• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMOBILISASI DITIZON PADA KITOSAN DAN APLIKASINYA UNTUK PENURUNAN KADAR ION Pb 2+

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMOBILISASI DITIZON PADA KITOSAN DAN APLIKASINYA UNTUK PENURUNAN KADAR ION Pb 2+"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Indonesian Journal of Chemical Science http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ijcs

© 2017 Universitas Negeri Semarang p-ISSN 2252-6951 e-ISSN 2502-6844

Info Artikel

Abstrak

Abstract

IMOBILISASI DITIZON PADA KITOSAN DAN APLIKASINYA UNTUK

PENURUNAN KADAR ION Pb

2+

Dina Amalina*), Eko Budi Susatyo dan Ella Kusumastuti

Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang

Gedung D6 Kampus Sekaran Gunungpati Telp. (024)8508112 Semarang 50229

Sejarah Artikel: Diterima Pebruari 2017 Disetujui Maret 2017 Dipublikasikan Mei 2017

Ion Pb2+adalah ion logam berat beracun dan berbahaya. Kitosan dapat berfungsi sebagai adsorben namun kapasitas adsorpsinya masih kecil. Salah satu usaha untuk meningkatkan kapasitas adsorpsinya adalah dengan mengimobilisasi ditizon pada kitosan karena terdapat gugus S=C dan -NH yang berperan sebagai pembentuk khelat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik kitosan, kitosan terimobilisasi ditizon, dan kitosan terimobilisasi ditizon setelah mengadsorpsi ion Pb2+ menggunakan FT-IR, dan aplikasi kitosan terimobilisasi ditizon untuk penurunan kadar ion Pb2+pada pH, waktu kontak dan konsentrasi optimum. Metode adsorpsi yang digunakan adalah metode batch. Hasil spektra kitosan terimobilisasi ditizon muncul gugus S=C dari ditizon pada bilangan gelombang 1380,77 cm-1 dan pada kitosan terimobilisasi ditizon setelah mengadsorpsi ion Pb2+, terjadi pergeseran bilangan gelombang dari 1380,77 menjadi 1354 cm-1 karena gugus S=C telah mengikat ion Pb2+, yaitu C=S-Pb. Proses adsorpsi ion Pb2+diperoleh kapasitas adsorpsi sebesar 17,54 mg/g untuk kitosan dan 27,03 mg/g untuk kitosan terimobilisasi ditizon.

Alamat korespondensi: E-mail: [email protected] Kata Kunci: ditizon ion Pb2+ kitosan

kitosan terimobilisasi ditizon

Pb2+ion is a toxic and hazardous heavy metal ion. Chitosan can be used as an adsorbent but its adsorption capacity tend to be small. One of the way to increase the adsorption capacity is to immobilize it with dithizone because it has S=C and -NH group as chelating agents. The purpose of this study is to determine the characteristics of chitosan, immobilized chitosan, and dithizone-immobilized chitosan after adsorbing Pb2+ ion using FT-IR, and application of dithizone-immobilized chitosan to decrease Pb2+ content at a pH, contact time, and the optimum concentration. Batch method is used for adsorption. The result showed that FT-IR spectra on dithizone-immobilized chitosan appears the S=C group of dithizone at wavenumber 1380.77 cm-1 and on dithizone-immobilized chitosan after absorbing Pb2+ion, the wavenumber changed from 1380.77 cm-1to 1354 cm-1 because the S=C group has bound the Pb2+ ion, C=S-Pb. The adsorption process of Pb2+ion, adsorption capacity obtained at 17.54 mg/g for chitosan and 27.03 mg/g for dithizone-immobilized chitosan.

(2)

Pendahuluan

Pencemaran lingkungan pada perairan disebabkan oleh adanya ion logam berat yang berasal dari limbah industri. Limbah cair pada industri memberikan kontribusi terhadap pele-pasan logam berat beracun di dalam air. Ion Pb2+ adalah ion logam berat beracun dan ber-bahaya. Menurut Akintola, et al. (2015), metode adsorpsi merupakan salah satu metode untuk mengurangi ion logam berat yang paling seder-hana, murah, efektif dan dapat digunakan secara luas.

Kitosan merupakan polimer alam kedua yang melimpah setelah selulosa (Hua, et al.; 2016). Kitosan dapat digunakan sebagai adsor-ben untuk logam berat karena memiliki gugus amina yang reaktif dan khelasi yang stabil (Reddy dan Lee; 2013). Ketkangplu, et al. (2005), telah melakukan adsorpsi ion logam dengan metode prekonsentrasi menggunakan kitosan sebagai adsorben namun kurang selektif karena penyerapan relatif kecil. Gyananath, et al. (2012), juga telah melakukan adsorpsi logam berat menggunakan kitosan bead dan kitosan terikat silang. Hasilnya menunjukkan kitosan yang berikatan silang mampu menyerap ion logam pada pH rendah dan kitosan bead larut dalam pH rendah. Maka perlu adanya modifi-kasi pada kitosan untuk meningkatkan kemam-puannya dalam adsorpsi dan tidak larut pada pH rendah.

Menurut Rohyami (2013), modifikasi ad-sorben dapat dilakukan dengan menggunakan ligan organik untuk meningkatkan kapasitas adsorpsi dan selektifitas pemisahan. Salah satu ligan yang dapat digunakan adalah ditizon yang sangat sensitif terhadap logam Pb, Cd, dan Cu karena banyak mengandung atom donor -NH, dan kelompok -SH (Mudasir, et al.; 2008). Metode Penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah neraca digital HR­200, hotplate mag­ netic stirrer SM­22 termoline, AAS PinAAcle 900F Perkin Elmer, FT-IR Spectrometer Frontier Perkin Elmer, oven, ayakan 100 mesh, kertas saring Whatman, buret, orbital shaker, dan pH-meter. Bahan yang digunakan meliputi natrium hidrok-sida, asam asetat, kloroform, asam nitrat, diti-zon, buffer posfat, buffer nitrat, plumbum nitrat dengan grade pro analyst buatan Merck serta aquades dan kitosan.

Pembuatan kitosan bead dengan menetes-kan larutan kitosan ke dalam larutan NaOH 1 M. Kitosan bead direndam dalam larutan ditizon kloroform 0,05% selama 6 hari. Metode

adsorpsi yang digunakan adalah metode batch dengan variasi penentuan pH, waktu kontak dan konsentrasi larutan yang optimum. Filtrat hasil optimasi dianalisis menggunakan AAS. Selanjutnya kitosan terimobilisasi ditizon yang telah terkontak dengan ion Pb2+ dianalisis menggunakan FT-IR.

Hasil dan Pembahasan

Serbuk kitosan yang dipakai didapat dari PT. Ocean Fresh dengan derajat deasetilasi >80% dan kelarutan dalam asam asetat 1% adalah >99%. Dalam penelitian ini larutan kitosan dalam asam asetat yang diperoleh, diteteskan menggunakan buret 100 mL ke dalam larutan NaOH 1 M sehingga terbentuk bead sesuai bentuk tetesan dari buret yang digunakan. Penggunaan buret dalam langkah ini supaya waktu yang terpakai lebih efisien. Proses imobilisasi dilakukan selama 6 hari dengan mengeringkan kitosan bead terlebih dahulu untuk memaksimalkan ditizon mengikat pada kitosan. Kemudian kitosan dan kitosan terimo-bilisasi ditizon dianalisis menggunakan FT-IR. Hasil spektra FT-IR kitosan dan kitosan terimobilisasi ditizon dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1.Hasil spektra inframerah (A) kitosan terimobilisasi ditizon dan (B) kitosan

Pada kitosan terimobilisasi ditizon ter-dapat gugus baru pada bilangan gelombang 1380,77 cm-1 yang menunjukkan adanya gugus S=C yang diduga berasal dari ditizon yang terikat pada kitosan. Pada kitosan terimobilisasi ditizon masih terdapat puncak pada bilangan gelombang 3435,14 cm-1 yang dapat diprediksi sebagai gugus -OH dan gugus N-H pada bilangan gelombang tersebut tidak ada karena sudah berikatan dengan ditizon. Menurut Dongre, et al. (2012), setelah kitosan dimodifi-kasi akan terjadi penurunan absorpsi yang signifikan pada gugus N-H stretching yaitu pada bilangan gelombang 3100-3500 cm-1 dan N-H bending pada 1400-1660 cm-1karena gugus N-H pada kitosan berikatan dengan yang akan dimodifikasi.

(3)

meliputi penentuan pH, waktu kontak, konsen-trasi optimum, dan kapasitas adsorpsi dilakukan pada masing-masing adsorben.

Gambar 2. Hubungan antara pH larutan Pb2+ dan adsorpsi Pb2+(mg/g) (A) kitosan terimobili-sasi ditizon dan (B) kitosan

Gambar 2. menunjukkan bahwa adsorpsi ion Pb2+ dengan kitosan maupun kitosan ter-imobilisasi ditizon dipengaruhi oleh pH awal larutan. Penentuan pH optimum pada kitosan dan kitosan terimobilisasi ditizon tidak ada per-bedaan yang sangat banyak. Keduanya opti-mum mengadsorpsi pada pH 5,5.

Gambar 3. Hubungan antara waktu kontak (menit) dan adsorpsi Pb2+ (mg/g) (A) kitosan terimobilisasi ditizon dan (B) kitosan

Gambar 3. menunjukkan adsorpsi ion logam meningkat dengan bertambahnya waktu kontak. Hal ini disebabkan karena semakin lama interaksi adsorben dengan adsorbat me-mungkinkan semakin banyaknya tumbukan yang terjadi antara kitosan maupun kitosan terimobilisasi ditizon dengan ion Pb2+, sehingga semakin banyak adsorbat yang terserap. Kedua adsorben optimum pada waktu kontak 75 menit dengan kitosan terimobilisasi ditizon mampu menyerap ion Pb2+lebih besar.

Gambar 4. menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi awal Pb2+maka semakin cepat laju adsorpsinya yang berarti semakin banyak jumlah ion logam yang teradsorpsi oleh kitosan dan kitosan terimobilisasi ditizon. Proses penye-rapan ion Pb2+oleh kitosan semakin meningkat

hingga konsentrasi 75 ppm, sedangkan pada konsentrasi 100 ppm dan 125 ppm, adsorpsi mengalami penurunan. Selanjutnya pada proses penyerapan ion Pb2+oleh kitosan terimobilisasi ditizon semakin meningkat hingga konsentrasi 100 ppm.

Gambar 4. Hubungan antara konsentrasi awal Pb2+(ppm) dan adsorpsi Pb2+(mg/g) (A) kito-san terimobilisasi ditizon dan (B) kitokito-san

Penentuan kapasitas adsorpsi ditentukan menggunakan model isoterm adsorpsi dengan data yang diperoleh dari penentuan konsentrasi optimum. Model isoterm adsorpsi yang diguna-kan adalah isoterm adsorpsi Langmuir dan isoterm adsorpsi Freundlich. Hasil data yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi yang diperoleh pada isoterm adsorpsi Langmuir lebih besar, yaitu sebesar 0,953 untuk kitosan dan 0,911 untuk kitosan terimobilisasi ditizon.

Tabel 1.Parameter adsorpsi Langmuir

Tabel 1. menunjukkan bahwa harga kapa-sitas adsorpsi kitosan dan kitosan terimobilisasi ditizon dalam menyerap ion Pb2+ sebesar 17,5438 mg/g dan 27,0270 mg/g. Konstanta kesetimbangan yang dihasilkan pada adsorpsi ini sebesar 4825,80 untuk kitosan dan 3308,68 untuk kitosan terimobilisasi ditizon. Kitosan terimobilisasi ditizon memiliki kapasitas penye-rapan lebih besar karena kitosan terimobilisasi ditizon memiliki ligan tambahan untuk menye-rap ion Pb2+ yaitu S=C yang berasal dari ditizon.

Kitosan dan kitosan terimobilisasi ditizon yang telah dikontakkan dengan ion logam Pb2+ selanjutnya dilakukan karakterisasi gugus fung-sionalnya dengan menggunakan spektrofoto-meter infra merah atau FT-IR. Spektra infra-merah yang dihasilkan dapat dilihat pada

(4)

Gambar 5.

Gambar 5. Spektra inframerah setelah terkon-tak ion Pb2+(A: kitosan, B: kitosan-ditizon, C: kitosan-ion Pb2+, D: kitosan-ditizon-ion Pb2+)

Pada Gambar 5. kitosan dan kitosan ter-imobilisasi ditizon setelah mengadsorpsi ion Pb2+ terlihat mempunyai puncak-puncak yang tidak tajam. Pada spektra kitosan setelah meng-adsorpsi ion Pb2+ tidak muncul lagi gugus N-H pada bilangan gelombang 1455,93 cm-1. Hal ini dapat dikatakan bahwa gugus tersebut telah mengikat ion Pb2+. Pernyataan ini didukung oleh Dongre, et al. (2012), yang menyatakan bahwa gugus N-H pada kitosan memiliki peran penting dalam mengikat ion Pb2+. Spektra kitosan terimobilisasi ditizon setelah mengad-sorpsi ion Pb2+ tidak terdapat puncak yang menyatakan gugus S=C pada bilangan gelom-bang 1380,77 cm-1, tetapi terdapat bilangan gelombang 1354 cm-1 yang diinterpretasikan sebagai gugus C=S-logam. Logam tersebut adalah Pb. Bilangan gelombang yang menyata-kan gugus S=C bergeser dari bilangan gelom-bang pada 1380 cm-1menjadi 1354 cm-1. Hal ini terjadi karena gugus S=C yang terdapat pada ditizon mempunyai kemampuan mengikat ion logam dengan ikatan kovalen koordinasi. Pernyataan tersebut didukung oleh Faisal, et al. (2014), yang menyatakan bilangan gelombang 1352 cm-1 merupakan ikatan C=S-Bi. Jadi, dapat disimpulkan kitosan dan kitosan terimo-bilisasi ditizon dapat mengikat ion Pb2+ secara kimia, yaitu ikatan kovalen koordinasi. Gugus yang berperan untuk mengikat ion Pb2+ adalah N-H pada kitosan dan S=C pada kitosan ter-imobilisasi ditizon.

Simpulan

Perbedaan karakterisasi kitosan bead dan kitosan bead terimobilisasi ditizon terletak pada adanya gugus S=C pada kitosan terimobilisasi ditizon pada bilangan gelombang 1380,77 cm-1. Aplikasi penurunan kadar ion Pb2+ mengguna-kan kitosan dan kitosan terimobilisasi ditizon optimum pada pH 5,5 dan waktu kontak 75 menit. Kitosan optimum menyerap ion Pb2+ pada konsentrasi 75 ppm dengan kapasitas adsorpsi 17,5438 mg/g dan kitosan terimobili-sasi ditizon optimum menyerap ion Pb2+ pada

konsentrasi 100 ppm dengan kapasitas adsorpsi sebesar 27,0270 mg/g. Karakterisasi kitosan yang telah mengadsorpsi ion Pb2+ dengan hilangnya gugus N-H bending dapat dikatakan gugus tersebut sudah mengikat ion Pb2+. Pada kitosan terimobilisasi ditizon yang telah mengadsorpsi ion Pb2+, bilangan gelombang yang menyatakan gugus S=C bergeser dari 1380 cm-1 menjadi 1354 cm-1, maka dapat diartikan gugus S=C tersebut berubah menjadi C=S-Pb. Daftar Pustaka

Akintola, O., T. Saleh, M. Khaled, dan Al-Hamous. 2015. Removal of Mercury(II) Via a Novel Series of Cross-Linked Poly Dithiocarbamates. Journal Taiwan Institute of Chemical Engineers, 000(1): 1-15

Allen, C.V., L. Destiarti., dan T.A. Zaharah. 2014. Recovery Timbal dengan Ekstraksi Fase Padat Menggunakan Kitosan Terimo-bilisasi Ditizon. Jurnal Kimia Khatulistiwa, 3(2): 1-6

Dongre, R., M. Thakur., D. Ghugal., dan J. Meshram. 2012. Bromine Pretreated Chi-tosan for Adsorption of Lead(II) from Water. Journal Bulletin Material of Science, 35(5): 875-884

Faisal, M., A. Ismail., F. Harraz., H. Bouzid., S. Al-Sayari., dan A. Al-Hajry. 2014. Highly Selective Colorimetric Detection and Pre-concentration of Bi(III) Ions by Dhitizone Complexes Anchored onto Mesoporous TiO2. Journal Nanoscale Research Letters, 9(62): 1-7

Gyananath, G., dan D.K. Bahlal. 2012. Removal of Lead(II) from Aqueous Solu-tions by Adsorption onto Chitosan Beads. Journal Cellulose Chemistry and Technology, 46(1-2): 121-124

Hua, W., L. Yimin., X. Weiyuan., C. Zhixian., G. Xingwen., dan H. Jianying. 2016. Batch Affinity Adsorption of His-Tagged Proteins with EDTA-Based Chitosan. Journal Applied Microbioligy Biotechnology, 100: 879-891

Ketkangplu, P., P. Chanyut., dan F. Unob. 2005. Preconcentration of Heavy Metals from Aqueous Solution using Chitosan Flake. Journal Sains Res Chula University, 30(1): 87-95

Mudasir., G. Raharjo, I. Tahir., dan E.T. Wahyuni. 2008. Immobilization of Dithi-zone onto Chitin Isolated from Prawn Seawater Shells (P. Merguensis) and Its Preliminary Study for the Adsorption of Cd(II) Ion. Journal Physical Science, 19(1): 63-78

Reddy, D., dan S. Lee. 2013. Synthesis and Characterization of a Chitosan Ligand for The Removal of Copper from Aqueous Media. Journal Applied Polymer Science, 130: 4542-4550

(5)

Penentuan Cu, Cd, dan Pb dengan AAS Menggunakan Solid Phase Extraxtion. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan, 2(1): 19-25

Setyaningrum, D., E.B. Susatyo., dan M. Alauhdin. 2014. Sintesis Membran Kito-san-Silika Abu Sekam Padi untuk Filtrasi Ion Cd2+ dan Cu2+. Indonesian Journal of Chemical Science, 3(1): 75-80

Referensi

Dokumen terkait

Suatu pakaian atau trend mode dapat menjadi sarana bagi seorang remaja untuk dapat lebih diterima oleh teman – teman sebayanya dan seseorang yang pakaiannya tidak sesuai dengan

dibandingkan yang tidak menyelenggarakannya. Dapat disimpulkan bahwa minimnya program lieterasi, baik secara inklusi maupun ekslusi berdampak pada ketidak pastian dan

Skripsi dengan judul Pemahaman Pasien Tentang Diabetes dan Obat Antidiabetes Oral Pada Pasien Rawat Jalan RS Bhayangkara ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu

Pada posttest sikap siswa kelas 5 sekolah dasar dalam pencegahan DBD, kedua kelompok tersebut menunjukan perbedaan yang bermakna, dimana nilai median pada kelompok dengan

Melalui program IbIKK Pupuk Fosfat-Plus Universitas Papua dalam jangka panjang diharapkan dapat menyediakan pupuk organik bagi kebutuhan petani untuk meningkatkan

SATUAN KERJA DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH

 Mik Mikro roor organ ganism isme e ya yang ng men menem embus bus pert pertaha ahanan nan mek mekani anik k nonspesifik masih dapat dieliminasi oleh

IPSRS dalam tugasnya melaksanakan pemeliharaan sarana medik, dan non medik baik berupa pemeliharaan maupun perbaikan kecil untuk seluruh bangunan rumah sakit yang mencakup