DIRI SEBAGAI SERIKAT BURUH INDEPENDEN
A. Dinamika SBSI dan Gerakan Buruh Tahun 1992-2002
Pada awal keberadaannya SBSI membangun struktur organisasi di masing- masing daerah, tetapi masih secara underground mengingat ketatnya kontrol pemerintahan Soeharto. Koperasi Asih, Asah dan Asuh (A3) yang didirikan oleh Yayasan Bhakti Kasih Surakarta (YBKS) masih berjalan, pada tahun 1994 YBKS membetuk Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Buruh Sejahtera Indonesia (YLBHBSI). Selama tahun 1992 sampai dengan tahun 1995 gerakan SBSI di Surakarta masih bersifat underground atau bawah tanah dengan tokoh-tokoh antara lain: Fx. Setiawan, Narto, M. Kusharyanto dan Hari Santosa sebagai ketuanya.
Meskipun tahun 1993 penguasa secara resmi melarang dan membatasi aktivitas SBSI, namun SBSI tetap berhasil memobilisasi pekerja. Pada tingkat nasional pada tahun 1993 terjadi pembunuhan bernuansa politik yang menimpa Marsinah, seorang buruh pabrik jam tangan di Surabaya yang terbunuh di kantor militer setempat dalam perjuangannya memperbaiki nasib sesama buruh. Pada bulan Maret 1994, SBSI menyatakan memiliki 250.000 anggota. Pada tanggal 11 Februari 1994 (di tengah larangan mogok) SBSI secara nasional mengumumkan seruan mogok nasional selama satu jam dengan tujuan mogok menjadi senjata perjuangan buruh di seluruh Indonesia. Selain itu, SBSI Medan mengadakan
48
demonstrasi besar-besaran pada tanggal 14 April 1994 yang menuntut kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) dan perubahan sistem pengupahan dari KFM menjadi KHL 1994 yang diikuti oleh puluhan ribu buruh. Setelah demonstrasi besar-besaran di Medan Sumatera Utara pada bulan April 1994, penguasa menahan banyak aktivis, anggota dan pengurus SBSI yang ditangkap, ditahan dan diadili SBSI, termasuk ketua SBSI, Muchtar Pakpahan. Muchtar Pakpahan sempat dijatuhi hukuman penjara tiga tahun, tetapi kemudian dibebaskan karena adanya kritik dari luar negeri.1 Keadaan selanjutnya ialah banyak pengurus SBSI yang dipaksa dan terpaksa mengundurkan diri karena tekanan dan intimidasi dari aparat.
Perjuangan SBSI mengalami berbagai hambatan, misalnya banyak anggota dan pengurus SBSI yang di PHK, beberapa pertemuan dan pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan SBSI dibubarkan oleh aparat keamanan dengan berbagai alasan misalnya dengan menganggap SBSI sebagai Organisasi Tanpa Bentuk (OTB).
Mulai tahun 1995 gerakan SBSI sudah mulai terbuka, dimana sudah mulai terdapat cabang-cabang pada masing-masing kota termasuk di Surakarta. Selama pemerintahan Soeharto, SBSI belum berbasiskan anggota karena belum ada basis di perusahaan-perusahaan sehingga hanya ada pengurus yang melakukan advokasi;
1. Di Solo, pengurusnya adalah Wahid Adnan sebagai ketua, Narto dan Suciatmi
1 Suharko, op. cit., halaman 169.
2. Di Sukoharjo, pengurusnya adalah Kusharyanto
3. Di Karanganyar, pengurusnya adalah Suyoto dan Murjoko 4. Di Sragen, pengurusnya adalah Agus Wagiarno dan Wardoyo.2
Tabel 3. Daftar Serikat Pekerja yang Terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Surakarta Tahun 1995
Serikat Pekerja di Surakarta Tahun 1995
No Serikat Pekerja Tingkat Kota Serikat Pekerja Tingkat Sektoral
1. A. DPC FSPTSK (Federasi Serikat Pekerja
Tekstil Sandang dan Kulit) FSPSI Surakarta
B. DPC FSPRTMM (Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman) C. DPC FSPPAR (Federasi Serikat Pekerja Pariwisata) FSPSI Surakarta
D. DPC FSPNIBA (Federasi Serikat Pekerja Niaga Bank Jasa dan Asuransi) FSPSI Surakarta
E. DPC FSPTI (Federasi Serikat Pekerja Transportasi Indonesia) FSPSI Surakarta DPC FSPSI
(Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia)
Surakarta
F. DPC FSPPPMI (Federasi Serikat Pekerja Percetakan Penerbitan dan Media
Informasi) FSPSI Surakarta
Sumber: Daftar Serikat Pekerja di Surakarta Tahun 1995, Arsip Dinas Tenaga Kerja Surakarta.
2 Wawancara dengan Suharno (Ketua DPC SBSI ’92 Solo), di DPC SBSI ’92 Solo, 18 Mei 2009 pukul 10.00 WIB.
Dari tabel tersebut jelas dapat disimpulkan bahwa hanya terdapat satu sertikat buruh resmi di Surakarta dan bahkan di seluruh Indonesia yaitu SPSI yang memiliki enam sektor jenis usaha.
Di Surakarta terjadi demonstrasi-demonstrasi buruh di perusahaan, misalnya oleh Komite Reformasi Kaum Buruh (KRKB) dimana pada tanggal 29 Mei 1998 terjadi aksi mogok menuntut upah yang layak yang dilakukan oleh karyawan PT. Tyfountex (Gumpang, Kartasura), aksi mogok besar-besaran tersebut dilakukan untuk menuntut hak-hak mereka seperti upah, uang makan dan uang premi. Sederetan demonstrasi terus dilakukan oleh KRKB yang anggotanya merupakan karyawan yang di PHK oleh PT. Tyfountex. Berbagai perundingan SPSI tidak mencerminkan aspirasi buruh dan hanya menguntungkan pengusaha.
Sejak terdaftar secara resmi tahun 1998, karakter SBSI sebagai organisasi serikat buruh sudah mulai terbuka, berbasiskan anggota dan kader. Adapun tokoh SBSI di Surakarta adalah Suharno, Suciatmi dan Sumanto.
a. Usaha SBSI Surakarta dalam Mengembangkan Organisasinya Tahun 1992-2002
Cara Perekrutan Anggota:
Sebelum tahun 1998 (sebelum SBSI diakui secara resmi oleh pemerintah) seluruh jajaran SBSI belum berbasiskan keanggotaan, sehingga pada saat itu hanya ada para pengurus organisasi yang melakukan advokasi dan menghimpun pendidikan bagi buruh. Di masing-masing daerah. Sesudah tahun 1998 hal perekrutan anggota diserahkan kepada Dewan Pengurus Cabang atas usulan dari
Pengurus Komisariat. Pengurus Komisariat bertugas untuk merekrut anggota di wilayah perusahaan masing-masing. Perekrutan dilakukan dengan cara melakukan workshop/seminar pada wilayah PK masing-masing dengan mengajak buruh untuk berorganisasi dan menyampaikan pentingnya buruh bergabung dalam serikat buruh yang independen dan tepat, yang semula dilakukan dengan cara membagikan undangan kepada buruh-buruh di perusahaan tersebut. Perekrutan anggota pada umumnya dilakukan setiap 3 bulan sekali atau bila dianggap perlu.
Setiap anggota diberikan Kartu Anggota SBSI oleh DPC.3
Dalam mewujudkan tujuan dan cita-cita organisasi, maka SBSI menempuh asas-asas perjuangan yang meliputi:4
1. Asas Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa:
Segala usaha dan kegiatan di dalam memperjuangkan tujuan dan cita-cita organisasi harus senantiasa dijiwai, digerakkan, dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai nilai luhur yang menjadi landasan moral dan spiritual dalam setiap gerak langkah organisasi.
Contoh: SBSI menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila yang merupakan asas dari organisasi ini. Setiap anggota diberi kebebasan untuk menganut agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing pribadi, agar SDM SBSI menjadi berkualitas dengan tetap menjunjung moral dan Ketuhanan.
3 Wawancara dengan Suharno (Ketua DPC SBSI ’92 Solo), di DPC SBSI ’92 Solo, 30 Nopember 2009 pukul 10.00 WIB.
4 GarisGaris Besar Haluan Organisai Serikat Buruh Sejahtera Indonesia Tahun 1997.
2. Asas Manfaat:
Setiap usaha dan kegiatan organisasi harus mampu memberikan manfaat bagi peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan buruh. SBSI harus mampu dan memperjuangkan kepentingan anggotanya maupun buruh secara keseluruhan.
Contoh: dengan menghimpun Koperasi Anggota (Kopag) tahun 1998 pada tingkat perusahaan (PK) termasuk di Surakarta. Adapun kegiatannya adalah simpan pinjam, kewirausahaan, bantuan dana kepada anggota, pengadaan beras murah dan hasilnya adalah pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU).
3. Asas Pengorbanan:
Dalam memperjuangkan perbaikan nasib buruh, segenap pengurus SBSI pada semua tingkatan harus rela berkorban, yaitu dalam tenaga, pikiran dan waktu.
Contoh: Para pengurus SBSI pada tingkat DPC menjadi tenaga full-timer yang secara penuh mengurus kantor sekretariat, yaitu dengan keluar dari perusahaan dan secara fokus menangani DPC pada seluruh DPC termasuk di Surakarta.
4. Asas Berdaulat:
Untuk menjaga kemurniannya di dalam memperjuangkan kepentingan anggota maupun buruh sehingga terbebas dari campur tangan pihak luar dan kepentingan yang bukan kepentingan buruh, maka SBSI memiliki prinsip berdaulat atas dirinya dalam mengambil keputusan.
5. Asas Demokratis:
Gerak kehidupan SBSI senantiasa dilandasi prinsip demokrasi yang sehat yang diwujudkan secara nyata dalam proses penentuan arah dan strategi perjuangan,
yaitu dengan membandingkan kebutuhan kongkrit buruh dengan kemampuan organisasi.
Contoh: sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga SBSI, maka pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat, serta kedaulatan tertinggi berada pada tangan anggota.
6. Asas Kemandirian:
Perjuangan SBSI dalam mencapai tujuan dan cita-cita organisasi harus dilandaskan pada kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri, terutama dalam kemandirian dana.
Contoh: membangun usaha seperti Koperasi Anggota (Kopag) pada masing- masing PK di tiap-tiap daerah.
7. Asas Indepedensi:
SBSI secara politik bukan merupakan bagian (underbow) dari salah satu organisasi sosial politik (orsospol), setiap fungsionaris SBSI tidak diperkenankan menduduki jabatan politik pada waktu yang bersamaan.
8. Asas Hukum:
Dalam melaksanakan perjuangannya, anggota dan segenap fungsionaris SBSI harus taat pada hukum untuk menegakkan tercapainya kepastian hukum.
Contoh: bekerja sama dengan LSM lain yang peduli terhadap masalah perburuhan di Indonesia atau dengan medirikan Lembaga Bantuan Hukum SBSI. Di Surakarta dibentuk YLBH-BSI pada tahun 1994 untuk memberi layanan bantuan hukum bagi buruh.
9. Asas Kejuangan:
Dalam proses pencapaian tujuan dan cita-cita organisasi, anggota dan segenap fungsionaris SBSI harus memiliki mental, tekad, jiwa dan semangat pengabdian serta ketaatan dan disiplin yang tinggi dengan lebih mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi atau golongan.
10. Asas Solidaritas:
Peduli dan rela berkorban sebagai ciri solidaritas adalah dasar dari kekuatan buruh SBSI yang meliputi tingkat perusahaan, daerah, wilayah, atau Negara, serta internasional.
Contoh: membangun solidaritas buruh terutama sesama anggota SBSI di seluruh Indonesia, missal pada tanggal 14 April 1994 di Medan buruh SBSI menyerukan mogok bersama selama satu jam dan hal ini diikuti oleh buruh SBSI lain di seluruh Indonesia.
11. Asas Persamaan:
Masyarakat buruh tidak mengenal perbedaan baik jenis kelamin, tingkat pendidikan, warna kulit, suku, agama, maupun kebangsaan.
Contoh: Baik buruh laki-laki maupun perempuan diperbolehkan menjadi anggota SBSI. Di Surakarta sendiri keanggotan SBSI meliputi seluruh gender, usia, serta agama, disamping itu buruh perempuan juga mendapatkan jabatan dalam tatanan kepengurusan SBSI Surakarta.
Sesuai hasil Musyawarah Nasional SBSI di Pematang Siantar tahun 2001 dirumuskan bahwa SBSI harus dipecah menjadi unit-unit sektoral yang terdiri dari 14 sektor usaha yang meliputi:
1. Penerangan Pers dan Grafika (PPG-SBSI) 2. Sektor Transport dan Angkutan (STA-SBSI) 3. Logam Metal dan Elektronik (LOMENIK-SBSI) 4. Hutan, Perkayuan dan Pertanian (HUKATAN-SBSI) 5. Keuangan, Profosional dan Perdagangan ( KEPRO-SBSI) 6. Kimia dan Kesehatan (KIKES-SBSI)
7. Makanan, Pariwisata, Restoran dan Hotel (KAMIPARHO-SBSI) 8. Sektor Pertambangan dan Energi (SPE-SBSI)
9. Sektor Pendidikan dan Pengajaran (SPP-SBSI) 10. Kontraktor Umum dan Informal (KUI-SBSI)
11. Garmen, Tekstil, Kulit dan Sepatu (GARTEKS-SBSI) 12. Buruh Rumah Tangga (BRT-SBSI)
13. PP. KPN (Korps Pegawai Negeri) 14. PP. PSI (Paguyuban Seniman Indonesia)
Pembagian unit-unit sektoral tersebut secara geo-politik di Surakarta tidak memungkinkan, sehingga SBSI di Surakarta masih berbentuk unitaris atau kesatuan, tidak berdasarkan unit-unit sektoral.
b. Ciri Khas Pembeda SBSI dengan SPSI
Sebagai serikat buruh independen, sejak awal keberadaannya SBSI memiliki sifat gerakan yang sangat berbeda dengan SPSI sebagai satu-satunya wadah serikat buruh resmi selama pemerintah Orde Baru berkuasa, disamping latar belakang berdirinya SBSI sendiri yang tidak puas terhadap monoloyalitas
Orde Baru dengan SPSI sebagai “single plate” dalam menampung aspirasi buruh.
Ciri khas mendasar dari SBSI adalah SBSI adalah serikat buruh yang hadir: dari, untuk dan oleh buruh.
Terdapat 3 struktur organisasi serikat buruh:
1. Organisasi dan managemen serikat buruh yang sama dengan perusahaan 2. Organisasi dan managemen serikat buruh yang sama dengan perusahaan
tetapi kompromis dengan pola kapitalisme
3. Organisasi dan managemen yang sama sekali berbeda dengan perusahaan.5
Monoloyalitas Orde Baru mengharuskan struktur organisasi dan managemen SPSI harus sama dengan perusahaan sehingga serikat buruh hanya sebagai alat pengusaha di perusahaan. SPSI yang mengaku sebagai serikat buruh justru tidak dapat mengaspirasikan suara buruh, tetapi justru berbagai hasil kebijakan perburuhan lebih menguntungkan pengusaha. Selain itu SPSI merupakan serikat buruh resmi pemerintah sehingga pendanaan organisasi tersebut didukung sepenuhnya oleh pemerintah melalui campur tangan pemerintah kota.
5 Wawancara dengan Suharno (Ketua DPC SBSI ’92 Solo), di DPC SBSI ’92 Solo, 20 Januari 2009 pukul 11.00 WIB.
LBH Struktur organisasi SBSI tahun 1997 adalah:
Sumber: Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga SBSI Tahun 1997 KONGRES
DPP-SBSI DEWAN
PENASEHAT
PENGURUS PUSAT SEKTOR
DEPARTEMEN/
LEMBAGA
KORWIL
DEWAN PENGURUS CABANG UMUM/
SEKTOR
PENGURUS KOMISARIAT
ANGGOTA RAKERNAS DPP
PLENO DPP
B. Perkembangan Serikat Buruh Pasca Reformasi
Pasca reformasi tahun 1998 muncul Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 83 Tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi ILO No. 87 mengenai Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi (Lembaran Negara No. 98 Tahun 1998), yang memberikan keleluasaan organisasi buruh untuk mendaftar secara resmi, maka tahun 1998 SBSI terdaftar secara resmi. Munculnya banyak serikat buruh sesudah reformasi juga dipicu dengan adanya Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Buruh/Serikat Pekerja.
Tabel 4. Daftar Serikat Buruh yang Terdaftar di Disnakertrans Surakarta tahun 2001-2008
N o
Tahun 2001
Tahun 2002
Tahun 2003
Tahun 2004
Tahun 2005
Tahun 2006
Tahun 2007
Tahun 2008
1 SPSI SPSI SPSI SPSI SPSI SPSI SPSI SPSI
2 SBSI SBSI SBSI SBSI SBSI SBSI SBSI SBSI
3 SBP SBP SBP SBP SBP SBP SBP SBSK
4 - SBSK SBSK SBSK SBSK SBSK SBSK SPN
5 - Non-
afiliasi
Non- afiliasi
SPN SPN SPN SPN Non-
afiliasi
6 - - - Gasbindo Gasbindo Non-
afiliasi
Non- afiliasi
-
7 - - - PBM PBM - - -
8 - - - Non-
afiliasi
Non- afiliasi
- - -
Sumber: Perkembangan Keanggotaan Serikat Pekerja di Surakarta tahun 2001-2005, BPS Kota Surakarta dan Data Rekapitulasi Keanggotaan Serikat Pekerja Kota Surakarta tahun 2006-2008 Disnakertrans.
Kuantitas serikat buruh di Surakarta mengalami pasang-surut sesudah reformasi. Di kota Surakarta berdiri beberapa serikat buruh setelah munculnya Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 83 Tahun 1998 mengenai Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak untuk Berorganisasi dan Undang-Undang No.
21 Tahun 2000 tentang Serikat Buruh/Serikat Pekerja. Selain SPSI (berdiri tahun 1985), SBSI (tahun 1992), berdiri serikat-serikat buruh lain seperti; Serikat Buruh Perintis/ SBP (tahun 2001), Serikat Buruh Setia Kawan/ SBSK ( bulan Februari tahun 2002), Serikat Pekerja Nasional/ SPN (tahun 2003/tercatat di Disnaker tahun 2004), Gabungan Serikat Buruh Industri/ GASBINDO Indonesia (tahun 2004), Perjuangan Buruh Mandiri/ PBM (tahun 2004), dan serikat-serikat buruh lokal atau non-afiliasi yang mulai banyak berdiri pada tahun 2002.
Walaupun kebebasan berorganisasi yang diatur dalam UU No. 21 tahun 2000 berdampak pada terjadinya polarisasi dan fragmentasi pada isu serta ideologi gerakan buruh, tetapi pertemuan dan perseteruan antar serikat buruh dalam penentuan upah, mendorong munculnya kesadaran di masing-masing organisasi buruh bahwa persatuan (soliditas) dan solidaritas antar organisasi buruh adalah hal yang paling utama untuk menguatkan posisi tawar serikat buruh dihadapan negara dan modal. Dan hal ini adalah situasi yang dibutuhkan untuk memacu kesadaran politik bagi setiap organisasi buruh.6
6 Andy Irfan J. loc. cit.
C. Dinamika SBSI Surakarta dalam Memposisikan Diri sebagai Serikat Buruh Independen 2003-2008
a. Perpecahan Internal dalam Kubu SBSI
Sejak akhir April 2003, SBSI terpecah menjadi dua organisasi, yaitu Konfederasi SBSI yang diketuai oleh Rekson Silaban dan SBSI Kembali ke Semangat Deklarasi 1992 (atau SBSI 1992) yang diketuai oleh Tohap Simanungkalit.7 Perpecahan internal disebabkan oleh buruknya managemen keuangan dan organisasi. Managemen dan kepemimpinan yang buruk pada tataran puncak SBSI perlahan-lahan telah merusak jati diri SBSI. Berbagai diskusi, forum dan semacamnya yang diadakan dengan tujuan untuk memperbaiki SBSI dari dalam oleh sejumlah pengurus SBSI Pusat yang memiliki pemikiran kritis selalu dicurigai sebagai upaya merusak organisasi.
Terdapat keyakinan bahwa cepat atau lambat apabila tidak ada perbaikan mendasar dalam organisasi SBSI maka SBSI akhirnya akan tenggelam. Sungguh ironis dimana SBSI sebagai pioner gerakan buruh dan serikat buruh independen pada masa Orde Baru justru terancam bubar, dimana pemicunya adalah masalah internal yang melingkupi para pengurus pusat SBSI.
Para tokoh yang kritis dan prihatin terhadap keberadaan SBSI memutuskan dan memprakarsai perlu adanya diskusi terbuka sebelum Kongres IV SBSI dilaksanakan (27 April sampai dengan 1 Mei 2003). Adapun tema diskusi
7 DPP SBSI. Buku Putih SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) “Memurnikan Kembali SBSI” Kembali ke Semangat Deklarasi 1992. Jakarta: DPP SBSI, halaman 1.
adalah “Mengembalikan SBSI pada Semangat Deklarasi 1992”.8 Usaha untuk mengembalikan SBSI pada semangat deklarasi 1992 dilakukan untuk memurnikan kembali SBSI pada tujuannya ketika dibentuk pada tahun 1992, yaitu benar-benar memperjuangkan kepentingan buruh. Tokoh-tokoh penggagas diskusi “Pemurnian Kembali SBSI” adalah Tohap Simanungkalit, Didiek Hendro Puspito, Parlandungan A.R dan Sunarty. Para penggagas diskusi kemudian dinyatakan dipecat pada awal Kongres IV SBSI. Diskusi tetap digelar, karena hanya melalui forum diskusi terbuka dapat diharapkan adanya suatu perubahan.
Meskipun mendapat tekanan dari DPP SBSI pimpinan Muchtar Pakpahan,
“Diskusi Pemurnian SBSI” tetap berlangsung dua hari sebelum Kongres IV SBSI.
Hasil diskusi melahirkan berbagai konsep dasar yang diyakini dapat mengembalikan SBSI ke semangat deklarasi tahun 1992.
Tokoh-tokoh penggagas “Diskusi Pemurnian SBSI” tersebut tidak mengakui Kongres IV SBSI. Kongres Penyelamatan SBSI diadakan di Hotel Rolex Pasar Baru, Jakarta Pusat tanggal 28-30 April 2003.9 Sejumlah kader SBSI dipecat hanya karena mengikuti “Diskusi Pemurnian SBSI”. “Kongres Penyelamatan SBSI” dalam rangka kembali pada semangat deklarasi tahun 1992 dihadiri sekitar 80-an kader SBSI. DPP SBSI yang terpilih dalam ‘Kongres Penyelamatan SBSI” diamanatkan melakukan tugas pokok:
1. Mengkonsolidir kembali kader-kader dan anggota SBSI
2. Sejauh mungkin melakukan rekonsiliasi di antara kader dan anggota yang sudah sempat terpecah-pecah
8 Ibid, halaman 27.
9 Ibid, halaman 30.
3. Mengembalikan SBSI pada jati dirinya yang sah dan sehat, sesuai dengan “Semangat Deklarasi 1992”
4. Mengamankan aset-aset SBSI dari tangan-tangan pihak yang tidak bertanggungjawab dan mengembalikannya atas nama organisasi secara resmi.10
Adapun komposisi DPP yang terbentuk dari hasi Kongres Penyelamatan SBSI adalah: Tohap Simanungkalit sebagai Ketua Umum, Didiek Hendro Puspito sebagai Ketua Bidang Program, Parlandungan A.R. sebagai Ketua Bidang Konsolidasi, Raswan Suryana sebagai Sekretaris Jenderal dan Sunarty sebagai Bendahara.
Melalui pengembalian SBSI pada jati diri asli diharap mampu memperbaiki managemen SBSI secara mendasar. SBSI diharapkan kembali pada peranan tradisionalnya sebagai pioner perbaikan nasib buruh di Indonesia. Sejak saat itulah terdapat dua SBSI yaitu KSBSI dan SBSI 1992. Di Solo dan sekitarnya hanya terdapat SBSI 1992.
b. Ciri Khas Pembeda SBSI 1992 Surakarta dengan Serikat-Serikat Buruh Lain di Surakarta
SBSI 1992 memiliki perbedaan mendasar dengan serikat buruh lain. SBSI 1992 Surakarta tidak hanya berbeda dengan SPSI yang notabene adalah serikat buruh resmi pemerintah, tetapi juga memiliki ciri khas yang berbeda dengan
10 Ibid, halaman 32.
serikat-serikat buruh swadana lain di Surakarta yang mulai banyak berdiri pasca reformasi (Serikat Pekerja Nasional, Serikat Buruh Setia Kawan).
1. Ciri Khas Pembeda SBSI 1992 Surakarta dengan SPSI Surakarta Ciri khas pembeda SBSI 1992 Surakarta dengan SPSI Surakarta meliputi berbagai hal diantaranya:
a. Karakter Organisasi:
1. SBSI 1992;
SBSI 1992 bukan bagian managemen perusahaan sehingga tidak ada sekat antara anggota. Setiap anggota bisa menjadi pengurus (egaliter) bukan atas dasar senioritas. Komunikasi antara pengurus dengan anggota paling bawah pun berjalan lancar, saling mengenal satu sama lain. SBSI 1992 mempunyai kader dan sumber daya manusia yang kuat secara personal, handal atau tahan terhadap situasi dan paham tentang buruh. Totalitas harus disandang oleh pengurus SBSI 1992 yaitu dengan keluar dari perusahaan dan mengambil posisi full-time dengan buruh tanpa adanya kompensasi dari buruh. Hal tersebut membuat SBSI 1992 dapat eksis di Solo.11
Misalnya:
- Pengurus DPC SBSI 1992 Surakarta menjadi full-timer dengan keluar dari tempat mereka bekerja untuk menangani organisasi secara penuh, agar penanganan organisasi dapat lebih optimal.
11 Wawancara dengan Suharno (Ketua DPC SBSI ’92 Solo), di DPC SBSI ’92 Solo, 18 Mei 2009 pukul 10.00 WIB.
- Kantor DPC SBSI 1992 Surakarta buka setiap hari, hal ini berbeda dengan serikat buruh lain yang hanya buka pada hari tertentu saja.
2. SPSI;
Struktur organisasi cenderung sama dengan struktur managemen perusahaan, sehingga kepengurusan dipegang oleh elitis atau orang kantor di perusahaan. SPSI menjadi mandul dengan karakter struktur organisasi dan managemen yang sama dengan perusahaan sehingga menjadi sub-ordinasi perusahaan, maka organisasi tersebut hanya sebagai formalitas dan alat legitimasi perusahaan.
b. Dana Serikat buruh:
Terdapat dua metode pendanaan serikat buruh yaitu secara finansial internal (melalui iuran anggota) dan finansial eksternal baik yang berasal dari dalam negeri misalnya akses terhadap BUMN, Jamsostek, Pemerintah (APBD, APBN) serta finansial eksternal dari luar negeri atau internasional founding (misalnya dari ILO). Dana-dana serikat buruh digunakan untuk menerapkan program-program dan kegiatan-kegiatan serikat dan tidak untuk kebutuhan- kebutuhan personal para anggota dan pimpinan.
1. SBSI 1992;
Dana organisasi diperoleh dari pendanaan internal yang diperoleh dari anggota atau disebut iuran anggota. Iuran anggota ialalah sebesar 0,5% dari Upah Minimum Kota/Kabupaten setiap bulan.12
12 Anggaran Rumah Tangga Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 1992.
2. SPSI;
Dana diperoleh dari anggota DPC tiap bulan dan dari Pemerintah Kota setiap satu tahun sekali.13
c. Sifat Gerakan Organisasi:
1. SBSI 1992;
Gerakan lebih dari normatif atau dapat dikatakan SBSI 1992 tidak hanya fokus terhadap permasalahan normatif buruh seperti masalah upah, jam kerja, dan sebagainya. Selain memperjuangkan pemenuhan hak-hak normatif buruh, SBSI 1992 Surakarta juga aktif membangun aliansi-aliansi baik yang bersifat permanen maupun isu-isu tertentu saja. SBSI 1992 memandang bahwa pergerakan buruh di Solo sudah harus lebih tinggi dari sekedar masalah hak normatif, sehingga diperlukan serikat buruh yang berani merusak predikat bahwa buruh adalah kaum rendah atau bodoh, maka diperlukan gerakan yang lebih maju dan tidak semata- mata normatif.
Tindakan secara nyata diwujudkan dengan membangun koalisi dalam Komite Buruh Surakarta (KBS) dengan membuat wacana baru dimana buruh atau aktivis buruh bisa terlibat dalam proses Pilkada kota Solo tahun 2005, misalnya dengan mencalonkan Walikota dan Wakil Walikota yang diwacanakan oleh buruh
13 Wawancara dengan Kabiran (Bendahara DPC KSPSI Solo), di DPC KSPSI Solo, 16 Januari 2009 pukul 09.00 WIB.
yaitu Zainal Abidin dari Gasbindo yang diusung resmi oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Sukamto dari SBSI.14
2. SPSI;
Sejak awal berdirinya SPSI memiliki karakter organisasi dengan menjalankan hal-hal yang biasa atau statis dan apolitis. Sesudah kekuasaan Orde Baru runtuh SPSI-pun masih terkesan pro-pemerintah dengan mengorganisir anggotanya agar jangan sampai ada gerakan atau aksi-aksi dari buruh anggotanya,15 sehingga tidak ada gerakan-gerakan yang muncul terhadap kebijakan-kebijakan perburuhan yang cenderung merugikan kaum buruh.
2. Ciri Khas Pembeda SBSI 1992 Surakarta dengan Serikat-serikat Buruh Swadana lain di Surakarta
Berdasarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Buruh/Serikat Pekerja, maka sekurang-kurangnya 10 orang pekerja atau buruh sudah dapat mendirikan serikat buruh atau serikat pekerja. Dengan banyaknya jumlah serikat buruh, serikat buruh menjadi kehilangan tantangan perjuangan, disamping itu dikhawatirkan pihak pengusaha dapat dengan mudah mendirikan organisasi buruh yang dikooptasi guna menandingi serikat buruh yang asli.
Banyaknya serikat buruh harus diwaspadai karena gerakan buruh menjadi
14 Wawancara dengan Suharno (Ketua DPC SBSI ’92 Solo), di DPC SBSI ’92 Solo, 13 Agustus 2009 pukul 10.30 WIB.
15 Wawancara dengan Kabiran. Loc. cit.
terpecah-pecah karena sekelompok kecil buruh saja dapat membentuk serikat buruh.16
Seiring dengan kebebasan buruh untuk mengorganisasikan dirinya, maka tugas yang diemban oleh serikat buruh semakin berat yakni tidak saja memperjuangkan hak-hak normatif buruh tetapi juga memberikan perlindungan, pembelaan dan mengupayakan peningkatan kesejahteraan anggotanya.
Serikat buruh sesudah reformasi dapat digolongkan menjadi:
a. Serikat buruh sektoral
b. Serikat buruh underbow partai politik c. Serikat buruh pegawai negeri (KORPRI) d. Serikat buruh murni.17
Ciri khas yang membedakan SBSI 1992 dengan serikat buruh swadana lain di Surakarta meliputi beberapa aspek. Dimulai dengan ciri khas yang mendasar ditinjau dari berdirinya organisasi-organisasi tersebut. SBSI 1992 berdiri tahun 1992 dan merupakan serikat buruh independen yang berdiri di tengah monoloyalitas Orde Baru, sementara itu serikat-serikat buruh swadana lain baru bermunculan setelah adanya peraturan dari pemerintah mengenai kebebasan untuk berorganisasi mendirikan serikat buruh atau serikat pekerja.
Pendirian serikat-serikat buruh swadana di Surakarta pun beragam latar belakangnya, mulai dari ingin melepaskan diri dari SPSI karena menganggap
16 TURC. 2005. A.B.C Hak-hak Serikat Buruh. Jakarta: TURC, halaman 25.
17 Bambang Setiaji. 2003. Ekonomi Serikat Buruh di Indonesia. Surakarta: Universitas Muhamadiah Surakarta, halaman 15.
SPSI sebagai underbow Orde Baru dimana kebebasan beraspirasi dibatasi serta visi dan misi yang tidak sama dengan SPSI, misalnya SPN berdiri pada tahun 2003 yang dahulunya merupakan gabungan dari Serikat Buruh Tekstil dan Sandang (SBTS) dan Serikat Buruh Kulit dan Karet (SBKK) di bawah sub- sektoral SPSI.18 Terdapat pula serikat buruh lain di Surakarta dimana latar belakang berdirinya tidak ada kaitannya dengan ketidakpuasan terhadap SPSI melainkan berdasarkan Keppres tahun 1998 dan Undang Undang No. 21 tahun 2000 misalnya Serikat Buruh Setia Kawan (SBSK) yang berdiri tahun 2002.19
Disamping perbedaan latar belakang berdirinya masing-masing organisasi, yang membuat SBSI 1992 berbeda dengan serikat buruh swadana lain di Surakarta dapat dilihat dalam kepengurusan organisasi. Serikat buruh swadana lain kepengurusannya dipegang oleh elitis atau orang-orang kantor di perusahaan.
Sebagian besar pengurus serikat buruh swadana lain adalah orang-orang yang bekerja di perusahaan sehingga harus membagi waktu antara bekerja dengan memegang peran sebagai pengurus serikat buruh. Hal ini berbeda dengan pengurus SBSI 1992 yang mengambil posisi full-time untuk menangani serikat buruhnya.
18 Wawancara dengan Hudi Wasisto (Ketua DPC SPN Solo), di Kantor Danar Hadi Solo, 16 Februari 2009 pukul 14.00 WIB.
19 Wawancara dengan Iwan (Pengurus DPC FSBSK Solo), di DPC FSBSK Solo, 14 Februari 2009 pukul 19.30 WIB.
c. Usaha SBSI 1992 Surakarta dalam Mengembangkan Organisasinya Tahun 2003-2008
Sebagai usaha untuk mempertahankan eksistensinya suatu organisasi harus berusaha mengembangkan organisasinya agar organisasi tersebut tidak bersifat statis, formalitas, vakum dan bahkan bubar. Hal serupa juga dilakukan oleh SBSI 1992 Surakarta dalam memperjuangkan eksistensinya sebagai serikat buruh.
Cara perekrutan anggota:
Perekrutan anggota dilakukan oleh Pengurus Komisariat di wilayah perusahaan masing-masing. Perekrutan dilakukan dengan cara melakukan workshop/seminar pada wilayah PK masing-masing dengan mengajak buruh untuk berorganisasi dan menyampaikan pentingnya buruh bergabung dalam serikat buruh yang independen dan tepat, yang semula dilakukan dengan cara membagikan undangan kepada buruh-buruh di perusahaan tersebut. Perekrutan anggota pada umumnya dilakukan setiap 3 bulan sekali atau bila dianggap perlu.
Setiap anggota diberikan Kartu Anggota SBSI 1992 oleh DPC. Di samping itu cara untuk mensosialisasikan SBSI 1992 Surakarta adalah dengan bantuan media seperti blog, bulletin serta media lain yang dapat menjangkau masyarakat luas.
Usaha yang dilakukan oleh SBSI 1992 Surakarta dalam mengembangkan organisasinya dilakukan melalui beberapa fungsi yang meliputi fungsi organisasi, fungsi kaderisasi, fungsi advokasi dan fungsi sosialisasi. Usaha-usaha tersebut dilakukan untuk menyejahterakan kaum buruh terutama para anggotanya.
1. Fungsi Organisasi
Fungsi organisasi meliputi fungsi organisasi baik secara internal maupun secara eksternal
a. Fungsi Organisasi Secara Internal;
Merupakan fungsi organisasi yang harus disokong oleh struktur organisasi dari tingkat bawah sampai dengan tingkat atas.
Struktur organisasi SBSI 1992 tahun 2003 adalah:
Sumber: Struktur Organisasi SBSI 1992, Anggaran Dasar SBSI 1992 tahun 2003.
Majelis Pertimbangan adalah badan pengawas yang bertugas mengawasi jalannya program yang dilaksanakan oleh DPP. BPK bertugas mengaudit
Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO)
Dewan Pengurus Pusat (DPP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Koordinator Wilayah (KORWIL)
Pengurus Komesariat (PK) Dewan Pengurus Cabang (DPC)
keuangan DPP secara berkala. DPP merupakan pemegang kekuasaan eksekutif tertinggi organisasi yang berwenang, bertindak untuk dan atas nama organisasi.
Koordinator wilayah dibentuk di suatu wilayah bila telah ada minimal tiga DPC.
Korwil bertugas melaksanakan dan mengkoordinir program DPP di daerah, membangun hubungan dengan Pemerintah Daerah, memfasilitasi pembentukan DPC dan PK, mengurus rekruitmen anggota apabila DPC belum terbentuk serta membangun kemitraan dan tripartit. DPC ialah pemegang kekuasaan eksekutif di tingkat cabang dan berwenang bertindak untuk dan atas nama organisasi di tingkat cabang. PK merupakan pemegang kekuasaan eksekutif di tingkat komesariat yang berwenang bertindak untuk dan atas nama organisasi di tingkat komesariat. PK terdiri dari minimal tiga orang buruh di perusahaan.
Masing-masing alat perlengkapan organisasi mempunyai tugas, tanggung jawab dan wewenang sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Fungsi organisasi secara konstitusional dilakukan melalui Musyawarah Nasional yang dilaksanakan bila dianggap perlu, Rapat Kerja Nasional dilakukan satu kali dalam satu tahun. Rapat Kerja Wilayah, Rapat Kerja Cabang dan sebagainya.
· Fungsi Organisasi dalam Hal Pemberdayaan Ekonomi Anggota;
Untuk memberdayakan ekonomi dan kesejahteraan anggotanya SBSI 1992 Surakarta membangun usaha-usaha ekonomi melalui koperasi di tingkat perusahaan. Pada sekitar akhir tahun 2005 SBSI 1992 Surakarta menghimpun koperasi karyawan di perusahaan-perusahaan serta membuat aliansi-aliansi sektoral di bidang ekonomi yaitu dengan membentuk Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Buruh (LEMBUR) yang bertujuan untuk:
1. Pemberdayaan ekonomi keluarga buruh 2. Pemberdayaan ekonomi buruh
LEMBUR sebagai pendamping dari ekonomi keluarga buruh. Koperasi tersebut dikelola secara sektoral yaitu pada tingkat PK atau perusahaan sehingga pada tingkat DPC tidak secara langsung mengelola koperasi tersebut dengan tujuan meningkatkan kemandirian PK pada masing-masing perusahaan. Kegiatan atau aktivitas LEMBUR adalah: kewajiban menabung bagi anggota SBSI 1992 yang menjadi anggota LEMBUR, simpan-pinjam, kegiatan tata usaha (kewirausahaan) dengan menyediakan bahan-bahan keperluan sehari-hari.
Adapun keanggotaan LEMBUR adalah tidak mengikat setiap buruh yang terdaftar menjadi anggota SBSI 1992 Surakarta tidak wajib ikut dalam LEMBUR, namun di sisi lain keuntungan menjadi anggota LEMBUR adalah setiap anggota mendapatkan sisa hasil usaha serta pelatihan kewirausahaan.20
20 Wawancara dengan Suharno (Ketua DPC SBSI 1992 Surakarta) tanggal 30 Nopember 2009 Pukul 10.00 WIB.
Tabel 5. Jumlah Anggota Serikat Pekerja yang Terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Surakarta Tahun 2001-2005
N o
Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005
Serikat Pekerja
Peru sa haan
Pe ker ja
Peru saha an
Pe ker ja
Peru saha an
Pe ker ja
Peru saha an
Pe ker ja
Peru saha an
Pe ker ja
1 SPSI 25 4089 29 4480 35 5485 49 3615 48 4315
2 SPN - - - 10 3680 9 3400
3 SBSI 3 943 6 1299 7 1320 8 1618 8 1981
4 Gasbindo - - - 11 331 11 331
5 SBP 3 266 3 266 3 266 15 503 13 608
6 PBM - - - 2 200 2 202
7 SBSK - - 1 153 1 153 3 539 3 539
8 Lokal - - 3 479 4 561 23 1016 14 1116
Jumlah 31 5298 42 6677 50 7785 120 11359 125 12792 Sumber: Perkembangan Keanggotaan Serikat Pekerja di Surakarta Tahun 2001-2005, BPS Kota Surakarta.
Dari tahun ke tahun jumlah anggota perusahaan dan pekerja yang bergabung dalam serikat buruh mengalami perkembangan meskipun jumlah keanggotaan terbesar serikat buruh di Surakarta masih didominasi oleh SPSI yang mendominasi sektor tekstil sandang, kulit, rokok tembakau, makanan, minuman, sektor pariwisata, niaga, bank, jasa, asuransi, transportasi, percetakan dan media.
Tabel 6. Jumlah Anggota DPC SBSI 1992 Kota Surakarta Tahun 2008
No. Serikat Pekerja Tingkat Perusahaan Jumlah Anggota
1. PT. Batik Danar Hadi 224 Orang
2. PT. Elteha Internasional 21 Orang
3. CV. Arta Buana Company 207 Orang
4. PT. Asia Cakra Ceria 730 Orang
5. CV. Kuda Sembrani 16 Orang
6. CV. Rajawali Plastik 120 Orang
7. CV. Sahabat Ceria 61 Orang
8. Perusahaan Plastik Jerapah 820 Orang
9. PT. Matahari Plastik 133 Orang
Jumlah 2332 Orang
Sumber: Daftar Anggota DPC SBSI 1992 Surakarta Tahun 2008, Arsip DPC SBSI 1992 Surakarta.
Sampai tahun 2008 terdapat sembilan serikat buruh tingkat perusahaan yang tergabung dalam SBSI 1992 Surakarta. Anggota SBSI 1992 Surakarta meliputi perusahaan lintas sektoral; perusahaan tekstil, jasa kargo, dan plastik, Keanggotaan terbanyak didominasi oleh pabrik plastik yang meliputi tujuh perusahaan.
b. Fungsi Organisasi Secara Eksternal;
Fungsi organisasi secara eksternal dilakukan dengan melalui lembaga- lembaga ketenagakerjaan yaitu dengan mengambil peran dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang menyangkut hal-hal ketenagakerjaan mengingat organisasi serikat buruh berfungsi sebagai alat untuk memperjuangkan kesejahteraan buruh. Lembaga ketenagakerjaan terdiri dari buruh yang diwakili oleh serikat buruh, pengusaha dan pemerintah. Setiap tahun dilakukan verifikasi oleh Disnakertrans sehingga untuk masuk ke dalam lembaga ketenagakerjaan, serikat buruh harus lolos verifikasi. SBSI 1992 Surakarta berusaha agar masuk atau lolos verifikasi agar dapat masuk ke dalam lembaga ketenagakerjaan.
2. Fungsi Kaderisasi
Secara umum kaderisasi dapat dikatakan sebagai bagian dari proses sosialisasi politik. Kaderisasi dapat diartikan sebagai proses penyiapan bagi penggantian personalia yang nantinya akan berlangsung dalam lembaga-lembaga masyarakat. Dalam hal ini, calon-calon pengganti dipersiapkan dengan jalan melengkapi mereka dengan nilai-nilai dari lembaga yang bersangkutan yaitu dengan nilai-nilai yang mencerminkan identitas lembaga tersebut.21
Proses kaderisasi SBSI 1992 Surakarta dilakukan dengan membangun kader secara continue atau terus-menerus untuk menjalankan organisasi.
Kaderisasi dilakukan dengan cara mengolah SDM buruh yang dimulai bagaimana buruh mengerti aturan-aturan sampai berani bergerak. Selain itu kaderisasi
21 Nazaruddin Sjamsudin. 1993. Dinamika Sistem Politik Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, halaman 87 dan 91.
merupakan proses mempersiapkan pengurus organisasi, maka dilakukan upaya- upaya dalam segala hal yang meliputi pelatihan, seminar, diskusi, membangun kelompok-kelompok buruh untuk berdiskusi atau sharing. SBSI 1992 Surakarta menyatakan memiliki kader dan SDM yang terbentuk dari orang-orang yang kuat secara personal, handal, harus tahan terhadap situasi yang sedang terjadi serta paham tentang buruh oleh karena itu para kader dibangun melalui proses persiapan kader yang lama, minimal lima tahun.
Kaderisasi dimulai dari rekruitmen serta peningkatan kapasitas kader atau anggota (melalui pendidikan) dan pembagian tugas. Dengan kaderisasi pikiran- pikiran segar akan terus muncul dan tidak didominasi oleh pemikiran lama.
Pendidikan yang merata kepada seluruh pengurus, anggota, dan kader-kader merupakan alat untuk mengkonsolidasi pemahaman dasar-dasar keserikatburuhan, serta pendalaman teori perjuangan.
Sejak berdirinya SBSI telah memiliki lima jenjang pendidikan keorganisasian yaitu:
1. Basic Training (BATRA): pendidikan awal bagi calon anggota, sekaligus menjadi syarat anggota dan berguna untuk mengetahui SBSI secara menyeluruh baik sejarah SBSI, hak dan kewajiban sebagai anggota SBSI, serta manfaat menjadi anggota serikat buruh.
2. Bargaining Training Course (BTC): kursus latihan berunding yang diberikan kepada Pengurus Komisariat agar mampu berunding dengan baik terhadap majikan atau pemerintah.
3. Leadership Training Course (LTC): kursus latihan kepemimpinan kepada Dewan Pengurus Cabang agar mampu memimpin organisasi, mampu berkomunikasi dan mampu mengelola organisasi.
4. Training For Trainer (TFT): kursus juru didik yang diberikan kepada Korwil dan DPC agar mampu menyelenggarakan pendidikan-pendidikan kader dan pengorganisasian.
5. Training For Organaizer (TFO): kursus Organizer yang diberikan kepada anggota DPP, dan Korwil agar mereka mampu memimpin SBSI di tingkat nasional.
3. Fungsi Advokasi
Fungsi advokasi dilakukan oleh SBSI 1992 Surakarta dengan melakukan advokasi baik advokasi kebijakan maupun advokasi secara nyata terhadap persoalan atau kasus buruh. Serikat buruh menjadi sangat penting sebagai alat advokasi pembelaan hak-hak buruh, maka kemampuan dan pengetahuan tentang hukum harus diperdalam untuk diabdikan bagi penguatan organisasi. SBSI 1992 Surakarta tidak hanya bergerak pada advokasi kasus-kasus buruh tetapi juga memperjuangkan kepentingan buruh dalam advokasi terhadap kebijaksanaan pemerintah yang menyangkut kaum buruh. Perjuangan SBSI 1992 Surakarta melalui advokasi kebijakan secara konkret misalnya dengan pengadvokasian lewat upah, disini SBSI 1992 terlibat dalam penentuan kebijakan upah, sehingga serikat buruh berfungsi sebagai alat untuk menuntut upah yang layak bagi buruh.
Oleh karena itu para pengurus dan kader SBSI 1992 harus mengetahui tentang masalah ketenagakerjaan.
4. Fungsi Sosialisasi
Ditinjau dari definisi sosialisasi adalah usaha untuk mengubah milik perseorangan menjadi milik umum, proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya.
Sosialisasi merupakan suatu proses penurunan atau penyerapan nilai dari masyarakat kepada seorang individu dalam masyarakat tersebut; proses yang menyerapkan nilai-nilai kepada seseorang disebut sebagai sosialisasi. Sosialisasi diperkaya oleh bentuk-bentuk lain seperti pendidikan, indoktrinasi, kaderisasi dan propaganda.22
Sosialisasi adalah bahasa pendidikan dengan melakukan kajian dan penyebarluasan. Sosialisasi pada SBSI 1992 sebagai upaya untuk memperkuat atau memaksimalkan peran organisasi secara umum untuk lebih memberi andil terhadap anggota atau buruh.
Sosialisasi pada organisasi ini meliputi pengadaan seminar, diskusi, membuat blog, buku, selebaran, bulletin (misalnya Bulletin Sosial Kemasyarakatan Blok: K yang diterbitkan oleh Front Anti-Neoliberalisme/FAN23 yang berjejaring dengan Aliansi Buruh Mengggugat/ABM.
22 Ibid, halaman 87-89.
23 FAN merupakan gabungan organisasi, antara lain: Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Surakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat H.
Misbach Sukoharjo, SBSI 1992 Surakarta, Perhimpunan Citra Kasih dan Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) Kota Surakarta.
Berbagai sarana yang sudah diusahakan oleh organisasi disosialisasikan baik kepada anggota SBSI 1992 maupun kepada kaum buruh secara luas.
Sosialisasi melalui seminar-seminar dan diskusi-diskusi diadakan dengan membahas isu-isu dan topik-topik yang sedang aktual, bukan saja isu-isu perburuhan tetapi masalah-masalah lain yang aktual di Indonesia. Hal tersebut dilakukan oleh SBSI 1992 agar buruh peduli dengan kondisi dan situasi di Negeri ini. Terdapat satu model serikat buruh yang dianggap cukup mampu mengatasi beberapa persoalan globalisasi, yaitu “social movement union” , artinya serikat buruh juga melibatkan diri dengan isu-isu sosial dan politik umumnya. Serikat buruh tidak hanya mengurusi soal-soal pabrik belaka tetapi juga tanggap dengan kebutuhan masyarakat umum. Berbeda dengan serikat buruh yang hanya fokus pada peningkatan kesejahteraan anggotanya saja, model “social movement union”
juga menyuarakan persoalan-persoalan komunitas sekitarnya. Serikat buruh yang demokratis mampu menjawab kebutuhan para anggotanya mengingat serikat buruh memang berasal dari anggotanya.24
24 TURC. op. cit., halaman 52-53.