• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK. Kata kunci : Arrum Haji, Ekonomi Islam, Nasabah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ABSTRAK. Kata kunci : Arrum Haji, Ekonomi Islam, Nasabah"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

1 ABSTRAK

Skripsi ini berjudul ““ Analisis Pelaksanaan Produk Arrum Haji Menurut Perspektif Ekonomi Islam dan Dampaknya dalam Meningkatkan Jumlah Nasabah (Studi Kasus: PT. Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng)” yang disusun oleh Annisa Zakia NIM 3316.391, Program Studi S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Permasalahan dalam skripsi ini adalah pelaksanaan Produk Arrum Haji yang sering kali dikait-kaitkan dengan produk dana talangan haji yang telah dilarang Kementrian Agama RI. Produk Arrum Haji memiliki pro dan kontra sebab banyaknya masyarakat yang menganggap produk ini sama saja dengan produk dana talangan haji. dan Mengingat produk ini masih baru, nasabah Produk Arrum Haji belum begitu banyak di Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh. Nasabah di Pegadaian syariah dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi peningkatan. Sedangkan rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana pelaksanaan produk Arrum Haji menurut perspektif ekonomi Islam dan bagaimana dampaknya dalam peningkatan jumlah nasabah di pegadaian syariah unit simpang benteng.

Penelitian yang penulis lakukan adalah dengan metode pendekatan kualitatif , sumber data yang penulis ambil yaitu dari data sekunder dan data primer. Dan teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Sedangkan teknis analisis data menggunakan analisis data yaitu dengan analisis reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa pembiayaan Arrum haji ini telah sesuai dengan ekonomi Islam yaitu sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, permbiayaan ini bebas dari riba, gharar dan maysir. Pembiayaan Arrum Haji berbeda dengan Dana Talangan Haji di Bank Syariah. Pembiayaan Arrum Haji menggunakan akad Fatwa DSN Nomor 92/DSN-MUI/IV/2014 tentang Pembiayaan yang disertai Rahn. Dan dalam pelaksanaan Arrum haji ada denda yang diberikan kepada nasabah dan keuntungan yang diambil pegadaian syariah yaitu dari mu‟nah.

Dampak peningkatan jumlah nasabah pada pelaksanaan produk arrum haji pada tahun 2018 ke 2019 sangat signifkan yaitu memberikan dampak yang positif dengan jumlah nasabah dari 8 nasabah ke 23 nasabah. tetapi pada tahun 2020 tidak ada satunpun nasabah karena pandemic covid-19.

Kata kunci : Arrum Haji, Ekonomi Islam, Nasabah

(2)

DAFTAR ISI

COVER

PENGESAHAN PEMBIMBING

KATA PENGANTAR ... i

ABSTRAK ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Batasan Masalah ... 8

C. Rumusan Masalah ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 9

E. Manfaat Penelitian ... 9

F. Penjelasan Judul ... 10

G. Sistematika Penulisan ... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pegadaian Syariah ... 13

1. Pengertian Pegadaian Syariah ... 13

2. Rukun dan Syarat Gadai ... 16

(3)

3. Tujuan dan Manfaat Pegadaian ... 17

4. Jasa dan Produk Pegadaian Syariah ... 19

5. Akad Perjanjuan Gadai ... 20

B. Landasan Syariah ... 22

C. Pembiayaan ... 24

1. Pengertian Pembiayaan ... 24

2. Tujuan Pembiayaan ... 25

3. Fungsi Pembiayaan ... 27

D. Haji ... 32

E. Istitha‟ah Ibadah Haji ... 34

F. Minat ... 40

G. Produk Arrum Haji ... 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 49

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 49

C. Jenis dan Sumber Data ... 49

D. Teknik Pengumpulan Data ... 51

E. Teknik Analisis Data ... 52

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil PT. Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh 1. Sejarah Berdirinya Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng ... 55

(4)

2. Visi Dan Misi Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng ... 56

3. Profil Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng ... 57

4. Struktur Organisasi Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng ... 57

5. Produk-produk Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng ... 58

B. Analisis Pelaksanaan Produk Arrum Haji Menurut Perspektif Ekonomi Islam dan Dampaknya Dalam Meningkatkan Jumlah Nasabah 1. Pelaksanaan Pembiayaan Arrum Haji Menurut Perspektif Ekonomi Islam di Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng ... 60

2. Dampak Peningkatan Jumlah Nasabah dari Pelaksanaan Produk Arrum Haji di Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng ... 74

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 76

B. Saran ... 77 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(5)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

Dalam agama Islam haji merupakan rukun Islam yang ke lima dan setiap masyarakat pasti ingin menyempurnakan imannya dengan menunaikan ibadah haji. Ibadah haji merupakan ibadah yang menempati posisi paling sulit dalam tingkat keikhlasan karena tidak hanya masalah tenaga tetapi juga biaya. Oleh karena itu tidak semua orang Islam yang diserukan untuk melaksanakan ibadah haji kecuali bagi mereka yang mampu.

Haji yaitu datang ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan serangkaian ibadah pada waktu yang telah ditentukan, dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Adapun landasan hukum haji ini Allah SWT sampaikan melalui firman-Nya dalam Al- Quran surat Ali-Imran ayat 97.1





















































Artinya:padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah.

1 Abdurachman Rochimi, Segala Hal Tentang Haji & Umrah,( Erlangga), hal.8

(6)

Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Menurut tafsir ringkas Al-Qur’anul Karim yang diterbitkan oleh Lajnah Pentasihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Disana, di Masjidilharam terdapat tanda-tanda yang jelas tentang keutamaan dan kemuliannya diantaranya maqam Ibrahim, yaitu bekas telapak kaki Nabi Ibrahim tempat beliau berdiri waktu membangun Ka’bah; hajar aswad, hijir Ismail dan yang Lainnya. Barang siapa memasukinya, menjadi amanlah dia dari gangguan-gangguan. Dan di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang Islam yang sudah akil balig yang mampu mengadakan perjalanan ke sana, mempunyai bekal yang cukup untuk dirinya dan keluarga yang ditinggalkan, kemampuan fisik, ada sarana pengangkutan dan aman dalam perjalanan. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka dia adalah kafir, karena tidak percaya pada ajaran Islam. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) apapun dari seluruh alam, baik yang taat dan menjalankan ibadah haji, yang durhaka, maupun yang kafir.2

Sistem keuangan merupakan suatu sarana penting dalam peradaban masyarakat modern. Sistem keuangan memiliki peranan yang sangat

2 Kementerian Agama, Tafsir Ringkas,(Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al- Qur’an), hal.172

(7)

mendasar dalam perekonomian dan kehidupan masyarakat.3 Saat ini banyak bermunculan lembaga-lembaga keuangan yang menerapkan prinsip Syari’at Islam seperti perbankan Syariah, Pegadaian Syariah, Asuransi Syariah dan Baitul Maal Wat Tamwil (BMT).

Adapun pegadaian syariah merupakan lembaga yang relatif baru di Indonesia. Konsep operasi pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modern, yaitu asas rasionalitas, efesiensi, dan efektivitas yang diselaraskan dengan nilai Islam.4 Pegadaian syariah dalam menjalankan operasionalnya berpegang kepada prinsip syariah. Pada dasarnya, produk- produk berbasis syariah memiliki karakteristik seperti, tidak memungut bunga dalam berbagai bentuk karena riba. Payung hukum gadai syariah dalam hal pemenuhan prinsip-prinsip syariah berpegang pada Fatwa DSN-MUI No.

25/DSN-MUI/III/2002 tanggal 26 juni 2002 tentang rahn yang menyatakan bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dalam bentuk rahn diperbolehkan, dan Fatwa DSN-MUI No: 26/DSN-MUI/III/2002 tentang gadai emas.5

Pegadaian syariah merupakan salah satu lembaga keuangan yang juga berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dana

3 Thamrin Abdullah dan Francis Tantri, Bank dan Lembaga Keuangan,(Jakarta:Rajawali, 2014),hal.1

4 Buchari Alma dan Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, (Bandung:Alfabeta, 2014),hal.36

5 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keungan Syariah,(Jakarta:Prenadamedia Group,2009),hal.388

(8)

untuk masyarakat. Pegadaian syariah sekarang ini juga memiliki beberapa produk yang berguna untuk memecahkan permasalahan yang ada dalam masyarakat. Salah satu permasalahan masyarakat yaitu ingin menunaikan ibadah haji.

Arrum Haji merupakan salah satu produk baru yang ditawarkan oleh Pegadaian Syariah. Produk Arrum Haji merupakan yang produk yang baru saja diluncurkan pada tahun 2016. Arrum haji adalah salah satu produk dari pegadaian syariah yang bertujuan untuk memberikan pembiayaan untuk melaksanakan ibadah haji. Arrum haji ini yaitu salah satu solusi untuk masyarakat muslim yang ingin menunaikan ibadah haji namun tabungannya masih kurang untuk biaya pemberangkatan melalui jalur reguler.

Dengan menggadaikan 3,5 gram emas atau senilai uang 3.000.000 juta rupiah, nasabah sudah bisa mendapatkan pembiayaan sebesar 25 juta rupiah dalam bentuk tabungan haji yang langsung dapat digunakan untuk biaya pendaftaran dan juga mendapatkan porsi haji. Akad yang digunakan produk arrum haji akad syariah, sesuai dengan fatwa MUI No. 92/DSN- MUI/IV/2014. Hasil keuntungan yang didapatkan oleh pegadaian syariah yaitu dari Administrasi dan Mu‟nah.

Adapun mekanisme Produk Arrum Haji dimulai dari nasabah datang ke Pegadaian Syariah dengan membawa syarat dan ketentuan yang telah

(9)

ditetapkan. Selanjutnya pihak pegadaian akan memproses seluruh dokumen yang diperlukan setelah itu dilakukan akad antara kedua belah pihak. Barulah pihak pegadaian dan nasabah berkomunikasi dengan pihak bank agar membuatkan buku tabungan untuk memperoleh SBPIH (Setoran Biaya Awal Penyelenggaraan Ibadah Haji) dari bank untuk nasabah yang bersangkutan.

Dalam hal ini bank yang bekerjasama dengan Pegadaian Syariah, yaitu Bank BNI Syariah.

Setelah urusan dengan pihak bank selesai dan semua berkas sudah lengkap maka nasabah bisa langsung ke Kementerian Agama untuk mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji dan mendapatkan porsi haji.

Selanjutnya nasabah menyerahkan SBPIH (Setoran Biaya Awal Penyelenggaraan Ibadah Haji), SPPH (Surat Pendaftaran Pergi Haji), dan Buku Tabungan. Yang terakhir yaitu nasabah tinggal melunasi angsuran kepada pihak pegadaian syariah. Angsuran bisa dibayar selama jangka waktu 1-5 tahun sesuai dengan akad di awal. Sembari menunggu giliran antrian pemberangkatan untuk melaksanakan ibadah haji, nasabah hanya membayar cicilan perbulan kepada pegadaian. Jika cicilan telah lunas dibayarkan maka emas yang dijadikan jaminan dapat diambil kembali.

Produk Arrum Haji ini sering kali dikait-kaitkan dengan produk dana talangan haji yang telah dilarang Kementrian Agama. Hal tersebut disebabkan karena kedua produk ini sama-sama memberikan layanan pinjaman kepada

(10)

nasabah untuk mendapatkan nomor porsi haji. Tahun 2016, Menteri Agama Republik Indonesia dibawah pimpinan Lukman Hakim Saifuddin mengkaji ulang dan mengeluarkan peraturan terkait dana talangan haji, yaitu Peraturan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2016 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Agama Nomor 30 tahun 2013 tentang Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji. Dalam pasal 6A memutuskan bahwa: Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPS BPIH) dilarang memberikan layanan Dana Talangan Haji baik secara langsung maupun tidak langsung.

Bank syariah mulai menutup Dana Talangan Haji, setelah adanya larangan dari Kemenag RI. Namun demikian, Pegadaian Syariah meluncurkan produk Arrum Haji ini. Sebagai produk yang baru diaplikasikan oleh pegadaian syariah tentunya Produk Arrum Haji tetap saja memiliki pro dan kontra. Masyarakat menganggap produk ini sama saja dengan produk dana talangan haji.

Mendaftar haji dengan produk pembiayaan dianggap sama dengan orang yang berutang untuk melakukan ibadah haji, yang berarti secara finansial orang tersebut belum mampu dan tidak memiliki kewajiban untuk melakukan ibadah haji. Hal ini juga yang kemudian menghambat ataupun mengulurkan waktu bagi orang-orang yang secara finansial belum mampu untuk melakukan ibadah haji, dikarenakan di anggap berhutang. Akan tetapi

(11)

sisi positif dengan adanya produk ini sebenarnya sangat membantu masyarakat terutama masyarakat golongan menengah ke bawah yang berniat untuk mendaftar haji dan untuk melaksanakan ibadah haji. Mengingat produk ini masih baru, nasabah Produk Arrum Haji belum begitu banyak di Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh.

Berikut ini dijelaskan perkembangan jumlah nasabah Arrum Haji dari tiap tahunnya.

Tabel 1.1:

Jumlah Nasabah Produk Arrum Haji

Tahun Jumlah Nasabah

2016 2

2017 11

2018 8

2019 23

Sumber: PT. Pegadaian Syariah Simpang Benteng Payakumbuh

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari 2016 sampai dengan 26 November 2019 jumlah nasabah Arrum Haji mengalami fluktuasi tiap tahunnya. Pada tahun 2016 terdapat sebanyak 2 nasabah, pada tahun 2017 mengalami peningkatan dengan jumlah 11 nasabah, pada tahun 2018 mengalami penurunan yaitu dengan jumlah nasabah 8 orang. Dan pada 25 November 2019 tejadi peningkatan lagi sebanyak 23 nasabah.

(12)

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis ingin meneliti lebih lanjut bagaimana pelaksanaan produk arrum haji menurut perspektif ekonomi Islam dan dampaknya dalam upaya meningkatkan jumlah Nasabah. Oleh karena itu judul yang peneliti ambil dalam penelitian ini adalah bagaimana

“Analisis Pelaksanaan Produk Arrum Haji Menurut Perspektif Ekonomi Islam Dan Dampaknya Dalam Meningkatkan Jumlah Nasabah”.

B. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, agar penulis mempunyai arahan yang jelas serta tidak keluar dari pokok permasalahan, maka penulis membatasi masalah dan lebih fokus tentang pelaksanaan produk arrum haji menurut perspektif ekonomi Islam dan dampaknya terhadap peningkatan nasabah.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada pengamatan dalam latar belakang dan batasan masalah, maka penulis merumuskan masalah yang akan dibahas adalah:

1. Bagaimana pelaksanaan produk arrum haji menurut perspektif ekonomi Islam?

2. Bagaimana dampak dari pelaksanaan produk arrum haji dalam meningkatkan jumlah nasabah?

(13)

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pelaksanaan produk arrum haji menurut perspektif ekonomi Islam.

2. Untuk mengetahui dampak dari pelaksanaan produk arrum haji dalam meningkatkan jumlah nasabah.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini di harapkan dapat memberikan berbagai macam kegunaan di antaranya:

1. Bagi Penulis

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Pegadaian Syariah serta sebagai persyaratan dalam meraih gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan S1 Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institit Agama Islam Negeri Bukittinggi.

2. Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wacana bagi pembaca tentang Pegadaian Syariah dan tentang produk Arrum Haji.

3. Bagi Akademisi

Sebagai bahan kajian bagi kalangan akademisi yang tertarik membahas topik mengenai pelaksanaan produk Arrum Haji.

(14)

F. Penjelasan Judul

Sebelum penulis menjelaskan secara keseluruhan, terlebih dahulu penulis akan menjabarkan bagian-bagian yang dimaksud dari judul skripsi.

Agar menghindari kesalah pahaman didalam pembahasan dan memahami judul skripsi yang diajukan, adapun judul skripsi yaitu:

Analisis Pelaksanaan : Suatu peristiwa untuk mengetahui tindakan dari sebuah rencana yang disusun secara matang dan terperinci, implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap siap.

Produk Arrum Haji : Pembiayaan untuk mendapatkan porsi ibadah haji secara syariah dengan proses mudah, cepat dan aman.

Ekonomi Islam : Ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mengalokasikan dan mengelola sumber daya untuk mencapai falah berdasakan prinsip-prinsip dan nilai- nilai Al-Quran dan Sunnah.

Dampak : Pengaruh kuat yang mendatangkan akibat negative maupun positif.

Jumlah Nasabah : Orang yang biasa berhubungan dengan atau menjadi pelanggan bank/ pelanggan.

(15)

Jadi maksud dari judul diatas kajian mendalam mengenai Pelaksanaan produk arrum haji dan dampaknya dalam meningkat jumlah nasabah di pegadaian syariah adalah mengetahui pelaksanaan pembiayaan produk arrum haji sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan pengaruhnya dalam meningkatkan nasabah di pegadaian syariah.

G. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dan memberikan gambaran yang jelas mengenai sistematika penulisan skripsi ini, penulis membaginya kedalam beberapa sub bab yang dijabarkan seperti dibawah ini:

BAB I : PENDAHULUAN

Berisi uraian mengenai latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penjelasan judul, dan sistematika penulisan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini merupakan tinjauan pustaka yang mendeskripsikan Pegadaian Syariah, Pembiayaan, Haji, Minat dan Produk Arrum Haji.

BAB III : METODE PENELITIAN

Berisi uraian mengenai metode penelitian yang berisi teknik pengumpulan data dan analisis data yang digunakan.

(16)

BAB VI : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berisi tentang deskripsi objek penelitian, analisis data dan pembahasan dari hasil penelitian.

BAB V : KESIMPULAN

Berisi kesimpulan dan saran berdasarkan penelitian dan pengolahan data yang diperoleh.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pegadaian Syariah

1. Pengertian Pegadaian Syariah

Istilah pegadaian dalam fikih Islam disebut dengan ar-rahn.

Sedangkan secara etimologis ar-rahn berarti tsubut (tetap) dan dawam (kekal, terus-menerus). Adapun secara terminologis, ar-rahn adalah menjadikan harta benda sebagai jaminan utang agar utangnya itu dilunasi (dikembalikan) atau dibayarkan harganya jika tidak dapat mengembalikannya.6

Dalam Fiqh Muamalah, perjanjian gadai disebut rahn. Istilah rahn secara bahasa berarti “menahan”. Maksudnya adalah menahan sesuatu untuk dijadikan sebagai jaminan utang. Sedangkan pengertian gadai menurut hukum syara’ adalah: Menjadikan sesuatu barang yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syara‟ sebagai jaminan utang, yang memungkinkan untuk mengambil seluruh atau sebagian utang dari barang tersebut.

6 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.171

(18)

Istilah Rahn memiliki akar yang kuat di dalam Al-Quran sebagaimana firman Allah:













Tiap diri terikat (tergadai) dengan apa yang telah diperbuatnya (QS.

Al-Mudatsir[74]:38).7

Menurut tafsir Al- Azhar yang diterjemahkan oleh Ibnu Abbas, telah banyak ayat-ayat yang lain menerangkan bahwa di hari kiamat kelak akan dilakukan perhitungan (hisab) yang teliti. Tidak akan ada oang yang terhukum dengan aniaya. Ganjaran adalah imbalan dari pada apa yang dikerjakan. Kalau yang jahat yang dikerjakan, tak dapat tiada, pastilah ganjaran buruk yang akan diterima. Berat atau agak ringan kesalahan yang diperbuatpun menentukan berat dan ringannya ganjaran. Allah itu adalah Hakim Yang Maha Adil.8

Pegadaian menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 1150 disebutkan: “Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seseorang yang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau oleh seorang lain atas namany, dan yang memberikan kekuasaan kepada orang yang berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan dari pada orang yang berpiutang lainnya,

7 Burhanuddin S, Aspek Lembaga Keungan Syariah, (Yogyakarta:Graha Ilmu, 2010),hal.169

8 Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura),hal.7741

(19)

dengan pengecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaiakan, biaya-biaya mana harus didahulukan.9

Menurut Sayid Sabiq, rahn adalah menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut syara‟ sebagai jaminan utang, sehingga orang yang bersangkutan boleh mengambil sebagian manfaat barang itu. Hal ini merupakan pengertian secara praktis, bahwa setiap orang yang mengutangkan sesuatu biasanya meminta jaminan dari pihak yang berutang, baik jaminan berupa barang bergerak maupun barang berupa benda tidak bergerak.

Dalam beberapa pengertian gadai di atas, maka dapat dikemukakan bahwa gadai menurut ketentuan syariat Islam adalah kombinasi pengertian gadai yang terdapat dalam KUH Perdata dan hukum adat, terutama sekali menyangkut objek perjanjian gadai menurut syariat Islam meliputi barang yang mempunyai nilai harta, dan tidak dipersoalkan apakah dia merupakan benda bergerak atau tidak bergerak.10

Salah satu jasa pelayanan yang dapat diberikan oleh lembaga keuangan syariah adalah rahn. Dalam fatwa DSN-MUI No. 25/DSN- MUI/III/2002 tentang rahn dijelaskan bahwa murtahin (penerima barang)

9 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keungan Syariah,(Jakarta:Prenadamedia Group,2009),hal.387

10 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.172

(20)

mempunyai hak untuk menahan marhun (barang) sampai semua utang rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi. Pada prinsipnya marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin rahin, dengan tidak mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya sekedar pengganti biaya pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin dan besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman.11

Rahn (Morgage) adalah pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak kepada pihak lain ( bank) dalam hal-hal yang boleh diwakilkan. Atas jasanya, maka penerima kekuasaan dapat meminta imbalan tertentu dari pemberi amanah.12

2. Rukun Dan Syarat Gadai Rukun (unsur) gadai yaitu a. Penerima gadai b. Pemberi gadai c. Harta gadai d. Utang e. Akad

11 Darsono dkk, Perbankan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Rajawali Pers,2017),hal.234

12 Ascarya, Akad & Produk Bank Syariah, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2008),hal 108

(21)

Menurut Prof. Dr. Rahmat Syafe’i, rukun rahn (gadai) yaitu rahin (orang yang memberikan jaminan), al-murtahin (orang yang menerima), al- marhun (jaminan), dan al-marhun bih (utang). Adapun syarat (rahn) gadai menurut kompilasi hukum Ekonomi Syariah, yaitu:

a. Penerima dan pemberi gadai haruslah memiliki kecakapan hukum b. Akad gadai sempurna bila harta gadai telah dikuasai oleh penerima

gadai.

c. Akad gadai harus dinyatakan oleh para pihak secara lisa, tulisan, atau isyarat.

d. Harta gadai harus bernilai dan dapat diserahterimakan e. Harta gadai harus ada ketika akad dibuat.13

3. Tujuan dan Manfaat Pegadaian

Sifat usaha pegadaian pada prinsipnya menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan yang baik. Oleh karena itu perum pegadaian bertujuan sebagai berikut;

a. Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang pembiayaan/pinjaman atas dasar hukum gadai.

13 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.175

(22)

b. Pencegahan praktek ijon, pegadaian gelap, dan pinjaman tidak wajar lainnya.

c. Pemanfaatan gadai bebas bunga pada gadai syariah memiliki efek jaring pengaman sosial karena masyarakat yang butuh dana mendesak tidak lagi dijerat pinjaman/pembiayaan berbasis bunga.

d. Membantu orang-orang yang membutuhkan pinjaman dengan syarat mudah.

Adapun manfaat pegadaian, antara lain;

1. Bagi nasabah: tersedianya dana dengan prosedur yang relative lebih sederhana dan dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan pembiayaan/kredit perbankan.

Disamping itu, nasabah juga mendapat manfaat penaksiran nilai suatu barang bergerak secara professional.

2. Bagi perusahaan pegadaian:

a. Penghasi lan yang bersumber dari sewa modal yang dibayarkan oleh peminjam dana

b. Penghasilan yang bersumber dari ongkos yang dibayarkan oleh nasabah memperoleh jasa tertentu.

c. Pelaksanaan misi perum pegadaian sebagai BUMN yang bergerak dibidang pembiayaan berupa pemberian bantuan kepada masyarat yang memerlukan dana dengan prosedur yang relatif sederhana.

(23)

d. Berdasarkan PP No. 10 Tahun 1990, laba yang diperoleh digunakan untuk:

(1) Dana pembangunan semesta (55%) (2) Cadangan umum (20%)

(3) Cadangan tujuan (5%) (4) Dana social (20%).14 4. Jasa dan Produk Pengadaian Syariah

Layanan jasa serta produk yang ditawarkan oleh Pegadaian Syariah adalah sebagai berikut:

1. Pemberian pinjaman atau pembiayaan atas dasar hukum gadai Syaratnya harus terdapat jaminan berupa barang bergerak, seperti emas, elektronik, dan lain-lain. Besarnya pemberian pinjaman ditentukan oleh pegadaian, bergantung pada nilai dan jumlah barang yang digadaikan.

2. Penaksiran nilai barang Jasa ini diberikan bagi mereka yang menginginkan informasi tentang taksiran barang yang berupa emas, perak, dan berlian. Biaya yang dikenakan adalah ongkos taksiran barang.

14 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keungan Syariah,(Jakarta:Prenadamedia Group,2009),hal.394

(24)

3. Penitipan barang (ijarah) Barang yang dapat dititipkan, antara lain sertifikat motor, tanah, dan ijazah. Pegadaian akan mengenakan biaya penitipan bagi nasabahnya.

b. Gold counter Merupakan fasilitas penjualan emas yang memiliki sertifikat jaminan sebagai bukti dan keasliannya.15 5. Akad Perjanjian Gadai

a. Akad al-Qardu al-Hasan

Akad al-qardhu al-hasan yaitu suatu akad yang dibuat oleh pihak pemberi gadai dengan pihak gadai dalam hal transaksi gadai harta benda yang bertujuan untuk mendapatkan uang tunai yang diperuntukkan untuk konsumtif.16

Rukun dari akad qardhu hasan yang harus dipenuhi dalam transaksi ada beberapa:

1) Pelaku akad, yaitu muqtaridh (peminjam), pihak yang membutuhkan dana, dan muqridh (pemberi pinjaman), pihak yang memiliki dana 2) Objek akad, yaitu qardh (dana)

3) Tujuan, yaitu „iwad atau countervalue berupa pinjaman tanpa imbalan

15 Ilham Abdi Prawira,” Analisis Hukum Terhadap Produk Arrum Haji di Pegadaian Syariah”, Jurnal Az-Zarqa,Vol.10,No.1, (Juni 2018),hal.16

16 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.177

(25)

4) Sighah, yaitu Ijab dan Qabul

Sedangkan syarat dari akad qardhu Hasan yang harus dipenuhi dalam transaksi, yaitu:

a) Kerelaan kedua belah pihak,

b) Dana digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat dan halal.17

b. Akad al-Mudharabah

Akad Mudharabah yaitu suatu akad yang diberikan oleh pihak pemberi gadai (rahin) dengn pihak penerima gadai (murtahin).

Pihak pemberi gadai (rahin) atau orang yang menggadaikan harta benda sebagai jaminan untuk menambah modal usahanya atau pembiayaan produktif.

c. Akad Ba‟I al-Muqayadah

Akad ba‟I al-muqayadah yaitu akad yang dilakukan oleh pemilik sah harta benda barang gadai dengan pengelola barang gadai agar harta benda dimaksud mempunyai manfaat produktif.18

17 Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2008),hal 48

18 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.177

(26)

B. Landasan Syariah

1. Dasar Hukum Syariah

Tidak semua orang memiliki kepercayaan untuk memberikan pinjaman/utang kepada pihak lain. Untuk membangun suatu kepercayaan, diperlukan adanya jaminan (gadai) yang dapat dijadikan pegangan.19 Gadai hukumnya mubah berdasarkan dalil Al-quran, Hadis, dan Ijma’. Dasar gadai dari Al-quran adalah firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah(2):383



































































“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan, barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Menurut tafsir Al-Qur’anul Karim yang diterjemahkan oleh H. M. Nur Idris, peraturan-peraturan yang harus diikuti dalam perkara hutang piutang supaya dapat terjamin hak yang berpiutang. Demikian pula sebaliknya, supaya

19 Burhanuddin S, Aspek Lembaga Keungan Syariah, (Yogyakarta:Graha Ilmu, 2010),hal.170

(27)

tidak menimbulkan salah faham atau salah perhitungan di kemudian hari.

Dalam keterangan itu terlihat jelas kesungguhan ajaran Islam dalam memimpin umatnya tentang memelihara hartanya secara halal, sehingga dapat menjamin kelancaran berdagang dan berusaha dengan pasti, melalui saluran hutang piutang. Barangkali tidak ada suatu perusahaan, perdagangan, perseroan, dan segala macam usaha yang terlepas sama sekali dari hutang piutang. Besar kecil perusahaan itu senantiasa tersangkut oleh keadaan itu.20

2. Dasar Hukum Positif

Selain itu, secara praktik dasar hukum gadai syariah di Indonesia telah diatur dalam:

1. Bab XIV Pasal 372 hingga pasal 412 Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah21

2. Fatwa DSN-MUI No.25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn 3. Fatwa DSN-MUI No.26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas 4. Fatwa DSN-MUI No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan

Ijarah

5. Fatwa DSN-MUI No.10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah 6. Fatwa DSN-MUI No.43/DSN-MUI/VII/2004 tentang Ganti Rugi22

20 Nur Idris, Tafsir Al-Qur‟anul Karim, (Jakarta: Perkumpulan Haji Muhammad Nur Idris, 2015),hal.246

21 Madani, Aspek Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,(Jakarta:Prenadamedia Group,2015),hal.173

(28)

C. Pembiayaan

1. Pengertian Pembiayaan

Produk pembiayaan merupakan salah satu produk unggulan di Lembaga Keuangan Syariah Khususnya bagi lembaga seperti Bank Syariah, Koperasi Syariah serta Pegadaian Syariah. Pembiayaan atau financing merupakan pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain guna mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga.23 Sedangkan menurut M. Syafi’I Antonio, menjelaskan bahwa pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank yaitu pemberian fasilitas dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit. Menurut Undang-Undang Perbankan No. 10 tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai tertentu untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.24

Sedangkan menurut Undang-Undang Perbankan Syariah No. 21 Tahun 2008, pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:

a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah.

22 Burhanuddin S, Aspek Lembaga Keungan Syariah, (Yogyakarta:Graha Ilmu, 2010),hal.171

23 M. Nur Rianto Al Arif, Lembaga Syariah suatu Kajian Teoritis Praktis , (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), hal 281.

24 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal 73

(29)

b. Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik.

c. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam dan istishna’.

d. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang dan qardh Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multi jasa, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau Unit Usaha Syariah (UUS) dan pihak lain yang mewajibkan pihak-pihak yang dibiayai dan/ atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan Ujrah, tanpa imbalan atau bagi hasil.25 2. Tujuan Pembiayaan

Pemberian suatu fasilitas pembiayaan mempunyai tujuan tertentu, tujuan pemberian pembiayaan tersebut tidak akan terlepas dari misi bank tersebut didirikan .adapaun tujuan utama pemberian pembiayaan adalah antara lain:

a. Mencari keuntungan

Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian pembiayaan tersebut. Hasil tersebut terutama dalam bentuk

25 Zuwardi,” Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga Έdpkή, Capital Adequacy Ratio Έcarή, Dan Non Perfoming Financing Έnpfή Terhadap Pembiayaan Έstudi Pada Bus Dan Uus Di Indonesia Periode 2014ͳ2018ή”, Jurnal Imara,Vol.3,No.2, (Desember 2019),hal.144

(30)

keuntungan yang diterima dari usaha uang dikelola oleh bank dan nasabah.

Keuntungan ini penting untuk kelangsungan hidup bagi bank jika bank yang terus menerus menderita kerugian, maka besar kemungkinan bank tersebut akan dilikuidir (dibubarkan).

b. Membantu usaha nasabah

Tujuannya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja. Dengan dana tersebut maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperluaskan usahanya.

c. Membantu pemerintah

Bagi pemerintah semakin banyak pembiayaan yang disalurkan oleh pihak perbankan maka semakin baik, mengingat semakin banyak pembiayaan berarti adanya peningkatan pembangunan diberbagai sector. Keuntungan bagi dengan menyebarnya pemberian pembiayaan adalah:

1) Penerimaan pajak, dari keuntungan yang diperoleh nasabah dari bank

2) Membuka kesempatan kerja

3) Meningkatkan jumlah barang dan jasa 4) Menghematkan devisa Negara

(31)

5) Meningkatkan devisa Negara 26 3. Fungsi Pembiayaan

Ada beberapa fungsi dari pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah kepada masyarakat penerima, diantaranya:

a. Meningkatkan daya guna uang

Para pengusaha menikmati pembiayaan dari bank untuk memperluas/memperbesar usahanya baik untuk peningkatan produksi, perdagangan maupun untuk usaha-usaha rehabilitas ataupun memulai usaha baru. Pada asasnya melalui pembiayaan terdapat suatu usaha peningkatan produktivitas secara menyeluruh.

Dengan demikian, dana yang mengendap di bank (yang diperoleh dari para penyimpan uang) tidaklah diam dan disalurkan untuk usaha-usaha yang bermanfaat, baik kemanfaatan bagi pengusaha maupun kemanfaatan bagi masyarakat.

b. Meningkatkan daya guna barang

Produsen dengan bantuan pembiayaan bank dapat memproduksi bahan mentah menjadi bahan jadi sehingga utility dari bahan tersebut meningkat. Selain itu, produsen dengan bantuan pembiayaan dapat memindahkan barang dari

26 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hal 105

(32)

suatu tempat yang kegunaannya kurang ke tempat yang lebih bermanfaat.

c. Meningkatkan peredaran uang

Pembiayaan yang disalurkan via rekening-rekening koran pengusaha menciptakan pertambahan peredaran uang giral dan sejenisnya seperti cek, bilyet giro, wesel dan sebagainya. Melalui pembiayaan, peredaran uang kertas maupun giral akan lebih berkembang oleh karena pembiayaan menciptakan kegairahan berusaha maka pengguna uang akan bertambah, baik kualitatif apalagi secara kuantitatif.

d. Menimbulkan gairah berusaha

Kegiatan usaha sesuai dengan dinamikannya akan selalu meningkatkan usaha tidaklah selalu diimbangi dengan peningkatan kemampuan yang berhubungan dengan manusia lain yang mempunyai kemampuan. Karena itu pengusaha akan selalu berhubungan dengan bank untuk memperoleh bantuan permodalan guna meningkatkan usahanya. Bantuan pembiayaan yang diterima pengusaha dari bank inilah kemudian yang digunakan untuk memperbesar volume usaha dan produktivitasnya.

e. Stabilitas ekonomi

(33)

Dalam ekonomi yang kurang sehat, langkah-langkah stabilisasi pada dasarnya diarahkan pada usaha-usaha untuk pengendalian inflasi, meningkatkan ekspor, rehabilitasi prasarana, dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat.

Untuk menekan arus inflasi dan terlebih-lebih lagi untuk usaha pembangunan ekonomi maka pembiayaan bank memegang peranan yang penting.

f. Sebagai jembatan untuk meningkatkan pendapatan nasional Para pengusaha yang memperoleh pembiayaan tentu saja berusaha untuk meningkatkan usahanya. Peningkatan usaha berarti meningkatkan profit. Apabila rata-rata pengusaha, pemilik tanah, pemiliki modal dan buruh/karyawan mengalami meningkatan pendapatan maka pendapatan negara via pajak akan bertambah, penghasilan devisa bertambah dan penggunaan devisa untuk urusan konsumsi berkurang, sehingga langsung atau tidak melalui pembiayaan, pendapatan nasional akan bertambah.27

4. Manfaat Pembiayaan

a. Manfaat Pembiayaan bagi Bank

27 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2014),hal.308

(34)

Bagi bank yang bersangkutan hasil dari penyaluran dana diharapkan bank dapat meneruskan dan mengembangkan usahanya agar tetap survival dan meluas jaringan usahanya sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat dilayani.

b. Manfaat Pembiayaan bagi Debitur

1) Meningkatkan usaha nasabah. Pembiayaan yang diberikan oleh bank kepada nasabah memberikan manfaat untuk memperluas volume usaha. Pembiayaan untuk membeli bahan baku, pengadaan mesin dan peralatan, dapat membantu nasabah untuk meningkatkan volume produksi dan penjualan.

2) Biaya yang diperlukan dalam rangka mendapatkan pembiayaan dari bank syariah relatif murah, misalnya biaya profosi.

3) Nasabah dapat memilih berbagai jenis pembiayaan berdasarkan akad yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.

4) Bank dapat memberikan fasilitas lainnya kepada nasabah, misalnya transfer dengan menggunakan wakalah, kafalah, hawalah, dan fasilitas lainnya yang dibuthkan oleh nasabah.

5) Jangka waktu pembiayaan disesuaikan dengan jenis pembiayaan dan kemampuan nasabah dalam membayar

(35)

kembali pembiayaannya, sehingga nasabah dapat mengestimasi keuangannya dengan tepat

c. Manfaat Pembiayaan bagi Masyarakat Luas

1) Mengurangi tingkat pengangguran. Pembiayaan yang diberikan untuk perusahaan dapat menyebabkan adanya tambahan tenaga kerja karena adanya peningkatan volume produksi, tentu akan menambah jumlah tenaga kerja.

2) Melibatkan masyarkat yang memiliki profesi tertentu, misalnya akuntan, notaris, dan asuransi. Pihak ini diperlukan oleh bank untuk mendukung kelancaran pembiayaan.

3) Penyimpanan dana akan mendapatkan imbalan berupa bagi hasil lebih tinggi dari bank apabila bank dapat meningkatkan keuntungan atas pembiayaan yang disalurkan.

4) Memberikan rasa aman bagi masyarakat yang menggunakan pelayanan jasa perbankan misalnya Letter of credit, bank garansi, transfer, kliring, dan layanan jasa lainnya.28

28Ismail, Perbankan Syariah, (Jakarta: Prenada Media Grub,2016),hal.113.

(36)

D. Haji

1. Pengertian Haji

Rukun Islam yang kelima adalah naik haji ke baitullah. Bagi orang Islam yang sudah mampu maka diwajibkan untuk naik haji. Haji yaitu berkunjung ke tanah suci atau ka’bah baitullah untuk melakukan amal ibadah tertentu sesuai dengan syarat, rukun, dan waktu yang telah ditentukan.29

Menurut bahasa haji berarti menyengaja. Dalam bahasa Arab, haji bisa dibaca dengan hajj atau hijj, meskipun pada dasarnya kata haji sering dibaca hijj. Jika dibaca hajj, haji berarti keterikatan kemampuan dengan gerakan gerakan khusus. Jadi rajul mahjuj berarti laki-laki yang menyengaja. Hanya saja, kata hajj atau hijj kemudian biasa diartikan sebagai sengaja pergi ke makkah untuk melangsungkan manasik haji.

Menurut istilah, haji bermakna menyengaja pergi ke Baitullah pada waktu-waktu tertentu untuk memuliakan dan menganggungkannya.

Ibadah haji mempunyai sejumlah amalan yang harus dilakukan juga pada waktu tertentu, yang semuanya tidak akan sah apabila tidak dibarengi dengan niat atau keinginan yang kuat dan perjalanan yang jauh.30

29 Muhammad Sholikhin, Keajaiban Haji dan Umrah, (Jakarta : Erlangga, 2013), hal.2

30 Ablah Muhammad al-Kahlawi, Haji dan Umrah untuk Wanita, (Jakarta: Zaman, 2015), hal.124

(37)

2. Rukun Haji

a. Ihram: niat mengerjakan ibadah haji

b. Wuquf: berdiam diri di Padang Arafah, dimulai pada tanggal 9 Dzulhijjah saat tergelincirnya matahari sampai terbitnya matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah .

c. Tawaf: berputar, mengelilingi Ka‟bah sebanyak tujuh kali putaran.

Tawaf dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad, dimana posisi Ka‟bah berada sebelah kiri jamaah haji yang akan melakukan tawaf, kemudian berputar kebalikan dari arah jarum jam.

d. Sa‟i: lari kecil diantara bukit Shofa dan Marwah, sebanyak tujuh kali putaran.

e. Tahallul: diperbolehkannya atau dibebaskannya seseorang yang sedang melakukan ibadah haji dari hal- hal yang dilarang selama ihram, yang ditandai dengan memotong atau mencukur sebagian atau seluruh rambut, atau paling sedikit tiga helai rambut bagi kaum perempuan.31

3. Syarat Wajib Haji

a. Islam. Artinya, setiap orang yang tidak beragama Islam, baik laki- laki maupun perempuan, tidak wajib melaksanakan ibadah haji.

31 Muhammad Sholikhin, Keajaiban Haji dan Umrah, (Jakarta : Erlangga, 2013), hal.3

(38)

b. Dewasa (Balig). Artinya, tidak ada kewajiban haji bagi anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan. Seandainya dia sudah pernah berhaji dan meguasai manasiknya, dia tetap wajib berhaji jika sudah dewasa, tetapi dia tetap berhak mendapatkan pahala dari ibadah haji yang telah dikerjakannya saat kecil.

c. Berakal. Artinya, orang gila tidak diwajibkan mengerjakan haji karena tidak menanggung beban kewajiban agama apapun. Dia baru wajib mengerjakan ibadah haji ketika sudah sembuh.

d. Merdeka, bukan budak. Adanya waktu dan kemampuan materi menjadi syarat bagi wajibnya haji yang keduanya tentu tidak dimiliki oleh seorang budak atau hamba sahaya.

e. Mampu. Syarat wajib haji yang kelima adalah mampu (al- istitha‟ah). Istilah mampu (al-istitha‟ah) dalam konteks ibadah haji dibagi menjadi dua, yaitu mampu sendiri (bi al-nafs) dan mampu karena orang lain (bi al-ghayr).32

E. Istitha’ah Ibadah Haji 1. Pengertian Istitha’ah

Istitha‟ah menurut bahasa berasal kata istatha‟a, yastathi‟u, yang berarti “mampu, sanggup, dan dapat”, Kata ini berakar atha‟a yathi‟u, yang berarti taat, patuh, dan tunduk.15Istitha‟ah adalah kata

32 Ablah Muhammad al-Kahlawi, Haji dan Umrah untuk Wanita, (Jakarta: Zaman, 2015), hal.137

(39)

yang mengandung makna kesanggupan yaitu dimana seseorang yang melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya. Jika tidak sanggup maka ia disebut tidak mampu.

Istitha‟ah dalam berhaji adalah mampu melaksanakan haji dari segi fisik, biaya, dan perjalanan aman. Maksudnya, kemampuan fisik yaitu seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji, tidak mengidap penyakit yang menghalanginya untuk pergi haji atau sangat memberatkannya. Kemampuan biaya yaitu mempunyai dana untuk membiayai perjalanan haji seperti untuk makan, minum, pakaian, bayar utang dan sejenisnya, Sedangkan aman yaitu orang yang menjalankan haji tidak menemui halangan seperti dicegat musuh.33

2. Istitha’ah (Mampu) Menurut Ulama Fikih

Para ulama sepakat, ada tiga kemampuan yang harus dipenuhi dalam meliputi ibadah haji, yaitu: kemampuan kesehatan, kemampuan material/finansial , kemampuan keamanan.

a. Menurut Mazhab Hanafi

Ulama Hanafiyah menjelaskan bahwa istitha‟ah haji meliputi tiga hal yakni fisik, finansial, dan keamanan.Yaitu:

33 Zurinal & Aminuddin,Fiqh Ibadah, (Jakarta: Lembaga Penelitian Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah,2008), hal 186

(40)

1. Kesanggupan fisik artinya kesehatan badan. Yang artinya, tidak wajib haji karena sakit, lumpuh, orang buta (meskipun ada yang menuntunnya), orang tua yang renta yang tidak dapat duduk sendiri di atas kendaraan, orang tahanan, dan orang yang dilarang oleh penguasa untuk berangkat haji, maka ia tidak wajib untuk haji. Karena Allah SWT telahmensyaratkan haji sesuai dengan kesanggupan.

2. Kesanggupan finansial adalah memiliki bekal, dan kendaraan. Yaitu, mampu menanggung biaya pulang pergi serta punya kendaraan, yang merupakan kelebihan dari biaya tempat tinggal, serta keperluan lain. Harus lebih dari nafkah keluarga yang dinafkahinya sampai waktu kepulangannya.

3. Kesanggupan dari sisi keamanan adalah jalan biasanya aman, meskipun dengan membayar uang suap jika perlu. Dan bagi keamanan wanita menurut pendapat Abu Hanifah wanita harus diiringi oleh mahramnyayang baligh dan berakal atau remaja yang terpercaya, punya hubungan darah atau perkawinan.

(41)

b. Menurut Mazhab Maliki

Ulama malikiyah menjelaskan kemampuan adalah bisa tiba di Mekkah menurut kebiasaan, dengan berjalan kaki atau berkendaraan artinya kesanggupan berangkat saja, adapun kesanggupan untuk pulang tidak termasuk hitungan. Kesanggupan itu meliputi yaitu:

1. Kekuatan badan. Artinya, dapat tiba di Mekah menurut kebiasaan, dengan berjalan ataupun dengan berkendaraan.

2. Adanya bekal yang cukup sesuai dengan kondisi orang dan sesuai pula dengan kebiasaan mereka itu sendiri, jalan kaki bisa menggantikan kendaraan, bagi orang yang mampu, dan keterampilan kerja yang mendatangkan pemasukan yang cukup bisa membuat seseorang tidak perlu membawa bekal atau uang dan bisa dikatakan cukup sebagai ganti bakal.

3. Tersedianya jalan, yaitu jalan yang dilalui (darat atau laut) dan biasanya jalan ini aman. Dan jika biasanya tidak aman maka itu tidak wajib haji, Adapun bagi wanita dia harus disertai oleh suami atau salah satu mahramnya.

(42)

c. Menurut Mazhab Syafi‟i

Ulama Syafi‟iyah menjelaskan untuk kesanggupan menunaikan sendiri ibadah haji, adapun syarat yang meliputi kesanggupan fisik, finansial dan keamanan, yaitu

1. Kemampuan fisik. Artinya, orang yang dipandang sehat ialah orang yang mempunyai kekuatan fisik yang memungkinkan ia sampai di Mekkah untuk melakukan ibadah haji, tanpa mengalami kesulitan yang berarti, bahkan, menurutnya, orang buta pun diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji apabila ia mempunyai penuntun yang akan menuntunnya selama dalam perjalanan dan ibadah haji.

2. Kemampuan finansial, dengan adanya bekal beserta wadahnya, serta ongkos keberangkatan ke Mekah dan kepulangan ke kampung halaman. Pendapat imam Syafi‟i berbeda dengan pendapat imam Maliki. Imam Syafi‟i memandang bahwa pekerjaan di tengah perjalanan itu tidak dibebani haji, alasannya, ada kemungkinan dia tidak mendapatkan pekerjaan karena sesuatu hal, dan

(43)

sekalipun tetap mendapatkan pekerjaan, maka itu akan banyak kesukaran. Adanya kendaraan (sarana transportasi) yang sesuai dengan status seseorang dengan cara membelinya dengan harga rata-rata, bekal dan kendaraan ini disyaratkan harus lebih dari utangnya (yang sudah jatuh temponya maupun yang belum ), baik utang itu kepada manusia maupun kepada Allah (seperti nazar dan kafarat), maupun menafkahi kepada orang-orang yang harus dinafkahinya selama kepergian dan kepulangannya agar mereka tidak terbengkalai. Adanya air dan bekal dan makanan hewan tunggangan. Jika barang- barang itu tidak ada, atau hanya ada salah satunya, maka orang yang mengalami demikian tidak harus pergi haji ini juga termasuk syarat dalam kesanggupan finansial.

3. Kesanggupan dari sigi keamanan, yakni keamanan jalan (meskipun sekedar praduga) bagi jiwa dan harta di semua tempat kondisi yang layak baginya.

Wanita harus disertai oleh suaminya, atau oleh mahram (dari hubungan nasab/darah atau lainnya).

(44)

atau oleh rombongan wanita yang terpercaya, sebab perjalanan wanita secara sendirian adalah haram karena khawatir dirinya akan dirayu dan diperdaya.

Perjalanan itu memungkinkan. Artinya setelah terpenuhinya ketiga jenis kesanggupan tersebut ,masih tersedia waktu yang cukup untuk menunaikan haji. Kesanggupan itu diperhitungkan sejak masuknya waktu haji, yaitu bulan syawal, sampai tanggal 10 Dzulhijjah. Jadi, haji tidak wajib jika seseorang tidak mampu pada waktu tersebut.

d. Menurut Mazhab Hambali

Hambali berkata bahwa Kesanggupan yang disyaratkan adalah Kesanggupan atas bekal dan kendaraan 34

F. Minat

a. Pengertian Minat

Minat ialah suatu dorongan yang menyebabkan terikatnya perhatian individu pada objek tertentu seperti pekerjaan, pelajaran, benda dan orang.

Minat berhubungan dengan aspek kognitif, afektif, dan motorik dan merupakan sumber motivasi untuk melakukan apa yang diinginkan.

34 Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiqhu al-Islamy Wa Adilllatuh,(Jakarta: Gema Isani,2011), hal 383.

(45)

Minat berhubungan dengan sesuatu yang menguntungkan dan dapat menimbulkan kepuasan bagi dirinya.Kesenangan merupakan minat yang sifatnya sementara.Adapun minat bersifat tetap (persistent) dan ada unsur memenuhi kebutuhan dan memberikan kepuasan. Semakin sering minat diekspresikan dalam kegiatan akan semakin kuat minat tersebut, sebaliknya minat akan menjadi pupus kalau tidak ada kesempatan untuk mengekspresikannya.

b. Indikator Minat

Indikator yang dapat dijadikan acuan terbentuknya minat nasabah mengacu pada Crow and Crow berpendapat ada tiga faktor yang menjadi timbulnya minat yaitu:

1. Dorongan dari dalam diri individual. Dorongan ini seperti rasa ingin tau, hal ini akan membangkitkan minat untuk membaca, belajar.

2. Motif sosial. Dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya minat terhadap pakaian timbul karena ingin mendapat persetujuan atau penerimaan dan perhatian orang lain.

3. Faktor emosional. Minat ini mempunyai hubungan yang erat dengan emosi. Bila seseorang mendapatkan kesuksesan pada

(46)

aktivitas akan menimbulkan perasaan senang, dan hal tersebut akan memperkuat minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu kegagalan akan menghilangkan minat terhadap hal tersebut.

Karena kepribadian manusia itu bersifat kompleks, maka sering ketiga faktor yang menjadi penyebab timbulnya minat tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu perpaduan dari ketiga faktor tersebut, akhirnya menjadi agak sulit bagi kita untuk menentukan faktor manakah yang menjadi awal penyebab timbulnya suatu minat.

c. Faktor Yang Mempengaruhi Minat 1. Faktor Produk

Atribut yang ada pada suatu produk merupakan hal yang penting guna menarik seseorang untuk menggunakannya.

2. Faktor Kepercayaan

Kepercayaan seseorang terhadap suatu produk memiliki peran tersendiri dalam membentuk perilaku dari orang tersebut, yaitu dengan memilih produk yang baik dan juga terpercaya.

3. Faktor Kebutuhan

Kebutuhan merupakan sifat alamiah seseorang sehingga dijadikan sebagai suatu motivasi dalam berperilaku, yaitu dengan memanfaatkan fasilitas yang ada.

4. Faktor Bagi Hasil

(47)

Bagi hasil menurut terminologi asing (Inggris) dikenal dengan profit sharing. Profit sharing dalam kamus ekonomi diartikan sebagai pembagian laba. Secara definitif profit sharing diartikan distribusi beberapa bagian dari laba pada para pegawai dari suatu perusahaan.

Secara syariah prinsip bagi hasil (profit sharing) berdasarkan pada kaidah mudharabah. Dimana bank akan bertindak sebagai shahibul maal (penyandang dana).

5. Faktor Fasilitas Pelayanan

Telah kita temui bahwa dalam memberikan pelayanan seorang pegawai bank juga diperlukan etika, sehingga kedua belah pihak baik tamu maupun pegawai bank dapat saling menghargai.

6. Faktor Promosi

Promosi merupakan kegiatan yang ditunjuk untuk mempengaruhi konsumen agar mereka dapat mengenal akan produk yang ditawarkan sehingga diharapkan konsumen menjadi senang menggunakannya.

G. Produk Arrum Haji

Arrum Haji merupakan sebuah produk yang ditawarkan oleh Pegadaian Syariah yang bertujuan untuk membantu nasabah agar bisa mendapatkan porsi haji dengan jaminan emas. Artinya Produk Arrum Haji adalah suatu produk pembiayaan konsumtif yang ditujukan untuk nasabah yang membutuhkan dana untuk melunasi biaya setoran awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).

(48)

Arrum Haji sendiri bukanlah dana talangan melainkan pembiayaan yang diberikan oleh pegadaian syariah kepada nasabah dengan menggunakan akad gadai, adanya barang jaminan adalah satu hal yang paling mencolok yang menjadikan Arrum Haji berbeda dengan dana talangan haji.

Adapun keunggulan dari produk ini adalah nasabah dapat memperoleh tabungan haji yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh nomor porsi haji. nasabah juga tidak perlu khawatir karena emas dan dokumen haji aman tersimpan di pegadaian, dengan biaya pemeliharaan barang jaminan yang terjangkau, dan jaminan emas tersebut juga dapat digunakan untuk pelunasan hutang nasabah di pegadaian. Pembiayaan dana talangan haji adalah produk pembiayaan yang diberikan oleh perbankan dalam rangka membantu menutupi kekurangan dana nasabah untuk memperoleh kursi haji.

Arrum haji cukup dengan marhun (agunan) berupa logam mulia berat mulia dari 3.5 gram, sudah bisa mendapatkan pembiayaan Rp. 25 juta dalam bentuk tabungan haji yang langsung dapat digunakan mendaftar dan mendapatkan porsi haji. Dan pembiayaan dapat dilunasi selama jangka waktu 1-5 tahun dengan membayar angsuran pokok ditambah mu’nah. Mu’nah yaitu biaya pemeliharaan barang jaminan.

H. Kajian Terdahulu

Sebelum melakukan penelitian, maka penulis terlebih dahulu mengamati dan mencermati penelitian terdahulu yang relevan.

(49)

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Ratu Desta yang berjudul

“Analisis Pembiayaan Arrum BPKB Dalam Meningkatkan Pendapatan Nasabah Pegadaian Syariah Menurut Perspektif Ekonomi Islam”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa manajemen pembiayaan ARRUM BPKB yang dijalankan Pegadaian Syariah Cabang Raden Intan berjalan sesuai dengan standar operasional manajemen yang berlaku pada pegadaian syaraiah pada umumnya. Dan berjalan berdasarkan peraturan direksi Nomor 47/DIR I/2018 tentang petunjuk teknis pegadaian ARRUM mikro. Produk pembiayaan ARRUM BPKB dapat meningkatkan usaha nasabah Pegadaian Syariah Cabang Raden Intan. dari data 23 nasabah pembiayaan ARRUM BPKB Pegadaian Syariah Cabang Raden Intan terdapat 52% nasabah yang mengalami peningkatan pendapatan karena pendapatan yang didapat digunakan untuk mengembangkan usaha dan 48% nasabah yang tidak mengalami peningkatan pendapatan, karena pendapatan yang didapat untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Serta adanya upaya lain dalam meningkatkan pendapatan nasabah dengan pelatihan usaha serta menjadi agen pegadaian syariah. Pelaksanaan pembiayaan ARRUM BPKB dalam meningkatlan pendapatan nasabah kurang sesuai dengan prinsip ekonomi islam yang menjunjung nilai siddiq, amanah, fatonah dan tabligh.

Dikarenakan biaya ijarah atau sewa yang ditetapkan oleh Pegadaian Syariah Cabang Raden Intan kurang kompetitif atau lebih tinggi dari bunga pembiayaan yang diberikan oleh bank konvensional. Manfaat yang dapat

(50)

penulis ambil dari kajian terdahulu tersebut bisa dijadikan sebagai referensi penelitian yang akan penulis lakukan.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Venny Andrianingtias yang berjudul “Analisis Pembiayaan Arrum Haji Di Pegadaian Syariah Berdasarkan FATWA DSN MUI Nomor 92 Tahun 2014”. Penelitian ini membahas pembiayaan Arrum Haji secara umum memenuhi ketentuan Fatwa DSN MUI Nomor 92 Tahun 2014. Namun ada kekurang telitian pihak Pegadaian Syariah, dimana pada pasal mengenai ganti rugi disebutkan pada ayat kedua dengan kata “denda” yang seharusnya dengan kata “ganti rugi”.

Lalu dalam pelaksanaan penerapan ganti rugi, uang yang diterima Pegadaian Syariah dari ganti rugi tersebut atas penjelasan narasumber masuk kepada dana sosial. Penerapan ini sama seperti pada penerapan denda (ta‟zir), padahal pasal tersebut berjudul ganti rugi (ta‟widh). Pembiayaan Arrum Haji juga tidak diatur mengenai perpanjangan waktu, sehingga apabila tiga kali berturut – turut nasabah tidak membayar cicilan pembiayaan Arrum Haji maka secara otomatis sesuai dengan persetujuan pada saat akad dilakukan pencabutan porsi haji. Sedangkan menurut penulis apabila diatur tentang perpanjangan waktu akan lebih flexibel. Perpanjangan waktu diatur juga dalam Fatwa DSN MUI N0. 92 Tahun 2014. Manfaat yang dapat penulis ambil dari kajian terdahulu tersebut bisa dijadikan sebagai referensi penelitian yang akan penulis lakukan.

(51)

Ketiga, Ilham Abdi Prawira dengan jurnal yang berjudul “Analisis Hukum Terhadap Produk Arrum Haji di Pegadaian Syariah”. Dimana jurnal ini membahas apakah hukum pada Arrum Haji sesuai dengan peraturan Fatwa-fatwa DSN. Fatwa DSN-MUI Nomor 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas menjadi landasan hukum produk Arrum Haji, hal ini dikarenakan jika ditinjau dari segi objek jaminan yang dijadikan barang jaminan adalah emas. Dalam fatwa DSN-MUI tersebut telah dijelaskan secara mendetail mengenai pelaksanaan Rahn Emas, jika merujuk pada fatwa ini, pelaksanaan produk Arrum Haji telah sejalan dengan fatwa tentang Rahn Emas. Selain itu Fatwa DSN-MUI Nomor 92/DSN-MUI/IV/2014 tentang Pembiayaan yang Disertai Rahn juga merupakan landasan hukum dalam pelaksanaan produk Arrum Haji. Dalam pelaksanaan produk Arrum Haji akad yang digunakan adalah akad pembiayaan, dalam hal ini adalah pembiayaan untuk melakukan pendaftaran haji dengan jaminan berupa emas, dengan demikian jika merujuk pada fatwa ini maka pembiayaan yang dimaksud termasuk dalam kategori fatwa ini. Manfaat yang dapat penulis ambil dari kajian terdahulu tersebut bisa dijadikan sebagai referensi penelitian yang akan penulis lakukan.

Berdasarkan uraian diatas, terlihat perbedaan penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan peneliti sebelumnya. Dimana yang dibahas penulis pada saat ini tentang Analisis Pelaksanaan Produk Arrum Haji Menurut Perspektif Ekonomi Islam dan Dampaknya Dalam Meningkatkan

(52)

Jumlah Nasabah (Studi Kasus PT. Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh).

(53)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif.

Metode penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang dilakukan secara alamiah sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan tanpa adanya rekayasa dan jenis data yang dikumpulkan berupa data deskriptif.35 Penelitian ini bersifat Deskriptif Kualitatif, yaitu suatu penelitian yang menggambarkan dan melaporkan suatu objek penelitian dengan mengomparasikan antara teori dengan keadaan yang terjadi di lapangan, apakah ada kesenjangan atau mungkin kesamaan antara teori dengan kenyataan di lapangan, kemudian dianalisis berdasarkan tujuan penelitian.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh. Waktu penelitian dimulai pada bulan November 2019 sampai dengan selesai.

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data dari penelitian ini menggunakan dua jenis data dalam membantu masalah yang di teliti yaitu:

35 Danu Eko Agustinova, Memahami Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta:Calpulis,2015), hal.10

Referensi

Dokumen terkait

Selain dalam pelaksanan produk ARRUM haji yang ada pada di pegadaian syariah ini, terdapat dua upah yaitu upah dari mu’nah (jasa pemeliharaan /penjagaan) barang

Dari tabel di atas, menjelaskan keseluruhan nasabah yaitu 25 nasabah (100%) menyatakan tidak berat dalam mengembalikan pinjaman ARRUM di Pegadaian Syariah Cabang Bangkinang, disini

 Tuuan terapi musik secara khusus adalah untuk menumbuhkembangkan potensi!potensi yang ada pada klien, serta mem$ungsikan sisa!sisa kemampuan yang ada pada klien.

Dalam situasi kedua adalah, Anda menghadapi organisasi yang hangat dan merencanakan suatu perubahan yang dingin.. Situasi ini mungkin dapat ditangani dengan baik bila Anda

Dari hasil perbandingan jumlah nasabah menggunakan produk pembiayaan dana talangan haji tersebut, dapat dijadikan sebagai ukuran respon positif masyarakat terhadap

Pendidikan merupakan suatu sarana yang sangat penting dalam mengolah dan mengembangkan potensi sumber daya manusia guna memenuhi tuntutan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan

Kejadian tersebut dijelaskan karena adanya perlemahan pada endotelium arteri intraserbral yang disebabkan oleh rendahnya total kolesterol dan adanya faktor resiko

Analisis SWOT Terhadap Strategi Pemasaran Produk Arrum Haji Dalam Menarik Minat Nasabah Pada Pegadaian Syari’ah Cabang Renteng Praya Kabupaten Lombok Tengah.. Fakultas