• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM KABUPATEN SUBANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III GAMBARAN UMUM KABUPATEN SUBANG"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

GAMBARAN UMUM KABUPATEN SUBANG

3.1. Kualitas Sumberdaya Manusia

Manusia adalah makhluk Tuhan yang terdiri dari ruh dan jasad yang dilengkapi dengan potensi dan kelebihan dibandingkan makhluk lainnya, yaitu hati, akal dan fisiknya. Dengan hati manusia dapat bertekad, dengan akal dapat berpengetahuan dan berwawasan dan dengan fisik manusia dapat bekerja dan bergerak. Ketiga potensi tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia.

Menurut Van den Daele ada dua proses perubahan yang terjadi secara bersamaan selama kehidupan manusia itu berlangsung, yaitu proses perkembangan dan perubahan mendasar akibat pengaruh internalisasi dan eksternalisasi pada manusia itu sendiri. Kesadaran untuk mengubah dirinya sendiri merupakan hal terpenting dalam pembangunan manusia yang secara sederhana dapat dikatakan sebagai bentuk partisipasi masyarakat untuk memperbaiki kehidupannya. Kondisi pembanguan manusia pada representasinya dapat dinilai dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), walaupun pada kenyataannya IPM yang terdiri dari beberapa indeks komposit sangat mustahil dapat menilai pembangunan manusia dalam arti yang sangat luas.

Perlu dipahami bahwa investasi pembangunan manusia adalah investasi pembangunan jangka panjang, hasilnya tidak dapat dirasakan secara cepat dan langsung. Kemajuan pembangunan manusia sesungguhnya ditujukan untuk manusia dan oleh manusia. Partisipasi/gotong royong akan mempercepat proses pembangunan manusia. Dengan partisipasi/gotong royong merupakan modal sosial yang tinggi, masyarakat akan lebih mudah menyelesaikan berbagai problem kolektif yang mereka hadapi. Partisipasi/gotong royong akan memberikan energi kolektif untuk dapat mendorong roda perubahan yang cepat di tengah masyarakat dan

(2)

memperluas kesadaran bersama bahwa banyak jalan yang bisa dilakukan oleh setiap anggota kelompok untuk memperbaiki kesejahteraan dan mutu kehidupan secara bersama-sama serta bertanggung jawab atas kenyamanan, kebersihan, dan keamanan lingkungan tempat tinggalnya. Mereka akan memiliki daya tangkal yang tinggi terhadap berbagai gangguan dan dampaknya akan lebih aman dari berbagai tindak kriminalitas.

Pada bahasan berikut disajikan beberapa karakteristik pembangunan manusia yang mencakup kondisi penduduk dan rumahtangga di Kabupaten Subang yang dapat memberi gambaran secara umum kondisi sosial ekonomi masyarakat Kabupaten Subang, sehingga dapat memunculkan upaya yang lebih kuat dari berbagai komponen masyarakat Kabupaten Subang untuk melakukan perbaikan terhadap berbagai indikator pembangunan dasar, seperti kesehatan, pendidikan dan kemampuan daya beli.

Kabupaten Subang berada di sebelah utara Jawa Barat, mempunyai potensi geografis yang cukup tinggi. Wilayah Kabupaten Subang terdiri dari tiga tofologi wilayah, yaitu pegunungan, pedataran dan pantai. Hal ini menjadikan Kabupaten Subang memiliki penduduk yang mempunyai adat istiadat, karakter, dan permasalahan yang berbeda.

Penduduk berjumlah besar sekaligus berkualitas merupakan modal pelaksanaan pembangunan dan potensi bagi peningkatan pembangunan di segala bidang. Namun penduduk yang berjumlah besar tanpa diupayakan pengembangan kualitasnya akan menjadi beban bagi pembangunan yang seharusnya dinikmati oleh keseluruhan penduduk tersebut.

Penduduk, baik yang menetap maupun penduduk komuter pada dasarnya hidup dan berinteraksi mulai dalam masing-masing kelompoknya, dan pada akhirnya bersosialisasi dengan lingkungan dan berinteraksi dengan kelompok- kelompok lainnya. Namun demikian, pada dasarnya setiap penduduk akan lebih banyak berinteraksi dengan penduduk lain baik menurut kelompok etnis, kelompok budaya, kelompok kepentingan, kelompok profesi, dan sebagainya.

(3)

Menghadapi kondisi demikian, maka pembangunan sumberdaya manusia harus dilakukan melalui pendekatan kultural yang dimulai dari kelompok-kelompok yang ada. Hal demikian dimaksudkan untuk mendorong pembentukan norma dan nilai tradisi yang bersifat “guyub”, dimana pada gilirannya dapat mendorong perwujudan masyarakat madani, yang merupakan landasan bagi tercapainya sasaran untuk mewujudkan kerangka dasar yang mantap bagi kehidupan warga Kabupaten Subang.

Untuk mendorong tercapainya sasaran tersebut, dalam Program Pembangunan Daerah Kabupaten Subang telah digariskan berbagai program yang terkait dengan pembangunan Kualitas Sumber Daya Manusia untuk diimplementasikan dalam pembangunan daerah pada setiap tahunnya.

Dalam rencana Pembangunan Tahunan Kabupaten Subang mendatang, program-program yang harus terkandung dalam masing-masing program pada bidang pembangunan kualitas sumber daya manusia antara lain dengan pengendalian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

(4)

3.2. Kependudukan

Tiga hal pokok yang merupakan komponen utama terbentuknya suatu negara adalah : penduduk, wilayah dan pemerintahan. Tiga hal pokok tersebut saling berhubungan satu dengan lainnya. Mustahil suatu negara akan terbentuk apabila salah satu dari ketiga komponen tersebut dihilangkan. Karakteristik yang paling mewakili dalam menentukan gambaran suatu wilayah adalah masalah kependudukan. karena penduduk sebagai subyek pokok suatu wilayah merupakan komponen yang selalu mengalami perkembangan (dinamic component) dari waktu ke waktu.

Dalam pembangunan, penduduk merupakan sumberdaya sekaligus pasar bagi pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, banyaknya penduduk adalah merupakan keuntungan bagi pertumbuhan ekonomi (keberhasilan China, India dan Indonesia yang sanggup bertahan pada krisis ekonomi 2008), akan tetapi banyaknya penduduk akan menjadi bumerang apabila tidak dikelola dengan tepat.

Pertumbuhan penduduk akan menimbulkan masalah apabila tidak terkendali.

Program keluarga Berencana yang digulirkan sejak masa orde baru setidaknya telah berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk di Indonesia, akan tetapi keberhasilan ini tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kualitas penduduk secara keseluruhan.

Distribusi penduduk akan menggambarkan optimaslisasi pengembangan wilayah. Wilayah yang padat penduduk bisa mengindikasikan dua hal, yaitu adanya magnet ekonomi pada wilayah tersebut (terdapat daya tarik ekonomi sehingga banyak penduduk wilayah lain yang pindah pada wilayah tersebut) atau kegagalan wilayah tersebut dalam pengendalian penduduk, dan untuk menentukannya perlu kajian yang lebih mendalam.

(5)

Tabel 3.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Subang Tahun 2000-2010-2015

Komponen SP2000 SP2010 2015

[1] [2] [3] [4]

Penduduk 1 329 838 1 465 157 1 539 817

LPP 1.01 0.97 0.99

Kepadatan 648 714 750

Sumber : Sensus Penduduk (SP) dan Survei IPM 2015

Penduduk Kabupaten Subang pada tahun 2015 ini berjumlah 1.539.817 orang, dengan rincian 785.429 laki-laki dan 769.809 perempuan dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0.99 persen, sedangkan Laju Pertumbuhan Penduduk antar Sensus (SP2000-SP2010) rata rata pertahun sebesar 0,97 persen.

Dengan luas Kabupaten Subang sebesar 2051,76 km2, maka tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Subang pada tahun 2015 mencapai 750 jiwa/km2.

Pertumbuhan penduduk selalu dipengaruhi oleh faktor tingkat kelahiran/kematian dan migrasi (perpindahan penduduk antar kabupaten). Untuk menghindari permasalah yang kompleks akibat tingginya kepadatan penduduk maka pengendalian penduduk melalui berbagai cara yang tepat tentunya harus dilakukan. Laju urbanisasi yang tinggi yang mengakibatkan permasalahan sosial di daerah perkotaan juga harus ditekan, karena selain menimbulkan masalah sosial di daerah perkotaan, urbanisasi juga meninggalkan ruang kosong dipedesaan (banyak lahan garapan yang tidak tergarap secara optimal dan berkurangnya sumberdaya manusia berkualitas di pedesaan).

3.3. Pendidikan

Pendidikan memiliki peranan yang strategis dalam pembangunan.

Pelaksanaan pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam

(6)

(SDA), tetapi juga harus didukung oleh sumber daya manusia yang handal dan berkualitas. Suatu wilayah yang mempunyai kepadatan yang tinggi tanpa dibarengi dengan mutu SDM yang berkualitas maka akan menimbulkan kerawanan sosial atau bahkan penduduk tersebut akan menjadi beban pembangunan. Jalur yang paling realistis untuk meningkatkan SDM adalah jalur pendidikan.

Setidaknya ada empat permasalahan dalam pembangunan di bidang pendidikan (Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd,6), yaitu: Pertama, terkait dengan kualitas pendidikan, yang bisa dilihat dari tiga indikator utama yakni proses pembelajaran yang masih konvensional, kinerja dan kesejahteraan guru yang belum optimal, jumlah dan kualitas buku di sekolah yang belum memadai. Kedua, pemerataan pendidikan, yang bisa dilihat dari tiga indikator utama yakni kerusakan sarana dan prasarana ruang kelas, keterbatasan aksebilitas dan daya tampung serta kekurangan tenaga guru. Ketiga, efisiensi pendidikan, yang bisa dilihat dari tiga indiktaor yakni penyelenggaraan otonomi pendidikan yang belum optimal (MBS belum optimal), keterbatasan anggaran (kemampuan pemerintah yang terbatas dan rendahnya partisipasi masyarakat), dan mutu SDM pengelola pendidikan.

Keempat, relevansi pendidikan, yang bisa dilihat dari tiga indikator yakni kemitraan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang belum optimal, kurikulum yang belum berbasis masyarakat dan potensi daerah, serta kecakapan hidup (life skill) yang dihasilkan belum optimal.

Sejak tahun 1994 Pemerintah telah melakukan kebijakan untuk perbaikan dunia pendidikan yaitu dengan dicanangkannya Program Wajib Belajar sembilan tahun. Tentunya hal tersebut merupakan hal yang menggembirakan karena kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang setinggi – tingginya bagi seluruh rakyat semakin terbuka.

Perkembangan pendidikan penduduk Kabupaten Subang salah satunya dapat dilihat dari partisipasi sekolah umur pada usia sekolah

(7)

Tabel 3.2. Jumlah dan Persentase Penduduk 7 Tahun Ke Atas Kabupaten Subang Menurut Jenis Kelamin dan Partisipasi Sekolah

Tahun 2015

Partisipasi Sekolah

Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]

Tidak/belum

pernah bersekolah 36 016 5,09 70 461 10,10 106 477 7,57

Masih bersekolah 145 927 20,60 135 335 19,39 281 262 20,00

Tidak bersekolah

lagi 526 298 74,31 491 999 70,51 1 018 817 72,43

Sumber : Survei IPM

Dari hasil survei IPM tahun 2015 dapat diperoleh gambaran bahwa terdapat 20,00 persen penduduk usia 7 tahun ke atas di kabupaten Subang yang masih bersekolah atau sebanyak 281 262 orang, sedangkan jumlah penduduk yang belum/tidak pernah bersekolah sebanyak 106 477 orang atau sebesar 7,57 persen, sisanya yaitu sebanyak sebesar 91.43 persen atau sebanyak 1 018 817 orang tidak bersekolah lagi. Hal ini menunjukkan masih banyaknya penduduk yang tidak berpartisipasi dalam pendidikan formal maupun non formal.

(8)

Tabel 3.3. Persentase Penduduk 7 Tahun Ke Atas Kabupaten Subang Menurut Jenis Kelamin dan Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan

Tahun 2015

Pendidikan Tertinggi Yang

Ditamatkan Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

[1] [2] [3] [4]

Tidak/Belum Pernah Sekolah 5,09 10,10 7,57

Tidak/Belum Tamat SD 19,88 19,63 19,61

SD/MI 34,88 36,23 35,54

SLTP/MTSn Sederajat 19,94 19,55 19,75

SLTA Sederajat 16,96 11,37 14,21

D1/D2 0,26 0,30 0,28

D3/Sarmud 0,51 0,52 0,51

D4/S1 Keatas 2,74 2,30 2,52

Jumlah 100,00 100.00 100.00

Dari seluruh penduduk usia tujuh tahun ke atas terdapat 19,61 persen penduduk yang tidak menamatkan sekolah dasar (SD), sementara 35,54 persen penduduk berijazah SD sedangkan yang berijazah SMP dan SMA hanya berjumlah 19,75 persen dan 14,21 persen.

(9)

3.4. Ketenagakerjaan

Konsep usia kerja yang dipakai disini adalah 10 tahun ke atas, walaupun kadang untuk hal-hal tertentu dipakai usia 15 tahun ke atas. Penduduk usia kerja dibagi kedalam angkatan kerja dan bukan angkatan kerja, dimana angkatan kerja itu sendiri dibedakan lagi menjadi penduduk yang bekerja dan mencari pekerjaan.

Sejalan dengan pertambahan penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya, secara otomatis angkatan kerja pun terus meningkat. Pertambahan tersebut seharusnya diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja baru. Namun hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena berbagai faktor yang merupakan kendala dalam penciptaan lapangan kerja baru. Tentunya yang menjadi fokus perhatian adalah penduduk usia kerja yang masuk kategori angkatan kerja, karena kelompok ini memiliki sensitivitas yang cukup tinggi terhadap pasar tenaga kerja. Perubahan yang terjadi pada kelompok ini akan mempengaruhi sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply) tenaga kerja. Tiga golongan lain (sekolah,mengurus rumahtangga dan lainnya), yang secara ekonomis tidak aktif, dikategorikan sebagai bukan angkatan kerja (non economically active population).

Pada tahun 2015 angkatan kerja di kabupaten Subang mencapai 57,31 persen dari keseluruhan penduduk usia 10 tahun ke atas. Dari jumlah angkatan kerja tersebut yang bekerja pada berbagai lapangan usaha mencapai 92,14 persen, sedangkan angka pengangguran mencapai 7,86 persen. Walaupun angka pengangguran masih relatif kecil, akan tetapi tentu saja angka pengangguran ini perlu dikendalikan secara tepat. Perluasan lapangan kerja, peningkatan pelatihan keterampilan penduduk adalah upaya yang harus dilakukan guna mengendalikan angka pengangguran tersebut.

Sebagian besar penduduk (41,38 persen) bermata pencaharian sebagai petani, penduduk yang bekerja pada lapangan usaha perdagangan mencapai 19,69 persen, Industri pengolahan 13,73 persen sisanya bekerja pada lapangan usaha yang bervariasi.

(10)

Bagan Ketenagakerjaan Menurut Konsep BPS

Sumber : BPS, Pedoman Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) PENDUDUK

Usia dibawah 10 tahun

P E N D U D U K

PENDUDUK Usia diatas 10 tahun

ANGKATAN KERJA

BUKAN ANGKATAN

KERJA

BEKERJA MENCARI PEKERJAAN

SEKOLAH MENGURUS RUMAH TANGGA

LAINNYA

(11)

Gambaran umum tentang ketenagakerjaan di Kabupaten Subang, baik tentang keadaan angkatan kerja maupun lapangan usaha yang diserap oleh penduduk Kabupaten Subang dapat dilihat pada tabel 3.4. dan tabel 3.5.

Tabel 3.4. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas Dirinci Menurut Jenis Kelamin Dan Kegiatan Utama Selama Seminggu Yang Lalu

di Kabupaten Subang Tahun 2015

Kegiatan Utama Seminggu

yang Lalu Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

[1] [2] [3] [4]

Angkatan Kerja : 75.54 38.68 57.31

Bekerja 92.35 91.72 92.14

Mencari Pekerjaan 7.65 8.28 7.86

Bukan Angkatan Kerja : 24.46 61.32 42.68

Sekolah 68.31 25.47 38.09

Mengurus Rumah Tangga 12.71 71.77 55.11

Lainnya 24.46 2.76 6.80

J u m l a h 100.00 100.00 100.00

Sumber : Survei IPM

(12)

Tabel 3.5. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas Dirinci Menurut Jenis Kelamin dan Lapangan Usaha Utama Di kabupaten Subang

Tahun 2015

Lapangan Usaha Utama Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

[1] [2] [3] [4]

Pertanian 44.99 34.37 41.38

Pertambangan & Penggalian 0.52 0.03 0.34

Industri 10.12 20.70 13.73

Listrik, Gas dan Air 0.26 0.01 0.17

Kontruksi 10.43 0.20 6.95

Perdagangan 14.88 28.99 19.69

Hotel dan Rumah Makan 1.81 3.20 2.28

Angkutan & Komunikasi 4.91 0.20 3.13

Keuangan 0.57 0.80 0.65

Jasa 10.49 11.00 10.66

Lainnya 1.03 0.50 0.85

J u m l a h 100.00 100.00 100.00

Sumber : Survei IPM

(13)

3.5. Konsumsi/Pengeluaran

Informasi lain yang mendukung untuk memberikan gambaran umum tentang Kabupaten Subang adalah pola konsumsi/pengeluaran penduduk. Dibandingkan pendekatan melalui pendapatan rumah tangga, pola konsumsi/pengeluaran ini lebih mudah dilaksanakan di lapangan mengingat beberapa alasan :

- Pengeluaran merupakan aktivitas sehari-hari penduduk, sehingga pertanyaan tentang berapa uang yang dikeluarkan untuk makanan, minuman, perumahan, biaya anak, dan lain-lain menjadi lebih dimengerti oleh penduduk.

- Pengeluaran merupakan gambaran nyata keadaan ekonomi rumahtangga yang bersangkutan.

Sedangkan untuk mendapatkan informasi langsung pendapatan rumah tangga cenderung lebih susah karena selain rumah tangga yang bersangkutan ketakutan kalau ada hubungannnya dengan pajak, juga sebagian besar masyarakat kadang masih menganggap tabu untuk mengungkapkan data pendapatan rumah tangganya.

Oleh karena itu analisis pola pengeluaran/konsumsi rumah tangga berarti sekaligus mencerminkan pendapatan rumah tangga yang bersangkutan. Bila dilihat dari tabel 3.6 dapat tergambar bahwa pola pengeluaran konsumsi penduduk kabupaten subang 2 tahun terakhir masih di konsumsi makanan sebesar 58,08 persen, dan untuk konsumsi tembakau cukup tinggi sebesar 17,85 persen diatas konsumsi Ikan, daging, telur dll. Walaupun demikian, pada tahun 2015 ini terjadi pergeseran konsumsi dari makanan ke non makanan. Hal ini mengindikasikan terjadinya perbaikan pengeluaran masyarakat.

(14)

Tabel 3.6. Nilai dan Persentase Pengeluaran Per Kapita Sebulan Menurut Jenis Komiditi Di kabupaten Subang

Tahun 2014-2015

Rupiah/orang/bulan

No. Jenis Komoditi

Tahun

2014 2015

Nilai % Nilai %

[1] [2] [3] [4] [5] [5]

1 Padi-padian 65 788 13.39 61 686 20.71

2 Umbi-umbian 1 247 0.25 1 514 0.51

3 Ikan 17 297 3.52 20 065 6.74

4 Daging 10 689 2.18 15 354 5.16

5 Telur dan Susu 15 777 3.21 15 561 5.22

6 Sayuran 14 737 3.00 14 034 4.71

7 Kacang-kacangan 9 209 1.87 9 566 3.21

8 Buah-buahan 9 156 1.86 10 738 3.61

9 Minyak dan Lemak 9 507 1.93 8 797 2.95

10 Bahan Minuman 10 390 2.11 10 988 3.69

11 Bumbu-bumbuan 6 318 1.29 6 674 2.24

12 Bahan Makanan Lainnya 7 555 1.54 9 209 3.09 13 Makanan/Minuman Jadi 69 673 14.18 60 495 20.31 14 Tembakau dan Sirih 48 086 9.79 53 161 17.85 Konsumsi Makanan 295 429 60.12 297 888 58.08

1 Perumahan 96 267 55,82 118 452 55.09

2 Aneka Barang Dan Jasa 54 198 31,43 68 836 32.01 3 Pakaian, Alas kaki 10 941 6,34 13 301 6.19

4 Barang Tahan lama 5 443 3,16 6 236 2.90

5 Pajak dan Asuransi 4 329 2,51 5 374 2.50

6 Keperluan Pesta &

Upacara 1 283 0,74 2 825 1.31

Konsumsi Non

Makanan 172 461 36,49 215 024 41.92

Konsumsi Per Kapita

sebulan 472 572 100,00 512 912 100,00 Sumber : Susenas 2013 dan Survei IPM

(15)

3.6. Kesehatan

Mewujudkan masyarakat yang sehat, tanpa membedakan jenis kelamin laki- laki atau perempuan merupakan salah satu tujuan dari pembangunan nasional.

Undang-Undang Kesehatan No.23 Tahun 1992 menyebutkan bahwa

“Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal”. (Profil Kesehatan Indonesia, ’98:1). Adanya keterbatasan dana, sarana, dan prasarana pemerintah, dalam pelaksanaannya, pembangunan kesehatan disusun berdasarkan prioritas-prioritas utama yang akan dicapai. Karena itu hasilnya mungkin tidak dapat dirasakan secara merata oleh semua lapisan masyarakat.

Pada tabel 3.7 terlihat persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan menurut jenis keluhan

Tabel 3.7. Persentase Penduduk di Kabupaten Subang Yang Mengalami Keluhan Kesehatan Utama Menurut Jenis keluhan Kesehatan

Tahun 2014 – 2015 Jenis Keluhan

Kesehatan

2014 2015

L P L +P L P L +P

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]

Panas 8,14 7,26 7,70 9,79 9,82 9,81

Batuk 10,77 10,02 10,40 14,15 13,12 13,64 Pilek 10,32 10,84 10,58 12,39 12,64 12,51 Asma/Nafas Sesak 1,49 1,28 1,38 1,76 1,57 1,67

Diare/Buang Air 1,49 1,57 1,53 1,35 1,57 1,46 Sakit Kepala 2,96 3,12 3,04 4,27 5,58 4,92

Sakit Gigi 2,03 1,30 1,67 1,35 1,72 1,53

Lainnya 6,99 8,69 7,83 10,39 12,60 11,48

Sumber : Susenas 2014 dan Survei IPM 2015

(16)

Penyuluhan kesehatan yang rutin dan tepat sasaran mungkin akan merubah pola pikir masyarakat, misalnya pada saat melahirkan bayi lebih baik dibantu oleh tenaga medis daripada non medis.

Gambaran selengkapnya tentang penolong persalinan pertama dan terakhir penduduk Kabupaten Subang tahun 2014-2015, dapat dilihat pada tabel 3.8 Hal yang cukup menggembirakan, bahwa selama tiga tahun terakhir penduduk Kabupaten Subang lebih banyak menggunakan tenaga medis terutama bidan untuk menolong persalinannya. Hal tersebut diduga, selain biaya yang dikeluarkan untuk bidan cenderung lebih murah dibanding dengan dokter, juga tempat praktek bidan yang hampir ada di setiap wilayah menyebabkan masyarakat menjadi lebih dekat, mudah dan cepat dalam memperoleh pelayanan yang mereka butuhkan.

Tabel 3.8. Jumlah dan Persentase Balita di Kabupaten Subang Menurut Penolong Persalinan Terakhir, Tahun 2014-2015

Penolong Persalinan Terakhir

2014 2015

Jumlah % Jumlah %

[1] [4]

Dokter 8 897 6.99 8 726 6.94

Bidan 98 849 77.71 100 706 80.09

Tenaga Medis Lain 6 079 4.78 3 496 2.78

D u k u n 13 377 10.52 12 813 10.19

Jumlah 126 411 100.00 125 741 100.00

Sumber : Susenas 2014 dan Survei IPM 2015

(17)

3.7. Perumahan

Perumahan dalam kehidupan manusia merupakan cermin dari taraf kehidupan dan perilaku pribadi dari yang menempatinya. Rumah sebagai tempat tinggal keluarga harus dapat memberi rasa aman, sehat, nyaman, bebas dan memberikan privacy bagi penghuninya.

Luas lantai rata-rata untuk masing-masing anggota rumahtangga serta jenis lantai rumah merupakan fasilitas penting tempat tinggal, terutama untuk kesehatan dan kenyamanan. Lantai tanah misalnya, kurang baik untuk kesehatan terutama bagi anak balita. Peningkatan kesejahteraan penduduk dapat tercermin antara lain dari peningkatan kualitas lantai rumah. Pada tabel 3.9 dapat tergambarkan bahwa rumah tangga di kabupaten subang yang lantai terluasnya bukan tanah/bambu sebesar 90,05 persen, dan masih ada 9,27 persen rumah tangga yang lantai terluasnya dari tanah dan 0,68 persen dari bambu, terjadi perbaikan kualitas lantai terluas dari tahun lalu.

Tabel 3.9. Persentase Rumahtangga di Kabupaten Subang Menurut Kecamatan dan Jenis Lantai Terluas, Tahun 2014-2015

Tahun

Jenis Lantai Terluas

Jumlah Bukan

Tanah/Bambu Tanah Bambu

[1] [2] [3] [4] [5]

2 0 1 4 88.68 10.38 0.94 100.00

2 0 1 5 90.05 9.27 0.68 100.00

Sumber : Susenas 2014 dan Survei IPM 2015

Gambar

Tabel 3.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Subang    Tahun 2000-2010-2015  Komponen  SP2000  SP2010  2015  [1]  [2]  [3]  [4]  Penduduk  1 329 838  1 465 157  1 539 817  LPP  1.01  0.97  0.99  Kepadatan  648  714  750
Tabel 3.2. Jumlah dan Persentase Penduduk 7 Tahun Ke Atas Kabupaten  Subang  Menurut Jenis Kelamin dan Partisipasi Sekolah
Tabel 3.3. Persentase Penduduk 7 Tahun Ke Atas Kabupaten Subang Menurut  Jenis Kelamin dan Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan
Tabel 3.4. Persentase Penduduk 10 Tahun Ke Atas Dirinci Menurut   Jenis Kelamin Dan Kegiatan Utama Selama Seminggu Yang Lalu
+6

Referensi

Dokumen terkait

a) Pemenang lomba ditentukan berdasarkan nilai tertinggi yang diberikan oleh Ketua Juri. b) Lomba dilaksanakan dengan menerapkan 1 (satu) kali tampil untuk setiap peserta

Hasil dari penelitian ini terdapat pengaruh negatif tidak signifikan pada personal financial need terhadap financial statement fraud dan mendukung penelitian yang

Berangkat dari latar belakang tersebut, maka kegiatan penelitian dan pengembangan ini berupaya untuk mengembangkan perangkat evaluasi kinerja personil Ikatan

Sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor 1 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Dengan meningkatnya pemanfaatan fasilitas pelayaanan kesehatan oleh masyarakat maka tuntutan pengolahan program Kesehatan dan Keselamtan Kerja di rumah sakit semakin

Dengan demikian input yang digunakan dalam proses produksi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu input faktor produksi, kapital dan tenaga kerja sedangkan input

Dengan demikian, sesungguhnya Mahkamah Pelayaran tidak memiliki yurisdiksi untuk memutus perkara yang berkaitan dengan aspek keperdataan (seperti tanggung jawab pengangkut,

Untuk itu, pengajar BIPA juga diharapkan dapat memahami adanya kode linguistik yang ada dalam bahasa Indonesia terkait erat dengan khasanah budaya lokal pada masyarakat pemakai