• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 823

PENGARUH PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK TERHADAP PENERAPAN NILAI-NILAI TAUHID DALAM KEHIDUPAN SISWA

KELAS VIII DI MTs NEGERI 3 BOGOR

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3)

Universitas IBN Khaldun Bogor

INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK

URL : http://e-jurnalmitrapendidikan.com e-ISSN 2550-0481 p-ISSN 2614-7254

Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)

Dikirim : 12 Juni 2019 Revisi pertama : 19 Juni 2019 Diterima : 21 Juni 2019 Tersedia online : 01 Juli 2019

Pembelajaran Aqidah Akhlak sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas aqidah dan akhlak peserta didik. Akhlak yang karimah pasti didasari oleh tauhid yang berkualitas. Untuk itu, penulis tertarik untuk meneiliti pengaruh Pembelajaran Aqidah Akhlak terhadap Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan Siswa Kelas VIII di MTs Negeri 3 Bogor.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pembelajaran Aqidah Akhlak terhadap penerapan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan siswa kelas VIII di MTs Negeri 3 Bogor. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode korelasional. Berdasarkan hasil analisis data, diperolehnilai Constant (a) atau variabel Y e sebesar 44,858. Sedangkan nilai variabel X (b/koefisien regresi) sebesar 0,409 sehingga persamaan regresi ditulis Y=

44,858+0,409X. Artinya bahwa setiap pertambahan 1%

nilai Pembelajaran Aqidah Akhlak, maka nilai Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan bertambah sebesar 0,409. Koefesien regresi tersebut bernilai positif sehingga dapat dikatakan bahwa arah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah positif.

Kata Kunci: Pembelajaran Aqidah Akhlak, Nilai-Nilai Tauhid Email: [email protected] 1), [email protected] 2), [email protected] 3)

(2)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 824 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkara utama dalam ajaran Islam yang wajib dimiliki adalah tauhid, yakni pengakuan seorang hamba terhadap eksistensi Allah sebagai Tuhan Semesta Alam.

Tauhid adalah inti paling fundamental dan poros ajaran Islam, sementara ajaran-ajaran yang lainnya bergerak dan berputar mengitari ajaran dasar ini. Dalam istilah ilmu-ilmu keislaman, tauhid disebut juga al-ushul (dasar) dan ajaran-ajaran yang mengitarinya disebut al-furu’ (cabang). Dari itu, pelanggaran terhadap tauhid berupa penyekutuan Allah dengan sesuatu makhluk ciptaan-Nya (syirik) dipandang sebagai dosa paling besar, karena telah melakukan pelanggaran terhadap ajaran yang paling dasar dari agama. (Ali, 2012: 3-4).

Perbuatan syirik merupakan kezhaliman yang sangat besar. Syirik berarti menyamakan selain Allah dengan-Nya dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, seperti berdoa kepada selain Allah di samping berdoa kepada-Nya, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (qurban), bernadzar, meminta pertolongan dan sebagainya kepada selain-Nya. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kesyirikan lainnya. Allah tidak akan mengampuni orang musyrik jika ia meningal dalam kesyirikannya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (An-Nisa’: 48).

Agar aqidah seorang Muslim tidak melenceng, dia harus terus belajar untuk memperkuat ketauhidannya. Dengan belajar, seorang Muslim akan mengetahui berbagai hal yang akan merusak tauhidnya, sehingga dia tahu batas-batas antara Islam dan kekufuran. Dan dengan belajar pula, akan membuat seorang muslim membuka mata akan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui berbagai ilmu yang dipelajarinya. Maka dari itu setiap Muslim diwajibkan untuk belajar atau menuntut ilmu. Sebagaimana hadits Rasul yang artinya, “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.” (H.R. Ibnu Majah).

UUD 45 Bab XIII, Pasal 31, ayat (1) sebagai landasan pokok keberadaan sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.” Dengan menempuh pendidikan, masyarakat Indonesia diharapkan agar memiliki kehidupan yang cerdas, baik dalam kehidupan beragama maupun berbangsa. Sebagaimana tujuan pendidikan nasional yang tertulis dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(3)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 825 Isi dari tujuan pendidikan nasional begitu Islami. Para peserta didik Muslim dituntut untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pembelajaran yang dilakukan di sekolah diharapkan tidak hanya sebatas proses transfer pengetahuan semata, tetapi mengharuskan mereka untuk mengaplikasikannya dan membuat diri semakin tunduk kepada Sang Pencipta.

Namun melihat realitas saat ini, rasanya tujuan dari pendidikan nasional masih sulit untuk dicapai. Pendidikan yang dilakukan baik secara formal maupun non-formal belum menghasilkan output yang diharapkan. Pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah tampak hanya proses transfer ilmu semata tanpa ada usaha untuk menghasilkan pengetahuan yang aplikatif. Pembelajaran tentang agama seperti tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupan peserta didik. Terbukti dengan masih banyaknya penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh siswa-siswi di Indonesia baik dalam norma agama maupun norma masyarakat, khususnya mengenai perkara aqidah Islamiyyah.

Di tengah kehidupan yang modern ini, justru keyirikan semakin gencar terjadi di lingkungan masyarakat. Disamping masih maraknya kepercayaan animisme dan dinamisme, serta praktik-praktik takhayul sejenis yang berjalan di banyak daerah di Indonesia, paham-paham menyimpang yang diadopsi dari barat pun semakin besar arusnya. Sekularisme, pluralisme dan liberalisme telah merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat di Indonesia. Padahal paham-paham tersebut sangat bertentangan dengan Pancasila sebagai asas negara Republik Indonesia.

Dengan banyaknya permasalahan seperti yang disebutkan di atas, rasanya pendidikan di Indonesia sangat kesulitan untuk menanganinya. Begitupun dengan pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ada di sekolah-sekolah, dirasa hanya menemui jalan buntu. Pembelajaran tentang Islam yang diajarkan di sekolah terlalu sedikit dan tidak cukup untuk menjawab berbagai persoalan yang terbilang kronis.

Para peserta didik butuh pembelajaran tentang Islam secara intens, khususnya pelajaran mengenai aqidah yang menjadi akar masalah utama. Madrasah yang merupakan lembaga pendidikan Islam hadir sebagai upaya untuk menjawab berbagai persoalan bangsa, khususnya umat Islam. Pembelajaran agama Islam di madrasah relatif lebih banyak dibandingkan sekolah-sekolah pada umumnya. Jika di sekolah pelajaran tentang Islam hanya tergabung dalam satu mata pelajaran, yakni Pendidikan Agama Islam, di madrasah pelajaran tentang Islam dijabarkan menjadi beberapa mata pelajaran, salah satunya adalah Aqidah Akhlak. Mata pelajaran tersebut bertujuan untuk memperbaiki nilai-nilai tauhid dan perilaku siswa, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat luas.

Dengan demikian, penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh permasalahan- permasalahan di atas dan peran pembelajaran Aqidah Akhlak dalam menangani permasalahan tersebut dengan melakukan penelitian pada salah satu sekolah, yakni MTs Negeri 3 Bogor. Sekolah tersebut memiliki jumlah murid yang relatif banyak, yakni sejumlah 1077 siswa. Karena terlalu banyak, penulis memfokuskan penelitian tersebut hanya pada kelas VIII. Alokasi waktu pembelajaran Aqidah Akhlak setiap kelas adalah dua jam per minggu. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penulis, perilaku siswa di sekolah relatif baik, seperti mlaksanakan sholat wajib berjamaah di mesjid, shalat dhuha bersama setiap pagi, tadarus Al-Qur’an sebelum

(4)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 826 memulai pembelajaran dan sebagainya. Meski begitu, mengamalkan ajaran-ajaran Islam tidak hanya di lingkungan sekolah, tapi harus selalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di manapun itu. Dari penelitian tersebut penulis menentukan judul penelitian “Pengaruh Pembelajaran Aqidah Akhlak terhadap Penerapan Nilai-Nilai Tauhid dalam Kehidupan Siswa Kelas VIII di MTsNegeri 3 Bogor”,untuk mengetahui sejauh mana pengaruh yang signifikan antara pembelajaran Aqidah Akhlak dengan tauhid para siswa yang menjadi pondasi agama dan solusi atas segala persoalan yang ada.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka ditentukan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs Negeri 3 Bogor?

2. Bagaimana penerapan nilai-nilai tauhid siswa kelas VIII di MTs Negeri 3 Bogor?

3. Seberapa jauh pengaruh pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas VIII MTsN 3 Bogor terhadap penerapan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan?

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab rumusan masalah di atas.

Maka tujuan pada penelitian adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs Negeri 3 Bogor.

2. Untuk mengetahui penerapan nilai-nilai tauhid siswa kelas VIII di MTs Negeri 3 Bogor.

3. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran aqidah akhlak terhadap penerapan nilai- nilai tauhid dalam kehidupan siswa kelas VIII di MTsN 3 Bogor.

KAJIAN PUSTAKA Pembelajaran

Kata pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas, belajar dan mengajar. Arti belajar secara metodologis cenderung lebih dominan pada siswa.

Sementara mengajar secara intruksional dilakukan oleh guru. Jadi, istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata belajar dan mengajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah penyederhanaan dari kata belajar dan mengajar (BM), proses belajar mengajar (PBM), atau kegiatan belajar mengajar (KBM).

Menurut Winkel dalam Suprihatiningrum (2017: 15) belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan dan menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap. Belajar boleh dikatakan juga sebagai suatu interaksi antara diri manusia dengan lingkunagnnya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori.

Dalam hal ini terkandung suatu maksud bahwa proses interaksi itu adalah proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar dan dilakukan secara aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.

Sementara, mengajar memiliki pengertian dari sudut yang berbeda, yaitu secara kuantitatif, kualitatif dan institusional. Secara kuantitaif, mengajar berarti the transmission of knowledge, yaitu penularan/pemindahan pengetahuan. Pengetahuan

(5)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 827 yang dikuasai guru ditransfer kepada siswa. Secara kualitatif, mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning, yakni upaya memudahkan kegiatan belajar siswa.

Dalam hal ini, guru berperan memfasilitasi siswa-siswanya untuk aktif belajar dan menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung terciptanya kegiatan belajar oleh siswa. Sementara secara institusional, mengajar berarti the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan kemampuan mengajar secara efisien. Guru dituntuk untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar untuk bermacam-macam siswa yang berbeda bakat, kemampuan dan kebutuhannya (Suprihatiningrum, 2017:

60).

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan seperangkat kegiatan belajar dan mengajar di kelas dan terjadi interaksi antara guru dan siswa di dalamnya. Dari interaksi tersebut timbul kerja sama antara keduanya dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada, baik potensi yang ada dari dalam diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat dan kemampuan dasar yang dimiliki maupun potensi yang ada di luar diri siswa seperti lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu (Sanjaya, 2008: 26).

Pembelajaran terdiri dari delapan komponen, yakni:

1. Tujuan pembelajaran 2. Pendidik/guru 3. Peserta didik/siswa 4. Materi pembelajaran 5. Metode pembelajaran 6. Media pembelajaran 7. Sumber belajar 8. Evaluasi Aqidah Akhlak

Secara etimologi, aqidah berasal dari kata ‘aqada yang berarti “ikatan”. Aqidah adalah apa yang diyakini oeh seseorang dan merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Sedangkan secara terminologi/syara’, akidah adalah iman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab- Nya, para Rasul-Nya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman atau keyakinan-keyakinan dasar Islam yang harus diyakini oleh setiap muslim.

Adapun Akhlak secara bahasa berarti bentuk kejadian; dalam hal ini tentu bentuk batin seseorang. Kata akhlāq merupakan bentuk jama' dari kata khuluq. Dalam Kamus al-Munjid, kata khuluq berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku,atau tabiat.

Sedangkan Menurut mbdullah Darroz dalam (Mustopa, Nadwa Jurnal Pendidikan Islam, 2, Oktober 2014: 265-267) akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap serta membawa kecenderungan terhadap pemilihan pada pihak yang benar (akhlak yang baik) dan/atau pihak yang jahat (akhlak yang buruk).

Pembelajaran Aqidah Akhlak

Dari uraian makna dari pembelajaran dan aqidah akhlak di atas, dapat dipahami bahwa pembelajaran aqidah akhlak adalah proses kegiatan belajar mengajar (KBM)

(6)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 828 atau interaksi antara guru dengan siswa di kelas mengenai pembahasan tentang aqidah dan akhlak dalam bentuk mata pelajaran Aqidah Akhlak. Akidah dan akhlak selalu disandingkan sebagai satu kajian yang tidak bisa lepas satu sama lain. Hal tersebut dikarenakan sebelum melakukan sesuatu akhlak, maka terlebih dahulu meniatkannya dalam hati (akidah). Semakin baik akidah seseorang, maka semakin baik pula akhlak yang diaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya semakin buruk tingkat keyakinan akidah seseorang, maka akhlaknya pun akan sebanding dengan akidah akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Sama seperti ilmu lainnya, kajian akidah akhlak juga memiliki tendensi yang kuat untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari. Bahkan jika disuruh memilih, lebih baik tidak tahu makna akidah dan akhlak secara etimologis daripada tidak tahu cara berakidah dan berakhlak yang baik.

Sebagaimana yang telah disabdakan rasul tentang hadits Jibril, diantaranya menanyakan tentang iman, tentang Islam, dan tentang Ihsan. Berarti tiang tonggak Islam itu pertama mengenai akidah, kedua mengenai syariah (Islam), dan tiang tonggak ketiga adalah ihsan, yaitu terkait hubungannya dengan akhlak (Ginanjar, 12, Jurnal Edukasi Islami, Juli 2017: 101).

Tauhid

Tauhid sebagai ilmu adalah pengetahuan yang membicarakan tentang keyakinan agama Islam baik berdasarkan dalil naqli (Al-Quran dan as-Sunnah) maupun dalil aqli (rasio) sehingga dapat menghilangkan keraguan tentang keberadaan Allah yang Esa (Sunarso, 2009: 83). Bertauhid berarti meyakini bahwa Allah itu ahad, dan kata ahad tidak sama dengan kata wahid yang bermakna satu, sehingga makna dari esa bukanlah satu. Satu adalah bilangan pertama dari bilangan asli matematika dan juga bilangan bulat yang dapat dibagi menjadi beberapa bilangan pecahan sampai tak terhingga. Adapun kata esa sebagai terjemahan dari kata ahad bukanlah bilangan sehingga tidak dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Maka mengesakan Allah berarti meyakini bahwa tidak ada satupun yang serupa dengan Allah dalam berbagai hal di alam dunia ini, baik dzat-Nya, sifat-Nya maupun perbuatan-Nya (Kusnadi, 2007: 2).Sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Ikhlas:

“Katakanlah: Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung

kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (Al-Ikhlas:1-4).

Lafal pertama dalam kalimat syahadat, “la ilaha illallahu” (tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah) atau yang biasa disebut kalimat tauhid adalah kunci

(7)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 829 utama bagi setiap Muslim dalam menjalankan perannya sebagai hamba. Lafal tersebut bukan hanya ucapan kalimat di lisan semata, tapi juga harus dibenarkan oleh hati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari bentuk ibadah dan amal sholeh yang dicontohkan oleh Rasulullah untuk menguji kebenaran dari kalimat tersebut.

Tauhid terdiri dari tiga macam, yakni Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Asma’ wa Sifat.

1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah Ta’ala dalam segala perbuatan- Nya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk dan juga sebagai Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya. Dan bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta. Dia yang mengangkat dan menurunkan, memuliakan dan menghinakan, menghidupkan dan mematikan. Jenis tauhid ini diakui semua orang dan tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuinya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lainnya. Orang yang terkenal dengan pengingkarannya terhadap Allah, bahkan mengaku dirinya tuhan pun di hatinya masih tetap meyakini-Nya

2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah apabila halitu disyari’atkan oleh-Nya. Seperti melakukan ritual peribadatan, berdo’a, khauf (takut), mahabbah (cinta), isti’adzah (minta pertolongan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan oleh Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah tersebut harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya.Sungguh Allah tidak akan ridha bila Dia dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Bila hal tersebut dilakukan, maka pelakunya jatuh kepada perbuatan syirik akbar (syirik yang besar) yang dosanya tidak akan diampuni bila orang tersebut mati dalam kedaan tidak bertaubat.

3. Tauhid Asma’ wa Sifat

Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah (dalam hal nama-nama dan sifat-sifat-Nya), yaitu keyakinan yang pasti bahwa Allah mempunyai nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang agung serta sempurna, yang tidak diiringi oleh suatu kekurangan, kelemahan atau keburukan, sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah sendiri di dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah di dalam Hadits-haditsnya(Wahidin, Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, 3, Juli 2014: 578).

Penerapan Nilai-Nilai Tauhid

1. Mengimani Seluruh Keyakinan dalam Islam

Dalam Islam, keyakinan atau kepercayaan disebut juga dengan iman. Dalam menerapkan nilai-nilai tauhid, mengimani seluruh keyakinan-keyakinan yang wajib diimani dalam Islam adalah perkara mutlak yang harus dilakukan. Meyakini kesaan Allah berarti mengimani seluruh aspek yang berhubungan dengan-Nya, baik itu Dzat-Nya, af’al-Nya, sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, ciptaan-Nya, kalam-Nya dan lain sebagainya. Sebelum mengerjakan amalan-amalan zahiriyyah yang dikerjakan oleh gerakan tubuh, maka harus didahului oleh amalan hati berupa keyakinan

(8)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 830 kepada hal-hal yang wajib diimani dalam Islam tanpa ada sedikitpun keraguan di dalamnya. Sebagaimana maknanya, iman berarti “Membenarkan dalam hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.”

2. Taat dalam Menjalankan Perintah Allah

Saat hati telah meyakini hal-hal yang wajib diimani dalam Islam sepenuhnya, maka harus ada komitmen untuk mengamalkan keimanan tersebut dalam bentuk nyata, karena iman adalah membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dalam anggota badan. Ketika hati telah meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang wajib disembah, maka menjalankan seluruh perintahnya adalah sebuah kewajiban. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan...”

(Al-Baqarah: 208).

Allah memerintahkan kepada seluruh orang beriman untuk menjankan perannya secara utuh. Artinya, orang-orang beriman harus menjalankan perintah- perintah Allah secara totalitas tanpa ada satu pengingkaran pun terhadapnya.

3. Taat dalam Meninggalkan Larangan Allah

Tidak dapat terelakkan bahwa dalam hidup ini selalu ada kebaikan dan keburukan. Dalam pandangan manusia, kedua hal tersebut adalah sebuah relativitas yang tidak dapat diukur sehingga membuat keduanya abu-abu. Kebaikan dalam satu tempat belum tentu baik di tempat yang lain, begitu pun sebaliknya. Dalam Islam, kebaikan dan keburukan adalah hal pasti yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala.

Kejelasannya bagaikan hitam dan putih disebabkan tidak ada yang relatif dalam pandangan Allah sebagaimana tidak ada yang mutlak dalam pandangan manusia. Di samping Allah memerintahkan untuk mengerjakan kebajikan, Allah juga menurunkan keburukan sebagai ujian untuk hamba-Nya. Amal-amal buruk tersebut merupakan larangan Allah yang harus dijauhi oleh hamba-Nya dan mengerjakannya merupakan perbuatan dosa.

METODE PENELTIAN Jenis Pendekatan

Pendekatan penelitian yang digunakan untuk memperoleh data yang dibutuhkan adalah pendekatan kuantitatif. Pengertian pendekatan kuantitatif itu sendiri adalah pendekatan penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang ditetapkan (Sugiyono, 2018: 35-36).

Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian Kuantitatif Korelasional. Penelitian korelasional adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih, tanpa melakukan perubahan, tambahan atau manipulasi terhadap data yang memang sudah ada (Arikunto, 2010: 4).

(9)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 831 Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian

Penelitian dilakukan di MTs Negeri 3 Bogor yang berlokasi di Jl. Raya Pemda Karadenan Cibinong Bogor Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan terhitung dari bulan Januari hingga bulan Maret 2019. Sedangkan subjek penelitan ini adalah seluruh siswa kelas VIII yang berjulmlah 384 orang. Namun peneliti hanya mengambil 15% sampel dari populasi tersebut.

Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

Observasi ialah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala- gejala yang diteliti. Observasi menjadi salah satu teknik pengumpulan data apabila:

(1) Sesuai dengan tujuan penelitian, (2) Direncanakan dan dicatat secara sistematis, (3) Dapat dikontrol keandalannya (realibilitasnya) dan kesahihannya (validitasnya) (Usman dan Husaini, 2003: 54).

2. Wawancara

Wawancara adalah sebuah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancra dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara (Bungin, 2013: 136).

3. Angket

Angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang diharapkan dari responden. Selain itu, angket juga cocok digunakan bila jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Angket dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos maupun internet (Sugiyono, 2015: 199).

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi sederhana, dimana teknik tersebut akan menguji hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat. Sebagaimana menurut Arikunto (2002: 296) bahwa, “Analisis regresi sederhana adalah analisis tentang hubungan antara satu dependen variabel dengan satu independen variabel”.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah angket yang berisikan masing-masing variabel X maupun Y 20 pernyataan dengan empat alternatif pilihan jawaban, yakni sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS) dan sangat tidak setuju (STS). Seluruh pernyataan pada angket variabel X adalah positif, sedangkan pada variabel Y terdiri dari pernyataan positif dan negatif. Pada pernyataan positif, skor dari SS adalah 4 dengan kategori sangat baik, S adalah 3 dengan kategori baik, TS

(10)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 832 mendapat skor 2 dengan kategori buruk dan STS mendapatkan 1 dengan kategori sangat buruk. Sedangkan pada pernyataan negatif adalah sebaliknya. Berikut adalah hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan di MTs Negeri 3 Bogor.

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Angket Pembelajaran Aqidah Akhlak No.

Skor Jawaban

Jumlah

SS S TS STS

F % F % F % F % F %

1. 49 81,7 9 15,0 2 3,3 - - 60 100

2. 48 80,0 11 18,3 1 1,7 - - 60 100

3. 42 70,0 18 30,0 - - - - 60 100

4. 25 41,7 33 55,0 2 3,3 - - 60 100

5. 22 36,7 32 53,3 6 10,0 - - 60 100

6. 13 21,7 30 50,0 17 28,3 - - 60 100

7. 24 40,0 35 58,3 1 1,7 - - 60 100

8. 31 51,7 28 46,7 1 1,7 - - 60 100

9. 20 33,3 39 65,0 1 1,7 - - 60 100

10. 25 41,7 34 56,7 1 1,7 - - 60 100

11. 34 56,7 26 43,3 - - - - 60 100

12. 36 60,0 23 38,3 - - 1 1,7 60 100

13. 42 70,0 18 30,0 - - - - 60 100

14. 22 36,7 33 55,0 5 8,3 - - 60 100

15. 17 28,3 40 66,7 3 5,0 - - 60 100

16. 28 46,7 28 46,7 4 6,7 - - 60 100

17. 17 28,3 37 61,7 6 10,0 - - 60 100

18. 18 30,0 31 51,7 11 18,3 - - 60 100

19. 22 36,7 38 63,3 - - - - 60 100

20. 29 48,3 31 51,7 - - - - 60 100

Rata

-rata 28,2 47,01 28,7 47,8 3,05 5,09 0,05 0,09 60 100 Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)

Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa rekapitulasi hasil angket variabel X tentang pembelajaran Aqidah Akhlak berada pada kategori baik. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata frekuensi dan persentase, yaitu: Alternatif jawaban dengan skor 4 memiliki rata-rata frekuensi 28,2 dengan persentase 47,01%. Kemudian Alternatif jawaban dengan skor 3 memiliki rata-rata frekuensi 28,7 dengan persentase 47,8%.

Sementara jawaban dengan skor 2 memiliki rata-rata frekuensi 3,05 dengan persentase 5,09% dan skor 1 memiliki rata-rata frekuensi 0,05 dengan persentase 0,09%. Hal tersebut menunjukan jika pembelajaran Aqidah Akhlak kelas VIII di MTs Negeri 3 Bogor berjalan dengan baik.

(11)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 833 Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Angket Penerapan Nilai-nilai Tauhid

dalam Kehidupan (Pernyataan Positif) No.

Skor Jawaban

Jumlah

SS S TS STS

F % F % F % F % F %

1. 54 90,0 5 8,3 1 1,7 - - 60 100

2. 55 91,7 5 8,3 - - - - 60 100

3. 40 66,7 17 28,3 1 1,7 2 3,3 60 100

3. 45 75,0 15 25,0 - - - - 60 100

4. 46 76,7 14 23,3 - - - - 60 100

5. 20 33,3 39 65,0 1 1,7 - - 60 100

6. 29 48,3 28 46,7 3 5,0 - - 60 100

7. 29 48,3 26 43,3 5 8,3 60 100

8. 36 60,0 14 23,3 3 5,0 7 11,7 60 100

9. 40 66,7 14 23,3 1 1,7 5 8,3 60 100

Rata-

rata 39,4 65,67 17,7 29,48 1,5 2,51 1,4 2,33 60 100 Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)

Rekapitulasi hasil angket variabel Y tentang Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan pada pernyataan positif berada dalam kriteria sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata frekuensi dan persentase yang ada, yaitu: Alternatif jawaban dengan skor 4 memiliki rata-rata frekuensi 39,4 dengan persentase 65,67%. Kemudian Alternatif jawaban dengan skor 3 memiliki rata-rata frekuensi 17,7 dengan persentase 29,48%. Sementara jawaban skor 2 memiliki rata-rata frekuensi 1,5 dengan persentase 2,51% dan skor 1 memiliki rata-rata frekuensi 1,4 dengan persentase 2,33%.

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Angket Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan (Pernyataan Negatif)

No.

Skor Jawaban

Jumlah

STS TS S SS

F % F % F % F % F %

1. 52 86,7 8 13,3 - - - - 60 100

2. 47 78,3 13 21,7 - - - - 60 100

3. 51 85,0 5 8,3 - - 4 6,7 60 100

4. 15 25,0 37 61,7 7 11,7 1 1,7 60 100

5. 41 68,3 18 30,0 1 1,7 - - 60 100

6. 57 95,0 3 5,0 - - - - 60 100

7. 45 75,0 15 25,0 - - - - 60 100

8. 30 50,0 23 38,3 3 5,0 4 6,7 60 100

9. 55 91,7 5 8,3 - - - - 60 100

10. 53 88,3 6 10,0 1 1,7 - - 60 100

Rata

-rata 44,6 74,33 13,3 22,16 1,2 2,01 0,9 1,51 60 100

(12)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 834 Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)

Kemudian rekapitulasi hasil angket variabel Y tentang Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan pada pernyataan negatif berada dalam kriteria sangat baik.

Hal ini dapat dilihat dari rata-rata frekuensi dan persentase pada tabel di atas, yaitu:

Alternatif jawaban dengan skor 4 memiliki rata-rata frekuensi 44,6 dengan persentase 74,33%. Kemudian Alternatif jawaban dengan skor 3 memiliki rata-rata frekuensi 13,3 dengan persentase 22,16%. Sementara jawaban skor 2 memiliki rata-rata frekuensi 1,2 dengan persentase 2,01% dan skor 1 memiliki rata-rata frekuensi 0,9 dengan persentase 1,51%.

Tabel 4. Koefisien Model Summary Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 ,482a ,233 ,219 3,721

Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)

Output pada tabel di atas menjelaskan bahwa terdapat korelasi dari variabel bebas (Pembelajaran Aqidah Akhlak) dan variabel terikat (Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan) dengan nilai korelasi (R) yaitu sebesar 0,482. Dari output tersebut diperoleh koefesien determinasi (R Square) sebesar 0,233 yang mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah sebesar 23,3%.

Tabel 5. Analisis Regresi Sederhana Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std.

Error Beta

1 (Constant) 44,858 6,678 6,717 ,000

Pembelajaran Aqidah Akhlak

,409 ,097 ,482 4,193 ,000

Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)

Dari tabel output di atas diketahui bahwa nilai Constant (a) atau variabel Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan e sebesar 44,858. Sedangkan nilai Pembelajaran Aqidah Akhlak (b/koefisien regresi) sebesar 0,409 sehingga persamaan regresi ditulis sebagai berikut:

Y= a+bX

Y= 44,858+0,409X Pembahasan

Berdasarkan hasil uji hipotesis, variabel Pembelajaran Aqidah Akhlak berpengaruh positif terhadap Penerapan Nilai-Nilai Tauhid dalam Kehidupan Siswa Kelas VIII di MTsN 3 Bogor. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai rhitung sebesar 0,482 > rtabel 0,254. Kemudian diperoleh koefesien determinasi (R Square) sebesar 0,233 yang mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas terhadap variabel

(13)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 835 terikat adalah sebesar 23,3%. Sedangkan 76,7% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Artinya penerapan nilai-nilai tauhid yang dilakukan oleh siswa kelas VIII MTs Negeri 3 Bogor dalam kehidupan sehari-hari, sekitar 23,3% dipengaruhi oleh pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas.

Dalam uji regresi sederhana diketahui nilai Constant (a) atau variabel Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan e sebesar 44,858. Sedangkan nilai Pembelajaran Aqidah Akhlak (b/koefisien regresi) sebesar 0,409 sehingga persamaan regresi ditulis sebagai berikut:

Y= a+bX

Y= 44,858+0,409X

Persamaan tersebut dapat diterjemahkan bahwa konstanta sebesar 44,858 menunjukan bahwa nilai konsisten variabel Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan adalah sebesar 44,858. Sedangkan koefesien regresi X sebesar 0,409 mengandung arti bahwa setiap pertambahan 1% nilai Pembelajaran Aqidah Akhlak, maka nilai Penerapan Nilai-nilai Tauhid dalam Kehidupan bertambah sebesar 0,409.

Koefesien regresi tersebut bernilai positif sehingga dapat dikatakan bahwa arah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah positif.

Dalam wawancara yang telah dilakukan, guru menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak yang dilakukan pada kelas VIII di MTs Negeri 3 Bogor adalah untuk meluruskan aqidah agar tidak terjadi penyelewengan-penyelewengan aqidah dan juga membenarkan akhlak sesuai dengan ajaran Islam. Guru sadar betul akan pentingnya kedua hal tersebut dalam kehidupan. Aqidah dan akhlak adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Akhlak yang baik akan secara otomatis tercipta jikalau tauhidnya pun baik, begitupun sebaliknya. Pembelajaran Aqidah Akhlak adalah pembelajaran yang tidak cukup menyentuh hanya pada tataran kognitif saja, tapi juga afektif dan psikomotorik. Sebagaimana yang dikatakan oleh guru Aqidah Akhlak kelas VIII bahwa barometer keberhasilannya dalam mengajar bukan pada besarnya skor yang didapat siswa saat ujian atau seberapa luas wawasan siswa dalam pembelajaran tersebut, tapi dari kesungguhan dan keistiqomahan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dalam kehidupan sehari-hari sekecil apapun itu. Untuk memperoleh pengetahuan seputar tauhid bukanlah hal yang sulit, terlebih di tengah majunya teknologi saat ini. Namun untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan bukanlah hal yang mudah, terlebih di tengah derasnya arus kekufuran saat ini.

Dari hasil penilitian yang diperoleh, pembelajaran Aqidah Akhlak 23,3%

mempengaruhi penerapan nilai-nilai tauhid siswa dalam kehidupan dan 76,7%

dipengaruhi faktor di luar pembelajaran. Namun itu bukan berarti pembelajaran tidak menghasilkan output sesuai yang diinginkan atau guru kurang berhasil mengelola pembelajaran, bagaimanapu jam pembeajaran Aqidah Akhlak tidak sebanyak waktu di luar pembelajaran sehingga guru pun tidak bettanggung jawab penuh atas penerapan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan siswa, tapi siswa tersebut lah yang bertanggung jawab penuh terhadap dirinya sendiri.

(14)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 836 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Berdasarkan rekapitulasi hasil angket variabel X, pembelajaran Aqidah Akhlak yang dilaksanakan di MTs Negeri 3 Bogor berjalan dengan baik.

2. Pada rekapitulasi hasil angket variabel Y mengenai penerapan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan didapatkan hasil bahwa para siswa kelas VIII di MTs Negeri 3 Bogor menerapkan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan dengan sangat baik.

3. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang positif dari pembelajaran Aqidah Akhlak terhadap penerapan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan siswa kelas VIII di MTs Negeri 3 Bogor. Dari koefisien determinasi (R Square) diperoleh angka sebesar 0,233 yang mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah sebesar 23,3%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.

Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis hendak memberikan saran kepada beberapa pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung turut mempengaruhi penerapan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan siswa.

1. Bagi Sekolah

Kepada pihak sekolah, hendaknya terus menanamkan nilai-nilai tauhid di lingkungan sekolah dimulai dari yang terkecil, sehingga seluruh anggota yang ada, khususnya siswa memiliki aqidah yang lurus dalam menjalankan perannya sebagai hamba.

2. Bagi Guru

Bagi guru, khususnya guru Aqidah Akhlak memiliki peran yang sangat besar dalam mempengaruhi baiknya aqidah dan akhlak terhadap siswa-siswanya.

Maka dari itu, guru hendaknya berusaha semaksimal mungkin dalam memperbaiki aqidah dan akhlak siswa, baik melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui keteladanan di dalam dan di luar kelas sehingga para siswa memiliki nilai tauhid yang kuat dan mampu mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.

3. Bagi Siswa

Kepada para siswa hendaknya selalu mengaplikasikan apa yang diperoleh dari proses pembelajaran di sekolah, khususnya pada pembelajaran Aqidah Akhlak.

Selain itu, siswa hendaknya mempelajari lebih dalam terkait ilmu tauhid di luar pembelajaran di kelas dikarenakan pengaruh yang ada di luar pembelajaran jauh lebih besar. Maka, hanya mengandalkan pembelajaran di kelas tidaklah cukup untuk memperoleh bekal tauhid dalam kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Yunasril. 2012. Sufisme dan Pluralisme Memahami Hakikat Agama dan Relasi Agama-Agama. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:

Rineka Cipta

Suprihatiningrum, Jamil. 2017. Strategi Pembelajaran: Teori dan Aplikasi. Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media.

(15)

Muhammad Irfan Fadillah 1), Santi Lisnawati 2), Kholil Nawawi 3) 837 Mustopa. 2014.Akhlak Mulia dalam Pandangan Masyarakat.Nadwa : Jurnal

Pendidikan Islam, 8(2): 265-267.

Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:

Kencana.

Ginanjar, M. Hidayat. 2017. Pembelajaran Akidah Akhlak dan Korelasinya dengan Peningkatan Akhlak Al Karimah Peserta Didik. Jurnal Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, 6(12): 101.

Kusnadi. 2007. Akidah Islam dalam Konteks Ilmiah Populer. Jakarta: Amzah.

Sunarso, Ali. 2009. Islam Praparadigma. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Wahidin, Ade. Kurikulum Pendidikan Islam Berbasis Tauhid Asma Wa Sifat. Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam, 3: 578.

Gambar

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Angket Pembelajaran Aqidah Akhlak  No.  Skor Jawaban  Jumlah SS S TS STS  F  %  F  %  F  %  F  %  F  %  1
Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Angket Penerapan Nilai-nilai Tauhid  dalam Kehidupan (Pernyataan Negatif)
Tabel 5. Analisis Regresi Sederhana  Coefficients a Model  Unstandardized Coefficients  Standardized Coefficients  T  Sig

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sesuai dengan Suwarna (2006:77) yang menyatakan bahwa memberi penguatan bertujuan untuk 1) meningkatkan perhatian siswa pada pembelajaran; 2) meningkatkan motivasi

Dari sekitar 300.000 jenis tanaman yang tersebar di muka bumi ini, masing-masing tanaman mengan- dung satu atau lebih mikroba endofit yang terdiri dari bakteri dan jamur (Stro bel

And yet, Katherine Duncan-Jones, in her 1997 Arden edition of the sonnets, refused to let Thorpe stand as the only begetter of his tortuous dedication, suggesting instead that,

Already head and shoulders under the hood, Gray simply turned his head and gave her a dry look.. Brianna bit her lip as she watched

Individu atau beberapa anggota kelompok usaha dapat terdaftar secara legal dan memperbolehkan mereka membuat profit Kelompok usaha sepakat bahwa Individu atau beberapa anggota

1) Adanya dukungan Pemerintah Kabupaten Maros di bidang Komunikasi dan Informasi melalui Peraturan Daerah Kabupaten Maros Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan

Prinsip kerjanya adalah aliran data dari phones (client)/WAP protokol, akan mengirim encoded request, protokol gateway akan mentranslasikan request dari WAP protokol yang

yang nantinya menginkubasi perusahaan pemula dalam industri hilir kelapa sawit dan memberikan layanan bisnis dan teknologi kepada UMKM yang sudah ada. Berperan