• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOSIALISASI PENATAAN PIPA DAN/ ATAU KABEL BAWAH LAUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SOSIALISASI PENATAAN PIPA DAN/ ATAU KABEL BAWAH LAUT"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

SOSIALISASI PENATAAN PIPA

DAN/ ATAU KABEL BAWAH LAUT

Jakarta, 22 Maret 2021

Dr. Ir. Safri Burhanuddin, DEA

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim

(2)

PENATAAN ALUR PIPA DAN/ATAU KABEL BAWAH LAUT

1. Latar Belakang

2. Proses Penataan Pipa dan/atau Kabel Bawah Laut 3. Aspek Penetapan Pipa dan/atau Kabel Bawah Laut

4. Pengaturan dalam SK MENKP Nomor 14/2021 tentang Alur Pipa dan/atau Kabel Bawah Laut

5. SK Timnas Penataan Alur Pipa dan/atau Kabel Bawah Laut 6. Diskusi

7. Penutup

OUTLINE

(3)

PERAIRAN SELAT SINGAPURA

Permasalahan: Tidak Tertatanya Kabel di Bawah Laut Perairan Indonesia

Sebelum

Tujuan: Tertatanya Kabel di Bawah Laut Perairan Indonesia

Sesudah

LATAR BELAKANG

Provinsi Kep. Riau

Tindak Lanjut:

- SK Menko Marves 107 Tahun 2020 - Disepakati 217 koridor

- Persiapan Proses Penetapan Koridor Sing

apur a

Ba ta m

Bi nt an

(4)

MENGAPA PERLU DITATA

Fasilitas pipa-pipa penyalur gas ini akan terkena dampak reklamasi pantai utara Jakarta

(5)

DASAR HUKUM

1. Undang-Undang No. 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen

Pasal 6 (2):

Untuk melindungi instalasi-instalasi, kapal-kapal dan/atau alat-alat lainnya tersebut pada ayat(1) pasal ini terhadap gangguan pihak ketiga, Pemerintah dapat menetapkan suatu daerah terlarang yang lebarnya tidak melebihi 500 meter, dihitung dari setiap titik terluar pada instalasi-instalasi, kapal-kapal dan/atau alat-alat lainnya disekeliling instalasi-instalasi, kapal-kapal dan/atau alat-alat lainnya yang terdapat di Landas Kontinen dan/atau diatasnya.

Pasal 6 (3):

Disamping daerah terlarang tersebut pada ayat (2) pasal ini Pemerintah dapat juga menetapkan suatu daerah terbatas selebar tidak melebihi 1.250 meter terhitung dari titik-titik terluar dari daerah terlarang itu, dimana kapal- kapal pihak ketiga dilarang membuang atau membongkar sauh.

Pejelasan Pasal 6

(2) Yang dimaksud dengan daerah terlarang dalam ayat ini adalah daerah dimana kapal pihak ketiga dilarang lewat dan membuang/membongkar sauh (safety zone atau restricted navigation area).

(3) Yang dimaksud dengan daerah terbatas dalam ayat ini adalah daerah dimana kapal pihak ketiga boleh melewatinya, tetapi dilarang membuang sauh (prohibited anchorage area).

Daerah Terlarang & Terbatas

(6)

DASAR HUKUM

2. Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian

Pasal 94 (3):

Menteri menetapkan zona keamanan dan keselamatan berlayar pada setiap bangunan atau instalasi.

Pasal 94 (5):

Batas zona keamanan dan keselamatan terdiri atas:

a. zona terlarang pada area 500 (lima ratus) meter dihitung dari sisi terluar instalasi atau bangunan; dan

b. zona terbatas pada area 1.250 (seribu dua ratus lima puluh) meter dihitung dari sisi terluar zona terlarang atau 1.750 (seribu tujuh ratus lima puluh) meter dari titik terluar bangunan.

3. Peraturan Menteri Perhubungan No. 25 Tahun 2011 tentang Sarana bantu Navigasi Pelayaran

Pasal 3 (2):

Bangunan dan/atau instalasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:

a. anjungan lepas pantai (platform);

b. tangki penampung terapung (floating production storage oil);

c. pipa dan/atau kabel bawah air;

d. tiang penyanggah dan/atau jembatan; dan e. oil wellhead.

Daerah Terlarang & Terbatas

(7)

DASAR HUKUM

4. Peraturan Menteri Perhubungan No. 68 Tahun 2011 tentang Alur Pelayaran

Pasal 39 (1):

Dalam perairan dapat dibangun bangunan atau instalasi selain untuk keperluan alur pelayaran.

Pasal 39 (2):

Bangunan atau instalasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. Jembatan;

b. Pipa;

c. Kabel.

Pasal 44 (5):

Batas zona keamanan dan keselamatan terdiri dari atas:

a. Zona terlarang pada area 500 meter dihitung dari sisi terluar instalasi atau bangunan; dan

b. Zona terbatas pada area 1.250 meter dihitung dari sisi terluar zona terlarang atau 1.750 meter dari sisi terluar bangunan.

Daerah Terlarang & Terbatas

(8)

DASAR HUKUM Daerah Terlarang & Terbatas

Article 2 UNCLOS states that the sovereignty of the Coastal State extends to its territorial and archipelagic waters. A permission and consent of the Coastal State is necessary to lay a

submarine cable or a pipeline in that area.

The Coastal State has full rights to impose transit charges. There is a possibility for the Coastal State to set conditions regarding the track of the cable and its dimensions.

Therefore, the laying of the submarine cables and the pipelines in the territorial (and archipelagic) waters is completely regulated by the national law of the Coastal State. In connection to this, the right of “innocent passage” may be restricted in order to protect submarine cables (Art 21(1)(c). Parallel to this, there is in existence international law and

practice that regulates such undertakings, and/or instructs national regulation on what type of norms to adopt, and what sort of a legal and political framework to promote.

5. United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS)

(9)

PROSES PENETAPAN SK MENKP TENTANG ALUR PIPA DAN/ ATAU KABEL BAWAH LAUT

1. Expose final peta koridor kabel bawah laut dengan total 217 segmen kabel, 43 Segmen pipa dan rencana penetapan landing stations di 4 (empat) lokasi

2. Expose hasil kompilasi peta koridor pipa bawah laut

3. Penyepakatan Substansi Rancangan Kepmen KP tentang Peta Koridor Pipa dan/ atau Kabel Bawah Laut

RAKOR

MENTERI

RAPAT

TIM TEKNIS II

Selasa 2 Feb

RAPAT TIM TEKNIS I

Rabu 27 Jan

Kamis

RAPAT TIM TEKNIS III

Kamis 4 Feb

RAKOR

LINTAS ESELON 1

Jumat 29 Jan

RAPAT TIM TEKNIS IV

Senin

RAKOR

LINTAS ESELON 1

Selasa

PROSES PENETAPAN

KEPMEN

Rabu - Rabu

RAKOR MENTERI

Selasa 23 Feb

MINGGU 1 MINGGU 2

Kompilasi data

Expose hasil

Finalisasi Rkepmen (kalau diperlukan)

DEPUTI 2 MARVEST

SK MENKP No 14/2021

Kamis 18 Feb

(10)

ASPEK TEKNIS

KESELAMATAN PELAYARAN

PERTAHANAN DAN KEAMANAN

PERLINDUNGAN LINGKUNGAN LAUT

ASPEK POLITIS

ASPEK DALAM PENETAPAN ALUR PIPA

DAN/ATAU KABEL BAWAH LAUT

(11)

217 jalur koridor, 43 segmen pipa,

4 Landing Station dan 209 Beach Main Hole

PENGATURAN DALAM SK MENKP NOMOR 14 TAHUN 2021

(12)

PENGATURAN DALAM SK MENKP NOMOR 14 TAHUN 2021

217 jalur koridor, 43 segmen pipa,

4 Landing Station dan 209 Beach Main Hole

(13)

TIMNAS PENATAAN ALUR PIPA DAN/ATAU KABEL BAWAH LAUT

Keputusan Menkomarves Nomor 46 Tahun 2021

Tim Pengarah Tim Pelaksana

Ketua Tim Pengarah : Menko Marves

Ketua Tim Pelaksana : Komandan Pushidrosal

Anggota Tim Pelaksana :

Dirjen PRL, KKP

Dirjen Hubla, Kemenhub

Dirjen Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM

Dirjen Migas, Kementerian ESDM

Dirjen PPI, Kominfo

Dirjen Strategi Pertahanan, Kementerian Pertahanan

Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar, BIG

Deputi Bidang Infrastruktur Informasi Geospasial, BIG

Deputi Operasi, SKK MIGAS

Tim Teknis

Ketua Tim Teknis :

Asisten Operasi Survei dan Pemetaan, Pushidrosal Anggota Tim Teknis :

Asdep Pengelolaan Ruang Laut dan Pesisir, Kemenkomarves

Asdep Industri Pendukung Infrastruktur, Kemenkomarves

Direktur Perencanaan Ruang Laut, KKP

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai, Kemenhub

Direktur Kenavigasian, Kemenhub

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM

Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM

Direktur Teknik dan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM

Direktur Pengendalian Pos dan Informatikan, Kominfo

Direktur Telekomunikasi, Kominfo

Direktur Wilayah Pertahanan, Kementerian Pertahanan

Kepala Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan, BIG

Kepala Pusat Pengelolaan dan Penyebarluasan Informasi Geospasial, BIG

Kepala Dinas Pemetaan, Pushidrosal

Kepala Dinas Nautika, Pushidrosal

Direktur Perencanaan Korporat, PT PLN (Persero)

Direktur Infrastruktur, PT PGN

Direktur Network & IT Solution, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero)

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Sistem Komunikasi Kabel Laut Seluruh Indonesia (ASKALSI)

Ketua Harian Tim :

Menteri Kelautan dan Perikanan Anggota Tim Pengarah :

Menteri Perhubungan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral

Menteri Komunikasi dan Informatika

Menteri Pertahanan

Kepala Staf TNI AL

Kepala Badan Informasi Geospasial

Sekretaris Tim :

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim, Kemenko Marves

Tindak Lanjut:

(14)

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Dapat disimpulkan bahwa nilai parameter fisika maupun kimia pada titik 1 dan titik 2 kualitas air di daerah tersebut pada musim kemarau masih stabil dan tidak melebihi dari batas

Dari proses yang dilakukan oleh Nur Cita Qomariyah dapat dismpulkan bahwah proses yang dilakukan dalam melakukan bimbingan kelompok beliau dengan membuat skill yang

berkemampuan membangkitkan motivasi para siswa sehingga siswa mau dan mampu mengembangkan dirinya secara optimal yang pada akhirnya akan meningkatkan karier guru. Guru

Penyusunan skripsi dengan judul “ Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Lirik Lagu pada Album Don’t Make Me Sad Karya Band Letto : Tinjauan Sosiologi Sastra dan

Berdasarkan diuraikan diatas, maka ru- musan yang akan dipakai sebagai dasar kajian ini adalah: (1) bagaimanakah sis- tem manajemen yang ideal bagi penge- lolaan

Dalam usaha mencapai tujuan pelestarian dan pemeliharaan benda cagar budaya/ situs diperlukan orang-orang yang dinilai memliki potensi dan kemampuan, Pemeliharaan

Dalam penelitian ini penulis menggunakan data sekunder karena data diperoleh secara tidak langsung atau melalui media perantara, yang didapat dari Website pasar modal

Umat Islam di Sulawesi Selatan berbeda pendapat dalam pengamalan takbir zawāid tersebut seperti Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama yang masing-masing melaksanakan