• Tidak ada hasil yang ditemukan

HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN ORISINALITAS KATA PENGANTAR ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN ORISINALITAS KATA PENGANTAR ABSTRAK"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL……… ... ………i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah Penelitian ... 15

1.3 Tujuan Penelitian ... 16

1.4 Kegunaan Penelitian ... 16

1.5 Sistematika Penulisan ... 17

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Landasan teori ... 19

2.1.1 Konsep produksi ... 19

2.1.2 Faktor-faktor produksi ... 20

2.1.3 Teori produksi ... 24

2.1.4 Siklus kehidupan produk (Product Life Cycle) ... 25

2.1.5 Perluasan produksi ... 27

2.1.6 Skala ekonomi dan sifat produksi ... 28

2.1.7 Industri ... 32

2.1.8 Hubungan Antara Tenaga Kerja dengan Produksi... 34

2.1.9 Hubungan Antara Modal dengan Produksi ... 34

2.2 Hipotesis Penelitan ... 35

BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 36

3.2 Lokasi Penelitian ... 36

3.3 Objek Penelitian ... 37

3.4 Identifikasi Variabel ... 37

3.5 Definisi Operasional Variabel ... 38

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 38

3.6.1 Jenis data ... 38

3.6.2 Sumber data ... 39

3.7 Metode Penentuan Populasi dan Sampel ... 40

3.7.1 Populasi ... 40

3.7.2 Sampel ... 41

3.7.3 Penentuan Sampel ... 41

3.8 Metode Pengumpulan Data ... 43

3.9 Teknik Analisis Data ... 43

(2)

3.9.1 Model Regresi Linear Berganda ... 43

3.9.2 Uji Asumsi Klasik ... 44

3.9.3 Uji Signifikansi Koefisien Regresi ... 46

3.9.4 Menentukan Skala Ekonomi ... 51

3.9.5 Menentukan Sifat Produksi ... 51

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ... 52

4.1.1 Topografi Kabupaten Klungkung ... 52

4.1.2 Kondisi Ekonomi Kabupaten Klungkung ... 53

4.1.3 Sejarah Kain Tenun Endek di Kabupaten Klungkung ... 54

4.2 Karakteristik Responden ... 56

4.2.1 Kelompok Jenis Kelamin Responden ... 56

4.2.2 Kelompok Umur Responden ... 57

4.2.3 Tingkat Pendidikan Formal Responden ... 57

4.3 Deskripsi Variabel ... 58

4.4 Pembahasan Penelitian ... 59

4.4.1 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda ... 59

4.4.2 Uji Asumsi Klasik ... 61

4.4.3 Uji Signifikansi koefisien regresi ... 65

4.4.4 Menentukan skala ekonomi kain tenun endek ... 72

4.4.5 Menentukan sifat produksi kain tenun endek ... ...72

4.5 Pembahasan ... 72

4.5.1 Pengaruh Tenaga Kerja dan Modal secara simultan terhadap industri Kain Tenun endek Kabupaten Klungkung ... 73

4.5.2 Pengaruh Tenaga kerja dan modal secara parsial terhadap industri Kain Tenun Endek di Kabupaten Klungkung ... 74

4.5.3 Skala ekonomi industri kain tenun di Kabupaten Klungkng ... 75

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 76

5.2 Saran ... 76

(3)

DAFTAR RUJUKAN LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

No. Tabel Halaman

1.1 Rekapitulasi Industri Rumah Tangga, Kecil dan Menengah Menurut

Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Tahun 2015 ... 9

1.2 Rekapitulasi Industri Kain Tenun Endek Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Berdasarkan Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja, Nilai Investasi Tahun 2015 ... 10

1.3 Jumlah Industri Kain Tenun Endek Menurut Kabupaten Klungkung Tahun 2015 ... 10

1.4 Produksi dan Nilai Produksi Industri Kain Tenun di Kabupaten Klungkung Tahun 2010-2015 ... 12

1.5 Produktivitas Tenaga Kerja Industri Kain Tenun di Kabupaten Klungkung Tahun 2010-2015 ... 13

3.1 Jumlah Industri Kain Tenun Endek Se-Kabupaten Klungkung Tahun 2015 ... 40

3.2 Jumlah Unit Usaha Kain Tenun Endek Berdasarkan Jenis Industri dan Kecamatan di Kabupaten Klungkung Tahun 2015 (Unit) ... 41

3.3 Sampel Pengusaha Kain Tenun Endek di Kabupaten Klungkung Tahun 2016 Berdasarkan Jenis Industri (Unit) ... 43

4.1 Karakteristik Responden Kelompok Jenis Kelamin ... 56

4.2 Karakteristik Responden Kelompok Umur ... 57

4.3 Karakteristik Responden Kelompok Pendidikan Formal ... 58

4.4 Hasil Deskripsi Variabel ... 59 4.5 Hasil Uji Analisis Skala Ekonomis Pada Industri Kain Tenun Endek

(4)

di Kabupaten Klungkung ... 60

4.6 Hasil Uji Normalitas ... 61

4.7 Perhitungan Tolerance dan Variance Inflation Factor ... 62

4.8 Hasil Uji Heterokedastisitas dengan Uji Glejser ... 65

4.9 Hasil Uji F ... 66

(5)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Halaman

2.1 Tahapan Siklus Kehidupan Produk ... 27

2.2 Hukum Kenaikan Produksi Lebih dari Sebanding terhadap Skala ... 29

2.3 Hukum Kenaikan Produksi Sebanding terhadap Skala... 30

2.4 Hukum Kenaikan Produksi Kurang dari Sebanding terhadap Skala ... 30

3.1 Daerah Penolakan dan Penerimaan Ho dengan uji F ... 46

3.2 Daerah Penolakan dan Penerimaan H0 dengan Uji t Untuk Variabel Tenaga Kerja (X1) ... 48

3.3 Daerah Penolakan dan Penerimaan H0 dengan Uji t Untuk Variabel Modal (X2) ... 50

4.1 Daerah Pengujian Autokorelasi dengan uji Durbin Watson ... 64

4.2 Daerah penerimaan dan penolakan Ho dengan uji F ... 67

4.3 Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho untuk variabel tenaga kerja ... 69

4.4 Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho untuk variabel modal ... 71

(6)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Hal

1 Kuisioner ... 81

2 Tabulasi Data Penelitian ... 83

3 Frequency Table ... 84

4 Regression ... 87

5 Tabel Uji F ... 92

6 Tabel Uji t ... 93

7 Tabel Durbin Watson (df) ... 94

(7)

Judul : Analisis Efisiensi Skala Ekonomis Pada Industri Kain Tenun Endek di Kabupaten Klungkung

Nama : Putu Eva Mastiana Putri NIM : 1115151021

Abstrak

Pertumbuhan sektor-sektor ekonomi di Provinsi Bali sudah berkembang pesat, salah satunya pertumbuhan yang terjadi di sektor industri pengrajin kain tenun endek di Kabupaten Klungkung. Pertumbuhan sektor industri ditentukan oleh skala usaha atau skala produksi dari suatu perusahaan yang masuk dalam industri tersebut, dan biasanya semakin besar skala usaha atau skala produksinya cenderung akan menunjukkan tingkat efisiensi yang semakin baik.

Tujuan penelitian (1) mengetahui pengaruh tenaga kerja dan modal, baik secara simultan maupun parsial terhadap industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung, (2) mengetahui skala ekonomis industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung, (3) mengetahui sifat produksi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung. Penelitian dilakukan di Kabupaten Klungkung, meneliti industri kain tenun endek dengan populasi sebanyak 116 unit usaha yang tersebar di Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Banjar Angkan dan Dawan dengan teknik analisis regresi linier berganda. Sampel diambil sebanyak 54 diambil secara acak dengan menggunakan stratified random sampling.

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan tenaga kerja dan modal berpengaruh signifikan secara simultan terhadap industri kain tenun endek. Tenaga kerja dan modal berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap kain tenun endek. Skala ekonomis industri kain tenun endek berada dalam kondisi decreasing return of scale.

Produksi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung bersifat padat karya.

Disarankan dalam proses produksi mampu memperkerjakan orang yang tepat pada keahliannya dan memperhatikan modal yang digunakan dengan memperhatikan kepentingan jangka pendek dan jangka panjang secara bersamaan bisa terus ditingkatkan untuk mencapai titik efisien. Proporsi penggunaan tenaga kerja dan modal sebagai faktor produksi agar ditingkatkan secara bersamaan, dimana peningkatan output dan peningkatan input produksi dapat seimbang sehingga memperoleh keuntungan. Perlu adanya peningkatan kualitas tenaga kerja, salah satunya dengan melakukan berbagai pelatihan-pelatihan, khususnya untuk tenaga kerja yang masih muda dan belum memiliki pengalaman.

Kata kunci : tenaga kerja, modal dan produksi industri, return to scale dan sifat produksi

(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pembangunan pada hakikatnya merupakan suatu proses perubahan yang terus menerus melakukan perbaikan serta peningkatan menuju kearah tujuan yang ingin di capai. Indonesia salah satunya merupakan negara berkembang yang memiliki sasaran pembangunan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, mengejar pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan. Pembangunan di Indonesia pada saat ini menitikberatkan pada pembangunan di bidang ekonomi tanpa mengesampingkan bidang-bidang lainya. Usaha dalam mencapai tujuan tersebut di perlukan perjuangan dan peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat (Jeffry, 2009). Memperhatikan hal ini diperlukan upaya seluruh partisipasi masyarakat dengan memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya yang ada sesuai dengan laju perkembangan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera serta merata secara materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana yang aman, tentram, tertib dan dinamis (Agus, 2013).

Usaha pemerintah terhadap pembangunan di bidang ekonomi telah dilakukan pembinaan dan pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM), usaha kecil dan menengah pada umumnya adalah usaha milik seseorang dan hanya mengandalkan modal sendiri dan juga sulitnya memperoleh pinjaman modal yang harus memenuhi persyaratan administratif dan teknis yang diminta oleh bank. Dari segi sumber daya manusia UKM juga memiliki keterbatasan yang umumnya adalah pendidikan yang rendah sehingga akan

(9)

berpengaruh pada perkkembangan usaha tersebut, yang terakhir adalah lemahnya jaringan usaha dan penetrasi pasar, hal ini terkait dengan pengelolaan dan juga pemasaran dari UKM yang masih terbatas sehingga masih kalah bersaing dengan industri besar yang sudah memiliki sistem jaringan dan pemasaran yang baik (Irwan. 2010).

Pemerintah mengatakan usaha kecil dan menengah ini sudah jelas perlunya mendapatkan pembinaan dan pengembangan dalam sektor informal agar tetap berperan dalam mewujudkan perekonomian nasional yang semakin baik dan seimbang berdasarkan demokrasi ekonomi di Indonesia. Pemerintah telah mengupayakan perannya dalam peningkatan sumber daya manusia melalui pelatihan serta memberikan transfer pengetahuan tentang mengelola dunia usaha. Permodalan, dengan cara membantu akses permodalan. Distribusi/pemasaran, dengan memberikan bantuan informasi pasar, mengembangkan jaringan distribusi. Pembinaan dan pengembangan usaha kecil yang dilakukan dapat berupa pada bidang pemasaran, sumber daya manusia dan permodalan sampai saat ini rutin dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah (Gerya, 2014).

Keberadaan usaha kecil dan menengah (UKM) terbukti banyak memberikan kontribusi dalam pembangunan regional (Ratih, 2001). Penerapan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan usaha mikro kecil (Siregar, 2008). Sektor industri diyakini sebagai sektor yang dapat memimpin sektor-sektor lain dalam sebuah perekonomian menuju kemajuan. Hal ini disebabkan karena sektor industri memiliki variasi produk yang sangat beragam dan mampu memberikan manfaat marginal yang tinggi kepada pemakainya. Program pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah daerah saat ini salah satunya adalah menggalakan sektor industri (Irawan, 2010). Pertumbuhan sektor industri ini akan sangat dipengaruhi oleh skala usaha atau skala produksi dari suatu perusahaan yang masuk dalam industri tersebut, dan biasanya semakin besar skala usaha produksinya cenderung

(10)

akan menunjukan tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi atau input yang tinggi sehingga perusahaan akan berkembang lebih pesat (Chairul et al., 2013).

Ardi (2005) menyatakan pembangunan ekonomi merupakan suatu proses untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat, oleh karena itu pelaksanaan pembangunan harus menjamin pembagian pendapatan yang merata bagi seluruh rakyat sesuai dengan sila ke lima Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia yang sekaligus untuk mencegah adanya jurang antara si kaya dan si miskin.

Perkembangan pembangunan daerah Bali merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yang meliputi berbagai aspek kehidupan baik fisik maupun mental yang bertujuan untuk meningkatkan harkat, martabat serta memperkuat kepribadian dan jati diri masyarakat Bali lokal maupun nasional.

Farok (2012) mengemukakan pembangunan sebagaimana dikonsepkan oleh para ahli ekonomi telah menciptakan perubahan penting dalam kehidupan suatu bangsa.

Pembangunan telah mengantarkan negara-negara sedang berkembang memasuki tahapan modernisasi sebagai titik lompatan menuju kehidupan yang maju dan sejahtera, selanjutnya Priyonggo (2008) menyatakan hakekatnya pembangunan nasional merupakan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu indikator kemajuan pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi (Soliha, 2008), maka untuk mencapai hal tersebut pemerintah dalam melaksanakan pembangunan akan semakin mengandalkan pada aktifitas dan peran aktif masyarakat itu sendiri agar terwujud masyarakat yang sejahtera. Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat, sehingga pendapatan dapat mencerminkan kemajuan ekonomi suatu masyarakat (Arsyad, 1999:25).

(11)

Marius (2006) menyatakan bahwa perkembangan ekonomi khususnya sektor industri adalah salah satu kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam arti tingkat hidup yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu, sehinga diusahakan jika semakin besar kegiatan ekonomi khususnya sektor industri maka semakin luas lapangan kerja produktif bagi masyarakat. Irwan (2010) menyatakan, perkembangan saat ini yang terjadi di sektor industri, menjadikan sektor industri sebagai sektor yang diminati dan bisa berkembang dengan pesat apalagi dengan didukung oleh teknologi tepat guna yang juga terus mengalami perkembangan.

Industri adalah usaha untuk memproduksi barang-barang jadi, dari bahan baku atau bahan mentah melalui suatu proses penggarapan dalam jumlah besar, sehingga barang-barang itu bisa diperoleh dengan harga satuan yang serendah mungkin tetapi tetap dengan mutu setinggi mungkin (Ardi, 2005). Jeffry (2009) menyatakan perkembangan sektor industri merupakan harapan pemerintah suatu wilayah, akan tetapi tidak dengan mengurangi kontribusi dari sektor-sektor ekonomi lainnya. Pemerintah berharap semua sektor bisa berkembang secara seimbang dan teknis mengalami perkembangan. Peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat di perlukan untuk meningkatkan sektor industri, peran pemerintah diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.

Mantra (2008:29) menyatakan industrialisasi merupakan salah satu jalan yang banyak ditempuh negara berkembang untuk memacu pertumbuhan ekonominya.

Indonesia dalam hal ini Bali khsusunya termasuk dalam salah satu daerah yang menempuh jalan itu sehingga proses pembangunan di Indonesia mengalami transformasi struktural dari ekonomi yang berbasis pertanian menjadi ekonomi yang berbasis industri.

Industrialisasi mulai berkembang di Indonesia sejak tahun 1966 dan pada dasawarsa 1980-an Indonesia mulai muncul sebagai kekuatan industri yang penting di antara negara

(12)

yang sedang berkembang. Stabilisasi dan liberalisasi ekonomi pada akhir dekade 1960-an terbukti merupakan starting point pembangunan ekonomi dan industri yang berkelanjutan (Ardi, 2005).

Bali merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki sektor industri yang berkembang pesat diluar sektor industri migas yang tidak terlalu baik karena tidak memiliki sumber daya mineral yang banyak, sehingga pembangunan sektor industri di Bali diarahkan di bidang non migas (Mantra, 2008:112). Agus (2013) menyatakan pembangunan sektor industri di bidang non migas di Bali diarahkan pada pembangunan- pembangunan industri rumah tangga kecil dan menengah. Pembangunan industri yang dimaksud tidak hanya industri besar dengan teknologi canggih saja, akan tetapi perkembangkan industri kecil dan rumah tangga yang kebanyakan berada di pedesaan.

Industri kecil dan rumah tangga yang dimaksud adalah kain tenun, khususnya di daerah pedesaan, menyebabkan pengembangan dari industri kecil dan rumah tangga menjadi lebih efektif karena selain memperluas lapangan pekerjaan dan kesempatan usaha juga dapat mendorong pembangunan daerah dan pedesaan di Provinsi Bali (Mantra, 2008).

Bali merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki sektor industri yang berkembang pesat, salah satunya adalah industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung. Kain endek mulai berkembang sejak abad XVIII. Meskipun kain endek telah ada sejak abad XVIII akan tetapi endek mulai berkembang pesat di Bali setelah masa kemerdekaan dengan keragaman motif yang dihasilkan lebih banyak menggambarkan flora, fauna, dan tokoh pewayangan yang sering muncul dalam mitologi-mitologi cerita Bali. Hampir seluruh Kabupaten dan Kota di Bali menghasilkan kain tenun endek, sehingga masing-masing daerah tersebut menghasilkan kain tenun endek dengan motif, corak, pewarnaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut telah menyebabkan masing-masing Kabupaten/Kota di Bali menyebutnya dengan istilah yang

(13)

berbeda-beda, walaupun dapat dikatakan sama-sama kain endek, seperti kain endek buleleng, kain endek negara, kain endek karangasem dan kain endek klungkung yang diproduksi dengan cara menenun. Menenun merupakan sebuah proses pembelajaran yang mengandalkan ketrampilan tangan dan pengetahuan untuk mengolah bahan baku benang, serta pembuatan desain atau motif yang kemudian dijadikan selembar kain tenun endek (Suryawati. 2009).

Aktivitas menenun ini masih tetap eksis dilakoni, dan merupakan mata pencaharian pokok bagi sebagaian masyarakat Kecamatan Klungkung. Jenis tenun yang dikembangkan adalah “tenun ikat warna alami” yang terdapat di desa Tegak, dan “tenun songket di desa Gelgel. Kain tenun tradisional yang berkembang di lokasi tersebut ada dua macam, yaitu kain tenun ikat tradisional endek yang proses pembuatannya dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dimana kain di tenun dengan benang lungsi yang diproses secara manual dan membutuhkan waktu sebulan paling lama dan kain tenun songket dengan proses menenun secara tradisional alat tenun cagcag melalui proses perendaman kain terlebih dahulu, memasukan benang dalam buluh-buluh pada cagcag dilakukan selama dua hari sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama dengan hasil kualitas kain endek yang lebih bagus.

Kain tenun ikat endek dan kain tenun songket dengan pewarna alami khas kabupaten Klungkung memang merupakan bagian dari seni keindahan tenun ikat yang sudah terkenal sejak lama. Kain endek juga merupakan salah satu kain Bali yang kini amat populer di Indonesia. Kain ini ditenun dengan teknik ikat, suatu teknik tenun yang dikenal secara luas di seluruh Indonesia. Disamping berfungsi sebagai kain upacara keagamaan, kini kain endek mulai populer sebagai bahan kemeja nasional. Disamping kain tenun endek, kain songket juga amat populer dalam masyarakat Bali. Songket merupakan istilah teknik untuk menambahkan suatu pola pada suatu bahan dengan

(14)

mengisi benang tambahan. Benang tersebut dapat dimasukkan keseluruh bidang atau hanya menutupi bagian-bagian tertentu dari suatu kain. Pekerjaan menenun di dua lokasi yaitu di Banjar Tengah desa Tegak dan desa Gelgel Klungkung ini, telah dilakukan secara turun temurun dari nenek, ibu sampai pada anak dan cucunya. Perajin ini lebih berperanan terhadap pelestarian dan kelangsungan nilai budaya tradisional, lebih bersifat konservatif terhadap nilai warisan leluhur.

Kabupaten Klungkung yang merupakan salah satu kota besar yang terkenal dengan berbagai industri rumahannya di Bali. Kabupaten Klungkung yang merupakan salah satu kota seni lengkap dengan warisan budayanya memiliki laju perkembangan industri kain tenun sebagai industri rumah tangga, kecil dan menengah mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.

Rekapitulasi industri rumah tangga kecil dan menengah di Provinsi Bali pada tahun 2015 yang disajikan pada Tabel 1.1 menunjukkan bahwa kabupaten Klungkung memiliki jumlah 398 usaha dengan tenaga kerja 4.156 orang dimana nilai investasinya sebesar Rp.7.886.713.000. dalam Tabel 1.1 juga menunjukkan bahwa Kabupaten Klungkung mengungguli Kabupaten Buleleng, walaupun Kabupaten Buleleng dalam hal ini memiliki jumlah usaha dan jumlah tenaga kerja lebih besar daripada kabupaten Klungkung, namun dalam nilai investasi kabupaten Klungkung unggul dengan selisih Rp.

718.438.000 dari kabupaten Buleleng, dan begitu juga dengan selisih nilai investasi dengan kabupaten Bangli, kabupaten Klungkung memiliki nilai investasi lebih unggul daripada kabupaten Bangli yang dapat dilihat melalui Tabel 1.1.

(15)

Tabel 1.1 Rekapitulasi Industri Rumah Tangga, Kecil dan Menengah Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Tahun 2015

No. Kabupaten Jumlah Usaha

(Unit)

Tenaga Kerja (orang)

Nilai Investasi (Rp.000)

1. Badung 2.561 27.735 385.578.183

2. Buleleng 557 3.685 7.168.275

3. Bangli 275 2.675 2.275.017

4. Denpasar 508 8.477 275.203.628

5. Gianyar 1.335 8.655 4.4934.935

6. Jembrana 873 12.232 393.558.508

7. Karangasem 426 3.726 1.539.284.358

8. Klungkung 398 4.156 7.886.713

9. Tabanan 473 6.368 59.206.528

Provinsi Bali 8.406 77.829 2.687.105.140

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, 2016

Perkembangan industri rumah tangga, kecil dan menengah di kabupaten Klungkung menjadikan kabupaten Klungkung sebagai satu-satunya kabupaten atau kota yang memiliki unit usaha di sektor industri rumah tangga, kecil dan menengah khususnya adalah industri kain tenun. Jumlah unit usaha, tenaga kerja, dan investasi menurut kabupaten atau kota di Provinsi Bali pada tahun 2015 terlihat dalam Tabel 1.2.

Tabel 1.2 menunjukkan bahwa jumlah unit usaha di kabupaten Klungkung khususnya industri kain tenun endek sebanyak 116 unit usaha dengan jumlah tenaga kerja 539 orang serta nilai investasi sebesar Rp.6.048.272.000,- dibandingkan dengan kabupaten/kota di Provinsi Bali pada tahun 2015 untuk Kabupaten Klungkung industri kain tenun mengalami perkembangan. Ini menandakan Kabupaten Klungkung sebagai satu-satunya yang memiliki usaha industri kain tenun terbesar dengan hasil yang terbaik dan berkualitas di Bali sehingga terkenal di mancanegara.

(16)

Tabel 1.2 Rekapitulasi Industri Kain Tenun Endek Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Berdasarkan Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja, Nilai Investasi Tahun 2015

No. Kabupaten/Kota Jumlah Unit Usaha

Tenaga Kerja (Orang)

Nilai Investasi (Rp.000)

1. Jembrana 26 58 80.605

2. Buleleng 1 85 144.514

3. Tabanan 27 241 3.820.867

4. Badung 37 169 4.305.664

5. Gianyar 29 59 2.744.318

6. Klungkung 116 539 6.048.272

7. Karangasem 25 246 126.150

8. Bangli 4 37 62.117

9. Denpasar 105 180 2.933.320

Provinsi Bali 386 1.614 20.265.827

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, 2016

Perkembangan sektor industri di Kabupaten Klungkung berdampak pada besaran produksi yang dihasilkan, perkembangan industri kain tenun mengalami pertumbuhan yang pesat beberapa tahun belakangan ini. Industri kain tenun menjadi pilihan lain selain bidang pertanian di Kabupaten Klungkung. Jumlah unit usaha industri kain tenun berdasarkan kecamatan di Kabupaten Klungkung tahun 2015 dapat dilihat pada Tabel 1.3.

Tabel 1.3 Jumlah Industri Kain Tenun Endek menurut Kabupaten Klungkung Tahun 2015

No Kecamatan Jumlah

Unit (%)

1 Nusa Penida 15 12,9

2 Klungkung 48 41,4

3 Banjar Angkan 32 27,6

4 Dawan 21 18,1

Kab. Klungkung 116 100

Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, 2016

Tabel 1.3 menunjukkan bahwa pada tahun 2015 industri kain tenun endek telah menyebar di empat kecamatan di Kabupaten Klungkung. Data pada Tabel 1.3 menunjukkan bahwa Kecamatan Klungkung memiliki jumlah industri kain tenun endek yang lebih banyak dibandingkan dengan kecamatan yang lain. Jumlah industri kain tenun endek di Kecamatan Klungkung pada tahun 2015 sebanyak 48 industri dari 116 industri

(17)

kain tenun yang berada di Kabupaten Klungkung. Kecamatan Banjar Angkan berada diperingkat ke dua dengan jumlah industri kain tenun endek sebanyak 32 industri dari 116 industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung. Kecamatan Nusa Penida memiliki jumlah industri kain tenun endek paling sedikit yakni sebanyak 15 industri dari 116 industri kain tenun di Kabupaten Klungkung.

Industri di pedesaan dikenal sebagai tambahan sumber pendapatan keluarga dan juga sebagai penunjang kegiatan pertanian yang merupakan mata pencahariaan pokok sebagian besar masyarakat pedesaan, pentingnya peran industri pedesaan yang demikian, perlu dilakukan pengembangan dalam usaha mengurangi tingkat kemiskinan di pedesaan atau dengan kata lain diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pedesaan dengan asumsi dari (Michel, 2003) menyatakan dengan meningkatnya jumlah penduduk yang harus diikuti dengan pertambahan jumlah tenaga kerja di sektor industri, dimana sektor industri yang masih bertahan sampai sekarang cenderung semakin mengalami peningkatan, seperti industri kain endek merupakan salah satu kain Bali yang kini amat populer di Indonesia maupun mancanegara. Kain ini ditenun dengan teknik ikat, suatu teknik tenun yang dikenal secara luas di seluruh Indonesia. Disamping berfungsi sebagai kain upacara keagamaan, kini kain endek mulai populer sebagai bahan kemeja nasional. Kain songket juga amat populer dalam masyarakat Bali. Songket merupakan istilah teknik untuk menambahkan suatu pola pada suatu bahan dengan mengisi benang tambahan yaitu benang berwarna emas.

Perkembangan nilai produksi kain tenun tergantung dari pada faktor-faktor yang digunakan dalam proses produksi. Dimana nilai produksi sangat dipengaruhi oleh jumlah tenaga kerja yang diserap dan modal yang digunakan oleh perusahaan itu sendiri. Pada Tabel 1.4 disajikan jumlah nilai produksi industri kain tenun di Kabupaten klungkung tahun 2010-2015.

(18)

Tabel 1.4 Produksi dan Nilai Produksi Industri Kain Tenun di Kabupaten Klungkung Tahun 2010-2015

No Tahun Produksi (Pcs)

Nilai Produksi (Rp.000)

Perkembangan (%)

1 2010 5.782.121 315.671.251 -

2 2011 7.421.901 357.697.208 13,4

3 2012 7.989.521 377.897.512 6,12

4 2013 8.112.278 446.374.257 18,5

5 2014 8.322.129 487.837.157 10,9

6 2015 8.542.321 543.758.246 9,18

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, 2016

Tabel 1.4 menunjukkan jumlah produksi dan nilai produksi industri kain tenun di Kabupaten Klungkung terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Peningkatan jumlah produksi terjadi pada tahun 2015 menjadi 8.542.321 pcs dan nilai produksi kain tenun tertinggi terjadi pada tahun 2013 dimana nilai produksi meningkat sebesar Rp.

68.476.745 dari tahun 2012, menjadi sebesar Rp. 446.374.257. Ini menunjukkan bahwa perkembangan produksi kain tenun endek di Kabupaten Klungkung terus mengalami peningkatan seiring dengan permintaan pasar yang mencapai Dunia Internasional saat ini seperti (Italia, Prancis, Asia, dll).

Tenaga kerja adalah penentu laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah, karena disamping akan mendorong kenaikan output secara signifikan, tenaga kerja yang berproduktivitas tinggi akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Setelah meningkatnya penyerapan tenaga kerja maka diharapkan terjadi peningkatan produksi yang kemudian akan mempengaruhi eksistensi kerajinan kain tenun di Kabupaten klungkung.

Kenaikan produksi yang dicapai pada industri akan menambah penggunaan tenaga kerja dan berdampak terhadap produktivitas tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel 1.5.

(19)

Tabel 1.5 Produktivitas Tenaga Kerja Industri Kain Tenun di Kabupaten Klungkung Tahun 2010-2015

No Tahun Produksi (pcs)

Jumlah Tenaga Kerja (Orang)

Produktivitas Tenaga Kerja (pcs)

1 2010 5.782.121 358 16.151

2 2011 7.421.901 394 18.837

3 2012 7.989.521 402 19.874

4 2013 8.112.278 421 19.269

5 2014 8.322.129 475 17.520

6 2015 8.542.321 539 15.848

Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, 2016

Tabel 1.5 menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja yang diserap oleh industri kain tenun di kabupaten Klungkung terus mengalami kenaikan tiap tahunnya.

Peningkatan tenaga kerja ini tidak diiringi dengan produktivitas tenaga kerja setiap tahunnya. Dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2015 dengan jumlah tenaga kerja tertinggi yaitu 539 orang namun pada produktivitas kerja mengalami penurunan terendah dari lima tahun terakhir yaitu 15.848 pcs dalam tahun 2015. Hal ini menandakan tidak hanya tenaga kerja saja sebagai penunjang hasil produksi namun modal sebagai faktor yang terpenting dalam proses produksi dari pembelian bahan baku hingga proses penyelesaian terakhir.

Perencanaan pembangunan ekonomi dalam bidang industri, salah satu cara yang digunakan adalah dengan memperhitungkan laju pertumbuhan (PDRB). PDRB adalah total nilai produksi barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah (regional) tertentu dalam waktu tertentu biasanya dalam satu wilayah (khususnya Kabupaten Klungkung).

Besar kecilnya angka PDRB suatu daerah dipengaruhi oleh tersedianya potensi sumber daya alam, tenaga kerja dan faktor-faktor produksi yang berhasil dimanfaatkan (Irwan, 2010). Sehingga dengan adanya berbagai keterbatasan dalam mengelola dan memanfaatkan faktor-faktor tersebut, menyebabkan besaran PDRB antara wilayah satu dengan lainnya sangat bervariasi. Seperti halnya dengan PDRB Kabupaten Klungkung

(20)

sebagai wilayah studi ini faktor tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam kegiatan produksi. Peranan tenaga kerja akan semakin besar di dalam industri kecil yang bersifat umum, dimana ketelitian keterampilan dari pada karyawan yang menangani proses produksi mempunyai akibat langsung terhadap produksi yang dihasilkan (Ashyari 2005:55). Salah satunya adalah modal yang merupakan segala financial yang digunakan untuk awal proses produksi mulai dari bahan baku sampai gaji pegawai dll.

Berdasarkan data awal yang diperoleh dari hasil wawancara dengan beberapa pengusaha kain tenun di Kabupaten Klungkung, diperoleh keterangan bahwa, modal para pengusaha kain tenun di Kabupaten Klungkung ini jumlahnya terbatas. Disisi lain jumlah permintaan kain tenun semakin meningkat pada akhir-akhir ini, Jadi pengusaha memiliki kemampuan berproduksi yang terbatas dilihat dari produksi yang tidak dapat memenuhi permintaan sesuai pesanan. Hal ini membuat para pengusaha terpaksa menerima pesanan dan bersusah payah untuk melobi pembeli demi kelangsungan produksi dan supaya produk tetap laku dipasaran. Untuk menutupi kekurangan modal akibat meningkatnya permintaan terpaksa pengusaha menunda pembayaran gaji pekerja untuk digunakan sebagai tambahan pembelian bahan baku (Gerya, 2014).

Eksistensi industri kain tenun di Kabupaten Klungkung menghadapi banyak kendala yang hampir sama dengan yang dialami industri rumah tangga, kecil dan menengah lainnya dimana masalah utamanya adalah dalam kurangnya dari segi permodalan. Perkembangan industri kain tenun di Kabupaten Klungkung dengan modal kuat masih mendominasi dalam proses pemasaran dan proses produksi, persaingan usaha yang ketat, serta penggunaan tenaga kerja belum optimal, sangat berpengaruh terhadap kapasitas produksi. Dari permasalahan yang dijelaskan di atas, penelitian ini dilakukan

(21)

untuk mengevaluasi kinerja industri kain tenun, mengetahui skala ekonomis dan sifat produksi industri kain tenun di Kabupaten Klungkung.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan pokok permasalahan sebagai berikut.

1) Apakah tenaga kerja dan modal secara simultan berpengaruh signifikan terhadap produksi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung?

2) Bagaimankah pengaruh tenaga kerja dan modal secara parsial terhadap produksi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung?

3) Bagaimanakah skala ekonomi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung?

4) Bagaimanakah sifat produksi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung?

1.3 Tujuan penelitian

Berdasarkan pada permasalahan yang ada, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah.

1) Untuk menganalisis pengaruh tenaga kerja dan modal secara simultan terhadap produksi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung.

2) Untuk menganalisis pengaruh tenaga kerja dan modal secara parsial terhadap produksi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung.

3) Untuk menganalisis skala ekonomi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung.

4) Untuk menganalisis sifat produksi industri kain tenun endek di Kabupaten Klungkung.

(22)

1.4 Kegunaan penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain.

1) Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai pengaplikasian teori yang telah didapatkan selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi terutama mengenai skala ekonomis dan pengusaha industri kerajinan kain tenun di Kabupaten Klungkung akibat adanya tenaga kerja dan modal usaha yang berbeda.

2) Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada pengusaha industri kain tenun di Kabupaten Klungkung mengenai beberapa faktor tenaga kerja dan modal yang mendasari besar kecilnya hasil yang diterima pengusaha industri kain tenun sehingga diharapkan pemerintah maupun pihak yang terkait dapat mengambil kebijakan yang mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat.

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab, yaitu sebagai berikut.

Bab I Pendahuluan

Bab ini menguraikan latar belakang masalah, tujuan dan kegunaan laporan, metode penulisan, serta sistematika penyajian.

Bab II Kajian Pustaka

Bab ini menguraikan teori yang mendukung pokok permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini, yaitu mengenai konsep produksi, siklus kehidupan produk, skala ekonomi, konsep industri.

(23)

Bab III Metode Penelitian

Bab ini menguraikan mengenai objek penelitian, jenis data, metode penelitian serta teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini.

Bab IV Pembahasan

Bab ini menguraikan gambaran umum daerah penelitian dan pembahasan mengenai permasalahan dalam penelitian.

Bab V Simpulan dan Saran

Bab ini membahas mengenai simpulan yang diperoleh dari penyusunan skripsi dan saran yang dapat diberikan sehubungan dengan simpulan yang diperoleh.

Gambar

Tabel 1.1  Rekapitulasi Industri Rumah Tangga, Kecil dan Menengah  Menurut  Kabupaten/Kota di Provinsi Bali Tahun 2015
Tabel 1.2   Rekapitulasi  Industri  Kain  Tenun  Endek  Menurut  Kabupaten/Kota  di Provinsi Bali Berdasarkan Jumlah Unit Usaha, Tenaga Kerja, Nilai  Investasi Tahun 2015
Tabel 1.4   Produksi  dan  Nilai  Produksi  Industri  Kain  Tenun  di  Kabupaten  Klungkung Tahun 2010-2015  No  Tahun  Produksi   (Pcs)  Nilai Produksi  (Rp.000)  Perkembangan (%)  1  2010  5.782.121  315.671.251  -  2  2011  7.421.901  357.697.208  13,4
Tabel 1.5   Produktivitas  Tenaga  Kerja  Industri  Kain  Tenun  di  Kabupaten  Klungkung Tahun 2010-2015

Referensi

Dokumen terkait

5.10 Hasil Risk Assessment Merencek Pohon yang Sudah ditebang di Unit Penebangan Kayu Hutan Produksi Perum Perhutani KPH Madiun Pada Bulan Agustus Tahun

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi media untuk menerapkan konsep-konsep teori yang selama ini diperoleh dalam perkuliahan tentang pendapatan asli daerah,

1) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan farmasi di BEI periode 2012-2015. 2) Untuk mengetahui signifikansi

petelur karena harga telur yang didistribusikan di pasar modern dijual dengan harga yang lebih tinggi. Maka dari itulah penulis meneliti tentang pola belanja masyarakat

5.1.5 Mengetahui Gambaran Partus Tidak Maju Pada Ibu yang Melakukan Metode Persalinan Sectio Caesarea di Rumah Sakit Agung Jakarta Periode November 2016-Oktober 2017 55

Faktor yang terakhir yang dapat mempengaruhi tingginya turnover intention adalah komitmen organisasi dengan adanya komitmen organisasional yang tinggi maka akan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh motivasi internal yang terdiri dari ekspektasi pendapatan dan toleransi atas risiko, dan motivasi eksternal yang

Putri Awandari (2016), dalam penelitiannya menyatakan infrastruktur dan investasi memiliki pengaruh tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat melalui kesempatan