FENOMENA VIRTUAL IDOL DI JEPANG
NIHON NO BACHARU AIDORU NO GENSHO
SKRIPSI
Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat
Ujian Sarjana Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang
Oleh:
FAUZAN REZA 140708071
PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, selaku Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan, kebijaksanaan, berkah dan rahmatnya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang merupakan syarat untuk mencapai gelar sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Adapun skripsi ini berjudul
“FENOMENA VIRTUAL IDOL DI JEPANG”.
Dalam kesempatan ini juga penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis yakin tanpa bantuan, doa, dorongan dan semangat dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan berjalan dengan lancer. Adapun pihak yang berkait adalah sebagai berikut:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., Ph.D, Selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D, Selaku Ketua Program Studi Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Alimansyar, M.A., Ph.D, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, pikiran, tenaga dalam memberikan masukan-masukan, arahan yang sabar dan memberikan perhatian yang penuh untuk membimbing penulis dalam studi dan penyusunan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik dan menjadi lebih sempurna.
4. Seluruh staf pengajar program studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama duduk di bangku perkuliahan.
5. Dosen penguji ujian seminar proposal dan penguji ujian skripsi yang telah menyediakan waktu untuk membaca dan menguji skripsi ini.
6. Terimakasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis yaitu ayahanda Abdullah dan ibunda Hafizah yang telah memberikan segalanya kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.
7. Terimakasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman Aotake yang selama ini sudah memberikan dukungan kepada penulis hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Semua pihak yang tidak dapat di sebutkan satu-persatu yang telah memberikan doa serta bantuan dalam penyusunan skripsi ini
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, karena menyadari segala keterbatasan yang ada. Untuk itu demi sempurnanya skripsi ini, penulis sangat membutuhkan dukungan dan sumbangsih pikiran berupa kritik dan saran yang bersifat membangun. Ahir kata semoga skripsi ini berguna dan bermanfaat bagi penulis serta para pembaca.
Medan,21 Mei 2021 Penulis,
Fauzan Reza NIM: 140708071
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... I DAFTAR ISI ... III BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 4
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan ... 5
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ... 6
1.4.1 Tinjauan Pustaka... 6
1.4.2 Kerangka Teori ... 7
1.5 Tujuan dan Manfaat penelitian ... 6
1.5.1 Tujuan Penelitian ... 7
1.5.2 Manfaat Penelitian ... 8
1.6 Metode Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP VIRTUAL IDOL DI JEPANG 2.1 Definisi virtual idol di Jepang ... 10
2.2 Sejarah Industri Musik di Jepang ... 11
2.3 Latar Belakang Munculnya Virtual Idol di Jepang ... 15
2.4 Jenis-jenis Virtual Idol ... 18
2.4.1 Kagamine Rin/Len ... 18
2.4.2 Hatsune Miku ... 19
2.4.3 Megurine Luka ... 20
2.4.4 Megpoid Gumi ... 21
2.5 Bentuk Produksi Konten Fans ... 21
2.5.1 Proses Produksi Konten Fans Dalam Bentuk Musik ... 22
2.5.2 Alasan Produksi Konten Fans Dalam Bentuk Musik ... 23
2.5.3 Produksi Fans Dalam Bentuk Konser Visual ... 23
2.5.4 Alasan Produksi Konten Fans Dalam Bentuk Konser Visual ... 26
2.5.5 Produksi Fans Dalam Bentuk Lainnya ... 27
2.5.6 Alasan Produksi Konten Fans Dalam Bentuk Lainnya ... 29
2.6 Faktor-faktor Pendukung Virtual Idol di Jepang ... 29
2.5.1 Faktor Budaya... 31
2.5.2 Bentuk Anime dan Manga ... 31
2.5.3 Fandom dan Otaku... 32
2.5.4 Musik: J-Pop, Idola Remaja, dan Virtual Idol ... 32
2.5.5 Dukungan Pemerintah ... 32
2.5.6 Dukungan Teknologi ... 33
2.5.7 Dukungan Penggemar... 33
BAB III VIRTUAL IDOL DALAM INDUSTRI MUSIK DAN DI MINATI MASYARAKAT JEPANG 3.1 Pengaruh Virtual Idol Dalam Perkembangan Industri Musik di Jepang ... 35
3.2 Bagaimana Masyarakat Jepang Meminati Vrtual Idol ... 40
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan ... 47 4.2 Saran ... 47 DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Setiap negara pasti memiliki kebudayaan masing-masing, dan pastinya setiap kebudayaan tersebut selalu berbeda-beda. Dalam arti luas kebudayaan adalah segala sesuatu yang bersifat konkrit yang diolah manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan pengertian kebudayaan dalam arti sempit sama dengan budaya yang berisikan sesuatu yang tidak kentara atau yang bersifat semiotik (Ienaga Saburo dalam Situmorang, 2009: 3). Maka dapat ditarik suatu pengertian kebudayaan adalah segala hasil karya cipta dan pikiran manusia yang mengalami suatu proses adaptasi sehingga menciptakan suatu sistem dalam masyarakat, baik itu ilmu pengetahuan, nilai, norma dan juga sistem kepercayaan di dalam masyarakat.
Salah satu negara yang memiliki beragam kebudayaan yang unik adalah Jepang. Dari dulu sampai sekarang Jepang masih terkenal dengan kebudayaannya, dengan beragam macam kebudayaan yang dimilikinya, hampir seluruh negara di dunia mengenal dengan budaya-budaya di Jepang. Setelah beberapa gelombang imigrasi dari benua lainnya dan sekitar kepulauan Pasifik, diikuti dengan masuknya kebudayaan Tiongkok, penduduk Jepang mengalami periode panjang isolasi dari dunia luar di bawah keshogunan Tokugawa sampai datangnya “The Black Ships” dan era Meiji. Oleh karena itu kebudayaan Jepang berbeda dari kebudayaan Asia lainnya. Kebudayaan Jepang telah banyak berkembang dari tahun ke tahun, dari kebudayaan pada zaman Jomon, sampai kebudayaan kini, yang mengkombinasikan pengaruh Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Kebudayaan_Jepang).
Dengan beragam macam kebudayaannya, Jepang merupakan salah satu pengekspor budaya terbesar, baik budaya tradisional maupun modern. Salah satunya adalah budaya musik. Jepang memang di kenal salah satu industri musik paling populer di antara seluruh negara-negara di dunia. Musik di Jepang juga di kenal dengan istilah ongaku (音楽). Jepang menjadi salah satu pasar musik terluas di Asia, di samping pasar musik K-pop dari Korea. Perkembangan musik Jepang sudah berlangsung cukup lama sejak era musik tradisional Jepang hingga
era musik modern saat ini. Awal mula munculnya industri musik Jepang sudah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum abad ke-20.
Bentuk tertua musik Jepang adalah Shomyo ataupun nyanyian buddha dan Gagaku atau pengandilan musik orkestra, yang di lakukan untuk ritual keagamaan.
Teater Jepang di era kuno juga memperkenalkan musik, terutama di periode Edo mulai dari abad 16 hingga abad 18. Hal ini ditunjang dengan adanya pertunjukan boneka dan teater wayang yang marak di era tersebut. Ada juga istilah Noh atau Kabuki yang merupakan seni drama dengan disertai musik pengiring.
Memasuki abad ke-20, industri musik Jepang mulai bergerak menjadi lebih modern. Di era 70-an dan 80-an musik DJ (disc jockey) dan hip-hop pun mulai masuk ke Jepang. Kecanggihan instrumen musik Jepang pun menarik bagi produser musik luar negeri, khususnya di genre hip-hop dan musik elektrik. Gaya musik Jepang pun menjadi lebih bervariasi dan dipengaruhi oleh berbagai genre musik di berbagai dunia, seperti Cina, Korea, atau bahkan Indonesia. Berbagai jenis musik seperti rock, jazz, dan reggae pun mulai masuk seiring dengan berkembangnya zaman. Kini istilah J-pop (Japanese pop) pun menjadi genre musik populer di Asia. (https://www.musikpopuler.com/2016/11/sejarah-musik- jepang.html)
Kini musik J-pop pun cenderung mengarah ke idola pop atau pop idol. Craig (2000) dalam tulisannya yang berjudul Japan Pop! Inside The World of Japanese popular Culture mengatakan bahwa idola pop adalah figure yang di promosikan melalui media yang pekerjaannya adalah menyanyi, menari, dan berakting di teater atau panggug, muncul di acara televisi dan berpose di majalah atau iklan.
Menurut Craig idol di Jepang berbeda dengan idol yang terdapat di Negara lain.
Di Jepang idol di sebut dengan aidoru, di mana pada aidoru tersebut memiliki sifat kusus, yaitu kawaii (yang berarti imut), dan kata aidoru hanya di peruntukkan bagi bintang atau artis yang berasal dari Jepang saja. Seiring dengan berkembangnya teknologi di Jepang, sekarang idol juga di kenal dalam bentuk virtual. Virtual idol adalah idol yang dihasilkan dengan cara digital dan bukan merupakan idol yang nyata, diciptakan melalui bantuan software untuk memainkan dan menggerakkannya. Melalui teknologi yang telah maju kini telah dikembangkan software yang bisa menciptakan suara nyanyian manusia atau
sintetis musik. Salah satu software yang menciptakan virtual idol adalah vocaloid.
Vocaloid (ボーカロイド) adalah perangkat lunak produksi Yamaha Corporation yang menghasilkan suara nyanyian manusia. Komposisi musik dan lirik dimasukkan di layar penyunting sesuai nyanyian dan iringan musik yang diinginkan. Suara nyanyian diambil dari "pustaka suara" yang berisi sampling rekaman suara dari penyanyi sebenarnya. (https://id.wikipedia.org/wiki/Vocaloid)
Yamaha memulai perkembangan software vocaloid di tahun 2000 bertepat pada bulan Maret dan di sah kan secara umum pada tanggal 26 Februari 2003.
Software ini di gunakan untuk menguji dan mengedit suara nyanyian pada lagu.
Dengan menggunakan sampling rekaman suara penyanyi profesional pengguna dapat mengatur parameter (pada bagian system music) seperti kejernihan dan getaran suara sesuai dengan keinginan mereka sendiri, jadi mereka dapat membuat
“virtual singer kepunyaan mereka sendiri”.
Pada awalnya vocaloid merupakan aplikasi yang belum dikenal. Setelah di kembangkan oleh Crypton Future Media yang mengeluarkan sebuah karakter atau virtual idol yang bernama Hatsune Miku, vocaloid mulai terkenal di sebuah situs video streaming di Jepang yang bernama Nico Nico Douga. Hatsune Miku adalah software yang menghasilkan suara nyanyian wanita. Produk ini dirilis pada tanggal 31 Agustus 2007 oleh perusahaan Crypton Future Media. Selain itu Hatsune Miku merupakan sebuah character vocal series yang di produksi oleh Crypton Future Media. Suara yang dimiliki Miku diambil dari suara Saki Fujita (seorang pengisi suara dari Jepang). Hatsune Miku juga tampil sebagai proyeksi hologram pada beberapa panggung konser, layaknya penyanyi sungguhan.
Hatsune Miku adalah seri vocaloid generasi kedua yang di anggap paling populer di seluruh dunia. Sebuah versi update dari Miku yang di sebut Hatsune Miku Append di rilis pada 30 April 2010, berisi enam macam model suara dari Miku:
soft (lembut), sweet (manis), dark (bernuansa gelap dan dewasa), vivid (bersemangat), solid (tinggi), dan light (polos). Setelah dirilis, pengguna Nico Nico Douga mulai menampilkan video yang berisi lagu yang di buat dari software tersebut. Menurut Crypton, sebuah video populer yang merupakan parodi, berisi Miku yang sedang memegang daun bawang dan menyanyikan lagu Levan Polkka, menunjukkan bahwa aplikasi ini bisa mempunyai banyak kemungkinan penerapan,
meskipun pada awalnya Miku hanya dirilis untuk menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jepang. Melalui situs Nico Nico Douga, para pengguna aplikasi Miku ini mulai bekerja sama, saling bertukar ide, menampilkan karya mereka yang masih setengah jadi, dan ahirnya di perbaiki oleh pengguna lain.
Hatsune Miku pun pertama kali tampil didepan publik dalam event Animelo Summer Live di Saitama Super Arena pada 22-23 Agustus 2009 di Jepang. Tidak hanya Miku saja, event yang di selenggarakan selama dua hari ini juga menampilkan puluhan artis yang membawakan lagu-lagu anime populer.
Kepopuleran Miku mulai merambah ke luar negeri, termasuk Indonesia. Negara pertama selain Jepang yang menggelar konser Hatsune Miku adalah Singapura, sebuah konser yang bertema “I Love Anisong” ini di hadiri lebih dari 2000 penonton.
Kini Hatsune miku telah menjadi virtual idol yang sedang populer di kalangan masyarakat Jepang. Namun ada pengaruh virtual idol terhadap perkembangan industri musik di Jepang seperti penjualan produk perangkat lunak Hatsune Miku dan budaya kawaii pada virtual idol Hatsune Miku bisa di nikmati oleh kalangan masyarakat Jepang. .
Dari uraian diatas penulis tertarik untuk membahas dan menuliskan dalam bentuk skripsi dengan judul “Fenomena Virtual Idol Hatsune Miku di Jepang”
1.2 Rumusan Masalah
Kecanggihan teknologi Jepang saat ini sudah mulai merambat ke seluruh dunia dan juga masuk kedalam industri permusikan. Dengan vocaloid yang di ciptakan oleh Yamaha Corporation, membantu orang-orang yang mempunyai bakat di bidang musik yang tidak bisa bernyanyi ataupun memainkan alat musik.
Tidak sedikit juga composer (penyusun, pengubah, ataupun pengarang sebuah musik) yang terlahir di karenakan bantuan dari vocaloid. Bahkan beberapa band-band ternama dari Jepang menggunakan vocaloid sebagai vocalist mereka.
vocaloid mudah di kenal dan di gemari oleh banyak orang terutama di Jepang.
Tidak hanya di kalangan remaja saja, vocaloid ini juga di gemari oleh kalangan orang dewasa juga, dikarenakan vocaloid mempunyai virtual idol. Salah satu dari
virtual idol dengan tingkat kepopulerannya yang mendunia adalah Hatsune Miku.
Sejak pertama kali Hatsune Miku di terbitkan pada tanggal 31 Agustus 2007, popularitas Hatsune Miku semakin meningkat tiap tahunnya. Hal ini di buktikan dengan tingkat penjualan perangkat lunak vocaloid Hatsune Miku yang berhasil menembus angka 35.000 keping dalam waktu 6 bulan sejak tanggal liris perangkat lunak tersebut.
Dengan munculnya vocaloid industri musik Jepang pun mulai berubah, yang awalnya dari band dan idol grup, sekarang menjadi virtual idol.
Dan yang menjadi permasalahan yang akan di kaji penulis adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh virtual idol terhadap perkembangan industri musik di Jepang?
2. Bagaimana virtual idol di minati kalangan masyarakat Jepang?
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam pembahasan ini perlu dibatasi ruang lingkup permasalahan agar masalah penelitian tidak terlalu luas sehingga masalah yang akan di kemukakan dapat lebih terarah. Sesuai dengan judul skripsi, yaitu “Fenomena virtual idol Hatsune Miku di Jepang” akan di bahas lebih lanjut mengenai pengertian virtual idol di Jepang, yaitu: idol yang di ciptakan melalui software ataupun perangkat lunak dalam bentuk 2D. Dan sejarah virtual idol di Jepang, yaitu: awal mula munculnya virtual idol Hatsune Miku tersebut dan perkembangannya hingga sekarang ini. Serta jenis-jenis virtual idol di Jepang, yaitu: Vocaloid generasi pertama hingga generasi kelima.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi ruang lingkup pembahasan penelitian yang difokuskan pada definisi virtual idol, sejarah industry music di Jepang, latar belakang munculnya virtual idol, jenis-jenis virtual idol, dan bentuk produksi konten fans.
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1.4.1 Tinjauan Pustaka
Menganalisa kebudayaan pada umumnya ataupun isi dari suatu kebudayaan masyarakat tertentu, sebaiknya kita mengehtahui dulu “unsur-unsur kebudayaan universal (cultural universal)”. Unsur-unsur yang ada didalam kebudayaan di seluruh dunia, baik yang kecil, bersahaja, dan terisolasi maupun yang besar, kompleks, dengan suatu jaringan hubungan yang luas disebut hubungan universal.
Menurut C. Kluckhon (dalam Koentjaraningrat,1990 : 203-204), unsur- unsur kebudayaan universal dalam kebudayaan dunia ada tujuh unsur universal.
Yaitu: bahasa, sistem, teknologi, mata pencarian atau ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan religi, dan kesenian. Vocaloid merupakan kebudayaan dalam hal teknologi dan kesenian di Jepang.
Daniel Black (2008) dalam tulisannya yang berjudul The Virtual Ideal:
Virtual Idols, cute technology and unclean biology mengatakan bahwa virtual idol adalah salah satu tahapan lanjut dalam usaha menciptakan idol yang lebih canggih.
Ia juga mengatakan bahwa virtual idol membuka kesempatan untuk menciptakan sosok idol yang sesuai dengan keinginan dan selera pasar atau konsumen, dimana kondisi dari idol tersebut tidak akan berubah atau tetap.
Dalam skripsi Monica (2014) yang berjudul popularitas virtual idol Hatsune Miku di kalangan laki-laki paruh baya di Jepang mengatakan bahwa terdapat hubungan relevansi antara rasa kesepian yang di alami oleh laki-laki paruh baya jepang dengan tingkat popularitas virtual idol, yaitu Hatsune Miku di Jepang. Hubungan tersebut tampak pada penggunaan virtual idol sebagai substitusi dari rasa kesepian yang merupakan respon dari kondisi defisit atas ketidakadaannya hubungan dengan kedekatan yang intim antara kelompok generasi laki-laki dengan lingkungan sekitarnya, dalam hal ini rekan kerja dan istri.
Craig (2000) dalam tulisannya yang berjudul Japan Pop! Inside The World of Japanese popular Culture mengatakan bahwa idola pop adalah figure yang di promosikan melalui media yang pekerjaannya adalah menyanyi, menari, dan berakting di teater atau panggug, muncul di acara televisi dan berpose di majalah atau iklan. Menurut Craig idol di Jepang berbeda dengan idol yang terdapat di Negara lain. Di Jepang idol di sebut dengan aidoru, di mana pada aidoru tersebut memiliki sifat kusus, yaitu kawaii (yang berarti imut), dan kata aidoru hanya di peruntukkan bagi bintang atau artis yang berasal dari Jepang saja.
1.4.2 Kerangka Teori
Dalam meneliti suatu kebudayaan di dalan masyarakat diperlukan pendekatan yang sesuai dengan objek dan tujuan dari penelitian ini. Menurut Koentjaraningrat (1976: 1) kerangka teori berfungsi sebagai pendorong proses berfikir deduktif yang bergerak dari bentuk abstrak ke dalam bentuk yang nyata.
Dalam hal ini, penulis menggunakan pendekatan fenomenologis untuk meneliti masalah yang berkaitan dengan virtual idol di Jepang.
Menurut Moleong (2005: 8) pendekatan fenomenologis menekankan rasionalitas dan realitas budaya yang ada serta memahami budaya dalam sudut pandang pelaku budaya tersebut. Dalam pendekatan fenomenologis peneliti berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang dalam situasi tertentu.
Penulis menggunakan teori pendekatan fenomenologis untuk menjawab pengaruh virtual idol terhadap perkembangan industri musik di Jepang dan bagaimana virtual idol di minati masyarakat di Jepang.
1.5 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1.5.1 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan pengaruh virual idol terhadap perkembangan industri musik di Jepang.
2. Untuk mendeskripsikan bagaimana virtual idol di minati oleh masyarakat di Jepang.
1.5.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Menambah wawasan bagi penulis dan pembaca mengenai virtual idol di Jepang.
2. Menjadi bahan referensi bagi pembaca yang ingin meneliti masalah virtual idol lebih dalam.
3. Memberi sumbangan pemikiran, baik secara langsung maupun tidak langsung bagi proses pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
4. Diharapkan mampu menambah informasi bagi para pembaca khususnya pelajar bahasa Jepang mengenai fenomena virtual idol di Jepang saat ini.
5.
1.6 Metode Penelitian
Metode adalah alat untuk mencapai tujuan dari suatu kegiatan. Dalam melakukan penelitian, sangat diperlukan metode-metode untuk menunjang keberhasilan tulisan yang akan disampaikan penulis kepada para pembaca. Untuk itu, dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif.
Menurut Koentjaraningrat (1976: 30), penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran yang secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, data-data yang diperoleh dikumpulkan, disusun, diklasifikasikan, sekaligus dikaji dan kemudian diinterpretasikan dengan tetap mengacu pada sumber data dan informasi yang ada.
Dalam mengumpulkan data-data penelitian ini, penulis menggunakan teknik studi kepustakaan (library research), dengan mengambil acuan dari berbagai buku yang berkaitan dengan masyarakat, masalah sosial dan lain-lain.
Selanjutnya, penulis juga memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia di Perpustakaan Umum Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Selain itu penulis juga memanfaatkan koleksi pribadi, dan berbagai informasi dari situs-situs internet yang membahas tentang masalah yang berhubungan dengan Vocaloid untuk melengkapi data-data dalam penelitian ini.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Pemilihan topik dan judul penelitian.
2. Merumuskan masalah yang ingin diteliti.
3. Menyusun kerangka teori.
4. Melakukan studi pustaka.
5. Mengumpulkan data.
6. Menganalisis data.
7. Menggunakan referensi.
8. Menulis laporan penelitian.
BAB II
TINJAUAN UMUM TERHADAP VIRTUAL IDOL DI JEPANG 2.1 Definisi virtual idol di Jepang
Virtual idol berasal dari kata “virtual” dan “idol”. Kata virtual memiliki arti maya ataupun tidak nyata, sering menggambarkan sesuatu yang berhubungan dengan internet. Dan idol berarti idola yang berarti orang, gambar, patung, dan sebagainya yang menjadi pujaan. Craig (2000) dalam tulisannya yang berjudul Japan Pop! Inside The World of Japanese popular Culture mengatakan bahwa idola pop adalah figure yang di promosikan melalui media yang pekerjaannya adalah menyanyi, menari, dan berakting di teater atau panggug, muncul di acara televisi dan berpose di majalah atau iklan. Menurut junko (1999) mengatakan idol atau pelafalan dalam bahasa Jepang “aidoru” adalah suatu fenomena dalam kebudayaan populer Jepang, muncul sekitar tahun 1970-an yang di latarbelakangi oleh perubahan dalam sistem kemasyarakatan Jepang sebagai dampak dari meningkatnya tingkat kemakmuran masyarakat secara ekonomi sehingga berpengaruh pula terhadap pandangan dan gaya hidup mereka.
Pada masa kemunculan aidoru pada tahun 1970, masyarakat memandang sosok aidoru adalah tokoh perempuan yang ideal. Hal ini tidak terlepas dari citra yang di tampilkan para aidoru sendiri seperti bersikap manis, ramah, pandai bernyanyi dan berakting.
virtual idol adalah idol yang dihasilkan dengan cara digital dan bukan merupakan idol yang nyata, diciptakan melalui bantuan software untuk memainkan dan menggerakkannya. Karakter virtual idol yang di diminati sebagian besar remaja di Jepang salah satunya adalah Hatsune Miku.
2.2 Sejarah Industri Musik di Jepang
Musik Jepang merupakan gaya musik khas Jepang dari beragam artis, baik tradisional maupun modern. Kata musik dalam bahasa Jepang berarti ongaku (音
楽 ), menggabungkan on ( 音 , sound, suara) dengan gaku ( 楽 , music, musik).Jepang merupakan pasar musik terbesar kedua di dunia, dengan nilai total area penjualan mencapai 4,422.0 juta dollar dan sebagian besar pasar didominasi oleh artis Jepang Musik lokal sering muncul di berbagai tempat karaoke, dari label rekaman. Musik tradisional Jepang sangat berbeda dari Musik Barat. Musik tradisional dan daerah Ada dua jenis musik yang diakui sebagai jenis musik tradisional Jepang tertua, yaitu shōmyō ( 声明 maupun 聲明), atau nyanyian Buddha, dan gagaku (雅楽) musik istana, di mana keduanya berada pada zaman Nara dan Heian. Gagaku adalah jenis musik klasik yang telah ada pada istana Kekaisaran sejak zaman Heian. Kagura-uta (神楽歌), Azuma-asobi(東遊) dan Yamato-uta (大 和歌) merupakan repertoar adat. Tōgaku (唐楽) dan komagaku diperkenalkan dari Dinasti Tang, Tiongkok melalui Semenanjung Korea. Gagaku dibagi menjadi kangen ( 管 弦 ) (musik instrumen) dan bugaku ( 舞楽 ) (tarian disertai dengan gagaku).
Berasal pada awal abad ke-13 honkyoku (本曲), merupakan singel (solo) shakuhachi ( 尺 八 ) imam Zen. Imam ini, disebut komusō ("biksu"), yang memainkan honkyoku untuk sedekah dan pencerahan. Sekte Fuke tidak ada lagi pada abad ke-19, tetapi garis keturunan verbal dan tertulis dari beberapa honkyoku tetap berlanjut, meskipun musik ini saat ini sering dimainkan pada sebuah konser. Samurai sering mendengarkan dan memainkan dalam kegiatan musik, dalam praktik memperkaya hidup dan pemahaman.
Musik tradisional Biwa hōshi, Heike biwa, mōsō, dan goze Biwa (Hanzi:
琵琶 - pipa), lute, dimainkan oleh sekelompok pemain keliling (biwa hōshi) (琵琶 法師) yang digunakan untuk mengiringi sebuah cerita. Yang paling terkenal dari cerita ini adalah sejarah The Tale of the Heike, abad ke-12 dari kemenangan klan Minamoto atas Taira. Serikat ini akhirnya menguasai Selain itu, banyak kelompok musisi buta yang terbentuk khususnya di daerah Kyushu. Musisi tersebut, yang dikenal sebagai mōsō ( 盲 僧 biksu buta) berkeliling di daerah mereka dan melakukan berbagai ritual agama untuk menyucikan rumah agar dapat membawa kesehatan dan keberuntungan. Biwa yang mereka mainkan jauh lebih kecil dari
Heike biwa (平家琵琶) yang dimainkan oleh biwa hōshi. Terkait Lafcadio Hearn dalam bukunya yang berjudul Kwaidan: Stories and Studies of Strange Things
"Mimi-nashi Hoichi" (Hoichi the Earless), cerita hantu Jepang tentang seorang biwa hōshi buta yang memainkan "The Tale of the Heike" Seorang wanita buta, yang dikenal sebagai goze (瞽女), juga berkeliling di negeri tersebut sejak zaman abad pertengahan. Dia menyanyikan lagu dan bermain musik dengan pukulan drum yang dibawanya. Sejak abad ketujuh belas mereka sering memainkan koto atau shamisen. Organisasi Goze bermunculan di seluruh negeri, dan ada hingga saat ini di prefektur Niigata.
Ketika Perang Dunia II berakhir dan Amerika menduduki Jepang, warna warna musik juga mengikuti di belakangnya. Jepang kemudian berkenalan dengan boogie-woogie, mambo, blues dan country. Para musisi Jepang kemudian mempelajari dan memainkan jenis-jenis musik barat itu. Lalu para musisi Jepang ini bermain di depan para tentara pendudukan dari Amerika itu. Lahir|ah judul- judul lagu yang kemudian disuka orang seperti 'Tokyo Boogie-Woogie' (1948) milik Shizuko Kasagi, 'Tennesse Waltz' (1951) dari Eri Chiemi, Misora Hibari dengan 'Omatsuri Mambo' dan Izumi Yukimura menembangkan 'Omoide no Waltz'.
Tahun 1952 Jepang mengalami jazz boom, Louis Armstrong pernah bermain di negara ini, sayangnya karena dibutuhkan keahlian menguasai dan memainkan instrumen, tak banyak musisi yang bermain di dalamnya. Musisi- musisi amatir lebih menyenangi bermain musik country. Kosaka Kazuya dan the Wagon Masters yang hadir di tahun 1956 menjadi semacam tonggak kehadiran musik rock n' roll di Jepang. Lagu 'Heartbreak Hotel' milik Elvis Presley juga diputar melalui pengeras suara pada pemutar piringan hitam. Gerakan rock n' roll ini mencapai puncaknya di tahun 1959 dengan sebuah film yang dibintangi oleh semua bintang rock Jepang. Namun perkembangan rock n' roll di Amerika yang mengalami pasang-surut cukup cepat, membuat perkembangan musik ini di Jepang juga mengalami pengaruhnya. Sebagian musisi-musisinya menggabungkan rock n' roll dengan musik pop tradisional Jepang. Dalam periode ini muncul Sakamoto Kyu dengan lagunya 'Ue wo Muite Aruko' (Let's Look Up
and Walk) dan tentunya lagunya yang paling terkenal 'Sukiyaki'. Pada awal tahun 1970-an hingga pertengahan 1980-an hadir istilah genre 'New Music'. Genre ini memfokuskan pada tema-tema cinta dan hal-hal lain yang berhubungan dengan personal. Tokuro Yohida dan Yosui Inoue adalah dua musisi paling berpengaruh dalam genre musik ini. Pada tahun 1980-an juga hadir termin 'City Pop', sebuah istilah musik dan lagu yang menggambarkan tema kota besar, kebanyakan Tokyo menjadi inspirasi utamanya. Sangat sulit untuk membuat garis tegas antara New Music dan City Pop, sebab keduanya berangkat warna music yang sama. Untuk menghilangkan kebingungan maka hadir istilah Wasei Pop yang mewakili dua istilah tersebut. Namun istilah itu akan tergusur dengan sebutan J—Pop yang mewakili semua warna musik populer di Jepang.
Menjelang akhir tahun 1980-an sebuah grup rock Jepang, Change & Aska, menjadi fenomena baru di negeri matahari terbit itu. Change (Shuji Shibata) dan Ryo Aska (Shigeaki Miyazaki), sampai saat ini Ryo Aska menjadi penulis lagu terkenal di Jepang, adalah duo penyanyi sekaligus penulis lagu yang paling terkenal saat itu. Sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an Change & Aska adalah grup rock Jepang paling terkenal di Asia. Tiket Konsernya di Jepang, Hongkong, Singapura, dan Taiwan terjual habis di hari pertama. Namun kehadiran mereka surut di akhir tahun 1990-an oleh musik dance-pop dengan pionirnya Namie Amuro dan Tetsuya Komuro. Di jalur mainstream, terjadi kembali perubahan dengan popularitas musik R&B dengan penyanyinya Utada Hikaru dengan single debutnya 'Automatic/time will tell'. Sedangkan albumnya 'First Love' terjual lebih dari 7,5juta keping. Dengan angka itu ia menjadi penyanyi pertama dengan album paling laris dalam sejarah industry musik Jepang. Sedangkan di jalur musik pop masih mampu bersaing dengan kehadiran Hamasaki Ayumi, Kuraki Mai dan Ami Suzuki, juga grup wanita Speed dan Morning Asume. Perkembangan musik yang tak ada pada industri musik lainnya di dunia ini adalah hadirnya 'visual kei' (visual type).
Visual Kei adalah penggambaran dari gerakan J-Rock di tahun 1990-an.
Personil band-band ini biasanya menggunakan karakter atau visual khayalan untuk menarik perhatian. Kebanyakan penggemar-penggemar grup ini di Jepang
adalah kaum hawa yang memang merupakan target pasar terbesar. Dan mereka tak keberatan membeli apapun yang berhubungan dengan grup musik kesayangannya seperti stiker, kartu pos atau album foto musisi kesayangan mereka. Namun di luar Jepang perbandingan penggemarnya antara pria dan wanita sangat berimbang. Para personil band-band visual kei ini tak pelak lagi menggunakan makeup, menata rambut, mengingatkan pada grup-grup hair metal di tahun 1980-an, dan memakai kostum 'tak lazim'. Adapun kecenderungan yang lain, para personil band-band ini tampil feminin meskipun musik yang dibawakan tak selembut penampilan mereka. Biasanya mereka mengambil karakter-karakter yang lima atau enam tahun pernah populer sebelumnya. Karakter-karakter ini diambil dari game komputer atau film film animasi. Penampilan mereka ini kemudian ditiru oleh penggemarnya ketika menonton konser mereka. Gerakan ini diawali dengan kehadiran X-Japan yang memperkenalkan penggunaan visualisasi seperti itu untuk mendapatkan efek kejutan guna mendapatkan pengikut. Tadinya hanya untuk mendapatkan perhatian dari kalangan independen saja, namun kenyataannya malah memberikan sumbangan pada budaya popular di Jepang.
Pengaruh X-Japan melebar sehingga menghadirkan Die in Cries, Luna Sea, Zekill, Shazna, dan Baiser. J-rock sendiri bisa dilihat dari warna musiknya, meskipun pembagiannya terkadang lebih pada penampilan visualnya. Yang murni membawakan J-Rock seperti Luna Sea dan Dir en Grey, rock ringan atau berdasarkan musik pop seperti Glay dan L'Arc”en”Ciel, kemudian yang terpengaruh Heavy metal seperti Sex Machineguns. Bahkan dalam J-Rock juga terdapat pengusung Industrial, Synth Pop, Punk dan berbagai jenis lainnya yang dikategorikan dalam J-Rock. Namun karena adanya kesamaan pemakaian makeup, peneliti musik dari barat sering terkecoh dengan kemiripan antara visual kei dan gothic rock. Bahkan bila ditelusuri, hanya terjadi sedikit sentuhan antara visual kei dengan gothic Jepang yang sering disebut sebagai 'Gothic Lolita'. Selain Gothic Lolita, yang menjadi subgenre J-Rock adalah EroGuro dan Angura Kei.
2.3 Latar Belakang Munculnya Virtual Idol di Jepang
Hatsune Miku adalah salah satu karakter virtual idol yang di ciptakan oleh Crypton Future Media pada tanggal 31 Agustus 2007 untuk menjadi maskot salah satu bank suara perangkat lunak ataupun software Vocaloid2, Vocaloid3, dan Vocaloid4. Pertama kali di rilis pada tahun 2007 dan suara yang dimiliki Hatsune Miku merupakan hasil olahan dari rekaman suara seseorang pengisi suara asal Jepang yang bernama Fujita Saki. Hatsune Miku memiliki ciri khas rambut panjang berkuncir dua dan berwarna aqua. Hatsune miku di gambarkan sebagai karakter yang memiliki tinggi badan 158 cm dan berusia 16 tahun selamanya.
(Vocaloid wikia, 2017)
Sebagai sosok yang digambarkan selamanya berusia 16 tahun, Hatsune Miku di pandang sebagai sosok idola yang abadi ataupun kekal (everlasting), tidak akan pernah bertambah tua, tidak akan pernah sakit, tidak akan pernah bosab dan tidak akan pernah berhenti menjadi idola, sosok idola seperti ini bisa jadi adalah sosok idola yang ideal bagi pasar idola yang memiliki fans yang memiliki banyak permintaan ataupun persyaratan (demanding) dan sangat memperdulikan citra dari idola mereka, sesuatu yang di pandang sangat sempurna dalam industri idola di Jepang. (Le, 2013)
Hatsune Miku awalnya tidak di pasarkan sebagai sosok idola melainkan hanya sebagai software atau perangkat lunak musik yang di tujukan untuk musisi profesional dan produser musik yang mencari software vocal synthesizer untuk membuat vokal berbasis komputer. Pada awalnya fanbase atau penggemar terhadap karakter Hatsune Miku belum ada, namun semenjak popularnya penggunaan Hatsune Miku di website video hosting Jepang Niko Niko Douga, popularitas Hatsune Miku pun meningkat secara deraatis. Crypton Future Media pun ahirnya memilih pendekatan baru terhadap Hatsune Miku dan mulai memasarkan Hatsune Miku sebagai sosok idola bersama dengan karakter Vocaloid lainnya yang di miliki oleh Crypton Future Media. (Vocaloid wikia, 2017)
Pada tahun 2009, Crypton Future Media mengadakan konser yang berjudul MikuFES, konser tersebut merupakan konser yang di hadiri oleh musisi-musisi yang terkenal seperti OSTER Project, Deco*27, Deadball-P, Doriko, Livetune (Kz) dan Supercell. Mereka semua adalah musisi-musisi yang pernah membuat lagu-lagu populer dengan menggunakan software Hatsune Miku, konser ini adalah pertama kalinya konser yang menampilkan sosok Hatsune Miku dalam wujud hologram, menggunakan layar kaca yang di sorot menggunakan projektor meskipun fokus utama dalam konser ini bukanlah pada sosok Hatsune Miku melainkan pada musisi yang tampil.
Pada tahun 2010, Hatsune Miku memiliki konser yang benar-benar menampilkan sosok Hatsune Miku bersama dengan karakter Vocaloid lainnya seperti Kagamine Rin, Kagamine Len, Megurine Luka, Kaitu dan Meiko untuk tampil di panggung secara eksklusif sebagai sosok idola standalone dalam konser yang berjudul “39‟s Day”, 39 adalah nama band pengiring resmi untuk semua idola Vocaloid buatan Crypton Future Media. Konser ini menjadi konser yang menaikkan nama Hatsune Miku di seluruh dunia dan sempat menjadi viral di Youtube pada masa itu sehingga pasar internasional mulai melirik Hatsune Miku sebagai sosok virtual idol yang sedang popular di Jepang.
Pasca konser inilah Hatsune Miku mulai mendapatkan atensi secara internasional dan hatsunemiku mulai banyak mendapatkan partnership seperti menjadi bintang iklan mobil Toyota Corolla pada tahun 2011, tampil di talkshow di televisi Amerika bahkan menjadi bintang tamu dan artis pembuka dari konser penyanyi asal Amerika, Lady Gaga pada tahun 2014.
Demand terhadap sosok idola di Jepang tentunya berbeda dengan sosok idola di Amerika atau Eropa, di Jepang idola adalah sosok yang di anggap “all round-popular talents” atau artis serba bisa yang biasanya tampil baik dalam segi musik, akting, model, dan bahkan bintang iklan, walaupun tidak terlalu jelas, namun idola di Jepang adalah sebuah fenomena yang luar biasa populer (Aoyagi dalam Xie, 2005). Idola sendiri berasal dari kata yang sama dalam bahasa latin, meskipun pada awalnya idola merupakan istilah yang di gunakan dalam konteks
keagamaan (idola juga dapat diartikan sebagai berhala) namun dalam hal ini konteksnya telah berubah menjadi selebriti yang di idolakan.
Pada era perang dunia ke dua dan pasca perang dunia ke dua, televisi di Jepang sering kali menayangkan tayangan yang berbau politik dan kejahatan era perang seperti pada saat pasukan tentara merah oleh Mao Zedong dari cina di kepung dan di tangkap di area Karuizawa di Nagano, pada momen itu, tayangan televisi di Jepang di penuhi dengan tayangan-tayangan yang menampilkan adegan-adegan yang sadis dan kejam, hal ini membuat masyarakat Jepang ketakutan dan mencari hiburan lain di televisi seperti acara musik dan olahraga, pada momen inilah demand terhadap acara talent, musik dan ajang kecantikan meningkat derastis, pada era ini golongan yang mendapat perhatian teratas adalah golongan wanita muda usia 14 hingga 16 tahun. Era ini berlangsung sekitar tahun 1972 hingga 1980. Dari sinilah konsep idola di gunakan sebagai salah satu cara untuk membangkitkan semangat masyarakat Jepang selama pasca insiden perang.
Konsep idola penyanyi di Jepang baru mulai populer pada era awal tahun 1980, era ini di sebut sebagai “golde age” bagi idola di Jepang (Xie 2014) pada era ini, sosok idola yang populer di era ini sayangnya tidak bertahan lama dan minat terhadap idola menurun derastis pada ahir 1989 dan awal 1990 seiring meningkatnya minat terhadap bintang musik Rock dan band Rock seperti B‟z, Mr.
Children, dan L‟Arc~en~Ciel. Baru sejak awal tahun 2000 muncullah idola Jepang dengan konsep yang kita kenal seperti sekarang.
Idola dalam konteks Jepang tentunya berbeda dengan idola dari Amerika, di Amerika, konsep idola di gunakan untuk mendefinisikan seseorang yang di kagumi atas bakat, pencapaian, status atau penampilan fisik dan di kagumi oleh penggemarnya (Cheung dan Yue dalam Liu, 2013). Berbeda dengan Jepang yang memandang idola sebagai sebuah konsep talent selebritas yang serba bisa dan menjadi sosok penting dalam dunia hiburan nasional, konsep Amerika terhadap idola memandang idola sebagai sosok yang di puja secara berlebihan dan atribut yang di milikinya di lebih-lebihkan secara tidak wajar (Fromm dalam Liu, 2013).
Meskipun hanya berupa augmented reality fans tetap berupaya berkomunikasi dengan upaya mereka dengan berbagai macam cara. Manusia memiliki tubuh biologis dan nyata sementara Hatsune Miku memiliki tubuh virtual, perbedaan tubuh ini membuat fans terus mencoba untuk berkomunikasi dengan idolanya seperti menggunakan teknologi seperti augmented reality karena tidak banyak cara lain untuk dapat berinteraksi secara langsung.
2.4 Jenis-Jenis Virtual Idol
Hatsune Miku adalah karakter virtual idol dari sebuah perangkat lunak Vocaloid yang di kembangkan oleh Cryptoon Future Media, tidak hanya Hatsune Miku, Vocaloid juga merilis beberapa virtual idol lain seperti:
2.4.1 Kagamine Rin/Len
Kagamine Rin/Len adalah seri kedua setelah Hatsune Miku yang dirilis pada tanggal 27 Desember 2007. Cryptoon Future Media bermaksud memproduksi Vocaloid berisi suara anak perempuan belasan tahun. Namun ternyata, banyak permintaan untuk memproduksi suara anak laki-laki, hingga ahirnya Cryptoon Future Media menyewa pengisi suara yang bisa menghasilkan kedua suara tersebut. Kagamine Rin adalah voicebank pertama yang di kembangkan dan di pasarkan pertama kali pada tanggal 8 November 2007.
Namun paket ini berisi dua voicebak, satu berisi suara Rin dan satu lagi berisi suara Len, kedianya di isi oleh pengisi suara yang bernama Asami Simoda.
Kagamine Len milai di umumkan sebulan kemudian pada tanggal 3 Desember 2007. Meskipun berisi dua voicebank, ketika pertama kali di pasarkan, perangkat lunak ini dijual dengan harga yang sama dengan Hatsune Miku.
Pada 12 Juni 2008, Cryptoon Future Media mengumumkan bahwa versi terbaru dari kamine Rin/Len yaitu Act2 yang di rilis awal Juli 2008, Cryptoon Future Media meminta maaf atas kualitas buruk pada versi pertama Kagamine Rin/Len (Act1). Persambungan suara pada Act2 menjadi lebih mulus, noise juga menjadi lebih rendah di bandingkan dengan versi lama. Versi baru telah di stel agar dapat bernyanyi lebih mudah dan akurat. Sebagian data berasal dari data hasil rekaman ulang, pemilik versi lama yang telah mendaftar hingga 20 September 2008 berhak mendapatkan versi baru melalui update disc yang di bagikan secara
geratis, setelah update disc di instalasi, dua voicebank versi lama tetap ada sehingga pemakan memiliki empat voicebank sehingga keempatnya dapat di pakai.
Act2 yang di rilis pada tanggal 18 Juli 2008, hanya berisi dua voicebank terbaru.
Versi baru Kagamine Rin/Len Append di rilis pada tanggal 27 Desember 2010, berisi enam voicebank, tiga voicebank dari Rin dan tiga voicebank dari Len.
Berbeda dari versi sebelumnya yang hanya berisi suara yang bersemangat, versi Append berisi suara yang bernuansa sedih. Kagamine Rin/Len Append tidak dapat gigunakan secara tersendiri, dan hanya
Dapat di instalasi dari Kagamine Rin/Len Act2.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Kagamine_Rin/Len)
2.4.2 Hatsune Miku
Hatsune Miku adalah seri Vocaloid generasi ke dua yang di anggap paling populer di seluruh dunia. Suara yang di gunakan Hatsune Miku adalah suara dari seorang pengisi suara asal Jepang yang bernama Saki Fujita. Sebuah versi update dari Hatsune Miku yang di sebut Hatsune Miku Append di rilis pada tanggal 30 April 2010, berisi enam macam suara dari Hatsune Miku: soft (bersifat lembut), sweet (manis), dark (bernuansa gelap dan dewasa), vivid (bersemangat), solid (tinggi), dan light (polos).
Sebelum Hatsune Miku di rilis Vocaloid hanyalah program yang belum terkenal. Nico Nico Douga, sebuah situs video streaming di Jepang yang mirip YouTube memiliki peranan penting hingga perangkat lunak ini menjadi terkenal. Segera setelah dirilis, pengguna Nico Nico Douga mulai menampilkan video yang berisi lagu yang dibuat dari perangkat lunak tersebut. Menurut Crypton, sebuah video populer yang merupakan parodi, berisi Miku memegang daun bawang dan menyanyikan lagu Ievan Polkka, menunjukkan bahwa aplikasi ini bisa mempunyai banyak kemungkinan penerapan, meskipun pada awalnya Miku hanya dirilis untuk menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jepang.
Melalui situs NND (Nico Nico Douga), para pengguna Miku mulai bekerja sama, saling bertukar ide, menampilkan karya mereka yang masih setengah jadi, dan akhirnya diperbaiki oleh pengguna lain. Pada 18 Oktober 2007, sebuah forum
Internet melaporkan bahwa Miku diduga menjadi korban sensor oleh Google dan Yahoo, karena gambar Miku tidak tampil dalam hasil pencarian.
Namun hal ini segera dibantah oleh Google dan Yahoo, dan mereka menyatakan telah terjadi masalah dengan sistem yang mengakibatkan tidak hanya kata kunci
"Hatsune Miku", tetapi kata kunci lainnya tidak dapat ditampilkan. Kedua perusahaan menunjukan niat mereka untuk segera memperbaiki dan mencari solusi untuk masalah ini. Pada 19 Oktober, gambar dari Hatsune Miku mulai ditampilkan pada halaman pencarian Yahoo.
2.4.3 Megurine Luka
Megurine Luka adalah karakter yang bergaya Humanoid yang di rilis pada tanggal 30 Januari 2009, suara yang di gunakan Megurine Luka berasal dari seorang pengisi suara yang bernama Asakawa Yu. Pada awalnya Megurine Luka akan menerima perubahan yang di sebut Megurine Luka Append, yang di kembangkan untuk Vocaloid generasi kedua. Megurine Luka Append di gunakan dalam album Vocaloid Minzoku Chō Kyokushū (Vocaloid 民族 調 曲 集), untuk lagu Hoshizora to Yuki no Butōkai. Pada tanggal 1 Desember 2011Cryptoon Future Media mengumumkan pembatalan untuk promosi album Vocaloid Append yang menggunakan versi beta dari suara Megurine Luka. Selama preode singkat situs Vocaloid versi ke tiga dibuka dan membuat daftar vocal untuk Megurine Luka adalah: japanese (berbahasa Jepang), power (bertenaga), soft (lembut), cute (imut), whisper (bisikan), closed (tertutup), english (berbahasa Ingris).
Pada tanggal 19 Maret 2015, versi baru Megurine Luka yang di kembangkan untuk Vocaloid generasi ke empat di sebut Megurine Luka V4X, dirilis yang berisikan enam voicebank dengan empat jenis suara dalam bajasa Jepang dan dua Jenis suara dalam bahasa Inggris. Jenis-jenis vokal yang berbahasa jepang ialah: hard (keras), soft (lembut), hard evec (keras dan berevec), soft evec (lembut dan berevec). Sedangkan dua jenis suara yang berbahasa Inggris dapat disintesis silang juga satu sama lain.
2.4.4 Megpoid Gumi
Megpoid gumi adalah perangkat yang di rilis pada tanggal 5 November 2015, suara yang di gunakan Megpoid Gumi adalah suara yang di isi oleh pengisi suara asal Jepang yang bernama Nakajima Megumi. Nama Megpoid Gumi di ambil dari nama pengisi suaranya sendiri yaitu megumi, sedangkan
„poid‟ adalah singkatan dari kata “Like Vocaloid”. Nama lengkap dari Megpoid Gumi berarti “Megumi Like Vocaloid”. Pada tanggal 21 Oktober 2011, versi baru dari perangkat lunak yang di sebut “Megpoid V3” yang di rilis berisikan empat paket suara, ini awalnya akan menjadi paket ekspansi untuk Vocaloid 2 dari Megpoid Gumi dengan nama “Megpoid Extend” dan di dasarkan dari vokal Append dari Cryptoon Future Media. Pada 16 Maret 2012 pembaruan dari Vocaloid 2 Megpoid dirilis, yang disebut “V3 Megpoid Native”. Pada 28 Februari 2013, versi baru lainnya gumi yang di sebut “Megpoid English” juga di rilis untuk peramgkat Vocaloid 3, pada tanggal 5 November 2015 pembaruan untuk V3 Megpoid yang di sebut “Megpoid V4”, dirilis sebagai Vocaloid 4 untuk memperbaiki vokal dari V3.
Megpoid dan V3 Megpoid Native mendapatkan penambahan versi vokal bersamaan yaitu: mellow adult, power fat, natural sweet, soft whisper, dan native fat, vokal ini memamfaatkan fitur Vocaloid 4 yaitu cross-synthesis yang bisa di gunakan oleh Vocaloid 3 pada perangkat Megpoid.
(https://en.wikipedia.org/wiki/Megpoid)
2.5 Bentuk Produksi Konten Fans
Meskipun hanya berupa augmented reality fans tetap berupaya berkomunikasi dengan upaya mereka dengan berbagai macam cara. Manusia memiliki tubuh biologis dan nyata sementara Hatsune Miku memiliki tubuh virtual, perbedaan tubuh ini membuat fans terus mencoba untuk berkomunikasi dengan idolanya seperti menggunakan teknologi seperti augmented reality karena tidak banyak cara lain untuk dapat berinteraksi secara langsung. Di bawah ini akan di jelaskan beberapa cara proses fans dalam pembuatan konten.
2.5.1 Proses Produksi Konten Fans Dalam Bentuk Musik
Meskipun sebagian besar kualitas produksi musik fans berbeda pada posisi mediocre atau berbeda pada kualitas yang biasa-biasa saja, ada beberapa fans yang memiliki kualitas karya yang relatif berbeda pada kualitas yang lebih bagus dari fans mayoritas. Fans yamg memiliki kualitas froduksi musik yang lebih baik ini biasanya mengunggah karya mereka ke soundcloud.com atau youtube.com lalu kemudian memberikan tautan dari soundcloud hingga ke halaman facebook pribadi mereka atau fanpage komunitas. Fans yang sudah biasa memproduksi musik pada kelas ini biasanya adalah fans yang memang berpengalaman sebagai musisi atau sound editing dan sound mixing. Beberapa di antaranya bahkan adalah orang yang sudah terkenal di dalam komunitas- komunitas tertentu seperti dalam forum, media sosial atau bahkan sering tampil di event-event pop-culture Jepang sebagai bintang tamu, DJ, performer, dan sebagainya. Musisi-musisi ini pernah melakukan berbagai macam bentuk kolaborasi album atau melakukan perform live, walaupun demikian tidak semua musisi dalam circle ini fokus pada pembuatan musik dengan menggunakan Hatsune Miku karena sebagian besar juga membuat musik dalam genre dan bentuk lain selain lagu-lagu Vocaloid.
Dalam pembuatan musik yang berkualitas tentunya seseorang butuh peralatan perlengkapan yang memadai. Untuk membuat lagu fans menggunakan software Vocaloid editor dan berbagai macam software mixing seperti FL Studio, Albelton, Traktor, dan Cubase. Vocaloid editor meripakan software yang di gunakan untuk membuat sintesa suara yang menggunakan bank suara dari karakter-karakter Vocaloid seperti Hatsune Miku dan karakter Vocaloid lainnya, pengoperasian software ini di lakukan dengan memasukkan nada dalam interface software yang mirip seperti music sheet, pengguna dapat mengatur panjang pendek nada, vibrato,nafas dan karakteristik suara yang diinginkan, kemudian pengguna dapat memasukkan lirik lagu yang diinginkan lalu setelah dilakukan render, maka akan terdengar suara vokal sesuai dengan suara yang telah di-tune oleh pengguna. Selain itu, pada versi Vocaloid yang lebih baru, dapat di tambahkan juga berbagai jenis efek suara dari Vocaloid editor secara langsung tanpa perlu memindahkan ke software lainnya, mempermudah musisi untuk membuat jenis suara yang diinginkan. Ketika suara vokal yang diinginkan sudah
selesai, barulah musisi bisa memindahkan hasil suara ahir (biasanya dalam format .WAV) kedalam software editing musik.
2.5.2 Alasan Produksi Konten Fans Dalam Bentuk Musik
Sebagian besar fans memproduksi musik dengan menggunakan software Vocaloid Terutama Hatsune Miku hanya untuk kesenangan pribadi, produksi yang dilakukan hanya di simpan sendiri atau di sekedar unggah ke sitis seperti youtube.com atau coundcloud.com. Fans yang membuat lagu sebagian besar juga tidak mementingkan kualitas produksi, mereka melakukan hal tersebut hanya untuk kepuasan peribadi saja.
Banyak diantara fans hanya membuat lagu cover hanya karena ingin mendengar lagu-lagu tertentu dalam suara Hatsune Miku tanpa ada alasan yang spesifik. Banyak dari fans Hatsune Miku membuat lagu hanya sekedar kesenangan tersendiri, ingin mendengar lagu-lagu populer jika dinyanyikan Hatsune Miku akan seperti apa, mereka tidak semuanya benar benar berambisi ingin menjadi musisi terkenal dengan hasil karya yang akan menjadi hits, internasional atau sejenisnya, melainkan kegiatan yang mereka lakukan ini tidak lain hanya untuk apresiasi fans terhadap Hatsune Miku itu sendiri. Hal ini mungkin mirip dengan pendapat Bacon Smith dalam Jonsdottir mengenai fans, dimana fans menciptakan banyak karya seni mengenai karakter media favorit mereka, hanya saja konteks yang di bicarakan oleh Bacon Smith adalah karya yang bersifat visual, bukan berarti tidak ada karya dalam fandom Hatsune Miku yang bersifat visual, namun karena Hatsune Miku adalah karakter yang memiliki berbasis musik, tidak heran karya fans berevolusi menjadi karya yang berbentuk musik juga.
2.5.3 Produksi Fans Dalam Bentuk Konser Visual
Cryptoon Future Media bersama dengan SEGA memang mengadakan banyak konser resmi, namun sayangnya tidak semua konser tersebut dapat di jangkau dengan mudah, penyebab fans sulit menjangkau konser-konser Hatsune Miku adalah karena sebagian besar konser-konser Hatsune Miku di lakukan di luar negeri. Indonesia sendiri hanya mendapatkan satu kali untuk
penggelaran konser resmi. Konser itupun di adakan di Jakarta, hal ini membuat fans di luar jakarta akan kesulitan untuk menghadiri konser tersebut, terlebih lagi untuk harga tiket konser Hatsune Miku terbilang cukup mahal. Untuk harga tiket Hatsune Miku di Jakarta 2014 lalu berkisar mulai dari tiga ratus sembilan puluh ribu rupiah (Rp. 390.000) untuk kelas Bronze, tujuh ratus ribu rupiah (Rp.
700.000) untuk kelas Silver, penonton dalam kelas Bronze dan Silver berada pada area standing atau berdiri. Tiket untuk kelas Gold memiliki harga satu juta rupiah (Rp. 1.000.000) dan untuk kelas platinum berharga satu juta tiga ratus sembilan puluh ribu rupiah (Rp. 1.390.000).
Karena mahal dan terbatasnya konser Hatsune Miku resmi di Indonesia, fans banyak yang mulai membuat konsernya sendiri dengan berbagai cara. Fans mulai mencari cara membuat konsernya versinya sendiri, mulai dari menggunakan projector yang di arahkan ke dinding, projector yang di arahkan ke kain atau ke kaca, hingga sistem hologram lainnya seperti hologram piramid dan hologram box.
Beberapa fans bahkan membuat konser yang lebih besar dan dapat dinikmati oleh orang banyak, mereka membuat musik mereka sendiri, membuat animasi mereka sendiri dan hologramnya sendiri. Mereka membuat animasi mereka sendiri dengan menggunakan software MMD atau Miku Miku Dance, sebuah software open source yang memungkinkan fans untuk membuat animasi mereka sendiri untuk Hatsune Miku dan karakter Vocaloid lainnya. Sebagian besar lagu yang mereka mainkan merupakan lagu yang sudah jadi sehingga mereka memutar lagu tersebut tanpa ada aransemen ulang lebih lanjut.
Dalam produksinya fans membuat konser visual ini dalam berbagai macam skala, mulai dari skala kecil hingga skala besar, skala kecil dapat dilakukan hanya dengan beberapa kardus, case CD, dan smartphone. Fans dapat membuat apa yang sering disebut sebagai hologram box, fans dapat menggunakan box tersebut untuk menonton konser kecil Hatsune Miku menggunakan smartphone mereka, box ini menggunakan prinsip pantulan cahaya dari layar smartphone ke layar akrilik yang di buat dari case CD.
Box ini dapat di buat dari berbagai bahan rumahan seperti kardus bekas, hingga kebahan yang kokoh seperti karton tebal, papan akrilik, hingga plastik hasil cetakan sendiri menggunakan 3D Printer atau sejenisnya. Box ini dapat di buat dan di gunakan dengan mudah oleh siapapun dengan usaha minimum, untuk vidio konser yang akan di tonton biasanya fans dapat dengan mudah mencari vidio-vidio dengan judul “hologram ready” atau yang memang di buat untuk digunakan sebagai hologram, lengkap dengan latar belakang hitam sehingga tidak ada cahaya lain yang memantul di layar. Vidio-vidio hologram ready dapat dengan mudah di temukan di situs-situs vidio seperti youtube.com atau fans dapat membuatnya sendiri dengan menggunakan software MMD.
Dalam bentuk yang lebih rumit fans juga dapat membuat panggung kecil dari kardus, papan akrilik dan menggunakan LCD projector kecil untuk membuat panggung yang dilengkapi dengan animasi latar belakang. Animasi yang di gunakan dapat di ambil dari berbagai macam sumber dan latar belakang panggung bisa berupa gambar diam atau animasi. Latar belakang animasi dapat di atur menggunakan software video mapping seperti „heavy M‟ atau berbagai macam software video mapping lainnya yang serupa.
Beberapa fans juga membuat konser dalam skala yang relatif lebih besar dimana mereka membuat konser Hatsune Miku yang menampilkan Hatsune Miku dalam skala 1:1 (mengikuti tinggi asli Hatsune Miku, sekitar 158 centimeter).
Dalam skala konser 1:1 ini, biasanya yang di gunakan adalah LCD projector dari layar kaca atau akrilik yang berukuran besar.
Biasanya fans juga dapat menggunakan kain kasar atau net sebagai pengganti layar kaca atau papan akrilik bening, menggunakan kain kasar atau net membuat layar lebih fleksibel, mudah disimpan, mudah dibawa dan lebih mudah dilakukan perawatan dalam jangka waktu panjang. Dalam skala yang lebih tinggi lagi fans juga membuat konser yang lebih besar, biasanya untuk di tunjukkan di atas panggung layaknya konser resmi. Namun konser ini tetap di buat oleh fans dan untuk dinikmati oleh sesama fans, biasanya konser sejenis ini di tampilkan dalam acara-acara komunitas atau dalam berbagai festifal populer Jepang.
Secara teknis konser dengan jenis ini menggunakan teknik yang sama dengan konser rumah dengan skala 1:1, yaitu dengan menggunakan layar dan LCD projector, hanya saja ukuran layar di perbesar dan ukuran Hatsune Miku tetap dalam skala 1:1 (dengan tinggi badan 158 centimeter) namun karena lebarnya panggung, hal ini memungkinkan Hatsune Miku untuk bergerak kesana kemari di atas panggung.
2.5.4 Alasan Produksi Konten Fans Dalam Bentuk Virtual
Sebagai fans idola Jepang atau bisa di sebut sebagai aidoru, belum lengkap rasanya jika belum pernah menonton konser idola mereka secara langsung. Idola-idola ini juga melakukan „servis‟ atau pelayanan kepada fans mereka melalui konser-konser ini, selain untuk mendapatkan penghasilan secara komersil, idola juga memberi kesempatan kepada fans idola-idola mereka ini untuk bertemu secara langsung.
Hatsune Miku sebagai idola virtual, sersama dengan idola-idola Vocaloid lainnya, tidak benar benar memiliki tubuh asli, mereka hanya karakter animasi hasil render komputer yang di tampilkan dalam layar hologram hasil proyeksi dari LCD projector yang di sorotkan ke layar khusus sehingga kita dapat melihat penampilan dari Hatsune Miku di atas panggung dan di nikmati oleh fansnya.
Hatsune Miku tidak bisa di pasarkan sebagaimana layaknya idola komersial lainnya yang memiliki tubuh manusia. Hatsune Miku adalah sosok virtual yang tidak memiliki tubuh asli dan tidak bisa secara langsung berinteraksi dengan para fans karena apa yang dilakukan Hatsune Miku adalah sebatas apa yang telah di programkan oleh tim yang menggarap Hatsune Miku. Oleh karena itu, konser Hatsune Miku adalah satu-satunya antara idola dan fans yang dapat dikatakan sebagai interaksi yang paling mendekati interaksi idola dan fans yang konvensional.
Karena konser Hatsune Miku membutuhkan persiapan yang luar biasa rumit, menggunakan teknologi yang membutuhkan biaya mahal dan biaya operasional untuk keperluan transportasi peralatan dan teknis lainnya yang cukupmahal, konser Hatsune Miku menjadi konser yang relatif mahal jika di
bandingkan dengan konser-konser idola lainnya. Konser Hatsune Miku juga hanya dilakukan beberapa kali dalam satu tahun di tempat yang berbeda-beda bahkan di negara yang berbeda-beda, bahkan di Indonesia sendiri, Hatsune Miku hanya melakukan konser satu kali di tahun 2014.
Harga tiket konser yang mahal ini membuat fans yang dapat menonton konser Hatsune Miku hanyalah golongan-golongan tertentu saja, dan tidak semua fans dari semua daerah dapat menonton konser Hatsune Miku secara langsung karena masalah jarak, oleh karena itu, tidak heran mengapa fans memilih untuk membuat konser Hatsune Miku versi mereka sendiri. Alasan biaya dan aksesibilitas menjadi alasan utama bagi banyak fans untuk tidak dapat menonton konser resmi ini, namun hal tersebut tidak menjadi halangan bagi para fans untuk tetap menonton konser utama Hatsune Miku, banyak fans yang berahir membuat konset versi mereka sendiri untuk dapat bertemu dan melihat konser Hatsune Miku.
2.5.5 Produksi Fans Dalam Bentuk Lainnya
Sebagai mana fans dalam sebuah fandom, fans sering kali membuat karyanya sendiri yang berdasarkan karakter favorit mereka. Tidak terkecuali Hatsune Miku, sebagai idola virtual, Hatsune Miku banyak mendapatkan hasil karya buatan fans yang di buat sebagai tribute untuk Hatsune Miku. Karya yang di buat fans ini muncul dalam berbagai macam bentuk, mulai dari gambar ilustrasi atau fan art, cerita buatan fans atau fans fiction, menggunakan kostum karakter Vocaloid atau cosplay dan masih banyak lagi.
Dalam produksi musik sekalipun, biasanya fans juga membuat video clip yang mengiringi lagu Vocaloid yang mereka buat. Video klip atau yang biasa di sebut sebagai “music video” biasanya di buatmenggunakan animasi MMD, animasi 2D, atau gambar ilustrasi yang berisikan cerita atau hanya tampilan karakter Vocaloid yang menyanyikan lagu yang mengiringi dalam kostum atau situasi tertentu yang sesuai atau yang menjadi icon dari lagu tersebut. Gambar
ilustrasi tersebut biasanya di buat motion graphic atau animasi simpel dan diberi lirik untuk mengiringi lagu.
Banyak juga video clip lainnya yang menggunakan gambar ilustrasi sebagai slideshow saja. Namun selain untuk digunakan sebagai video clip, ilustrasi-ilustrasi serupa juga menjadi gambar yang di buat semata-mata sebagai seni yang menggambarkan Hatsune Miku atau bisa juga di sebut fanart. Banyak fans yang memilih untuk menggambar atau melukis idola mereka sebagai bentuk penghargaan untuk idolanya.
Ada pula produksi fans yang di lakukan dalam bentuk fanfiction atau cerita fiksi yang di buat oleh fans sebagai imajinasi mereka terhadap karakter yang sudah ada, tidak terkecuali Hatsune Miku. Fanfiction sendiri merupakan salah satu bentuk budaya populer yang terkenal dalam fandom manapun. Fanfiction merupakan hasil dari penggemar karena mereka kurang menyetujui ahir cerita atau jalan cerita dari suatu novel, filem, selebriti, maupun musik yang di minatinya tersebut (termasik manga dan anime) yang di tuangkan kedalam bentuk tulisan cerita yang diubah alurnya tetapi tetap menggunakan tokoh, seting, dan latar cerita, sehingga menjadi seperti meminjam seting dan tokoh karya aslinya, untuk diubah berdasarkan keinginan fansnya (Fulamah, 2015).
Selain fanfiction fans sering kali melakukan cosplay atau costum play, dimana fans akan menggunakan kostum agar menyerupai karakter tertentu yang mereka inginkan. Di sini fans akan menggunakan kostum yang berkaitan dengan karakter Hatsune Miku. Karakter Hatsune Miku dan karakter Vocaloid pada dasarnya merupakan karakter yang paling sering di cosplay-kan. Kita akan melihat karakter Hatsune Miku akan di cosplay-kan di semua event populer Jepang. Karakter Hatsune Miku yang di cosplay-kan juga akan tampil dengan kostum yang berbeda, meskipun karakternya tetap sama, ada banyak versi kostum yang di gunakan Hatsune Miku pada saat konser maupun di dalam game resminya.
Hatsune Miku juga memiliki banyak fans laki-laki yang ingin melakukan cosplay terhadap karakter Hatsune Miku, beberapa laki-laki yang memiliki kepercayaan lebih, mungkin saja bisa melakukan cosplay dengan melakukan
crossdressing atau berpakaian layaknya wanita, namun fans menciptakan pula karakter Hatsune Miku versi mereka sendiri yang merupakan genderbend atau versi gender lain dari Hatsune Miku yang di sebut dengan Hatsune Mikuo, karakter Hatsune Miku versi gender laki-laki.
Cosplay sendiri sudah menjadi culture yang mempunyai sentimen tersendiri dalam budaya populer di Jepang, mengingat banyaknya peminat terhadap cosplay, banyak orang yang memilih untuk menjadi cosplayer tanpa perlu menyukai budaya populer Jepang lainnya. Karena besarnya terhadap culture cosplay ini sendiri, banyak orang yang tertarik untuk melakukan cosplay.
2.5.6 Alasan Produksi Konten Fans Dalam Bentuk Lainnya
Fans sendiri juga merupakan individu yang mempunyai bakat yang berbeda-beda. Fans sendiri juga memiliki gayanya masing-masing dalam membuat karya dan menyalurkan hobinya, oleh karena itu tidak heran jika fans memilih untuk menggunakan Hatsune Miku, idola mereka sebagai objek yang mereka gambarkan dan gunakan dalam karya-karya mereka.
Fans meliliki berbagai macam keahlian, dan ketertarikan masing-masing terhadap hal yang berbeda-beda. Seperti halnya karya yang berupa kostum untuk cosplay dan gambar ilustrasi. Hal-hal yang merupakan karya seni ini memerlukan keahlian kusus dan juga memberikan rasa bangga ketika mereka berhasil menyelesaikan karya mereka tersebut dan memberikan karya tersebut sebagai persembahan untuk idolanya.
2.6 Faktor-faktor Pendukung Virtual Idol di Jepang
Salah satu objek industri budaya pop di Jepang yang marak dipertontonkan dan digemari oleh masyarakat Jepang ialah para artis atau penyanyi pop yang bernyanyi dan menari di atas panggung yang sering sebut Idol. Para Idol mempertontonkan keahlian mereka kepada peikmat budaya pop di Jepang.
Dengan harapan mendapat keuntungan materi, para pengusaha-pengusaha bisnis hiburan ini berlomba-lomba menciptakan berbagai versi idol, misalnya Buono!
(sebuah idol grup vokal berisi 3 orang peempuan yang pandai menari serta
bernyanyi dengan aransemen musik rock), AKB 48 (grup idol yang berisikan 48 perempuan remaja yang pandai menari dan bernyanyi), Morning Musume yang grup idolya hampir sama dengan AKB 48 hanya saja personilnya lebih sedikit, dan idol-idol lainnya. Mereka sangat digemari oleh para fansnya masing-masing.
Para penggemarnya rela mengorbankan uang banyak untuk membeli tiket konser dan merchandise sang Idol. Namun Hatsune Miku muncul merubah paradigma orang-orang terhadap budaya pop yang ada, bahwa objek teks Idol tidak selalu harus manusialah yang memerankannya. Karena pada dasarnya semua dapat memerankan dan menambahkan kenyataan yang sebenarnya tidak mungkin direalisasikan kepada idol pada umumnya.
Sangatlah wajar apabila Hatsune Miku Populer. Hatsune Miku membuat terobosan sendiri, seluruh dunia telah melihatnya sehingga ia menjadi Japan topic cool saat ini, yaitu duta besar promosi produk kebudayaan populer Jepang ke seluruh dunia di dalam segmen musik J-Pop dan segmen teknologi yang disukai dan selalu diikuti oleh banyak orang. Partisipasi Hatsune Miku dalam beberapa animasi sebagai Opening dan Ending anime sudah dijalani Hatsune Miku untuk menjadi populer. Dunia cosplay yang menampilkan segmen-segmen para pelaku cosplay Hatsune Miku membuat interpretasi orang-orang di dunia bahwa Miku adalah salah satu bagian produk kebudayaan yang paling komersil di Jepang kini (cool japan). Semua langkah-langkah kepopuleran yang mengatasnamakan keuntungan yang dilakukan Crypton Future Media Yamaha Corperation yang mengobjekkan pemujaan idol Hatsune Miku sebagai ujung tombak promosi produk vocaloid, sukses besar. Perangkat lunak, tiket konser, merchandise dan hal-hal yang berbau Hatsune Miku laris laku dibeli masyarakat Jepang maupun luar negeri.
Objek Hatsune Miku yang telah menyenangkan banyak orang dengan memanfaatkan interpretasi masyarakat yang tidak lepas dari aspek-aspek teknologi virtual yang disukai dan di ikuti selalu perkembangannya oleh masyarakat, serta menciptakan pencitraan segmen idol yang sedang menari dan menyanyi. Crypton telah berhasil meraih untung besar tanpa harus mencari-cari pengakuan kepopuleran, tapi tetap mengikuti kaidah dasar kepopuleran yang ada, bahwa Hatsune miku ialah hal yang menyenangkan dan disukai banyak orang,