HUBUNGAN ANTARA GAYA BELAJAR DENGAN MINAT BELAJAR FISIKA PESERTA DIDIK KELAS X MIA SMA MUHAMMADIYAH 5
MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pendidikan pada jurusan pendidikan fisika Faklutas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh:
Nurul Saadah 10539137115
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA 2021
i
Motto dan Persembahan Motto :
“maka nikmat tuhan yang manakah yang kamu dustakan .” (QS. Ar-Rahman ayat 13)
Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, esok adalah harapan jangan tunda sampai hari esok apa yang akan engkau lakukan untuk masadepanmu
“Menjadi sedikit lebih terlambat, beristirahat sedikit kemudian membereskannya agak sedikit sulit tapi setelah semua berlalu ternyata itu tidak begitu buruk jadilah kuat dan bersabarlah, buah dari kesabaran memang pahit diawal tapi akan manis di akhir cerita, percayalah”
Persembahan :
Kupersembahkan karya sederhana ini untuk :
Kedua orang tuaku, suamiku dan anaku, Keluarga, dan Sahabatku atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis
mewujudkan harapan ini menjadi kenyataan.
vi
ABSTRAK
NURUL SAADAH. 2021. Hubungan antara Gaya Belajar dan Minat Belajar Peserta Didik Kelas X MIA Pada Pelajaran Fisika di SMA Muhammadiyah 5 Makassar.Skripsi. Program studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Pembimbing I Abdul Haris dan Pembimbing II Riskawati.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasi non eksperimen yang bertujuan 1) untuk mendeskripsikan gaya belajar peserta didik kelas X MIA SMA Muhammadiyah 5 Makassar, 2) untuk mendeskripsikan minat belajar peserta didik kelas X MIA SMA Muhammadiyah 5 Makassar, 3) untuk mengetahui hubungan antara gaya belajar dengan minat belajar peserta didik kelas X MIA SMA Muahmmadiyah 5 Makassar. Penelitian ini dilaksanakan bulan febuari 2021. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel jenuh dan populasi yang digunakan adalah peserta didik kelas X MIA SMA Muhammadiyah 5 Makassar. Instrumen yang digunakan adalah angket/kosiuner.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan pada gaya belajar dengan minat belajar peserta didik kelas X MIA SMA Muhammadiyah 5 Makassar.
Dimana bisa dilihat pada hasil uji korelasi pearsonn yaitu hipotes diterima dengan nilai sig 0,373.
Bedasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara gaya belajar dengan minat belajar fisika peserta didik kelas X MIA SMA Muhammadiyah 5 Makassar
Kata kunci : gaya belajar, minat belajar
vii
KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum wr. Wb
Tiada kata indah selain ucapan syukur Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT sang penentu segalanya, atas limpahan Rahmat, Taufik, dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Hubungan Antara Gaya Belajar dan Minat Belajar peserta didik kelas X Mia SMA Muhammdaiyah 5 Makassar.
Sepenuhnya penulis menyadari bahwa skripsi ini takkan terwujud tanpa adanya ulur tangan dari orang-orang yang telah digerakkan hatinya oleh sang pemilik Khalik untuk memberikan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung bagi penulis, oleh karena itu disamping rasa syukur kehadirat Allah SWT, penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada pihak yang selama ini memberikan bantuan hingga terselesainya skripsi ini.
Pada kesempatan ini, penulis secara istimewa berterimakasih kepada kedua orang tua ku tercinta dan terkasih Bapak Abdul Naser dan ibu Mariana, Suamiku dan anakku tercinta Ayah Ramli dan Princess Afifah Arisyah, atas jerih payah, pengorbanan dalam mendidik, membimbing penulis dalam setiap langkah menjalani hidup selama ini sehingga terselesainya skripsi ini. Tak lupa pula kepada Keluarga, Adik-Adikku, Mertuaku, Iparku dan Anggota kelas KINEMATIKA B yang selalu mendoakan, Mendukung, dan selalu menyempatkan waktuuntuk selalu membantu.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mengalami hambatan, namun berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat
viii
terselesaikan. Oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan dan setulusnya kepada Bapak Drs. Abdul Haris, M.Si selaku pembimbing I dan Ibunda Riskawati , S.Pd., M.Pd selaku pembimbing II yang selalu meluangkan waktunya dalam membimbing penulis, serta memberikan ilmu dan pengetahuan yang berharga dalam bimbingan ini. Semoga Allah SWT memberikan perlindungan, kesehatan dan pahala yang berlipat ganda atas segala kebaikan yang telah dicurahkan.
Selain itu ucapan terimakasih juga pada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, Ayahanda Prof. dr. H. Ambo Asse, M.Ag, selaku Rektor Muhammadiyah Makassar, Ayahanda Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Ibunda Dr. Nurlina, S.Si., M.Pd. selaku ketua prodi pendidikan fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Ayahanda Ma’ruf, S.Pd., M.Pd. selaku sekertaris Prodi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak/Ibu Dosen Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membagikan ilmunya kepada penulis.
Dengan kerendahan hati penulis menyampaikan bahwa tak ada manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif sehingga penulis dapat berkarya yang lebih baik lagi. Amin Yaa Rabbal Alamin.
Makassar, Agustus 2021
Penulis
ix
48 71
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu jalan untuk mengembangkan dan mengarahkan diri seseorang menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang utama dan sempurna. Melalui pendidikan manusia dapat mengembangkan kepribadiannya baik jasmani maupun rohani ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, pendidikan memiliki peran yang sangat penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan seseorang.
Mempelajari fisika merupakan cara untuk memperoleh kompetensi yang berupa keterampilan, memelihara sikap, dan mengembangkan pemahaman konsep yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari. Belajar fisika lebih memfokuskan pada fisika sebagai proses dan sebagai sikap. Fisika sebagai produk terdiri atas pengetahuan berupa konsep, fakta, hukum, prinsip serta teori gejala alam. Hal tersebut penting untuk dikuasai oleh peserta didik. Sehingga peserta didik diharapkan mampu memahami maupun mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu faktor pendukung efektivitas belajar adalah gaya belajar. Satu individu dengan individu lainnya akan memiliki cara belajar yang berbeda-beda.
Gaya belajar tergolong dalam faktor stuktural. Faktor stuktural yang dimaksud yaitu pendekatan belajar.
Gaya belajar setiap individu berbeda-beda tergantung dari cara memahami dan menyerap pelajaran yang diberikan oleh pengajar (Yuwono, 2010). Oleh
1
48 72
karena itu, mereka sering kali harus menempuh cara yang berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama. Jika seseorang anak menangkap informasi atau materi sesuai dengan gaya belajarnya, maka tidak akan ada pelajaran yang sulit.
Jika guru mampu menyesuaikan dengan gaya belajar berbeda-beda yang dimiliki siswanya, maka siswa akan memiliki ketrtarikan terhadap pelajaran fisika. Rasa suka dan ketertarikan yang tinggi dengan kesadaran terhadap sesuatu dipandang memberi keuntungan dan kepuasan tersendiri pada dirinmya sehingga mampu mendorong individu berpartisipasi dalam sebuah kegiatan tanpa ada yang menyuruh ( alamiah), yang disebut juga dengan minat.
Minat adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang mereka kehendaki, minat adalah rasa suka dan tertarik yang tinggi dengan kesadaran diri terhadap sesuatu yang dipandang memberi keuntungan dan kepuasan pada dirinya sehingga mendorong individu berpartisipasi dalam kegiatan itu tanpa ada yang menyuruh (Haryati,2015).
Minat pada hakikatnya adalah penerimaan hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu yang ada diluar dirinya sendiri, bila semakin kuat atau semakin dekat hubungannya maka semakin besar minatnya. Sedangkan belajar adalah proses dimana tingkah laku seseorang yang timbul atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Dengan demikian, yang dimaksud dengan minat belajar adalah rasa senang atau tertarik, dan keinginan yang tinggi terhadap proses belajarnya yang dipandang dapat memberikan keuntungan dan kepuasan bagi dirinya.
Fakta yang terjadi dilapangan khususnya di SMA Muhammadiyah 5 2
48 73
Makassar, bahwa kebanyakan peserta didik tidak mengetahui gaya belajar apa yang dominan pada dirinya. Padahal, gaya belajar adalah kunci dalam mengembangkan kinerja pada pekerjaan maupun di sekolah. Pemahaman tentang gaya belajar sangat penting karena akan berguna dalam memaksimalkan penyerapan informasi.
Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar merupakan cara yang menunjukkan bagaimana individu memperoleh informasi, mengolah informasi dan mengembangkan keterampilannya berkaitan dengan hal- hal yang menjadi pusat perhatiannya. Oleh karena itu, gaya belajar menjadi salah satu penentu bagi pendidik dalam menggunakan metode pembelajaran yang sesuai. Dengan penggunaan metode yang tepat maka proses pembelajaran dikelas akan kondusif. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai “ Hubungan Antara Gaya Belajar dan Minat Belajar Fisika Peserta Didik di SMA Muhammadiyah 5 Makassar “
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana gaya belajar peserta didik kelas X SMA 5 Muhammadiyah Makassar pada mata pelajaran fisika ?
2. Bagaimana minat belajar peserta didik kelas X SMA 5 Muhammadiyah pada mata pelajaran fisika ?
3
48 74
3. Apakah terdapat hubungan antara gaya belajar dan minat belajar fisika peserta didik pada kelas X SMA 5 Muhammadiyah pada mata pelajaran fisika ?
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
4. Bagaimana gaya belajar peserta didik kelas X SMA 5 Muhammadiyah Makassar pada mata pelajaran fisika ?
5. Bagaimana minat belajar peserta didik kelas X SMA 5 Muhammadiyah pada mata pelajaran fisika ?
6. Apakah terdapat hubungan antara gaya belajar dan minat belajar fisika peserta didik pada kelas X SMA 5 Muhammadiyah pada mata pelajaran fisika ?
4
48 75
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Gaya Belajar
Gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungannya dan memproses informasi tersebut atau cara yang cenderung dipilih untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi.
Gaya belajar adalah cara konsisten yang dilakukan oleh seorang murid dalam menangkap simulus dan informasi, cara mengingat atau berpikir, dan memecahkan soal. Cara belajar ini berkaitan erat dengan pribadi seseorang yang tentu dipengaruhi oleh pendidikan dan riwayat pendidikannya.
Berikut adalah pemaparan para ahli dalam mendefenisikan pengertian dari gaya belajar :
1. Menurut james and Gardner (Nur, 2012) gaya belajar adalah cara yang kompleks dimana para siswa menganggap dan merasa paling efketif dan efisien dalam memproses, menyimpan dan memanggil apa yang mereka pelajari.
2. Menurut kolb mengatakan bahwa gaya belajar merupakan metode yang dimiliki individu untuk mendapatkan informasi, sehingga pada prinsipnya gaya belajar merupakan bagian integral dari siklus belajar.
3. Menurut Keefe gaya belajar adalah factor-faktor kognitif, efektif, dan fisiologis yang menyajikan beberapa indicator yang relative stabil tentang bagaimana para siswa merasa, berubungan dengan lainnya dan bereaksi terhadap lingkungan belajar.
5
48 76
4. Gordon Dryden dan Dr. Jeanette gaya belajar adalah cara yang di ambil oleh masing-masing orang dalam menyerap informasi baru dan sulit, bagaimana mereka berkonsentrasi memproses dan menampung informasi yang masuk ke otak.
5. Menurut Adi w. Gunawan pengertian gaya belajar adalah cara yang lebih kita sukai dalam melakukan kegiatan berpikir, memproses dan mengerti suatu informasi.
6. Obby Deporter gaya belajar adalah seseorang yang belajar dengan menggunakan cara berbeda-beda, dan semua cara sama baiknya. Setiap cara mempunyai kekuatan sendiri-sendiri. Dalam kenyataannya kita semua memiliki gaya belajar itu (visual, audio, kinestetik) hanya saja biasanya satu gaya yang mendominasi.
7. Menurut Joko Sosilo gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memperoleh informasi tersebut.
Berdasarkan pemaparan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih atau dilakukan karena kebiasaan untuk menerima informasi dari sekolah sebagai perolehan informasi dari pengetahuan, keterampilan atau sikap-sikap dalam memproses informasi tersebut melalui belajar atau pengalaman.
Pada awal pengalaman belajar, salah saatu diantara langkah pertama adalah mengenali modalitas seseoramg sebagai motivasi visual, auditorial atau kinestetik. Orang belajar visual melalui dari apa yang mereka lihat, pelajar auditorial belajar dari apa yang mereka dengar, pelajar kinestetik lewat gerak atau 6
48 77
sentuhan. Walaupun masing-masing dari kita belajar menggunakan ketiga modalitas pada tahapan tertentu kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu diantara ketiganya.
1. Gaya Belajar Visual.
a. Jenis Gaya Belajar visual
Bunda Lucy dalam bukunya berjudul panduan praktis tes minat dan bakat anak mengemukakan tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi ketika gaya belajar itu adalah :
Gaya Belajar Visual (Belajar Dengan Cara Melihat)
Gaya belajar visual (Visual Learners) menitik beratkan pada ketajaman penglihata. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Pelajar visual membuat banyak simbol dan gambar dalam catatan mereka.
Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajar) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh sering kali salah menginterprestasikan kata atau ucapan.
Adapun ciri-ciri gaya belajar visual adalah sebagai berikut : a) Berbicara dan membaca dengan cepat
7
48 78
b) Mengingat apa yang dilihat, dari pada apa yang di dengar c) Mengingat dengan asosiasi visual
d) Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan e) Biasanya tidak terganggu oleh keributan
f) Membaca cepat dan tekun
g) Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara ditelpon dan dalam rapat h) Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat ya atau tidak i) Memperhatikan gerak gerik lawan bicara
j) Lebih suka seni dari pada musik.
b. Karakteristik Gaya Belajar Visual
Gaya belajar merupakan kecendrungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar dikelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran (Slamento,2003).
Fleming dan Mills (1992) dalam Slemento (2003) mangajukan kategori gaya belajar (Learning Style) VARK (Visual, Audiotorial, Read-write, kinestetik) tersebut sebagai berikut :
Kecenderungan ini mencangkup menggambarkan informasi dalam bentuk peta, flow chart dan simbol visual seperti panah, lingkaran dan materi lain yang digunakan. Instruktur untuk mempresentasikan hal-hal yang dapat disampaikan dengan kata-kata.Hal ini mencangkup juga desain, pola, bentuk dan format lain yang digunakan untuk menandai dan menyampaikan informasi.
Beberapa karakteristik Visual Learning adalah :
a. Senantiasa melihat bibir guru yang sedang mengajar
8
48 79
b. Menyukai instruksi tertulis, foto dan ilustrasi untuk dilihat
c. Saat petunjuk untuk melakukan sesuatu diberikan biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru dia sendiri bertindak
d. Cenderung menggunakan gerakkan tubuh untuk mengekspresikan atau mengganti sebuah kata saat mengungkapkan sesuatu
e. Kurang menyukai berbicara didepan kelompok dan kurang menyukai untuk mendengarkan orang lain.
f. Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan secara lisan
g. Menyukai diagram, kalender maupun grafik time-line untuk mengingat bagian peristiwa
h. Selalu mengamati seluruh elemen fisik dari lingkungan belajar i. Lebih menyukai peragaan dari pada penjelasan lisan
j. Biasanya tipe ini dapat duduk tenang di tengah situasi yang rebut atau ramai tanpa merasa terganggu.
k. Mengorganisir materi belajarnya dengan hati-hati
l. Berusaha mengingat dan memahami menggunakan diagram, tabel dan peta m. Mempelajari materi dengan membaca catatan dan membuat ringkasan
c. Pendekatan Yang Biasa Dilakukan Terhadap Gaya Belajar Visual
a. Gunakan beragam bentuk grafis yang menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu bisa berupa film, slide, gambar, ilustrasi, coretan-coretan, kartu bergambar, catatan dan kartu-kartu gambar berseri yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan.
9
710 48
b. Koleksi beberapa buku, baik pelajaran maupun non pelajaran. Anak tipe visual lebih menyukai membaca dari pada dibacakan. Tidak ada salahnya sesekali mengajak siswa belajar diperpustakaan agar bisa memilih buku sesuai yang disukai.
c. Ajarin siswa membuat peta konsep (mind mapping). Warna dan gambar yang digunakan dalam pembuatan mind mapping sangat membantu anak dalam belajar.
d. Highlighter : anak tipe visual lebih peka terhadap warna. Oleh karena itu, ada baiknya menampilkan media dengan beberapa warna highlighter untuk siswa.
e. Alat peraga sebagai media pembelajaran sangat membantu anak tipe visual.
f. Perhatikan penerangan di tempat belajar, anak visual lebih dominan menggunakan indera penglihatan. Oleh karenanya, ruangan yang sangat terang sangat di butuhkan oleh anak tipe ini. Jika memungkinkan, sesekali mengajak siswa belajar di tempat yang berbeda atau ruangan lain agar siswa mendapatkan suasana baru sehingga dapat mendongkrak samangat belajarnya.
g. Disiplin ditegaskan bahwa dengan “teladan” : anak tipe visual tidak membutuhkan perkataan panjang lebar, tetapi cukup mencontoh pebuatan figure seperti orang tua atau guru.
2. Auditorial (Belajar Dengan Cara Mendengar) a. Jenis gaya belajar auditorial
Gaya belajar ini mengandalkan pendengaran untuk menangani sekaligus untuk mengingatnya. Mereka menikmati saat-saat mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang lain. Karakteristik model belajar ini benar-benar 10
11
711 48
menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi tertentu, anak harus mendengarnya terlebih dahulu. Artinya anak harus mendengar baru kemudian bisa mengingat dan memahami informasi yang diterima.
Untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Cobalah untuk menerjemahkan pengalaman anak dengan suara.Anak auditori dapat mencerna yang disampaikan melalui intonasi suara, pitch tinggi rendahnya, kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya.
Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi pelajar auditorial. Pelajar auditorial biasanya dapat menghafal lebih cepat pada saat membaca teks dengan keras atau mendengarkan kaset.
Pelajar auditori cenderung menyukai cara belajar dengan cara mendengarkan, contoh mendengarkan cerita, serta mengulang informasi adalah car utama dalam belajar mereka. Para pelajar auditori mungkin lebih suka merekam dengan kaset dari pada mencatat, karena mereka suka mendengarkan informasi berulang-ulang.
Ciri-ciri gaya belajar auditorial yaitu sebagai berikut : a) Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja
b) Mudah terganggu oleh keributan
c) Menggunakan bibir dala mengucapkan tulisan dibuku ketika membaca.
d) Senang memca dengan keras dan mendengarkan
e) Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada , berirama dan warna suara f) Merasa kesulitan untuk menulis, tetapi hebat dalam bercerita
g) Berbicara dengan irama yang terpola h) Biasanya pembicara yang fasih
12
712 48
i) Lebih suka musik dari pada seni
j) Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang di lihat.
b. Karakteristik Gaya Belajar Auditorial Aural atau Auditori Learning (A)
Modalitas ini mengambarkan preferensi terhadap informasi yang didengar atau diucapkan. Siswa dengan modalitas ini belajar secara maksimal dari ceramah, tutorial, tipe diskusi kelompok, bicara dan membicarakan materi. Hal ini mencangkup berbicara dengan suara keras atau bicara kepada diri sendiri.
Beberapa karakteristik Auditory Learner antara lain :
a. Mampu mengingat dengan baik apa yang mereka katakan maupun yang orang lain sampaikan
b. Mengingat dengan baik dengan jalan selalu mengucapkan dengan nada keras dan mengulang-gulang kalimat
c. Sangat menyukai diskusi kelomok
d. Menyukai diskusi yang lebih lama terutama untuk hal-hal yang kurang mereka pahami
e. Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas
f. Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV dan bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplit
g. Suka berbicara
h. Kurang suka tugas membaca (dan pada umunya bukanlah pembaca yang baik)
13
713 48
i. Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya j. Kurang dalam mengerjakan tugas mengarang atau menukis
k. Kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan seperti : hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman yang baru dsb
l. Sukar bekerja dengan tenang tanpa menimbulkan suara
m. Mudah terganggu konsentrasi karena suara dan juga susah berkonsentrasi bila tidak ada suara sama sekali
c. Pendekatan Yang Biasa Dilakukan Terhadap Gaya Belajar Auditorial Pendekatan yang bisa dilakukan bila siswa memiliki kesulitan belajar pada tipe auditori antara lain :
a) Gunakan alat perekam sebagai alat bantu. Alat ini digunakan untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar didepan kelas untuk kemudian didengarkan kembali.
b) Senang mengajak anak berdiskusi
c) Memcoba untuk membaca informasi, kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didegarkan dan dipahami.
d) Melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar e) Meneggakan disiplin cukup dengan kata-kata
f) Menjauhkan anak dari suara-suara berisik karena akan mengganggu konsentrasi belajarnya.
3. Kinestetik ( Belajar Dengan Cara Bergerak, Bekerja dan Menyentuh ) a. Jenis gaya belajar
Gaya belajar kinestetik (Kinestetik Learners) mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bias 14
714 48
mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar sepeti ini yang tak semua orang bias melakukannya. Karakter petama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bias terus mengingatnya.
Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya ini bias menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Ciri-ciri gaya belajar kinestetik adalah sebagai berikut : a) Berbicara dengan perlahan
b) Berdiri dekat dengan berbicara dengan orang c) Belajar melalui menipulasi dan praktik
d) Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca e) Benyak menggunakan isyarat tubuh
f) Dalam keadaan santai mereka biasanya lebih menyukai bermain games dan berolaraga
g) Tidak dapat diam dalam waktu yang lama h) Menanggpapi perhatian fisik
i) Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak j) Mengahafal dengan cara melihat
b. Karakteristik Gaya Belajar Kinestetik Kinestetik atau Tactile Learner (K)
Berdasarkan definisi, modalitas ini mengarah pada pengalaman dan latihan (simulasi atau nyata), meskipun pengalaman tersebut melibatkan modalitas lain.
Hal ini mencangkup demonstrasi, simulasi, video dan film dari pelajaran yang sesuai aslinya, sama halnya dengan studi kasus, latihan dan aplikasi. Beberapa karakteristiknya adalah :
15
715 48
a. Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya b. Sulit untuk berdiam diri
c. Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan tangan d. Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik
e. Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu belajar f. Memepelajari hal-hal yang abstrak (symbol matematika, peta, dsb)
g. Mengingat secara baik bila secara fisik terlihat aktif dalam proses pembelajaran
h. Menikmati kesempatan untuk menyusun atau menangani secara fisik materi pembelajaran
i. Sring berusaha membuat catatan hanya untuk menyibukan diri tanpa memanfaatkan hasil catatan tersebut
j. Menyukai penggunaan computer
k. Mengungkapkan minat dan katertarikan terhadap sesuatu secara fisik dengan bekerja secara antusias
l. Sulit apabila diminta untuk berdiam diri atau berada disuatu tempat untuk beberapa lama tanpa aktifitas fisik
m. Sering bermain-main dengan benda sekitanya sambil mendengarkan atau mengerjakan sesuatu
c. Pendekatan Yang Biasa Dilakukan Terhadap Gaya Belajar Kinestetik Anak yang tipe kinestetik, dapat melakukan pendekatan dengan cara sebagai berikut :
16
716 48
a. Gunakan computer/laptop sebagai sarana penunjang alat belajar siswa.
Karena dengan alat tersebut siswa bisa terlihat aktif dalam melakukan sentuhan, sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar atau lisan b. Penegakkan disiplin paling efektif dengan terlihat time out
c. Mencari buku-buku pelajaran bergambar. Anak tipe kinestetik biasanya merasa lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata-kata untuk belajar mengungkapkannya atau memahami fakta.
d. Metode belajar sambil bermain. Anak tipe kinestetik tidak dapat menyerap informasi pelajaran yang di sampaikan secara formal (komunikasi satu arah atau duduk manis). Dalam pembelajaran sains misalnya, ada baiknya mengajak siswa melakukan percobaan sederhana atau menggunakan beberapa model atau peraga serta study langsung faktadi lapangan.
e. Buat jeda di tengah waktu belajar secara tetap. Anak tipe kinestetik tidak akan mampu menyerap pelajaran jika duduk manis dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, belajar 30 menit lalu jeda 3-6 menit untuk melakukan aktivitas ringan, lalu dilanjutkan belajar lagi akan lebih baik daripada belajar 1 jam lalu istirahat 15-20 menit.
4. Teori Gaya Belajar Menurut Bobbi Deporter
Menurut Bobbi Deporter dalam Quantum learning mengemukakan bahwa
“ jika anda akrab dengan gaya belajar anda sendiri, Anda dapat mengambil langkah-langkah penting untuk membantu diri anda belajar lebih cepat dan lebih mudah yang dapat meningkatkan hasil belajar anda.
17
717 48
Pada awal pengalaman belajar, salah satu di antara langkah-langkah pertama kita adalah mengenali modalitas seorang sebagai modalitas seseorang sebagai modalitas visual, auditorial atau kinestetik (V-A-K).
Seperti yang diusulkan istilah-istilah ini, orang visual belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajar auditorial melakukannya melalui apa yang mereka dengar, dan pelajar kinestetik belajar lewat gerak dan sentuhan walaupun masing- masing dari kita belajar dengan menggunakan salah satu diantara ketiganya modalitas ini pada tahap tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu diantara ketiganya.
Gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kenerja dalam pekerjaan, disekolah, dan situasi-situasi antar pribadi. Ketika seseorang menyadari bagaimana cara belajarnya, maka seseorang tersebut akan lebih mudah untuk belajar dan menyerap informasi yang didapat dengan menggunakan gaya belajarnya sendiri.
Dalam teori diatas dijelaskan bahwa gaya belajar adalah kunci kesuksesan seseorang dalam mengembangkan potensi yang ada pada diri seseorang. Sebuah keunikan individu perlu diperhatikan bukan sebagai gangguan tetapi sebagai perbedaan, dengan persepktif ini maka pribadi yang unik dapat dipandang sabagai pribadi yang utuh, pribadi yang utuh akan melakukan proses belajar dengan gaya- gaya belajar yang unik pula.
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gaya Belajar
Rita Dunn, seorang plopor dibidang gaya belajar, telah menemukan banyak variabel yang mempengaruhi cara belajar seseorang yaitu :
18
718 48
a) Faktor fisik b) Faktor emosional c) Faktor sosiologis, dan d) Faktor lingkungan
Sebagian orang, misalnya dapat belajar paling baik dengan cahaya yang terang, sebagian yang lain dengan pencahayaan yang suram. Ada orang yang belajar paling baik secara berkelompok, sedang yang lain lagi memilih adanya figur otoriter seperti orang tua atau guru, yang lain lagi merasa bahwa bekerja /belajar sendirilah yang paling efektif bagi mereka. Sebagian orang memerlukan musik sebagai latar belakang. Sedang yang lain tidak dapat berkonsentrasi kecuali dalam ruangan sepi. Ada orang-orang yang memerlukan lingkungan kerja yang rapidan teratur, tetapi yang lain lagi lebih suka menggelar segala sesuatunya supaya terlihat.
Ketika belajar siswa perlu berkonsentrasi dengan baik. Untuk bias berkonsentrasi dengan baik, perlu adanya lingkungan yang mendukung belajar siswa. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi konsentrasi belajar siswa antara lain :
1) Suara
Tiap siswa mempunyai reaksi yang berbeda-beda terhadap suara, ada yang menyukai belajar dengan mendengarkan musik lembut, keras ataupun nonton televisi. Ada juga yang menyukai belajar dalam suasana sepi juga ada yang menyukai belajar dalam suasana ramai dalam belajar kelompok.
19
719 48
2) Pencahayaan
Pencahayaan merupakan faktor yang pengaruhnya kurang di rasakan dis bandingkan pengaruh suara. Hal ini dapat di atur dengan mudah dan pencahayaan yang dibutuhkan siswa agar dapat berkonsentrasi dalam belajar
3) Temperature
Tiap siswa juga mempunyai selera yang berbeda-beda. Ada yang suka temperature sejuk, ada juga yang lebih menyukai tempat yang hangat.
4) Desain belajar
Desain belajar ada dua macam, yaitu desain belajar formal dan desain belajar tidak formal. Desain belajar formal contohnya belajar di meja belajar lengkap dengan alat-alatnya, sedang desain tidak formal belajar dengan santai, duduk di lantai, duduk di sofa ataupun sambil tiduran.
Menurut Lou Russel (2012) faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran bagi beragam pembelajar diantaranya adalah waktu, pencahayaan, suhu, peran figure otoritas (apa yang diharapkan oleh orang lain), peran diri sendiri (apa yang mereka harapkan sendiri), bekerja dengan orang lain atau sendirian, makan atau tidak ketika proses pembelajaran berlangsung, dan memiliki banyak pilihan ketika belajar.
Banyak pula faktor-faktor yang mempengaruhi dari luar diri siswa (faktor eksternal), di samping faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri (faktor internal).
Faktor-faktor intern yang mempengaruhi gaya belajar siswa antara lain :
20
720 48
1. Faktor Jasmaniah.
Faktor jasmaniah mencangkup dua bagian yaitu kesehatan dan cacat tubuh. Faktor kesehatan berpengaruh pada kegiatan belajar. Proses belajar akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mengantuk bila badanya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan pada alat indera serta tubuh. Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh. Cacat itu bias berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, lumpuh dan lain- lain. Keadaan cacat tubuh demikian juga mempengaruhi kegiatan belajar seseorang.
2. Faktor psikologis
Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor itu adalah intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan, dan kesiapan.
3. Faktor kelelahan
Kelelahan pada manusia walaupun susah di pisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan menurunya daya tahan tubuh.
Adapun kelelahan rohani dapat dilihat dengan kurangnya minat belajar, kelesuan dan kebosanan untuk belajar, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Faktor kelelahan dalam diri seseorang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu cara atau gaya belajar yang berbeda.
Faktor-faktor ektern yang mempengaruhi gaya belajar siswa diantaranya : 21
721 48
1) Faktor keluarga
Seseorang yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga
2) Faktor sekolah
Faktor sekolah yang akan mempengaruhi cara atau gaya belajar siswa antara lain metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, hubungan siswa dengan siswa, disiplin atau tata tertib sekolah, suasana belajar, standar pelajaran, keadaan gedung, letak sekolah dan lainnya. Factor guru misalnya, kepribadian guru, kemampuan guru memfasilitasi siswa dan hubungan antara guru dengan siswa turut mempengaruhi cara atau gaya belajar siswa.
3) Fakstor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga mempengaruhi terhadap gaya belajar siswa. Faktor-faktor masyarakat yang mempengaruhi gaya belajar siswa meliputi kegiatan peserta didik dalam masyarakat., media masa, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat. Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan terhadap masing-masing tipe gaya belajar agar dapat optimal saat belajar.
B. Konsep Minat Belajar
Menurut Sukardi (1988:61), minat dapat diartikan sebagai suatu kesukaan, kegemaran, atau kesenangan akan sesuatu. Adapun menurut Sadirman (2007:77), minat adalah sesuatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keiginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhan sendiri.
22
722 48
Oleh karena itu, apa saja yang dilihat seseorang tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempuyai hubungan dengan kepentingan sendiri. Hal ini menunjukan bahwa minat merupakan kecendrungan jiwa seseorang terhadap suatu objek, biasanya disertai dengan perasaan senang, karena itu merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu.
Menurut Bloom (1982:77), minat adalah yang disebutnya sebagai Subject- raqlated Affect,yang di dalamnya termaksud minat dan sikap terhadap materi pelajaran. Namun sulit menemukan pembatas yang jelas antara minat dan sikap terhadap materi pelajaran yang tampak adalah sebuah kontinum yang terentang dari pandangan-pandangan negative atau afek (affect) negative terhadap pelajaran ini dapat diukur dengan menanyakan kepada seseorang apakah ia mempelajari itu, apa yang disukai atau tidak disukainya mengenai pelajaran dan berbagai pendekatan dengan menggunakan kosioner yang berupaya meningkatkan berbagai pendapat, pandangan, dan preferensi yang mungkin menunjukan suatu efek positif atau negative terhadap pelajaran
Berdasarkan pemaparan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah suatu ketertarikan terhadap suatu pelajaran yang kemudian mendorong individu untuk mempelajari dan menekuni pelajaran tersebut. Minat merupakan sifat yang relative menetap pada diri seseorang.
1. Macam-Macam dan Ciri Minat.
Adapun mengenai jenis atau macam-macam minat, Kuder dalam Purwaningrum(1996:14) mengelompokan jenis-jenis minat ini menjadi sepuluh macam, yaitu :
23
723 48
a. Minat terhadap alam sekitar, yaitu minat terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan alam, binatang dan tumbuhan.
b. Minat mekanis, yaitu minat terhadap pekerjaan yang berkaitan dengan mesin-mesin atau alat mekanik.
c. Minat hitung-menghitung, yaitu berminat terhadap pekerjaan yang membutuhkan perhitungn.
d. Minat terhadap ilmu pengetahuan, yaitu minat untuk menemukan fakta- fakta baru dan pemecahan problem.
e. Minat persuasif, yaitu minat terhadap pekerjaan yang berhubungan untuk memengaruhi orang lain.
f. Minat seni, yaitu minat terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan kesenian, kerajinan, dan kreasi tangan.
g. Minat leterer, yaitu minat terhadap masalah-masalah dan menulis berbagai karangan.
h. Minat musik, yaitu minat terhadap masalah-masalah musik, seperti menonton konser dan memainkan alat-alat musik.
i. Minat layanan sosial, yaitu minat yang berhubungan dengan pekerjaan untuk membantu orang lain.
j. Minat klerikal, yaitu minat yang berhubungan dengan pekerjaan administrative.
2. Pembentukan Minat Belajar.
Setiap jenis minat berpengaruh dan berfungsi dalam pemenuhan kebutuhan, sehingga semakin kuat terhadap kebutuhan sesuatu, makin besar dan dalam minat terhadap kebutuhan tersebut. Dalam kaitan ini, Slemanto (1995:181) 24
724 48
menyebutkan bahwa intensitas kebutuhan yang dilakukan oleh individu akan berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya minat individu yang bersangkutan jadi, seseorang siswa akan berminat mempelajari masalah-masalah sosial, bilamana intelegensinya telah berkembang sampai pada taraf yang diperlikan untuk memahammi dan menganalisis fakta dan gejala sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun menurut Sukartini (1986:63), perkembangan minat tergantung pada kesempatan belajar yang dimiliki seseorang. Dengan kata lain, bahwa perkembangan minat sangat tergantung pada lingkungan dan orang-orang dewasa yang erat pergaulannya dengan mereka, sehingga secara langsung akan berpengaruh pula terhadap kematangan psikologisnya. Lingkungan bermain, teman sebaya, dan pola asuh orang tua merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan minat seseorang. Di samping itu, sesuai dengan kecendrungan masyarakat yang senantiasa berkembang, lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pola pergaulan akan merangsang tumbuhnya minat secara lebih terbuka.
Berangkat dari konsep bahwa minat merupakan motif yang dipelajari, yang mendorong dan mengarahkan individu untuk menemukan serta aktif dalam kegiatan-kegiatan tertentu, akan dapat diidentifikasi indikator-indikator minat dengan mengenalisis kegiatan-kegiatan yang dilakukannya atau objek-objek yang dijadikan kesenangan. Analisis tersebut dapat dilakukan terhadap beberapa hal, Sukartini (1986:2) menyebut empat hal, yaitu: 1) keinginan untuk memiliki sesuatu; 2) objek atau kegiatan yang disenangi; 3) jenis kegiatan yang dilakukan 25
725 48
untuk memperoleh sesuatu yang disenangi; 4) upaya-upaya yang dilakukan untuk merealisasikan keinginan atau rasa terhadap objek atau keinginan tertentu.
3. Pengaruh Minat Terhadap Kegiatan Belajar Siswa.
Minat merupakan faktor yang penting dalam kegiatan belajar siswa. Suatu kegiatan belajar yang dilakukan tidak sesuai dengan minat siswa akan memungkinkan berpengaruh negative terhadap hasil belajar siswa yang bersangkutan. Dengan adanya minat dan tersedianya rangsangan yang ada sangkut pautnya dengan diri siswa, maka siswa akan mendapatkan kepuasan batin dari kegiatan belajar tadi.
Dalam dunia pendidikan di sekolah, minat memegang peranan penting dalam belajar, karena minat ini merupakan suatu kekuatan motivasi yang menyebabkan seseorang memusatkan perhatian terhadap seseorang, suatu benda, atau kegiatan tertentu. Dengan demikian, minat merupakan unsur yang menggerakan motivasi seseorang, orang tersebut dapat berkonsentrasi terhadap suatu benda atau kegiatan tertentu. Dengan adanya unsur minat belajar pada diri siswa, maka siswa akan memusatkan perhatiasnnya pada kegiatan belajar tersebut.
Dengan demikian minat, merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang kegiatan belajar siswa. Kenyataan ini dapat diperkuat oleh pendapat Sadirman (2007:95) yang menyatakan bahwa proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Begitu juga menurut Wiliam James dalam Uzer Usman (2000:27), bahwa minat belajar merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Jadi, dapat ditegaskan bahwa faktor minat ini merupakan faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap keberhadilan belajar.
25
26
726 48
Dalam uraian singkat di atas, maka semakin jelas bahwa minat akan berdampak terhadap kegiatan yang dilakukan seseorang. Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar, minat tertentu dimungkinkan akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, hal ini di karenakan adanya minat siswa terhadap sesuatu dalam kegiatan belajar itu sendiri. Pendapat ini di dukung oleh pendapat Hartono (2005:14), yang menyatakan bahwa minat memberikan sumbangan besar terhadap keberhasilan belajar peserta didik. Bahkan pelajaran, pendekatan, ataupun metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan minat peserta didik menyebabkan hasil belajar tidak optimal.
Dalam kegitan belajar, juga dalam proses pembelajaran, maka tentunya minat yang diharapkan adalah minat yang timbul dengan sendirinya dari diri siswa itu sendiri, tanpa ada paksaan dari luar, agar dapat belajar lebih aktif dan baik.
Akan tetapi dalam kenyataannya tidak jarang siswa mengikuti pelajaran dikarenakan terpaksa atau karena adanya suatu keharusan, sementara siswa tersebut tidak menaruh minat terhadap pelajaran tersebut. Yang baik, seharusnya anak mengetahui minatnya karena tanpa apa yang diminatinya, maka tujuan belajar yang diinginkan tidak akan tercapai dengan baik. Untuk mengantisipasi kondisi seperti ini, maka sebagai seorang guru mampu memelihara minat anak didiknya, dengan cara-cara seperti yang ditawarkan oleh Nurkancana (1993:230), yaitu:
a. Meningkatkan minat anak-anak; setiap guru mempuyai kewajiban untuk meningkatkan minat siswanya. Karena merupakan komponen penting dalam kehidupan pada umumnya dan dalam pendidikan, serta pembelajaran diruang kelas kelas pada khususnya.
26
27
727 48
b. Memelihara minat yang timbul; apabila anak-anak menunjukan minat yang kecil, maka tugas guru yang memelihara minat tersebut.
c. Mencegah timbulnya minat terhadap hal-hal yang tidak baik; sekolah merupakan lembaga yang menyiapkan peserta didik untuk hidup dalam masyarakat, maka sekolah harus mengembangkan aspek-aspek ideal agar anak-anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
d. Sebagai persiapan untuk memberikan bimbingan kepada anak-anak tentang kelanjutan atau pekerjaan yang sesuai baginya; minat merupakan pertimbangan untuk mengetahui kesenangan anak, sehingga kecendrungan minat terhadap sesuatu yang perlu bimbingan yang lebih lanjut.
Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dapat ditegaskan bahwa minat belajar siswa merupakan faktor yang yang sangat penting dalam menunjang recapainya efektifitas Proses belajar mengajar, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang bersangkutan.
4. Faktor-faktor penyebab timbulnya minat
Menurut crow (1982) minat berhubungan dengan masalah dorongan, motif-motif dan respon-respon emossional
a. Faktor dorongan dari dalam. Rasa ingin tahu atau dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda dapat membuat seseorang berminat untuk mempelajari ilmu mekanik, melakukan penelitian ilmiah atau lain yang mendukung
28
728 48
b. Faktor sosial. Minat dalam uapaya mengembangkan diri dari dalam ilmu pengetahuan, mungkin diilhami oleh hasrat untuk mendapatkan kemampuan dalam bekerja atau memperoleh penghargaan dari teman atau keuarga
c. Faktor-faktor emosional. Minat berkaitan dengan perasaan emosi. Misalkan keberhasilan akan menimbulkan perasaan puas dan dapat meningkatkan minat, sedang kegagalan dapat menghilangkan minat seseotang.
Namun secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi minat dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu yang bersumber dari dalam diri ( faktor internal ) maupun yang berasal dari luar (faktor eksternal). Faktor internal meliputi niat, rajin, motivasi dan perhatan. Sedangkan faktor eksternal meliputi keluarga, guru dan fasilitas sekolah, dan teman pergaulan.
Menurut safari (dalam herlina, 2010 ), bahwa untuk mengetahui berapa besar minat belajar siswa, dapat di ukur melalui :
1. Kesukaan, pada umumnya individu yang suka pada sesuatu disebabkan karena adanya minat. Biasanya apa yang paling dia sukai mudah sekali untuk diingat. Sama halnya dengan siswa yang berminat pada suatu mata pelajaran tertentu akan menyukai pelajaran itu. Kesukaan ini tampak dari kegairahan dan tujuan dalam mengikuti mata pelajaran tersebut. Kegairahan dan tujuan ini dapat diwujudkan dengan berbagai usaha yang dilakukan untuk menguasai ilmu pengetahuan yang terdapat dalam mata pelajaran tersebut dan tidak merasa lelah dan putus asa dalam mengembangkan pengetahuan dan selalu semangat serta gembira dalam mengerjakan tugas ataupun soal yang berkaitan dengan pelajaran yang diberikan guru. Bisa juga siswa menyukai pelajaran tersebut karena metode guru dalam mengajar 29
729 48
menyengkan atau bervariasi sehingga siswa tidak merasa bosan, atau kegiatan dalam pembelajaran tidak monoton.
2. Kepuasan, sering kali di jumpai beberapa siswa yang merespon dan memberikan reaksi terhadap apa yang disampaikan pada saat proses belajar mengajar dikelas. Tanggapan yang diberikan menunjukan apa yang di sampaikan guru tersebut menarik perhatiannya atau merasa berhasil dalam pelajaran serta menemukan manfaat dalam proses belajar, sehingga timbul rasa ingin tahu yang besar
3. Keterlibatan yakni keterlibatan, keuletan dan kerja keras yang tampak melalui diri siswa menunjukan bahwa siswa tersebut ada keterlibatannya dalam belajar di mana siswa selalu belajar lebih giat, berusaha menumukan hal-hal yang baru yang berkaitan dengan pelajaran, dengan demikian, siswa akan memiliki keingianan/inisiatif untuk belajar.
4. Perhatian, semua siswa yang mempunyai minat terhadap pelajaran tertentu akan cenderung memberikan perhatian yang besar terhadap pelajaran yang besar ini, perhatian yang besar terhadap pelajaran itu. Melalui perhatiaanya yang besar ini, seseoranf siswa akan mudah memahami inti dari pelajaran tersebut. Perhatian sangatlah penting dalam mengikuti kegiatan baik dan hal ini akan berpengaruh pula terhadap minat siswa dalam belajar. Menurut sumadi suryabrata (1987) “perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang disertai dengan perhatian inisiatif akan lebih sukses dan prestasinya pun akan lebih tinggi.
Untuk mengetahui apakah siswa berminat dalam belajar, dapat dilihat dari bebrapa indicator mengenai minat belajar.Indikator ini disusun berdasarkan aspek
29
30
730 48
minat siswa. Aspek mengenai minat siswa yang dimaksud adalah kesukaan, ketertarikan, perhatian dan keterlibatan.
Berdasarkan aspek tersebut, Rasyid (2010) merumuskan indikator tentang minat belajar siswa sebagai berikut : (1) tertarik pada pelajaran, (2) tertarik pada guru, (3) keberhasilan dalam pelajaran, (4) menemukan manfaat dalam proses belajar mengajar, (5) mempunyai inisiatif untuk belajar, (6) konsentrasi dalam belajar, (7) kemauan dalam belajar, (8) ada tujuan yng ingin dicapai.
5. Teori yang menghubungkan Gaya belajar dan Minat belajar
Crow adan crow mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.
Sedangkan meurut Slemanto mengatakan bahwa “minat adalah rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh”.
Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu aktifitas akan memperlihatkan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang dan perhatian karena hal tersebut datang dari dalam diri seseorang yang didasarkan rasa suka tidak adanya paksaan dari pihak luar yang lama kelamaan akan mendatangkan rasa puas dalam dirinya.
C. Kerangka Berpikir
Gaya belajar merupakan cara yang ditempuh oleh seseorang dalam belajar.
Tiap-tiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Prestasi seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah gaya belajar (Learning style). Individu yang belajar dengan gaya belajar mereka yang dominan, mampu 31
731 48
mencapai prestasi yang baik bila dibandingkan dengan individu yang belajar yang tidak dengan gaya belajarnya.
Berdasarkan uraian diatas ditarik suatsu kerangka berpikir dengan bagan sebagai berikut:
Gambar 2.1 skema kerangka pikir
D. Hipotesis
Terdapat hubungan yang signifikan antara gaya belajar dan minat belajar di SMA Muhammadiyah 5 Makassar.
32
Hubungan Gaya Belajar dengan Minat Belajar
(X) Jenis-jenis gaya:
1. Gaya Belajar Visual 2. Gaya Belajar Auditorial 3. Gaya Belajar Kinestetik
(Y)
Macam-macam minat belajar :
1. Kesukaan 2. Kepuasan 3. Keterlibatan 4. perhatian
48 71
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yaitu penelitian penelitian yang disurvei (Ex Post Facto) yang bersifat deskriptif untuk memperoleh data kuantitatif karena peneliti tidak memberikan perlakuan kepada responden.
2. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian, bertempat di SMA Muhammadiyah 5 Makassar.
B. Variabel Dan Paradigma Penelitian.
1. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Adapun yang mnejadi variabel dalam penelitian ini adalah : a. Variabel bebas : Gaya Belajar
b. Variabel terikat : Minat Belajar 2. Paradigma Penelitian Paradigma yang digunakan yaitu :
Gambar 3.1 Paradigma Penelitain Keterangan :
X : Gaya Belajar Y : Minat Belajar
X Y
33
48 72
C. Populasi dan Sampel
Populasi dan Sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X MIA SMA 5 Muhammadiyah Makassar
Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sampling jenuh, Menurut Sugiyono (2017:124) sampling jenuh adalah tehnik pengumpulan data sampel bilamana anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Penentuan ukuran sampel pada penelitian ini mengacu pada Nomogram Herry King dengan kepercayaan sampel terhadap populasi 95% atau tingkat kesalahan 5%.
D. Prosedur Penelitian
Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Melakukan observasi terhadap sekolah
2. Memilih peserta didik kelas X Mia yang akan dijadikan objek dalam penelitian ini
3. Memberikan beberapa kosioner kepada peserta didik untuk mengetahui karakteristik gaya belajar dan minat belajar peserta didik tersebut
4. Mencari presentase karakteristik gaya belajar dan minat belajar peserta didik
5. Menyebarkan angket berupa kosioner kepada peserta didik.
6. Menyusun laporan penelitian
34 32
48 73
E. Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari penafsiran ganda dari variabel pada penelitian ini, maka secara operasional yaitu :
1. Variabel Bebas (Independen)
Gaya belajar yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu cara yang digunakan siswa secara dominan dalam proses belajar yang terdiri dari tiga jenis, yaitu Visual (Melihat), auditorial (Mendengar), dan kinestetik (Bergerak) yang dinyatakan dengan skor yang diperoleh melalui kosioner yang berbentuk skala
2. Variabel Terikat(Dependen)
Minat belajar yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu kecenderungan siswa terhadap sesuatu dalam proses belajar yang terdiri dari kesukaan, kepuasan, keterlibatan dan perhatian siswa yang dinyatakan dengan skor diperoleh melalui kosioner yang berbentuk skala.
F. Instrumen Penelitian
Instrument dalam dalam penelitian ini adalah angket. Untuk mendukung proses pengumpulan data yang diinginkan, peneliti menggunakan instrumen yang berupa angket atau kosioner adalah suatu penyelidikan mengenai suatu masalah yang pada umumnya menyangkut kepentingan umum (orang banyak), dilakukan dengan cara mengedarkan suatu daftar pertanyaan berupa angket diajukan secara tertulis kepada sejumlah subyek untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan (respon) tertulis sepenuhnya.
Angket ini berisi pernyataan-pernyataan yang mencangkup ciri-ciri gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik. Angket ini diisi langsung oleh peserta didik dengan memberikan tanda ceklis pada kolom yang sudah disediakan.
35
48 74
Pilihlah jawaban yang digunakan dalam kosioner ini terdiri dari 4 pilihan yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS).
G. Tehnik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data adalah cara-cara yang ditempuh dan alat-alat yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan datanya, pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai seting dan berbagai cara.
Untuk memperoleh dan mengumpulkan data, peneliti menggunakan metode angket. Metode angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dengan menggunakan metode angket, data dapat dikumpulkan melalui hasil pengisian angket oleh responden guna untuk mengetahui karakteristik gaya belajar dan minat belajar yang dimiliki oleh peserta didik kelas X MIA SMA Muhammadiyah 5 Makassar.
H. Tehnik Analisis Data 1. Uji Gregory
Analisis uji gregory yang dimaksudkan untuk melihat layak atau tidak layaknya suatu instrumen dalam penelitian melalui pakar dengan rumus.
Vi =
Dengan bantuan tabel tabulasi silang 2×2 seperti di bawah ini Tabel 3.2 tabel tabulasi 2×2
Rater 1 Kurang sangat
relevan skor 1- 2
Sangat relevan skor 3-4
36
48 75
Rater 2 Kurang relevan skor 1-2 A B
Sangat relevan skor 3-4 C D
Dengan : Vi= Validitas Konstruk A = Kedua rater tidak setuju
B = Rater I setuju, rater II tida setuju C = Rater II setuju, rater I tidasetuju D = Kedua ratersetuju
(Retnawati, 2016: 97-98) Berdasarkan hasil uji validitas instrumen penelitan yang dilakukan oleh dua orang validator dengan judul “Hubungan Gaya Belajar dan Minat Belajar Fisika Peserta Didik Kelas X MIA di SMA Muhammadiyah 5 Makassar” dapat di tunjukka pada tabel 3.3berikut:
Tabel 3.3 : Hasil Uji Gregory
No INSTRUMEN R KETETANGAN
1 Angket Gaya Belajar 1,0 Layak Digunakan 2 Hasil Belajar 0,91 Layak Digunakan
Dari tabel 3.3 diatas yang diujikan dengan menggunakan uji Gregory dengan pengambilan keputusan (r>0,75) dapat disimpulkan bahwa semua instrumen layak digunakan dalam penelitian.
2. Analisis deskriptif
Menurut Sugiyono (2015: 207) bahwa statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk mengalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul tanpa bermaksud membuat 37
48 76
kesimpulan yang berlaku secara umum. Dalam penelitian ini, untuk mengetahui gaya belajar yang dimiliki peserta didik SMA 5 Muhammadiyah Makassar ini menggunakan statistik deskriptif.
Untuk menghitung presentasi, skor rata-rata menggunakan rumus sebagai berikut:
a. Skor Rata-rata
Skor rata-rata diperoleh dari persamaan : ̅ ∑
(Spiegel & Stephens,2007: 49) Dengan :
̅ = Skor rata-rata
∑ = Jumlah skor keseluruhan = Banyaknya subjek penelitian b. Standar Deviasi
Menentukan standar deviasi menggunakan rumus sebagai berikut:
√∑ ̅
(Sugiyono, 2010:57) Dengan :
s = Simpangan baku sampel n= Jumlah sampel
38
48 77
3. Analisis Statistik a. Angket
Analisis data angket gaya belajar dan minat belajar tentang kecenderungan gaya belajar dan minat belajar peserta didik. Kosioner gaya belajar terdiri dari 30 butir pernyataan dan memuat 4 butir jawaban: Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Setiap item soal memiliki skor yang berbeda sesuai dengan jawaban yang dipilih seperti pada tabel berikut :
Tabel 3.4 Angket Check List
No Jawaban Skor
1 Sangat setuju 4
2 Setuju 3
3 Tidak setuju 2
4 Sangat tidak setuju 1
Dengan penyebaran indicator gaya belajar peserta didik pada soal maka kosioner ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu:
No 1-10 menunujukan aspek visual
No 11-20 menunjukan aspek auditorial
No 21-30 menunjukan aspek kinestetik
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung besarnya persentasi kecenderungan gaya belajar peserta didik. Analisis gaya belajar peserta didik melalui tes menggunakan persentasi sebagai berikut:
39
48 78
Presentase (%) = × 100%
Keterangan:
% = persentase
S = jumlah peaserta didik dengan gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik N = jumlah keseluruhan sampel
Setelah dilakukan perhitungan skor maka dilakukan penggolongan kecenderungan gaya belajar peserta didik, masing-masing gaya belajar dihitung jumlah peserta didik dan dibandingkan dengan jumlah siswa seluruhnya, dilakukan pemberian tingkatan gaya belajar peserta didik (visual, auditorial dan kinestetik).
b. Analisis Infrensial 1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Penggunaan statistik parametris mensyaratkan bahwa data setiap variabel yang akan dianalisis harus berdistribusi normal. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumus Chi Kuadrat.
Uji prasyarat analisis pada penelitian ini menggunakan uji normalitas, bertujuan untuk mengetahui seberapa data pada variable gaya belajar dan minat belajar. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Chi Kuadrat. Adapun rumus yang digunakan yaitu:
= ∑ Dengan:
Oi = Frekuensi observasi
40
48 79
Ei = Frekuensi harapan
Jika nilai hitung < nilai tabel dari data tersebut terdistribusi normal.
2. Analisis Linearitas
Langkah selanjutnya setelah uji normalitas adalah uji linearitas. Uji linearitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah garis regresi antara variabel X (gaya belajar peserta didik) dan variabel Y (minat belajar perserta didik) membentuk garis linear atau tidak. Jika membentuk garis linear, maka regresi dapat dilanjutkan (Sugiyono, 2016:265).
Pada uji linearitas, peneliti menggunakan bantuan program SPSS for Windows Seri 21 dengan langkah-langkah sebagai berikut: klik Analyze – Compare Means – Means. Masukkan variabel gaya belajar siswa (X) dimasukkan pada kotak Independent List. Pilih kotak dialog Options dan mengaktifkan bagian Test for Linearity.Pilih Continsue lalu OK (Priyatno, 2010: 73-6). Dua variabel Pada uji linearitas, peneliti menggunakan bantuan program SPSS for Windows Seri 21 dengan langkah-langkah sebagai berikut: klik Analyze – Compare Means – Means. Masukkan variabel gaya belajar siswa (X) dimasukkan pada kotak Independent List. Pilih kotak dialog Options dan mengaktifkan bagian Test for Linearity.Pilih Continue lalu OK (Priyatno, 2010: 73-6).
Dua variabel Kriteria pengukuran : jika nilai nuji F < nilai tabel F, maka distribusi berpola linier. Rumus = dimana dbTC = k-2 dan db E = n – k (muhidin dan abdurahman, 2007:89)
3. Pengujian Hipotesis
41
710 48
Untuk mengetahui tingkat hubungan dari data korelasi yaitu variabel bebas (X) dan variable berikut (Y) dengan bentuk data interval atau ratio menggunakan uji pearson poduk momen atau analisis koralasi.
Korelasi pearson produk momen dilambangkan dengan (r) dimana terdapat ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 . Jika r= -1 maksudnya korelasinya negative sempurna, r= 0 artinya tidak ada korelasi, dan r=1 berarti korelasinya sempurna positif (sangat kuat). Sedangkan harga r akan dikonsultasikan pada tabel interpretasi nilai r berikut :
Tabel 3.5 Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r Interval Koefisien Tingkat Hubungan
s0,00- 0,19 Sangat rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Cukup
0,60-0,799 Tinggi
0,80-1,000 Sangat tinggi
(Riduwan, 2012:228)
Adapun langkah-langkah uji korelasi pearson menurut (Riduwan, 2012:229) adalah sebagai berikut :
1) Membuat dan dalam bentuk kalimat : Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah :
= terdapat hubungan antara gaya belajar dengan minat belajar fisika peserta didik SMA Muhammadiyah 5 Makassar
42
711 48
= tidak terdapat hubungan gaya belajar dengan minat belajar fisika peserta didik SMA Muhammadiyah 5 Makassar
2) Membuat dan dalam bentuk statistik : : r 0
: r = 0
3) Membuat tabel penolong untuk menghitung nilai korelasi
4) Memasukan angka-angka statistik dari tabel penolong dengan rumus:
Dengan :
= koefisien korelasi antara variable X dan Y
skor pertama, dalam hal ini merupakan skor-skor pada item ke-i yang diuji validasinya .
= skor kedua, dalam hal ini merupakan jumlah skor pada item ke –I yang diperoleh setiap responden
∑ = jumlah skor X
∑ = jumlah skor Y
∑ = jumlah perkalian X dan Y
∑ = jumlah hasil kuadrat skor X
∑ = jumlah hasil kuadrat skor Y N = jumlah responden
5) Menentukan besarnya sumbangan variabel X terhadap variable Y dapat ditentukan dengan rumus koefisien determinan sebagai berikut :
𝑟𝑥𝑦 = 𝑁 ∑ 𝑋𝑌 ∑ 𝑋 ∑ 𝑌 𝑁 ∑ 𝑋 − ∑ 𝑋 𝑁 ∑ 𝑌 − ∑ 𝑌
KP = 𝑟 × 00%
43
712 48
Dengan :
KP = besarnya koefisien penentu (determinan) r = koefisien korelasi
6) Menguji signifikan dengan rumus :
Dengan :
r = Koefisien Korelasi N = banyaknya data
Kriteria pengujian yaitu jika dari , maka signifikan dan jika
dari , maka tidak signifikan.
7) Ketentuan tingkat kesalahan ( ) = 0,05 atau 0,01 dengan rumus derajat bebas (db) = N-2
8) Membuat kesimpulan.
𝑡 𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑟 𝑁 2 𝑟
44
48 71
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gaya Belajar SMA 5 Muhammadiyah Makassar
Penelitian ini dilakukan di SMA Muhammadiyah 5 Makassar. Subjek penelitian yaitu kelas X MIA yang berjumlah sebanyak 29 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya belajar dan minat belajar fisika peserta didik SMA Muhammadiyah 5 Makassar.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di sekolah SMA 5 Muhammadiyah Makassar pada kelas X MIA yang berjumlah 29 orang. Maka peneliti dapat mengumpulkan data-data melalui angket gaya belajar yang diisi oleh peserta didik SMAs 5 Muhammadiyah Makassar, kemudian diberikan jumlah skor selalu dengan skor 4, sering dengan skor 3, kadang-kadang dengan skor 2, dan tidak pernah dengan skor 1, sedangkan untuk penskoran item pernyataan negatif yaitu: selalu diberi skor 1, sering diberi skor 2, kadang-kadang diberi skor 3, dan tidak pernah diberi skor 4.. Hasil analisis deskriptif dapatb dilihat pada tabel 4.1 dibawah.
Setelah data selesai dianalisis, selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah skor yang diperoleh dari masing-masing gaya belajar ( Visual, auditory, kinestetik). Setelah perhitungan jumlah skor pada setiap gaya belajar, dapat diketahui skor tertinggi diantara gaya belajar peserta didik.
Berdasarkan jumlah skor tertinggi maka setiap peserta didik dikelompokkan kedalam kecenderungan gaya belajar visual, auditory, atau
45
48 72
kinestetik. Hasil pengklasifikasian peserta didik berdasarkan kecenderungan gaya belajar dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Statistik deskriptif skor gaya belajar peserta didik Statistik Skor Statistik
Jumlah responden 29
Skor ideal 120
Skor minimum 0
Skor tertinggi 102
Skor terendah 78
Rentang 30
Rata-rata 84,5
Standar 7,51
Berdasarkan Tabel 4.1 di atas menunjukkan gambaran hasil gaya belajar peserta didik pada kelas X MIA SMA Muhammadiyah 5 Makassar.
Berdasarkan dari sampel yang diteliti, diperoleh bahwa gaya belajar peserta didik pada kelas X MIA menunjukkan skor tertinggi yaitu 102 dan skor terendah yaitu 78 dari skor ideal 120. Adapun skor rata-rata peserta didik kelas X MIA sebesar 84,5 dengan standar deviasi 7,51.
Tabel 4.2 : Rekapitulasi Kecenderungan Gaya Belajar Peserta Didik SMA Muhammadiyah 5 Makassar
No Gaya Belajar Jumlah Siswa
1 Visual 15
2 Auditori 5
3 Kinestetik 9
Jumlah 29
46