• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Obat merupakan unsur penting dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.Oleh karena itu akses masyarakat terhadap obat mencakup ketersediaan dan terjangkauan bagi seluruh masyarakat harus diperluas.Akses terhadap obat terutama obat esensial merupakan kewajiban bagi pemerintah dan institusi pelayanan kesehatan baik publik maupun swasta.

Obat yang beredar di Indonesia digolongkan menjadi dua kelompok yaitu obat generik berlogo (OGB) dan obat generik bermerk (obat dagang).Berdasarkan penelitian menyebutkan bahwa jumlah ketersedian obat generik di beberapa fasilitas pemerintah maupun swasta, serta persentase peresepan obat generik masih dibawah standar yang sudah ditentukan.Zuhri (2012) juga menambahkan bahwa minat pembelian masyarakat Indonesia untuk obat generik masih tergolong rendah.Sehingga dapat disimpulkan bahwa obat generik masih kurang digunakan dalam pengobatan (Handayani,2006).Selain itu meskipun pemerintah sudah mencanangkan berbagai progam untuk penggunaan obat generik agar menurunkan biaya pengobatan, tetap saja obat generik masih kurang dimanfaatkan oleh masyarakat (Shrank, 2009).

Obat generik berlogo merupakan program yang dibuat pemerintah Indonesia agar seluruh lapisan masyarakat memperoleh obat untuk penyembuhan penyakit.Program ini sudah berlaku sejak tahun 1989, namun masih ditemukan permasalahan penggunaan obat generik baik pada sektor pelayanan kesehatan pemerintah seperti rumah sakit maupun swasta seperti apotek.

Faktor - faktor penghambat keberhasilan pencapaian tujuan kebijakan obat generik adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang obat generik, peraturan tentang penyampaian informasi tentang obat generik melalui apotek dalam hal ini apoteker masih kurang tegas atau jelas, memasyarakatkan obat generik generik dengan slogan “obat bermutu yang murah” dan tidak ada kontrol dari

(2)

lingkungankebijakan dalam hal ini pemerintah terhadap pihak-pihak terkait dengan kewajiban penggunaan obat generik (Sulistami,1994). Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi penggunan obat melibatkan pihak pemerintah sebagai pembuat kebijakan, dokter sebagai penulis resep, apotek maupun rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan masyarakat, serta masyarakat sebagai konsumen obat (Quick, 1997).

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, telah mengeluarkan beberapa peraturan terkait penggunaan obat untuk mendukung berjalannya program obat generik berlogo di fasilitas pemerintah. Melalui Permenkes HK Nomor. 02.02/Menkes/068/I/2010 yang mewajibkan penggunaan obat generik di fasilitas kesehatan pemerintah, diharapkan berdampak pada peningkatan penggunaan obat generik.Sedangkan untuk meningkatkan penggunaan obat generik di sektor swasta seperti di apotek, pemerintah melakukan sosialisasi penggunaan obat generik melalui berbagai media. Adanya peraturan tentang pencantuman nama generik pada label obat dan pencantuman harga eceran tertinggi ( HET) pada label obat yang diharapkan secara tidak langsung dapat meningkatkan penggunaan obat generik.

Apotek merupakan salah satu tempat pelayanan kesehatan khususnya obat-obatan, yang menjadi ujung tombak sarana distribusi obat yang paling dekat dengan masyarakat.Kebanyakan apotek masih berorientasi bahwa obat merupakan komoditi bisnis sehingga obat-obatan disediakan hanya yang memberikan keuntungan (profit) besar bagi apotek tersebut.Hal ini mengakibatkan berkurangnya ketersediaan obat generik di apotek yang berdampak pada penggunaan obat generik oleh masyarakat.Peran apoteker dalam merekomendasikan obat generik kepada masyarakat juga dapat mempengaruhi pengguanan obat generik. Bila terdapat resep dengan nama obat generik bermerk, apoteker dapat memberikan rekomendasi dengan obat generik yang tersedia. Oleh sebab itu, masalah ketersedian obat generik juga dapat mempengaruhi penggunaan obat generik tersebut, karena ketersedian suatu obat dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap obat tersebut. Namun disisi lain kurangnya permintaan dari masyarakatpun dapat mempengaruhi ketersedian obat di

(3)

apotek. Pihak apotek hanya menyediakan obat generik sesuai dengan permintaan konsumen agar tidak merugi.

Kurangnya permintaan masyarakat terhadap obat generik dapat mempengaruhi penggunaan obat generik.Faktor-faktor yang menyebabkan beragamnya penggunaan obat generik di masyarakat adalah kurangnya promosi atau iklan obat generik. Namun dalam penelitian yang dilakukan Octavianus (2012), menyebutkan bahwa iklan obat tidak berdampak signifikan terhadap perilaku konsumsi obat pada ibu-ibu rumah tangga di semarang. Sehingga tidak akan berpengaruh besar terhadap penggunan obat generik.

Adanya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas suatu obat yang menganggap bahwa obat paten memiliki kualitas yang paling baik dibandingkan obat generik.Masyarakat juga masih menganggap obat generik memiliki kualitas yang rendah dikarenakan harga obat generik murah.Namun penelitian di Iraq menyebutkan bahwa harga obat yang murah menjadi alasan utama masyarakat mau menggunakan obat generik, tetapi karena kurangnya pengetahuan mengenai obat tersebut maka masyarakat masih sulit menerima untuk menggunakan obat generik (Sharrad, 2010).Selain itu, sebuah penelitian lainnya nmenyebutkan bahwa masyarakat setuju harga obat generik lebih murah namun kualitas maupun keamanan obat tersebut tidak kalah dibandingkan dengan obat generik bermerk.Meskipun masyarakat tersebut memiliki persepsi positif terhadap obat generik, namun belum cukup mendorong mereka untuk menggunakan obat generik (Shrank, 2009).

Penelitian Handayani (2007) menyimpulkan bahwa pengetahuan pasien, persepsi pasien, pilihan obat pasien, permintaan pasien, pengalaman penggunaan obat generik dan status ekonomi pasien kurang berpengaruh terhadap rendahnya penggunaan obat generik di rumah sakit. Pasien cenderung mempercayakan pengobatan penyakit kepada dokter tanpa mempertanyakan jenis obat apa yang diberikan. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai obat generik.

(4)

informasi terkait ketersediaan obat generik untuk penyakit tertentu mupun informasi tentang kualitas dan keamanan obat tersebut.Kurangnya kepercayaan dokter terhadap kualitas obat generik juga menjadi salah satu faktor dalam hal peresepan.Pemerintah seharusnya menjelaskan semua ketidakpastiaan mengenai pemahaman obat generik sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dokter mengenai kualitas dan keamanan obat generik (Chua, 2010).Penelitian persepsi dokter dibeberapa negara berkembang seperti Iraq dan Malaysia menyebutkan bahwa dokter pada umumnya sudah menerima untuk menggunakan obat generik dalam peresepnnya meskipun masih mempertimbangkan keuntungan maupun kerugian dalam pengobatan.Dokter juga masih kurang memahami tentang keamanan maupun efektifitas obat generik dikarenakan kurangnya pengetahuan dan informasi yang dari pemerintah maupun industri farmasi melalui sosialisasi.Keadaan ini kedepannya akan meberikan pengaruh buruk terhadap penggunaan obat generik di masyarakat (Liang, 2010).

Adanya reward berupa donasi dari perusahaan farmasi apabila dokter meresepkan obat generik bermerk. Hal ini disebabkan karena banyaknya merk obat yang beredar di pasar farmasi, mengakibatkan persaingan perusahan farmasi untuk mempengaruhi dokter dalam peresepan obat.Dokter yang berada dalam sistem pelayanan kesehatan pemerintah lebih cenderung untuk menuliskan obat generik dikarenakan adanya tekanan dari sistem tersebut seperti kepatuhan terhadap formularium, maupun peraturan pemerintah yang berlaku.Selain pemerintah, industri farmasi memiliki pengaruh yang besar terhadap pola peresapan dokter ( Kersnik, 2006). Oleh sebab itu, pemerintah memiliki peran yang penting dalam memutuskan kerjasama diantara dokter dan perusahan farmasi seperti salah satunya dibuat perjanjian bahwa donasi yang diterima dokter tidak akan berkorelasi dengan peresepan obat oleh para dokter.

Peran dokter juga diperlukan untuk memberikan pengertian dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai kualitas obat generik melalui peresepannya.Masyarakat seharusnya proaktif menanyakan mengenai obat yang diberikan.Fenomena masyarakat yang menganggap obat generik memiliki kualitas yang rendah ini menunjukkan bahwa ada kesalahpahaman mengenai pengertian obat generik di

(5)

masyarakat.Agar pemahaman masyarakat terhadap obat generik dapat ditingkatan, hal terpenting adalah bagaimana informasi yang benar tentang obat generik itu bisa diterima oleh masyarakat.Informasi adalah data yang merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian terhadap sesuatu.Informasi yang diterima oleh seseorang merupakan awal dari pembentukan persepsi seseorang terhadap suatu objek.

Kotler dan Amstrong (2004) mengungkapkan bahwa dalam keadaan yang sama persepsi seseorang terhadap suatu produk dapat berbeda-beda disebabkan adanya proses seleksi dari berbagai stimulus (informasi) yang ada melalui pancaindera. Persepsi yang terbentuk selanjutnya akan membentuk suatu kepercayaan (belief) seseorang, yang pada akhirnya akan memunculkan minat seseorang untuk ingin atau tidak melakukan suatu perilaku. Pada Theory of Planned Behavior (TPB) menjelaskan bahwa sebuah perilaku membutuhkan sikap (attitude toward behavior), norma subjektif (subjective norm) dan persepsi kemampuan berperilaku (perceived behavior control) dengan intensi (minat) sebagai media penghubung berbagai faktor-faktor motivasional yang berdampak pada suatu perilaku (Ajzen, 2005).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Harsali (2013), menyimpulkan bahwa untuk mau membeli atau mengkonsumsi suatu produk dipengaruhi oleh faktor sikap, norma subjektif dan persepsi kemampuan berperilaku. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa rata-rata nilai sikap dan intensi adalah tinggi. Selain itu disimpulkan bahwa sikap maupun persepsi kemampuan berperilaku dapat mempengaruhi penggunaan obat generik, meskipun norma subjektif tidak secara langsung mempengaruhi intensi menggunakan obat tersebut.

Berdasarkan penelitian diatas, dapat diketahui bahwa dari ketiga faktor pembentuk intensi, faktor sikap memiliki peran paling dominan dalam mempengaruhi intensi seseorang.Hal ini dapat dikaitkan dengan teori persepsi seseorang dimana sikap merupakan hasil evaluasi baik maupun kurang baik terhadap perilaku tertentu.Persepsi atau keyakinan seseorang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku melalui pembentuk sikap seseorang (Sobur, 2011). Persepsi

(6)

belakang budaya) maupun faktor psikis (kepribadian, kelas sosial, dan tekanan sosial), meskipun dalam Theory of Plan Behavior (TPB) menyimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut tidak menjadi bagian dalam teori tersebut melainkan hanya sebagai pelengkap untuk menjelaskan lebih dalam faktor penentu perilaku manusia. Dimana faktor-faktor tersebut hanya mempengaruhi keyakinan atau persepsi dan pada akhirnya juga berpengaruh terhadap intensi dan perilaku manusia (Ajzen, 2005). Penelitian lainnya menyimpulkan hal yang sama bahwa faktor personal (individual), norma subjektif dan persepsi kemampuan berperilaku akan mempengaruhi sikap konsumen untuk menggunakan obat generik yang diresepkan. Sikap yang sudah terbentuk tersebut akan mempengaruhi minat seseorang untuk membeli atau membayar obat generik yang diresepkan tersebut ( Liang, 2011).

Berdasarkan beberapa ulasan diatas diperoleh informasi bahwa sikap, norma subjektif dan persepsi kemampuan berperilaku dapat mempengaruhiminat terhadap obat generik sehingga memunculkan suatu perilaku penggunaan obat generik. Namun minat masyarakat menggunakan obat generik belum diketahui, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran minat masyarakat dan faktor apa saja yang berperngaruh terhadap minat tersebut. Sehingga kedepannya dapat disusun suatu strategi untuk mensosialisasi program obat generik. Hal ini dikarenakan perbaikan kesalahan sikap dan persepsi masyarakat terhadap obat generik dapat digunakan sebagai awal pengembangan dan target strategi mengenai sosialisasi dan edukasi untuk pengenalan obat generik di masyarakat (Shrank, 2009).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut meskipun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan melalui program sosialisasi program obat generik berlogo (OGB), namun penggunaan obat tersebut masih kurang.Untuk ikut mensukseskan program pemerintah dalam menggerakkan masyarakat tersebut maka persepsi atau kepercayaan masyarakat yang benar terhadap obat generik sangat diperlukan.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana minat masyarakat

(7)

menggunakan obat generik, sehingga upaya-upaya sosialisasi obat generik kepada masyarakat dapat dilakukan secara lebih sistematis.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Secara umum tujuan penelitian ini mengetahui minat masyarakat menggunakan obat generik.

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah mengetahui minat masyarakat menggunakan obat generik dengan mengukur variabel sikap, norma subjektif dan persepsi kemampuan berperilaku. Serta mengetahui hubungan antara sikap, norma subjektif dan persepsi kemampuan berperilaku terhadap minat menggunakan obat generik.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai minat masyarakat menggunakan obat generik, sehingga dapat diidentifikasi strategi lebih lanjut untuk meningkatkan upaya sosialisasi program Obat Generik Berlogo di masyarakat secara lebih sistematis.

E. Keaslian Penelitian

Wiedyaningsih (2013) melakukan penelitian mengungkap faktor pendorong dokter meresepkan racikan untuk pasien anak rawat jalan dengan pendekatan teori perilaku berencana.Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sikap, norma subjektif dan persepsi kemampuan berperilaku berpengaruh positif terhadap perilaku dokter dalam meresepkan racikan., dengan variabel sikap merupakan prediktor terkuat.

Zuhri (2012) melakukan penelitian mengenai perilaku konsumen dalam pemilihan obat generik dan bermerk (studi pada konsumen produk obat berbahan

(8)

penelitian menujukan bahwa sikap, norma subjektif dan persepsi kemampuan berperilaku berpengaruh positif terhadap niat membeli dan menggunakan obat paracetamol (generik dan bermerk). Niat beli paracetamol generik paling kuat dipengaruhi oleh prediktor persepsi kemampuan berperilaku. Sedangkan untuk niat beli paracetamol bermerk paling kuat dipengaruhi oleh norma subjektif.

Harshali (2013) melakukan penelitian mengenai prediksi niat konsumen terhadap program diskon penggunaan obat generik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata nilai sikap dan intensi adalah tinggi yaitu 59,46%. Selain itu disimpulkan bahwa sikap maupun persepsi kemampuan berperilaku dapat mempengaruhi penggunaan obat generik, meskipun norma subjektif tidak secara langsung mempengaruhi intensi menggunakan obat tersebut.

Amron (2008) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi minat pembelian obat generik di kelurahan Gedungkiwo, kecamatan Mantrijeron Kota Yogya.Perbedaan terletak pada metode maupun lokasi penelitian. Namun terdapat persamaan pada teori yang digunakan sebagai kerangka konsep penelitian penelitian yaitu Theory of Planned Behavior.

Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini mengamati minat masyarakat menggunakan obat generik yang diukur dengan variabel sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan persepsi kemampuan berperilakuyang dilakukan pada masyarakat kabupaten Sleman, Yogyakarta berdasarkan Theory of Planned Behavior.

Referensi

Dokumen terkait

1) Gure tesiak eta ondorengo argitalpenak kokatzen ditugu, ikerketa-lerro konplexu baten barruan, EHUko Hezkuntzaren Teoria eta Eskola Antolakuntzako Sail

Tujuan pembelajaran make a match menurut Febriana (2011) yaitu untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, menumbuhkan sikap tanggung jawab, meningkatkan percaya diri

Kombinasi perlakuan polybag ukuran sedang dengan media campuran tanah dan pasir dapat diaplikasikan untuk ke- giatan budidaya pandan wong karena se- lain mempunyai

Sesuai dengan MKKG (Manajemen Keselamatan Kebakaran Gedung) maka untuk penanggulangan jika terjadi kebakaran di rumah sakit harus ada ketua pemadam kebakaran, petugas P3K dan

PERTIMBANGAN JUDEX JURIS MEMUTUSKAN PERKARA ILLEGAL FISHING (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 1766 K/PID.SUS/2013).” Skripsi ini digunakan sebagai salah satu syarat

Pada Tabel 4 terlihat bahwa laju infeksi penyakit hawar daun bakteri pada berbagai varietas padi komersial dalam waktu 7 hari terlihat bahwa varietas Mekongga merupakan varietas