• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN ANALISA PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. HASIL DAN ANALISA PENELITIAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

4.1 Komposisi Campuran Limbah Karbit Dan Fly Ash

Limbah karbit dan fly ash adalah produk sisa dari hasil produksi gas dan batu bara. Limbah karbit banyak mengandung kalsium (CaO) dan fly ash banyak mengandung (SiO2). Untuk mengetahui strength (kekuatan) campuran tersebut dilakukan beberapa percobaan berdasarkan perbandingan berat. Pencampuran kedua material tersebut akan membentuk material yang keras akibat dari reaksi pozzolanic. Jumlah dan variasi campuran untuk percobaan dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Komposisi Campuran Fly Ash dan Limbah Karbit

Komposisi campuran Perbandingan berat Jumlah sample

1 : 2 2

1 : 3 2

Fly ash : Limbah karbit

1 : 4 2

Kekuatan dari rata-rata sample untuk masing-masing variasi campuran dapat dilihat pada Grafik 4.1 .

11.04 12.19

16.33

0 5 10 15 20

1:2 1:3 1:4

komposisi campuran

qu rata-rata (kg/cm2)

(2)

Grafik 4.1 menunjukkan hasil analisa Unconfined Compressive Strength Test (UCS) pada umur 7 hari. Komposisi campuran fly ash dan limbah karbit yang

memiliki kekuatan kokoh tekan paling besar, dengan nilai qu rata-rata = 16.33 kg/cm2 adalah campuran 1 : 2. Maka pada percobaan selanjutnya dipergunakan campuran 1 : 2 sebagai acuan.

4.2 Analisa Ayakan

Penelitian terhadap tanah pasir, campuran fly ash, dan limbah karbit dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah Universitas Kristen Petra Surabaya.

Penyebaran (gradasi) diameter butiran pasir yang digunakan dalam penelitian ini didapat dengan melakukan analisa ayakan. Penyebaran (gradasi) pasir dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan Grafik 4.2 .

Tabel 4.2 Analisa Ayakan

No Ayakan

(Inch)

Diameter Lubang Ayakan

(mm)

Berat Tertinggal

(gram)

Kumulatif Berat Tertinggal

(gram)

Berat Terlinggal

%

Berat Lolos

%

3/4 19 82 82 8.2 91.8

3/8 9.5 13.4 95.4 9.54 90.46

No. 4 4.75 23.3 118.7 11.87 88.13

No. 8 2.36 53 171.7 17.17 82.83

No. 16 1 112.2 283.9 28.39 71.61

No. 30 0.6 273 556.9 55.69 44.31

No. 50 0.3 276.1 833 83.3 16.7

No. 100 0.15 138.1 971.1 97.11 2.89

No. 200 0.075 24.4 995.5 99.55 0.45

Dasar 4.5 1000 100 0

(3)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

0.01 0.1

1 10

100

Grain Diameter (mm)

Cumulative Percent Finer

Grafik 4.2 Analisa Ayakan

Dari grafik diatas terlihat bahwa pasir yang digunakan memiliki gradasi yang cukup baik karena tidak terjadi gap graded (lompatan). Pasir yang dipakai memiliki derajat keseragaman Cu= 3.2 dan modulus kehalusan Cc= 0.9245

4.3 Standard Proctor Test (test kepadatan)

Stabilisasi pasir dengan campuran fly ash dan limbah karbit ini, diuji dengan menggunakan Standard Proctor test dengan tujuan mendapatkan Water Content (kadar air) Optimum dan ã dry (kepadatan tanah) max. Pengujian ini

menggunakan pasir dan campuran (fly ash dan limbah karbit). Dengan komposisi yang tertera pada Tabel 4.3 dan Grafik 4.3.

Tabel 4.3 Nilai WC Optimum dan ã dry max dari Beberapa Komposisi Komposisi Pasir + Campuran

(75%+25%)

Pasir + Campuran (80%+20%)

Pasir + Campuran (85%+15%) WC Optimum

(%)

10.95 9.92 10.12

ã dry max (gr/cm3)

1.76 1.81 1.80

(4)

1.66 1.68 1.7 1.72 1.74 1.76 1.78 1.8 1.82

0 5 10 15 20

Water Content (%)

Dry Density (gr/cm3)

J dry (75%+25%) J dry (80%+20%) J dry (85%+15%)

Grafik 4.3 Nilai ã dry Max dan WC optimum dari Proctor Test

Grafik 4.3 menunjukkan bahwa ã dry terbesar dihasilkan oleh sample 80% pasir dan 20% campuran fly ash dan limbah karbit. Besarnya ã dry max adalah 1.81 kg/cm 3 dengan WC Optimum sebesar 9.92%. Untuk percobaan selanjutnya, digunakan kadar air dan ã dry yang didapat dengan prosentase komposisi campuran 80% pasir dan 20% campuran (fly ash dan limbah karbit) tersebut.

4.4 Unconfined Compression Strength Test (tes kokoh tekan)

Tanah pasir dengan penambahan campuran fly ash dan limbah karbit dapat meningkatkan kokoh tekan material. Besarnya kekuatan tekan material, akibat campuran tersebut (pasir = 80% dan campuran fly ash + limbah karbit = 20%) dengan variasi umur sample ditunjukkan pada Tabel 4.4 dan Grafik 4.4 .

Tabel 4.4 Nilai qu Rata-rata dengan Curing (Perawatan) Curing

(Hari)

qu rata-rata (Kg/cm2 )

7 6.02

14 15.87

28 30.51

(5)

6.02

15.87

30.51

0 5 10 15 20 25 30 35

7 hari 14 hari 28 hari

Curing

qu rata-rata (kg/cm2)

Grafik 4.4 Hubungan Nilai qu Rata-rata Dan Waktu Curing

Grafik 4.4 memperlihatkan bahwa kekuatan tanah (qu rata–rata) meningkat seiring dengan bertambahnya waktu curing. Nilai qu rata-rata tertinggi terjadi pada sample dengan waktu pemeliharaan selama 28 hari, yaitu sebesar 30.51 kg/cm2.

4.5 Wetting Drying Test (Perendaman dan Pengeringan) 4.5.1 Wetting Drying Test

Komposisi pasir dan campuran (fly ash dan limbah karbit) perlu diuji ketahanannya terhadap temperatur. Untuk itu dilakukan wetting drying test pada sample untuk mengetahui tingkat keausan sample. Presentase keausan sample

(benda uji) untuk masing-masing siklus perendaman dan pengeringan dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan Grafik 4.5 .

Tabel 4.5 Nilai Persentase Kehilangan Tanah dengan 14 Siklus Percobaan (Setelah Curing 7 Hari)

sample Persen Kehilangan Tanah (%)

siklus 1 siklus 2 siklus 3 siklus 4 siklus 5 siklus 6 siklus 7

1 0.02 0.11 0.20 0.32 0.36 0.56 0.64

2 0.02 0.09 0.18 0.26 0.27 0.47 0.51

(6)

sample Persen Kehilangan Tanah (%)

siklus 8 siklus 9 siklus 10 siklus 11 siklus 12 siklus 13 siklus 14

1 1.48 1.95 2.64 3.48 4.19 4.78 5.75

2 1.05 1.58 1.85 2.71 3.99 4.66 5.78

3 0.94 1.40 2.14 3.17 4.22 4.95 5.67

rata-rata 1.16 1.65 2.21 3.12 4.14 4.80 5.73

0 1 2 3 4 5 6 7

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 siklus

kumulatif kehilangan tanah (%)

curing 7 hari curing 14 hari curing 28 hari

Grafik 4.5 Hubungan Antara Persentase Rata-rata Kehilangan Tanah Kumulatif dengan Siklus Percobaan (Setelah Curing t Hari)

Grafik 4.5 menunjukkan kehilangan tanah kumulatif dengan perawatan yang berbeda, menghasilkan persentase rata-rata kehilangan tanah kumulatif yang berbeda pula, namun cenderung berhimpit pada curing 14 dan 28 hari. Pada siklus ke 14 kehilangan tanah rata-rata kumulatif sebesar ± 6.5 %.

4.5.2 Unconfined Compressive Strength Test (UCS)

Pengetesan kekuatan contoh tanah (UCS) pada sample dilakukan baik sebelum maupun setelah proses Wetting Drying Test. Hasil pengujian dengan UCS menunjukkan bahwa setelah melalui proses wetting drying, kokoh tekan sample justru meningkat signifikan, seperti terlihat pada Grafik 4.6.

(7)

48.52 35.77

50.98

30.51 15.87

0 6.02 10 20 30 40 50 60

7 hari 14 hari 28 hari Curing

qu rata-rata (kg/cm2)

sesudah wetting drying 28 hari sebelum wetting drying

Grafik 4.6 Nilai qu Rata-rata terhadap Lama Curing

Sebelum wetting drying, qu rata-rata pada waktu curing 28 hari adalah sebesar 30.51 kg/cm2. Kekuatan sample tanah setelah dirawat (curing) selama 28 hari dan mengalami proses wetting drying kurang lebih 28 hari adalah 48.52 kg/cm2.

Peningkatan kekuatan tekan sample yang terjadi setelah wetting drying ini kemungkinan disebabkan oleh umur sample yang lebih lama yaitu kurang lebih 56 hari (akibat proses wetting drying) atau akibat proses wetting drying yang dapat meningkatkan ikatan kimia dalam campuran.

Grafik 4.6 juga menunjukkan bahwa contoh tanah yang mengalami proses wetting drying setelah dirawat selama 14 hari mempunyai kekuatan yang relatif sama dengan contoh tanah yang dirawat selama 28 hari.

Bila dibandingkan dengan material bata merah kekuatan sample tidak dapat dikategorikan sebagai bata merah, karena bata merah tingkat 3 (yang paling rendah) memiliki kekuatan tekan rata-rata 80-60 kg/cm2 seperti terlihat pada Tabel 4.6.(Standar Nasional Indonesia, 1973).

(8)

Tabel 4.6 Kekuatan Tekan Rata-Rata Bata Merah

Mutu bata merah Kuat Tekan rata-rata kg/cm2 Tingkat 1 lebih besar dari 100

Tingkat 2 100-80

Tingkat 3 80-60

4.6 Permeability Test (Test Permeabilitas)

Tujuan percobaan ini adalah untuk memberi informasi mengenai permeabilitas sample (benda uji) dengan waktu curing 7 hari. Koefisien permeabilitas (k) dari tanah pasir dan campuran (fly ash dan limbah karbit) sebesar 1.67E-04 cm/menit, seperti yang terlihat pada Tabel 4.7 dan Grafik 4.7

Tabel 4.7 Nilai Permeability dengan Waktu Curing 7 Hari

Waktu Tinggi air k Waktu Tinggi air k

menit cm cm/menit menit cm cm/menit

0 114 0 8 47.3 1.71E-04

1 100.5 2.07E-04 9 42.8 1.69E-04

2 90.3 1.86E-04 10 38.3 1.69E-04

3 79.3 1.91E-04 11 34.8 1.67E-04

4 72.3 1.79E-04 12 31.3 1.67E-04

5 64.8 1.77E-04

6 58.3 1.74E-04

7 52.8 1.71E-04

1.50E-04 1.60E-04 1.70E-04 1.80E-04 1.90E-04 2.00E-04 2.10E-04 2.20E-04

0 5 10 15

Time (menit)

k (cm/menit)

Grafik 4.7 Nilai Permeability dengan Waktu Curing 7 Hari

Referensi

Dokumen terkait

rentang 0 sampai 2 pangkat 16 atau sama dengan 65536 pixel value. Kemudian setelah dilakukannya proses koreksi radiometrik maka nilai tersebut berkisar diantara

Dari tabel 1 juga diketahui bahwa Salmonella typhi dapat bertahan hidup pada media transport modifikasi walaupun jumlah koloni masih relative lebih sedikit

Hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pada siswa kelas 3 SDN Parangargo 2 Kecamatan Wagir Kota Malang pada pelajaran matematika materi luas persgi dan

Selain itu, dalam sila ketiga, keempat, dan kelima, epistemology Pancasila mengakui kebenaran konsensus terutama dalam kaitannya dengan hakikat sifat kodrat manusia sebagai

Menganalisis lingkungan sosial di rumah yang tidak mendukung sebagai faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja SMP Di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang

Profe- sionalisme dan komitmen yang tinggi ter- hadap majunya pendidikan harus tertanam kuat di dalam diri para guru demi tercapainya mutu pendidikan yang lebih

1) Kontribusi UKM di Kota Batu memberikan peningkatan pada pendapatan daerah namun pertumbuhan ekonomi Kota Batu menurun sehingga Pemerintah harus memberikan

Penelitian merupakan kegiatan keilmuan yang urgen dan sangat diminati dalam berbagai Penelitian merupakan kegiatan keilmuan yang urgen dan sangat diminati dalam berbagai aktivitas