• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II Gambaran Umum Kondisi Daerah"

Copied!
384
0
0

Teks penuh

(1)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-1

BAB II

Gambaran Umum Kondisi Daerah

2.1. Kondisi Umum Daerah

2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi

2.1.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah A. Luas dan batas wilayah administrasi

Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi termuda di Indonesia saat ini yang berada di bagian utara Pulau Kalimantan. Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara. Provinsi Kalimantan Utara terdiri atas lima wilayah administrasi dengan 4 (empat) kabupaten, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan 1 kota yaitu Kota Tarakan. Ibukota Provinsi Kalimantan Utara terletak di Tanjung Selor, yang saat ini berada di Kabupaten Bulungan.

Berdasarkan batas kewenangan provinsi, Provinsi Kalimantan Utara diketahui memiliki luas lautan seluas 11.579 Km2 (13% dari luas wilayah total). Secara administratif Provinsi Kalimantan Utara berbatasan dengan negara Malaysia tepatnya dengan negara bagian Sabah dan Serawak, Malaysia. Adapun batas wilayah Provinsi Kalimantan Utara, sebagai berikut:

Sebelah Utara : Negara Sabah (Malaysia) Sebelah Timur : Laut Sulawesi

Sebelah Selatan : Provinsi Kalimantan Timur Sebelah Barat : Negara Sarawak (Malaysia) B. Letak dan Kondisi Geografis

Batas daerah daratan terdapat sekitar 1.038 km garis perbatasan antara Provinsi Kalimantan Utara dengan Negara Malaysia. Posisi geografis Provinsi Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat provinsi ini berada di lokasi strategis terutama dalam

(2)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-2

pertahanan dan keamanan negara. Selain itu, menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara, diketahui bahwa provinsi ini juga berada di jalur pelayaran internasional (Alur Laut Kepulauan Indonesia/Archipelagic Sealand Passage) dan merupakan pintu keluar/outlet ke Asia Pasifik.

Adapun pembagian wilayah administratif Provinsi Kalimantan Utara menurut kabupaten/kota dapat dirinci sebagai berikut:

Tabel 2.1

Wilayah Administrasi Provinsi Kalimantan Utara

Kabupaten/Kota Ibukota Luas Daratan (Km2) Jumlah Kecamatan Jumlah Desa dan Kelurahan

Bulungan Tanjung Selor 13.925,72 10 81

Malinau Malinau 42.620,70 15 109

Nunukan Nunukan 13.841,90 16 240

Tana Tidung Tideng Pale 4.828,58 5 29

Tarakan Tarakan 250,80 4 20

Kalimantan Utara Tanjung Selor 75.467,70 50 482 Sumber: Undang Undang No. 20 Tahun 2012 dan Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2017

Berdasarkan informasi di atas, diketahui bahwa Provinsi Kalimantan Utara yang memiliki luas ± 75.467,70 km2, terletak pada posisi antara 114035’22” – 118003’00” Bujur Timur dan antara 1021’36” - 4024’55” Lintang Utara.

Kabupaten Malinau merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Kalimantan Utara (56% dari total luasan), sedangkan daerah dengan luas wilayah terkecil adalah Kota Tarakan (1% dari total luasan Provinsi Kalimantan Utara). Kondisi geografis Provinsi Kalimantan Utara selain berupa pegunungan juga merupakan daerah kepulauan. Pulau-pulau kecil di Provinsi Kalimantan Utara terletak di Kabupaten Nunukan, Bulungan, Tana Tidung dan Kota Tarakan.

Gambar 2. 1

Persentase Luas Daratan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara

(3)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-3

Sumber: Hasil Olahan, 2016

Jumlah pulau-pulau kecil di Provinsi Kalimantan Utara adalah 161 pulau dengan luas total mencapai 3.597 m2. Pulau-pulau besar diantaranya yaitu Pulau Tarakan (249 m2), Pulau Sebatik (245 m2), Pulau Nunukan (233 m2), Pulau Tanah Merah (352 m2). Sementara, panjang garis pantai provinsi ini adalah 3.955 Km, 908 Km (23%) merupakan garis pantai daratan, dan 3.047 Km (77%) merupakan garis pantai kepulauan.

Gambar 2. 2

Peta Administratif Provinsi Kalimantan Utara 18,453% 56,475% 18,341% 6,398% ,332% Bulungan Malinau Nunukan Tana Tidung Tarakan

(4)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-4

Sumber: Bappeda Kalimantan Utara C. Topografi

Kondisi topografi merupakan elemen dasar dari suatu wilayah untuk mengetahui karakteristik fisik suatu daerah. Karakteristik fisik akan mempengaruhi pola dan jenis pembangunan yang akan diterapkan di wilayah tersebut. Kemiringan lereng dan ketinggian dari permukaan air laut merupakan indikator untuk mengetahui kondisi topografi di suatu daerah.

Tabel 2.2

Kelas Ketinggian dari Permukaan Laut di Provinsi Kalimantan Utara (Ha)

No. Kabupaten/Kota 0-7 m 7-25 m 25-100 m 100-500 m Kelas Ketinggian 500-1000 m >1000m

1 Bulungan 213.561 249.257 220.119 531.364 193.172 273.749 2 Malinau 11.687 77.937 532.349 831.204 2.258.433 151.317 3 Nunukan 174.434 138.156 199.312 115.112 284.981 269.467 4 Tana Tidung 11.034 246.733 51.029 22 302 - 5 Tarakan 6.920 18.160 - - - - Kalimantan Utara 417.636 730.243 1.002.809 1.477.702 2.736.888 694.533

Sumber: Kalimantan Utara.bps.go.id, diakses pada Maret 2016

Hampir setengah dari total luasan wilayah provinsi ini memiliki kelas ketinggian antara 500-1.000 m di atas permukaan laut (38,77%), hanya sekitar 5,92% yang memiliki kelas ketinggian 0-7 m di atas permukaan laut. Perkembangan pembangunan diperkirakan akan mengelompok di wilayah yang memiliki ketinggian relatif lebih landai, sedangkan wilayah pegunungan di Provinsi Kalimantan Utara dapat dijadikan kawasan lindung dan recharge area (daerah resapan air).

Sebagian besar wilayah Kabupaten Bulungan berada pada ketinggian 100-500 m di atas permukaan laut (31,61%). Kabupaten Malinau dan Nunukan didominasi oleh wilayah yang berada di kelas ketinggian 500-1.000 m di atas permukaan laut, yaitu masing-masing 58,46% dan 24,12%. Kabupaten Tana Tidung didominasi oleh wilayah dengan ketinggian 7-25 m di atas permukaan laut dan hanya sebagian kecil yang memiliki ketinggian 100-500 m di atas permukaan laut (0,01%). Sedangkan Kota Tarakan didominasi oleh kelas ketinggian 7-25 m di atas permukaan laut (72,41%), sementara sisanya (27,59%) berada pada ketinggian 0-7 m di atas permukaan laut.

(5)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-5

Sebagian besar wilayah di Provinsi Kalimantan Utara didominasi oleh wilayah dengan kemiringan lereng >40%, dengan persentase mencapai 76,27% dari luas wilayah provinsi ini (5.347.615 Ha). Kondisi topografi Kabupaten Malinau, Nunukan, dan Bulungan didominasi oleh kemiringan lereng di atas 40%, khususnya wilayah bagian tengah dan barat yang sebagian besar merupakan hulu sungai. Kabupaten Tana Tidung didominasi oleh kemiringan lereng 0-2% dan 2-15%. Sedangkan Kota Tarakan didominasi oleh wilayah yang landai (2-15%).

Tabel 2.3

Kelas Kemiringan Lereng di Provinsi Kalimantan Utara (Ha) No Kabupaten Kelas Lereng/Kemiringan Jumlah (Ha) 0-2% (Datar) 2-15% (Sangat Landai-Landai/ Bergelombang) 15-40% (Agak Curam-Curam) >40% (Sangat Curam-Terjal) 1 Bulungan 319.440 185.018 216.359 590.017 1.310.834 2 Malinau 13.500 72.500 147.177 3.745.417 3.978.594 3 Nunukan 287.739 6.039 81.639 990.129 1.365.546 4 Tana Tidung 134.202 159.013 15.573 22.052 330.840 5 Tarakan 6.154 1.984 17.044 0 25.182 Kalimantan Utara 761.035 424.554 477.792 5.347.615 7.010.996 Persentase (%) 10,85 6,06 6,81 76,27 100

Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2014

D. Geologi

Kondisi geomorfologi atau fisiografi Provinsi Kalimantan Utara meliputi daratan dan lautan. Daratan berada di bagian barat, sedangkan lautan berada di bagian timur hingga kawasan perairan Ambalat. Bagian barat yang berupa daratan tercermin sebagai pegunungan hingga perbukitan yang merupakan unit geomorfologi (bentang alam) struktur baik berupa lipatan maupun patahan, sedangkan bagian timur sebagai dataran hingga pantai atau dikenal sebagai bentang alam aluvial, sedangkan bentang alam laut berada di bagian paling timur wilayah.

Litostratigrafi tersusun atas batuan Paleozoikum, Mesozoikum, Kenozoium dan Kwarter. Batuan Paleozoikum, Mesozoikum, Kenozoikum dan Kwarter banyak tersingkap di bagian barat Provinsi Kalimantan Utara (Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung,

(6)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-6

Kabupaten Bulungan, dan Kota Tarakan). Batuan tersier yang belum banyak tersingkap terdapat di kawasan pantai dan di bawah laut (Selat Sulawesi). Batuan Paleozoikum dan Mesozoikum berupa batuan metamorfosa seperti sekis, pilit, marmer, gneiss, dan kwarsit, maupun batuan beku seperti granit/diorit, dan batuan sedimen seperti batu pasir, batu lanau, batu lempung, batu gamping yang umumnya telah mengalami diagenesis atau metamorfisme. Batuan Kenozoikum (Tersier) antara lain terdiri dari beberapa formasi yang berupa batuan sedimen seperti batu pasir, batu lanau, batu lempung, batubara dan batu gamping, serta batuan volkan atau batuan beku seperti granit, rhyolit, trachit, diorit dan andesit. Batuan sedimen Tersier tersebut terbentuk dalam suatu cekungan yang dikenal sebagai Cekungan Tarakan dan termasuk salah satu cekungan penghasil minyak dan gas di Kalimantan Utara.

Struktur geologi berupa lipatan yang berarah barat daya-timur laut berupa antiklin dan sinklin serta struktur patahan geser dengan arah barat laut-tenggara hingga utara-selatan dan sesar naik berarah barat daya-timur laut. Struktur antiklin dan patahan seringkali berfungsi sebagai perangkap minyak dan gas. Perangkap minyak dan gas dapat pula berupa perangkap stratigrafi.

Berdasarkan stratigrafi tersier di Cekungan Tarakan yang terdiri dari bermacam batuan sedimen yang dapat berfungsi sebagai batuan induk, batuan reservoir, dan batuan penutup, sedangkan kondisi gradient geothermis dan perangkap geologi minyak dan gas bumi baik struktur geologi dan stratigrafi, maupun terjadinya migrasi minyak dan gas bumi memenuhi syarat bagi sistem perminyakan yang ada di Cekungan Tarakan. Dengan demikian Cekungan Tarakan yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Utara mempunyai potensi minyak dan gas bumi yang sebagian besar masih dalam taraf penyelidikan eksplorasi, dan sebagian kecil sudah berproduksi seperti di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Bulungan. Dari stratigrafinya, Cekungan Tarakan mempunyai potensi batubara yang melimpah pada formasi batuan sedimen yang berumur Tersier. Penambangan batubara sudah dilakukan di Kabupaten

(7)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-7

Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Bulungan.

Selain itu terdapat batuan beku asam hingga batuan beku menengah seperti granit, rhyolit, trachyt, diorit, dan andesit yang mengindikasikan adanya kegiatan magmatik pada saat Miosen. Adanya kegiatan magmatik asam hingga menengah ini dapat menyebabkan terjadinya mineralisasi bijih dalam bentuk senyawa sulfida yang mengandung unsur emas, tembaga, perak, seng, dan timbal sebagai endapan epitermal maupun mesotermal. Dampak lain dari kegiatan magmatik ini adalah terjadinya alterasi hidrotermal terhadap batuan batuan yang lebih tua sehingga menghasilkan bahan galian seperti kaolin dan bentonit yang berpotensi sebagai bahan dasar untuk industri keramik. Kondisi stratigrafi juga memungkinkan terbentuknya batu gamping dari formasi yang berumur tersier dan tersingkap di permukaan seperti di Kabupaten Bulungan dalam jumlah yang cukup besar dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku semen. Ditemukan juga pasir kwarsa yang merupakan hasil rombakan batuan tersier baik batuan beku, sedimen, maupun metamorf seperti yang terdapat di Kabupaten Nunukan. Pasir kwarsa ini berpotensi sebagai bahan dasar untuk industri kaca atau bahan bangunan yang lain.

Potensi sumberdaya geologi yang berupa sumberdaya mineral khususnya emas secara informasi tidak resmi terdapat di Kabupaten Nunukan yang diperkirakan mempunyai cadangan cukup besar, namun belum dikelola dengan baik. Penambangan sumberdaya mineral khususnya emas harus memperhatikan masalah lingkungan yang terkait dengan pencemaran unsur unsur berbahaya seperti As dan Hg terhadap air tanah maupun air permukaan.

E. Hidrologi

Kondisi hidrologi wilayah Provinsi Kalimantan Utara dapat berupa air permukaan dan air bawah permukaan (air tanah). Air permukaan tercermin sebagai aliran sungai yang terbagi menjadi beberapa DAS (daerah aliran sungai), mata air, dan air tanah. Kawasan resapan air

(8)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-8

terletak di daerah pegunungan dan perbukitan yang terletak di bagian barat, diantaranya terdapat di Kabupaten Malinau, Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kabupaten Nunukan, sedangkan kawasan tangkapan air terletak di bagian timur yang berupa dataran aluvial dan dataran fluvial.

Provinsi Kalimantan Utara memiliki potensi Sumber Daya Air (SDA) yang sangat besar. SDA tersebut terdiri dari jumlah curah hujan di Kalimantan Utara yang cukup tinggi, sungai-sungai besar, mata air yang banyak, dan rawa yang luas. Potensi yang besar tersebut banyak dimanfaatkan untuk menunjang kesejahteraan dan membantu kehidupan masyarakat Kalimantan Utara. Namun, karena peran SDA sangat besar tersebut juga membuat potensi daya rusak dan pencemaran sangat mungkin meningkat.

Sungai merupakan bagian penting dari DAS, sangat berperan penting bagi kehidupan dan aktivitas masyarakat Provinsi Kalimantan Utara. Sungai-sungai yang ada di wilayah ini antara lain adalah Sungai Kayan, Sungai Sesayap, Sungai Pimping, Sungai Bandan, Sungai Sekatak, Sungai Jelarai, Sungai Linuang Kayan, Sungai Betayau, Sungai Sembakung, Sungai mandul, Sungai Semandak, Sungai Mintut, Sungai Manguli. Sungai tersebut merupakan media transportasi air bagi masyarakat. Selain itu, sungai tersebut juga sebagai sumber mata pencaharian nelayan tradisional di wilayah ini (Profil Daerah Provinsi Kalimantan Utara, 2014).

Tabel 2.4

Nama dan Panjang Sungai Utama di Provinsi Kalimantan Utara (Km) No. Kabupaten/Kota Nama Sungai Panjang Sungai (Km)

1 Bulungan Sungai Kayan/Kahayan 576

2 Malinau Sungai Sesayap

Sungai Sembakung 262 241

3 Nunukan Sungai Sembakung

Sungai Sebuku 241 152

4 Tana Tidung Sungai Sesayap 262

5 Tarakan Sungai Binalatung

Sungai Bengawan 14.40 10.25

Sumber: Laporan Akhir Peningkatan Konservasi Daerah Tangkapan Air dan Sumber-Sumber Air Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2015

Berdasarkan hasil inventarisasi jumlah sungai dalam dokumen SLHD tiap Kabupaten/Kota, Provinsi Kalimantan Utara memiliki 123

(9)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-9

sungai dengan sungai terpanjang yaitu Sungai Pamusian dengan panjang 20.178 km, sungai terpendek yaitu Sungai Bebakin yang hanya memiliki panjang 1 Km. Untuk kategori sungai terlebar, Sungai Kayan menjadi yang utama dengan lebarnya yang mencapai 550 km. Sementara Sungai Bebakil menjadi sungai tersempit karena hanya memiliki lebar 2 km. Walaupun bukan sungai yang terpanjang ataupun terlebar di Kalimantan Utara, Sungai Naha Aya memiliki debit maksimum yaitu 1.992,52 m3/detik.

Kalimantan Utara hanya memiliki 1 danau yaitu Danau Kelaputan Mangkupadi yang terletak di Kabupaten Bulungan seluas 6 ha. Sementara untuk waduk dan embung semakin bertambah. Pada 2014, Kalimantan Utara memiliki 24 buah waduk dan 10 embung, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya terdapat 9 buah waduk dan 11 embung. Sedangkan situ tidak terdapat di wilayah Kalimantan Utara. Waduk yang terluas dan volume paling besar di Provinsi Kalimantan Kalimantan Utara yaitu Waduk Irigasi Binusan di Kabupaten Nunukan dengan luas 3,6 ha dan volume 3000 m3. Sementara itu, Embung Air Baku Bolong di Kabupaten Nunukan menjadi embung terluas dan memiliki volume terbesar di provinsi ini. Luas embung tersebut yaitu 13,44 ha dengan volume 294.500 m3.

Tabel 2.5

Wilayah Administrasi Provinsi Kalimantan Utara

Inventarisasi Danau/Waduk/Situ/Embung di Provinsi Kalimantan Utara

No. Jenis Nama Luas (Ha) Volume (m3)

1 Danau Kelaputan Mangkupadi 6 -

2 Waduk Waduk Irigasi Binusan, Nunukan 3,6 3000

3 Waduk Bendung Irigasi Kp. Tator I, Binusan 0,16 45

4 Waduk Bendung Irigasi Kp. Tator II, Binusan 0,16 45

5 Waduk Bendung Irigasi Kp. Tator III, Binusan 0,16 45

6 Waduk Bendung Irigasi Binusan Kecil, Nunukan 0,16 600

7 Waduk Bendung Irigasi Sei Jepun, Nunukan Selatan 0,3 60 8 Waduk Bendung Irigasi Mansapa, Nunukan Selatan 2,5 360

9 Waduk Bendung Irigasi Mamolo, Tanjung Harapan 2,5 720

10 Waduk Bendung Irigasi Lancang I, Nunukan Selatan 0,75 270 11 Waduk Bendung Irigasi Lancang II, Nunukan Selatan 0,75 30 12 Waduk Bendung Irigasi Lancang III, Nunukan Selatan 1,5 225

13 Waduk Bendung Irigasi Kp. Solok, Simengkadu 0,3 30

14 Waduk Bendung Irigasi Liang Bunyu, Sebatik Barat 1 450 15 Waduk Bendung Irigasi Kp. Enrekang 1, Sebatik 0,5 270 16 Waduk Bendung Irigasi Enrekang 2, Sebatik Barat 0,5 37,5 17 Waduk Bendung Irigasi Enrekang 3, Sebatik Barat 0,5 90

(10)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-10

No. Jenis Nama Luas (Ha) Volume (m3)

18 Waduk Bendung Irigasi Kp. Sinjai, Sebatik Barat 0,5 90 19 Waduk Bendung Irigasi Kp. Tellang 1, Sebatik Barat 0,5 90 20 Waduk Bendung Irigasi Kp. Tellang 2, Sebatik Barat 0,5 90 21 Waduk Bendung Irigasi Kp. Tellang 3, Sebatik Barat 0,5 90 22 Waduk Bendung Irigasi Batu Satu 1, Sebatik Barat 0,5 30 23 Waduk Bendung Irigasi Batu Satu 2, Sebatik Barat 0,5 30 24 Waduk Bendung Irigasi Tembaring Atas, Sebatik Barat 0,5 30 25 Waduk Bendung Irigasi Tembaring Bawah, Sebatik Barat 0,25 72

26 Embung Embung Air Baku Bilal, Nunukan 11,7 139.000

27 Embung Embung Air Baku Bolong, Nunukan 13,44 294.500

28 Embung Embung Sei Pancang - -

29 Embung Embung Air Baku Tanjung Karang, Sebatik 0,75 756

30 Embung Embung Air Baku Lapio, Sebatik Barat 2 986,53

31 Embung Embung Air Baku Sianak, Sebatik Barat 2 7.537,5 32 Embung Embung Irigasi Bebakil 1, Sebatik Barat 1 12,5 33 Embung Embung Irigasi Bebakil 2, Sebatik Barat 0,5 400

34 Embung Embung Persemaian, Tarakan 13,018 130,730

35 Embung Embung Binalatung, Tarakan ±70 666,66

36 Embung Embung Bengawan, Tarakan 16,22 174.000

Sumber: Buku Data Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2016 Keterangan: ( - ) Tidak dilakukan pengukuran

Kabupaten Malinau tidak terdapat danau/waduk/situ/embung

Kabupaten Tana Tidung tidak terdapat danau/waduk/situ. Sementara Embung masih dalam tahap perencanaan

F. Klimatologi

Kondisi klimatologi Provinsi Kalimantan Utara hampir sama dengan wilayah lain di Indonesia yaitu beriklim tropis, terlebih letak provinsi ini berada di utara lintang 00. Suhu udara maksimal terjadi pada bulan November dengan 34,40o C dan minimal terjadi pada bulan Februari yaitu 23,400 C. Kondisi rata-rata kelembapan udara tahun 2014 di provinsi ini mencapai angka 84% serta memiliki tekanan udara rata-rata 1.009,7 Mbs. Untuk keadaan kecepatan angin terdapat dalam range yang tidak terlalu fluktuatif, yaitu 4-5 knot dari tahun 2008-2014. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 410 mm, sedangkan paling rendah terjadi pada bulan Agustus dengan 132 mm. Rata-rata penyinaran matahari di Provinsi Kalimantan Utara selama tahun 2008-2014 diketahui cukup fluktuatif dengan rata-rata terjadi 51 penyinaran matahari pada tahun 2014.

Tabel 2.6

Kondisi Klimatologi di Provinsi Kalimantan Utara

Uraian Stasiun/Station

Tanjung Selor Nunukan Tarakan

(11)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-11

Suhu/Temperature (°C)

Maksimum/Maximum 34 33,89 -

Minimum/Minimum 24 23,03 -

Rata-Rata/Average 29 28,05 -

Kelembaban Udara (persen) Humidity (percent)

Maksimum/Maximum - 97,92 -

Minimum/Minimum - 52,67 -

Rata-Rata/Average 83,75 52,67 -

Tekanan udara/Atmospheric Pressure (mb) 1009,83 1866,63 - Kecepatan Angin/Wind Velocity (knot) 4,16 4,86 - Curah hujan/Precipitation (mm3) 299,84 383,6 366,6 Penyinaran Matahari (persen) duration of

Sunshine (percent) 55,75 84,16 -

Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka 2017 G. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Provinsi Kalimantan Utara didominasi oleh hutan, dengan luasan mencapai 6.440.254 Ha atau sekitar 90,06% dari luasan total wilayah. Luasan pertanian tersebar sekitar 1,55% atau 110.751 Ha dari total luas wilayah. Penggunaan lahan hutan negara mendominasi di seluruh kabupaten, namun terbanyak terdapat di Kabupaten Malinau. Kondisi geografis provinsi ini yang didominasi oleh pegunungan dan perbukitan dengan kemiringan lereng yang curam, sebagian besar dimanfaatkan sebagai hutan lindung. Penggunaan lahan permukiman hanya 19.090 Ha atau 0,27% dari total luasan wilayah provinsi ini, dengan sebaran lahan permukiman paling tinggi berada di Kabupaten Nunukan.

Tabel 2.7

Luas Wilayah Menurut Jenis Penggunaan Tanah di Provinsi Kalimantan Utara (Ha)

No. Kabupaten Pemukiman Hutan Jenis Penggunaan Tanah Pertanian Pertambangan Lainnya 1 Bulungan 4.925 1.086.969 12.040 - 237.497 2 Malinau 2.687 3.927.395 2.301 1.550 42.808 3 Nunukan 6.609 1.167.764 87.254 - 166.952 4 Tana Tidung 1.867 250.506 3.786 1.415 77.563 5 Tarakan 3.002 7.620 5.370 5.914 47.363

(12)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-12

Kalimantan Utara 19.090 6.440.254 110.751 8.879 572.183

Persentase (%) 0,27 90,06 1,55 0,12 8

Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka Tahun 2014

Sedangkan, jika dilihat dari SK Menteri Kehutanan No. 718 Tahun 2014, perbandingan luas areal penggunaan lahan dengan areal hutan dan tubuh air dapat dilihat pada tabel berikut ini.

(13)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-13

Tabel 2.8

Perbandingan Luas Areal Penggunaan Lahan, Areal Hutan, dan Tubuh Air di Provinsi Kalimantan Utara

Kawasan Kabupaten Bulungan Kota Tarakan Kabupaten Malinau Kabupaten Nunukan Kabupaten Tana Tidung Kalimantan Utara Provinsi Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) % Luas (Ha) %

Areal Penggunaan Lain 412.587,27 29,2 18.147,74 72,2 320.337,60 8,08 451.545,18 32,7 161.242,51 46,4 1.363.860,30 19,1 Hutan Lindung 224.769,60 15,9 6.997,33 27,83 675.398,51 17,04 158.014,95 11,45 0 0 1.065.180,39 14,9 Hutan Produksi 259.162,53 18,33 0 0 365.157,98 9,21 275.774,53 19,98 151.120,97 43,47 1.051.216,01 14,7 Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi 0 0 0 0 30.117,50 0,76 13.513,89 0,98 9.876,67 2,84 53.508,06 0,75 Hutan Produksi Terbatas 507.803,51 35,92 0 0 1.565.329,71 39,5 190.350,83 13,79 9.084,26 2,61 2.272.568,31 31,9 Tubuh Air 0 0 0 0 997.699,21 25,17 274.380,39 19,88 0 0 1.272.079,60 17,8

(14)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-14

2.1.1.2. Wilayah Rawan Bencana

Berdasarkan dokumen Percepatan Penyusunan RTRW Provinsi Kalimantan Utara dan Kabupaten Mahakam Ulu (Provinsi dan Kabupaten Pemekaran), dapat diidentifikasi bahwa potensi bencana yang terdapat di Provinsi Kalimantan Utara diantaranya:

1. Banjir

Bencana banjir selama sepuluh tahun terakhir sering melanda seluruh wilayah kabupaten/kota di provinsi ini setiap tahunnya. Bencana ini bersifat temporer dan terjadi di setiap awal musim penghujan dan umumnya terjadi antara 2 hingga 6 hari. Daerah-daerah yang diidentifikasi sering mengalami banjir dan paling rawan banjir adalah kawasan perkotaan di sepanjang hilir sungai dan pesisir laut.

2. Tsunami

Wilayah Kalimantan berdasarkan kondisi geologisnya merupakan kawasan yang relatif aman dari bencana gempa bumi, akan tetapi bencana gempa bumi yang berpotensi tsunami harus tetap diwaspadai terutama di kawasan pesisir laut sekitar Kota Tarakan. Hal ini karena pada kawasan tersebut diidentifikasi memiliki sesar aktif yang berpotensi gempa tektonik.

3. Kebakaran Hutan dan Lahan

Bencana kerusakan hutan di provinsi ini yang terjadi selain karena kegiatan illegal logging, adalah kebakaran hutan. Pada musim kemarau, suhu udara di beberapa wilayah di provinsi ini bahkan mencapai 34.50C hingga 39.50C. Berbagai kegiatan yang berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan adalah pembukaan lahan untuk perladangan dan perkebunan, baik perkebunan rakyat, maupun perkebunan besar. Pembakaran merupakan cara termudah untuk membersihkan lahan, apalagi pada musim kemarau, tetapi jika tidak terkendali maka akan mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan yang cukup luas.

(15)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-15

Berdasarkan dokumen Materi Teknis RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2015-2035, kerawanan terhadap bencana di provinsi ini secara garis besar terbagi menjadi gerakan tanah dan gempa bumi.

1. Gerakan Tanah

Gerakan tanah merupakan suatu peristiwa geologi berupa pergerakan massa tanah maupun massa batuan yang dalam keadaan tertentu bergerak ke bawah, baik melalui bidang geser maupun jatuh bebas. Gerakan tanah dapat terjadi karena gaya perlawanan tanah yang ada lebih kecil daripada gaya yang berusaha dan bekerja dari luar. Parameter yang digunakan untuk analisis gerakan tanah, antara lain sudut lereng, jenis tanah, tebal tanah, jenis batuan, beban atau tekanan, curah hujan, keberadaan sumber air, dan getaran. Berdasarkan parameter tersebut, sebagian besar Provinsi Kalimantan Utara memiliki kerentanan terhadap gerakan tanah labil, yaitu sekitar 65,74% dari total luas wilayah provinsi.

a. Kerentanan tanah sangat stabil (11,72% dari total luas wilayah provinsi) terjadi terdapat di lembah sungai, yaitu di sebagian wilayah Kabupaten Bulungan, sebagian wilayah Kabupaten Malinau, sebagaian wilayah Kabupaten Nunukan, sebagian wilayah Kabupaten Tana Tidung, dan sebagian wilayah Kota Tarakan. Gerakan tanah di kawasan ini hampir tidak pernah terjadi.

b. Kerentanan tanah stabil (0,79% dari total luas wilayah provinsi) terdapat di sebagian wilayah Kabupaten Nunukan, sebagaian wilayah Kabupaten Malinau, sebagian wilayah Kabupaten Nunukan, dan sebagian wilayah Kabupaten Tana Tidung. Pada kawasan ini gerakan tanah di kawasan ini sangat jarang terjadi, kecuali jika gangguan pada lereng.

c. Kerentanan tanah menengah (12,70% dari total luas wilayah provinsi) terjadi pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan atau lereng jika lereng mengalami gangguan. Kawasan yang memiliki kerentanan tanah menengah

(16)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-16

yaitu di sebagian wilayah Kabupaten Nunukan, sebagaian wilayah Kabupaten Malinau, dan sebagian wilayah Kabupaten Tana Tidung. Jika sebelumnya terjadi gerakan tanah pada daerah ini, maka gerakan tanah tersebut akan kembali aktif akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat.

d. Kerentanan tanah labil (65,74% dari total luas wilayah provinsi) dan sangat labil (9,05% dari total luas wilayah provinsi) terjadi pada kawasan yang sering mengalami gerakan tanah, sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat. Gerakan tanah ini terjadi pada tingkat kelerengan cukup terjal, baik terjadi secara alamiah maupun karena terpicu aktivitas manusia, seperti akibat galian untuk pengambilan mineral ataupun pengundulan lereng.

2. Gempa Bumi

Berdasarkan dokumen materi teknis, hasil analisis menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Utara mempunyai bahaya goncangan gempa bumi dengan percepatan <0,05g dan MMI gempa bumi <IV. Percepatan batuan dasar sebesar 0,05g, menunjukkan bahwa wilayah Provinsi Kalimantan Utara mempunyai potensi sangat rendah terhadap ancaman gempa bumi. Skala intensitas gempa bumi sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Utara, menunjukkan angka kurang dari IV MMI, yang berarti gerakan hanya dirasakan oleh beberapa orang, dan tingkat kerusakan tidak sampai mengakibatkan barang pecah belah ataupun bergoyangnya bangunan.

Jika dilihat dari dokumen RPJPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2005-2025, secara lebih detail dapat diidentifikasi bahwa potensi rawan bencana alam maupun bencana alam geologi yang ada meliputi:

(17)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-17

1. Kawasan rawan bencana alam:

a. Kawasan rawan tanah longsor, meliputi kawasan berbentuk lereng yang rawan terhadap perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran. Kawasan rawan tanah longsor terdapat di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung.

b. Kawasan rawan dampak kebakaran hutan, terdapat di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung.

c. Kawasan rawan banjir, meliputi kawasan yang diidentifikasikan sering dan/atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam banjir. Kawasan rawan banjir terdapat di Kabupaten Bulungan, Kota Tarakan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung.

2. Kawasan rawan bencana alam geologi:

a. Kawasan rawan gempa bumi, meliputi kawasan yang diidentifikasikan dapat terjadi mengalami goncangan gempabumi dengan skala lebih dari VI MMI. Kawasan gempa bumi terdapat di sepanjang pantai provinsi Kalimantan Utara. b. Kawasan liquifaksi, meliputi kawasan yang diidentifikasikan

dapat terjadi liquifaksi, terutama yang mempunyai ketebalan litologi pasir hingga lanau lebih dari 10 meter, jenuh terhadap airtanah dengan muka airtanah kurang dari 1 meter dan gempa bumi lebih dari VI skala MMI. Kawasan liquifaksi terdapat di kecamatan yang berada di sepanjang pantai timur Provinsi Kalimantan Utara serta termasuk pulau-pulau yang berada di sekitar pantai.

c. Kawasan yang terletak di zona patahan aktif, terdapat di daerah daratan Provinsi Kalimantan Utara dengan indikasi Endapan Aluvial yang terpotong oleh patahannya. Kawasan yang terletak

(18)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-18

di zona patahan aktif terdapat di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung.

d. Kawasan rawan tsunami, meliputi kawasan yang

diidentifikasikan kemungkinan dapat terjadi mengalami gelombang air laut pasang apabila gempa bumi mempunyai skala goncangan lebih dari VI skala MMI. Kawasan tsunami terdapat di sepanjang pantai timur Provinsi Kalimantan Utara termasuk pulau-pulau yang berada di sekitar pantai.

e. Kawasan abrasi, ditetapkan dengan kriteria pantai yang berpotensi dan/atau pernah mengalami abrasi. Kawasan rawan abrasi terdapat di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, Kota Tarakan, dan Kabupaten Tana Tidung.

Sementara itu, jika dilihat dari Peta Kawasan Rawan Bencana masing-masing kabupaten/kota yang bersumber dari Rencana Tata Ruang Wilayah, dapat diidentifikasi bahwa masing-masing kabupaten/kota memiliki potensi bencana yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi geografi dan topografi wilayahnya. Berikut ini potensi bencana masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu:

1. Kabupaten Nunukan

Berdasarkan Peta Potensi Bencana, di Kabupaten Nunukan terdapat tiga jenis ancaman bencana yaitu banjir, tanah longsor, dan abrasi. a. Kawasan potensi tanah longsor kurang lebih seluas 20.398 (dua

puluh ribu tiga ratus sembilan puluh delapan) hektar meliputi Kecamatan Simenggaris, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Tulin Onsoi, Kecamatan Sembakung, dan Kecamatan Sembakung Atulai.

b. Kawasan potensi abrasi kurang lebih seluas 1.163 (seribu seratus enam puluh tiga ribu) hektar dan tersebar di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik.

c. Kawasan potensi banjir kurang lebih seluas 22.471 (dua puluh dua ribu empat ratus tujuh puluh satu) hektar yang meliputi Kecamatan Sebatik Utara, Kecamatan Sebatik Timur, Kecamatan Sebatik, dan Kecamatan Sebatik Tengah.

(19)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-19

2. Kabupaten Bulungan

Kawasan potensi bencana tanah longsor di Kabupaten Bulungan meliputi Kecamatan Tanjung Selor, Kecamatan Sekatak, Kecamatan Palas Timur. Kawasan potensi banjir meliputi Kecamatan Tanjung Selor, Kecamatan Sekatak, Kecamatan Palas Tengah, dan Kecamatan Peso. 3. Kabupaten Malinau

Kawasan potensi bencana di Kabupaten Malinau berupa tanah longsor, banjir dan kebakaran hutan.

a. Kawasan potensi bencana tanah longsor, meliputi:

 Kawasan yang terletak di sepanjang aliran sungai yang rawan terhadap longsornya tebing sungai, meliputi: Malinau Seberang, Respen Tubu, Malinau Hilir, Malinau Kota, Malinau Hulu, Kuala Lapang, Tanjung Lapang, Taras, Lidung Kemenci, Pulau Sapi, Long Pujungan, Long Nawan, Bakau Hulu, Pujungan.

 Kawasan di sekitar gunung atau perbukitan curam yang rawan terhadap terjadinya longsor, meliputi: Data Dian, Long Berang, Sempayang dan Long Loreh.

b. Kawasan potensi bencana banjir

Kawasan potensi bencana banjir, meliputi permukiman di sepanjang aliran Sungai Sesayap, Sungai Mentarang, Sungai Malinau, Sungai Kayan, Sungai Bahau dan Sungai Pujungan dan daerah sekitar aliran sungai lainnya di wilayah Kabupaten Malinau.

c. Kawasan potensi bencana kebakaran hutan

Kawasan potensi bencana kebakaran hutan, meliputi kawasan yang berpotensi terjadinya kebakaran hutan karena kandungan batubara maupun aktivitas budidaya masyarakat dan atau penebangan hutan yang lokasinya menyebar secara acak berbentuk spot-spot pada kawasan hutan, yang terdapat di: Kecamatan Malinau Kota, Kecamatan Malinau Barat, Kecamatan

(20)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-20

Malinau Utara, Kecamatan Malinau Selatan, Kecamatan Mentarang, Kecamatan Pujungan, Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Selatan, dan Kecamatan Sungai Boh.

4. Kabupaten Tana Tidung

Kawasan potensi bencana tanah longsor dan bencana banjir di Kabupaten Tana Tidung meliputi:

a. Kawasan potensi bencana tanah longsor, meliputi kawasan yang berada di sekitar Kecamatan Sesayap dan Kawasan Gunung Rian, dan sekitarnya.

b. Kawasan potensi bencana banjir, meliputi Desa Sengkong, Bandan Bikis, Bebatu, dan Menjelutung.

5. Kota Tarakan

Kawasan potensi bencana di Kota Tarakan meliputi bencana tanah longsor dan banjir:

a. Kawasan potensi bencana tanah longsor, meliputi Kelurahan Karanganyar, Sebengkok, Pamusian, Kampung Empat, Pantai Amal, Kampung Enam, dan Mamburungan.

b. Kawasan potensi bencana banjir meliputi:

 Kecamatan Tarakan Timur yang meliputi Jalan Sungai Sesayap, Jalan Meranti, Jalan Akasia, Jalan Bengkirai, Jalan Tengkawang.

 Kecamatan Tarakan Tengah yang meliputi Jalan Sebengkok Tiram, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Sebengkok AL, Jalan Martadinata.

 Kecamatan Tarakan Barat yang meliputi Jalan Slamet Riadi, Jalan Kenanga, Jalan Seroja, Jalan Anggrek, Jalan Matahari, Jalan Mulawarman.

(21)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-21

2.1.1.3. Demografi

Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk sehingga akan diketahui pula kebutuhan dasar penduduk seperti fasilitas pelayanan publik dan sebagainya. Jika dilihat secara umum, jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Utara dari tahun 2012 sampai 2016 selalu mengalami peningkatan. Jumlah penduduk terbanyak di Kota Tarakan (244.185 jiwa tahun 2016), sedangkan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Tana Tidung (23.497 jiwa tahun 2016).

Tabel 2.9

Perkembangan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota dan Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2012-2016 di Provinsi Kalimantan

Utara Kabupaten

/Kota

Jumlah Penduduk Pertumbuhan

2015-2016 (%) 2012 2013 2014 2015 2016 Bulungan 120.600 122.985 126.096 129.381 132.533 2,44 Malinau 66.845 71.501 74.469 77.492 80.619 4,04 Nunukan 155.680 162.711 170.042 177.607 185.499 4,44 Tana Tidung 17.079 18.985 20.400 21.891 23.497 7,34 Tarakan 210.700 218.800 227.200 235.565 244.185 3,66 Kalimantan Utara 570.904 594.982 618.207 641.936 666.333 3,80 Sumber:

1) Kabupaten Malinau Dalam Angka 2013-2015 2) Kabupaten Bulungan Dalam Angka 2011-2015 3) Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2013-2015 4) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka 2012-2015 5) Kota Tarakan Dalam Angka 2015

6) Kalimantan Utara Dalam Angka 2017

Laju Pertumbuhan penduduk Provinsi Kalimantan Utara selama tahun 2015-2016 adalah sebesar 3,80% dengan pertumbuhan penduduk tertinggi adalah Kabupaten Tana Tidung yaitu sebesar 7,34%. Relatif tingginya rata-rata pertumbuhan penduduk di kabupaten ini jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya mungkin disebabkan karena kabupaten ini merupakan daerah otonom baru, yang merupakan wilayah pemekaran dari 3 (tiga) kecamatan di Kabupaten Bulungan, yaitu

(22)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-22

Kecamatan Sesayap, Sesayap Hilir, dan Tanah Lia sejak tahun 2012, sehingga menyebabkan meningkatnya migrasi penduduk ke wilayah ini. Sedangkan pertumbuhan penduduk paling rendah adalah Kabupaten Bulungan yaitu sebesar 2,44%.

Kependudukan merupakan salah satu elemen dasar dalam suatu wilayah. Perkiraan mengenai kependudukan menurut berbagai karakteristik jumlah dan komposisi penduduk pada suatu wilayah merupakan input dari pembangunan yang sangat penting bagi perencanaan pembangunan seperti permintaan akan barang atau jasa pelayanan serta kebutuhan akan lahan di masa yang akan datang.

Penduduk akan banyak dijumpai pada daerah-daerah yang memiliki aktivitas ekonomi yang tinggi, tersedianya sarana dan prasarana sosial, transportasi yang memadai, serta kondisi sosial ekonomi yang lebih baik. Daerah yang memiliki kepadatan tinggi merupakan daerah yang memiliki perkembangan ekonomi yang tinggi dan sebaliknya.

Tabel 2.10

Kepadatan Penduduk Tahun 2012-2016 di Provinsi Kalimantan Utara Kabupaten/Kota Luas Wilayah (Km2) Jumlah Penduduk

2012 2013 2014 2015 2016 Bulungan 13.181,92 9 12 12 9,29 9,52 Malinau 40.088,41 2 2 2 1,82 1,89 Nunukan 14.247,5 11 11 12 12,83 13,40 Tana Tidung 4.828,58 4 4 4 4,53 4,87 Tarakan 250,8 840 872 906 939,25 973,62 Kalimantan Utara 72.597,21 8 8 9 8,51 8,83 Sumber:

1) Kabupaten Malinau Dalam Angka 2010-2015 2) Kabupaten Bulungan Dalam Angka 2011-2015 3) Kabupaten Nunukan Dalam Angka 2011, 2013-2015 4) Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka 2012-2013, 2015 5) Kota Tarakan Dalam Angka 2012-2015

6) Kalimantan Utara Dalam Angka 2017

Terdapat kesenjangan persebaran penduduk, terutama antara kabupaten dengan kota. Kepadatan penduduk di Kota Tarakan mencapai 973,62 jiwa/km2 (tahun 2016), hal ini berbeda dengan kabupaten lain yang memiliki kepadatan hanya 1-12 jiwa/km2. Sedangkan kabupaten yang memiliki kepadatan penduduk paling rendah adalah Kabupaten Malinau, yakni 1,89 jiwa/km2.

(23)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-23

Kota Tarakan merupakan salah satu pusat perkembangan ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara, sarana prasarana perkotaan di daerah tersebut relatif lebih lengkap sehingga menjadi salah satu faktor penarik penduduk untuk lebih memilih tinggal di Kota Tarakan, sementara luas kota ini yang sangat sempit jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya. Faktor lain yang mempengaruhi keadaan tersebut salah satunya adalah kondisi geografis. Kabupaten Malinau dan Kabupaten Bulungan yang mempunyai kondisi topografi bergunung dengan kemiringan lereng sebagian besar di atas 40%, cukup sulit untuk pengembangan permukiman. Hal ini sangat berbeda dengan Kota Tarakan yang memiliki topografi yang landai sehingga lebih mudah untuk pengembangan permukiman. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara harus segera melakukan tindakan untuk meratakan persebaran penduduk di seluruh wilayah agar dapat mengurangi tekanan penduduk di satu daerah.

Komposisi penduduk menurut umur dapat menggambarkan distribusi penduduk sesuai kelompok umur. Penduduk Kalimantan Utara dengan kelompok usia 5-9 dan 10-14 mempunyai jumlah paling tinggi. Hal ini dapat dilihat dari piramida penduduk yang mengembang di bagian bawah. Kondisi ini berarti bahwa penduduk usia muda cukup dominan di provinsi ini. Komposisi penduduk menurut umur ini memperlihatkan bahwa warga usia produktif harus menanggung warga yang sudah tidak/belum produktif. Semakin besar proporsi penduduk usia tidak produktif, maka semakin besar beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif.

(24)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-24

Gambar 2. 3

Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 2016 di Provinsi Kalimantan Utara

Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka 2017 2.1.1.4. Potensi Sumber Daya

Provinsi Kalimantan Utara memiliki kekeayaan alam yang beragam. Potensi sumber daya alam merupakan modal dasar bagi pembangunan wilayah ini. Adapun potensi sumber daya tersebut diuraikan sebagai berikut:

1. Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan

a. Fokus komoditas tanaman pangan Provinsi Kalimantan Utara adalah padi, jagung, dan ubi kayu. Kabupaten Malinau, Kabupaten Bulungan, dan Kabupaten Nunukan merupakan daerah potensial pengembangan ketiga komoditas tanaman pangan tersebut.

b. Provinsi Kalimantan Utara memliki lahan pertanian yang potensial yaitu dengan luas sebesar 115.721,57 Ha. Namun, hanya 14.265,05 Ha yang termanfatkan menjadi lahan sawah. Artinya masih terdapat 101.456,51 Ha lahan yang belum termanfaatkan secara optimal.

(25)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-25 c. Luas panen di Provinsi Kalimantan Utara dalam kurun waktu

2008-2012 mengalami peningkatan 30,45%, yaitu dari 31.132 hektar menjadi 40.613 hektar. Luas lahan panen terbesar yaitu di Kabupaten Bulungan, sebesar 21.774 hektar atau 54% dari total luas panen provinsi.

2. Sub Sektor Holtikultura

a. Jenis tanaman buah-buahan yang menjadi fokus utama pengembangan di Provinsi Kalimantan Utara adalah buah jeruk, durian/lai, dan pisang. Dari data produksi komoditas buah yang memiliki keunggulan kompetitif adalah buah pisang dengan produksi rata-rata pada tahun 2012 adalah 3.274 per ton.

b. Produksi buah pisang yang paling besar adalah terdapat di Kabupaten Nunukan dengan produksi sebesar 51,28% dari total produksi provinsi.

c. Kabupaten penghasil buah durian paling banyak adalah di Kabupaten Bulungan dengan total produksi sebesar 55,35% dari total produksi provinsi. Diketahui bahwa produksi buah durian di Kabupaten Bulungan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

d. Kabupaten penghasil buah jeruk paling banyak pada kurun waktu 2009-2012 adalah Kabupaten Bulungan dengan total produksi sebanyak 54,62% dari total produksi provinsi.

3. Sub Sektor Peternakan

a. Komoditas utama sektor peternakan adalah sapi, kerbau, kambing, babi, ayam, dan itik.

b. Ayam ras pedaging dan ayam kampung merupakan komoditas hewan ternak yang paling banyak populasinya. Populasi ayam ras pedaging sebanyak 76,86% dari total populasi hewan ternak provinsi.

c. Produksi daging ayam ras pedaging pada periode waktu 2008– 2012 mencapai 56,59% dari total produksi daging hewan ternak,

(26)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-26

diikuti hasil produksi daging ayam kampung dengan 18,32% dan sapi yang berjumlah 15,78%.

4. Sub Sektor Perkebunan

a. Terdapat beberapa jenis tanaman perkebunan yang dikembangkan antara lain Karet, kelapa, kopi, lada, aren, kakao, kelapa sawit, dan lain-lain. Namun yang menjadi komoditas unggulan hanya 4 jenis yaitu kakao dan kelapa (Prioritas I), serta kopi dan kelapa sawit (Prioritas II).

b. Perkebunan kakao terdapat di semua kabupaten kecuali Kota Tarakan. Pada tahun 2012, luas perkebunan kakao seluas 11.645 hektar, luas terbesar terdapat di Kabupaten Nunukan dengan luas 6.514 ha.

c. Luas serta jumlah produksi komoditas kelapa mengalami penurunan. Pada tahun 2012, luas perkebunan kelapa seluas 2.663 hektar, sedangkan luas terbesar berada di Kabupayen Nunukan (1.085 hektar). Produksi panen kelapa terbesar yaitu di Kabupaten Bulungan.

d. Luas dan produksi perkebunan kopi dalam kurun waktu 2008-2012 mengalami penurunan. Luas panen mengalami penurunan, yaitu dari 5.628 hektar menjadi 2.818 hektar. Luas kebun kopi terbesar yaitu di Kabupaten Malinau seluas 2.058 hektar.

e. Luas dan hasil panen kelapa sawit dalam kurun waktu 2008-2012 mengalami kenaikan. Luas perkebunan sawit meningkat dari 62.879 hektar menjadi 137.389 hektar.

5. Sub Sektor Kehutanan

Dari enam klasifikasi hutan yang ada di Kalimantan, hanya empat jenis yang berada di Kalimantan Utara yaitu Hutan Lindung, Hutan Suaka Alam dan Wisata, Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap. Luas total hutan di Provinsi Kalimantan Utara pada tahun 2012 adalah 6.228.413 Ha. Dari keempat jenis hutan yang ada di Kalimantan Utara, yang terluas adalah hutan produksi terbatas

(27)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-27

yaitu seluas 2.076.008 Ha dan yang terkecil adalah Hutan Lindung yaitu seluas 1.130.971 Ha. Kabupaten Malinau merupakan wilayah yang memiliki total luas hutan terbesar dengan luas hutan 3.930.293 Ha, sedangkan yang terkecil di Kota Tarakan dengan luas total hanya sebesar 4.827 Ha. Hutan lindung, hutan suaka alam & wisata, dan hutan produksi terbatas merupakan yang paling luas berada di Kabupaten Malinau. Sementara hutan produksi tetap yang terluas berada di Kabupaten Bulungan.

Tabel 2.11

Luas Hutan (Ha) Menurut Tata Guna Hutan Kesepakatan dan Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara

Kabupaten/Kota Hutan Lindung Alam & Wisata Hutan Suaka Produksi Hutan Terbatas Hutan Produksi Tetap Jumlah Hutan Tetap Malinau 667.280 1.233.231 1.609.115 420.667 2.029.782 Bulungan 235.375 - 324.016 466.921 790.937 Nunukan 225.998 462.243 134.593 248.170 382.763 Tana Tidung - - 8.284 187.693 195.977 Tarakan 2.318 - - 2.509 2.509 Provinsi Kalimantan Utara 2012 1.130.971 1.695.474 2.076.008 1.325.960 3.401.968 2011 1.053.531 1.695.474 1.872.556 1.491.065 3.363.621 2010 1.053.531 1.695.474 1.872.556 1.491.065 3.363.621 2009 1.053.531 1.695.474 1.872.556 1.491.065 3.363.621 2008 1.053.531 1.695.474 1.872.556 1.491.065 3.363.621

Sumber: RTRW Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2015-2035 6. Sub Sektor Perikanan

Sumber daya perikanan berasal perikanan laut dan perikanan darat. Jenis perikanan darat adalah perairan umum, tambak, kolam, keramba dan budidaya pantai/laut. Pada sektor perikanan, jenis perikanan darat masih menjadi yang utama yakni dari jenis budidaya pantai yang mengalami pertumbuhan jumlah produksi dari tahun ke tahun. Selain budidaya pantai, jenis perikanan darat yang mengalami pertumbuhan jumlah produksi adalah dari tambak dan kolam. Sementara produksi perikanan laut juga sempat mengalami pertumbuhan produksi dari tahun 2008-2011, namun mengalami penurunan di tahun 2012. Wilayah dengan perikanan laut yang dominan adalah Kota Tarakan. Sedangkan wilayah dengan produksi

(28)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-28

perikanan darat yang dominan adalah Kabupaten Nunukan, yakni dari sektor budidaya pantai.

7. Sektor Industri

Pemerintah pusat telah menetapkan industri unggulan di Provinsi Kalimantan Utara adalah kakao. Jika dibandingkan dengan data perkebunan yang ada, komoditas kakao dan karet memang memiliki jumlah produksi yang tinggi. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah. berdasarkan data, industri di bidang agro dan hasil hutan masih lebih kecil dibandingkan dengan industri logam, mesin, elektronika, dan aneka industri. Oleh karena itu, pengembangan industri agro perlu lebih dimaksimalkan. Produk unggulan UMKM di provinsi ini, antara lain meubel rotan, anyaman bambu, anyaman rotan, anyaman manik-manik, kue dan roti, bubuk kopi, pengolahan logam, pembuatan kapal, pengolahan rumput laut, minyak atsiri, beras Adan, ikan teri, udang kering, kerupuk durian, amplang, dan batik.

8. Sektor Pariwisata

Pola pergerakan wisatawan yang menggunakan jalur udara, yaitu melalui: (a) Jakarta-Balikpapan-Tarakan; (b) Yogyakarta-Balikpapan-Tarakan; dan (c) Jakarta-Makassar-Balikpapan-Tarakan. Untuk jalur laut, telah dilengkapi dengan pelabuhan utama yaitu di Pelabuhan Tarakan (Kota Tarakan) dan Pelabuhan Tanjung Selor (Kabupaten Bulungan). Daya tarik wisata di Provinsi Kalimantan Utara, antara lain:

a. Daya tarik wisata Heart of Borneo (HoB).

Heart of Borneo merupakan keunikan untuk menunjukkan keberadaan hutan primer terluas dan tertua di dunia, yaitu di jantung Kalimantan.

(29)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-29

Tarakan dikenal dengan minyak dan sejarah pendudukan bangsa asing, Bulungan merupakan salah satu kerajaan di Kalimantan Utara.

c. Daya tarik wisata kawasan pesisir kepulauan (Nunukan, Bulungan Kepulauan, dan Tana Tidung Kepulauan)

Nunukan, Bulungan Kepulauan, dan Tana Tidung Kepulauan merupakan wilayah dengan potensi wisata yang beragam mulai dari pantai sampai dengan hutan hujan tropis.

d. Daya tarik wisata kawasan pedalaman (pedalaman Bulungan dan Tana Tidung)

Daya tarik pariwisata ini dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu daya tarik wisata berbasis alam, wisata berbasis sejarah dan budaya, serta wisata berbasis kehidupan masyarakat yang lebih dominan.

e. Kawasan Perbatasan Negara

Kawasan pengembangan pariwisata perbatasan negara yang ada di Kalimantan Utara, meliputi daerah perbatasan Malinau yang berbatasan langsung dengan Serawak (Malaysia Timur). Dalam pengembangan wisata di kawasan ini, didominasi variasi wisata kehidupan masyarakat dan wisata berbasis alam.

Adapun destinasi pariwisata unggulan di Provinsi Kalimantan Utara, yaitu Pantai Amal, Wana Wisata Persemaian, Hutan Mangrove Tarakan, Air Terjun Martin Billa, Sungai Nyamuk, Long Bawan (Krayan), Gunung Rian, Batu Mapan, Hutan Lindung Sungai Sesayap, Pantai Kuning/Taman Laut Karang Tigau, Eks Kerajaan Bulungan.

Berdasarkan dokumen RTRW Provinsi Kalimantan Utara, potensi pengembangan kegiatan ekonomi di provinsi ini, yaitu:

1. Perekonomian Provinsi Kalimantan Utara hingga saat ini masih sangat tergantung pada sektor primer, yaitu sektor pertanian (termasuk sub sektor perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan) dan sektor pertambangan dan penggalian, terutama sektor migas dan batubara. Di antara kedua sektor ini, sektor pertambangan dan

(30)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-30

penggalian merupakan sektor yang lebih dominan. Namun, kedua sektor ini belum ditunjang oleh sektor industri pengolahan. Ini ditunjukkan oleh kontribusi sektor industri pengolahan yang sangat kecil. Kegiatan sektor pertambangan hanya terbatas pada eksploitasi sumber daya alam tanpa adanya forward linkage ke sektor industri. Sementara itu pengusahaan sektor pertanian dengan sub-sektornya (pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan) dapat dikelompokkan ke dalam pengusahaan oleh rakyat dan pengusahaan oleh perusahaan.

2. Pengembangan perekonomian Provinsi Kalimantan Utara menghadapi kendala rentang hutan yang luas, sehingga pemukiman akan mengelompok pada daerah dataran datar yang berkarateristik perkotaan yang telah terjangkau oleh jalur transportasi darat dan kantung-kantung pemukiman perdesaan secara sporadis yang bersifat self-sufficient pada sempadan sungai yang menggunakan sungai sebagai jalur transportasi utama. Keterhubungan yang belum dapat dilakukan melalui jalan darat dan air dilakukan melalui udara dalam bentuk air strip. Dampaknya bagi perekonomian adalah harga produk olahan dan manufaktur akan cenderung mahal apabila didatangkan dari luar wilayah karena diseconomies of scale jalur transportasi dan pasokan energi. Kondisi demikian terjadi pada daerah perdesaan. Pada daerah perkotaan, peningkatan economies of scale jalur transportasi dan pasokan energi menyebabkan harga produk olahan dan manufaktur cenderung lebih murah. Khusus pada daerah perbatasan, harga produk olahan dan manufaktur yang mahal apabila didatangkan dari luar wilayah karena alasan diseconomies of scale jalur transportasi dan pasokan energi dihadapkan pada produk impor dari wilayah Malaysia yang lebih murah karena adanya tingkat economies of scale yang lebih baik pada kedua aspek tersebut. Oleh karena itu, penduduk daerah perbatasan akan lebih memilih untuk memperoleh produk-produk jadi dari Malaysia.

3. Perekonomian provinsi ini juga dihadapkan pada kendala pasokan energi karena disparitas yang tinggi antara sisi permintaan dan

(31)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-31

penawaran energi. Pada pengusahaan pertambangan batu bara, daerah hanya memperoleh penerimaan pajak, karena pengolahan batu bara berada di luar wilayah provinsi in, daerah tidak memperoleh manfaat pada sisi pasokan energi yang bersumber pada batu bara. Hal yang sama terjadi pada pengusahaan migas. Kalaupun ada pengolahan di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, diseconomies of scale pada transportasi darat akibat belum terhubungnya jalur jalan darat di sebagian besar wilayah serta harga minyak dunia yang lebih tinggi di pasar dunia, mengakibatkan daerah harus mendatangkan pasokan BBM dari luar yang penyalurannya terkendala oleh diseconomies of scale pada transportasi darat. Karena terbatasnya pasokan, sementara permintaan masih lebih tinggi karena BBM juga dibutuhkan pada sisi produksi untuk menggerakkan generator serta pengangkutan hasil sektor pertanian, maka permintaan yang melebihi penawaran mengakibatkan harga BBM naik pada ke batas willingness to pay.

4. Kota Tarakan yang sebelumnya merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bulungan, merupakan penghubung perdagangan dan industri di wilayah provinsi ini karena memiliki Bandara Juwata dan Pelabuhan Tarakan yang merupakan akses penting keterhubungan wilayah. Pada saat ini Kota Tarakan telah menyiapkan rencana pengembangan Bandara Juwata menjadi bandara internasional, sementara pengembangan Pelabuhan Tarakan sebagai pelabuhan peti kemas dan pelabuhan internasional juga terus dilakukan. Status Kota Tarakan sebagai PKN juga menjadikannya sebagai pusat perekonomian Provinsi Kalimantan Utara. Posisi Kota Tanjung Selor yang terletak di Kabupaten Bulungan juga memiliki bandara Tanjung Harapan untuk penerbangan antar wilayah dan Pelabuhan Tanjung Selor. Posisinya sebagai PKW otomatis tidak menjadikannya sebagai pusat perekonomian, namun lebih sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena itu, dalam jangka pendek Kota Tanjung Selor akan menjadi support city sebagai pusat pemerintahan, sementara pada jangka menengah dapat dikembangkan untuk menampung spillover kegiatan

(32)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-32

ekonomi di Kota Tarakan yang semakin congested, yaitu sebagai perluasan wilayah pemukiman dan relokasi serta perluasan wilayah industri. Dalam jangka panjang, Tanjung Selor akan menjadi Kota Tanjung Selor yang berdiri sendiri, seperti halnya Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Bontang di Provinsi Kalimantan Timur. 5. Provinsi Kalimantan Utara juga memiliki kawasan konservasi yang

masuk dalam Heart of Borneo. Implikasinya bagi perekonomian daerah adalah karena merupakan kawasan konservasi, maka nilai ekonomis kawasan ini terletak pada keanekaragaman hayati, yang terdiri dari flora dan fauna dan sekaligus pula berfungsi sebagai salah satu paru-paru dunia.

2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1. PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian wilayah secara makro dapat dilihat melalui nilai produk domestik regional bruto (PDRB). Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator yang penting dalam analisis perkembangan wilayah. Nilai PDRB dapat menggambarkan sektor yang berkontribusi paling besar dalam pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Utara, sedangkan PDRB per kapita dapat digunakan sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran dan kesejahteraan penduduk di suatu wilayah.

Meski termasuk provinsi baru, perekonomian Provinsi Kalimantan Utara beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan positif yang signifikan, yang ditandai dengan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) selama tahun 2012-2016. Pada tahun 2012 PDRB atas harga konstan Provinsi Kalimantan Utara mencapai 40,76 triliun dan terus meningkat menjadi 51,16 triliun pada tahun 2016.

(33)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-33

Tabel 2.12

Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2011-2016 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2010 di Provinsi Kalimantan Utara

No Sektor 2011 2012 2013 2014 2015* 2016**

(Rp) % (Rp) % Juta Rupiah % Juta Rupiah % (Rp) % (Rp) %

1 Pertanian, Kehutanan,

dan Perikanan 6.676.558,60 17,65 7.129.998,50 17,49 7.496.932,40 17,00 8.018.853,30 16,81 8.574.016,31 17,39 9.021.730,70 17,63 2 Pertambangan dan

Penggalian 11.444.992,80 30,25 12.432.417,90 30,50 14.004.971,20 31,76 15.402.476,00 32,29 14.941.856,66 30,30 14.515.640,76 28,37 3 Industri Pengolahan 3.764.732,20 9,95 3.967.913,30 9,73 4.224.983,90 9,58 4.442.962,30 9,32 4.732.640,76 9,60 5.029.810,81 9,83 4 Pengadaan Listrik dan

Gas 19.081,00 0,05 20.131,60 0,05 20.838,20 0,05 22.732,20 0,05 28.847,01 0,06 31.172,04 0,06 5 Pengadaan Air, Pengolahan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 27.384,70 0,07 28.476,40 0,07 29.951,20 0,07 31.727,30 0,07 32.486,69 0,07 34.500,33 0,07 6 Konstruksi 4.331.931,90 11,45 4.660.283,30 11,43 4.960.375,50 11,25 5.435.772,90 11,40 5.709.650,32 11,58 6.190.778,92 12,10 7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 4.087.998,90 10,81 4.360.387,70 10,70 4.593.690,60 10,42 4.804.997,20 10,07 4.956.085,97 10,05 5.290.697,56 10,34 8 Transportasi dan Pergudangan 2.124.320,80 5,62 2.317.973,70 5,69 2.449.809,50 5,56 2.670.084,10 5,60 2.921.587,77 5,92 3.091.050,67 6,04 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 476.085,80 1,26 515.215,70 1,26 536.685,40 1,22 567.997,20 1,19 611.176,55 1,24 660.672,91 1,29 10 Informasi dan 827.555,90 2,19 924.338,20 2,27 1.026.246,50 2,33 1.149.747,10 2,41 1.308.795,23 2,65 1.412.686,97 2,76

(34)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-34 No Sektor (Rp) 2011 % (Rp) 2012 % Juta Rupiah 2013 % Juta Rupiah 2014 % (Rp) 2015* % (Rp) 2016** %

Komunikasi 11 Jasa Keuangan dan

Asuransi 433.584,00 1,15 476.983,70 1,17 490.406,90 1,11 513.521,80 1,08 554.558,68 1,12 584.752,57 1,14 12 Real Estate 363.493,80 0,96 389.505,10 0,96 436.049,90 0,99 463.145,30 0,97 481.979,92 0,98 488.910,37 0,96 13 Jasa Perusahaan 116.954,10 0,31 127.032,00 0,31 132.865,00 0,30 144.721,60 0,30 140.639,99 0,29 134.478,93 0,26 14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 1.939.820,70 5,13 2.041.255,00 5,01 2.154.505,00 4,89 2.338.324,10 4,90 2.415.145,39 4,90 2.603.751,26 5,09 15 Jasa Pendidikan 685.587,30 1,81 821.934,40 2,02 949.650,40 2,15 1.045.605,40 2,19 1.140.884,06 2,31 1.214.671,89 2,37 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 314.398,20 0,83 351.325,00 0,86 374.558,40 0,85 419.201,80 0,88 500.383,32 1,01 564.175,96 1,10 17 Jasa Lainnya 194.558,10 0,51 203.369,90 0,50 209.179,30 0,47 224.937,10 0,47 265.263,22 0,54 295.509,69 0,58 PDRB 37.829.038,80 100 40,768,541.40 100 44.091.699,30 100 47.696.806,70 100 49.315.997,86 100 51.164.992,35 100

Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka 2017 dengan hasil olahan Keterangan: *Angka sementara, ** Angka sangat sementara

(35)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-35

Tabel 2.13

Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2012-2016 Atas Dasar Harga Berlaku di Provinsi Kalimantan Utara

No Sektor 2012 2013 2014 2015* 2016**

(Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) %

1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 7.817.666,8 16,5

2 8.594.446,9 16,34 10.120.512,90 17,10 10.931.213,53 17,61 12.081.728,05 18.09 2 Pertambangan dan Penggalian 15.736.877,4 33,2

5 17.803.228,4 33,84 19.000.559,29 32,10 17.403.029,72 28,04 16.457.941,96 24.65 3 Industri Pengolahan 4.458.816,3 9,42 4.882.368,4 9,28 5.626.185,65 9,51 6.158.777,58 9,92 6.730.229,60 10.0

8 4 Pengadaan Listrik dan Gas 18.232,9 0,04 17.934,1 0,03 19.794,51 0,03 22.972,19 0,04 30.065,91 0.05 5 Pengadaan Air, Pengolahan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 30.562,7 0,06 32.627,3 0,06 35.871,91 0,06 37.954,65 0,06 41.457,70 0.06

6 Konstruksi 5.516.773,0 11,6

6 6.018.287,0 11,44 6.895.409,83 11,65 7.365.030,69 11,87 8.509.442,79 12.74 7 Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 4.786.496,4 10,11 5.116.926,2 9,73 5.889.425,25 9,95 6.646.903,72 10,71 7.659.005,55 11.47 8 Transportasi dan Pergudangan 2.475.470,2 5,23 2.837.927,7 5,39 3.409.047,91 5,76 4.027.241,59 6,49 4.576.863,29 6.85 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 605.633,2 1,28 681.652,3 1,30 788.776,97 1,33 898.726,62 1,45 1.021.818,71 1.53

10 Informasi dan Komunikasi 942.242,1 1,99 1.057.025,9 2,01 1.206.241,72 2,04 1.378.112,73 2,22 1.525.483,74 2.28 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 525.100,2 1,11 587.999,9 1,12 653.095,65 1,10 746.708,39 1,20 833.897,39 1.25 12 Real Estate 379.366,3 0,80 433.757,3 0,82 486.741,66 0,82 532.939,37 0,86 556.549,50 0.83 13 Jasa Perusahaan 136.096,3 0,29 149.759,9 0,28 171.852,00 0,29 175.771,13 0,28 175.237,93 0.26 14 Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 2.418.449,0 5,11 2.670.622,2 5,08 2.888.081,68 4,88 3.287.861,73 5,30 3.683.876,25 5.52 15 Jasa Pendidikan 916.213,2 1,94 1.097.349,6 2,09 1.258.396,36 2,13 1.492.869,90 2,41 1.718.613,13 2.57 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 352.885,1 0,75 388.694,7 0,74 456.645,79 0,77 601.966,79 0,97 729.961,81 1.09 17 Jasa Lainnya 216.851,0 0,46 234.094,4 0,45 277.363,74 0,47 363.335,37 0,59 446.373,16 0.67

PDRB 47.333.732,1 100 52.604.702,2 100 59.184.002,83 100 62.071.415,72 100 66.778.546,48 100

Sumber: Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka 2017 dengan hasil olahan Keterangan : * Angka sementara, ** Angka sangat sementara

(36)

RKPD Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019 II-36

Sektor yang paling dominan dalam menunjang perekonomian daerah di Provinsi Kalimantan Utara adalah sektor primer yaitu sektor pertambangan dan penggalian dengan kontribusi sebesar 24,65% pada tahun 2016. Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB sangat fluktuatif. Meski demikian sektor ini tetap menjadi sektor yang berkontribusi paling besar selama lima tahun berturut-turut. Sektor primer penyumbang terbesar kedua setelah sektor pertambangan dan penggalian adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 18,09% di tahun 2016. Penyumbang ketiga setelah sektor pertanian adalah sektor sekunder yakni konstruksi mencapai 12,74% pada tahun 2016, yang kemudian diikuti oleh perkembangan sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 11,47% dan industri pengolahan sebesar 10,08%. Namun berdasarkan data beberapa tahun terakhir, peranan lapangan usaha Prtambangan dan Penggalian terus menurun selama tiga tahun terakhir, sebaliknya untuk lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan justru meningkat peranannya dalam pembentukan PDRB Provinsi Kalimantan Utara.

Tabel 2.14

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kalimantan Utara dan Nasional Tahun 2012-2016

Uraian 2012 2013 2014 2015 2016

Kalimantan Utara (%) - - 8,18 3,13 3,75

Nasional (%) 6,03 5,56 5,02 4,79 5,02

Sumber: Kalimantan Utara Dalam Angka 2017

Secara kumulatif perekonomian Kalimantan Utara selama Tahun 2016 mengalami pertumbuhan sebesar 3,75 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh kinerja sebagian besar lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan yang positif, dimana Lapangan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial merupakan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 12,75 persen. Selain itu dipengaruhi juga oleh peningkatan kinerja beberapa lapangan usaha yang dominan

Referensi

Dokumen terkait

Indonesia merupakan daerah pertemuan antara lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara, lempeng Pasifik yang bergerak ke barat dan lempeng Asia Tenggara (lempeng Sunda

Situasi yang kondusif pada suatu daerah sangat menentukan banyaknya investasi yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak di Kabupaten Aceh Utara untuk meningkatkan

Kabupaten Lamongan sesuai arahan RTRW Provinsi Jawa Timur bahwasannya berdasarkan rencana struktur ruang, khususnya dalam rencana sistem perkotaan, adalah sebagai Pengembangan

Orientasi ke luar, dimana struktur ruang wilayah Provinsi Riau perlu ditunjang dengan pusat-pusat permukiman perkotaan jenjang PKN (Pusat Kegiatan Nasional) dan

Untuk lebih jelasnya mengenai penggunaan lahan di Kota Tasikmalaya dapat dilihat pada tabel 2.5.. Distribusi Penggunaan Lahan Kota Tasikmalaya Tahun 2011(Ha) No

Pengeluaran konsumsi non pangan penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2007 dapat terlihat pada tabel 43.. Pola konsumsi rumah tangga/masyarakat yang termasuk

Untuk Kabupaten Bengkulu Utara dari Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2009, jenjang pendidikan dasar sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2.40 sebagai berikut.

Kawasan rawan bencana gempa bumi di Provinsi Jawa Timur berada di wilayah: Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Blitar, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Jombang,