• Tidak ada hasil yang ditemukan

Maria Galuh Kamenyangan Sari S 500708012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Maria Galuh Kamenyangan Sari S 500708012"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

PADA NEONATUS BERISIKO SEPSIS

PENELITIAN TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister

Oleh :

Maria Galuh Kamenyangan Sari S 500708012

Pembimbing :

Prof. Bhisma Murti, dr, M.Sc, MPH, Ph.D Sri Lilijanti W, dr, SpA(K)

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

Segala puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan

karuniaNYA, sehingga penulis dapat menyelesaian tesis penelitian dengan judul ”

HUBUNGAN RESIDU LAMBUNG DENGAN GANGGUAN FUNGSI JANTUNG

PADA NEONATUS BERISIKO SEPSIS”.

Tesis ini dimaksudkan sebagai perwujudan penelitian dan persyaratan untuk

mencapai derajat magister. Terselesaikannya penelitian ini tidak terlepas dari bantuan

berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima

kasih kepada :

1. Endang Dewi Lestari, dr, SpA (K), MPH, selaku Kepala SMF Ilmu Kesehatan

Anak FK UNS/RSDM. Terima kasih telah memberikan kesempatan dan

dukungan untuk mengikuti program Magister di Program Pascasarjana

Universitas Sebelas Maret.

2. Muhammad Riza, dr, SpA, Mkes, selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Dokter Spesialis FK UNS/RSDM yang telah memberikan kesempatan untuk

mengikuti program Magister di Program Pascasarjana Universitas Sebelas

Maret dan dorongan semangat serta fasilitas yang diberikan.

3. Prof. Bhisma Murti,dr, M.Sc, MPH, Ph.D selaku pembimbing metodologis

dan biostatistika yang dengan penuh kesabaran dalam meneliti proposal

penelitian ini, memberikan berbagai masukan yang berguna sehingga menjadi

lebih baik.

4. Sri Lilijanti W, dr, SpA(K) selaku pembimbing substansi kardiologi yang telah

memberikan banyak motivasi, semangat serta bimbingan yang membangun

dalam proses pembuatan proposal penelitian ini.

5. Yulidar Hafidh, dr, SpA (K) yang telah memperkenankan, menyediakan

waktu, memberi saran, koreksi, bimbingan serta memberikan kesempatan

dalam meneliti bidang ilmu perinatologi.

6. Dwi Hidayah, dr, SpA, M.Kes yang telah menyediakan waktu dan

memberikan kesempatan dalam meneliti bidang ilmu perinatologi.

7. Sunyataningkamto, dr, SpA yang telah memperkenankan, menyediakan

waktu, memberi saran, koreksi, bimbingan serta memberikan kesempatan

(6)

vi

Iswara serta masku Marcellus Rudy Wardana yang selalu memberikan doa,

kasih sayang, pengorbanan serta supportnya yang luar biasa kepadaku.

9. Sahabat-sahabatku tersayang : mbak-mbakku Wasis Rohima, Siti Ariffatus

Saroh, Anggayasti yang selalu mendukung dalam kekompakan dan solidaritas

bersama satu angkatan.

10. Semua kakak-kakak senior, adik-adik junior yang telah banyak memberikan

masukan, saran, kritik dan supportnya.

11. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tesis penelitian ini yang

tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa tesis penelitian ini masih banyak kekurangan, maka dari itu

kami mohon kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan tesis penelitian ini.

Suarakarta, Februari 2012

Penulis

Maria Galuh Kamenyangan Sari

(7)

vii

HALAMAN JUDUL ... ... i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

KATA PENGANTAR... ... iii

B.1. Gangguan fungsi jantung pada sepsis neonates………. 11

B.2. Gangguan peredaran darah pada sepsis neonatus………. 19

C. Residu lambung... 24

C.1. Gangguan peristaltik saluran pencernaan... 30

C.2. Pengosongan lambung... 32

C.3. Hubungan sistem saluran penceraan dengan sepsis neonatus... 35

D. Kerangka konsep... 37

E. Hipotesis... 38

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... ... 39

(8)

viii

D. Sampel dan cara pemilihan sampel ... 40

D.1. Kriteria inklusi... 40

D.2. Kriteria eksklusi... 40

E. Besar sampel ... 40

F. Identifikasi variabel penelitian... 41

G. Definisi operasional variabel dan cara pengukuran... 41

G.1. Residu lambung... 41

G.2. Gangguan fungsi jantung... 42

G.3. Sepsis neonatus... 43

H. Izin subyek penelitian... ... 45

I. Alur penelitian ... 45

J. Pengolahan data ... 46

K. Jadwal kegiatan ... 46

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian... 47

B. Pembahasan……….……. 50

C. Keterbatasan penelitian ……….. 54

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan... 56

B. Implikasi penelitian ……….. 56

C. Saran……….…………... 57

DAFTAR PUSTAKA ... ... 58

LAMPIRAN-LAMPIRAN... 65

(9)

ix

Tabel 2.1. Pengelompokan faktor risiko sepsis... 6

Tabel 2.2. Gambaran klinis sepsis neonatal... 10

Tabel 2.3. Kriteria Ross untuk menilai gagal jantung pada bayi... 14

Tabel 3.1. Pengelompokan faktor risiko sepsis... 43

Tabel 3.2. Gambaran klinis sepsis neonatal... 44

Tabel 4.1. Karakteristik dasar subyek penelitian... 47

Tabel 4.2. Kejadian residu lambung pada neonatus berisiko sepsis... 49

Tabel 4.3. Hubungan antara jenis residu lambung terhadap risiko terjadinya gangguan fungsi jantung pada neonatus berisiko sepsis... 50

(10)

x

Gambar 1. Patogenesis sepsis... 7

Gambar 2. Mekanisme peningkatan cardiac troponin (cTn) dan B-type natriuretic peptide (BNP) pada pasien dengan sepsis berat dan syok septik... 11

Gambar 3. Mekanisme gangguan fungsi endotel vaskuler pada sepsis... 20

Gambar 4. Peredaran darah pada sistem saluran pencernaan... 21

Gambar 5. Iskemia pembuluh darah mesenterika... 22

Gambar 6. Embriologi lambung dan sistem mesenterika... 36

Gambar 7. Embriologi saluran pencernaan... 36

Gambar 8. Kerangka konsep... 37

Gambar 9. Alur penelitian... 45

(11)

xi

SIRS = Sistemic Inflamatory Respon Syndrome

FIRS = Fetal Inflamatory Respon Syndrome

MODS = Multiple Organ Dysfunction Syndrome

APGAR = Appearance, Pulses, Grimace, Activity, Respiratory effort

TNF-α = Tumor Necrosis Factor - alpha

IL = Interleukin

IFN- γ = Interferon – gamma

TLRs = Toll Like Receptors

GM-CSF = Granulocyte Macrophag-Colony Stimulating Factor

PGE = prostaglandin

ICAM -1 = intercellular adhesion molecule-1

CRP = C-reactive protein

RVEDP = right ventricular end-diastolic pressure;

RVSWI = right ventricular stroke work index

ATP = adenyl tri phosphate

NO = nitrite oxide

LPS = lipopolisakarida

PDA = Patent Ductus Arteriosus

FS = fractional shortening

EF = ejection fraction

E = emptying

A = acceleration

LVFAC = left ventricular fraction area contractility

LVSWI = left ventricular stroke work index

cAMP = cyclic-adenyl mono phosphate

NEC = necrotizing enterocolitis

(12)

xii

SAT = sugar absorbtion test

PT = Prothrombin Time

PTT = Partial Thromboplastin Time

LYCOS = low cardiac output syndrome

(13)

xiii

Lampiran 1. Perencanaan Anggaran Penelitian ………... 66

Lampiran 2. Penjelasan Penelitian ... 67

Lampiran 3. Formulir persetujuan mengikuti penelitian ... 68

Lampiran 4. Formulir isian penelitian ... 69

Lampiran 5. Formulir pemantauan ... 70

Lampiran 6. Data dasar hasil penelitian ... 71

Lampiran 7. Hasil pengolahan data ... 73

(14)

xiv

Background: Neonatal sepsis with heart dysfunction lacking regarded as main pathology of sepsis. The death rate doubly in sepsis neonatal accompanied cardiovascular dysfunction. The myocardial dysfunction defined as diagnostic criteria for severe sepsis in adult. The occurrence of sphlancnic and mesenteric hypo-perfusion impact disorder of digestive system which manifest as gastric residue.

Objective: to analyze the relationship between gastric residue and heart dysfunction

among neonates at risk of sepsis

Method: This cross-sectional study was conducted in January 2011 – October 2011 to neonates suspected sepsis who were hospitalized at Neonatal-HCU Moewardi General Hospital Surakarta. Sample was selected by quota sampling. Sepsis was assessed by clinical major-minor criteria. Gastric residue was defined when the volume of gastric

aspiration 4 hours after feeding reached ≥ 20% for 2 days. Heart dysfunction was

measured using two-dimensional Doppler echocardiography. Chi square test was

performed to analyze this data using SPSS 17.0.

Results: Among 48 septic risk neonates, we found 27(56.3%) manifested as gastric residue, 25(64.1%) having heart dysfunction which 17 (70.8%) is the systolic function disorders. Impaired heart function, especially disorders of systolic function, are at risk of undergoing gastric residue significantly (OR:6.25; CI95%:1.14 – 34.29 and OR:3.40; CI95%: 1.03 – 11.26, respectively). Neonates whose gastric residue as milk are at risk of heart dysfunction compared with no gastric residue insignificantly (OR:8.00; CI95%:0.87 – 73.27).

Conclusion: There was a relationship between gastric residue and heart dysfunction among neonates at risk of sepsis. The presence of gastric residue can become a marker of heart dysfunction among septic risk neonates.

Kew words: gastric residue, heart dysfunction, neonate, sepsis

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Adanya pasien sepsis dengan gangguan fungsi jantung, kurang dianggap sebagai

patologi utama selama sepsis. Dengan demikian, mekanisme yang mendasari

sepsis yang mengakibatkan disfungsi miokard belum pernah dipelajari secara

ekstensif (Sharma, 2007).

Sepsis secara klinis ditandai oleh inflamasi sistemik, disfungsi jantung,

terjadinya ketidakmampuan pengiriman oksigen untuk memenuhi kebutuhan

oksigen, perubahan substrat metabolisme dan akhirnya, kegagalan multiorgan

serta kematian (Rosentiel, 2001; Luce, 2007). Sepsis adalah penyakit yang

kompleks dan merupakan manifestasi dari peradangan kekebalan dan respon

terhadap infeksi. Derajat beratnya sepsis berkaitan dengan seberapa beratnya

gangguan fungsi organ dan respon hemodinamik yang terjadi. Sepsis berat

didefinisikan sebagai sepsis dengan adanya gangguan fungsi organ (Levy, 2003).

Definisi sepsis telah ditinjau oleh sekelompok pakar, namun disamping

mengkaji secara luas berbagai tanda dan gejala sepsis, belum ada perubahan yang

secara relevan ditetapkan berkaitan dengan fungsi jantung, terutama pada

neonatus (Levy, 2003). Telah diakui pentingnya depresi jantung yang meliputi

infark miokard serta rendahnya indeks jantung (CI) ataupun bukti ekokardiografi

adanya disfungsi jantung sebagai kriteria diagnostik sepsis berat pada dewasa.

(16)

merupakan pengukuran kuantitatif berguna secara klinis untuk menilai kinerja

ventrikel (Hunter, 2010).

Insiden sepsis neonatal cenderung tinggi secara signifikan, neonatus yang

diduga sepsis banyak dikirim untuk investigasi ke unit perawatan intensif bayi

yang baru lahir di Amerika Serikat (Spitzer, 2005). Walaupun pemahaman kita

tentang mekanisme patofisiologi sepsis pada neonatus telah meningkat selama 10

tahun terakhir ini, namun morbiditas dan mortalitas neonatus oleh karena sepsis

tetap tinggi. (Rosentiel, 2000; Angus, 2001; Tabbutt, 2001). Telah dilaporkan

angka kematian sebesar dua kali lipat pada pasien neonatus dengan sepsis yang

disertai disfungsi kardiovaskular dan syok septik (Luce, 2007).

Berbagai definisi sepsis sebelumnya berdasarkan tingkat atau derajat

beratnya vasodilasi vaskuler, sedangkan pada modifikasi yang dibuat oleh

International Sepsis Definition Conference dan Annane dkk menyatakan bahwa

pada sepsis adanya depresi miokardium yang dinyatakan oleh denyut jantung

rendah atau bukti ekokardiografi gangguan fungsi jantung telah dimasukkan

dalam definisi sepsis berat pada dewasa (Annane, 2005). Namun demikian,

penelitian yang mempelajari hubungan sepsis neonatus dengan efek

kardiovaskular pada khususnya, relatif sangat jarang, maka dari itu diperlukan

penelitian lebih lanjut mengenai mekanismenya.

Adanya gangguan fungsi jantung pada sepsis akan mempengaruhi

peredaran darah sistemik, terjadi hipoperfusi sistem splanknikus dan mesenterika

yang berdampak gangguan sistem pencernaan, termasuk hipoperistaltik,

(17)

keterlambatan waktu pengosongan lambung dan bermanifestasi sebagai adanya

residu lambung (Neu, 2007; Burns, 2009).

Hal ini belum banyak diteliti pada bayi dan anak di luar negeri maupun di

Indonesia, penelitian sebelumnya banyak mengambil subyek pada dewasa,

berdasarkan hal ini, peneliti ingin mencoba untuk menganalisis bagaimanakah

mekanisme yang terjadi pada bayi dengan risiko sepsis khususnya yang dirawat di

Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta.

B. Rumusan Masalah

Adakah hubungan residu lambung dengan gangguan fungsi jantung pada neonatus

berisiko sepsis?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Menganalisis hubungan antara residu lambung dengan gangguan fungsi

jantung pada neonatus berisiko sepsis.

2. Tujuan khusus

i. Mengidentifikasi volume residu lambung sebagai indikator

intoleransi asupan pada neonatus berisiko sepsis.

ii. Menilai adanya gangguan fungsi jantung (sistolik dan distolik)

pada neonatus dengan sepsis

(18)

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat bidang akademik

Diharapkan dapat memberikan informasi mengenai adanya hubungan

residu lambung dengan gangguan fungsi jantung pada neonatus dengan

risiko sepsis.

2. Manfaat bidang pelayanan (manfaat praktis)

Diharapkan dapat diketahui volume dan jenis residu lambung sebagai

penanda adanya gangguan fungsi jantung, meliputi fungsi sistolik dan

diastolik pada neonatus berisiko sepsis sehingga diharapkan dapat

melakukan evaluasi residu lambung lebih cermat dan efektif secara klinis

untuk ketepatan penatalaksanaan.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sepsis neonatus

A.1. Definisi

Sepsis neonatal didefinisikan sebagai infeksi pada sirkulasi yang bersifat invasif

ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, cairan

sumsum tulang ataupun air kemih. (Aminullah, 2009). Sejak adanya konsensus

dari American College of Chest Physician/ Society of critical Care Medicine

(ACCP/SCCM) sepsis didefinisikan sebagai berikut (Bone, 2006):

1. Sepsis merupakan sindrom respon inflamasi sistemik (systemic

inflamatory response syndrome-SIRS) yang terjadi akibat infeksi bakteri,

virus, jamur atau parasit.

2. Sepsis berat adalah suatu keadaan sepsis yang disertai dengan adanya

gangguan fungsi organ kardiovaskuler, gangguan nafas akut atau terdapat

gangguan dua organ lain (seperti gangguan neurologi, hematologi,

urogenital dan hepatologi).

3. Syok septik ialah suatu kondisi dimana neonatus masih dalam keadaan

hipotensi meskipun telah mendapat cairan yang adekuat.

4. Sindroma disfungsi multi organ (MODS): bayi tidak mampu lagi

mempertahankan homeostasis tubuh sehingga terjadi perubahan atau

gangguan pada dua fungsi organ atau lebih.

(20)

Sepsis neonatal dibagi menjadi dua kelompok yakni sepsis awitan dini dan awitan

lambat. Pada sepsis awitan dini, gejala klinis didapatkan pada hari-hari pertama

kehidupan (usia kurang dari 72 jam), infeksi terjadi secara vertikal berasal dari

penyakit ibu atau ditularkan dari infeksi yang diderita ibu selama persalinan.

Tabel dibawah ini merupakan beberapa faktor risiko sepsis awitan dini.

Tabel 2.1. Pengelompokan faktor risiko sepsis

Risiko mayor Risiko minor

1. Ketuban pecah > 24 jam 2. Ibu demam saat intrapartum

> 38ºC peraksiler

5. Usia kehamilan < 37 minggu 6. Kehamilan ganda

Terjadinya sepsis awitan lambat disebabkan oleh mikroorganisme yang

berasal dari lingkungan sekitar neonatus pada saat setelah usia 3 hari. Keadaan ini

sering ditemukan pada neonatus yang dirawat di ruang intensif, beonatus kurang

bulan yang mengalami perawatan lama, mendapatkan nutrisi parenteral dalam

waktu cukup lama, infeksi yang bersumber dari alat perawatan, infeksi

nosokomial ataupun infeksi silang dari bayi lain atau dari tenaga medis yang

merawat. Walaupun berbagai faktor risiko ini tidak selalu berakhir dengan infeksi,

(21)

namun harus tetap mendapatkan perhatian khusus apabila disertai dengan

munculnya gejala klinis (Aminullah, 2009).

A.2. Patogenesis

Inflamasi merupakan respon dari imunitas tubuh terhadap berbagai macam

rangsangan imungen atau benda asing dari luar tubuh. Proses inflamasi

merupakan usaha tubuh untuk menghilangkan organisme penyebab (James, 2007).

Respon tubuh terhadap suatu patogen melibatkan berbagai macam komponen

sistem imun dan berbagai macam sitokin baik yang bersifat pro inflamasi,

berfungsi membantu sel dalam menghancurkan mikroorganisme yang

menginfeksi yaitu TNF-α, IL-1, IFN-γ, maupun yang bersifat anti inflamasi,

berfungsi memodulasi, mengkooordinasi serta represi terhadap respon yang

berlebihan yakni interleukin 1 receptor antagonis (IL-1 ra), IL4, IL-10. (Kaspan;

2003; Steve, 2006). Apabila mekanisme keseimbangan antara sitokin pro

inflamasi dan anti inflamasi ini tidak dapat tercapai dengan baik, maka dapat

mengakibatkan kerugian bagi tubuh penderita.

(22)

Pada saat antigen masuk, maka antigen akan bereaksi dengan dengan

makrofag melalui Toll Like Receptors 4 (TLRs 4) sebagai reseptor transmembran

dengan perantaraan reseptor CD 14+. Sebagai respon tubuh dalam bereaksi

terhadap sepsis maka limfosit T akan mengeluarkan substansi dari Th 1 yang

berfungsi sebagai imunomodulator yakni : interferon gamma, IL-2 dan GM-CSF.

INF-γ akan merangsang makrofag mengeluarkan IL-1β dan TNF-α. Limfosit Th

2 akan mengekspresikan IL-4, IL-5, IL- 6, IL-10. Pada kondisi sepsis, IL-1β dan

TNF-α serum penderita akan meningkat. IL-1β sebagai imuno regulator utama

juga mempunyai efek pada sel endothelial. Interleukin-1β memegang peranan di

dalam pembentukan prostaglandin E2 (PG-E2) dan merangsang ekspresi

intercellular adhesion molecule-1 (ICAM -1). Dengan adanya ICAM-1, netrofil

yang telah tersensitisasi oleh granulocyte macrophage colony stimulating factor

(GM-CSF) akan mudah mengadakan adhesi (Aminullah, 2005; Bone, 2006).

Netrofil yang beradhesi dengan sel endotel akan mengeluarkan lisosim

yang menyebabkan dinding endotel menjadi lisis, sehingga mengakibatkan

terbukanya endotel. Netrofil juga membawa superoksidan, merupakan radikal

bebas yang akan mempengaruhi oksigenasi pada mitokondria. Akibat dari proses

tersebut sel endotel akan menjadi nekrosis, sehingga terjadi kerusakan sel endotel

pembuluh darah. Kerusakan sel endotel pembuluh darah akan menyebabkan

terjadinya gangguan vaskuler (vascular leak) sehingga berdampak kerusakan

organ multipel (Bone, 2006).

(23)

A.3. Diagnosis

Sampai saat ini, belum ada parameter yang merupakan baku emas dalam

penegakan diagnosis pasti sepsis. Diagnosis sepsis yang sering digunakan yaitu

dengan ditemukannya bakteri pada hasil biakan darah maupun urin, namun

pemeriksaan ini mempunyai kelemahan yaitu biakan baru diketahui setelah 3-5

hari, dipengaruhi oleh pemberian antibiotika, jumlah sampel darah dan dapat

terkontaminasi kuman nosokomial (Aminullah, 2009). Selain itu, hasil dapat

menunjukkan negatif palsu, dimana didapatkan biakan darah dan urin negatif,

namun secara klinis menunjukkan gejala yang nyata. Oleh karena itu beberapa

ahli membuat formulasi untuk dapat mendiagnosis terjadinya sepsis secara dini.

Menurut Haque, FIRS (fetal inflamatory response syndrome) ditegakkan apabila

terdapat 2 atau lebih keadaan sebagai berikut :

1. laju nafas > 60x/m dengan atau tanpa retraksi dan desaturasi O2

2. suhu tubuh tidak stabil (<36C atau >37,5C peraksiler)

3. capillary refill time > 3 detik

4. hitung lekosit <4000x109/L atau >34000x109 /L

5. CRP >10 mg/dl

6. IL-6 atau IL-8>70 pg/ml

7. 16 S rRNA gene PCR: positif.

Diagnosis sepsis pada neonatus ditegakkan apabila didapatkan satu atau lebih

kriteria FIRS disertai dengan adanya gejala klinis infeksi (Haque, 2005).

(24)

Tabel 2.2. Gambaran klinis sepsis neonatal

Variabel klinis

Suhu tubuh tidak stabil

Laju nadi > 180 kali/menit atau < 100 kali/menit

Laju nafas >60kali/menit, dengan retraksi atau desaturasi oksigen Letargi

Intoleransi glukosa ( plasma glukosa > 10 mmol/L) Intoleransi minum

Variabel hemodinamik

Tekanan darah < 2 SD menurut usia bayi

Tekanan darah sistolik < 50 mmHg (bayi usia 1 hari)

Tekanan darah sistolik < 65 mmHg (bayi usia kurang dari 6 bulan) Variabel perfusi jaringan

Pengisian kembali kapiler/capillary refill > 3 detik Asam laktat plasma > 3 detik

Variabel inflamasi

Leukositosis (>34000x109) Leukopenia (<5000x109) Neutrofil muda > 10%

Neutrofil muda/ total neutrofil (I/T ratio)>0.2 Trombositopenia <100000x109/L

C reaktive protein > 10 mg/dl atau > 2 SD dari nilai normal Procalsitonin > 8,1 mg/dL atau > 2 SD dari normal

IL-6 atau IL-8 >70pg/ml 16 S rRNA gene PCR : poaitif

A.4. Pengobatan

Eliminasi kuman merupakan pilihan utama pada manajemen sepsis neonatal.

Pemberian antibiotika secara empiris dengan menggunakan kombinasi antibiotika

diupayakan untuk mendapatkan sensitivitas terhadap mikroorganisme gram positif

maupun gram negatif tergantung pola resistensi kuman pada masing-masing

rumah sakit. Lamanya pengobatan sangat tergantung pada jenis mikroorganisme

penyebab, pada mikroorganisme gram positif pengobatan dianjurkan selama

10-14 hari sedangkan pada gram negatif pengobatan dapat dilanjutkan sampai 2-3

minggu (Aminullah, 2009).

(25)

B. Gangguan peredaran darah dan fungsi jantung pada sepsis

B.1. Gangguan fungsi jantung pada sepsis neonatus

Fenomena mekanisme gangguan otot jantung oleh karena adanya proses

inflamasi diperantarai oleh adanya berbagai mediator yang beredar dalam

sirkulasi. Beberapa substansi yang telah dijelaskan yakni adanya peranan utama

dari TNF-α dan interleukin-1β (Kumar, 1996; CV, 2005; Lancel, 2005) serta

adanya peranan interleukin-6 yang ditunjukkan sebagai kunci mediator utama

gangguan fungsi otot jantung pada anak dengan meningokokus dan syok septik

(Pathan, 2004).

Gambar 2. Mekanisme peningkatan cardiac troponin (cTn) dan B-type natriuretic peptide (BNP) pada pasien dengan sepsis berat dan syok septic. ALI = acute lung injury; IL = interleukin; LV = left ventricular; RV = right ventricular; RVEDP = right ventricular

end-diastolic pressure; RVSWI = right ventricular stroke work index; TNF = tumor necrosis factor. (Maeder, 2006)

(26)

Tidak banyak diketahui mengenai efek kardiovaskular pada sepsis neonatus,

namun perkembangan kardiomiosit pada neonatus yang berbeda dari orang

dewasa dapat menyebabkan perbedaan pula dalam efek sepsis terhadap jantung

(Rudiger, 2007). Selain perbedaan mendasar dalam struktur kardiomiosit pada

neonatus, telah diidentifikasi pula mengenai perubahan fungsional dalam aktivitas

proliferatif dan eksitasi-kontraksi coupling (Huttenbach, 2001; Escobar, 2004).

Perbedaan ini dapat diperantarai oleh perubahan dalam ekspresi ion

kalsium (calcium channel) yang didasarkan pada saluran kalium ATP-sensitif dan

β-reseptor coupling, hal ini yang menjadi perbedaan dalam hasil dan pengobatan

sepsis pada neonatus dibandingkan dengan sepsis pada orang dewasa (Huang,

2006; Morrissey, 2005).

Gangguan fungsi jantung dan kolapsnya saluran kardiovaskuler selama

sepsis adalah akibat dari meningkatnya kadar TNF-α dan produksi nitrit oksida

(NO) serta peroxynitrite yang menyebabkan kerusakan DNA lebih lanjut serta

terjdinya pengurangan produksi ATP yang akan mengakibatkan kegagalan energi

sekunder (Kumar, 2007; Khadour, 2002; Watts, 2004; Carcillo, 2003).

Proses apoptosis miosit pada ventrikel berhubungan dengan gangguan

fungsi kardiovaskular. Serum darah pada pasien dengan sepsis secara langsung

menyebabkan penurunan tingkat maksimum dan kecepatan puncak kontraksi

ventrikel, mengaktivasi sitokin pro inflamasi serta menginduksi proses apoptosis

pada miosit. Paparan lipopolisakarida (LPS) yang menginduksi produksi TNF-α

telah dikaitkan dengan peningkatan apoptosis pada kardiomiosit orang dewasa

(27)

peningkatan apoptosis walaupun terjadi peningkatan produksi TNF-α setelah

terpapar lipopolisakarida. Maka dari itu, perlu diteliti lebih lanjut bagaimana

mekanisme lain mengenai gangguan fungsi kardiovaskular terkait dengan sepsis

pada bayi baru lahir (Hickson, 2006). Komplikasi lain yang memperberat respon

kardiovaskuler terhadap sepsis adalah adanya penyakit lain yang menyertai,

seperti paten ductus arteriosus (PDA), hipertensi pulmoner, asfiksia dan asidosis

(Carcillo, 2002; Crepaz, 1998).

Penurunan curah jantung (cardiac output) merupakan asumsi umum dalam

gangguan fungsi otot jantung ventrikel kiri. Kardiomiopati septik ditandai dengan

gangguan kontraktilitas otot jantung intrinsik biventrikuler, dengan pengurangan

fraksi ejeksi dan indeks kerja ventrikel kiri (Timothy, 2008; Hunter, 2010).

Poelaert dkk mengemukakan bahwa semua pasien septik mempunyai pola

pengisian diastolik yang abnormal dibandingkan dengan kontrol. Pada studi syok

septik yang dilakukan menggunakan ekokardiografi Doppler ini menemukan

bahwa gangguan fungsi jantung pada syok septik menunjukkan disfungsi

ventrikel, baik sistolik maupun diastolik yang berkesinambungan.

Diagnosis gangguan fungsi jantung pada neonatus dan bayi sampai usia

kurang dari 1 tahun secara klinis dapat dinilai dengan kritria Ross, yang menilai

adanya toleransi minum, baik banyaknya volume maupun lamanya waktu setiap

kali minum, jenis pernapasan dan laju napas per menit, perfusi perifer, bising

diastolik serta adanya hepatomegali (Motz, 2005).

(28)

Tabel 2.3. Kriteria Ross untuk menilai gagal jantung pada bayi (Motz, 2005)

Gejala klinis Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2

Volume tiap minum (cc) 100 70-100 <70

Waktu tiap minum (menit) <40 >40

Laju napas per menit <50 50-60 >60

Jenis pernapasan normal abnormal

Perfusi perifer normal menurun

S3/ bising diastolik ada Tidak ada

Hati di bawah sela iga <2 cm 2-3 cm >3 cm

Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan lebih tepat untuk menilai

kelainan anatomis dan penurunan fungsi kontraksi jantung adalah dengan

ekokardiografi. Alat ini dapat digunakan untuk menilai kelainan anatomis dan

penurunan fungsi jantung pada neonatus. Fungsi diastolik ventrikel kiri

mempunyai peranan utama terhadap pengisian jantung kiri yang berkaitan dengan

volume isi sekuncup berikutnya. Fungsi diastolik umumnya dinyatakan dengan

alat ekokardiografi Doppler, yang merupakan teknik yang sederhana, non invasif

dan aman untuk mengukur volume pengisian diastolik untuk mendiagnosis

adanya gangguan fungsi diastolik (Vlahovic, 1999; Vignon, 2007). Ada 2 jenis

pemeriksaan ekokardiografi yang ditampilkan dalam 2 dimensi yang telah banyak

digunakan, yakni M-mode dan M-mode dengan Doppler. Pada pemeriksaan

ekokardiografi M-mode menunjukkan tampilan refleksi gelombang ultrasonografi

dari berbagai kedalaman pada aksis vertikal dan waktu pada aksis horisontal.

(29)

pembuluh darah, karena dapat dilakukan tepat pada saat siklus jantung yang

dikehendaki. Dengan ekokardiografi 2 dimensi dapat dilakukan pemeriksaan

ekokardiografi dari berbagai sudut pandang dan yang dianggap baku adalah

pandangan subkostal, parasternal, apikal dan suprasternal (Myung, 2008).

Fungsi jantung dapat diukur melalui beberapa parameter untuk

menentukan adanya gangguan fungsi sistolik maupun diastolik. Fungsi sistolik

dapat dinilai dengan mengukur persentase pemendekan diameter ventrikel selama

sistolik (FS = fractional shortening) dan fraksi ejeksi (EF = ejection fraction),

keduanya merupakan indikator yang baik dan tepat untuk menilai fungsi jantung.

Fraksi pemendekan adalah presentase perubahan pada dimensi rongga

ventrikel kiri saat kontraksi sistolik dan merupakan parameter yang sering

digunakan untuk mengekspresikan fungsi sistolik (Oemar, 2005). Fraksi

pemendekan ini dihitung dari perubahan persentase diameter ventrikel kiri yang

terjadi saat sistolik dengan mengukur diameter sistolik akhir dan diameter

diastolik akhir menggunakan M-mode ekokardiografi Doppler. Nilai normal fraksi

pemendekan adalah 28 – 44% dengan rerata 36%. Pengukuran ini tidak

tergantung usia dan laju jantung, namun tergantung dari preload dan afterload

ventrikel. Fraksi ejeksi merupakan teknik analisis volume sebagai indikator

pompa ventrikel. Fraksi ejeksi mewakili isi sekuncup sebagai persentase dari

volume akhir diastolik ventrikel kiri dengan nilai normal berkisar antara 64 – 83%

dengan rerata 74% (Myung, 2008).

Fungsi diastolik ventrikel diketahui dengan mengukur kecepatan maksimal

(30)

ventrikel pada saat kontraksi atrium (A), serta kecepatan rasio maksimal pengisian

awal dan akhir (E/A). Pada sepsis neonatus, adanya karakteristik adanya

gangguan fungsi diastolik ditunjukkan oleh ketinggian konstan waktu relaksasi

ventrikel kiri, yang tampak jelas pada sepsis hari pertama, ketiga dan ketujuh

(Sharma, 2007).

Fenomena depresi otot jantung pertama kali dideskripsikan oleh Parker

dkk yang menampilkan ventrikulogram radionuklida serial pada 20 pasien dengan

syok septik dengan hasil 13% dari subyek penelitian menunjukkan depresi fraksi

ejeksi ventrikel kiri yang reversibel (LEVF) secara signifikan (Maeder, 2006).

Kelompok ini menunjukkan peningkatan volume akhir diastolik ventrikel kiri dan

akhir sistolik, dengan demikian volume isi sekuncup dapat tetap terpenuhi

meskipun terjadi gangguan pada fraksi ejeksi ventrikel kiri. Penurunan afterload

dapat terjadi pada fraksi ejeksi ventrikel kiri sebagai akibat penurunan

kontraktilitas otot jantung yang diukur dengan indeks kerja ventrikel kiri pada

pasien sepsis menunjukkan adanya gangguan fungsi mekanik jantung. Perubahan

serupa juga diamati pada ventrikel kanan (seperti terjadinya dilatasi dan

penurunan kontraksi yang ditunjukkan dengan indeks kerja ventrikel kanan).

Studi yang dilakukan oleh Poelaert dkk mengemukakan data yang sangat

komprehensif dari pemantauan invasif dengan pengukuran melalui kateter arteri

pulmonalis serta ekokardiografi transesofagus untuk menilai fungsi ventrikel kiri,

sistolik dan diastolik pada pasien dengan syok septik. Penelitian ini menganalisis

pola aliran transmitral, yakni rasio kecepatan aliran puncak pengosongan atrium

(31)

darah ke ventrikel kiri (A) serta pola kecepatan aliran vena pulmonalis saat fase

sistolik (S) dan diastolik (D). Berdasarkan analisis ini, subyek penelitian dibagi

menjadi 3 kelompok, yakni:

a. Fungsi diastolik dan sistolik ventrikel kiri normal; dinyatakan dengan

kontraksi area fraksional ventrikel kiri (LVFAC) normal, pola aliran vena

pulmonalis dan aliran transmitral yang normal (E/A > 1 dan S/D > 1).

b. Gangguan fungsi diastolik; dinyatakan dengan kontraksi area fraksional

ventrikel kiri (LVFAC) normal, dengan aliran vena pulmonalis abnormal,

serta aliran transmitral yang pseudonormal (E/A > 1 dan S/D < 1).

c. Gangguan fungsi diastolik sebagai konsekuensi adanya gangguan fungsi

sistolik; dinyatakan dengan penurunan kontraksi area fraksional ventrikel

kiri (LVFAC), adanya pola aliran vena pulmonalis dan aliran transmitral

yang abnormal (E/A < 1 dan S/D < 1).

Pada kelompok pasien dengan gangguan fungsi diastolik dan sistolik,

menunjukkan angka mortalitas yang lebih tinggi dibanding kedua kelompok yang

lain. Tidak ada perbedaan yang bermakna dalam besarnya tahanan vaskuler

sistemik (LVSWI) antara ketiga kelompok. Kesimpulan penelitian Poelaert dkk

ini adalah rendahnya kontraksi area fraksional ventrikel kiri berhubungan secara

bermakna dengan kondisi yang lebih buruk berkaitan dengan adanya gangguan

fungsi diastolik pada pasien sepsis.

Pada neonatus kurang bulan maupun cukup bulan, fungsi sistolik ventrikel

kiri sangat tergantung pada afterload, yang dapat meningkatkan sensitivitas

(32)

1998). Bayi baru lahir secara relatif mengalami penurunan massa otot ventrikel

kiri dan peningkatan proporsi tipe I kolagen (kekakuan jaringan) terhadap kolagen

tipe III (memberikan elastisitas) dalam jaringan otot jantung, yang dapat

menjelaskan terjadinya penurunan fungsi diastolik ventrikel kiri serta perubahan

pemendekan pertengahan dinding ventrikel kiri pada bayi kurang bulan (Joyce,

2004; Marijian, 1994; Kozak, 2001). Kelainan fisiologis ini, sesuai dengan

pernyataan bahwa otot jantung ventrikel kiri neonatus telah berfungsi sebagai

dasar fungsi kontraksi jantung, yang dapat membatasi kemampuan peningkatan isi

sekuncup (stroke volume) atau peningkatan kontraktilitas pada neonatus dengan

sepsis.

Beberapa penelitian mengevaluasi kinerja jantung pada pasien sepsis

dengan ekokardiografi transtorakal dan transesofageal. Hasil dari penelitian

tersebut yakni ditemukannya penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri pada lebih dari

50% subyek penelitian (Spapen, 2000; Charpentier, 2004). Namun, pola spesifik

pada dilatasi ventrikel kiri dengan gangguan penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri

hanya ditemukan pada studi Charpentier dkk meskipun dimensi ventrikel nasih

normal.

Pada studi yang dilakukan oleh Shimada dkk menyatakan bahwa pada

Patent Ductus Arteriosus (PDA) meskipun terjadi peningkatan output dari

ventrikel kiri namun berdampak penurunan aliran darah yang menuju ke aorta

abdominalis, arteri coeliaca, mesenterika dan renalis (Shimada, 1994; Myung,

2008).

(33)

B.2. Gangguan peredaran darah pada sepsis neonatus

Respon hemodinamik pada sepsis neonatus belum diketahui dengan jelas yang

ditunjukkan dengan adanya abnormalitas hemodinamik yang bervariasi (Carcillo,

2002). Pola hemodinamik pada syok septik biasanya ditandai dengan keadaan

hipersirkulasi, termasuk penurunan tahanan vaskuler sistemik dan peningkatan

indeks jantung secara signifikan setelah resusitasi cairan yang memadai. Namun,

beberapa penelitian telah menyatakan dengan jelas mengenai gangguan kinerja

ventrikel kiri pada pasien dengan syok septik. Adanya perbedaan dalam hal

anatomi, fisiologi dan adaptasi fungsi kardiovaskuler pada sepsis neonatus perlu

diidentifikasi lebih lanjut untuk strategi terapi yang lebih baik. (Tabbutt, 2001).

Pada bayi baru lahir terjadi gangguan efektivitas stimulasi adrenergik

eksogen oleh karena adanya saraf otonom yang belum matang secara fungsional

(Rosentiel, 2001; Longin, 2006) serta peningkatan kadar katekolamin baseline,

terutama pada bayi kurang bulan (Hirsimaki, 1992; Kalio, 1998). Lemahnya

respon terhadap rangsangan adrenergik telah dilaporkan pada neonatus dengan

syok septik, sebagai akibat dari reseptor down regulation, reseptor dari

uncoupling adenil siklase ataupun penurunan produksi c-AMP (Tabbutt, 2001).

Pada sepsis dapat terjadi gangguan mikrosirkulasi yang disebabkan oleh

berbagai patogen akibat berbagai mekanisme (Setiati, 2009). Salah satunya adalah

respon aliran darah pada sistem splanknikus dan mesenterika. Penurunan sirkulasi

splanknik bisa disebabkan oleh penurunan tekanan perfusi, khususnya selama

hipovolemia relatif. Pada keadaan sepsis terjadi disfungsi endotel dan

(34)

vasokonstriksi general khususnya pada regio splanknikus sehingga mempengaruhi

sirkulasi mesenterika.

Gambar 3. Mekanisme gangguan fungsi endotel vaskuler pada sepsis

Hepar dan usus merupakan organ utama yang mengalami redistribusi

perfusi ke sirkulasi sistemik. Vasokonstriksi bisa terjadi akibat autoregulasi

peningkatan aliran darah dari system enterik yang meningkatkan kecepatan

ekstraksi oksigen. Disamping peningkatan tahanan vaskuler sistemik,

vasokonstriksi yang disebabkan oleh system saraf simpatis juga mengosongkan

vena pada regio splanknikus sehingga terjadi autotransfusi. Efek ini meningkatkan

sirkulasi darah sampai sepertiga akibat peningkatan tekanan pengisian jantung,

sehingga mempertahankan curah jantung sesuai mekanisme Hukum Starling

(Setiati, 2009).

(35)

Gambar 4. Peredaran darah pada sistem saluran pencernaan

(Kempley, 2000)

Selama hari-hari pertama kehidupan sirkulasi intestinum harus beradaptasi

terhadap nutrisi enteral melalui sirkulasi transisional post natal. Penelitian yang

dilakukan oleh Bel dkk menunjukkan bahwa kecepatan aliran darah pada arteri

mesenterika superior meningkat sesuai usia gestasi dan berat badan, sedangkan

Leidig dkk menemukan adanya peningkatan kejadian puasa setelah pengenalan

nutrisi enteral dan peningkatan residu postprandial.

(36)

Gambar 5. Iskemia pembuluh darah mesenterika

(Kempley, 2000)

Martinussen dkk mempelajari perubahan sirkulasi mesenterika dalam

hubungannya dengan adaptasi hemodinamik pada neonatus cukup bulan dengan

mengukur kecepatan aliran darah arteri mesenterika superior pada saat 1 jam

setelah lahir sampai dengan hari kelima setelah lahir dengan ultrasound Doppler.

Variabel lain yang diamati pada studi ini adalah adanya perubahan curah jantung

(cardiac output), denyut jantung, tekanan darah dan sirkulasi regional lainnya.

Respon sirkulasi terhadap nutrisi diamati dari hari ketiga hingga hari kelima

setelah lahir.

Pada hari pertama kehidupan setelah kelahiran, neonatus yang terinfeksi

(37)

dalam proses inflamasi pada orang dewasa. Pola ini merupakan salah satu yang

resisten terhadap aliran darah, seperti yang ditunjukkan oleh berkurangnya indeks

pulsasi dalam aksis coeliaca dan arteri mesenterika superior yang secara konsisten

berkaitan dengan kecepatan aliran darah pada keduanya (Kempley, 2000).

Coombs, dkk. telah menjelaskan adanya peningkatan rasio aliran darah

sistem coeliaca terhadap aliran darah sistolik arteri mesenterika superior pada

kelompok heterogen nenatus beresiko necrotizing enterocolitis (NEC), yakni

dengan adanya IUGR (Intra Uterin Growth Retardation), asfiksia, infeksi maupun

dengan resiko tinggi lainnya. Pada kelompok neonatus ini, didapatkan penurunan

kecepatan aliran darah arteri mesenterika superior dan penurunan kecepatan aliran

darah pada aksis coeliaca.

Penelitian Kempley dkk menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan

mengenai peningkatan kecepatan aliran darah pada aksis coeliaca antara kedua

kelompok neonatus yang beresiko tinggi dengan neonatus normal, dengan

menyingkirkan semua subjek yang memiliki berat lahir rendah. Adanya infeksi

dapat menstimulasi terjadinya hiperemia splanknikus pada neonatus. Peningkatan

kecepatan aliran darah pada aksis coeliaca dapat mengakibatkan peningkatan

aktivitas kardiovaskuler tergantung dari seberapa beratnya infeksi pada neonatus.

Meskipun penurunan indeks resistensi vaskuler, sangatlah mungkin menunjukkan

peningkatan kebutuhan oksigen, namun aliran darah di dalam usus tidak

mengalami peningkatan (Dave, 2009; Kempley, 2000).

Traktus gastrointestinal merupakan organ yang rentan terkena efek

(38)

langkah penting untuk memperbaiki kekurangan ini. Obat-obatan inotropik

dengan efek dilatasi telah diketahui dapat meningkatkan perfusi splanknik dan

oksigenasi (Setiati, 2009). Pada kondisi seperti NEC telah terbukti berkaitan

dengan peningkatan kecapatan aliran darah arteri mesenterika superior (Kempley,

2000).

Pengobatan jangka pendek tujuannya adalah untuk mengoptimalkan

perfusi dan distribusi oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh dalam upaya

meningkatkan dan mencegah gangguan metabolisme sel-sel yang dihasilkan oleh

hipoperfusi serta untuk mendukung fungsi organ dalam memperthankan

homeostasis. Sepsis berkaitan dengan hipodinamik serta vasokonstriktor, sehingga

lebih responsif terhadap terapi vasodilator dan inotropik (Rosentiel, 200; Rivers,

2001).

C. Residu lambung

Aspirasi lambung merupakan suatu prosedur untuk penilaian terhadap toleransi

asupan di mana lambung dihisap melalui selang nasogastrik atau orogastrik. Pada

neonatus, penilaian toleransi asupan (minum) didasarkan pada pengukuran

volume residu lambung preprandial (sebelum pemberian asupan) sebagai marker

yang signifikan dan objektif untuk mengevaluasi adanya intoleransi asupan

(Walter, 2002; Fletcher, 1994).

Ada beberapa definisi intoleransi asupan berdasarkan peningkatan volume

residu lambung baik dinamis maupun menetap yang telah banyak digunakan.

(39)

volume mencapai lebih dari 30 % dari total formula yang diberikan 3 sampai 4

jam sebelum aspirasi lambung, dan memerlukan evaluasi lebih lanjut (Dollberg,

2000). Prosedur ini biasanya dilaksanakan setiap sebelum menyusui untuk

menentukan apakah pemberian formula sebelumnya dapat ditoleransi dan dicerna

dengan baik, untuk mengetahui adanya intoleransi minum (Gomella, 2004).

Aspirasi lambung yang normal pada neonatus adalah jika didapatkan kurang dari

20% dari volume formula yang diberikan 3-4 jam sebelum pengukuran, berupa

formula tak tercerna berwarna susu. (Gomella, 2004; Dollberg, 2000).

Intoleransi asupan (minum) dinyatakan dengan peningkatan volume residu

lambung dinamis yakni lebih dari 20 % dari volume asupan yang telah diberikan 4

jam sebelumnya (Dollberg, 1999), lebih dari 50 % dari volume asupan yang

diberikan 3 jam sebelumnya (Rayyis, 1999; Dollberg, 2000), pada pengukuran

volume residu lambung setiap 3 jam. Definisi yang banyak digunakan untuk

menyatakan intoleransi asupan adalah adanya volume residu lambung ≥ 2 ml

formula tak tercerna (undigested formula), volume residu gaster ≥ 2 ml berwarna

hijau-empedu (billious residual) ataupun volume residu gaster ≥ 3 ml berwarna

hijau. Tidak ada dari berbagai definisi tersebut yang dianggap lebih baik

dibanding yang lainnya pada suatu studi uji klinis (Silvestre, 1996).

Karakteristik dari jenis dan volume aspirasi lambung dapat memberikan

petunjuk klinis sebagai gejala yang penting mengenai adanya penyebab masalah

pada neonatus (Gomella, 2004):

1. Residu lambung warna hijau-empedu (bilious in colour)

(40)

Biasanya mengindikasikan suatu obstruksi dari lesi usus yang berlokasi

pada distal ampulla Vateri. Tipe residu ini menunjukkan masalah yang

serius, terutama bila terjadi dalam 72 jam pertama setelah kelahiran.

a. Obstruksi usus

Suatu studi mengemukakan bahwa 30% dari neonatus dengan

residu lambung berwarna hijau-empedu yang didapatkan pada usia

72 jam pertama setelah kelahiran mengalami obstruksi, yang mana

20% dari neonatus tersebut membutuhkan terapi pembedahan.

b. Necrotizing Enterocolitis (NEC)

Terjadi paling sering pada neonatus kurang bulan, hanya 10%

terjadi pada neonatus cukup bulan.

c. Meconium plug

d. Penyakit Hirschprung

e. Malrotasi usus

f. Volvulus

g. Ileus

h. Gangguan pasase usus

2. Residu lambung bukan warna hijau-empedu (non bilious in color)

Formula minum yang tercerna maupun yang tidak tercerna dapat terlihat

pada pemeriksaan aspirasi lambung jika pemberian minum dilaksanakan

terlalu agresif. Hal ini sering dijimpai terutama pada neonatus kurang

bulan dengan berat badan lahir rendah yang diberi formula dalam jumlah

(41)

berikutnya dengan jumlah yang lebih besar dalam waktu yang terlalu

cepat.

a. Aspirasi lambung berupa formula tak tercerna (undigested

formula) dapat sering dijumpai pada neonatus, jika interval atau

rentang waktu antara pemberian minum terlalu pendek.

b. Aspirasi lambung berupa formula tercerna (digested formula) dapat

merupakan suatu gejala keterlambatan waktu pengosongan

lambung atau volume pemberian formula yang terlalu banyak,

dapat pula oleh karena osmolaritas formula yang meningkat

dengan penambahan vitamin didalamnya.

c. Necrotizing Enterocolitis (NEC)

d. Stenosis pilorus

e. Striktur post-NEC

f. Infeksi

g. Gangguan metabolism pada neonatus

h. Konstipasi

Serinng terjadi terutama jika abdomen tampak penuh, namun

secara klinis dengan palpasi teraba supel, serta tak adanya tinja

dalam kurun waktu 48 hingga 72 jam setelah kelahiran.

i. Sindrom adrenogenital

j. Hipoplasi adrenal

k. Intoleransi formula

(42)

Beberapa neonatus mengalami intoleransi karbohidrat yang pada

umumnya memiliki proporsi utama dalam berbagai formula. Jika

neonatus mendapatkan formula yang mengandung laktosa

seharusnya dilakukan pemeriksaan pH tinja untuk mengetahui

adanya intoleransi laktosa. Jika pH tinja asam < 5,0, maka

dinyatakan sebagai intoleransi laktosa, didukung dengan adanya

riwayat intoleransi susu pada keluarga, namun gejala klinis diare

lebih sering didapatkan daripada aspirasi lambung.

3. Residu lambung warna cokelat-darah (bloody in colour)

Sering didapatkan pada berbagai penyakit seperti :

a. Trauma oleh karena intubasi selang nasogastrik

b. Manifestasi darah ibu

c. Gangguan perdarahan, antara lain defisiensi vitamin K, DIC

(Disseminated Intravascular Coagulation), dan penyakit koagulasi

congenital yang lain.

d. Ulkus lambung

e. Asfiksia fetal berat

f. Necrotizing Enterocolitis (NEC)

g. Medikasi

Beberapa obat diketahui dapat mengakibatkan perdarahan

lambung, antara lain tolazoline, indometacin dan kortikosteroid.

Penilaian volume aspirasi lambung lebih dari 20% total formula yang diberikan

(43)

berbagai hal. Diperlukan pemeriksaan yang teliti baik secara klinis maupun

dengan pemeriksaan penunjang (Walter, 2002; Fletcher, 1994).

Pada pemeriksaan fisik, perlu diperhatikan secara khusus pada

pemeriksaan abdomen. Menilai ada atau tidaknya distensi abdomen dan eritema

pada kulit abdomen (secara signifikan menunjukkan gejala peritonitis), menilai

peristaltik usus, dimana tidak adanya suara peristaltik usus dapat menunjukkan

gejala ileus atau peritonitis), serta menilai ada tidaknya hernia, karena dapat

menyebabkan gangguan obstruksi usus (Gomella, 2004).

Pada pemeriksaan laboratorium, diperlukan pemeriksaan darah rutin

beserta hitung jenis untuk mengevaluasi adanya sepsis, serta pemeriksaan

hematokrit dan trombosit bila terjadi perdarahan. Kultur darah disertakan pula

untuk mendukung diagnosis sepsis, dan dilakukan sebelum pemberian antibiotik.

Pemeriksaan kalium untuk mendukung ada atau tidaknya ileus, serta

menyingkirkan hipokalemia sebagai penyebab kembung pada neonatus. Tinja

penting pula untuk diperiksa, khususnya pH tinja, untuk menyingkirkan adanya

intoleransi laktosa (yang ditunjukkan dengan pH tinja asam < 5,0). Adanya

ganggua koagulasi dapat memegang peranan sebagai etiologi terjadinya residu

lambung, terutama residu darah-cokelat (bloody in colour), maka perlu diperiksa

faktor-faktor pembekuan yakni Prothrombin Time (PT), Partial Thromboplastin

Time (PTT), fibrinogen dan trombosit.

Pemeriksaan penunjang lain adalah pencitraan atau radiologi berupa foto

polos abdomen. Pemeriksaan ini mutlak dilaksanakan jika secara klinis terdapat

(44)

pada pemeriksaan fisik abdomen, atau jika terjadi aspirasi lambung terus menerus.

Foto polos abdomen ini menunjukkan apakah selang nasogastrik berada dalam

posisi yang benar dan akan memberikan gambaran pola gas dalam usus. Perlu

dilacak pula adanya kelainan gambaran pola gas dalam usus, pneumatosis

intestinalis, ileus atau adanya obstruksi usus serta gambaran air-udara (air fluid

level). Penting pula untuk menilai foto polos abdomen posisi dekubitus lateral kiri

karena suatu perforasi sering tidak terlihat pada foto polos anteroposterior.

Endoskopi dapat pula dilakukan untuk menyingkirkan adanya ulkus lambung

(Gomella, 2004).

C.1. Gangguan peristaltik saluran pencernaan

Gerakan peristaltik terjadi oleh karena kemampuan motilitas usus yang sudah

matur melibatkan interaksi antara koordinasi dari sel-sel saraf pada usus, otot

polos gastrointestinal dan sel-sel interstisial Cajal (Burns, 2009).

Berbagai aspek mengenai fungsi motorik saluran pencernaan masih

menjadi masalah yang kompleks berkaitan dengan intoleransi asupan pada bayi

dengan berat badan lahir rendah. Gangguan motilitas usus sering terjadi pada

neonatus pada usia gestasi kurang dari 34 minggu oleh karena koordinasi antara

reflek menghisap dan menelan biasanya belum umur kehamilan 34 minggu.

Molilitas usus halus kurang terkoordinasi dengan baik pada neonatus

kurang bulan dibandingkan dengan neonatus cukup bulan. Hal ini disebabkan oleh

imaturitas intrinsik dari sistem saraf usus, menyebabkan pertumbuhan bakteri

berlebihan sehingga terjadi distensi sebagai akibat dari produk gas fermentasi

(45)

terhadap lingkungan usus dimana berkaitan dengan interaksi terhadap nutrisi,

pertahanan host imatur dan faktor lain yang menginisiasi kaskade translokasi

mikroba atau produk toksin melalui sawar mukosa usus yang imatur, yang

kesemuanya berperan dalam kaskade proses inflamasi (Neu, 2007).

Proses adaptasi penting dari traktus gastrointestinal pada lingkungan

ekstrauterin beberapa saat setelah kelahiran adalah berkembangnya sawar mukosa

usus yang dapat melawan penetrasi dari fragmen – fragmen protein. Sebagai

mekanisme pertahanan diri terhadap invasi kuman atau benda asing yang

berbahaya melewati sawar mukosa usus, permukaan mukosa lumen usus pada

neonatus harus berkembang dengan baik untuk mengontrol dan memelihara epitel

usus sebagai sawar yang tidak permeabel terhadap antigen makromolekuler

(Riezzo, 2009).

Intoleransi asupan enteral pada neonatus pada minggu pertama setelah

lahir, merupakan masalah yang kompleks, terutama pada neonatus kurang bulan,

hal ini berkaitan erat dengan pola pematangan sluran pencernaan. Mekanisme

pertahanan pada sistem gastrointestinal meliputi sistem imunologi lokal terhadap

fungsi dalam lingkungan usus yang kompleks sebagaimana proses non-imunologi

seperti sawar lambung (gastric barrier), sekresi pada permukaan usus, gerakan

perisaltik, dan sebagainya yang semuanya berkaitan dengan perlindungan

maksimum pada traktus gastrointestinal. Selama periode post natal, terutama pada

neonatus kurang bulan dan kurang untuk masa kehamilan, perkembangan sistem

pertahanan tubuh lokal belum sempurna. Sebagai akibat dari keterlambatan

(46)

maturitas dari sawar mukosa, bayi baru lahir rentan untuk terkena infeksi oleh

karena adanya substansi intralumen yang patologis (Piena, 2001; Riezzo, 2009).

Cheung dkk mengamati respon kecepatan aliran arteri mesenterika

superior pada saat fase diastolik terhadap pemberian minum yang dilaporkan pada

neonatus dengan patent ductus arteriosus (PDA) post shunting. Studi ini secara

bermakna menunjukkan tahanan vaskuler mesenterika yang relatif lebih rendah,

baik preprandial maupun post prandial sebagai mekanisme adaptasi untuk

melindungi usus dari keadaan iskemik. Pada neonatus dengan sepsis, terjadi

penurunan sirkulasi splanknikus menunjukkan instabilitas kardiovaskuler yang

berdampak terhadap terjadinya hipoperfusi pada usus oleh karena distribusi

oksigen yang kurang adekuat (Kempley, 2000).

Pemberian asupan secara enteral bermakna meningkatkan kecepatan aliran

darah pada arteri mesenterika superior yang mencapai puncaknya pada waktu 30

sampai 45 menit postprandial (Coombs, 1992; Cheung, 2003). Selain itu,

pemantauan pemberian asupan secara enteral dapat digunakan untuk

mengevaluasi adanya perubahan pada perfusi splanknik. Peningkatan kecepatan

aliran darah splanknik pada neonatus sehat maupun terinfeksi tidak terlepas dari

proses vasodilatasi usus sebagai respon terhadap adanya penurunan tahanan

vaskuler mesenterika. (Coombs, 1992; Martinussen, 1994; Pezzati, 2000).

C.2. Pengosongan lambung

Telah diketahui bahwa pematangan fungsional saluran gastrointestinal sangat

berbeda dari waktu ke waktu sehubungan dengan perkembangan anatominya

(47)

enzim pencernaan dicapai pada saat akhir kehamilan dan aktivitas lactase pada

saat usia gestasi 34 minggu hanya mencapai 30% pada neonatus cukup bulan

(Lebenthal, 1999). Sampai kini, hanya sedikit data yang menyatakan tentang

perkembangan fungsi motilitas usus dan sawar mukosa pada bayi baru lahir.

(Riezzo, 2009).

Untuk mengevaluasi fungsi motilitas saluran pencernaan dapat dinyatakan

dengan pengukuran aktivitas elektrik lambung, pada pergerakan dinding lambung

dan lamanya waktu pengosongan lambung. Metode yang sampai saat ini

dipercaya untuk mengetahui fungsi motilitas lambung adalah cutaneus

electrogastrography (EGG) (Familoni, 1991). Studi EGG pada bayi baru lahir

menunjukkan tidak adanya gelombang normal saat lahir dan proses pematangan

atau maturasi yang dimodulasi oleh asupan enteral (Chen, 1997; Koch, 1993;

Liang, 1998; Riezzo, 2000). Pengosongan lambung dapat dinyatakan dengan

ultrasonografi yang dianggap sebagai teknik yang non invasif pada neonatus

(Riezzo, 2009).

Integritas fungsional sawar mukosa usus sebagian bergantung pada

interaksi sel mukosa yang saling berdekatan. Metode yang paling terpercaya

sampai sekarang untuk mempelajari fungsi integritas usus adalah uji absorbsi

gula atau sugar absorbtion test (SAT) pada orang dewasa maupun neonatus, baik

kurang bulan maupun cukup bulan (Shulman, 1998; Catassi, 1995). Beberapa

proses penting yang mempengaruhi permeabilitas mukosa usus, terjadi pada saat

periode neonatus, ketika sawar mukosa belum sempurna. Koordinasi fungsi

(48)

transportasi usus, penyerapan dan pemeliharaan ekologi bakteri usus. Terjadinya

keterlambatan waktu peristaltik usus dapat terjadi karena peningkatan

permeabilitas mukosa yang dapat difasilitasi oleh translokasi bakteri pada keadaan

sepsis (Gunningham, 1991; Valori, 1992; Riezzo, 2009).

Riezzo dkk meneliti aktivitas elektrik lambung, waktu pengosongan

lambung dan permeabilitas usus pada saat hari ke-3, 7, 15 dan 30 setelah lahir

untuk mengevaluasi perubahan pada waktu motilitas dan permeabilitas mukosa

usus dalam upaya menganalisis perbedaan fisiologi seiring dengan usia setelah

kelahiran. Pada bayi baru lahir, aktivitas elektrik lambung cukup stabil dengan

sedikit perbedaan dalam rasio dan pengosongan lambung pada saat hari-hari

dilakukannya pemeriksaan. Sebaliknya, permeabilitas usus semakin menunjukkan

perbaikan pada minggu pertama setelah kelahiran. Studi ini menyimpulkan bahwa

bayi baru lahir kurang bulan yang dalam kondisi sehat, menunjukkan pematangan

elektrogastrografi dan pengosongan lambung serta secara cepat mengalami

perbaikan dalam permeabilitas usus (Riezzo, 2001; Riezzo, 2003; Riezzo, 2009).

Perubahan permeabilitas usus dapat menyebabkan translokasi bakteri dan

komplikasi sepsis pada neonatus, namun tidak ada kajian berbasis bukti untuk

mendukung pernyataan ini (O’Boyle, 1999; Kanwar, 2000). Permeabilitas usus

menurun secara cepat pada neonatus yang mendapatkan ASI (air susu ibu)

dibandingkan dengan neonatus yang mendapatkan formula yang dihidrolisa

(Catassi, 1995; Riezzo, 2009), namun secara keseluruhan, baik penurunan

maupun peningkatan permeabilitas usus selama bulan pertama kehidupan telah

(49)

Imaturitas usus didapatkan pada neonatus dengan usia gestasi kurang dari

34 minggu, namun dapat terjadi pada usia yang lebih matang. Imaturitas usus

dapat menjelaskan terganggunya proses koordinasi gastroduodenal dan aktivitas

motorik usus yang berkaitan dengan pengosongan lambung, refluks

duodenogastrik dan hipomotilitas gastroduodenal (Daniel, 1999; Jadcheria, 2002).

Pada neonatus kurang bulan, inisiasi pemberian asupan secara enteral akan

merangsang peningkatan fungsi sawar usus (Corpeleijn, 2008) dan menunjukkan

fungsi permeabilitas usus yang lebih tinggi pada saat usia 2 sampai 6 hari setelah

lahir serta tidak terpengaruh oleh berat badan lahir maupun usia gestasi (Elburg,

2003).

C.3. Hubungan sistem saluran pencernaan dengan sepsis neonatus

Perkembangan sistem pencernaan terjadi pada awal minggu keempat usia gestasi.

Sistem pembuluh darah mesenterika berkembang seiring dengan perkembangan

usus. Pengaturan dari aliran darah mesenterika terjadi di tingkat arteriola dan

prekapiler. Neonatus mempunyai tahanan pembuluh darah usus yang lebih rendah

daripada fetus (Crissinger, 1992; Martinussen, 1996). Maka dari itu, aliran darah

mesenterika lebih besar pada neonatus daripada fetus sampai minggu kedua

bahkan minggu keempat setelah lahir, saat tahanan usus meningkat sebagai respon

menurunnya aliran darah dan pasokan oksigen (Myung, 2008).

(50)

Gambabar 6. Embriologi lambung dan sistem mesenterika

(Corpeleijn, 2008)

Gambar 7. Embriologi saluran pencernaan

(Corpeleijn, 2008)

ika

(51)

D. Kerangka konsep

LCOS = Low cardiac output syndrome takikardi

Penurunan kecepatan puncak kontraksi ventrikel kiri

(52)

Dari kerangka konsep diatas dapat dijelaskan bahwa sepsis yang terjadi pada

neonatus dapat menyebabkan gangguan fungsi sistolik dan diastolik jantung

melalui mekanisme kerusakan DNA, nekrosis, apoptosis serta peningkatan

permeabilitas membran miosit yang mengakibatkan gangguan kinerja ventrikel

kiri (Rudiger, 2007). Selain itu, gejala klinis sepsis, seperti adanya demam akan

menyebabkan takikardi dan hipertrofi otot ventrikel kiri yang berakibat gangguan

fungsi sistolik. Kesemuanya berdampak menjadi sindroma penurunan curah

jantung yang akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke sistemik, termasuk

aorta abdominalis beserta percabangannya, secara khusus terjadi penurunan aliran

darah pada sistem splanknikus dan mesenterika yang berakibat iskemia organ

saluran pencernaan dan berdampak terjadinya gangguan motilitas usus, penurunan

fungsi peristaltik, gangguan metabolisme enzim pencernaan serta keterlambatan

waktu pengosongan lambung yang bermanifestasi sebagai adanya peningkatan

residu lambung (Corpeleijn, 2008). Selain itu, faktor yang mempengaruhi adanya

peningkatan residu lambung antara lain prematuritas, adanya kelainan kongenital

saluran pencernaan dan NecrotizingEnterocolitis (NEC).

E. Hipotesis

Terdapat hubungan antara residu lambung dengan gangguan fungsi jantung pada

sepsis neonatus.

(53)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian potong-lintang (cross-sectional study) untuk

menelaah hubungan antara residu lambung dengan adanya gangguan fungsi

jantung pada neonatus berisiko sepsis.

B. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di ruang perawatan bayi risiko tinggi, HCU (high care

unit) neonatus bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNS – RSUD Dr. Moewardi

antara bulan Juli-November 2010.

C. Populasi

1. Populasi target pada penelitian ini adalah semua neonatus berisiko sepsis.

2. Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah semua neonatus berisiko

sepsis yang dirawat di ruang HCU-neonatus RSUD Dr. Moewardi Surakarta

antara Juli 2010-Desember 2010.

(54)

D. Sampel dan Cara Pemilihan Sampel

Sampel diperoleh dengan cara pencuplikan kuota.

D.1. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi meliputi :

1. Semua neonatus berisiko sepsis

2. Dirawat di ruang HCU-neonatus RSUD Dr. Moewardi.

3. Mendapatkan nutrisi enteral.

4. Manifestasi klinis residu lambung pada selang nasogastrik

5. Orangtua/wali menandatangani informed consent penelitian.

D.2. Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi :

1. Penyakit jantung bawaan

2. Hipertrofi ventrikel

3. Kelainan kongenital saluran pencernaan

4. Tidak ada residu sama sekali

5. Orangtua/wali menolak menandatangani informed consent penelitian.

E. Besar Sampel

Ukurn sampel dihitung berdasarkan analisis multivariat jumlah sampel yang

dianggap memadai berkisar antara 15 hingga 20 kali jumlah variabel bebas (Murti

B, 2010). Variabel bebas pada penelitian ini ada 3 yaitu : gangguan fungsi

jantung, Necrotizing Enterocolitis (NEC) dan prematuritas. Jumlah sampel yang

(55)

F. Identifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel tergantung adalah residu lambung

2. Variabel bebas adalah gangguan fungsi jantung

3. Variabel perancu yang dinilai adalah Necrotizing Enterocolitis (NEC) dan

prematuritas.

G. Definisi Operasional Variabel dan Cara Pengukuran

G.1. Residu lambung

Interpretasi residu lambung pada neonatus dianggap tidak normal apabila

volume residu lambung mencapai lebih dari 30 % dari total formula yang

diberikan 3 sampai 4 jam sebelum dilakukan aspirasi lambung (Dollberg, 2000).

Prosedur ini biasanya dilaksanakan setiap kali sebelum menyusui untuk

menentukan apakah pemberian formula sebelumnya dapat ditoleransi dan dicerna

dengan baik, untuk mengetahui adanya intoleransi minum (Gomella, 2004).

Aspirasi lambung yang normal pada neonatus adalah jika didapatkan kurang dari

20% dari volume formula yang diberikan 3-4 jam sebelum pengukuran, berupa

formula tak tercerna berwarna susu, terutama banyak didapatkan pada neonatus

kurang bulan. (Gomella, 2004; Dollberg, 2000).

Cara untuk mengevaluasi pemberian minum setiap 4 jam adalah dengan

aspirasi lambung melalui selang orogastrik atau nasogastrik menggunakan spuit.

Dilakukan oleh perawat ruang HCU-neonatus RSUD Dr. Moewardi dan dicatat

dalam formulir pemantauan mengenai jenis dan volumenya dan diambil

(56)

ratanya selama pengamatan 2 x 24 jam. Jika jumlah volume lebih dari 20% dari

total formula yang diberikan maka dinyatakan positif (Gomella, 2004).

G.2. Gangguan fungsi jantung

Gangguan fungsi jantung yang dinilai adalah fungsi sistolik dan diastolik

ventrikel kiri yang mencerminkan aliran darah sistemik. Fungsi sistolik ventrikel

kiri dapat dinilai dengan mengukur persentase pemendekan diameter ventrikel kiri

selama sistolik (FS) dan fraksi ejeksi (EF). Nilai normal persentase pemendekan

diameter ventrikel kiri selama sistolik (FS) berkisar antara 28% - 44% dengan

rata-rata 36%. Sedangkan nilai normal fraksi ejeksi (EF) berkisar antara 56% -

78% dengan rata-rata 66%. Fungsi sistolik dinyatakan terganggu pada penelitian

ini apabila didapatkan hasil penurunan persentase pemendekan diameter ventrikel

kiri selama sistolik (FS) sebesar ≤ 30% dan peningkatan fraksi ejeksi (EF)

sebesar ≥ 80% (Myung, 2008).

Gangguan fungsi diastolik ventrikel kiri diketahui dengan mengukur

kecepatan maksimal pengisian ventrikel kiri pada saat awal diastolik (E),

kecepatan maksimal pengisian ventrikel pada saat kontraksi atrium (A), keduanya

dengan besaran m/sec, serta kecepatan rasio maksimal pengisian awal dan akhir

(E/A). Fungsi diastolik ventrikel dinyatakan terganggu pada penelitian ini apabila

didapatkan hasil rasio E/A ≤ 1. Pada sepsis neonatus, sebagai karakteristik adanya

gangguan fungsi diastolik ditunjukkan oleh ketinggian konstan waktu relaksasi

ventrikel kiri, yang tampak jelas pada sepsis hari pertama, ketiga dan ketujuh

(Sharma, 2007; Myung, 2008). Gangguan fungsi jantung dinyatakan positif,

Gambar

Tabel 2.2. Gambaran klinis sepsis neonatal............................................................
Gambar 4. Peredaran darah pada sistem saluran pencernaan................................
Tabel 2.1. Pengelompokan faktor risiko sepsis
Gambar 1. Patogenesis sepsis (Steve, 2006) commit to user
+7

Referensi

Dokumen terkait

pada jam ke- 24 tidak terdapat ekstrak buah sukun yang meningkatkan volume urin kumulatif dari.

Adalah suhu tubuh kurang dari 36,5 ºC pada pengukuran suhu melalui ketiak. Hipotermi sering terjadi pada neonatus terutama BBLR karena pusat pengaturan suhu tubuh bayi belum

NCB KMK (Neonatus cukup bulan – kecil untuk masa kehamilan) adalah bayi yang lahir cukup bulan dengan berat badan lahir kurang dari normal.. Selain itu, BBLR dibagi

Dari hasil pengukuran dan analisa didapatkan bahwa, untuk signal pengukuran dimana nilai RSL dan SNR sebelum menggunakan antenna nilainya kecil setelah menggunakan

Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan refleks menghisap dan menelan yang belum sempurna, distensi abdomen, volume lambung berkurang, daya untuk

Pengukuran kapasitas vital yang didapat pada ekspirasi yang dilakukan secepat dan sekuat mungkin. Volume udara ini dalam keadaan normal nilainya kurang lebih sama dengan

menganggur (jumlah jam kerja kurang dari jam kerja normal) dan mereka yang bekerja pada lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan

30, syarat sediaan lepas tunda (delayed release) adalah jumlah obat yang terlepas di cairan lambung buatan tidak lebih dari 10% selama 2 jam dan tidak kurang