12
Universitas Kristen Petra
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Visi dan Misi Perusahaan
Visi Perusahaan ini sebagai berikut:
1. Menjadi kontraktor perusahaan jasa pertambangan dan rental alat – alat berat (A2B) pilihan pertama.
2. Mengutamakan kepuasan pelanggan melalui pelayanan jasa kontraktor pertambangan dan rental alat – alat berat (A2B) yang prima, aman dan efisien.
3. Menunjukkan pada public upaya perusahaan untuk menciptakan dan memelihara lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi seluruh karyawan.
4. Menunjukkan upaya perusahaan untuk bertanggung jawab, hidup harmonis dan seimbang di lingkungan maupun bekerja.
Misi Perusahaan ini sebagai berikut:
1. Memenuhi semua peraturan perundangan yang berlaku dan menerapkan standar K3.
2. Melaksanakan dan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) di seluruh lokasi kerja secara optimal.
3. Melakukan perbaikan secara kesinambungan dalam kinerja mutu, keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan hidup serta keselamatan operasi.
4. Memberikan pelatihan kepada karyawan dalam pemenuhan kompetensinya sehingga tujuan kebijakan ini dapat tercapai dan ditingkatkan.
5. Melakukan sosialisasi kepada seluruh karyawan terkait tujuan kebijakan perusahaan.
4.1.1. Kebijakan Mutu Perusahaan
Kebijakan mutu dari perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Mengutamakan kepuasan pelanggan melalui pelayanan jasa kontraktor pertambangan.
2. Melakukan perbaikan secara kesinambungan dalam kinerja mutu.
13
Universitas Kristen Petra
4.1.2. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi adalah struktur perusahaan dari bagian tertinggi perusahaan hingga bagian bagian paling bawah. Bagian tertinggi pada site perusahaan adalah project manager. Struktur organisasi perusahaan PT. Ryan Eka Pratama dapat dilihat pada 4.1.
Gambar 4.1. Struktur Organisasi Perusahaan
PT. Ryan Eka Pratama memiliki 7 Divisi utama yaitu Overburden, Coal, Engineering, Human Resource Department (HRD), Plant, Safety dan gudang.
Setiap divisi tentunya memiliki bawahan masing – masing, dapat dilihat pada gambar 4.1.
4.1.3. Job Description a. Project Manager
● Memastikan dan monitoring proses perencanaan penambangan tahunan dan bulanan.
● Komunikasi dan koordinasi perencanaan penambangan dengan customer.
● Kontrol dan monitor proses operasional di site semua departemen.
● Bertanggungjawab dalam pelaksanaan program K3LH (Keselamatan Kesehatan kerja dan Lingkungan Hidup) di lingkungan site.
14
Universitas Kristen Petra
● Pembuatan dan pembaruan sistem manajemen di site.
● Monitoring dan control kebutuhan spare part unit produksi dan unit support.
● Kontrol dan monitoring stock taking dan penggunaan fuel.
● Monitroing dan control penggunaan dana kas.
● Komunikasi aktif dengan semua departemen head untuk mencapai target operasional lebih efisien dan efektif.
● Komunikasi aktif dengan instansi dinas terkait berkaitan dengan pertanggung jawaban perusahan sebagai pemegan IUJP.
b. Produksi
1. Departemen Head Produksi
● Bertanggung jawab dalam pelaksanaan program K3LH (Keselamatan kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup) di lingkungan departemen produksi.
● Monitoring dan control proses penambangan sesuai dengan perencanaan tambang dari departemen engineering.
● Kontrol supervisor dan formean produksi dalam pengawasan kegiatan operasional.
● Monitor dan kontrol operasional setiap unit produksi berjalan efektif dan efisien.
● Monitor dan mencatat operasional pompa untuk dewatering area penambangan.
● Koordinasi dan komunikasi efektif dengan pengawas operasional customer.
2. Supervisor Produksi
● Bertanggung jawab dalam pelaksanaan program K3LH (keselamatan kesehatan kerja dan lingkungan hidup) di lingkungan kerja tanggung jawabnya.
● Memastikan proses penambangan sesuai dengan perencanaan tambang dari departemen engineering.
● Mengatur pembagian area kerja dan tanggung jawab pengawas setiap hari.
15
Universitas Kristen Petra
● Monitor dan control setting unit.
● Memastikan setiap area kerja aman dan baik untuk operasional.
● Koordinasi dan komunikasi dengan plant departemen untuk status unit ready atau breakdown.
● Bekerjasama dengan foreman manpower membuat settingan manpower.
● Monitor dan kontrol absensi dan kedisiplinan operator dan driver.
● Koordinasi dan komunikasi efektif dengan engineering dan survei untuk arah penambangan.
● Koordinasi dan komunikasi efektif dengan departemen SHE untuk menciptakan area kerja yang aman.
● Kontrol dan monitoring utilisasi alat produksi di lapangan.
● Membuat daily daily pending untuk shift berikutnya.
3. Foreman Manpower :
● Bersama supervisor produksi membuat settingan manpower untuk alat produksi.
● Kontrol dan monitoring absensi dan kedisiplinan operator dan driver.
● Memberikan konseling dan teguran operator yang melanggar tindakan disiplin.
● Menempatkan operator dan driver sesuai settingannya.
● Informasi dan koordinasi dengan plant departemen untuk unit ready dan breakdown.
● Support penyedia driver dan saran untuk logistic dalam pengambilan barang.
● Mengatur dan membuat jadwal cuti dan off operator dan driver.
4. Formene Produksi:
● Bertanggung jawab dalam pelaksanaan program K3LH (Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup) di lingkungan kerja tanggung jawabnya.
● Menyiapkan lokasi kerja yang aman.
● Memberikan instruksi dan pengarahan ke operator sebelum bekerja mengenai rencana kerja harian dan batasan area kerja.
16
Universitas Kristen Petra
● Memaksimalkan utilisasi unit produksi dengan efisien.
● Mengarahkan dan control penggunaan alat support untuk memaksimalkan proses operasional.
● Mengarahkan dan monitor aktivitas penyiraman jalan dan maintenance jalan.
● Mengatur dan control penempatan tower lamp untuk bekerja malam.
● Koordinasi dan komunikasi dengan team survey untuk batasan dan desain penambangan.
● Koordinasi dan komunikasi efektif dengan pengawasan coal quality di aktivitas coal getting.
c. Departemen Engineering
1. Departemen Head Engineering
● Bertanggung jawab dalam pelaksanaan program K3LH (Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup) di lingkungan department engineering.
● Membuat dan monitoring rencana penambangan tahunan dan bulanan sesuai dengan target perusahaan dan customer.
● Monitoring dan kontrol harian desain dan sequence penambangan sesuai rencana penambangan.
● Memimpin dan monitor tim survei dalam pemasangan desain dengan customer.
● Koordinasi dan komunikasi aktif dengan departemen produksi dan plant dalam pencapaian target produksi sesuai dengan rencana tambang yang sudah disepakati.
● Koordinasi dan komunikasi aktif dengan team engineering, production customer.
● Kontrol dan monitor keluar masuk unit dari site.
2. Surveyor
● Bertanggung jawab terhadap K3 bawahan di lingkungan kerjanya.
● Memasang dan monitor patok desain sesuai dengan rencana penambangan.
● Kontrol dan monitor final slope sesuai dengan desain.
17
Universitas Kristen Petra
● Kontrol dan monitor batas sequence penambangan dan dumping area
● Mengukur progress kerja mingguan.
● Melakukan joint survey dengan survey customer setiap akhir bulan (tutup buku).
● Melakukan sampling muatan truk secara berkala.
● Koordinasi dan komunikasi aktif dengan foreman produksi dalam pembentukan desain tambang.
● Memasang batas area clearing dan kontrol kegiatan clearing.
● Mengukur evaluasi air sump dan bottom pit setiap hari.
3. Asisten Surveyor
● Menempatkan alat survey di posisi terbaik untuk perekaman data.
● Memposisikan alat survey dengan benar.
● Mengarahkan helper surveyor dalam pengambilan titik – titik data.
● Memberikan notasi titik data sesuai kaidah yang disepakati.
● Menjaga alat survey dalam kondisi aman saat perekaman data.
● Menyerahkan data progress kepada surveyor.
d. Departemen Plant 1. Head Plant
● Bertanggung jawab dalam pelaksanaan program K3LH (Keselamatan Kesehatan kerja dan Lingkungan Hidup) di lingkungan Departemen Plant.
● Memastikan ketersediaan alat yang sesuai dengan kebutuhan operasional produksi.
● Menjamin ketersediaan dukungan bagian logistik dan material bagi unit sesuai dengan rencana dan strategi di site.
● Memastikan terlaksananya pengembangan dan implementasi maintenance program.
● Memastikan terkelolanya anggaran/budget maintenance di site sesuai dengan strategi perusahaan.
● Menjamin ketersediaan dukungan maintenance.
● Memastikan terkelolahnya sumber daya yang menjadi tanggung jawabnya.
18
Universitas Kristen Petra
● Memastikan terlaksananya koordinasi/kerjasama dengan pihak internal dan eksternal sehingga dapat menghasilkan sinergi.
2. Plant Superintendent
● Bertanggung jawab dalam pelaksanaan program K3LH di lingkungan departemen plant.
● Memastikan ketersediaan alat yang sesuai dengan kebutuhan operasional produksi.
● Menjamin ketersediaan alat yang sesuai dengan kebutuhan operasional produksi.
● Menjamin ketersediaan alat yang sesuai dengan kebutuhan operasional produksi.
● Menjamin ketersediaan dukungan bagian logistik dan material bagi unti sesuai dengan rencana strategi di site.
● Menjamin ketersediaan dukungan maintenance.
● Memastikan terkelolahnya sumber daya yang menjadi tanggung jawabnya.
● Memastikan terlaksananya koordinasi/kerjasama dengan pihak internal dan eksternal sehingga dapat menghasilkan sinergi.
3. Supervisor service (planned maintenance)
● Bertanggung jawab atas keselamatan kerja subordinate(s)nya dan lingkungan kerja.
● Memastikan perencanaan, pengaturan dan pengawasan seluruh aktivitas planned maintenance alat – alat produksi dan pendukung.
● Memastikan penentuan prioritas aktivitas yang akan dilakukan di lapangan.
● Memastikan berjalannya seluruh aktivitas rencana dengan optimal sesuai dengan biaya.
● Memastikan pembagian tugas bagi para group leader atau kepala grup.
● Bertanggung jawab atas pengawasan dan control aktivitas dan hasil kerja subordinate(s)nya.
● Memastikan koordinasi dengan supervisor terkait untuk melakukan perbaikan.
19
Universitas Kristen Petra
● Memastikan tersedianya laporan aktivitas planned maintenance untuk plant section head.
4. Supervisor Unplanned Maintenance (Heavy equipment dan dump truck)
● Memastikan perencanaan, pengaturan, dan pengawasan seluruh aktivitas unplanned maintenance alat-alat produksi dan pendukung.
● Memastikan penentuan prioritas aktivitas yang akan dilakukan di lapangan.
● Memastikan berjalannya seluruh aktivitas rencana dengan optimal sesuai dengan biaya.
● Memastikan pembagian tugas bagi para group leader atau kepala grup.
● Bertanggung jawab atas pengawasan dan control aktivitas dan hasil kerja subordinate(s)nya.
● Memastikan koordinasi dengan supervisor terkait untuk melakukan perbaikan.
● Memastikan tersedianya laporan aktivitas planned maintenance untuk plant section head.
e. Supervisor gudang
● Menyusun rencana kerja logistik sesuai target yang telah ditetapkan bagi jobsite.
● Memastikan terkelolanya aktivitas logistik dengan user (plant) untuk melancarkan aktivitas maintenance.
● Memastikan koordinasi dengan HO untuk proses pengadaan parts/material/unit tertentu.
● Memastikan tersedianya laporan aktivitas untuk plant section head.
● Bertanggungjawab atas keamanan parts material di area kerjanya.
4.2. Bisnis Proses
Bisnis proses merupakan alur proses perusahaan dalam memenuhi permintaan pelanggan. Alur tersebut berjalan sesuai dengan departemen- departemen yang ada. Bisnis proses dapat dilihat pada Gambar 4.2.
20
Universitas Kristen Petra
Gambar 4.2. Bisnis Proses
21
Universitas Kristen Petra
4.2.1. Sasaran Mutu dan Pencapaian Awal
Sasaran mutu merupakan target yang ingin dicapai perusahaan. Setiap departemen memiliki sasaran atau target yang ingin dicapai. Sasaran mutu dan pencapaian awal PT. Ryan Eka Pratama dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Sasaran Mutu
No Departemen Sasaran Mutu Awal Key Success
Criteria Frekuensi 1 Produksi
Ketepatan Jumlah Produksi 72,5% 85% 1 bulan
Utilitas 46% 56% 1 bulan
2 Engineering
Ketepatan Sequence Penambangan
88% 90% 6 bulan
3 HRD Pelatihan Karyawan 1 kali 1 kali 1 tahun
4 Plant Ketersediaan Mekanis 58% 75% 1 bulan
5
Gudang &
Pembelian
Tingkat Ketepatan stock barang
80% 95% 6 bulan
Pada Tabel 4.1. Dijelaskan setiap sasaran mutu dari setiap departemen. Pada departemen produksi sasaran mutunya yaitu ketepatan jumlah produksi dengan key success criteria sebesar 85% dalam waktu 1 bulan, kemudian utilitas dengan key success criteria sebesar 56% dengan rumus:
Utilitas (Ua) = 𝑊𝑡
(𝑊𝑡+𝑤𝑟+𝑤𝑠𝑡𝑏)𝑥 100% (1)
Sumber: Guntoro et al.
Keterangan:
- Wt= Total waktu operasional unit
- Wr= Total waktu yang hilang akibat kerusakan unit - Wstb= Total waktu standby unit
Kemudian pada departemen engineering sasaran mutunya adalah ketepatan sequence penambangan dengan key success criteria sebesar 90% dalam waktu 6 bulan. Kemudian pada departemen Human Resource Department (HRD) sasaran mutunya adalah pelatihan karyawan dengan key success criteria sebanyak 1 kali dalam waktu 1 tahun. Kemudian pada departemen plant sasaran mutunya adalah ketersedian mekanis alat berat dengan key success criteria sebesar 75% dalam waktu 1 bulan. Rumus dari ketersediaan mekanis:
22
Universitas Kristen Petra
Ketersediaan Mekanis (Ma) = 𝑊𝑡
(𝑊𝑡+𝑤𝑟)𝑥 100% (2)
Sumber: Guntoro et al.
Keterangan:
- Wt= Total waktu operasional unit
- Wr= Total waktu yang hilang akibat kerusakan unit
Kemudian pada departemen safety sasaran mutunya adalah tidak terjadi kecelakaan kerja dengan key success criteria sebesar 100% dalam waktu 6 bulan.
Terakhir, pada departemen gudang dan pembelian, sasaran mutunya adalah tingkat ketepatan stok barang dengan key success criteria sebesar 95% dalam waktu 6 bulan.
Pada table 4.1. dijelaskan pencapaian awal perusahaan setiap departemen.
Pencapaian awal sasaran mutu di departemen produksi terbagi dua, ketepatan jumlah produksi sebesar 72.5% dan utilitas sebesar 46%. Departemen engineering sebesar 88%, HRD 1 kali, plant 68% dan gudang & pembelian 80%. Berikut perhitungan audit awal utilitas dan ketersediaan mekanis:
Utilitas (Ua) = 345 𝑗𝑎𝑚
(345 𝑗𝑎𝑚+250𝑗𝑎𝑚+150𝑗𝑎𝑚)𝑥 100%
=
46%Ketersediaan Mekanis (Ma) = 345 𝑗𝑎𝑚
(345𝑗𝑎𝑚+250𝑗𝑎𝑚)𝑥 100%
=
58%4.2.2. Proses Kerja
Proses kerja merupakan bagian dari bisnis proses. Perbedaan dari bisnis proses dan proses kerja adalah pada proses kerja lebih menjelaskan proses setiap departemen. Salah satu contoh proses kerja truk batu batara dapat dilihat pada Gambar 4.3. Untuk departemen lain dapat dilihat dari Lampiran 1-9.
23
Universitas Kristen Petra
Gambar 4.3. Proses Kerja Truk Batubara
24
Universitas Kristen Petra
Tujuan dari proses kerja truk batu bara pada Gambar 4.2. adalah agar mengetahui alur kerja dari truk batubara sehingga lebih optimal. Pada awalnya kepala produksi dan supervisor produksi membaca layout tambang, kemudian supervisor produksi mengatur operator kendaraan sesuai dengan jumlah unit.
Kemudian, kendaraan berangkat ke excavator yang kosong. Setelah itu menunggu muatan penuh, jika ada tanda suara (klakson) menandakan dumptruk siap untuk jalan. Kemudian, kendaraan berangkat ke pelabuhan dengan jarak kurang lebih 25 km dari tambang. Setelah itu menimbang berat kendaraan di pelabuhan. Setelah menimbang berat kendaraan di pelabuhan, operator unit menurunkan batubara di tempat yang ditentukan. Kemudian, dumptruk kembali ke tambang. Dumptruk terisi sebelum ganti shift. Setelah sudah terisi, dumptruk kembali ke tambang.
Terakhir, mengisi checklist kondisi kendaraan di akhir shift.
4.3 Tinjauan Gap Analisis Awal ISO 9001:2015
Gap analysis bertujuan mengetahui sejauh mana perusahaan memenuhi persyaratan untuk mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2015. Tinjauan gap analysis dilakukan satu kali yaitu pada saat awal. Tinjauan gap analysis sistem manajemen mutu di PT Ryan Eka Pratama dilakukan berdasarkan kesesuaian kondisi aktual perusahaan dengan klausul-klausul yang ada. Berikut hasil tinjauan gap analysis awal perusahaan.
Tabel 4.2. Analisa Gap Awal Klausul Kesesuaian
Total Persentase Klausul Sesuai Tidak Sesuai
Klausul 4 7 11 18 38,89%
Klausul 5 15 11 26 57.69%
Klausul 6 0 23 23 0%
Klausul 7 11 17 28 39.28%
Klausul 8 60 57 117 51.28%
Klausul 9 15 27 42 35,71%
Klausul 10 0 15 15 0%
Rata-rata 31,80%
Tabel 4.2. menujukkan hasil analisa gap analysis awal sebelum PT. Ryan Eka Pratama melakukan perancangan ISO 9001:2015. Tinjauan klausul empat
25
Universitas Kristen Petra
memiliki presentase 38.89%, dimana perusahaan belum memahami konteks organisasi secara detail dalam sisi isu eksternal dan internal. Klausul lima memiliki presentase tertinggi di angka 57.69% karena kepemimpinan perusahaan berkomitmen terhadap customer focus.
Klausul enam dan sepuluh belum ada di perusahaan sehingga memiliki presentase paling rendah sebesar 0%. Perusahaan mengalami permasalahan karena tidak mempertimbangkan risiko peluang terjadinya kegagalan, tidak mengevaluasi dan organisasi belum meningkatkan jasa untuk masa depan. Pengembangan sistem oleh penulis ditekankan pada klausul enam yaitu melihat risiko peluang terjadinya kegagalan.
Klausul tujuh memiliki presentase sebesar 39.28%, kelemahan perusahaan dikarenakan belum membuat kopetensi pekerja sehingga karyawan yang berkerja di perusahaan kurang berkopeten. Klausul delapan memiliki presentase sebesar 51.28%, kelemahan perusahaan dikarenakan tidak melakukan pegembangan produk atau jasa sehingga selalu sama tidak ada perkembangan. Klausul sembilan memiliki presentase sebesar 35.71%, permasalahan diklausuk sembilan adalah perusahaan tidak pernah melakukan audit internal agar kinerja perusahaan sesuai dengan sasaran mutu dan belum melakukan pemantauan presepsi pelanggan.
4.4. Analisis Risiko
Dalam analisis Risiko (Klausul 6.1), membahas mengenai penerapan mengenai analisis risiko dan peluang, dalam klausul ini PT. Ryan Eka Pratama telah mempelajari berbagai risiko dan peluang dengan mempertimbangkan isu-isu eksternal dan internal. Tujuan dengan dibuatnya langkah perbaikan ini dapat mengurangi dan mencegah dari dampak risiko yang tidak diinginkan serta dapat melakukan perbaikan berkelanjutan yang dapat tercapainya manajemen mutu.
Analisis risiko harus sering dilakukan evaluasi secara rutin. Tabel 4.3 menjelaskan nilai probabilitas dan dampak yang ditentukan perusahaan. Jika warna yang ditunjukkan berwarna oranye dan merah maka perlu dilakukannya mitigasi. Untuk warna merah menandakan perusahaan segera menindaklanjutinya. Periode analisis risiko dilakukan setiap 6 bulan sekali.
Tabel 4.3. Matriks Risiko
26
Universitas Kristen Petra
Sumber: Badan Pengawas Keuangan Dan Pembangunan (2011)
Matriks risiko pada Tabel 4.3. menunjukkan kondisi perusahaan. Tingkat terjadinya risiko dibagi menjadi lima bagian sebagai berikut:
1. Probabilitas 1= 0%-5%
2. Probabilitas 2= 5%-10%
3. Probabilitas 3= 10%-40%
4. Probabilitas 4= 40%-60%
5. Probabilitas 5= 60%-100%
Risiko yang terjadi dijelaskan berdasarkan warna sebagai berikut:
1. Putih : Dapat diabaikan 2. Hijau : Dapat ditoleransi 3. Kuning : Risiko Sedang 4. Oranye : Risiko tinggi
5. Merah : Tidak dapat ditoleransi
Tabel 4.4. dan Tabel 4.5. menunjukkan hasil dari keriteria penilaian dampak secara internal dan eksternal. Pada Tabel 4.4. dan Tabel 4.5. menunjukkan skor dampak yang terjadi. Dampak internal dilihat dari mutu produk dalam sisi kerugian finansial. Kemudian pada external dilihat dari complain customer ke perusahaan.
Tabel 4.4. Kriteria Penilaian Dampak Internal
Internal Mutu Produk dari Kerugian Finansial
<100 juta 1
100-250 juta 2
250-500 juta 3
500 juta-1 milliar 4
>1 milliar 5
27
Universitas Kristen Petra
Sumber: Badan Pengawas Keuangan Dan Pembangunan (2011) Tabel 4.5. Kriteria Penilaian Dampak Eksternal
Sumber: Badan Pengawas Keuangan Dan Pembangunan (2011)
Berikut merupakan contoh analisis risiko setiap departemen berdasarkan sasaran mutu perusahaan PT. Ryan Eka Pratama.
Eksternal
Komplain yang masih bisa diterima (tidak kecewa) 1 Komplain customer yang tidak bisa diterima dan tidak ganti rugi 2 Komplain customer ganti rugi sebagian 3
Customer meminta ganti rugi 4
Citra Perusahaan Jatuh 5
28
Universitas Kristen Petra
4.4.1 Analisa Risiko Sasaran Mutu Departemen Produksi a. Sasaran Mutu Ketepatan Jumlah Produksi
Tabel 4.6. Analisis Risiko Sasaran Mutu Ketepatan Jumlah Produksi
Tabel 4.6. merupakan analisis risiko sasaran mutu dari departemen produksi, departemen ini memiliki lima aktivitas proses. Aktifitas proses pertama adalah menggali batu bara. Menggali batu bara memiliki dua potensi kegagalan. Potensi kegagalan pertama adalah adanya tanah terangkut. Adanya tanah terangkut disebabkan operator yang kurang teliti, karena operator kurang bisa membedakan tanah dan batu bara. Dampaknya adalah kadar batu bara menurun sehingga mendapat complain dang anti rugi sebagian. Nilai RPN yang didapat adalah tiga (sedang). Pengendalian saat ini yang dilakukan perusahaan adalah pelatihan membedakan batubara tipis dan tebal. Kemudian, potensi kegagalan kedua adalah part kuku excavator lepas. Lepasnya part kuku tersebut
D P RPN Kategori Risk
Ada tanah yang terangkut
Kadar batu bara menurun sehingga mendapat komplain
Operator kurang memahami perbedaan tanah dan batu bara
3 1 3 Sedang
Pelatihan membedakan batubara tipis dan tebal
Part kuku excavator terangkut ke dalam truck
Ganti rugi perbaikan crusher batu bara karena part kuku
Kelalaian bagian
maintenence 2 1 2 Ditoleransi
Memeriksa kondisi unit sebelun shift dimulai
2Diangkut ke dumptruck
Dumptruck terlalu penuh
Mendapat komplain batubara tumpah ke jalanan
Operator tidak fokus pada saat pengangkutan
2 1 2 Ditoleransi
Melihat truck penuh atau tidak secara visual
3
Stop jika terlihat batu bara
Batu bara tebal terangkat ke truck OB
Komplain dari customer karena batubara berkurang
Tidak ada standar membedakan batubara dengan tanah
2 1 2 Ditoleransi
Melihat perbedaan tanah dan batubara secara visual
4
Dumptruck berangkat ke pelabuhan
Dumptruck lama sampai ke
pelabuhan
Komplain dari customer karena ret dumtruck tidak tercapai
Debu tebal sehingga jarak pandang berkurang
2 4 8 Tinggi Tidak ada
5
Mengatur jumlah kendaraan
Target produksi tidak tercapai
Komplain customer produksi tidak tercapai
Ada
kendaraan/unit yang rusak
2 2 4 Sedang
Mengatur jumlah kendaraan seadanya 1 Menggali batu
bara
No Aktivitas Proses Potensi
Kegagalan Dampak Penyebab
Saat Yang lalu
Pengendalian saat ini
29
Universitas Kristen Petra
disebabkan part kuku yang longgar dan operator tidak memeriksa kondisi unit di awal shift. Dampaknya adalah ganti rugi perbaikan crusher batu bara karena part kuku. Penyebabnya adalah kelalaian bagian maintenance. Nilai RPN adalah dua (ditorenasi). Pengendalian yang dilakukan perusahaan saat ini adalah memeriksa kondisi unit sebelum shift dimulai.
Kedua adalah aktivitas proses diangkut ke dumptruck. Potensi kegagalannya adalah dumptruk terlalu penuh. Dumptruck penuh disebabkan operator tidak memperhitungkan dengan baik yang disebabkan oleh operator yang tidak focus pada saat pembuatan ke dumptruck. Dampaknya adalah mendapat komplain batubara tumpah ke jalanan. Nilai RPN yang didapat adalah dua (ditoleransi). Pengendalian saat ini yang dilakukan perusahaan adalah melihat perbedaan tanah dan batubara secara visual.
Ketiga adalah aktivitas proses stop ketika terlihat batubara. Potensi kegagalannya adalah batu bara tebal terangkat ke dalam truck tanah (OB).
Dampak yang terjadi ketika hal tersebut terjadi, perusahaan mendapat komplain dari customer karena batu bara yang dihasilkan berkurang. Penyebab dari kegagalan tersebut adalah operator kurang bisa membedakan tanah dan batu bara, membedakan tanah dan batu bara hanya dilihat secara visual saja dan perusahaan tidak ada standar gambar untuk membedakan batubara dengan tanah. RPN dari potensi kegagalan bernilai dua yang berarti kategori risiko dapat ditoleransi sehingga tidak perlu dilakukan mitigasi. Pengendalian saat ini yang dilakukan adalah dengan cara melihat perbedaan tanah dan batu bara secara visual.
Keempat adalah dumptruck berangkat ke pelabuhan. Pada aktivitas ini memiliki satu potensi kegagalan. Potensi kegagalan tersebut adalah dumptruck lama sampai pelabuhan dan terjadi tabrakan pada saat menuju pelabuhan.
Potensi kegagalan pertama disebabkan operator mengendarai dumptruck di bawah batas kecepatan. Operator mengendarai di bawah batas kecepatan karena ada debu tebal sehingga jarak pandang berkurang. Dampaknya komplain dari customer karena ret dumptruck tidak tercapai. Nilai RPN yang diperoleh adalah delapan (tinggi) dan perlu dilakukan mitigasi. Pengendalian saat ini masih belum ada.
30
Universitas Kristen Petra
Aktivitas kelima adalah mengatur jumlah kendaraan. Potensi kegagalan target produksi tidak tercapai. Tidak tercapainya produksi disebabkan jumlah kendaraan ready tidak sesuai rencana, ketidaksesuaian rencana tersebut disebabkan oleh unit yang rusak. Dampaknya komplain customer karena produksi tidak tercapai. Nilai RPN menunjukkan empat (sedang) dengan pengendalian saat ini adalah mengatur jumlah kendaraan seadanya jika kekurangan kencaraan yang ready.
b. Sasaran Mutu Utilitas
Tabel 4.7. Analisis Risiko Sasaran Mutu Utilitas
Tabel 4.7 merupakan analisis risiko sasaran mutu pada departemen produksi, disasaran mutu utilitas terdapat tiga aktivitas proses. Aktifitas proses pertama adalah laporan unit rusak. Potensi kegagalan adalah laporan unit rusak tidak sampai ke departemen plant. Penyebabnya komunikasi tidak langsung disampaikan ke departemen plant. Penyebab komunikasi tidak langsung tersampai karena informasi tertahan di departemen produksi. Dampaknya waktu produksi berkurang sehingga di komplain customer. Nilai RPN delapan (tinggi), perlu dilakukannya mitigasi. Pengendalian saat ini adalah operator menyampaikan informasi ke produksi terlebih dahulu.
Kedua adalah aktivitas proses penambangan. Potensi kegagalan aktivitas penambangan adalah ketika penambangan berhenti beroperasi
Saat Yang lalu
D P RPN Kategori
Risk
1Laporan unit rusak
Laporan unit rusak tidak sampai ke departemen plant
Waktu produksi berkurang sehingga di komplain customer
Informasi kerusakan tertahan di bagian produksi tidak sampai
2 4 8 Tinggi
Operator menyampaikan informasi ke produksi terlebih dahulu
2 PenambanganPenambangan
Berhenti
Tidak ada
produksi Hujan 5 3 15 Tinggi
Menggejar produksi pada saat tidak hujan
3
Mengatur operator sesuai jumlah unit yang ready
Operator masuk tidak sesuai jumlah unit yang ready
Kelebihan operator atau kekurangan operator
Data unit yang ready tidak sesuai jumlah operator
2 4 8 Tinggi
Departemen Plant melakukan update data 2 hari sekali
No Aktivitas Proses Potensi
Kegagalan Dampak Penyebab Pengendalian saat
ini
31
Universitas Kristen Petra
sehingga menyebabkan tidak ada produksi yang dihasilkan. Proses oprasional tidak mungkin dijalankan karena dapat beresiko besar ketika hujan sehingga proses penambangan harus distop saat hujan. Setelah hujan berhenti proses penambangan belum bisa berjalan karena kondisi tanah yang masih basah, sehingga harus menunggu sekitar 1-2 jam agar tanah bisa keras kembali. Nilai RPN pada aktivitas proses ini adalah 15 (tinggi) tetapi tidak dapat dilakukan mitigasi karena cuaca tidak dapat dikendalikan. Pengedalian saat ini yang dilakukan adalah mengejar produksi pada saat tidak hujan.
Ketiga adalah mengatur operator sesuai jumlah unit yang ready potensi kegagalan pada proses ini adalah operator masuk tidak sesuai jumlah unit yang ready, disebabkan data unit ready tidak update, data tidak update karena departemen plant hanya melakukan update dua hari sekali sehingga departemen produksi bisa salah dalam mengatur jumlah operator. Dampak yang terjadi adalah membayar gaji lembur pegawai saat operator berlebihan dan ketika kekurangan operator maka unit yang ready tidak bisa jalan. Nilai RPN memiliki nomor 8 dan termasuk dalam kategori tinggi dan harus dilakukan mitigasi.
Pengendalian saat ini yang dilakukan adalah melakukan update data unit 2 hari sekali.
4.4.2 Analisa Risiko Sasaran Mutu Departemen Engineering
Tabel 4.8. Analisis Risiko Sasaran Mutu Ketepatan Sequence Penambangan
Tabel 4.8. menunjukkan analisis risiko sasaran mutu departemen engineering, departemen ini memiliki dua aktivitas proses. Pertama, melakukan pengukuran tanah. Potensi kegagalanya adalah pengukuran tanah tidak sesuai.
D P RPN Kategori
Risk
1
Melakukan Pengukuran tanah
Pengukuran tanah tidak sesuai
perusahaan mengalami kerugian finansial
Kurangnya alat untuk pengukuran tanah dan batubara
2 1 2 Ditoleransi
Melakukan titik pengukuran secukupnya
2
Membuat denah tambang
Alur produksi tidak lacar
Pemenuhan order terlambat
Jalan penambang an kurang besar
2 1 2 Ditoleransi
Melakukan pelebaran jalan No Aktivitas Proses Potensi
Kegagalan Dampak Penyebab
Saat Yang lalu Pengendalian
saat ini
32
Universitas Kristen Petra
Pengukuran tanah tidak sesuai disebabkan oleh titik pengukuran tanah dan batu bara yang kurang banyak, kurangnya titik pengukuran disebabkan terbatasnya alat untuk pengukuran tanah dan batu bara. Dampaknya adalah perusahaan mengalami kerugian finansial. Nilai RPN adalah dua (ditoleransi), sehingga tidak diperlukannya mitigasi. Pengendalian saat ini yang dilakukan perusahaan adalah melakukan titik pengukuran secukupnya.
Aktivitas kedua adalah membuat denah tambang. Potensi kegagalan adalah alur produksi yang tidak lancar. Penyebabnya adalah terjadinya kemacetan di jalan penambangan, kemacetan terjadi disebabkan jalan penambangan kurang besar.
Dampaknya adalah komplain customer produksi tidak tercapai. Nilai RPN menunjukkan dua (ditoleransi), sehingga tidak diperlukannya mitigasi.
Pengendalian saat ini adalah mengatur jumlah kendaraan seadanya.
4.4.3 Analisa Risiko Sasaran Mutu Departemen HRD
Tabel 4.9. Analisis Risiko Sasaran Mutu Pelatihan Karyawan
Tabel 4.9. menunjukkan analisis risiko departemen HRD, departemen HRD memiliki satu aktivitas proses yaitu melakukan pelatihan karyawan setiap tahunnya minimal satu kali. Potensi kegagalan adalah tidak dilakukan pelatihan karyawan, pelatihan karyawan tidak tilakukan karena tidak ada waktu untuk melakukan pelatihan. Dampaknya karyawan tidak terlatih sehingga customer tidak puas dengan kinerja perusahaan yang menurun. Nilai RPN menunjukkan enam (sedang) sehingga tidak diperlukan mitigasi. Pengendalian yang dilakukan perusahaan saat ini adalah melakukan pelatihan di waktu yang kosong karyawan yang tidak terlalu sibuk.
D P RPN Kategori
Risk
1
Melakukan pelatihan karyawan
Tidak dilakukan pelatihan karyawan
Karyawan tidak terlatih sehingga customer tidak puas
Tidak sempat melakukan pelatihan
2 3 6 Sedang
Melakukan pelatihan di waktu kosong Saat Yang lalu
No Aktivitas
Proses
Potensi
Kegagalan Dampak Penyebab Pengendalian
saat ini
33
Universitas Kristen Petra
4.4.4 Analisa Risiko Sasaran Mutu Departemen Plant
Tabel 4.10. Analisis Risiko Sasaran Mutu Ketersediaan Mekanis
Tabel 4.10 menunjukkan analisis risiko sasaran mutu pada departemen plant. Departemen plant memiliki tiga aktivitas proses, aktivitas pertama adalah melakukan perawatan seperti ganti oli dan filter. Potensi kegagalan adalah tidak dilakukan perawatan berkala. Penyebabnya adalah mekanik plant tidak tahu ada kerusakan. Hal tersebut terjadi dikarenakan operator unit tidak mengisi checklist kendaraan di akhir shift. Dampaknya kerugian finansial karena unit breakdown.
Nilai RPN menunjukkan enam (sedang) sehingga tidak diperlukan mitigasi.
Pengendalian saat ini adalah memeriksa checklist kendaraan di akhir shift.
Aktivitas proses kedua adalah memeriksa kondisi alat berat. Potensi kegagalan adalah tidak menemukan titik kerusakan di dalam mesin. Tidak menemukan titik kerusakan di dalam mesin dikarenakan unit semakin canggih dan perusahaan tidak memiliki komputer untuk memeriksa kondisi unit. Dampaknya adalah biaya memanggil mekanik outsource. Nilai RPN menunjukkan enam (sedang) sehingga tidak diperlukan mitigasi. Pengendalian saat ini adalah melakukan perbaikan sebisa mungkin.
Aktivitas ketiga adalah order barang dengan potensi kegagalan barang yang datang tidak sesuai. Barang tidak sesuai dikarenakan salah pemesanan sparepart, kesalahan tersebut disebabkan karena tidak memberikan foto barang dengan detail.
Saat Yang lalu
D P RPN Kategori
Risk
1
Melakukan perawatan (ganti oli, filter)
Tidak dilakukan perawatan berkala
kerugian finansial karena unit breakdown
Operator kendaraan tidak melihat checklist kendaraan di akhir shift
3 2 6 Sedang
Memeriksa checklist kendaraan diakhir shift
2
Memeriksa kondisi alat berat
Tidak menemukan titik kerusakan didalam mesin
Biaya memanggil mekanik outsouce
Tidak mempunyai komputer untuk memeriksa kondisi unit
2 3 6 Sedang
Melakukan perbaikan sebisa mungkin
3Order barang (sparepart )
Barang yang datang tidak sesuai
Maintenence terhambat sehingga produksi juga terlambat
Tidak memberikan foto barang dengan detail
2 4 8 Tinggi
Hanya mengirimkan part number
No Aktivitas Proses Potensi Kegagalan Dampak Penyebab Pengendalian
saat ini
34
Universitas Kristen Petra
Dampaknya adalah maintenance terhambat sehingga menambah waktu breadown dan juga berpengaruh terhadap jumlah produksi. Nilai RPN menunjukkan delapan (tinggi) sehingga perlu dilakukan mitigasi. Pengendalian saat ini adalah hanya mengirimkan part number.
4.4.5 Analisa Risiko Sasaran Mutu Departemen Gudang
Tabel 4.11. Analisis Risiko Sasaran Mutu Tingkat Ketepatan Stock Barang
Tabel 4.11. menunjukkan analisis risiko sasaran mutu departemen gudang, departemen ini memiliki tiga aktivitas proses. Aktivitas pertama adalah input barang datang di software. Potensi kegagalanya adalah tidak dilakukannya input data barang di software. Kegagalan tersebut disebabkan pada saat barang datang karyawan gudang tidak langsung input data di software. Hal tersebut dikarenakan karyawan gudang menunda-nunda untuk input data. Dampaknya jumlah barang tidak sesuai dengan stok sehingga dapat mengalami kerugian finansial. Nilai RPN menunjukkan empat (sedang) sehingga tidak perlu diulakukan mitigasi.
Pengendalian saat ini adalah melakukan input setelah barang datang.
Aktivitas kedua adalah meletakan barang datang pada tempatnya. Potensi kegagalnya adalah barang tidak diletakan pada tempatnya, hal tersebut disebabkan
D P RPN Kategori
Risk
1
Input barang datang di software
TIdak input data barang di software
Jumlah barang tidak sesuai stock sehingga dapat menggalami kerugian finansial
Karyawan gudang menunda- nunda untuk input data
2 2 4 Sedang
Melakukan input setelah barang datang
2
Meletakkan barang datang pada tempatnya
Barang tidak diletakkan pada tempatnya
Kerugian finansial karena kehilangan barang
Barang tidak ditata dengan rapi
2 4 8 Tinggi
Meletakkan barang ditempat yang kosong
3
Melakukan stock opname
Data sofware tidak sesuai dengan realita
Barang hilang karena tidap sesuai data stock
Staff kualahan untuk melakukan stockopname
2 4 8 Tinggi
Mengejar ketertinggala n update stock No Aktivitas
Proses
Potensi
Kegagalan Dampak Penyebab
Saat Yang lalu
Pengendalian saat ini
35
Universitas Kristen Petra
tempat penyimpanan tidak tersedia. Penyimpanan tidak tersedia karena barang tidak ditata dengan rapi, karyawan meletakkan barang-barang tersebut sembarangan. Dampaknya adalah kerugian finansial karena kehilangan barang.
Nilai RPN menunjukkan delapan (tinggi) perlu dilakukan mitigasi. Pengendalian saat ini yang dilakukan adalah meletakan barang di tempat yang kosong.
Aktivitas terakhir pada departemen gudang adalah melakukan stock opname. Potensi kegagalan adalah data software tidak sesuai dengan realita dengan penyebabnya staff kewalahan untuk melakukan stock opname. Kewalahan tersebut dikarenakan kurangnya orang didepartemen gudang untuk melakukan stock opname. Dampaknya barang hilang karena tidak sesuai data stok. Nilai RPN menunjukkan delapan (tinggi), perlu dilakukannya mitigasi. Pengendalian yang dilakukan perusahaan saat ini adalah mengejar ketertinggalan update stok.
4.5. Mitigasi Risiko Sasaran Mutu
Mitigasi merupakan upaya untuk mengurangi risiko yang terjadi. Pada penelitian ini ada beberapa analisis risiko yang memerlukan mitigasi. Mitigasi dilakukan jika hasil dari nilai RPN menunjukkan kategori tinggi atau tidak dapat ditoleransi. Dari Tabel 4.2 Sasaran Mutu terdapat gap antara pencapaian mutu awal dan targetnya. Sasaran mutu ketepatan jumlah produksi kurang 12.5% untuk mencapai KPI, utilitas kurang 10%, sasaran mutu ketepatan sequence penambangan kurang 2%, sasaran mutu ketersediaan mekanis kurang 17% dan sasaran mutu terakhir tingkat ketepatan stock barang kurang 15% untuk mencapai KPI. Sasaran mutu dengan gap yang besar akan dilakukan mitigasi sedangkan gap yang paling kecil pada kesempatan ini tidak dilakukan mitigasi karena keterbatasan waktu
36
Universitas Kristen Petra
4.5.1 Mitigasi Risiko Sasaran Mutu Departemen Produksi a. Sasaran Mutu Ketepatan Jumlah Produksi
Tabel 4.12. Mitigasi Risiko Sasaran Mutu Ketepatan Jumlah Produksi
DPRPNKategori RiskMitigasiDPRPN 4Dumptruck berangkat ke pelabuhan
Dumptruck lama sampai ke pelabuhan
Komplain dari customer karena ret dumtruck tidak tercapai Debu tebal sehingga jarak pandang dan kecepatan berkurang
248TinggiTidak adaMelakukan penyiraman jalan
224
Saat Yang laluPengendalian saat iniSaat Akan Datang NoAktivitas ProsesPotensi KegagalanDampakPenyebab
37
Universitas Kristen Petra
Penyiraman dilakukan di sepanjang jalan ke pelabuhan. Penyiraman ini dilakukan pada saat musim panas. Hal ini dilakukan karena debu yang tebal, tebalnya debu tersebut menyebabkan jarak pandang dan kecepatan sopir truck batu bara berkurang hal tersebut menyebabkan target ret produksi tidak tercapai. Akses jalan menuju pelabuhan disediakan khusus hanya untuk perusahaan PT. Ryan Eka Pratama begitu juga dengan pelabuhannya.
Sepanjang jalan menuju pelabuhan tidak ada tempat untuk berhenti karena sisi- sisinya hutan, selain itu juga terdapat mobil patroli dari perusahaan untuk memantau jalanan ke pelabuhan.
Melakukan penyiraman jalan dilakukan oleh sopir truck tangki air.
Penyirman dilakukan pada saat perjalanan menuju ke pelabuhan yang berjarak kurang lebih 25 kilometer sebanyak 1 tangki dengan ukuran 10.000 liter per tangki. Penyiraman dilakukan sebanyak tiga kali setiap shift nya, pertama dilakukan pada jam 08.00, 11.00, dan 14.00. Shift kedua dilakukan pada jam 20.00, 23.00, dan 02.00. Air penyiraman diambil dari air danau disekitar tambang (sehingga tidak mengeluar biaya tambahan air). Biaya investasi di awal yang diperlukan adalah membeli dua buah truck tanki air seharga Rp 1.000.000.000, selain itu ada beberapa pengeluaran yang diperlukan untuk melakukan mitigasi pada departemen dumptruck dapat dilihat pada Tabel 4.13:
Tabel 4.13. Biaya Pengeluaran Untuk Mitigasi
Tabel 4.13. mejelaskan biaya-biaya yang diperlukan untuk melakukan mitigasi penyiraman jalan. Penyiraman jalan membutuhkan 2 tangki air yang berukuran 10.000 liter per tangki. Kecepatan rata-rata truck tangki air adalah 20 Km/jam dengan konsumsi solar 7 Km/Liter dan harga solar 12.000 per liter sehingga total pemakaian solar per harinya sebesar Rp 514.200. Total Biaya awal yang dikeluarkan untuk melakukan mitigasi sebesar Rp 1.420.712.000.
Jumlah Pengeluaran Biaya Per Tahun Total Biaya
2 Gaji Pegawai Rp 8.000.000 Rp 112.000.000 Rp 112.000.000
2 Iuran BPJS Rp 150.000 Rp 3.600.000 Rp 3.600.000
6 Ret Solar Rp 514.200 Rp 185.112.000 Rp 185.112.000
2 bulan
sekali Ganti oli, Sparepart Rp 20.000.000 Rp 120.000.000 Rp 120.000.000 Rp 420.712.000
38
Universitas Kristen Petra
Berikut perhitungan solusi pembelian truck tangki layak digunakan dapat dilihat pada Tabel 4.14:
Tabel 4.14 Perhitungan Perbedaan Pendapatan Setelah Mitigasi
Tabel 4.14 merupakan kisaran perhitungan keuntungan setelah dilakukannya mitigasi. Penyiraman jalan dapat membantu proses perjalanan ke pelabuhan lebih cepat sehingga ret setiap truck akan bertambah satu. Dengan bertambahnya satu ret setiap dumptruck maka setiap hari akan menambah pendapatan sebesar Rp 150.000.000. Nilai RPN yang diharapkan setelah mitigasi adalah 4 (rendah) dengan menurunkan probabilitas terjadinya kegagalannya.
Hasil mitigasi yang diusulkan diatas masih belum sempurna perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Beberapa kajian tersebut adalah dilakukannya perhitungan perbedaan pengeluaran antara dumptruck 5 ret dengan 4 ret sehingga dapat mengetahui potensi keuntungan yang didapat dan menghitung berapa lama break even point. Kajian selanjutnya adalah dengan melakukan simulasi penjadwalan loading, antri dan unloading untuk mengetahui lebih detail dampak mitigasi apakah layak dengan mitigasi yang diusulkan.
Oprasional 2
shift Nilai 1 ret/truck Pendapatan
Total DumpTruck 15 Truck Rp 5.000.000
Target Setelah Mitigasi 5 Ret 150 Ret Kenyataan rata2 4 Ret 120 Ret
1 hari Rp 150.000.000
Satu Tahun Rp 1.800.000.000 Selisih 30 Ret
39
Universitas Kristen Petra
a. Sasaran Mutu Utilitas
Tabel 4.15. Mitigasi Risiko Sasaran Mutu Utilitas
Saat Yang lalu DPRPNKategori RiskMitigasiDPRPN 1Laporan unit rusak
Laporan unit rusak tidak sampai ke departemen plant
Waktu produksi berkurang sehingga di komplain customer
Informasi kerusakan tertahan di bagian produksi tidak sampai ke plant
248Tinggi
Operator menyampaikan informasi ke produksi terlebih dahulu
Membuat form kerusakan, maksimal 3 jam berita kerusakan sampai ke dept plant
224 3
Mengatur operator sesuai jumlah unit yang ready
Operator masuk tidak sesuai jumlah unit yang ready
Kelebihan operator atau kekurangan operator
Data unit yang ready tidak sesuai jumlah operator
248Tinggi
Departemen Plant melakukan update data 2 hari sekali Departemen Plant mengupdate data setiap ganti shift
224
NoAktivitas ProsesPotensi KegagalanDampakPenyebabPengendalian saat ini
Saat Akan Datang
40
Universitas Kristen Petra
Tabel 4.15. menunjukkan usulan mitigasi risiko untuk sasaran mutu ketepatan jumlah produksi pada departemen produksi. Mitigasi yang dilakukan adalah membuat form kerusakan dan maksimal 3 jam berita kerusakan harus sampai ke departemen plant dengan tandatangan kepala produksi dan plant.
Membuat form kerusakan, maksimal berita kerusakan sampai ke departemen plant selama 3 jam, batas durasi informasi dibatasi 3 jam karena perjalanan dari tambang ke kantor cukup jauh sekitar 3-4 kilo sehingga memerlukan waktu cukup lama, jika form kerusakan tersebut melebihi 3 jam maka akan di berikan peringatan ringan untuk kesalahan pertama, kesalahan keduakali akan diberikan peringatan tegas dan kesalahan ketiga kalinya akan diberikan surat peringatan untuk departemen produksi. Form kerusakan dibagikan ke semua unit, form tersebut diisi ketika terjadinya kerusakan. Form kerusakan diterima oleh departemen produksi, setelah departemen produksi form diserahkan ke departemen plant agar departemen plant mengetahui kerusakan yang terjadi.
Membuat form kerusakan dikarenakan departemen plant sering mengalami keterlambatan dalam mengetahui informasi kerusakan. Form kerusakan dapat dilihat pada Lampiran 12. Nilai RPN yang diharapkan setelah dilakukannya ketentuan tersebut adalah 4 (rendah) dengan mengurangi probabilitas terjadinya kegagalan.
Mitigasi untuk aktivitas proses mengatur operator sesuai jumlah unit yang ready adalah departemen plant melakukan update kendaraan ready data setiap ganti shift. Hal tersebut dilakukan karena saat ini departemen plant melakukan update data jumlah kendaraan yang siap digunakan hanya dilakukan dua hari sekali sehingga menyebabkan kesalahan pada departemen produksi dalam mengatur operator yang berdampak kerugian finansial diperusahaan karena membayar lembur (pegawai kebanyakan). Kerugian lain adalah menurunnya utilitas unit karena tidak ada operator yang menjalankannya. Cara melakukan update data karyawan mengikuti instruksi kerja yang diusulkan seperti pada Lampiran 11. Nilai RPN yang diharapkan setelah melakukan mitigasi menunjukkan angka 4 (rendah) dengan menurunkan tinggkat probabilitas terjadinya.