PERANAN LATAR SOSIAL DALAM MENDUKUNG PENOKOHAN PADA NOVEL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDI
LATAR SOSIAL DALAM MENDUKUNG PENOKOHAN PADA NOVEL BATASKARYA AKMAL NASERY BASRAL
HETTY SUSANTI NIM F11408023
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2013
ENDUKUNG PENOKOHAN KARYA AKMAL NASERY BASRAL
PERANAN LATAR SOSIAL DALAM MENDUKUNG
PENOKOHAN PADA NOVEL
BATAS
KARYA
AKMAL NASERY BASRAL
Hetty Susanti, Chairil Effendy, Christanto Syam
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, PBS FKIP Untan e-mail:[email protected]
Abstrack: The study is titled “The roles of social background in supporting characterizations in novel Batas by Akmal Nasery Barsal”. The purpose of this research is to obtain description data about the roles of social background in supporting characterizations in novel Batas. The method in this research is descriptive method with a qualitative research, and also using literature sociology approach. The source of data in this research is novel Batas;and the data are words, phrases, and sentences in novel Batas that shows roles of social background in form of tradition, life principle, faith, and custom in supporting characterizations. The results of the research are: (1) tradition, including hunting tradition, take a bath in the river together with other members of society, plaiting anjat together, spread out
sahang under the sunlight, behuma (farming), Gawai ceremony, breeding pig, the woman using kembenand fermented palm wine drinking; (2) life principle, including opinions that can be principal, guide, direction and life guide; (3) faith to God and animism; (4) Custom, including rules or daily life act, what is recognized, what is known and become a habit in society.
Keywords: social background, characterizations, novel
Abstrak:Penelitian ini berjudul “Peranan Latar Sosial dalam Mendukung Penokohan pada Novel Batas Karya Akmal Nasery Basral. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data deskripsi tentang peranan latar sosial dalam mendukung penokohan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, berbentuk kualitatif. Sumber data adalah novel Batas;sedangkan datanya adalah kata, frasa, dan kalimat yang menunjukkan peranan latar sosial dalam mendukung penokohan. Hasil penelitian menunjukkan: (1) tradisi, meliputi tradisi berburu, mandi di sungai beramai-ramai, mengayam anjatberamai-ramai, menjemur sahang, behuma
(berladang), upacara gawai, memelihara babi, para perempuan menggunakan kemben, dan minum tuak; (2) pandangan hidup, meliputi pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, dan petunjuk hidup di dunia; (3) keyakinan kepada Tuhan dan kepada roh-roh gaib; dan, (4) adat-istiadat, meliputi aturan atau perbuatan yang lazim dilakukan masyarakat, apa yang dikenal, diketahui, dan menjadi kebiasaan dalam masyarakat.
Kata kunci: latar sosial, penokohan, novel.
arya sastra bersifat imajinatif. Ia muncul saat pengarang mulai meluapkan perasaan, ide, hasil pemikiran, dan imajinasinya. Luapan ini biasanya dapat berupa lisan maupun tulisan. Dalam bentuk lisan biasanya berwujud cerita rakyat, mitos, hikayat, dan legenda. Adapun dalam bentuk tulisan, berupa novel, cerpen, puisi, dan naskah-naskah lain.
Karya sastra khususnya novel biasanya membicarakan manusia dari bermacam-macam aspek sehingga ia menjadi sesuatu yang penting untuk mengenal secara sempurna manusia dan zamannya. Melaluinya dapat dibayangkan tingkat kebudayaan, gambaran tradisi yang sedang berlaku, tingkat kehidupan yang telah dicapai oleh masyarakat pada suatu masa, dan sebagainya. Pada karya sastra tercermin masalah-masalah yang dihadapi masyarakat serta usaha pemecahannya sesuai dengan cita-cita mereka.
Banyak novel menceritakan berbagai gambaran kehidupan, seperti latar sosial yang meliputi tradisi, pandangan hidup, keyakinan, dan adat-istiadat dari suku bangsa tertentu. Salah satu novel yang menyunguhkan latar sosial suku bangsa tertentu adalah Batas. Dalam novel tersebut sangat kental dengan kehidupan tradisional masyarakat Dayak.
Penelitian ini dilakukan pada Batas. Alasannya, (1) novel tersebut memiliki cerita yang menarik, menceritakan latar sosial masyarakat, secara khusus di daerah perbatasan antara dua negara, yaitu negara Indonesia dan Malaysia. Garis perbatasan negara memiliki pengaruh yang menyebabkan masyarakat setempat memiliki titik pandang yang berbeda dalam memaknai kehidupan; (2) judul novel menimbulkan keingintahuan dan tanda tanya sehingga menarik untuk diteliti. Intinya, seorang pembaca akan melihat judul terlebih dahulu baru membacanya, ternyata setelah dibaca, judul tersebut merupakan simbol dari isi cerita yang mengisahkan kehidupan suku Dayak yang masih tradisional; (3) Batas berisikan latar sosial, seperti bahasa, tradisi, pandangan hidup, keyakinan, dan adat-istiadat. Hal ini sangat sesuai dengan masalah dalam penelitian ini; (4) Batasjuga sarat akan kebudayaan suku Dayak, jadi selain mendapat hiburan, pembaca juga dapat mengenal kebudayaan suku Dayak; dan, (5) sejauh data yang terjangkau dan diketahui bahwa Batasbelum pernah diteliti.
Batas yang tebalnya 304 halaman ini memiliki arti fisikal berupa patok perbatasan yang memisahkan dua negara Indonesia dan Malaysia. Selain memiliki arti fisikal,Batasjuga memiliki arti konotatif. Beberapa arti konotatif tersebut yaitu: (1) Batas kemampuan Jaleswari sebagai tokoh yang berasal dari kota metropolitan dalam memahami masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan Barat, desa Ponti Tembawang yang masih memiliki peradaban yang belum modern. Hal ini menyebabkan ia sulit mengubah pandangan hidup mereka yang memandang pendidikan tidak penting; (2) Keterbatasan fisik Jaleswari yang sedang hamil muda,
K
mengarungi medan yang berat, keadaan alam, dan masyarakat mengharuskannya untuk tidak dapat terpisah dari tradisi dan adat-istiadat setempat.
(3) Keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pendidikan sehingga sedikit sekali yang bersekolah pada program bidang pendidikan dari perusahaan Jakarta yang ada di desa Ponti Tembawang. Masyarakat di sana lebih mengajarkan anak-anak mereka bekerja di ladang, seperti kebiasaan masyarakat di sana yang menurut mereka untuk masa depan yang lebih baik; (4) Masyarakat Dayak desa Ponti Tembawang sebagai warga negara Indonesia memiliki keterbatasan rasa nasionalisme. Mereka tidak bisa memasang Bendera Merah Putih, kapan saja waktu yang digunakan untuk pemasangan itu, dan tidak bisa menyanyikan lagu-lagu nasional. Namun, yang mereka lebih ketahui adalah lagu-lagu populer milik negara Malaysia; (5) Keterbatasan Adeus sebagai guru, belum mampu meyakinkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Bahkan, Adeus tidak ingin lagi mengajar karena ia merasa suasana daerah perbatasan sangat berbeda. Di Malaysia, segala pelayanan publik dapat dinikmati dibandingkan dengan dusunnya saat ini. Hal ini tentu tidak dapat mendukung program pendidikan dari perusahaan Jakarta; dan, (6) Keterbatasan masyarakat yang belum bisa memanfaatkan kekayaan alam yang ada di daerahnya untuk dijadikan sumber kehidupan sehingga mereka tidak lagi bergantung pada negara Malaysia untuk memperoleh uang.
Dari beberapa arti Batas di atas, hal yang paling mendasar dari judul novel ini ialah batas antara ambisi dan kenyataan. Seorang tokoh utama yang memiliki ambisi untuk memperbaiki kinerja program CSR (Corporate Sosial Responsibility) bidang pendidikan yang terputus tanpa kejelasan, di pedalaman Kalimatan. Namun, kenyataan yang sulit untuk ambisi tersebut, masyarakat setempat memiliki titik pandang yang berbeda dalam memaknai arti garis perbatasan. Mereka lebih memilih bekerja di negara Malaysia daripada harus sekolah. Dari beberapa asumsi tentang
Batasdi atas, terlihat bahwa novel ini menarik untuk diteliti.
Penelitian ini difokuskan pada latar sosial. Alasannya, antara latar sosial dan penokohan mempunyai hubungan yang erat dan bersifat timbal balik. Sifat-sifat latar sosial dalam banyak hal akan mempengaruhi sifat-sifat tokoh. Dapat dikatakan bahwa sifat-sifat seseorang akan dibentuk oleh keadaan latarnya.
Penelitian terhadap peranan latar sosial dalam mendukung penokohan didasarkan pada beberapa hal (1) Latar sosial merupakan satu di antara bagian yang berperan penting dalam cerita rekaan. Artinya, kehidupan sosial masyarakat yang meliputi bahasa daerah, tradisi, pandangan hidup, keyakinan, dan adat-istiadat orang Dayak pada Batas. Hal ini sangat sesuai dalam karya sastra berupa novel lokal, seperti Batas. Selain itu, keberadaan masyarakat yang diceritakan dalam novel juga sarat akan latar sosial. Lingkungan masyarakat Dayak yang masih kental adat tradisi; (2) Latar sosial memang dapat meyakinkan gambaran suasana kedaerahan (local color), warna setempat daerah tertentu melalui kehidupan sosial. Hal ini berupa suasana kedaerahan masyarakat Dayak yang masih kental adat-istiadat, seperti upacara pengucapan syukur atas sukses panen padi (gawai), berburu, menjemur
sebagainya; (3) Latar sosial dapat berupa dan diperkuat dengan penggunaan bahasa daerah atau dialek-dialaek tertentu. Dalam Batas terdapat beberapa bahasa daerah yang digunakan, misalnya: ibalis, bahuma, jubata, sahang, gawai, anjat, tengkulas, ngendau, nadum nyambah, dan sebagainya; (4) Masalah penamaan tokoh dalam banyak hal juga berhubungan dengan latar sosial, bahkan sekaligus menyarankan pada status sosial dan atau kedudukan orang yang bersangkutan. Dalam Batas
terdapat gelar Panglima. Gelar ini digunakan untuk kepala suku atau seseorang yang dituakan pada masyarakat Dayak (Nurgiantoro, 2010:234-236); dan, (5) Peranan latar sosial lebih dominan pada Batas, seperti tradisi, pandangan hidup, keyakinan, dan adat-istiadat.
Latar sosial yang tergambar dalam Batas yakni tradisi, pandangan hidup, keyakinan, dan adat-istiadat. Jika ditelusuri lebih jauh, latar sosial memiliki beberapa submasalah. Namun, untuk mempermudah dalam menganalisis data, pembahasan hanya memfokuskan pada tradisi, pandangan hidup, keyakinan, dan adat-istiadat.
Latar sosial menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial yang dimaksud mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Hal ini dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, cara bersikap, dan lain-lain. Selain itu, latar juga behubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, tengah, atau atas (Nurgiantoro, 2010:233).
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu (Aminuddin, 2002:79). Sumardjo dan Saini (1986:144) mengatakan bahwa tokoh cerita adalah orang yang mengambil bagian dan yang mengalami peristiwa-peristiwa atau sebagian yang digambarkan di dalam plot.
Selain tokoh ada istilah lain yang sering digunakan dalam teori sastra yaitu penokohan. Penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku dalam cerita (Aminuddin, 2002:79). Menurut Kosasih (2008:61) penokohan adalah cara pengarang dalam menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Jadi, istilah ‘penokohan’ lebih luas pengertiannya daripada tokoh dan perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.
Dalam upaya memahami watak atau sifat-sifat tokoh dalam karya sastra, diperlukan beberapa hal dari berbagai aspek. Aminnudin (2002:80) mengemukakan hal tersebut sebagai berikut:
1) Tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya.
2) Gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupan maupun cara berpakaiannya.
3) Menunjukan bagaimana perilakunya.
4) Melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri. 5) Memahami jalan pikirannya.
6) Melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya. 7) Melihat bagaimana tokoh lain berbicara denganya.
8) Melihat bagaimana tokoh-tokoh lain memberikan reaksi terhadapnya. 9) Melihat bagaimana tokoh lain bereaksi dengan tokoh lainnya.
Peran latar sosial dapat meyakinkan penggambaran suasana kedaerahan (local color), warna daerah tertentu melalui kehidupan sosial masyarakat (Nurgiantoro, 2010:235). Hal senada diungkapkan Sudjiman (dalam Nurya, 2011:23) yang mengatakan bahwa latar sosial mencakup penggambaran keadaan kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, dan lain-lain yang melatari peristiwa.
Latar sosial pada hakikatnya merupakan kehidupan sosial masyarakat. Latar sosial memang penting karena menjadi tulang punggung pada cerita fiksi. Namun, tokoh juga menarik perhatian pembaca. Pembaca dikesani oleh penampilan kehidupan dan jati diri para tokoh pelaku cerita. Dalam kaitan ini, latar sosial merupakan sarana untuk memahami kehidupan sosial tokoh.
Penokohan dan latar sosial adalah dua fakta cerita fiksi yang saling mempengaruhi. Latar sosial merupakan penggambaran keadaan kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat, kebiasaan hidup, cara hidup, bahasa, dan sebagainya yang melatari peristiwa. Keadaan latar sosial yang cukup kompleks tersebut akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan watak tokoh, Sudjiman (dalam Edy, 2005:13). Jadi, kehidupan sosial yang cukup kompleks itu hanya mungkin ada dan terjadi jika ada tokoh atau pelakunya.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Syam (2011:5) metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk memperoleh informasi dan gambaran suatu fenomena tertentu yang tampak pada saat penelitian dilakukan dan diarahkan pada upaya untuk melukiskan kondisi dari fenomena yang diamati sebagaimana adanya. Dalam konteks penelitian ini, objek yang berupa latar sosial pada Batas tidak lain merupakan suatu fenomena. Sebagai suatu fenomena ia dideskripsikan untuk dilihat relasi dan fungsinya dengan aspek penokohan.
Bentuk penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 1991:3) penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Hal itu berarti, penelitian ini menghasilkan data deskriptif verbal tentang latar sosial pada Batas dalam relasi dan fungsinya dengan pemaknaan novel.
Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Metode yang digunakan sosiologi sastra ini adalah analisis teks untuk mengetahui strukturnya, untuk kemudian digunakan untuk memahami lebih dalam lagi gejala sosial.
Pendekatan ini digunakan untuk mengklasifikasikan dan mendeskripsikan peranan latar sosial dalam mendukung penokohan pada Batas.
Siswantoro (2010:72) mengatakan sumber data dalam penelitian adalah yang terkait dengan subjek penelitian tempat data diperoleh. Subjek penelitian sastra adalah teks-teks novel, novella, cerita pendek, drama, dan puisi. Berkaitan dengan hal itu, maka sumber data dalam penelitian ini adalah teks Batas.
Syam (2011:16) menegaskan bahwa data adalah bahan faktual yang dapat dijadikan sebagai dasar berpikir dalam upaya untuk memperoleh temuan dan simpulan penelitian yang objektif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua kutipan Batas yang mengandung latar sosial, berupa tradisi, pandangan hidup, keyakinan, dan adat-istiadat.
Adapun teknik pengumpulan data sebagai berikut: (1) Membaca berkali-kali
Batas; (2) Menandai bagian teks yang akan dianalisis sesuai dengan permasalahan; (3) Mencatat data sesuai kriteria masing-masing dengan menggunakan kartu pencatat data; (4) Membuat klasifikasi sesuai dengan masalah yang diteliti; (5) Mengidentifikasi data yang dipandang memiliki fungsi dan relasi dengan tokoh.
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrument kunci. Peneliti sebagai instrument kunci berkedudukan sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penafsir data, dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian. Selain peneliti sebagai instrument kunci, alat pengumpul data yang digunakan adalah kartu pencatat dan peralatan tulis.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data yang telah terkumpul tersebut adalah sebagai berikut. (1) Menganalisis atau mendeskripsikan data yang sudah diklasifikasikan, seperti latar sosial yang terdiri dari peranan bahasa daerah, tradisi, pandangan hidup, keyakinan, dan adat-istiadat dalam mendukung penokohan. (2) Untuk menguji keabsahan data, dilakukan diskusi dengan teman sejawat, kemudian melakukan triangulasi dengan dosen pembimbing agar analisis data lebih objektif. (3) Menyimpulkan hasil analisis data sesuai masalah dalam penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Tradisi dalam Mendukung Penokohan pada Batas.
Di bawah ini adalah kutipan tentang latar sosial berupa tradisi dalam mendukung penokohan yang terkandung dalam Batas.
“Maaf, neekkk…,” jawab Borneo sambil menolehkan wajahnya dari jauh. “Aku Borneo Panglima Dayak sedang berburu babi untuk makan wargaku,” katanya sambil menggerak-gerakkan tombak kayu kecil di tangan kanannya (Batas:14).
Hari itu para lelaki Ponti Tembawang tak banyak terlihat di depan hamparan
sahang. Sebagian dari mereka sedang sibuk behuma, berada di ladang yang letaknya cukup jauh dari dusun untuk mengurusi lada, padi, dan kakao (Batas:21).
“Kalau tidak salah, tiap rumah menyumbang dua sampai tiga juta rupiah supaya gawai berlangsung meriah”. “Betul sekali Pak Jomi. Memang kelihatannya mahal karena ini adalah aruh ganal, apa itu artinya kalau orang jawa bilang…ah ya, kon-dori besar,” ujar Pagau “Betul, kenduri besar,” Jomi memperbaiki ucapan Pagau (Batas:40).
Di depan gubuk Nawara, perempuan pemilik rumah yang bersama beberapa kawannya sedang mengayam anjat itu terkejut melihat kedatangan Borneo dan Panglima Adayak yang sedang memanggul Ubuh (Batas:44).
Beberapa perempuan dewasa dengan menggunakan kemben sedang mencuci pakaian, atau mengeramasi rambut panjang mereka di aliran sungai Sekayam yang agak keruh karena membawa arus sisa hujan dari hulu (Batas:88).
Kutipan 1 menggambarkan Borneo dan kawan-kawannya masih memegang tradisi berburu. Tradisi berburu ini tergambar pula saat Jaleswari sedih melihat siswa sangat sedikit. Hal ini dikarenakan anak-anak di desa Ponti tembawang lebih memilih berburu atau berladang membantu orangtuanya daripada sekolah (Batas:187-188) dan ketika Jaleswari mengajak anak-anak desa bermain dan mereka memilih berburu. Ketika itu, Adayak juga ikut serta (Batas:222-223). Tradisi ini mempengaruhi watak Borneo, kawan-kawannya, dan Adayak menjadi pemberani, rajin, dan senang dengn kebersamaan. Selain sebagai tradisi, kegiatan berburu merupakan gambaran kehidupan masyarakat Dayak dan berfungsi untuk memperkuat warna lokal dalam novel.
Pada kutipan 2 mendeskripsikan para lelaki Dayak masih memegang tradisi
behuma. Behuma atau berladang merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh para lelaki Dayak. Tradisi ini mempengaruhi watak para lelaki Dayak menjadi rajin dan bertanggungjawab. Kegiiatan behuma ini berfungsi untuk memperkuat warna lokal dalam novel.
Kemudian kutipan 3 menceritakan Pagau sedang berbincang-bincang dengan Pak Jomi tentang sumbangan yang lumayan mahal untuk kemeriahan acara gawai. Menyumbang uang dengan jumlah yang banyak untuk biaya gawai merupakan tradisi pada masyarakat Dayak. Tradisi ini mempengaruhi watak masyarakat Dayak Ponti Tembawang menjadi senang dengan kemeriahan. Tradisi ini berfungsi untuk memperkuat warna daerah pada Batas.
Selain tradisi menyumbang dengan jumlah yang banyak pada upacara gawai,
terdapat juga para parempuan Dayak masih memegang tradisi mengayam anjat
seperti pada kutipan 4. Mengayam anjat beramai-ramai juga merupakan tradisi mereka. Anjat adalah tempat untuk membawa sayur-sayuran dari kebun. Tradisi mengayam anjat beramai-ramai mempengaruhi watak para perempuan Dayak menjadi senang dengan kebersamaan saat mengerjakan suatu perkerjaan. Kegiatan ini juga tergambar ketika Nawara mengajarkan Ubuh cara mengayam anjat(Batas:201). Tradisi ini berfungsi untuk memperkuat warna lokal dalam novel.
Kutipan 5 mengisahkan tradisi mandi di sungai beramai-ramai. Tradisi ini mempengaruhi watak para perempuan Dayak menjadi senang kebersamaan. Selain itu, tergambar pula para perempuan Dayak masih memegang tradisi menggunakan
kemben saat mandi ataupun mencuci pakaian di sungai. Beberapa kutipan yang menggambarkan tradisi masyarakat Dayak Desa Ponti Tembawang mandi di sungai antara lain: (1) saat Jaleswari menanyakan tempat mandi kepada Adeus dan ia mengatakan biasa mandi di sungai (Batas:154); (2) ketika Jaleswari mencoba mandi di sungai untuk pertamakali, ia berjumpa dengan anak-anak desa yang sedang mandi sambil bermain di sungai. Mereka mengajak Jaleswari bermain dan hal ini membuat ia takut karena ia tidak biasa (Batas:159); (3) saat Panglima Adayak memberi cara pada Jaleswari untuk bisa memahami masyarakat Dayak dengan mandi bersama mereka di sungai (Batas:199); (4) ketika Jaleswari mandi di sungai untuk pertama kali. Ia mandi bersama Nawara (Batas:212); dan (5) saat Adeus mandi di sungai, bertemu Jaleswari (Batas:239). Kebiasaan atau tradisi ini berfungsi untuk memperkuat warna lokal dalam Batas. Tradisi ini digambarkan melalui lingkungan kehidupan (Amminudin, 1995:80). Lingkungan kehidupan para perempuan dewasa mandi beramai-ramai di sungai menggunakan kemben.
Analisis Pandangan Hidup dalam Mendukung Penokohan pada Batas.
Kutipan di bawah ini merupakan latar sosial tentang pandangan hidup dalam mendukung penokohan yang terkandung dalam Batas.
Kalau saja dia bisa memutar kembali jarum waktu dan memohon kepada Tuhan, Jales yakin seyakin-yakinnya dia akan meminta agar tidak kehilangan Aldo ketimbang mendapatkan seorang bayi sekarang ini. Dia membayangkan kalaupun seumur hidup mereka nanti Tuhan tidak memberikan seorang bayi yang lahir dari rahimnya, Jales tetap bisa menerimanya sepanjang Aldo tetap berada di sampingnya sampai kematian memisahkan mereka kelak. Mereka juga masih bisa mengadopsi anak jika hanya ingin rumah terasa ramai (Batas:35).
Begitu banyak pilihan dan cara untuk mengangkat anak saat ini, sedangkan begitu sulit mendapatkan suami separuh nyawa yang benar-benar bisa dipercaya seperti Aldo (Batas:36).
Kita tidak bisa mengorbankan hewan di hutan yang kita temui semata-mata untuk keinginan kita membunuh.” Filosofi itu sama sekali berbeda dengan bayangan Jales tentang komunitas Dayak yang suka berburu apa saja, dari membunuh hewan sampai mengayau kepala manusia. “Semua yang kami lakukan ada alasannya.” Ujar Panglima seperti bisa membaca isi pikiran Jales (Batas:129).
Jaleswari sedang berdialog dengan beberapa ibu sambil sesekali Adeus menyelinggi dalam bahasa Dayak. “Anak-anak perlu sekolah, kalau harus berladang juga nanti sekolahnya tertinggal,” ujar Jales (Batas:192).
Berdasarkan kutipan 1, tergambar pandangan hidup Jaleswari yang memandang tidak begitu penting mendapatkkan seorang bayi yang lahir dari
rahimnya sendiri ketimbang harus kehilangan Aldo, suaminya. Ia bisa mengadopsi anak jika ingin memiliki seorang anak. Pandangan hidup Jaleswari ini, mempengaruhi wataknya menjadi sulit menerima kenyataan. Sesuai dengan pendapat Amminudin (2002:80), kutipan 1 ini menunjukkan karakteristik pelakunya. Pengambaran karakteritik Jaleswari yang begitu sulit menerima kehendak Tuhan.
Pada kutipan 2 mengisahkan pandangan hidup Jaleswari yang memandang begitu sulit mendapatkan seorang suami yang dapat dipercaya ketimbang mendapatkan seorang anak. Pandangan hidup Jaleswari ini juga mempengaruhi wataknya menjadi sulit menerima kehendak Tuhan. Hal ini digambarkan dengan cara
memahami jalan pikirannya (Amminudin, 2002:80). Jaleswari yang tidak sepenuhnya bisa menerima kematian suaminya, Aldo. Ia yakin dapat menerima jika Tuhan tidak memberikannya anak, ketimbang kehilangan suaminya.
Kemudian kutipan 3 menguraikan pandangan hidup Jaleswari yang memandang orang Dayak semaunya saja membunuh binatang, sampai memenggal kepala manusia. Pemikiran Jales itu seperti dimengerti Panglima Adayak sehingga ia menjelaskan yang sebenarnya tentang filosofi tersebut. Pandangan hidup Jaleswari ini mempengaruhi wataknya menjadi suka berkesimpulan terhadap sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Hal ini digambarkan dengan cara melihat tokoh lain memberikan reaksi terhadapnya (Amminudin, 2002:80). Pandangan Jaleswari ini ditanggapi Adayak, sebab berbeda dengan kenyataan yang ada. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Dayak melakukan hal tersebut karena ada alasannya.
Selain pandangan hidup Jales terhadap orang Dayak yang semaunya mengayau, terdapat juga pandangan hidupnya yang memandang anak-anak perlu sekolah seperti pada kutipan 4. Pandangan hidup Jaleswari ini menginginkan agar mereka pintar dan menjadi masyarakat yang cerdas sehingga tidak lagi bergantung pada negara lain. Berangkat dari pandangan tersebut, ia mengadakan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan pada ibu-ibu di desa Ponti Tembawang. Pandangan hidup Jaleswari ini mempengaruhi wataknya menjadi peduli, bertanggungjawab, dan orang yang pandai serta berpendidikan. Hal ini digambarkan dengan cara melihat tokoh lain berbincang dengannya (Amminudin, 2002:80). Jaleswari yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa ibu di desa Ponti Tembawang. Ia berusaha agar ibu-ibu tersebut dapat mengerti pentingnya pendidikan sebagai bekal hidup.
Analisis Keyakinan dalam Mendukung Penokohan pada Batas.
Kutipan-kutipan yang termasuk latar sosial tentang keyakinan dalam mendukung penokohan padaBatas adalah sebagai berikut.
Jaleswari terbangun! dering alarm telepon selulernya masih memekik-mekik. Jales menggigil. Wajahnya dipenuhi tetes keringat sebesar butiran nasi. Napasnya tersengal-sengal. Air matanya menggila seperti banjir bandang yang tak ragu membenamkan sepuluh desa. “Ya Allah, astaghfirullah. Audzubillahi minas syaithonir rojim. Aku berlindung pada-Mu ya Allah dari godaan setan yang terkutuk,” ujarnya sambil berkali-kali mengulang istighfar (Batas:66).
“Mari, Bu,” ujar Teo sambil membuka nasi bungkusnya dan berdoa secara khatolik dengan membuat tanda salib di dadanya (Batas:96).
“Keberatan.” Ada tahun-tahun yang sulit. Saya masih kecil dan kakak yang menjelaskan. Tetapi, setelah itu, Alhamdulillah semua baik-baik saja. Warga di sini juga bisa menerima,” ungkap Irfan (Batas:152).
Suara kidung pujian terdengar keluar dari gereja di salah satu bagian Dusun Ponti Tembawang. Mengalun membuai, lembut, lalu perlahan terdengar semakin keras, nada-nada yang mendaki, beramai-ramai. Sejenak kemudian suasana menjadi hening sebelum pendeta menyampaikan khotbah dipagi yang bening (Batas:169).
“Berarti Otiq dengan sengaja menjebakku agar bisa jadi kambing hitam.” “Kamu tidak bohong Adeus?” Demi nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Buat apa aku berbohong?” (Batas:252).
Berdasarkan kutipan 1, tergambar keyakinan Jaleswari kepada Allah sebagai Tuhannya. Ia berdoa minta lindungan Allah saat mengalami mimpi buruk. Jaleswari yakin Tuhan tidak akan memberikan godaan setan yang terkutuk jika berdoa, minta pertolongan pada-Nya. Ada beberapa kutipan yang menggambarkan keyakinan Jaleswari kepada Tuhan, yaitu: (1) Jales mengucap bismilah ketika memutuskan melanjutkan perjalanan yang bermedan berat. Tergambar pula keyakinan Victor kepada Yesus sebagai Tuhannya. Ia berdoa agar perjalanannya diberkati Tuhan Yesus (Batas:87); (2) dalam perjalanan akibat cuaca buruk, Jaleswari berulang-ulang memanjatkan zikir dan berdoa agar diberi keselamatan (Batas:111); (3) untuk mengatasi rasa takut, Jaleswari berulang-ulang memuji Allah dengan menyebut Allahu Akbar (Batas:111); (4) saat hampir mengakhiri pelayarannya, Jaleswari mengucap syukur kepada Allah dengan mengucap kata Alhamdulillah (Batas:117); (5) ketika Jaleswari mendapat kebahagiaan saat bermain dengan Borneo dan kawan-kawannya di sungai. Ia mengucap syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kebahagiaan melalui hal-hal sederhana (Batas:159-160); dan (6) saat Jaleswari pertama kali melakukan anjuran Adayak mandi di sungai, ia mengucap kata
Bismillahirohmanirohim (Batas:212). Keyakinan Jaleswari dan Victor ini mempengaruhi watak mereka menjadi selalu berserah kepada Tuhan.
Pada kutipan 2 mendeskripsikan keyakinan Teo kepada Tuhan. Keyakinan ini ia wujudkan dengan berdoa seraya mengucap syukur atas berkat berupa makanan yang ada di hadapannya. Keyakinan ini mempengaruhi watak Teo menjadi selalu bersyukur atas berkat yang Tuhan limpahkan padanya. Hal ini digambarkan dengan cara melihat tokoh lain berbicara dengannya (Amminudin, 2002:80). Teo yang sedang berbicara dengan Jaleswari. Ia menawarkan Jaleswari untuk makan bersama ketika sedang beristirahat dari perjalanan jauh ke Ponti Tembawang.
Kemudian kutipan 3 menceritakan keyakinan Irfan kepada Tuhan. Keyakinannya ini digambarkan dengan mengucap syukur karena akhirnya warga yang kental dengan kekristenan di lingkungannya dapat menerimanya sebagai orang yang berpindah keyakinan. Keyakinan ini mempengaruhi watak Irfan menjadi selalu bersyukur atas anugerah Tuhan. Hal ini digambarkan dengan cara melihat tokoh lain berbicara dengannya (Amminudin, 2002:80). Irfan yang sedang berbicara dengan Jaleswari. Ia menceritakan kepada Jaleswari tentang perjalanan yang ditempuh ketika awal ia memeluk agama islam.
Selain keyakinan Irfan, terdapat juga keyakinan Pendeta seperti pada kutipan 4. Keyakinan Pendeta ini diwujudkannya dengan melayani Tuhan dengan berkhotbah. Ia memberitakan injil upaya memberi keyakinan yang kuat (iman) kepada umat-Nya untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan jurus’lamat. Keyakinan ini mempengaruhi watak Pendeta menjadi peduli. Ia peduli terhadap sesama sehingga ia memberitakan injil untuk keselamatan umat-Nya. Hal ini digambarkan teks terhadap karakteristik pelakunya(Amminudin, 2002:80). Pendeta yang hendak menyampaikan khotbah di padi yang bening.
Kutipan 5 menggambarkan keyakinan Adeus kepada Tuhan. Adeus mengatakan kepada Jaleswari tentang kebusukan Otiq. Namun, Jaleswari belum yakin tentang perkataan Adeus tersebut. Upaya membela dirinya atas tuduhan Jaleswari yang menganggapnya berbohong, Adeus hendak bersumpah demi Bapa, Putra, dan Roh Kudus bahwa pernyataannya benar. Adeus ingin meyakinkan Jaleswari atas kebenaran ucapannya. Keyakinan ini mempengaruhi watak Adeus menjadi tegas. Hal ini digambarkan dengan melihat tokoh lain berbincang dengannya
(Amminudin, 2002:80). Jaleswari dan Adeus yang sedang berbincang mengenai peristiwa kecelakaan Ubuh di hutan yang ternyata ada kaitannya dengan Otiq.
Kutipan di bawah ini merupakan latar sosial tentang adat-istiadat dalam menudukung penokohan terkandung dalam Batas.
Jales membuka jendela sehingga suara ritmik tetabuhan dan gemerincing lempeng logam yang beradu di saat-saat tertentu, menghasilkan kemeriahan musik oriental yang biasa dilihatnya pada pertunjukkan barongsai di mal-mal Jakarta. Warna merah dan kuning mendominasi pakaian penampil, aksesaris alat musik sampai warna panji-panji yang dikibarkan ke berbagai arah. Tapi, Jales belum melihat adanya barongsai yang melompat-lompat terampil dengan mulut menganga mencari amplop merah yang disodorkan penonton. “Itu perayaan Cap Go Meh, Bu,” jelas Victor tanpa ditanya. Dilakukan 15 hari sesudah imlek. Setiap tahun pasti ada acara ini.” (Batas:6-7).
Kamu tidak akan diterima oleh masyarakat di sini jika kamu tidak lebih dulu belajar untuk mengerti dan memahami kehidupan kami,” jawab Panglima tanpa tending aling-aling.
“Emm … Panglima bisa menunjukkan caranya?”
“Mandilah bersama mereka,”Panglima Adayak menunjukkan jari tangannya ke sebuah arah. Di sungai! (Batas:199).
“Nikmati saja saat-saat terakhir hidupmu ini,” kata Pagau sambil mendekatkan wajahnya mencoba mencium Ubuh, yang semakin menyurukkan wajahnya ke dalam badannya. Pagau semakin tertawa binal merasa hal itu sebuah permainan yang
“Berhenti!” Suara Panglima Adayak terdengar di belakang Pagau. “Kau akan menghadapi hukum adat untuk semua yang kau lakukan ini, Pagau!”
(Batas:270-271).
Disebuah tempat Victor melambatkan mobilnya. “Ini kampung Seribu Dolar,” katanya.” Mengapa disebut begitu?” tanya Jales. “Apa karena barang-barang disini mahal?” Oh, bukan,” Victor menyeringai. “Saya dan kawan-kawan menyebut kampung ini sebagai kampung Seribu Dolar karena kita harus berhati-hati sekali di sini. Banyak dengan adat yang ditetapkan. Jangankan kita menabrak orang, mobil kita selip saja dan menurut warga di sini itu mengganggu mereka, kita bisa kena denda adat. Denda adat di sini banyak sekali jenisnya. Selain mahal, bahkan sampai ada yang puluhan juta rupiah. Itulah sebabnya mengapa disebut kampung Seribu Dolar (Batas:10).
“Jatuhkan mandaumu sekarang juga, Otiq!” bentak Adayak. “Atau kalau tidak kepalamu akan digarak ke seluruh kampung Border.” Tangan Otiq yang masih terangkat perlahan-lahan mulai turun, dan akhirnya dia melepaskan mandau di tangannya dengan melemparkan secara lambat ke depan Panglima. ‘Tangkap dia!” perintah Panglima Adayak. Para warga langsung bergerak maju meringkus Otiq yang tak melakukan perlawanan. “Siapkan pengadilan adat!” (Batas:277).
Kutipan 1 menggambarkan adat-istiadat berupa perayaan Cap Go Meh pada masyarakat Cina. Hal ini terlihat ketika Jaleswari dan Victor terjebak kemacetan lalu lintas karena adanya perayaan Cap go meh. Perayaan Cap Go Meh ini Dilakukan 15
hari sesudah imlek. Setiap tahun pasti ada acara ini. Adat-istiadat masyarakat Cina ini mempengaruhi watak Jaleswari menjadi risih. Ia tidak suka dengan keramaian Cap Go Meh akibat lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta. Hal ini digambarkan dengan cara melihat tokoh lain berbicara dengannya (Amminudin, 2002:80). Jales yang sedang berbicara dengan Victor, ia memperkenalkan adat-istiadat masyarakat Cina, berupa acara Cap Go Meh pada Jales.
Pada kutipan 2 menceritakan latar sosial tentang adat-istiadat berupa aturan atau perbuatan yang lazim dituruti pada masyarakat Dayak. Sesuai dengan anjuran Panglima Adayak, Jaleswari harus mandi di sungai, seperti kebiasaan masyarakat Dayak, desa Ponti Tembawang. Ia harus menuruti aturan atau perbuatan lazim masyarakat Dayak ini, agar dapat diterima, mengerti, dan memahami kehidupan mereka. Adat-istiadat masyarakat Dayak ini mempengaruhi watak Jaleswari menjadi risih dengan kebiasaan masyarakat Dayak desa Ponti Tembawang. Risih karena membayangkan ia harus mandi di sungai dan kulitnya disapu oleh kotoran yang ada di sungai. Hal ini digambarkan dengan cara memahami jalan pikirannya (Amminudin, 2002:80). Teks menginformasikan jalan pikiran Panglima Adayak yang menginginkan Jaleswari untuk mandi di sungai bersama warga setempat karena hal ini merupakan perbuatan yang lazim dituruti agar dapat diterima oleh masyarakat.
Kemudian kutipan 3 mendeskripsikan latar sosial tentang adat-istiadat berupa aturan adat masyarakat Dayak. Panglima Adayak menjatuhkan hukum adat kepada Pagau atas perbuatan tidak senonoh yang ia lakukan terhadap Ubuh. Hal ini tergambar ketika Pagau di hutan, bersama Panglima Adayak beserta beberapa orang yang mencari Ubuh. Pagau adalah orang pertama yang menemui Ubuh. Namun, Pagau bermaksud jahat, ia ingin merenggut kesucian Ubuh. Adat-istiadat berupa aturan atau perbuatan yang lazim dituruti pada masyarakat Dayak ini mempengaruhi watak Panglima Adayak menjadi tegas. Latar sosial tentang adat-istiadat ini digambarkan dengan melihat tokoh itu mereaksi tokoh-tokoh yang lain (Amminudin, 2002:80). Panglima yang mereaksi perbuatan jahat Pagau dengan menjatuhkan hukum adat atas perbuatan jahatnya pada Ubuh.
Selain adanya hukum adat Dayak, terdapat juga aturan adat pada kampung yang sedang dilintasi Victor dan Jaleswari seperti pada kutipan 4. Kampung yang sedang dilintasi Victor dan Jaleswari ini memiliki denda adat tinggi kepada para pelintas jalan yang mengganggu ketentraman mereka. Hal ini menyebabkan Victor dan kawan-kawannya menyebut kampung tersebut sebagai kampung Seribu Dolar. Latar sosial tentang adat-istiadat ini mempengaruhi watak Victor menjadi berhati-hati dan taat peraturan. Adat-istiadat ini digambarkan dengan cara melihat bagaimana tokoh lain berbincang dengannya (Amminudin, 2002:80). Victor yang sedang berbincang dengan Jaleswari ketika berada di mobil saat dalam perjalanan. Mereka membicarakan hukum adat yang ditetapkan kampung Seribu Dolar sangat tinggi.
Kutipan 5 melukiskan adat-istiadat berupa aturan adat masyarakat Dayak. Adat-istiadat ini terlihat ketika adanya aturan adat yang dilanggar berupa larangan membunuh sesama. Adayak sebagai Panglima menjatuhkan hukum adat pada Otiq atas perbuatannya yang hendak membunuh Adeus menggunakan mandau. Setiap
permasalahan harus dibicarakan secara baik-baik tanpa bertindak kekerasan semaunya dan bertindak sepihak. Otiq hendak diadili sesuai ketetapan hukum adat Dayak. Adat-istiadat pada kutipan di atas mempengaruhi watak Panglima Adayak menjadi tegas. Hal ini digambarkan dengan melihat tokoh itu dalam mereaksi tokoh-tokoh yang lainnya (Amminudin, 2002:80). Panglima Adayak yang mereaksi perbuatan jahat Otiq dengan menjatuhkan hukum adat padanya.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan masalah, tujuan, dan analisis, penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan relasi antara latar sosial dan penokohan pada Batas. Latar sosial yang dimaksud adalah (1) Tradisi yang meliputi tradisi berburu para lelaki Dayak, mandi di sungai beramai-ramai, para perempuan Dayak mengayam anjat beramai-ramai, perempuan Dayak menjemur sahang beramai-ramai, tradisi rumah pohon, memberikan sesajen untuk roh-roh gaib, mandi di sungai beramai-ramai, behuma
(berladang) bagi para lelaki Dayak, upacara gawai, memelihara babi, para perempuan menggunakan kemben, dan minum tuak terkandung dalam novel Batas;
(2) Pandangan hidup yaitu perbedaan pandangan hidup orang Dayak di perbatasan dengan pandangan hidup Jaleswari dan Arifin tentang pendidikan, pandangan hidup setiap tokoh dengan permasalahan hidupnya, dan pandangan hidup tokoh terhadap tokoh lain terkandung dalam novel Batas;
(3) Keyakinan yaitu keyakinan kepada Tuhan dan kepada roh-roh gaib, seperti percaya kepada kamang tujuh saudara, Baruakng Kulub, jubata, dan Nek Panitah
terkandung dalam novel Batas;
(4) Adat-istiadat yaitu (a) aturan adat, seperti menjatuhkan hukum adat atas perbuatan jahat terhadap sesama, aturan adat bagi tamu wajib mencicipi hidangan yang ditawarkan tuan rumah, dan bagi para pendatang harus mengikuti kebiasaan atau adat tradisi masyarakat setempat. Jika melanggar aturan adat akan dikenakan denda adat; dan (b) upacara adat seperti upacara gawai terkandung dalam novel
Batas.
Saran
Ada beberapa saran yang dapat dikemukakan pada penelitian ini, yaitu (1) Cerita pada Batasmencerminkan budaya masyarakat Dayak yang dapat dimanfaatkan pembaca lain untuk melihat gambaran kebudayaan suku Dayak. Oleh karena itu, guru dapat menggunakan cerita tersebut sebagai bahan ajar di sekolah karena novel ini dapat menumbuhkan karakter peserta didik untuk dapat melestarikan kebudayaan dari masing-masing suku. Hasil penelitian dapat diimplementasikan di sekolah; (2) Penelitian ini bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa dari fakultas lain yang ingin meneliti latar sosial dalam relasinya dengan penokohan secara lebih mendalam. Bagi mahasiswa FKIP, penelitian ini dapat dilanjutkan dengan menyoroti hal-hal yang
belum dibahas, seperti struktur karya sastra (penokohan, alur, dan lain-lain) yang terdapat dalam Batas.
DAFTAR RUJUKAN
Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Barsal, Akmal Nasery. 2011. Batas. Jakarta: Qanita
E, Kosasih. 2008. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Nobel Edumedia.
Moleong, Lexi. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya Offset.
Nurgiantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yokyakarta: Gajahmada University Press.
Nurya, Ekawaty. 2011. Peranan Latar dalam Mendukung Penokohan Pada Novel “Saat Pulang” Karya Ersta Andantino. Pontianak: FKIP Untan.
Siswantoro. 2010. Metode Penelitian Sastra. Yokyakarta: Pustaka belajar.
Syam, Chistanto. 2011. Hakikat Penelitian Sastra. Buku ajar. Pontianak: FKIP Untan.
Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1991. Apresiasi Kesustraan. Jakarta: Gramedia. Yanto, Edy. 2005. Peranan Latar dalam mendukung penokohan pada novel “Kroco”