantas dan yang tidak pantas dipublikasikan di sosial media. Apa yang ada dalam perasaan atau apa yang terlintas dalam pikirannya ditulis begitu saja di media social.

Akibatnya, muncullah sengketa dengan pihak lain berkaitan dengan apa yang ditulis tadi.

Meskipun maraknya sengketa kebahasaan di pengadilan dipicu oleh kemajuan teknologi informasi dan kondisi kemampuan literasi masyarakat, jenis sengketa kebahasaan di pengadilan sangat kompleks dan tidak selalu disebabkan secara langsung oleh kedua hal tersebut. Memang jenis sengketa seperti penghinaan, pencemaran nama baik, ujaran kebencian, penistaan agama yang disebabkan oleh kedua hal tersebut mungkin lebih dominan daripada kasus-kasus lain, tetapi kasus sengketa kebahasaan di pengadilan tidak terbatas pada hal-hal seperti itu.

Kasus sengketa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa di pengadilan cukup kompleks.Bentuk kebahasaan yang disengketakan pun beragam, dari bentuk kebahasaan yang sederhana sampai bentuk yang rumit, dari pemakaian imbuhan sampai wacana yang panjang.

Seperti dicatat oleh Olsson (2008) di Amerika Serikat pemakaian Mc- sebagai imbuhandalam sebuah nama (semacam afiks), pernah menjadi bahan sengketa di pengadilan. Ketika perusahaan Quality Inns Internasional mengumumkan akan membuka hotel ekonomi baru yang dinamai McSleep, pemakaian prefiks Mc- pada nama itu dipersengketakan oleh perusahaan makanan cepat sajiMcDonald’s. Prefiks Mc-tidak boleh dipakai pada nama produk oleh perusahaan lain karena telah menjadi bagian dari merek dagangnya.

Makna sebuah kata atau istilah juga bisa menjadi bahan sengketa yang harus diselesaikan di pengadilan. Contohnya adalah kasus yang dikenal dengan nama kasus “Jaffa Cakes” (Coultthard dkk.,2017:2). Dalam kasus ini disengketakan pengertian istilah cake dan biscuits karena hal itu berkaitan dengan masalah pajak.Cake termasuk dalam kategori makanan biasa, sedangkan biscuits termasuk makanan mewah sehingga pajaknya berbeda.

Jika bentuk kebahasaan seperti imbuhan dan kata saja dapat menjadi bahan sengketa, bentuk kebahasaan yang lebih besar seperti kalimat dan wacana tentu menjadi lebih potensial dipersengketakan di pengadilan. Contoh kalimat yang menjadi bahan sengketa di pengadilan adalah kalimat yang merupakan bagian dari pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang diucapkan di depan warga Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu.

Kalimat Ahok “Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak/Ibu, gak bisa pilih saya, ya-- dibohongin pakai surat Al-Maidah ayat 51 macam-macam gitu lho”

(dikutip dari Edunews.id, 14/10/2016) telah menimbulkan kegaduhan luar biasa dalam masyarakat Indonesia dan telah mengganggu sendi-sendi persatuan nasional. Sidang

Referensi

Dokumen terkait

tersebut kepada Arduino untuk selanjutnya Arduino menampilkan kata “gelap” sebagai indikator bahwa sensor tidak menerima cahaya secara langsung, juga menampilkan nilai teganganan

Parameter yang diamati adalah jumlah sel darah merah, konsentrasi haemoglobin, nilai hematokrit, jumlah sel darah putih total dan diferensial leukosit... HASIL

Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan di SMA 2 Demak peneliti telah memberikan layanan konseling individu dengan menggunakan pendekatan behavioristik teknik desensitisasi

Maka dari sisi ini, latar belakang kegiatan majlis ta’lim ini yang merupakan langkah meneruskan program kepengurusan sebelumnya dan untuk memberikan ruang belajar bagi mahasiswa

PELESTARIAN PRODUK KLEPON SEBAGAI OBJEK GASTRONOMI NUSANTARA JAWA BARAT DI KECAMATAN LENGKONG KOTA BANDUNG.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri hanya dapat mengusulkan 1 (satu) orang Pengelola Keuangan berprestasib. Pimpinan Perguruan

ditetapkan oleh peruahaan. Tujuan terpenting dari pelaksanaan kegiatan promosi penjualan adalah menarik perhatian para konsumen sehingga para konsumen membeli

Kolom 2 Diisi uraian belanja sesuai kode rekening di dalam APBDes Kolom 3 Diisi anggaran satu tahun sesuai dengan APBDes Kolom 4 Diisi anggaran satu tahun sesuai dengan APBDes