• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 3 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 3 Universitas Kristen Petra"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Pengukuran Kerja

Pengukuran kerja adalah suatu aktivitas yang ditujukan untuk mempelajari prinsip-prinsip dan teknik-teknik guna mendapatkan suatu rancangan sistem kerja yang terbaik (Wignjosoebroto, 1995). Prinsip-prinsip dan teknik kerja ini digunakan untuk mengatur komponen-komponen yang ada di dalam suatu sistem kerja yang terdiri dari manusia, mesin, bahan baku, dan peralatan kerja lainnya sehingga dapat dicapai tingkat efektifitas dan efisiensi yang optimal.

Pengukuran kerja berfungsi untuk (Niebel, 1993) :

1. Merencanakan kebutuhan tenaga kerja (human resource planning).

2. Estimasi biaya-biaya untuk upah pekerja.

3. Penjadwalan produksi dan penganggaran.

4. Indikasi output yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja.

5. Mengusahakan terjadinya keseimbangan lintasan (production line balancing).

6. Perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif bagi pekerja yang berprestasi.

Sebelum melakukan pengukuran kerja, maka perlu dilakukan telaah metode kerja yaitu kegiatan pencatatan secara sistematis dan pemeriksaan dengan seksama mengenai cara-cara yang berlaku atau diusulkan untuk melaksanakan kerja.

Sasaran pokok dari efektivitas ini adalah mencari, mengembangkan dan menerapkan metode kerja yang lebih efektif dan efisien dengan tujuan akhir waktu penyelesaian pekerjaan akan lebih singkat. Telaah metode kerja dapat membuat suatu sistem kerja seperti manusia (operator), mesin dan fasilitas kerja lainnya, material serta lingkungan kerja fisik yang saling berinteraksi agar pengaturan kerja menjadi optimal.

2.1.1. Pengukuran Waktu Kerja dengan Jam Henti

Pengukuran waktu kerja dengan jam henti merupakan metode yang dapat diaplikasikan pada pekerjaan yang berulang-ulang dan berlangsung dalam waktu

(2)

yang singkat. Hasil pengukuran waktu kerja akan menghasilkan waktu baku yang dapat dijadikan sebagai standar bagi semua pekerja yang melakukan pekerjaan yang sama.

Kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dalam pengukuran waktu kerja dengan jam henti adalah sebagai berikut (Wignjosoebroto, 1995, halaman 174 ) : 1. Pekerjaan yang diamati harus dilakukan secara berulang-ulang dan uniform.

2. Pekerjaan yang diukur harus homogen.

3. Hasil kerja (output) harus dapat dihitung secara kuantitatif baik secara keseluruhan ataupun untuk tiap-tiap elemen kerja yang berlangsung.

4. Pekerjaan tersebut cukup banyak dilaksanakan dan bersifat teratur, sehingga akan memadai untuk diukur dan dihitung waktu bakunya.

Untuk memperoleh hasil yang baik dan dapat dipercaya, maka pengukuran waktu kerja harus mempertimbangkan banyak faktor. Faktor-faktor yang dimaksud antara lain kondisi kerja, cara pengukuran, jumlah siklus kerja yang diukur, dan lain-lain.

2.1.2. Penetapan Tujuan Pengukuran

Sebelum melaksanakan pengukuran kerja, tujuan dari pengukuran haruslah diidentifikasikan terlebih dahulu untuk apa hasil pengukuran akan dimanfaatkan.

2.1.3. Persiapan Awal Pengukuran Waktu Kerja

Persiapan awal yang dilakukan antara lain mempelajari kondisi dan metode kerja kemudian memperbaiki dan membakukannya, serta memilih operator yang akan diukur. Operator yang akan diukur hendaknya memiliki skill normal dan dapat diajak bekerja sama di dalam kegiatan pengukuran kerja.

2.1.4. Pengadaan Kebutuhan Alat-alat Pengukuran Kerja

Peralatan utama yang digunakan dalam pengukuran kerja adalah jam henti (stop-watch). Untuk mempermudah pencatatan dan memaksimalkan tingkat ketelitian pengukuran digunakan electronic stop-watch. Selain stop-watch, lembar pengamatan merupakan alat pendukung di dalam pengukuran waktu kerja yang

(3)

berfungsi untuk mencatat segala informasi yang berkaitan dengan operasi kerja yang diukur, antara lain deskripsi elemen kerja, jenis produk yang diamati, dan tempat mencatat pembacaan stop-watch untuk setiap elemen kerja.

2.1.5. Pembagian Elemen Kerja

Dalam pelaksanaan pengukuran kerja, pembagian operasi menjadi elemen-elemen kerja harus dilakukan terlebih dahulu. Pembagian tersebut perlu dilakukan agar pengukuran menjadi lebih terperinci. Awal dan akhir dari masing- masing elemen kerja harus ditetapkan dengan jelas untuk mempermudah dan menyeragamkan pengukuran waktu kerja.

Ada tiga aturan yang harus diikuti menurut Wignjosoebroto, Sritomo (1995) untuk membagi suatu operasi ke dalam elemen-elemen kerja, yaitu:

1. Elemen-elemen kerja dibuat sedetail dan sependek mungkin, akan tetapi masih memungkinkan untuk diukur dengan teliti.

2. Handling time seperti loading dan unloading harus dipisahkan dari machining time. Handling time merupakan pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan secara manual oleh operator dan aktivitas pengukuran kerja akan berkonsentrasi di sini.

3. Elemen-elemen kerja yang konstan harus dipisahkan dengan elemen-elemen kerja variabel. Elemen kerja konstan adalah elemen-elemen kerja yang bebas dari pengaruh ukuran, berat, panjang, dan lain-lain.

2.1.6. Cara Pengukuran dan Pencatatan Metode Kerja

Ada dua metode yang umum digunakan untuk mengukur elemen-elemen kerja dengan menggunakan jam henti, yaitu pengukuran waktu secara terus- menerus (continuous timing) dan pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing atau metode snap back).

Pada pengukuran waktu secara terus-menerus, maka pengamat kerja akan menekan tombol jam henti pada saat elemen kerja pertama dimulai dan membiarkan jam henti berjalan terus-menerus sampai periode atau siklus kerja selesai. Waktu dari masing-masing elemen kerja akan diperoleh dari pengurangan

(4)

antar waktu elemen kerja akhir dengan waktu elemen-elemen kerja sebelumnya, pada saat pengukuran waktu selesai dilaksanakan.

Untuk pengukuran waktu secara berulang-ulang, jam henti selalu dikembalikan ke posisi nol pada setiap akhir elemen kerja yang diukur. Setelah pencatatan dilakukan, jam henti dijalankan lagi untuk pengukuran berikutnya.

Pada metode ini, pengukur waktu tidak perlu melakukan pengurangan seperti yang dijumpai pada metode pengukuran waktu secara terus-menerus.

2.2. Peta-peta Kerja dan Peta Proses Operasi (PPO)

Peta kerja didefinisikan sebagai suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas (biasanya kerja produksi). Peta kerja digunakan untuk melihat semua langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja dari mulai masuk ke pabrik kemudian menggambarkan semua langkah yang dialaminya sampai akhir. Elemen-elemen kerja dan simbol-simbol yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Elemen-elemen Kerja dan Simbol-simbolnya

No Elemen Kerja Simbol Keterangan

1 Operasi

Terjadi bila benda kerja mengalami perubahan sifat (fisik atau kimiawi) termasuk mengambil maupun memberikan informasi pada suatu keadaan

2 Pemeriksaan

Terjadi bila benda kerja (objek) mengalami pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas dan tidak menjuruskan bahan ke arah menjadi suatu barang jadi

3 Transportasi

Terjadi bila benda kerja (objek), pekerja, atau perlengkapan mengalami perpindahan tempat yang bukan merupakan bagian dari suatu operasi.

(5)

Tabel 2.1. Elemen-elemen Kerja dan Simbol-simbolnya (sambungan)

No Elemen Kerja Simbol Keterangan

4 Delay

Terjadi bila benda kerja, pekerja, atau perlengkapan tidak mengalami apa-apa selain menunggu. Hal ini menunjukkan bahwa suatu objek ditinggalkan untuk sementara tanpa pencatatan sampai diperlukan kembali

5 Penyimpanan

Terjadi bila benda kerja disimpan untuk jangka waktu yang cukup lama. Jika benda kerja tersebut akan diambil kembali, biasanya memerlukan suatu perijinan tertentu.

6 Aktivitas Gabungan

Terjadi bila antara aktivitas operasi dan Pemeriksaan dilakukan bersamaan atau dilakukan pada suatu tempat kerja

Peta proses operasi (PPO) sering dikenal dengan nama operation process Chart (OPC) adalah suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urutan operasi dan pemeriksaan sejak awal sampai menjadi produk jadi. Operation Process Chart memuat informasi tentang waktu yang diperlukan, material yang digunakan, dan alat yang dipakai untuk proses. Kegunaan dari Operation Process Chart (OPC) yaitu:

• Dapat mengetahui kebutuhan akan mesin dan bahan baku.

• Menentukan tata letak pabrik.

Prinsip-prinsip pembuatan dari peta proses operasi atau Operation Process Chart (OPC) adalah sebagai berikut :

• Pada baris paling atas diberi judul ” Peta Proses Operasi” yang diikuti dengan identifikasi lain seperti nama obyek, nomor peta, nama pembuat peta, dan tanggal pembuatan peta.

• Material yang akan diproses diletakkan di atas garis horizontal, yang menunjukkan bahwa material tersebut masuk ke dalam proses produksi.

(6)

• Lambang-lambang dari ”Peta Proses Operasi” ditempatkan dalam arah vertikal, yang menunjukkan terjadinya perubahan proses.

• Penomoran dari suatu kegiatan operasi diberikan secara berurutan sesuai dengan urutan operasi yang dibutuhkan untuk pembuatan produk tersebut atau sesuai dengan proses yang terjadi.

• Penomoran dari suatu kegiatan pemeriksaan diberikan secara tersendiri, dimana prinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan operasi.

2.3. Pengujian Data

Data-data yang telah dikumpulkan dilakukan pengujian dengan tujuan untuk mengetahui apakah data-data yang telah diperoleh sudah dapat diolah atau belum. Pengujian data-data tersebut terdiri dari :

2.3.1. Pengujian Kenormalan Data

Pengujian kenormalan data bertujuan untuk menduga pola distribusi dari data pengukuran, di sini data pengukuran diduga berdistribusi normal.

Langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian hipotesa dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov (KS). Hipotesa yang digunakan adalah sebagai berikut:

Ho : Distribusi pengamatan = distribusi dugaan (normal) Hi : Distribusi pengamatan distribusi dugaan (normal)

Terima Ho bila P value dengan menggunakan asumsi = 5 %.

2.3.2. Pengujian Keseragaman Data

Pengujian keseragaman data dilakukan untuk mengetahui apakah data- data yang telah diperoleh layak untuk digunakan atau tidak. Data dikatakan seragam apabila data berada di antara kedua batas kontrol yaitu Upper Control Limit (UCL) dan Lower Control Limit (LCL). Data dikatakan tidak seragam apabila data berada di luar kedua batas control yaitu Upper Control Limit (UCL) dan Lower Control Limit (LCL), sehingga data-data tersebut harus dibuang.

(7)

2.3.3. Tes Kecukupan Data

Pengujian kecukupan data dilakukan untuk mengetahui berapakah jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan, oleh karena itu harus ditetapkan terlebih dahulu berapakah tingkat kepercayaan dan derajat ketelitian (degree of accuracy) untuk pengukuran kerja ini. Semakin besar derajat ketelitian yang ditetapkan, maka semakin tidak teliti jumlah pengukuran yang diperoleh. Biasanya dalam aktivitas pengukuran kerja ditetapkan 95% convidence level dan 5% degree ofaccuracy.

Uji kecukupan untuk data > 30 (Niebel, 1993) yaitu :

2 2

2 (

2 / '

30

=

i

i i

x

x x

k N Z N

N

α

(2.3)

Dimana :

N = data yang diambil k = tingkat ketelitian x = rata-rata

Z /2 = tingkat kepercayaan yang diambil xi = jumlah data ke-i

2.4. Faktor Penyesuaian

Faktor penyesuaian atau performance rating merupakan suatu aktivitas untuk menilai kecepatan kerja operator. Pelaksanaan performance rating ini bertujuan agar waktu kerja yang tidak normal sebagai akibat dari cara kerja operator yang kurang wajar dapat dinormalkan kembali.

Untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari hasil pengamatan, maka hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan penyesuaian yaitu dengan mengalikan waktu pengamatan rata-rata dengan ’’p”. Harga dari performance rating adalah sebagai berikut :

• Jika operator dirasakan bekerja terlalu cepat, maka rating faktor ini akan lebih besar dari satu (p>l atau p>100%).

(8)

• Jika operator dirasakan bekerja terlalu lambat, maka rating faktor akan lebih kecil dari satu (p<l atau p<100%).

• Jika operator bekerja secara normal atau wajar, maka rating faktor akan sama dengan satu (p=l). Untuk kondisi kerja dimana operasi dilakukan secara penuh oleh mesin.

Ada 3 metode di dalam pemberian performance rating yaitu sebagai berikut :

a. Skill and effort rating

Prosedur pengukuran kerja yang dibuat oleh Bedaux meliputi kecakapan atau skill serta usaha atau effort.

b. Westinghouse system 's rating

Sistem ini dianggap lebih lengkap karena tidak saja meliputi skill dan effort tetapi ada komponen lainnya. Prosedur pengukuran kerja yang dibuat oleh Westing Company meliputi:

• Kecakapan atau skill.

• Usaha atau effort.

• Kondisi atau condition.

• Konsistensi atau consistency

Berikut ini adalah tabel Performance Ratings dengan Sistem Westinghouse adalah sebagai berikut

Tabel 2.2. Performance Ratings dengan Sistem Westinghouse (Sritomo,1995)

Skill Effort

+ 0.15 A1 Superskill + 0.13 A1 Superskill + 0.13 A2 + 0.12 A2

+ 0.11 B1 Excellent + 0.10 B1 Excellent + 0.08 B2 + 0.08 B2

+ 0.06 C1 Good + 0.05 C1 Good + 0.03 C2 + 0.02 C2

+ 0.00 D Average + 0.00 D Average -0.05 E1 Fair - 0.04 E1 Fair

-0.10 E2 -0.10 E2

-0.15 F1 Poor -0.12 F1 Poor

-0.22 F2 -0.17 F2

(9)

Tabel 2.2. Performance Ratings dengan Sistem Westinghouse (Sritomo,1995) sambungan

Condition Consistency + 0.06 A Ideal + 0.04 A Ideal + 0.C4 B Excellent + 0.03 B Excellent + 0.02 C Good + 0.01 C Good 0.00 D Average 0.00 D Average - 0.03 E Fair - 0.02 E Fair -0.07 F Poor - 0.04 F Poor c. Synthetic rating

Merupakan metode untuk mengevaluasi waktu kerja operator berdasarkan nilai waktu yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Prosedur yang dilakukan adalah dengan melaksanakan pengukuran kerja seperti biasanya, kemudian membandingkan waktu yang diukur dengan waktu penyelesaian elemen kerja yang sebelumnya sudah diketahui data waktunya.

Perbandingan ini merupakan indeks performance atau rating factor dari operator untuk melaksanakan elemen kerja tersebut. Rasio untuk menghitung indeks performance dapat dirumuskan sebagai berikut:

R = P/A (2.4) Dimana :

R = Indeks performance atau rating factor

P = Predetermined time untuk elemen kerja yang diamati (menit) A = Rata-rata waktu dari elemen kerja yang diukur (menit)

2.5. Perhitungan Waktu Siklus

Waktu siklus adalah waktu yang menunjukkan rata-rata dari pengamatan pengerjaan suatu produk, sehingga. rumus untuk waktu siklus adalah sebagai berikut :

N i

Ws = X

(2.5)

Dimana :

Ws = Waktu siklus

(10)

Xi = Penjumlahan dari waktu yang diambil N = Banyaknya pengamatan yang dilakukan

2.6. Perhitungan Waktu Normal

Waktu normal adalah waktu yang menunjukkan dimana seorang operator berkualifikasi baik akan dapat menyelesaikan pekerjaannya pada kecepatan yang normal (Wignjosoebroto, 1995).

Wn = Waktu siklus x performance rating (2.6)

2.7. Kelonggaran (allowance time) dan Perhitungan Waktu Baku

Dalam melakukan kerja, kita tidak dapat mengharapakan seorang operator akan mampu bekerja secara terus-menerus sepanjang hari tanpa adanya interupsi sama sekali. Seringkali operator akan sering berhenti bekerja serta membutuhkan waktu-waktu khusus untuk berbagai keperluan seperti personal needs, istirahat melepas lelah, dan lain-lain. Ada tiga macam kelonggaran waktu atau allowance time yaitu :

1. Personal allowance

Merupakan kelonggaran waktu yang diberikan kepada pekerja untuk melakukan keperluan yang bersifat kebutuhan pribadi seperti minum, ke kamar mandi, ngobrol, dan lain-lain. Kelonggaran ini berkisar antara 0 % – 2.5 % untuk pria dan 2 % - 5 % untuk wanita.

2. Fatique allowance

Yaitu kelonggaran waktu untuk melepaskan lelah. Kelelahan fisik ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain adalah kelelahan mental atau kekuatan fisik yang menurun. Lamanya waktu yang diberikan untuk istirahat selain tergantung pada jenis pekerjaan yang dilakukan juga tergantung pada beberapa faktor lain seperti individu pekerja dan kondisi lingkungan fisik.

3. Delay allowance

Delay atau keterlambatan dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu:

a) Unavoidable delay

Yaitu keterlambatan yang diakibatkan oleh hal-hal di luar kontrol operator dan merupakan interupsi terhadap proses kerja yang sedang berlangsung.

(11)

b) Avoidable delay

Yaitu keterlambatan yang diakibatkan oleh kegiatan yang dilakukan oleh operator yang tidak produktifmisalnya merokok, mengobrol dan lain-lain.

Waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan secara wajar bagi seorang pekerja normal untuk menyelesaikan pekerjaan yang dijalankan dengan sistem terbaik Dalam menentukan waktu baku selain semua elemen kerja juga perlu mempertimbangkan allowance time untuk berbagai hal per hari kerja, sehingga.

rumus untuk waktu baku (Wb) menjadi (Wignjosoebroto, 1995) :

× −

=Wn allowance

Wb 100%

%

100 (2.7)

2.8. Diagram Sebab Akibat atau Cause and Effect Diagram

Diagram sebab akibat sering juga dikenal dengan nama diagram Fishbone atau diagram tulang ikan. Diagram sebab akibat adalah diagram yang tersusun atas garis dan simbol yang menggambarkan hubungan yang penuh dengan arti, antara akibat dan penyebabnya. Masalah atau efek ditunjukkan di sebelah kanan dan penyebabnya ditunjukkan di sebelah kiri dalam struktur seperti pohon. Cabang utama dari pohon dikaitkan dengan penyebab utama, dimana setiap cabang utama memiliki daftar penyebab yang lebih spesifik dari kategori tersebut. Ada 5 faktor penyebab utama yang perlu diperhatikan di dalam menyusun cause and effect diagram yaitu sebagai berikut :

• Manusia (Man)

• Metode kerja (Work method)

• Mesin atau peralatan kerja lainnya (Machine or equipment)

• Bahan-bahan baku (Raw materials)

• Lingkungan kerja (Work environment)

Contoh diagram sebab akibat dapat dilihat pada Gambar 2.1. yang terlampir di bawah ini :

(12)

Gambar 2.1. Contoh Diagram Sebab Akibat

2.9. Diagram Pareto

Diagram pareto adalah grafik batang yang mengurutkan suatu permasalahan dari nilai data paling besar ke nilai data paling kecil. Diagram pareto digunakan untuk memperbandingkan berbagai kategori kejadian yang disusun menurut ukurannya, dari yang paling besar disebelah kiri ke yang paling kecil disebelah kanan. Susunan tersebut akan membantu kita untuk menentukan pentingnya atau prioritas kategori kejadian-kejadian atau sebab-sebab kejadian yang dikaji.

Diagram pareto menggunakan prinsip pareto dengan aturan 80-20, yang menyatakan bahwa 80% masalah datang dari 20% sumber masalah. Dengan demikian kita dapat memusatkan perhatian untuk mengatasi sumber masalahnya secara langsung. Contoh grafik diagram pareto dapat dilihat pada Gambar 2.2.

yang terlampir di bawah ini :

Gambar 2.2. Contoh Diagram Pareto Umur sudah

tua

Belum ada standar cara

Metode

Tidak terlatih

Manusia Mesin

Keropos

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan pengukuran waktu kerja ini adalah untuk mendapatkan waktu baku penyelesaian dari suatu pekerjaan, dimana pengertiannya adalah waktu yang diperlukan secara wajar oleh

Tujuan dari pengukuran waktu baku adalah untuk mendapatkan waktu baku penyelesaian pekerjaan yaitu waktu yang dibutuhkan oleh seorang pekerja normal untuk menyelesaikan pekerjaan

Kontraktor akan menerima dokumen tender dari pemilik yang berisi dokumen-dokumen tender, antara lain: latar belakang proyek; keterangan mengenai pemilik, konsultan perencana,

Waktu baku yang dibutuhkan secara wajar oleh operator 1 untuk menyelesaikan pekerjaannya yang dikerjakan dalam sistem kerja terbaiknya adalah sebesar 3307,59 detik

Waktu baku adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dilakukan secara wajar oleh seorang pekerja normal yang dilaksanakan dengan metode

Lebih jauh lagi pengukuran waktu ditunjukkan juga untuk mendapatkan waktu baku penyelesaian pekerjaan, yaitu waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja normal untuk

Carbon footprint primer adalah jumlah dari emisi karbon dioksida langsung pembakaran bahan bakar fosil, seperti konsumsi domestik energi dengan tungku dan pemanas air,

Sebagai contoh pada lembar dimensi, sub pekerjaan dari kolom baja adalah perhitungan berat dari profil WF 300.150.6,5.9 yang diperlukan maka dilakukan perkalian antar angka yang