• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSEDUR PEMBERIAN KREDIT PADA PT. BANK BNI SYARIAH CABANG MEDAN TUGAS AKHIR. Oleh: FAJAR REZEKI NASUTION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSEDUR PEMBERIAN KREDIT PADA PT. BANK BNI SYARIAH CABANG MEDAN TUGAS AKHIR. Oleh: FAJAR REZEKI NASUTION"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

PROSEDUR PEMBERIAN KREDIT PADA PT. BANK BNI SYARIAH CABANG MEDAN

TUGAS AKHIR

Oleh:

FAJAR REZEKI NASUTION 142101001

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk menyelesaikan Pendidikan Pada Program Diploma III

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR

NAMA : FAJAR REZEKI NASUTION

NIM : 142101001

PROGRAM STUDI : DIII KEUANGAN

JUDUL TUGAS AKHIR : PROSEDUR PEMBERIAN KREDIT PADA PT. BANK BNI SYARIAH CABANG MEDAN

Tanggal …...………2017 Dosen Pembimbing

Beby Kendida Hasibuan, SE, M.Si NIP. 19831008 201012 2 003

Tanggal …...………2017 Ketua Program Studi

Dr. Yeni Absah, SE, M.Si NIP. 19741123 200012 2 001

Tanggal …...………2017 Dekan

Prof. Ramli, SE, M.Si NIP. 19580602 198803 1 001

(3)

Assalamu’alaikum Wr. Wb…

Syukur Alhamdulillah, penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada penulis. Ya Rob, Engkau Maha Kuasa dalam kehidupan penulis, memberikan kekuatan kepada penulis melewati suka dan duka silih berganti. Ya Rob, tak pernah Engkau tinggalkan penulis walau sedetikpun. Allah selalu ada bersama penulis melalui semuanya. Shalawat beriring salam penulis hadiahkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, Akhlak-Mu mulia dan Engkau kaya akan ilmu menjadi suriteladan yang patut dicontoh seluruh umat manusia.

Penulisan Tugas Akhir ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Diploma III di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara Medan. Adapun Tugas Akhir ini berjudul “Prosedur Pemberian Kredit Pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan”.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini, untuk itu dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Yenni Absah, SE, M.Si selaku Ketua Program Studi Diploma III Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Beby Kendida Hsb, SE, M.Si selaku Dosen Pembimbing penulis yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan

(4)

bimbingan, arahan dan koreksi dalam proses penyelesaian Tugas Akhir sehingga dapat diselesaikan dengan baik.

4. Bapak / ibu Staff dan Pegawai di PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan.

5. Teristimewa kepada kedua orang tua tercinta Ayahanda Ahmad Sukri Nasution dan Ibunda Juniar dan kedua Abang saya Muhammad Irfan Nasution, A.md dan Rizki Ramadhan Nasution, A.md serta Adik saya Luthfi Murad Nasution yang telah memberikan kasih sayang, perhatian, pengorbanan serta dorongan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

6. Sahabat saya Rifki Ari Pratama, Hasan Basri Harahap, A.md, Suci Sari Rahmaini Hrp, SH, serta teman-teman seperjuangan di DIII Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah banyak membantu dan memberi motivasi hingga terselesaikannya Tugas Akhir ini.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna, dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Tugas Akhir ini.

Medan, Januari 2017 Penulis

Fajar Rezeki Nasution

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian... 7

BAB II PROFIL PT. BANK BNI SYARIAH CABANG MEDAN A. Sejarah Dan Kegiatan Operasional Perusahaan ... 8

1. Sejarah Perusahaan ... 8

2. Visi, Misi, dan Tujuan perusahaan ... 11

3. Logo Perusahaan ... 12

4. Produk Perusahaan ... 13

B. Struktur Organisasi PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan ... 19

C. Job Description ... 22

BAB III PEMBAHASAN A. Kredit ... 26

1. Pengertian Kredit ... 26

2. Jenis-jenis Kredit/Pembiayaan ... 29

A. Pembiayaan Murabahah ... 29

B. Pembiayaan Mudharabah ... 33

C. Pembiayaan Musyarakah ... 38

3. Tujuan dan Fungsi Kredit ... 46

B. Pengawasan Kredit ... 46

1. Prosedur Pemberian Kredit ... 46

2. Sistem Pengawasan Kredit ... 54

3. Kredit Bermasalah ... 57

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 64

B. Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA... 65

(6)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 1.1 Jumlah Kredit yang DisalurkanTahun 2013 Sampai 2015 ... 3 Tabel 3.1 Daftar Kolektibilitas Kredit Tahun 2013 Sampai 2015 ... 61

(7)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar 2.1 Logo Perusahaan ... 12

Gambar 2.2 Struktur Organisasi ... 21

Gambar 3.1 Skema Pembiayaan Murabahah ... 30

Gambar 3.2 Skema Pembiayaan Mudharabah ... 37

Gambar 3.3 Skema Pembiayaan Musyarakah... 42

Gambar 3.4 Proses Pengawasan Kredit ... 56

(8)

A. Latar Belakang

Menurut (Kasmir, 2012:3) secara sederhana bank diartikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan usahanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa-jasa bank lainnya. Sedangkan pengertian lembaga keuangan menurut (Kasmir, 2012:3) adalah setiap perusahaan yang bergerak di bidang keuangan dimana kegiatannya apakah hanya menghimpun dana atau hanya menyalurkan dana atau kedua-duanya.

Bank merupakan lembaga keuangan yang dibangun atas dasar kepercayaan.

Fungsi utama sebuah bank menurut (Kasmir, 2008) adalah sebagai perantara keuangan antar masyarakat yang kelebihan dana dengan masyarakat yang kekurangan dana. Salah satu cara penyaluran dana tersebut adalah melalui kebijakan kredit yang dilakukannya, sehingga dengan kata lain kesehatan perbankan akan sangat dipengaruhi oleh risiko kredit.

Pengelolaan risiko yang tidak efektif yang antara lain disebabkan kelemahan dalam penerapan serta pengawasan kebijakan dan prosedur pemberian kredit, dan penilaian kemampuan debitur dalam menyelesaikan kredit. Sistem pengawasan kredit akan dilakukan dalam menjamin kepentingan bank terhadap kredit yang diberikan, maka bank menerapkan sistem pengawasan pemberian kredit yang diawali dengan prosedur permohonan kredit, pengawasan lanjutan setelah kredit diterima debitur

(9)

Di dalam proses pengawasan sebelum pemberian kredit pada debitur, bank meminta laporan-laporan yang diperlukan secara periodik tentang perkembangan usahanya khususnya tentang usaha yang dibiayai oleh bank sehingga bank dapat mengawasi usaha nasabahnya. Pengawasan kredit yang diberikan oleh bank sangat penting artinya bagi bank untuk menjamin kepentingannya terhadap pembayaran kembali kreditnya dan untuk memastikan digunakan sesuai rencana permohonan kredit.

Jika sistem pengawasan pemberian kredit sudah diterapkan dengan baik mulai dari nasabah mengajukan permohonan kredit sampai pelunasan kredit, maka pihak bank akan selalu dapat mengetahui dengan baik kegiatan dan perkembangan usaha nasabahnya sehingga jika persolan yang dihadapi nasabah bank akan segera mengetahui dan berusaha membantu untuk kepentingan bank itu sendiri. Pengawasan kredit mutlak dilaksanakan untuk menghindari kredit macet. Kondisi kredit macet akan terlihat dari Non Performing Loan (NPL) atau tingkat pengembalian kredit yang lebih dari 5% yang merupakan batas toleransi kredit yang tidak tertagih setelah dinyatakan macet, standar ini ditetapkan oleh Bank Indonesia selaku pemegang otoritas pengaturan perbankan di Indonesia.

Berikut ini dapat dilihat jumlah kredit yang disalurkan, kredit macet, dan tingkat NPL pada PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Medan.

(10)

Tabel 1.1

Data Jumlah Kredit yang Disalurkan Tahun 2013 Sampai 2015 Tahun Kredit yang disalurkan Tingkat NPL Kredit Macet

2013 210.099.422 1,12% 1.414.126

2014 253.016.829 1,77% 3.995.504

2015 314.309.785 2,66% 7.157.937

Sumber: PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan (dalam ribuan rupiah) Dari tabel diatas, dapat kita lihat bahwa tingkat NPL dari PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan pada tahun 2013 ke tahun 2014 mengalami peningkatan dan juga mengalami peningkatan pada tahun 2015. Sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP pada tanggal 31 Mei 2004 dikatakan bahwa suatu bank dikatakan baik, jika tingkat NPL <5%. Besarnya kredit macet dari tahun ke tahun disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor Internal (penyebabnya adalah penyimpangan dalam pelaksanaan prosedur perkreditan, itikad kurang baik dari pemilik, pengurus, atau pegawai bank, lemahnya sistem administrasi dan pengawasan kredit serta lemahnya sistem informasi kredit macet). Lalu kemudian Faktor Eksternal (penyebabnya adalah kegagalan usaha debitur, musibah terhadap debitur atau terhadap kegiatan usaha debitur, serta menurunnya kegiatan ekonomi).

Pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan kredit macet terjadi karena Faktor Eksternal, yaitu pada nasabahnya sendiri. Salah satu penyebab kegagalannya dikarenakan menurunnya kegiatan perekonomian nasabah atau lesunya perekonomian si peminjam uang di bank, yaitu usaha yang tidak berjalan sesuai dengan rencananya, maka lambat laut si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada bank.

Sehingga perusahaan banyak yang tutup dan banyak karyawan yang di PHK oleh perusahaan yang bangkrut tersebut. Kemudian banyak rumah-rumah Developer yang

(11)

belum laku terjual, karena nasabah harus membayar uang mukanya, hal ini menyebabkan Developer banyak yang bangkrut karena rumah-rumah belum terjual namun dia harus membayar tagihannya terhadap PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan. Sesuai kebijakan BI terkait FTV (Financing To Value) yaitu uang muka untuk pembiayaan properti, hal tersebut dilakukan untuk mendorong berjalannya fungsi intermediasi perbankan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan perlindungan konsumen. Semakin banyak suatu bank menyalurkan kreditnya, semakin besar pula kemungkinan kredit macet terjadi.

Munculnya kredit bermasalah termasuk di dalamnya kredit macet, pada dasarnya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui suatu proses. Terjadinya kredit macet dapat disebabkan baik oleh pihak kreditur (bank) maupun debitur.

Non Performing Loan (NPL) sangat menentukan dalam penilaian tingkat kesehatan bank, dimana bank yang sangat memiliki nilai NPL lebih dari 5% bisa dikategorikan tidak sehat. Oleh karena itu untuk memelihara kelangsungan usahanya bank perlu meminimalkan potensi kerugian yang akan muncul dikarenakan adanya kredit macet tersebut, salah satunya dengan mengoptimalkan kebijakan-kebijakan bank dalam hal kredit yang tertuang dalam Standar Operasional Perusahaan dan dilakukannya pengawasan dalam hal pemberian kredit.

Oleh sebab itu pemberian kredit pada masyarakat merupakan suatu proses yang memerlukan pertimbangan dan prosedur yang baik dari pimpinan bank untuk menghindari kemungkinan kerugian serta pertimbangan dan prosedur tersebut dipengaruhi oleh ketentuan dari Bank Indonesia dan kebijakan dari kantor pusat itu sendiri.

(12)

Sebelum pemberian kredit seorang pimpinan atau pejabat yang berwenang dalam memutuskan kredit harus memperhatikan beberapa faktor sebagai dasar pertimbangan dalam memberikan kredit seperti : siapa yang menginginkan kredit, untuk apa kredit digunakan, apa dan berapa nilai agunannya, dan bagaimana dan berapa lama kredit akan dikembalikan kepada bank dan beberapa pertimbangan lainnya yang diperoleh Pengawasan kredit adalah usaha lancar yang produktif artinya kredit itu dapat ditarik kembali bersama bunganya sesuai perjanjian yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.

Hal ini penting jika kredit macet berarti kerugian bagi bank bersangkutan. Oleh Karena itu, penyaluran kredit harus berdasarkan prinsip kehati-hatian dengan sistem pengendalian yang baik dan benar. Dengan demikian betapa pentingnya sektor perkreditan bagi kehidupan perbankan, sehingga sangatlah dibutuhkan pola pengawasan kredit yang terampil dan memadai.

PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan sebagai objek penelitian penulis merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang perbankan. Perusahaan perseroan yang sebagian sahamnya dimiliki berdasarkan syariah, memberikan layanan jasa perbankan di wilayah Sumatera Utara. Berbagai jasa pelayanan perbankan telah dilaksanakan oleh Bank BNI Syariah dalam upaya peningkatan kualitas, termasuk di dalamnya penyaluran kredit. Adapun jenis-jenis kredit tersebut antara lain, kredit industri, kredit perdagangan, kredit pertanian, kredit investasi, kredit modal kerja dan lain sebagainya.

Pengawasan yang dilakukan oleh PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan merupakan hak yang penting dalam usaha perbankan tujuan dari pengawasan

(13)

pemberian kredit ini menjaga, mengamankan dan mengantisipasi terjadinya penyimpangan yang dapat menjadikan kredit bermasalah dan jika tidak ditindak lanjuti akan menyebabkan kerugian bagi bank. Serta dengan adanya sistem ini, pihak bank dapat mengetahui dengan cepat munculnya potensi kredit bermasalah yang dapat merugikan bank.

Berdasarkan kenyataan yang ada, maka setiap bank selalu berusahan untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap kredit dan pelayanan kepala nasabah agar tercapai tujuan yang diharapkan melihat betapa pentingnya keefektifan sistem pengawasan kredit yang nantinya akan diukur dengan tingkat NPL (Non Performing Loan), maka penulis tertarik untuk melakukan dan membahas penelitian dengan judul

“Prosedur Pemberian Kredit Pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka yang menjadi perumusan masalah dalam tugas akhir ini adalah :

Apakah sistem pemberian kredit pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan telah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku?

C. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui apakah sistem prosedur pemberian kredit pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan telah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

(14)

D. Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah :

1. Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan mengenai prosedur pemberian kredit pada suatu bank.

2. Bagi PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan, sebagai bahan masukan bagi praktisi perbankan dalam hal prosedur pemberian kredit pada perusahaan.

3. Bagi pihak lain, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pihak yang ingin meneliti atau membahas lebih lanjut mengenai prosedur pemberian kredit.

(15)

A. Sejarah dan Kegiatan Operasional Perusahaan 1. Sejarah Perusahaan

Tempaan krisis moneter tahun 1997 membuktikan ketangguhan sistem perbanksan syariah. Prinsip syariah dengan tiga pilarnya yaitu adil, transparan, dan maslahat mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap sistem perbankan yang lebih adil. Dengan berlandaskan pada Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, pada tanggal 29 April 2000 didirikan Unit Usaha Syariah (UUS) BNI dengan 5 kantor cabang di Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara, dan Banjarmasin.

Selanjutnya UUS BNI terus berkembang menjadi 28 Kantor Cabang dan 31 Kantor Cabang Pembantu.

Di dalam Corporate Plan UUS BNI tahun 2000 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off tahun 2009. Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 juni 2010 dengan beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS). Realisasi waktu spin off bulan juni 2010 tidak terlepas dari faktor eksternal berupa aspek regulasi yang kondusif yaitu dengan diterbitkannya UU No. 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Disamping itu, komitmen Pemerintah terhadap pengembangan perbankan syariah semakin kuat dan kesadaran terhadap keunggulan produk perbankan syariah juga semakin meningkat.

(16)

Sampai dengan September 2013 jumlah cabang BNI Syariah mencapai 64 Kantor Cabang, 161 Kantor Cabang Pembantu, 17 Kantor Kas, 22 Mobil Layanan Gerak, dan 16 Payment Point.

PT. Bank BNI Syariah Kantor Cabang Medan merupakan cabang yang ke 11 dan didirikan pada tanggal 15 Agustus 2002 yang diresmikan oleh Agoest Soebhakti, Direktur Ritel Bank Negara Indonesia.

PT. Bank BNI Syariah adalah satu dari beberapa cara Bank BNI untuk melayani masyarakat yang menginginkan sistem perbankan yang berdasarkan prinsip syariah dalam rangka mewujudkan Bank BNI sebagai Universal Banking.

PT. Bank BNI Syariah merupakan unit tersendiri yang secara structural tidak terpisahkan dengan unit-unit lain di Bank BNI yang bergerak khusus di perbankan syariah. Namun demikian dalam operasional pembukaannya sama sekali terpisah dengan Bank BNI yang melakukan kegiatan umum, tanpa mengurangi fasilitas pelayanan yang ada di Bank BNI.

Alasan pembukaan Cabang Syariah yaitu :

a. Menyediakan layanan perbankan yang lengkap untuk mewujudkan BNI sebagai Universal Banking.

b. Berdasarkan data Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebanyak 30%

masyarakat Indonesia menolak sistem bunga.

c. Landasan Operasional Perbankan Syariah sudah kuat.

d. Berdasarkan hasil survey, respon dan kepercayaan masyarakat yang besar atas kehadiran Bank Syariah.

(17)

Adapun berdirinya PT. Bank BNI Syariah kantor Cabang Medan berdasarkan ketentuan dan aturan yang berkaitan dengan Perbankan Syariah adalah sebagai berikut:

a. Undang-Undang No. 10 Tahun 1998

b. Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 12/41/KEP.GB/2010 dan No. 32/23/KEP/DIR Tanggal 12 Mei 1999 Tentang Bank Umum berdasarkan Prinsip Syariah, perubahan kegiatan usaha, dan pembukaan Kantor Cabang Syariah.

c. Peraturan Bank Indonesia No. 2/7/PBI/2000 Tanggal 27 Februari 2000 Tentang Giro Wajib Minimum dalam Rupiah dan Valuta Asing bagi Bank Umum yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip Syariah.

d. Peraturan Bank Indonesia No. 2/14/PBI/2000 Tanggal 9 Juni 2000 Tentang perubahan atas Peraturan Bank Indonesia No. 1/3/PBI/2000 Tentang penyelenggaraan kliring local dan penyelesaian akhir transaksi pembayaran antara bank atas kliring lokal.

e. Peraturan Bank Indonesia No. 2/8/PBI/2000 Tanggal 23 Juni 2000 tentang pasar uang antar bank berdasarkan prinsip Syariah.

f. Peraturan Bank Indonesia No. 2/9/PBI/2000 Tanggal 23 Juni 2000 Tentang Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI).

g. Buku Petunjuk Pendiri Bank Indonesia.

(18)

2. Visi, Misi, dan Tujuan Bank BNI Syariah Cabang Medan

Visi BNI Syariah Cabang Medan adalah “Menjadi bank syariah pilihan masyarakat yang unggul dalam layanan dan kinerja”.

Misi BNI Syariah Cabang Medan:

a. Memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan peduli pada kelestarian lingkungan.

b. Memberikan solusi bagi masyarakat untuk kebutuhan jasa perbankan syariah.

c. Memberikan nilai investasi yang optimal bagi investor.

d. Menciptakan wahana terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi bagi pegawai sebagai perwujudan ibadah.

e. Menjadi acuan tata kelola perusahaan yang amanah.

Tujuan Perusahaan

Sedangkan tujuan dari Bank BNI Syariah Cabang Medan adalah untuk menampung keinginan masyarakat yang ingin menggunakan Bank Syariah serta untuk mempercepat pengembangan kegiatan usaha Syariah dengan memanfaatkan jaringan Bank BNI Syariah Cabang Medan. Serta dalam rangka menjadi Universal Banking maka perlu mengakomodir kebutuhan masyarakat yang ingin menyalurkan keuangannya melalui Perbankan Syariah serta sebagai alternatif dalam menghadapi krisis yang mungkin timbul di kemudian hari, mengingat usaha berdasarkan prinsip syariah tidak terkena negatif spread seperti yang dialami bank-bank Konvensional.

(19)

3. Logo Perusahaan

Gambar 2.1 Logo Perusahaan

Sumber : PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan Adapun deskripsi dari Logo BNI Syariah adalah sebagai berikut : Huruf BNI

Huruf “BNI” dibuat dalam warna turquoise baru, untuk mencerminkan kekuatan, otoritas, kekokohan, keunikan dan citra yang lebih modern. Huruf tersebut dibuat secara khusus untuk menghasilkan struktur yang orisinal dan unik.

Simbol “46”

Angka “46” merupakan simbolisasi tanggal kelahiran BNI, sekaligus mencerminkan warisan sebagai bank pertama di Indonesia. Dalam logo ini, angka

“46” diletakkan secara diagonal menembus kotak berwarna jingga untuk menggambarkan BNI baru yang modern.

Palet Warna

Palet warna korporat telah didesain ulang, namun tetap mempertahankan warna korporat yang lama, yakni turquoise dan jingga. Warna turquoise yang digunakan pada logo baru ini lebih gelap, kuat mencerminkan citra yang lebih stabil dan kokoh. Warna jingga yang baru lebih cerah dan kuat, mencerminkan citra lebih percaya diri dan segar.

Logo “46” dan “BNI” mencerminkan tampilan yang modern dan dinamis.

Sedangkan penggunaan warna korporat baru memperkuat identitas tersebut. Hal ini akan membantu BNI melakukan diferensiasi di pasar perbankan melalui identitas yang unik, segar dan modern.

(20)

Tulisan Syariah

Tulisan Syariah pada logo ini melambangkan Asas yang dipakai asas Islam dan memberikan perbedaan yang dapat menarik minat nasabah dalam menabung.

4. Produk Perusahaan

PT. Bank BNI syariah menghadirkan produk-produk yang menjawab kebutuhan nasabah mulai dari individu, usaha kecil, hingga institusi, dilengkapi dengan kemudahan, fleksibilitas dan fasilitas untuk kenyamanan dan kemudahan nasabah. Apapun segala kebutuhan nasabah mulai dari produk pembiayaan, produk investasi, produk simpanan, dan jasa-jasa perbankan lainnya sesuai prinsip syariah yang dijalankan secara professional dibawah pengawasan Dewan Pengawas Syariah dan Bank Indonesia.

a. Produk Penghimpun dana, seperti:

1. Tabungan iB Haji Hasanah

Tabungan iB Haji Hasanah adalah bentuk investasi dana untuk perencanaan haji yang dikelola berdasarkan prinsip syariah dengan akad Mudharabah dengan sistem setoran bebas atau bulanan, bermanfaat sebagai sarana pembayaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).

2. Tabungan iB Hasanah

Tabungan iB Hasanah adalah bentuk investasi dana yang dikelola berdasarkan prinsip syariah dengan Akad Mudharabah atau simpanan dana yang menggunakan Akad Wadiah yang memberikan berbagai fasilitas serta kemudahan bagi nasabah dalam mata uang rupiah.

(21)

3. Tabungan iB Prima Hasanah

Tabungan iB Prima Hasanah adalah bentuk investasi dana yang dikelola berdasarkan prinsip syariah dengan Akad Mudharabah yang memberikan berbagai fasilitas serta kemudahan bagi nasabah segmen high networth individuals secara perorangan dalam mata uang rupiah dan bagi hasil yang lebih kompetitif.

4. Tabungan iB Tapenas Hasanah

Tabungan iB Tapenas Hasanah adalah tabungan yang dikelola berdasarkan prinsip Mudharabah merupakan tabungan berjangka, didesain untuk membantu perencanaan masa depan nasabah yang dilengkapi dengan asuransi jiwa bebas premi.

5. Tabungan iB Bisnis Hasanah

Tabungan iB Bisnis Hasanah adalah tabungan dengan prinsip Mudharabah untuk usaha kecil atau usaha perorangan dengan mutasi rekening yang lebih detail dalam buku tabungan dilengkapi dengan kartu ATM gold dan fasilitas executive longue.

6. TabunganKu iB

TabunganKu iB adalah produk simpanan dana dari Bank Indonesia yag dikelola sesuai dengan prinsip syariah dengan Akad Wadiah dalam mata uang rupiah untuk meningkatkan kesadaran menabung masyarakat.

7. Deposito iB Hasanah

Deposito iB Hasanah (BNI Syariah Deposito) adalah investasi berjangka yang dikelola berdasarkan prinsip syariah yang ditujukan

(22)

bagi nasabah perorangan dan perusahaan, dengan menggunakan prinsip mudharabah.

8. Giro iB Hasanah

Giro iB Hasanah (BNI Syariah Giro) adalah titipan dana dari pihak ketiga yang dikelola berdasarkan prinsip syariah dengan akad wadiah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan Cek, Bilyet Giro, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindah bukuan.

b. Produk Pembiayaan, seperti:

1. Flexy Syariah

Adalah fasilitas pembiayaan konsumtif bagi pegawai/karyawan perusahaan/lembaga/instansi yang bekerjasama dengan BNI Syariah dengan fixed income yang diberikan atas dasar akad murabahah (jual beli) untuk pebelian barang, misalnya emas, kendaraan, barang elektronik dll. Dalam kerja sama ini perusahaan melakukan pendebatan gaji untuk kepentingan angsuran pegawai.

2. iB Hasanah Card

Kartu pembiayaan yang berfungsi seperti kartu kredit berdasarkan prinsip syariah yaitu dengan sistem perhitungan biaya bersifat fix, adil, transparan, dan kompetitif tanpa perhitungan bunga.

3. Pembiayaan Griya iB Hasanah

Fasilitas pembiayaan konsumtif dengan akad murabahah (jual beli) untuk membeli, membangun, merenovasi rumah/ruko ataupun untuk membeli kapling siap bangun (KSB) dengan sistem angsuran tetap

(23)

hingga akhir masa pembiayaan sehingga memudahkan nasabah mengelola keuangannya.

4. Pembiayaan Haji iB Hasanah

Fasilitas pengurusan pendaftaran ibadah haji melalui penyediaan talangan setoran awal untuk mendapatkan nomor porsi sesuai biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) yang diatur kementrian agama dengan menggunakan akad ijarah

5. Rahn Emas iB Hasanah

Merupakan solusi bagi nasabah yang membutuhkan dana cepat dengan system penjaminan berupa emas di dukung administrasi dan proses persetujuan yang mudah.

6. Multijasa iB Hasanah

Merupakan fasilitas pembiayaan dengan prinsip ijarah diberikan kepada individu untuk kebutuhan jasa dengan jaminan fixed asset atau kendaraan bermotor.

7. Multiguna iB Hasanah

Fasilitas pembiayaan konsumtif bagi karyawan perusahaan/ lembaga/

instansi atau professional berlandaskan akad murabahah untuk pembelian barang dengan agunan berupa fixed asset.

8. CCF iB Hasanah

Adalah pembiayaan yang dijamin dengan cash, yaitu dijamin dengan Simpanan dalam bentuk Deposito, Giro, dan Tabungan yang diterbitkan BNI Syariah.

(24)

9. Wirausaha iB Hasanah

Fasilitas pembiayaan produktif berlandaskan akad murabahah, musyarakah atau mudharabah yang dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan usaha produktif (modal kerja dan investasi) bagi UKM (usaha kecil dan menengah) sesuai prinsip syariah.

10. Tunas Usaha iB Hasanah

Fasilitas pembiayaan modal kerja dan atau investasi berlandaskan akad murabahah yang diberikan untuk usaha produktif yang feasible namun belum bankable dengan prinsip syariah.

11. Linkage Program iB Hasanah

Adalah fasilitas pembiayaan dimana BNI Syariah sebagai pemilik dana menyalurkan pembiayaan dengan pola executing kepada Lembaga Keuangan Syariah (LKS) (BMT, BPRS, KJKS, dll) untuk diteruskan ke end user (pengusaha mikro, kecil, dan menengah syariah).

Kerjasama dengan LKS dapat dilakukan secara langsung ataupun melalui lembaga pendamping.

12. Kopker / Kopeg iB Hasanah

Adalah fasilitas pembiayaan mudharabah produktif dimana BNI Syariah sebagai pemilik dana menyalurkan pembiayaan dengan pola executing kepada Koperasi Karyawan (Kopkar) / Koperasi Pegawai (Kopeg) untuk disalurkan secara prinsip syariah ke end user/ pegawai.

(25)

13. Usaha Kecil iB Hasanah

Fasilitas pembiayaan syariah berlandaskan akad murabahah, musyarakah, mudharabah yang digunakan untuk tujuan produktif berladaskan prinsip-prinsip pembiayaan syariah.

14. Usaha Besar iB Hasanah

Adalah pembiayaan syariah yang digunakan untuk tujuan produktif kepada pengusaha berbadan hukum skala menengah dan besar dalam mata uang rupiah maupun valas.

15. Sindikasi iB Hasanah

Adalah pembiayaan yang diberikan oleh dua atau lebih Lembaga Keuangan untuk membiayai suatu proyek / usaha dengan syarat-syarat dan ketentuan yang sama, menggunakan dokumen yang sama dan di administrasikan oleh agen yang sama pula.

16. Multifinance iB Hasanah

Adalah penyaluran pembiayaan langsung dengan pola executing kepada multifinance untuk usahanya di bidang perusahaan pembiayaan sesuai dengan prinsip syariah.

c. Produk Jasa Dan Layanan 1. Payroll gaji

Adalah layanan pembayaran gaji yang dilakukan oleh BNI Syariah atas dasar perintah dari perusahaan pembayar gaji untuk mendebet rekeningnya ke rekening karyawannya.

(26)

2. Cash Management

Adalah jasa pengelolaan seluruh rekening seperti corporate internet banking yang dapat digunakan oleh perusahaan/ lembaga/ instansi.

3. Payment Center

Adalah kerjasama BNI Syariah dengan perusahaan dalam hal jasa penerimaan pembiayaan untuk kepentingan perusahaan. Jasa ini dapat digunakan untuk penerimaan pembayaran usng kuliah/ tagihan listrik dan sebagainya.

B. Struktur Organisasi Perusahaan

Struktur organisasi adalah kerangka dasar yang mempersatukan fungsi- fungsi suatu perusahaan yang mengakibatkan timbulnya hubungan-hubungan antara personil yang melaksanakan fungsi atau tugas masing-masing. Selain itu, struktur organisasi juga merupakan gambaran tentang pembagian bidang kegiatan dan pendelegasian tugas dan wewenang.

Tujuan dari struktur organisasi perusahaan adalah untuk mempermudah pembentukan dan penetapan orang-orang atau personil-personil dari suatu perusahaan, selain itu juga untuk memperjelas bidang-bidang dari tiap personil sehingga tujuan perusahaan dapat dicapai dan tercipta keseluruhan yang baik dalam lingkungan kerja suatu perusahaan.

Struktur organisasi diharapkan dapat memberikan gambaran pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab. Untuk menggerakkan organisasi tersebut dibutuhkan personil yang memegang jabatan tertentu dalam suatu organisasi,

(27)

dimana masing-masing personil diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab sesuai dengan jabatannya.

Pembentukan struktur organisasi perusahaan harus dibuat bagan/ skema agar pimpinan perusahaan dapat mengetahui siapa saja akan melaksanakan pekerjaan dan tanggung jawab serta wewenang yang ada pada struktur organisasi pada perusahaan tersebut.

Berikut gambar Struktur Organisasi PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan pada halaman berikutnya.

(28)
(29)

C. Job Description

Berikut ini adalah Job Description dari setiap bagian pada Struktur Organisasi PT. Bank BNI Syariah Cabang medan yang terdiri dari:

1. Branch Manager (Manager Cabang)

a. Menetapkan rencana kerja dan anggaran, sasaran usaha dan tujuan yang akan dicapai, strategi dan rencana program pelaksanaan.

b. Menyelia (mengarahkan,mengendalikan dan mengawasi) secara langsung unit-unit kerja menurut bidang tugasnya (pelayanan nasabah, pengembangan dan pengendalian usaha serta pengelolaan operasional dan administrasi) di area/wilayah kerjanya sejalan dengan sistem dan prosedur yang berlaku.

c. Memasarkan produk dan jasa-jasa BNI Syariah kepada nasabah serta menggali calon nasabah potensial dalam rangka meningkatkan bisnis dan menguasai pangsa pasar di daerah kerjanya.

2. Operational Manager

a. Memberi dukungan kepada pemimpin cabang syariah dan bekerjasama dalam hal:

1. Menyusun rencana kerja dan anggaran, sasaran usaha dan penetapan target pelayanan dan tujuan-tujuan lain yang akan dicapai.

2. Mengorganisasikan serta mengelola SDM yang ada di unit Front Office dan Back Office.

3. Pelaksanaan penerbitan garansi bank (full over).

(30)

4. Penyediaan informasi dan pelayanan transaksi giro wadiah, tabungan mudharabah, deposito mudharabah dan produk BNI Syariah lainnya kepada nasabah.

5. Memberikan jasa pelayanan BNI Syariah kepada nasabah.

6. Pelayanan semua jenis transaksi kas tunai dan pemindahan.

b. Menyelia (mengarahkan, mengendalikan dan mengawasi) secara langsung seluruh unit-unit operasional yang berada di bawahnya sejalan dengan prosedur dan kebijakan yang ditetapkan.

c. Memastikan berjalannya program-program peningkatan budaya pelayanan (service culture enhancement).

3. Business Manager

a. Merumuskan strategi pemasaran cabang.

b. Memastikan tercapainya target pembiayaan cabang.

c. Memastikan tercapainya target pendanaan cabang.

d. Memastikan tercapainya target fee based income cabang.

e. Memastikan kelayakan nota analisa pembiayaan.

f. Memastikan kualitas aktiva produktif dalam kondisi terkendali dan pelaksanaan pengawalan terhadap seluruh nasabah cabang.

g. Memastikan penyelamatan seluruh pembiayaan bermasalah di cabang.

h. Memastikan ketepatan pembiayaan seluruh kewajiban nasabah cabang.

i. Memastikan implementasi standar pelayanan prima terhadap nasabah prioritas.

(31)

4. Customer Service Head

a. Menyelia langsung seluruh kegiatan pelayanan yang dilakukan asisten pelayanan nasabah antara lain meliputi:

1. Pembukaan dan pengelolaan rekening, transaksi produk jasa dalam maupun luar negeri, penerbitan BNI card, phone plus, serta melayani transaksi pencairan deposito dan lain-lain.

2. Melakukan refferel dan crosseling kepada walk in customer serta mengarahkan nasabah untuk menggunakan saluran berbiaya rendah (ATM, phone plus) kepada nasabah yang akan datang.

b. Bertanggung jawab untuk mengontrol dan memecahkan permasalahan yang ada, mengelola kepegawaian di unit yang dikelolanya, memeriksa pelaporan-pelaporan yang dibuat unitnya.

c. Mengupayakan berjalannya program-program peningkatan budaya pelayanan (service culture enhancement).

5. Sales head

a. Menyelia langsung kegiatan:

1. Memasarkan produk dan jasa perbankan kepada nasabah/calon nasabah.

2. Mengelola permohonan pembiayaan ritel (produktif, konsumtif).

3. Pemantauan nasabah dan kolektibilitas.

4. Mengelola kualitas portepel pembiayaan dan penyelesaian pembiayaan bermasalah.

5. Melayani dan mengembangkan hubungan dengan nasabah non ritel.

(32)

6. Melakukan penelitian potensi ekonomi daerah dan menyusun peta bisnis.

b. Mendukung dan mensupport berjalannya program-program peningkatan budaya pelayanan (service cultur enhancement).

6. Back Office Head

a. Operational Assistant

1. Mencatat pembukuan transaksi cabang.

2. Mencatat proses transaksi kliring.

3. Mencatat proses permohonan gadai/ kepemilikan emas dan CCF.

4. Menginput dan pemantauan rekening.

5. Memproses transaksi pencairan pembiayaan, pendebetan angsuran, dan pelunasan

b. Administrasi Assistant

1. Mengelola laporan keuangan dan kebenaran pembukuan transaksi- transaksi cabang.

2. Mengelola administrasi dan data kepegawaian cabang.

3. Mengelola urusan pengadaan cabang dan urusan umum lainnya.

(33)

A. Kredit

1. Pengertian Kredit

Menurut (kasmir, 2012:112) Dalam bahasa latin kredit disebut “credere”

yang artinya percaya. Maksudnya si pemberi kredit percaya kepada si penerima kredit, bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai perjanjian. Sedangkan bagi si penerima kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya. Oleh karena itu, untuk meyakinkan bank bahwa si nasabah benar-benar dapat dipercaya, maka sebelum kredit diberikan terlebih dahulu bank mengadakan analisis kredit. Analisis kredit mencakup latar belakang nasabah atau perusahaan, prospek usahanya, jaminan yang diberikan, serta faktor- faktor lainnya. Tujuan analisis ini adalah agar bank yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar aman.

Pengertian kredit menurut Undang-Undang Perbankan No. 10 Tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Menurut (Rivai dan Veithzal, 2007:4), “kredit adalah penyerahan barang, jasa, atau uang dari satu pihak (kreditur/atau pemberi pinjaman) atas dasar kepercayaan kepada pihak lain (nasabah atau pengutang/borrower) dengan janji

(34)

membayar dari penerima kredit kepada pemberi kredit pada tanggal yang telah disepakati kedua belah pihak”.

Menurut (Komaruddin, 2004:151) menyebutkan, “kredit adalah penyediaan uang atau tagihan (yang disamakan dengan uang) berdasarkan kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yang dalam hal ini peminjam berkewajiban melunasi kewajibannya setelah jangka waktu tertentu dengan (biasanya) sejumlah bunga yang ditetapkan lebih dahulu”. Berdasarkan pengertian-pengertian kredit di atas, dapat diketahui bahwa kredit mempunyai beberapa unsure menurut (kasmir, 2012:114), yaitu:

1. Kepercayaan

Kepercayaan merupakan suatu keyakinan bagi si pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan (baik berupa uang, barang atau jasa) benar-benar diterima kembali di masa yang akan datang sesuai jangka waktu kredit.

2. Kesepakatan

Di samping unsur percaya di dalam kredit juga mengandung unsur kesepakatan antara si pemberi kredit dengan si penerima kredit.

Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian di mana masing- masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing.

Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam akad kredit dan ditandatangani kedua belah pihak sebelum kredit dikucurkan.

3. Jangka Waktu

Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka

(35)

waktu ini tersebut bisa berbentuk jangka pendek (di bawah 1 tahun), jangka menengah (1 sampai 3 tahun) atau jangka panjang (di atas 3 tahun).

Jangka waktu merupakan batas waktu pengembalian angsuran kredit yang sudah disepakati kedua belah pihak. Untuk kondisi tertentu jangka waktu ini dapat diperpanjang sesuai kebutuhan.

4. Risiko

Akibat adanya tenggang waktu, maka pengembalian kredit akan memungkinkan suatu risiko tidak tertagihnya atau macet pemberian suatu kredit. Semakin panjang suatu jangka waktu kredit, maka semakin besar risikonya, demikian pula sebaliknya. Risiko ini menjadi tanggungan bank, baik risiko yang disengaja oleh nasabah, maupun risiko yang tidak segaja, misalnya karena bencana alam atau bangkrutnya usaha nasabah tanpa ada unsur kesengajaan lainnya, sehingga nasabah tidak mampu lagi melunasi kredit yang diperolehnya.

5. Balas Jasa

Bagi bank balas jasa merupakan keuntungan atau pendapatan atas pemberian suatu kredit. Dalam bank jenis konvensional balas jasa kita kenal dengan nama bunga. Di samping balas jasa dalam bentuk bunga bank juga membebankan kepada nasabah biaya administrasi kredit yang juga merupakan keuntungan bank. Bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah balas jasanya ditentukan dengan bagi hasil.

(36)

2. Jenis-Jenis Kredit/Pembiayaan

Jenis-jenis pembiayaan yang ada pada PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan adalah sebagai berikut:

A. Pembiayaan Murabahah 1. Pengertian

Murabahah adalah jual-beli barang sebesar harga pokok barang ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati. Dalam transaksi Murabahah pembayaran dapat dilakukan secara cicilan/angsuran tetap selama masa pembiayaan.

Dokumen yang diperlukan pada pembiayaan Murabahah:

1. Surat Keputusan Pembiayaan

2. Surat Keterangan /Call Memo bahwa bank telah membeli barang dari supplier. Jika jual-beli diwakilkan harus ada surat kuasa (wakalah), dan surat pernyataan dari penerima kuasa telah membeli barang.

3. Akad Pembiayaan Murabahah antara bank dengan pembeli/nasabah.

4. Perjanjian Pengikatan Agunan

5. Surat Permohonan Realisasi Murabahah 6. Voucher Pembukuan

7. Tanda Terima Barang/bukti pembelian 8. Polis Asuransi

2. Tujuan Pembiayaan

a. Untuk membiayai kebutuhan investasi maupun modal kerja nasabah, untuk pengadaan barang baik untuk sektor pertanian, perdagangan, maupun industri.

(37)

b. Untuk pembelian barang konsumsi, misal: rumah tinggal, mobil, motor, perabot rumah tangga dll.

c. Untuk melayani nasabah yang melakukan impor barang dengan menggunakan Letter of Credit.

3. Mekanisme Pembiayaan

Dengan prinsip murabahah, Bank BNI Syariah membeli barang terlebih dahulu, kemudian menjualnya kepada nasabah dengan mengambil margin/keuntungan. Jadi bank harus terlebih dahulu memiliki barang sebelum terjadinya akad murabahah dengan nasabah, sehingga harus terdapat bukti pemesanan/pembelian barang, namun jika diwakilkan kepada nasabah maka harus terdapat surat kuasa (wakalah) disertai bukti pemesanan/pembelian barang.

Negoisasi & Persyaratan Akad Murabahah

…… Akad Wakalah………

Bayar (Cicilan)

Gambar 3.1 Skema Pembiayaan Murabahah Sumber: PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan PT. Bank BNI

Syariah Nasabah

3

2.b.

1

1

5

Pemasok/Penjual

2.a.

2 2.a.

1

2.b.

2 4

(38)

Keterangan:

1. Bank dan nasabah melakukan negoisasi untuk melakukan transaksi pembiayaan Murabahah, dijelaskan di dalamnya jenis barang yang akan diperjual-belikan, harganya (termasuk jumlah keuntungan yang diminta bank) dan jangka waktu pembayaran dan hal-hal lain yang diperlukan.

Hingga pada akhirnya BNI Syariah memberikan persetujuan pembiayaan dengan mengeluarkan Surat Keputusan Pembiayaan (SKP).

2. a. Tanpa wakalah; bank melakukan pesanan (membeli secara tunai/naqdan) barang kepada supplier sesuai dengan spesifikasi barang yang dikehendaki oleh nasabah, dengan melakukan akad jual-beli (surat pernyataan/call memo). Nasabah tidak diperkenankan membeli barang secara langsung tanpa wakalah dari bank.

Dalam pembelian barang ini bank dapat mewakilkan secara tertulis kepada nasabah ubtuk membeli barang untuk dan atas nama bank, dalam bentuk akad Wakalah/Surat Kuasa yang terpisah dari akad murabahah, atau bank dapat langsung membeli kepada supplier.

Untuk menghindarkan kesan pembiayaan murabahah diberikan dalam bentuk uang, maka apabila ada nota kredit ke rekening nasabah, agar dalam akad wakalah juga dicantumkan klausul wakalah agar meliputi kuasa untuk membeli barang dan kuasa untuk membayar.

b. Dengan akad Wakalah; dalam pembelian barang ini bank dapat mewakilkan secara tertulis kepada nasabah untuk membeli barang untuk dan atas nama bank, dalam bentuk Akad Wakalah/Surat Kuasa yang terpisah dari akad murabahah.

(39)

Selanjutnya nasabah melaksanakan kuasa yang diberikan oleh bank untuk melakukan akad pembelian barang kepada supplier sebelum melakukan penandatanganan akad murabahah.

Untuk menghindarkan kesan pembiayaan murabahah diberikan dalam bentuk uang, maka apabila ada nota kredit ke rekening nasabah, agar dalam akad wakalah juga dicantumkan klausul wakalah untuk melakukan pembayaran. Dengan demikian dalam akad wakalah agar meliputi kuasa untuk membeli barang dan kuasa untuk membayar.

3. Bank selanjutnya menjual barang ke nasabah pada harga yang telah disepakati bersama yaitu harga perolehan ditambah margin/keuntungan.

Bank dan nasabah selanjutnya menandatangani Akad Pembiayaan Murabahah sebesar nominal harga jual untuk dilunasi dalam jangka waktu yang telah disepakati bersama.

4. Barang yang dibeli dikirim oleh penjual kepada nasabah, dengan persetujuan bank.

5. Nasabah melaksanakan pembayaran secara cicilan/angsuran kepada bank.

Urutan penandatanganan akad agar memenuhi sebagai berikut:

1. Jika pembelian barang tidak diwakilkan kepada nasabah:

SKP -> pembelian barang oleh bank -> Akad Pembiayaan Murabahah 2. Jika pembelian barang diwakilkan kepada nasabah:

SKP -> Surat Kuasa membeli barang (wakalah) kepada nasabah ->

pembelian barang oleh nasabah mewakili bank -> Akad Murabahah.

(40)

Urutan dimaksud tidak boleh terbalik/tertukar pada saat praktek murabahah dan dituangkan dalam Berita Acara Penandatanganan Akad. Dalam akad murabahah harus menjelaskan secara spesifik barang yang akan dibeli seperti misalnya akad murabahah renovasi rumah untuk pembelian bahan bangunan sebagaimana dirinci jenis dan jumlah barang agunan, sedangkan untuk pembelian perabotan rumah agar didalam akad dirinci jenis dan jumlahnya.

4. Uang Muka

a. Dalam proses jual-beli bank dapat meminta uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan.

b. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.

c. Jika uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.

d. Uang muka yang diserahkan oleh nasabah adalah bagian dari pembiayaan yang diberikan, namun uang muka dimaksud dapat pula berupa self financing nasabah atau merupakan bagian risiko yang harus ditanggung nasabah.

e. Besarnya uang muka yang harus disediakan oleh nasabah ditentukan sesuai dengan jenis-jenis pembiayaan murabahah.

B. Pembiayaan Mudharabah 1. Pengertian:

Pembiayaan Mudharabah adalah pembiayaan dalam bentuk kerja sama suatu usaha antara bank yang menyediakan seluruh modal dan nasabah yang

(41)

bertindak selaku pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam akad, sedangkan kerugian ditanggung sepenuhnya oleh bank kecuali jika nasabah melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau menyalahi perjanjian.

Nasabah mengembalikan dana bank berikut bagi hasil yang telah disepakati sebelumnya baik secara bertahap maupun sekaligus.

2. Tujuan Pembiayaan

Pembiayaan Mudharabah dapat digunakan untuk suatu proyek atau usaha produktif.

3. Risiko

a. Guna memitigasi risiko, bank dalam pembiayaan ini harus meminta:

1. Agunan sesuai ketentuan yang berlaku saat ini.

2. Mensyaratkan bahwa penggantian agaunan harus mendapat persetujuan bank.

3. Bank dapat mensyaratkan rasio maksimal antara biaya operasi dibandingkan dengan pendapatan operasional misalnya membandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis atau berdasarkan rata-rata realisasi periode sebelumnya.

4. Untuk mengetahui atau mendeteksi penyimpangan cash flow oleh nasabah, perlu dilakukan pemeriksaan mendadak maupun monitoring secara periodik terhadap pos-pos dalam laporan keuangan sehingga akan dapat diketahui aliran cash flow nasabah yang bersangkutan.

Disamping itu dapat pula dipersyaratkan adanya audited financial statement.

(42)

5. Untuk mencegah adanya biaya yang tidak dapat dikontrol, bank dapat mensyaratkan minimal profit margin yang dikehendaki.

6. Bank dapat menentukan kriteria atas wan prestasi mudharib.

b. Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pembiayaan Mudharabah adalah:

1. Karakter nasabah benar-benar diketahui baik misalnya verifikasi dari beberapa rekan bisnisnya, atau yang bersangkutan telah beberapa kali menikmati pembiayaan di BNI Syariah dan selalu diselesaikan dengan baik.

2. Bisnis nasabah harus diketahui dengan benar karena akan sangat berpengaruh pada pengembalian pembiayaan dan untuk menentukan langkah monitoring yang tepat.

3. Pemberian pembiayaan Mudharabah harus diberikan secara selektif dan diupayakan yang berbasis kontrak kerja (Contact Basis) serta jangka waktunya pendek.

4. Dalam akad pembiayaan, unsur kelalaian nasabah harus benar-benar jelas dan ditegaskan, misalnya bahwa nasabah lalai apabila:

i. Tidak menyampaikan laporan keuangan (Neraca, Perhitungan Rugi/Laba dan Aktivitas Keuangan) secara teratur.

ii. Tidak melakukan pembukuan secara terpisah dan transparan atas dana dan kegiatan yang dibiayai secara Mudharabah.

iii. Melakukan penyimpangan pembiayaan tanpa seizin tertulis dari bank.

iv. Melakukan investasi dan penyertaan tanpa seizin tertulis dari Bank.

(43)

v. Melakukan pengeluaran biaya-biaya yang tidak wajar dan diluar kepentingan usaha.

vi. Melakukan perbuatan melanggar hukum yang dapat menyebabkan kegiatan usaha menjadi terganggu.

vii. Menunda-nunda pembayaran pokok dan atau bagi hasil dengan sengaja.

viii. Syarat dan ketentuan lain sesuai karakter bisnis nasabah.

5. Cara menghitung bagi hasil berdasarkan:

i. Net Revenue Sharing ii. Profit and Loss Sharing

6. Bank dapat mengubah Proyeksi Bagi Hasil (PBH) berdasarkan kesepakatan dengan nasabah apabila terdapat perubahan atas kondisi ekonomi makro, pasar dan politik yang mempengaruhi usaha nasabah.

4. Mekanisme Pembiayaan

Mekanisme pembiayaan mudharabah dapat digambarkan sebagai berikut:

(44)

4

1

2

2a 2b

3a 3b

3a.1 3b.2

3b.1 3a.1

Gambar 3.2 Skema Pembiayaan Mudharabah Sumber: PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan

Penjelasan:

1. Nasabah pembiayaan mengajukan proposal proyek kepada BNI Syariah.

Bank mempelajari proposal tersebut untuk dilakukan analisa pembiayaan hingga terdapat keputusan apakah disetujui atau tidak.

2. Jika disetujui maka BNI Syariah dan nasabah menandatangani akad pembiayaan Mudharabah, dengan jangka waktu, mekanisme dan prosentase/nisbah bagi hasil, serta persyaratan lainnya tercantum dalam akad.

PT. Bank BNI

Syariah Nasabah

Proyek/Usaha

Laba Rugi

(45)

b. Nasabah hanya sebagai pengelola usaha yang dipercaya akan mendatangkan keuntungan bagi para pihak.

3. Pembagian hasil Usaha/Proyek:

a. Jika laba yang diperoleh, maka dibagi kepada BNI Syariah (shahibul maal) dengan nasabah (mudharib) sesuai nisbah bagi hasil yang disepakati pada saat akad. Dhi bagi hasil harus berdasarkan laporan keuangan usaha dari mudharib. Pembagian juga dapat dilakukan atas dasar laba kotor (net revenue sharing) atau laba bersih (profit sharing) sesuai dengan hasil dan kesepakatan pada saat akad ditandatangani.

Apabila proyek rugi, maka 100% kerugian ditanggung oleh bank.

b. Dan apabila ikut menanggung kerugian jika melakukan kesalahan yang disengaja, kelalaian atau melanggar kesepakatan.

4. Dana Mudharabah dikembalikan dengan cara diangsur atau sekaligus oleh nasabah/mudharib sesuai dengan jangka waktu yang disepakati.

5. Jenis-jenis Pembiayaan Mudharabah Pembiayaan Produktif

a. Kelayakan Usaha iB Hasanah (dengan akad mudharabah) b. Usaha kecil iB Hasanah (dengan akad mudharabah) c. Wirausaha iB Hasanah (dengan akad mudharabah) C. Pembiayaan Musyarakah

1. Pengertian

Pembiayaan Musyarakah adalah pembiayaan dalam bentuk kerja sama antara bank dengan nasabah untuk usaha tertentu yang masing-masing pihak memberikan porsi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan akan dibagi sesuai

(46)

dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan porsi dana masing-masing.

Setelah usaha/proyek selesai (sesuai jangka waktu kesepakatan), nasabah mengembalikan dana bank berikut bagi hasil yang telah disepakati sebelumnya sesuai ketentuan yang berlaku di BNIS.

2. Tujuan Pembiayaan

Pembiayaan Musyarakah dapat digunakan untuk suatu proyek produktif.

3. Risiko

a. Guna mengurangi risiko, bank dalam pembiayaan ini harus meminta:

i. Agunan sesuai ketentuan yang berlaku saat ini.

ii. Mensyaratkan bahwa penggantian agunan harus mendapat persetujuan bank.

iii. Bank dapat mensyaratkan rasio maksimal antara biaya operasi dibandingkan dengan pendapatan operasional misalnya membandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis atau berdasarkan rata-rata realisasi periode sebelumnya.

iv. Untuk mengetahui atau mendeteksi penyimpangan cash flow oleh nasabah, perlu dilakukan pemeriksaan mendadak maupun monitoring secara periodik terhadap pos-pos dalam laporan keuangan sehingga akan dapat diketahui aliran cash flow nasabah yang bersangkutan.

Disamping itu dapat pula dipersyaratkan adanya audited financial statement.

v. Untuk mencegah adanya biaya tidak dapat dikontrol, bank dapat mensyaratkan minimal profit margin yang dikehendaki.

(47)

vi. Bank harus menentukan kriteria atas wan prestasi nasabah.

b. Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pembiayaan masyarakat adalah:

i. Karakter nasabah benar-benar diketahui baik misalnya dari verifikasi dari beberapa rekan bisnisnya, atau yang bersangkutan telah beberapa kali menikmati pembiayaan di BNI Syariah dan selalu diselesaikan dengan baik.

ii. Bisnis nasabah harus diketahui dengan benar karena akan sangat berpengaruh pada pengembalian pembiayaan dan untuk menentukan langkah monitoring yang tepat.

iii. Pemberian pembiayaan Musyarakah harus diberikan secara selektif dan diupayakan yang berbasis kontrak kerja (Contract Basis) serta jangka waktunya pendek.

iv. Dalam akad pembiayaan, unsur kelalaian nasabah harus benar-benar jelas dan ditegaskan, misalnya bahwa nasabah lalai apabila:

1. Tidak menyampaikan laporan keuangan (neraca, perhitungan Rugi/Laba dan aktivitas keuangan) secara teratur.

2. Tidak melakukan pembukuan secara terpisah dan transparan atas dana dan kegiatan yang dibiayai secara musyarakah.

3. Melakukan penyimpangan pembiayaan tanpa seizin tertulis dari bank.

4. Melakukan investasi dan penyertaan tanpa seizin tertulis dari bank.

5. Melakukan pengeluaran biaya-biaya yang tidak wajar dan diluar kepentingan usaha.

(48)

6. Melakukan perbuatan melanggar hukum yang dapat menyebabkan kegiatan usaha menjadi terganggu.

7. Menunda-nunda pembayaran pokok dan bagi hasil dengan sengaja.

8. Syarat dan ketentuan lain sesuia karakter bisnis nasabah.

v. Cara menghitung bagi hasil sesuai karakter bisnis nasabah.

1. Net Revenue Sharing 2. Profit dan Loss Sharing

c. Bank dapat mengubah Proyeksi Bagi Hasil (PBH) berdasarkan kesepakatan dengan nasabah apabila terdapat perubahan atas kondisi ekonomi makro, pasar dan politik yang mempengaruhi usaha nasabah.

4. Sharing Modal

Porsi sharing modal harus jelas dituangkan dalam akad bentuk prosentase.

Share nasabah untuk pembiayaan minimal sebesar 30% (untuk pembiayaan pengadaan barang dan jasa serta konstruksi, porsi sharing bank mengacu pada ketentuan yang berlaku).

5. Mekanisme Pembiayaan

Mekanisme Pembiayaan musyarakah dapat digambarkan sebagai berikut:

(49)

4

1

2

2a 2b

3a 3b

3a.1 3b.2

3b.1 3a.1

Gambar 3.3 Skema Pembiayaan Musyarakah Sumber: PT. Bank BNI Syariah Cabang Medan Penjelasan:

1. Nasabah pembiayaan mengajukan proposal proyek kepada BNI Syariah.

Bank mempelajari proposal untuk dilakukan analisa pembiayaan hingga terdapat keputusan apakah disetujui atau ditolak.

2. Jika disetujui maka BNI Syariah dan nasabah menandatangani akad Pembiayaan Musyarakah dengan share modal para pihak, jangka waktu pembiayaan, mekanisme dan prosentase/nisbah bagi hasil serta persyaratan lainnya tercantum didalam akad.

2.a. BNI Syariah menyerahkan share modal sesuai kesepakatan yang tertuang dalam akad.

PT. Bank BNI

Syariah Nasabah

Proyek/Usaha

Laba Rugi

(50)

2.b. Nasabah musyarakah selain sebagai pengelola usaha yang dipercaya akan mendatangkan keuntungan bagi para pihak, juga menyerahkan sejumlah dana sebagai share modal musyarakah. Bank modal BNI Syariah maupun nasabah dituangkan dalam prosentase dari total modal usaha musyarakah.

3. Pembagian Hasil Usaha/Proyek

a. Jika laba yang diperoleh, maka dibagi kepada BNI Syariah dengan nasabah sesuai nisbah bagi hasil yang disepakati pada saat akad. Dhi bagi hasil harus berdasarkan laporan keuangan usaha dari mudharib.

Pembagian juga dapat dilakukan atas dasar laba kotor (net revenue sharing) atau laba bersih (profit sharing) sesuai dengan hasil kesepakatan pada saat akad ditandatangani.

b. Apabila proyek rugi, maka kerugian ditanggung oleh para pihak sesuai presentase modal masing-masing. Akan tetapi seluruh kerugian menjadi beban nasabah jika dalam usahanya, nasabah melakukan kesalahan yang disengaja, kelalaian atau melanggar kesepakatan.

4. Share Dana musyarakah BNI Syariah dikembalikan oleh nasabah dengan cara diangsur atau sekaligus sesuai jangka waktu yang disepakati.

6. Jenis-jenis Pembiayaan Musyarakah pembiayaan Produktif

a. Kelayakan Usaha iB Hasanah (dengan akad musyarakah) b. Usaha kecil iB Hasanah (dengan akad musyarakah) c. Wirausaha iB Hasanah (dengan akad musyarakah)

(51)

pengelompokan kredit menurut (kasmir, 2012: 120) dapat dilihat dari kegunaannya, tujuannya, jangka waktunya, jaminan, dan sektor usahanya.

a. Dilihat dari Segi Kegunaan

1. Kredit investasi merupakan kredit jangka panjang yang biasanya digunakan untuk keperluan perluasan usaha atau membangun proyek/pabrik baru atau untuk keperluan rehabilitasi.

2. Kredit modal kerja merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya.

b. Dilihat dari Segi Tujuan Kredit

1. Kredit produktif adalah kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi atau investasi.

2. Kredit konsumtif adalah kredit yang diguanakan untuk dikonsumsi secara pribadi.

3. Kredit perdagangan merupakan kredit yang diberikan kepada pedagang dan digunakan untuk membiayai aktivitas perdagangannya seperti untuk membeli barang dagangan yang pembayarannya diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut.

c. Dilihat dari Segi Jangka Waktu

1. Kredit jangka pendek merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari satu tahun atau paling lama satu tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja.

(52)

2. Kredit jangka menengah, jangka waktu kreditnya berkisar antara satu tahun sampai dengan tiga tahun dan biasanya kredit ini digunakan untuk melakukan investasi.

3. Kredit jangka panjang merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang.

d. Dilihat dari segi Jaminan

1. Kredit dengan jaminan merupakan kredit yang diberikan dengan suatu jaminan

2. Kredit tanpa jaminan merupakan kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang tertentu

e. Dilihat dari Segi Usaha

1. Kredit pertanian merupakan kredit yang dibiayai untuk sektor perkebunan atau pertanian.

2. Kredit peternakan merupakan kredit yang diberikan untuk sektor peternakan baik jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Kredit industri merupakan kredit yang diberikan untuk membiayai industri, baik industri kecil, industri menengah atau industri besar.

4. Kredit pertambangan merupakan kredit yang diberikan kepada usaha tambang.

5. Kredit pendidikan merupakan kredit yang diberikan untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan atau dapat pula berupa kredit untuk para mahasiswa.

6. Kredit profesi merupakan kredit yang diberikan kepada para kalangan professional seperti, dosen, dokter, atau pengacara.

(53)

7. Kredit perumahan yaitu kredit untuk membiayai pembangunan atau pembeli perumahan dan biasanya berjangka panjang.

8. Dan sektor-sektor lainnya.

3. Tujuan dan Fungsi Kredit

Menurut (Rifai and Veithzal, 2007: 6) menyatakan bahwa “pada dasarnya terdapat dua fungsi yang saling berkaitan dari kredit, yaitu profitability dan safety”. Profitability yaitu tujuan untuk memperoleh hasil dari kredit berupa keuntungan dari bunga yang harus dibayar nasabah. Sedangkan safety merupakan keamanan dari prestasi atau fasilitas yang diberikan harus benar- benar terjamin sehingga tujuan profitability dapat tercapai tanpa hambatan yang berarti.

B. Pengawasan Kredit

1. Prosedur Pemberian Kredit

Sebagai lembaga kredit, bank harus dapat menentukan kebijaksanaan umum yang harus ditempuhnya. Bank harus telah dapat menyelami dengan sungguh- sungguh kondisi perekonomian dan perdagangan yang merupakan landasan usahanya. Berbicara soal perkreditan tidak lepas dari masalah-masalah yang ada dalam suatu kegiatan perbankan. Dalam perkembangan bisnis perbankan permasalahannya akan semakin rumit, karena perkreditan itu sendiri akan saling berkaitan dengan kegiatan-kegiatan lainnya dan akan membentuk jaringan kerja yang terus menerus.

(54)

Untuk mengatasi berbagai kerumitan serta dalam upaya kegiatan perkreditan tersebut dapat berjalan dengan lancar, maka diperlukan rangkaian peraturan- peraturan yang ditetapkan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan perkreditan itu sendiri berlangsung.

Rangkaian peraturan itu disebut kebijakan kredit. Karena kebijakan ini akan merupakan pedoman kerja dibidang perkreditan maka kebijakan tersebut harus mengandung keputusan yang bersifat teknis operasional. Pada kebijakan kredit perbankan, dibuatlah prosedur di dalam pemberian kredit oleh bank. Prosedur pemberian kredit tersebut dibagi atas beberapa tahap sebagai berikut:

a. Tahap Permohonan Kredit

Tahap ini merupakan persyaratan awal yang harus dipenuhi oleh nasabah apabila hendak mengajukan kredit, yaitu dengan mengajukan terlebih dahulu surat permohonan dan mengisi daftar isian yang disediakan oleh bank. Pada tahap ini nasabah melengkapi persyaratan berupa data atau informasi berikut:

1. Identitas diri

2. Pribadi atau perseorangan: keterangan mengenai diri permohonan kredit.

3. Badan usaha atau profesi terdiri dari: bentuk badan usaha, susunan pengurus dan alamatnya, bidang usaha dan kegiatannya, dan susunan pemodalan

4. Informasi mengenai posisi keuangan perusahaan

5. Prospek dari nasabah yang bersangkutan untuk waktu yang akan datang 6. Informasi sosial ekonomi

7. Jumlah dan perincian penggunaan kredit

(55)

8. Rencana kapan penarikan dan pengambilan kredit

9. Informasi mengenai jaminan yang akan diberikan nasabah 10. Membuka rekening di bank yang bersangkutan.

b. Tahap Analisa Kredit

Permohonan kredit yang sehat harus didasarkan pada suatu analisa yang cermat atas permohonan kredit yang dimaksud. Biasanya kriteria penilaian yang umum dan harus dilakukan oleh bank untuk mendapatkan nasabah yang benar-benar layak untuk diberikan dilakukan dengan 5C. Penilaian dengan 5C ini berisi penilaian mengenai (Kasmir, 2012:136):

1. Character, merupakan sifat atau watak seseorang. Sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar harus dapat dipercaya. Untuk membaca watak atau sifat dari calon debitur dapat dilihat dari latar belakang si nasabah, baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi seperti: cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya, keadaan keluarga, hobi dan jiwa sosial. Dari sifat dan watak ini dapat dijadikan suatu ukuran tentang “kemauan” nasabah untuk membayar.

2. Capacity, adalah analisis untuk mengetahui kemampuan nasabah dalam membayar kredit. Dari penilaian ini terlihat kemampuan nasabah dalam mengelola bisnis kemampuan ini dihubungkan dengan latar belakang pendidikan dan pengalamannya selama ini dalam mengelola usahanya, sehingga akan terlihat “kemampuannya” dalam mengembalikan kredit yang disalurkan.

(56)

3. Capital, untuk melihat penggunaan modal apakah efektif atau tidak, dapat dilihat dari laporan keuangan (neraca dan laporan rugi laba) yang disajikan dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas dan solvabilitasnya, rentabilitas dan ukuran lainnya. Analisis capital juga harus menganalisis dari sumber mana saja modal yang ada sekarang ini, termasuk presentase modal yang digunakan untuk membiayai proyek yang akan dijalankan, berapa modal sendiri dan berupa modal pinjaman.

4. Condition, dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang ada sekarang dan prediksi untuk di masa yang akan datang. Penilaian kondisi atau prospek bidang usaha yang dibiayai hendaknya benar-benar memiliki prospek yang baik, sehingga kemungkinan kredit tersebut bermasalah relatif kecil.

5. Collateral, merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jamina juga harus diteliti keabsahan dan kesempurnaannya, sehingga jika terjadi suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin.

Selain dengan menggunakan prinsip 5C ini, pihak perbankan juga akan mempertimbangkan beberapa aspek yang mempengaruhi dalam pemberian kredit (Juli Irmayanto, 2004:78) diantaranya:

1. Aspek yuridis, bertujuan meneliti ketentuan legalitas dari perusahaan yang akan memperoleh kredit. Yang dianalisis adalah badan usahanya, ijin-ijin yang harus dimiliki, perjanjian-perjanjian.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Dapat di lihat bahwa dari unsur ini pemerintah berusaha agar supaya dapat memperjuangkan hasil rencana- rencana atau ide-ide dari masyarakat untuk di setujui

The researchs aim is to describe of dynamics that happened in institution process of returning nagari in kanagarian Sitiung, (2) to describe involvement of

33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah: untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah daerah didukung

Tujuan: Membuktikan ada perbedaan gambaran histopatologi hepar mencit Balb/c yang hiperurisemia antara kelompok yang diberi ekstrak buah kersen ( Muntingia calabura L .)

Pajak penghasilan t erkait pos-pos yang akan direklasifikasi ke laba rugi 0 PENGHASILAN KOM PREHENSIF LAIN TAHUN BERJALAN - NET PAJAK PENGHASILAN

The objective of the study is to investigate the performance of the LFDC Ultracam-D for semi-automatic DTM generation and to develop quality metrics in terms of

Pada penelitian di SD Negeri betro tepatnya pada kelas III yang berjumlah 32 siswa ketika mengajar guru terkesan mononton dan masih menggunakan metode pembelajaran