8 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang sejenis dilakukan oleh Intan Era Purnamasari (2017) yang melakukan penelitian tentang Pelaksanaan Bank Garansi dalam perjanjian jasa Konstruksi Antara Pemerintah Daerah dengan Kontraktor pada BPD Jateng Cabang Sragen yang bertujuan untuk mengetahui mekanisme dan problematika apa yang muncul dalam pelaksanaan bank garansi dalam perjanjian jasa antara pemerintah dengan kontraktor. Penelitian yang diperoleh oleh Intan Era Purnamasari menggunakan metode pendekatan yuridis empiris yang bersifat deskriptif dan teknik pengumpulan data yang digunakan melalui studi kepustakaan studi lapangan yang berupa wawancara. Analisis data dilakukan secara kualitatif . Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mekanisme Bank Garansi didahului dengan syarat-syarat menurut jenis Bank Garansi yang akan diajukan dan problematika yang muncul dalam dalam pelaksanaan Bank Garansi adalah wanprestasi.
Lovia Listiane Putri (2016) yang juga melakukan penelitian sejenis tentang Penggunaan Bank Garansi dalam Penyelenggaraan Pekerjaan Konstruksi pada Bank lampung pada tahun 2016. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Hasil pada penelitian ini membuktikan bahwa signifikasi dan relevansi Bank Garansi dalam pekerjaan proyek konstruksi adalah sebagai suatu jaminan untuk penyedia jasa guna memperoleh kepastian hukum serta pertanggung jawaban apabila pekerjaan konstruksi tersebut terjadi wanprestasi.
Relevansi penelitian ini dengan penelitian terdahulu sama-sama membahas tentang bank garansi sebagai jaminan perjanjian jasa antara pihak penerima jaminan yaitu pemilik proyek dengan pihak terjamin yaitu kontraktor.
Hasilnya penelitian terdahulu membahas tentang syarat bank garansi dan problematika dalam pelaksanaan bank garansi serta penggunaannya dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi dan hasil dari penelitian sekarang yaitu untuk mengetahui prosedur penerbitan bank garansi lebih detail yang tidak hanya syarat-syarat saja tetapi juga memuat tentang larangan & batasan dalam pemberian bank garansi dan juga analisis serta evaluasi yang dilakukan sebelum penerbitan bank garansi serta lebih menekankan manfaat bank garansi bagi pihak kontraktor. Dengan demikian, paparan dari penelitian terdahulu yang telah digambarkan dan diuraikan sebelumnya memberi sebuah gambaran tentang kerangka penelitian/penulisan tentang tema serta bahasan yang di temukan.
B. Tinjauan Umum Bank
Dalam pengertian umum Bank dapat diartikan sebagai tempat untuk menyimpan dan dan menyalurkan dana. Namun, sesuai dengan perkembangan dan kemajuan dalam sektor perekonomian pada masa sekarang pengertian bank juga telah berkembang.
Menurut pengertian yang terkandung dalam Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan yaitu :
“Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit/pinjaman atau bentuk lainnya guna meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.
Menurut pengertian yang terkandung dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan yaitu :
“Bank adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit/pinjaman dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Sedangkan pengertian lembaga keuangan adalah badan yang melalui kegiatan-kegiatannya di bidang keuangan, menarik uang dari dan menyalurkannya dalam masyarakat”.
Menurut Prof Prof G.M. Verryn Stuart dalam buku Bank Politic yaitu :
“Bank adalah suatu badan usaha yang bertujuan memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayaran nya sendiri atau dengan uang yang diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan mengedarkan alat-alat penukar baru berupa uang giral”.
C. Tinjauan Umum Tentang Bank Garansi
Istilah Bank Garansi berasal dari terjemahan Bahasa Belanda, yaitu bank garantiee. Pengertian tentang Bank Garansi sesuai ketentuan Surat Edaran Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 11 / 110 / KEP / Dir / UPPB tentang Pemberian Jaminan oleh Bank dan Pemberian Jaminan oleh Lembaga Keuangan non-bank :
“Garansi Bank adalah Jaminan dalam bentuk warkat yang diterbitkan oleh bank atau lembaga keuangan nonblank yang mengakibatkan kewajiban membayar terhadap pihak yang menerima jaminan apabila pihak yang menerima jaminan cidera janji”.
Warkat Bank Garansi adalah surat yang diterbitkan oleh suatu bank penerbit guna sebagai jaminan suatu pembayaran suatu pembayaran kepada pihak penerima jaminan, apabila pihak yang dijamin melakukan wanprestasi.
Menurut pengertian Huyasro dan Achmad Anwari, adalah sebagai berikut:
“Garansi bank adalah Garansi atau jaminan yang diberikan oleh bank.
Maksudnya bank menjamin untuk memenuhi suatu kewajiban apabila yang dijamin di kemudian hari ternyata tidak memenuhi kewajiban kepada pihak lain sebagaimana yang dijanjikan”.
Pengertian ini di fokuskan dalam hal penjaminan yang diberikan oleh bank penerbit kepada pihak terjamin untuk kepentingan pihak yang menerima jaminan. Misal, Antara pihak X (pemberi kerja) membuat perjanjian dengan Pihak Y (penerima pekerjaan).
Kaesimpulan pengertian Bank Garansi dengan menghubungkan Pasal 1 ayat ( 3a) dengan Pasal 2 ayat (1) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 23/88/ KEP / DIR tentang pemberian Bank Garansi yaitu :
1) Pada pasal 1 ayyat (3a) yang berbunyi : “Garansi adalah garansi dalam bentuk warkat yang diterbitkan oleh bank yang mengakibatkan kewajiban membayar terhadap pihak yang menerima garansi apabila pihak yang dijamin cidera janji (wanprestasi)”.
2) Pada pasal 2 ayat (1) yang berbunyi : “Garansi sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 ayat ( 3a ) yang diterbitkan oleh bank dapat berupa Garansi Bank atau Standby Letter of Credit ( Standby L / C)”.
Dari ketentuan pasal-pasal diatas, dapat ditarik kesimpulan pengertian bank garansi adalah suatu jaminan pembayaran dalam bentuk warkat yang diterbitkan oleh bank penerbit yang nantinya bank akan membayar kewajiban finansial terhadap pihak penerima jaminan apabila pihak yang dijamin oleh bank wanprestasi.
Menurut pengertian dari Muhamad Djumhana, adalah sebagai berikut :
“Bank garansi atau garansi bank adalah Jaminan yang diberikan oleh bank maksudnya bank menyatakan suatu pengakuan tertulis yang isinya menyetujui mengikat diri kepada penerima jaminan dalam jangka waktu dan syarat-syarat tertentu, apabila di kemudian hari ternyata si terjamin tidak memenuhi kewajibannya kepada si penerima jaminan”.
Bank Garansi akan terjadi apabila bank sebagai pihak penjamin di wajibkan untuk menjamin pelaksanaan suatu pekerjaan tertentu, atau menanggung akan terpenuhinya suatu pembayaran tertentu kepada pihak yang menerima jaminan. Hal ini sering dijumpai di dalam pekerjaan proyek atau yang biasa disebut dengan garansi penawaran/ tender (bid bond).
Di dalam perjanjian Bank Garansi, terdapat beberapa pihak yang saling keterkaitan yaitu :
1) Pihak Bank, yaitu pihak yang menerbitkan/memberi garansi dan disebut juga sebagai pihak penjamin
2) Pihak yang dijamin, yaitu nasabah bank pemohon Bank Garansi
3) Pihak penerima jaminan, merupakan pihak pemberi mandat/ pemberi kerja dalam perjanjian.
Masing- masing pihak mempunyai hak dan kewajiban yang saling terkait dan berhubungan satu sama lain, yaitu:
1) Pihak Bank (Penjamin), berkewajiban untuk mencairkan garansi kepada pihak yg menerima jaminan apabila pihak yang dijamin cidera janji (wanprestasi), dan berhak mendapat komisi apabila pencairan bank garansi terjadi.
2) Pihak yang dijamin, berkewajiban untuk membayar dan melunasi hutangnya jika terjadinya pencairan bank garansi, dan dalam melaksanakan pekerjaan berhak untuk memperoleh jaminan secara penuh sesuai dengan perjanjian.
3) Pihak Penerima Jaminan, berkewajiban mendapatkan dan mengajukan klaim jaminannya apabila pihak terjamin melakukan wanprestasi
D. Landasan Hukum Bank Garansi
Peraturan Undang-undang yang mengatur tentang Bank Garansi :
1) Pasal 1820 KUHP sampai dengan Pasal 1850 KUHP. Ketentuan yang tercantum dalam KUHP ini merupakan ketentuan-ketentuan umum yang mengatur tentang jaminan penanggungan pada umumnya.
2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan
3) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 11/110/KEP/DIR/UPPB tentang Pemberian Jaminan oleh Bank dan Pemberian Jaminan oleh Lembaga Keuangan Non-Bank
4) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor. 23/88/KEP/DIR tanggal 18 Maret 1991.
5) Surat Edaran Direksi Bank Indonesia Nomor 23/7/UKU tanggal 18 Maret 1991. Dengan dikeluarkannya ketentuan-ketentuan baru perihal pemberian bank garansi, maka ketentuan-ketentuan lama yang dimuat dalam Surat Edaran Bank Indonesia yang bertentangan dengan ketentuan tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi.
E. Fungsi dan Manfaat Bank Garansi
Sehubungan dengan pembahasan sebelumnya, terdapat tiga pihak yang saling keterkaitan di dalam perjanjian Bank Garansi terdapat tiga pihak saling terkait. Bank garansi mempunyai fungsi dan manfaat tersendiri bagi masing-masing pihak.
1. Bagi pihak Bank, penerbitan bank garansi merupakan salah satu sumber pendapatan bank, karena dari penerbitan bank garansi tersebut pihak bank memperoleh pendapatan dari provisi, biaya administrasi, serta bunga yang dikenakan. Selain itu, bank juga dapat mengelola dana jaminan bank garansi berupa deposit yang diserahkan oleh nasabah dalam penyaluran perkreditan.
2. Bagi pihak terjamin, bank garansi berfungsi sebagai sarana untuk mendapatkan jaminan kepercayaan bahwa ia akan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang telah diperjanjikan. Dalam hal ini berarti bank menunjang nasabah agar bisnis atau kegiatan usahanya berjalan dengan baik dan lancar.
3. Bagi pihak penerima jaminan, bank garansi berfungsi sebagai suatu jaminan untuk terlaksananya suatu pekerjaan yang telah diperjanjikan. Bank garansi merupakan jaminan penanggungan atas resiko yang akan timbul apabila pihak terjamin melakukan wanprestasi.
F. Jenis Bank Garansi
Beberapa jenis bank garansi yang ada sebagai berikut : 1. Bank Garansi penangguhan bea masuk
Diberikan kepada Kantor Bea Cukai sebagai jaminan pembayaran bea masuk atas barang-barang yang akan dikeluarkan dari pelabuhan
2. Bank Garansi pita cukai tembakau
Diberikan kepada Kantor Bea Cukai sebagai jaminan pembayaran pta cukai rokok. Pihak yang dijamin adalah Pabrik rokok
3. Bank Garansi Perdagangan
Diberikan kepada agen perdagangan sebagai jaminan atas pembelian barang dalam jumlah banyak oleh nasabah yang dijamin bank
4. Bank Garansi Tender/Penawaran
Diberikan kepada Pemilik proyek untuk kepentingan Kontraktor sebagai salah satu syarat agar dapat mengikuti suatu tender
5. Bank Garansi Pelaksanaaan Pekerjaan
Diberikan kepada Pemilik proyek untuk kepentingan Kontraktor guna menjamin pelaksaanaan pekerjaan proyek
6. Bank Garansi Uang Muka
Diberikan kepada Pemilik Proyek untuk kepentingan Kontraktor guna menjamin uang muka yang telah diterima pihak Kontraktor
7. Bank Garansi Pemeliharaan
Diberikan kepada pemilik proyek untuk kepentingan Kontraktor guna menjamin pemeliharaan atas proyek yang telah diselesaikan.
G. Batasan-Batasan Dalam Bank Garansi
Mengingat bahwa dalam setiap pemberian Bank Garansi selalu terkandung unsur resiko, maka dalam memberikan Bank Garansi pihak Bank hanya diperkenankan memberikan sesuai dengan kemampuan finansialnya. Bank Indonesia juga telah menetapkan batasan-batasan dalam Bank Garansi yaitu sebagai berikut :
1) Pemberian bank garansi dalam penerimaan kredit luar negeri hanya diperbolehkan dengan ketentuan bahwa jumlah keseluruhan pemberian bank garansi yang dimaksud tidak melebihi batasan yaitu 20% dari modal.
2) Pemberian garansi atas permintaan bukan penduduk hanya diperbolehkan apabila disertai dengan :
a. Kontra garansi/ jaminan yang cukup dari bank yang ada di luar negeri yang bonafid
b. Setoran sebesar 100 % dari nilai garansi yang akan diberikan.
c. Pemberian garansi 20 % dari modal sendiri untuk fasilitas pemberian kredit debitur perorangan maupun kelompok.
Yang dimaksud diatas dalam pemberian kredit yaitu pemberian semua fasilitas kredit yang disediakan oleh bank, baik yang dapat ditarik langsung dan yang dapat langsung digunakan, serta pemberian fasilitan garansi dan penyertaan bank pada perusahaan yang bersangkutan.
H. Berakhirnya Bank Garansi
Di dalam Surat Edaran Bank Indonesia kepada Bank-Bank Umum, Bank- Bank Pembangunan dan Lembaga Keuangan Bukan Bank. Dalam surat edaran tersebut ditetapkan berakhirnya bank garansi yaitu sebagai berikut :
1) Telah berakhirnya perjanjian pokok dan
2) Berakhirnya bank garansi sebagaimana yang ditetapkan dalam bank garansi yang bersangkutan
Masa berlakunya bank garansi dan masa berakhirnya bank garansi telah ditentukan oleh bank. Sebagai contoh bank garansi mulai berlaku dari tanggal 20 Oktober 2018 sampai dengan 30 November 2018. Dengan berakhirnya jangka waktu yang telah ditetapkan tersebut, maka berakhir juga bank garansi yang telah dibuat oleh bank penjamin.