• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh EKA FITRIANI /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh EKA FITRIANI /IKM"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PAPARAN PORNOGRAFI MELALUI MEDIA INTERNET

TERHADAP PERILAKU SEKSUAL REMAJA SMK NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN

TAHUN 2015

TESIS

Oleh

EKA FITRIANI 137032158/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2016

(2)

PENGARUH PAPARAN PORNOGRAFI MELALUI MEDIA INTERNET

TERHADAP PERILAKU SEKSUAL REMAJA

SMK NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN TAHUN 2015

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Kesehatan Reproduksi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

EKA FITRIANI 137032158/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2016

(3)
(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 11 Februari 2016

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D Anggota : 1. Dra Syarifah, M.S

2. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M 3. Drs. Eddy Syahrial, M.S

(5)

PERNYATAAN

PENGARUH PAPARAN PORNOGRAFI MELALUI MEDIA INTERNET

TERHADAP PERILAKU SEKSUAL REMAJA SMK NEGERI 1 PERCUT SEI TUAN

TAHUN 2015

T E S I S

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, April 2016

(Eka Fitriani)

137032158/IKM

(6)

ABSTRAK

Pornografi merupakan masalah lama yang belum dapat ditanggulangi oleh ketentuan-ketentuan yang ada terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan berlaku di Indonesia. Banyak remaja yang terjerumus dalam perilaku seksual yang tidak sehat disebabkan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh paparan pornografi melalui media internet terhadap perilaku seksual pada remaja SMK Negeri 1 Percut sei Tuan Tahun 2015.

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi adalah seluruh siswa kelas II SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan sebanyak 549 orang. Sampel berjumlah 114 orang yang dilakukan dengan metode simple random sampling. Analisis data meliputi tahapan yaitu analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariate dengan uji regresi logistik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan pornografi berpengaruh terhadap perilaku seks dengan p<0,001 dan nilai Exp B= 27,696 artinya bahwa siswa yang terpapar pornografi berpeluang untuk berperilaku seks berat 27,696 kali lebih besar dibanding dengan siswa yang tidak terpapar pornografi.

Diharapkan Sekolah SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan hendaknya melaksanakan KRR (Kesehatan Reproduksi Remaja). Mengawasi perilaku siswa yang tidak menaati peraturan sekolah. Siswa agar lebih mengutamakan belajar dan menggunakan internet sebagai media untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dibandingkan mengakses hal- hal yang negatif.

Kata Kunci: Paparan Pornografi, Media Internet, Perilaku Seksual

(7)

ABSTRACT

Pornography is an old problem which has not been solved by the regulations in the Criminal Code in Indonesia. Many teenagers have fallen into the unhealthy sexual behavior because they lack of knowledge of reproduction health. The objective of this research is to analyze the influence of the exposure to pornography in internet on teenagers‟ sexual behavior at SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan, in 2015.

The research type is an observational research with cross-sectional approach.

The population was all 549 Grade II students at SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan, and 114 of them were used as the samples, taken by using simple random sampling technique. The analysis included univariat analysis, bivariat analysis, and multivariate analysis with logistic-regression test.

The results showed that the exposure to pornography influenced sexual behavior at p<0.001 and Exp β = 27.696 which indicated that the students who were exposed to pornography had 27.696 times bigger chances to have unhealthy behavior than the students who were not exposed to pornography.

It is suggested that grade II students at SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan carry out KRR (Teenager Reproduction Health), that SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan supervise the students who disobey the school regulations, that Grade II students at SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan prioritize their studies and use the internet more as the media to improve their knowledge than to access the negative things.

Keywords: Exposure to Pornography, Media of Internet, Sexual Behavior

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat serta pertolonganNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Pengaruh Paparan Pornografi Melalui Medai Internet Terhadap Perilaku Seksual Remaja SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan Tahun Tahun 2015”

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Reproduksi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan tesis ini, penulis mendapat bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah membimbing kami dan memberikan masukan serta saran dalam penyelesaian tesis ini.

(9)

4. dr. Rahayu Lubis, M.Kes, Ph.D dan Dra. Syarifah, M.S selaku Komisi Pembimbing yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari pengajuan judul hingga penulisan tesis ini selesai.

5. Dr. Drs. R.Kintoko Rochadi, M.K.M dan Drs. Eddy Syahrial, M.S selaku Komisi Penguji yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan penulisan tesis ini.

6. Kasni, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan beserta staf pegawai yang telah membantu melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan dalam penelitian.

7. Para Dosen dan Staf di Lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

8. Ucapan terima kasih yang tulus saya tujukan kepada Ayahanda Suparno dan Ibunda Sabaria serta keluarga besar yang telah memberikan dukungan moril serta doa dan motivasi selama penulis menjalani pendidikan.

9. Teman-teman seperjuangan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, atas bantuannya dan memberikan semangat dalam penyusunan tesis ini.

10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam proses penyelesaian tesis ini.

(10)

Akhirnya saya menyadari segala keterbatasan yang ada. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini, dengan harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Medan, April 2016 Penulis

Eka Fitriani 137032158/IKM

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Eka Fitriani, lahir pada tanggal 09 Agustus 1990 di Klinik BKIA Medan, beragama Islam, bertempat tinggal di Jalan Bejo Gg.Famili Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kota Medan. Penulis merupakan anak dari pasangan ayahanda Suparno dan ibunda Sabaria, anak pertama dari tiga bersaudara.

Jenjang pendidikan formal penulis dimulai dari SD Negeri No.106807 Medan (1996-2002), MTs Swasta Islam Azizi Medan (2003-2005), SMA Bandung (2006- 2008), D3 Kebidanan STIKes Flora Medan (2008-2011), D-IV Bidan Pendidik STIKes R.S.Haji Medan (2011-2012) dan tahun 2013-2016 penulis menempuh pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat minat studi Kesehatan Reproduksi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Penulis bekerja sebagai Dosen di Akademi Kebidanan Audi Husada Medan, pada tahun 2015, untuk saat ini penulis sudah tidak bekerja.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Hipotesis ... 8

1.5 Manfaat Penelitian ... 8

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1 Paparan Pornografi Melalui Media Massa ... 10

2.1.1 Jenis-jenis Media Pornografi ... 10

2.1.2 Ragam Pornografi ... 12

2.1.3 Situs Porno ... 12

2.2 Media Internet ... 14

2.3 Konsep Dasar Remaja ... 16

2.3.1 Ciri-Ciri Masa Remaja ... 17

2.3.2 Karakteristik Remaja Berdasarkan Umur ... 18

2.3.3 Perkembangan Fisik Pada Remaja ... 18

2.3.4 Perkembangan Psikologis ... 20

2.4 Perilaku Seksual Remaja ... 21

2.4.1 Perilaku Seksual Remaja ... 23

2.4.2 Perkembangan Perilaku Seksual Remaja ... 26

2.4.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Seksual Remaja ... 27

2.4.4 Dampak Perilaku Seksual Remaja ... 28

(13)

2.4.5 Cara Mengatasi Perilaku Seksual Remaja ... 30

2.5 Pengaruh Paparan Pornografi Melalui Media Massa Terhadap Perilaku Seksual ... 31

2.5.1 Frekuensi ... 31

2.5.2 Durasi ... 32

2.5.3 Menonton Video Porno ... 33

2.5.4 Melihat Gambar Porno ... 34

2.5.5 Membaca Cerita Porno ... 35

2.6 Landasan Teori ... 35

2.7 Kerangka Konsep ... 38

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 39

3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 39

3.2.1 Lokasi Penelitian ... 39

3.2.2 Waktul Penelitian ... 39

3.3 Populasi dan Sampel ... 40

3.3.1 Populasi Penelitian ... 40

3.3.2 Sampel Penelitian ... 40

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 42

3.4.1 Data Primer ... 42

3.4.2 Data Sekunder ... 42

3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 42

3.5 Variabel dan Definisi Operasional ... 44

3.5.1 Variabel ... 44

3.5.2 Defenisi Operasional ... 44

3.6 Metode Pengukuran ... 45

3.6.1 Variabel Dependen (Perilaku Seksual) ... 45

3.6.2 Variabel Independen (Paparan Pornografi Mellaui Media Internet ... 46

3.7 Metode Analisis Data ... 46

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 48

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 48

4.2 Karekteristik Responden ... 48

4.3 Perilaku Seks ... 49

4.4 Paparan Pornografi Melalui Media Internet ... 50

(14)

4.5 Hubungan Paparan Pornografi dengan Perilaku Seksual pada

Siswa di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan ... 52

4.6 Pengaruh Paparan Pornografi dengan Perilaku Seksual pada Siswa di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan ... 53

4.7 Hasil Wawancara ... 55

4.7.1. Perilaku Seksual ... 56

4.7.2. Paparan Pornografi Melalui Media Internet ... 66

BAB 5. PEMBAHASAN ... 69

5.1 Perilaku Seksual ... 69

5.2 Pengaruh Paparan Pornografi terhadap Perilaku Seksual Siswa SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan ... 72

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 78

6.1 Kesimpulan ... 78

6.2 Saran ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... 78 LAMPIRAN

(15)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

3.1 Besar Sampel di Setiap Kelas ... 41 3.2 Hasil Uji Validitas dan Rebialitas pada Instrumen Paparan

Pornografi ... 43 3.3 Hasil Uji Validitas dan Rebiabilitas pada Instrumen Perilaku ... 44 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik (Umur dan Jenis Kelamin) di

SMK Negeri 1 Percut Distribusi Frekuensi Sei Tuan ... 49 4.2 Distribusi Jawaban Pernyataan tentang Perilaku Seks pada Siswa

di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan... 49 4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kategori Perilaku Seks pada

Siswa di SMK Negeri 1 Percut Distribusi Frekuensi Sei Tuan ... 50 4.4 Distribusi Jawaban Pernyataan tentang Paparan Pornografi pada

Siswa di SMK Negeri 1 Percut Distribusi Frekuensi Sei Tuan ... 51 4.5 Distribusi FrekuensinBerdasarkan Kategori Paparan Pornografi

padaSiswa di SMK Negeri 1 Percut Distribusi Frekuensi Sei Tuan 52 4.6 Hubungan Paparan Pornografi dengan Perilaku Seks pada Siswa

di SMK Negeri 1 Percut Distribusi Frekuensi Sei Tuan ... 53 4.7 Hasil Analisis Multivariat dengan Uji Regresi Logistik ... 54 4.8 Nilai Probabilitas Remaja Melakukan Perilaku Seks ... 55

(16)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

2.1 Teori Stimulus-Organisme-Respons Hosland et.al (1953) dalam Notoatmodjo (2012) ... 37 2.2 Kerangka Konsep Penelitian ... 38

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1 Pernyataan Kesediaan Menjadi responden... 83

2 Kuesioner Penelitian ... 84

3 Pedoman Wawancara ... 86

4 Master Data Uji Validitas dan Reliabilitas... 88

5 Master Data ... 89

6 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 93

7 Hasil Statistik ... 96

8. Dokumentasi ... 104

8 Surat Ijin Penelitian ... 105

9 Surat Balasan Penelitian ... 106

(18)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan arus informasi dan globalisasi serta budaya kebebasan yang semakin luas pada saat ini sangat mempengaruhi dan mendorong para remaja untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang negatif, salah satu diantaranya ialah mengenai perilaku seksual yang tidak aman dikalangan remaja. Adanya dorongan seksual akibat kumulasi dari informasi yang merangsang organ dan fungsi reproduksi, disertai kurangnya pembekalan mental, moral, dan tata nilai serta etika, dapat mengakibatkan remaja aktif seksual sebelum mereka mencapai kematangan mental dan sosial.

Keadaan tersebut mendorong remaja untuk melakukan hubungan seksual diluar nikah dan lebih lanjut lagi menyebabkan timbulnya kehamilan yang tidak diinginkan serta upaya untuk melakukan aborsi (El-Hakim, 2014).

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2011, tercatat perilaku seksual di Afrika, Bangladesh, India, Nepal, Yaman, Amerika Latin dan Karibia, sebanyak 40% - 80% perempuan telah aktif dalam seksualitas pada usia 18 tahun, begitu juga di Uganda, sebanyak 4% laki-laki berusia 10 tahun mengatakan mereka sudah pernah melakukan hubungan seksual, 10% pada usia 12 tahun, 22%

pada usia 14 tahun, dan lebih dari 70% pada usia 18 tahun (Yufdel, 2012).

Pada masa remaja ternyata tidak sedikit para remaja yang melakukan hubungan seksual. Di Amerika Serikat hubungan seksual yang dilakukan oleh para

(19)

remaja ternayat mengalami peningkatan sekitar 1% pertanhunnya. Empat puluh persen dari remaja perempuan hamil sebelum tamat sekolah menengah, 50% di antaranya melakukan abortus dan sisanya melahirkan bayinya. Dampak lain yang perlu diwaspadai ialah bahaya penularan penyakit kelamin terutama HIV/AIDS yang sudah menyebar ke mana-mana (Soetjiningsih, 2010).

Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BkkbN, 2010), diketahui sebanyak 51% remaja di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah melakukan hubungan seks pranikah. Dapat diartikan dari 100 remaja putri 51 remaja putri tidak perawan lagi. Dari kota-kota besar lain juga ditemukan data remaja yang sudah melakukan hubungan seksual sebelum menikah yaitu Bandung, Surabaya, Makasar sekitar 47% hingga 54% dan Kota Medan 52%.

Pengalaman seksual pada perempuan sebesar 1,3% dan laki-laki 3,7%. Lelaki yang memiliki pengalaman seks untuk pertama kali pada usia <15 tahun sebesar 1,0%, usia 16 tahun sebesar 0,8%, usia 17 tahun sebesar 1,2%, usia 18 tahun sebesar 0,5%, usia 19 tahun sebesar 0,1%. Alasan melakukan hubungan sesksual pertama kali sebelum menikah pada remaja berusia 15-24 tahun adalah untuk perempuan alasan tertinggi adalah karena terjadi begitu saja (38,4%), dipaksa oleh pasangannya (21,2%). Sedangkan pada lelaki, alasan tertinggi ialah karena ingin tahu (51,3%), karena terjadi begitu saja (25,8%) (Wibowo, 2014). Gejala perilaku seksual pada remaja laki-laki dan perempuan usia 10-24 tahun sudah terjadi. Walaupun angkanya masih di bawah 5%, kejadian ini seharusnya dapat dicegah dengan memberikan

(20)

penyuluhan tentang kesehatan reproduksi sejak usia masih muda. Disarankan mulai anak masuk sekolah dasar penyuluhan seudah mulai diberikan (Wibowo, 2014).

Saat ini media semakin mudah untuk diakses, sehingga kehidupan remaja yang tidak bisa dilepaskan dari media dengan menonton televisi dan film, membaca majalah, mendengar musik dan radio, serta browsing internet. Sementara remaja belum paham seberapa besarnya pengaruh dari yang mereka dengar, baca dan tonton, dan media dapat mempengaruhi cara berfikir remaja hingga perilaku remaja. Rasa ingin tahu yang tinggi terhadap seks membuat para remaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasi tentang seks. Pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai, karena masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, terlebih lagi jika harus menanggung risiko dari hubungan seksual tersebut (Yufdel, 2012).

Banyak faktor yang memengaruhi remaja untuk melakukan perilaku seksual salah satunya adalah paparan media massa. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Steinberg, et al (2010) melakukan penelitian pada remaja di Amerika yang hasilnya yaitu bahwa remaja Amerika rata-rata 6-8 jam perhari terpapar dengan media yang berbau porno. Suyatno (2011) mengungkapkan 97% remaja di Jabodetabek pernah menonton atau mengakses materi pornografi melalui berbagai sumber yaitu VCD/DVD, dan situs porno. Hasil penelitian Gultom (2011), yang

(21)

dilakukan di SMA Methodist 4 Medan, diperoleh hasil perilaku seksual yang buruk pada siswa yaitu 56,8% tentang pengguna situs internet dan televisi.

Saat ini, masalah pornografi sangat memprihatinkan dan dampak negatifnya pun sangat nyata, diantaranya sering terjadi perzinahan, pemerkosaan dan bahkan pembunuhan maupun aborsi. Pornografi merupakan masalah lama yang belum dapat ditanggulangi oleh ketentuan-ketentuan yang ada yang terdapat dalam Kitab Undang- undang Hukum Pidana (KUHP) dan berlaku di Indonesia (Djubaidah, 2007).

Media masa sangat berperan penting dalam kehidupan remaja. Media yang sering digunakan adalah televisi, radio, CD, majalah dan yang saat ini digandrungi adalah internet. Sebuah studi menemukan bahwa acara TV yang paling banyak dipilih remaja adalah acara yang memiliki persentase yang tinggi memiliki interaksi yang mengandung pesan-pesan seksual. Sebuah eksperimen menemukan bahwa para remaja yang menonton 15 jam acara TV yang menayangkan relasi seksual cenderung lebih permisif. Kini semakin banyak remaja diberbagai penjuru dunia yang menggunakan internet. Antara tahun 1998 hingga 2001, persentase remaja yang menggunakan internet meningkat 51% menjadi 75%. Hasil studi juga menemukan bahwa hampir 50% remaja menggunakan internet setiap hari. Diantara remaja berusia 15-17 tahun, sepertiganya menggunakan selama 6 jam perminggu atau lebih, 24%

menggunakan selama 3-5 jam perminggu, dan 20% menghabiskan 1jam perminggu.

Hasil studi menunjukkan bahwa dari 1000 situs yang dikunjungi, 10% diantaranya berorientasi seks, 40% remaja mengunjungi situs orang dewasa. Sebuah studi yang dilakukan terhadap 1.762 remaja berusia 12-17 tahun, menemukan bahwa mereka

(22)

yang lebih banyak menonton pertunjukan TV yang menggambarkan relasi hubungan orang dewasa, walaupun member manfaat, penggunaan internet memiliki keterbatasan dan mengandung bahaya (El-Hakim, 2014).

Berdasarkan data BPS Kota Medan (2011), jumlah penduduk kota Medan pada tahun 2011 adalah 2.097.610 jiwa dan sebesar 30,29% atau 635.283 jiwa adalah remaja berusia 10-24 tahun. Banyaknya anak yang memasuki usia remaja, telah menyebabkan permasalahan kehidupan makin kompleks. Fenomena pergaulan bebas yang terjadi di masyarakat saat ini sudah cukup memprihatinkan. Banyak remaja yang terjerumus dalam perilaku seksual yang tidak sehat disebabkan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Hal ini diperjelas dari penelitian BkkbN (2010) pada remaja di Kota Medan yang telah melakukan hubungan seks pranikah sebesar 52% (Zulfikar, 2013).

Hasil penelitian BKKBN tahun 2010 di Sumatera Utara disebutkan remaja yang melakukan hubungan seks pranikah berat di Medan sebesar 52%

(Sahrasad, 2010), sedangkan data BKKBN (2012), di Sumatera Utara dari 552 remaja yang disurvei, diketahui sebanyak 86,3% remaja yang berpegangan tangan ketika berpacaran, 32,2% remaja yang melakukan cium bibir, dan sebanyak 8,2% remaja yang melakukan rabaan/rangsangan. Sebanyak 4.9% laki-laki dan 1,5% perempuan telah melakukan hubungan seksual pada saat berpacaran.

Data dari Pornography Statistic menunjukkan bahwa sebanyak 12% dari situs yang ada di internet berisi konten pornografi. Setiap detiknya ada 28.258 orang melihat situs porno dan dari semua jenis data yang diunduh di internet 35% nya

(23)

mengunduh konten yang mengandung pornografi. Data usia pengakses situs porno usia 18 - 24 tahun sebanyak 13,61 %, usia 25 - 34 tahun sebanyak 19,90 %, usia 35 - 44 tahun sebanyak 25,50 %, usia 45 - 54 tahun sebanyak 20,67 % dan usia 55 tahun ke atas sebanyak 20,32 %, serta usia rata-rata anak-anak yang pertama kali mengakses situs situs porno adalah 11 tahun (Hesarika, 2010).

Sumber informasi seks terbanyak bagi remaja adalah kelompok sebaya, sebagian kecil akurat namun sebagian besar tidak akurat dan keliru, informasi kelompok sebaya cenderung memberikan motivasi untuk melakukan seks. Penelitian Handajani (2001), bahwa sumber informasi terbanyak mengenai seks adalah dari teman (77,5%),kemudian dari media elektronik dan cetak (63,75% dan 41,25%) dan diantara responden yang mendapat informasi dari media elektronik (6,25%) mendapat informasi tersebut dari blue film (El-Hakim, 2014).

Hasil penelitian Hesarika (2010) pada remaja siswa salah satu SMA swasta di Medan mengatakan bahwa 73% responden telah terpapar hal-hal yang berkaitan dengan seks melalui media elektronik berupa televisi, video, dan internet. Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa usia pertama kali mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan pornografi adalah pada usia di atas 13 tahun sebesar 44%.

Remaja yang mempunyai pengalaman pernah membaca buku porno sebanyak 92,7%, menonton film porno sebanyak 86,2%, melalui video porno 89,1% , dan melalui internet 87,1 % (Hesarika, 2010).

SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan merupakan salah satu sekolah yang membolehkan siswa membawa laptob dan telepon genggam, dimana telepon

(24)

genggam siswa tersebut dilengkapi dengan fasilitas internet, dan sekolah menyediakan wifi yang dapat diakses oleh siswa tuntuk mempermudah siswa mengakses mata pelajaran, dan memberi ijin siswa untuk membawa laptop sebagai sarana untuk mengakses. Berdasarkan informasi dari beberapa siswa, mereka memperoleh informasi tentang seks menggunakan media cetak dan media elektronik dan siswa-siswa tersebut pernah melihat video porno didalam kelas pada saat jam pelajaran, mereka juga mengaku telah membagi-bagikan video tersebut dari teman ke teman bahkan yang lebih mengejutkan lagi pengakuan dari siswa adalah video porno tersebut diperjual belikan sesame teman.

Survei pendahuluan yang dilakukan dengan tehnik wawancara kepada salah satu guru dan beberapa siswa di SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan tentang paparan pornografi melalui media internet terhadap perilaku seksual, bahwa guru menyatakan selalu melakukan rajia HP kepada siswa tetapi tetap saja ada siswa yang kedapatan HPnya yang berisi film porno, dan siswa sering bolos sekolah untuk duduk diwarnet seperti bermain game onlaine melalui internet, mengakses situs porno dan melihat gambar-gambar seks. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik melakukan penelitian berjudul “Pengaruh Paparan Pornografi Melalui Media Internet Terhadap Perilaku Seksual Pada Remaja SMK Negeri 1 Percut sei Tuan Tahun 2015”.

1.2 Permasalahan

Bagaimana pengaruh paparan pornografi melalui media internet terhadap perilaku seksual pada remaja SMK Negeri 1 Percut sei Tuan Tahun 2015.

(25)

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh paparan pornografi melalui media internet terhadap perilaku seksual pada remaja SMK Negeri 1 Percut sei Tuan Tahun 2015.

1.4 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada pengaruh paparan pornografi melalui media internet terhadap perilaku seksual pada remaja SMK Negeri 1 Percut sei Tuan Tahun 2015.

1.5 Manfaat Penelitian

a. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi khususnya perilaku seksual remaja dan meningkatkan kemampuan penulis dalam melakukan penelitian.

b. Bagi Yayasan Pendidikan SMK Negeri 1 Percut sei Tuan Tahun 2015, hasil penelitian ini sebagai masukan dalam upaya meningkatkan pendidikan bagi remaja sebagai generasi muda dalam memanfaatkan media masa sebagai sumber informasi kesehatan yang benar termasuk memberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi, khususnya pada masalah perilaku seksual pada remaja.

c. Bagi Pemerintah dalam mengambil kebijakan mengingat ke depan Medan mengarah ke era globalisasi sehingga perlu adanya suatu usaha untuk mengantisipasi terhadap muatan perilaku seksual pada remaja dan pengaruh paparan pornografi melalui media masa.

(26)

d. Bagi pihak lain sebagai studi perbandingan untuk dijadikan pengkajian yang lebih mendalam terhadap pengaruh paparan pornografi melalui media masa terhadap perilaku seksual pada remaja SMK Negeri 1 Percut sei Tuan Tahun 2015.

(27)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Paparan Pornografi Melalui Media Masa

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui bentuk media komunikasi atau pertunjukan dimuka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat (Fokusmedia, 2009).

Menurut Abdul Qadir Djaelani (2006), Pornografi adalah bentuk kecabulan yang mempertontonkan aurat wanita atau pria seperti mempertontonkan aurat wanita atau pria seperti alat vital, buah dada, perut/pusar, pantat atau paha sehingga merangsang nafsu birahi baik dalam bentuk gambar/lukisan, tulisan, ucapan nyanyian maupun tarian/kelakuan yang digelarkan didepan umum/publik.

2.1.1 Jenis-jenis Media Pornografi

Dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 (UU Pornografi) yang dimaksud dengan jasa pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang disediakan oleh orang perseorangan atau korporasi melalui pertunjukan langsung, televisi kabel, televisi teresterial, radio, telepon, internet, dan komunikasi elektronik lainnya serta surat kabar, majalah, dan barang cetakan lainnya. Sedangkan menurut Armando (2004) jenis media yang mengandung unsur pornografi adalah:

(28)

1. Media audio (dengar) seperti siaran radio, kaset, CD, telepon, ragam media audio lain yang dapat diakses di internet: Lagu-lagu yang mengandung lirik mesum, lagu-lagu yang mengandung bunyi-bunyian atau suara-suara yang dapat diasosiasikan dengan kegiatan seksual; Program radio dimana penyiar atau pendengar berbicara dengan gaya mesum; Jasa layanan pembicaraan tentang seks melalui telepon (party line,) dan sebagainya.

2. Media audio-visual (pandang-dengar) seperti program televisi, film layar lebar, video, laser disc, VCD, DVD, game komputer, atau ragam media audio visual lainnya yang dapat diakses di internet: Film-film yang mengandung adegan seks atau menampilkan artis yang tampil dengan berpakaian minim, atau tidak (atau seolah-olah tidak) berpakaian; Adegan pertunjukan musik dimana penyanyi, musisi atau penari latar hadir dengan tampilan dan gerak yang membangkitkan syahwat penonton.

3. Media visual (pandang) seperti koran, majalah, tabloid, buku (karya sastra, novel populer, buku non-fiksi) komik, iklan billboard, lukisan, foto, atau bahkan media permainan seperti kartu:

a. Berita, cerita, atau artikel yang menggambarkan aktivitas seks secara terperinci atau yang memang dibuat dengan cara yang sedemikian rupa untuk merangsang hasrat seksual pembaca.

b. Gambar, foto adegan seks atau artis yang tampil dengan gaya yang dapat membangkitkan daya tarik seksual.

(29)

c. Iklan di media cetak yang menampilkan artis dengan gaya yang menonjolkan daya tarik seksual.

d. Fiksi atau komik yang mengisahkan atau menggambarkan adegan seks dengan cara yang sedemikian rupa sehingga membangkitkan hasrat seksual 2.1.2 Ragam pornografi

Pemerintah Amerika Serikat pernah menugaskan Komisi Meese untuk melakukan penelitian berskala nasional tentang seks di media. Dalam perkembangannya kemudian ragam pornografi secara muatan ini disederhanakan menjadi 3 jenis (Soebagijo, 2008) yaitu:

1. Softcore, biasanya hadir materi-materi pornografi berupa ketelanjangan, adegan- adegan yang mengesankan terjadinya hubungan seks (sexually suggestive scenes) dan seks simulasi (simulated sex).

2. Hardcore, di Indonesia mengenalnya sebagai triple X (X rated), materi orang dewasa (adult material), dan materi seks yang eksplisit (sexually explicit material) seperti penampilan close up alat genital dan aktivitas seksual, termasuk penetrasi.

3. Obscenity (kecabulan), bila sesuatu tersebut menyajikan materi seksualitas yang menentang secara ofensif batas-batas kesusilaan masyarakat, yang menjijikan, dan tidak memiliki nilai artistik, sastra, politik, dan saintifik.

2.1.3 Situs Porno

Situs (homepage) merupakan sebuah menu yang disajikan dalam sebuah program internet yang merupakan halaman depan dari sebuah alamat informasi.

(30)

Sedangkan porno diartikan sebagai segala sesuatu baik gambar maupun tulisan yang isinya tidak senonoh atau cabul. Jadi, situs porno adalah salah satu menu yang disajikan pada program internet berupa film (gambar bergerak dan bersuara), gambar dan tulisan yang isinya tidak senonoh atau cabul merangsang gairah seks yang mengaksesnya (Muslim, 2007).

Adapun efek yang ditimbulkan dari situs porno, yaitu: (Fadhila, 2008).

1. Dalam kegiatan belajar di sekolah, situs porno membuat turunnya konsentrasi belajar siswa, karena setelah melihat situs porno remaja jadi lebih suka berkhayal.

2. Dari segi finansial, remaja akan menghabiskan banyak waktu untuk mengakses situs porno tersebut yang secara otomatis akan meningkatkan biaya akses internet.

3. Pornografi merusak perkembangan kepribadian remaja. Jika stimulus (pendorong) awal adalah foto-foto, remaja akan terkondisikan untuk terangsang dengan foto-foto. Jika ini terjadi beberapa kali, besar kemungkinan akan menjadi permanen. Akibatnya, remaja tersebut akan tumbuh menjadi orang yang susah membangun hubungan yang normal dengan lawan jenis yang normal, tanpa pengaruh foto-foto porno.

4. Situs porno mendorong terjadinya perilaku seksual menyimpang pada remaja.

5. Pornografi di internet dapat menyebabkan tindakan criminal.

(31)

2.2. Media Internet

Media menurut Dennis McQuail (1987) dalam Nurudin (2009) merupakan sumber kekuatan, alat kontrol, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lain. Media merupakan lokasi atau norma yang semakin berperan, untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf nasional maupun internasional. Media sering kali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup, dan norma-norma. Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. Media juga menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.

Media elektronik merupakan sarana untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi informasi. Media ini dapat berupa televisi, radio, video, slide, film, internet, handphone. Media ini biasanya digunakan untuk mengakses informasi-informasi dan pengetahuan. Secara positif media ini akan memberikan muatan ilmu pengetahuan, dan secara negatif akan bermuatan materi-materi yang berbaur tentang seks.

Sumber media elektronik yang familier bagi pengguna umum antara lain adalah rekaman video, rekaman audio, presentasi multimedia. Media elektronik dapat berbentuk analog maupun digital walaupun media baru pada umumnya berbentuk digital. Contoh media elektronik yaitu televisi, radio, HP, VCD/DVD, internet.

(32)

Ciri-ciri media elektronik yaitu: menggunakan media massa dengan organisasi (lembaga media) yang jelas, komunikator memiliki keahlian tertentu, pesan searah dan umum serta melalui proses produksi dan terencana, khalayak yang dituju heterogen dan anonim, kegiatan media masa teratur dan berkesinambungan, ada pengaruh yang dikehendaki, dalam konteks sosial terjadi saling memengaruhi antara media dan kondisi masyarakat serta sebaliknya, seperti halnya media yang dapat memengaruhi remaja terutama dalam perilaku seksualnya (Febrian, 2011).

Sarwono (2011) mengatakan bahwa kecenderungan pelanggaran terhadap perilaku seksual remaja makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa dengan adanya teknologi canggih (video cassette, fotokopi, satelit, VCD, telepon genggam, internet, dan lain-lain) menjadi tak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa yang dilihat atau didengar dari media massa, khususnya karena mereka pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.

Menurut Moore et al. (1991) dalam Herring, Susan C. (1996) internet mengacu pada suatu sistem internasional yang menghubungkan komputer di seluruh penjuru dunia, lewat saluran telepon, satelit, dan sistem komunikasi lainnya guna melakukan pertukaran informasi. Internet singkatan dari Interconnection Networking.

Jaringan dari kumpulan jaringan. Diartikan sebagai sebuah jaringan komputer dalam skala global/mendunia. Jaringan komputer ini berskala internasional yang dapat membuat masing-masing komputer saling berkomunikasi. Network ini membentuk

(33)

jaringan inter-koneksi (Inter-connected network) yang terhubung melalui protokol TCP/IP. Internet dikembangkan dan diuji coba pertama kali pada tahun 1969 oleh US Department of Defense dalam proyek ARPAnet.

2.3 Konsep Dasar Remaja

Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang melibatkan berbagai perubahan, baik dalam hal fisik, kognitif, psikologis, spiritual, maupun sosial dan ekonomi. Perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja dan perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik tersebut. Salah satu contoh dari perubahan fisik yang terjadi adalah semakin matangnya organ-organ reproduksi. Kematangan biologis menyebabkan remaja memiliki dorongan-dorongan seksual.

Dalam Sarwono (2011) WHO (World Health Organization) memberikan defenisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam defenisi tersebut dikemukakan 3(tiga) kriteria, yaitu : biologis, psikologis dan sosial ekonomi.

1. Remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.

2. Remaja adalah suatu masa dimana individu mengalami perkembangan psikologis dan pola indentifikasi dari kanak-kanak menjadi ddewasa.

3. Remaja adalah suatu masa dimana terjadi peralihan dari ketergantungan sosial- ekonomi yang penuh kepada keadaan relative lebih mandiri.

(34)

2.3.1 Ciri-Ciri Masa Remaja

Masa remaja mempunyai cirri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya. Ciri-ciri tersebur akan diterangkan secara singkat dibawah ini :

a. Masa remaja sebagai periode yang penting, yaitu perubahan-perubahan yang dialami pada masa remaja akan memberikan dampak langsung terhadap sikap dan prilaku dan akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya.

b. Masa remaja sebagai periode peralihan disini dijelaskan bahwa sebuah peralihan dari suatu tahap perkembangan ke tahap berikutnya. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas akan peran yang harus dilakukan,dengan status remaja tidak jelas, keadaan ini memberi waktu padanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya.

c. Masa remaja sebagai periode perubahan, tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik,selain itu juga ada perubahan tingginya emosi, perubahan tubuh, minat dan peran, perubahan minat dan pola prilaku sertakeinginan dan kebebasan.

d. Masa remaja sebagai masa mencari identitas,

e. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan f. Masa remaja sebagai yang tidak realistikms

g. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa (Hurlock, 2012).

(35)

2.3.2 Karakteristik Remaja Berdasarkan Umur

Karakteristik remaja berdasarkan umur sebagai berikut : 1. Masa remaja awal (10-12 tahun)

a. Lebih dekat dengan teman sebaya b. Ingin bebas

c. Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya d. Mulai berfikir abstrak

2. Masa remaja pertengahan (13-15 tahun) a. Mencari identitas diri

b. Timbul keinginan untuk berkencan c. Mempunyai rasa bercinta yang mendalam d. Berkhayal tentang aktivitas seks

3. Remaja akhir (17-21 tahun) a. Pengungkapan kebebasan diri

b. Lebih selektif dalam mencari teman sebaya

c. Mempunyai citra tubuh (body image) terhadap dirinya sendiri d. Dapat mewujudkan rasa cinta (Kumalasari, dkk 2012).

2.3.3 Perkembangan Fisik Pada Remaja

Sarwono (2011), menyatakan bahwa masa remaja adalah masa peraligan dari anak-anak ke dewasa, bukan hanya dalam artian psikologis, tetapi juga fisik (El- Hakim 2014). Pada masa ini terjadi suatu perubahan fisik yang cepat disertai banyak perubahan, termaksud didalamnya pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ

(36)

seksual) untuk mencapau kematangan yang ditujukan dengan kemampuan melaksanakan fungsi reproduksi. Perubahan yang terjadi pada pertumbuhan tersebut diikuti munculnya tanda-tanda sebagai berikut :

1. Tanda-tanda seks primer

Tanda-tanda seks primer yang dimaksud adalah yang berhubungan langsung dengan organ seks. Dalam Modul Kesehatan Reproduksi Remaja (Depkes, 2002) disebutkan bahwa ciri-ciri seks primer pada remaja yaitu :

a. Remaja wanita, ditandai dengan kematangan organ reproduksi yaitu ditandai dengan datangnya menstruasi (menarche). Hala ini berlangsung terus sampai menjelang masa menopause yaitu ketika seorang berumursekitar 40-50 tahun.

b. Remaja laki-laki, sudah bias melakukan fungsi reproduksi bila telah mengalami mimpi basah, biasanya terjadi pada remaja laki-laki usia 10-15 tahun. Ini adalah pengalaman yang normal bagi semua remaja laki-laki.

2. Tanda-tanda seks sekunder

Ciri-ciri seks sekunder pada remaja adalah sebagai berikut : a. Remaja laki-laki

Lengan dan tungaki kaki bertambah panjang, Bahu melebar,

Pertumbuhan rambut disekitar alat kelamin, ketiak, dada, tangan dan kaki, Tumbuh jakun, suara menjadi besar,

Penis dan buah zakar membesar,

(37)

Produksi keringat menjadi lebih banyak.

b. Remaja wanita

Lengan dan tungaki kaki bertambah panjang, Pinggul lebar, bulat dan membesar,

Tumbuh bulu-bulu halus disekitar ketiak dan vagina

Pertumbuhan payudara yang menjadi lebih besar dan lebih bulat serta puting susu membesar dan menonjol,

Suara menjadi lebih penuh dan semakin merdu

Otot semakin besar dan semakin kuat, terutama pada pertengahan dan menjelang akhir masa puber, sehingga memberikan bentuk pada bahu, lengan dan tungkai (Kumalasari, dkk 2012).

2.3.4 Perkembangan Psikologis

Secara psikologis usia remaja adalah usia ketika seseorang mengalami masa peralihan antara usia anak-anak dan dewasa. Usia remaja sebagai usia yang penuh badai dan tekanan, suatu tahapan ketika sifat-sifat manusia yang baik dan yang buruk tampil secara bersamaan. Mulyati (2007), mengungkapkan bahwa perubahan psiko- sosial yang terjadi pada masa remaja yaitu mencakup hal-hal berikut :

a. Bersifat ingin tahu, kadang-kadang ingin mencoba melakukan eksperimen, misalnya cara berpakaian, gaya rambut dan sebagainya.

(38)

b. Protes terhadap orangtua, yaitu remaja cenderung tidak menyetujui tata nilai hidup orang tua, mereka menuntut kebebasan mencari tata nilai sendiri dan mencari berusaha identitas diri dengan cara menjauhkan diri dari orangtua.

c. Setia kawan dengan kelompok sebaya. Dalam hal ini remaja merasa ada ketertarikan dan bersamaan dengan kelompoknya.

d. Menuntut keadilan. Dalam hal ini remaja cenderung melihat dari sisi mereka sendiri tanpa memperhitungkan keadaan orang tua/masyarakat, sehingga dapak mereka seperti kurang toleransi tidak mau berkompromi.

e. Perilaku yang labil, dalam hal ini kadang-kadang mereka bertanggung jawab namun dilain waktu tampak cuek atau masa bodoh. Selain itu remaja juga sangat sensitive, mudah tersinggung dan mudah marah (El-Hakim, 2014).

2.4 Perilaku Seksual Remaja

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, perilaku merupakan reaksi seseorang yang muncul dalam gerakan sikap (gerakan badan atau ucapan). Notoatmodjo (2005) menyatakan bahwa Skiner (seorang ahli psikologi), merumuskan mengenai prilaku yaitu merupakan suatu respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus(rangsangan dari luar). Perilaku manusia dari segi biologis adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas seperti berjalan, berbicara, menangis, bekerja dan sebagainya. Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus Skinner membedakan perilaku menjadi dua:

(39)

1. Perilaku Tertutup (covert behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup.

Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain dari luar secara jelas. Respons seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan.

2. Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.

Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Skiner dalam Notoatmodjo (2010), mengatakan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang yang terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organism tersebut merespon. Respon dibagi menjadi 2 bagian : 1) Respondent response atau reflexive response, ialah respon yang ditimbulkan

oleh rangsangan-rangsangan tertentu yang relatif tetap. Responden respon (Respondent behaviour) mencakup juga emosi respon dan emotional behaviour.

2) Operant response atau instrumental respon adalah respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforsing stimuly atau reinforcer. Proses pembentukan atau perubahan perilaku dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam maupun dari luar individu. Aspek-aspek dalam diri individu yang sangat berperan/

(40)

berpengaruh dalam perubahan perilaku adalah persepsi, motivasi dan emosi.

Persepsi adalah pengamatan yang merupakan kombinasi dari penglihatan, pendengaran, penciuman serta pengalaman masa lalu. Motivasi adalah dorongan bertindak untuk memuaskan sesuatu kebutuhan. Dorongan dalam motivasi diwujudkan dalam bentuk tindakan.

2.4.1 Perilaku Seksual Remaja

Menurut Sarwono (2011), perilaku seksual adalah segalah tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesame jenis. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa tingkah laku seksual sifatnya meningkat atau progresif. Sedangkan perilaku seksual pranikah merupakan perilaku seksual yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing (Mu’tadin, 2005).

Remaja melakukan berbagai macam perilaku seksual beresiko yang akan menimbulkan dampak buruk jika dilakukan para remaja sebelum menikah. Berbagai bentuk tingkah laku terdiri atas tahapan-tahapan tertentu mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, berpegangan tangan, berciuman, necking(berciuman sampai kedaerah dada) dan bersenggama (El-Hakim, 2014).

Menurut Finklet et al (1981) dalam Murti (2008) perilaku seksual sering diasosiakan semata-mata dengan terjadinya hubungan seksual antara seorang laki-laki dan perempuan, yaitu terjadinya penetrasi vagina dan ejakulasi. Perilaku seksual mencakup segala bentuk ekspresi yang dilakukan seseorang, mulai dari hubungan heteroseksual, homoseksual, sampai beragam tehnik dan gaya seperti sex oral, anal

(41)

atau masturbasi untuk mencapai kepuasan seksual, baik secara biologis maupun psikologis. Wahyudi (2000) dalam Taufik (2010) perilaku seksual merupakan perilaku seks yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai hubungan intim. Hubungan ini dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun hukum agama dan kepercayaan masing-masing individu.

Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Objek seksual dapat berupa orang lain, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri (Sarwono, 2011). Menurut Kisney (1965) dalam Taufik (2010) perilaku seksual manusia meliputi 4 (empat) tahapan, yaitu :

1. Bersentuhan (touching), mulai dari berpegangan tangan sampai dengan berpelukan 2. Berciuman (kissing), mulai dari ciuman singkat hingga berciuman bibir dengan mempermainkan lidah (deep kissing)

3. Bercumbu (petting), yaitu menyentuh bagian yang sensitif dari tubuh pasangan dan mengarah pada pembangkitan gairah seksual

4. Berhubungan seksual/kelamin (sexual intercourse)

Menurut Wahyudi (2000) dalam Taufik (2010) yang menjadi aktivitas dari perilaku seksual remaja adalah :

1. Ciuman basah, merupakan aktifitas seksual berupa sentuhan bibir dengan bibir.

Aktivitas ini menimbulkan sensasi seksual yang kuat yang membangkitkan

(42)

dorongan seksual hingga tidak terkendali. Dampak yang terjadi akan menimbulkan sensasi seksual yang kuat, ketagihan.

2. Meraba bagian yang sensitif, merupakan kegiatan rangsangan seksual yaitu payuda, leher, paha atas, alat kelamin. Bila kegiatan ini dilakukan maka seseorang akan terangsang secara seksual sehingga melemahkan kontrol diri dan akal sehat.

Dampak yang ditimbulkan perasaan ketagihan, terangsang secara seksual.

3. Oral seks, yaitu memasukkan alat kelamin kedalam mulut lawan jenis. Dampak yang ditimbulkan dari perilaku seksual ini adalah dapat terkena bibit penyakit, ketagihan, dan dapat berlanjut ke intercouse, memuaskan kebutuhan seks serta penyimpangan seksual.

4. Petting, merupakan keseluruhan aktivitas seks hingga menempelkan alat kelamin.

Dampak yang ditimbulkan akan terjadi ketagihan, kehamilan, tertular PMS atau HIV, dapat berlanjut ke intercouse, kebutuhan seks terpuaskan.

5. Intercouse merupakan kegiatan aktivitas seksual dengan memasukkan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan.

Kisney (1965) dalam Murti (2008) juga mengatakan bahwa kategori atau tingkatan perilaku seksual dibagi menjadi 2 (dua), yaitu perilaku seksual ringan jika seseorang pernah melakukan berpegangan tangan, berpelukan, sampai berciuman bibir, dan perilaku seksual berat jika seseorang pernah melakukan perilaku seksual meraba dada atau alat kelamin pasangan, saling menggesekkan alat kelamin dengan pasangan, oral seks dan melakukan hubungan seksual (intercourse).

(43)

Perilaku remaja dewasa ini merupakan masalah sosial yang harus mendapatkan perhatian, dikarena masalah sosial ini dapat memberikan dampak yang buruk bagi perkembangan remaja. Realitas sosial yang terjadi pada saat sekarang ini dimana para remaja sering melakukan tindakan-tindakan yang pada dasarnya telah melanggar norma yang berlaku dalam masyarakat (Zulfikar, 2013).

2.4.2 Perkembangan Perilaku Seksual Remaja

Perkembangan fisik termasuk organ seksual yaitu terjadinya kematangan serta peningkatan kadar hormon reproduksi atau hormon seks baik pada laki-laki maupun pada perempuan yang akan menyebabkan perubahan perilaku seksual remaja secara keseluruhan. Pada kehidupan psikologis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh kuat dalam minat remaja terhadap lawan jenis. Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap lawan jenis sangat dipengaruhi oleh factor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas (Santrock, 2007).

Remaja perempuan lebih memperlihatkan bentuk tubuh yang menarik bagi remaja laki-laki, demikian pula remaja pria tubuhnya menjadi lebih kekar yang menarik bagi remaja perempuan (Rumini dan Sundari, 2004). Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis. Matangnya fungsi-fungsi seksual maka timbul pula dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan untuk pemuasan seksual. Sebagian besar dari remaja biasanya sudah mengembangkan perilaku seksualnya dengan lawan jenis dalam bentuk pacaran atau percintaan. Bila ada kesempatan para remaja melakukan sentuhan fisik, mengadakan pertemuan untuk bercumbu bahkan kadang-

(44)

kadang remaja tersebut mencari kesempatan untuk melakukan hubungan seksual (Pangkahila dalam Soetjiningsih, 2007).

Meskipun fungsi seksual remaja perempuan lebih cepat matang dari pada remaja laki-laki, tetapi pada perkembangannya remaja laki-laki lebih aktif secara seksual dari pada remaja perempuan. Banyak ahli berpendapat hal ini dikarenakan adanya perbedaan sosialisasi seksual antara remaja perempuan dan remaja laki-laki.

Bahkan hubungan seks sebelum menikah dianggap ”benar” apabila orang-orang yang terlibat saling mencintai ataupun saling terikat. Mereka sering merasionalisasikan tingkah laku seksual mereka dengan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta. Sejumlah peneliti menemukan bahwa remaja perempuan, lebih daripada remaja laki-laki, mengatakan bahwa alasan utama mereka aktif secara seksual adalah karena jatuh cinta (Santrock, 2007).

2.4.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Seksual Remaja

Remaja memiliki kecenderungan menghabiskan waktu dengan teman sebayanya sehingga tingkah laku dan nilai-nilai yang mereka pegang banyak dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan dan lainnya. Beberapa hal yang mempengaruhi perilaku seksual pada remaja :

1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja.

Peningkatan hormone ini menyebabkan remaja membutuhkannya penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu.

2. Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hokum oleh karena adanya undang-undang tentang

(45)

perkawinan, maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental, dan lain-lain).

3. Norma-normaagama yang berlaku, dimana seseorang dilarang melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut.

4. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media massa yang dengan teknologi yang canggih (misalnya : VCD, buku stensilan, photo, majalah, internet, dll) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya.

5. Orangtua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.

6. Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan perkembangan wanita, sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

2.4.4 Dampak Perilaku Seksual Remaja

Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus

(46)

dilakukan usaha untuk member pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.

Masalah seks pada remaja seringkali mencemaskan orangtua, juga pendidik, pejabat pemerintah dan para ahli. Berbagai dampak yang akan dialami remaja jika melakukan perilaku seks pranikah, diantaranya :

a. Dampak Psikososial, dampak ini mengakibatkan ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus remaja yang hamil diluar nikah.

b. Dampak Fisik, dampak ini dialami oleh remaja jika melakukan hubungan seks sebelum menikah remaja dapat terkena penyakit menular seksual (PMS) jika dalam melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, kemudian dapat mengalami kehamilan yang tidak diinginkan sehingga pada akhirnya melakukan tindakan aborsi, yang biasanya dilakukan secara tidak aman serta dapat membahayakan keselamatan pada diri remaja tersebut.

c. Dampak Psikis, yang dapat ditimbulkan jika remaja melakukan hubungan seks pranikah ialah berupa rasa ketakutan, kecemasan, meyesal serta rasa bersalah karena sudah melakukan perbuatan tersebut sebelum menikah. Selain itu juga, biasanya mereka takut akan dampak yang ditimbulkan karena melakukan hubungan tersebut, seperti mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

d. Dampak Sosial, dampak ini menimbulkan stigma buruk, pergunjingan serta pengucilan dari lingkungan sekitar. Cukup banyak kejadian dimana remaja putrid mengalami kehamilan yang tidak disengaja maupun yang sengaja. Kehamilan

(47)

yang tidak diinginkan dapat membuat remaja membuat keputudan untuk melakukan usaha aborsi dengan berbagai cara.

2.4.5 Cara Mengatasi Perilaku Seksual Remaja

Beberapa ahli berpendapat bahwa penyimpangan perilaku seksual remaja ini dapat diatasi. Beberapa cara untuk mengatasi perilaku seksual remaja adalah sebagai berikut :

1. Mengikis kemiskinan, sebab kemiskinan membuat banyak orang tua melacurkan anaknya sendiri.

2. Menyediakan informasi tentang kesehatan reproduksi, karena ketidaksediaan informasi yang akurat dan benar tentang kesehatan reproduksi memaksa remaja untuk melakukan eksplorasi sendiri, baik melalui media infoCararmasi maupun dari teman sebaya.

3. Memperbanyak mengakses pelayanan kesehatan, yang diiringidengan saran konseling

4. Meningkatkan partisipasi remaja dengan mengembangkan pendidikan sebaya.

5. Meninjau ulang segala peraturan yang membuka peluang terjadinya reduksi atas pernikahan dini.

6. Meminimalkan informasi tentang kebebasan seks. Dalam hal ini mesia massa sangat berperan penting. Menciptakan lingkungan keluarga yang kukuh, kondusif, dan informatif. Pandangan bahwa seks adalah hal tabu yang telah sekian lama tertanam justru membuat remaja makin enggan bertanya tentang kesehatan reproduksinya dengan orang tuanya sendiri. (Kumalasari,dkk 2012)

(48)

2.5 Pengaruh Paparan Pornografi Melalui Media Internet Terhadap Prilaku Seksual

Media massa sebagai sumber informasi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku seksual pranikah. Media baik elektronik maupun media cetak banyak disorot sebagai salah satu penyebab utama menurunnya moral umat manusia termasuk remaja. Berbagai tayangan yang sangat menonjolkan aspek pornografi, yaitu gambar dan foto-foto dengan pakaian minim di sampul depan majalah, kisah-kisah yang menggambarkan hubungan seks di koran atau majalah, adegan persetubuhan yang dapat diakses dengan mudah di internet, Video Compact Disk (VCD), bioskop, dan lain-lain merangsang remaja untuk melakukan adegan seperti yang dilihat, dibaca, ataupun ditontonnya tersebut. Pada saat ini, media massa baik media cetak maupun media elektronik banyak menampilkan seksualitas secara vulgar yang dapat merangsang birahi terutama remaja (Juliastuti, 2009).

2.5.1 Frekuensi

Berdasarkan teori User and Gratification yang menyatakan bahwa secara aktif mencari media tertentu, menggunakan internet untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan muatan (isi) tertentu untuk menghasilkan kepuasan (atau hasil) dalam jangka waktu tertentu adalah kebutuhan yang dihubungkan dengan memperoleh informasi atau pengetahuan, kesenangan, status, memperkuat hubungan dan pelarian (West and Turner, 2008 dalam Kusumaardhiati, 2011).

(49)

a. Intensitas penggunaan yakni terdapat dua hal mendasar yang harus diamati untuk mengetahui intensitas penggunaan internet seseorang, yakni keaktifan berdasarkan frekuensi internet yang sering digunakan dan lama menggunakan setiap kali mengakses internet.

b. Motif kesenangan yaitu aktifitas internet yang bersifat hiburan dan lebih banyak berorientasi pada kegiatan yang menyenangkan, menghabiskan waktu, pelarian dan mendatangkan kenikmatan serta relaksasi.

Salah satu variabel yang mempengaruhi akses internet adalah frekuensi (Stylianou & Jackson, 2007). Frekuensi mengacu pada pengertian seberapa sering atau berapa kali seseorang menggunakan internet. Frekuensi terkait dengan penggunaan internet dalam suatu periode tertentu. Tidak begitu berbeda dengan durasi, frekuensi pun juga diduga dipengaruhi oleh motif menggunakan internet, jaringan hubungan internet dan biaya penggunaan internet. Seperti halnya durasi, frekuensi juga merupakan experiential elements dalam penggunaan internet. Jika frekuensi mengakses internet dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap pengguna maka semakin sering pengguna mengakses situs tertentu maka akan mempengaruhi perilakunya (Kusumaardhiati, 2011).

2.5.2 Durasi

Miyazaki and Fernandez (2001) menggunakan salah satu experiential elements ini untuk mengevaluasi perilaku berbelanja online pada penelitiannya di Amerika Serikat. Durasi penggunaan interent mengacu pada lamanya seseorang menggunakan internet. Durasi diduga juga dipengaruhi oleh motif seseorang dalam

(50)

menggunakan internet, jaringan hubungan internet (internet network), dan biaya penggunaan internet. Motif mengacu pada tujuan mengakses internet. Apabila motif terpenuhi, maka durasi penggunaan internet pun akan lebih lama. Jaringan internet mengacu pada lamanya proses pada internet untuk mengakses informasi yang diinginkan atau dibutuhkan pengguna. Dalam hal biaya, penggunaan internet di rumah atau di warung internet (warnet) memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Semakin besar durasi penggunaan, maka semakin besar pula biaya penggunaan internet. Tetapi jika durasi dikaitkan dengan apa yang diakses di internet semakin lama seorang pengguna mengakses internet maka akan mempengaruhi pola perilakunya (Kusumaardhiati, 2011).

2.5.3 Menonton Video Porno

Paparan media internet dalam penelitian ini diartikan sebagai kegiatan menerima (menonton, melihat, membaca) pesan media secara pasif maupun aktif yang terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media, media yang dikonsumsi atau media secara keseluruhan.

Masa remaja sebagai masa storm and stress dapat menimbulkan kesulitan dan frustrasi dalam periode kehidupan remaja dengan banyaknya tekanan yang dialami mulai dari lingkungan keluarga, sekolah maupun dari teman. Semua hal yang dapat menyebabkan frustasi tersebut – terutama frustasi agresi dan hormon seksual yang sedang meningkat - dapat dilepaskan di dunia internet dengan mengakses situs dan film-film (video) porno untuk memuaskan kebutuhan berekspresi, eksplorasi dan

(51)

eksperimen. Dengan mengakses video porno, akan mempengaruhi perilaku seksual remaja yaitu dengan berupaya meniru adegan-adegan yang ditontonnya dalam

2.5.4 Melihat Gambar Porno

Tersedianya materi-materi porno di dunia maya dengan segala kemudahan mengaksesnya, dapat menjadi tempat pelarian remaja dari ketegangan mental dan dapat memperkuat pola perilaku yang mengarah pada kecanduan. Hal ini disebabkan karena gambar-gambar erotis atau porno dapat meningkatkan neurotransmitter ketika terjadi rangsangan seksual yang menghasilkan efek menyenangkan sehingga menimbulkan kecenderungan untuk diulang kembali yang secara psikologis dapat menimbulkan adiksi atau kecanduan (Paat, 2006).

2.5.5 Membaca Cerita Porno

Cerita porno atau cerita seks yaitu karya pencabulan yang mengangkat cerita dari berbagai versi hubungan seksual yang disajikan dalam bentuk narasi ataupun pengalaman pribadi secara detail dan vulgar, sehingga si pembaca merasa ia menyaksikan sendiri, mengalami atau melakukan sendiri peristiwa hubungan- hubungan seks tersebut. Pornografi yang mempertontonkan gambar telanjang dan cerita-cerita tentang hubungan seksual dengan tujuan tidak untuk menjelaskan secara benar fungsi alat kelamin, melainkan lebih untuk membuat pembaca khususnya remaja berkhayal melakukan adegan seperti yang diceritakan dalam cerita tersebut (Bungin, 2003).

Penelitian Muslim (2005) terhadap kebiasaan 87 pengunjung Warnet Triple G-II Medan terhadap materi cerita porno yaitu menyatakan sangat sering sebanyak 39

(52)

orang (44,83%), menyatakan sering sebanyak 23 orang (26,44%), menyatakan kadang-kadang sebanyak 15 orang (17,24%), dan menyatakan tidak pernah yaitu 10 orang (11,49%).

2.6 Landasan Teori

Banyak faktor yang memengaruhi terjadinya perilaku seksual pada remaja terutama faktor eksternal, karena pada masa remaja mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang berasal dari luar dirinya seperti teman sebaya dan sumber informasi dari media massa yang kurang tepat.

Notoatmodjo (2010) mengatakan bahwa perilaku merupakan bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau rangsang dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan (determinan perilaku). Faktor determinan perilaku ada dua yaitu: 1) faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan, 2) faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang.

Menurut Hosland (1953) yang mengembangkan teori Skiner (1938) dalam Notoatmodjo (2012) menyatakan bahwa perubahan perilaku pada hakikatnya adalah sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :

(53)

1. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif memengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.

2. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.

3. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).

4. Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).

Stimulus yang memengaruhi remaja berperilaku seksual pranikah berupa rangsangan yang datang dari luar diri remaja tersebut seperti pengaruh teman sebaya, mendengar, melihat, membaca, menonton, berfikir. Organisme akan memberi perhatian, pengertian, persepsi dan penerimaan terhadap stimulus. Akhirnya reaksi organisme direspons dalam bentuk perilaku yang dibedakan dalam perilaku tertutup (covert behavior) dan perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku tertutup masih dalam bentuk sikap remaja, sedangkan perilaku terbuka yaitu perilaku seksual pranikah yang nyata.

Perilaku seseorang dapat berubah apabila stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan organisme. Dalam meyakinkan organisme faktor reinforcement

(54)

memegang peranan penting. Proses perubahan perilaku berdasarkan teori SOR digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Teori Stimulus-Organisme-Respons Hosland et.al (1953) dalam Notoatmodjo (2012) Stimulus

1. Pengaruh media internet 2. Mendengar 3. Melihat 4. Membaca 5. Menonton 6. Berfikir

Organisme : - Perhatian - Pengertian - Penerimaan

Reaksi (Perubahan sikap)

Reaksi

(Perubahan tindakan)

Referensi

Dokumen terkait

tempat yang mereka pinda pada tahun 1933, karena penduduk semakin bertamba sehinga lokasi tidak memungkinkan lagi dan juga karena air susah karena terlalu jauh

Polder Tawang Semarang mempunyai masalah pencemaran akibat limbah yang berasal dari limbah kota, pasar ikan, industri, dan rumah tangga yang masuk ke perairan yang berpengaruh

Oleh karena benih bersifat higroskopis (Yani, 2008), maka bila kelembaban nisbi udara tinggi, benih akan menyerap air dari udara, sehingga semakin lama penyimpanan,

Demikian pula dengan pengadaan kegiatan ekstensifikasi yaitu peningkatan objek pajak bumi dan bangunan (PBB) dimana Dispenda Kota Bekasi lebih giat lagi dalam

Pengkajian awal nyeri pada geriatri tanpa dimensia dapat menggunakan instrumen Nonverbal Pain Indicators (CNPI). Petunjuk : Amati pasien untuk perilaku berikut saat

(b) Wawancara dilakukan terhadap sejumlah informan jajaran redaksi Harian Umum Lampung Post yang menyusun berita citra pasangan calon walikota dan wakil walikota Bandar

Kegiatan magang ini dilakukan atas dasar pemikiran bahwa Ocean Ecopark merupakan tempat rekreasi yang berada pada suatu kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta

Adapun sumber sekunder adalah peraturan dan perundang-undangan tentang pendidikan di madrasah diniyah meliputi Perbup Pandeglang Nomor 01 Tahun 2008 tentang