• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI 2013"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

BAB 2

GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1

Geografis, Administratif dan Kondisi Fisik

Kondisi Geografis

Kepulauan Talaud merupakan bagian integral dari Propinsi Sulawesi Utara, dengan Ibukota Melonguane yang berjarak sekitar 271 mil laut dari Manado Ibukota Provinsi Sulawesi Utara, terletak pada posisi geografis 3º 38‟ 00”- 5 º 33‟ 00” Lintang Utara dan 126° 38‟ 00” - 127° 10‟ 00” Bujur Timur, di mana batas administrasi Kabupaten Kepulauan Talaud adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Bebatasan dengan Republik Philipina Sebelah Timur : Berbatasan dengan Samudera Pasifik

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Kepulauan Talaud Sebelah Barat : Berbatasan dengan Laut Sulawesi

Berada diantara Pulau Sulawesi dengan Pulau Mindanao (Republik Philipina), sehingga Kabupaten Kepulauan Talaud bersama dengan Kabupaten Kepulauan Sangihe, di sebut “Daerah Perbatasan“. Kemudian disamping Daerah Perbatasan, karateristik lain yang cukup signifikan membedakan Kabupaten Kepulauan Talaud dengan Kab/Kota lain yakni: sebagai Daerah Kepulauan dan Daerah Tertinggal. Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Sangihe (pada saat itu masih Kabupaten Kepulauan Sangihe Talaud), berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 2002. Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan daerah bahari dengan luas lautnya sekitar 37.800 km2 dan luas wilayah daratan 1.251,02 Km2. Terdapat tiga pulau utama di Kabupaten Kepulauan Talaud, yaitu Pulau Karakelang, Pulau Salibabu dan Pulau Kabaruan.

Administratif

Kabupaten Kepulauan Talaud memiliki luas wilayah secara keseluruhan baik luas laut maupun darat sebesar 39.051,02 Km2. Luas tersebut terdiri dari 37.800 Km2 laut sedangkan luas wilayah daratan hanya sebesar 1.251,02 Km2. Dari luas daratan tersebut diatas terbagi dalam 19 kecamatan dengan 142 desa dan 11 Kelurahan. Menurut data yang diperoleh dari Kabupaten Kepulauan Talaud dalam Angka Tahun 2012, Kecamatan Beo Utara merupakan kecamatan dengan wilayah terluas yaitu 11,58 % dari total luas wilayah kabupaten. Sedangkan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Miangas yaitu sebesar 0,19 % dari luas wilayah total. Berikut adalah tabel dan gambar yang menunjukkan luas wilayah per kecamatan (Km2), kelurahan serta prosentasenya (Tabel 2.1.1 dan Gambar 2.11).

(2)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Tabel 2.1. Nama, Luas Wilayah per Kecamatan (Km2) dan Jumlah Kelurahan

N0 KECAMATAN LUAS (Km2) JUMLAH KELURAHAN

1 Kabaruan 66,03 - 2 Damau 49,58 - 3 Lirung 31,11 3 4 Salibabu 21,8 - 5 Kalongan 24,81 - 6 Moronge 20,35 7 Melonguane 77,39 3 8 Melonguane Timur 48,35 - 9 Beo 70,93 3 10 Beo Utara 144,85 2 11 Beo Selatan 63,87 - 12 Rainis 80,68 - 13 Tampan'Amma 124,18 - 14 Pulutan 58,81 - 15 Essang 94,76 - 16 Essang selatan 75,02 - 17 Gemeh 137,71 - 18 Nanusa 58,4 - 19 Miangas 2,39 - Total 1.251,02 11

Sumber : Talaud Dalam Angka 2012

Gambar.2.1 Persentase Luas Berdasarkan Kecamatan

Berdasarkan tabel dan gambar diatas maka pembagian wilayah secara administratif berdasarkan kecamatan dapat dilihat pada peta administrasi Kabupaten Kepulauan Talaud (Gambar 2.1.2) 5% 4% 2% 2% 2% 2% 6% 4% 6% 12% 5% 6% 10% 5% 8% 6% 11% 5% Kabaruan Damau Lirung Salibabu Kalongan Moronge

Melonguane Melonguane Timur

Beo Beo Utara

Beo Selatan Rainis Tampan „Amma Pulutan

Essang Essang Selatan

Gemeh Nanusa

(3)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Gambar 2.2 Peta Administrasi Kabupaten Kepulauan Talaud

(4)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Kondisi Fisik

Keadaan iklim di wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud secara global menurut klasifikasi iklim dari schmidt & Ferguson adalah bertipe iklim A (iklim basah) yang memiliki bulan basah sebanyak 8 – 9 bulan dengan jumlah curah hujan bulanan pada tahun 2010 mencapai 316 mm/bulan. Menurut data klimatologi yang dikeluarkan oleh Stasiun Meteorolgi KL. III Naha Tahun 2009 – 2010 keadaan iklim di gugusan Kepulauan Talaud kejadian hujan lebih sering terjadi pada bulan Januari, Pebruari, Nopember dan Desember yang bervariasi antara 22 – 25 hari hujan. Intensitas tertinggi terjadi pada bulan Desember dan Januari dengan diselingi intensitas sedang pada bulan Pebruari, Maret dan Nopember, intensitas terendah terjadi pada 4 bulan pertengahan tahun yaitu bulan April, Mei, Juni dan Oktober. Bulan kering terjadi pada akhir bulan Agustus hingga pertengahan September. Tabel berikut memperlihatkan data klimatologi untuk jumlah curah hujan dan suhu rata – rata setiap tahunnya yang dicatat oleh Badan Meteorologi dan Geofisika Balai Wilayah IV, Stasiun Meteorologi KL. III Naha Tahuna sepanjang tahun 2007 – 2011.

Tabel. 2.2 Banyaknya Curah Hujan (mm) di Kabupaten Kepl. Talaud 2007-2011

No. Bulan 2007 2008 2009 2010 2011 1 Januari 731 413 540 536 476 2 Februari 450 397 295 104 253 3 Maret 271 422 266 159 441 4 April 278 404 419 140 430 5 Mei 16,8 145 251 468 269 6 Juni 378 279 125 222 225 7 Juli 354 357 157 360 249 8 Agustus 166 190 141 350 281 9 September 233 217 72 197 1521 10 Oktober 28 396 209 296 218 11 November 354 529 453 268 322 12 Desember 427 617 420 382 786 Rata-rata 307 364 279 290,2 342

(5)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Tabel 2.3 Keadaan suhu rata-rata (°C) Kabupaten Kep. Talaud 2007 - 2011

No. Bulan 2007 2008 2009 2010 2011 1 Januari 26,9 27 27,9 26,6 26,9 2 Februari 26,9 26,6 27,1 27,5 26,7 3 Maret 27,4 27 27,1 28 26,8 4 April 28,1 27 27,7 28 27,3 5 Mei 27.8 27,6 28 27,9 27,8 6 Juni 28,5 27 27,4 27,8 26,1 7 Juli 26,7 26,9 27,2 25,5 27,2 8 Agustus 26,9 27,8 27,5 27,7 27,2 9 September 27,5 27,1 27,8 28,1 27,4 10 Oktober 28 27,4 27,9 28 27,9 11 November 27,6 26,9 27,3 27,8 26,4 12 Desember 27,2 27 27,7 26,7 26,4 Rata-rata 27,5 27 27,5 27,5 27

Sumber : Talaud Dalam Angka 2012

Keadaan topografi di Kabupaten Kepulauan Talaud sebagian besar terdiri dari wilayah pegunungan dan tanah berbukit-bukit yang dikelilingi oleh lautan. Ketinggian tanah terbagi atas : 0 – 100 mdpl, 100 – 500 mdpl dan lebih dari 500 mdpl, hampir 50 % dari luas keseluruhan memiliki ketinggian berkisar antara 100 – 500 mdpl. Sedangkan kemiringan lerengnya berkisar antara 0 – 2 %, 2 – 15 %, 15 – 40 % dan lebih besar dari 40 %. Pada tabel di bawah ini adalah tinggi wilayah kecamatan terhadap permukaan laut.

Tabel 2.4 Tinggi Wilayah di atas permukaan Laut (DPL)

NO KECAMATAN TINGGI DPL (M) 1 Kabaruan 20 2 Damau 15 3 Lirung 4 4 Salibabu 3 5 Kalongan 5 6 Moronge 20 7 Melonguane 12 8 Melonguane Timur 2 9 Beo 3 10 Beo Utara 7 11 Beo Selatan 2 12 Rainis 3 13 Tampan'Amma 6 14 Pulutan 3 15 Essang 25 16 Essang selatan 15 17 Gemeh 6 18 Nanusa 4 19 Miangas 4

(6)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Topografi wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud sebagian besar wilayah Talaud memiliki topografi bergunung-gunung yang membentang dari utara ke selatan, yang tersebar dalam pulau-pulau. Gambaran tentang morfologi wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.5 Morfologi Kabupaten Kepulauan Talaud

Berdasarkan Tabel Wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud yang terdiri dari pulua-pulau tersebut didominasi oleh morfologi dengan sistem punggung bukit yang sangat curam yaitu hampir mencapai 53,37 % wilayah. Sedangkan wilayah yang datar hanya mencapai 19,93 %.

Daerah Ailran Sungai atau disingkat (DAS) di Kabupaten Kepulauan Talaud dalam upayanya mengelola hubungan tibal balik antar sumberdaya alam terutama vegetasi, tanah dan air dengan sumberdaya manusia di DAS dan segala aktifitasnya untuk mendapatkan mafaat ekonomi dan jasa lingkungan bagi kepentingan pembangunan dan kelestarian ekosisten DAS. Adapun Sungai yang terdapat pada sub-sub DAS di Kabupaten Kepulauan Talaud dapat di lihat pada table DAS berikut:

Tabel 2.6 Luas, Pembagian Satuan Wilayah Pengelolaan DAS Essang dan Sungai utama

NO Sub DAS Luas (Ha) Prosentase (%) Sungai Utama

1 Essang 45463,89 57 Sungai Essang

2 Bantane 34284,102 43 Sungai Anggun

Jumlah 79747,99 100

(7)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Tabel 2.7 Deskripsi Kondisi dan Debit Sungai Sub DAS Essang

NO Nama Sungai Lebar Sungai (m) Kedalaman Sungai (m)

1 Sungai Bune 12 2

2 Sungai Tarun 13 3

3 Sungai Pampalu Besar 10 2

4 Sungai Andaaran 18 5 5 Sungai Moong 20 5 6 Sungai Wune 25 4 7 Sungai Marat 15 4 8 Sungai Lua 25 3 9 Sungai Bahunia 15 3 10 Sungai Kinawang 20 3 11 Sungai Lobbo 25 5 12 Sungai Essang 39 6

Sumber : Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tondano Tabel 2.8 Daftar Nama Sungai Sub DAS Bantane

NO Nama Sungai Lebar Sungai (m)

1 Anggun 35 2 Sawang 20 3 Bune Tarun 20 4 Arelo 21 5 Borowo 35 6 Bune Kiama 20

Sumber : Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Tondano

2.2

Demografi

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010 (SP2010) diketahui bahwa jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Talaud sebanyak 83.441. Kemudian pada tahun 2011 meningkat menjadi 84.378 jiwa, jiwa(Lihat Tabel 2.2.1). Distribusi / persebaran penduduk di 19 kecamatan terlihat bervariasi, jumlah penduduk tertinggi berada di Kecamatan Melonguane, yaitu 10.552 jiwa atau sekitar 12,51 persen dari jumlah penduduk Kabupaten, dan memiliki tingkat kepadatan sebesar 136,35 orang perkilometer persegi. Sedangkan wilayah kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil yaitu kecamatan Miangas. Kepadatan penduduk rata-rata di Kabupaten Kepulauan Talaud adalah 67,45 jiwa per kilometer persegi. Jumlah penduduk, laju pertumbuhan dan kepadatan penduduk disetiap daerah bervariasi seperti pada table 2.2.2 ( laju pertumbuhan penduduk) dan tabel 2.2.3 (jumlah penduduk, luas dan kepadatan).

(8)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Tabel 2.9 Jumlah Penduduk Per kecamatan

Tabel 2.10 Laju Pertumbuhan Penduduk

(9)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Tabel 2.11 Jumlah Penduduk, Luas dan Kepadatan

Sumber : Hasil Susenas BPS

Tabel 2.12 Tingkat Pertumbuhan dan Proyeksi Jumlah Penduduk

NO KECAMATAN

TINGKAT

PERTUMBUHAN PROYEKSI JUMLAH PENDUDUK 2000 - 2010 2012 2013 2014 2015 2016 1 Kabaruan 1,27 5987 6426 6855 7294 7737 2 Damau 0,81 4217 4262 4306 4351 4212 3 Lirung 0,82 6457 6708 6958 7209 7459 4 Salibabu 0,43 5556 5622 5687 5753 5686 5 Kalongan 1,78 2943 3091 3237 3385 3236 6 Moronge 0,90 3495 3548 3600 3653 3599 7 Melonguane 5,60 12281 14001 15722 17442 19171 8 Melonguane Timur 1,45 3024 3055 3085 3116 2823 9 Beo 1,11 6494 7409 8319 9234 10151 10 Beo Utara 0,80 3679 3718 3755 3794 3647 11 Beo Selatan -0,07 3577 3615 3651 3689 3581 12 Rainis 0,84 6103 6169 6234 6300 6091 13 Tampan'Amma 1,50 5619 5678 5735 5794 5230 14 Pulutan 1,61 1998 2019 2041 2062 1810 15 Essang 0,63 3477 3517 3558 3598 3567 16 Essang selatan 1,06 3290 3326 3361 3397 3389 17 Gemeh -0,29 5583 5642 5700 5759 5062 18 Nanusa -0,57 3409 3443 3477 3511 3335 19 Miangas 1,73 744 751 757 764 844

(10)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

2.3 Keuangan dan Perekonomian Daerah

Pembiayaan sanitasi di Kabupaten Kepulauan Talaud dianggarkan pada beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yaitu Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Dinas Kesehatan dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Adapun realisasi APBD Kabupaten Kepulauan Talaud mengalami fluktuasi selama lima tahun terakhir tetapi tetap menunjukkan peningkatan pertahunnya seperti terrlihat pada table dibawah ini. Untuk ringkasan belanja sanitasi selama 5 tahun terakhir datanya tidak tersedia di DPPKAD.

Tabel 2.13 Rekapitulasi Realisasi APBD Kabupaten Kepulauan Talaud

NO URAIAN REALISASI

2008 2009 2010 2011 2012

A PENDAPATAN 4.593.649.123,81 3.550.345.400 7.694.853.127 8.735.988.092 10.560.855.378

1 Pendapatan Asli Daerah (PAD) 4.593.649.123,81 3.550.345.400 7.694.853.127 8.735.988.092 10.560.855.378 2 Dana Perimbangan ( Transfer) 339.539.968.939 349.351.204.643 350.905.697.528 389.676.588.315 454.873.162.148

3 Lain-lain Pendapatan yang

sah 9.316.023.000 22.531.736.370 4.197.205 - -

JUMLAH

PENDAPATAN 353.449.641.062,81 375.433.286.413 358.604.747.860 398.412.576.407 465.434.017.526 B BELANJA 330.730.676.545 287.028.590.589 342.246.115.100 374.513.161.527 467.261.723.546

1 Belanja Tidak Langsung 198.241.226.324 159.100.844.015 197.918.089.205 243,976,483,629 278.890.052.036 2 Belanja Langsung 132.489.450.221 127.927.746.574 144.328.025.895 130.536.677.898 188.371.671.510

SURPLUS/DEFISIT

ANGGARAN 22.718.964.517 88.404.695.824 16.358.632.760 23.899.414.880 (1.827.706.020)

Percepatan pertumbuhan ekonomi merupakan prasyarat utama untuk penciptaan lapangan kerja dan penurunan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi dapat ditinjau dari pertumbuhan Produk Domestik Regional Broto (PDRB). Semakin tinggi pertumbuhan PDRB semakin tinggi pula pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi yang positif dan cenderung meningkat secara progresif mengindikasikan adanya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan.

Kondisi perekonomian Kabupaten Kepulauan Talaud pada tahun 2011 terus menunjukkan nilai positif. Pertumbuhan ekonomi tahun 2011 sebesar 5,65 persen, angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya yaitu sebesar 5,51 persen. Bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Propinsi Sulawesi Utara sebesar 7,39 persen, terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kepulauan Talaud sebesar 5,65 persen masih berada dibawah pertumbuhan ekonomi Propinsi Sulawesi Utara.

(11)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Tabel 2.14 PDRB Kabupaten Kepulauan Talaud

Agregat Pendapatan Regional 2009 2010 2011

PDRB - ADHB 682.563,38** 766.673,08** 883.880,82*** PDRB - ADHK 403.903,09** 426.173,92** 450.246,05*** PDRB - ADHB per Kapita 9.002.678 9.188.977 10.475.500 PDRB - ADHK per Kapita 5.327.285 5.107.917 5.336.186

Pertumbuhan Ekonomi 5,15 % 5,51 % 5,65 %

Sumber : Talaud Dalam Angka 2012

2.4

Tata Ruang Wilayah

Tujuan penataan ruang Kabupaten Kepulauan Talaud adalah:

“ Mewujudkan Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai Beranda Depan Indonesia Timur Bagian Utara dengan mengandalkan sektor perikanan, pertanian, perkebunan dan pertahanan keamanan sebagai basis untuk meningkatkan pendapatan kabupaten ”

Untuk melaksanakan tujuan di atas, maka ada beberapa aspek penting yang dijadikan sebagai dasar untuk melaksanakan tujuan penataan ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud , yaitu:

1. Prioritas Pemanfaatan dan Pengembangan Ruang Fungsi Strategis sebagai kawasan perbatasan.

2. Perlindungan Ruang terluar sebagai Fungsi Lindung Untuk pertahanan dan keamanan.

3. Pembangunan Terpadu Kawasan perbatasan dengan Mengedepankan Sinergitas dan Menghindari Ego-sektoral.

4. Optimalisasi Pintu Gerbang Wilayah berbatasan Untuk Meningkatkan Citra Kawasan Kabupaten Kepulauan.

5. Menempatkan Ruang Wilayah Kabupaten dalam sinergitas pembangunan Wilayah Provinsi Sulawesi Utara

6. Meningkatkan fungsi dan peran Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) yang meliputi perkotaan Melonguane (Kabupaten Kepulauan Talaud)

7. Pembangunan dan penataan Pemukiman serta Sarana dan Prasarana Ekonomi Rakyat yang berbasis pertahanan dan keamanan Dengan Karakter Desa Pesisir 8. Mengembangkan Kawasan Unggulan Sektor Perikanan dan Pertanian guna

meningkatkan produktifitas agar lebih maju dan bersaing dengan kabupaten/kota di Indonesia

9. Mengembangkan sistem jaringan perekonomian antar pulau sentra produksi, kolektif dan distribusi, berupa prasarana jalan, energi, informasi-telekomunikasi.

(12)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

10. Peningkatan dan pengembangan Kelas Jalan, Pelabuhan dan sarana/prasarana transportasi lainnya untuk Menunjang perkembangan arus barang sektor pertanian dan penunjangnya.

11. Pembatasan Delineasi yang jelas dan informatif terhadap kawasan fungsi perbatasan.

12. Pembangunan Kawasan Perkotaan PORODISA (Melongguane, Beo, Rainis, Lirung, Mangaran) sebagai Kawasan kota didaerah kepulauan yang Mendukung fungsi strategis pertahanan dan keamanan.

Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud

1. Kebijakan dan Strategi Dasar

Sesuai dengan kebijakan Nasional penataan ruang, serta visi, misi, dan tujuan pembangunan Kabupaten Kepulauan Talaud, maka kebijakan dasar penataan ruang wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud ditetapkan sebagai berikut :

a. Membangun struktur ruang yang berhirarki untuk meningkatkan efisiensi sarana dan prasarana.

b. Memprioritaskan pengembangan pusat-pusat kegiatan primer yang menyebarkan pengaruh kegiatan dibawahnya.

c. Mempertahankan kawasan lindung sesuai dengan Kepres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

d. Mengembangkan kawasan budidaya sesuai dengan kebutuhan, potensi,dan kesesuaian lahan dengan memperhatikan Kepres No. 7 tahun 1989 tentang Pengelolaan Kawasan Budidaya.

e. Menetapkan kawasan penghasil komoditi unggulan. Potensi perekonomian wilayah dengan komoditi unggulan dikembangkan dalam konteks menjangkau peluang pasar yang lebih luas, terutama di kawasan Indonesia bagian Timur.

f. Membuka peluang bagi penyelesaian konflik kepentingan pemanfaatan ruang, baik antara kepentingan Provinsi dan Kabupaten; antar sektor; dan antara fungsi konservasi dengan fungsi budidaya.

g. Membatasi pemanfaatan ruang di daerah permukiman yang berada di kawasan lindung.

Strategi dasar penataan ruang wilayah di Kabupaten Kepulauan Talaud ditetapkan sebagai berikut :

1. Penetapan neraca lahan secara seimbang sesuai dengan amanat UU No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang dan demi kelestarian lingkungan hidup.

(13)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

2. Pengalokasian ruang bagi kegiatan-kegiatan untuk memperkuat kinerja Kecamatan Melonguane sebagai pusat utama/primer Kabupaten Kepulauan Talaud. Pusat utama Kabupaten Kepulauan Talaud akan didukung secara hierarkis oleh pusat-pusat lainnya pada ordinasi yang lebih rendah.

3. Pengalokasian ruang bagi pengembangan sektor-sektor unggulan.

4. Pengalokasian ruang berupa sentra-sentra produksi pangan bagi kegiatan-kegiatan untuk membangun ketahanan pangan di Kabupaten Kepulauan Talaud.

5. Pengalokasian ruang untuk infrastruktur kawasan.

2. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Struktur Ruang Wilayah Kabupaten

Dalam rangka mewujudkan upaya pengembangan struktur ruang wilayah kabupaten, kebijakan dan strategi yang diperlukan adalah:

Kebijakan

a. Menciptakan kerangka ruang kabupaten yang baru yang merangkai seluruh kecamatan dalam wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Talaud. Kerangka ruang yang baru ini dibentuk dengan mempertimbangkan berbagai aspek pembangunan yang telah eksis.

b. Mempertahankan, meningkatkan dan membangun jaringan jalan di Kabupaten Kepulauan Talaud yang menjadi bagian dari tulang pembentuk struktur ruang kabupaten.

c. Kebijakan pengembangan struktur ruang wilayah kabupaten, terdiri dari dan dijabarkan dalam bentuk strategi pengembangan struktur ruang wilayah kabupaten yang mengatur :

- Peningkatan akses pelayanan kawasan kabupaten dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah Kabupaten yang merata dan berhierarki; dan

- Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah Kabupaten.

Strategi

a. Strategi untuk peningkatan akses pelayanan pusat-pusat pertumbuhan kota dan kawasan penunjangnya:

- Menjaga keterkaitan antar kecamatan dan kelurahan, antara kawasan pusat kota dan kawasan sub pusat kota, serta antara kawasan kota dan wilayah di sekitarnya;

(14)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

- Mengembangkan pusat pertumbuhan baru sebagai kompensasi menjaga

kelebihan kepadatan di kawasan lainnya;

- Mengendalikan perkembangan kelurahan-kelurahan yang dilalui jaringan jalan utama ; dan

- Mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah kecamatan dan sekitamya.

b. Strategi untuk peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana meliputi:

- Meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi;

- Meningkatkan jaringan energi untuk memanfaatkan energi terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik; dan

- Meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sumber daya air.

- Meningkatkan kualitas jaringan pengelolaan limbah diantaranya melalui penerapan pengelolaan sampah dengan metode 3R

(15)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Gambar. 2.3 Peta Struktur Ruang Kabupaten Kepulauan Talaud

(16)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

3. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pola Ruang Kabupaten

Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang meliputi:

a. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung Kabupaten; dan

b. Kebijakan dan Strategi pengembangan kawasan budidaya Kabupaten

a. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Lindung Kabupaten

Kebijakan

1) Mengkonservasi dan memproteksi kawasan hutan lindung, hutan Kabupaten dan hutan mangrove untuk fungsi ekologis dan biologis.

2) Meningkatkan kualitas kawasan konservasi alam Kabupaten Kepulauan Talaud terutama pada kawasan geomorfological disaster.

3) Pengembangan kawasan lindung untuk direhabilitasi / reboisasi pada kawasan hutan lindung yang mengalami kerusakan, mencegah meluasnya kerusakan di kawasan lindung. Yang ditempuh dengan cara :

- Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan - Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan

kerusakan lingkungan hidup.

Strategi

1) Pemantapan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya masing-masing, baik untuk melindungi kawasan bawahannya, melindungi kawasan setempat, memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman flora-fauna dan ekosistemnya, serta melindungi kawasan yang rawan terhadap bencana alam;

2) Penetapan batas kawasan lindung sesuai dengan fungsi yang telah di tetapkan. Setelah mendapatkan kawasan lindung berdasarkan fungsi hasil super impose rencana tata ruang daerah, maka kawasan tersebut ditetapkan sebagai kawasan yang tidak boleh dilakukan kegiatan budidaya (produksi, pembangunan fisik);

3) Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan lindung agar sesuai fungsi yang telah ditetapkan. Pada prinsipnya kegiatan budidaya yang terdapat dalam kawasan lindung, dapat dilanjutkan sejauh hal ini tidak mengganggu fungsi lindung yang ditetapkan bagi kawasan tersebut. Apabila kegiatan ini diangap dapat menganggu fungsi lindung, maka perlu dilakukan pembatasan terhadap pengembangannya atau dihentikan sama sekali. Strategi ini diambil mengingat pertimbangan kebutuhan pembangunan dengan tetap mengupayakan kelestarian dan keseimbangan lingkungan.

4) Strategi untuk pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup meliputi:

(17)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

- Menetapkan kawasan lindung di ruang darat, dan ruang udara, termasuk

ruang di dalam bumi;

- Mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budidaya, dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah.

5) Strategi untuk pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup meliputi:

- Menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup;

- Melindungi kemampuan lingkungan hidup dan tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya; - Melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi,

dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya;

- Mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan;

- Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana untuk menjamin kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; - Mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin

pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya.

b. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya Kabupaten

Kebijakan

1) Memanfaatkan kawasan hutan lindung, hutan Kabupaten dan hutan mangrove sebagai kawasan wisata ekologi / ekowisata.

2) Mengembangkan kegiatan budidaya hanya pada lahan yang berfungsi sebagai kawasan budidaya.

3) Membatasi perkembangan pemanfaatan lahan yang sudah berlangsung di kawasan lindung, untuk secara bertahap dikembalikan menjadi kawasan lindung.

4) Kebijakan pengembangan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b meliputi:

(18)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

- Pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui

daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Strategi

1) Mengoptimalkan aturan pemanfaatan ruang bagi kegiatan budidaya, sesuai dengan kemampuan daya dukung lingkungannya. Secara umum pengembangan kawasan budidaya harus didasarkan pada kesesuaian lahan. Pengembangan kawasan budidaya diarahkan untuk mengakomodasikan kegiatan produksi, seperti perkebunan, pertanian tanaman pangan lahan kering, lahan basah, perkebunan, perikanan, peternakan, kegiatan pertambangan, pariwisata serta permukiman.

2) Pengendalian pemanfaatan ruang guna menghindari konflik antar berbagai kepentingan karena hal ini sering terjadi, dan akan banyak menimbulkan permasalahan, yang berdampak pada kurang optimalnya pemanfaatan lahan karena terjadinya perebutan lahan dari berbagai pihak.

3) Strategi untuk perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budidaya meliputi:

- Menetapkan kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis Kabupaten untuk pemanfaatan sumber daya alam di ruang darat, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten;

- Mengembangkan kegiatan sektor unggulan khususnya kegiatan jasa & perdagangan beserta prasarana secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya;

- Mengembangkan kegiatan budidaya untuk menunjang aspek politik, pertahanan dan keamanan, sosial budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi;

- Mengembangkan dan melestarikan kawasan budidaya pertanian pangan diwilayah Kabupaten untuk membantu ketahanan pangan nasional serta sebagai bagian dari pengembangan teknologi dan industri pertanian; dan

4) Strategi untuk pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan meliputi:

- Membatasi perkembangan kegiatan budidaya terbangun di kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana;

(19)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

- Pada kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan bencana gempa bumi (garis sesar), maka diberlakukan kawasan penyangga selebar 100 m mengelilingi batas kawasan

- Mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat mengendalikan dan mengoptimalkan keberadaan sawah sebagai citra penguasaan teknologi pangan.

(20)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Gambar 2.4 Peta Pola Ruang Kabupaten Kepulauan Talaud

(21)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

5. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Strategis Kabupaten Kebijakan

Kebijakan pengembangan kawasan strategis Kabupaten sebagaimana dimaksud meliputi:

1) Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, dan melestarikan keunikan bentang alam

2) Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian Kota yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian nasional;

Strategi

1) Strategi untuk pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup meliputi:

- Menetapkan kawasan strategis Kabupaten berfungsi lindung;

- Mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis Kabupaten yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;

- Membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan strategis Kabupaten yang dapat memicu perkembangan kegiatan budi daya;

- Mengembangkan kegiatan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis Kabupaten yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budi daya terbangun; dan - Merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak

pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis Kabupaten.

2) Strategi untuk pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian Kabupaten meliputi:

- Menetapkan Kawasan Strategis berfungsi ekonomi

- Mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam, manusia dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah;

- Menciptakan iklim investasi yang kondusif;

- Mengelola pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan;

(22)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

- Mengintensifkan promosi peluang investasi; dan

- Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi.

6. Kebijakan dan Strategi Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten

Kebijakan

1) Mengembangkan sistem perkotaan dalam Kabupaten yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup serta fungsi kegiatan dominannya.

2) Meningkatkan daya dukung lingkungan alamiah dan buatan serta menjaga keseimbangan daya tampung lingkungan untuk menjaga proses pembangunan berkelanjutan.

Strategi

1) Penyusunan program utama pembangunan, penetapan perkiraan biaya pembangunan beserta sumbernya, serta pemilihan instansi pelaksana dan waktu pelaksanaan program pembangunan.

2) Penetapan peraturan zonasi, ketentuan perijinan, ketentuan insentif dan disinsentif, serta pemberian sanksi terhadap pelanggaran pemanfaatan lingkungan alamiah

7. Kebijakan dan Strategi Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten

Kebijakan

1) Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui pengawasan dan penertiban yang didasarkan kepada RTRW Kabupaten Kepulauan Talaud.

Strategi

1) Pemberian izin pemanfaatan ruang sebagai salah satu alat pengendalian pemanfaatan ruang dan merupakan kewenangan Kabupaten agar memperhatikan dan mempertimbangkan RTRW Kabupaten Kepulauan Talaud.

KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN EKONOMI KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD

Kebijakan

1) Pengembangan perdagangan dan industri dengan mengutamakan pengembangan industri daerah berbasis sumber daya lokal yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah relatif besar seperti pertanian,

2) perikanan, dan kelautan, pariwisata, dan sumber daya alam lainnya yang memiliki potensi pengembangan ekspor

(23)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

3) Mengarahkan pengembangan industri daerah berorientasi nilai tambah seperti industri produk turunan kelapa, pala, industri produk turunan hasil laut seperti ikan layang, tongkol abu-abu, cakalang, dan industri kerajinan rakyat 4) Menciptakan kondisi daerah yang berdaya saing, memiliki nuansa yang

proinvestasi dan bisnis, pro-lingkungan melalui penataan institusi, sistem, dan prosedur yang transparan serta regulasi-regulasi investasi di daerah

5) Mendorong dan melibatkan Pemerintah Pusat dan Provinsi untuk secara langsung membantu dalam bentuk asset dan/atau modal serta mendukung pihak swasta dalam mengelola kegiatan-kegiatan investasi strategis bagi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Talaud

6) Mendorong pemerintah Pusat dan Provinsi untuk menfasilitasi dan membantu bisnis yang masih dihadapkan dengan kendala-kendala internal dan eksternal seperti manajemen, teknologi, modal kerja, informasi, pemasaran, dan ketenagakerjaan

Strategi

1) Pengembangan UKM dan Koperasi

2) Peningkatan dan Perbaikan pengelolaan sumber keuangan daerah

3) Mengembangkan praktek-praktek budidaya pertanian dengan menggunakan teknik seperti pola terasering dan usaha non pertanian yang ramah lingkungan dan sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mempertahankan daya dukung lingkungan

4) Pengembangan usaha pertanian dengan pendekatan kewilayahan terpadu dengan konsep pengembangan agribisnis

5) Memanfaatkan hasil hutan dan jasa lingkungannya secara optimal

6) Pengembangan sektor pariwisata yang meliputi pengembangan dan pengelolaan objek-objek wisata secara lebih profesional dengan menerapkan pembangunan pariwisata berkelanjutan, bersinergi, dan terintegrasi sebagai salah satu penggerak utama ekonomi daerah

7) Meningkatkan manfaat pertambangan dan nilai tambahnya

8) Memanfaatkan dan mengelola ruang kawasan jasa dan perdagangan secara efektif untuk mencapai keuntungan signifikan

9) Membuka keluasaan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan usaha serta menarik pasar dari kawasan / kabupaten di sekitar Kabupaten Kepulauan Talaud.

(24)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

10) Pengembangan usaha industri pertanian dengan pendekatan kewilayahan terpadu dengan konsep pengembangan agribisnis, agroteknologi serta agroriset.

11) Pengembangan pelayanan pendidikan tinggi dengan membangun Politeknik ataupun sekolah tinggi Pertanian untuk mendapatkan sumber daya manusia berdaya saing unggulan dan akan menghasilkan penambahan aset modal sumber daya manusia dimasa mendatang.

12) Pengembangan pelayanan kesehatan pada tingkatan Rumah Sakit Tipe B sebagai rujukan bagi kawasan kabupaten/kota di sekitarnya.

2.5

Sosial dan Budaya

Fasilitas pendidikan di Kabupaten Kepulauan Talaud saat ini telah tersedia hampir disetiap ibukota kecamatan bahkan didalam tata ruang wilayah telah ditetapkan salah-satu wilyah yaitu Kecamatan Beo sebagai kawasan pendidikan, dimana pada saat ini telah berdiri perguruan tinggi, “Community College of Talaud” sebagai bakal universitas di Kabupaten Kepulauan Talaud. Yang menjadi kendala adalah ketersediaan tenaga pengajar disetiap wilayah apalagi di wilayah-wilayah terpencil dan pulau-pulau terluar. Di bawah ini adalah sebaran sektor/ fasilitas pendidikan disetiap kecamatan (Tabel 2.5.1 dan Gambar 2.5.1)

Tabel 2.15 Fasilitas Pendidikan di Kabupaten Kepulauan Talaud

Sumber : Talaud Dalam Angka 2012

NO KECAMATAN TK SD SLTP SLTA PT 1 KABARUAN 7 10 4 1 2 DAMAU 6 9 2 2 3 LIRUNG 6 6 2 2 4 SALIBABU 5 6 2 1 5 KALONGAN 3 3 1 0 6 MORONGE 3 3 1 0 7 MELONGUANE 6 7 3 3 8 MELONGUANE TIMUR 2 4 1 0 9 BEO 3 6 2 2 1 10 BEO UTARA 5 7 1 0 11 BEO SELATAN 4 6 2 1 12 RAINIS 7 9 3 1 13 TAMPAN' AMMA 7 7 4 1 14 PULUTAN 2 3 1 1 15 ESSANG 3 5 2 1 16 ESSANG SELATAN 5 5 2 2 17 GEMEH 10 11 3 1 18 NANUSA 5 7 3 1 19 MIANGAS 1 1 1 1 19 JUMLAH 90 115 40 21 1

(25)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Gambar 2.5 Sebaran Sektor Pendidikan di Kabupaten Kepulauan Talaud

(26)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Kemiskinan

Persoalan kemiskinan sudah menjadi permasahan yang hampir tidak dapat di uraikan penyebabnya karena kompleksitasnya yang multidimensional. Berbagai upaya pembangunan disegala bidang telah dilaksanakan untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Upaya yang dilakukan secara berkelanjutan adalah membangun dan mengembangkan sarana dan prasarana dasar disamping pembangunan ekonomi. Jumlah KK miskin di Kabupaten Kepulaun Talaud masih sebanyak 8885 KK yang tersebar diseluruh kecamatan, dapat dilihat pada (tabel 2.5.1.)

Tabel 2.16 Jumlah Penduduk Miskin per Kecamatan

NO KECAMATAN RUMAH TANGGA INDIVIDU

1 KABARUAN 617 2455 2 DAMAU 437 1758 3 LIRUNG 484 2297 4 SALIBABU 423 1790 5 KALONGAN 335 1420 6 MORONGE 133 602 7 MELONGUANE 598 2652 8 MELONGUANE TIMUR 477 1920 9 BEO 541 2496 10 BEO UTARA 569 2513 11 BEO SELATAN 472 2151 12 RAINIS 692 3156 13 TAMPAN' AMMA 831 3454 14 PULUTAN 344 1296 15 ESSANG 346 1516 16 ESSANG SELATAN 355 1704 17 GEMEH 785 3375 18 NANUSA 385 1751 19 MIANGAS 61 338 JUMLAH 8.885 38.644

(27)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

2.6

Kelembagaan Pemerintah Daerah

(28)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Gambar 2.7 Struktur Organisasi BAPPEDA Kabupaten Kepulauan Talaud

(29)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

(30)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Gambar 2.9 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Talaud

(31)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Gambar 2.10 Struktur Organisasi Dinas Pendapatan Pengelolaan, Keuangan dan Aset Daerah

(32)

BAB 2 BUKU PUTIH SANITASI

2013

Gamabar 2.11 Struktur Organisasi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kepulauan Talaud

Gambar

Tabel 2.4 Tinggi Wilayah di atas permukaan Laut (DPL)
Tabel 2.5 Morfologi Kabupaten Kepulauan Talaud
Tabel 2.10  Laju Pertumbuhan Penduduk
Tabel 2.12  Tingkat Pertumbuhan dan Proyeksi Jumlah Penduduk
+6

Referensi

Dokumen terkait

(7) Pengendalian pemanfaatan ruang yang berpotensi merusak fungsi Kawasan Lindung dan lahan pertanian pangan berkelanjutan di sekitar jaringan jalan nasional

Kawasan penyangga adalah suatu wilayah yang dapat berfungsi lindung dan berfungsi budidaya, letaknya diantara kawasan fungsi lindung dan kawasan fungsi budidaya seperti

(7) Pengendalian pemanfaatan ruang yang berpotensi merusak fungsi Kawasan Lindung dan lahan pertanian pangan berkelanjutan di sekitar jaringan jalan nasional

 Pengelolaan kegiatan budidaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memelihara fungsi lindung kawasan

hutan lindung yang salah satunya di Kabupaten Kudus.. Strategi operasionalisasi perwujudan kawasan perlindungan setempat, yaitu pengendalian. pemanfaatan ruang pada

Pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan.. Pemanfaatan ruang di sekitar wilayah sungai

POKJA Sanitasi Kabupaten Sampang 2.23 Program kegiatan pengelolaan air bersih di kabupaten Sampang ditangani oleh Dinas Pekerjaan umum Cipta Karya dan Tata Ruang yaitu

Mengatur hal-hal yang berkenaan dengan perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian tata ruang (termasuk pemanfaatan ruang kawasan lindung); yang antara lain bertujuan