• Tidak ada hasil yang ditemukan

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI."

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BENTUK DAN MOTIVASI DALAM ALIH KODE

PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI

Tesis

Diajukan untuk memenuhi

persyaratan memperoleh gelar Magister Humaniora

dalam bidang Linguistik

Oleh:

Agung Farid Agustian

1004846

PROGRAM STUDI LINGUISTIK

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul Bentuk dan Motivasi dalam Alih Kode pada Masyarakat Karawang dan Bekasi ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dari karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Bandung, Maret 2014 Pembuat Pernyataan,

(3)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL PENELITIAN

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE

PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI

NAMA PENELITI : AGUNG FARID AGUSTIAN

NIM : 1004846

PROGRAM STUDI : LINGUISTIK

Menyetujui

Pembimbig 1, Pembimbing 2,

Prof. Dr. Syihabuddin, M.Pd. Dr. Dadang Sudana, M.A.

NIP. 196001201987031001 NIP. 196009191990031001

Mengetahui

Ketua Prodi Studi Linguistik SPs UPI

(4)

Agung Farid Agustian, 2014

(5)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ABSTRAK

Fenomena alih kode pada masyarakat perbatasan ketika berkomunikasi sangat menarik untuk diteliti. Hal tersebut muncul kemungkinan disebabkan adanya suatu motivasi dan tujuan yang melatarbelakanginya. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan bentuk dan motivasi alih kode dari masyarakat perbatasan. Penelitian ini bersandarkan kepada teori alih kode dari Myers-Scotton (1998) dan teori mengenai motivasi dari Gardner (1985). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan stratified random sampling.

Subjek 14 responden masyarakat pasar Rengasdengklok Kab. Karawang. Pengumpulan data menggunakan rekaman percakapan dan kuesioner. Analisis data untuk melihat bentuk alih kode adalah dengan menggunakan teori matrix language frame dari Myers-Scotton (1998). Penjelaskan motivasi dalam penelitian ini menggunakan teori dari Gardner (1985) dimana motivasi terbagi menjadi motivasi integratif dan instrumental. Hasilnya adalah bentuk alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi didominasi oleh alih kode dalam kalimat (intrasentential). Dari aspek motivasi terlihat bahwa motivasi integratif memiliki kecenderungan yang tinggi. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa alih kode dalam kalimat (Intrasentential) dapat dikatakan merupakan bentuk dari motivasi integratif dari penutur di perbatasan Karawang dan Bekasi.

(6)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Pertanyaan Penelitian ... 5

1.4 Tujuan Penelitian ... 5

1.5 Manfaat Penelitian ... 5

1.6 Istilah-istilah Kunci ... 6

1.7 Penutup ... 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Alih Kode ... 9

2.2 Penelitian Terdahulu ... 11

2.3 Deskripsi bentuk Alih Kode ... 15

2.3.1 Alih Kode Intrasentensial ... 17

(7)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2.3.2 Alih Kode Tag ... 19

2.4 Motivasi dalam Alih Kode ... 20

2.4.1 Motivasi Integratif dan Instrumental dalam Alih Kode ... 23

2.5 Penutup ... 29

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tujuan Penelitian ... 30

3.2 Desain Penelitian ... 31

3.3 Pengumpulan Data ... 32

3.3.1 Lokasi Penelitian ... 32

3.3.2 Pengambilan Data ... 33

3.3.2.1 Perekaman ... 33

3.3.2.2 Penyebaran Angket ... 33

3.4 Analisis Data ... 35

3.4.1 Analisis Data Rekaman ... 35

3.4.2 Analisis Data Angket ... 37

3.5 Penutup ... 38

BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Umum ... 39

4.2 Bentuk Alih Kode ... 42

(8)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

4.2.2 Alih Kode Intersentensial ... 47

4.2.3 Alih Kode Tag ... 49

4.3 Motivasi dalam Alih Kode ... 50

4.3.1 Motivasi untuk Diterima oleh Orang Lain atau Dimasyarakat ... 54

4.3.2 Motivasi untuk Mempertahankan atau Melindungi Bahasa Daerah. ... 56

4.3.3 Motivasi untuk Memperlihatkan Kekuatan (Power) ... 59

4.3.4 Motivasi untuk Menunjukan Kebanggaan (Prestise) ... 62

4.3.5 Motivasi untuk Menunjukan Identitas ... 65

4.3.6 Motivasi untuk Mendapatkan Pelanggan atau Pekerjaan . 68 4.3.7 Motivasi untuk Mendapat Kemudahan Tertentu (Meminjam uang,dll) ... 69

4.3.8 Motivasi untuk Menambah Makna Percakapan ... 70

4.3.9 Motivasi untuk Mengisi Kekurangan Perbendaharaan Kata ... 71

4.3.10 Motivasi untuk Menentukan Topik Pembicaraan ... 72

4.4.11 Motivasi Integratif ... 73

4.4 Penutup ... 75

(9)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5.2 Saran ... 79

5.3 Penutup ... 80

LAMPIRAN ... 81

Daftar Tabel ... 81

Transkripsi dan Analisis Percakapan ... 84

Pedoman Pengisian Angket ... 111

Lembar Angket ... 119

RIWAYAT HIDUP ... 122

(10)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR TABEL

(11)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB I

PENDAHULUAN

Di dalam pendahuluan ini akan diuraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional.

1. Latar Belakang Penelitian

Keadaan kebahasaan masyarakat perbatasan dengan bahasa yang beragam merupakan suatu fenomena yang menarik. Fenomena tersebut dapat menimbulkan kontak antara satu bahasa dengan bahasa yang lain. Kontak bahasa sering terjadi dan menimbulkan penutur bahasa di perbatasan menguasai lebih dari satu bahasa. Fenomena kontak bahasa tadi terjadi pada tataran makro dan mikro dengan pengguna bahasa yang memiliki kompetensi dua bahasa atau lebih. Menurut pendapat Coulmas (1998:9), penggunaan atau kompetensi dua bahasa atau lebih itu disebut multilingual.

(12)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

yang berbeda atau mungkin lebih banyak lagi. Yang menstimulasi bilingualisme adalah kontak antara pribadi dengan orang lain melibatkan lebih dari satu bahasa. Kontak bahasa muncul dimasa lalu melalui jalan kolonialisme. Pada saat ini, perpindahan penduduk, perjalanan bisnis dan pendidikan adalah kekuatan utama yang mempersatukan penutur bahasa. Oleh sebab itu tujuan untuk saling memahami satu sama lain membuat seseorang harus belajar bahasa yang lain ataupun mencampur atau beralih bahasa ketika berkomunikasi

Di dalam masyarakat dengan penggunaan dan kompetensi dua bahasa (masyarakat multilingual) pada saat bersamaan, masyarakat ini mungkin terlibat dalam suatu percampuran atau peralihan bahasa yang dinamakan alih kode. Fenomena alih kode inilah yang menarik untuk diteliti. Peralihan dan percampuran bahasa dalam masyarakat mempunyai aspek yang mempengaruhinya. Salah satu faktornya adalah faktor geografis perbatasan antara satu komunitas bahasa dengan komunitas bahasa yang lain.

(13)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Berdasakan faktor perbatasan, fenomena alih kode dan campur kode membuat masyarakat di perbatasan mempunyai kompetensi dalam dua bahasa. Kompetensi dalam dua bahasa kemungkinan mempunyai fungsi interaksi sosial. Fungsi tersebut diantaranya adalah bahasa sebagai media penyampaian tujuan. Dengan masyarakat pengguna bahasa beralih kode atau mencampurkan kode dari satu bahasa ke bahasa yang lain dapat dikatakan sebagai cara untuk menyampaikan tujuan tersebut .

Dalam penggunaan bahasa Melayu dialek Betawi, bahasa Sunda, dan bahasa lainnya di perbatasan, pada umumnya penggunaan tersebut mempunyai kecenderungan untuk saling memahami antarpenuturnya. Penutur yang satu dapat memahami penutur yang lain ataupun tidak saling memahami merupakan suatu kemungkinan yang dapat terjadi. Dalam hal ini, fenomena percampuran dan peralihan antara dua ragam bahasa yang berbeda itu mungkin muncul disebabkan adanya suatu motivasi dan tujuan yang melatarbelakanginya.

Motivasi dari alih kode dan campur kode pada masyarakat perbatasan kemungkinan berkaitan erat dengan psikologi. Fenomena psikologis tersebut adalah bagaimana sikap dan persepsi dari kelompok masyarakat penutur itu sendiri. Motivasi penutur di perbatasan mungkin dapat timbul dari pilihan individu sebagai penanda identitas, untuk saling memahami, dan lain-lain.

(14)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dapat mengetahui apa bentuk dan tujuan dari bahasa dalam kelompok penutur bahasa di perbatasan yang dikaitkan dengan bentuk dan motivasi dalam alih kode penutur dalam berkomunikasi sehari-hari.

Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah mengkaji bentuk dan motivasi dari alih kode dan campur kode dalam masyarakat perbatasan di daerah perbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk dengan mengkaji hubungan penggunaan bahasa pada masyarakat perbatasan tersebut yang dikaitkan dengan motivasi dibaliknya. Oleh sebab itu penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul, “Bentuk dan Motivasi Alih kode pada Masyarakat Perbatasan Karawang dan

Bekasi”

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka dirumuskanlah masalah penelitian yaitu bagaimanakah bentuk dan motivasi yang muncul dari alih kode pada masyarakat Rengasdengklok Kab. Karawang. Rumusan masalah ini dapat dijabarkan ke dalam dua pertanyaan berikut:

2.1Bagaimana bentuk alih kode pada masyarakat perbatasan Kab. Karawang dan Kab. Bekasi.

(15)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka pertanyaan penelitian yang muncul adalah:

3.1Apa bentuk alih kode dari masyarakat perbatasan Kab. Karawang dan Kab. Bekasi?

3.2Apa motivasi dari masyarakat perbatasan Kab. Karawang dan Kab. Bekasi ketika terlibat dalam alih kode?

4. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini ingin mengetahui:

4.1 Bentuk alih kode (code-switching)dari masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi ketika terlibat dalam komunikasi.

4.2 Motivasi masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi menggunakan alih kode (code-switching) dalam komunikasinya.

5. Manfaat Penelitian

5.1Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi perkembangan studi mengenai alih kode. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dibidang alih kode.

(16)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5.3Penelitian ini diharapkan mampu melihat persepsi masyarakat perbatasan dan dapat mengetahui makna yang terkandung didalamnya sehingga dapat mengatasi permasalahan komunikasi antara penutur bahasa yang berbeda.

6. Definisi Operasional

6.1. Motivasi

Definisi motivasi menurut Gardner (1985:10) adalah kombinasi dari usaha ditambah keinginan untuk meraih tujuan dari pembelajaran bahasa dan sikap yang baik kepada pembelajaran bahasa. Gardner dan Lambert (1959 dalam Gardner, 1985:10) memfokuskan dua bentuk orientasi (tujuan) dalam motivasi yaitu integratif dan instrumental. Orientasi integratif dikarakteristikan oleh sebuah keinginan untuk dihargai sebagai anggota oleh komunitas bahasa (orientasi integratif merefleksikan atribut yang dihubungkan dengan konteks kultural dari bahasa). Orientasi integratif merujuk kepada motivasi ketika seseorang mempelajari bahasa ke dua untuk dapat berinteraksi masyarakat bahasa dan menjadi dekat dengan masyarakat bahasa. Orientasi integratif merefleksikan ketertarikan dalam membentuk kedekatan hubungan dengan masyarakat bahasa yang lain. Orientasi instrumental adalah orientasi yang menekankan kepada keinginan dari sisi kepraktisan seperti mendapatkan pekerjaan atau lulus dari sebuah ujian.

6.2.Perbatasan

(17)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

6.3.Alih kode

Menurut Myers-Scotton (1983:433) alih kode (Code-switching) adalah perubahan oleh seorang pembicara (pengguna bahasa) dari satu bahasa atau ragam bahasa satu sama lain, penggunaan dua atau lebih bahasa dalam satu waktu pertukaran bahasa.

Istilah alih kode (code-switching) menurut Milroy dan Gordon (2003:209), alih kode menggambarkan fenomena pergantian dan pencampuran berbagai bahasa (atau dialek) dalam percakapan yang sama, giliran yang sama, atau kalimat sama.

Richards dan Schmidt (2002:81), Pengertian alih kode adalah ketika salah satu pembicara menggunakan satu bahasa dan jawaban pembicara lain dalam bahasa yang berbeda. Seseorang mungkin mulai berbicara satu bahasa dan kemudian mengubah ke bahasa yang lain di tengah pembicaraan mereka, atau kadang-kadang bahkan di tengah kalimat.

Wardaugh (2006:101), alih kode (code-switching) yang juga disebut campur kode dapat terjadi diantara pergantian percakapan atau dalam percakapan tunggal. Dalam kasus terakhir itu dapat terjadi antara kalimat (intersentential) atau dalam satu kalimat (intrasentential).

Penjelasan mengenai bentuk alih kode dalam penelitian ini mengacu pada analisis yang dikemukakan oleh Scotton (1993, dalam Myers-Scotton, 1998) yaitu analisis Matrix language frame (MLF). Matrix language frame terdiri dari matrix language dan embedded language. Matrix language

(18)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

campuran (mixed constituent). Dalam matrix language, satu bahasa merupakan bingkai gramatikal untuk sebuah klausa atau kalimat yang memuat morfem dari dua bahasa. Bagian lain dari matrix language frame

adalah embedded Language (EL). Embedded language itu sendiri adalah sisipan dari bahasa lain yang masuk ke dalam matrix language. Dalam pandangan Matrix language frame secara umum bahasa-bahasa yang terdapat dalam alih kode tidak sepenuhnya seimbang. Pada alih kode hanya satu bahasa yang menjadi bingkai gramatikal dalam kalimat atau klausa.

7. Penutup

(19)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan bagaimana penelitian ini dilakukan sehingga dapat menjawab apa yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Adapun yang menjadi cakupan pembahasannya adalah tujuan penelitian, desain penelitian, pengumpulan data dan analisis data.

3.1 Tujuan Penelitian

Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam Bab 1, tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi dan tujuan yang muncul dari alih kode (code-switching) yang merupakan bentuk komunikasi pada masyarakat di perbatasan Karawang dan Bekasi tepatnya di pasar Rengasdengklok. Untuk mencapai tujuan umum tersebut, secara lebih rinci tujuan-tujuan dari penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

3.1.1 Apa bentuk alih kode (code-switching) dari masyarakat pasar Rengasdengklok ketika terlibat dalam komunikasi?

(20)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3.2. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah sebuah penelitian kualitatif. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif karena data yang diambil merupakan tuturan-tuturan yang digunakan masyarakat perbatasan dalam berinteraksi dikeseharian mereka. Pengertian penelitian kualitatif itu sendiri adalah proses penyelidikan mengenai pemahaman berdasarkan tradisi penyelidikan yang menyelidiki sebuah masalah sosial dan kemanusiaan. Peneliti membangun sebuah gambaran luas, menganalisa kata-kata, melaporkan pandangan detail dari informan, dan melakukan penelitian dalam seting natural (Creswell, 1998:15).

Penelitian kualitatif mengimplementasi pendekatan holistik dalam penelitiannya. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengisolasi fenomena dan mencoba untuk mengidentifikasi hubungan antarvariable dengan mengedepankan observasi secara natural dari seting yang kompleks (Richard dan Schmidt, 2002:435). Menurut Richard dan Schmidt (2002:435) prosedur penelitian kualitatif menggunakan nonnumerical data (data non-numerik) seperti wawancara, studi kasus, atau observasi pertisipan.

(21)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3.3. Pengumpulan Data

3.3.1.Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil tempat di Pasar Rengasdengklok Kabupaten Karawang. Pemilihan lokasi penelitian dalam hal ini sesuai dengan variabel penelitian, yaitu daerah perbatasan Kab. Karawang dengan Kab. Bekasi. Di bawah ini adalah peta dari daerah Rengasdengklok.

Gambar 3.1 Peta Rengasdengklok

3.3.2.Pengambilan Data

(22)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

3.3.2.1.Perekaman Data Percakapan

Dalam penelitian ini data diperoleh dengan cara merekam percakapan sehari-hari. Alat rekam yang digunakan adalah Sony Dcr. Proses pengambilan data rekaman ini dilakukan selama satu bulan.

3.3.2.2. Penyebaran Angket

Pengambilan data yang kedua adalah dengan penyebaran angket. Pokok bahasan dari angket dalam penelitian ini adalah apa motivasi dalam alih kode dari masyarakat pasar Rengasdengklok. Pokok bahasan dari angket membahas mengenai motivasi dalam alih kode. Jika dilihat dari kacamata motivasi menurut Gardner dan Lambert (1959 dalam Gardner 1985:10) maka dapat disimpulkan bahwa motivasi integratif dan instrumental mempunyai dua faktor diantaranya adalah:

1. Motivasi integratif dalam alih kode adalah motivasi yang berkaitan dengan motivasi dari dalam diri penutur disebabkan keinginan untuk mengakomodir dan diakomodir orang lain.

2. Motivasi instrumental dalam alih kode adalah motivasi dimana alih kode sebagai alat atau instrument dalam meraih tujuan kepraktisan dan dipengaruhi oleh kondisi dari luar.

Angket dalam penelitian ini terlampir pada halaman 120. Poin-poin yang ditanyakan dalam angket adalah sebagai berikut.

(23)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. alih kode (campur bahasa) bertujuan untuk diterima oleh orang lain atau dimasyarakat (Gutierrez-Clellen, et al. 2009),

2. alih kode (campur bahasa) bertujuan untuk mempertahankan atau melindungi bahasa daerah anda (Dahl, et al),

3. alih kode (campur bahasa) bertujuan untuk memperlihatkan kekuatan (power) (Myers-Scotton. 1998),

4. alih kode (campur bahasa) bertujuan untuk menunjukan kebanggaan (prestise) tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan (Myers-Scotton. 1998), 5. alih kode (campur bahasa) bertujuan untuk menunjukan identitas diri

(berasal dari suku dan daerah asal) (Myers-Scotton. 1998),

Angket juga mengeksploitasi motivasi instrumental dalam alih kode. Poin-poin dalam angket mengkonfirmasi apakah:

1. alih kode (campur bahasa) bertujuan untuk mendapat pelanggan atau pekerjaan (Gardner dan Lambert. 1959 (dalam Gardner. 1985),

2. alih kode (campur bahasa) bertujuan untuk mendapatkan kemudahan tertentu seperti meminjam uang, menagih utang dll (Gardner dan Lambert. 1959 (dalam Gardner. 1985),

3. alih kode (campur bahasa) bertujuan untuk menambah makna atau arti dalam percakapan (Li Wei. 1998),

(24)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

5. alih kode (campur bahasa) bertujuan untuk menentukan maksud atau topik pembicaraan (Moyer. 1998).

3.4. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini terbagi menjadi analisis data rekaman dan analisis data angket.

3.4.1. Analisis Data Rekaman

Langkah pertama analisis adalah data rekaman ditranskripsi. Setelah tahap pertama, tahap kedua dalam analisis adalah dengan mengidentifikasi kemunculan alih kode menggunakan teori matrix language frame (Myers-Scotton, 1998) dengan penjelasan sebagai berikut.

Matrix language frame terdiri dari matrix language dan embedded language merupakan konstituensi campuran (mixed konstituen) matrix language

dan embedded language. Matrix language (ML) adalah bahasa yang menetapkan bentuk gramatikal dalam konstituensi campuran (mixed constituent) sedangkan

embedded language adalah morfem sisipan dari bahasa yang lain.

Contoh kemunculan:

No porque quiero dispressare a mi ‘language italiaan’

Alih kode __________________________________________

Matrix language __________________________________________

Embedded language ________________

(25)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Embedded language (Bahasa Inggris)

Tahap selanjutnya dari analisis data rekaman adalah pengklasifikasian bentuk alih kode. Didalam alih kode dapat terjadi antara kalimat (intersentential) atau dalam satu kalimat (intrasentential). Dikatakan bentuk alih kode dalam kalimat atau intrasentential adalah ketika terjadi pergantian bahasa dalam satu kalimat sedangkan alih kode intersentential terjadi pada tataran antar kalimat. Contoh klasifikasi:

Alih kode intrasentensial ………..

1st: I love that Kleid

………

Alih kode intersentensial …………

1st speaker: battone ieio (o) voio button ieio it want 2nd speaker: was mo¨ chtest du? “What do you want?” 1st speaker: il battone

(26)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

persentasi dari total kemunculan untuk melihat tren kemunculan dari bentuk alih kode.

3.4.2. Analisis Data Angket

Langkah pertama dalam analisis data angket adalah dengan menghitung jumlah skor dari 14 responden berdasarkan penilaian skala Likert. Setelah skor dari ke 14 responden didapat langkah selanjutnya adalah mengklasifikasikan skor berdasarkan tinggi rendahnya kecenderungan dari skor total.

Kriteria penilaian

Skor jawaban dengan menggunakan skala Likert dari Hatch dan Farhady (1982:40)

Sangat setuju : 5

Setuju : 4

Tidak Berpendapat : 3

Tidak setuju : 2

Sangat tidak setuju : 1

Interpretasi skor menurut Akdon dan Hadi (2005:120) Penilaian skor total

(27)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Kriteria penilaian item pertanyaan no 1-5 untuk mengukur motivasi integratif 70-126 = Sangat rendah

127-183 = Rendah 184-240 = Sedang 241-297 = Tinggi

298-354 = Sangat Tinggi

Kriteria penilaian item pertanyaan no 6-10 untuk mengukur motivasi instrumental 70-126 = Sangat rendah

127-183 = Rendah 184-240 = Sedang 241-297 = Tinggi

298-354 = Sangat Tinggi

3.5.Penutup

(28)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Penelitian ini membahas motivasi alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi. Temuan dan pembahasan penelitian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya melahirkan sebuah kesimpulan yang pada akhirnya menjadi jawaban atas pertanyan-pertanyaan penelitian ini.

5.1 Simpulan

Penelitian ini berfokus pada bentuk dan motivasi alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi. Adapun masalah yang diteliti adalah meliputi bentuk alih kode dan motivasi alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi. Bentuk alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi berupa alih kode dalam kalimat (intrasentential), dan alih kode antar kalimat (intersentential) sedangkan motivasi alih kode berupa motivasi integratif dan instrumental. Sesuai dengan pertanyaan penelitian maka ada dua kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian.

(29)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dalam hal ini, fungsi kognitif dari masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi adalah motivasi pada alih kode itu sendiri.

Alih kode pada masyarakat perbatasan mempunyai bentuk struktural dengan struktur yang pasti. Terdapat dua jenis alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi yaitu alih kode intrasentential dan alih kode intersentential. Secara struktural alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi dapat dianalisis dengan pisau bedah, yaitu matrix language (ML), dan

embedded language (EL).

Matrix language merupakan elemen utama dari struktur alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi. Berdasarkan teori Myers-Scotton (1993, dalam Myers-Scotton, 1998), matrix language (ML) berupa bahasa Sunda mempunyai elemen sisipan berupa embedded language (EL) dari bahasa Indonesia (dapat terjadi sebaliknya atau dari bahasa lainnya). Berdasarkan kedua elemen ini maka bahasa Sunda dan Indonesia membentuk alih kode baik alih kode

intrasentential maupun intersentential. Matrix language (ML) merupakan struktur induk yang menggambarkan bentuk grammatikal yang didalamnya terdapat

embedded language (EL). Dalam matrix language (ML) terdapat aturan gramatikal dan morfem-morfem dari suatu bahasa tertentu yang mendominasi dibandingkan bahasa yang lain (embedded language) . Dapat dikatakan bahwa

(30)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

bahasa kedua atau maka alih kode itu dinamakan alih kode intersentential (Myers-Scotton. 1998).

Embedded language (EL) dalam alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi adalah bentuk alih kode pada tingkat morfem dan pemilihan leksikal. Embedded language (EL) mempunyai elemen dari embedded language (EL) yang menunjukan alih kode intrasentential (Myers-Scotton. 1998).

Embedded language (EL) adalah proyeksi dari alih kode intrasentensial yang terdapat konten dari bahasa kedua yang merupakan pemilihan leksikal dari penutur itu sendiri. Ini terjadi secara sistematik, dan tidak terjadi secara random atau acak.

Masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi dikatakan integratif disebabkan oleh keinginan masyarakat perbatasan ini yang sangat besar dari penutur untuk mengakomodasi atau diakomodasi oleh penutur lainnya di dalam masyarakat. Dari temuan dan pembahasan, penutur di perbatasan Karawang dan Bekasi menilai bahwa motivasi integratif dalam alih kode intrasentential ini dikaitkan dengan tujuan (orientasi) penutur tersebut dalam memposisikan diri mereka di dalam masyarakat. Motivasi integratif dalam alih kode intrasentential

(31)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Secara umum motivasi integratif dari alih kode pada masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi adalah keinginan dari dalam diri berupa sikap kebahasaan. Sikap kebahasaan dari masyarakat perbatasan Karawang dan Bekasi merujuk kepada seberapa besar keinginan mereka untuk diterima didalam masyarakat itu sendiri. Masyarakat penutur ini menilai bahwa penggunaan bahasa (alih kode) merupakan sikap kebahasaan yang datang dari dalam untuk mengakomodasi masyarakat penutur lainnya.

Kaitan bentuk alih kode dengan motivasi alih kode berdasarkan temuan, dan analisis pada masyarakat perbatasan di Karawang dan Bekasi mempunyai kecenderungan tinggi dari aspek motivasi integratif cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan motivasi instrumental. Dari frekuensi bentuk alih kodenya, alih kode intrasentential mendominasi alih kode intersentential. Dari temuan tersebut, alih kode intrasentensial dapat disimpulkan sebagai bentuk nyata tuturan dari suatu tujuan komunikasi oleh penutur di perbatasan Karawang dan Bekasi.

5.2 Saran

Berdasarkan simpulan dari penelitian ini yang telah diungkapkan, maka saran-saran pun kiranya perlu diberikan. Adapun yang menjadi saran dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

(32)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pentingnya peran alih kode dalam membangun hubungan antar masyarakat yang mempunyai bahasa dan etnis yang beragam. Oleh sebab itu, penelitian ini perlu diteliti lebih jauh mengenai peran motivasi sebagai faktor psikologi yang ada dalam setiap penutur bahasa di perbatasan dengan faktor-faktor lainnya contohnya adalah dari segi seting, gender, dan atribut sosial dari penelitian.

5.3 Penutup

Demikian hasil akhir penelitian ini. Semoga tesis ini menjadi inspirasi dan dapat memberikan sumbangsih yang berharga bagi khasanah ilmu linguistik, khususnya dalam kajian alih kode.

(33)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA Administrasi dan Manajemen. Bandung: Dewa Ruchi.

Alfinzetti, G. (1998). The Conversational Dimension in Code-switching Between Italian and Dialect in Sicily. Dalam Auer, P (eds). (1998). Code-Switching in Conversation (Language, Interaction, and Identity). London: Routledge. Altarriba, J. dan. Basnight-Brown, D. M. (2009). Empirical Approaches to The

Study of Code-switching in Sentential Contexts. Dalam Isurin, L., Winford, D., dan De Boot, K. (eds.). (2009). Multidisciplinary Approaches to Code Switching. John Benjamins Publishing.

Bailey, C. A. (2007). A Guide to Qualitative Field Research (2nd. Ed). Virginia: Pine Forge Press.

Balai Pustaka (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Bullock, B. E., dan Toribio, J. A. (2009). Themes in The Study of Code-switching.

The Cambridge Handbook of Linguistic Code-switching. New York: Cambridge University Press.

(34)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

7-27. DOI: 10.1177/0261927X03260806/2004Sage Publications. 12/11/2013.

Chen, L. (2013). Motivation for Code-switching in the Chinese Christian Church in the United States. Texas Linguistics Forum 56 pp.1-11 Proceedings of the 21st Annual Symposium about Language and Society. Austin The Ohio State University.

Cresswell, J. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design. New York: Sage Publication. Journal of Bilingualism. 14 (4), pp 490-506. http://ijb.sagepub.com. 19/10/2013.

De Bot, K., Broersma, M., dan Isurin, L. (2009). Sources of Triggering in Code-switching. Dalam Isurin, L., Winford, D., dan De Boot, K. (eds.). (2009).

Multidisciplinary Approaches to Code Switching. Amsterdam: John Benjamins Publishing.

Garret, P. (2007). Language Attitudes. Dalam Llamas, C., Mullany, L., and Stockwell, P. (eds). (2007). The Routledge Companion to Sociolinguistics.

New York: Routledge

Gutiérrez-Clellen, V. F., Simon-Cereijido, G., dan Leone, A. (2009). Code-switching in Bilingual Children with Specific Language Impairment. International Journal of Bilingualism. 13(1), pp 91-107. http://ijb.sagepub.com/content. 19/10/2013.

Hamers, J.F. dan Michel, H. A. B. (2004). Bilinguality and Bilingualism. (2nd. Ed)

Cambridge: Cambridge University Press.

(35)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Jalin, S. A. (2009). Grammatikal Persfectives on Code-switching. Revel, vol. 7, pp 1-11, 2009.http://www.revel.inf.br/eng. 26/03/2014.

Johnson, K dan Johnson, H. (1999). Encyclopedic Dictionary of Applied Linguistics. Oxford:Blackwell Publishing Ltd.

Jorgensen, J. (1998). Children‟s Acquisition of Code-switching for Power Wielding. Dalam Auer, P. (eds.). (1998). Code-Switching in Conversation (Language, interaction, and identity). London: Routledge

Kabuto, B. (2010). Code-switching during parent–child reading interactions: Taking multiple theoretical perspectives. 10(2), pp131–157.

http://www.sagepub.co.uk/ journalsPermissions.navvol. 19/10/2013.

Llamas, C., Mullany, L., dan Stockwell, P. (2007). The Routledge Companion to Sociolinguistics. New York: Routledge.

Mareva, R. dan Mapako, F.P. (2012). The Prevalence and Forms of Code-Switching and Code-Mixing in Readers‟ Comments on Selected News

Articles in the Herald Online. International Journal of Academic Research in Progressive Education and Development. 1 (4) pp 35-43. 14/12/2013. Marian, V. (2009) Language interaction as a window into bilingual cognitive

architecture. Dalam Isurin, L., Winford, D., dan De Boot, K. (eds.). (2009).

Multidisciplinary Approaches to Code Switching. Amsterdam: John Benjamins Publishing

McConvell, P dan Meakins, F. (2005). Gurindji Kriol: A Mixed Language Emerges from Code-switching. Australian Journal of Linguistics. 25 (1), pp. 9-30. http://languages-linguistics.unimelb.edu.au/sites/languages-linguistics.unimelb.edu.au/files/gurindji-kriol.pdf. 26/1/2014

Milroy, L dan Gordon, M. (2003). Sociolinguistics “Method and Interpretation”. Oxford: Blackwell publishing.

Moyer, G. M. (1998). Bilingual Conversation Strategies in Gibraltar. Dalam Auer, P. (eds). (1998). Code-Switching in Conversation (Language, interaction, and identity). London: Routledge.

(36)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

of code-switching. The Cambridge Handbook of Linguistic Code-switching. New York: Cambridge University Press.

Myers-Scotton, C. (1998). Code-Switching. Dalam Coulmas, F. (eds.). (1998).

The Handbook of Sociolinguistics. Blackwell Publishing, 1998. Blackwell Reference Online.http://www.blackwellreference.com/subscriber/tocnode. 19/10/2013.

Myers-Scotton, C. (2006). Multiple VoicesAn Introduction to Bilingualism.

Oxford: Blackwell publishing.

Myers-Scotton, M. (1998). Codes and Consequences: Choosing Linguistic Varieties. New York: Oxford University Press.

Ng, S. H dan He, A. (2004). Code-Switching in Trigenerational Family interaction, and identity). London: Routledge.

Ramsay-Brijball, M. (2004). Exploring Identity through Code-Switching: A Poststructuralist Approach. Department of Linguistics, School of Language, Literature and Linguistics, University of KwaZulu-Natal.

Richards, J. dan Smidt, R. (2002). Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. Edinburgh: Pearson Education Limited.

Ryan, M. R dan Deci, L. E. (2000). Intrinsic and Extrinsic Motivations: Classic Definitions and New Directions. Contemporary Educational Psychology (25) 1, pp54–67. 29/1/2014

Schiffman, F. H. (1998). Diglossia as a Sociolinguistic Situation „Dalam Coulmas, F. (eds.). The Handbook of Sociolinguistics. Blackwell Publishing, 1998. Blackwell Reference Online.

http://www.blackwellreference.com/subscriber/tocnode.19/10/2013.

(37)

Agung Farid Agustian, 2014

BENTUK DAN MOTIVASI ALIH KODE PADA MASYARAKAT PERBATASAN KARAWANG DAN BEKASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Wardhaugh, R. (2006). An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Blackwell Publishing.

Wei, L. (1998). The „Why‟ and „How‟ Question in The Analysis of Conversational

Gambar

Gambar 3.1  Peta Rengasdengklok

Referensi

Dokumen terkait

A) Pengaruh Kualiatas Pelayanan dan Penetapan Harga terhadap Loyalitas pelanggan BNI Card Center LNC Jakarta.. Pengujian pengaruh secara bersama-sama dilakukan dengan uji

H0 adalah hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan pada kadar profil lipid pada pasien penyakit ginjal diabetik dan penyakit ginjal non-diabetik

berkualitas, konsep kualitas pembelajaran mengandung lima rujukan, yaitu:. Kesesuaian meliputi indikator sebagai berikut: sepadan dengan karakteristik peserta didik, serasi

Sebagai hasil dari skripsi, penulis menemukan fakta bahwa sebagian besar mahasiswa di Fakultas Sastra Universitas Katolik Soegijapranata Semarang pada dasarnya tidak takut pada

I adalah tanaman Eukalyptus grandis x Eukalyptus pelita sedangkan virulensi patogen penyabab penyakit hawar daun II yang paling tinggi disebabkan oleh.. Cylindrocladium

[r]

KONSELING KOGNITIF PERILAKU (KKP) UNTUK MEREDUKSI KECANDUAN GAME ONLINE (Penelitian Eksperimen Kuasi terhadap Siswa Kelas XI SMA Negeri 112 Jakarta Tahun Ajaran 2015/2016)

[r]