1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Di era ekonomi modern seperti sekarang ini, perusahaan sangat membutuhkan tambahan modal untuk mendorong kinerja operasional perusahaan. Salah satu cara bagi perusahaan untuk mendapatkan tambahan modal adalah dengan menawarkan kepemilikan perusahaan tersebut kepada masyarakat/publik (go public).
Pasar modal mempunyai fungsi sebagai sarana alokasi dana yang produktif untuk memindahkan dana dari pemberi pinjaman ke peminjam. (Jogiyanto 2003 : 12)
Pasar modal di Indonesia berangsur mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejak diaktifkannya kembali pada tanggal 10 Agustus 1977. Peningkatan ini dapat terlihat secara nyata dengan meningkatnya jumlah emiten dari 24 emiten pada tahun 1987 menjadi 398 emiten pada tahun 2009. (Buku Panduan Indeks Harga Saham BEI 2010 : 1). Hingga tahun 2011 tercatat terdapat 458 emiten yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia. (sumber: www.idx.co.id)
Pada dasarnya pasar modal memiliki dua fungsi yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Fungsi ekonomi pasar modal adalah menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari pihak yang memiliki kelebihan dana kepada pihak yang membutuhkan dana. Fungsi keuangan pasar modal adalah menyediakan dana
yang dibutuhkan oleh pihak-pihak lainya tanpa harus terlibat secara langsung dalam kegiatan operasi perusahaan (Husnan, 2005).
Dalam aktivitas pasar modal kedua belah pihak yang memiliki dana (investor) dan yang membutuhkan dana (emiten) akan memiliki perbedaan kepentingan yang berbeda. Bagi emiten, pasar modal adalah salah satu alternatif untuk mendapatkan tambahan dana tanpa perlu menunggu hasil dari kegiatan operasional, sedangkan bagi investor pasar modal adalah salah satu alternatif untuk melakukan investasi dalam sekuritas yang dipilih tentu diharapkan memberikan tingkat pengembalian (return).
Menurut Irham Fahmi (2009 : 151) pengertian return adalah keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan, individu dan institusi dari hasil kebijakan investasi yang dilakukannya yang sesuai dengan resiko yang harus ditanggung oleh para investor. Bagi para investor, tingkat return ini menjadi faktor utama karena return adalah hasil yang diperoleh dari suatu investasi.
Keterlibatan masyarakat/publik dalam pasar modal adalah dengan cara membeli saham yang ditawarkan dalam pasar modal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terjadi transaksi jual-beli dalam pasar modal layaknya pasar barang dan jasa pada umumnya.
Saham merupakan sumber keuangan korporasi yang berasal dari pemilik korporasi dan merupakan bukti kepemilikan atas korporasi oleh pemegangnya serta surat berharga yang dapat diperdagangkan di pasar bursa (bursa efek) (Meilinda dan Endang : 2012). Saham yang dinilai baik adalah saham yang mampu memberikan return realisasi yang tidak terlalu jauh dari return ekspektasi.
Return realisasi adalah return yang sudah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis, sedangkan return ekspektasi adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang (Irham Fahmi, 2009). Perusahaan yang tergabung dalam pasar modal harus mampu meningkatkan nilai perusahaannya karena nilai perusahaan yang tinggi tentu memberikan gambaran yang baik dan peluang return yang besar.
Investasi di pasar modal khususnya saham, dianggap berisiko sangat tinggi, karena ada faktor yang bisa dikontrol dan ada juga faktor yang tidak bisa dikontrol yang dapat memengaruhi pergerakan harga saham dan secara langsung akan berdampak pada return saham. Misalnya, perubahan ekonomi dunia yang memburuk atau persoalan di industri masing-masing saham. Namun, bagi kalangan tertentu yang memiliki wawasan luas dan kemampuan menganalisis, hal-hal yang sebenarnya bersifat tidak bisa dikontrol bisa diperkirakan sehingga bisa dilakukan tindakan-tindakan dini mengantisipasi hal tersebut. (www.kompas.com | Senin, 1 Oktober 2012)
Nilai return dari suatu sekuritas ditentukan oleh banyak hal seperti kinerja perusahaan dan strategi perusahaan mengelola laba yang dimiliki. Perusahaan dianggap gagal keuangannya jika perusahaan tersebut tidak mampu membayar kewajibannya pada waktu jatuh tempo meskipun total aktiva melebihi total kewajibannya pada waktu jatuh tempo. Kondisi yang membuat para investor dan kreditor merasa khawatir jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan (financial distress) yang mengarah pada kebangkrutan. Apabila perusahaan tersebut diindikasikan gagal keuangannya berarti perusahaan tersebut tidak
mampu mengahasilkan return saham yang menguntungkan bagi pihak investor dan pada akhirnya harga sahamnya akan mengalami penurunan (Irham Fahmi, 2012).
Pendapatan dari investasi saham atau return saham dapat berupa dividen dan capital gain. Dividen merupakan penerimaan dari perusahaan yang berasal dari laba yang dibagikan, sementara capital gain sendiri pendapatan yang diperoleh dari selisih harga saham. Para investor seringkali menginginkan keuntungan dengan segera, sehingga mereka lebih menginginkan keuntungan dalam bentuk capital gain dibandingkan dividen (Jogiyanto, 2000).
Dalam pasar modal, tidak pastinya return yang akan diterima oleh seorang investor membuat seorang investor harus memilih dengan sangat hati-hati alternatif investasi yang harus dipilih. Tidak semua saham dari perusahaan yang memiliki profil yang baik akan memberikan return yang baik pada investor sehingga diperlukan analisis yang lebih mendalam mengenai perusahaan tersebut. Sebuah perusahaan mungkin saja mengalami return yang fluktuatif setiap saat karena berbagai macam faktor baik yang bersifat mikro maupun makro (Irham Fahmi, 2009 : 150).
Dua hal yang menarik untuk dicermati dalam perdagangan saham di bursa saham, yaitu harga saham atau return saham dan likuiditas saham (volume perdagangan dan frekuensi perdagangan saham). Kedua hal tersebut merupakan ukuran dari kinerja suatu saham. Banyak hal mempengaruhi naik turunnya kinerja saham di antaranya faktor makro ekonomi seperti inflasi, nilai tukar uang, dan suku bunga sebagaimana yang ditemukan oleh Tirapat dan Nitayagasetwat (2000).
Tiratap dan Niyatagasetwat menyatakan bahwa terdapat sensitifitas perusahaan terhadap variabel makro ekonomi yang disebut resiko sistematik perusahaan yang diperoleh dari hasil regresi return saham perusahaan dengan variabel makro ekonomi tersebut.
Fenomena krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1997 menunjukkan hubungan antara kondisi makro ekonomi terhadap kinerja saham dimana dengan melemahnya nilai tukar rupiah telah berdampak besar terhadap Pasar Modal di Indonesia. Setyorini dan Supriyadi (2000) mengungkapkan bahwa sejak minggu kedua bulan Juli 1997, Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai tertekan ke bawah dan di luar perkiraan pada tanggal 1 September 1997 melemah sampai ke 458, 97 poin. Penurunan indeks tersebut terus berlangsung seiring dengan morosotnya nilai rupiah dan mencapai titik terendah pada tanggal 15 Desember 1997 sebesar 339,54 poin, yang berarti turun sebesar 401, 29 poin (54 %) sejak tanggal 8 Juli 1997.
Dampak merosotnya rupiah terhadap pasar modal memang dimungkinkan, mengingat sebagaian besar perusahaan yang go publik di BEI mempunyai utang luar negeri dalam bentuk valuta asing. Di samping itu produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan publik tersebut banyak menggunakan bahan yang memiliki kandungan impor tinggi. Merosotnya rupiah dimungkinkan menyebabkan jumlah utang perusahaan dan biaya produksi menjadi bertambah besar jika dinilai dengan rupiah. Pada akhir tahun 1997 sebanyak 210 perusahaan dari 270 perusahan yang listing di BEI telah mengalami penurunan laba bersih sekitar 97% dibandingkan tahun sebelumnya. Sampai dengan akhir bulan Juli
1997 tidak terdapat hubungan (sebab akibat) sistematis antara depresiasi rupiah khususnya terhadap dolar dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Perkembangan IHSG sebagaimana lazimnya lebih ditentukan oleh perkembangan tingkat bunga (Setyorini dan Supriyadi, 2000).
Setyorini dan Supriyadi (2000) menyimpulkan bahwa dari hasil pengujian kasualitas menunjukkan bahwa pergerakan IHSG mempengaruhi pergerakan kurs rupiah terhadap US dolar di pasar valuta asing secara signifikan, bukan sebaliknya, dan IHSG berpengaruh negatif dan signifikan pada kurs rupiah terhadap dolar AS secara long run dan short run.
Kaitan antara suku bunga dan return saham dikemukakan pada penelitian Suyanto (2000), yang menyatakan bahwa perubahan harga saham dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang salah satunya adalah suku bunga. Hal tersebut didukung pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami dan Rahayu (2003) yang menemukan secara empiris pengaruh suku bunga terhadap harga saham selama masa krisis di Indonesia.
Selanjutnya, penelitian tentang hubungan antara inflasi dengan return saham seperti yang dilakukan oleh Almilia (2003) menyatakan bahwa semakin tinggi inflasi akan semakin menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. Turunnya profit perusahaan adalah informasi yang buruk bagi para trader di bursa saham dan dapat mengakibatkan turunnya harga saham perusahaan tersebut.
Salah satu sektor perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sektor perusahaan manufaktur. Hal ini terlihat dari jumlah perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 131 perusahaan, yang kemudian
diklasifikasikan dalam beberapa sub sektor sesuai dengan produk yang dihasilkannya. Selain itu, sektor manufaktur telah menjadi pemimpin perekonomian Indonesia, seperti yang dikatakan Menteri Perindustrian Indonesia MS Hidayat (media industri edisi 1,2013) bahwa pertumbuhan industri manufaktur tahun 2012 meningkat sebanyak 6,4% dan pertumbuhan industri manufaktur tahun 2013 ditarget mencapai 7,14%. Pertumbuhan industri manufaktur ditopang oleh tingginya investasi disektor industri dan konsumsi di dalam negeri. Sektor ini berkontribusi hingga 20,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau Rp1.714 triliun.
Oleh karena itu, para investor sangat tertarik untuk menanamkan modalnya di perusahaan–perusahaan manufaktur, karena manufaktur di Indonesia berkembang dengan pesat dan diestimasikan dapat memberikan tingkat pengembalian investasi (return) yang besar setiap tahunnya. Dibawah ini contoh perusahaan manufaktur tahun 2007 yang dapat membagikan dividen.
Tabel 1.1 Return Saham Perusahaan Manufaktur Tahun 2007 (yang membagikan dividen)
Nama Perusahaan Kode Harga Saham 2007 (Rp) Harga Saham 2006 (Rp) Divid en 2007 Return Saham 2007 Net Income (Rp 000.000) Adhesive PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk DPNS 650 500 1 0,302 1.377 Apparel and Other
Textile Products
PT Sepatu Bata Tbk BATA 23.000 14.000 6.361 0,381 34.578 Automotive and Allied
PT Astra Otoparts Tbk AUTO 3.325 2.925 235 0,217 454.907 PT Gajah Tunggal Tbk GJTL 720 580 5 0,250 90.841 PT Hexindo Adiperkasa
Tbk
HEXA 1.100 900 21 0,245 49.522 PT Indo Kordsa Tbk BRAM 1900 1900 63 0.033 39.149 PT Selamat Sempurna
Tbk
SMSM 430 350 20 0.2857 80.325 PT Tunas Ridean Tbk TURI 1.240 710 55 0,824 189.816 PT United Tractors Tbk UNTR 10.900 6.550 150 0,687 1.493.037 Cables
PT Sumi Indonesia Kabel Tbk
IKBI 1.150 820 100 0,524 77.467 PT Supreme Cable Tbk SCCO 1.450 1.330 30 0,113 53.860 Cement
PT Semen Gresik Tbk SMGR 45.600 36.300 150 0,260 1.775.408 Chemical and Allied
Products
PT Budi Jaya Tbk BUDI 175 155 2 0,142 46.177 PT Colorpark Indonesia Tbk CLPI 1.520 980 10 0,561 9.758 Consumer Goods PT Mandom Indonesia Tbk TCID 8.400 6.950 280 0,249 111.232 PT Mustika Ratu Tbk MRAT 495 320 5 0,562 11.130 PT Unilever Indonesia
Tbk
UNVR 6.750 6.600 167 0,048 1.962.147 Food and Beverages
PT Aqua Golden Tbk AQUA 129.500 110.000 1.000 0,1864 129.500 PT Fast Food Indonesia
Tbk
FAST 2.450 1.820 45 0,371 102.537 PT Mayor Indah Tbk MYOR 1.750 1.620 40 0,1049 141.589 PT Multi Bintang
Indonesia Tbk
MLBI 55.000 55.000 3.600 0,065 84.385 Metal and Allied
Products
PT Alumindo Light Metal Ind Tbk
ALMI 950 860 50 0,1628 31.726 PT Citra Tubindo Tbk. CTBN 30.000 17.000 1.884 0,8755 219.513 PT Lionmesh Prima Tbk LMSH 2100 1700 50 0,2647 5.942 PT Lion Metal Works Tbk LION 2.100 2.200 125 0,0114 25.298 Paper and Allied
Products
PT Fajar Surya Wisesa Tbk
FASW 1.780 1.150 10 0,557 121.970 Pharmaceuticals
PT Merck Indonesia Tbk MERK 52.500 40.000 2.300 0,370 49.485 Plastics and Glass
Products
PT Kageo Igar Jaya Tbk IGAR 119 95 5 0,305 15.426 Stone, Clay, Glass and
Concrete Products PT Arwana Citramulia Tbk ARNA 380 240 5 0,604 43.433 Tobacco Manufacturers PT Bentoel International Inv. Tbk RMBA 560 310 8 0,832 242.917 PT Gudang Garam Tbk GGRM 18.500 10.200 250 0,838 1.443.585 Sumber : www.idx.co.id
Pada tahun 2007 dari seluruh perusahaan yang termasuk dalam sektor manufaktur, hanya sebanyak 31 perusahaan dari seluruh perusahaan manufaktur yang mengeluarkan dividen. Walaupun tingkat pertumbuhan manufaktur meningkat untuk dividen saham yang dihasilkan ternyata masih sangat kecil. Dilihat dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa dari masing-masing sub sektor berbeda dalam perolehan profitnya, sehingga dividen yang dibagikan pun berbeda, yang kemudian mengakibatkan return saham yang diperoleh juga berbeda.
Untuk sub sektor adhesive, PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk memperoleh return saham sebesar 30,2% dengan laba perusahaan sebesar Rp 1.377.000.000 untuk tahun 2007. Untuk sub sektor apparel and other textile products , PT Sepatu Bata Tbk memperoleh return saham yang lebih tinggi dari sektor adhesive yaitu sebesar 38,1% dengan laba perusahaan Rp 34.578.000.000.
Untuk sub sektor automotive and allied products, dari tujuh perusahaan yang diteliti return saham tertinggi diperoleh oleh PT Tunas Ridean Tbk yaitu sebesar 82,4% dengan peroleh laba perusahaan sebesar Rp. 189.816.000.000 dan dividen per lembar saham sebesar Rp 55 dan return saham terendah oleh PT Indo
Kordsa Tbk yaitu sebesar 0,33% dengan perolehan laba sebesar Rp. 90.841.000.000 dan dividen per lembar saham yaitu Rp 63. Untuk sub sektor cables, return saham tertinggi diperoleh oleh PT Sumi Indonesia Kabel Tbk sebesar 52,4% dengan laba perusahaan Rp 77.467.000.000 dan return saham terendah oleh PT Supreme Cable Tbk sebesar 11,3% dengan laba perusahaan Rp 53.860.000.000.
Untuk sub sektor cement, PT Semen Gresik Tbk memperoleh return saham pada tahun 2007 sebesar 26% dengan laba perusahaan Rp 1.775.408.000.000. Untuk sub sektor chemical and allied products, PT Colopark Indonesia Tbk memperoleh return saham tertinggi sebesar 56,1% dengan laba perusahaan Rp 9.758.000.000, sedangkan PT Budi Jaya Tbk memperoleh return saham terendah sebesar 14,2% dengan laba perusahaan lebih tinggi dari PT Colopark Indonesia Tbk yaitu sebesar Rp 46.177.000.000.
Untuk sub sektor consumer goods, dari tiga perusahaan yang diteliti return saham tertinggi diperoleh oleh PT Mustika Ratu Tbk sebesar 56,2% dengan laba perusahaan Rp11.130.000.000, dan return saham terendah diperoleh oleh PT Unilever Indonesia Tbk sebesar 4,8% dengan laba perusahaan lebih tinggi dari PT Mustika Ratu Tbk yaitu sebesar Rp 1.962.147.000.000. Untuk sub sektor food and beverages, dari empat perusahaan yang diteliti return saham tertinggi diperoleh oleh PT Fast Food Indonesia Tbk sebesar 37,1% dengan laba perusahaan Rp 102.537.000.00, dan return saham terendah oleh PT Multi Bintang Indonesia Tbk sebesar 6,5% dengan laba perusahaan Rp 84.385.000.000.
Untuk sub sektor metal and allied products, dari empat perusahaan yang diteliti return saham tertinggi diperoleh oleh PT Citra Tubindo Tbk yaitu sebesar 87,6% dengan perolehan laba perusahaan Rp 219.513.000.000, dan return saham terendah oleh PT Lion Metal Works Tbk sebesar 1,1% dengan perolehan laba perusahaan Rp 25.298.000.000. Untuk sub sektor paper and allied products, PT Fajar Surya Wisesa Tbk memperoleh return saham sebesar 55,7% dengan perolehan laba perusahaan Rp 121.970.000.000.
Untuk sub sektor pharmaceuticals, PT Merck Indonesia Tbk memperoleh return saham sebesar 37% dengan perolehan laba perusahaan Rp 49.485.000.000. Untuk sub sektor plastics and glass products, PT Kageo Igar Jaya Tbk memperoleh return saham sebesar 30,5% dengan perolehan laba perusahaan Rp 15.426.000.000. Untuk sub sektor stone, clay, glass and concrete products, PT Arwana Citramulia Tbk memperoleh return saham sebesar 60,4% dengan perolehan laba perusahaan Rp 43.433.000.000. Untuk sub sektor tobacco manufacturers, return saham tertinggi diperoleh oleh PT Bentoel International Tbk sebesar 83,2% dengan perolehan laba perusahaan Rp 242.917.000.000, dan return saham terendah oleh PT Gudang Garam Tbk sebesar 64,2% dengan perolehan laba perusahaan Rp 1.443.585.000.000.
Secara keseluruhan return saham tertinggi diberikan oleh PT Cita Tubindo Tbk yaitu sebesar Rp 87,6% dengan perolehan laba perusahaan Rp 219.513.000.000 dan dividen per lembar saham sebesar Rp 1.884, sedangkan return saham terendah diberikan oleh PT Lion Metal Works Tbk yaitu sebesar
1,1% dengan perolehan laba perusahaan sebesar Rp 25.298.000.000 dan dividen per lembar saham sebesar Rp 125.
Dari fenomena diatas, dapat disimpulkan bahwa perolehan profit/laba tinggi oleh perusahaan belum tentu menghasilkan return saham yang juga tinggi kepada investor. Hal ini jelas terdapat ketidaksesuaian antara teori yang berlaku dengan kenyataan yang ada. Teori yang menyatakan bahwa ketika tingkat profitabilitas perusahaan dalam keadaan baik/tinggi, maka harga saham akan naik yang kemudian akan mempengaruhi return saham perusahaan. Begitu pula sebaliknya (Wahyu Murt, 2011).
Mengingat dalam investasi saham keuntungan di masa yang akan datang tidak dapat diperkirakan secara pasti, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh investor adalah melakukan analisis guna pengambilan keputusan saham apa yang sebaiknya dibeli untuk memaksimalkan keuntungan bagi investor (F. Poernamawati : 2008). Suatu organisasi harus memastikan bahwa investasi yang dilakukannya tepat, sebelum melakukan investasi saham (Dedy Trisno: 2008).
Terdapat dua macam analisis yang banyak digunakan untuk menentukan nilai dari saham, yaitu analisis sekuritas fundamental dan analisis teknis. Analisis fundamental menggunakan data fundamental, yaitu data yang berasal dari keuangan perusahaan (misalnya laba, dividen yang dibayar, penjualan dan lain sebagainya), sedang analisis teknis menggunakan data pasar dari saham (misalnya harga dan volume transaksi penjualan) untuk menentukan nilai dari saham (Jogiyanto 2003 : 88).
Analisis teknis banyak digunakan oleh praktisi dalam menentukan harga saham, sedangkan analisis fundamental banyak digunakan oleh akademisi (Jogiyanto 2003 : 89). Maka penulis akan menggunakan analisis fundamental dalam penelitian ini. Faktor fundamental yang sering digunakan untuk memprediksi harga saham atau tingkat pengembalian (return) saham adalah tolok ukur kinerja keuangan/rasio keuangan dan rasio pasar (Rowland: 2008).
Tolok ukur kinerja keuangan atau rasio keuangan perusahaan tidak hanya dilihat melalui profitabilitas saja. Ada beberapa tolok ukur kinerja keuangan perusahaan dengan melalui skala rasio yang dihitung berdasarkan rupiah per saham. Apabila perusahaan mempunyai tujuan untuk melipatgandakan kekayaan pemegang saham, maka ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan seharusnya mempunyai hubungan langsung dengan return yang diterima oleh pemegang saham. Sebagai tolok ukur kinerja keuangan, Economic Value Added, Residual Income, Earnings (Earnings Per Share), Arus Kas Operasi dan Market Value Added masing-masing berpengaruh terhadap kekayaan pemegang saham suatu perusahaan, sebagaimana tolok ukur kinerja yang lain ( Jogiyanto,2009).
Economic Value Added (EVA) merupakan salah satu ukuran kinerja operasional yang dikembangkan pertama kali oleh G. Bennet Stewart & Joel M. Stren yaitu seorang analisis keuangan dari perusahaan Sten Stewart & Co pada tahun 1993. Di Indonesia metode Economic Value Added (EVA) dikenal dengan sebutan metode NITAMI ( Nilai Tambah Ekonomi).
Menurut Eduardus Tandelilin (2001 : 195) EVA adalah ukuran keberhasilan manajemen perusahaan dalam meningkatkan nilai tambah (value added) bagi perusahaan. Asumsinya adalah jika kinerja manajemen baik/efektif (dilihat dari besarnya nilai tambah yang diberikan), maka akan tercermin pada peningkatan harga saham perusahaan. Secara lebih rinci didefinisikan sebagai laba usaha dikurangi dengan pajak dan biaya bunga atas hutang serta dikurangi cadangan untuk biaya modal (Rahardjo, 2005 : 123). Jika EVA positif, menunjukkan perusahaan telah menciptakan kekayaan.
Residual income mengukur kinerja operasi perusahaan (net operating profit after tax/NOPAT) dikurangi dengan beban atas semua hutang dan modal yang diinvestasikan : RI = NOPAT – (k * Capital), dimana k adalah biaya modal perusahaan dan capital adalah aktiva yang diinvestasikan dalam aktivitas operasi yang berkelanjutan. Residual income yang positif menunjukkan kelebihan laba dari yang dibutuhkan oleh kreditur dan pemilik modal, yang berarti merupakan kekayaanbagi pemegang saham. Sebaliknya, residual income yang negatif berarti penurunan kekayaanpemegang saham (Mulyadi, 2001).
Earnings merupakan pengukuran kinerja keuangan perusahaan, termasuk di dalamnya adalah Earnings Per Share (EPS). Untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dengan tingkat pengembalian (return) saham, earnings per share merupakan laba bersih yang siap dibagikan kepada pemegang saham dengan jumlah keuntungan per lembar saham perusahaan (Eduardus Tandelilin, 2010).
Earning Per Share (EPS) atau laba per lembar saham merupakan data yang banyak digunakan sebagai alat analisis keuangan. EPS dengan ringkas menyajikan kinerja perusahaan dikaitkan dengan saham beredar. Besar kecilnya rasio ini dapat mpengaruhi harga saham, sehingga investor akan melakukan pembelian saham. (Meilinda dan Endang, 2012).
Arus Kas Operasi merupakan arus kas masuk dan arus kas keluar dalam periode tertentu yang terbagi menjadi aktivitas operasional, investasi dan pendanaan. Informasi mengenai arus kas sangat berguna dalam menentukan kemampuan perusahaan menghasilkan kas dan setara kas. Perhitungan arus kas operasi menurut Standar Akuntansi Keuangan terdiri dari metode langsung dan metode tidak langsung.
Para investor menggunakan informasi arus kas sebagai pengukuran kinerja yang mampu menggambarkan kondisi ekonomi serta mampu menyediakan dasar proyeksi arus kas di masa yang akan datang yang cenderung diukur melalui harga atau return saham. Return atas saham menyebabkan para investor mampu membandingkan tingkat pengembalian yang sebenarnya atau yang diharapakan dari berbagai investasi (Linda, 2005).
Arus Kas Operasi dan Earnings merupakan elemen penting dalam laporan keuangan yang memberikan informasi berharga terhadap para investor. Penelitian yang dilakukan oleh Nichols dan Wahlen (2004) memberikan bukti empiris bahwa earnings berhubungan dengan return saham. Sedangkan menurut Stewart dan Co, earnings dan earnings per share merupakan alat pengukuran kinerja. Selain economic value added, residual income, earnings dan arus kas
operasi terdapat satu metode lagi yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan yaitu Market Value Added (MVA).
Market Value Added merupakan hasil akumulasi kinerja perusahaan dari beberapa investasi yang telah atau yang akan dilakukan. Oleh karena itu, MVA mampu memaksimalkan kemakmuran para pemegang saham dengan alokasi sumber daya yang tepat. MVA juga dapat disimpulkan sebagai pengukuran kinerja eksternal perusahaan (Arifin, 2004).
MVA dikatakan sebagai hasil akumulasi dari berbagai investasi yang dilakukan oleh perusahaan yang menunjukkan penilaian dalam pasar modal (Nasser, 2003). Peningkatan nilai perusahaan dapat digambarkan melalui harga saham yang diterbitkan oleh perusahaan dan terdaftar di bursa efek.
Penelitian yang dilakukan ini merupakan replikasi dari penelitian sebelumnya oleh Pradhono dan Cristiawan (2004) dengan judul penelitian yang sama mengenai pengaruh economic value ddded, residual income, earnings dan arus kas operasi terhadap return yang diterima oleh pemegang saham. Perbedaan penelitian ini dan penelitian sebelumnya adalah objek penelitian, periode penelitian dan penambahan variabel independen berupa market value added.
Penelitian sebelumnya menganalisa perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang consumer goods dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2002, sedangkan penelitian ini menggunakan seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011. Selain itu ditambahkan variabel market value added sebagai variabel independen untuk melihat apakah terdapat pengaruh yang signifikan terhadap return saham.
Hal tersebut yang menarik untuk diteliti yaitu untuk mengetahui pengaruh masing-masing skala rasio keuangan, dimana alat ukur kinerja perusahaan bertujuan mensejahterakan para pemegang saham serta untuk mengetahui tolok ukur mana yang mempunyai pengaruh paling signifikan terhadap return yang diterima oleh pemegang saham selama lima tahun berturut-turut dan berapa besar pengaruhnya. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mengambil penelitian skripsi dengan judul “ PENGARUH ECONOMIC VALUE ADDED, RESIDUAL INCOME, EARNINGS, ARUS KAS OPERASI DAN MARKET VALUE ADDED TERHADAP RETURN YANG DITERIMA OLEH PEMEGANG SAHAM (Studi Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia Periode 2007-2011).
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis dapat merumuskan beberapa masalah dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana Economic Value Added (EVA) terhadap perusahaan manufaktur yag terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Bagaimana Residual Income (RI) terhadap perusahaan manufaktur yag terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
3. Bagaimana Earnings (Earnings Per Share/EPS) terhadap perusahaan manufaktur yag terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
4. Bagaimana Arus Kas Operasi terhadap perusahaan manufaktur yag terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
5. Bagaimana Market Value Added (MVA) terhadap perusahaan manufaktur yag terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
6. Bagaimana return yang diterima oleh pemegang saham pada perusahaan.
7. Seberapa besar pengaruh Economic Value Added (EVA), Residual Income (RI), earnings, arus kas operasi dan Market Value Added (MVA) terhadap return sahamsecara parsial.
8. Seberapa besar pengaruh Economic Value Added (EVA), Residual Income (RI), earnings, arus kas operasi dan Market Value Added (MVA) terhadap return sahamsecara simultan.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana Economic Value Added (EVA), Residual Income (RI), Earnings, Arus Kas Operasi dan Market Value Added (MVA)terhadap perusahaan.
2. untuk mengetahui bagaimana return yang diterima oleh pemegang saham pada perusahaan.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Economic Value Added (EVA), Residual Income (RI), earnings, arus kas operasi dan Market Value Added (MVA) terhadap return saham secara parsial.
4. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Economic Value Added (EVA), Residual Income (RI), earnings, arus kas operasi dan Market Value Added (MVA)terhadap return saham secara simultan.
1.4. Kegunaan Penelitian 1.4.1. Kegunaan Praktis
Melalui penelitian ini, diharapkan hasilnya dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, antara lain :
1. Bagi Penulis
Memperdalam ilmu pengetahuan di perusahaan manufaktur mengenai return saham, terutama faktor-faktor yang berperan penting seperti economic value added, residual income, earnings (earnings per share), arus kas operasi dan market value added terhadap return yang diterima oleh pemegang saham.
2. Bagi Pihak Perusahaan
Untuk memberikan masukan bagi dunia perusahaan khususnya perusahaan manufaktur mengenai bagaimana economic value added, residual income, earnings (earnings per share), arus kas operasi dan market value added terhadap return yang diterima oleh pemegang saham. Serta dapat bermanfaat bagi manajer perusahaan sebagai informasi penggunaan tolok ukur untuk mengukur kinerja perusahaan ataupun unit bisnis.
3. Bagi Investor Pasar Modal
Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan alternatif bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan berinvestasi.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya dan Masyarakat Umum
Peneliti ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan referensi tambahan khususnya mengenai topik-topik sekitar perusahaan manufaktur dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaannya.
1.4.2. Kegunaan Teoritis
Dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan ilmu pengetahuan terutama yang berhubungan dengan disiplin ilmu ekonomi, khusunya ilmu akuntansi serta studi aplikasi dengan teori-teori serta literatur-literatur lainya dengan keadaan sesungguhnya yang ada di perusahaan.
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian di Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Bursa Efek Indonesia di Jalan Veteran No.10 Bandung, dan website www.idx.co.id. Waktu penelitian dilakukan sejak bulan Mei sampai dengan selesai.