Laporan Pengukuran Teknik

43 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

I.1

I.1 Latar Latar BelakangBelakang

Dalam suatu pengerjaan barang atau hasil produk tidak semuanya Dalam suatu pengerjaan barang atau hasil produk tidak semuanya dikatakan hasil yang baik dan sesuai dengan harapan. Beberapa diantaranya ada dikatakan hasil yang baik dan sesuai dengan harapan. Beberapa diantaranya ada yang cacat material, berat, suhu, dan lain-lain.

yang cacat material, berat, suhu, dan lain-lain.

Untuk mengklasifikasikan hasil produk yang cacat atau

Untuk mengklasifikasikan hasil produk yang cacat atau tidak salah satunyatidak salah satunya adalah dengan cara pengukuran. Oleh karena itulah pengukuran yang benar serta adalah dengan cara pengukuran. Oleh karena itulah pengukuran yang benar serta cara membaca skala yang ada pada alat ukur.

cara membaca skala yang ada pada alat ukur.

Beberapa parameter yang penting dalam menentukan dimensi suatu hasil Beberapa parameter yang penting dalam menentukan dimensi suatu hasil produksi antara lain seperti ketinggian, kedalaman, kerataan, diameter luar, dan produksi antara lain seperti ketinggian, kedalaman, kerataan, diameter luar, dan diameter dalam sangatlah diperlukan bagi suatu perusahaan dalam pembuatan diameter dalam sangatlah diperlukan bagi suatu perusahaan dalam pembuatan produk yang diinginkan sehingga dengan adanya latar belakang tersebut di atas, produk yang diinginkan sehingga dengan adanya latar belakang tersebut di atas, sangatlah penting pula diadakan praktikum pengukuran teknik.

sangatlah penting pula diadakan praktikum pengukuran teknik. I.2

I.2 Rumusan Rumusan MasalahMasalah a.

a. Bagaimana cara mengukur ketinggian, kedalaman, kerataan, diameter luar,Bagaimana cara mengukur ketinggian, kedalaman, kerataan, diameter luar, dan diameter dalam ?

dan diameter dalam ? b.

b. Apa fungsi dari Jangka sorong, Mikrometer, Bevel Protactor, DialApa fungsi dari Jangka sorong, Mikrometer, Bevel Protactor, Dial Indicator ?

Indicator ? I.3

I.3 Tujuan Tujuan PercobaanPercobaan

Tujuan dilakukan praktikum ini adalah : Tujuan dilakukan praktikum ini adalah : 1.

1. Mengetahui cara mengukur ketinggian, kedalaman, kerataan, diameterMengetahui cara mengukur ketinggian, kedalaman, kerataan, diameter luar, dan diameter dalam.

luar, dan diameter dalam. 2.

2. Mengetahui fungsi dari masing- masing alat ukur seperti Jangka Sorong,Mengetahui fungsi dari masing- masing alat ukur seperti Jangka Sorong, Mikrometer, Bevel Protactor, Dial Indicator.

Mikrometer, Bevel Protactor, Dial Indicator. I.4

I.4 Batasan Batasan MasalahMasalah I.4.1

I.4.1 Batasan Batasan Masalah Masalah pada pada Mikrometer, Mikrometer, Jangka Jangka Sorong, Sorong, dan dan Bevel Bevel Protactor Protactor :: a.

(2)

b.

b. Kondisi lingkuKondisi lingkungan konstangan konstan n atau tidak atau tidak berubah.berubah. I.4.2

I.4.2 Batasan Batasan Masalah Masalah pada pada Dial IDial Indicator ndicator dan dan Height Height Gauge Gauge :: a.

a. Alat ukur yang sudah dikalibrasi.Alat ukur yang sudah dikalibrasi. b.

b. Kondisi lingkungan konstan.Kondisi lingkungan konstan. c.

c. Permukaan meja dianggap rata.Permukaan meja dianggap rata. I.5 Manfaat

I.5 Manfaat 1.

1. Menambah pengetahuan bagi masing-masing praktikan tentang caraMenambah pengetahuan bagi masing-masing praktikan tentang cara pengukuran menggunakan alat ukur Jangka Sorong, Mikrometer, Bevel pengukuran menggunakan alat ukur Jangka Sorong, Mikrometer, Bevel Protactor, dan Dial Indicator.

Protactor, dan Dial Indicator. 2.

2. Menambah pengetahuan tentang kegunaan dari setiap alat ukur yangMenambah pengetahuan tentang kegunaan dari setiap alat ukur yang digunakan pada saat praktikum

digunakan pada saat praktikum PengukuraPengukuran Teknik.n Teknik. 3.

3. Sebagai prasyarat kelulusan mata kuliah Pengukuran Teknik.Sebagai prasyarat kelulusan mata kuliah Pengukuran Teknik. I.6

I.6 Sistematika Sistematika LaporanLaporan Pada laporan kali ini t

Pada laporan kali ini terdiri dari Abstraksi pada lembar pertama erdiri dari Abstraksi pada lembar pertama yang berisiyang berisi tentang ulasan dari latar

tentang ulasan dari latar belakang, dasar teori,dan metodologi.belakang, dasar teori,dan metodologi.

Pada Bab I Pendahuluan yang berisi tentang Latar belakang, Rumusan Pada Bab I Pendahuluan yang berisi tentang Latar belakang, Rumusan Masalah, Batasan Masalah, Tujuan, Manfaat, dan Sistematika laporan dari Masalah, Batasan Masalah, Tujuan, Manfaat, dan Sistematika laporan dari praktikum Pengukuran Teknik.

praktikum Pengukuran Teknik.

Bab II Dasar Teori yang berisi tentang pengertian dari Jangka Sorong, Bab II Dasar Teori yang berisi tentang pengertian dari Jangka Sorong, Mikrometer, Bevel protactor, dan Dial Indicator.

Mikrometer, Bevel protactor, dan Dial Indicator. Bab III Metodologi Percobaan

Bab III Metodologi Percobaan yang berisi tentang Langkah percobaan danyang berisi tentang Langkah percobaan dan peralatan yang digunakan dan Langkah-langkah Percobaan.

peralatan yang digunakan dan Langkah-langkah Percobaan.

Bab IV Analisa Data dan Pembahasan berisi tentang data acuan, data Bab IV Analisa Data dan Pembahasan berisi tentang data acuan, data praktikan,co

praktikan,contoh ntoh perhitungan, serta perhitungan, serta pembahasanpembahasan

Bab V Kesimpulan dan Saran yang berisi tentang Kesimpulan-kesimpulan Bab V Kesimpulan dan Saran yang berisi tentang Kesimpulan-kesimpulan serta saran-saran yang dapat disampaikan setelah melakukan percobaan serta saran-saran yang dapat disampaikan setelah melakukan percobaan Pengukuran Teknik.

(3)

BAB II BAB II DASAR TEORI DASAR TEORI II.1 Pengukuran II.1 Pengukuran II.1.1 Mikrometer II.1.1 Mikrometer

Pada pengukuran micrometer, hasil

Pada pengukuran micrometer, hasil pengukuran dengan menggunakanpengukuran dengan menggunakan alat ini biasanya lebih presisi daripada menggunakan jangka sorong. Akan tetapi, alat ini biasanya lebih presisi daripada menggunakan jangka sorong. Akan tetapi,   jangkauan ukuran micrometer jauh lebih kecil, yaitu sekitar 25 mm. Mirometer   jangkauan ukuran micrometer jauh lebih kecil, yaitu sekitar 25 mm. Mirometer memiliki ketelitian samapai 0,01 mm. Jangkauan ukuran micrometer adalah 0-25 memiliki ketelitian samapai 0,01 mm. Jangkauan ukuran micrometer adalah 0-25 mm, 25-0 mm, 50-75 mm, dan seterusnya. Cara membaca skala micrometer mm, 25-0 mm, 50-75 mm, dan seterusnya. Cara membaca skala micrometer adalah sebagai berikut :

adalah sebagai berikut :

-- Membaca angka skala utama/ barrel scaleMembaca angka skala utama/ barrel scale -- Membaca angka skala timbelMembaca angka skala timbel

-- Jumlahkan angka yang diperolehJumlahkan angka yang diperoleh

Gambar 2.1 Mikrometer Gambar 2.1 Mikrometer

II.1.2 Jangka Sorong II.1.2 Jangka Sorong

Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratu

seperseratus millimeter. s millimeter. Terdiri dari 2 Terdiri dari 2 bagian. Bagian diam dan bbagian. Bagian diam dan bagian pembacaanagian pembacaan hasil pengukuran. Bagian diam dan bagian pembacaan hasil pengukuran sangat hasil pengukuran. Bagian diam dan bagian pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian dari pengguna maupun alat. Sebagian bergantung pada keahlian dan ketelitian dari pengguna maupun alat. Sebagian produk baru dari jangka sorong sudah dilengkapi dengan display digital

(4)

analog. Umumnya tingkat ketelitian adalah 0,05 mm untuk jangka sorong di analog. Umumnya tingkat ketelitian adalah 0,05 mm untuk jangka sorong di bawah 30 cm dan 0,01 mm

bawah 30 cm dan 0,01 mm untuk jangka sorong diatas 30 cm.untuk jangka sorong diatas 30 cm.

Gambar 2.2 Jangka Sorong Gambar 2.2 Jangka Sorong

II.1.3 Dial Indicator II.1.3 Dial Indicator

Dial indicator adalah sebuah perangkat yang digunakan unutk  Dial indicator adalah sebuah perangkat yang digunakan unutk  mengukur increment sangat kecil. Hal ini digunakan dalam proses permesinan mengukur increment sangat kecil. Hal ini digunakan dalam proses permesinan untuk mengukur bagian logam presisi. Pada umumnya ada 3 jenis pengukuran. untuk mengukur bagian logam presisi. Pada umumnya ada 3 jenis pengukuran. Incremental digunakan oleh dial indicator dengan kenaikan terbesar 0,001 dan Incremental digunakan oleh dial indicator dengan kenaikan terbesar 0,001 dan pengukura

pengukuran paling akurat n paling akurat adalah 0,001 inch.adalah 0,001 inch.

Di dalam sebuah dial indicator terdapat komponen sebuah tali Di dalam sebuah dial indicator terdapat komponen sebuah tali sederhana dan peralatan sistem sayap terhubung kepinggir gigi

sederhana dan peralatan sistem sayap terhubung kepinggir gigi pinion.pinion.

Pembebanan pegas pluger adalah bagian dari mekanisme yang Pembebanan pegas pluger adalah bagian dari mekanisme yang melawan dan bereaksi dari dalam sistem gearing. Mekanisme ini tidak efektif  melawan dan bereaksi dari dalam sistem gearing. Mekanisme ini tidak efektif  pada batas perjalanan pluger indicator di setiap kualitas pada tempat semua pada batas perjalanan pluger indicator di setiap kualitas pada tempat semua berjalan di luar

(5)

Gambar 2.3 Dial Indicator Gambar 2.3 Dial Indicator

II.1.4 Bevel Protactor II.1.4 Bevel Protactor

Bevel Protactor adalah perkembangan dari protactor dengan sebuah Bevel Protactor adalah perkembangan dari protactor dengan sebuah atau dua buah logam yang bisa berputar. Alat ini digunakan untuk mengukur atau dua buah logam yang bisa berputar. Alat ini digunakan untuk mengukur sudut, berbeda dengan busur derajat yang mengukursudut antara 2 garis yang sudut, berbeda dengan busur derajat yang mengukursudut antara 2 garis yang berhubungan dan dibatasi oleh sudut maksimum 180. Bevel protactor ini dapat berhubungan dan dibatasi oleh sudut maksimum 180. Bevel protactor ini dapat mengukur benda kerja tanpa harus diketahui titik potongnya. Bevel protactor ini mengukur benda kerja tanpa harus diketahui titik potongnya. Bevel protactor ini   juga dapat mengukur obyek dengan sudut maksimum 360, karena alat ukur ini   juga dapat mengukur obyek dengan sudut maksimum 360, karena alat ukur ini

dilengkapi dengan lengan penggerak 360. dilengkapi dengan lengan penggerak 360.

Bevel protactor ini banyak dipakai pada gambar arsitektur dan Bevel protactor ini banyak dipakai pada gambar arsitektur dan mesin sebelum perangkat lunak CAD. Bentuk lain dari bevel protactor adalah mesin sebelum perangkat lunak CAD. Bentuk lain dari bevel protactor adalah bevel protactor yang banyak dipakai dalam

(6)

Gambar 2.4 Bevel Protactor Gambar 2.4 Bevel Protactor II.2

II.2 Sifat-Sifat Sifat-Sifat Alat Alat UkurUkur 1.

1. Rantai Kalibrasi (Chain Calibration)Rantai Kalibrasi (Chain Calibration)

Kalibrasi (peneraan) pada dasarnya serupa dengan pengukuran yaitu Kalibrasi (peneraan) pada dasarnya serupa dengan pengukuran yaitu membandingkan suatu besaran dengan besaran standar. Dlama kalibrasi membandingkan suatu besaran dengan besaran standar. Dlama kalibrasi yang diukur adalah yang objek ukur yang diketahui „ harga sebenarnya” yang diukur adalah yang objek ukur yang diketahui „ harga sebenarnya” yang menjadi acuan kalibrasi. Harga sebenarnya adalah harga yang yang menjadi acuan kalibrasi. Harga sebenarnya adalah harga yang dianggap

dianggap benar benar dalam dalam kaitannya kaitannya dengan dengan “tingkat “tingkat kebenaran” kebenaran” yangyang diperlukan oleh alat ukur yang dikalibrasi.

diperlukan oleh alat ukur yang dikalibrasi.

2.

2. Keterlacakan(Traceability)Keterlacakan(Traceability)

Dengan menjalankan system kalibrasi berantai, setiap alat ukur Dengan menjalankan system kalibrasi berantai, setiap alat ukur akan memiliki keterlacakan (Traceability) yaitu sampai sejauh mana mata akan memiliki keterlacakan (Traceability) yaitu sampai sejauh mana mata rantai kalibrasi dirangkai. Jika secara meyakinkan seorang dapat rantai kalibrasi dirangkai. Jika secara meyakinkan seorang dapat menyatakan bahwa keterlacakan suatu alat ukur (misalnya alat ukur kerja) menyatakan bahwa keterlacakan suatu alat ukur (misalnya alat ukur kerja) adalah sampai mata rantai ke 2 berarti

adalah sampai mata rantai ke 2 berarti alat ukur tersebut pernah dikalibrasialat ukur tersebut pernah dikalibrasi dengan memakai acuan standar kerja yang mana acuan standar kerja ini dengan memakai acuan standar kerja yang mana acuan standar kerja ini pernah dikalibrasi dengan alat ukur

(7)

Kecermatan alat ukur ditentukan oleh kecermatan skala dengan Kecermatan alat ukur ditentukan oleh kecermatan skala dengan cara pembacaannya. Bagi skala yang dibaca melalui garis indeks atau cara pembacaannya. Bagi skala yang dibaca melalui garis indeks atau  jarum penunjuk kecermatan alat ukur

 jarum penunjuk kecermatan alat ukur sama dengan kecermatan skala yaitusama dengan kecermatan skala yaitu arti jarak antar garis skala.

arti jarak antar garis skala.

4.

4. Kepekaan (Sensitivity)Kepekaan (Sensitivity)

Kepekaan alat ukur ditentukan terutama oleh bagian pengubah, Kepekaan alat ukur ditentukan terutama oleh bagian pengubah, sesuai dengan prinsip kerja yang diterapkan padanya. Dalam hal ini, sesuai dengan prinsip kerja yang diterapkan padanya. Dalam hal ini, kepekaan alat ukur adalah kemampuan alat ukur untuk menerima, kepekaan alat ukur adalah kemampuan alat ukur untuk menerima, mengubah dan meneruskan isyarat sensor (dari sensor menuju ke bagian mengubah dan meneruskan isyarat sensor (dari sensor menuju ke bagian penunjuk, pencatat atau pengolah data pengukuran).Secara matematis, penunjuk, pencatat atau pengolah data pengukuran).Secara matematis, kepekaan didefinisikan sebagai kemiringan grafik antara keluaran(output) kepekaan didefinisikan sebagai kemiringan grafik antara keluaran(output) sebagai fungsi masukan (input), yaitu : kepekaan = dy/dx.

sebagai fungsi masukan (input), yaitu : kepekaan = dy/dx.

5.

5. Keterbacaan (Readability)Keterbacaan (Readability)

Karena pengamat akan dapat lebih mudah dan cepat membaca Karena pengamat akan dapat lebih mudah dan cepat membaca hasil pengukuran, maka secara umum keterbacaan penunjuk digital hasil pengukuran, maka secara umum keterbacaan penunjuk digital dikatakan lebih tinggi

dikatakan lebih tinggi daripada keterbacaan skala dengan jarum penunjuk,daripada keterbacaan skala dengan jarum penunjuk, garis indeks, atau garis indeks dengan skala nonius. Istilah keterbacaan garis indeks, atau garis indeks dengan skala nonius. Istilah keterbacaan dalam metrology secara khusus lebih dikaitkan pada bagian penunjuk  dalam metrology secara khusus lebih dikaitkan pada bagian penunjuk  dengan skala.

dengan skala.

6.

6. HisterisisHisterisis

Histerisis adalah perbedaan atau penyimpangan yang timbul Histerisis adalah perbedaan atau penyimpangan yang timbul sewaktu dilakukan pengukuran secara berkesinambungan dari dua arah sewaktu dilakukan pengukuran secara berkesinambungan dari dua arah secara berlawanan (mulai dari 0 hingga skala maksimum kemudian secara berlawanan (mulai dari 0 hingga skala maksimum kemudian diulang dari skala maksimum sampai skala nol). Histerisis muncul karena diulang dari skala maksimum sampai skala nol). Histerisis muncul karena adanya gesekan pada bagian pengubah alat ukur.

(8)

7.

7. Kepasifan (Passivity)Kepasifan (Passivity)

Kepasifan dikaitkan dengan waktu yang digunakan Kepasifan dikaitkan dengan waktu yang digunakan “perjalanan isyarat” mulai dari sensor sampai pada penunjuk. Suatu alat “perjalanan isyarat” mulai dari sensor sampai pada penunjuk. Suatu alat ukur dapat memiliki kepekaan tinggi dengan kepasifan yang tinggi atau ukur dapat memiliki kepekaan tinggi dengan kepasifan yang tinggi atau sebaliknya, sebab antara kepekaan dan kepasifan tidak ada kaitannya. sebaliknya, sebab antara kepekaan dan kepasifan tidak ada kaitannya. Kepasifan yang rendah sangat menguntungkan sebab alat ukur akan cepat Kepasifan yang rendah sangat menguntungkan sebab alat ukur akan cepat reaksinya, terutama pada bagian pengubahnya yang dirancang dengan reaksinya, terutama pada bagian pengubahnya yang dirancang dengan memperhatikan hal itu.

memperhatikan hal itu.

8.

8. Pergeseran (Shifting)Pergeseran (Shifting)

Pergeseran terjadi bila jarum penunjuk atau pena pencatat Pergeseran terjadi bila jarum penunjuk atau pena pencatat bergeser dari posisi semestinya. Proses pergeseran biasanya berjalan bergeser dari posisi semestinya. Proses pergeseran biasanya berjalan lambat dan pengamat tak menyadari gara-gara jarum penunjuk atau pena lambat dan pengamat tak menyadari gara-gara jarum penunjuk atau pena pencatat berfungsi secara dinamik mengikuti perubahan isyarat sensor. pencatat berfungsi secara dinamik mengikuti perubahan isyarat sensor. Jadi, pergeseran merupakan suatu penyimpangan yang membesar dengan Jadi, pergeseran merupakan suatu penyimpangan yang membesar dengan berjalannya waktu.

berjalannya waktu.

9.

9. Kestabilan Nol (Zero Stability)Kestabilan Nol (Zero Stability)

Jika pergeseran merupakan perubahan yang menyebabkan Jika pergeseran merupakan perubahan yang menyebabkan penyimpangan yang membesar dengan berjalannya waktu, kestabilan nol penyimpangan yang membesar dengan berjalannya waktu, kestabilan nol  juga menjadi penyebab penyimpangan tetapi dengan harga yang tetap  juga menjadi penyebab penyimpangan tetapi dengan harga yang tetap atauatau

berubah-ubah secara rambang (Acak) tak stabil. berubah-ubah secara rambang (Acak) tak stabil.

10.

10. PengambangPengambangan an (Floating)(Floating)

Pengambangan terjadi apabila jarum penunjuk selalu Pengambangan terjadi apabila jarum penunjuk selalu berubah posisinya atau angka terakhir penunjuk digital berubah-ubah. Hal berubah posisinya atau angka terakhir penunjuk digital berubah-ubah. Hal ini disebabkan oleh adanya gangguan (noise) yang menyebabkan ini disebabkan oleh adanya gangguan (noise) yang menyebabkan perubahan kecil

perubahan kecil yang”dirasakan sensor” yang kemudian diperbesar olehyang”dirasakan sensor” yang kemudian diperbesar oleh bagian pengubah alat ukur.

(9)

II.3

II.3 Faktor Faktor Kesalahan Kesalahan PengukuranPengukuran a.

a. Penyimpangan yang Penyimpangan yang berasal dari berasal dari alat alat ukurukur

Alat ukur yang digunakan harus mendapat tera teliti. Dengan Alat ukur yang digunakan harus mendapat tera teliti. Dengan demikian, proses pengukuran akan bebas dari

demikian, proses pengukuran akan bebas dari penyimpangpenyimpangan yang merugikanan yang merugikan yang biasanya berasal dari alat ukur. Apabila alat ukur sering dipakai dan yang biasanya berasal dari alat ukur. Apabila alat ukur sering dipakai dan belum dikalibrasi ulang ada kemungkinan timbul sifat-sifat yang merugikan belum dikalibrasi ulang ada kemungkinan timbul sifat-sifat yang merugikan seperti histerisis, kepasifan, pergeseran, dan kestabilan nol

seperti histerisis, kepasifan, pergeseran, dan kestabilan nol yang jelek.yang jelek. b.

b. Penyimpangan yang berasal dari benda ukurPenyimpangan yang berasal dari benda ukur

Setiap benda elastic akan mengalami deformasi (perubahan Setiap benda elastic akan mengalami deformasi (perubahan bentuk) apabila ada beban yang beraksi padanya. Beban ini dapat disebabkan bentuk) apabila ada beban yang beraksi padanya. Beban ini dapat disebabkan oleh tekanan sensor kontak alat ukur, berat benda ukur sendiri,( yang oleh tekanan sensor kontak alat ukur, berat benda ukur sendiri,( yang diletakkan di antara tumpuan), dan tekanan penjepit penahan benda ukur. diletakkan di antara tumpuan), dan tekanan penjepit penahan benda ukur. Meskipun harga deformasi ini dianggap kecil dan sering diabaikan dalam Meskipun harga deformasi ini dianggap kecil dan sering diabaikan dalam perhitungan kekuatan, dalam hal

perhitungan kekuatan, dalam hal pengukurapengukuran geometric n geometric yang cermat membuatyang cermat membuat deformasi ini menjadi bermakna untuk diperhitungkan dan dapat menjadi deformasi ini menjadi bermakna untuk diperhitungkan dan dapat menjadi sumber kesalahan sistematik.

sumber kesalahan sistematik. c.

c. Penyimpngan yang berasal dari posisi pengukuranPenyimpngan yang berasal dari posisi pengukuran

Sesuai dengan prinsip ABBE, yakni “Garis ukur harus Sesuai dengan prinsip ABBE, yakni “Garis ukur harus   berimpit dengan garis dimensi”. Apabila garis

  berimpit dengan garis dimensi”. Apabila garis ukur, yaitu garis pada skalaukur, yaitu garis pada skala ukur, tidak bermpit dengan garis dimensi objek ukur melainkan membuat ukur, tidak bermpit dengan garis dimensi objek ukur melainkan membuat sudut sebesar teta, hasil pengukuran akan lebih besar daripada dimensi sudut sebesar teta, hasil pengukuran akan lebih besar daripada dimensi sebenarnya. Semakin besar sudut teta kesalahan ini akan membesar sesuai sebenarnya. Semakin besar sudut teta kesalahan ini akan membesar sesuai dengan membesarnya sisi miring pada segitiga siku-siku mengikuti rumus dengan membesarnya sisi miring pada segitiga siku-siku mengikuti rumus kosinus. Oleh karena itu,

kosinus. Oleh karena itu, kesalahan ini sering disebut kesalahan ini sering disebut kesalahan kosinus.kesalahan kosinus. d.

d. Penyimpangan yang berasal dari lingkunganPenyimpangan yang berasal dari lingkungan

Sesuai dengan prinsip yang menyatakan bahwa “ Lingkungan Sesuai dengan prinsip yang menyatakan bahwa “ Lingkungan harus member

harus memberikan kenyamanan bagi pengukur”. Jika persyaratan ini dipenuhi,ikan kenyamanan bagi pengukur”. Jika persyaratan ini dipenuhi, pada umumnya akan memenuhi persyarata

pada umumnya akan memenuhi persyaratan yang diminta alat n yang diminta alat ukur dan bendaukur dan benda ukur :

(10)

a.

a. Kebersihan (Debu, geram dan serpihan yang sering terlihat pada daerahKebersihan (Debu, geram dan serpihan yang sering terlihat pada daerah mesin produksi perlu disingkirkan dari

mesin produksi perlu disingkirkan dari daerah pengukuran)daerah pengukuran) b.

b. Tingkat Kebisingan yang rTingkat Kebisingan yang rendahendah c.

c. Pencahayaan yang mencukupiPencahayaan yang mencukupi d.

d. Temperatur 25-27, kelembapan 70-75%Temperatur 25-27, kelembapan 70-75% e.

e. PenyimpangPenyimpangan yang berasal an yang berasal dari Operatordari Operator

Dua orang yang melakukan pengukuran secara bergantian Dua orang yang melakukan pengukuran secara bergantian dengan menggunakan alat ukur dan benda ukur serta kondisi lingkungan dengan menggunakan alat ukur dan benda ukur serta kondisi lingkungan yang dianggap tak berubah mungkin menghasilkan data yang berbeda. yang dianggap tak berubah mungkin menghasilkan data yang berbeda. Sumber perbedaan ini dapat berasal dari cara mereka mengukur yang Sumber perbedaan ini dapat berasal dari cara mereka mengukur yang dipengaruhi oleh pengalaman, keahlian, kemampuan, dan keterampilan, dipengaruhi oleh pengalaman, keahlian, kemampuan, dan keterampilan, serta perangai masing-masing pengukur.

(11)

BAB III BAB III METODOLOGI PERCOBAAN METODOLOGI PERCOBAAN III. 1 Mikrometer III. 1 Mikrometer A.

A. Menentukan ketelitian alat ukur Menentukan ketelitian alat ukur yang dipakai.yang dipakai. B.

B. Permukaan bendaukur dan mulut ukur harus dibersihkan terlebihPermukaan bendaukur dan mulut ukur harus dibersihkan terlebih dahulu menggun akan alcohol dan tisu halus.

dahulu menggun akan alcohol dan tisu halus. C.

C. Memeriksa kedudukan titik nol dari mikrometer, bila tidak segarisMemeriksa kedudukan titik nol dari mikrometer, bila tidak segaris maka disetel terlebih dahulu.

maka disetel terlebih dahulu. D.

D. Membuka mulut ukur sampai melebihi dimensi benda ukur.Membuka mulut ukur sampai melebihi dimensi benda ukur. Menggunakan poros untuk membuka mulu tukur. Jangan Menggunakan poros untuk membuka mulu tukur. Jangan sekali-sekali menggunakan rahang mikrometer.

sekali menggunakan rahang mikrometer. E.

E. Pada waktu mengukur, maka penekanan-penekanan poros-porosPada waktu mengukur, maka penekanan-penekanan poros-poros ukur pada benda ukur jangan ter

ukur pada benda ukur jangan terlalu keras. Menggunakan pembataslalu keras. Menggunakan pembatas momen putar ketika poros

momen putar ketika poros hamper mencapai permukaan benda.hamper mencapai permukaan benda. F.

F. Melakukan Melakukan pengukuran pengukuran dan dan mencatat mencatat pada pada lembarlembar data.Mengula

data.Mengulangi perngukuran hingga 5 ngi perngukuran hingga 5 kali pengambilan data.kali pengambilan data.

III.2 JangkaSorong III.2 JangkaSorong

A.

A. Menentukan kecermatan dari jangka sorong yang digunakan.Menentukan kecermatan dari jangka sorong yang digunakan. B.

B. Membersihkan jangka sorong dan benda yang akan diukur sebelumMembersihkan jangka sorong dan benda yang akan diukur sebelum dilakukan pengukuran.

dilakukan pengukuran. C.

C. Sebelum jangka sorong digunakan, memastikan skala nonius Sebelum jangka sorong digunakan, memastikan skala nonius dapatdapat bergeser dengan bebas.

bergeser dengan bebas. D.

D. Memastikan angka “0” pada kedu askala bertemu dengantepat.Memastikan angka “0” pada kedu askala bertemu dengantepat. E.

E. Saat mengukur, mengusahakan benda yang diukur sedekatSaat mengukur, mengusahakan benda yang diukur sedekat mungkin dengan skala utama. Pengukurandengan ujung gigi mungkin dengan skala utama. Pengukurandengan ujung gigi pengukur menghasilkan pengukuran yang kurang akurat.

(12)

F.

F. Menempatkan jangka sorong tegak lurus dengan benda yangMenempatkan jangka sorong tegak lurus dengan benda yang diukur.

diukur. G.

G. Tekanan pengukuran jangan terlalu kuat, karena akanTekanan pengukuran jangan terlalu kuat, karena akan menyebabkan terjadinya pembengkokan pada rahang ukur maupun menyebabkan terjadinya pembengkokan pada rahang ukur maupun pada lidah pengukur kedalalaman.

pada lidah pengukur kedalalaman. H.

H. Mengencangkan baut pengunci agar rahang tidak bergeser tetapiMengencangkan baut pengunci agar rahang tidak bergeser tetapi  jangan terlalu kuat karena akan merusak ulir dari

 jangan terlalu kuat karena akan merusak ulir dari baut pengunci.baut pengunci. I.

I. Dalam membaca skala nonius, mengupayakan dilakukan setelahDalam membaca skala nonius, mengupayakan dilakukan setelah  jangka sorong diangkat keluar dengan hati-hati

 jangka sorong diangkat keluar dengan hati-hati dari bendaukur.dari bendaukur. J.

J. Melakukan pengukuran diameter luar.Melakukan pengukuran diameter luar. K.

K. Mencatat pengukuran di lembar data.Mencatat pengukuran di lembar data. L.

L. Mengulangi langkah 10 sampai 11 sebanyak 5 kali untuk masing-Mengulangi langkah 10 sampai 11 sebanyak 5 kali untuk masing-masing pengukuran.

masing pengukuran.

III.3 Dial Indicator III.3 Dial Indicator

A.

A. Set alatseperti gambarSet alatseperti gambar B.

B. Melakukan pengukuraMelakukan pengukuran ketinggian benda ukur n ketinggian benda ukur pada satu titipada satu titik.k. C.

C. Mencatat hasil pengukuran pada lembar data.Mencatat hasil pengukuran pada lembar data. D.

D. Melakukan langkah 1-2 sebanyak 5 kali.Melakukan langkah 1-2 sebanyak 5 kali.

III.4 Bevel Protactor III.4 Bevel Protactor

A.

A. Melakukan pengukuran seperti sudut α pada benda seperti gambar Melakukan pengukuran seperti sudut α pada benda seperti gambar  bevel protactor.

bevel protactor. B.

B. Mencatat Hasil Pengukuran.Mencatat Hasil Pengukuran. C.

C. Mengulangi langkah 1-2 sebanyak 5 kali.Mengulangi langkah 1-2 sebanyak 5 kali.

III.5 Height Gauge III.5 Height Gauge

A.

(13)

B.

B. Memastikan rahang ukur dapatmeluncur pada batang ukur denganMemastikan rahang ukur dapatmeluncur pada batang ukur dengan baik.

baik. C.

C. Permukaan yang akandiukurdan rahangdibersihkan dahulu.Permukaan yang akandiukurdan rahangdibersihkan dahulu. D.

D. Memeriksa kedudukaMemeriksa kedudukan titik n titik nol dan kesejajaran dari height gauge.nol dan kesejajaran dari height gauge. E.

E. Tekanan dalam pengukuran jaringan terlampau kuat sehinggaTekanan dalam pengukuran jaringan terlampau kuat sehingga memungkinkan pembengkokan rahang ukur

memungkinkan pembengkokan rahang ukur F.

F. Pembacaan skala sebaiknya dilakukan pada saat alat ukur masihPembacaan skala sebaiknya dilakukan pada saat alat ukur masih menempel pada benda kerja.

(14)

BAB IV BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Acuan 4.1 Data Acuan

Jangka

Jangka Sorong Sorong :Diameter :Diameter luar luar : : 58,70 58,70 mmmm Diameter

Diameter dalam dalam : : 53,40 53,40 mmmm Kedalaman

Kedalaman : : 40,75 40,75 mmmm Mikrometer

Mikrometer :Diameter :Diameter luar luar : : 5,46 5,46 mmmm Bevel

Bevel Protactor Protactor ::αα :140:1400055‟ = 140,83‟ = 140,8300 Dial

Dial Indikator Indikator : : 683 683 µµmm

4.2 Data Praktikan 4.2 Data Praktikan 4.2.1 Jangka Sorong (mm) 4.2.1 Jangka Sorong (mm) a. D luar a. D luar Pengukuran Pengukuran ke-

ke- Alby Alby Tony Tony Fungki Fungki Guntur Guntur Ahmad Ahmad SofyanSofyan

Data Data acuan acuan 1 1 58.75 58.75 58.7 58.7 58.8 58.8 58.55 58.55 58.7 58.7 58.65 58.65 58.758.7 2 2 58.7 58.7 58.7 58.7 58.7 58.7 58.3 58.3 58.55 58.55 58.6 58.6 58.758.7 3 3 58.75 58.75 58.8 58.8 58.7 58.7 58.45 58.45 58.75 58.75 58.65 58.65 58.758.7 4 4 58.7 58.7 58.75 58.75 58.8 58.8 58.45 58.45 59 59 58.6 58.6 58.758.7 5 5 58.7 58.7 58.7 58.7 58.7 58.7 58.5 58.5 58.8 58.8 58.55 58.55 58.758.7

Tabel 4.1 Data Pengukuran D Luar Tabel 4.1 Data Pengukuran D Luar

b. D Dalam b. D Dalam Pengukuran

Pengukuran ke-

ke- Alby Alby Tony Tony Fungki Fungki Guntur Guntur Ahmad Ahmad SofyanSofyan

Data Data acuan acuan 1 1 53.55 53.55 53.7 53.7 54 54 54.05 54.05 53.9 53.9 53.9 53.9 53.453.4 2 2 53.75 53.75 53.8 53.8 54 54 54.05 54.05 53.95 53.95 53.93 53.93 53.453.4 3 3 53.85 53.85 53.8 53.8 53.5 53.5 54 54 53.95 53.95 53.8 53.8 53.453.4 4 4 53.9 53.9 53.7 53.7 54 54 54 54 53.95 53.95 53.9 53.9 53.453.4 5 5 53.85 53.85 53.9 53.9 53.8 53.8 53.45 53.45 53.95 53.95 53.95 53.95 53.453.4

Tabel 4.2 Data Pengukuran D Dalam Tabel 4.2 Data Pengukuran D Dalam

(15)

c. D Kedalaman c. D Kedalaman Pengukuran

Pengukuran ke-

ke- Alby Alby Tony Tony Fungki Fungki Guntur Guntur Ahmad Ahmad SofyanSofyan

Data Data acuan acuan 1 1 40.65 40.65 40.8 40.8 40.9 40.9 41 41 40.8 40.8 40.9 40.9 40.7540.75 2 2 40.8 40.8 40.75 40.75 40.8 40.8 40.65 40.65 40.9 40.9 40.85 40.85 40.7540.75 3 3 40.85 40.85 40.8 40.8 40.9 40.9 41 41 40.8 40.8 40.9 40.9 40.7540.75 4 4 40.8 40.8 40.75 40.75 40.9 40.9 40.8 40.8 40.6 40.6 40.95 40.95 40.7540.75 5 5 40.75 40.75 40.85 40.85 40.95 40.95 40.7 40.7 40.8 40.8 40.85 40.85 40.7540.75

Tabel 4.3 Data Pengukuran Kedalaman Tabel 4.3 Data Pengukuran Kedalaman

4.2.2 Mikrometer (mm) 4.2.2 Mikrometer (mm) Pengukuran

Pengukuran ke-

ke- Alby Alby Tony Tony Fungki Fungki Guntur Guntur Ahmad Ahmad SofyanSofyan

Data Data acuan acuan 1 1 5.45 5.45 5.46 5.46 5.46 5.46 5.45 5.45 5.45 5.45 5.46 5.46 5.465.46 2 2 5.46 5.46 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.46 5.46 5.465.46 3 3 5.45 5.45 5.46 5.46 5.46 5.46 5.45 5.45 5.45 5.45 5.46 5.46 5.465.46 4 4 5.46 5.46 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.465.46 5 5 5.46 5.46 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.45 5.46 5.46 5.465.46

Tabel 4.4 Data Pengukuran Mikrometer Tabel 4.4 Data Pengukuran Mikrometer

4.2.3 Bevel Protactor 4.2.3 Bevel Protactor Pengukuran

Pengukuran ke-

ke- Alby Alby Tony Tony Fungki Fungki Guntur Guntur Ahmad Ahmad SofyanSofyan

Data Data acuan acuan 1 1 140.33 140.33 140.25 140.25 140.33 140.33 139.5 139.5 139.25 139.25 145.25 145.25 140.83140.83 2 2 140.25 140.25 140.083 140.083 140.083 140.083 139.33 139.33 139.167 139.167 140.167 140.167 140.83140.83 3 3 140.25 140.25 140.083 140.083 140.25 140.25 139.416 139.416 139.167 139.167 140.33 140.33 140.83140.83 4 4 140.33 140.33 140.167 140.167 140.083 140.083 139.416 139.416 139.25 139.25 140.25 140.25 140.83140.83 5 5 140.167 140.167 140.167 140.167 140.33 140.33 139.33 139.33 140 140 140.33 140.33 140.83140.83

Tabel 4.5 Data Pengukuran Bevel Protactor Tabel 4.5 Data Pengukuran Bevel Protactor

4.2.4

4.2.4 Dial Dial indicator indicator (µ(µm)m) Pengukuran

Pengukuran ke-

ke- Alby Alby Tony Tony Fungki Fungki Guntur Guntur Ahmad Ahmad SofyanSofyan

Data Data acuan acuan 1 1 674 674 673 673 675 675 674 674 679 679 670 670 683683 2 2 672 672 672 672 677 677 673 673 678 678 669 669 683683 3 3 673 673 673 673 677 677 675 675 666 666 669 669 683683 4 4 674 674 674 674 676 676 676 676 678 678 668 668 683683 5 5 674 674 672 672 677 677 673 673 678 678 679 679 683683

Tabel 4.6 Data Pengukuran Dial Indicato Tabel 4.6 Data Pengukuran Dial Indicato

4.3 Contoh Perhitungan 4.3 Contoh Perhitungan

(16)

Rata-Rata Rata-Rata Jangka Sorong Jangka Sorong a. a. D LuarD Luar

̅

̅









 











 √ √ ∑∑ 







 ̅

 ̅



 √ √ 



































b. b. D DalamD Dalam

̅

̅









 











 √ √ ∑∑ 







 ̅

 ̅



 √ √ 



































c. c. D KedalamanD Kedalaman Rata-Rata Rata-Rata 89 89 .. 40 40 5 5 95 95 .. 40 40 9 9 .. 40 40 9 9 .. 40 40 8 8 .. 40 40 9 9 .. 40 40 1 1 _ _

  n n  x  x  x  x k  k  n n ii Standar Deviasi Standar Deviasi

 

 

 

 



11 55 89 89 .. 40 40 95 95 .. 40 40 89 89 .. 40 40 99 .. 40 40 89 89 .. 40 40 99 .. 40 40 89 89 .. 40 40 88 .. 40 40 89 89 .. 40 40 99 .. 40 40 ]] 11 )) (( [[ 22 22 22 22 22 22  /   /  11 22 __ 11              

 n n  x  x  x  x S S k  k  n n ii = 0.05 = 0.05 Mikrometer Mikrometer

(17)

̅

̅









 











 √ √ ∑∑ 







 ̅

 ̅



 √ √ 



































Bevel Protector Bevel Protector

̅

̅









 











 √ √ ∑∑ 







 ̅

 ̅



 √ √ 



































Dial Indicator Dial Indicator

̅

̅









 











 √ √ ∑∑ 







 ̅

 ̅



 √ √ 



































(18)

4.4 Pembahasan 4.4 Pembahasan

4.4.1 Jangka Sorong

4.4.1 Jangka Sorong (Diameter Luar )(Diameter Luar ) 4.4.1.a. Grafik 

4.4.1.a. Grafik 

Gambar 4.1 Hasil Pengukuran D luar dengan Jangka Sorong Gambar 4.1 Hasil Pengukuran D luar dengan Jangka Sorong

4.4.1.b. One sample T 4.4.1.b. One sample T Hipotesis Hipotesis H H11 : µ : µ 11= µ = µ 00 H H11 : µ : µ 11≠ µ≠ µ00 Test of mu = 53.4 vs not = 53.4 Test of mu = 53.4 vs not = 53.4 Variable

Variable N N Mean Mean StDev StDev SE SE Mean Mean 95% 95% CI CI T T PP Ahmad Ahmad 5 5 58.7600 58.7600 0.1636 0.1636 0.0731 0.0731 (58.5569, (58.5569, 58.9631) 58.9631) 73.28 73.28 0.0000.000 Alby Alby 5 5 58.7200 58.7200 0.0274 0.0274 0.0122 0.0122 (58.6860, (58.6860, 58.7540) 58.7540) 434.38 434.38 0.0000.000 Fungky Fungky 5 5 58.7400 58.7400 0.0548 0.0548 0.0245 0.0245 (58.6720, (58.6720, 58.8080) 58.8080) 218.00 218.00 0.0000.000 Guntur Guntur 5 5 58.4500 58.4500 0.0935 0.0935 0.0418 0.0418 (58.3339, (58.3339, 58.5661) 58.5661) 120.72 120.72 0.0000.000 Sofyan Sofyan 5 5 58.6100 58.6100 0.0418 0.0418 0.0187 0.0187 (58.5581, (58.5581, 58.6619) 58.6619) 278.49 278.49 0.0000.000 Toni Toni 5 5 58.7300 58.7300 0.0447 0.0447 0.0200 0.0200 (58.6745, (58.6745, 58.7855) 58.7855) 266.50 266.50 0.0000.000

4.4.1.c. One-way ANOVA: D luar versus nama 4.4.1.c. One-way ANOVA: D luar versus nama

Hipotesis Hipotesis 58.2 58.2 58.4 58.4 58.6 58.6 58.8 58.8 59 59 59.2 59.2 0 1 2 3 4 5 6 0 1 2 3 4 5 6    H    H    a    a    s    s    i    i     l     l   P   P    e    e    n    n    g    g    u    u     k     k   u   u    r    r    a    a    n    n Pengukuran Pengukuran

ke-Jangka Sorong

Jangka Sorong

D luar

D luar

Data acuan Data acuan Data Alby Data Alby Data Tony Data Tony Data Fungki Data Fungki Data Guntur Data Guntur Data Ahmad Data Ahmad Data Sofyan Data Sofyan

(19)

H

H11 : salah satu pasangan µ : salah satu pasangan µ ada yang tidak samada yang tidak sam

Data dari minitab: Data dari minitab:

Source Source DF DF SS SS MS MS F F PP A A 5 5 0,35542 0,35542 0,07108 0,07108 9,92 9,92 0,0000,000 Error Error 24 24 0,17200 0,17200 0,007170,00717 Total Total 29 29 0,527420,52742 S S = = 0,08466 0,08466 R-Sq R-Sq = = 67,39% 67,39% R-Sq(adj) R-Sq(adj) = = 60,59%60,59%

Individual 95% CIs For Mean Based on Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev

Pooled StDev Level

Level N N Mean Mean StDev StDev ---+---+---+---+-- ++++ -1 1 5 5 58,7600 58,7600 0,1636 0,1636 (---*--- (---*---) ) 2 2 5 5 58,7200 58,7200 0,0274 0,0274 (---*---)(---*---) 3 3 5 5 58,7400 58,7400 0,0548 0,0548 (---*---)(---*---) 4 4 5 5 58,4500 58,4500 0,0935 0,0935 (---*---)(---*---) 5 5 5 5 58,6100 58,6100 0,0418 0,0418 (---*---)(---*---) 6 6 5 5 58,7300 58,7300 0,0447 0,0447 (---*---)(---*---) ++++ -58,44 58,56 58,68 58,80 58,44 58,56 58,68 58,80 Pooled StDev = 0,0847 Pooled StDev = 0,0847 4.4.1.d. Pembahasa

4.4.1.d. Pembahasan D n D luarluar

Pada grafik pengukuran diameter luar pada jangka sorong, tren Pada grafik pengukuran diameter luar pada jangka sorong, tren grafik penguk

grafik pengukuran Alby mendekauran Alby mendekati data acuan terlihat dati data acuan terlihat dari ri titik percobaantitik percobaan 2,4 dan 5 sesuai dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak  2,4 dan 5 sesuai dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak  terlalu ja

terlalu jauh deuh dengan ngan titi acuatiti acuan. Untuk n. Untuk tren grafik tren grafik pengukuran pengukuran TonyTony mendekati data acuan terlihat dati titik percobaan 1,2 dan 5 sesuai dengan mendekati data acuan terlihat dati titik percobaan 1,2 dan 5 sesuai dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak terlalu jauh dengan titik  titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak terlalu jauh dengan titik  acuan. Untuk tren grafik Fungki mendekati data acuan terlihat dari titik  acuan. Untuk tren grafik Fungki mendekati data acuan terlihat dari titik  percobaan 2,3 dan 5 sesuai dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya percobaan 2,3 dan 5 sesuai dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya   jauh tidak terlalu jauh dengan titik acuannya. Untuk tren grafik Guntur   jauh tidak terlalu jauh dengan titik acuannya. Untuk tren grafik Guntur

tidak ada yang sesuai dengan titik

tidak ada yang sesuai dengan titik acuan terlihat dari tiap acuan terlihat dari tiap titik percobaannyatitik percobaannya tidak ada yang sesuai dan mendekati dengan titik acuan. Untuk tren grafik  tidak ada yang sesuai dan mendekati dengan titik acuan. Untuk tren grafik  Ahmad tidak sesuai dengan titik acuan terlihat dari hanya titik percobaan 1 Ahmad tidak sesuai dengan titik acuan terlihat dari hanya titik percobaan 1 saja yang sesuai dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak  saja yang sesuai dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak 

(20)

tidak sesuai dengan titik acuan terlihat dari hanya titik percobaan 1 saja tidak sesuai dengan titik acuan terlihat dari hanya titik percobaan 1 saja yang sesuai dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak sesuai yang sesuai dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak sesuai dan terlalu jauh dari titik acuan.

dan terlalu jauh dari titik acuan.

Berdasarkan grafik pengukuran Jangka Sorong diameter luar

Berdasarkan grafik pengukuran Jangka Sorong diameter luar diatasdiatas pengukuran paling teliti adalah Alby, terlihat dari tren grafik  pengukuran paling teliti adalah Alby, terlihat dari tren grafik  pengukurannya sesuai dengan titik acuan sedangkan pengukuran yang tidak  pengukurannya sesuai dengan titik acuan sedangkan pengukuran yang tidak  teliti adalah Guntur, terlihat dari tren grafik pengukurannya tidak ada yang teliti adalah Guntur, terlihat dari tren grafik pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan titik acuan. Untuk pengukuran paling tepat adalah Alby, sesuai dengan titik acuan. Untuk pengukuran paling tepat adalah Alby, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali percobaan tidak banyak  terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali percobaan tidak banyak  yang mengalami perubahan nilai sedangkan pengukuran yang tidak tepat yang mengalami perubahan nilai sedangkan pengukuran yang tidak tepat adalah Ahmad, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali adalah Ahmad, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali percobaannya selalu berubah

percobaannya selalu berubah –  – ubah.ubah.

Berdasarkan data pada minitab One sample T perhitungan rata-rata, Berdasarkan data pada minitab One sample T perhitungan rata-rata, pengukuran Alby yang mendekati data acuan dengan nilai data acuan pengukuran Alby yang mendekati data acuan dengan nilai data acuan sebesar 58.70 mm. Sehingga data pengukuran Alby (58.72 mm) yang sebesar 58.70 mm. Sehingga data pengukuran Alby (58.72 mm) yang paling teliti. Karena hasil perhitungan rata-rata Guntur jauh dari data paling teliti. Karena hasil perhitungan rata-rata Guntur jauh dari data acuan,sehingga data pengukuran Guntur (58.45 mm) yang paling tidak  acuan,sehingga data pengukuran Guntur (58.45 mm) yang paling tidak  teliti. Dari perhitungan standar deviasi,data pengukuran Alby (S= 0.012) teliti. Dari perhitungan standar deviasi,data pengukuran Alby (S= 0.012) yang paling kecil dan data pengukuran Ahmad (S= 0.163) yang paling yang paling kecil dan data pengukuran Ahmad (S= 0.163) yang paling besar .nilainya, sehingga data pengukuran Alby yang paling tepat dan data besar .nilainya, sehingga data pengukuran Alby yang paling tepat dan data pengukuran Ahmad yang paling tidak tepat. Sedangkan untuk nilai P value pengukuran Ahmad yang paling tidak tepat. Sedangkan untuk nilai P value Alby, Tony, Fungki, Guntur, Ahmad, dan Sofyan

Alby, Tony, Fungki, Guntur, Ahmad, dan Sofyan < < α,α, maka Homaka Ho ditolak,sehingga hasil pengukuran Alby, Tony, Fungki, Guntur, Ahmad, ditolak,sehingga hasil pengukuran Alby, Tony, Fungki, Guntur, Ahmad, dan Sofyan menjauhi nilai acuan. . Untuk nilai SE Mean, yang paling besar dan Sofyan menjauhi nilai acuan. . Untuk nilai SE Mean, yang paling besar terdapat eror adalah Ahmad dengan nilai 0.0731 sedangkan yang paling terdapat eror adalah Ahmad dengan nilai 0.0731 sedangkan yang paling sedikit terdapat eror

sedikit terdapat eror adalah Alby dengan 0,0122.adalah Alby dengan 0,0122.

Kesalahan yang terjadi pada pengukuran diameter luar jangka Kesalahan yang terjadi pada pengukuran diameter luar jangka sorong disebabkan adanya kesalahan pemegangan yang benar oleh sorong disebabkan adanya kesalahan pemegangan yang benar oleh praktikan, pembacaan yang tidak lurus sehingga menyebabkan kesalahan praktikan, pembacaan yang tidak lurus sehingga menyebabkan kesalahan

(21)

4.4.2 Jangka Sorong( Diameter dalam ) 4.4.2 Jangka Sorong( Diameter dalam )

4.4.2 .a. Grafik  4.4.2 .a. Grafik 

Gambar 4.2 Hasil Pengukuran D dalam dengan Jangka Sorong Gambar 4.2 Hasil Pengukuran D dalam dengan Jangka Sorong

4.4.2 .b. One sample T 4.4.2 .b. One sample T Hipotesis Hipotesis H H11 : µ : µ 11= µ = µ 00 H H11 : µ : µ 11≠ µ≠ µ00

Data pada minitab: Data pada minitab:

Test of mu = 58.7 vs not = 58.7 Test of mu = 58.7 vs not = 58.7

Variable

Variable N N Mean Mean StDev StDev SE SE Mean Mean 95% 95% CI CI TT P P Ahmad_1 Ahmad_1 5 5 53.9400 53.9400 0.0224 0.0224 0.0100 0.0100 (53.9122, (53.9122, 53.9678) 53.9678) -476-476.00.00 0.000 0.000 Alby_1 Alby_1 5 5 53.7800 53.7800 0.1396 0.1396 0.0624 0.0624 (53.6066, (53.6066, 53.9534) 53.9534) -78.78-78.78 0.000 0.000 Fungky_1 Fungky_1 5 5 53.8600 53.8600 0.2191 0.2191 0.0980 0.0980 (53.5880, (53.5880, 54.1320) 54.1320) -49.40-49.40 0.000 0.000 Guntur_1 Guntur_1 5 5 53.910 53.910 0.258 0.258 0.116 0.116 ( ( 53.589, 53.589, 54.231) 54.231) -41.46-41.46 0.000 0.000 Sofyan_1 5 53.8960 0.0577 Sofyan_1 5 53.8960 0.0577 0.0258 0.0258 (53.8243, (53.8243, 53.9677) 53.9677) -186.15-186.15 0.000 0.000 Toni_1 Toni_1 5 5 53.7800 53.7800 0.0837 0.0837 0.0374 0.0374 (53.6761, (53.6761, 53.8839) 53.8839) -131.49-131.49 0.000 0.000 53.2 53.2 53.4 53.4 53.6 53.6 53.8 53.8 54 54 54.2 54.2 0 1 2 3 4 5 6 0 1 2 3 4 5 6    H    H    a    a    s    s    i    i     l     l   P   P    e    e    n    n    g    g    u    u     k     k   u   u    r    r    a    a    n    n Pengukuran Pengukuran

ke-Jangka Sorong

Jangka Sorong

D dalam

D dalam

Data acuan Data acuan Data Alby Data Alby Data Tony Data Tony Data Fungki Data Fungki Data Guntur Data Guntur Data Ahmad Data Ahmad Data Sofyan Data Sofyan

(22)

4.4.2 .c. ONE-WAY ANOVA : 4.4.2 .c. ONE-WAY ANOVA : Hipotesis Hipotesis H H11 : µ : µ 11= µ = µ 2=2= µ µ 33= µ = µ 44= µ = µ 55 H

H11 : salah satu pasangan µ : salah satu pasangan µ ada yang tidak samaada yang tidak sama

Data dari mimitab: Data dari mimitab:

Source Source DF DF SS SS MS MS F F PP A A 5 5 0,1149 0,1149 0,0230 0,0230 0,95 0,95 0,4670,467 Error Error 24 24 0,5803 0,5803 0,02420,0242 Total Total 29 29 0,69530,6953 S S = = 0,1555 0,1555 R-Sq R-Sq = = 16,53% 16,53% R-Sq(adj) R-Sq(adj) = = 0,00%0,00%

Individual 95% CIs For Mean Based on Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev

Pooled StDev Level

Level N N Mean Mean StDev StDev +---+---+---+--- +-+-+-+- --1 1 5 5 53,940 53,940 0,022 0,022 (---*---)(---*---) 2 2 5 5 53,780 53,780 0,140 0,140 (---*---)(---*---) 3 3 5 5 53,860 53,860 0,219 0,219 (---*---)(---*---) 4 4 5 5 53,910 53,910 0,258 0,258 (---*---)(---*---) 5 5 5 5 53,896 53,896 0,058 0,058 (---*---)(---*---) 6 6 5 5 53,780 53,780 0,084 0,084 (---*---)(---*---) +-+-+-+- --53,64 53,76 53,88 54,00 53,64 53,76 53,88 54,00 Pooled StDev = 0,155 Pooled StDev = 0,155 4.4.2 .d. Pembahasan D dalam 4.4.2 .d. Pembahasan D dalam

Pada grafik pengukuran diameter dalam pada jangka sorong, tren Pada grafik pengukuran diameter dalam pada jangka sorong, tren grafik pengukuran Alby selalu naik mulai dari pengukuran 1-5 dan tidak ada grafik pengukuran Alby selalu naik mulai dari pengukuran 1-5 dan tidak ada hasil pengukuran yang sesuai dengan nilai titik acuan. Untuk tren grafik  hasil pengukuran yang sesuai dengan nilai titik acuan. Untuk tren grafik  pengukuran Tony membentuk grafik naik turun seperti gelombang mulai pengukuran Tony membentuk grafik naik turun seperti gelombang mulai dari pengukuran 1-5 serta tidak ada hasi pengukuran yang sesuai dengan dari pengukuran 1-5 serta tidak ada hasi pengukuran yang sesuai dengan titik acuan. Untuk tren grafik pengukuran Fungki membentuk grafik naik  titik acuan. Untuk tren grafik pengukuran Fungki membentuk grafik naik  turun seperti gelombang mulai dari

(23)

yang sesuai dengan titik acuan. Untuk tren grafik pengukuran Guntur yang sesuai dengan titik acuan. Untuk tren grafik pengukuran Guntur membentuk grafik yang lurus untuk pengukuran yang 1

membentuk grafik yang lurus untuk pengukuran yang 1  –  –  4, setelah itu4, setelah itu mengalami penurunan yang sangat tajam dari pengukuran 4 menuju 5 serta mengalami penurunan yang sangat tajam dari pengukuran 4 menuju 5 serta tidak ada hasil pengukuran yang sesuai denga

tidak ada hasil pengukuran yang sesuai dengan titik n titik acuan. Untuk tren grafik acuan. Untuk tren grafik  pengukuran Ahmad membentuk grafik yang lurus mulai

pengukuran Ahmad membentuk grafik yang lurus mulai dari pengukuran 1dari pengukuran 1  –  –  5 akan tetapi dari setiap titik pengukuran tidak ada hasil pengukuran yang 5 akan tetapi dari setiap titik pengukuran tidak ada hasil pengukuran yang sesuai dengan titik acuan. Untuk tren grafik pengukuran Sofyan membentuk  sesuai dengan titik acuan. Untuk tren grafik pengukuran Sofyan membentuk  grafik naik turun seperti gelombang mulai dari pengukuran 1-5 serta tidak  grafik naik turun seperti gelombang mulai dari pengukuran 1-5 serta tidak  ada hasi pengukuran yang sesuai dengan titik acuan.

ada hasi pengukuran yang sesuai dengan titik acuan.

Berdasarkan grafik pengukuran Jangka Sorong diameter dalam dari Berdasarkan grafik pengukuran Jangka Sorong diameter dalam dari ke 6 praktikan diatas tidak ada yang teliti karena dari 6 grafik praktikan ke 6 praktikan diatas tidak ada yang teliti karena dari 6 grafik praktikan tidak ada yang sesuai dengan hasil titik acuan.Untuk pengukuran paling tidak ada yang sesuai dengan hasil titik acuan.Untuk pengukuran paling tepat adalah Ahmad, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali tepat adalah Ahmad, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali percobaanya tidak banyak yang berubah sedangkan pengukuran yang tidak  percobaanya tidak banyak yang berubah sedangkan pengukuran yang tidak  tepat adalah Fungki, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali tepat adalah Fungki, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali percobaanny

percobaannya selalu a selalu berubahberubah –  – ubah dengan signifikan.ubah dengan signifikan.

Berdasarkan data pada minitab One sample T perhitungan rata-rata, Berdasarkan data pada minitab One sample T perhitungan rata-rata, pengukuran Alby dan Tony yang mendekati data acuan dengan nilai data pengukuran Alby dan Tony yang mendekati data acuan dengan nilai data acuan sebesar 53.78 mm. Sehingga data pengukuran Alby dan Tony (53.78 acuan sebesar 53.78 mm. Sehingga data pengukuran Alby dan Tony (53.78 mm) yang paling teliti. Karena hasil perhitungan rata-rata Ahmad jauh dari mm) yang paling teliti. Karena hasil perhitungan rata-rata Ahmad jauh dari data acuan,sehingga data pengukuran Guntur (53.94 mm) yang paling tidak  data acuan,sehingga data pengukuran Guntur (53.94 mm) yang paling tidak  teliti. Dari perhitungan standar deviasi,data pengukuran Ahmad (S= 0.022) teliti. Dari perhitungan standar deviasi,data pengukuran Ahmad (S= 0.022) yang paling kecil dan data pengukuran Fungki (S= 0.219) yang paling besar yang paling kecil dan data pengukuran Fungki (S= 0.219) yang paling besar .nilainya, sehingga data pengukuran Ahmad paling tepat dan data .nilainya, sehingga data pengukuran Ahmad paling tepat dan data pengukuran Fu

pengukuran Fungki ngki paling tidak tepat. Sepaling tidak tepat. Sedangkan untuk nilai P value Albdangkan untuk nilai P value Alby,y, Tony, Fungki, Guntur, Ahmad, dan Sofyan

Tony, Fungki, Guntur, Ahmad, dan Sofyan < < α,α, maka Ho ditolak,sehinggamaka Ho ditolak,sehingga hasil pengukuran Alby, Tony, Fungki, Guntur, Ahmad, dan Sofyan menjauhi hasil pengukuran Alby, Tony, Fungki, Guntur, Ahmad, dan Sofyan menjauhi nilai acuan. . Untuk nilai SE Mean, yang paling besar terdapat eror adalah nilai acuan. . Untuk nilai SE Mean, yang paling besar terdapat eror adalah Guntur dengan nilai 0.116 sedangkan yang paling sedikit terdapat eror Guntur dengan nilai 0.116 sedangkan yang paling sedikit terdapat eror adalah Ahmad dengan 0,01

(24)

Kesalahan yang terjadi pada pengukuran diameter dalam jangka Kesalahan yang terjadi pada pengukuran diameter dalam jangka sorong disebabkan kesalahan pemegangan yang benar oleh praktikan, sorong disebabkan kesalahan pemegangan yang benar oleh praktikan, pembacaan yang tidak lurus sehingga menyebabkan kesalahan pengukuran. pembacaan yang tidak lurus sehingga menyebabkan kesalahan pengukuran.

4.4.3 Jangka Sorong (Kedalaman) 4.4.3 Jangka Sorong (Kedalaman)

4.4.3 .a. Grafik  4.4.3 .a. Grafik 

Gambar 4.3 Hasil

Gambar 4.3 Hasil Pengukuran KedalamaPengukuran Kedalaman dengan Jangka Sorongn dengan Jangka Sorong

4.4.3 .b. One Sample T 4.4.3 .b. One Sample T Hipotesis Hipotesis H H11 : µ : µ 11= µ = µ 00 H H11 : µ : µ 11≠ µ≠ µ00

Data pada minitab j

Data pada minitab jangka sorong untuk kedalaman:angka sorong untuk kedalaman:

Test of mu = 40.75 vs not = 40.75 Test of mu = 40.75 vs not = 40.75

Variable

Variable N N Mean Mean StDev StDev SE SE Mean Mean 95% 95% CI CI TT P P Ahmad_2 Ahmad_2 5 5 40.7800 40.7800 0.1095 0.1095 0.0490 0.0490 (40.6440, (40.6440, 40.9160) 40.9160) 0.610.61 0.573 0.573 40.4 40.4 40.5 40.5 40.6 40.6 40.7 40.7 40.8 40.8 40.9 40.9 41 41 41.1 41.1 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5    H    H    a    a    s    s    i    i     l     l   P   P    e    e    n    n    g    g    u    u     k     k   u   u    r    r    a    a    n    n Pengukuran Pengukuran

ke-Jangka Sorong

Jangka Sorong

Kedalaman

Kedalaman

Data acuan Data acuan Data Alby Data Alby Data Tony Data Tony Data Fungki Data Fungki Data Guntur Data Guntur Data Ahmad Data Ahmad Data Sofyan Data Sofyan

(25)

Fungky_2 Fungky_2 5 5 40.8900 40.8900 0.0548 0.0548 0.0245 0.0245 (40.8220, (40.8220, 40.9580) 40.9580) 5.725.72 0.005 0.005 Guntur_2 5 Guntur_2 5 40.8300 0.1643 40.8300 0.1643 0.0735 (400.0735 (40.6260, .6260, 41.0340) 41.0340) 1.091.09 0.338 0.338 Sofyan_2 5 Sofyan_2 5 40.8900 0.0418 40.8900 0.0418 0.0187 (400.0187 (40.8381, .8381, 40.9419) 40.9419) 7.487.48 0.002 0.002 Toni_2 Toni_2 5 5 40.7900 40.7900 0.0418 0.0418 0.0187 0.0187 (40.7381, (40.7381, 40.8419) 40.8419) 2.142.14 0.099 0.099 c. ONE-WAY ANOVA c. ONE-WAY ANOVA Hipotesis Hipotesis H H11 : µ : µ 11= µ = µ 2=2= µ µ 33= µ = µ 44= µ = µ 55 H

H11 : salah satu pasangan µ : salah satu pasangan µ ada yang tidak samaada yang tidak sama

Data dari minitab: Data dari minitab:

Source Source DF DF SS SS MS MS F F PP A A 5 5 17,84 17,84 3,57 3,57 1,08 1,08 0,3990,399 Error Error 24 24 79,60 79,60 3,323,32 Total Total 29 29 97,4597,45 S S = = 1,821 1,821 R-Sq R-Sq = = 18,31% 18,31% R-Sq(adj) R-Sq(adj) = = 1,29%1,29%

Individual 95% CIs For Mean Based on Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev

Pooled StDev Level

Level N N Mean Mean StDev StDev ---+---+---+---+--- ---+---+---+---+---1 1 5 5 40,780 40,780 0,110 0,110 (---*---)(---*---) 2 2 5 5 38,770 38,770 4,456 4,456 (---*---)(---*---) 3 3 5 5 40,890 40,890 0,055 0,055 (---*---)(---*---) 4 4 5 5 40,830 40,830 0,164 0,164 (---*---)(---*---) 5 5 5 5 40,890 40,890 0,042 0,042 (---*---)(---*---) 6 6 5 5 40,790 40,790 0,042 0,042 (---*---)(---*---) ---+---+---+---+---37,5 39,0 40,5 42,0 37,5 39,0 40,5 42,0 Pooled StDev = 1,821 Pooled StDev = 1,821 4.4.3 .d.

4.4.3 .d. PembahasaPembahasan Kedalamann Kedalaman

Pada grafik pengukuran kedalaman pada jangka sorong, tren

Pada grafik pengukuran kedalaman pada jangka sorong, tren grafik grafik  pengukuran Alby membentuk grafik cekung. Dengan mengalami kenaikan pengukuran Alby membentuk grafik cekung. Dengan mengalami kenaikan mulai pada titik pengukuran 1 sampai ke 3 kemudian mengalami penurunan mulai pada titik pengukuran 1 sampai ke 3 kemudian mengalami penurunan mulai dari titik 3 samapi pengukuran 5. Dan pada pengukuran titik 5 mulai dari titik 3 samapi pengukuran 5. Dan pada pengukuran titik 5 nilainya s

nilainya sesuai deesuai dengan titik acngan titik acuan Untuk uan Untuk tren gratren grafik pengukufik pengukuran ran TonyTony mendekati data acuan terlihat dati titik

(26)

dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak terlalu jauh dengan dengan titik acuan sedangkan titik yang lainnya tidak terlalu jauh dengan titik acuan serta tren grafiknya membentuk sebuah gelombang. Untuk tren titik acuan serta tren grafiknya membentuk sebuah gelombang. Untuk tren grafik Fungki membentuk tren grafik yang bergelombang mulai dari titik  grafik Fungki membentuk tren grafik yang bergelombang mulai dari titik  pengukuran 1 sampai pengukran 5 dan dalam tren grafiknya nilai pengukuran 1 sampai pengukran 5 dan dalam tren grafiknya nilai pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan grafik titik acuan. Untuk tren pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan grafik titik acuan. Untuk tren grafik Guntur juga membentuk tren grafik yang bergelombang mulai dari grafik Guntur juga membentuk tren grafik yang bergelombang mulai dari titik pengukuran 1 sampai pengukran 5 dan dalam tren grafiknya nilai titik pengukuran 1 sampai pengukran 5 dan dalam tren grafiknya nilai pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan grafik titik acuan. Untuk tren pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan grafik titik acuan. Untuk tren grafik Ahmad juga membentuk tren grafik yang bergelombang mulai dari grafik Ahmad juga membentuk tren grafik yang bergelombang mulai dari titik pengukuran 1 sampai pengukran 5 dan dalam tren grafiknya nilai titik pengukuran 1 sampai pengukran 5 dan dalam tren grafiknya nilai pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan grafik titik acuan. Sedangkan pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan grafik titik acuan. Sedangkan untuk tren grafik Sofyan juga membentuk tren grafik yang bergelombang untuk tren grafik Sofyan juga membentuk tren grafik yang bergelombang mulai dari titik pengukuran 1 sampai pengukran 5 dan dalam tren grafiknya mulai dari titik pengukuran 1 sampai pengukran 5 dan dalam tren grafiknya nilai pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan

nilai pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan grafik titik grafik titik acuan.acuan.

Berdasarkan grafik pengukuran Jangka Sorong diameter Berdasarkan grafik pengukuran Jangka Sorong diameter kedalaman diatas pengukuran paling teliti adalah Tony, terlihat dari tren kedalaman diatas pengukuran paling teliti adalah Tony, terlihat dari tren grafik pengukurannya sesuai dengan titik acuan sedangkan pengukuran yang grafik pengukurannya sesuai dengan titik acuan sedangkan pengukuran yang paling tidak teliti adalah Fungki, terlihat dari tren grafik pengukurannya paling tidak teliti adalah Fungki, terlihat dari tren grafik pengukurannya tidak ada yang sesuai dengan titik acuan dan nilai pengukuaran terlalu jauh tidak ada yang sesuai dengan titik acuan dan nilai pengukuaran terlalu jauh dari nilai titik acuan. Untuk pengukuran paling tepat adalah Tony, terlihat dari nilai titik acuan. Untuk pengukuran paling tepat adalah Tony, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali percobaan tidak banyak yang dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali percobaan tidak banyak yang mengalami perubahan nilai sedangkan pengukuran yang tidak tepat adalah mengalami perubahan nilai sedangkan pengukuran yang tidak tepat adalah Guntur, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali percobaannya Guntur, terlihat dari tren grafik pengukurannya dari 5 kali percobaannya selalu berubah

selalu berubah –  – ubah.ubah.

Berdasarkan data pada minitab One sample T perhitungan rata-rata, Berdasarkan data pada minitab One sample T perhitungan rata-rata, pengukuran Alby yang mendekati data acuan dengan nilai data acuan pengukuran Alby yang mendekati data acuan dengan nilai data acuan sebesar 40.75 mm. Sehingga data pengukuran Alby (40.78 mm) yang paling sebesar 40.75 mm. Sehingga data pengukuran Alby (40.78 mm) yang paling teliti. Karena hasil perhitungan rata-rata Fungki dan Sofyan jauh dari data teliti. Karena hasil perhitungan rata-rata Fungki dan Sofyan jauh dari data acuan,se

(27)

Sofyan (S= 0.0418) yang paling kecil dan data pengukuran Guntur (S= Sofyan (S= 0.0418) yang paling kecil dan data pengukuran Guntur (S= 0.164) yang paling besar nilainya, sehingga data pengukuran Tony dan 0.164) yang paling besar nilainya, sehingga data pengukuran Tony dan Sofyan yang paling tepat dan data pengukuran Guntur yang paling tidak  Sofyan yang paling tepat dan data pengukuran Guntur yang paling tidak  tepat. Sedangkan untuk nilai P value Ahma, Guntur dan Tony > Ho gagal tepat. Sedangkan untuk nilai P value Ahma, Guntur dan Tony > Ho gagal ditolak,sehingg

ditolak,sehingga hasil pengukuran Ahmad, Guntur dan a hasil pengukuran Ahmad, Guntur dan Tony mendekati nilaiTony mendekati nilai acuan. Sedangkan nilai P value Alby Fungki, dan Sofyan

acuan. Sedangkan nilai P value Alby Fungki, dan Sofyan < α, maka Ho< α, maka Ho ditolak, sehingga hasil pengukuran Alby Fungki, dan Sofyan menjauhi data ditolak, sehingga hasil pengukuran Alby Fungki, dan Sofyan menjauhi data acuan. . Untuk nilai SE Mean, yang paling besar terdapat eror adalah Alby acuan. . Untuk nilai SE Mean, yang paling besar terdapat eror adalah Alby dengan nilai 1.99 sedangkan yang paling sedikit terdapat eror adalah Tony dengan nilai 1.99 sedangkan yang paling sedikit terdapat eror adalah Tony dan Tony dengan 0,0187

dan Tony dengan 0,0187

Kesalahan yang terjadi pada pengukuran diameter luar jangka Kesalahan yang terjadi pada pengukuran diameter luar jangka sorong disebabkan adanya kesalahan pemegangan yang benar oleh sorong disebabkan adanya kesalahan pemegangan yang benar oleh praktikan, pembacaan yang tidak lurus sehingga menyebabkan kesalahan praktikan, pembacaan yang tidak lurus sehingga menyebabkan kesalahan pengukuran. pengukuran. 4.4.4 Mikrometer 4.4.4 Mikrometer 4.4.4 .a. Grafik  4.4.4 .a. Grafik 

Gambar 4.4 Hasil Pengukuran D luar dengan Mikrometer Gambar 4.4 Hasil Pengukuran D luar dengan Mikrometer 5.448 5.448 5.45 5.45 5.452 5.452 5.454 5.454 5.456 5.456 5.458 5.458 5.46 5.46 5.462 5.462 0 2 4 6 0 2 4 6    H    H    a    a    s    s    i    i     l     l   P   P    e    e    n    n    g    g    u    u     k     k   u   u    r    r    a    a    n    n Pengukuran Pengukuran

ke-Mikrometer

Mikrometer

Data Data acua acua n n Data Data Tony Tony Data Data Fung Fung ki ki Data Data Gunt Gunt ur ur

(28)

4.4.4 b. One Sample T 4.4.4 b. One Sample T Hipotesis Hipotesis H H11 : µ : µ 11= µ = µ 00 H H11 : µ : µ 11≠ µ≠ µ00

Data pada minitab : Data pada minitab :

Test of mu = 5.46 vs not = 5.46 Test of mu = 5.46 vs not = 5.46

Variable

Variable N N Mean Mean StDev StDev SE SE Mean Mean 95% 95% CI CI TT P P Ahmad_3 Ahmad_3 5 5 5.45000 5.45000 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000 (5.45000, (5.45000, 5.45000) 5.45000) ** * * Alby_3 Alby_3 5 5 5.45600 0.00548 5.45600 0.00548 0.00245 0.00245 (5.44920, (5.44920, 5.46280) 5.46280) -1.63-1.63 0.178 0.178 Fungky_3 Fungky_3 5 5 5.45400 5.45400 0.00548 0.00548 0.00245 0.00245 (5.44720, (5.44720, 5.46080) 5.46080) -2.45-2.45 0.070 0.070 Guntur_3 Guntur_3 5 5 5.45000 5.45000 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000 (5.45000, (5.45000, 5.45000) 5.45000) ** * * Sofyan_3 Sofyan_3 5 5 5.45800 5.45800 0.00447 0.00447 0.00200 0.00200 (5.45245, (5.45245, 5.46355) 5.46355) -1.00-1.00 0.374 0.374 Toni_3 Toni_3 5 5 5.45400 0.00548 5.45400 0.00548 0.00245 0.00245 (5.44720, (5.44720, 5.46080) 5.46080) -2.45-2.45 0.070 0.070

* NOTE * All values in column are identical. * NOTE * All values in column are identical.

4.4.4 c.

4.4.4 c. One-way ANOVA: diameter luar versus nameOne-way ANOVA: diameter luar versus name Hipotesis

Hipotesis H

H11 : µ : µ 11= µ = µ 2=2= µ µ 33= µ = µ 44= µ = µ 55

H

H11 : salah satu pasangan µ : salah satu pasangan µ ada yang tidak samaada yang tidak sama

Data dari mimitab: Data dari mimitab:

Source Source DF DF SS SS MS MS F F PP A A 5 5 0,0002567 0,0002567 0,0000513 0,0000513 2,80 2,80 0,0400,040 Error Error 24 24 0,0004400 0,0004400 0,00001830,0000183 Total Total 29 29 0,00069670,0006967 S S = = 0,004282 0,004282 R-Sq R-Sq = = 36,84% 36,84% R-Sq(adj) R-Sq(adj) = = 23,68%23,68%

Individual 95% CIs For Mean Based on Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev

Pooled StDev Level

Level N N Mean Mean StDev StDev ---+---+---+---+- --++++- ---1 1 5 5 5,45000 5,45000 0,00000 0,00000 (---*---)(---*---) 2 2 5 5 5,45600 5,45600 0,00548 0,00548 (---*---)(---*---) 3 3 5 5 5,45400 5,45400 0,00548 0,00548 (---*---)(---*---) 4 4 5 5 5,45000 5,45000 0,00000 0,00000 (---*---)(---*---)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :