• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP FIELD TOUR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENEMUKAN IDE DAN MENULIS PUISI DI SEKOLAH DASAR :Studi Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas 5 SD di Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung Tahun Pelajaran 2010/2011.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP FIELD TOUR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENEMUKAN IDE DAN MENULIS PUISI DI SEKOLAH DASAR :Studi Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas 5 SD di Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung Tahun Pelajaran 2010/2011."

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBAR PENGESAHAN...

ABSTRAK... i

PERNYATAAN... ii

MOTTO... iii

KATA PENGANTAR... iv

UCAPAN TERIMA KASIH... v

DAFTAR ISI... viii

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian... 1

1.2 Identifikasi Masalah Penelitian... 9

1.3 Rumusan Masalah Penelitian... 9

1.4 Batasan Masalah Penelitian... 10

1.5 Cara Pemecahan Masalah... 11

1.6 Tujuan Penelitian... 11

1.7 Manfaat Penelitian... 13

1.8 Anggapan Dasar Penelitian... 14

1.9 Hipotesis... 14

1.10 Definisi Operasional... 15

BAB II MODEL PEMBELAJARAN GROUP FIELD TOUR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENEMUKAN IDE DAN MENULIS PUISI DI SEKOLAH DASAR... 16

2.1 Model Pembelajaran... 16

2.1.1 Pengertian Model Pembelajaran... 16

(2)

2.1.4 Model Pembelajaran Group Field Tour... 24

2.1.4.1 Orientasi Model... 24

2.1.4.2 Tahap-Tahap Model Pembelajaran Group Field Tour... 28

2.1.5 Pengaruh Model Pembelajaran Model Group Field Tour terhadap Menemukan Ide dan Menulis Puisi... 30

2.2 Pembelajaran Menulis Puisi di SD... 35

2.2.1 Pengertian Menulis... 35

2.2.2 Tujuan Pembelajaran Menulis... 36

2.2.3 Pembelajaran Menulis Fiksi Anak-Anak SD... 36

2.2.4 Apresiasi Sastra dan Puisi... 37

2.2.5 Pengertian Puisi... 38

2.2.6 Unsur-Unsur Pembangun Puisi... 39

2.2.7 Karakter Puisi Anak... 55

2.2.8 Jenis-Jenis Puisi... 56

2.2.9 Hakikat Pembelajaran Puisi dalam Kurikulum... 59

2.3 Media ... 60

2.3.1 Pengertian Media... 60

2.3.2 Peranan dan Kegunaan Media Pembelajaran... 61

2.3.3 Jenis-Jenis Media... 62

2.3.4 Lingkungan sebagai Media Pembelajaran... 62

2.4 Cara Mencari Ide dalam Menulis Puisi... 62

2.4.1 Pengertian Ide... 62

(3)

yang Dikembangkan dalam Menulis Puisi... 66

2.5 Proses Penulisan Sebuah Puisi... 70

2.6 Tahap-Tahap Proses Penulisan Puisi... 76

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 82

3.1 Metode Penelitian... 82

3.2 Lokasi dan Subyek Penelitian... 83

3.3 Instrumen Penelitian... 83

3.4 Proses Penelitian... 87

3.5 Teknik Pengumpulan Data... 88

3.6 Teknik Pengolahan Data... 89

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 93

4.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian... 93

4.2 Analisis Data Hasil Penelitian... 116

4.3 Pembahasan... 122

BAB V SIMPULAN DAN SARAN... 131

5.1 Simpulan ... 133

5.2 Saran... 134

DAFTAR PUSTAKA... 135

LAMPIRAN-LAMPIRAN... 139

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian

Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi, sedangkan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia.

Aspek bersastra memiliki kedudukan yang sama penting dengan aspek berbahasa, bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan karena bahasa adalah media pengucapan karya sastra. Keterampilan bersastra diperkaya oleh fungsi utama sastra untuk penghalusan budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imajinasi, dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tertulis.

(5)

terhadap pembelajaran sastra tersebut, sehingga hasil karya puisi siswa tidak mengandung unsur keindahan.

Pengajaran sastra sangat baik diajarkan kepada anak-anak di sekolah karena sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Anak lebih suka berkarya, berekspresi, berkreasi dan imajinatif. Karya sastra sebagai suatu karya seni memiliki sifat yang indah dan berguna sehingga pembaca senang untuk menikmatinya, begitu juga dengan anak-anak senang menikmati karya sastra.

Ketidaktercapaian pengajaran sastra di persekolahan diidentifikasi penyebabnya ada beberapa faktor, yaitu faktor guru, siswa dan sarana. Khusus mengenai faktor guru, Suryatin (1992 : 53) mengidentifikasikan ada empat hal yang diduga keras menjadi penyebabnya, yaitu : 1) rendahnya minat baca guru terhadap karya sastra, 2) kurangnya guru belajar teori sastra, 3) kurangnya guru mengapresiasikan karya sastra, dan 4) guru dihadapkan pada luasnya cakupan kurikulum yang harus disampaikan padahal waktu yang tersedia untuk belajar sastra sangat terbatas.

Selain faktor yang sifatnya internal, menurut Taufik Ismail (2003:9), hal lain yang turut memperparah kemerosotan pengajaran sastra dalam hampir kurun waktu 60 tahun ini, diakibatkan hidup suburnya paradigma “Pengunggulan berlebih kepada jurusan eksakta”, dalam dunia pendidikan kita. Akibat adanya pandangan tersebut maka tidak heran jika sastra akhirnya dipandang sebelah mata saja dalam konteks pendidikan di negeri ini.

(6)

diksi dan memiliki kemampuan untuk menuangkan ide atau gagasan dengan cara membuat puisi yang menarik untuk dibaca.

Sastra dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu sastra imajinatif dan non imajinatif. Puisi merupakan pernyataan perasaan yang imajinatif yaitu perasaan yang direkakan. Puisi tidak terlepas dari seni merangkai kata yang penuh dengan makna. Perasaan dan fikiran penyair mengolah kata sedemikian rupa sehingga tercipta puisi. Puisi salah satu media seseorang untuk mencurahkan segala macam perasaan yang ada di dalamnya.

Menulis puisi merupakan pembelajaran yang kurang diminati, hal ini disebabkan karena siswa kurang berminat dan kurang memiliki kemampuan untuk mengapresiasi, menulis puisi dan kurangnya buku-buku sastra yang menunjang pembelajaran puisi. Rendahnya mutu kemampuan menulis puisi siswa sekolah dasar disebabkan oleh kenyataan bahwa pengajaran menulis lebih banyak dianaktirikan. Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah lebih banyak mengutamakan keterampilan menyimak dan membaca daripada keterampilan menulis.

(7)

Nilai siswa dalam pembelajaran menulis puisi yang masih rendah. Hal ini tampak pada beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh M.S. Fitriah dengan tesisnya berjudul “Penerapan Model Menyimak Kreatif Teks Feature sebagai Strategi dalam Pembelajaran Menulis Puisi melalui Pendekatan CTL”. Penelitian lain dilakukan oleh Idah Faridah Laily dalam tesisnya yang berjudul “Peningkatan Pembelajaran Menulis Puisi Siswa Sekolah Dasar melalui Metode imajinasi dengan menggunakan Media Gambar Fotografi. Berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa keterampilan menulis siswa khususnya menulis puisi masih perlu ditingkatkan, khususnya pada penggunaan gaya bahasa dan kata-kata imajinasi serta pilihan kata yang tepat.

Pembelajaran menulis puisi kurang terlaksana dengan baik. Hal ini dipengaruhi oleh strategi dan media pembelajaran yang berdampak terhadap keterampilan siswa. Oleh karena itu guru harus mampu mengembangkan strategi dan media pembelajaran yang variatif dan inovatif agar siswa termotivasi untuk belajar. Dengan penggunaan model pembelajaran dan media yang menarik, pembelajaran menulis puisi diharapkan lebih menyenangkan dan membantu siswa dalam beroleh ide (inspirasi) ketika menulis puisi.

Salah satu model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan menulis puisi di sekolah dasar adalah Model Pembelajaran Group Field Tour. Model ini adalah model baru yang memberikan kebebasan kepada

(8)

Jeannette Vos (Gordon Dryden 2001: 303) kiat pengajaran yang efektif adalah penciptaan kondisi belajar yang terbaik bagi siswa. Nurhadi menyatakan bahwa belajar akan berjalan efektif jika dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas dan siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, sedangkan guru hanya mengarahkan (Nurhadi 2003: 18).

Pembelajaran berkembang cepat dan mudah melalui penjelajahan dan kesenangan. Kondisi kelas yang baik adalah kondisi suasana pembelajaran siswa merasa senang dan bergairah untuk belajar secara maksimal (Gordon Dryden 2001: 303). Lingkungan luar kelas merupakan tempat belajar yang efektif karena siswa merasa bebas dan senang untuk mencari pengalaman yang akan diceritakan untuk melatih keterampilan menulis kreatif puisi, sehingga siswa dapat melihat langsung ke obyek yang akan ditulis menjadi puisi. Ketika seseorang banyak berinteraksi dengan lingkungan, maka semakin mahir pula ia mengatasi situasi-situasi yang menantang dan semakin mudah mendapat informasi baru.

Field Tour ini merupakan sebuah metode pembelajaran yang berpijak

pada keinginan untuk menghidupkan kelas. Kelas yang hidup adalah kelas yang memberdayakan siswa dengan segala aktivitas belajarnya untuk mencapai kompetensi yang diinginkan (Nurhadi 2003: 100). Pembelajaran ini bermula dari filsafat progressive John Dewey. Pembelajaran ini menyatakan bahwa cara belajar terbaik adalah siswa mengontruksi sendiri secara aktif pemahamannya.

(9)

memberitahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan sebagainya. Kelompok belajar siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik anggotanya maupun jumlahnya.

Pengelompokkan ini merupakan pembelajaran kooperatif yang mempunyai banyak keunggulan seperti memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial, mengembangkan kegembiraan yang sejati, memungkinkan siswa untuk saling belajar mengenai sikap, pengalaman, informasi dan dapat menjadi acuan bagi perkembangan kepribadian yang sehat (Nurhadi 2003:62).

Group Field Tour adalah model pembelajaran yang dilakukan oleh siswa

dengan cara melakukan perjalanan atau penjelajahan di lingkungan luar kelas secara berkelompok, dalam perjalanan tersebut siswa menemukan sesuatu yang menarik kemudian satu persatu anggota kelompok berdiskusi, dalam diskusi tersebut melalui perasaan sehingga muncul kata-kata yang akan dituliskan menjadi sebuah puisi, sesuai dengan aspek yang telah ditentukan guru sebelumnya mengenai unsur pembangun puisi yaitu: diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, versifikasi, tipografi, sarana retorika, tema, perasaan, nada, suasana, amanat yang hendak disampaikan.

(10)

Pada pembelajaran yang menggunakan model ini siswa tidak menghafal materi tetapi langsung mempraktekkan materi tersebut, sehingga siswa mengalami sendiri secara langsung. Pusat pembelajaran kontekstual pada kegiatan belajar, siswa diarahkan untuk aktif, sedangkan guru mengarahkan dan membimbing siswa dalam kegiatannya. Pembelajaran ini dapat dikatakan sebagai proses pendidikan bukan pengajaran.

Model pembelajaran yang digunakan juga berusaha memecahkan masalah kesulitan belajar yang dialami siswa. Siswa diarahkan untuk mampu menemukan pemecahan masalahnya sendiri. Dalam penilaian hasil belajar siswa tidak hanya diukur dengan tes, tetapi juga performan atau penampilan siswa.

Pembelajaran dengan model Group Field Tour memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran yang menggunakan dengan model lain. Dalam pembelajaran ada kerja sama antar siswa, antara siswa dengan guru sebagai fasilitator dan motivator. Karakteristik yang kedua yaitu saling menunjang dalam kegiatan pembelajaran, menyenangkan dan tidak membosankan sehingga siswa lebih bergairah dalam belajar.

(11)

Penggunaan media pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan motivasi dalam belajar. Media pembelajaran merupakan alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk memperjelas dan mempermudah pencapaian pelajaran dan mencegah terjadinya verbalisme terhadap siswa. Media pembelajaran memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi belajar yang efektif dan merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran.

Media pembelajaran juga berfungsi untuk mempercepat proses pembelajaran. Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap dan memahami tujuan bahan ajar dengan lebih mudah dan lebih cepat, serta media juga mampu meningkatkan kualitas belajar mengajar. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya.’ (Sudjana dan Rivai, 2000 : 2)

(12)

kelemahan karena siswa diajak langsung ke luar kelas tentunya kurang terkontrol, hal ini harus ada perencanaan yang baik sehingga dapat terlaksana dengan tepat.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merumuskan judul penelitian “Keefektifan Model Pembelajaran Group Field Tour dalam Meningkatkan Kemampuan Menemukan Ide dan Menulis Puisi di Sekolah Dasar”. (Studi

Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar di Gugus Padamulya

Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung Tahun Pelajaran 2010-2011).

1.2 Identifikasi Masalah Penelitian

Dari latar belakang masalah penelitian dapat diidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut.

1. Pengajaran menulis kreatif puisi di sekolah belum terlaksana dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam menemukan ide dan menulis puisi belum optimal. Kelemahan ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya : siswa, strategi, media dan guru dalam cara mengajar yang kurang menarik dan bervariasi.

2. Penggunaan strategi dan media pembelajaran menulis puisi harus bervariasi. Suatu strategi dan media akan mendukung keberhasilan kemampuan menulis puisi.

1.3Rumusan Masalah Penelitian

(13)

1. Bagaimanakah profil kemampuan siswa kelas V SD dalam menemukan ide dan menulis puisi di Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung?

2. Bagaimanakah perencanaan model pembelajaran group field tour dalam upaya meningkatkan kemampuan menemukan ide dan menulis puisi di kelas V SDN Gugus Padamulya kecamatan Majalaya kabupaten Bandung? 3. Bagaimanakah pelaksanaan model pembelajaran group field tour dalam

upaya meningkatkan kemampuan menemukan ide dan menulis puisi di kelas V SDN Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung? 4. Apakah ada perbedaan hasil yang signifikan antara kemampuan siswa

menemukan ide yang menggunakan model pembelajaran group field tour dengan siswa yang mengikuti pembelajaran secara konvensional?

5. Apakah ada perbedaan hasil yang signifikan antara kemampuan menulis puisi siswa yang menggunakan model pembelajaran group field tour dengan siswa yang mengikuti pembelajaran secara konvensional?

1.4Batasan Masalah Penelitian

(14)

1.5Cara Pemecahan Masalah

Masalah pembelajaran menulis karya sastra terutama menulis puisi yang kurang menggairahkan siswa dan kurangnya penggunaan model pembelajaran serta media yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran menulis puisi siswa dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran group field tour dengan menggunakan media lingkungan. Penggunaan model dan media ini diharapkan dapat memudahkan siswa menggali dan menemukan ide maupun imajinasi yang dapat mereka kaitkan dengan pengalaman yang pernah mereka alami sehingga proses kreatif dalam menulis puisi dapat mengalir begitu mudah dan ekspresif. Penggunaan media lingkungan diupayakan agar siswa mendapat informasi lebih dalam upaya memilih tema maupun kata-kata yang berhubungan dengan lingkungan dan kehidupan mereka. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat menimbulkan motivasi siswa untuk memperoleh ide dalam menulis puisi.

1.6 Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keefektifan model pembelajaran group field tour melalui media lingkungan dalam meningkatkan kemampuan menemukan ide

(15)

1. Memperoleh informasi tentang profil kemampuan siswa dalam menemukan ide dan menulis puisi di kelas V SDN Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

2. Memperoleh informasi tentang perencanaan model pembelajaran group field tour dalam upaya meningkatkan kemampuan menemukan ide dan menulis

puisi di kelas V SDN Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

3. Memperoleh informasi tentang proses pelaksanaan model pembelajaran group field tour dalam upaya meningkatkan kemampuan menemukan ide dan menulis

puisi di kelas V SDN Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

4. Mengetahui perbedaan antara hasil kemampuan siswa dalam menemukan ide yang menggunakan model pembelajaran group field tour dengan model pembelajaran konvensional.

5. Mengetahui perbedaan antara hasil kemampuan siswa dalam menulis puisi yang menggunakan model pembelajaran group field tour dengan model pembelajaran konvensional.

1.7 Manfaat Penelitian

(16)

1. Manfaat secara teoretis

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan keilmuan tentang keefektifan model pembelajaran group field tour dalam meningkatkan kemampuan menemukan ide dan menulis puisi di sekolah dasar.

2. Manfaat secara praktis

(17)

1.8 Anggapan Dasar Penelitian

Anggapan dasar adalah suatu hal yang diyakini kebenarannya oleh peneliti, (Arikunto, 2002:61).

1. Keterampilan menulis puisi adalah keterampilan berekspresi yang menonjolkan penekanan pada ekspresi diri secara pribadi, yaitu penekanan pengekspresian emosi, gagasan, atau ide.

2. Penggunaan model pembelajaran group field tour adalah model pembelajaran yang dapat memberi kebebasan kepada penyair dalam mengembangkan gagasannya.

3. Media pembelajaran yang tepat dapat membantu dalam membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.

1.9 Hipotesis

Bertitik tolak dari uraian di atas, maka dalam penelitian ini peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut.

Ho : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan siswa dalam menemukan ide dan menulis puisi yang menggunakan model pembelajaran group field tour dengan model pembelajaran konvensional di kelas V SDN

Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

(18)

pembelajaran konvensional di kelas V SDN Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung.

1.10 Definisi Operasional

Guna menghindari kesalahpahaman terhadap variabel dan istilah yang digunakan dalam penelitian ini penulis merasa perlu mengemukakan definisi operasional. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Yang dimaksud kemampuan menemukan ide dalam penelitian ini adalah kesanggupan peserta didik dalam mengumpulkan informasi yang akan dijadikan dasar dalam menulis puisi. Kemampuan ini diukur melalui indikator: (1) ketepatan ide dengan tema, (2) kelengkapan ide, dan (3) keruntutan ide dengan tema. Pengukurannya dilakukan dengan cara scoring rubric.

Kemampuan menulis puisi dalam penelitian ini adalah kesanggupan peserta didik dalam menuangkan ide/ gagasan pokok dalam bentuk tulisan berupa puisi. Kemampuan ini diukur melalui indikator : (1) struktur fisik puisi dan (2) struktur batin puisi. Pengukurannya dilakukan dengan menggunakan scoring rubric.

(19)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan dapat dikemukakan beberapa simpulan hasil penelitian sebagai berikut.

1. Kemampuan siswa menemukan ide untuk menulis puisi pada kelas eksperimen yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model group field tour memiliki tingkat signifikansi yang tinggi dibandingkan

dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional di kelas kontrol. 2. Model group field tour yang digunakan dalam upaya meningkatkan

(20)

3. Proses pelaksanaan pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan model pembelajaran group field tour di kelas V SDN Gugus Padamulya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung telah berjalan dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan partisipasi siswa yang aktif selama pembelajaran. Siswa dengan motivasi yang tinggi melakukan kegiatan pengamatan, berbagai ide, dan menulis puisi.

4. Berdasarkan pengolahan data dan pengujian hipotesis dengan menggunakan SPSS, dengan taraf signifikansi a=0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang siginifikan kemampuan menemukan ide antara siswa kelas V SD yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model group field tour dengan yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model

konvensional.

5. Berdasarkan pengolahan data dan pengujian hipotesis dengan menggunakan SPSS, dengan taraf signifikansi a=0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang siginifikan kemampuan menulis puisi antara siswa kelas V SD yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model group field tour dengan yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan model

(21)

5.2Saran

Sejalan dengan simpulan penelitian yang telah dikemukakan di atas, berikut penulis kemukakan beberapa saran penelitian.

1. Berdasarkan hasil penelitian ternyata pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan model group field tour dapat meningkatkan kemampuan proses dan produk menulis puisi. Oleh sebab itu, hendaknya guru dapat menggunakan model group field tour sebagai salah satu model dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran menulis. 2. Guru hendaknya meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam

melaksanakan pembelajaran dengan menguasai berbagai model pembelajaran yang salah satunya adalah model group field tour yang telah terbukti mampu meningkatkan mutu proses pembelajaran.

3. Pembelajaran menulis puisi melalui model pembelajaran group field tour akan lebih bermakna apabila guru sebagai pengelola pembelajaran mampu membuat suasana pembelajaran lebih menyenangkan sehingga dapat menggali potensi siswa. Melalui penggunaan media lingkungan dan kerjasama secara kelompok selama dalam perjalanan siswa dapat menemukan ide atau gagasan baru untuk lebih kreatif dalam membuat puisi.

(22)

5. Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti lebih jauh penerapan model group field tour pada aspek menulis yang lain dalam pembelajaran bahasa

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Aftarudin, Pesu.1990. Pengantar Apresiasi Puisi. Bandung: Angkasa.

Ahmadi, Mukhsin.1990. Strategi Belajar Mengajar Keterampilan berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh.

Akhdiah Sabarti.2003. Pembinaan kemampuan menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Alisjahbana,S.Takdir. 2010. Puisi Baru. Jakarta: Dian Rakyat.

Aminuddin.2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar baru Algensindo.

Andeson, L.W dan David R. Krathwohl. 2010. Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arikunto, Suharsimi.2002. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arsyad, Azhar.2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Badrun ,Ahmad.1989.Teori Puisi, Jakarta: Depdikbud.

Badudu, JS.1985. Pelajaran Mengarang Dianaktirikan, Jakarta.

Departemen Pendidikan nasional .2006 Model Silabus Mata Pelajaran bahasa Indonesia.

Effendi, S. 2002. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya.

Endraswara, Suwardi. 2005.Metode dan Teori Pengajaran Sastra.Yogyakarta: Buana Pustaka.

Esten, Mursal.2007. Memahami Puisi. Bandung : Angkasa.

Fraenkel, Jack dan Norman E. Wallen. 2006. How to Desaign and Evaluate Research in Education Sixth Editioon. New York: Mc Graw Hill.

Halimah, Lely. (2006). Keterampilan Dasar Mengajar yang Harus Dimiliki oleh Guru. Bandung: UPI Cibiru.

(24)

Keraf, Gorys. (1994). Komposisi. Jakarta : Nusa Indah. Lie, Anita. 2008. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.

Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Nurgiantoro, Burhan2007. Statistik Terapan untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Nurgiyantoro, Burhan. (2010). Penilaian Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: BPFE.

Nurudin. (2007). Dasar-Dasar Penulisan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang

Pradopo, Rachmat Djoko.2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Rahman.2007. Model Mengajar dan Bahan Pembelajaran. Bandung: Alqa Prisma Interdelta.

Rahmanto, B. 2005. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Resmini, Novi,dkk.2006. Membaca dan Menulis di SD Teori dan Pengajarannya. Bandung: UPI Press.

Rusman.2010.Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesonalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rusyana, Yus.1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang.

Santosa, Puji,dkk. 2008. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD.Jakarta: Universitas Terbuka.

Semi, M. Atar. (2007). Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Angkasa Bandung.

Sudjana, Nana dkk.2001. Media Pengajaran.Bandung: Sinar Baru Algesindo. Sugiono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

(25)

Sugiono. 2009. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sumantri, Mulyani dan Nana Syaodih. (2007). Perkembangan Peserta didik. Jakarta: Universutas Terbuka.

Suparno. et al. (2008). Keterampilan Menulis. Jakarta : Universitas Terbuka. Suyatno.2004. Teknik Pembelajaran Sastra. Surabaya.SIC

Syamsudin dan Vismaya S. Damaianti. 2006. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Program Pasca Sarjana UPI dan PT. Remaja Rosda Karya.

Tarigan, Henry Guntur. 2008.Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung: Angkasa.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Tim Penyusun UPI. 2007. Pedoman Penulisan karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

TIM. 1997. Antologi Puisi Indonesia1997, volume 1. Bandung: Angkasa. TIM.1997. Antologi Puisi Indonesia 1997, volume 2. Bandung: Angkasa. Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga. Winataputra, Udin S. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel minat baca secara parsial terhadap prestasi belajar mahasiswa, (3) Berdasarkan hasil uji t

Variabel yang memperlihatkan kondisi perairan estuaria pada ekosistem mangrove dalam pemodelan ini adalah DIN (Dissolved Inorganic Nitrogen/ nitrogen anorganik

Dengan adanya suatu sistem kendali yang terdistribusi maka semua proses yang dikendalikan dengan menggunakan sistem kendali terdistribusi akan dapat mendistribusikan kontrol ke

Taking into account that the customs activity is also recognised as a key to effectively fulfilling the duties entrusted to other state bodies such as those in the area of

Alat analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan metode single moving average dan Kesalahan peramalan hasil perhitungan dari data yang diperoleh dengan menggunakan metode

______“Rezim Anti Money Laundering Untuk Memberantas Kejahatan Di Bidang Kehutanan”, Makalah yang disampaikan pada Seminar Pemberantasan Kejahatan Hutan Melalui

Rangkaian Pulse Code Modulation pada Module ED Laboratory 2960 F terdiri dari clock generator, voltage follower, voltage comparator, counter, latch dan shift register..

Waktu Luang Untuk Menyelesaikan Pekerjaan Tata Ruang Kota Yang Lain ...158 4.60 Rekapitulasi Tanggapan Responden Terhadap Tingkat Kinerja Pegawai. Distarcip Kota Bandung ...159