• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori

1. Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler a. Pengertian Manajemen

Manajemen berasal dari bahasa inggris to manage yang berarti mengatur, mengurus, atau mengelola. Menurut Melayu S.P hasibuan, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lain dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam manajemen, terdapat dua sistem yaitu sistem organisasi dan sistem informasi.7

Ramayulis menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat di dalam Al-Qur‟an seperti Firman Allah SWT :

َرأمَ ألْا ُرِّبَدُي َفألَأ ُهُراَدأقِم َناَك ٍمأوَي يِف ِوأيَلِإ ُجُرأعَي َّمُث ِضأرَ ألْا ىَلِإ ِءاَمَّسلا َهِم

وُّدُعَت اَّمِم ٍةَنَس

Artinya :

“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhituhanganmu.” (Q.S.

As-Sajdah: 5)

Dari ayat diatas diketahui bahwa Allah SWT. Merupakan pengatur

7K.H.U Saefullah, M., 2014, Manajemen Pendidikan Islam, Bandung: CV.Pustaka Setia.

(2)

alam. Akan tetapi, sebagai khalifah di bumi ini, manusia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah SWT mengatur alam ini.

Manajemen pendidikan islam sebagimana dinyatakan Ramayulis adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (umat islam, lembaga pendidikan atau lainnya), baik perangkat keras maupun lunak.

Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efiesien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, baik di dunia maupun diakhirat.8

Sistem organisasi adalah intergritas berbagai komponen yang saling mempengaruhi yang berperan menurut tugas dan fungsi masing-masing sekaligus terkait dengan komponen-komponen administratif. Seluruh aktifitas manusia dalam suatu sistem organisasi dikendalikan oleh prinsip-prinsip yang berlaku dalam manajemen. Adapun sistem administrasi berperan mencatat dan merekam semua proses manajerial secara bertahap, periodik dan akuntabel.

Banyak ahli memberikan pengertian tentang manajemen. Di antaranya adalah sebagai berikut :9

1) Menurut Mary Parker Follet, Manajemen adalah seni karena untuk melakukan pekerjaan melalui orang lain dibutuhkan ketrampilan khusus.

2) Menurut Horold Koontz dan Cyril O‟donnel, manajemen adalah usaha untuk mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.

3) G. R. Terry menyatakan bahwa manajemen merupakan proses khas yang

8K.H.U Saefullah, M., 2014, Manajemen Pendidikan Islam, Bandung: CV.Pustaka Setia

9Darmayanti Zuchdi, 2013, Model Pendidikan Karakter, Yogyakarta: Katalog dalam terbitan

(3)

terdiri atas tindakan-tindakan perencanaan, pengoorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Definisi tersebut sama dengan yang dikemukakan oleh Andrew F. Sikula sebagaimana dikemukakan oleh S.P hasibuan (1990: 4).

4) James A.F Stoner (1982: 8) yang mendefiniskan manajemen adalah sebagai proses prencanaan, pengoorganisasian dan penggunaan sumber daya organisasi lainya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Manajemen sebagai seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain.

5) Lawrence A. Appley dan Oey Liang Lee menjelaskan bahwa sebagai seni dan ilmu, dalam menejemen terdapat strategi yang memanfaatkan tenaga dan pikiran orang lain untuk melakukan aktivitas yang diarahkan kepada pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Dari pengertian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa manajemen merupakan sebuah proses kegiatan yang terdiri dari perencanaan, pengoorganisasian, pergerakan, dan pengawasan yang telah di tetapkan dan di tentukan sebelumnya untuk mecapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien.

Dalam menejemen terdapat teknik-teknik yang kaya dengan nila- nilai kepemimpinan dalam mengarahkan, memengaruhi, mengawasi dan mengoorganisasikan semuakomponen yang saling menunjang untuk tecapainya tujuan. Semua pengertian tentang manajemen tersebut mengandung persamaan mendasar bahwa dalam manejemen terdapat aktivitas

(4)

yang saling berhubungan, baik dari fungsionalitasnya maupun dari tujuan yang ditargetkan. Hal-hal dimaksudkan adalah :

1) Organisasi

Suatu wadah atau sekumpulan orang yang memiliki suatu visi dan misi yang sama mempunyai pembagian tugas pekerjaan yang dikelompokan dan dikoordonasikan secara formal pada lembaga pendidikan.

2) Manajer

Orang yang mempunyai pengalaman, pengetahuan serta keterampilan yang baik yang diakui oleh oraganisasi untuk bisa memimpin, mengelola, mengendalikan, mengatur dan juga mengembangkan organisasi dalam rangka mencapai suatu tujuananya

3) Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga

Ketentuan dasar dan ketentuan operasional bagi suatu organisasi yang mencerminkan aspirasi, visi dan misi pada bidang kesiswaan.

4) Tujuan organisasi

Penanaman nilai dalam diri murid dan pembaruan tata kehidupan bareng yang lebih menghargai kemerdekan individu.

5) Perencanaan program yang akan dilaksanakan

Perencanaan memegang peranan penting dalam organisasi, apalagi perncanaan pengembangan diri melalui kegitan ekstrakulikuler di SMA Negeri 1 Jepara karena sebagai penentu sekaligus memberikan arah terhadap tujuan yang ingin dicapai.

6) Pengarahan sumber daya organisasi

(5)

Manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi. Selanjutnya, sumber daya yang menggerakan suatu organisasi berarti mengatur, mengurus siswa-siswa berdasarkan visi dan misi sekolahan dan di capai secara optimum.

7) Teknik-teknik pelaksanaan kegiatan organisasi

Pelaksanaan kegiatan siswa secara terjadwal dan berkelanjutan yang di plot atau dijadwalkan oleh bagian kesiswaan supaya kegiatan yang sudah d rencanakan dapat berjalan sesuai harapan dan optimal.

8) Pengawasan aktivitas organisasi

Proses untuk memastikan bahwa semua aktivitas yang terlaksana telah sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.

9) Sarana dan prasarana organisasi

Secara umum yang dimaksud sarana dan prasarana adalah seperangkat alat yang digunakan untuk suatu kegiatan, alat tersebut bisa berupa alat utama atau alat yang membantu proses kegiatan, sehingga dari tujuan kegiatan tersebut dapat tercapai.

10) Penempatan personalitas yang prefesional

Tenagakerja atau karyawan yang prefesional untuk bisa mengendalikan suatu kegitan yang telah ditunjuk dari bagian kesiswaan atau bisa diartikan tangan panjangnya dari kesiswan untuk bisa menangani suatu kegiatan pengembangan diri pada SMA Ngeri 1 Jepara.

11) Evaluasi kegiatan organisasi

Evaluasi untuk pendidikan karakter dilakukan untuk mengukur apakah

(6)

anak sudah memiliki satu atau sekelompok karakter yang ditetapkan oleh SMA Negeri 1 Jepara dalam kurun waktyu tertentu,

12) Pertanggung jawaban organisasi

Suatu organisasi yang telah berjalan dari awal perencanaan sampai tahap evaluasi suatu kegiatan pendidikan karakter maka harus di pertanggung jawabkan secara transparan kepada sekolahan.

Dengan penjelasan tersebut, secara umum pengertian manajemen ialah kegiatan untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan terlebih dahulu dengan memenfaatkan orang lain ( getting things done throught the effort of other people ). Dari pengertian tersebut, tersirat adanya

lima unsur manajemen yaitu : 1) Pimpinan

Peranan pimpinan dalam suatu organisasi itu sangat penting karena keberadan pimpinan yaitu menjadi palang pintu atau menjadi salah satu ujung tombak dari keberhasilan dalam berorganisasi.

2) Orang-orang (pelaksana) yang dipimpin

suatu segerombolan orang yang mempunyai pembagian tugasnya maing-masing sesuai dengan strutur organisasi dan berada di bawah seorang pemimpin

3) Tujuan yang telah dicapai

Tujuan suatu organisasi adalah alsan mengapa beberapa orang bekerjasama membentuk organisasi adalah karena memiliki tujuan bersama yang ingin diwujudkan. Dengan adanya tujuan tersebut, para anggota organisasi akan saling bahu membahu dalam

(7)

melakukan usaha dalam pengembangan diri di sekolah SMA Negeri 1 Jepara.

4) Kerjasama dalam mencapai tujuan tersebut

Suatu organisasi pasti tidak akan lepas yang namanya kerjasama, dengan adanya kerjasama yang dibangun sejak awal akan memudahkan segala program kerja yang ingin dicapai.

5) Sarana atau peralatan manajemen (tools of management) yang terdiri atas enam macam (dikenal dengan 6 M) yaitu :

a. Man ( manusia / orang ) b. Money ( uang )

c. Meterials ( bahan-bahan) d. Mechine ( mesin ) e. Method ( metode ) f. Market ( pasar )

Dari berbagai pengertian yang sudah dikemukakan diatas, dapat diklasifikasikan ruang lingkup manajemen, terutama dilihat dari unsur-unsur yang pasti ada dalam manajemen. Sebagai ilmu, manajemen memiliki teori dan kerangka pikir yang sudah teruji, terutama berhubungan dengan teori manajemen ilmiah, organisasi klasik, teori perilaku organisasi.

Teori manajemen ilmiah memfokuskan kajiannya pada pentingnya keberadaan manajer dan perannya dalam suatu organisasi. Menurut teori ini, menciptakan iklim yang kondusif bergantung pada sumber daya manusia yang menggerakan organisasi.

Teori organisasi klasik atau teori tradisional menggambarkan

(8)

organisasi yang tersentralisasi dan tugas-tugasnya pun terspesialisasi.

Dengan kata lain, setiap pekerja memikul tanggung jawab penuh sesuai dengan spesialisasinya dan mengikuti sistem kerja yang prefesional.

Adapun teori pelaku organisasi memfokuskan pengaruh individu kelompok, dan struktur terhadap perilaku dalam organisasi.

Manajemen juga mengkaji efesiensi dan efektivitas pelaksaan kinerja organisasi dengan mempertimbangkan tujuan organisasi, kegiatan yang logis, jumlah sumber daya manusia atau staff yang memadai, disiplin kerja, upah yang proporsional, bonus yang prestatif, standart pekerjaan yang sistematis, pertanggungjawaban yang obyektif, penerapan balas jasa atau insentif yang motivasional, dan pengembangan perusahaan yang terukur.

b. Kegiatan Ekstrakurikuler

Menurut Suryobroto, ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan diluar struktur program dilaksanakan diluar jam pelajaran biasa agar memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan siswa.10 Ekstrakulikuler adalah kegiatan diluar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan pesertadidik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik atau tenaga kependidikan yang berkemampuan di sekolah.11

Berdasarkan peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nomer 62 tahun 2014 tentang kegiatan ekstrakulikuler pada pendidikan dasar dan

10Suryosubroto, B, 2013, Proses Belajar Mengajar di sekolah, Jakarta : Rineka Cipta, hlm.287.

11Muhaimin,dkk, 2008, Pengembangan Model KTSP Pada Sekolah, Jakarta:Raja Grafindo P.

(9)

menengah serta menengah atas menjelaskan bahwa kegiatan ekstrakulikuler merupakan kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik diluar jam belajar kegiatan intrakulikuler, kegiatan kokulikuler, dibawah bimbingan dan pengawasan suatu pendidikan. Selain itu, kegiatan ekstrakulikuler mempunyai tujuan mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, kemandirian pesertadidik secara optimal dalam mendukung pencapaian pendidikan nasional.12

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang biasa dilakukan di luar kelas dan diluar jam pelajaran (kurikulum) untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki peserta didik, baik berkaitan aplikasi ilmu pengetahuan yang didapatkannya maupun dalam pengertian kusus untuk membimbing peserta didik dalam mengembangkan potensi dan bakat yang ada dalam dirinya melalui kegiatan- kegiatan wajib maupun pilihan.

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pelajaran yang diselenggarakan diluar jam pelajaran biasa. Kegiatan ini dilaksanakan sore hari bagi sekolah-sekolah masuk pagi, dan dilaksanakan pada pagi hari pada sekolah yang masuk sore. Kegiatan ekstrakurikuler sering dimaksudkan untuk mengembangkan salah satu bidang pelajaran yang diminati oleh sekelompok siswa, misalnya olahraga, kesenian, dan berbagai kegiatan keterampilan dan kepramukaan.13

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegaiatan pembelajaran yang diselenggrakan diluar jam pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan

12Peraturan Mendikbud No 62 tahun 2014

13Daryanto, 2013, Administrasi dan Manajemen Sekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta, Hlm. 145.

(10)

pengetahuan, pengembangan, bimbingan, dan pembinaan siswa agar memiliki pengetahuan dan penunjang.14 Mulyono menambahkan bahwa kegiatan ekstrakulikuler merupakan kegiatan tambahan diluar jam pelajaran baik dilaksanakan di luar sekolah maupun disekolah, yaitu untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki peserta didik.

Kegiatan ekstrakulikuler biasanya dilaksanakan setelah pulang sekolah yaitu di sore hari. Kegiatan ekstrakurikuler diadakan untuk mendorong untuk kegiatan belajar mengajar. Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan diluar jam tatap muka biasa yang menunjangrealisasi kurikulum agar dapat memperluas wawasan, pengetahuan dan kemampuan siswa dalam menghayati apa yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang dilaksanakan diluar jam pelajaran formal dimana dijadikan sebagai tempat untuk menumpahan apa yang menjadi peserta didik tidak didapatkan dalam pelajaran di kelas. Selain itu, siswa dapat mengasah kemampuan, bakat dan minat mereka melalui kegiatan ekstrakulikuler.

Sehingga peserta didik dapat memperluas wawasan, pengetahuan, dan kemampuan siswa dalam menghayati apa yang telah dipelajari.

c. Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler

Manajemen ekstrakurikuler merupakan pengelolaan diluar jam pelajaran bisa termasuk pada waktu libur yang dilakukan disekolah ataupun di luar sekolah melalui tahapan perencanaan, pengoorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi dengan tujuan memperluas pengetahuan siswa mengenai

14Abdul Rahmad S, 2005, Pendidikan Agama dan Perkembangan Watak Bangsa, Jakarta:PT Gafinda Persada, hlm. 170

(11)

hubungan antara berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat serta melengkapi pembinaan manusia seutuhnya.15

Manajemen ekstrakurikuler diartikan sebagai seluruh proses yang direncanakan dan diusahakan secara teroorganisir mengenai kegiatan sekolah yang dilakukan diluar kelas dan di luar jam pelajaran untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki peserta didik, baik berkaitan dengan aplikasi ilmu pengetahuan yang didapatkannya maupun dalam pengertian kusus untuk membimbing peserta didik dalam mengembangkan potensi dan bakat yang ada dalam dirinya melalui kegiatan- kegiatan yang wajib maupun pilihan.16

Adapun manajemen ekstrakurikuler melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1. Perencanaan Kegiatan Ektrakurikuler

Kegiatan ekstrakulikuler harus memiliki perencanaan yang matang dalam pelaksanaanya agar semua bisa berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Selain itu, jika kegiatan yang direncanakan belum bisa berjalan, maka bisa melakukan evaluasi untuk bahan perencanaan bahan yang akan datang. Adapun perencanaan meliputi :

a). Menyiapkan jenis program kegiatan, yaitu program harian, program mingguan, program bulanan, program semesteran dan program tahunan.

b). Menyiapkan format kegiatan.

c). menyiapkan sasaran yang akan mengikuti kegiatan.17 b. Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler

a). Harus bersifat rutin, spontan, dan keteladanan dilaksanakan secara

15 Eka Prihantin, 2011, Teori Administrasi Pendidikan, Jakarta: Alfabeta, hlm. 164.

16 Mulyono, Op, Clt, hlm. 188

17 Eka Prihantin, 2011, Teori Administrasi Pendidikan, Jakarta: Alfabeta, hlm. 180

(12)

langsung.

b). Harus sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pelaksanaan sesuai dengan direncanangkan.

c). Peserta harus mendatangi pertemuan dan elibatkan diri dalam diskusi.18

c. Evaluasi Kegiatan Ekstrakurikuler

Evaluasi degunakan untuk mengetahui, apakah kegiatan berjalan sesuai dengan rencana atau tidak, sehingga dengan adanya evaluasi ini digunakan untuk bahan perbaikan.

Ekstrakurikuler membutuhkan manajemen yang terstuktur yang dimulai dari proses perencanaan dimana sebuah instansi atau organisasi harus memiliki dasar tujuan serta visi dan misi untuk menjalankan instansi atau organisasinya. Pengoorganisasian dalam ekstrakulikuler menjadi kunci kesuksesan pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler demi mencapai tujuan serta visi dan misi yang sudah ditargetkan sebelumnya. Hingga selanjutnya diperlukan evaluasi. Dalam proses evaluasi pembahasan ada pada sesuai atau tidaknya pelaksanaan dengan rencana yang disusun sebelumnya sehingga mendapatkan kesimpulan untuk melaksanaan manajemen ekstrakulikuler yang lebih baik di siklus berikutnya.

Apabila kegiatan ekstrakurikuler melibatkan banyak pihak tentulah hal ini memerlukan peningkatan administrasi yang lebih tinggi. Kepekan para pengelola kususnya penanggungjawab pengaturan siswa sangat diperlukan.

Kepala sekolah sebagai manajer harus melakukan hal-hal sebagai berikut:19

18 Eka Prihantin, 2011, Teori Administrasi Pendidikan, Jakarta: Alfabeta, hlm, 182.

19 Syafarudi, 2005, Manajemen Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat, hlm. 265.

(13)

a). Mengeidentifikasi kegiatan ekstrakurikuler yang akan dilaksanakan di sekolah.

Pengawasan adalah peninjau kemajuan terhadap pencapaian hasil akhir dan pengambilan tindakan pembetulan ketika kemajuan tersebut tidak terwujud. Pengawasan/pengendalian adalah fungsi yang harus dilakukan manajer untuk memastikan bahwa anggota melakukan aktivitas yang akan membawa organisasi ke arah tujuan yang ditetapkan.

Pengawasan yang efektif membantu usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatur pekerjaan yang direncanangkan dan memastikan bahwa pelaksanaan pekerjaan tersebut berlangsung sesuai rencana.20

b). Menunjuk setiap koordinator kegiatan.

Menenunjuk guru sebagai penanggung jawab pelaksaannya yang bertanggung jawab kepada kepala sekolah. Pada tahapan persiapan, kepala sekolah dibantu oleh staff sekolah. Proses pemilihan dan pengurus dewan sekolah di lakukan dengan jujur, terbuka bahkan bertanggung jawab.

Pengesahan anggota dewan sekolah dilakukan oleh musyawarah lengkap anggota.21

c). Meminta setiap koordinator untuk menyusun program kerja akan menjadi bagian dari rencana kegiatan sekolah. Dengan program tersebut itulah kemudian dikembangkan dalam proses yang lebih detail pada rencana kegiatan. dalam mengembangkan rencana kegiatan, sekolah harus berpatokan kepada tujuan yang akan dicapai dan trategi utama yang sudah dirumuskan, sehingga misalnya sekolah merumuskan kurikulum yang ada

20 Hasbullah, 2005, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo, hlm. 3.

21 Nanang Fatah, 2012, Sistem Penjaminan Mutu Sekolah, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, hlm 158-159

(14)

di sekolah maka rencana kegiatan tidak boleh menyimpang dari strategi sekolah.22

d). Memonitor pelaksanaan

Sasaran kegiatan ini adalah seluruh peserta didik di sekolah, madrasah maupun lembaga-lembaga pendidikan nonformal lainnya seperti pesantern. Pengelolaannya diutamakan ditangani oleh peserta didik itu sendiri, dengan tidak menutup kemungkinan bagi keterlibatan guru atau pihak-pihak lain jika diperlukan sebagai pembimbing.23

Pelaksanaan kegiatan ekstrakulikuler ini dilakukan diluar jam pelajaran atau diluar kelas. Kegiatan ini sebaikny juga dilakukan lintas kelas. Namun, untuk hal-hal tertentu yang berkaitan dengan aplikasi dan praktik materi pelajaran dikelas, maka kegiatan ekstrakulikuler dilaksanakan dan diikuti secara tertib oleh mereka yang satu kelas dan satu tingkat.24

Bentuk-bentuk kegiatan ekstrakurikuler juga perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan tingkat pemahaman dan kemampuan peserta didik serta tuntutan-tuntutan lokal dimana sekolah berada. Sehingga melalui kegiatan yang diikutinya, peserta didik mampu belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang berkembang dilingkungannya dengan tetap tidak melupakan masalah-masalah global tertentu saja yang juga harus pula

22 Muhaimin, 2011, Manajemen Pendidikan Aplikasinya Dalam Menyusun Pengembangan Sekolah, Jakarta: PT Kencan Predana Media Group,hlm. 94

23 Muhaimin,2011, Manajemen Pendidikan Aplikasinya Dalam Menyusun Pengembangan Sekolah, Jakarta: PT Kencan Predana Media Group,hlm, 189.

24 Muhaimin, 2011, Manajemen Pendidikan Aplikasinya Dalam Menyusun Pengembangan Sekolah Jakarta: PT Kencan Predana Media Group, hlm, 189.

(15)

diketahui oleh peserta didik.25

Mengutip dari Kemendikbud, Suryobroto menyatakan, usaha membina dan mengembangkan program ekstrakulikuler hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1 Materi kegiatan yang dapat memberikan pengayaan bagi siswa.

2 Sajauh mungkin tidak terlalu membebani peserta didik.

3 Memanfaatkan potensi alam lingkungan.

4 memanfaatkan kegiatan-kegiatan industri dan dunia usaha.26

Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan ekstrakurikuler adalah:

1 Kegiatan ekstrakurikuler yang diberikan kepada siswa secara perorangan atau kelompok ditetapkan oleh sekolah berdasarkan minat siswa, tersedianya fasilitas yang diperlukan serta adanya guru atau petugas untuk itu, bilamana kegiatan tersebut memerlukannya.

2 Kegiatan-kegiatan direncanakan untuk memeberikan kepada siswa hendaknya diperhatikan keselamatannya dan kemampuan siswa serta kondisi sosial budaya setempat.

Pelaksanaan ekstrakurikuler harus memenuhi beberapa asas :

a). Harus dapat meningkatkan pengayaan pengetahuan peserta didik, baik ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik.

b). Memberikan tempat serta mendorong penyaluran bakat dan minat peserta didik, sehingga siswa akan terbiasa melakukan kesibukan- kesibukan yang positif.

25 Muhaimin, 2011, Manajemen Pendidikan Aplikasinya Dalam Menyusun Pengembangan Sekolah , Jakarta: PT Kencan Predana Media Group, hlm, 189.

26 Suryobroto, 2013,Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakata :PT Rineke Cipta, hlm. 291

(16)

c). Adanya perencanaan, persiapan, dan pembiayaan yang telah diperhitungkan seoptimal mungkin sehingga program ekstrakurikuler dapat mecapai tujuan.

d). Faktor-faktor pelaksana untuk memonitor dan memberikan penilaian.27

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan manajemen ekstrakurikuler tersebut diantaranya yaitu :

1 Faktor Pendukung a). Tersedianya sarana

Yang dimaksud dengan sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar percapain tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar teratur, efektif dan efesian.28

b). Dana kegiatan

Tersedianya dana ekstrakulikuler diartikan sebagai besarnya dana yang disediakan oleh sekolah atau guna memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

c). Adanya keberadaan jadwal kegiatan ekstrakurikuler

Jadwal ekstrakurikuler akan menjadi pegangan bagi setiap guru dalam melaksanakan tugas pembina, bagi peserta didik menjadi pedoman dalam merencanakan dan mengikuti program

27 Suryobroto, 2013, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Jakata :PT Rineke Cipta, hlm. 291

28 Eka Prihantin, Op, Clt, hlm. 163

(17)

ekstrakurikuler, bagi administrator mempermudah dalam meberikan dukungan sarana dan prasarana yang diperlukan dan bagi kepala sekolah mempermudah untuk supervisi.29

d). Siswa yang berkompeten

e). Adanya guru / pembina kegiatan

f). Dukungan dari kepala sekolah dan komite 2 Faktor penghambat

a). Kurangnya dana

b). Sarana yang sudah tidak layak di pakai c). Cuaca yang kurang bersahabat

d). Tidak adanya wadah yang menampung untuk mengasah bakat siswa e). Tidak tertibnya administrasi

f). Tidak adanya dukungan dari wali murid g). Waktu yang kurang efektif dan efesien.30

2.2 Fungsi Kegiatan Ekstrakurikuler

Fungsi kegiatan ekstrakurikuler sebagai berikut:

1) Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan potensi, bakat dan minat mereka.

2) Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.

3) Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan

29 Eka Prihantin, Op, Clt, hlm.164.

30 Eka Prihantin, Op, Clt, hlm.164

(18)

suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang prosesperkembangan.

4) Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik.31

2.3 Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler

Jenis Kegiatan Ekstrakurikuler sebagai berikut:

1) Krida, meliputi: Kepramukaan, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA).

2) Karya Ilmiah, meliputi: Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik,penelitian.

3) Latihan/lomba/prestasi, meliputi: pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnaistik, teater,keagamaan.

4) Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni budaya.32

Jadi dapat di simpulkan manajemen kegiatan ekstrakurikuler adalah suatu tindakan yang berupa perencanaan kegiatan, pengelolaan keuangan, program jangka pendek, program jangka menengah dan program jangka panjang pada suatu bidang ekstrakurikuler dan ada susuanan organisasi supaya semua kegiatan ekstrakurikuler dapat berjalan dengan baik serta lancar. Dan tidak lupa juga setiap kegiatan ekstrakulikuler di evaluasi satu

31 Eka Prihantin, Op, Clt, hlm.164

32 Eka Prihantin, Op, Clt, hlm.164

(19)

persatu per bidang ekstra karena tumbuh kembang anak atau peminatan berbeda-beda, supaya kegiatan ekstrakurikuler berjalan semua, lancar dan baik.

2. Pembinaan Karakter Peserta Didik

a. Pengertian Pembinaan

Pembinaan dalam istilah berarti “pendidikan” yang merupakan pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa (sekolah).

Selanjutnya pembinaan dalam arti selanjutnya berarti mental.

Pembinaan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah suatu usaha untuk pembinaan kepribadian yang mandiri dan sempurna serta dapat bertanggungjawab, atau suatu usaha, pengaruh, perlindungan dalam bantuan yang diberikan kepada peserta didik yang tertuju dalam kedewasaan peserta didik itu, atau lebih cepat membantu peserta didik lebih cakap dalam melaksanakan tugas hidup sendiri, pengaruh itu datangnya dari orang dewasa melalui kegiatan di sekolah yaitu kegiatan ekstrakulikuler.

Kondisi masa kini sangat berbeda dengan kondisi masa lalu.

Pendekatan pembinaan yang dahulu cukup efektif, tidak sesuai lagi untuk membangun generasi sekarang dan yang akan datang. Bagi generasi masa lalu, pembinaan bersifat indoktrinatif sudah cukup memadai untuk membendung terjadinya perilaku menyimpang dari norma-norma kemasyarakatan, meskipun hal tersebut tidak mungkin membentuk pribadi- pribadi yang memiliki kemandirian. Sebagai gantinya, diperlukan pendekatan pendidikan karakter yang memungkinkan subyek didik yang saling bertentangan, seperti yang terjadi pada kehidupan pada saat ini.

(20)

Pemberian teladan saja juga kurang efektif diterapkan, karena sulitnya menentukan yang paling tepat untuk dijadikan teladan. Dengan kata lain, diperlukan multipendekatan atau yang oleh Kirschenbaum (1995) disebut pendekatan komprehensif.

Sebelum tahun 1990-an di Amerika Serikat telah dikembangkan program pendidikan karakter yang bagus, untuk mengajarkan nilai-nilai tradisional. Perhatian yang cukup besar terhadap nilai dan moralitas telah diberikan oleh para orang tua, pemuka agama, guru dan politisi.

Meningkatnya perhatian itu disebabkan ketidak mampuan negara tersebut mengatasi masalah minuman keras, kriminalitas, kekerasan, disentegrasi dalam keluarga, meningkatnya jumlah remaja yang bunuh diri dan remaja putri yang hamil, menurunnya tanggungjawab masyarakat, tumbuhnya pertentangan rasial dan etnis, serta tidak terkendalinya jumlah skandal pada tahun 1980-an, yang merupakan gejala “ Kehampaan etnis” dalam pemerintahan dan kehidupan secara umum. Kondisi negative tersebut telah menggugah para orang tua, pendidik, dan pemuka masyarakat untuk bersatu padu melibatkan diri dalam mendidikkan karakter kepada generasi muda (Kirschenbaum, 1995 : 7 ).33

Pendekatan-pendekatan baru dan inovasi-inovasi yang telah diterapkan di Amerika Serikat, antara lain : perumusan tujuan behavioral (1960), open education „ pendidikan di alam terbuka „ dan klarifikasi nilai (1970), back to basics, berpikir kritis, kemitraan sekolah dan perusahaan, serta belajar kooperatif (1980), menurut Kirschenbaum paling-paling hanya

33 Darmayanti Zuchdi, 2013, Model Pendidikan Karakter, Yogyakarta : Katalog dalam terbitan,Hlm. 8

(21)

menawarkan solusi yang bersifat parsial terhadap masalah-masalah pendidikan.

Berdasarkan kesimpulan diatas, pembinaan itu sangat penting sejak dini dan pendidikan karakter pada siswa harus disarankan penggunaan model pendekatan komprehensif, yang diharapkan dapat memberikan pemecahan masalah yang secara relatif lebih tuntas. pada masing-masing siswa sekolah.

b. Karakter Peserta Didik

Pendidikan karakter peserta didik sangat penting di tanamkan kepada peserta didik. Pembentukan karakter peserta didik harus dimulai sejak dini, sehingga peserta didik mampu beretika, bermoral, sopan santun, dan berinteraksi dengan masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat, perangai, dan sifat-sifat seseorang . Karakter adalah nilai-nilai yang khas, baik (baik mengetahui nilai kebaikan, maupun berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap kehidupan lingkungan) yang terpatri dalam diri dan terjawabkan dengan perilaku.34

Menurut Muslich, Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melakukn nilai-nilai tersebut, baik kepaada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan

34 Kementerian Pendidikan Nasional, 2010, Pedoman Pendidikan Karakter, Jakarta: Puskur, hlm. 6

(22)

kamil.35

Dari penjabaran ini, karakter peserta didik merupakan tingkah laku atau pola pikir peserta didik yang terbentuk baik secara alami ataupun faktor lingkungan. Pendidikan karakter peserta didik sebagai mendidik seorang siswa untuk menjadi manusia yang berkarakter baik melalui pendidikan budi pekerti, pendidikan watak, dan lainnya. Adanya pendidikan karakter peserta didik mampu memutuskan atau menyikapi suatu permasalahan dengan tepat dan menimbulkan efek yang baik diri sendiri maupun orang lain.

Untuk mendalami karakter peserta didik masing-masing anak, di butuhkan pendekatan persuasif. Istilah komprehensif yang digunakan dalam pendidikan nilai mencakup berbagai aspek, sebagai berikut:

Pertama, isi pendidikan nilai harus komprehensif, meliputi semua

permasalahan yang berkaitan dengan pilihan nilahi-nilai yang bersifat pribadi sampai pertanyaan-pertanyaan mengenai etika secara umum.

Kedua, metode pendidikan nilai juga harus komprehensif. Termasuk

di dalamnya inkulkasi (penanaman) nilai pemberian teladan, dan penyiapan generasi muda agar dapat mandiri dengan mengajarkan dan memfasilitasi pembuatan keputusan moral secara bertanggung jawab.Perhatian kepada mereka, yaitu para anggota keluarga, guru, dan masyarakat.Mereka juga perlu teladan dari orang dewasa meneganai integrits kepribadian dan kebahagiaan hidup. Demikian juga mereka perlu memperoleh kesempatan yang mendorong mereka memikirkan dirinya dan mempelajari keterampilan- keterampilan untuk mengarahkan kehidupan mereka sendiri.

35 Masnur Muslich, 2011, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Multidemensional, Jakarta : Bumi Aksara, hlm. 84

(23)

Ketiga, pendidikan nilai hendaknya terjadi dalam keseluruhan proses

pendidikan di kelas, dalam ekstrakulikuler, dalam bimbingan dan penyuluhan , dalam upacara-upacara pemberian penghargaan, dan semua aspek kehidupan. Beberapa contoh mengenai ini misalnya kegiatan belajar kelompok, menggunakan bahan bacaan dan topik penulisan mengenai “ kebaikan “, penggunaan strategi klarifikasi nilai dan dilema moral, pemberian teladan “ tidak merokok”, “tidak korup”, “tidak munafik”, “dermawan”,

“menyayangi sesama maklhuk Allah SWT”, dan sebagainya.

Keempat, pendidikan nilai hendaknya terjadi melalui kehidupan

dalam masyarakat. Orang tua, lembaga keagamaan, penegak hukum, polisi, organisasi masyarakat, semua perlu berpartisipasi dalam pendidikan nilai.

Konsistensi semua pihak dalam melaksanakan pendidikan nilai mempengaruhi karakter generasi muda (Kirschenbaum, 1995 : 9-10).36

Di samping segi akademik tetap di tekankan, yang juga sangat esensial ialah pemberian pendidikan mengenai kewajiban warga negara dan nilai-nilai, serta sifat-sifat yang dianggap baik oleh kebanyakan orang tua, pendidik, dan anggota masyarakat secara keseluruhan. Yang sangat penting juga ialah perlu diajarkan keterampilan : mengatasi masalah, berpikir kritis dan kreatif, dan membuat keputusan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab. Tanpa itu semua, sistem pendidikan tidak berharga dalam masyarakat yang demikratis dan dalam dunia senantiasa berubah.

Secara mengesankan, Bell mengungkapkan gagasan mengenai

36 Darmayanti Zuchdi, 2013, Model Pendidikan Karakter, Yogyakarta : Katalog dalam terbitan, Hlm. 9

(24)

sistem pendidikan yang baik, sebagai berikut (Kirschenbaum, 1995: 11).37 If the education system works…..it provides students sthe skills and desire to learn and to keep on learning through life. It prepares them for a rewarding career in field of their choice. It gives the ability to make wise decision abaut their personal life and to participate responblly in the democratic proccesses of our society. Most of all and a think to enjoy life, how to get a kick out of it.Life a great esperience if you’re trained and confident and know where you’re going. An education that meets all requirements is by far the greatest gift that Amrika can bestow upon its young people.

Sistem pendidikan yang dilukiskan diatas sangat bagus dan lengkap.

Namun bagi bangsa indonesia, pendidikan harus juga menyiapkan subjek didik untuk dapat mengarahkan diri secara individual dan kelompok supaya memperoleh bekal untuk mencapai kebahagian akhirat. yang mereka perlukan adalah pengembangan diri secara holistik, yang meliputi aspek kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual (religius). “Tanpa adanya aspek yang terakhir ini , tidak mungkin seorang dapat menangkap makna kehidupan”

(Zohar dan Marshall, 2000).38

Sebagaimana halnya dalam bidang-bidang yang lain, ada berbagai cara untuk mencapai seperangkat tujuan pendidikan. Untuk pendidikan karakter, berbagai metode, program dan kurikulum telah dikembangkan di Amerika Serikat, untuk menolong generasi muda untuk mencapai kehidupan yang secara pribadi lebih memuaskan dan secara sosial lebih konstruktif.

Jadi mengenai karakter peserta didik adalah kepribadian masing- masing siswa yang berbeda-beda, kejiawaan dan sifat-sifat khas yang dimiliki

37 Darmayanti Zuchdi, 2013, Model Pendidikan Karakter, Yogyakarta : Katalog dalam terbitan, Hlm. 10

38 Darmayanti Zuchdi, 2013, Model Pendidikan Karakter, Yogyakarta : Katalog dalam terbitan,Hlm. 10

(25)

siswa sejak lahir, sebagai identitas diri yang membedakan dengan orang lain.

Sehingga guru harus mengenal karakter peserta didik masing-masing siswanya, supaya penanganan siswa akan lebih gampang, cepat tertangani dan lancar dalam proses belajar dan mengajar guru.

c. Pembinaan Karakter Peserta Didik

Pembinaan karakter peserta didik diyakini perlu dan penting untuk dilakukan oleh sekolah dan stakeholders-nya untuk menjadi pijakan dalam penyelenggarakan pembinaan karakter peserta didik di sekolah. Tujuan pembinaan karakter peserta didik pada dasarnya mendorong lahirnya anak- anak yang baik (insan kamil). Tumbuh dan berkembangnya karater yang baik akan mendorong peserta didik tumbuh dengan kapasitas dan komitmenya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar dan memiliki tujuan hidup. Masyarakat juga berperan membentuk karakter peserta didik melalui orang tua dan lingkungan. Pembinaan karakter peserta didik menurut Thomas Lickona yaitu mengenai kebaikan (kwoing the good), mencintai kebaikan (desiring the good) dan melakukan kebaikan ( doing the good). Pendidikan karakter menanamkan kebiasaan yang baik.

Dalam penerapannya pendidikan karakter menurut Thomas lickona menerapkan pentingnya kerjasama antara sekolah dan keluarga. Menurut Thomas lickona keterlibatan orang tua adalah indikator utama keberhasilan sekolah oleh peserta didik. Ketika sekolah bekerjasama dengan keluarga memperbaiki moral peserta didik, maka keberhasilan dalam pendidikan karakter peserta didik. Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja.

(26)

Seseorang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai pengetahuaanya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakuakan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri.

Di dalam Permen No 39 tahun 2008 pembinaan karakter terdapat materi sebagai berikut :

NO. JENIS KEGIATAN PEMBINAAN KESISWAAN 1. Pembinaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha

Esa, antara lain :

a. Melaksanakan peribadatan sesuai dengan ketentuan agama masing-masing;

b. Memperingati hari-hari besar keagamaan;

c. Melaksanakan perbuatan amaliah sesuai dengan norma agama;

d. Membina toleransi kehidupan antar umat beragama;

e. Mengadakan kegiatan lomba yang bernuansa keagamaan;

f. Mengembangkan dan memberdayakan kegiatan keagamaan disekolah.

2. Pembinaan budi pekerti luhur atau akhlak mulia, antara lain : a. Melaksanakan tata tertib dan kultur sekolah;

b. Melaksanakan gotong royong dan kerja bakti (bakti sosial);

c. Melaksanakan norma-norma yang berlaku dan tatakrama pergaulan;

d. Menumbuhkembangkan kesadaran untuk rela berkorban terhadap sesama;

e. Menumbuhkembangkan sikap hormat dan menghargai warga sekolah;

f. Melaksanakan kegiatan 7K (Keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, kedamaian dan kerindangan).

3. Pembinaan kepribadian unggul, wawasan kebangsaan, dan bela negara, antara lain :

a. Melaksanakan upacara bendera pada hari senin dan /atau hari sabtu, serta hari-hari besar nasional;

b. Menyanyikan lagu-lagu nasional (Mars dan Hymne);

c. Melaksanakan kegiatan kepramukaan;

d. Mengunjungi dan mempelajari tempat-tempat bernilai sejarah;

e. Mempelajari dan meneruskan nilai-nilai luhur, kepeloporan, dan semangat perjuangan para pahlawan;

f. Melaksanakan kegiatan bela negara;

g. Menjaga dan menghormati simbol-simbol dan lambang-lambang negara

h. Melakukan pertukaran siswa antar daerah dan antar negara.

(27)

4. Pembinaan prestasi akademik, seni, dan/atau olahraga sesuai bakat dan minat, antar lain :

a. Mengadakan lomba mata pelajaran/program keahlian;

b. Menyelenggarakan kegiatan ilmiah;

c. Mengikuti kegiatan workshop, seminar, diskusi panel yang bernuansa ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek);

d. Mengadakan studi banding dan kunjungan (studi wisata) ke tempat-tempat sumber belajar;

e. Mendesain dan memproduksi media pembelajaran;

f. Mengadakan pameran karya inovatif dan hasil penelitian;

g. Mengoptimalkan pemanfaatan perpustakaan sekolah;

h. Membentuk klub sains, seni dan olahraga;

i. Menyelenggarakan festival dan lomba seni;

j. Menyelenggarakan lomba dan pertandingan olahraga.

5. Pembinaan demokrasi, hak asasi manusia, pendidikan politik, lingkungan hidup, kepekaan dan toleransi sosial dalam konteks masyarakat plural, antara lain :

a. Memantapkan dan mengembangkan peran siswa di dalam OSIS sesuai dengan tugasnya masing-masing;

b. Melaksanakan latihan kepemimpinan siswa;

c. Melaksanakan kegiatan dengan prinsip kejujuran, transparan, dan profesional;

d. Melaksanakan kewajiban dan hak diri dan orang lain dalam pergaulan masyarakat;

e. Melaksanakan kegiatan kelompok belajar, diskusi, debat dan pidato;

f. Melaksanakan kegiatan orientasi siswa baru yang bersifat akademik dan pengenalan lingkungan tanpa kekerasan;

g. Melaksanakan penghijauan dan perindangan lingkungan sekolah.

6. Pembinaan kreativitas, keterampilan dan kewirausahaan, antara lain :

a. Meningkatkan kreativitas dan keterampilan dalam menciptakan suatu barang menjadi lebih berguna;

b. Meningkatkan kreativitas dan keterampilan di bidang barang dan jasa;

c. Meningkatkan usaha koperasi siswa dan unit produkdsi

d. Melaksanakan praktek kerja nyata (PKN)/pengalaman kerja lapangan (PKL)/praktek kerja industri (Prakerim);

e. Meningkatkan kemampuan keterampilan siswa melalui sertifikasi kompetensi siswa berkebutuhan khusus;

7. Pembinaan kualitas jasmani, kesehatan dan gizi berbasis sumber gizi yang terdiversifikasi antara lain :

a. Melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat;

b. Melaksanakan usaha kesehatan sekolah (UKS);

c. Melaksanakan pencegahan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (narkoba), minuman keras, merokok, dan HIV AIDS;

d. Meningkatkan kesehatan reproduksi remaja;

(28)

e. Melaksanakan hidup aktif;

f. Melakukan diversifikasi pangan;

g. Melaksanakan pengamanan jajan anak sekolah.

8. Pembinaan sastra dan budaya, antara lain :

a. Mengembangkan wawasan dan keterampilan siswa di bidang sastra;

b. Menyelenggarakan festival/lomba, sastra dan budaya;

c. Meningkatkan daya cipta sastra d. Meningkatkan apresiasi budaya.

9. Pembinaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), antara lain : a. Memanfaatkan TIK untuk memfasilitasi kegiatan pem-belajaran;

b. Menjadikan TIK sebagai wahana kreativitas dan inovasi

c. Memanfaatkan TIK untuk meningkatkan integritas kebangsaan.

10. Pembinaan komunikasi dalam bahasa Inggris, antara lain : a. Melaksanakan lomba debat dan pidato;

b. Melaksanakan lomba menulis dan korespodensi;

c. Melaksanakan kegiatan English Day;

d. Melaksanakan kegiatan bercerita dalam bahasa Inggris (Story Telling)

e. Melaksanakan lomba puzzies words/scrabble.

Dengan demikian pembinaan karakter peserta didik di butuhkan tiga komponen karakter yang baik (componendts of good character) yaitu bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, moral knowing (pengetahuan tentang moral, moral feling atau perasaan (penguatan emosi), tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral, berilmu, memiliki seni dalam jiwanya (jasmani dan rohani yang sehat).39

Pembinaan karakter peserta didik meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram. Kegiatan terprogram dilaksanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya.

Kegiatan tidak terprogram tidak dilaksanakan secara langsung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua

39 Kementrian Pendidikan Nasional, 2010, Pendidikan Karakter di Sekolah Pertama,Jakarta : Derektorat Jendral Manajemen Pendidikan dasar dan Menengah, hlm. 19-22.

(29)

peserta didik.40

Kegiatan terprogram terdiri atas dua komponen:

i. Pelayanan konseling, meliputi pengembangan:

1.Kehidupan pribadi 2. Kemampuan sosial 3. Kemampuan belajar

ii. Ekstrakurikuler, meliputi pengembangan:

1. Kepramukaan

2. Latihan kepemimpinan, ilmiah remaja, palang merah remaja 3. Seni, olah raga, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan

Kegiatan pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan sebagai berikut:41

a. K

egiatan rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, atau kegiatan yang sifatnya pembentukan perilaku dan telah terjadwal. Seperti: upacara bendera, senam, ibadah khusus keagamaan bersama (sholat berjama‟ah), keberaturan, pemeliharaan kebersihan dan kesehatan diri. Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi:

Artinya:

40 Darmayanti Zuchdi, 2013, Model Pendidikan Karakter, Yogyakarta : Katalog dalam terbitan, Hlm. 11

41 Akhmad Sudrajat, 2013, Pengembangan Diri, http: http://info pendidikan kita.blogspot.com.

(30)

“Sholat berjama‟ah lebih utama daripada sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat”.42( Hadis ini diriwayatkan oleh imam Malik, imam Ahmad, imam Al-Bukhari, imam Muslim, imam At-Tirmidzi, imam Ibnu Majah, dan imam An-Nasai dati sahabat Ibnu Umar r.a)

b. Kegiatan spontan, adalah kegiatan tidak terjadwal/perilaku terpuji pada kejadian khusus. Seperti: pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran). Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi:

Artinya:

Dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW:“Bagaimanakah Islam yang baik itu?“ beliau menjawab: yaitu kamu memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal. (H.R Bukhari).43

c. K

egiatan keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari- hari atau perilaku yang dapat dijadikan contoh oleh orang. Seperti: berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu, hidup sederhana.

Sebagaimana hadits Nabi:

42 Ahmad Fauzan, 1956, Mukhtar Ahadist, Jawa Tengah: Kitab Al-Munawar, hlm. 75.

43 An-Nawawi Imam Abu Zakaria bin Syarif, 1987, Riyadhus Sholihin Juz. II, Bandung: Al- Ma‟arif, hlm. 34.

(31)

Artinya:

Diriwayatkan dari Jabir r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah tsartsaruun, mutasyaddiquun dan mutafaihiquun”. Sahabat berkata:

“Ya Rasulullah…kami sudah tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafafaihiqun?” beliau menjawab:”orang yang sombong.” Hadits riwayat At-Tirmidzy, ia berkata: “Hadits ini Hasan”.44

Jadi dapat di simpulkan bahwa pembinaan karakter peserta didik adalah pembinaan terhadap siswa-siswi melalui kegiatan positif di sekolah, guru mempunyai pengaruh, peran, fungsi dan tanggung jawab dalam pembinaan karakter anak melalui kegiatan positif di sekolah sehingga karakter anak akan terbentuk melalui proses yang berjalan dengan baik.

3. Manajemen Ekstrakurikuler Dalam Pembinaan Karakter Peserta Didik Manajemen ekstrakurikuler adalah pengelolaan kegiatan diluar jam pelajaran biasa termasuk pada waktu libur yang dilakukan disekolah ataupun diluar sekolah malalui tahapan perencanaan, pengoorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi dengan tujuan pembinaan karakter terhadap peserta didik, memperluas wawasan, cara pandang, menyalurkan bakat minat serta upaya

44Abdul Aziz Sa‟ad Al-Utaibiy, 2001, Mutiara Pilihan Riyadhush Shalihin, Solo: At-Tibyan, hlm. 74-75

(32)

pembinaan manusia seutuhnya.45

Manajemen ekstrakurikuler diartikan sebagai seluruh proses yang direncanakan dan diusahakan secara terorganisir mengenai kegiatan sekolah yang dlakukan di luar kelas dan di luar jam pelajaran untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia yang di miliki peserta didik, baik berkaitan dengan aplikasi ilmu pengetahuan yang didapatkannya maupun dalam pengertian kusus untuk membibing peserta didik dalam mengembangkan potensi dan bakat yang ada dalam dirinya melalui kegiatan- kegiatan yang wajib maupun pilihan.46

Tujuan manajamen pembinaan karakter peserta didik mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan manusia sebagai makhluk individu dan dan sekaligus sebagai makhluk sosial yang tidak terlepas dari lingkunganya. Tujuan pendidikan merupakan bagian dari tujuan nasional.

Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME , berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.47

Dharma kesuma, Capi Traitna dan johar Permana menjelaskan seacara operasional tujuan pendidikan karakter dalam sekolah yaitu :

1. Mengembangkan dan menguatkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian kepemilikan peserta didik yang khas sebagaiamana yang dikembangkan.

45Eka Prihantin, Op.Cit. hlm. 164

46Mulyono, Op.Cit, hlm. 188

47 Pemerintah RI, 2003, Sistem Pendidikan Nasional, UU No 20 Tahun 2003

(33)

2. Mengoreksi peserta didik yang tidak berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah

3. Mengembangkan koneksi yang harmonis dengan keluarga dan masyarakat dengan mengembangkan tanggung jawab karakter bersama.48

Dapat dipahami bahwa tujuan manajamen kegiatan ekstrakurikuler dalam pembinaan karakter siswa Sma Negeri 1 Jepara bororientasi pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, sehingga pada prinsipnya pendidikan selain membentuk manusia yang cerdas juga bertujuan untuk membentuk akhlak mulia dan berkarakter. Pendidikan karakter di Indonesia pada intinya bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, dilandasi iman dan taqwa kepada Tuhan YME.

Sehingga peserta didik dalam satuan pendidikan dapat 18 karakter yang tersumber dari agama, budaya dan tujuan pendidikan nasional yaitu :

1) Religius

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksana ibaah agama lain, hidup rukun dengan umat beragama lainnya.

2) Jujur

Perilaku yang didasarkan upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu apat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.

3) Toleransi

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,

48 Dharma Kesuma, Cepi Triatna dan Johar Premana, 2011, Pendidikan Karakter Kajian Teori Dan Praktik Di Sekolah, Bandung : Rosdakarya, hlm. 9

(34)

pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4) Disiplin

Tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan atuh pada berbagai ketentuan dan peraturan yang ada.

5) Kerja keras

Perilaku yang menunjukan upaya yang sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas/belajar/pekerjaan dengan sebaik-baiknya,

6) Kreatif

Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7) Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8) Demokratis

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain

9) Rasa ingin tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10) Semangat kebangsaan

Cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri sendiri dan

(35)

golongan 11) Cinta tanah air

Cara berfikir, bersikap, dan berbuat menunjukan kesetiaan. kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik

12) Menghargai prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.

13) Bersahabat/komunikatif

Tindakan yang menunjukan rasa senang berkomunikasi, bergaul, dan bekerjaama dengan orang lain.

14) Cinta damai

Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

15) Gemar membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk mencari wawasan yang lebih luas dengan memperbanyak membaca

16) Peduli lingkungan

Sikap dan upaya untuk menunjukan mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarny dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang terjadi

17) Peduli sosial

Sikap dan indakan yang selalu ingin meberikan bantuan pada orang lain

(36)

dan masyarakat yang membutuhkan.

18) Tanggung jawab

Sikap dan tindakan seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dilakukan, terhadap dirinya sendiri, masyarakat , lingkungan alam, soasial dan budaya, negara dan TUHAN YME.

Meskipun dirumuskan dalam 18 pembentukan karakter peserta didik, satuan pendidikan SMA Negeri 1 Jepara mengimplementasiakan ke kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah tersebut dan dikembangkan.

Dari pengertian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa manajemen ekstrakurikuler merupakan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan dari kegiatan tambahan dalam kurikulum melalui beberapa proses/tahapan.

Sehingga karakter setiap anak atau peserta didik akan muncul dan mempunyai kepribadian dan mental yang baik.

B. Kajian Pustaka

Kajian pustaka ini dimaksudkan untuk melengkapi kajian penelitian yang berjudul “Manajemen Kegiatan Ekstrakulikuler Dalam Pembinaan Karakter Pesertadidik Pada Sma Negeri 1 Jepara“. Kajian dan tulisan yang membahas pembelajaran di sekolah memang sudah banyak dilakukan, hanya sebatas yang diketahui peneliti untuk kajian pada Sma Negeri 1 Jepara tergolong sudah cukup lama namun perkembangan sekolah Sma Negeri 1 Jepara cenderung cepat baik dari sisi kuantitas (banyaknya murid), dan kualitas (model pembelajaran yang diterapkan). Namun demikian ada beberapa penelitian yang mempunyai relevansi dengan penelitian ini, namun

(37)

tinjauan dari topik dan fokus bahasan terdapat perbedaan. Demi memperjelas penelitian ini perlu ditinjau beberapa penelitian yang sudah dilakukan.

Pertama, Asniyah (ailasariy dalam tesisnya yang berjudul

“Manajemen Pendidikan Karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran dan Pembudayaan Sekolah Studi deskriptif di S2 Muhammadiyah irobrajan, Yogyakarta UIN Sunan Kalijaga) . Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut Manajemen pendidikan ka r a k t e r y a n g b e r l a n g s u n g d i S 2 M u h a m m a d i y a h i r o b r a j a n " Y o g y a k a r t a m e l a l u i o p t i m a l i s a s i f u n g s i m a n a j e m e n , y a i t u perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan dan tidak lanjut. Pelaksanaan pendidikan karakter di S2 Muhammadiyah irobrajan terintegrasi dalam semua mata pelajaran, melalui pesan moral, dan pendampingan. Metode y a n g d i g u n a k a n a d a l a h k e t e l a d a n a n , p e m b i a s a a n , k e g i a t a n e k s t r a k u r i k u l e r , pembudayaan dalam bentuk fisik, dan pembudayaan melalui pemberian reward d a n punishment.

Implementasi pendidikan karakter di S2 Muhammadiyah irobrajan mengalami hambatan-hambatan seperti kurangnya komitmen guru dan k a r y a w a n d a l a m p e l a k s a n a a n p e n d i d i k a n k a r a k t e r , t e r k e n d a l a n y a s a r a n a d a n prasarana berkaitan dengan pengembangan karakter dan kurangnya partisipasi orang tua dalam pendampingan anak.

' e l e v a n s i p e n e l i t i a n i n i t e r l e t a k p a d a o p t i m a l i s a s i f u n g s i m a n a j e m e n dalam perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan pendidikan karakter. Sedangkan perbedaannya terletak pada salah satu rumusan masalah. P e n e l i t i a n ( a i l a s a r i y

(38)

m e n y o r o t i s e m u a f u n g s i m a n a j e m e n d a n h a m b a t a n - h a m b a t a n d a l a m p e l a k s a n a a n p e n d i d i k a n k a r a k t e r , s e m e n t a r a p e n e l i t i a n l e b i h b e r t i t i k t o l a k p a d a k e t i g a f u n g s i manajemen, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Kedua, Sri judiani juga melkukan penelitian tentang pendidikan

karakter yang berjudul “Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Melalui Penguatan Kurikulum” yang bertujuan untuk mengetahui gambaran

secara umum tentang implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar.

Dengan menggunakan kajian literatur ditemukan jawaban implementasi pendidikan karakter disekolah dasar dapat di integrasikan ke dalam matapelajaran yang sudah ada, muatan lokal, pengembangan budaya sekolah.

Ketiga, Penilitian lain yang dilakukan oleh Masruki, yang

mengangkat masalah tentang manajemen pembelajaran pendidikan kewarganegaraan sebagai pembangun karakter dengan objek penilitan pada guru PKn di kota Semarang. Melalui angket terstruktur dan analisanya menghasilkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter didukung dengan adanya pemahaman gru terhadap pendidikan karakter, dukungan dari kepala sekolah serta budaya sekolah yang berkarakter.

Oleh karena itu, yang ingin dikaji dari penelitian ini adalah bagaimana Sma Negeri 1 Jepara mampu merencanakan, mengoorganisasi, melaksanakan dan mengontrol pendidikan karakter di Sekolah.

(39)

C. Kerangka Berfikir

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

Referensi

Dokumen terkait

Timbangan ini dipasang pada bagian luar pabrik Casting (Penuangan) yang digunakan untuk menimbang MTC (Metal Transportation Car), yang digunakan untuk membawa ladle yang

Perempuan sangat terkekang dalam adat budaya Jawa yang harus di anut, dari.. situ adat budaya Jawa memunculkan sedemikian kuat sebuah

Bagi ekonomi, Sistem Jaminan Sosial memberikan kontribusi untuk memastikan stabilitas, kapasitas dan modal manusia yang merupakan prasyarat bagi pembangunan ekonomi dan

Dalam keadaan terpaksa, misalnya pasien tidak mungkin untuk diangkut ke kota/rumah sakit besar, sedangkan tindakan darurat harus segera diambil maka seorang dokter atau bidan

Prinsip dari metode biuret adalah ikatan peptida dapat membentuk senyawa kompleks berwarna ungu dengan penambahan garam kupri dalam suasana basa (Carprette, 2005)..

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi muka air dan kerapatan populasi terhadap pertumbuhan bibit pada saat persemaian terapung serta pengaruh

Pada praktikum dilakukan pengujian tekstur pada agar dengan tingkat kekenyalan dan kekerasan yang berbedan, pengujian kerenyahan pada keripik, seta

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, salep ekstrak ikan toman (Channa micropeltes) terbukti memiliki efek penyembuhan luka sayat pada tikus hiperglikemia