LAPORAN KEMAJUAN
PENELITIAN LABORATORIUM DANA ITS 2020
PEMBUATAN ALGORITMA DAN PEMROGRAMAN
PENGKARAKTERISTIK KETERBELITIAN MATRIKS KANAL QUANTUM (QUANTUM CHANNEL MATRIX)
PADA TELEPORTASI KUANTUM (QUANTUM TELEPORTATION)
Tim Peneliti :
Lila Yuwana Agus Purwanto
Heru Sukamto Bintoro Anang Subagyo
Dwi Januriyanto
(Departemen Fisika/FSAD/ITS)
DIREKTORAT RISET DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
Sesuai Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian No: 902/PKS/ITS/2020
Daftar Isi
Daftar Isi ... 1
BAB I RINGKASAN ... 2
BAB II HASIL PENELITIAN ... 3
BAB III STATUS LUARAN ... 17
BAB V KENDALA PELAKSANAAN PENELITIAN ... 18
BAB VI RENCANA TAHAPAN SELANJUTNYA ... 19
BAB VII DAFTAR PUSTAKA... 20
BAB VIII LAMPIRAN ... 22
LAMPIRAN 1 Tabel Daftar Luaran ... 22
BAB I RINGKASAN
Perkembangan penelitian mengenai teleportasi kuantum secara teoritik maupun eksperimen terus berlanjut hingga saat ini. Penelitian-penelitian teleportasi kuantum diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi yang selanjutnya dapat dijadikan rujukan pengembangan sistem komunikasi berbasis teleportasi kuantum. Penelitian ini merupakan hasil kajian dan analisa secara teoritik dan numerik mengenai komponen pokok dari teleportasi kuantum, yaitu kanal kuantum dalam bentuk matriks kanal kuantum (quantum channel matrix).
Di dalam penelitian ini akan disusun algoritma serta pemrogramannya untuk menganalisa pengaruh rank dari matriks densitas tereduksi terhadap klasifikasi keadaan terbelit dan terpisah dari multipartit. Pertama, dilakukan dengan menyusun formulasi umum untuk menentukan kriteria keterbelitan dan keadaan terpisah dari suatu multipartit. Selanjutnya, kriteria keadaan terpisah dan terbelit ditentukan dengan menghitung rank-rank matriks densitas tereduksi. Lebih lanjut, metode yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengurangi langkah perhitungan dari metode yang telah diusulkan dalam penelitian sebelumnya untuk menentukan keadaan terpisah dari multipartit.
Dari algoritma tersebut, akan ditransformasi ke dalam pemrograman agar perhitungan dapat dilakukan secara komputasi. Lebih lanjut, perhitungan untuk membedakan keadaan multipartit berdasarkan pada keempat kriteria dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, yaitu keadaan:
terbelit keseluruhan, terpisah keseluruhan, dan keadaan gabungan, yang terdiri atas keadaan sub- terbelit dan keadaan sub-terbelit-terpisah. Sebagai tambahan, dalam penelitian ini akan diperlihatkan penerapan atau implementasi klasifikasi keadaan keterbelitan tersebut untuk mengidentifikasi pola keterbelitan beberapa keadaan multipartit yang akan digunakan sebagai kanal kuantum dalam bentuk matriks kanal kuantum (quantum channel matrix).
Kata kunci: quantum teleportation, kanal kuantum, multipartit, matriks densitas tereduksi, dan quantum channel matrix
Ringkasan penelitian berisi latar belakang penelitian,tujuan dan tahapan metode penelitian, luaran yang ditargetkan, kata kunci
BAB II
HASIL PENELITIAN
2. Analisa Keterbelitan Dan Matriks Densitas Tereduksi 2.1. Bentuk umum matriks densitas bipartit
|𝜒⟩ = ∑ ∑ 𝑥𝑖1𝑖2|𝑖1𝑖2⟩
d2−1
i2=0 d1−1
i1=0
𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 |x00|2+ ⋯ + |xd1−1 d2−1|2 = 1 𝜌 ≡ 𝜌𝐴𝐵 = |𝜒⟩⟨𝜒|
𝜌𝐴𝐵 = ∑ ∑ 𝑥𝑖1𝑖2𝑥𝑗∗1𝑗2|𝑖1𝑖2⟩⟨𝑗1𝑗2|
d2−1
𝑖2,𝑗2=0 d1−1
𝑖1,𝑗1=0
= (
𝑥00𝑥00∗ 𝑥00𝑥01∗ … 𝑥00𝑥(𝑑
1−1)(𝑑2−1)
∗
𝑥01𝑥00∗ 𝑥01𝑥01∗ … 𝑥01𝑥(𝑑∗ 1−1)(𝑑2−1)
⋮ ⋮ 𝑥𝑖𝑗𝑥𝑘𝑙∗ ⋮
𝑥(𝑑1−1)(𝑑2−1)𝑥00∗ 𝑥(𝑑1−1)(𝑑2−1)𝑥01∗ ⋯ 𝑥(𝑑1−1)(𝑑2−1)𝑥(𝑑
1−1)(𝑑2−1)
∗ )
elemen-elemen pada suatu baris ke-𝑚𝑛 merupakan kelipatan dari baris yang lain (baris ke-𝑚′𝑛′) dengan faktor pengali 𝑥𝑚𝑛
𝑥𝑚′𝑛′, dengan 𝑥𝑚𝑛 adalah faktor pengali baris ke-𝑚𝑛 dan 𝑥𝑚′𝑛′ merupakan faktor pengali baris yang lain (baris ke-𝑝′𝑞′).
Sehingga dengan menerapkan eliminasi Gauss, semua elemen matriks dapat diubah menjadi nol, kecuali untuk satu baris. Dengan kata lain, rank dari matriks densitas asal sama dengan satu
Matriks densitas tereduksi satu-partit
𝜌𝐴= 𝑇𝑟𝐵(𝜌𝐴𝐵) = ∑ 𝐼 ⊗ ⟨𝑚|𝜌𝐴𝐵𝐼 ⊗ |𝑚⟩
𝑚
= ∑ ∑ ∑ 𝑥𝑖1𝑚𝑥𝑗∗1𝑚|𝑖1⟩⟨𝑗1|
𝑑2−1
𝑚=0 𝑑1−1
𝑗1=0 𝑑1−1
𝑖1=0
=
(
∑ |𝑥0𝑚|2
𝑑2−1
𝑚=0
∑ 𝑥0𝑚𝑥1𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
… ∑ 𝑥0𝑚𝑥𝑑∗1−1 𝑚
𝑑2−1
𝑚=0
∑ 𝑥1𝑚𝑥0𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
∑ |𝑥1𝑚|2
𝑑2−1
𝑚=0
… ∑ 𝑥1𝑚𝑥𝑑∗1−1 𝑚
𝑑2−1
𝑚=0
⋮ ⋮ ∑ 𝑥𝑖𝑚𝑥𝑗𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
⋮
∑ 𝑥𝑑1−1 𝑚𝑥0𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
∑ 𝑥𝑑1−1 𝑚𝑥1𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
⋯ ∑ 𝑥𝑑1−1 𝑚𝑥𝑑∗1−1 𝑚
𝑑2−1
𝑚=0 )
Jika (𝜌𝐴)𝑖𝑗 adalah elemen matriks pada suatu baris dan (𝜌𝐴)𝑖′𝑗 adalah elemen pada baris yang lain, maka
(𝜌𝐴)𝑖𝑗 = ∑ 𝑥𝑖𝑚𝑥𝑗𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
= 𝑥𝑖0𝑥𝑗0∗ + 𝑥𝑖1𝑥𝑗1∗ + ⋯ + 𝑥𝑖 𝑑2−1𝑥𝑗 𝑑∗ 2−1
(𝜌𝐴)𝑖′𝑗 = ∑ 𝑥𝑖′𝑚𝑥𝑗𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
= 𝑥𝑖′0𝑥𝑗0∗ + 𝑥𝑖′1𝑥𝑗1∗ + ⋯ + 𝑥𝑖′ 𝑑2−1𝑥𝑗 𝑑∗ 2−1 𝜌𝐴 mempunyai rank satu jika dan hanya jika (𝜌𝐴)𝑖𝑗 = 𝑐𝑖𝑖′(𝜌𝐴)𝑖′𝑗 atau
𝑥𝑖0 𝑥𝑖′0 = 𝑥𝑖1
𝑥𝑖′1 = ⋯ = 𝑥𝑖 𝑑1−1 𝑥𝑖′𝑑1−1 = 𝑐𝑖′𝑖
Tetapi secara umum kondisi tersebut tidak dipenuhi, sehingga elemen matriks 𝜌𝐴 tidak dapat dilenyapkan dan tersisa satu baris yang tidak nol. Dengan kata lain, secara umum rank matriks 𝜌𝐴 tidak sama dengan satu, 𝑟(𝜌𝐴) ≠ 1. Demikian juga untuk matriks densitas tereduksi partikel atau partit B , secara umum rank matriks 𝜌𝐵 tidak sama dengan satu, 𝑟(𝜌𝐵) ≠ 1.
Persamaan bipartit merepresentasikan keadaan terpisah jika koefisien 𝑥𝑖𝑗 dapat dipisah atau dinyatakan sebagai 𝑥𝑖1𝑦𝑖2
|𝜒⟩ = ∑ ∑ 𝑥𝑖1𝑦𝑖2|𝑖1𝑖2⟩
d2−1
i2=0 d1−1
i1=0
𝜌𝐴=
(
∑ |𝑥0𝑦𝑚|2
𝑑2−1
𝑚=0
∑ 𝑥0𝑦𝑚𝑥1∗𝑦𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
… ∑ 𝑥0𝑦𝑚𝑥𝑑∗1−1𝑦𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
∑ 𝑥1𝑦𝑚𝑥0∗𝑦𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
∑ |𝑥1𝑦𝑚|2
𝑑2−1
𝑚=0
… ∑ 𝑥1𝑦𝑚𝑥𝑑∗1−1𝑦𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
⋮ ⋮ ⋱ ⋮
∑ 𝑥𝑑1−1𝑦𝑚𝑥0∗𝑦𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
∑ 𝑥𝑑1−1𝑦𝑚𝑥1∗𝑦𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
⋯ ∑ 𝑥𝑑1−1𝑦𝑚𝑥𝑑∗1−1𝑦𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0 )
(𝜌𝐴)𝑖𝑗 = ∑ 𝑥𝑖𝑦𝑚𝑥𝑗∗𝑦𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
= 𝑥𝑖𝑦0𝑥𝑗∗𝑦0∗+ 𝑥𝑖𝑦1𝑥𝑗∗𝑦1∗+ ⋯ + 𝑥𝑖 𝑦𝑑2−1𝑥𝑗∗𝑦𝑑∗2−1
(𝜌𝐴)𝑖′𝑗 = ∑ 𝑥𝑖′𝑦𝑚𝑥𝑗∗𝑦𝑚∗
𝑑2−1
𝑚=0
= 𝑥𝑖′𝑦0𝑥𝑗∗𝑦0∗+ 𝑥𝑖′𝑦1𝑥𝑗∗𝑦1∗+ ⋯ + 𝑥𝑖′ 𝑦𝑑2−1𝑥𝑗∗𝑦𝑑∗2−1
Baris satu akan melenyapkan baris lainnya dan tersisa satu baris yang tidak lenyap atau dengan kata lain matriks mempunyai rank satu karena (𝜌𝐴)𝑖𝑗 = 𝑐𝑖′𝑖(𝜌𝐴)𝑖′𝑗 atau
𝑥𝑖𝑦0
𝑥𝑖′𝑦0 = 𝑥𝑖𝑦1
𝑥𝑖′𝑦1 = ⋯ = 𝑥𝑖𝑦𝑑1−1 𝑥𝑖′𝑦𝑑
1−1
∗ = 𝑐𝑖′𝑖
Dengan menggunakan eliminasi Gauss, elemen-elemen baris dapat dilenyapkan sehingga tersisa satu baris yang tidak nol, maka 𝑟(𝜌𝐴) = 1. Dengan cara yang sama, diperoleh 𝑟(𝜌𝐵) = 1.
2.2. Keadaan Multipartit
|𝜒⟩ = ∑ ∑ … ∑ 𝑥𝑖1𝑖2…𝑖𝑛|𝑖1𝑖2… 𝑖𝑛⟩
𝑑𝑛−1
𝑖𝑛=0 d2−1
i2=0 d1−1
i1=0
𝜌 = |𝜒⟩⟨𝜒| = ∑ ⋯
d1−1
i1,j1=0
∑ 𝑥𝑖1…𝑖𝑛𝑥𝑗∗1…𝑗𝑛|𝑖1… 𝑖𝑛⟩⟨𝑗1… 𝑗𝑛|
𝑑𝑛−1
𝑖𝑛,𝑗𝑛=0
=
(
𝑥0…00𝑥0…00∗ 𝑥0…00𝑥0…01∗ … 𝑥0…00𝑥0…0(𝑑∗ 𝑛−1) … 𝑥0…00𝑥(𝑑∗ 1−1)(𝑑2−1)…(𝑑𝑛−1) 𝑥0…01𝑥0…00∗ 𝑥0…01𝑥0…01∗ … 𝑥0…01𝑥0…0(𝑑
𝑛−1)
∗ … 𝑥0…01𝑥(𝑑
1−1)(𝑑2−1)…(𝑑𝑛−1)
∗
⋮
𝑥0…0(𝑑𝑛−1)𝑥0…00∗ 𝑥0…0(𝑑𝑛−1)𝑥0…01∗ … 𝑥0…0(𝑑𝑛−1)𝑥0…0(𝑑∗ 𝑛−1) … 𝑥0…0(𝑑𝑛−1)𝑥(𝑑∗ 1−1)(𝑑2−1)…(𝑑𝑛−1)
⋮
𝑥(𝑑1−1)(𝑑2−1)…(𝑑𝑛−1)𝑥0…00∗ 𝑥(𝑑1−1)(𝑑2−1)…(𝑑𝑛−1)𝑥0…01∗ … 𝑥(𝑑1−1)(𝑑2−1)…(𝑑𝑛−1)𝑥0…0(𝑑∗ 𝑛−1) 𝑥(𝑑1−1)(𝑑2−1)…(𝑑𝑛−1)𝑥(𝑑∗ 1−1)(𝑑2−1)…(𝑑𝑛−1)) Jika 𝑥𝑖1𝑖2…𝑖𝑛 adalah faktor pengali pada baris pertama dan 𝑥𝑖
1′…𝑖𝑛′ merupakan faktor pengali baris yang lain, maka baris pertama merupakan kelipatan dari baris yang lain dengan faktor pengali
𝑥𝑖1…𝑖𝑛
𝑥𝑖1′ …𝑖𝑛′. Dengan menerapkan eliminasi Gauss, semua elemen densitas matriks dapat di’nol’kan
kecuali hanya baris pertama yang tersisa. Dengan kata lain, rank density matriks asal juga sama dengan satu, 𝑟(𝜌) = 1.
2.2.1. Keadaan multipartit terpisah keseluruhan
|𝜒⟩ = ∑ ∑ … ∑ 𝑥𝑖11𝑥𝑖22… 𝑥𝑖𝑛𝑛|𝑖1𝑖2… 𝑖𝑛⟩
𝑑𝑛−1
𝑖𝑛=0 d2−1
i2=0 d1−1
i1=0
Separabilitas dari keadaan Pers. (5.11) dapat ditentukan dengan menghitung matriks tereduksi satu-partit (𝜌𝑘)
𝜌𝑛𝑘 = 𝑇𝑟𝑚1𝑚2…𝑚𝑘−1𝑚𝑘+1…𝑚𝑛(𝜌)
= ∑ ∑ …
(𝑑2−1)
𝑚2=0 (𝑑1−1)
𝑚1=0
∑ ∑ …
(𝑑𝑘+1−1)
𝑚𝑘+1=0 (𝑑𝑘−1−1)
𝑚𝑘−1=0
∑ ⟨𝑚1𝑚2… 𝑚𝑘−1| ⊗ 𝐼 ⊗ ⟨𝑚𝑘+1… 𝑚𝑛|𝜌|𝑚1𝑚2… 𝑚𝑘−1⟩
(𝑑𝑛−1)
𝑚𝑛=0
⊗ 𝐼 ⊗ |𝑚𝑘+1… 𝑚𝑛⟩
𝜌𝑘 = ∑ ∑ 𝑥𝑖𝑘𝑘 𝑥𝑗𝑘∗𝑘
𝑑𝑘−1
𝑗𝑘=0 𝑑𝑘−1
𝑖𝑘=0
|𝑖𝑘⟩⟨𝑗𝑘|
Jika 𝑥𝑖𝑘𝑘 adalah faktor pengali pada baris pertama dan 𝑥𝑖𝑘′𝑘 merupakan faktor pengali baris yang lain, maka baris pertama merupakan kelipatan dari baris yang lain dengan faktor pengali 𝑥𝑖𝑘𝑘/𝑥𝑖
𝑘′ 𝑘′. Dengan menerapkan eliminasi Gauss, semua elemen densitas matriks dapat di’nol’kan kecuali hanya baris pertama yang tersisa. Dengan kata lain, rank density matriks tereduksi satu partit juga sama dengan satu, 𝑟(𝜌𝑘) = 1.
Selanjutnya, ditinjau matriks densitas multipartit 𝜌𝑘 sembarang pada partit ke-(𝑘 + 1) berikut ini 𝜌𝑘𝑘+1 = 𝑇𝑟𝑚1𝑚2…𝑚𝑘−1𝑚𝑘+2…𝑚𝑛(𝜌) = ∑ ∑ 𝑥𝑖𝑘𝑦𝑖𝑘+1𝑥𝑗∗𝑘𝑦𝑖∗𝑘+1
𝑑𝑘+1−1
𝑖𝑘+1,𝑗𝑘+1=0 𝑑𝑘−1
𝑖𝑘,𝑗𝑘=0
|𝑖𝑘𝑖𝑘+1⟩⟨𝑗𝑘𝑗𝑘+1| Matriks densitas tereduksi 𝜌𝑘𝑘+1 mempunyai dimensi 𝑑𝑘𝑑𝑘+1× 𝑑𝑘𝑑𝑘+1 dengan baris ke-(𝑖𝑘𝑖𝑘+1) merupakan kelipatan dari baris lain yang ke-(𝑖′𝑘𝑖′𝑘+1) dengan faktor pengali (𝑥𝑖𝑘𝑦𝑖𝑘+1
𝑥𝑖′𝑘𝑦𝑖′𝑘+1), sehingga semua baris dapat di’nol’kan kecuali satu baris yang tersisa menggunakan eliminasi Gauss.
Perluasan pada sub sistem atau sub keadaan tiga-partit atau lebih hanya menambah jumlah faktor koefisien dan tidak mengubah rank matriks densitas asal, yaitu satu. Untuk mengidentifikasi keterpisahan (separability) suatu multipartit hanya dibutuhkan 𝒏 − 𝟏 perhitungan, sementara Zhao dkk. menawarkan sebanyak 2𝑛−1− 1 perhitungan matriks densitas tereduksi.
2.2.2. Keadaan multipartit terbelit keseluruhan
Koefisien 𝑥𝑖1𝑖2…𝑖𝑛 tidak dapat dinyatakan dalam keadaan terpisah parsial atau keseluruhan dalam bentuk 𝑥𝑖1𝑖2…𝑖𝑛 = 𝑥𝑖1⋯𝑖𝑘𝑥𝑖𝑘+1⋯𝑖𝑛 atau 𝑥𝑖1𝑖2…𝑖𝑛 = 𝑥𝑖11𝑥𝑖22… 𝑥𝑖𝑛𝑛
𝜌𝑘 = (
(𝜌𝑘)00 (𝜌𝑘)01 … (𝜌𝑘)0 𝑑𝑘−1 (𝜌𝑘)10 (𝜌𝑘)11 … (𝜌𝑘)1 𝑑𝑘−1
⋮ ⋮ (𝜌𝑘)𝑟𝑠 ⋮
(𝜌𝑘)𝑑
𝑘−1 0 (𝜌𝑘)𝑑
𝑘−1 1 ⋯ (𝜌𝑘)𝑑
𝑘−1 𝑑𝑘−1) Elemen matriks dapat dinyatakan dalam
(𝜌𝑘)𝑟𝑠 = ∑ ⋯
𝑑1−1
𝑚1=0
∑ ∑ …
𝑑𝑘+1−1
𝑚𝑘+1=0 𝑑𝑘−1−1
𝑚𝑘−1=0
∑ 𝑥𝑚1𝑚2…𝑚𝑘−1𝑟 𝑚𝑘+1…𝑚𝑛𝑥𝑚∗1𝑚2…𝑚𝑘−1 𝑠 𝑚𝑘+1…𝑚𝑛
𝑑𝑛−1
𝑚𝑛=0
Jika dan hanya jika (𝜌𝑘)𝑟𝑠 = 𝑐𝑟𝑟′ (𝜌𝑘)𝑟′𝑠 atau 𝑥𝑚1𝑚2…𝑚𝑘−1𝑟 𝑚𝑘+1…𝑚𝑛 =
𝑐𝑟𝑟′𝑥𝑚1𝑚2…𝑚𝑘−1𝑟′ 𝑚𝑘+1…𝑚𝑛 maka untuk semua s, semua baris dapat dihilangkan kecuali satu baris tersisa. Jika kondisi tersebut tidak dapat dipenuhi, (𝜌𝑘)𝑟𝑠 ≠ 𝑐𝑟𝑟′(𝜌𝑘)𝑟′𝑠, maka masing-masing baris tidak saling bergantung dan tidak dapat dinolkan atau dieliminasi menggunakan eliminasi Gauss. Dengan kata lain, rank 𝜌𝑘 tidak sama dengan satu, 𝑟(𝜌𝑘) ≠ 1.
Walaupun telah diperoleh semua rank matriks tereduksi satu-partit adalah tidak sama dengan satu, maka tetap harus dilakukan perhitungan terhadap rank matriks densitas tereduksi yang terbagi dalam grup atau sub-keadaan/sub-sistem. Rank dari sub-sistem dapat dihitung dengan trace berikut ini
𝜌𝑘…𝑙 = (𝑇𝑟𝑖1⋯𝑖𝑘−1𝑖ℓ+1…𝑖𝑛(𝜌))
= (
(𝜌𝑘…𝑙)00 (𝜌𝑘…𝑙)01 … (𝜌𝑘…𝑙)0 𝑑
𝑘−1⋯𝑑𝑙−1
(𝜌𝑘…𝑙)10 (𝜌𝑘…𝑙)11 … (𝜌𝑘…𝑙)1 𝑑𝑘−1⋯𝑑𝑙−1
⋮ ⋮ ⋮
(𝜌𝑘…𝑙) 𝑑𝑘−1⋯𝑑𝑙−10 (𝜌𝑘…𝑙) 𝑑𝑘−1⋯𝑑𝑙−1 1 ⋯ (𝜌𝑘…𝑙) 𝑑𝑘−1⋯𝑑𝑙−1 𝑑𝑘−1⋯𝑑𝑙−1 )
Sehingga elemen baris ke- 𝑟 dan kolom ke-𝑠 dapat dinyatakan sebagai (𝜌𝑘…𝑙)𝑟𝑠 = ∑ ⋯
𝑑1−1
𝑚1=0
∑ ∑ …
𝑑𝑙+1−1
𝑚𝑙+1=0 𝑑𝑘−1−1
𝑚𝑘−1=0
∑ 𝑥𝑚1…𝑚𝑘−1𝑟𝑚𝑙+1…𝑚𝑛𝑥𝑚∗1…𝑚𝑘−1𝑠𝑚𝑙+1…𝑚𝑛
𝑑𝑛−1
𝑚𝑛=0
Elemen matriks pada Pers. (5.19) menunjukkan bahwa (𝜌𝑘…𝑙)𝑟𝑠 ≠ 𝑐𝑟𝑟′(𝜌𝑘…𝑙)𝑟′𝑠, sehingga setiap baris tidak saling bergantung satu sama lain dan tidak dapat di’nol’kan melalui eliminasi Gauss, 𝑟(𝜌𝑘…𝑙) ≠ 1 . Jika rank 𝜌𝑘…𝑙 tidak sama dengan satu, 𝑟(𝜌𝑘…𝑙) ≠ 1 , maka rank kombinasi pasangannya 𝜌1⋯𝑘−1𝑙+1…𝑛 juga tidak sama dengan satu.
Sebagai contoh, ditinjau keadaan empat-partit ABCD yang memiliki kombinasi pasangan 2-2, yaitu AB, AC, AD, BC, BD dan CD. Walaupun semua rank matriks densitas tereduksi satu-partit tidak sama dengan satu, belum bisa dipastikan bahwa keadaan empat-partit tersebut adalah terbelit keseluruhan. Identifikasi selanjutnya dilakukan terhadap rank kombinasi pasangan seperti di atas.
Jika rank matriks densitas tereduksi AB tidak sama dengan satu maka tanpa melakukan perhitungan selanjutnya, dapat dipastikan bahwa rank kombinasi pasangan CD tidak sama dengan satu.
Sehingga proses identifikasi keadaan terbelit untuk empat-partit hanya memerlukan tiga kombinasi perhitungan AB, AC, and AD. Sisa kombinasi, yaitu CD, BD, and BC, dapat teridentifikasi secara otomatis. Dalam disertasi ini juga telah membuktikan bahwa jumlah minimum pola untuk dievaluasi atau dihitung untuk mengidentifikasi keadaan keterbelitan multipartit adalah sebanyak 𝟐𝒏−𝟏− 𝟏 .
Tabel 2.1. Pola kombinasi perhitungan rank matriks densitas tereduksi untuk mengevaluasi keterbelitan multipartit.
Jumlah Partit (n)
Kombinasi Pola yang Mungkin
Perhitungan Rank Matriks Densitas yang Sesuai Kombinasi
Total Catatan
2, AB 1 A 1 Rank matriks densitas
tereduksi lain (B) tidak sama dengan satu jika rank(A)≠1
3, ABC 1-1-1 A, B, C 3 Jika rank A,B,C≠1 maka tidak
diperlukan perhitungan AB,AC,BC karena rank sisa kombinasi tidak sama dengan satu juga
4, ABCD 1-1-1-1 A, B, C, D 7 Sama dengan di atas
2-2 AB, AC, AD
5, ABCDE 1-1-1-1-1 A, B, C, D, E 15 Sama dengan di atas 2-3 AB, AC, AD, AE, BC, BD, BE,
CD, CE, DE
6, ABCDEF 1-1-1-1-1-1 A, B, C, D, E, F 31 Pasangan 2-4 seperti CDEF dan 3-3 seperti DEF dan yang lain tidak perlu dievaluasi 2-2-2, 2-4 AB, AC, AD, AE, AF, BC, BD,
BE, BF, CD, CE, CF, DE, DF, EF
3-3 ABC, ABD, ABE, ABF, ACD, ACE, ACF, ADE, ADF, AEF
7,
ABCDEFG
1-1-1-1-1- 1-1
A, B, C, D, E, F, G 63 Pasangan 2-5 seperti CDEFG dan 3-4 seperti DEFG dan yang lain tidak perlu dievaluasi 2-2-3, 2-5,
3-4
AB, AC, AD, AE, AF, AG, BC, BD, BE, BF, BG, CD, CE, CF, CG, DE, DF, DG, EF, EG, FG
ABC, ABD, ABE, ABF, ABG, ACD, ACE, ACF, ACG,
ADE, ADF, ADG, AEF, AEG, AFG,
BCD, CDF, CDG, CEF, CEG, CFG, DEF, DEG, DFG, EFG
2.2.2. Keadaan Multipartit Gabungan Keadaan sub-terbelit
Dinyatakan dalam |𝜒⟩ = |𝜒1⟩ ⊗ |𝜒2⟩ dengan
|𝜒1⟩ = ∑ … ∑ 𝑥𝑖1𝑖2…𝑖𝑘|𝑖1… 𝑖𝑘⟩
𝑑𝑘−1
𝑖𝑘=0 𝑑1−1
𝑖1=0
𝑑𝑎𝑛 |𝜒2⟩ = ∑ …
𝑑𝑘+1−1
𝑖𝑘+1=0
∑ 𝑦𝑖𝑘+1…𝑖𝑛|𝑖𝑘+1… 𝑖𝑛⟩
𝑑𝑛−1
𝑖𝑛=0
𝜌 = ∑ … ∑ 𝑥𝑖1…𝑖𝑘𝑦𝑖𝑘+1…𝑖𝑛𝑥𝑗∗1…𝑗𝑘𝑦𝑗∗𝑘+1…𝑗𝑛|𝑖1… 𝑖𝑛⟩⟨𝑗1… 𝑗𝑛|
𝑑𝑛−1
𝑖𝑛,𝑗𝑛=0 𝑑1−1
𝑖1,𝑗1=0
𝜌ℓ= ∑ … ∑ ⟨𝑚1… 𝑚ℓ−1| ⊗ 𝐼 ⊗ ⟨𝑚ℓ+1… 𝑚𝑛|𝜌|𝑚1… 𝑚ℓ−1⟩ ⊗ 𝐼
𝑑𝑛−1
𝑚𝑛=0 𝑑1−1
𝑚1=0
⊗ |𝑚ℓ+1… 𝑚𝑛⟩ a) Untuk ℓ ≤ 𝑘
𝜌ℓ= ∑ … ∑ ∑ … ∑ ∑ 𝑥𝑚1−𝑚ℓ−1𝑖ℓ𝑚ℓ+1…𝑚𝑘𝑥𝑚∗1−𝑚ℓ−1𝑗ℓ𝑚ℓ+1…𝑚𝑘|𝑖ℓ⟩⟨𝑗ℓ|
𝑑ℓ−1
𝑖ℓ𝑗ℓ=0 𝑑𝑘−1
𝑚𝑘=0 𝑑ℓ+1−1
𝑚ℓ+1=0 𝑑ℓ−1−1
𝑚ℓ−1=0 𝑑1−1
𝑚1=0
= (
(𝜌𝑙)00 (𝜌𝑙)01 … (𝜌𝑙)0 𝑑
ℓ−1
(𝜌𝑙)10 (𝜌𝑙)11 … (𝜌𝑙)1 𝑑
ℓ−1
⋮ ⋮ ⋮
(𝜌𝑙)𝑑
ℓ−1 0 (𝜌𝑙)𝑑
ℓ−1 1 ⋯ (𝜌𝑙)𝑑
ℓ−1 𝑑ℓ−1)
(𝜌𝑙)𝑟𝑠 = ∑ ⋯ ∑ 𝑥𝑚1⋯𝑚ℓ−1𝑟𝑚ℓ+1⋯𝑚𝑘𝑥1⋯𝑚∗ ℓ−1𝑠𝑚ℓ+1⋯𝑚𝑘
𝑑𝑘−1
𝑚𝑘=0 𝑑1−1
𝑚1
Seperti pada evaluasi sebelumnya, rank dari matriks densitas tereduksi satu-partit ke-ℓ dari multipartit |𝜒1⟩ ini tidak sama dengan satu
b) Untuk ℓ > 𝑘
𝜌ℓ = ∑ … ∑ ∑ 𝑦𝑚𝑘+1−𝑚ℓ−1𝑖ℓ𝑚ℓ+1…𝑖𝑛𝑦𝑚∗𝑘+1−𝑚ℓ−1𝑗ℓ𝑚ℓ+1…𝑚𝑛|𝑖ℓ⟩⟨𝑗ℓ|
𝑑ℓ−1
𝑖ℓ,𝑗ℓ=0 𝑑𝑛−1
𝑚𝑛=0 𝑑𝑘+1−1
𝑚𝑘+1=0
= (
(𝜌𝑙)00 (𝜌𝑙)01 … (𝜌𝑙)0 𝑑ℓ−1 (𝜌𝑙)10 (𝜌𝑙)11 … (𝜌𝑙)1 𝑑ℓ−1
⋮ ⋮ ⋮
(𝜌𝑙)𝑑ℓ−1 0 (𝜌𝑙)𝑑ℓ−1 1 ⋯ (𝜌𝑙)𝑑ℓ−1 𝑑ℓ−1 )
(𝜌𝑙)𝑟𝑠 = ∑ … ∑ 𝑦𝑚𝑘+1−𝑚ℓ−1𝑟𝑚ℓ+1…𝑚𝑛𝑦𝑚∗𝑘+1−𝑚ℓ−1𝑠𝑚ℓ+1…𝑚𝑛
𝑑𝑛−1
𝑚𝑛=0 𝑑𝑘+1−1
𝑚𝑘+1
𝜌1…𝑘 = 𝑇𝑟(𝑘+1)…𝑛(𝜌)
= ∑ … ∑ ∑ … ∑ 𝑥𝑖1…𝑖𝑘𝑦𝑖𝑘+1…𝑖𝑛𝑥𝑗∗1…𝑗𝑘𝑦𝑗∗𝑘+1…𝑗𝑛𝐼 ⊗ … ⊗ 𝐼
𝑑𝑛−1
𝑖𝑛,𝑗𝑛=0 𝑑1−1
𝑖1,𝑗1=0 𝑑𝑛−1
𝑚𝑛=0 𝑑𝑘+1−1
𝑚𝑘+1=0
⊗ ⟨𝑚𝑘+1… 𝑚𝑛|𝑖1… 𝑖𝑘𝑖𝑘+1… 𝑖𝑛⟩
⟨𝑗1… 𝑗𝑘𝑗𝑘+1… 𝑗𝑛|𝐼 ⊗ … ⊗ 𝐼 ⊗ |𝑚𝑘+1… 𝑚𝑛⟩ ...
𝜌1…𝑘 = ∑ ⋯ ∑ 𝑥𝑖1…𝑖𝑘𝑥𝑗∗1…𝑗𝑘|𝑖1… 𝑖𝑘⟩⟨𝑗1… 𝑗𝑘|
𝑑𝑘−1
𝑖𝑘,𝑗𝑘=0 𝑑1−1
𝑖1,𝑗1=0
Matriks densitas sub-keadaan tersebut seperti halnya pada matriks densitas asal, juga memiliki rank satu, rank (𝜌1…𝑘) = 1. Demikian juga,
𝜌𝑘+1…𝑛 = 𝑇𝑟𝑖1…𝑖𝑘(𝜌)
= ∑ … ∑ ∑ … ∑ 𝑥𝑖1…𝑖𝑘𝑦𝑖𝑘+1…𝑖𝑛𝑥𝑗∗1…𝑗𝑘𝑦𝑗∗𝑘+1…𝑗𝑛⟨𝑚1… 𝑚𝑘|
𝑑𝑛−1
𝑖𝑛,𝑗𝑛=0 𝑑1−1
𝑖1,𝑗1=0 𝑑𝑘−1
𝑚𝑘=0 𝑑1−1
𝑚1=0
|𝐼 ⊗ … ⊗ 𝐼|𝑖1… 𝑖𝑘𝑖𝑘+1… 𝑖𝑛⟩⟨𝑗1… 𝑗𝑘𝑗𝑘+1… 𝑗𝑛|𝑚1… 𝑚𝑘⟩𝐼 ⊗ … ⊗ 𝐼
= ∑ ⋯ ∑ 𝑦𝑖 …𝑖 𝑦𝑗∗ …𝑗
𝑑𝑛−1 𝑑𝑘+1−1
|𝑖𝑘+1… 𝑖𝑛⟩⟨𝑗𝑘+1… 𝑗𝑛|
yang juga memiliki rank satu, 𝑟(𝜌𝑘+1…𝑛) = 1.
Matriks densitas bipartit dari gabungan sub-keadaan, (𝑘𝑘 + 1), bagian keadaan dari |𝜒1⟩ untuk partit ke-𝑘, dan partit ke-(𝑘 + 1) dari keadaan |𝜒2⟩ diperoleh sebagai berikut
𝜌𝑘𝑘+1 = ∑ ⋯ ∑ ∑ ∑ 𝑥𝑚1…𝑖𝑘𝑦𝑖𝑘+1…𝑚𝑛𝑥𝑚∗1…𝑗𝑘𝑦𝑗∗𝑘+1…𝑚𝑛|𝑖𝑘𝑖𝑘+1⟩⟨𝑗𝑘𝑗𝑘+1|
𝑑𝑘+1−1
𝑖𝑘+1,𝑗𝑘+1=0 𝑑𝑘−1
𝑖𝑘𝑗𝑘=0 𝑑𝑛−1
𝑚𝑛=0 𝑑1−1
𝑚1=0
Elemen matriks densitas tersebut pada suatu baris bukan merupakan kelipatan dari baris yang lain, sehingga matriks densitas ini tidak dapat dibuat menjadi nol hingga satu baris tersisa dengan menggunakan eliminasi Gauss. Dengan demikian, rank matriks densitas sub-keadaan terbelit 𝜌𝑘+1…𝑛 adalah tidak sama dengan satu. Maka, sub-keadaan matriks densitas bipartit dari gabungan sub-keadaan, (𝑘𝑘 + 1), bagian keadaan dari |𝜒1⟩ untuk partit ke-𝑘, dan partit ke-(𝑘 + 1) dari keadaan |𝜒2⟩ merupakan keadaan terbelit.
Evaluasi terhadap keadaan multipartit terpisah keseluruhan memberikan hasil sebagai berikut.
• Jika semua rank matriks densitas tereduksi satu-partit tidak sama dengan satu, maka ini bukan suatu indikasi bahwa multipartit tersebut adalah keadaan terbelit sempurna, tetapi terdapat kemungkinan bahwa multipartit tersebut tersusun atas beberapa sub-keadaan terbelit.
• Multipartit dapat dinyatakan sebagai keadaan terbelit sempurna jika semua rank matriks densitas tereduksi satu-partit dan juga sub-keadaa lebih tinggi tidak sama dengan satu.
Sementara itu,
• Jika rank matriks densitas tereduksi sub-keadaan tidak sama dengan satu, maka rank dari sub-state pasangannya juga tidak sama dengan satu.
• Jika rank matriks densitas tereduksi sub-keadaan sama dengan satu, maka rank dari sub- keadaan pasangannya juga sama dengan satu.
• Dengan kata lain, jika suatu sub-keadaan telah dievaluasi rank matriks densitas
tereduksimya, maka rank matriks densitas tereduksi sub-keadaan sisanya dapat diketahui tanpa melakukan perhitungan lebih lanjut.
• Lebih lanjut, sisa dari pasangan sub-keadaan dapat dievaluasi lagi kedalam sub-keadaan yang lebih kecil
Berikut ini ditampilkan beberapa contoh penentuan sub total masing-masing pola kombinasi untuk jumlah partit tertentu
• Untuk partit 𝒏 = 𝟓, pola 2-3, yaitu AB-CDE atau ditulis AB saja, tanpa pasangannya CDE. Pola lengkap diberikan sebagai berikut
AB AC AD AE BC BD BE
CD CE
DE
Total kombinasi: 10
• Untuk partit 𝒏 = 𝟔,
Pola 3-3, yaitu ABC-DEF, atau ditulis ABC saja, tanpa pasangannya DEF. Semua pola diberikan sebagai berikut
ABC ABD ABE ABF ACD ACE ACF ADE ADF AEF
Total kombinasi pola 3-3: 10
Pola 2-2-2, yaitu AB-CD-EF. Sub keadaan CD-EF mempunyai 3 pola CD-EF, CE-DF, CF-DE.
Sedangkan pola AB mempunyai 5 bentuk: AB, AC, AD, AE, dan AF.
Jumlah total pola 2-2-2 adalah 5 x 3 = 15.
Pola 2-4, AB-CDEF ada 15, yaitu AB AC AD AE AF
BC BD BE BF CD CE CF DE DF EF
Masing-masing dengan pasangan 4-partit yang tidak dituliskan.
Karena itu, jumlah total pola sub-keadaan adalah: 40
Dengan cara di atas dapat dibuat tabel berikut ini.
Tabel 2.2. Pola perhitungan sub-keadaan terbelit dari keadaan multipartit sampai dengan sepuluh- partit
Jumlah Partit (n)
Kombinasi Pola yang Mungkin
Perhitungan Rank Matriks Densitas yang Sesuai Kombinasi
Sub Total
Total
4 2-2 AB-CD 3 3
6 2-2-2 2-4 3-3
AB-CD-EF AB-CDEF ABC-DEF
15 15 10
40
7 2-2-3
2-5 3-4
AB-CD-EFG AB-CDEFG ABC-DEFG
105 21 35
161
8 2-2-2-2
2-2-4 2-6 2-3-3 3-5 4-4
AB-CD-EF-GH AB-CD-EFGH AB-CDEFGH AB-CDE-FGH ABC-DEFGH ABCD-EFGH
105 210 28 280 56 35
714
9 2-2-2-3
2-2-5 2-7 2-3-4 3-3-3 3-6 4-5
AB-CD-EF-GHI AB-CD-EFGHI AB-CDEFGHI AB-CDE-FGHI ABC-DEF-GHI ABC-DEFGHI ABCD-EFGHI
1260 378 36 1629 280 84 126
3787
10 2-2-2-2-2 2-2-2-4 2-2-6 2-8 2-2-3-3 2-4-4 3-3-4 3-7 4-6 5-5 2-3-5
AB-CD-EF-GH-IJ AB-CD-EF-GHIJ AB-CD-EFGHIJ AB-CDRFGHIJ AB-CD-EFG-HIJ AB-CDEF-GHIJ ABC-DEF-GHIJ ABC-DEFGHIJ ABCD-EFGHIJ ABCDE-FGHIJ AB-CDE-FGHIJ
945 3150 630 45 6300 1575 2100 120 210 126 2520
17721
Tabel tersebut menunjukkan bahwa keadaan multipartit yang tersusun atas gabungan sub-keadaan terbelit memiliki pola kemungkinan yang sangat banyak. Sub-keadaan terkecil tersusun atas dua partit atau bipartit. Bipartit dan tripartit tidak memiliki sub-keadaan. Sedangkan multipartit yang memiliki sub-keadaan adalah empat-partit.
Pada dasarnya untuk penentuan keadaan gabungan sub-terbelit dibutuhkan perhitungan yang jumlahnya lebih sedikit dari pada di tabel tersebut. Misalnya pada 10 partit, untuk pola 2-2-3-3 (AB-CD-EFG-HIJ), dengan melakukan runutan perhitungan pola, dapat teridentifikasi sebagai
gabungan keadaan sub-terbelit hanya dalam 16 perhitungan, yaitu perhitungan rank matriks tereduksi untuk:
• A-B-C-D-E-F-G-H-I-J, diperoleh rank tidak sama dengan satu : 10 perhitungan.
• AB, diperoleh perhitungan rank sama dengan satu: 1 perhitungan, sehingga sisanya menjadi permasalahan 8 partit.
• CD, diperoleh perhitungan rank sama dengan satu: 1 perhitungan, sehingga sisanya menjadi permasalahan 6 partit.
• EF-GH-IJ, diperoleh ketiga-tiganya memiliki rank tidak sama dengan satu: 3 perhitungan.
• EFG, diperoleh perhitungan rank sama dengan satu: 1 perhitungan.
• Otomatis sisa pola HIJ memiliki rank satu
Jadi, diperoleh total perhitungan sebanyak 16 perhitungan, jauh lebih sedikit dari 210−1− 1 = 𝟓𝟏𝟏 perhitungan untuk kasus terbelit sempurna atau jumlah keadaan dengan pola 2-2-3-3 yang mungkin, yaitu sebanyak 6300 perhitungan.
Klasifikasi dengan berbagai pola seperti yang dijelaskan di atas memiliki manfaat yang sangat penting bagi teleportasi kuantum. Ini merupakan konsekuensi dari kesesuaian antara informasi kuantum yang dikirim dengan keadaan terbelit sebagai kanal kuantum. Untuk kasus sederhana yaitu pengiriman informasi kuantum satu kubit, seperti yang dijelaskan pada Bab IV, maka cukup menggunakan keadaan dua kubit sebagai kanal kuantum. Tetapi untuk pengiriman informasi kuantum lebih dari satu kubit akan melibatkan kanal kuantum yang bervariasi. Sebagai contoh, untuk mengirim informasi kuantum dua kubit, kanal kuantum yang dapat digunakan adalah empat kubit atau enam kubit yang berpola 3-3 (Zhu, 2014). Oleh karena itu, penyajian berbagai pola keterbelitan dalam disertasi ini sangat bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi bagi identifikasi pola keterbelitan kanal kuantum yang akan digunakan dalam teleportasi kuantum untuk pengiriman informasi kuantum yang lebih dari satu kubit.
Keadaan gabungan sub-terbelit-terpisah multipartit
Keadaan gabungan multipartit yang tersusun atas kombinasi sub-keadaan terbelit dan terpisah (keadaan gabungan sub-terbelit-terpisah), dapat dinyatakan dalam bentuk
|𝝌⟩ = ∑ ⋯ ∑ 𝒙𝒊𝟏…𝒊𝒑−𝟏
𝒅𝒏−𝟏
𝒊 =𝟎 𝒅𝟏−𝟏
𝒊 =𝟎
𝒚𝒊
𝒑 𝒑 ⋯ 𝒚𝒊
𝒒
𝒒𝒛𝒊𝒒+𝟏…𝒊𝒏|𝒊𝟏… 𝒊𝒏⟩