• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

RANCANGAN RPJMD

(2)

BAB I PENDAHULUAN

(3)

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

II.1 Geografi

II.1.1 Kondisi Geografis

Kota Tangerang Selatan terletak di bagian timur Provinsi Banten dan secara administratif terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan, 49 (empat puluh sembilan) kelurahan dan 5 (lima) desa dengan luas wilayah 147,19 Km2.

Menurut Kabupaten Tangerang Dalam Angka Tahun 2007/2008, luas wilayah kecamatan-kecamatan yang berada di Kota Tangerang Selatan (yang kemudian diambil sebagai luas wilayah kota Tangerang Selatan) adalah sebesar 150,78 Km2 sedangkan menurut Kompilasi Data untuk Penyusunan RTRW Kota Tangerang Selatan adalah sebesar 147,19 Km2 dengan rincian luas kecamatan masing-masing yang berbeda pula. Angka yang digunakan adalah 147,19 Km2 karena sesuai dengan Undang-undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di Propinsi Banten.

Batas wilayah Kota Tangerang Selatan adalah sebagai berikut:

- Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta & Kota Tangerang - Sebelah timur berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta & Kota Depok - Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bogor & Kota Depok - Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tangerang

No Keterangan

1 Letak geografis Di sebelah timur Propinsi Banten

2 Luas Wilayah 147,19 Km2 atau 14.719 Ha

3 Batas-batas

- Sebelah Utara Kota Tangerang

- Sebelah Timur Provinsi DKI Jakarta

- Sebelah Selatan Kota Depok dan Kabupaten Bogor

- Sebelah Barat Kabupaten Tangerang

4 Wilayah Pemerintahan

- Kecamatan 7 Kecamatan

- Kelurahan 49 Kelurahan

- Desa 5 Desa

Sumber:

- Undang-undang Nomor 51 Tahun 2008

Tabel 1.1 Potensi Fisik Dasar Kota Tangerang Selatan Potensi Fisik Dasar

- Hasil Olah Potensi Desa Tahun 2006 dalam Kompilasi Data untuk Penyusunan RTRW Kota Tangerang Selatan (2008)

Luas wilayah masing-masing kecamatan tertera dalam Tabel 1.2. Kecamatan dengan wilayah paling besar adalah Pondok Aren dengan luas 2.988 Ha atau 20,30% dari luas keseluruhan Kota Tangerang Selatan, sedangkan kecamatan dengan luas paling kecil adalah Setu dengan luas 1.480 Ha atau 10,06%.

(4)

No Kecamatan Luas Wilayah (Ha) Persentase terhadap luas kota (%)

1 Serpong 2.404 16.33%

2 Serpong Utara 1.784 12.12%

3 Ciputat 1.838 12.49%

4 Ciputat Timur 1.543 10.48%

5 Pamulang 2.682 18.22%

6 Pondok Aren 2.988 20.30%

7 Setu 1.480 10.06%

Kota Tangerang Selatan 14.719 100.00%

Tabel 1.2

Luas Wilayah Menurut Kecamatan Kota Tangerang Selatan

Sumber : Hasil Olah Potensi Desa Tahun 2006 dalam Kompilasi Data untuk Penyusunan RTRW Kota Tangerang Selatan (2008)

Luas wilayah masing-masing kelurahan/desa tertera dalam Tabel 1.3. Kelurahan/desa dengan wilayah di atas empat ratus hektar terletak di Kecamatan Pamulang, yaitu Pondok Cabe Udik dan Pamulang Barat, dan di Kecamatan Serpong Utara, yaitu Paku Jaya. Kelurahan/desa dengan wilayah di bawah seratus lima puluh hektar terletak di Kecamatan Serpong, yaitu Cilenggang dan Serpong, dan di Kecamatan Serpong Utara, yaitu Jelupang. Kelurahan/desa dengan luas wilayah paling besar adalah Pondok Cabe Udik dengan luas 483 Ha sedangkan kelurahan/desa dengan luas wilayah paling kecil adalah Jelupang dengan luas 126 Ha.

II.1.2 Keadaan Iklim

Keadaan iklim didasarkan pada penelitian di Stasiun Geofisika Klas I Tangerang, yaitu berupa data temperatur (suhu) udara, kelembaban udara dan intensitas matahari, curah hujan dan rata-rata kecepatan angin. Temperatur udara rata-rata berkisar antara 23,5 - 32,6 °C, temperatur maksimum tertinggi pada bulan Oktober yaitu 33,9 °C dan temperatur minimum terendah pada bulan Agustus dan September yaitu 22,8 °C. Rata-rata kelembaban udara dan intensitas matahari sekitar 78,3 % dan 59,3 %. Keadaan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari, yaitu 486mm, sedangkan rata-rata curah hujan dalam setahun adalah 177,3mm. Hari hujan tertinggi pada bulan Desember dengan hari hujan sebanyak 21 hari. Rata-rata kecepatan angin dalam setahun adalah 3,8 m/detik dan kecepatan maksimum 12,6 m/detik.

(5)

No Kecamatan Luas Wilayah (Ha)

1 Serpong 1 Buaran 334

2 Ciater 376

3 Rawa Mekar Jaya 235

4 Rawa Buntu 328

5 Serpong 139

6 Cilenggang 143

7 Lengkong Gudang 361

8 Lengkong Gudang Timur 262

9 Lengkong Wetan 226

2 Serpong Utara 1 Lengkong Karya 210

2 Jelupang 126

3 Pondok Jagung 209

4 Pondok Jagung Timur 225

5 Pakulonan 279

6 Paku Alam 281

7 Paku Jaya 454

3 Ciputat 1 Sarua 368

2 Jombang 345

3 Sawah Baru 274

4 Sarua Indah 193

5 Sawah 249

6 Ciputat 172

7 Cipayung 237

4 Ciputat Timur 1 Pisangan 391

2 Cireundeu 308

3 Cempaka Putih 227

4 Pondok Ranji 246

5 Rengas 165

6 Rempoa 206

5 Pamulang 1 Pondok Benda 386

2 Pamulang Barat 416

3 Pamulang Timur 259

4 Pondok Cabe Udik 483

5 Pondok Cabe Ilir 396

6 Kedaung 256

7 Bambu Apus 220

8 Benda Baru 266

6 Pondok Aren 1 Perigi Baru 310

2 Pondok Kacang Barat 252

3 Pondok Kacang Timur 252

4 Perigi Lama 389

5 Pondok Pucung 362

6 Pondok Jaya 233

7 Pondok Aren 217

8 Jurang Mangu Barat 253

9 Jurang Mangu Timur 258

10 Pondok Karya 271

11 Pondok Betung 191

7 Setu 1 Kranggan 205

2 Muncul 361

3 Setu 364

4 Babakan 170

5 Bakti Jaya 174

6 Kademangan 206

Jumlah 14.719

Tabel 1.3

Luas Wilayah Kelurahan/Desa Kota Tangerang Selatan

Kelurahan/Desa

Sumber : Hasil Olah Potensi Desa Tahun 2006 dalam Kompilasi Data untuk Penyusunan RTRW Kota Tangerang Selatan (2008)

(6)

II.1.3 Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan Kota Tangerang Selatan sebagian besar adalah untuk perumahan dan permukiman yaitu seluas 9.941,41 Ha atau 67,54% dari 14.719 Ha. Sawah ladang dan kebun menempati posisi kedua terluas dengan 2.794,41 Ha atau 18,99%. Penggunaan lahan paling kecil adalah untuk pasir dan galian yaitu seluas 15,27 Ha atau 0,1%.

No Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase Luas

(%)

1 Perumahan dan permukiman 9.941.41 67.54%

2 Industri / Kawasan Industri 167.61 1.14%

3 Perdagangan dan jasa 487.08 3.31%

4 Sawah, ladang, dan kebun 2.794.41 18.99%

5 Semak belukar dan rerumputan 366.48 2.49%

6 Pasir dan galian 15.27 0.10%

7 Situ dan danau / tambak / kolam 137.43 0.93%

8 Tanah kosong 809.31 5.50%

14.719

100.00%

Tabel 1.3

Luas Penggunaan Lahan di Kota Tangerang Selatan Tahun 2008

Jumlah

Sumber : Kompilasi Data untuk Penyusunan RTRW Kota Tangerang Selatan (2008)

II.1.4 Penduduk

Penduduk Kota Tangerang Selatan berjumlah 1.051.374 jiwa pada tahun 2007, dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki sebesar 532.670 jiwa sedangkan perempuan 518.704 jiwa. Rasio jenis kelamin adalah sebesar 102,69, yang menunjukkan bahwa jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan jumlah perempuan (Tabel 3.1.1.).

Dengan luas wilayah 147,19 Km2, kepadatan penduduk Kota mencapai 7.143 orang/Km2. Kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Ciputat Timur yaitu 10.396 orang/Km2 sedangkan kepadatan terendah di Kecamatan Setu yaitu 3.812 orang/Km2.

Komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur pada tahun 2008 menunjukkan bahwa kelompok umur dengan jumlah penduduk terbesar adalah 0 – 4 tahun, yaitu sebesar 9,69% sedangkan kelompok umur dengan jumlah penduduk terkecil adalah ≥ 60, yaitu sebesar 3,47%.

II.2 Ekonomi

II.2.1 Perkembangan PDRB

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan besaran nilai tambah bruto yang dihasilkan dalam memproduksi barang dan jasa oleh sektor produktif dalam perekonomian suatu daerah (region) tanpa melihat pelaku ekonominya. Pelaku ekonomi bisa berasal dari daerah tersebut dan atau dari luar daerah tersebut.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Kota Tangerang Selatan pada tahun 2007 adalah sebesar Rp.5.256.882,05 Juta atau tumbuh sebesar 11,18% dibandingkan dari tahun 2006 yang nilainya Rp 4.752.381,60 Juta. Dengan jumlah penduduk pertengahan tahun 2007 mencapai 1.042.682 orang. Perkembangan PDRB Kota Tangerang Selatan cenderung menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun demikian juga dengan PDRB per kapita. Pada tahun 2007, laju pertumbuhan ekonomi (LPE) adalah sebesar 6,51%.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku Kota Tangerang Selatan jika dibandingkan dengan PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi Banten sejak tahun 2007 mempunyai nilai sebesar Rp 112.190,11 Trilyun. Artinya, Kota Tangerang Selatan mempunyai kontribusi sebesar 4,68%

terhadap Provinsi Banten.

(7)

II.2.2 Distribusi PDRB

Berdasarkan data PDRB tahun 2007, struktur ekonomi Kota Tangerang Selatan didominasi oleh sektor lapangan usaha pengangkutan dan komunikasi (30,29%) dan perdagangan hotel dan restoran (26,81%). Sektor lain yang juga memberikan kontribusi cukup besar adalah jasa-jasa (17,39%) dan bank, persewaan dan jasa perusahaan (15,40%). Lima sektor lain masing-masing memberikan kontribusi di bawah 10%.

Struktur ekonomi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Tangerang Selatan didominasi oleh sektor tersier, yaitu pengangkutan dan komunikasi; perdagangan hotel dan restoran; jasa-jasa; dan bank, persewaan dan jasa perusahaan, yang memberikan kontribusi hampir 90%. Sektor sekunder (industri pengolahan; listrik, gas dan air bersih; dan konstruksi) memberikan kontribusi 8,76%, dan sektor primer (pertanian; pertambangan dan penggalian) hanya memberikan kontribusi kurang dari 2%.

Jika dilihat kecenderungan sejak tahun 2004 hingga tahun 2007, sektor primer dan sekunder mengecil kontribusinya secara signifikan sedangkan sektor tersier meningkat kontribusinya.

Kecamatan Pertanian Pertambangan &

Penggalian

Industri Pengolahan

Listrik, Gas &

Air Bersih

Bagunan / Konstruksi

Perdagangan, Hotel &

Restoran

Pengangkutan &

Komunikasi

Bank, persewaan &

jasa perusahaan

Jasa-jasa Jumlah

Serpong 0,13% 0,01% 0,14% 1,52% 0,07% 2,94% 3,99% 12,54% 0,57% 21,91%

Serpong Utara 0,00% 0,00% 0,25% 1,05% 1,18% 3,70% 2,75% 0,09% 0,58% 9,59%

Setu 0,03% 0,03% 0,01% 0,09% 0,00% 0,38% 0,69% 0,01% 0,11% 1,35%

Pamulang 0,43% 0,00% 0,20% 0,95% 0,02% 3,29% 5,18% 0,20% 1,21% 11,48%

Ciputat 0,33% 0,00% 0,07% 0,45% 0,02% 4,09% 1,75% 0,03% 3,00% 9,75%

Ciputat Timur 0,01% 0,00% 0,17% 0,69% 0,03% 8,33% 9,93% 2,15% 10,63% 31,93%

Pondok Aren 0,37% 0,00% 0,22% 1,32% 0,31% 4,08% 6,00% 0,40% 1,30% 14,00%

Kota Tangerang Selatan 1,32% 0,03% 1,07% 6,05% 1,63% 26,81% 30,29% 15,40% 17,39% 100,00%

Sumber: PDRB Kabupaten Tangerang Tahun 2007

Distribusi Produk Domestik Regional Bruto A.D.H. Berlaku Menurut Kecamatan Dan Lapangan Usaha

Tahun 2007 (Juta Rupiah)

Kecamatan yang memberikan kontribusi paling besar adalah Ciputat Timur yaitu sebesar Rp.1.678.739,29 Trilyun atau 31,93persen dari total PDRB sedangkan yang terkecil adalah Setu dengan Rp.71.045,74 Trilyun atau 1,35 persen.

Bagunan / Konstruksi

1,63%

Listrik, Gas dan Air Bersih 6,05%

Pertambangan dan Penggalian

0,03%

Industri Pengolahan

1,07%

Pertanian 1,32%

Jasa-jasa 17,39%

Bank, persewaan &

jasa perusahaan

15,40% Perdagangan,

Hotel dan Restoran 26,81%

Pengangkutan &

Komunikasi 30,29%

(8)

Kecamatan Pertanian Pertambangan &

Penggalian

Industri Pengolahan

Listrik, Gas &

Air Bersih

Bagunan / Konstruksi

Perdagangan, Hotel &

Restoran

Pengangkutan &

Komunikasi

Bank, persewaan &

jasa perusahaan

Jasa-jasa Jumlah

Serpong 6.659,97 274,58 7.407,20 79.760,51 3.517,02 154.795,05 209.811,20 659.223,42 30.147,51 1.151.596,46 Serpong Utara 137,99 - 13.324,22 54.938,95 62.286,31 194.321,90 144.301,93 4.509,32 30.331,55 504.152,17 Setu 1.805,90 1.429,24 623,41 4.751,97 113,11 20.208,66 36.278,95 288,74 5.545,76 71.045,74 Pamulang 22.831,25 - 10.628,32 49.715,02 1.061,42 172.877,24 272.274,51 10.267,64 63.609,31 603.264,71 Ciputat 17.496,49 30,29 3.907,60 23.393,60 1.018,25 215.245,20 92.184,77 1.452,74 157.568,54 512.297,48 Ciputat Timur 713,35 - 8.995,89 36.317,67 1.618,12 437.823,58 521.756,56 112.909,27 558.604,85 1.678.739,29 Pondok Aren 19.565,40 16,48 11.350,14 69.231,00 16.298,92 214.291,65 315.468,09 21.124,42 68.440,10 735.786,20

Kota Tangerang Selatan 69.210,35 1.750,59 56.236,78 318.108,72 85.913,15 1.409.563,28 1.592.076,01 809.775,55 914.247,62 5.256.882,05 Sumber: PDRB Kabupaten Tangerang Tahun 2007

Produk Domestik Regional Bruto

A.D.H. Berlaku Menurut Kecamatan Dan Lapangan Usaha Tahun 2007 (Juta Rupiah)

2004 2005 2006 2007

Serpong 264.181,58 787.551,15 1.039.550,85 1.151.596,46 Serpong Utara 413.737,45 491.506,96 561.546,84 504.152,17 Setu 31.693,49 38.888,39 65.657,49 71.045,74 Pamulang 283.324,39 338.581,94 546.091,35 603.264,71 Ciputat 310.012,46 372.293,53 476.991,14 512.297,48 Ciputat Timur 795.038,10 851.537,68 1.379.223,31 1.678.739,29 Pondok Aren 393.322,90 454.282,72 683.320,62 735.786,20

Kota Tangerang Selatan 2.491.310,37 3.334.642,37 4.752.381,60 5.256.882,05 Sumber: PDRB Kabupaten Tangerang Tahun 2007

Kecamatan

Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto A.D.H. Berlaku Menurut Kecamatan

Tahun 2004 - 2007 (Juta Rupiah)

II.2.2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per Kapita

PDRB per kapita digunakan sebagai pendekatan data pendapatan per kapita. Karena, sampai saat ini sangat sulit untuk mendapatkan data pendukung untuk menghitung pendapatan per kapita. Angka pendapatan per kapita diperoleh dengan cara membagi PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.

PDRB per kapita masih dijadikan sebagai indikator dalam mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat secara makro yang dapat dijadikan cermin kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi PDRB per kapita yang diterima oleh penduduk berarti semakin tinggi tingkat kesejahteraannya. Sebaliknya, penurunan PDRB per kapita pada suatu daerah menggambarkan penurunan tingkat kesejahteraan. Perlu diingat pula, bahwa kesejahteraan penduduk akan meningkat jika peningkatan PDRB per kapita melebihi inflasi yang terjadi. Akan tetapi, nilai PDRB per kapita tidak dapat dijadikan acuan untuk melihat pemerataan kemakmuran.

PDRB per kapita Kota Tangerang Selatan tahun 2007 sebesar Rp 5.041,69 Ribu. Sedangkan PDRB per kapita Propinsi Banten tahun 2007 sebesar Rp 11.400,59 Ribu.

(9)

Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto per Kapita A.D.H. Berlaku Menurut Kecamatan

Tahun 2005 - 2007 (Juta Rupiah) Kota Tangerang Selatan

Kota/Kabupaten PDRB Total

2005 2006 2007

Serpong 7.243.076 10.742.132 11.570.891 Serpong Utara 5.861.079 7.523.751 6.567.979 Setu 808.209 1.211.940 1.269.750 Pamulang 1.479.922 2.283.817 2.450.811 Ciputat 2.732.698 3.055.867 3.194.094 Ciputat Timur 6.559.194 8.908.884 10.552.942 Pondok Aren 1.938.083 2.871.281 3.005.307

Tangerang Selatan 3.437.949 4.688.672 5.041.693

PDRB 3.334.642 4.752.382 5.256.882 Jumlah Penduduk 969.951 1.013.588 1.042.682 Sumber: PDRB Kabupaten Tangerang Tahun 2007

Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto per Kapita Provinsi Banten

Tahun 2005 - 2007 (Ribu Rupiah)

Kota/Kabupaten PDRB Total

2005 2006 2007

Kota Cilegon 39.97,92 43.715,48 47.447,94 Kota Tangerang 20.630,14 23.705,99 26.090,04 Kab. Tangerang 7.483,25 8.329,95 8.896,15 Kab. Serang 6.344,25 7.056,02 7.590,35 Kab. Pandeglang 4.635,37 5.241,65 5.660,47 Kab. Lebak 4.209,28 4.595,99 4.982,35 PROVINSI BANTEN 9.372,52 10.610,24 11.400,59 Sumber: PDRB Kabupaten Tangerang Tahun 2007

II.2.3 Industri, Perdagangan dan Koperasi Industri

Ada lima jenis industri kerajinan yang terdapat di Kota Tangerang Selatan, yaitu kerajinan kayu berjumlah 165 unit, anyaman 28 unit, gerabah 1 unit, kain 293 unit dan makanan 164 unit. Selain itu industri kerajian tersebut, juga terdapat 7 unit pabrik yang di dalamnya terdapat 1 kawasan industri.

Perdagangan dan Jasa

Fasilitas perdagangan dan jasa yang tersedia berupa pasar, baik modern maupun tradisional, bank, BPR, KUD/koperasi, kompleks ruko dan minimart. Pasar tradisional yang terdapat di tanah milik pemerintah daerah adalah sebanyak 6 unit, yaitu Pasar Ciputat, Pasar Ciputat Permai, Pasar Jombang, Pasar Bintaro Sektor 2, Pasar Serpong, dan Pasar Gedung Hijau. Seluruhnya berfungsi kecuali Pasar Gedung Hijau. Secara total, luas lahan yang ditempati oleh pasar-pasar tersebut adalah 25.721 m2 dengan 1.966 kios, 865 los dan 1.795 pedagang kaki lima.

Berdasarkan tanda daftar perusahaan (TDP), terdapat perseroan terbatas (PT), comanditer venotschaap / perseroan komanditer (CV), perusahaan perorangan (PO), koperasi, firma, dan bentuk usaha lain yang keseluruhannya berjumlah 5.146 unit. Yang paling banyak adalah adalah PT yaitu berjumlah 2.467 unit sedangkan yang paling sedikit adalah firma yang hanya berjumlah 2 unit.

(10)

Koperasi

Koperasi seluruhnya berjumlah 330 unit yang terdiri dari koperasi karyawan (Kopkar), koperasi simpan pinjam (KSP), koperasi serba usaha (KSU), dan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI). Namun, koperasi yang terdaftar pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tangerang baru sejumlah 81 unit. Secara keseluruhan, jumlah anggota mencapai 24.553 orang.

Kerajinan Kayu

Kerajinan Anyaman

Kerajinan Gerabah

Kerajinan Kain

Industri

Makanan Pabrik

1 Serpong 8 5 0 0 12 0

2 Serpong Utara 7 0 0 0 13 5

3 Ciputat 35 1 0 6 18 0

4 Ciputat Timur 64 0 0 4 10 0

5 Pamulang 33 4 0 2 39 1

6 Pondok Aren 5 3 1 281 3 0

7 Setu 13 15 0 0 69 1 (kawasan industri)

165 28 1 293 164 7

Sumber: Kompilasi Data untuk Penyusunan RTRW Kota Tangerang Selatan (2008) Kota Tangerang Selatan

Tabel 7.1.1

Sebaran Industri Kecil, Menengah / Besar di Kota Tangerang Selatan

No Kecamatan

Sebaran

Pasar Modern

Pasar

Tradisional Bank BPR KUD /

Koperasi

Kompleks

Ruko Minimart

1 Serpong 2 1 21 0 0 10 8

2 Serpong Utara 1 0 4 1 0 5 3

3 Ciputat 1 0 5 2 0 4 13

4 Ciputat Timur 1 1 9 0 0 15 13

5 Pamulang 1 2 9 0 1 20 23

6 Pondok Aren 1 2 12 0 0 6 4

7 Setu 1 2 1 1 0 0 7

8 8 61 4 1 60 71

Sumber: Kompilasi Data untuk Penyusunan RTRW Kota Tangerang Selatan (2008) Kota Tangerang Selatan

Tabel 7.2.1

Sebaran Fasilitas Perdagangan dan Jasa di Kota Tangerang Selatan

No Kecamatan

Sebaran

No Nama Pasar Lokasi Kondisi Komoditi Yg Dijual Jumlah Kios

Jumlah Los

Pedagang Kaki Lima

Luas Areal (M2)

Status

Tanah Ket.

1 Pasar Ciputat Kec. Ciputat Cukup

Baik

Sembako, sandang, perhiasan

1.136 386 608 5.670 Milik

Pemkab

3 Lantai

2 Pasar Ciputat Permai Kec. Ciputat Kurang Baik

Sembako 12 40 366 1.000 Milik

Pemkab

2 Lantai

3 Pasar Jombang Kec. Ciputat Kurang

Baik

Sembako, sandang, perhiasan

195 21 188 6.095 Milik

Pemkab

2 Lantai

4 Pasar Bintaro Sektor 2 Kec. Ciputat Timur

Kurang Baik

Sembako, sandang 23 95 8 830 Milik

Pemkab Sedang dibangun 5 Pasar Serpong Kec. Serpong Baik Sembako, sandang,

perhiasan

600 323 625 8.730 Milik

Pemkab

Dibangun 2007 6 Pasar Gedung Hijau Kec. Serpong

Utara

Cukup Baik

-- -- -- -- 3.396 Milik

Pemkab Tidak digunakan

JUMLAH 1.966 865 1.795 25.721

Sumber: PD Pasar Niaga Kerta Raharja Kabupaten Tangerang 2009

Tabel 7.2.2

Pasar Tradisional Di Tanah Milik Pemerintah Di Kota Tangerang Selatan

Tahun 2009

(11)

No Kecamatan Jumlah Koperasi Jumlah Anggota Keterangan

1 Ciputat Kopkar, KSP,

2 Ciputat Timur KSU, KPRI

3 Serpong Kopkar, KSP,

4 Serpong Utara KSU, KPRI

5 Setu 26 650 Kopkar, KSP, 6 Pamulang 69 1.518 KSU, KPRI 7 Pondok Aren 46 1.380 Kopkar, KSP, KSU, KPRI

JUMLAH 330 24.553 Sumber : Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Tangerang, 2009

Tabel 7.3.1

Koperasi Kota Tangerang Selatan Tahun 2009

113 9.605 76 11.400

PT CV PO Koperasi Firma BUL

1 Ciputat 509 413 241 25 - 5 1.193 Ciputat Timur

2 Serpong 1.261 575 418 26 1 5 2.286 Serpong Utara

Setu

3 Pamulang 271 292 177 15 1 2 758 4 Pondok Aren 426 299 167 15 - 2 909

2.467

1.579 1.003 81 2 14 5.146 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tangerang 2009

PT : Perseroan Terbatas

CV : Comanditer Venotschaap / Perseroan Komanditer.

PO : Perusahaan Perorangan

BUL : Bentuk Usaha Lain

Jumlah

Tabel 7.2.3

Perusahaan Perdagangan Berdasarkan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) Kota Tangerang Selatan

Tahun 2009

No Kecamatan Bentuk Badan Hukum Jumlah

(Unit)

II.2.4 Ketenagakerjaan

Berdasarkan tingkat pendidikan pencari kerja yang tercatat pada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang pada tahun 2007, pencari kerja dengan tingkat pendidikan SLTA merupakan kelompok pencari kerja terbesar dengan jumlah 9.690 orang dari total 16.426 orang atau sebesar 58,99%. Pencari kerja dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi (DI-DII, DIII dan Sarjana) juga tercatat cukup besar yaitu berjumlah 3.297 orang atau 20,07%. Pencari kerja tak tamat SD hanya sebanyak 16 orang atau 0,1%.

(12)

Serpong Serpong

Utara Setu Pamulang Ciputat Ciputat

Timur

Pondok Aren

Laki-laki - - - 1 - - 3 4

Perempuan - - - - - 2 10 12

Jumlah - - - 1 - 2 13 16

Laki-laki 39 55 1 6 7 5 7 120

Perempuan 54 71 4 5 8 10 8 160

Jumlah 93 126 5 11 15 15 15 280

Laki-laki 235 286 120 207 215 86 311 1.460 Perempuan 224 212 232 229 309 177 300 1.683 Jumlah 459 498 352 436 524 263 611 3.143 Laki-laki 1.618 324 956 927 425 106 258 4.614 Perempuan 1.634 254 1.334 1.123 349 120 262 5.076 Jumlah 3.252 578 2.290 2.050 774 226 520 9.690 Tingkat Pendidikan Jenis Kelamin Kecamatan Kota Tangerang Selatan Tabel 3.2.1 Jumlah Pencari Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin Menurut Kecamatan Kota Tangerang Selatan Tahun 2007 Tak Tamat SD SD SLTP SLTA Serpong Serpong Utara Setu Pamulang Ciputat Ciputat Timur Pondok Aren Laki-laki 57 46 24 30 43 22 32 254

Perempuan 56 59 18 42 28 20 31 254

Jumlah 113 105 42 72 71 42 63 508

Laki-laki 21 34 6 104 129 51 15 360

Perempuan 29 25 6 115 143 80 21 419

Jumlah 50 59 12 219 272 131 36 779

Laki-laki 124 24 6 256 194 71 292 967 Perempuan 133 28 4 287 137 79 375 1.043 Jumlah 257 52 10 543 331 150 667 2.010 Laki-laki 2.094 769 1.113 1.531 1.013 341 918 7.779 Perempuan 2.130 649 1.598 1.801 974 488 1.007 8.647 Jumlah 4.224 1.418 2.711 3.332 1.987 829 1.925 16.426 Sarjana

Total

Sumber: Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tangerang dalam Kabupaten Tangerang Dalam Angka 2007/2008 DI-DII

DIII

Tabel 3.2.1 (Lanjutan)

Tingkat

Pendidikan Jenis Kelamin

Kecamatan

Kota Tangerang Selatan

II.3 Sosial dan Budaya

(13)

II.4 Infrastruktur, Tata Ruang, dan Lingkungan Hidup II.4.1 Fisik Dasar dan Pemanfaatan Lahan

Wilayah Kota Tangerang Selatan dilintasi oleh Kali Angke, Kali Pasanggrahan dan Sungai Cisadane sebagai batas administrasi kota di sebelah barat. Posisi Kota Tangerang Selatan yang berbatasan dengan DKI Jakarta karena pada awalnya memang dijadikan sebagai kota satelit bagi DKI Jakarta maka penduduknya lebih banyak yang bekerja di Jakarta tapi tinggal di Kota Tangerang Selatan. Hal ini terlihat dari banyaknya perumahan-perumahan yang tumbuh dan berkembang di Kota Tangerang Selatan. Laju pertumbuhan penduduk terus meningkat, sebagian besar bersifat non-alamiah, seiring dengan tumbuhnya kawasan-kawasan perumahan, mulai dari yang berskala kecil-menengah hingga berskala besar, seperti:

Bumi Serpong Damai (BSD) seluas 6.000 ha, Bintaro Jaya seluas 1.500 ha, dan Perumahan Alam Sutera.

Akhirnya mengakibatkan sektor perdagangan dan jasa menjadi berkembang sesuai kebutuhan disertai juga dukungan sektor transportasi yang cukup memadai karena banyak akses menuju DKI Jakarta baik melalui jalan tol Serpong – Pondok Indah atau jalan regional yang sudah tersebar dan tersambung langsung.

(14)

Gambar : Peta Wilayah Kota Tangerang Selatan

(15)

Topografi (Ketinggian dan Kemiringan)

Sebagian besar wilayah Kota Tangerang Selatan merupakan dataran rendah, dimana sebagian besar wilayah Kota Tangerang Selatan memiliki topografi yang relatif datar dengan kemiringan tanah rata-rata 0 – 3% sedangkan ketinggian wilayah antara 0 – 25 m dpl.

Untuk kemiringan garis besar terbagi dari 2 (dua) bagian, yaitu :

1. Kemiringan antara 0 – 3% meliputi Kecamatan Ciputat, kecamatan Ciputat Timur, Kecamatan Pamulang, Kecamatan Serpong dan Kecamatan Serpong Utara.

2. Kemiringan antara 3 – 8% meliputi Kecamatan Pondok Aren dan Kecamatan Setu.

Klimatologi

Kota Tangerang Selatan merupakan wilayah dengan suhu yang relatif panas dengan kelembaban tinggi. Temperatur udara berdasarkan penelitian di stasiun Geofisika klas I di Tangerang rata-rata berkisar antara 21,2-33,7˚C, suhu maksimum tertinggi rata-rata terjadi pada bulan Oktober yaitu 36,6˚C dan suhu minimum terendah pada bulan Juni yaitu 19,2 ˚C . Rata-rata kelembaban udara 78,0 % dan rata-rata intensitas matahari 56,8 %. Keadaan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari dan pada bulan September hanya satu kali hujan, sedangkan rata-rata curah hujan dalam setahun adalah 108,4 mm. Hari hujan tertinggi pada bulan Januari dengan hari hujan sebanyak 26 hari. Keadaan ini terjadi pada hampir seluruh wilayah Kota Tangerang Selatan.

Geologi

Kota Tangerang Selatan merupakan daerah yang relatif datar. Adapun beberapa Kecamatan ada yang lahannya bergelombang seperti di perbatasan antara Kecamatan Setu dan kecamatan Pamulang serta sebagian di kecamatan Ciputat Timur. Kondisi geologi Kota Tangerang Selatan umumnya adalah batuan alluvium, yang terdiri dari batuan lempung, lanau, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah. Berdasarkan klasifikasi dari United Soil Classification System, batuan ini mempunyai kemudahan dikerjakan atau workability yang baik sampai sedang, unsur ketahanan terhadap erosi cukup baik oleh karena itu wilayah Kota Tangerang Selatan masih cukup layak untuk kegiatan perkotaan.

Hidrologi

Sistem hidrologi di Kota Tangerang Selatan terdiri atas :

Air permukaan yaitu diartikan sebagai air yang mengalir atau muncul di permukaan. Aliran air permukaan yang terdapat di wilayah ini berupa aliran sungai Cisadane, Sungai Angke dan sebagian wilayah dilewati sungai Pesanggrahan. Ada juga saluran-saluran alam yang dialiri air sepanjang tahun sebagai penampung drainase lokal. Saluran semacam ini cenderung meluap pada musim hujan.

Kedua Air Tanah, air tanah di wilayah Kota Tangerang Selatan secara kualitas dalam kondisi baik, hal ini menyebabkan banyak penduduk yang masih menggunakannya sebagai air bersih. Potensi air tanah Kota Tangerang Selatan, Berdasarkan laporan studi potensi dan pengembangan sumberdaya air tersebar di Kabupaten Tangerang, Dinas PU kabupaten Tangerang tahun 2002 diketahui bahwa potensi air sungai dan situ/rawa merupakan potensi air permukaan di Kota Tangerang Selatan berdasarkan Satuan Wilayah Sungai (SWS) menunjukkan potensi sebagai berikut :

(16)

Debit terkecil rata-rata bulanan SWS Cisadane – Ciliwung, sebesar 2,551 m³/dt diwakili oleh pengukuran Sungai Cidurian, stasiun Parigi dalam tahun 1995, sedang debit terbesar rata-rata bulanan sebesar 115,315 m³/dt, diukur di Sungai Cisadane, stasiun Batu Beulah dalam periode 1991 sampai 1998.

Mata air jumlahnya ada 3 yang semuanya berlokasi di Kecamatan Ciputat dengan total debit 210 liter/detik.

Air hujan yang setelah dianalisis dengan perhitungan neraca air menunjukkan bahwa Kabupaten Tangerang termasuk juga Kota Tangerang Selatan mengalami defisit air pada bulan Maret sampai bulan November (8 bulan) sementara surplus air hanya terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari (3 Bulan).

Air tanah dangkal, debit air tanah di Kabupaten Tangerang termasuk juga Kota Tangerang Selatan berkisar antara 3 – 10 liter/detik/km². Air tanah ini cenderung diambil secara berlebihan di sepanjang jalan-jalan utama terutama oleh industri/pabrik.

Untuk di permukiman warga rata-rata kedalaman air tanah mencapai 5 – 10 meter. Terdapat juga penggunaan air tanah dalam, melalui pompa deepwell pada kawasan-kawasan perumahan baru yang dikelola pengembang swasta.

Mengenai gambaran kualitas air sungai dan air tanah di Kota Tangerang Selatan bila mengacu kepada gambaran kualitas air sungai Cisadane sebagai sungai yang terbesar maka didapatkan pencemaran yang cukup bervariasi yang ditunjukkan oleh beberapa parameter.

Tabel ……

Gambaran Kualitas Air Sungai Cisadane

Jenis Tanah

Dilihat dari data jenis tanah berdasarkan keadaan geologi, di wilayah Kota Tangerang Selatan sebagian besar terdiri dari batuan endapan hasil gunung api muda dengan jenis batuan kipas aluvium dan aluvium/alivial. Sedangkan dilihat dari sebaran jenis tanahnya, pada umumnya di Kota Tangerang Selatan berupa asosiasi latosol merah dan latosol coklat kemerahan. Oleh karena itu secara umum lahan cocok untuk pertanian/ perkebunan. Jenis tanah yang sangat sesuai dengan kegiatan pertanian tersebut makin lama makin berubah penggunaannya untuk kegiatan lainnya yang bersifat non-pertanian. Sedangkan untuk sebagian wilayah seperti di Kecamatan Serpong dan Kecamatan Setu jenis tanahnya ada yang mengandung pasir khususnya untuk daerah yang dekat dengan Sungai Cisadane.

(17)

II.4.2 Penggunaan Lahan

Perkembangan penduduk yang cepat yang dilihat dari semakin menjamurnya permukiman di wilayah Tangerang Selatan mengakibatkan banyak terjadinya perubahan fungsi guna lahan.

Kecenderungan yang terjadi adalah beralihnya lahan pertanian atau bahkan kawasan lindung menjadi kawasan perumahan ataupun untuk kegiatan perdagangan dan jasa, sehingga hal ini perlu mendapat perhatian khusus antara lain mengenai keseimbangan fungsi kawasan tak terbangun dan kawasan terbangun.

Karakter perkembangan kawasan terbangun (perumahan, industri, perdagangan dan jasa) pada Kota Tangerang Selatan tidak lepas dari keberadaan perlintasan pergerakan antar wilayah serta adanya jaringan jalan regional yang menghubungkan kota-kota utama seperti DKI Jakarta, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Sehingga konsekuensinya perkembangan kawasan terbangun mengikuti pola jaringan jalan utama.

(18)

Gambar : Peta Penggunaan Lahan Wilayah Kota Tangerang Selatan

(19)

Pola pengembangan fisik / tata guna lahan saat ini berupa pola ekstensifikasi dan intensifikasi. Pola ekstensifikasi banyak dijumpai di daerah pinggiran, sedangkan intensifikasi banyak dijumpai di daerah yang menjadi pusat kegiatan. Bila dilihat berkembangnya perumahan baik skala besar ataupun skala kecil mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk ataupun aktifitas penduduk di Kota Tangerang Selatan ini sendiri. Bila peningkatan jumlah ataupun aktifitas penduduk tidak dibarengi dengan peningkatan sarana dan prasarana yang memadai akan menimbulkan berbagai permasalahan yang berkaitan satu dengan yang lainnya.

Perumahan dan Permukiman

Kawasan perumahan dan permukiman berfungsi sebagai hunian bagi masyarakat Kota Tangerang Selatan. Berdasarkan penghitungan pada peta diketahui luas penggunaan lahan untuk perumahan dan permukiman sebesar 9.941,41 Ha dari keseluruhan Kota Tangerang Selatan. Untuk Kota Tangerang Selatan terdapat tiga pengembang perumahan skala besar yaitu BSD, Bintaro dan Alam Sutera. Selain itu ketiga kawasan ini didukung dengan adanya prasarana transportasi seperti kereta api dan jalan tol. Saat ini pengembangan perumahan di Kota Tangerang Selatan banyak menggunakan pola cluster dengan tipe rumah beragam (tipe kecil hingga tipe besar). Banyak lahan perkampungan yang sudah berubah fungsi dan kepemilikannya biasanya mayoritas pemilik lahan perkampungan adalah para pendatang.

Industri / Kawasan Industri dan Pergudangan

Luas lahan industri dan kawasan industri yaitu sebesar 167,61 Ha.

Kegiatan perdagangan dan jasa

Luas lahan untuk kegiatan perdagangan dan jasa ini sebenarnya tersebar hampir di seluruh wilayah Kota Tangerang Selatan. Namun yang lebih banyak menonjol adalah kegiatan perdagangan dan jasa yang terjadi saat ini dapat diidentifikasi berada disepanjang koridor jalan-jalan utama seperti Jalan Raya Serpong, Jalan Raya Ceger, Jalan Raya Bintaro Utama – Jalan kesehatan, Jalan Raya Pondok Betung - Jalan Raya WR Supratman, Jalan Raya Pamulang – Ciputat Jalan Raya Pamulang – Pondok Cabe dan Jalan Raya Ir. H. Juanda (Ciputat Raya). Luas kegiatan perdagangan dan jasa ini adalah sebesar 487,08 Ha.

Sawah ladang dan kebun

Luas penggunaan lahan sawah dan ladang oleh petani pengarap hanya 2.794,41 Ha.

Semak belukar dan rerumputan

Semak belukar yang dimaksud disini adalah tanah kosong yang tidak dikelola/diurus oleh pemiliknya namun bukan berarti tidak ada pemiliknya adapun luasnya hanya 366,48 Ha.

(20)

Pasir dan galian

Mempunyai luas yang sangat kecil karena bukan penggunaan yang dominan dan hanya ada di Kecamatan Setu yaitu dengan luas 15,27 Ha.

Situ dan danau/tambak/kolam

Dari hasil interpretasi peta udara diketahui banyak danau /situ yang sudah tidak ada lagi di peta oleh karena itu luas penggunaannya untuk situ/danau/kolam/tambak ini hanya sebesar 137,43 Ha.

Tanah Kosong

Tanah kosong disini termasuk juga lapangan olahraga seperti lapangan bola dan halaman rumah adapun luasnya hanya 809,31 Ha.

II.4.3 Prasarana Transportasi

Jalan merupakan salah satu infrastruktur terpenting sebagai salah satu faktor daya tarik investasi di suatu daerah. Jalan kota Tangerang Selatan berdasarkan Kompilasi Data untuk Penyusunan RTRW Kota Tangerang Selatan (2008) memiliki total panjang 115,81 Km dengan 70,36%

dari panjang total tersebut dalam kondisi baik, 18,37% dalam kondisi sedang dan 11,28% dalam kondisi rusak. Data ini berbeda dengan data Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang Selatan yang menyatakan bahwa total panjang jalan kota adalah 137,773 Km dan diperkirakan 5% rusak ringan, 5%

rusak sedang dan 20% rusak berat.

Titik rawan kemacetan utamanya terdapat pada 12 titik yang umumnya terdapat pada sekitar persimpangan jalan atau pasar. Stasiun kereta rel listrik (KRL) berjumlah 5 buah dan tersebar di tiga kecamatan yaitu Serpong, Ciputat dan Ciputat Timur. Titik rawan kemacetan dan titik lokasi stasiun KRL didapatkan dari Kompilasi Data untuk Penyusunan RTRW Kota Tangerang Selatan (2008) sedangkan nama lokasi, desa dan kecamatan diperoleh berdasarkan informasi dari Jakarta Jabotabek Street Atlas and Index CD-ROM 2005/2006 karya Gunther W. Holtorf.

Referensi

Dokumen terkait

DAS Mina memiliki tangkapan air seluas 273.300 Ha dan memiliki aliran utama yaitu sungai Noelmina sepanjang 97 km, melewati kecamatan Batuputih, Amanuban Selatan,

Orientasi ke luar, dimana struktur ruang wilayah Provinsi Riau perlu ditunjang dengan pusat-pusat permukiman perkotaan jenjang PKN (Pusat Kegiatan Nasional) dan

Suradadi, dengan pusat pertumbuhan di Suradadi. Potensi utama wilayah ini adalah industri, perikanan laut dan payau, serta pariwisata. Potensi yang dapat dikembangkan

Secara administratif pemerintahan, wilayah Jawa Barat terbagi kedalam 27 kabupaten/kota, meliputi 18 kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur,

Kebutuhan energi Jakarta dipenuhi oleh energi yang berasal dari energi listrik dan gas. Di wilayah DKI Jakarta kebutuhan tenaga listrik terus meningkat. Berdasarkan data,

Berdasar jalur lintas antar daerah, kondisi wilayah Kabupaten Sleman dilewati jalur jalan negara yang merupakan jalur ekonomi yang menghubungkan Sleman dengan

Kawasan rawan bencana gempa bumi di Provinsi Jawa Timur berada di wilayah: Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Blitar, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Jombang,

Terdapat 7 gunung api aktif di Jawa Timur serta lokasi yang merupakan wilayah rawan bencana letusan.. BAB II - 27 Kawasan yang diindikasikan dapat