• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR ANALISIS PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV (PERSERO) Oleh : CITRA UTAMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TUGAS AKHIR ANALISIS PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV (PERSERO) Oleh : CITRA UTAMI"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

ANALISIS PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV (PERSERO)

Oleh :

CITRA UTAMI 162102011

PROGRAM STUDI DIPLOMA III AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim…

AssalamualaikumWr.Wb

Puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Analisis Pemisahan Biaya Semi Variabel Pada PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero)” ini guna memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan pada program studi Diploma Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Selama proses penulisan dan dalam mempersiapkan Tugas Akhir ini, penulis telah banyak menerima bantuan berupa bimbingan, petunjuk maupun dukungan dari pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan serta dukungannya sehingga tugas akhir ini dapat diselesaikan.

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Mutia Ismail, MM.,Ak, CA, selaku Ketua Program Studi Diploma jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(4)

4. Bapak Abdillah Arif, selaku Sekretaris Program Studi Diploma Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan bimbingan dalam penulisan Tugas Akhir ini.

5. Bapak Rasdianto, SE., M.Si., Ak, selaku Dosen Penguji yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menguji Tugas Akhir ini.

6. Kedua orang tua tercinta Ayahanda H. Suradi dan terspesial Ibunda Ngatinah yang telah memeberikan kasih sayang, doa, dan bimbingan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik.

7. Sahabat-sahabat seperjuangan Rosanna Adelina Nst, Ridha Amalia Tanjung dan Adelia Lumongga P. Srg terimakasih atas semua bantuan, kerjasama dan semangat yang selalu menemani selama masa perkuliahan hingga menyelesaikan Tugas Akhir ini.

8. Para Dosen dan Staff Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis dalam memberikan ilmu dan sarana prasarana dalam proses pembelajaran penulis.

9. Bapak Pimpinan dan seluruh Pegawai/Staff PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan Bagian Akuntansi yang telah memberikan izin bagi penulis untuk melakukan penelitian serta membantu penulis dalam pengambilan data.

10. Dan untuk teman-teman stambuk 2016 dan juga kerabat-kerabat terdekat penulis lainnya yang penulis sayangi.

(5)

Penulis mengharapkan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca, dan semoga segala budi baik, serta bantuan yang penulis terima selama menyelesaikan Tugas Akhir ini mendapatkan balasan yang berlipat ganda dan memperoleh Ridho-Nya. Aamiin yaa Robbal ’Alamiin.

Medan, April 2019 Penulis,

Citra Utami

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 3

1.3.1. Tujuan Penelitian ... 3

1.3.2. Manfaat Penelitian ... 4

1.4 Sistematika Penelitian ... 4

1.4.1. Rencana Isi ... 4

1.4.2. Jadwal Kegiatan ... 6

BAB II PERKEBUNAN NUSATNTARA IV SUMATERA UTARA 2.1 Sejarah Ringkas ... 7

2.2 Maksud dan Tujuan Perusahaan ... 10

2.3 Logo dan Makna Logo Perusahaan ... 12

2.4 Visi, Misi, Budaya Perusahaan, Paradigma Bisnis dan Tata Nilai PT. Perkebunan Nusantara IV Medan ... 14

2.4.1. Visi Perusahaan ... 14

2.4.2. Misi Perusahaan ... 14

2.4.3. Budaya Perusahaan ... 15

2.4.4. Paradigma Bisnis ... 15

2.4.5. Tata Nilai Perusahaan ... 16

2.5 Struktur Organisasi ... 17

2. Job Description ... 17

BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 23

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 23

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 23

(7)

3.4 Subjek dan Objek Penelitian ... 24

3.5 Teknik Analisis Data ... 24

BAB IV PEMISHAAN BIAYA SEMI VARIABEL PADA PT PERKEBUNAN NUSANTARA IV (PERSERO) 4.1 Pengertian Biaya ... 27

4.2 Penggolongan Biaya ... 28

4.3 Manfaat Pemisahan Biaya semi Variabel ... 37

4.4 Pemisahan Biaya Semi Variabel Pada PT. Perkebunan Nusantara IV ... 37

4.5 Biaya Produksi ... 38

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 49

5.2 Saran ... 51

DAFTAR PUSTAKA ... 53

LAMPIRAN ... 54

(8)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman 2.1 Logo Perusahaan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) ... 12 2.2 Struktur Organisasi PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) ... 17 4.1 Grafik Scattergraph Biaya Produksi ... 41

(9)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Jadwal Observasi dan Penyusunan Tugas Akhir... ... 6 4.1 Data Biaya Produksi dan Volume Produksi PT. Perkebunan Nusantara IV

(Persero) Tahun 2016-2017... 38

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1. Rincian Biaya Produksi Komoditi Teh PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) ... 54 2. Data Biaya Produksi dan Volume Teh Jadi Pada PT. Perkebunan Nusantara

IV (Persero) Tahun 2016 – 2017 ... 55 3. Nilai distribusi t – student ... 56 4. Perhitungan Least-Squares Untuk Biaya Produksi Teh Jadi Tahun 2016 – 2017 ... 57 5. Perhitungan Standard Error Of Estimate Biaya Produksi Teh Jadi Tahun

2016 – 2017 ... 58

(11)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Biaya semi variabel adalah biaya yang memiliki unsur biaya tetap dan variabel di dalamnya. Untuk keperluan penggolongan biaya dalam hubungannya dengan volume kegiatan, oleh karena itu setiap biaya yang dianggap semi variabel harus dipisahkan lagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Hal ini berguna dalam penentuan harga pokok dan penyajian kontribusi margin.

Selain itu, pemisahan biaya semi variabel juga berguna untuk menaksir atau memprediksi estimasi biaya di masa depan. Namun, tidak semua perusahaan merasa penting untuk melakukan pemisahan biaya semi variabel tersebut. Seperti halnya pada PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero). Dalam mencari harga pokok produksi hasil komoditi kebunnya, PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) tidak menguraikan lebih jelas dan spesifik mengenai biaya variabel dan biaya tetap per periode dan per unit produksi.

Ketidaktersediaannya informasi mengenai detail biaya variabel dan biaya tetap dalam menentukan harga pokok produksi pada laporan manajemen perusahaan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) mendorong penulis untuk melakukan analisis pemisahan biaya semi variabel tersebut. Fungsi pemisahan biaya semi variabel dalam memaksimalkan laba juga menarik minat penulis untuk memilih judul ANALISIS PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL PADA PT. PERKEBUNAN

(12)

NUSANTARA IV (Persero). Dimana dalam penulisannya, penulis akan menjadikan biaya produksi komoditi teh pada PT. Perkebunan Nusantara IV sebagai objek penelitian untuk dipisahkan biaya semi variabelnya, berhubung pendapatan laba pada komoditi teh jadi pada PT. Perkebunan Nusantara IV tersebut selalu mengalami kerugian dalam beberapa tahun belakangan ini. Hal tersebut tentu akan berguna untuk mengetahui berapa besar biaya tetap yang sudah dikeluarkan selama periode produksi, dan juga besarnya biaya variabel per satuan produksi. Dengan begitu, pihak manajemen dapat mengontrol laba dengan mengontrol biaya variabel dan biaya tetap untuk periode yang akan datang agar tidak melebihi dan jika bisa berkurang dari nominal pada periode saat ini dengan mempertimbangkan antara biaya yang dikeluarkan dengan volume produksi yang dihasilkan oleh perusahaan. Karena, dalam kegiatan usaha setiap perusahaan terdapat hubungan biaya dalam volume aktivitas yang dikenal dengan istilah perilaku biaya di dalam pelaksanaan fungsi perencanaan dan pengawasan manajemen. Pola perilaku biaya tersebut bertujuan untuk pembuatan keputusan, klasifikasi biaya berdasarkan perilaku biaya. Oleh karena itu dalam penentuan biaya semi variabel pihak manajemen tidak bisa hanya dengan mengira- ngira atau sembarangan, tetapi harus dengan menggunakan metode pemisahan biaya semi variabel.

Secara pendekatan historis atau pendekatan menentukan fungsi biaya dengan cara menganalisis tingkah laku biaya yang terjadi di masa lalu dalam hubungannya dengan kegiatan, terdapat empat metode pemisahan biaya semi variabel. Metode – metode tersebut adalah metode tititk tertinggi dan terendah, metode titik sebar,

(13)

metode kuadrat terkecil, dan juga metode biaya terjaga. Akan tetapi, dalam analisis ini penulis tidak menggunakan metode yang terakhir, yaitu metode biaya terjaga, karena pada metode tersebut, biaya dihitung dengan pengandaian perusahaan tidak melakukan kegiatan produksi selama periode tertentu. Hal tersebut tidak berkenaan dengan keadaan yang ada di PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero), dimana perusahaan selalu melakukan kegiatan produksi dari hasil komoditi kebunnya dalam suatu periode.

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan hal yang dikemukakan di atas, maka yang diangkat sebagai permasalahan pada penelitian ini adalah: ”Bagaimanakah pemisahan biaya semi variabel pada biaya produksi komoditi teh jadi pada PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) tahun 2016 - 2017? ”.

1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemisahan biaya semi variabel pada biaya produksi komoditi teh jadi pada PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero), serta menganalisis lebih lanjut biaya semi variabel tersebut untuk dipisahkan berdasarkan teori yang ada pada materi perkuliahan akuntansi biaya dan dibantu dengan referensi yang ada pada daftar pustaka, agar dapat mengetahui

(14)

estimasi biaya produksi komoditi teh jadi dengan asumsi volume produksi teh jadi di masa periode yang akan datang.

1.3.2 Manfaat Penelitian 1) Bagi Manajemen

Bagi manajemen PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) hasil penelitian yang digunakan sebagai bahan masukan mengenai biaya-biaya yang dikeluarkan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan didalam penyusunan rencana dan strategi pimpinan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) dalam mengendalikan biaya dan memaksimalkan laba.

2) Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai penambahan wawasan atas pengimplementasian teori-teori yang telah diperoleh selama di bangku kuliah dengan kenyataan sebenarnya di lapangan, yaitu pada PT.

Perkebunan Nusantara IV (Persero)

1.4 Sistematika Penelitian 1.4.1 Rencana Isi

Penulis akan memberikan gambaran rencana isi Tugas Akhir yang akan mempermudah penulisan Tugas Akhir, maka penulis membaginya menjadi lima (5), yaitu :

(15)

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini penulis menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan rencana penulisan.

BAB II : PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV MEDAN

Dalam bab ini penulis menguraikan tentang sejarah ringkas, struktur organisasi, job description, jaringan usaha, kinerja usaha terkini dan rencana usaha.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini penulis menguraikan tentang desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, metode pengumpulan data, subjek dan objek penelitian, dan teknik analisis data.

BAB IV : ANALISIS PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL PADA PT.

PERKEBUNAN NUSANTARA IV

Dalam hal ini penulis menguraikan tentang pengertian biaya, penggolongan biaya, manfaat pemisahan biaya semi variabel, bagaimana pemisahan biaya semi variabel pada PT. Perkebunan Nusantara IV, dan hasil pemisahan biaya semi variabel pada biaya produksi komoditi teh.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Merupakan bagian akhir dari penyusunan tugas akhir yang terdiri dari kesimpulan serta saran yang dihasilkan dari penelitian ini.

(16)

Dilengkapi dengan daftar pustaka sebagai referensi dari kesimpulan yang diperlukan dalam penelitian.

1.4.2 Jadwal Kegiatan

Jadwal penelitian untuk penyusunan tugas akhir ini terdiri dari berbagai kegiatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel jadwal penelitian berikut ini:

Tabel 1.1

Jadwal Observasi dan Penyusunan Tugas Akhir

NO Keterangan Maret April

I II III IV I II III IV 1 Pengesahan Penulisan Tugas Akhir

2 Pengajuan Judul Tugas Akhir 3 Penunjukan Dosen Pembimbing 4 Permohonan Izin

5 Pengumpulan Data 6 Penyusunan Tugas Akhir 7 Bimbingan Tugas Akhir 8 Penyelesaian Tugas Akhir

(17)

BAB II

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV SUMATERA UTARA

2.1 Sejarah Ringkas

Perusahaan PT. Perkebunan Nusantara IV Medan merupakan Badan Usaha Milik Negara bidang perkebunan yang berkedudukan di Medan, Provinsi Sumatera Utara. PT.Perkebunan Nusantara IV Medan memproduksi tanaman kelapa sawit dan teh. Pada umumnya perusahaan-perusahaan perkebunan di Sumatera Utara memiliki sejarah panjang sejak zaman Belanda. Pada awalnya keberadaan perkebuanan ini merupakan milik Maskapai Belanda yang dinasionalisasi pada tahun 1959, dan selanjutnya berdasarkan kebijakan pemerintah telah mengalami beberapa kali perubahan organisasi sebelum menjadi PT. Perkebunan Nusantara IV Medan.

Secara kronologis riwayat PT. Perkebunan Nusantara IV Medan, dapat disajikan sebagai berikut:

1. Tahun 1959, Tahap Nasionalisasi

Perusahaan-perusahaan swasta asing (Belanda) seperti NV HVA (Namblodse Venotschaaf Handels Vereeniging Amsterdam) dan NV RCMA (Namblodse Venotshaaf Rubber Cultuur Maatschappij Amsterdam) pada tahun 1959 dinasionalisasi oleh Pemerintah RI dan kemudian dilebur menjadi Perusahaan Milik Pemerintah atas dasar Peraturan Pemerintah (PP) No. 19.

(18)

2. Tahun 1967, Tahap Regrouping

Pada tahun 1967 – 1968 selanjutnya Pemerintah melakukan regrouping menjadi perusahan Perkebunan Negara (PPN) Aneka Tanaman, PPN Karet dan PPN Serat.

3. Tahun 1968, Tahap Perubahan Menjadi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) Dengan Kepres NO. 144 tahun 1968, Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) yang ada di Sumatera Utara dan Aceh di regrouping ulang menjadi PNP I s.d. IX.

4. Tahun 1971, Tahap Perubahan menjadi Perusahaan Perseroan.

Dengan dasar Peraturan Pemerintah Tahun 1971 dan tahun 1972, Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) dialihkan menjadi Perusahaan Terbatas Persero dengan nama resmi PT Perkebunan I s.d. IX (Persero). Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VI didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1971, Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VII didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1971 dan Perusahaan Perseroan (Persero) dan PT Perkebuanan VIII didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1972.

5. Tahun 1996, Tahap Peleburan menjadi PTPN

Berdasarkan Peraturan Pemerintah pada tahun 1996, semua PTP yang ada di Indonesia di-regrouping kembali dan dilebur menjadi PTPN I s.d. XIV dan PT Perkebunan Nusantara IV dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 9 Tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996 tentang Peleburan

(19)

Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VI, Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VII dan Perusahaan Perseroan (Persero).

Perkebunan VIII menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan Nusantara IV. PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) merupakan hasil peleburan dari tiga Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VI, Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VII, dan Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan VIII yang berada di wilayah Sumatera Utara. Sedangkan Proyek Pengembangan PTP VI, PTP VII, dan PTP VIII yang ada diluar Sumatera Utara diserahkan kepada PTPN yang dibentuk masing-masing Provinsi.

PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) didirikan di Bah Jambi Simalungun, Sumatera Utara berdasarkan Akta Pendirian No. 37 tanggal 11 Maret 1996 dari Harun Kamil, S.H., Notaris di Jakarta dan telah mendapat pengesahan Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2-8332.HT.01.01. Tahun 1996 tanggal 8 Agustus 1996 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 81 tanggal 8 Oktober 1996, Tambahan No. 8675/1996, serta telah didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Perusahaan Tingkat I Sumatera Utara c.q. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Simalungun No. 001/BH.2.15/ IX/ 1996 tanggal 16 September 1996 dan telah diperbaharui dengan Nomor 07/BH/0215/VIII/01 tanggal 23 Agustus 2001.

Pada tanggal 2008 telah dilakukan perubahan Anggaran Dasar Perusahaan berdasarkan Akta No. 11 dari Notaris Sri Ismiyati, SH tanggal 4 Agustus 2008 tentang Pernyataan Keputusan Rapat Pemegang Saham Perusahaan Perseroan

(20)

(Persero) PT Perkebunan Nusantara IV dan telah mendapat persetujuan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No.

AHU-60615.AH.01.02. Tahun 2008 tanggal 10 September 2008 tentang Persetujuan Akta Perusahaan Anggaran Dasar Perseroan.

Perubahan dari Persero menjadi Anak Perusahaan BUMN Perkebunan. Pada tahun 2014 sesuai Anggaran Dasar Perusahaan mengalami perubahan, berdasarkan akta No. 25 tanggal 23 Oktober 2014 dari Nanda Fauz Iwan, S.H., M.Kn, mengenai perubahan struktur pemegangan saham dan nama Perusahaan dari Perusahaan Perseroaan (Persero) PT Perkebunan Nusantara IV menjadi PT Perkebunan Nusantara IV. Perubahan anggaran dasar ini telah dilaporkan ke Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sesuai dengan surat penerimaan pemberitahuan No.AHU-08636.40.21.14, tanggal 19 November 2014.

2.2 Maksud dan Tujuan Perusahaan

Maksud dan Tujuan Perusahaan adalah melakukan usaha di bidang Agro Industri serta optimalisasi pemanfaatan Sumber Daya Perseroan untuk menghasilkan barang dan atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat, untuk mendapatkan atau mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

Maksud dan Tujuan Perusahaan menurut Akta Pendirian, antara lain :

a) Turut melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya di sub

(21)

sektor pertanian dalam dalam arti seluas-luasnya dengan tujuan memupuk keuntungan berdasarkan prinsip-prinsip Perusahaan yang sehat.

b) Melaksanakan kegiatan usaha, antara lain :

1. Mengusahakan budidaya tanaman meliputi pembukuan dan pengolahan lahan pembibitan, penanaman dan pemeliharaan serta melakuakan kegiatan-kegiatan lain yang sehubungan dengan budidaya tanaman tersebut.

2. Produksi meliputi pemungutan hasil tanaman, pengolahan hasil tanaman sendiri maupun dari pihak lain menjadi barangsetengah jadi atau barang jadi.

3. Perdagangan meliputi penyelenggaraan kegiatan pemasaran berbagai macam hasil produksi serta melakukan kegiatan perdagangan barang lainnya yang sehubungan dengan kegiatan perusahaan.

4. Pengembangan usaha di bidang perkebunan, agro usaha dan agro bisnis.

5. Mendirikan / menjalankan perusahaan dan usaha lainnya yang mempunyai hubungan dengan usaha bidang pertanian baik secara sendiri-sendiri maupunbersama-sama dengan badan-badan lainnya sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(22)

2.3 Logo dan Makna Logo Perusahaan

Gambar 2.1 Logo perusahaan PT.Perkebunan Nusantara IV Medan Sumber :http://www.ptpn4.co.id/

Makna Logo PT. Perkebunan Nusantara IV Medan

Makna dari logo PT Perkebunan Nusantara IV Medan, yaitu bentuk pohon sebagai gambaran dari pohon/buah yang mendekati bentuk tumbuhan dan digambarkan dengan tiga pelepah diatas serta dua pelepah di bawah. Tiga pelepah di atas mempunyai arti dua unit perkebunan, yaitu perkebunan kelapa sawit dan perkebunan teh yang menjadi satu. Kemudian dua pelepah di bawah selanjutnya memiliki arti sebuah “wadah”, maksudnya wadah tersebut merupakan tempat mengolah dua unit perkebunan diatasnya. Sedangkan untuk empat bidang lengkungan yang terletak paling bawah mempunyai arti suatu landasan yang menunjang kedua unit di atasnya. Lengkungan mengarah ke kanan dan ke kiri yang berarti PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) merupakan industri hulu dan industri hilir dan juga arah pengembangan/pemasaran empat bidang ini dianalogikan sebagai angka

(23)

empat dari PT. Perkebunan Nusantara IV maka disebut PT Perkebunan Nusantara IV Medan.

Secara keseluruhan, bentuk logo ini mengarah ke atas kalau diambil garis lurus menuju /memusat ke satu titik, yang berarti ketajaman fokus usaha dalam mencapai tujuan demi kesejahteraan bersama yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Mengenai warna yang ada pada logo, menggambarkan lambang dan unsur etis yaitu warna hijau bersifat sejuk, dingin dan keyakinan. Sedangkan warna Jingga bersifat panas, semangat dan berani.

Hijau pada empat bidang lengkung mengacu pada sifat sejuk dala kerukunan kerja antar sesama karyawan dan atasan sehingga timbul keakraban timbal balik, tangan dingin serta keyakinan dalam mengelola pekerjaan yang membawa angin segar bagi keuntungan perusahaan dan kesejahteraan karyawan, jernih dalam pola pikir dan keyakinan dalam hasil kerja. Jingga pada wadah dan bentuk tiga pelepah adalah semangat membara untuk mempertahankan serta meningkatkan mutu produksi dalam merebut pasar dari para pesaing produk perusahaan yang ada di pasaran.

Dengan tangan dingin serta keyakinan dan semangat kerja sama maka keberhasilan akan tercapai karena Karunia dan Rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Semua berasal dari satu titik, yaitu Sang Maha Pencipta maka kita patut untuk mensyukurinya.

(24)

2.4 Visi Misi, Budaya Perusahaan, Paradigma Bisnis dan Tata Nilai PT.

Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan 2.4.1 Visi Perusahaan

PT. Perkebunan Nusantara IV menjadi perusahaan unggul dalam usaha agroindustri yang terintegrasi.

2.4.2 Misi Perusahaan

1. Menjalankan usaha dengan prinsip-prinsip usaha terbaik, inovatif, dan berdaya saing tinggi.

2. Menyelenggarakan usaha agroindustri berbasis kelapa sawit, teh, dan karet.

3. Mengintegrasikan usaha agroindustri hulu, hilir dan produk baru, pendukung agroindustri dan pendayagunaan aset dengan preferensi pada teknologi terkini yang teruji (proven) dan berwawasan lingkungan.

Untuk mencapai visi misi tersebut, diperlukan suatu perencanaan jangka panjang (corporate plan) yang akan menjadi pedoman manajemen dalam menjalankan keputusan jangka panjang yang berkelanjutan dengan memperhatikan potensi kompetensi inti yang dimiliki PTPN IV yaitu sebagai produsen energi baru berbahan baku mikrohidro dan biomassa/biogas.

Penyusunan rencana jangka panjang adalah bagian dari upaya yang konsisten dalam pelaksanaan dan pencapaian tata kelola perusahaan (good corporate governance/GCG). Visi dan Misi tersebut telah mendapat persetujuan dari Direksi 16 dan Dewan Komisaris yang dituangkan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan 2015 –2019 pada tanggal 3 November 2014.

(25)

2.4.3 Budaya Perusahaan

Memberi, membimbing dan mendorong perilaku seluruh karyawan perusahaan agar dalam melaksanakan tugas selalu:

1. Berpikir positif untuk dapat menangkap setiap peluang.

2. Proaktif dalam menghasilkan inovasi dan prestasi.

3. Kerjasama tim untuk membangun kekuatan.

4. Menempatkan kepentingan perusahaan sebagai pertimbangan utama bagi setiap keputusan yang diambil oleh setiap jajaran perusahaan.

5. Menempatkan peningkatan kesejahteraan karyawan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pencapaian sasaran perusahaan.

2.4.4 Paradigma Bisnis

 Mampu membangun sistem yang sinergis dan terpadu sesuai dengan

perubahan dan perkembangan pasar, yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan melalui kinerja yang unggul (excellence).

 Mampu merencanakan, melaksanakan, menganalisa dan mengevaluasi secara

objektif, bekerja keras, beretika, kreatif dan inovatif serta berorientasi pada hasil,untuk memberikan nilai tambah perusahaan.

 Kepemimpinan yang visioner (mampu memandang jauh kedepan dan kedalam perusahaan) serta menjadi panutan dan inspirator terhadap lingkungan kerja maupun masyarakat sekitar.

(26)

 Bertanggung jawab dalam pelaksanaan regulasi (peraturan dan undang-

undang) yang terkait dengan perusahaan dan hubungan industrial yang harmonis.

 Perubahan adalah peluang, selalu siap mengembangkan diri, cerdas dan tangkas untuk meningkatkan nilai perusahaan.

 Peduli terhadap kehidupan social masyarakat sekitar dan kelestarian

lingkungan, serta menghargai setiap ide/gagasan/masukan dari stakeholder, dalam menciptakan hubungan yang sinergis.

 Dalam mengelola pengetahuan (knowledge management) perusahaan

mewajibkan setiap personil berbagi pengetahuan (knowledge sharing) untuk perbaikan yang berkelanjutan.

 Memberikan kesempatan kepada personilnya untuk meningkatkan kompetensi

secara berkesinambungan, dalam menghadapi perubahan di masa yang akan datang.

2.4.5 Tata Nilai Perusahaan

Tata nilai dirangkum dalam frasa ”PRIMA”, meliputi:

P : Profitability (mengutamakan profit)

R : Responsibility (bertanggung jawab terhadap stakeholder) I : Integrity (integritas)

M : Market ahead (selalu yang terdepan) A : Accountability (terpercaya)

(27)

2.5 Struktur organisasi

Gambar 2.2Struktur Organisasi PT.Perkebunan Nusantara IV Medan Sumber :http://www.ptpn4.co.id/

2.6 Job Description 1. Dewan Komisaris

Melakukan pengawasan terhadap kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya baik mengenai perusahaan mau pun usaha perusahaan yang dilakukan oleh Direksi serta member nasihat kepada Direksi termasuk pengawasan terhadap pelaksanaan Rencana Jangka Panjang Perusahaan, Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan serta ketentuan Anggaran Dasar dan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham, serta peraturan perundang- undangan yang berlaku, untuk kepentingan perusahaan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perusahaan.

(28)

2. Direksi

Menjalankan segala tindakan yang berkaitan dengan pengurusan perseroan untuk kepentingan perusahaan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perusahaan serta mewakili perusahaan baik didalam maupun diluar pengadilan tentang segala hal dan segala kejadian dengan pembatasan-pembatasan sebagaimana diatur dalam perundang-undangan, anggaran dasar dan/atau Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham.

3. Bagian Pemasaran

Menyusun system perencanaan penjualan, pencarian, monitoring dan evaluasi harga kelapa sawit dan non kelapa sawit, analisa pasar, promosi serta distribusi.

4. Unit Usaha

Menyusun perencanaan, melakukan pengelolaan dan melalukan evaluasi di unit/kebun.

5. Bagian Tanaman

Melakukan perencanaan, pembuatan prosedur, pengawasan , monitoring dan evaluasi di bidang tanaman.

6. Bagian Logistik

- Menyusun dan mengevaluasi program kerja dan sistem pengadaan barangdan jasa.

- Menyusun system pelaporan pengadaan barang dan jasa yang efektif untuk dilaporkan ke Direksi.

(29)

7. Pembelian Bahan Baku

- Menyusun system perencanaan, pengelolaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan pembelian bahan baku di PTPN IV.

- Menjaga agar PKS tidak middle capacity.

8. Bagian Panitia Penetapan Harga (P2H)

Melakukan evaluasi terhadap seluruh harga dan biaya pengadaan barang/jasa yang terjadi di seluruh unit usaha, GUU, dan bagian di PTPN IV.

9. Bagian Teknik

Menyusun sistem perencanaan, pengelolaan, penilai dan pengembangan bidang teknik pada PTPN IV dan Unit Usaha.

10. Bagian Pengolahan

Melakukan pengawasan dan evaluasi kegiatan bidang pengolahan, pengendalian mutu lingkungan hidup.

11. Sekretaris Perusahaan

Menyusun sistem perencanaan, pengelolaan, penilaian dan pengembangan sistem kesekriatan perusahaan, Corporate legal dan kerjasama usaha, hubungan masyarakat/komunikasi pada PT. Perkebunan Nusantara IV.

12. Satuan Pengawas Intern

Untuk menjamin bahwa audit internal dilaksanakan dengan efektif dan efisien sesuai dengan program di PT. Perkebunan Nusantara IV.

(30)

13. Bagian Manajemen Risiko dan GCG

Menyusun perencanaan, pengelolaan, penilaian dan pengembangan Manajemen Risiko dan Good Corporate Governance (GCG) pada PTPN IV, anak perusahaan, dan perusahaan yang ada penyertaan modal.

14. Kantor Perwakilan Jakarta

Memfungsikan Kantor Perwakilan Jakarta sebagai kantor pelayanan bagi kantor pusat.

15. Bagian Keuangan

- Mengendalikan arus kas perusahaan.

- Meningkatkan pengendalian pelaksanaan anggaran sesuai RKAP - Melaksanakan sosialisasi dan manajemen perpajakan dan asuransi - Pengendalian biaya melalui RKO

- Mengawasi dana kredit sesuai peruntukannya 16. Bagian Akuntansi

- Melaksanakan sistem akuntansi sesuai pedoman akuntansi umum yang berlaku.

- Melakukan pembukuan semua transaksi yang dilaksanakan berdasarkan standard akuntansi umum yang dilengkapi dengan nomor rekening/akun yang telah ditetapkan.

- Melaksanakan verifikasi dokumen transaksi serta melakukan pembinaan administrasi secara periodik.

(31)

- Melaksanakan evaluasi neraca percobaan dan laporan manajemen unit usaha dan kantor pusat.

- Menyajikan laporan manajemen dan laporan keuangan perusahaan secara periodik.

- Peningkatan efektifitas pengendalian yang ada 17. Bagian Pemasaran

- Mempertahankan pasar yang telah ada.

- Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, pengujian dan sertifikasi.

- Melakukan koordinasi dengan lembaga pemasaran dalam rangka memperluas pasar dan mencari peluang pasar baru.

- Meningkatkan komunikasi dengan pembeli dalam rangka mempercepat pengapalan dan pembayaran atas kontrak penjualan.

18. Bagian Perencanaan

- Menyusun dan merevisi RJP dan PDK.

- Melakukan evaluasi terhadap RJP, RKAP, dan PDK 19. Pengembangan Usaha

Menyusun sistem perencanaan, pengelolaan, penilaian dan pengembangan usaha pada perusahaan PTPN IV dan unit usaha.

20. Bagian Manajemen Sistem Informasi

Monitoring pengembangan dan penerapan program aplikasi serta operasional sistem.

(32)

21. Bagian SDM

Menyusun dan mengkoordinasikan sistem perencanaan, pembinaan, pengembangan, koordinasi, pengawasan, dan pengendalian SDM pada PTPN IV.

22. Bagian Umum

- Merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan penunjang aktivitas perusahaan.

- Mengelola aktivitas yayasan dan sekolah yang didirikan oleh perusahaan.

23. Bagian Hukum Pertanahan

Melakukan pengawasan kegiatan operasional hukum dan pertanahan.

(33)

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Dalam penulisan tugas akhir ini, penulis menggunakan penelitian kuantitatif.

Suharsimi Arikunto (2013) menjelaskan “penelitian kuantitatif sesuai dengan namanya, banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya.”

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada Kantor Pusat PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) di Jl. Letjen Suprapto No. 2, Kelurahan Hamdan, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2019.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data menggunakan dokumentasi yaitu teknikpengumpulan data yang dilakukan dengan jalan mengadakan pencatatan dan pengumpulan bahan-bahan tertulis, yang mempunyai keterkaitan dengan permasalahan yang tengah peneliti amati. Data yang diperoleh dari perusahaan adalah:

1. Data rincian biaya produksi tahun 2016 - 2017 2. Data volume produksi teh jadi tahun 2016 – 2017

(34)

3.4 Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini bagian Akuntansi PT. Perkebunan Nusantara IV(Persero), sedangkan objek penelitian ini adalah biaya produksi komoditi teh jadi yang diambil dari Laporan Manjemen Tahun 2013-2017 PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero).

3.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis deskriptif yaitu menganalisis dan menyajikan fakta-fakta secara sistematik, sehingga dapat mudah dipahami dan disimpulkan berdasarkan kajian pustaka yang telah disusun. Adapun metode yang dipakai dalam analisis pemisahan biaya semi variabel yaitu dengan :

1. Metode Titik Tertinggi dan Terendah (Hight and Low Point Method)

Metode ini merupakan teknik pemisahan biaya variabel dengan cara membandingkan biaya pada tingkat kegiatan yang paling tinggi dibandingkan dengan biaya tersebut pada tingkat kegiatan terendah dimasa lalu. Selisih biaya yang dihitung merupakan unsur biaya variable dalam biaya tersebut. Sedangkan biaya tetap mengurangi biaya semi variabel dengan biaya variabelnya.

2. Metode Titik Sebar (Scattergraph)

Metode scattergraph dapat digunakan untuk menganalisis perilaku biaya.

Dalam metode ini, biaya yang dianalisis disebut variabel independen dan diplot di sepanjang garis vertikal atau yang disebut dengan sumbu y. Sedangkan aktivitas

(35)

terkait, misalnya biaya tenaga kerja langsung, jam tenaga kerja langsung, jam mesin, unit output, atau persentase kapasitas dan diplot di sepanjang garis horizontal yang disebut sumbu x.

3. Metode Kuadrat Terkecil (Hight and Low Point Method)

Untuk memisahkan Biaya Tetap dan Biaya Variabel pada Biaya Semi Variabel menggunakan Metode Kuadrat Terkecil.

Y = a + bX b

=

a

=

∑ ∑

Keterangan :

Y:Total Biaya Semi Variabel X:Volume Kegiatan

a : Biaya Tetap b :Biaya Variabel n : Jumlah Data

4. Metode Biaya Terjaga (Stand by Cost Method)

Metode ini mencoba menghitung beberapa biaya yang harus tetap dikeluarkan andai kata perusahaan ditutup untuk sementara, jadi produknya sama dengan nol.

Biaya ini disebut biaya terjaga, dan biaya terjaga ini merupakan bagian yang tetap.

(36)

Namun, khusus dalam analisis ini, penulis tidak menggunakan metode biaya terjaga, dikarenakan perusahaan PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) tidak pernah berhenti melakukan kegiatan produksi selama berdirinya perusahaan tersebut.

(37)

BAB IV

PEMISAHAN BIAYA SEMI VARIABEL PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV (PERSERO)

4.1 Pengertian Biaya

Biaya dalam suatu perusahaan merupakan suatu komponen yang sangatpenting dalam menunjang pelaksanaan kegiatan dalam usaha mencapai tujuan.Tujuan itu dapat tercapai apabila biaya yang dikeluarkan sebagai bentuk suatupengorbanan oleh perusahaan yang bersangkutan telah diperhitungkan secaratepat.

Menurut Supriyono (1999), biaya adalah “harga perolehan yang dikorbankan atau yang digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan (revenue) dan akan di pakai sebagai pengurang penghasilan. Dalam Arti sempit diartikan apabila biaya yang dikeluarkan sebagai bentuk suatu pengorbanan oleh perusahaan yang bersangkutan telah diperhitungkan secara tepat”.

Menurut Mulyadi (2005) dalam arti luas biaya adalah : “pengorbanan sumber ekonomis, yang di ukur dalam satuan uang, yang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam arti sempit diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva yang di sebut dengan istilah harga pokok, atau dalam pengertian lain biaya merupakan bagian dari harga pokok yang dikorbankan di dalam suatu usaha untuk memperoleh penghasilan”.

(38)

Dari pengertian di atas, walaupun nampak ada perbedaan namun pada dasarnya memiliki persamaan yaitu biaya adalah pengorbanan ekonomis, yang diukur dengan nilai uang untuk memperoleh barang atau jasa. Pengklasifikasian biaya atau penggolongan biaya dilakukan sesuai dengan tujuan biaya itu sendiri.Untuk tujuan yang berbeda, diperlukan cara penggolongan biaya yang berbeda pula.

4.2 Penggolongan Biaya

Menurut Supriyono (2009), “Penggolongan biaya untuk menentukan harga pokok” adalah sebagai berikut:

1. Penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok dari kegiatan/aktivitas perusahaan. Atas dasar fungsi pokok dari kegiatan atau aktivitas perusahaan, biaya dapat dikelompokkan menjadi :

a. Fungsi produksi, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual.

b. Fungsi pemasaran, yaitu fungsi yang berhubungan dengan kejadian penjualan produk selesai yang siap untuk di jual dengan cara memuaskan pembeli dan dapat memperoleh laba sesuai yang diinginkan perusahaan sampai dengan pengumpulan kas dan hasil penjualan.

c. Administrasi dan umum adalah fungsi yang berhubungan dengan kegiatan penentuan kebijakan, pengarahan dan pengawasan kegiatan perusahaan

(39)

secara keseluruhan agar dapat berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efisien).

d. Fungsi keuangan, yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan keuangan atau penyediaan dana yang diperlukan perusahaan.

2. Penggolongan biaya sesuai dengan periode akuntansi di mana biaya akan dibebankan untuk dapat menggolongkan pengeluaran (expenditures) akan berhubungan dengan kapan pengeluaran tersebut akan menjadi biaya.

Penggolongan pengeluaran tersebut adalah sebagai berikut :

a. Pengeluaran Modal (Capital Expenditures) yaitu pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat (benefit) pada beberapa periode akuntansi atau pengeluaran yang akan datang. Pada saat terjadinya pengeluaran ini dikapitalisasi ke dalam harga perolehan aktual, dan diperlakukan sebagai biaya pada periode akuntansi yang menikmati manfaatnya.

b. Pengeluaran Penghasilan (Revenue Expenditures) yaitu pengeluaran yang akan memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran terjadi. Umumnya pada saat terjadinya pengeluaran langsung diperlakukan ke dalam biaya, atau tidak dikapitalisasi sebagai aktiva.

3. Penggolongan biaya sesuai dengan tendensi perubahannya terhadap aktivitas atau kegiatan volume. Pengolongan biaya sesuai dengan tendensi perubahannya terhadap aktivitas terutama untuk tujuan perencanaan dan pengendalian biaya serta pengambilan keputusan. Tendensi perubahannya terhadap aktivitas dapat dikelompokkan menjadi :

(40)

a. Biaya tetap memiliki karakteristik sebagai berikut :

1) Biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu.

2) Pada biaya tetap, biaya satuan (unit cost) akan berubah berbanding terbalik dengan perubahan volume penjualan, semakin tinggi volume kegiatan semakin rendah biaya satuan, semakin rendah volume kegiatan semakin tinggi biaya satuan.

b. Biaya variable memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) Biaya yang jumlah totalnya akan berubah secara sebanding (proporsional) dengan perubahan volume kegiatan, semakin besar volume kegiatan semakin tinggi jumlah total biaya variabel, semakin rendah volume kegiatan semakin rendah jumlah biaya variabel.

2) Pada biaya variabel, biaya satuan tidak dipengaruhi oleh volume kegiatan, jadi biaya semakin konstan.

c. Biaya semi variable memiliki karakteristik sebagai berikut :

1) Biaya yang jumlah totalnya akan berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat perubahannya tidak sebanding.

Semakin tinggi volume kegiatan semakin besar jumlah biaya total, semakin rendah volume kegiatan semakin rendah biaya, tetapi perubahannya tidak sebanding.

(41)

2) Pada biaya semi variabel, biaya satuan akan berubah terbalik dihubungkan dengan perubahan volume kegiatan tetapi sifatnya tidak sebanding. Sampai dengan tingkatan kegiatan tertentu semakin tinggi volume kegiatan semakin rendah biaya satuan, semakin rendah volume kegiatan semakin tinggi biaya satuan.

4. Penggolongan biaya sesuai dengan objek atau pusat biaya yang dibiayai. Di dalam perusahaan obyek atau pusat biaya dapat dihubungkan dengan produk yang dihasilkan, departemen-departemen yang ada dalam pabrik, daerah pemasaran, bagian-bagian dalam organisasi yang lain, bahkan individu.

Penggolongan biaya atas dasar obyek atau pusat biaya, biaya dapat dibagi menjadi :

a. Biaya langsung (Direct cost) adalah biaya yang terjadinya atau manfaatnya dapat didefinisikan kepada obyek atau pusat biaya tertentu.

b. Biaya tidak langsung (Indirect cost) adalah biaya yang terjadinya atau manfaatnya tidak dapat didefinisikan pada obyek atau pusat biaya tertentu, atau biaya yang manfaatnya dinikmati oleh beberapa obyek atau pusat biaya.

5. Penggolongan biaya untuk pengendalian biaya. Untuk pengendalian informasi biaya yang ditunjukkan kepada manajemen dikelompokkan kedalam :

a. Biaya terkendali (Controllable cost) adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang pimpinan/jabatan pemimpin tertentu dalam jangka waktu tertentu.

(42)

b. Biaya tak terkendali (Uncontrollable cost) adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang pemimpin/jabatan tertentu berdasarkan wewenang yang dia miliki atau tidak dapat dipengaruh ioleh seorang pejabat dalam waktu tertentu.

6. Penggolongan biaya sesuai dengan tujuan pengambilan keputusan. Untuk tujuan pengambilan keputusan oleh manajemen maka biaya dapat dikelompokkan menjadi :

a. Biaya relevan (Relevant cost) adalah biaya yang akan mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biayatersebut harus diperhitungkan di dalam pengambilan keputusan.

b. Biaya tidak relevan (Irrelevant cost) adalah biaya yang tidak mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya initidak perlu diperhitungkan atau dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.

7. Penggolongan biaya atas dasar tendensi perubahan terhadap aktivitas tertentu sangat penting dalam proses perencanaan laba. Biaya ini dikelompokkan menjadi biaya tetap, biaya variabel dan biaya semi variabel. Untuk kepentingan analisis pemisahan biaya semi variabel akan dianalisis lebih lanjut ke dalam biaya tetap dan biaya variabel.

a. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar perubahan volume kegiatan tertentu. Menurut Mulyadi (1999 : 507) biaya tetap dalam hubungannya untuk perencanaan dan pengawasan biaya, biaya tetap dibedakan menjadi dua :

(43)

1) Committed fixed cost adalah biaya yang tetap dikeluarkan, yang tidak dapat dikurangi guna mempertahankan kemampuan perusahaan di dalam memenuhi tujuan-tujuan jangka panjang. Contoh :committed fixed cost adalah biaya depresiasi, pajak bumi dan bangunan, sewa,

asuransi, dangaji karyawan utama. Kebijakan menjadi committed fixed cost terutama dipengaruhi oleh rencana kegiatan jangka panjang.

2) Discretionary fixed cost adalah biaya yang timbul dari keputusan penyediaan anggaran secara berkala (biasanya tahunan) yang secara langsung mencerminkan kebijakan manajemen puncak mengenai jumlah maksimum biaya yang diizinkan untuk dikeluarkan, dan yang tidak dapat menggambarkan hubungan yang optimum antara masukan dengan keluaran (yang di ukur dengan volume penjualan, jasa atau produk).

Contoh :discretionary fixed cost adalah biaya riset dan pengembangan, biaya iklan, biaya promosi penjualan, biaya program latihan karyawan, biaya konsultan.

b. Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contohnya adalah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Tujuan perencanaan dan pengawasan, biaya variabel dibedakan menjadi dua :

1) Engineered variabel cost adalah biaya yang memiliki hubungan fisik tertentu dengan ukuran kegiatan tertentu atau biaya yang antara

(44)

masukan dan keluarannya mempunyai hubungan yang erat dan nyata.

Contohnya : biaya bahan baku.

2) Discretionary variabel cost adalah biaya-biaya yang jumlah totalnya sebanding dengan perubahan volume kegiatan sebagai akibat kebijakan/keputusan manajemen. Contohnya: biaya iklan yang ditetapkan oleh manajemen.

c. Biaya semi variabel adalah biaya yang memiliki unsur tetap dan variabel di dalamnya. Unsur biaya tetap merupakan jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa sedangkan unsur variable merupakan bagian dari biaya semi variabel yang dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel memiliki unsure biaya tetap dan biaya variabel. Contohnya : biaya listrik, telepon danair, pemeliharan dan perbaikan mesin, asuransi kesehatan.

Memisahkan biaya semi variabel ke dalam elemen biaya tetap dan biaya variabel, ada dua pendekatan yang digunakan yaitu :

1) Pendekatan analisis (Analytical approach)

Dalam pendekatan ini diadakan kerjasama antara bagian teknik dengan bagian penyusunan anggaran untuk mengadakan penyelidikan terhadap tiap-tiap kegiatan atau pekerjaan, untuk menentukan perlu tidaknya suatu biaya, jumlah biaya pada berbagai kegiatan untuk pekerjaan tertentu, metode pelaksanaan pekerjaan yang paling efisien, dan jumlah biaya yang bersangkutan dengan pelaksanaan pekerjaan tersebut pada berbagai tingkat kegiatan.

(45)

2) Pendekatan historis (Historical approach)

Pendekatan ini mencoba menentukan fungsi biaya dengan cara menganalisis tingkah laku biaya yang terjadi di masa lalu dalam hubungannya dengan volume kegiatan. Dalam pendekatan historis, data biaya selama beberapa periode dikumpulkan dan dihitung biaya tetap dan biaya variabelnya dengan menggunakan metode tertentu. Ada empat metode yang dapat digunakan yaitu :

a) Metode Biaya Terjaga (Stand by Cost Method)

Metode ini mencoba menghitung beberapa biaya yang harus tetap dikeluarkan andai kata perusahaan di tutup untuk sementara, jadi produknya sama dengan nol. Biaya ini disebut biaya terjaga, dan biaya terjaga ini merupakan bagian yang tetap.

b) Metode Titik Tertinggi dan Terendah (Hight and Low Point Method) Metode ini merupakan teknik pemisahan biaya variabel dengan cara membandingkan biaya pada tingkat kegiatan yang paling tinggi dibandingkan dengan biaya tersebut pada tingkat kegiatan terendah di masa lalu. Selisih biaya yang di hitung merupakan unsur biaya variabel dalam biaya tersebut. Sedangkan biaya tetap mengurangi biaya semi variabel dengan biaya variabelnya.

(46)

c) Metode Titik Sebar (Scattergraph Method)

Metode scattergraph dapat digunakan untuk menganalisis perilaku biaya. Dalam metode ini, biaya yang dianalisis disebut variabel independen dan diplot di sepanjang garis vertikal atau yang disebut dengan sumbu y. Sedangkan aktivitas terkait, misalnya biaya tenaga kerja langsung, jam tenaga kerja langsung, jam mesin, unit output, atau persentase kapasitas dan diplot di sepanjang garis horizontal yang disebut sumbu x.

d) Metode Kuadrat Terkecil (Least Square Method)

Metode ini menganggap bahwa hubungan antara biaya dan volume kegiatan berbentuk garis lurus dengan persamaan.

Y = a + b X Di mana :

Y = Total biaya semi variabel a = Biaya tetap

b = Biaya variabel satuan n = Jumlah data

X= Volume kegiatan

(47)

Anggaran variabel sebagai alat bantu penyusunan biaya produksi suatuperusahaan. Macam- macam biaya dalam aktivitas perusahaan:

1. Fix cost/ biaya tetap/ FC.

2. Variable cost/ biayavariabel/ VC

3. Semi Variable Cost/ biayasemi variable/ SVC

4.3 Manfaat Pemisahan Biaya Semi Variabel

1. Mengetahui besar biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan oleh pihak perusahaan dalam menghasilkan produk untuk pengambilan keputusan jangka pendek.

2. Dapat menyediakan informasi yang lebih baik untuk pengendalian biaya khususnya biaya semi variabel, dimana dalam penentuan harga pokok produksi hanya memasukan biaya yang bersifat variabel saja sehingga dapat menambah laba kontribusi bagi perusahaan.

3. Dapat mengetahui berapa besar biaya variabel per unit dan berapa besar biaya tetap pertahun atau perbulan.

4.4 Pemisahan Biaya Semi Variabel Pada PT. Perkebunan Nusantara IV

Pemisahan biaya semi variabel dalam penulisan tugas akhir ini menggunakan tiga metode, yaitu metode titik tertinggi dan terendah (hight and low point method), metode titik sebar (scattergraph method), dan metode kuadrat terkecil (least square method). Adapun data yang menjadi dasar dalam analisis ini adalah data biaya

(48)

produksi yang di dalamnya terdapat biaya umum, biaya tanaman, dan biaya pengolahan pabrik tahun 2016 dan 2017. Data produksi tersebut akan disandingkan dengan data volume produksi tahun 2016 dan 2017. Data tersebut disajikan di tabel 4.1.

Tabel 4.1

Data Biaya Produksi dan Volume Produksi Teh Pada PT. Perkebunan Nusantara IV Tahun 2016 dan 2017.

Tahun Biaya Produksi (Rp) Volume produksi (Kg)

2016 126.808.951.692 8.148.136

2017 130.882.451.756 8.426.033

Total 257.691.403.448 16.574.169

Rata-rata 128.845.701.724 8.287.85

4.5 Biaya Produksi

a) Metode Titik Tertinggi dan Terendah (Hight and Low Point Method)

Dalam analisis ini, penulis menggunakan data biaya produksi dan data jumlah/volume produksi teh dari tahun 2016 hingga tahun 2017. Data tentang biaya produksi dengan volume produksi teh jadi telah dirangkum dalam satu tabel untuk memudahkan analisis dan dapat dilihat dalam tabel 4.1.

(49)

Dengan metode titik tertinggi dan terendah, pertama-tama penulis mencari tingkat kegiatan tertinggi dan tingkat kegiatan terendahnya terlebih dahulu.

Berdasarkan data pada tabel 4.1, diketahui bahwa kegiatan dalam tahun 2016 merupakan tingkat kegiatan terendah dan kegiatan dalam tahun 2017 merupakan tingkat kegiatan tertinggi. Kemudian volume produksi teh dan biaya produksi dari dua tingkat kegiatan tersebut penulis bandingkan dan penulis hitung selisihnya sebagai berikut :

Tarif biaya variabel =

=

=

= Rp. 14. 658,3089 per kg produksi teh

Unsur biaya tetap kita hitung dengan menggunakan salah satu dari dua titik kegiatan tersebut. Pertama penulis gunakan data titik tertinggi, sebagai berikut :

Biaya tetap = biaya produksi–(tarif variabel x tingkat kegiatan)

= 130.882.451.756 – (14.658,3089 x 8.426.033)

= 130.882.451. 756 – 123.511.394.382,6890

= Rp. 7.371.057.373,3111 per tahun

= Rp. 889,4633 per kilo teh jadi

(50)

Hasil yang sama juga akan diperoleh dengan memakai data titik terendah, perhitungannya sebagai berikut :

Biaya tetap = 126.808.951.692 – (14.658,3089 x 8.148.136)

= 126.808.951.692 – 119.437.894.318,6890

= Rp. 7.371.057.373,3111 per tahun

= Rp. 889,4633 per kilo teh jadi

Dari perhitungan di atas kita dapati bahwa biaya produksi ini terdiri dari biaya variabel sebesar Rp. 14.658,3089 per kilo produksi teh dan biaya tetap sebesar Rp. 7.371.057.373,3111 per tahun atau Rp. 889,4633 per kilo produksi teh jadi. Hasil tersebut kita nyatakan dalam sebuah fungsi linear, sebagai berikut:

Y = 7.371.057.373,3111 + 14.658,3089X

Di mana simbol “Y” merupakan biaya produksi yang dipekirakan berdasarkan volume produksi teh pada suatu periode tertentu dan simbol “X” merupakan volume produksi teh pada suatu periode tertentu. Dengan persamaan linier tersebut dapat dilakukan estimasi biaya produksi untuk masa yang akan datang. Misalnya di dalam tahun anggaran 20XX perusahaan merencanakan kenaikan kegiatan produksi yang diperkirakan akan menaikkan volume teh jadi menjadi 10.000.000 kg, maka biaya produksi dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan linier tersebut sebagai berikut :

Y = 7.371.057.373,3111 + 14.658,3089X

Y = 7.371.057.373,3111 + 14.658,3089 (10.000.000) Y = 7.371.057.373,3111 + 146.583.088.842,2690

(51)

Y = Rp. 153.954.146.215,5800

Untuk sampel data lebih dari dua, pemisahan biaya semi variabel dengan menggunakan metode titik tertinggi dan terendah ini sangat kasar, karena dari banyak pasang data kegiatan dan biaya tersebut, hanya diperhitungkan 2 pasangan data (pada kegiatan tertinggi dan terendah) saja, sehingga tidak cukup mencerminkan perilaku biaya semi variabel yang diamati perilakunya.

b) Metode Titik Sebar (Scrattergraph)

Berdasarkan data pada tabel 4.1 penulis gambarkan hubungan antara biaya produksi dengan volume produksi teh dengan grafik pada gambar 4.1 sebagai berikut:

Gambar 4.1Scrattergraph biaya produksi komoditi teh jadi Rp126,500,000,000

Rp127,000,000,000 Rp127,500,000,000 Rp128,000,000,000 Rp128,500,000,000 Rp129,000,000,000 Rp129,500,000,000 Rp130,000,000,000 Rp130,500,000,000 Rp131,000,000,000 Rp131,500,000,000

8,100,0008,150,0008,200,0008,250,0008,300,0008,350,0008,400,0008,450,000

Biaya Produksi

Volume Produksi

Scattergraph Biaya Produksi

Komoditi Teh jadi

(52)

Sumbu “X” pada grafik menunjukkan volume produksi teh, dan sumbu “Y”

menunjukkan jumlah biaya produksi. Garis A digambarkan paralel terhadap sumbu

“X” dari titik di mana garis B memotong sumbu “Y”, yang terbaca dari scattergraph mendekati angka Rp. 126.808.951.700 yang mencerminkan biaya tetap per tahun atau Rp. 15.301,998 per kilo produksi teh jadi. Garis ini mencerminkan elemen tetap dari biaya produksi untuk semua tingkat aktivitas dalam rentang relevan.

Area yang batasi oleh garis A dan B menunjukkan peningkatan dalam biaya produksi ketika jumlah produksi teh meningkat. Peningkatannya dihitung sebagai berikut:

Unsur biaya variabel rata-rata per tahun = biaya rata-rata per tahun – unsur tetap =

126.808.951.700 = 128.845.701.724 – 126.808.951.700 = Rp. 2.036.750.024

Biaya variabel per kilo teh =

=

= Rp. 245,774 per kilo produksi teh

(53)

Jadi biaya produksi terdiri dari Rp. 126.808.951.700 biaya tetap per tahun dan biaya variabel sebesar Rp. 245,774 per kilo produksi teh. Bila dinyatakan dalam sebuah fungsi linier adalah sebagai berikut :

Y = 126.808.951.700 + 245,774X

Simbol “Y” mewakili biaya produksi yang diperkirakan, sedangkan simbol

“X” merupakan volume produksi teh untuk periode tertentu yang digunakan sebagai acuan dalam menghitung biaya produksi.

Jumlah biaya produksi dengan asumsi volume produksi pada tahun yang akan datang sebesar 10.000.000 kilo produksi teh dapat kita cari dengan mensubstitusi dari persamaan:

Y = 126.808.951.700 + 245,774X

Y = 126.808.951.700 + 245,774 (10.000.000) Y = 126.808.951.700 + 2.457.740.142,5 Y = Rp. 129.266.691.842,5

c) Metode Kuadrat Terkecil (least-squares)

Dalam melakukan analisis dengan metode ini, penulis menggunakan data pada table 4.1. Untuk memudahkan perhitungan serta meningkatkan ketelitian, penulis menggunakan bantuan program Ms Excel komputer dan kalkulator untuk mengerjakan analisis ini. Dari tabel, penulis melakukan perhitungan regresi dengan bantuan komputer. Perhitungan tentang nilai rata-rata dan selisih data aktual dengan nilai rata-ratanya dapat dilihat dalam lampiran 4.

(54)

Danang Sunyoto (2009) menjelaskan, analisis regresi adalah suatu yang mengukur pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika pengukuran pengaruh ini melibatkan satu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y), dinamakan analilis regresi linier sederhana yang dirumuskan Y = a + bX, dimana a merupakan konstanta, dan b adalah nilai koefisien regresi untuk variabel X.

Menghitung besar tarif variabel dan unsur tetap biaya produksi digunakan data-data yang terdapat dalam tabel 3 lampiran 4. Tarif variabel (b) untuk biaya produksi, dihitung sebagai berikut:

b =

b =

b = Rp. 12.519,423599391100

Kemudian untuk menghitung unsur tetap (a) biaya produksi digunakan rumus garis lurus sebagai berikut:

Ῡ = a bX

79.980.325.682 = a + (12.519,423599391100)( 8.287.085) 79.980.325.682 = a + 103.749.521.259,449

a = 79.980.325.682 -103.749.521.259,449 a = Rp. -23.769.195.577,4485

a = Rp. -2.878,2217 per kilo teh jadi

(55)

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat diketahui bahwa biaya produksi terdiri dari biaya tetap (a) sebesar Rp -23.769.195.577,4485 per tahun dan tarif variabel (b) Rp. 12.519,423599391100 per kilo produksi teh.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, fungsi biaya untuk biaya produksi dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut:

Y = -23.769.195.577,4485+ 12.519,423599391100X

Selanjutnya untuk mengetahui nilai dari koefisien korelasi (r) serta nilai dari koefisien determinasi (r²). Algifari (2000) menjelaskan, Analisis korelasi adalah alat statistik yang dapat digunakan untuk mengetahui derajat hubungan linier antara satu variabel dengan variabel lain. Umumnya analisis korelasi digunakan dalam hubungannya dengan analisis regresi, untuk mengukur ketepatan garis regresi dalam menjelaskan variasi nilai variabel dependen. Sementara itu, koefisien determinasi adalah salah satu nilai statistik yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan pengaruh antara dua variabel. Nilai koefisien determinasi menunjukkan persentase variasi nilai variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh persamaan regresi yang dihasilkan.

Perhitungan dapat digunakan pada lampiran 4. Di dalam William K Carter (2009) dijelaskan, dalam teori statistik, koefisien korelasi (r) adalah ukuran sejauh mana dua variabel berkaitan secara linier. Jika r = 0, berarti tidak ada korelasi. Jika r

± 1, berarti korelasinya sempurna. Jika r positif, hubungan antara dependen y dan variabel x bersifat positif. Hubungan positif berarti nilai y meningkat saat x meningkat, dan garis regresi akan bergerak naik ke kanan atas. Jika nilai r negatif,

(56)

hubungan antara variabel dependen dan variabel independen bersifat negatif atau terbalik, yang berarti nilai y turun saat nilai x dan garis regresi akan bergerak turun ke kanan bawah.

Perhitungan koefisien korelasi dan koefisien determinasi adalah sebagai berikut :

r =

√∑ ∑

r =

r =

r = 1 r² = 1

Dari perhitungan di atas kita dapatkan koefisien korelasi (r) sebesar 1 dan koefisien determinasi (r²) sebesar 1

Kesimpulan yang dapat diambil dari nilai-nilai di atas adalah sebagai berikut.

Perubahan biaya produksi 100% dipengaruhi oleh perubahan jumlah/volume teh yang diproduksi. Penggunaan volume produksi teh sebagai variabel bebas sudah tepat karena perubahan biaya produksi sebagian besar dipengaruhi oleh volume produksi.

Untuk memperjelas rentang kenyakinan bagi biaya produksi, penulis membuat asumsi atau pengandaian bahwa tingkat kegiatan aktual untuk suatu periode di masa depan adalah 10.000.000 kg produksi teh serta tingkat kenyakinan yang di inginkan adalah 95%.

(57)

Biaya produksi atas produksi teh jadi dihitung berdasarkan tingkat kegiatan

yang diandaikan, dengan menggunakan rumus regresi sebelumnya yaitu, Y = -23.769.195.577,4485 + 12.519,423599391100X hasilnya adalah Rp. 101.425.040.416,4630 {-23.769.195.577,4485 + (12.519,423599391100 x

10.000.000)}

Untuk menghitung faktor koreksi, maka diperlukan data mengenai selisih kuadrat variabel bebas (volume produksi teh) dengan rata-ratanya { X-X )²}.

Perhitungannya adalah sebagai berikut :

Se =

Namun, dari data tersebut, nilai yᵢ-yᵢ') sama dengan nol dan mengakibatkan yᵢ-yᵢ')² juga sama dengan nol (lihat lampiran 5). Dan jumlah sampel sebanyak dua dengan derajat kebebasan (df) = n-2, yang berarti df = 0, menunjukkan tidak ada nilai untuk t pada derajat kebebasan 0 dengan tingkat keyakinan 95 % (lihat lampiran 3), yang berarti standard error (Se) tidak dapat dihitung karena akan menghasilkan nilai nol.

Padahal, jika derajat kebebasan tidak sama dengan nol atau di atas nol, dan nilai standard error (Se) tidak sama dengan nol, maka interval keyakinan dapat dihitung sebagai berikut :

± tpSe

(58)

± Se

Dengan adalah asumsi biaya produksi di masa depan sebesar 10.000.000 dan adalah rata-rata dari volume produksi.

Dari perhitungan di atas, seharusnya rentang biaya produksi di masa depan dengan asumsi produksi teh jadi sebesar 10.000.000 dapat dicari dengan keyakinan 95% atau dengan tingkat kesalahan sebesar 5%. Yang berarti nilai biaya produksi dengan asumsi volume produksi teh jadi sebesar 10.000.000 tidak boleh melebihi atau kurang dari batas-batas yang sudah didapatkan dari hasil perhitungan di atas.

(59)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dan uraian pada bab-bab sebelumnya dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

1. Perhitungan terhadap biaya produksi komoditi teh dengan metode titik tertinggi dan terendah menunjukan bahwa dalam biaya produksi tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp. 7.371.057.373,3111 per tahun atau sebesar Rp. 889,4633 per kilo produksi tehjadi, dan biaya variabel sebesar Rp. 14.658.3089 per kilo produksi teh jadi dan Dengan metode Scattergraph diperoleh nilai estimasi biaya tetap sebesar Rp. 126.808.951.700 per tahun atau sebesar Rp. 15.301,998 per kilo produksi teh jadi, dan tarif variabel sebesar Rp. 245,774 per kilo produksi teh jadi. Dengan metode derajat terkecil (least-squares) diketahui bahwa biaya produksi terdiri dari biaya tetap sebesar Rp. -23.769.195.577,4485 per tahun atau sebesar Rp. - 2.868,2217 per kilo produksi teh jadi dan tarif variable sebesar Rp. 12.519,423599 per kilo produksi teh jadi.

2. Perhitungan biaya produksi di masa depan dengan asumsi volume produksi sebesar 10.000.000 menggunakan metode titik tertinggi dan terendah menghasilkan nilai biaya produksi sebesar Rp. 153.954.146.215,5800, menggunakan metode scattergraph sebesar Rp. 129.266.691.842,5, dan dengan menggunakan metode least – square sebesar Rp. 101.425.040.416,4630

(60)

3. Perhitungan biaya produksi dengan metode scattergraph menghasilkan nilai biaya tetap yang tertinggi diantara hasil dengan menggunkaan metode lain, dan biaya variabel yang lebih kecil pula dibandingkan dengan hasil dari metode titik tertinggi dan titik terendah dan metode least – square.

4. Hasil dari metode titik tertinggi dan terendah dianggap menghasilkan nilai yang kasar apabila sampel data tidak sama dengan dua atau diatas dua pasang sample data, namun pada analisis pemisahan biaya semi variabel dalam tugas akhir ini yang menggunakan sampel data hanya sebanyak dua, dianggap sudah cukup efektif, karena kedua pasang data tersebut digunakan dalam rumus pencarian untuk menentukan nilai biaya tetap dan biaya variabel pada biaya produksi teh jadi.

5. Perhitungan dengan metode least – square menghasilkan nilai biaya tetap negatif dan hal tersebut dianggap tidak masuk akal karena mencerminkan nominal biaya tetap, yang secara logika tidak mungkin benilai nol. Meskipun derajat korelasi (r) dan dereminasinya (r²) bernilai 1,yang berarti berkorelasi sempurna, namun hal tersebut tidak dapat didukung dengan standard estimate (Se), karena nila Se jugabernilai nol. Dan untuk tingkat keyakinan sebesar 95% untuk ketepatan hasil yang akan didapat tidak tersedia di dalam tabel t – student, karena derajat kebebasan atau df = 0. Yang berarti metodeleast – square dengan sampel data yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini untuk menaksir biaya produksi dengan estimasi volume produksi teh jadi sebesar 10.000.000 kilo hanya dapat dicari sampai pada regresi dan determinasinya saja, karena sampel data yang

Gambar

Gambar 2.1 Logo perusahaan PT.Perkebunan Nusantara IV Medan  Sumber :http://www.ptpn4.co.id/
Gambar 2.2Struktur Organisasi PT.Perkebunan Nusantara IV Medan  Sumber :http://www.ptpn4.co.id/
Gambar 4.1Scrattergraph biaya produksi komoditi teh jadi Rp126,500,000,000Rp127,000,000,000Rp127,500,000,000Rp128,000,000,000Rp128,500,000,000Rp129,000,000,000Rp129,500,000,000Rp130,000,000,000Rp130,500,000,000Rp131,000,000,000Rp131,500,000,000 8,100,0008,

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan dengan menguji pengaruh modernisasi sistem administrasi perpajakan yang terdiri atas struktur organisasi, prosedur organisasi, strategi organisasi,

Yang bertanda tangan di bawah ini telah membaca publikasi dengan judul : PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA KANTOR..

(3) Ketentuan mengenai tata cara pengumpulan data, analisis, mobilitas dan persebaran penduduk sebagai bagian dari perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga

Melalui program ini alat dikendalikan dengan data yang sudah baku dan sudah dirancang agar tampilan pada alat sesuai dengan menekan beberapa tombol

Puji Tuhan kehausan dan kelaparan saya untuk mengenal kebenaran, dipuaskan Tuhan, dan saya lahir baru, lahir dari benih yang tidak fana, dan sekarang firman yang adalah roh dan

[r]

adat perkawinan masyarakat Batak Toba dan tuturan yang paling dominan digunakan. dalam

Berdasarkan table 3.19 dapat diketahui bahwa 31 orang tua menyatakan kegiatan yang biasa dilakukan untuk menambah kemampuan bahasa dan kosakata anak adalah membacakan