3
BAB II
LANDASAN TEORI
Bab 2
Landasan Teori
2.1 Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Manusia merupakan bagian dari alam karena hidupnya yang tidak terlepas dari alam. Proses kehidupan manusia merupakan unsur yang semakin lama semakin mendominasi unsur-unsur lainnya di alam. Hal ini disebabkan karena manusia dibekali kemampuan-kemampuan untuk bisa berkembang. Segala proses yang terjadi di sekelilingnya dan dalam dirinya dirasakan dan diamatinya dengan menggunakan semua indera yang dimilikinya, dipikirkannya lalu ia berbuat dan bertindak.
Dalam menghadapi segala proses yang terjadi di sekelilingnya dan di dalam dirinya, hampir setiap saat manusia membuat atau mengambil keputusan dan melaksanakannya. Hal ini dilandasi dengan asumsi bahwa segala tindakan dilakukan secara sadar merupakan pencerminan hasil proses pengambilan keputusan dalam pikirannya, sehingga sebenarnya manusia sudah sangat terbiasa dalam membuat keputusan. Menurut Mangkusubroto dan Tresnadi, jika keputusan yang diambil tersebut perlu dipertanggungjawabkan kepada orang lain atau prosesnya memerlukan pengertian pihak lain, maka perlu untuk diungkapkan sasaran yang akan dicapai (Suryadi dan Ramdhani, 1998).
2.1.1 Pengertian Sistem Pendukung Keputusan
Konsep Sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support Systems (DSS) pertama kali diungkapkan pada awal tahun 1970-an oleh Michael S. Scott Morton dengan istilah
Management Decision Systems. Morton mendefinisikan DSS sebagai
“Sistem Berbasis Komputer Interaktif, yang membantu para pengambil keputusan untuk menggunakan data dan berbagai model untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak terstruktur”.
4
Menurut Alter, DSS merupakan sistem informasi interaktif yang menyediakan informasi, pemodelan dan pemanipulasian data. Sistem digunakan untuk membantu pengambilan keputusan dalam situasi yang semi terstruktur dan situasi yang tidak terstruktur, dimana tak seorang pun tahu secara pasti bagaimana keputusan seharusnya dibuat.
DSS biasanya dibangun untuk mendukung solusi atas suatu masalah atau untuk mengevaluasi suatu peluang. DSS yang seperti itu disebut aplikasi DSS. Aplikasi DSS digunakan dalam pengambilan keputusan.
Aplikasi DSS menggunakan data, memberikan antar muka pengguna yang mudah dan dapat menggabungkan pemikiran pengambil keputusan. DSS lebih ditujukan untuk mendukung manajemen dalam melakukan pekerjaan yang bersifat analitis dalam situasi yang kurang terstruktur dan dengan kriteria yang kurang jelas. DSS tidak dimaksudkan untuk mengotomatisasikan pengambilan keputusan tetapi memberikan perangkat interaktif yang memungkinkan pengambil keputusan untuk melakukan berbagai analisis menggunakan model-model yang tersedia.
2.1.2 Nilai Guna dan Karateristik Sistem Pendukung Keputusan
Pada dasarnya SPK ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari Sistem Informasi Manajemen Terkomputerisasi (Computerized Manajement Information Systems), yang dirancang sedemikian rupa sehingga bersifat interaktif dengan pemakainya. Sifat interaktif ini dimaksudkan untuk memudahkan integrasi antara berbagai komponen dalam proses pengambilan keputusan, seperti prosedur, kebijakan, teknik analisis, serta pengalaman dan wawasan manajerial guna membentuk suatu kerangka keputusan yang bersifat fleksibel (Suryadi dan Ramdhani, 1998).
Menurut Turban (2005), tujuan dari DSS adalah sebagai berikut:
1. Membantu dalam pengambilan keputusan atas masalah yang terstruktur.
2. Memberikan dukungan atas pertimbangan manajer dan bukannya dimaksudkan untuk menggantikan fungsi manajer.
3. Meningkatkan efektivitas keputusan yang diambil lebih daripada perbaikan efisiensinya. 4. Kecepatan komputasi. Komputer memungkinkan para pengambil keputusan untuk
5 5. Peningkatan produktivitas.
6. Dukungan kualitas. 7. Berdaya saing.
8. Mengatasi keterbatasan kognitif dalam pemprosesan dan penyimpanan.
Kadarsah dan M. Ali (1998), mengemukakan ciri-ciri SPK yang dirumuskan oleh Alters Keen, sebagai berikut:
1. SPK ditujukan untuk membantu keputusan-keputusan yang kurang terstruktur. 2. SPK merupakan gabungan antara kumpulan model kualitatif dan kumpulan data.
3. SPK memiliki fasilitas interaktif yang dapat mempermudah hubungan antara manusia dengan komputer.
4. SPK bersifat luwes dan dapat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Levin et.al. (1995) meyatakan meskipun definisi baku belum disepakati, keunikannya terletak pada dimungkinkannya intuisi dan penilaian pribadi pengambil keputusan untuk turut dijadikan dasat pengambilan keputusan. SPK dirancang secara khusus untuk mendukung seorang yang harus mengambil keputusan-keputusan tertentu. Berikut ini adalah uraian atas beberapa karakteristik SPK, yaitu: (Kadarsah dan M. Ali, 1998)
1. Kapabilitas Interaktif; SPK memberi pengambil keputusan akses cepat ke data dan informasi yang dibutuhkan.
2. Fleksibilitas; SPK dapat menunjang para manajer pembuat keputusan di berbagai bidang fungsional (keuangan, pemasaran, operasi produksi, dan lain-lain)
3. Kemampuan menginteraksikan model; SPK memungkinkan para pengambil keputusan berinteraksi dengan model-model, termasuk memanipulasi model-model tersebut sesuai dengan kebutuhan.
4. Fleksibilitas output; SPK mendukung para pembuat keputusan dengan menyediakan berbagai macam output, termasuk kemampuan grafik menyeluruh atas pertanyaan-pertanyaan pengandaian.
Sistem Pendukung Keputusan memberikan manfaat atau keuntungan bagi pemakainya. Keuntungan yang dimaksud di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Sistem pendukung keputusan memperluas kemampuan pengambil keputusan dalam memproses data/informasi bagi pemakainya.
6
2. Sistem pendukung keputusan membantu pengambil keputusan dalam hal penghematan waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur.
3. Sistem pendukung keputusan dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan.
4. Walaupun suatu sistem pendukung keputusan, mungkin saja tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pengambil keputusan, namun ia dapat menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam memahami persoalannya. Hal ini dikarenakan sistem pendukung keputusan mampu menyajikan berbagai alternatif.
2.2 Analytical Hierarchy Process (AHP)
2.2.1 Sejarah Analytical Hierarchy Process (AHP)
Analitical Hierarchy Process (AHP) untuk pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli
matematika yang bekerja di Univercity Of Pitsburg, USA. Dasar pemikiran muncul metode ini dimulai ketika Thomas L. Saaty bekerja pada Agen Pengendalian dan Pelucutan Senjata
(Arm Control and Disarmament Agency) di Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat tahun
1963-1969. Metode tersebut muncul ketika Amerika Serikat sedang menyelesaikan permasalahan persenjataan dengan pihak Uni Soviet di Jenewa. Negosiasi tersebut dilakukan dalam rangka mengurangi penggunaan senjata nuklir dengan masalah utama bahwa negosiator pada waktu itu tidak dapat memahami penemuan-penemuan yang menuju pada kesepakatan serta lebarnya perbedaan dari sisi budaya dan bahasa. (Radito Umar Mendiatna, 2004)
Thomas L. Saaty kemudian berinisiatif untuk mengembangkan suatu model yang mengizinkan digunakan asumsi bahwa apa yang diamati manusia dengan alat-alat fisiknya sehingga ia berpendapat bahwa tidak mutlak diperlukan keahlian teknis untuk menyusun pola pikir dan menemukan penilaian yang diyakinkannya. Metode tersebut kemudian dikembangkan pada tahun 1971 dengan menggunakan perbandingan berpasangan sebagai alat penilaian pada saat menangani perencanaan yang tidak beraturan untuk departemen pertahanan dan keamanan Amerika Serikat. Penilain numerik diberikan berdasarkan skala disusunnya pada tahun 1972 di Kairo pada saat ia mengadakan penelitian untuk menganalisa pengaruh No PeaceNo War terhadap bidang perekonomian, politik, dan militer Mesir.
7
Aplikasi Analitical Hierarchy Process (AHP) yang matang dilakukan pada saat menangani masalah sistem transportasi yang kurang memadai di Sudan pada tahun 1973. Metode yang dikembangkan Thomas L. Saaty diberi nama Analitical Hierarchy Process (AHP), karena metode tersebut menyusun masalah menjadi suatu hierarki yang tersetruktur sehingga mudah dipahami dan dianalisis.
Analitical Hierarchy Process (AHP) juga menyampaikan dua aspek penilaian, yaitu:
a. Kuantitatif
Penilaian kuantitatif dilakukan dalam perbandingan secara numerik pada matriks perbandingan berpasangan yang menghasilkan bobot untuk mendapatkan solusi permasalahan.
b. Kualitatif
Penilaian kualitatif dilakukan pada tahap pendefinisian permasalahan dan transformasi dari penilaian kedalam bentuk skala yang menghasilkan bobot penilaian.
2.2.2 Prinsip-Prinsip Analitical Hierarchy Process (AHP)
Dalam memecahkan persoalan yang kompleks dengan analisis logis eksplisit, ada tiga prinsip utama yaitu: (Yudha Prambudia dan Didi Teguh Pribadi, 2004)
a. Prinsip Menyusun Hirarki
Manusia mempunyai kemampuan untuk mempersiapkan benda dan gagasan, mengidentifikasinya dan mengkomunikasikan apa yang mereka amati. Untuk memperoleh pengetahuan terinci, pikiran kita menyusun realitas yang kompleks ke dalam bagian-bagiannya lagi, seterusnya secara hirarki.
b. Prinsip Menetapkan Prioritas
Manusia juga mempunyai kemampuan untuk mempersiapkan hubungan antara hal-hal yang mereka amati, membandingkan sepasang benda atau hal yang serupa berdasarkan kriteria tertentu, dan membedakan kedua anggota pasangan itu dengan menimbang intensitas preferensi mereka terhadap hal yang satu dibandingkan dengan yang lainnya. Lalu mereka mensintesis penilaian mereka melalui imajinasi, memperoleh pengertian yang lebih baik tentang keseluruhan sistem.
8 c. Prinsip Konsistensi Logis
Prinsip ke tiga dari pemikiran analitik adalah konsistensi logis. Manusia mempunyai kemampuan untuk menetapkan relasi antar-objek atau antar-pemikiran sedemikian sehingga koheren, yaitu objek-objek atau pemikiran itu saling terkait dengan baik dan kaitan mereka menunjukan konsistensi berarti dua hal.
• Aspek Kuantitatif : bahwa pemikiran atau objek yang serupa di kelompokan menurut homogen dan relevansinya. Misalnya, anggur dan kelereng dapat dikelompokan dalam satu set homogen jika kriteria relevannya adalah kebulatan, tetapi tidak bila kriterianya adalah rasa. Arti konsistensi yang kedua adalah bahwa intensitas relasi antara gagasan atau antar objek yang didasar pada suatu kriteria tertentu, saling membenarkan secara logis. Jadi, jika kemanisan merupakan kriteria dan madu dinilai lima kali lebih manis gula pasir, sementara gula pasir dua kali lebih manis dari pada molasa, maka madu harus dianggap sepuluh kali lebih manis dari pada molasa. Jika madu dinilai lebih manis dari pada molasa maka penilaian menjadi tidak konsisten dan proses itu barang kali perlu diulang jika ingin diperoleh penilaian yang lebih akurat.
• Aspek Kualitatif : untuk mendefinisikan persoalan dan hirarkinya, dan aspek kuantitatif untuk mengekpresikan penilaian dan preferensi secara ringkas dan padat. Proses itu sendiri dirancang untuk mengintegrasikan dua sifat ini. Proses ini dengan jelas menunjukan bahwa demi pengambilan keputusan yang lebih baik, segi kuatitatif merupakan dasar untuk mengambil keputusan yang sehat dalam situasi yang kompleks, dimana kita perlu menetapkan prioritas dan melakukan perimbangan. Untuk menghitung prioritas, kita memerlukan suatu metode praktis untuk menghasilkan skala bagi pengukuran.
Sehingga kita dapat mengambil kesimpulan tentang Analytical Hierarchy Process (AHP) yaitu: suatu model yang luwes yang memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok
untuk membangun gagasan-gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat asumsi mereka masing-masing dan memperoleh pemecahan yang dinginkan darinya.
9 2.2.3 Perancangan Arsitektur Hirarki
Kebanyakan masalah timbul karena kita tidak tahu dinamika internal suatu sitem secara cukup rinci untuk mengidentifikasi berbagai hubungan sebab-akibat. Kontribusi yang terpenting dari
Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah bahwa proses ini memungkinkan kita untuk
menggambarkan keputusan yang praktis, atas dasar pemahaman “pra-kausal” yaitu atas berbagai perasaan dan pertimbangan kita tentang pengaruh relatif suatu variabel terhadap variabel lainnya.(Yudha Prambudia dan Didi Teguh Pribadi, 2004)
Elemen-elemen hendaknya dibagi dalam kelompok-kelompok yang homogen, agar dapat dibandingkan secara bermakna terdapat elemen-elemen yang berada setingkat di atasnya. Satu-satunya pembatasan dalam menata elemen-elemen secara hirarki adalah bahwa setiap elemen yang berada setingkat diatasnya berfungsi sebagai kriteria untuk menaksir pengaruh relatif elemen-elemen ditingkat bawah itu.
Hirarki tidak perlu dibuat terlalu atau selalu lengkap, artinya suatu elemen di satu tingkat tertentu tidak terlalu berfungsi sebagai kriteria bagi semua elemen ditingkat bawah. Jadi, suatu hirarki dapat dibagi menjadi beberapa sub-hirarki dengan hanya satu elemen yang sama, yaitu apa yang berada di tingkat tertinggi.
2.2.4 Kegunaandan Kekurangan Analytical Hierarchy Process
Kegunaan dari metode Analitical Hierarchy Process(AHP) adalah sebagai berikut: (Radito Umar Mendiatna, 2004)
a. Dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang kompleks dan tidak terstruktur menjadi suatu model permasalahan yang sederhana berstruktur dengan baik serta mudah untuk dipahami. Berguna untuk membantu para pemimpin menetapkan informasi apa yang patut dikumpulkan guna mengevaluasi pengaruh kriteria-kriteria pemecahan masalah yang relevan dalam situasi kompleks.
b. Memberikan suatu kerangka hirarki dimana yang dilakukan sesuai dengan kemampuan mendasar manusia dalam membandingkan sesuatu hal yang logis. Pengukuran yang dilakukan dilengkapi dengan jaminan pengujian kekonsistenan dalam rasio konsistensi. c. Dapat digunakan dalam merancang timbulnya gagasan untuk melaksanakan tindakan
kreatif dan untuk mengevaluasi keefektifan tindakan tersebut. Analitical Hierarchy Process (AHP) tidak bergantung pada data tertulis dan data kuantitatif mengenai
10
permasalahan sehingga kurang lengkapnya data tidak terlalu mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Hal ini dimungkinkan karena sumber penilaian berdasarkan pemikiran dari responden.
d. Dapat melacak kekonsistenan dalam pertimbangan dan preferensi peserta, sehingga para pemimpin mampu menilai mutu pengetahuan para pembantu mereka dan kemantapan pemecahan masalah tersebut.
Kelemahan – kelemahan penggunaan metode AHP antara lain:
a. Responden yang dilibatkan harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam (expert) mengenai permasalahan dan tentang AHP itu sendiri.
b. AHP tidak dapat diterapkan pada suatu perbedaan sudut pandang yang sangat tajam/ ekstrim di kalangan responden.
2.2.5 Contoh Perancangan Arsitektur Hirarki
Persoalan memilih mobil, baik yang baru maupun lama, disusun dalam bentuk hirarki tiga tingkat. Ditingkat dua, berbagai faktor biaya maupun manfaat yang maksuk dalam pertimbangan pengambilan keputusan dibuat prioritasnya. Kemudian, berbagai alternatif yang spesifik saling dibandingkan berkenaan dengan setiap faktor di tingkat dua. Prioritas menyeluruh setiap alternatif menunjukan peringkat serta kekuatan preferensinya menurut pandangan pembeli. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat contoh di bawah ini :
11 2.2.6 Penetapan Rencana Prioritas
Langkah pertama dalam menetapkan prioritas elemen-elemen dalam suatu persoalan keputusan adalah dengan membuat pembandingan berpasangan, yaitu elemen-elemen dibandingkan berpasangan terhadap suatu kriteria yang ditentukan. Untuk pembandingan berpasangan ini, matriks merupakan bentuk yang lebih disukai. Matriks menguji konsistensi, memperoleh informasi tambahan dengan jalan membuat segala pembandingan yang mungkin, dan menganalisis kepekaan prioritas menyeluruh terhadap perubahan dalam pertimbangan. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan ini, mulailah pada puncak hirarki untuk memilih kriteria C, atau sifat yang akan digunakan untuk melakukan pembandingan yang pertama. Lalu, dari tingkat tepat dibawahnya, ambil elemen-elemen yang akan dibandingkan : A1, A2, A3 dan seterusnya. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat matriks dibawah ini :
Tabel 2-1 Contoh Matriks Penetapan Prioritas
Dalam matriks di atas, bandingkan elemen A1 dalam kolom di sebelah kiri dengan elemen A1, A2, A3 dan seterusnya yang terdapat pada baris atas berkenaan dengan sifat C disudut kiri atas. Lalu ulangi untuk elemen kolom A2 dan seterusnya.
Untuk mengisi matriks banding berpasangan itu, kita menggunakan bilangan untuk menggambarkan relatif pentingnya suatu elemen di atas yang lainnya, yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Tabel berikut ini memuat skala banding berpasangan. Skala itu mendefinisikan dan menjelaskan nilai 1 sampai 9 yang ditetapkan bagi pertimbangan dalam membandingkan pasangan elemen yang sejenis disetiap tingkat hirarki terhadap suatu kriteria yang berada setingkat di atasnya. Untuk lebih jelanya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
12
Tabel 2-2 Pertimbangan dalam Membandingkan Pasangan Elemen Sejenis
Sumber: Eka Permana Rahadiansyah, 2002. 2.2.7 Langkah-langkah Proses Hirarki Analisis
Untuk dapat melaksanakan proses analisis dengan menggunakan hirarki, ada beberapa langkah yang harus ditempuh, yaitu sebagai berikut: (Yudha Prambudia dan Didi Teguh Pribadi, 2004)
a. Definisikan persoalan dan rinci pemecahan yang diinginkan
b. Struktur hirarki dari sudut pandang manajerial menyeluruh (dari tingkat puncak sampai tingkat dimana dimungkinkan campur tangan untuk memecahkan persoalan itu).
c. Buatlah matriks banding berpasangan untuk kontribusi atau pengaruh setiap elemen yang relevan atau setiap kriteria yang berpengaruh yang berada setingkat di atasnya. Dalam
Intensitas
Pentingnya Definisi Penjelasan
1 Sama Penting Kedua elemen mempunyai pengaruh
yang sama
3 Moderat Lebih Penting
Pengalaman dan penilaian sedikit memihak satu elemen dibandingkan dengan elemen pasangannya
5 Lebih penting
Pengalaman dan penilaian sangat memihak satu elemen dan
pasangannya
7 Sangat Penting
Satu elemen dengan kuat disokong dan didominasinya telah terlihat dalam praktek
9 Mutlak Lebih Penting
Bukti yang menyokong elemen yang lainnya memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan
2,4,6,8 Nilai-nilai antara diantara dua pertimbangan yang berdekatan
diberikan bila terdapat penilaian antara dua penilaian yang berdekatan
13
matriks ini, pasangan-pasangan elemen dibandingkan berkenaan dengan suatu kriteria di tingkat lebih tinggi. Dalam membandingkan dua elemen, kebanyakan orang lebih suka memberi suatu pertimbangan yang menunjukan dominasi sebagai suatu bilangan bulat. Matriks ini memiliki satu tempat untuk memasukkan itu dan satu tempat lain untuk memasukkan nilai resiprokalnya. Jadi jika satu elemen tak berkontribusi lebih dari elemen lainnya, elemen yang lainnya ini pasti berkontribusi lebih dari elemen itu. Bilangan ini dimasukkan dalam tempat yang semestinya dalam matriks itu dan nilai kebalikannya dalam tempat yang lain itu. Menurut perjanjian, suatu elemen yang disebelah kiri diperiksa perihal dominasinya atas suatu elemen di puncak matriks.
d. Dapatkan semua pertimbangan yang diperlukan untuk mengembangkan perangkat matriks di langkah 3. Jika ada banyak orang yang ikut serta, tugas setiap orang dapat dibuat sederhana dengan mengalokasikan upaya secara tepat, yang akan kita jabarkan di bab belakang. Pertimbangan ganda dapat disenitesis dengan memakai rata-rata geometrik. e. Setelah mengumpulkan semua data banding berpasang itu dan memasukkan nilai-nilai
kebalikkannya beserta entri bilangan 1 sepanjang diagonal utama, prioritas dicari dan konsistensi diuji.
f. Laksanakan langkah 3, 4 dan 5 untuk semua tingkat dan gugusan dalam hirarki itu.
g. Gunakan komposisi hirarki (sintesis) untuk membobotkan vektor-vektor prioritas itu dengan bobot kriteria, dan jumlahkan semua entri prioritas terbobot yang bersangkutan dengan entri prioritas dari tingkat bawah berikutnya, dan seterusnya. Hasilnya adalah vektor prioritas menyeluruh untuk tingkat hirarki paling bawah. Jika hasilnya ada beberapa buah, boleh diambil rata-rata aritmetiknya.
h. Evaluasi konsisten untuk seluruh hirarki dengan mengalikan setiap indeks dengan konsistensi dengan prioritas kriteria bersangkutan dan menjumlahkan hasil kalinya. Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis yang menggunakan indeks konsistensi acak, yang sesuai dengan dimensi masing-masing matriks. Dengan cara yang sama setiap indeks konsistensi acak juga dibobot berdasarkan prioritas kriteria yang bersangkutan dan hasilnya dijumlahkan. Rasio konsistensi hirarki itu harus 10 persen atau kurang. Jika tidak, mutu informasi itu harus diperbaiki, berangkai dengan memperbaiki cara menggunakan pertanyaan ketika membuat pembandingan berpasang. Jika tindakan ini gagal memperbaiki konsistensi, ada kemungkinan persoalan dikelompokkan di bawah
14
suatu kriteria yang bermakna. Maka kita perlu balik ke langkah 2, meskipun mungkin hanya bagian-bagian persoalan dari hirarki itu yang perlu diperbaiki.
2.2.8 Sifat-Sifat yang Harus Dipenuhi Setiap Kriteria.
Sifat-sifat yang harus dipenuhi setiap kriteria agar sesuai dengan tujuan permasalahan adalah sebagai berikut: (Radito Umar Mendiatna, 2004)
a. Minimum
Jumlah kriteria yang diamati diusahakan seminumum mungkin, dengan tujuan memudahkan proses penganalisaan
b. Lengkap
Kriteria yang digunakan walaupun jumlahnya minimum tetapi harus lengkap dan mewakili seluruh aspek permasalahan
c. Independen
Setiap kriteria tidak tumpang tindih dengan kriteria yang lainnya untuk maksud yang sama.
d. Operasional
Kriteria yang dikemukanan harus terukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
2.2.9 Penilaian dalam Kelompok
Analitical Hierachy Process (AHP) dapat digunakan dalam penilaian secara kelompok. Bobot dari beberapa orang dalam suatu kelompok dirata-ratakan dengan rata-rata penilaian geometrik (geometric mean). (Radito Umar Mendiatna, 2004)
Rumus untuk mencari rata-rata geometrik sebagai berikut: G = . . .……..
Dimana
G = rata-rata geometrik = penilaian ke-1, 2, ... , n n = banyaknya penilaian
15 2.2.10 Proses Sintesis
Proses sintesis digunakan untuk menghasilkan suatu bilangan tunggal yang menunjukan prioritas tiap elemen dengan membobotkan vektor prioritas dengan bobot kriteria-kriteria dan menjumlahkan semua entri prioritas dari tingkat bawah berikutnya. (Radito Umar Mendiatna, 2004)
Tahap-tahap dalam proses sintesis adalah
1. Jumlahkan bobot setiap kolom j menjadi total kolom yang dilambangkan (Sij), dimana: Sij = ∑
Dimana:
Sij = nilai total penjumlahan bobot perkolom. aij = nilai bobot sub faktor baris ke-i kolom ke-j
2. Bagi setiap elemen bobot dengan jumlah kolomnya (Sij). Hasil pembagian dilambangkan dengan (Vij)
Vij = Dimana
Vij = hasil pembagian bobot baris ke-i kolom ke-j dengan jumlah tiap kolom ke-j. aij = bobot perbandingan baris ke-i kolom ke-j.
Si = jumlah bobot perbandingan kolom ke-j.
Langkah ini dikenal dengan normalisasi matriks perbandingan berpasangan (Normalized Pairwise Comparison Matrix)
3. Menentukan prioritas relatif dari setiap faktor dengan merata-ratakan bobot yang sudah dinormalisasi dari setiap baris dilambangkan dengan Pi
Pi=∑ Dimana
Pi =nilai priorotas relatif dari hasil merata-ratakan bobot normalisasi Vij = jumlah bobot normalisasi pada baris ke-i kolom ke-j
16 2.2.11 Rasio Konsistensi
Analitical Hierarchy Process (AHP), mengukur konsistensi menyeluruh dari berbagai penilaian melalui suatu rasio konsistensi. Rasio ini harus 10% atau kurang. Jika lebih dari 10% penilaian ini berarti acak dan harus diperbaiki dengan penilaian ulang. (Radito Umar Mendiatna, 2004)
Langkah-langkah untuk menghitung rasio konsistensi adalah sebagai berikut:
1. Kalikan setiap kolom dalam matrik perbandingan berpasangan A prioritas relatif yang bersesuaian dengan kolomnya masing-masing dan jumlahkan untuk memperoleh matrik B yang berukuran n x 1 B = … = + + … + + + … + … + + … +
2. Menghitung eigen value maximum
= ∶ "
3. Menghitung Indeks Konsistensi (Consistency Index) yang dilambangkan dengan CI. CI = #$%&'
'
4. Menghitung Rasio Konsistensi (Consistency Ratio) yang dilambangkan dengan CR. CR = ()
*)
Indeks konsistensi matriks random didapat berdasarkan perhitungan Thomas L. Saaty dengan menggunakan 500 sampel dan penilaian numerik diambil secara acak dari skala 1/9 , 1/8 , 1/7 , ... , 1/2, 1, 2, ... , 9 maka diperoleh nilai rata-rata RI untuk setiap orde matriks tertentu jika Rasio Konsistensi (CR) 0,10 maka hasil penilaian dapat diterima. Seperti terilihat pada tabel 2-3.
17
Tabel 2-3 Nilai Random Index Orde matriks Random Indeks
1 0 2 0 3 0,38 4 0,90 5 1,12 6 1,24 7 1,32 8 1,41 9 1,45 10 1,49 11 1,51 12 1,48
2.3 Metode Cut Off Point
Maggie C.Y. Tam dalam jurnalnya membuat sebuah metode untuk memastikan derajat kebutuhan kriteria. Kuesioner yang berisi kriteria-kriteria yang ada dibagikan ke sejumlah responden yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidang inventori untuk diberikan penilaian. Penilaian dibagi menjadi 3 (tiga) dimana bila suatu elemen dinilai sangat penting (very important) maka akan diberi skor 3, cukup penting (somewhat important) diberi nilai 2, dan tidak penting (not important) diberi nilai 1. Seluruh penilaian responden dikumpulkan, kemudian dirata-ratakan untuk tiap elemen. Seluruh kriteria diurutkan dari nilai tertinggi ke terendah. Kemudian dicari nilai cut off dengan rumus :
Natural Cut-Off Point = ( Maximum Score + Minimum Score) /2
Kriteria yang memiliki nilai dibawah Cut Off Point akan dibuang dari perhitungan dan model AHP. (sumber: http://sankerenti.wordpress.com/2009/06/05/metode-cut-off-point/ diakses pada hari Kamis, tanggal 10 Februari 2011 jam 10.00)
18 2.4 Orang Miskin (Penerima Beras Miskin) 2.4.1 Definisi Orang Miskin
Konsep di belakang kemiskinan mutlak, yaitu kebutuhan-kebutuhan pokok (basic needs) atau minimum (bagi kelangsungan hidup), tidak bebas dari perbedaan pendapat. Ada orang yang mempertanyakan objektivitas dan jangkauan kebutuhan-kebutuhan pokok, yang misalnya bisa juga meliputi kebutuhan kultural. Namun demikian, definisi berikut ini dari ILO (1976, 7f) mungkin akan diterima oleh mayoritas orang (Johannes Muller, 2006):
“Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok meliputi kebutuhan pokok minimum sebuah keluarga akan pangan, papan dan sandang. Selain itu, perlu disediakan sejumlah pelayanan mendasar, seperti air minum yang bersih, sanitasi, transportasi, lembaga kesehatan dan pendidikan, serta kesempatan kerja dengan imbalan yang wajar bagi tiap orang yang sanggup dan ingin bekerja. Akhirnya, sejumlah kebutuhan yang lebih bersifat kualitatif seharusnya juga harus dipenuhi, yaitu lingkungan hidup yang sehat, manusiawi, memuaskan, partisipasi rakyat pada semua keputusan yang menyangkut hidup, serta kebebasan-kebebasan individual.”
2.4.2 Kriteria Keluarga Miskin
2.4.2.1 Kriteria Keluarga Miskin Menurut BPS
Menurut BPS kriteria orang miskin ada 4 yaitu kriteria sandang, pangan, kepemilikan aset dan aspek sosial.
Sandang adalah pakaian yang diperlukan oleh manusia sebagai mahluk berbudaya. Pada awalnya manusia memanfaatkan pakaian dari kulit kayu dan hewan yang tersedia di alam. Kemudian manusia mengembangkan teknologi pemintal kapas menjadi benang untuk ditenun menjadi bahan pakaian. Pakaian berfungsi sebagai pelindung dari panas dan dingin. Lama kelamaan fungsi pakaian berubah, yakni untuk memberi kenyamanan sesuai dengan jenis-jenis kebutuhan seperti pakaian kerja, pakaian rumah, untuk tidur dan sebagainya. (sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kata pada hari Kamis, Tanggal 12 Januari 2012, Jam 18: 38). Pangan adalah makanan dan bahan pangan yang dapat memberikan manfaat tambahan di samping fungsi gizi dasar pangan tersebut dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Pangan dimungkinkan memiliki sifat fungsional untuk seluruh populasi atau kelompok khusus yang didefinisikan secara jelas sebagai contoh khusus untuk usia tertentu atau untuk golongan yang memiliki sifat genetik tertentu. Selain itu, pangan fungsional juga mencakup produk yang
19
dibuat secara khusus untuk meningkatkan penampilan fisik maupun kognitif. Contoh dari produk tersebut yaitu minuman olahraga, minuman pengganti elektrolit, serta makanan dalam bentuk batangan yang ditujukan untuk meningkatkan fungsi fisiologis saat berolahraga. Kepemilikan Aset adalah kepemilikan atas sesuatu yg mempunyai nilai tukar. (sumber : http://artikata.com/arti-319723-aset.html pada hari Kamis, Tanggal 12 Januari 2012, Jam 18: 38).
Istilah sosial berhubungan dengan masyarakat; berkaitan dengan manusia yang hidup dalam masyarakat, atau membicarakan mengenai masyarakat sebagai pranata, bahkan berkaitan juga dengan minat atau kepedulian sosial; kesenangan sosial; manfaat sosial; kebahagiaan sosial; tugas sosial, dan lain-lain.
(sumber:http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20091119002421AAjweK0 diakses pada hari Jumat, Tanggal 1 Juni 2012, Jam 9.37 WIB).
Sedangkan sub kriteria dari kriteria tersebut menurut BPS adalah sebagai berikut: