commit to user
BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Tinjauan Pengarang
Tanpa adanya pengarang karya sastra tidak mungkin tercipta. Karya sastra dan pengarang memiliki hubungan yang erat dan tak terpisahkan. Terlepas dari itu, antara karya sastra dan pengarang terdapat sebuah hubungan yang dapat mencerminkan segi-segi kejiwaan, filsafat hidup, bahkan pandangan sosial yang ada dalam diri pengarang yang terdapat dalam hasil karyanya. Jadi karya sastra adalah hasil dari buah pikiran pengarang.
Berhasil tidaknya suatu karya sastra sangat tergantung dari luas tidaknya wawasan yang dimilikinya. Karya sastra umumnya diciptakan berdasarkan pengalaman hidup sang pengarang, namun bisa juga dari hasil pengamatannya terhadap kondisi sosial yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, segala aspek yang menyangkut diri pengarang perlu sekali untuk diperhatikan.
Latar belakang kehidupan dalam keluarga, masyarakat, dan dalam dunia kesastrawanannya, sangat berpengaruh terhadap hasil cipta karyanya. Hal ini penting mengingat banyak kemungkinan yang terjadi tentang proses kelahiran karya sastra itu sendiri dengan kehidupan pengarang. Ada suatu hubungan kausal yang menyangkut dirinya maupun orang lain sehubungan dengan eksistensinya dalam masyarakat.
Ahmad Tohari adalah sastrawan yang lahir di daerah pedesaan asri bernama Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas 13 Juni 1948.
Ayahnya adalah karyawan Pegawai Negeri Sipil, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Sejak SMP Ahmad Tohari sudah merantau ke Purwokerto. Ia menamatkan SMA nya di SMA Negeri 2 Purwokerto. Setelah itu Ahmad Tohari menimba ilmu di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas
commit to user
Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976), namun tidak semua sampai tamat.
Ahmad Tohari terkenal dengan novel triloginya yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk ditulis pada tahun 1981. Belum lama ini ia dianugerahi PWI Jateng Award 2012 dari PWI Jawa Tengah karena karya-karya sastranya yang dinilai mampu menggugah dunia. Selain itu, selama penantian kurang lebih 15 tahun, pada bulan November 2012 lalu, ia berangkat ke Den Haag untuk meluncurkan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.
Ahmad Tohari sudah banyak menulis novel, cerpen dan secara rutin pernah mengisi kolom Resonansi di harian Republika. Karya-karya Ahmad Tohari juga telah diterbitkan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Novel Ronggeng Dukuh Paruk bahkan pernah ia terbitkan dalam versi bahasa Banyumasan, yang kemudian mendapat penghargaan Rancage dari Yayasan Rancage, Bandung pada tahun 2007.
Cerpennya yang berjudul "Jasa-jasa buat Sanwirya" pernah mendapat hadiah hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep. Sedangkan novelnya Kubah yang terbit pada tahun 1980 berhasil memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama pada tahun 1980.
Beberapa waktu lalu novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi ke layar lebar dengan judul Sang Penari. Menurutnya pada film ini sang sutradara di beberapa bagian lebih berani menggambarkan apa yang ia sendiri tidak berani menggambarkannya. Ia pun ikut larut dalam emosi film ini meski endingnya tidak setragis versi novel yang ditulisnya.
Saat ini Ahmad Tohari bersama timnya sedang menggarap sebuah proyek menafsirkan Alquran ke dalam bahasa Banyumasan. Ia juga sering diundang sebagai pembicara di berbagai acara. Jika ada waktu luang ia pergunakan untuk bersantai di rumah dan memancing.
commit to user
2. Karya-karya Pengaranga. Karya-karya Ahmad Tohari berupa novel 1) Kubah (1980)
2) Ronggeng Dukuh Paruk (1982) 3) Lintang Kemukus Dini Hari (1985) 4) Jantera Bianglala (1986)
5) Di Kaki Bukit Cibalak (1986) 6) Bekisar Merah (1993)
7) Lingkar Tanah Lingkar Air (1995) 8) Belantik (2001)
9) Orang Orang Proyek (2002)
b. Karya-karya Ahmad Tohari berupa kumpulan cerpen 1) Senyum Karyamin (1989)
2) Nyanyian Malam (2000) 3) Rusmi Ingin Pulang (2004)
Menurut Ahmad Tohari, novelnya yang berjudul Bekisar Merah adalah novel yang sangat mengandung nilai-nilai sosial di dalamnya. Latar belakang kehidupan masa kecilnya hidup di desa yang notabenenya para penduduk didominasi oleh para penyadap kelapa, tentu sangat melekat pada kemiskinan dan keprihatinan hidup. Bekisar Merah bisa dianggap suara batin dari Ahmad Tohari kepada masyarakat pembaca agar mereka mampu merasakan keprihatinan para penyadap.
Selain itu diharapkan dengan penulisan novel Bekisar Merah tersebut ia dapat menggugah perhatian pembaca akan nasib para penyadap nira yang hidup dalam kemiskinan. Bukan hanya dengan novel Ahmad Tohari mengungkapkan keprihatinan para penyadap nira tersebut. Ia pun sering menulis kehidupan para penyadap nira ke dalam artikel di media massa, serta mengungkapkan hal itu dalam dialog-dialognya di berbagai kesempatan.
commit to user
3. Deskripsi Objek PenelitianBekisar Merah menceritakan tentang keluarga petani penyadap nira yang hidup penuh dengan penderitaan dan keprihatinan di desa Karangsoga. Tokoh utama novel tersebut adalah Lasi, perempuan Karangsoga yang memiliki paras cantik, lebih cantik dibanding perempuan manapun di desanya. Lasiyah, atau biasa dipanggil Lasi adalah anak dari perkawinan mbok Wiryaji, dengan seorang tentara Jepang. Sekarang mbok Wiryaji menikah dengan Kang Wiryaji. Kang Wiryaji memiliki kemenakan bernama Darsa, seorang penyadap muda. Darsa dijodohkan dengan Lasi. Selama dua tahun pernikahan mereka tak kunjung memiliki momongan. Kemiskinan, keprihatinan, dan kepedihan hidup terus mereka alami.
Suatu saat Darsa terjatuh dari ketinggian pohon kelapa. Syaraf kemaluannya bermasalah, karena tak ada biaya Darsa diserahkan kepada Bunek tukang pijat yang dianggap ahli dalam hal tersebut. Suatu ketika Bunek merasa bahwa Darsa sudah sembuh dari lemah syahwat. Untuk membuktikan hal tersebut, Bunek memiliki akal licik. Darsa harus membuktikan kelelakiannya yang sudah pulih itu kepada Sipah anaknya.
Sipah adalah anak bungsu Bunek yang berkaki pincang, dan perawan tua.
Darsa bimbang, di satu sisi ia ingat kepada Lasi yang setia menjadi istrinya, namun ia juga merasa hutang budi kepada Bunek yang telah menyembuhkannya. Akhirnya Darsa mengiyakan permintaan Bunek. Tak lama Karangsoga ramai oleh pergunjingan kejadian itu, Bunek datang ke rumah Darsa untuk meminta pertanggungjawaban bahwa Sipah telah hamil mengandung anaknya. Itulah awal kehancuran keluarga mereka. Lasi yang merasa dikhianati oleh suaminya, kabur dari Karangsoga.
Lasi menaiki truk membawa gula yang dikemudi oleh Pardi dan Sapon, anak buah Pak Tir, tengkulak kaya Karangsoga. Truk itu melaju ke Jakarta membawa Lasi. Di Jakarta, Lasi dititipkan oleh Pardi ke warung Bu Koneng.
Sepertinya Bu Koneng mampu menjadi pendengar yang baik bagi Lasi, sehingga Lasi meminta untuk tinggal di warung Bu Koneng. Pardi dan Sapon kembali ke Karangsoga. Saat tinggal di warung Bu Koneng, Lasi
commit to user
diperkenalkan dengan Bu Lanting. Bu Lanting, wanita gemuk itu mengajak Lasi untuk tinggal dirumahnya, tidak lagi di warung Bu Koneng yang sempit dan kotor.
Saat bersama Bu Lanting, Lasi diperlakukan bak seorang putri. Ia tinggal di rumah Bu Lanting dengan berbagai fasilitas lengkap, perlahan kehidupan Lasi pun mulai berubah. Dari seorang perempuan desa yang lugu, polos, kini telah terbiasa dengan riasan wajah, perhiasan, baju baru, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, dan memakai wewangian. Hal itu baru ia rasakan setelah hidup dengan Bu Lanting yang telah menganggap Lasi sebagai anaknya sendiri.
Suatu saat Lasi dirias dan diberi kimono merah sedemikian rupa oleh Bu Lanting, untuk diambil potretnya. Ternyata dibalik kebaikan Bu Lanting, diam- diam ia berusaha menjual Lasi kepada mantan purnawirawan jendral kaya raya bernama Handarbeni.
Pak Han yang beristri tiga itu, adalah seorang mantan purnawirawan jendral yang ingin mengikuti jejak penjabat tertinggi negara, yaitu memiliki wanita Jepang. Lasi memang bukan seutuhnya wanita Jepang, namun darah yang mengalir dari ayahnya menjadikannya seperti perempuan asli Jepang.
Dengan berbagai cara singkat dan mudah, Lasi resmi bercerai dengan Darsa, dan resmi menjadi istri Handarbeni. Lasi bak seorang bekisar yang selalu menemani Pak Han kemana pun ia pergi.
Selama dua tahun menjadi bekisar Pak Han, rupanya Lasi mulai menyadari bahwa keperkasaan suaminya yang sudah separuh baya itu tidak lagi seperti lelaki lain. Pak Han yang sudah berumur merasa kasihan kepada Lasi, karena tidak dapat menafkahi secara batin. Lalu Lasi meminta untuk pulang ke Karangsoga. Saat itu Karangsoga sedang dalam proses dialiri aliran listrik dari pemerintah Kabupaten. Pohon-pohon kelapa milik para penyadap nira mau tidak mau harus menjadi korban tanpa uang pengganti. Pohon-pohon tersebut harus ditebang karena akan dilewati kawat listrik. Salah satu penyadap nira yang dirugikan adalah Darsa, mantan suami Lasi. Darsa tidak dapat berbuat apa-apa ketika satu per satu rantai kehidupannya ditebangi oleh para petugas dari pemerintah.
commit to user
Isu yang ditampilkan merupakan isu segar yang dapat terjadi di manapuan, dan kapanpun tidak mengenal zaman. Bahwa gambaran kemiskinan yang terjadi pada pedesaan dan kehidupan mewah yang ada pada kota besar ditampilkan secara kontras, namun tetap dengan penyampaian yang halus dan lembut. Dengan mengangkat permasalahan sosial yang beragam tersebut tentu menjadikan novel ini memiliki berbagai nilai pendidikan di dalamnya. Hal itu yang mampu menarik penulis untuk meneliti novel Bekisar Merah tersebut.
B. Deskripsi Temuan Penelitian 1. Latar Belakang Sosial Budaya Pengarang
Kehadiran latar belakang sosial budaya pengarang sangat penting diketahui untuk memahami karya sastra yang diciptakannya. Sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat dan menyapa pembaca yang sama-sama dengan dia merupakan warga masyarakat. Seorang pengarang dihargai atau kurang dihargai oleh para pembaca atau kurang dipengaruhi oleh seorang pengarang.
Pengarang mengekspresikan kehidupan sepenuhnya mewakili masyarakat dan zamannya.
Pengarang adalah warga masyarakat, ia dapat dipelajari sebagai makhluk sosial. Sebagai masyarakat pengarang, masyarakat pertama terdiri atas fakta-fakta, dihuni oleh individu sekaligus transindividu, peristiwa dan kejadian-kejadiannya dapat diamati secara langsung. Dalam ilmu sosial, fakta-fakta ini lah yang dianggap sebagai objek utama, pengarang merupakan salah seorang dari individu-individu tersebut. Dalam menghadirkan kembali apa yang diresponnya, seorang pengarang tak pernah lepas dari pengalaman atau pengetahuan dari latar belakang pendidikan, pandangan, pemikiran dan sosial budayanya.
Dimensi-dimensi sosial budaya yang melingkupi pengarang, lingkungan hidupnya menjadi latar belakang yang mendasari sikap pengarang dalam menampilkan karya sastranya. Sosial budaya yang mempengaruhi tersebut antara lain meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,
commit to user
hukum, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Hal tersebut tidak mungkin dihindari oleh pengarang untuk mempengaruhi kekhasan sastra yang diciptakannya.
a. Latar Belakang Penciptaan Bekisar Merah
Pengarang dalam menghasilkan karya-karya sastranya, memiliki cara dan keunikan tersendiri karena pengarang mempunyai suatu kebebasan untuk mengembangkan perasaan, pemikiran dan fantasinya untuk disusun dan diungkapkan hingga menjadi sebuah cerita tanpa terikat oleh apapun. Cerita itu juga akan dipengaruhi oleh pengalaman dan pandangannya karena pada dasarnya pengarang itu juga merupakan anggota dari masyarakat.
Novel ini diciptakan berdasarkan pengalaman hidup yang dialami pengarang dalam kehidupan sehari-harinya. Kehidupan pedesaan di kaki gunung Slamet, dengan pemandangan alam yang indah, tanah subur, dan keprihatinan para penyadap kelapa yang merupakan mata pencaharian nomor satu di desa Karangsoga tersebut, sangat apik untuk diangkat ke dalam sebuah novel. Pada dasarnya nama desa Karangsoga hanyalah nama fiktif belaka. Hal itu diungkapkan oleh pengarang dalam wawancara yang dilakukan.
Pengarang mengaku telah melakukan sebuah observasi ringan untuk mencari nama desa yang tentu belum ada sebelumnya dalam novel. Hal itu dilakukan agar tidak menyinggung salah satu daerah yang dijadikan sebagai objek fiktif pengarang. Akan tetapi pada dasarnya desa Karangsoga merupakan gambaran umum dari suatu desa di daerah Banyumas yang terletak di sebelah selatan lereng gunung Slamet. Sebuah Desa yang memiliki berbagai macam pepohonan hijau, panorama yang indah, udara sejuk, jauh dari keramaian kota, keharmonisan masyarakat, dan penghidupan sebagian masyarakat menjadi penderes atau penyadap nira. Selain pencarian sebuah nama desa Ahmad Tohari mengaku dalam menggambil nama-nama tokoh pada novel Bekisar Merah disesuaikan dengan karakter masing-masing tokoh yang ia ciptakan.
Pengarang Ahmad Tohari merupakan warga asli Kabupaten Banyumas.
Pada masa kanak-kanaknya dahulu di wilayah tempat tinggalnya mayoritas
commit to user
penduduknya berprofesi sebagai penyadap nira. Dalam keluarga, suami berprofesi sebagai penyadap nira, sedangkan istri menjadi pengolah nira. Para penyadap nira setiap harinya naik turun belasan pohon kelapa, bahkan ada yang sampai tiga puluhan pohon kelapa untuk memasang dan mengambil pongkor-pongkor yang telah terisi nira. Pongkor adalah potongan bambu besar untuk menampung nira.
Nyawa penyadap sebagai jaminannya. Jika pongkor yang terpasang di pohon tidak segera diambil, maka nira akan masam. Nira yang masam tidak dapat diolah. Jika diolah, akan menjadi gula yang kasar mirip dengan aspal, tidak laku dijual, atau biasa disebut gula gemblung. Sang istri berprofesi sebagai pengolah nira, lalu menjual hasil olahannya yang biasa disebut gula jawa itu kepada para pedagang besar atau tengkulak. Dalam hal ini Pak Tirto, adalah tengkulak besar di desa tersebut.
Dalam mengolah nira, sangat dibutuhkan kesabaran, ketelitian, kekuatan mengaduk nira, dan tentu persediaan kayu bakar yang banyak. Jika saat pengolahan nira, api padam, maka nira tidak dapat masak, tidak dapat diolah. Api harus selalu hidup dengan stabil. Tidak jarang mereka para istri penyadap merelakan batang-batang kayu pagar rumahnya satu per satu masuk tungku, agar api terus hidup. Bara api tungku para penyadap itu seakan menggambarkan bara kehidupan para keluarga penyadap nira. Jika nira pongkor tidak segera diambil, nira tidak dapat diolah secara sempurna karena ketiadaan kayu bakar, maka padam sudah keinginan mereka untuk makan dalam hari itu. Gula tidak dapat dicetak ke dalam cetakan, tentu tidak ada gula yang dapat dijual ke tengkulak. Bagaikan mimpi buruk, hal itu sama dengan mereka tidak dapat membeli satu kilo beras untuk makan esok hari.
Mimpi buruk kembali merayap, ketika mereka harus kembali berhutang kepada para tengkulak. Mereka para tengkulak kebanyakan berdagang di rumah dengan membuka usaha warung yang menyediakan bahan-bahan pokok seperti beras, lauk pauk, sabun, dan kebutuhan pokok lainnya. Jika hasil gula kelapa sedikit, maka istri-istri penyadap nira berhutang kebutuhan pokok kepada para tengkulak dengan harga dinaikkan.
commit to user
Mereka dengan bebasnya memotong harga gula yang dibelinya dari para istri penyadapa tersebut. Tak tanggung-tanggung, mereka membeli dengan setengah harga normal. Hal tersebut diberikan dengan alasan mereka telah berhutang di warungnya. Tentu tak ada yang dapat diperbuat oleh para istri penyadap itu, kecuali pasrah.
Kemiskinan yang terus menyelimuti kehidupan keluarga penyadap itulah yang membuatnya tertarik untuk mengangkat ke dalam sebuah karya sastra. Pengarang merasa bahwa dari masa kanak-kanak hingga saat ini ia sangat merasakan kepiluan, kepahitan, dan kepasrahan hidup para penyadap kelapa. Kemiskinan yang harus dialami dari masa ke masa. Mereka rela mempertaruhkan nyawanya setiap hari untuk memanjat belasan pohon kelapa, dari pohon ke pohon walau upah yang didapat sangat tidak adil. Upah harga jualnya tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan oleh para penyadap tersebut.
Kelicikan atau ketidakadilan yang dilakukan oleh para tengkulak gula, membuat para penyadap makin terpojokan sehingga terus hidup dalam lingkaran kemiskinan. Hak untuk menetapkan harga gula ada para tengkulak, bukan dari Pemerintah. Ada saja akal licik beberapa tengkulak untuk meyakinkan para istri penyadap bila harga gula naik. Hal itu tentu sangat menguntungkan mereka. Mereka para istri penyadap hanya dapat mengangguk pasrah, tidak mengerti gosip apa yang ditiupkan oleh tengkulak.
Mereka hanya berpikir, bagaimana mereka bisa membeli beras untuk makan dua hari ke depan. Begitulah kehidupan para penyadap nira miskin yang hari demi hari makin miskin dalam cengkeraman tengkulak.
Hingga saat ini, kehidupan para penyadap masih dalam garis kemiskinan. Rupanya Pemerintah benar-benar tidak menghiraukan dan tidak memperhatikan nasib para penyadap tersebut. Padahal dapat dikata mereka ikut berperan dalam pemasukan pendapatan daerah. Hal itulah yang mampu mengobarkan jiwa pengarang untuk menulis novel Bekisar Merah dalam rangka mengajak masyarakat untuk memperhatikan nasik para penyadap yang selalu hidup dalam lingkar kemiskinan.
commit to user
b. Kedudukan Pengarang dalam KeluargaPengarang terlahir dari keluarga yang berkecukupan, ayah Ahmad Tohari bekerja sebagai karyawan, dan Ibu sebagai ibu rumah tangga. Memiliki sebidang tanah cukup luas yang ditanami beberapa pohon kelapa. Pohon- pohon kelapa itu lalu disadap oleh para petani penyadap, dengan sistem bagi hasil. Setiap dua hari para penyadap itu menyadap pohon-pohon kelapa tersebut. Dengan bantuan beberapa pembantu rumah tangga, nira-nira tersebut diolah, dan dijual kepada tengkulak. Hasil dari penjualan tersebut dibagi dua, antara pemilik lahan dengan penyadap.
Ahmad Tohari remaja sudah mulai hidup mandiri. Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia merantau ke kota Purwokerto. Selain dorongan dari orang tua, hal tersebut ia lakukan karena ada keinginan dalam diri untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Dengan tinggal secara indekos, yang jauh dari orang tua tentu mendapatkan berbagai macam pengalaman yang dapat membentuk pribadinya menjadi lebih kuat.
Menjadikan Ahmad Tohari muda yang mandiri, pekerja keras, religius dan tentunya kreatif.
Saat ini kedudukan pengarang dalam keluarga adalah menjadi seorang kepala keluarga. Memiliki dua orang putra yang keduanya sudah lulus mendapatkan gelar master. Dalam wawancara yang dilakukan dengan peneliti, pengarang mengatakan bahwa dari usia dini kedua anaknya sudah gemar membaca. Ahmad Tohari mengaku bahwa dari anak-anaknya pertama masuk sekolah sudah dididik untuk terbiasa gemar membaca. Alhasil kedua anaknya sukses mendapatkan gelas Master dengan beasiswa di luar negeri. Sesuatu yang sangat patut untuk dicontoh. Bahwa menanamkan diri gemar membaca dari usia dini memang sangat bermanfaat.
Pengarang sebagai kepala rumah tangga, dapat dikatakan sukses. Selalu memberi pendidikan moral, agama, dan sosial kepada anaknya, dengan seimbang. Terbukti Ahmad Tohari mampu mengantar kedua anaknya ke jenjang pendidikan tertinggi. Selain itu, Ahmad Tohari dikenal sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati, dan disiplin. Syamsiyah, istri Ahmad Tohari
commit to user
mengaku bahwa sosok Ahmad Tohari adalah sosok pria yang selalu memberi keteduhan, kenyamanan, dan tentu selalu membanggakan keluarga. Figur seorang suami dan ayah yang patut dijadikan tauladan ada pada dirinya.
c. Kedudukan Pengarang dalam Masyarakat
Secara genetik hubungan antara karya sastra dengan pengarang sama dengan hubungan antara seorang ibu dengan anaknya. Pengaranglah yang melahirkan karya sastra. Teuuw (1988: 167) pemahaman dan cara-cara analisis seperti di atas juga digunakan pada periode berikutnya, bukan saja terhadap proses kreatif karya sastra tetapi juga dalam proses analisis. Artinya, dalam menganalisis sebuah karya sastra seorang kritikus memberikan perhatian yang cukup besar terhadap pengarang, bukan semata-mata karyanya. Cara-cara yang dilakukan, di antaranya dengan mengumpulkan biografi, bahkan dengan cara melakukan wawancara langsung, khususnya terhadap mengarang yang masih hidup. Ratna (2011: 278).
Kedudukan sosial atau status sosial artinya adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya Soerjono Soekanto (1990: 265). Seseorang dalam masyarakat biasanya memiliki beberapa kedudukan sekaligus. Dalam hubungan macam-macam kedudukan itu, biasanya yang selalu menonjol hanya satu kedudukan utama yang utama.
Kehidupan seseorang atau kedudukan yang melekat padanya dapat terlihat pada kehidupan sehari-harinya. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peranan. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling berhubungan satu sama lain. Hubungan sosial yang ada dalam masyarakat, merupakan hubungan antara peranan individu dalam masyarakat.
Sastra dibentuk dalam sebuah masyarakat atas dasar desakan emosional masyarakat. Pengarang sebagai anggota masyarakat, hidup berhubungan dengan lingkungan sosial budaya di sekitarnya, sehingga harapan, penderitaan, dan aspirasi menjadi bagian dari pengarang. Pengarang lahir di
commit to user
daerah komunitas para penyadap kelapa. Tentu sejak kecil ia akrab dengan profesi tersebut.
Meski bukan dari kalangan keluarga penyadap, namun ia mampu merasakan kegetiran hati para penyadap nira sampai dengan saat ini. Saat ini pengarang berkedudukan sebagai orang yang dituakan, dan dihormati di desa Tinggarjaya. Mayoritas penduduk desa Tinggarjaya memang sudah tidak lagi didominasi oleh penyadap kelapa, namun sember daya manusianya masih rendah.
Mayoritas penduduk Karangsoga banyak yang beralih profesi sebagai pedagang, dan banyak pula diantara mereka yang hijrah ke kota-kota besar bekerja menjadi buruh bangunan atau pembantu rumah tangga. Tentu dengan jenjang pendidikan yang tinggi, prestasi-prestasi dalam dunia sastra, serta sikap kepedulian tinggi kepada masyarakat di sekelilingnya itu yang membuat pengarang disegani dan dihormati oleh para penduduk di desanya.
Kini Ahmad Tohari memiliki sebuah sekolah taman bermain untuk anak-anak PAUD di samping kanan rumahnya. Selain itu juga terdapat sebuah mushola di belakangnya, mushola Al- Falaq. Sekolah tersebut dikelola oleh istri Ahmad Tohari, bernama Syamsiah. Ibu Syamsiah yang memang berprofesi sebagai guru SD tersebut tentu paham betul tentang permasalah pendidikan di desa Tinggarjaya dan bagaimana cara mengatasinya. Selain itu, beliau juga mengajak para ibu yang menyekolahkan anaknya di taman bermainnya itu untuk lebih kreatif dalam mengkreasi berbagai macam kerajinan tangan dari bahan bekas. Hal tersebut dilakukan saat para ibu yang menunggu anak-anaknya bersekolah, tidak membuang waktu secara sia-sia.
Istri Ahmad Tohari itu mengajak mereka para ibu dari murid untuk menggunakan waktu dengan berproduktif secara aktif, berkreasi menciptakan berbagai macam kerajinan tangan dari berbagai bahan bekas. Kerajinan tangan tersebut dapat berupa tas, bantal, tempat tisu, taplak meja, dan lainnya.
Bahan bakunya adalah plastik bekas bungkus kopi instan, pengharum pakaian, deterjen pakaian yang mereka gunakan di rumah.
commit to user
Kegiatan tersebut sangat bermanfaat. Awalnya hanya mengajak beberapa wali murid hanya untuk berbagi ide. Kini hal tersebut kian berkembang. Manfaat yang diperoleh para wali murid begitu banyak. Dengan mendaur ulang barang bekas, mereka lebih kreatif, aktif, mencintai lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik, serta hasil dari daur ulang tersebut dapat dijadikan sebagai tambahan penghasilan mereka.
Melalui wawancara peneliti dengan pengarang yang dilaksanakan di rumah pengarang sendiri, sangat terlihat bahwa kedudukan dan peran Ahmad Tohari beserta keluarganya sangat baik sekali dan berpengaruh di dalam masyarakat.
Dalam setiap biografi terkandung catatan-catatan kebudayaan, yang secara keseluruham membentuk kolektivitas dengan ideologi tertentu (Ratna, 2011: 278). Biografi pengarang adalah sumber utama, kita dapat mengumpulkan informasi tentang latar belakang sosial, latar belakang keluarga, dan posisi ekonomi pengarang. Dalam penelitian ini peneliti mengklasifikasikan cakupan sosiologi pengarang yang dibicarakan oleh Wellek dan Waren meliputi latar sosial, sumber ekonomi, dan ideologi.
a. Latar Belakang Sosial
Latar belakang sosial pengarang diilustrasikan oleh Wellek pada latar belakang sosial para pengarang di Barat. Menurut mereka pengarang sastra Eropa modern ditulis oleh kelompok kelas menengah karena kelompok bangsawan selalu mencari waktu untuk bersantai, sedangkan kelas bawah hanya mempunyai kesempatan yang sangat terbatas untuk memperoleh pendidikan.
Sastrawan mungkin saja seorang pegawai atau ilmuwan, penyanyi, tukang kentrung atau artis penghibur. Pendapat tersebut dapat diterima, bahwa pengarang novel Bekisar Merah Ahmad Tohari adalah seseorang yang pernah bekerja sebagai wartawan media massa. Sebelum beliau berprofesi sebagai seorang wartawan, beliau memang gemar membaca berbagai macam bacaan, media massa, saat beliau masih anak-anak. Hal tersebut diungkapkan oleh Ahmad Tohari dalam wawancaranya dengan peneliti sebagai berikut.
commit to user
Pengarang Ahmad Tohari terlahir dalam keluarga ekonomi menengah ke atas. Ayah Ahmad Tohari adalah seorang PNS, sang Ibu walau berprofesi sebagai ibu rumah tangga, beliau mampu memperkerjakan beberapa warga setempat untuk mengolah nira dari hasil kebun kelapa yang dimiliki. Selain memperkerjakan beberapa warga setempat, ayah dari Ahmad Tohari juga mendirikan sebuah pondok pesantren bernama Al-Falaq. Pondok pesantren itu masih berdiri hingga saat ini, dan yang mengelola adalah K.H. Ahmad Sobari, adik kandung Ahmad Tohari.
Selain itu tingkat pendidikan Ahmad Tohari dan saudara-saudara kandungnya memiliki jenjang pendidikan yang lebih tinggi di antara masyarakat tempat tinggalnya. Ahmad Tohari dapat dikatakan masuk dalam golongan masyarakat menengah ke atas karena dilihat dari segi ekonomi, dan jenjang pendidikan yang ia miliki lebih tinggi dibanding masyarakat tempat tinggalnya.
Dari berbagai pengalaman hidup saat merantau ke kota, baik untuk melanjutkan pendidikan maupun bekerja, tentu mampu melahirkan inspirasi-inspirasi segar untuk ditulis dalam sebuah karya sastra. Berbagai latar belakang sosial masyarakat yang pernah ia jumpai, tentu mampu memberikan suatu warna dalam proses penulisan karya sastra. Berikut pendapat salah seorang warga yang mengenal sosol Ahmad Tohari, Ibu Jumiarh yang berprofesi sebagai pedagang berikut ini.
Berawal dari suka membaca, sangat suka membaca dari kecil, jadi tertarik. Dan menjadi tidak terpisahkan antara membaca dan menulis. Pada tahun 1963, saya baru tamat SMP, sudah membaca seluruh novel Indonesia, novel klasik (Ahmad Tohari).
commit to user
Tanggapan di atas memperkuat pendapat bahwa Ahmad Tohari memiliki kedudukan penting dan berpengaruh pada masyarakat tempat tinggalnya.
b. Sumber Ekonomi
Ahmad Tohari dalam menciptakan karya sastra, tidak pernah bergantung dengan orang lain atau bahkan pemerintah, dalam penyusunannya. Berbekal dari profesi wartawan yang pernah ditekuninya, tentu hal tersebut sangat membantu Ahmad Tohari dalam bidang sumber inspirasi, proses pencetakan, hingga penerbitan.
Bekerja pada sebuah media massa tentu sangat memberikan berbagai macam kontribusi. Pengalaman, wawasan, dan pengetahuan yang dimiliki mampu memudahkan Ahmad Tohari dalam proses kreativitas penulisan karya sastra novel sampai dengan diterbitkan oleh penerbit besar Gamedia Pustaka.
Ahmad Tohari dalam wawancaranya mengaku, semua itu berbekal dari kegigihan dan kerja kerasnya. Dalam segi ekonomi ia tidak pernah mengandalkan orang lain. Hidup mandiri dengan pendapatan yang ia terima.
Beliau juga mengatakan, memang istri adalah seorang guru sekolah dasar, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tentu dari hasil menulis, royalti yang didapat, dan menjadi pembicara di berbagai acara. Seperti dalam wawancara yang telah dilakukan dengan peneliti sebagai berikut.
Saya tahu kalau Pak Ahmad Tohari penulis, tetapi saya tidak tahu novel Bekisar Merah, belum pernah membaca. Pak Tohari orangnya baik, ramah sekali, dan tidak sombong (Jumirah).
commit to user
Karya-karya yang ia tulis sampai dengan tahap penerbitan lahir dari kerja keras. Ahmad Tohari mengaku ia selalu hidup dengan kesederhanaan, tidak berlebih-lebihan. Semua karya yang ia lahirkan berasal dari kerja kerasnya sendiri. Segala sesuatu yang dihasilkan dengan kerja keras tentu membuahkan hasil yang baik. Terbukti karya-karya Ahmad Tohari diterima oleh masyarakat tanpa adanya komplain dari pihak-pihak tertentu. Hal itu tentu membuatnya kian giat dalam melahirkan karya-karya baru.
c. Ideologi
Menurut Wellek dan Warren karya dapat digunakan sebagai topeng, dibaliknya pengarang bersembunyi untuk mengemukakan ideologi tertentu.
Meskipun demikian topeng didasarkan atas pengalaman kehidupan pengarang itu sendiri. Ahmad Tohari merupakan sastrawan yang terkenal dengan ideologi kemanusiaannya. Dilihat karya-karyanya selalu menceritakan tentang kehidupan masyarakat kelas bawah yang ia dapat berdasarkan pengalaman hidupnya, Ratna (2011: 202).
Ahmad Tohari bukanlah tokoh politik masyarakat, bukan juga pejabat pada sebuah instansi pemerintah. Ia adalah seorang muslim yang aktif dalam organisasi keagamaan NU. Berbagai pengalaman dan pengetahuan yang ia miliki itu yang membuat ia berpegang teguh terhadap ideologinya.
Berdasarkan hasil wawancara langsung, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa ideologi yang ia pegang teguh tentunya ideologi pancasila, dan humanis, atau kemanusiaan. Hal tersebut tentu karena ia adalah warga negara
Anak dua, istri seorang guru SD, menurut saya tidak cukup. Saat itu harus menyekolahkan anak-anak sampai ke jenjang tertinggi.
Honor royaliti dari menulis kurang lebih 4-10 juta per bulan. Saya rasa itu tidak cukup ya. Penghasilan dari menulis hanya sebagai pelengkap. Mulai tahun 2004, didirikan sebuah perbankan mikro, saya ikut aktif di dalamnya. Selain itu saya juga sering mendapat undangan sebagai pembicara dalam berbagai forum baik di dalam kota, luar kota maupun luar negeri (Ahmad Tohari).
commit to user
Indonesia yang baik, yang ingin membantu sesama dengan cara menggambarkan berbagai macam masalah kehidupan masyarakat kelas bawah melalui karya-karya sastra yang ia ciptakan. Selalu ada pesan moral tentang kehidupan yang diungkapkan Ahmad Tohari dalam setiap karya yang ia ciptakan.
Ia sangat berharap, bahwa masyarakat pembaca mampu menangkap pesan yang ia sampaikan. Dengan menceritakan kehidupan ekonomi masyarakat kelas bawah, kehidupan sosial dengan unsur religius yang tak pernah ditinggalkan itu tentu mampu membuktikan ideologi penulis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ahmad Tohari berikut ini.
Berdasarkan kutipan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Ahmad Tohari dalam melahirkan suatu karya selalu mengandung nilai-nilai kemanusiaan. Jiwa sosial tinggi yang ia miliki berdasarkan pengalaman hidup yang ia lihat, alami, dan ia rasakan. Ideologi Ahmad Tohari tentang permasalah sosial kehidupan yang diangkatnya merupakan suatu ciri khas tersendiri.
2. Latar Belakang Sosial Budaya Novel Bekisar Merah
Sosiologi sastra adalah isi karya sastra berupa tujuan serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Pandangan yang diungkapkan Wellek dan Waren tentang sosiologi karya mencakup pendekatan-pendekatan yang dapat diterapkan di dalam sebuah penelitian. Pertama, pendekatan umum yang dilakukan terhadap hubungan sastra dan masyarakat adalah mempelajari sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial.
Kedua, Wellek dan Weren mengungkapkan bahwa sebagai dokumen sosial sastra dipakai untuk menguraikan ikhtiar sejarah sosial. Kita perlu menjawab secara kongkret bagaimana hubungan potret yang muncul dari karya
Ingin mengajarkan kepada masyarakat tentang penderitaan para petani nira secara netral. Karena tidak ada perhatian dari pemerintah sampai dengan saat ini. (Ahmad Tohari).
commit to user
sastra dengan kenyataan sosial. Apakah karya itu dimaksudkan sebagai gambaran yang realistis? Ataukah merupakan satire, karikatur atau idealisasi Romantik?
Ketiga, penelusuran tipe-tipe sosial. Menurut mereka hanya seseorang yang mempunyai pengetahuan tentang struktur sebuah masyarakat dari sumber lain di luar sastra yang dapat menyelidiki apakah sejauh mana, tipe sosial tertentu dan perilakunya direproduksikan di dalam novel. Penelitian sikap dan aspirasi sosial dapat menggunakan bahan-bahan sastra, asalkan tahu cara yang tepat untuk menginterpretasikannya.
Keempat, perlunya pendekatan linguistik. Latar karya sastra yang paling dekat adalah tradisi linguistik dan sastranya. Tradisi ini dibentuk oleh iklim budaya yang bersangkutan. Sastra hanya berkaitan secara tidak langsung dengan situasi ekonomi, politik dan sosial yang konkret. Situasi sosial memang menentukan kemungkinan dinyatakannya nilai-nilai estetis, tetapi tidak secara langsung menentukan nilai-nilai itu sendiri. Berdasarkan pendapat diatas penulis mengklasifikasikan sosiologi karya sastra novel Bekisar Merah ditinjau dari isi, tujuan, dan permasalahan sosial sebagai berikut.
a. Isi
Pada tahap ini penulis mendeskripsikan isi novel Bekisar Merah pada dua klasifikasi, yaitu mendeskripsikan kehidupan desa dan kehidupan kota sebagai berikut.
1) Kehidupan Desa
Berdasarkan dari segi isi novel, Bekisar Merah adalah novel yang menceritakan sosiologi masyarakat pedesaan pada lapisan bawah, dengan permasalahan kemiskinan dan keprihatinan hidup. Ciri khas yang dimiliki Ahmad Tohari adalah cara penggambaran setting tempat dalam karyanya yang begitu mempesona. Ahmad Tohari dengan teliti, mendefinisikan keadaan sebuah desa dengan cara yang begitu jelas, imajinatif, dan dengan penyampaian secara halus. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
commit to user
Pohon-pohon kelapa itu tumbuh di tanah lereng di antara pepohonan daun yang rapat dan rimbun. Kemiringan lereng membuat pemandangan seberang lembah itu seperti lukisan alam gaya klasik Bali yang terpapar di dinding langit. Selain pohon kelapa yang memberi kesan lembut, batang sengon yang lurus dan langsing menjadi garis-garis tegak berwarna putih dan kuat (Bekisar Merah: 7).
Berdasarkan kutipan di atas, tentu dengan membaca satu kali pembaca mampu terbawa oleh alur cerita. Seolah-olah berada di antara rimbunnya pepohonan kelapa yang tinggi, dan berhawa sejuk. Dalam penggambaran desa Karangsoga pun, Ahmad Tohari menggambarkannya dengan teliti dan halus, seperti kutipan berikut ini.
Karangsoga adalah sebuah desa di kaki pegunungan vulkanik.
Sisa-sisa kegiatan gunung api masih tampak pada ciri desa itu berupa bukit-bukit berlereng curam, lembah-lembah atau jurang- jurang dalam yang tertutup berbagai jenis pakis dan paku-pakuan.
Tanahnya yang hitam dan berhumus tebal mampu menyimpan air sehingga sungai-sungai kecil yang berbatu-batu dan parit-parit alam gemercik sepanjang tahun (Bekisar Merah: 22).
Di Karangsoga, pohon kelapa tumbuh dengan pelepah agak kuncup, karena tak sempat mengembang dalam bulatan penuh sehingga tak bisa menghasilkan buah banyak. Boleh jadi karena keadaan itu orang Karangsoga pada generasi terdahulu memilih menyadap pohon-pohon kelapa mereka daripada menunggu hasil buahnya yang tak pernah memuaskan. Apalagi tupai yang berkembang biak dalam rumpun-rumpun bambu yang tumbuh sangat rapat menjadi hama kelapa yang tak mudah diberantas.
Dahulu, sebelum mengenal pembuatan gula kelapa, orang Karangsoga menyadap pohon aren. Nira aren adalah bahan pembuat tuak yang sangat lama dikenal orang. Namun sejak dianjurkan tidak minum tuak, orang Karangsoga mengolah nira aren menjadi gula untuk kebutuhan sendiri. Ketika gula aren berubah menjadi bahan perdagangan, orang mulai berpikir tentang kemungkinan pembuatan gula dari nira kelapa. Di Karangsoga penyadap nira kelapa berkembang sangat cepat, karena meski subur dan tidak pernah kekurangan air, tanah datar bisa digarap untuk sawah dan tegalan terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang terus meningkat (Bekisar Merah: 23).
Bila hujan dan angin tak kunjung berhenti Darsa tak mungkin pergi menyadap pohon-pohon kelapanya. Sebagai penderes, penyadap nira kelapa, Darsa sudah biasa turun naik belasan pohon dalam hujan untuk mengangkat pongkor yang sudah penuh nira
commit to user
dan memasang pongkor baru. Namun hujan kali ini disertai angin dan guntur. Penderes manapun tak akan keluar rumah meski mereka sadar akan akibatnya: nira akan masam karena pongkor terlambat diangkat. Nira demikian tidak bisa diolah menjadi gula merah. Kalaupun bisa hasilnya adalah gula gemblung, yakni gula pasta yang harganya sangat rendah. Padahal sekali seorang penyadap gagal mengolah nira, maka terputuslah daur penghasilannya yang tak seberapa. Pada saat seperti itu yang bisa dimakan adalah apa yang bisa diutang dari warung (Bekisar Merah: 8).
Ahmad Tohari memang dikenal dengan ciri khasnya dalam mengimajinasikan suatu keadaan alam seolah menjadi nyata. Ia mampu mengajak pambaca larut dalam kata perkata yang ia ciptakan. Tak hanya dalam penggambaran keadaan suatu alam, dalam novel ini Ahmad Tohari mengajak para pembaca untuk merasakan kehidupan yang terjadi pada para penyadap nira. Penderes atau petani penyadap nira adalah suatu mata pencaharian yang mendominasi daerah tempat tinggal Ahmad Tohari di Tinggarjaya, Banyumas.
Bahwa benar adanya, bahkan kehidupan para penyadap sangatlah bergantung pada alam. Apa yang disediakan oleh alam, itulah yang dapat mereka makan. Rantai hidup mereka sangat tergantung dengan keadaan alam dan cuaca. Bahwa alam dan manusia adalah hubungan yang tak dapat dipisahkan. Hal ini dapat dilihat pada kutipan wawancara penulis dengan Ibu Warsinah, istri seorang penyadap nira sebagai berikut ini.
Kutipan tersebut menujukkan bahwa masyarakat pedesaan yang memiliki latar belakang pendidikan rendah, dan ekonomi rendah tentu memiliki ideologi tersendiri dalam hidupnya. Mereka yang hidup dalam Orang tua saya bekerja sebagai petani nira. Dari kecil saya sudah terbiasa mencari kayu bakar dan membantu ibu memasak nira. Sampai dengan menikah, memiliki suami seorang penyadap, dan memiliki tujuh anak, serta sebelas cucu, suami tetap bekerja menjadi petani nira dan saya tetap mengolah nira. Tidak pernah ada niat untuk beralih profesi karena pekerjaan ini sudah mendarah daging. Saya dan suami saya bekerja dengan hati, pasrah bahwa rezeki itu sudah diatur sama Allah Swt (Warsinah).
commit to user
kemiskinan, hanya dapat pasrah dengan apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Apa yang disediakan alam itulah yang menentukan hidup mereka.
Hal ini dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut ini.
Pada musim hujan Lasi sering mengeluh karena jarang tersedia kayu bakar yang benar-benar kering. Mengolah nira dengan kayu setengah basah sungguh menyiksa. Bahkan bila tak untung, gula tak bisa dicetak karena pengolahan yang tak sempurna. Pernah karena ketiadaan kayu kering dan kebutuhan sangat tanggung, Lasi harus merelakan pelupuh tempat tidurnya masuk tungku.
Tanggung, karena sedikit waktu lagi nira akan mengental jadi tengguli. Dalam tahap ini pengapian tidak boleh berhenti dan pelupuh tempat tidur adalah kemungkinan yang paling dekat untuk menolong keadaan. Meskipun begitu tak urung Lasi ketakutan, khawatir akan kena marah suaminya karena telah merusak tempat tidur mereka satu-satunya (Bekisar Merah: 15).
Gambaran istri penyadap nira yang diperankan oleh tokoh Lasi itu memang benar adanya. Mereka para istri penyadap tidak dapat berbuat apa-apa jika hujan turun. Pongkor yang berisi nira menjadi masam karena dibiarkan menggantung di pohon kelapa. Persediaan kayu bakar menjadi basah karena hujan. Tentu mereka tidak dapat menyelamatkan persediaan kayu-kayu bakar yang mereka simpan tersebut. Keluarga penyadap tidak sanggup memiliki rumah yang cukup besar, dan berdinding tembok.
Rumah-rumah mereka hanya rumah kecil yang berdindingkan kayu dan anyaman bambu seadanya, asal mampu untuk berlindung dari teriknya matahari, dan derasnya air hujan sudah cukup bagi mereka.
Selama melalukan kegiatan wawancara dengan penulis, Ahmad Tohari mengatakan bahwa kemiskinan keluarga penyadap yang ia gambarkan pada novel Bekisar Merah sesuai dengan apa yang ia lihat pada dunia nyata. Hal ini senada dengan pernyataan Ahmad Tohari berikut ini.
commit to user
Kemiskinan yang terus-menerus dialami oleh para penyadap tidak pernah selesai. Alam yang menjadi sahabat mereka tiba-tiba dapat juga menyengsarakan hidup mereka. Akan tetapi, tingkah para manusia licik tidak kalah merugikannya. Pernyataan tersebut dapat diperkuat dari kutipan sebagai berikut ini.
Menjadi istri penyadap bukan hanya berarti tiap hari terjerang panasnya api tungku dan bekerja sangat keras tetapi juga hidup miskin seumur-umur. Badan tak pernah dilekati baju yang baik, tak punya perhiasan apalagi alat kecantikan. Lasi sangat teringat betapa berat mengolah nira pada waktu hari-hari hujan. Nira kurang bernas karena tercampur air dan kayu api lembap. Dan pengalamannya jadi istri penderes beberapa kali Lasi terpaksa membakar pelupuh satu-satunya tempat tidur karena kehabisan kayu kering. Belum lagi, dalam cuaca yang banyak mendung, nira cepat berubah masam dan hasil pengolahannya adalah gula gemblung yang persis aspal, merah kehitaman dan tak laku dijual. Bila hal demikian terjadi berarti tak ada uang belanja karena bukan hanya Lasi, tapi hampir semua keluarga penyadap tak pernah mampu menyimpan uang cadangan (Bekisar Merah: 112).
Kemiskinan keluarga penyadap nira yang digambarkan oleh Lasi, seorang istri penyadap nira yang hanya dapat pasrah dengan keadaan alam memang benar. Mereka para keluarga penyadap tak pernah hidup layak. Hidup mereka sangat bergantung dengan alam dan para tengkulak gula yang memiliki andil dalam menentukan harga gula. Harga gula ditentukan oleh para tengkulak, bukan oleh pemerintah. Dalam hal ini, tentu mereka para tengkulak memiliki kebebasan dalam menaikkan atau menurunkan harga. Hal ini dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut ini.
Memang betul jika hujan turun, tentu hal itu sangat merugikan penyadap. Rantai kehidupan mereka seolah mati. Apa lagi saat istri penyadap sedang mengolah nira, lalu kehabisan kayu bakar. Banyak dari mereka yang harus merelakan pelupuh tempat tidur, bahkan kayu pagar rumah pun dapat masuk ke dalam tungku perapian. Hal itu agar api terus menyala. Karena untuk mengolah nira, api tidak boleh padam atau redup, dalam arti api harus tetap menyala dengan stabil.
Keprihatinan-keprihatinan yang dialami keluarga penyadap tersebut saya masukkan ke dalam novel secara utuh karena memang saya melihat sendiri fenomena tersebut (Ahmad Tohari).
commit to user
Para istri penyadap sudah terbiasa mendengar kabar buruk seperti itu. Maka mereka selalu hanya bisa menanggapinya dengan cara menelan ludah dan alis yang berat. Tak bisa lain. Menolak harga yang ditentukan Pak Tir lalu membawa gula mereka pulang? Tak mungkin, karena kebanyakan mereka punya utang kepada tengkulak gula itu. Juga, hasil penjualan hari ini adalah hidup mereka hari ini yang tidak mungkin mereka tunda. Maka bagi mereka harga gula adalah ketentuan menakutkan yang entah datang dari mana dan harus mereka terima, suka atau tidak suka.
Tentang harga yang turun kadang Pak Tir punya cerita. Sekarang musim buah-buahan. Maka kebutuhan orang akan makanan manis berkurang. Atau, tauke bilang pabrik kecap di Jakarta yang biasa menerima gula terbakar sehingga stok gula menumpuk di gudang.
Atau lagi, harga solar naik karena pemerintah memotong subsidi harga bahan bakar minyak. Tauke terpaksa menurunkan harga pembelian gula untuk menutup kenaikan biaya angkutan.
Istri-istri penyadap itu selalu mendengarkan cerita Pak Tir dengan setia. Mereka mengangguk setiap kali Pak Tir selesai dengan satu cerita. Tetapi mereka sungguh tidak bisa mengerti apa hubungan antara musim buah dan jatuhnya harga gula, tentang pabrik kecap yang terbakar, dan kenaikan bahan bakar minyak. Mereka mengangguk karena itulah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan. Ya, mengangguk bukan karena mereka mengerti.
Anggukan mereka lebih terasa sebagai pertanda ketidakberdayaan (Bekisar Merah: 53).
Begitulah sikap para istri penyadap nira jika mendengar harga gula turun. Mereka hanya bisa pasrah menerima nasib pahit yang harus mereka dapat. Tokoh Pak Tir adalah gambaran seorang tengkulak gula kaya raya yang licik, memiliki banyak akal untuk menurunkan harga gula. Terkadang ia bercerita sebab harga gula turun, dengan berbagai cerita berbeda-beda. Selain itu Pak Tir sangat lihai dalam menentukan timbangan gula dengan tidak adil. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut ini.
Jarang terjadi bulan Puasa jatuh pada musim kemarau. Tetapi hal yang jarang itu selalu dinanti oleh para penyadap, karena sudah menjadi kebiasaan pada saat seperti itu harga gula akan naik dan bisa mencapai titik tertinggi. Para penderes sendiri tidak mengerti mengapa harga gula naik pada bulan Puasa, terutama sejak sepuluh hari menjelang Lebaran. Mereka hanya tahu dari pengalaman sejak
commit to user
lama bahwa harga dagangan mereka membaik bahkan melonjak menjelang akhir bulan itu. Tetapi para tengkulak seperti Pak Tir bisa mengatakan bahwa kenaikan harga gula disebabkan oleh melonjaknya tingkat konsumsi di kota-
Puasa banyak orang membuat makanan manis, te (Bekisar Merah: 166).
Selain dengan mudah menentukan harga gula, mereka para tengkulak membuka usaha perdagangan bahan pangan.Tentu dengan modus perdagangan tersebut, mereka dapat melayani hutang piutang bagi siapa saja yang membutuhkan bahan pangan. Dengan mendapatkan harga jual gula yang rendah, mau tidak mau para istri penyadap harus berhutang membeli bahan pangan padanya. Hal itu tentu semakin merugikan mereka. Berhutang pada tengkulak sama saja menurunkan harga gula yang mereka bawa. Pak Tir dengan mudahnya menurunkan harga gula yang dibawa oleh istri penyadap itu dengan alasan untuk menutup hutang-hutang mereka. Hal ini dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut ini.
-poho
-mudik di ruang yang sempit itu.
lakukan kecuali datang kepada Pak Tir. Lasi selalu menjual gula Semua yang hadir diam. Mereka membenarkan Mbok Wiryaji tetapi mereka juga tahu apa artinya bila Lasi meminjam uang kepada Pak Tir. Nanti Lasi tak boleh menjual gulanya kepada pedangan lain dan harga yang diterimanya selalu lebih rendah.
Malangnya bagi istri seorang penyadap ini masih lebih manis daripada membiarkan suami tak berdaya dan terus mengerang (Bekisar Merah: 20).
Mereka para tengkulak memang sangat licik dan tidak adil. Meraup keuntungan sedemikian banyaknya dengan melakukan berbagai cara licik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ahmad Tohari berikut ini.
commit to user
Tengkulak gula memang sangat berkuasa dalam menentukan harga gula. Harga yang mereka tentukan adalah harga mati untuk para penyadap. Jika dilihat, apa yang telah mereka lakukan benar-benar tidak adil. Nyawa dipertaruhkan demi menyambung hidup keluarga para penyadap nira, dibayar dengan harga yang tidak pantas. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
Bagi siapa saja di Karangsoga berita tentang orang dirawat karena jatuh dari pohon kelapa sungguh bukan hal luar biasa. Sudah puluhan penderes mengalami nasib yang jauh lebih buruk daripada musibah yang menimpa Darsa dan kebanyakan mereka meninggal dunia. Si Itu patah leher ketika jatuh dan arit yang terselip di pinggang langsung membelah perut. Si Ini jatuh terduduk dan menghujam tepat pada tonggak bambu sehingga diperlukan tenaga beberapa orang untuk menarik tubuhnya yang sudah menjadi mayat. Si Pulan bahkan tersambar geledek ketika masih duduk di atas pelepah pohon kelapa dan mayatnya terlempar jatuh ke tengah rumpun pandan. Mereka, orang-orang Karangsoga, sudah terbiasa dengan peristiwa seperti itu sehingga mereka mudah melupakannya (Bekisar Merah: 24).
Profesi penyadap nira adalah suatu pekerjaan yang memiliki risiko sangat tinggi. Mereka para penyadap terbiasa naik turun belasan pohon kelapa setiap harinya tanpa dilengkapi alat keamanan yang memadai.
Maut bisa datang kapan saja kepada mereka. Hanya dengan berbekal keahlian dan kekuatan tubuh mereka mampu menerjang segala risiko yang dapat terjadi kapanpun demi menyambung hidup mereka.
Berita tentang penyadap nira yang jatuh dari ketinggian pohon kelapa sudah tidak asing bagi penduduk Karangsoga. Dalam wawancara dengan penulis, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa risiko terburuk
Ya. Tata cara pengepul, mafia gula, Saya tahu persis hal-hal tersebut.
Mereka para pengepul sering menimbang gula dengan tidak adil.
Mereka para pengepul gula dengan mudahnya mengendalikan harga.
Harga yang ditentukan sangat tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan oleh para keluarga penyadap. Nyawa sebagai taruhan, namun para tengkulaklah yang berkuasa menentukan nasib mereka.
Hingga sekarang masih ditetapkan oleh mereka, pihak pemerintah masih bersikap pasif dalam permasalahan ini (Ahmad Tohari).
commit to user
apapun yang diterima oleh para penyadap hanya dapat dijadikan suratan takdir yang tak dapat ditolak. Hal ini senada dengan pernyataan Ahmad Tohari berikut ini.
Selain berisiko tinggi, mereka para penyadap sepertinya tidak pernah mengeluhkan profesinya tersebut. Mereka merasa ikhlas dan menerima apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka dapatkan.
Bagi para penyadap nira, menjadi petani nira adalah suatu pekerjaan terbaik. Jadi tak ada penyadap yang berhenti dari pekerjaannya untuk beralih ke profesi lain. Kecuali karena mereka terjatuh dari pohon kelapa atau usia yang sudah semakin tua.
Ahmad Tohari dalam novel Bekisar Merah juga menampilkan tokoh Kanjat, anak bungsu Pak Tir yang memiliki sifat berbalik dengan ayahnya. Kanjat remaja adalah pemuda yang aktif, kreatif, kritis dan inovatif. Diceritakan bahwa Kanjat dalam penelitian skripsi yang ia tempuh untuk memenuhi syarat sarjana, ia melakukan penelitian di desa tempat tinggalnya. Setelah mendapatkan gelar sarjana Kanjat diberi kesempatan oleh pembimbing skripsinya, Doktor Jirem untuk menjadi asisten dosen. Selama menjadi asisten dosen, Kanjat bergabung dalam tim penelitian yang dipimpin Doktor Jirem. Penelitian tersebut berhubungan dengan skripsi Kanjat yang berkaitan dengan kehidupan para penyadap yang dirugikan oleh tengkulak. Tokoh Kanjat yang memiliki jiwa sosial tinggi digambarkan sangat kontras dengan tokoh ayahnya Pak Tir, tengkulak gula yang licik.
Tokoh Kanjat tersebut dapat dikatakan sebagai cerminan ideologi pengarang. Pengarang Ahmad Tohari dapat digambarkan pada sosok Ya. Menjadi seorang penyadap memang memiliki risiko yang sangat tinggi. Ada yang terjatuh dari ketinggian pohon kelapa langsung meninggal dunia, ada pula yang lumpuh atau patah tulang, Mereka bekerja tanpa dilengkapi alat pengamanan yang memadai. Maut bisa datang kapanpun (Ahmad Tohari).
commit to user
Kanjat yang berjiwa kemanusiaan, sosial tinggi, dan pekerja keras. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
kapan pun tetap anak Karangsoga. Saya selalu merasa kaum penyadap di sana adalah sanak famili saya sendiri. Jadi kepahitan hidup mereka adalah keprihatinan dan beban jiwa saya juga, beban Kanjat terhenti. Gelisah. Pak Jirem memperhatikannya, masih dengan rasa menyesal.
saya boleh dibilang tak mampu berbuat sesuatu. Pak, mungkin perasaan saya salah. Namun memang saya merasa dalam kondisi kehidupan yang dikuasai oleh perekonomian pasar bebas seperti sekarang, segala keterpihakan terhadap kehidupan pinggiran kurang mendapat dukungan. Malah, jangan-jangan obsesi saya untuk membantu para penyadap merupakan sesuatu yang sia-sia.
Seperti pernah saya katakan dulu, jangan-jangan nanti ada yang kisar Merah: 176).
Diceritakan Kanjat melakukan sebuah penelitian baru yang mulanya dipimpin oleh Doktor Jirem kini dipimpin oleh Kanjat. Kanjat bersama tim kerjanya menciptakan bahan kimia untuk memperlambat perubahan nira yang bersifat cepat masam. Selain itu mereka juga menciptakan tungku-tungku besar untuk mengurangi pemakaian bahan bakar. Dikaitkan dengan latar belakang Ahmad Tohari yang pernah duduk dibangku perkuliahan Universitas Jendral Soedirman Purwokerto tentu dapat disimpulkan bahwa penggambaran tokoh Kanjat lahir berdasarkan pengalaman yang dialami oleh pengarang Ahmad Tohari.
Tokoh Eyang Mus, yang ditampilkan pengarang merupakan warna tersendiri. Sosok religi yang disegani oleh para penduduk Karangsoga, menjadikan Eyang Mus tokoh spiritual yang selalu memberikan pesan- pesan spiritual pada masyarakat Karangsoga.
2) Kehidupan Kota
Dalam novel Bekisar Merah diceritakan seorang istri penyadap yang kabur dari Karangsoga, Lasi. Lasi kabur dari Karangsoga bukan karena ia ingin memperbaiki hidup namun pergi dari masalah yang ia alami, yaitu
commit to user
dikhianati oleh Darsa suaminya sendiri. Ketika itu Lasi pergi meninggalkan Karangsoga dengan mengikuti Pardi dan Sapon anak buah Pak Tir untuk mengantar gula ke Jakarta menggunakan truk. Di Jakarta Lasi dititipkan di warung milik Bu Koneng, tempat Pardi dan Sapon beristirahat sejenak. Di sinilah Ahmad Tohari mulai menggambarkan setting kota metropolitan dengan berbagai masalah sosial di dalamnya.
-an, di Jakarta sedang marak-maraknya kasus perdagangan manusia atau kasus prostitusi. Lasi yang digambarkan seorang wanita cantik keturunan Jepang itu dianggap Bu Koneng adalah barang berharga yang dapat ia jual. Setting warung remang-remang pinggiran kota yang digambarkan pengarang berdasarkan pengalamannya saat melakukan perjalan ke Jakarta. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan wawancara berikut ini.
Kutipan di atas menggambarkan para wanita yang berdandan mencolok itu kata lain dari wanita yang biasa menjadi pacar para tukang truk yang berhenti di warung-warung sepanjang jalan pantura tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
Sapon membawa Lasi masuk ke warung makan yang cukup besar itu dan langsung ke bagian belakang. Lampu pompa belum dipadamkan, padahal hari sudah benderang. Lasi melihat tiga perempuan tidur berdempetan di sebuah bangku panjang. Sisa rias mereka masih tampak jelas. Warna pakaian mereka mencolok. Dua perempuan lain sedang duduk bercakap-cakap sambil merokok. Keduanya mengangkat muka ketika melihat Lasi dan Sapon masuk. Dan seorang diantaranya menyambar tangan Sapon setelah Lasi menghilang di balik pintu kamar mandi.
kering.
: 66).
Warung remang-remang di sepanjang jalan pantai utara memang banyak dijumpai. Di sana banyak dijadikan tempat pemberhentian truk- truk barang. Saya pernah berhenti hanya untuk mampir makan, memang pemandangan di sana itu dihiasi oleh para wanita yang berdandan mencolok (Ahmad Tohari).
commit to user
Biasanya pemilik warung adalah induk semang bagi wanita-wanita yang berdandan mencolok itu. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
Lasi dapat mengira-ngira si Anting Besar, si Betis Kering, serta ketiga temannya tentu perempuan jajanan semacam pacar Pardi yang ada pada setiap warung yang disinggahinya. Sepanjang pengetahuannya perempuan seperti itu tidak ada di Karangsoga. Tetapi Lasi sering mendengar ceritanya dan kini Lasi melihat sendiri sosok mereka, bahkan berada di antara mereka. Dan, apakah Bu Koneng seperti sering dibilang orang, adalah mucikari dan menyamar sebagai pengusaha warung makan? (Bekisar Merah: 69).
Kutipan di atas menyampaikan pendapat pengarang mengenai keberadaan wanita-wanita berdandan mencolok yang tinggal di warung- warung sepanjang jalan pantai utara. Tokoh Bu Koneng digambarkan seorang mucikari kelas bawah, namun tentu ia memiliki atasan yang lebih tinggi.
Muncul kemudian seorang mucikari besar kelas atas, yang diperankan oleh tokoh Bu Lanting. Bu Lanting adalah seorang mucikari kelas atas yang dikenal ahli dalam jual beli perempuan.
Lasi perempuan desa yang cantik itu dibawa oleh Bu Lanting untuk tinggal bersamanya di rumah mewah karena dianggap barang berharga baginya. Seorang mucikari tentu memiliki segala tipu daya untuk menaklukan perempuan lugu yang akan dijualnya tersebut. Dengan modus menjadi pendengar yang baik, tentu mampu menarik perhatian calon korban tersebut.
Perlahan menjadikan barang dagangannya itu seperti apa yang diinginkan oleh para lelaki hidung belang yang menginginkannya. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
-benda antik. Atau -
-main. Anda butuh bekisar untuk hias istana Anda
Yang ini banyak dicari adalah anak blasteran macam itu, bukan?
Blasteran Jepang-Melayu. Memang, Pak Han, hasil kawin campur sering menarik. Entahlah, barangkali bisa menghadirkan ilusi romantis,
commit to user
atau bahkan ilusi berahi. Khayalan-khayalan kenikmatan berahi. Eh, saya kok jadi saru
Dan hanya tiga bulan sejak pembicaraan itu, pagi ini Bu Lanting mengirimkan potret Lasi kepada Pak Han melalui si Kacamata. Dalam pengantaranya Bu Lanting menulis, apabila suka dengan calon yang disodorkan, Pak Han harus lebih dulu menepati janji. Pak Han harus menyerahkan kepada Bu Lanting Mercedes-nya yang baru. Plus biaya operasi pencarian sekian juta. Bila tak dipenuhi, calon akan diberikan kepada orang lain, salah seorang bos Pertamina, perusahaan minyak milik negara (Bekisar Merah: 117-118).
Pada saat itu perdagangan gadis-gadis peninggalan Jepang sedang diminati. Para pejabat negara berlomba-lomba mengikuti jejak petinggi negera yang menggandeng gadis Jepang. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
Bu Koneng tertawa latah. Dia lupa bahwa niaga Bu Lanting memang banyak, dari segala macam benda antik, batu berharga sampai keris dan jejimatan. Dan perempuan muda. Terakhir Bu Lanting giat menjalankan niaga istimewa untuk melayani pasar istimewa yang sangat terbatas di kalangan tinggi. Orang bilang pasar itu diilhami oleh masuknya seseorang gadis geisha ke istana negara pada awal dasawarsa 60-an dan kemudian bahkan menjadi ibu negara beberapa tahun kemudian.
Kecantikan gadis Jepang itu, yang sering muncul mendampingi Pemimpin Besar dengan kain kebaya gaya Jawa, konon mampu membikin oleng hati banyak orang. Dan karena Pemimpin Besar adalah patron, dari kalangan yang sangat terbatas pula muncul beberapa pemimpin kecil mengikuti langkahnya, mencari istri baru dari Jepang atau yang mirip dengan itu, Cina. Apabila mereka tidak berhasil menjadikan gadis-gadis Jepang itu istri sah, apa salahnya sekadar gundik. Yang penting, meniru langkah Pemimpin Besar dijamin tidak mungkin keluar dari rel revolusi, suatu ungkapan dan slogan politis yang sangat dipopulerkan oleh Pemimpin Besar sendiri.
Bagi pemimpin yang lebih kecil lagi memperoleh seorang gadis Jepang bukan hal mudah. Namun hasrat untuk mengikuti langkah Pemimpin Besar sebagai bagian dari semangat revolusi yang jor-joran, habis- habisan, tidak bisa surut. Maka apabila pemimpin yang lebih kecil lagi merasa tak mungkin memperoleh gadis Jepang asli, apa salahnya mencari yang setengah asli. Dan mereka bukan tidak tahu bahwa banyak tentara Jepang meninggalkan keturunan di beberapa daerah, misalnya di Kuningan, Jawa Barat (Bekisar Merah: 100).
Fenomena demikian memang pernah terjadi di istana negara. Dengan adanya fenomena tersebut, maka banyak pejabat-pejabat lain yang mengikuti
commit to user
jejak kepala negara tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan wawancara berikut ini.
Berdasarkan pengalaman bekerja sebagai wartawan di Jakarta, tentu Ahmad Tohari paham benar dengan berbagai isu politik dan isu sosial yang terjadi di sana. Isu sosial itu ia gambarkan pada tokoh Lasi yang berketurunan Jepang. Walaupun ia asli penduduk Karangsoga, namun ayah kandungnya adalah seorang tentara Jepang yang tinggal di Karangsoga. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
tidak bohong. Dengarlah, kamu lahir tiga tahun sesudah peristiwa cabul yang amat ku benci itu. Entah bagaimana setelah tiga tahun menghilang orang Jepang itu muncul lagi di Karangsoga. Kedatangannya yang kedua tidak lagi bersama bala tentara Jepang melainkan bersama para pemuda gerilya. Tampaknya ayahmu menjadi pelatih para pemuda. Dan mereka, para pemuda itu, juga Eyang Mus memaafkan ayahmu, bahkan aku diminta juga menerima
Darah Jepang yang mengalir pada dirinya tentu membuatnya menjadi seperti gadis Jepang seutuhnya. Tentu hal itu membuat Lasi diincar oleh banyak lelaki hidung belang. Lelaki itu digambarkan oleh tokoh Handarbeni, biasa dipanggil Pak Han. Berdasarkan permintaan Pak Han yang menghendaki Lasi, Bu Lanting mendandani Lasi menyerupai gadis Jepang, Haruko Wanibuchi. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
Kalau bukan karena Pak Handarbeni, boleh jadi Bu Lanting tak pernah mendengar nama Haruko Wanibuchi. Overste purnawirawan yang berhasil merebut jabatan terpenting pada PT Bagi-bagi Niaga, bekas sebuah perusahaan asing yang dinasionalisasi, sering menyebut nama itu. Dari Pak Han itulah Bu Lanting tahu bahwa Haruko Wanibuchi adalah seorang bintang film Jepang yang potretnya sering menghiasi majalah hiburan dan kalender. Bagi Pak Han, Haruko adalah khayalan Bekerja di harian Merdeka Jakarta, saat itu sedang tren trafficking di sana. Sekitar tahun 80-an yang berpusat di Kuningan. Komoditas perdagangan itu memang sedang mencari gadis-gadis dari peninggalan Jepang. Hal itu dikarenakan beberapa tahun sebelumnya Presiden Soekarno pernah membawa wanita Jepang ke Istana yang bernama Naoko Nemoto (Ahmad Tohari).
commit to user
romantis, bahkan kadang mimpi berahi yang paling indah.
Kecantikannya, kata Pak Han, melebihi Naoko Nemoto, geisha yang beruntung pernah menjadi penghuni Istana Negara itu (Bekisar Merah:
116).
Haruko Wanibuchi adalah bintang film Jepang yang sedang terkenal pada saat itu. Potretnya selalu menghiasi layar kaca, dan di berbagai kalender. Lasi perempuan lugu itu didandani sedemikian rupa oleh Bu Lanting agar Pak Han tertarik dan menginginkannya sebagai gundik. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
-benda antik. Atau -
k main-main. Anda butuh bekisar untuk hias
Yang ini banyak dicari adalah anak blasteran macam itu, bukan?
Blasteran Jepang-Melayu. Memang, Pak Han, hasil kawin campur sering menarik. Entahlah, barangkali bisa menghadirkan ilusi romantis, atau bahkan ilusi berahi. Khayalan-khayalan kenikmatan berahi. Eh,
saya kok jadi saru : 117).
Bekisar adalah hasil perkawinan silang ayam hutan dan ayam kota.
Biasanya bekisar hanya dimiliki oleh orang-orang kelas ekonomi menengah keatas, karena harganya yang cukup tinggi. Bekisar memiliki bulu yang indah untuk dinikmati, itulah yang membuatnya bernilai tinggi. Lasi yang berketurunan Jepang itu bak seorang bekisar yang diperdagangkan dengan harga tinggi. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
Dan hanya tiga bulan sejak pembicaraan itu, pagi ini Bu Lanting mengirimkan potret Lasi kepada Pak Han melalui si Kacamata. Dalam pengantaranya Bu Lanting menulis, apabila suka dengan calon yang disodorkan, Pak Han harus lebih dulu menepati janji. Pak Han harus menyerahkan kepada Bu Lanting Mercedes-nya yang baru. Plus biaya operasi pencarian sekian juta. Bila tak dipenuhi, calon akan diberikan kepada orang lain, salah seorang bos Pertamina, perusahaan minyak milik negara (Bekisar Merah: 118).
commit to user
Seorang mucikari besar bernama Bu Lanting digambarkan sebagai mucikari profesional yang mampu menjadikan perempuan-perempuan dagangannya layak dibeli harga tinggi oleh peminatnya. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut ini.
Malah lebih jangkung dari rata-rata gadis Sakura. Sekarang aku percaya, dalam urusan barang langka ka
-bisanya kamu menemukan bekisar -apa yang sudah nyata. Bahkan saya merasa belum berhasil seratus persen. Bekisar Anda itu, Pak Han, masih berjalan seperti perempuan petani. Serba tergesa dan kaku. Sangat jauh dari keanggunan. Sisi ini adalah pekerjaan rumah saya yang belum
: 133).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Bu Lanting sangat profesional dalam masalah perdagangan perempuan. Sebuah cerminan nyata mucikari kelas atas yang digambarkan oleh Ahmad Tohari. Mereka orang-orang yang berkuasa di kota besar merasa bawah dirinya mampu melakukan segala sesuatu untuk memeroleh apa yang mereka inginkan. Kebanyakan dari mereka memiliki sifat ceroboh, tamak, dan licik. Demi memperoleh sesuatu hal yang dinginkan mereka rela berjuang mati-matian menghalalkan berbagai cara.
b. Tujuan
Pengarang sebagai sastrawan tentunya memberikan sumbangsih nilai- nilai kehidupan yang ia sampaikan pada setiap karya yang ia ciptakan.
Setiap karya sastra pasti mengandung nilai-nilai yang disampaikan pengarangnya melalui imajinasi kata yang disusun sedemikian rupa.
Berdasarkan isi novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, dapat disimpulkan bahwa pengarang menyampaikan tujuan penulisan tersebut kepada masyarakat pembaca agar mereka mengerti akan keprihatinan yang dialami oleh para penyadap nira. Pengarang mengajak para pembaca untuk bersama-sama memperhatikan nasib para penyadap nira yang terbelenggu