Model Ketersediaan Jagung Nasional Mendukung Swasembada Pangan
Sumarni Panikkai1, Rita Nurmalina2, Sri Mulatsih2, Handewi P. Saliem3
1) Balai Penelitian Tanaman Serealia 2) Dosen Fakultas Ekonomidan Managemen IPB 3) Peneliti Pusat Studi Ekonomidan Kebijakan Pertanian
Jl. Dr. Ratulangi No. 274 Maros, Sulawesi Selatan E-mail: [email protected]
Abstrak
Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia. Jagung dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan, dan bahan baku industri. Kebutuhan akan jagung semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Metode pengumpulan data adalah studi literatur dengan mengumpulkan data sekunder terkait produksi jagung nasional dalam kurun waktu 2010-2015. Metode analisis data menggunakan pendekatan sistem dinamik. Hasil penelitian diperoleh bahwa model skenario yang dikembangkan dengan skenario 1 (intensifikasi lahan) dan skenario 2 (ekstensifikasi lahan), mampu menjawab kebijakan terhadap ketersediaan jagung nasional. Hasil skenario 1 yaitu grafik ketersediaan menunjukkan defisit sebesar 11,69 juta ton pada tahun 2015. Hasil skenario 2 Grafik ketersediaan menunjukkan defisit sebesar 13,31 juta ton pada tahun 2015 dan pada tahun 2026 surplus sebesar 169.249,54 ton. Skenario 3 merupakan skenario kombinasi antara program ekstensifikasi dengan program intensifikasi. Grafik ketersediaan menunjukkan defisit sebesar 11,69 juta ton pada tahun 2015 dan pada tahun 2020 surplus sebesar 108.057 ton. Peningkatan produktivitas lahan rata-rata 2,0 ton/hektar akan berimplikasi pada berbagai upaya peningkatan produktivitas lahan seperti; program benih unggul, peningkatan pemupukan dan lain-lain.
Kata kunci: sistem dinamis, ketersediaan, jagung. Abstract
Corn is one of the food crops that have a strategic role in the development of agriculture and the economy of Indonesia. Corn can be used for food, feed and industrial raw materials. Demand of corn increases with population growth. Methods of data collection is the literature study by collecting secondary data related to national maize production in the period 2010-2015. Methods of data analysis used dynamic system approach. The result showed that the model scenarios were developed with scenario 1(intensification of land) and scenario 2 (extension of land), were able to answer the national policy on the availability of corn. Results of scenario 1 was a graph showing a deficit availability of 11.69 million tons in 2015. The results of scenario 2 graph availability showed a deficit of 13.31 million tons in 2015 and in 2026 the surplus amounted to 169,249.54 tons. Scenario 3 was the combination scenario between extension and intensification program. Availability graph showed a deficit of 11.69 million tons in 2015 and in 2020 a surplus of 108 057 tonnes. The increase in land productivity on average 2.0 tonnes / hectare will have implications in various efforts of improving productivity, such as; superior seed program, improved fertilization and so on.
Key words: dynamic system, availability, corn
utama (60%) dalam pakan, dengan pesatnya perkembangan industri peternakan, diperkirakan lebih dari 57% kebutuhan jagung dalam negeri digunakan untuk pakan, sedangkan untuk konsumsi pangan hanya sekitar 30%, dan selebihnya untuk kebutuhan industri lainnya (Dirjen Tanaman Pangan 2010).
Berdasarkan pangsa produksi jagung tahun 2014, provinsi utama penghasil jagung di
Pendahuluan
Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia. Komoditas ini mempunyai fungsi multiguna,untuk pangan (food), pakan (feed), bahan bakar (fuel) dan bahan baku industri. Jagung merupakan komponen
Indonesia adalah Porvinsi Jawa Timur (30,93%), Jawa Tengah (15,89%), Lampung (9,26%), Sulawesi Selatan (7,26), Sumatera Utara (6,75%), Jawa Barat (5,43%), Nusa tenggara Timur (3,73), Gorontalo (3,5), Nusa Tenggara Barat (3,4%) dan Sumatera Barat (2,95%), (BPS 2015).
Kebutuhan jagung untuk industri pakan mengalami pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan produksi jagung dalam negeri. Sebelum tahun 1980, jagung hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi langsung atau sebagai pangan. Tahun 1990, penggunaannya sudah mulai bertambah untuk industri baik pangan maupun pakan, setelah tahun 2002 penggunaan jagung lebih banyak untuk industri pakan. Gambaran ini mengindikasikan bahwa orientasi pengembangan jagung kedepan lebih diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan industri pakan dan pangan, mengingat produk kedua industri ini merupakan barang normal (elastis terhadap peningkatan pendapatan), sebaliknya merupakan barang inferior dalam bentuk jagung konsumsi langsung seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat (Purwanto 2007).
Tingginya permintaan jagung nasional, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun untuk kebutuhan bahan baku industri pangan, pakan dan kebutuhan benih, seiring dengan pertumbuhan penduduk, maka ketersediaan (stock) jagung nasional menjadi sangat penting agar tidak bergantung pada impor. Kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) jagung nasional haruslah senantiasa dapat terjaga agar tidak terjadi kelangkaan disatu sisi dan
over-supply disisi yang lain. Agustian (2012)
menyatakan bahwa ketersediaan pasokan jagung akan sangat mempengaruhi industri peternakan secara luas. Bila pasokan bahan baku jagung mengalami kelangkaan akan berakibat pada stagnasi ketersediaan bahan baku bagi industri pakan ternak maupun industri pangan. Sebaliknya dengan adanya kecukupan bahan baku jagung akan mendorong kelancaran ketersediaan pakan ternak.
Aplikasi sistem dinamik dalam mengestimasi tingkat kebutuhan dan ketersediaan jagung nasional menjadi sangat penting, mengingat sistem dinamik dapat memproyeksi keduanya dimasa yang akan datang. Dukungan pengembangan ketersediaan jagung nasional oleh pemerintah dituangkan dalam kebijakan/ program yang dilakukan pemerintah UPSUS Pajale, dimana tujuan utamanya adalah peningkatan produksi jagung nasional untuk memenuhi kebutuhan jagung.
Penelitian bertujuan untuk: (1) menganalisis model ketersediaan jagung nasional dengan pendekatan system dinamis (2) merumuskan strategi dan kebijakan mendukungketersediaan jagung nasional.
Bahan dan Metode
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang terkait supply-demand jagung di tingkat nasional. Sumber data diperoleh dari laporan, buku statistik pertanian dan sekunder lainnya.
Tabel 1. Jenis dan sumber data yang digunakan
No Jenis data Sumber data
1 Data produksi jagung nasional (ton) Kementan Pertanian (2010-2015) 2 Data luas lahan tanaman jagung (hektar) Kementan Pertanian (2010-2015) 3 Tingkat produktivitas lahan jagung nasional (ton/ha) Kementan Pertanian (2010-2015) 4 Luas potensi lahan jagung nasional (hektar) Kementan Pertanian (2010-2015) 5 Harga jagung nasional di tingkat petani (Rupiah) BPS 2015
6 Volume kebutuhan jagung konsumsi (kg/perkapita/thn) BPS 2015 7 Volume kebutuhan jagung bahan baku industri pakan
dan pangan (ton) BPS 2015
No Jenis data Sumber data 9 Volume tingkat kebutuhan jagung nasional (ton) BPS 2015
Simulasi Kebijakan
Kebijakan termasuk merancang strategi baru, menyusun dan memutuskan suatu aturan (Sterman,2000; Coyle, 1996). Model dinamika pengembangan ketersediaan jagung menggunakan simulasi dari target swasembada jagung nasional. Skenario dimasukkan untuk memperoleh suatu model terbaik dengan melakukan perubahan pada struktur dan variabel serta mempertimbangkan waktu. Dalam penelitian ini skenario dibuat dalam 2 bagian yakni a) Skenario-1; peningkatan produksi (melalui ekstensifikasi sebesar 2% dari rata-rata tahun sebelumnya yakni dari 4% menjadi 6% per tahun). b) Skenario-2; dengan melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi(peningkatan rata-rata produktivitas lahan sebesar 1 ton per hektar). Untuk melihat sistem ketersediaan jagung dibuat diangram lingkar sebab akibat yang menggambarkan keterkaitan hubungan antar sistem penyediaan dan sistem kebutuhan jagung, serta komponen atau elemen yang berinteraksi di dalam sistem seperti pada (Gambar 1).
Model Causa Loop Diagram diadopsi dari ketersediaan beras nasional Indonesia dalam disertasi (Nurmalina 2007) dan di modifikasi berdasarkan karakteristik atau kondisi pada komoditi jagung.
Metode Analisis Data
Analisis data menggunakan pendekatan sistem dinamik dengan menggunakan tahun dasar dalam model adalah tahun 2015. Validasi model menggunakan uji validitas kinerja/output model. Validasi kinerja model menggunakan MAPE (Mean Absolute Percentage Error). Uji validitas kinerja model dilakukan untuk menilai apakah kinerja model yang ada tersebut dapat mewakili sistem yang ada dilapangan
Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode, salah satunya metode uji MAPE atau nilai tengah kesalahan persentase absolut dengan rumus. Batas penyimpangan yang dapat diterima adalah 5% (Morecroft 2007). % 100 1
∑
− = x X X X n MAPE d d mDiagram sebab akibat model ketersediaan jagung nasional dijelaskan pada Gambar 1. Terdapat dua macam hubungan causal loop diagram, yaitu hubungan kausal positif dan negatif. Struktur umpan positif menghasilkan perilaku pertumbuhan sedangkan umpan balik negatif, menghasilkan perilaku menuju sasaran (Coyle,1996; Muhammadi et al. 2001).
S Perluasan lahan Luas Tanam Konversi Lahan GAP Produksi Jagung S O S S Produktivita s Delay Produksi S Potensi Lahan S Luas Panen S O tingkat konsumsi Konsumsi Jagung S S S Koefisien konsumsi Kebutuhan Total S Tingkat kebutuha n pakan Kebutuhan Industri Pangan S S S Koefisien KIP Tingkat kebutuhan pakan Kebutuhan Bahan Pakan S S S Koefisien KBP S S S Koefisienkonversi S S O penyediaan Impor S S KETERSEDIAAN S S Kebutuhan O Ekspor S S Koef. perluasan Kebutuhan benih Tingkat kebutuhan pakan Koef. KB I P
Hasil dan Pembahasan
Validasi Model
Analisis sistem dinamis dalam ketersediaan jagung nasional bertujuan untuk mengetahui dinamika perilaku produksi dalam memenuhi kebutuhan jagung nasional yang meliputi; kebutuhan konsumsi, kebutuhan bahan pakan dan kebutuhan industri pangan. Model yang dikembangkan merupakan model dinamik dengan data basis tahun 2010-2015. Model dikembangkan dengan 2 model meliputi; sub-model produksi, sub-sub-model kebutuhan.
Model yang baik adalah model yang merepresentasikan kondisi sebenarnya, atau model yang memiliki kemiripan dengan kondisi aktual (Muhammadi et al. 2001). Uji validasi
dilakukan terhadap 2 sub model utama yakni; sub-model produksi dan sub-model kebutuhan. 1. Validasi Sub-Model Produksi, nilai MAPE
validasi sub model produksi 3,19% yang menunjukkan nilai yang kurang dari 5%, dis-impulkan bahwa simulasi sub-model produksi yang dilakukan valid dan sangat tepat sesuai dengan dunia nyatanya.
2. Validasi Sub-Model Kebutuhan, validasi sub-model kebutuhan jagung diperoleh 1,89% yang menunjukkan nilai yang kurang dari 5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa simulasi sub-model kebutuhan jagung yang dilakukan valid dan sangat tepat sesuai den-gan dunia nyatanya (Gambar 2).
Gambar 2. Grafik validasi sub-model penyediaan dan kebutuhan
Perilaku model merupakan penggambaran pola/dinamika dari model yang dibangun. Simulasi model dilakukan dalam kurun waktu tahun 2010 hingga 2016. Simulasi tersebut meliputi; simulasi sub-model penyediaan dan simulasi sub-model kebutuhan
Perilaku sub-model penyediaan dimaksudkan untuk melihat pola dinamika dari simulasi produksi dalam kurun waktu 2010-2015, guna memenuhi kebutuhan jagung nasional. Produksi sangat ditentukan oleh pertambahan luas lahan tanam dan produktivitas lahan.
Gambar 3. (a) produksi jagung, (b) Total Kebutuhan Jagung pada kondisi aktual tahun 2010-2015
dan peningkatan produktivitas (intensifikasi). Potensi lahan untuk tanaman jagung yang mencapai 17.757.652 ha termasuk untuk lahan sawah dan lahan kering, yang hingga tahun 2015 baru dapat ditanami seluas 4.131.676 ha. Demikian pula halnya untuk tingkat produktivitas lahan yang saat ini baru mencapai rata-rata 4,81 t/ha, sedangkan potensi produktivitas jagung bisa mencapai >10 t/ha.
Perilaku sub-model kebutuhan dimaksudkan untuk melihat pola dinamika dari simulasi kebutuhan jagung nasional yang meliputi; kebutuhan untuk konsumsi, kebutuhan untuk bahan pakan, kebutuhan untuk industri pangan dan kebutuhan untuk benih, dalam kurun waktu 2010-2015. Kebutuhan jagung nasional sangat ditentukan oleh tingkat pertumbuhan penduduk, tingginya diversifikasi pangan berbahan dasar jagung, kebutuhan akan pakan ternak dan kebutuhan benih. Berdasarkan data Kementerian Produksi jagung nasional dalam kurun waktu
5 tahun (2010-2015) menunjukkan produksi yang mengalami pertumbuhan eksponential (Gambar 3a). Produksi jagung nasional pada tahun 2015 mencapai 23.176.826 ton, sedangkan total kebutuhan 37,40 juta ton Dengan demikian dibutuhkan peningkatan produksi jagung nasional, sehingga bisa memenuhi kebutuhan nasional.
Produksi jagung nasional dalam kurun waktu 5 tahun (2010-2015) menunjukkan produksi yang mengalami pertumbuhan eksponential (Gambar 3a). Produksi jagung nasional pada tahun 2015 mencapai 23.176.826 ton, sedangkan total kebutuhan 37,40 juta ton Dengan demikian dibutuhkan peningkatan produksi jagung nasional, sehingga bisa memenuhi kebutuhan nasional.
Peningkatan produksi jagung nasional dapat dilakukan dengan peningkatan faktor produksi seperti, penambahan areal tanam (ekstensifikasi)
Pertanian tahun 2015, total kebutuhan jagung nasional mencapai 37.596.570 ton, dimana untuk konsumsi 18.326.249 ton, untuk bahan pakan 16.885.118 ton, untuk industri pangan sekitar 501.634 ton dan untuk kebutuhan benih 40.577 ton. Grafik pertumbuhan kebutuhan jagung nasional dalam kurun waktu 2010-2015 ditunjukkan pada Gambar 3(b)
Dilihat dari Gambar 3(b) menunjukkan bahwa model kebutuhan jagung, menunjukkan tren atau pola exponential growth, yakni kebutuhan jagung mengalami peningkatan seiring pertambahan waktu. Pertumbuhan signifikan terus terjadi hingga tahun 2015, terlebih lagi untuk tingkat kebutuhan jagung sebagai bahan pakan dan industri pangan. Sedangkan perilaku model untuk kebutuhan konsumsi relatif stabil dengan peningkatan yang terjadi relatif lambat. Kebutuhan akan jagung nasional tahun 2015 diperkirakan mencapai 17,38 juta ton, 16,61 juta ton untuk industry pakan dan selebihnya untuk industry pangan.
Simulasi Kebijakan penyediaan dan
kebutuhan jagung Nasional
Analisis penyediaan dan kebutuhan jagung dimak udkan untuk melihat pola dinamika dari simulasi antara produksisebagai penyediaan dan kebutuhan jagung nasional dalam kurun waktu 2015-2030. Ketersediaan menjadi sangat penting, khususnya dalam penetapan kebijakan nasional untuk pengembangan komoditi jagung. Perimbangan antara supply (produksi) dan demand (kebutuhan) menjadi sangat penting, karena jaminan ketersediaan akan memberikan nilai
tambah (added value), khususnya dalam industri pengolahan berbahan dasar jagung. Kebutuhan akan jagung nasional pada tahun 2016 sebesar 38,04 juta ton dengan penyediaan jagung sebesar 21,87 juta ton, belum mampu memenuhi kebutuhan.
Hasil simulasi dapat dilihat pada gambar bahwa penyediaan jagung nasional memiliki kecenderungan meningkat, sementara itu kebutuhan jagung mengalami pertumbuhan (growth) yang lebih cepat sebagai akibat semakin meningkatnya permintaan industri yang cukup tinggi, sehingga grafik kebutuhan jagung nasional selalu berada di atas grafik penyediaan jagung nasional selama simulasi
Model Aktual
Simulasi model dimaksudkan untuk melihat perubahan perilaku model dalam kurun waktu tertentu (2015-2030), dengan serangkaian intervensi terhadap model (variabel) yang ada untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam hal ini memenuhi kebutuhan jagung nasional.
Hasil simulasi penyediaan jagung dan kebutuhan jagung untuk model aktual secara kuantitatif diketahui bahwa pada tahun 2015 neraca ketersediaan jagung nasional terlihat defisit sebesar 15,56 juta ton, bila tidak dilakukan kebijakan, maka ketersediaan jagung nasional ini defisit selama periode simulasi dengan peningkatan yang cukup tinggi sehingga pada tahun 2030 terjadi deficit sebesar10,51 juta ton. Sementara itu kebutuhan jagung mengalami pertumbuhan eksponential lebih cepat daripada penyediaan, artinya produksi jagung tidak dapat memenuhi kebutuhan seperti pada Gambar 4.
Model Skenario 1 ( Peningkatan Intensifikasi )
Gambar 5. Grafik simulasi ketersediaan (skenario 1)
3,86 juta ton. Skenario 1 diangap masih relatif belum mampu memenuhi kebutuhan jagung nasional.
Model Skenario 2 (Peningkatan
Ekstensifikasi)
Skenario 2 ini merupakan peningkatan produksi jagung nasional melalui ekstensifikasi (perluasan areal lahan) dan menekan laju konversi lahan, misalnya dengan memanfaatkan lahan yang kosongdan non produktif, sesuai program pemerintah yaitu peningkatan areal panen 1 juta hektar/tahun. Upaya ini masih bisa dilakukan, mengingat masih terdapat potensi lahan 17.757.652 ha, khususnya untuk pulau di luar Jawa, seperti Sulawesi, Kalimantan dan Nusa Tenggara dan Papua.
Hasil simulasi scenario 1 terlihat pada Gambar 5, bahwa kebutuhan jagung nasional selama periode simulasi (2015-2030) terus meningkat sedangkan grafik penyediaan juga terlihat meningkat walaupun berada di bawah garis kebutuhan. Perubahan penyediaan jagung nasional melalui peningkatan produktivitas jagung dalam hal ini penerapan teknologi tepat guna (penggunaan benih unggul, peningkatan IP) menyebabkan ketersediaan semakin meningkat dan semakin mendekati surplus.
Hasil simulasi jagung nasional pada tahun 2015 menunjukkan bahwa kebutuhan akan jagung masih relatif tinggi dibandingkan dengan penyediaan sehingga ketersediaan masih deficit sebesar 11,69 juta ton dan pada akhir simulasi tahun 2030 defisit semakin berkurang sebesar
Hasil simulasi skenario 2 dapat dilihat pada Gambar 7, bahwa dengan upaya perluasan areal lahan dari produksi jagung nasional terlihat bahwa kebutuhan jagung selama periode simulasi (2015-2030) terus meningkat dengan pola eksponential growth, demikian juga dengan grafik penyediaan terus meningkat pada tahun 2026 berada diatas grafik kebutuhan yang menyebabkan ketersediaan mengalami suplus
sebesar 169.249,54 ton dan meningkat pada akhir simulasi tahun 2030 sebesar 2, 61 juta ton sehingga mampu memenuhi kebutuhan jagung. Awal simulasi tahun 2015 sampai tahun 2025 penyediaan jagung sebesar 24.80 juta ton, dengan kebutuhan sebesar 38.11 juta ton,sehingga ketersediaan jagung masih defisit sebesar 596.533 ton, dan pada tahun 2030 ketersediaan surplus sebesar 2.62 juta ton.
Model Skenario 3 (Gabungan Peningkatan Intensifikasi dan Ekstensifikasi)
Gambar 7. Grafik simulasi ketersediaan (skenario 3)
Skenario 3 yaitu gabungan skenario 1 dan 2 yaitu peningkatan intensifikasi produksi dan ektensifikasi lahan. Merupakan pengembangan dari skenario 1 dan 2, yaitu selain peningkatan produktivitas juga peningkatan ekstensifikasi. Dimana perbaikan intensifikasi dengan adanya peningkatan IP (intensitas pertanaman) dan ektensifikasi dengan perluasan lahan yang tidur, pemanfaatan hutan dan lain-lain. Perluasan lahan ini dapat dilakukan di luar jawa yang lahannya masih tersedia, potensial dan sesuai dengan potensi pengembangan jagung
Hasil simulasi skenario 3 dapat dilihat pada Gambar 7, bahwa kebijakan intensifikasi serta ekstensifikasi secara bersamaan dapat meningkatkan penyediaan jagung mencapai 25,93 juta ton pada awal simulasi pada tahun 2015 dan sebesar 59,65 juta ton pada akhir simulasi pada tahun 2030, sehingga dapat memenuhi
kebutuhan jagung nasional selama 15 tahun kedepan. Pada gambar dapat dilihat bahwa grafik penyediaan jagung yang selalu berada dibawah garis kebutuhan jagung nasional, dan meningkat selama periode analisis (2015-2030) artinya ketersediaan jagung nasional surplus setiap tahun. Pada tahun 2020 pada penyediaan jagung sebesar 40,76 juta hektar dan mampu diatas grafik kebutuhan. Artinya bahwa penyediaan jagung sudah mampu memenuhi kebutuhan. Hasil simulasi ini menunjukkan bahwa kegiatan pada periode simulasi, ketersediaan pada periode tahun 2015 masih defisit sebesar11,69 juta ton ha dan akhir simulasi surplus sebesar11,97 juta ton.
Keadaan ini menunjukkan bahwa kebijakan yang mendukung langsung berpengaruh pada system penyediaan jagung dapat meningkatkan penyediaan jagung yang dapat menyebabkan ketersediaan positif dan berkelanjutan.
Perbandingan antar skenario
Hasil simulasi perbandingan antar skenario dapat dilihat pada Gambar 9, bahwa selama periode simulasi pada tahun 2020 mulai
menunjukkan kenaikan diatas 1 juta ton per tahun dan skenario 3 dianggap relevan dan cukup handal untuk memenuhi kebutuhan jagungyang akan datang.
Gambar 8. Perbandingan ketersediaan dan penyediaanjagung antar skenario 1, 2 dan 3
Berdasarkan gambar 8, penyediaan jagung nasional skenario 3 yang tertinggi dengan pertumbuhan yang meningkat. Implikasi dari model ini adalah bahwa kebijakan peningkatan produktivitas,peningkatan IP dan ekstensifikasi. Hasil simulasi selama periode 2015-2030 kebutuhan jagung pada tahun 2015 sebesar 37,62 juta ton dan pada tahun 2030 sebesar 47,70 juta ton (26,73%) sedangkan penyediaan jagung pada tahun 2015 sebesar 25,93 juta ton dan pada tahun 2030 sebesar 59,65 juta ton (129,34%). Skenario model yang dikembangkan memberikan jawaban yang cukup baik terhadap pemenuhan kebutuhan jagung nasional. Potensi lahan yang sangat besar untuk tanaman jagung baik pada lahan kering maupun lahan tumpang sari menjadi sangat potensial untuk dikembangkan. Senada dengan hal tersebut Armando (2009) menyebutkan bahwa peningkatan produktivitas jagung pada lahan kering ultisol melalui penggunaan bokashi serbuk gergaji kayu dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi jagung nasional. Selain optimalisasi lahan yang telah ada disebutkan pula oleh Siagian dan Mangasa (2005) bahwa budidaya jagung lokal dan varietas unggul dengan memanfaatkan kelimpahan air embung dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi jagung di lahan kering.
Lebih jauh disebutkan pula oleh Mejaya et
al. (2008) bahwa pembentukan bibit unggul
menjadi sangat penting untuk peningkatan produktivitas jagung secara nasional. Dengan hibrida peningkatan produktivitas jagung dapat melalui dengan penggunaan varietas unggul baru termasuk varietas dan pemupukan yang berimbang, penerapan teknologi tepat guna.
Kesimpulan
Model dinamis pengembangan ketersediaan jagung nasionalmeningkatkan produksi jagung Nasional sebagai upaya memenuhi kebutuhan akan jagung nasional, menunjukkan trend atau pola pertumbuhan eksponensial (exponential
growth). Pola tersebut menggambarkan
bahwa terjadi peningkatan produksi jagung nasional seiring waktu. Strategi dan kebijakan penediaan jagung nasional masih bertumpu pada perluasan areal tanam dan peningkatan kualitas pemanfaatan input baik pada lahan eksisting maupun pada lahan bukaan baru.
Daftar Pustaka
Agustian A. 2012. Pengaruh harga dan infrastruktur terhadap penawaran output, permintaan input dan daya saing usahatani
jagung di Jawa Timur dan Jawa Barat. [Disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Armando, Y. G. 2009. Peningkatan produktivitas jagung pada lahan kering ultisol melalui penggunaan bokashi serbuk gergaji kayu. Akta Agrosia Vol 12 No. 2 hlm 124-129. BPS. 2015. Badan Pusat Statistik. 2015. Jakarta Coyle, R.G. 1996. System Dynamics Modelling:
Practical Approach, Chapman&Hall. London. Ditjen Tanaman Pangan. 2010. Direktorat Jenderal
Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. 2010. Jakarta.
Mejaya, M. J., M. Azrai, dan R. N. Iriany. 2008. Pembentukan varietas unggul jagung bersari bebas. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros.
Morecroft, J.D.W. 2007. Strategic Modeling and Business Dynamics: a FeedbackSystem Approach. England: John Wiley & Sons Ltd.
Muhammadi , E, Aminullah, B. Soesilo. 2001. Analisis Sistem Dinamik: Lingkungan Hidup Sosial, Ekonomi, Manajemen. Jakarta: UMJ Press.
Purwanto, S. 2007. Perkembangan produksi dan kebijakan dalam peningkatan produksi jagung. Dalam Jagung Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Litbang Pertanian, Puslitbangtan, Hal 456-461.
Nurmalina R. 2007. Model Neraca Ketersediaan Beras Yang Berkelanjutan Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional [Disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Siagian, M. H. 2005. Budidaya jagung lokal dan varietas unggul dengan memanfaatkan kelimpahan air embung di Ekafalo, Timur Tengah Utara, NTT, Balitbang Botani-LIPI, Bogor.
Sterman, J.D. 2000. Business Dynamics : System Thinking and Modelling for a Complex World. USA (US):McGraw-Hill.