PRESTASI BELAJAR BAHASA JAWA DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP KOMPETENSI GURU DAN
DUKUNGAN SOSIAL ORANGTUA PADA SISWA SEKOLAH DASAR
SKRIPSI
JOVITA ANASTASIA 06.40.0001
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG
2010
i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN iii
HALAMAN PERSEMBAHAN vi
HALAMAN MOTTO v
HALAMAN UCAPAN TERIMAKASIH vi
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR LAMPIRAN xii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1 B. Tujuan Penelitian 10 C. Manfaat Penelitian 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 12
A. Prestasi Belajar Bahasa Jawa 12 1. Pengertian Prestasi Belajar Bahasa Jawa 12 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar 14 3. Pengukuran Prestasi Belajar 18 B. Persepsi terhadap Kompetensi Guru 19 1. Pengertian Persepsi terhadap Kompetensi Guru 19 2. Aspek-aspek Persepsi terhadap Kompetensi Guru 21 C. Dukungan Sosial Orangtua 26
ii
1. Pengertian Dukungan Sosial Orangtua 26 2. Jenis Dukungan Sosial Orangtua 28 D. Hubungan antara Persepsi terhadap Kompetensi Guru dan
Dukungan Sosial Orangtua dengan Prestasi Belajar
Bahasa Jawa 30
E. Hipotesis 35
BAB III METODE PENELITIAN 37
A. Identifikasi Variabel Penelitian 37 B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 37
1. Prestasi belajar Bahasa Jawa 37 2. Persepsi terhadap Kompetensi Guru 38 3. Dukungan Sosial Orangtua 38 C. Subyek Penelitian 39 D. Metode Pengumpulan Data 40 1. Metode Dokumentasi 40
2. Metode Skala 41
a. Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru 41 b. Skala Dukungan Sosial Orangtua 42 E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 43 1. Validitas Alat Ukur 43 2. Reliabilitas Alat Ukur 44 F. Metode Analisis Data 44 1. Analisis Regresi Dua Prediktor 44 2. Korelasi Product Moment 45
iii
BAB IV PERSIAPAN dan PELAKSANAAN PENELITIAN 46
A. Orientasi Kancah Penelitian 46 B. Persiapan Penelitian 48 1. Penyusunan Alat Ukur 48 a. Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru 48 b. Skala Dukungan Sosial Orangtua 49 2. Perijinan Penelitian 50 C. Pelaksanaan Penelitian 50 D. Uji Validitas dan Reliabilitas 52 1. Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru 53
2. Skala Dukungan Sosial Orangtua 54
BAB V HASIL PENELITIAN 55
A. Hasil Penelitian 55
1. Uji Asumsi 55
a. Uji Normalitas 55 b. Uji Linieritas 56
2. Uji Hipotesis 57
B. Pembahasan 58
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 64
A. Kesimpulan 64
B. Saran 64
DAFTAR PUSTAKA 65
iv
LAMPIRAN 69
v
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Blue Print Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru 42
Tabel 2 Blue Print Skala Dukungan Sosial Orangtua 43
Tabel 3 Sebaran Item Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru 49
Tabel 4 Sebaran Item Skala Dukungan Sosial Orangtua 49
Tabel 5 Rincian Item Valid dan Gugur Skala Persepsi terhadap
Kompetensi Guru 53
Tabel 6 Rincian Item Valid dan Gugur Skala Dukungan Sosial
Orangtua 54
vi
DAFTAR LAMPIRAN
A. Skala Penelitian 69
A-1. Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru 70
A-2. Skala Dukungan Sosial Orangtua 75
B. Data Penelitian 78
B-1. Data Variabel Prestasi Belajar Bahasa Jawa 79
B-2. Data Variabel Persepsi terhadap Kompetensi Guru 81
B-3. Data Variabel Dukungan Sosial Orangtua 86
C. Uji Validitas dan Reliabilitas 89 C-1. Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Persepsi terhadap
Kompetensi Guru 90
C-2. Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Dukungan Sosial
Orangtua 95
D. Uji Asumsi 100
D-1. Uji Normalitas 101
D-2. Uji Linieritas 105
E. Uji Hipotesis 110
E-1. Hasil Uji Hipotesis Mayor 110
E-2. Hasil Uji Hipotesis Minor 110
F. Surat Penelitian 113
F-1. Surat Ijin Penelitian 114
F-2. Surat Bukti Penelitian 116
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan dasar utama dalam mengembangkan sumber daya manusia. Baik pendidikan formal maupun yang informal, pada hakikatnya adalah suatu interaksi, hubungan timbal balik, serta sarana pendidikan yang memadai yang nantinya akan digunakan untuk memecahkan proses dua arah, antara pendidik dan anak didik. Pendidikan bertujuan untuk mewujudkan manusia yang dapat menggunakan segala kemampuan yang ada pada dirinya dalam menghadapi tantangan hidup maupun mengatasi kesulitan-kesulitan yang timbul sepanjang hidupnya (Purbayanti, 2005).
Di era globalisasi seperti sekarang ini mutlak menuntut seseorang untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan agar dapat bersaing dan mempertahankan diri dari semakin kerasnya kehidupan dunia dan dari berbagai tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi, termasuk mempelajari berbagai macam bahasa asing yang menjadi bahasa internasional seperti bahasa Inggris. Banyak perusahaan yang menjadikan bahasa sebagai salah satu persyaratan dalam memperoleh perkerjaan. Hal ini membawa dampak yang positif bagi sekolah-sekolah dengan mengenalkan bahasa Inggris sedini mungkin melalui jalur pendidikan dengan menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pokok guna membekali peserta didiknya mengenai bahasa asing.
1
Kebutuhan akan pentingnya bahasa Inggris memunculkan sekolah-sekolah bertaraf international yang dalam penyampaian materi sehari-hari menggunakan bahasa Inggris. Hal ini membuat para orangtua tertarik untuk memasukkan anaknya kesekolah dengan taraf internasional. Tidak hanya dunia pendidikan saja yang terkena imbas dari bahasa Inggris tetapi banyak orang berbondong-bondong membuka kursus atau les bahasa Inggris untuk anak-anak hingga dewasa.
Masuknya bahasa Inggris disambut baik oleh masyarakat Indonesia terlebih dalam dunia pendidikan. Namun di sisi lain, banyak sekali orang Jawa yang perlahan-lahan enggan untuk berbahasa daerah khususnya bahasa Jawa. Bahasa Jawa merupakan wujud jati diri masyarakat Jawa. Bahasa tersebut digunakan orang Jawa sebagai sarana/ alat dalam berkomunikasi. Selain untuk sarana berkomunikasi, bahasa Jawa mengandung pendidikan budi pekerti. Visi pendidikan budi pekerti adalah terwujudnya pendidikan nilai, moral, etika, dan berfungsi menumbuh-kembangkan individu yang berakhlak (Sukastomo, 2006). Perlu dipahami, pengenalan bahasa Jawa bukan untuk menumbuhkan ego kedaerahan, tetapi upaya untuk menanamkan sikap saling menghormati dan menghargai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Eko, 2008).
Pembelajaran bahasa Jawa melalui pendidikan formal di Sekolah Dasar merupakan sarana pelestarian bahasa Jawa. Keberhasilan pembelajaran ini akan menentukan eksistensi bahasa Jawa di masa depan (Surono, 2006). Sekarang ini bahasa Jawa sebagai gerbang pertahanan budaya dan alat komunikasi sehari-hari sudah tak diminati
2
lagi oleh generasi muda (Leksono, 2008). Mata pelajaran bahasa Jawa di sekolah oleh kalangan guru selama ini dirasa kurang mendapatkan perhatian, kurang dihargai atau bahkan disepelekan. Penggunaan bahasa Jawa yang perlahan-lahan berkurang dikarenakan ada anggapan bahwa bahasa Jawa sebagai bahasa yang kurang populer di kalangan masyarakat (sebab menurut masyarakat bahasa Jawa bukan bahasa gaul).
Melihat gejala akhir-akhir ini bahasa Jawa sudah makin ditinggalkan khususnya di kalangan generasi muda, bukan tidak mungkin perlahan tapi pasti, punahnya bahasa Jawa mendekati kenyataan. Anak-anak muda sekarang dengan percaya dirinya menggunakan bahasa gaul dalam berkomunikasi dengan teman-temannya. Bahasa Jawa memang telah masuk ke dalam dunia pendidikan, namun apa artinya kalau sekadar dipelajari, dihafal dan diuji dengan ujung-ujungnya tercantum sebagai nilai raport tanpa dipraktikkan dalam pergaulan sehari-hari (Mugiarso, 2007).
Fakta ini semakin diperkuat dengan semakin sulitnya ditemukan seseorang berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dengan orang tua maupun teman-temannya, sehingga berdampak pada kesulitan dalam menerima pelajaran bahasa Jawa dan beranggapan bahwa bahasa Jawa merupakan pelajaran yang susah dan membosankan. Adapun anak-anak yang berkomunikasi dengan bahasa Jawa tetapi bahasa Jawa yang digunakan kurang sopan dan bukan bahasa Jawa krama yang seharusnya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Anak-anak sekarang ini pada dasarnya lebih nyaman memakai
3
bahasa Indonesia ketika di sekolah maupun di rumah, karena bahasa Indonesia mudah diucapkan dan mudah dipahami.
Hal ini juga terjadi di SD Kristen 1 dan 2 Purwodadi berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah SD Kristen 2 pada tanggal 13 Januari 2010. Pada SD ini ditemukan rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa selain pada mata pelajaran matematika. Pencapaian prestasi belajar, pada dasarnya menjadi hal yang penting dalam dunia pendidikan. Namun pada kenyataannya tidak sedikit siswa yang mengalami kegagalan dalam prestasi belajarnya terutama dalam mata pelajaran bahasa Jawa. Mata pelajaran bahasa Jawa dan matematika selalu masuk dalam kategori mata pelajaran remidial sedangkan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris selalu berada diatas rata-rata sehingga hampir tidak pernah terjadi remidial bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Apabila dilihat dari tingkat kesulitannya bahasa Jawa maupun bahasa Inggris memiliki tingkat kesulitan yang sama. Tetapi yang sangat mengherankan adalah sebagian besar siswa mengikuti remidial pada mata pelajaran bahasa Jawa, sedangkan bahasa Inggris selalu berada diatas standar ketuntasan.
Pada hari rabu tanggal 13 Januari 2010 penulis juga mewawancarai dua orang guru SD Kristen 1 dan 2 kelas lima dan kelas enam. Berdasarkan hasil wawancara tersebut ditemukan sebagian besar siswa mengikuti remidial pada mata pelajaran bahasa Jawa, selain itu nilai ketidaktuntasan berada pada mata pelajaran bahasa Jawa selain pada mata pelajaran matematika. Ada sekitar 14 siswa dari 39 siswa yang harus mengikuti remidial karena memiliki nilai di bawah standar
4
ketuntasan yaitu 65. Walaupun sudah dilaksanakan remidial, masih ada tujuh siswa yang nilai bahasa Jawanya berada di bawah standar ketuntasan. Guru beranggapan bahwa kurang maksimalnya nilai pada mata pelajaran bahasa Jawa dikarenakan anggapan siswa tentang kurang pentingnya bahasa Jawa, bahasa Jawa bukan bahasa sehari-hari siswa, kurangnya dukungan orangtua mengenai bahasa Jawa, serta adanya kemungkinan metode mengajar yang digunakan kurang menarik minat siswa, dan sebagainya.
Soeryabrata (dikutip Muryono, 2000, h.249) mengungkapkan ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, antara lain faktor internal yang meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis, sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga yang berhubungan dengan status sosial ekonomi keluarga, pendidikan, perhatian orang tua; lingkungan sekolah, yang menyangkut sarana dan prasarana, kompetensi guru, siswa, kurikulum dan kualitas proses belajar mengajar; dan lingkungan masyarakat, yang berhubungan dengan sosial budaya dan partisipasi terhadap pendidikan. Mujiono (1995, h.10) menambahkan faktor internal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah minat, motivasi, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan, kebiasaan belajar dan persepsi.
Pada umumnya apa yang ditampilkan guru baik pengetahuan, cara mengajar dan tampilannya akan dipersepsikan tertentu didalam diri siswa. Apabila persepsi siswa tentang kompetensi guru bersifat positif, akan bertambah minat belajar siswa yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Sebaliknya persepsi siswa yang
5
negatif, justru akan menurukan minat belajar siswa sehingga prestasi belajarnya rendah (Muryono, 2000, h. 247) .
Guru yang terlatih baik, akan mempersiapkan empat bidang kompetensi guru yang efektif dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan. Kompetensi yang harus dimiliki guru dalam proses belajar adalah: (a) memiliki pengetahuan tentang teori belajar dan tingkah laku manusia, (b) menunjukkan sikap dalam membantu siswa belajar dan memupuk hubungan dengan manusia lain secara tulus, (c) menguasai mata pelajaran yang diajarkan, (d) mengontrol ketrampilan teknik mengajar sehingga memudahkan siswa belajar (Djiwandono, 2002, h.17-18). Berbeda dengan pendapat sebelumnya Hamalik (dalam Sa’adah, 2007, h. 17) mengemukakan kompetensi guru adalah terampil dalam menyiapkan bahan pelajaran, terampil memotivasi siswa, terampil memilih metode mengajar dan terampil melakukan penilaian hasil belajar siswa. Kompetensi guru dalam penelitian ini dikhususkan pada saat guru mengajarkan bahasa Jawa dikarenakan guru disekolah ini merupakan guru kelas yang mengajarkan keseluruhan mata pelajaran kecuali beberapa pelajaran seperti agama, bahasa Inggris dan olah raga.
Berdasarkan wawancara kepada guru kelas lima SD Kristen 1 dan 2 yang telah dilakukan pada tanggal 8 Mei 2010, diperoleh hasil bahwa guru kelas lima yang juga mengajar bahasa Jawa telah berusaha membuat suasana belajar mengajar semenarik mungkin untuk mata pelajaran bahasa Jawa seperti bercerita tentang perwayangan, nembang, sampai menggunakan bahasa Jawa sebagai pengantar, khususnya untuk mata pelajaran bahasa Jawa. Tetapi tidak semua murid tertarik dengan
6
mata pelajaran yang disajikan oleh guru. Berdasarkan penuturan enam siswa kelas lima SD Kristen 1 dan 2, tidak jarang siswa sibuk dengan kegiatan masing-masing ketika guru sedang menerangkan materi-materi di depan kelas. Hal ini berkebalikan dengan wawancara yang dilakukan peneliti dengan enam siswa yang sama. Siswa tersebut mengungkapkan bahwa cara guru menerangkan kadang-kadang menarik tetapi ada kalanya menjadi membosankan.
Prestasi belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh persepsi terhadap kompetensi guru tetapi dukungan sosial dari orangtua juga dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Berdasarkan wawancara dengan beberapa orangtua pada tanggal 19 Januari 2010, para orang tua menganggap pelajaran bahasa Jawa tidaklah penting. Selain bukan salah satu mata pelajaran pada ujian nasional, dikarenakan juga karena lebih baik mempelajari bahasa Inggris yang faktanya jauh lebih berguna dari bahasa Jawa. Anggapan ini dapat melemahkan semangat siswa dalam mempelajari mata pelajaran bahasa Jawa.
Anggapan orang tua mengenai ketidakpentingan bahasa Jawa juga dirasakan oleh anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan wawancara yang dilakukan oleh penulis pada hari selasa tanggal 19 Januari 2010 kepada tiga orang siswa kelas lima SD Kristen 1 dan 2 bahwa mata pelajaran bahasa Jawa kurang mendapatkan perhatian siswa. Para siswa beranggapan bahwa mata pelajaran bahasa Jawa merupakan mata pelajaran yang sulit dimengerti, terlebih pada aksara Jawanya dan beberapa siswa menganggap mata pelajaran bahasa Jawa kurang penting. Ada juga yang mengatakan lebih menyukai aksara Jawanya
7
dari pada mempelajari bahasa Jawanya itu sendiri, karena dianggap lebih rumit dari pada aksara Jawa. Bahkan ada siswa yang mengatakan bahwa lebih baik belajar bahasa Inggris dari pada bahasa Jawa, karena bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional. Apabila anggapan ini tidak diberi penjelasan yang tepat maka dapat menghambat para siswa dalam mempelajari mata pelajaran bahasa Jawa. Ada seorang siswi yang mengatakan bahwa mata pelajaran bahasa Jawa adalah mata pelajaran yang penting, karena berguna dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Ditambah hasil wawancara pada tanggal 14 Mei 2010 kepada sepuluh siswa di SD Kristen 1 dan 2 Purwodadi yang berkaitan dengan dukungan yang berasal dari orangtua. Siswa-siswa tersebut mengatakan apabila mereka mendapatkan nilai jelek pada mata pelajaran bahasa Jawa mereka dinasehati oleh orangtua untuk belajar lebih rajin. Ketika menghadapi kesulitan dalam memahami materi bahasa Jawa mereka meminta bantuan pada kakak, ibu, atau nenek mereka dan dengan senang hati mereka membantu siswa untuk memahami pelajaran bahasa Jawa. Ada seorang siswa yang mengatakan jika berbicara dengan orangtua tidak menggunakan bahasa krama tetapi campuran antara bahasa Jawa ngoko dan krama, orangtua tidak membenarkan atau memberikan pengertian bahwa hal tersebut salah tetapi hanya dibiarkan saja.
Pada hari yang sama penulis juga menemukan bahwa tidak semua siswa seberuntung sepuluh siswa yang penulis wawancarai. Ada seorang siswa yang ketika mendapati nilai bahasa Jawanya rendah, orangtuanya
8
memarahinya tetapi berdasarkan penuturan siswa tersebut orangtuanya tidak dapat membantu ketika siswa ini menemui kesulitan dalam mempelajari bahasa Jawa.
Guru di Sekolah Dasar tersebut sangat menyayangkan karena mata pelajaran bahasa Jawa kurang dapat berkembang. Guru-guru menyakini bahwa pelajaran bahasa Jawa dapat mengajarkan banyak hal kepada murid-muridnya seperti budi pekerti, sopan santun dan tata krama. Masuknya bahasa Jawa ke sekolah-sekolah sebagai mata pelajaran muatan lokal, merupakan salah satu cara untuk melestarikan bahasa Jawa agar tidak punah. Selain untuk melestarikan bahasa Jawa, mata pelajaran bahasa Jawa penting untuk dipelajari siswa antara lain agar siswa dapat berkomunikasi dengan baik dan benar sesuai dengan jenis bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan lawan berbicara, bahasa Jawa dapat mengajarkan pendidikan moral/ budi pekerti seperti sopan santun, bekerja keras, berdisiplin, tanggung jawab, tenggang rasa dan masih banyak lagi (Sujadi, 2008). Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam pelajaran bahasa Jawa dapat membantu membangun karakter siswa.
Pembentukan karakter siswa bukan saja dapat membuat seorang anak mempunyai akhlak yang mulia, tetapi juga dapat meningkatkan keberhasilan akademiknya. Selain itu anak-anak yang berkarakter baik adalah mereka yang mempunyai kematangan emosi dan spiritual tinggi, sehingga dapat mengelola stressnya dengan lebih baik, yang akhirnya dapat meningkatnya kesehatan fisiknya. Kematangan emosi meliputi ketertarikan anak pada segala sesuatu di sekelilingnya, mempunyai rasa
9
percaya diri, mengetahui bagaimana dan kapan anak meminta pertolongan dari guru atau orang-orang dewasa lainnya, kesabaran menunggu, mematuhi instruksi, dan mampu bekerja sama dengan kelompok. Kematangan emosi yang terbentuk dapat menentukan kesuksesan anak disekolah selanjutnya. (Goleman dalam Megawangi, 2004, h.40).
Berdasarkan fakta-fakta, hasil wawancara dan latar belakang yang telah dijelaskan terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, sehingga penulis tertarik untuk melihat hubungan antara persepsi terhadap kompetensi guru dan dukungan sosial orangtua dengan prestasi belajar bahasa Jawa pada siswa Sekolah Dasar.
B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap kompetensi guru dan dukungan sosial orangtua dengan prestasi belajar bahasa Jawa.
C. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan dapat dipergunakan untuk memperluas wawasan ilmiah dalam bidang ilmu psikologi pada umumnya terutama dalam bidang psikologi pendidikan yang berkaitan dengan prestasi belajar bahasa Jawa yang dihubungkan dengan persepsi terhadap kompetensi guru dan dukungan sosial orangtua.
10
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran, informasi dan salah satu acuan untuk mengetahui prestasi belajar bahasa Jawa bagi institusi pendidikan dan siswa terutama guru dan orangtua mengenai persepsi terhadap kompetensi guru dan dukungan sosial orangtua.
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Prestasi Belajar Bahasa Jawa
1. Pengertian Prestasi Belajar Bahasa Jawa
Belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. Perubahan yang terjadi itu harus secara relatif bersifat menetap (permanen) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini nampak tetapi juga perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang. Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman (Irwanto, dkk, 2002, h. 105).
Sejalan dengan pendapat menurut Abdurrahman (2003, h. 28) belajar merupakan suatu proses dari seorang individu yang berupaya mencapai tujuan belajar atau yang biasa disebut hasil belajar, yaitu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Masrun dan Martaniah (dalam Muryono, 2000, h. 249) mendefinisikan prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan.
Berbeda dengan pendapat sebelumnya Purwadarminta (1996, h. 204) prestasi belajar diartikan sebagai prestasi yang dicapai oleh seseorang siswa dalam usaha jangka waktu tertentu dan yang dicatat dalam buku rapor sekolah. Sejalan dengan pendapat di atas,
12
Wirawan (dalam Ratnawati, 1996, h. 206) mendefinisikan prestasi belajar sebagai hasil yang dicapai seseorang siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana tercantum dalam nilai rapornya. Prestasi belajar juga sering dikatakan sebagai hasil perbuatan belajar yang melukiskan taraf kemampuan seseorang setelah belajar dan berlatih dengan sengaja, sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku kearah yang lebih maju.
Bahasa Jawa merupakan salah satu sarana untuk berkomunikasi. Mata pelajaran bahasa Jawa disekolah mencakup (1)
Mendengarkan, mampu mendengarkan dan memahami ragam
wacana lisan melalui mendengarkan pesan langsung, cerita wayang, drama, dan ungkapan teman tentang kegembiraan, (2) Berbicara, mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan, dengan ragam bahasa tertentu, (3) Membaca, mampu membaca dan memahami ragam teks bacaan dengan berbagai teknik membaca cepat, membaca bersuara, membaca indah, membaca huruf jawa, (4) Menulis, mampu menulis karangan dengan pikiran dalam berbagai ragam bahasa jawa dan jenis karangan tertentu sesuai kaidah bahasa, dan (5) Apresiasi sastra, mampu mengapresiasi susastra Jawa (Sumber : SD Kristen 1 dan 2).
Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar bahasa Jawa adalah hasil kegiatan belajar bahasa Jawa yang dicapai oleh seseorang siswa dalam jangka waktu tertentu berdasarkan sejauh mana siswa mampu menguasai materi pelajaran
13
bahasa Jawa yang diajarkan dan tercantum dalam buku rapor sekolah.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Azwar (2002, h. 165) mengemukakan keberhasilan dalam belajar dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersumber dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal) diri individu yaitu:
a. Faktor Internal
Faktor yang berasal dari dalam diri individu antara lain: 1) Fisik meliputi panca indera dan kondisi fisik umum . 2) Psikologis meliputi:
a) Variabel nonkognitif antara lain minat, motivasi, dan variabel-variabel kepribadian.
b) Kemampuan kognitif antara lain bakat dan inteligensi. b. Faktor Eksternal
Faktor dari luar diri individu antara lain:
1) Fisik meliputi kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran, dan kondisi lingkungan belajar.
2) Sosial meliputi dukungan sosial dan pengaruh budaya.
Sejalan dengan pendapat diatas, Ahmadi dan Supriyono (2003, h. 138) menggolongkan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menjadi dua yaitu faktor eksternal dan faktor internal yaitu: a. Faktor Internal
1) Faktor jasmaniah meliputi: penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dll.
14
2) Faktor psikologis terdiri atas:
a) Faktor intelektif yang meliputi: faktor potensial yaitu kecerdasan, bakat dan faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki.
b) Faktor non intelektif yaitu: unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri, kesabaran, dan kecemasan.
c) Faktor kematangan fisik maupun psikis b. Faktor Eksternal
1) Faktor sosial yang terdiri dari lingkungan keluarga dan orangtua, lingkungan sekolah dan guru, lingkungan masyarakat dan lingkungan kelompok.
2) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian.
3) Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, dan iklim.
4) Faktor lingkungan spiritual atau keamanan.
Sedangkan menurut Crow dan Crow (dalam Ratnawati, 1996, h. 207) prestasi belajar dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
a. Faktor Organisme
1) Fungsi alat-alat indera
Orang mengenal dunia sekitarnya dan belajar dengan mempergunakan panca inderanya. Berfungsinya alat indera
15
dengan baik merupakan syarat yang memungkinkan belajar itu berlangsung dengan baik.
2) Kesehatan
Kesehatan merupakan faktor yang juga penting dalam mencapai prestasi belajar. Untuk dapat belajar dengan baik, bisa berkonsentrasi optimal, faktor kesehatan perlu dipelihara dengan sebaik-baiknya. Beberapa penyakit yang kronis akan sangat menggangu aktivitas belajar
b. Faktor Psikologis 1) Inteligensi
Inteligensi merupakan kecakapan yang bersifat potensial, sedangkan prestasi belajar merupakan kecakapan aktual atau hasil nyata dari proses belajar. Taraf kecerdasan (inteligensi) yang dimiliki individu akan menentukan atau mempengaruhi prestasi belajar yang dicapainya. Individu dengan taraf kecerdasan tinggi, diharapkan memiliki prestasi yang tinggi pula. Sebaliknya, individu dengan taraf kecerdasan yang rendah, diperkirakan memiliki prestasi yang rendah pula. Namun tidak menutup kemungkinan terjadinya perbedaan antara taraf kecerdasan dengan prestasi belajar yang berhasil dicapai individu.
2) Kepribadian
Faktor pribadi seseorang turut pula memegang peranan dalam pencapaian prestasi belajar. Tiap-tiap individu
16
mempunyai sifat-sifat kepribadiannya masing-masing yang berbeda antara seorang dengan yang lain.
3) Motif berprestasi
Tingkah laku yang didorong oleh motif berprestasi selalu diarahkan pada usaha untuk mengerjakan seseuatu dengan sebaik mungkin
c. Faktor Lingkungan 1) Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah ini menyangkut sejauh mana sekolah dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa dalam berprestasi di sekolah, meliputi fasilitas yang disediakan, hubungan antara siswa dengan guru, hubungan antara siswa itu sendiri. Apabila itu semua terjalin dengan harmonis, maka siswa akan memperoleh iklim belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, siswa akan terdorong untuk terus-menerus meningkatkan prestasi belajarnya.
2) Lingkungan masyarakat
Lingkungan sekitar yang banyak memberikan rangsangan intelektual, akan membantu meningkatkan prestasi belajarnya, seperti media massa, teman bergaul, kegiatan masyarakat dan pola hidup lingkungan.
3) Lingkungan keluarga
Suasana keluarga yang harmonis, hangat, dan memberikan rasa aman, akan membuat anak merasa bebas
17
bereksplorasi. Seorang anak yang diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri dan berhasil akan merasa tertantang untuk dapat meraih prestasi yang lebih baik. Sebaliknya suasana keluarga yang kurang harmonis dalam keluarga dapat menimbulkan gangguan-gangguan emosional seperti ketegangan atau konflik dalam diri siswa. Keadaan ini dapat menyebabkan berkurangnya perhatian siswa, sehingga daya konsentrasi siswa menurun.
Selain yang telah disebutkan diatas, Mujiono (1995, h.10) mengemukakan faktor internal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar adalah harapan-harapan, kebiasaan belajar dan persepsi.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi faktor jasmaniah dan faktor psikologis. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor sosial, faktor budaya, faktor lingkungan fisik, dan lingkungan spiritual atau keamanan yang kemudian dikaitkan dengan mata pelajaran bahasa Jawa.
3. Pengukuran Prestasi Belajar
Pengukuran prestasi belajar bahasa Jawa diperoleh melalui, nilai-nilai ulangan harian, nilai ujian tengah semester, nilai ujian semester, maupun cara-cara penilaian lainnya. Nilai yang diperoleh tersebut kemudian dioperasionalisasikan dalam bentuk nilai rapor
18
sebagai hasil dari prestasi belajar siswa. Adapun nilai rapor diperoleh dengan rumus (sumber: SD Kristen 1 dan 2):
Keterangan:
NR: Nilai Rapor
RNT : Rata-rata nilai Tugas
RNUH: Rata-rata Nilai Ulangan Harian NUTS : Nilai Ujian Tengah Semester NUAS : Nilai Ujian Akhir Semester
B. Persepsi terhadap Kompetensi Guru
1. Pengertian Persepsi terhadap Kompetensi Guru
Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus-menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan melalui panca indera (Slameto, 2010, h. 120). Cara seseorang dalam menanggapi rangsang yang datang tidaklah sama, sehingga tingkah laku dan sikap individu terhadap suatu obyek tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Irwanto (2002, h. 71) menjelaskan persepsi sebagai proses penerimaan rangsang yang disebut penginderaan (sensation),
19
bukan sekedar dari hasil pengindraan itu tetapi pengertian kita akan lingkungan atau dunia sekitar.
Sejalan dengan pendapat Irwanto, Robbins (2008, h.175) mengatakan bahwa persepsi sebagai proses dimana individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris guna memberikan arti bagi lingkungan. Persepsi menurut Winardi (2004, h. 204), meliputi aktivitas menerima stimuli, mengorganisasi stimuli tersebut dan menerjemahkan atau menafsirkan stimuli yang terorganisasi tersebut sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.
Kompetensi biasanya diartikan sebagai seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan (UU RI No. 14 Tahun 2005 dalam Yamin; Maisah, 2010, h. 6). Sedangkan Abdul Majid (dalam Yamin; Maisah, 2010, h. 7) mendefinisikan kompetensi guru adalah suatu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penugasan pengetahuan dan berperilaku layaknya seorang guru untuk menduduki jabatan fungsional sesuai bidang tugas, kualifikasi, dan jenjang pendidikan Dijabarkan lebih sederhana oleh Samana (dalam Yamin; Maisah, 2010, h. 7) kompetensi guru adalah kemampuan yang ditampilkan oleh guru dalam melaksanakan kewajibannya memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.
Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi terhadap kompetensi guru adalah proses mengorganisasi,
20
menginterpretasikan informasi yang diterima berdasarkan rangsangan yang diperoleh individu melalui indera-indera dan memberikan arti berdasarkan stimulus yang diperoleh berdasarkan kecakapan dan kemampuan guru dalam menyampaikan materi pelajaran khususnya dalam mata pelajaran bahasa Jawa.
2. Aspek-aspek Persepsi terhadap Kompetensi Guru
Walgito (dalam Khairani, 2006, h. 16) mengemukakan tiga aspek-aspek persepsi yaitu:
a. Kognisi, yaitu menyangkut pengenalan, cara mendapatkan pengetahuan atau cara berpikir dan pengalaman masa lalu. Hal ini berpengaruh pada pandangan individu terhadap sesuatu berdasarkan dari keinginan atau dari cara individu tersebut memandang sesuatu berdasar pengalaman dari yang pernah didengar atau dilihat sehari-hari.
b. Afeksi, adalah perasaan individu. Pendidikan moral dan norma yang diperoleh sejak kecil menjadi landasan individu dalam mempersepsi sekitarnya.
c. Konasi, yaitu, motif, sikap, perilaku, dan aktivitas. Pandangan individu terhadap sesuatu yang berhubungan dengan motif atau tujuan timbulnya perilaku yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejalan dengan pendapat Walgito, Indrawijaya (dalam Swargarini 2000, h. 30-31) mengemukakan tiga aspek persepsi adalah sebagai berikut:
21
a. Kognisi. Didalam mengorganisasikan, menafsirkan, dan memberi arti pada suatu rangsang, manusia menggunakan panca inderanya. Hal tersebut melalui proses melihat, meraba, dan mencium yang dapat terjadi secara terpisah atau bersamaan. Otak akan melakukan persepsi berdasarkan informasi yang diterima oleh panca indera.
b. Proses belajar. Belajar adalah proses yang membuat informasi yang diterima melalui proses perseptual menjadi mempunyai arti dan makna dalam pemilihan tindakan.
c. Proses pemecahan masalah. Individu selalu dihadapkan pada pengambilan keputusan yang juga menentukan tindakan. Ada dua hal penting dalam proses pemecahan masalah yaitu:
1) Pentingnya informasi yang tepat merupakan bagian penting dalam pemecahan masalah. Adanya informasi yang tepat akan mempermudah individu memilih alternatif pemecahan masalah
2) Pelaksanaan pemecahan masalah berdasarkan informasi yang tepat, individu akan lebih mudah untuk melaksanakan alternatif pemecahan masalah.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, aspek-aspek persepsi adalah kognisi, afeksi, konasi, proses belajar, dan proses pemecahan masalah. Dari aspek-aspek persepsi, penulis menggunakan aspek menurut Walgito yaitu kognisi, afeksi dan konasi yang dikaitkan dengan aspek kompetensi guru, untuk menyusun skala persepsi terhadap kompetensi guru.
22
Depdiknas (dalam Damayanti, 2008, h. 25-31) menjabarkan dalam perspektif psikologi pendidikan, mengajar pada prinsipnya berarti proses perbuatan guru yang membuat siswa belajar, dalam arti mengubah seluruh dimensi perilakunya. Dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, guru dituntut memiliki keanekaragaman kecakapan (kompetensi) yang meliputi:
a. Kompetensi Kognitif
Terkait dengan tugas dan tanggung jawab profesi sebagai guru, maka kompetensi kognitif tersebut merupakan pengetahuan mencakup: (a) kategori pengetahuan kependidikan dan keguruan; serta (b) kategori bidang studi. Pengetahuan kependidikan meliputi: ilmu pendidikan, psikologi pendidikan, psikologi perkembangan anak, psikologi sosial dan administrasi pendidikan. Sedangkan pengetahuan keguruan meliputi: metode mengajar, kajian kurikulum, media pembelajaran, teknik evaluasi dan ketrampilan mengajar.
Pengetahuan bidang studi bahasa Jawa meliputi penguasaan guru atas materi pokok-materi pokok untuk mencapai standar kompetensi atau kompetensi dasar yang telah dirumuskan pada kurikulum bahasa Jawa.
b. Kompetensi Afektif
Kompetensi afektif yang paling berkaitan dengan profesi keguruan, meliputi (a) konsep diri (self-concept) dan harga diri (self esteem), (b) efikasi diri (self-efficacy) dan efikasi
23
kontekstual (contextual-efficacy), serta (c) sikap penerimaan terhadap diri sendiri (self-acceptance attitude) dan orang lain.
Konsep diri guru seluruh totalitas sikap dan persepsi seorang guru terhadap diri sendiri. Guru yang memiliki konsep diri yang tinggi cenderung memberikan peluang kepada siswa untuk berkreasi dibandingkan dengan guru yang memiliki konsep diri rendah.
Harga diri diartikan sebagai tingkat pandangan dan penilaian seorang guru mengenai dirinya sendiri berdasarkan prestasinya. Guru yang memiliki konsep diri yang tinggi umumnya memiliki harga diri yang tinggi pula. Hal ini membuat guru mempunyai keberanian mengajak dan mendorong para siswanya agar lebih maju, karena disadari oleh keyakinan terhadap prestasi akademik yang dimilikinya.
Efikasi diri merupakan keyakinan guru terhadap keefektifan kemampuannya sendiri dalam membangkitkan gairah dan kegiatan pada siswanya. Efikasi kontekstual merupakan kemampuan guru dalam berurusan dengan keterbatasan faktor di luar dirinya ketika mengajar. Guru tidak hanya yakin akan kemampuannya melainkan juga dalam hal memanipulasi atau mendayagunakan keterbatasan ruang, waktu dan peralatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar.
Sikap penerimaan terhadap diri sendiri adalah segala rasa seorang guru dalam berkecenderungan positif atau negatif terhadap dirinya sendiri berdasarkan penilaian yang lugas atas
24
bakat dan kemampuannya. Sikap penerimaan terhadap diri sendiri pada umumnya secara psikologis berpengaruh terhadap sikap penerimaan kepada orang lain.
c. Kompetensi Psikomotor
Kompetensi ini meliputi ketrampilan yang bersifat jasmaniah yang pelaksanaannya berhubungan dengan tugasnya selaku pengajar. Ketrampilan mengajar mencakup ketrampilan ekspresi verbal (pernyataan lisan) dan non verbal (tindakan) tertentu dalam merefleksikan guru ketika mengelola proses belajar mengajar. Dalam merefleksikan ekspresi verbal guru sangat diharapkan terampil, fasih dan lancar berbicara, baik ketika menyampaikan meteri pelajaran maupun menjawab pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Ketrampilan ekspresi nonverbal meliputi mendemonstrasikan materi pelajaran, memperagakan materi dengan alat peraga, mengoperasikan media pembelajaran, menulis dan membuat gambar di papan tulis.
Standar kompetensi tersebut kemudian disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 dan Undang-undang Guru dan Dosen No 14 tahun 2005 (dalam Yamin; Maisah, 2010, h. 8-12) dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi: a. Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta
didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
25
b. Kompetensi kepribadian meliputi kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.
c. Kompetensi profesional meliputi kemampuan penugasan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.
d. Kompetensi sosial meliputi kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali, peserta didik dan masyarakat sekitar.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan kompetensi guru meliputi kompetensi kognitif, kompetensi afektif, kompetensi psikomotor, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Penulis mengacu pada aspek kompetensi guru menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (bab VI pasal 28 ayat 3), untuk membuat skala persepsi terhadap kompetensi guru. Dalam penelitian ini aspek-aspek kompetensi guru akan dikaitkan dengan aspek-aspek persepsi menurut Walgito.
C. Dukungan Sosial Orang Tua
1. Pengertian Dukungan Sosial Orangtua
26
Sarafino (2008, h. 88) mendefinisikan dukungan sosial sebagai perasaan nyaman, diperhatikan, penghargaan atau bantuan yang diterima berasal dari orang lain atau kelompok. Sejalan dengan pendapat di atas Taylor (2003, h. 235) menjelaskan bahwa tersedianya dukungan sosial membuat individu merasa dicintai, diperhatikan, dihargai, dan menjadi bagian dari kelompok.
Sejalan dengan beberapa pendapat diatas Levin, Basham, dan Sarason (dalam Marliyah, Fransisca, Tommy, 2004, h. 64) mendefinisikan dukungan sosial sebagai tersedianya orang lain yang dapat kita percaya, menunjukkan sikap mau peduli, menghargai dan mencintai kita. Berbeda dengan pendapat diatas, Gottlieb (dikutib Smet, 1994, h. 64) menjelaskan bahwa dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasihat verbal dan nonverbal bantuan nyata, atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena kehadiran orang yang mendukung serta hal ini mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku penerima.
Dukungan sosial dapat berasal dari banyak sumber seperti orang-orang yang dicintai, keluarga, teman, dokter atau rekan kerja Sarafino (2008, h. 88). Taylor (2003, h. 235) menjelaskan dukungan sosial juga dapat diperoleh melalui pasangan suami-istri, anggota keluarga yang lain, dari teman, profesional, komunitas atau masyarakat.
Menurut Rodin dan Sayless (dalam Maulia, 2006, h. 48) menjelaskan bahwa dukungan keluarga merupakan elemen penting dalam dukungan sosial karena keluarga merupakan tempat pertama
27
dalam pertumbuhan dan perkembangan seseorang, yang akan memenuhi kebutuhan awal fisik dan psikologis individu.
Orangtua merupakan individu dewasa yang paling dekat dengan anak, sehingga peran dukungan sosial keluarga, khususnya orangtua sangat diperlukan oleh anak. Dukungan sosial orangtua akan berfungsi sebagai faktor protektif bagi anak, yaitu sebagai faktor yang melindungi, menyangga, dan meringankan anak. Anak yang mendapatkan dukungan sosial dari orangtua cenderung akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan (Dalton dalam Anies, 2008, h. 32).
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial orangtua adalah bantuan yang diberikan oleh orangtua kepada anak yang terdiri dari informasi baik verbal maupun nonverbal yang mencakup satu atau lebih aspek informasi, instrumental, emosional, dan penghargaan yang diterima oleh anak, yang membuat anak merasa dicintai, diperhatikan, dihargai, dan menjadi bagian dari keluarga.
2. Jenis Dukungan Sosial Orangtua
House (dalam Smet, 1994, h.136) mengemukakan empat jenis dukungan sosial yaitu:
a. Dukungan emosional: mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan.
b. Dukungan penghargaan: terjadi lewat ungkapan hormat (penghargaan) positif untuk orang itu, dorongan maju atau
28
persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang itu dengan orang-orang lain.
c. Dukungan instrumental: mencakup bantuan langsung, seperti kalau orang-orang memberi pinjaman uang kapada orang itu atau menolong dengan pekerjaan pada waktu mengalami stress.
d. Dukungan informatif: mencakup memberi nasehat, petunjuk-petunjuk, saran-saran atau umpan balik.
Sejalan dengan pendapat menurut House, Sarafino (2008, h.88-89) menambahkan dukungan sosial yaitu Companionship support (Dukungan persahabatan/ jejaring sosial). Dukungan yang menimbulkan perasaan memiliki pada individu karena menjadi anggota didalam kelompok. Dalam hal ini individu dapat membagi minat serta aktivitas sosialnya, sehingga individu merasa dirinya dapat diterima oleh kelompok tersebut.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, jenis-jenis dukungan sosial adalah dukungan informatif, dukungan instrumental, dukungan penghargaan, dukungan emosional, dan dukungan jejaring sosial. Penulis menggunakan jenis dukungan menurut House yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informatif yang kemudian dukungan sosial dikaitkan dengan orangtua, karena jenis dukungan ini lebih sesuai jika dikaitkan dengan dukungan sosial yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya dalam hal membantu anak untuk lebih menyukai dan memahami suatu mata pelajaran tertentu.
29
D. Hubungan antara Persepsi terhadap Kompetensi Guru dan
Dukungan Sosial Orangtua dengan Prestasi Belajar Bahasa Jawa
Lingkungan sekolah memiliki peranan dalam mengembangkan kemampuan anak didiknya. Prestasi belajar seorang siswa dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah persepsi terhadap kompetensi guru. Persepsi siswa mengenai kompetensi guru merupakan penilaian terhadap sikap guru selama proses belajar mengajar seperti cara menyampaikan materi pelajaran dengan jelas dan menarik. Hal serupa diungkapkan oleh Soeryabrata (dalam Muryono, 2000, h. 249) lingkungan sekolah terutama guru memegang peranan penting selain mengajar guru juga dihadapkan pada tugas yang lain yaitu membimbing dan mengelola kelas (Muryono, 2000, h. 248).
Kompetensi guru adalah kecakapan atau keahlian khusus yang diperlukan dalam melaksanakan jabatan atau profesinya, yang pekerjaan utamanya adalah mengajar (Depdiknas dalam Damayanti, 2008, h. 25). Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Kompetensi-kompetensi tersebut harus dimiliki oleh guru sebagai bekal dalam proses belajar mengajar. Pandangan Rober (dalam Yamin dan Maisah, 2010, h. 3) menjelaskan bahwa kompetensi dan ketrampilan guru mempengaruhi usaha seseorang dalam mencapai prestasi belajar. Lebih lanjut dijelaskan bahwa prestasi tergantung pada kombinasi yang tepat dari usaha, kompetensi dan ketrampilan guru.
30
Kompetensi-kompetensi guru tersebut mencakup menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran tersebut, metode mengajar guru seperti persiapan dan penguasaan bahan pelajaran, penyajian materi pelajaran dengan jelas. Selain metode pengajaran dan penguasaan materi yang tidak kalah penting adalah guru mampu mendalami siswa dengan baik, dan guru mampu berinteraksi dengan siswa secara akrab. Kompetensi-kompetensi tersebut dapat mempengaruhi proses belajar-mengajar dan dapat mempengaruhi senang atau tidaknya siswa terhadap pelajaran atau gurunya (Slameto, 2010, h. 65-66).
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Muryono tentang pengaruh persepsi terhadap prestasi belajar diperoleh hasil yang signifikan antara persepsi siswa tentang tugas guru terhadap prestasi belajar siswa. Persepsi yang positif akan memudahkan siswa menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut (2000, h. 252).
Ditambahkan oleh Hamalik (dalam Sa’adah, 2002, h.36) proses pembelajaran dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah, pola, struktur dan isi kurikulumnya, akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing mereka. Guru yang kompeten yang akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga prestasi belajar para siswa berada pada tingkat optimal. Sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa profil kompetensi guru sangat berpengaruh besar terhadap prestasi siswa.
31
Milgram (Muryono, 2000, h. 250) mengatakan bahwa pengetahuan, sikap, dan karakteristik guru yang berhubungan dengan proses belajar mengajar dapat mempengaruhi perilaku, penilaian, atau persepsi, dan hal ini mempengaruhi tinggi rendahnya semangat dan gairah belajar siswa. Bila timbul rasa tidak senang terhadap pribadi pengajar, biasanya siswa menjadi tidak senang terhadap mata pelajaran yang diajarkannya (Muryono, 2000, h. 247). Hurlock menjelaskan sikap anak sangat dipengaruhi oleh menarik atau tidaknya cara guru menyajikan bahan yang dipelajari (2002, h. 168).
Seperti telah diuraikan diatas prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh persepsi terhadap kompetensi guru akan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor dukungan sosial. Dukungan sosial dapat berasal dari banyak sumber seperti teman sebaya, rekan kerja, keluarga, dan masih banyak lagi. Keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi belajar, cara orangtua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga menjadi pengaruh yang cukup besar dalam lingkungan keluarga (Slameto, 2010, h. 60).
Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Relasi antar anggota keluarga yang terpenting adalah relasi orangtua dan anaknya. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapatlah dipahami pentingnya peranan keluarga dalam pendidikan anak. (Slameto, 2010, h. 61-62). Hurlock (2002, h.170) menjelaskan sikap anak terhadap sekolah sangat dipengaruhi oleh hubungan dengan anggota keluarga. Hubungan
32
keluarga yang sehat dan bahagia menimbulkan dorongan untuk berprestasi.
Keterlibatan keluarga melalui dukungan sosial orangtua kepada anak, akan berperan sangat penting dalam membantu anak untuk meraih prestasi belajar yang tinggi. Dukungan sosial yang diberikan orangtua dapat membantu anak untuk dapat lebih memahami dan menyenangi suatu mata pelajaran. Dukungan sosial memiliki beberapa jenis yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informasi. Dukungan tersebut memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap prestasi belajar.
Dukungan emosional yang anak rasakan dapat membuat anak lebih bersemangat dalam belajar, sehingga dapat memotivasi siswa untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik. Pada dukungan penghargaan membuat anak merasa bahwa orangtua merespon positif untuk keberhasilan nilai baik yang dicapai ketika memperoleh nilai yang baik atau prestasi belajar yang baik dan juga akan memberikan dorongan untuk terus berusaha ketika mengalami kegagalan dalam pencapaian prestasi. Perasaan ini dapat mendorong siswa untuk berusaha lebih dalam mencapai prestasi belajar disekolah sebagai respon dalam membalas dukungan yang diberikan oleh orangtua.
Pada dukungan informasi yang diperoleh anak ketika menemui kesulitan dalam memahami materi-materi pelajaran. Orangtua dapat memberikan pengertian-pengertian atau dapat menjelaskan lebih terperinci untuk memudahkan anak dalam memahami materi pembelajaran lebih baik lagi. Ketiga dukungan diatas disertai dengan
33
dukungan instrumental maka akan lebih berpengaruh pada prestasi belajar. Ketersediaan dukungan instrumen ini dapat memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak dalam menunjang akademiknya seperti pembelian buku-buku yang dapat membantu proses belajar, mengikuti les-les yang dapat membantu anak memahami lebih dalam mengenai materi yang diberikan oleh guru dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam dukungan instrumen ini.
Dukungan-dukungan sosial orangtua tersebut diperkuat dengan pendapat dari Slameto (2010, h. 61 - 64) yang mengungkapkan anak dalam belajar perlu dorongan dan pengertian orangtua. Orangtua yang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anak, misalnya acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan sarana belajar, tidak memperhatikan anaknya belajar atau tidak, tidak mau tahu perkembangan belajar anaknya dan kesulitan-kesulitan yang dialami dan lain-lain, dapat menyebabkan anak kurang berhasil dalam belajarnya. Selain itu hubungan yang penuh pengertian dan kasih sayang, disertai bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman dan penghargaan-penghargaan untuk menyukseskan belajar anak sendiri.
Persepsi terhadap kompetensi guru dan besarnya dukungan sosial orangtua yang diterima oleh anak sebagai bantuan dapat berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa, sehingga semakin tinggi dukungan sosial orangtua dan persepsi terhadap kompetensi guru maka semakin tinggi pretasi belajar siswa dan sebaliknya.
34
E. Hipotesis
Berdasarkan uraian teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Hipotesis Mayor
Ada hubungan antara persepsi terhadap kompetensi guru dan dukungan sosial orangtua dengan prestasi belajar bahasa Jawa.
2. Hipotesis Minor:
a. Ada hubungan positif antara persepsi terhadap kompetensi guru dengan prestasi belajar bahasa Jawa. Semakin tinggi persepsi terhadap kompetensi guru, semakin tinggi prestasi belajar bahasa Jawa dan sebaliknya, semakin rendah persepsi terhadap kompetensi guru semakin rendah prestasi belajar bahasa Jawa. b. Ada hubungan positif antara dukungan sosial orangtua dengan
prestasi belajar bahasa Jawa. Semakin tinggi dukungan sosial orangtua, semakin tinggi prestasi belajar bahasa Jawa dan sebaliknya, semakin rendah dukungan sosial orangtua semakin rendah prestasi belajar bahasa Jawa.
35
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Untuk menguji hipotesis penelitian, akan dilakukan pengidentifikasian variabel-variabel yang diambil dalam pelaksanaan penelitian ini. Adapun variabel yang digunakan yaitu:
1. Variabel Tergantung : Prestasi Belajar Bahasa Jawa
2. Variabel Bebas : Persepsi terhadap Kompetensi Guru Dukungan Sosial Orangtua
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian
1. Prestasi belajar bahasa Jawa
Prestasi belajar bahasa Jawa adalah hasil kegiatan belajar bahasa Jawa yang dicapai oleh seseorang siswa dalam jangka waktu tertentu berdasarkan sejauh mana siswa mampu menguasai materi pelajaran bahasa Jawa yang diajarkan dan tercantum dalam buku rapor sekolah. Data mengenai prestasi belajar bahasa Jawa diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi, yaitu berupa nilai mata pelajaran bahasa Jawa yang tercantum dalam nilai rapor siswa kelas lima semester satu pada tahun ajaran 2009/2010. Semakin tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan bahwa siswa memiliki prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya.
36
2. Persepsi terhadap Kompetensi Guru
Persepsi terhadap kompetensi guru adalah proses mengorganisasi, menginterpretasikan informasi yang diterima berdasarkan rangsangan yang diperoleh individu melalui indera-indera dan memberikan arti berdasarkan stimulus yang diperoleh berdasarkan kecakapan dan kemampuan guru dalam menyampaikan materi pelajaran khususnya dalam mata pelajaran bahasa Jawa.
Persepsi terhadap kompetensi guru dalam penelitian ini akan diungkap dengan menggunakan skala yang disusun oleh peneliti berdasar aspek persepsi menurut Walgito yaitu kognisi, afeksi, dan konasi yang akan dikaitkan dengan kompetensi guru menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (bab VI pasal 28 ayat 3) yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Skala persepsi terhadap kompetensi guru akan diisi oleh anak berdasarkan persepsi siswa terhadap kompetensi guru. Semakin tinggi skor yang diperoleh menunjukkan semakin tinggi persepsi terhadap kompetensi guru dan sebaliknya.
3. Dukungan Sosial Orangtua
Dukungan sosial orangtua adalah bantuan yang diberikan oleh orangtua kepada anak yang terdiri dari informasi baik verbal maupun nonverbal yang mencakup satu atau lebih aspek informasi, instrumental, emosional, dan penghargaan yang diterima oleh anak,
37
yang membuat anak merasa dicintai, diperhatikan, dihargai, dan menjadi bagian dari keluarga.
Dukungan sosial orangtua dalam penelitian ini akan diungkap dengan menggunakan skala dukungan sosial yang dibuat oleh peneliti berdasar jenis-jenis dukungan sosial menurut House, yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informatif. Skala dukungan sosial diisi oleh anak berdasarkan dukungan sosial yang diterima anak. Semakin tinggi skor yang diperoleh menunjukkan semakin tinggi dukungan sosial orangtua yang diterima anak dan sebaliknya.
C. Subyek Penelitian
Populasi penelitian merupakan faktor utama yang harus ditentukan sebelum melakukan penelitian dan tujuan menghindari kesalahan generalisasi dalam mengambil keputusan. Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas lima Sekolah Dasar Kristen 1 dan 2. Penelitian dengan mengambil semua elemen yang ada dalam populasi disebut dengan studi populasi atau studi sensus (Arikunto, 2002, h. 108). Pada studi populasi subyek penelitian ini meliputi semua individu yang terdapat dalam populasi, dengan kata lain dalam penelitian ini tidak digunakan sampel. Adapun alasan penggunaan studi populasi adalah jumlah subyek yang tidak terlalu banyak atau terbatas. Populasi dalam penelitian ini adalah:
1. Kelas V SD Kristen 1 dan 2 Purwodadi
2. Memiliki kapasitas inteligensi minimal berada di Grade III
38
Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar bahasa Jawa adalah inteligensi. Inteligensi merupakan suatu kemampuan yang dimiliki individu untuk berpikir logis, cakap, dalam pengamatan ruang, mampu untuk mencari dan mengerti hubungan antara keseluruhan dan bagian-bagain termasuk kemampuan menganalisa, kemampuan integrasi dan kemampuan berpikir secara analogi. Pengukuran tingkat inteligensi dalam penelitian ini menggunakan tes inteligensi CPM (Coloured Progressive Matrices). Alasan penggunaan tes CPM adalah tes ini dapat digunakan secara individual maupun klasikal, tes ini dirancang untuk menangkap taraf kecerdasan anak usia 5 sampai 11 tahun (Sumber: Laboratorim Psikodiagnostik). Selain itu, tes CPM didesain dengan penuh warna dan menarik untuk memberikan kesan positif dan mempertahankan motivasi terutama untuk anak-anak.
D. Metode Pengumpulan Data
1. Metode Dokumentasi
Prestasi belajar sebagai variabel tergantung diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi. Arikunto (2002, h. 236) menjelaskan metode dokumentasi sebagai metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, notulen, agenda, surat kabar dan sebagainya. Diperkuat dengan pendapat Sukmadinata (dalam Tairas, 2008, h.33) metode dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara
39
menggunakan dokumen atau catatan pribadi maupun laporan tertulis dari peristiwa-peristiwa yang lalu.
Penelitian ini menggunakan dokumentasi rapor untuk memperoleh data-data mengenai prestasi belajar siswa selama mengikuti proses belajar di sekolah. Data prestasi belajar yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah nilai mata pelajaran Bahasa Jawa yang tercantum dalam rapor siswa yaitu rapor siswa kelas lima Sekolah Dasar Kristen 1 dan 2 semester 1 tahun ajaran 2009/2010.
2. Metode Skala
a. Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru
Skala persepsi digunakan untuk mengukur persepsi subyek terhadap kompetensi guru. Skala persepsi terhadap kompetensi guru disusun sendiri oleh penulis dengan mengadopsi aspek persepsi menurut Walgito yaitu aspek kognisi, afeksi, dan konasi yang akan dikaitkan dengan aspek kompetensi guru menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (bab VI pasal 28 ayat 3) yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.
Skala untuk mengukur persepsi terhadap kompetensi guru terdiri dari 3 aspek persepsi dan 4 kompetensi guru sehingga total keseluruhan skala berjumlah 36 butir item. Item-item tersebut berupa pernyataan favorable. Subyek memilih salah satu dari 4
40
jawaban berdasarkan pertimbangan subyektifnya. Pilihan jawaban untuk setiap nomor item adalah sama yaitu terdiri dari:
SS : Sangat Sesuai S : Sesuai TS : Tidak Sesuai STS : Sangat Tidak Sesuai
Tabel 1
Blue print skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru
Aspek Item
Persepsi
Kompetensi Kognisi Afeksi Konasi
Jumlah Item
Pedagogik 4 3 2 9
Profesional 4 3 2 9
Kepribadian 4 3 2 9
Sosial 4 3 2 9
Jumlah 16 12 8 36
b. Dukungan Sosial Orangtua
Skala dukungan sosial digunakan untuk mengukur dukungan sosial orangtua. Skala dukungan sosial orangtua disusun sendiri oleh penulis dengan mengadopsi jenis-jenis dukungan sosial menurut House yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informatif.
Skala untuk mengukur dukungan sosial terdiri dari 4 jenis dukungan sosial yang total keseluruhan skala berjumlah 20 butir item. Item-item tersebut berupa pernyataan favorable. Subyek
41
memilih salah satu dari 4 jawaban berdasarkan pertimbangan subyektifnya. Pilihan jawaban untuk setiap nomor item adalah sama yaitu terdiri dari:
SS : Sangat Sesuai S : Sesuai TS : Tidak Sesuai STS : Sangat Tidak Sesuai
Tabel 2
Blue print skala Dukungan Sosial Orangtua
Aspek Jumlah Item
Dukungan emosional 5
Dukungan instrumental 5
Dukungan penghargaan 5
Dukungan informatif 5
Jumlah 20
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
1. Validitas Alat Ukur
Validitas mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur, yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Azwar, 2007, h.5-6).
Uji validitas item menggunakan korelasi product moment dari Karl Pearson. Untuk menghindari over estimate (kelebihan bobot), koefisien korelasi skor item dengan skor total perlu dikoreksi lagi
42
dengan menggunakan teknik korelasi part whole. Keseluruhan perhitungan validitas dalam penelitian ini dikerjakan dengan menggunakan alat bantu komputer dan program Statistical Packages for Social Sciences for Windows Release 13.0.
2. Reliabilitas Alat Ukur
Reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya atau diandalkan (Azwar, 2007, h.4). Adapun untuk mengetahui reliabilitas skala persepsi terhadap kompetensi guru dan skala dukungan sosial orangtua digunakan teknik koefisiensi Alpha Cronbach dengan menggunakan perangkat program Statistical Packages for Social Sciences for Windows Release 13.0.
F. Metode Analisis Data
Metode analisis data adalah cara yang digunakan dalam mengolah dan menganalisis data yang diperoleh. Penelitian ini menggunakan dua metode analisis data untuk menguji hipotesis, yaitu:
1. Analisis Regresi Dua Prediktor
Metode analisis regresi dua prediktor digunakan untuk menguji hipotesis mayor yaitu hubungan antara persepsi terhadap kompetensi guru dan dukungan sosial orangtua dengan prestasi belajar bahasa Jawa. Metode analisis regresi dua prediktor digunakan karena mengkorelasikan antara variabel tergantung dan dua variabel bebas yaitu persepsi kompetensi guru dan dukungan sosial orangtua, dengan data berbentuk interval.
43
2. Korelasi Product Moment
Metode analisis korelasi product moment digunakan untuk menguji hipotesis minor yaitu hubungan antara persepsi terhadap kompetensi guru dengan prestasi belajar bahasa Jawa dan hubungan antara dukungan sosial orangtua dengan prestasi belajar bahasa Jawa. Penggunaan korelasi product moment melukiskan hubungan antar dua variabel yang bergejala interval dengan menggunakan perangkat program Statistical Packages for Social Sciences for Windows Release 13.0.
44
BAB IV
PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Orientasi Kancah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Kristen 1 dan 2 Purwodadi yang terletak di jalan Pierre Tendean no 24 Purwodadi. Sekolah ini memiliki 7 ruang kelas yang terdiri dari kelas 1, kelas 2, kelas 3, kelas 4, kelas 5, kelas 6A dan kelas 6B. Tiap-tiap kelas dilengkapi dengan satu lemari kayu, satu meja guru, satu blackboard dan satu whiteboard, satu papan jadwal pelajaran, dan satu kipas angin, untuk ruang kelas lima terdapat beberapa gambar-gambar seperti perwayangan dan beberapa gambar lainnya. Ruangan kelas memiliki jendela yang kecil dan sedikit tertutup sehingga ruang kelas kurang mendapatkan udara dan cahaya. Walaupun ruang kelas sudah terdapat lampu dan kipas angin, ruang kelas masih terasa gelap dan panas.
Murid-murid yang bersekolah di SD Kristen mayoritas berada distatus sosial ekonomi menengah kebawah walaupun ada beberapa murid yang berada di status sosial ekonomi menengah keatas. Hal ini tidak berpengaruh terhadap perlakuan guru kelas kepada murid-muridnya. Sekolah ini memiliki 11 guru yang terdiri dari tujuh guru kelas, satu guru agama, satu guru bahasa inggris, satu guru olahraga, satu guru seni, satu staf Tata Usaha, satu karyawan perpustakaan dan dua penjaga keamanan.
45
Fasilitas yang dimiliki oleh sekolah ini adalah ruang komputer, perpustakaan, UKS, lapangan basket dan kantin. Sekolah ini juga memiliki berbagai ekstrakulikuler seperti renang, brige, komputer, drum band, dan lain-lain. Sekolah dengan Yayasan Pendidikan Kristen Widya Wacana ini berada dalam satu lokasi dengan Gereja Kristen Jawa. Visi SD Kristen 1 dan 2 Purwodadi adalah beriman, berbudi pekerti luhur, cerdas, terampil, berprestasi, dan mengasihi. Sejalan dengan visinya, misi SD Kristen 1 dan 2 adalah melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif untuk membantu mengembangkan diri sesuai kemampuan bakat dan minat siswa, menumbuhkembangkan sikap menghormati, mengasihi untuk membentuk budi pekerti yang terpuji, mengembangkan kemampuan agar berprestasi dalam bidang akademik, seni budaya dan olah raga dan menumbuhkan pribadi yang bangga dan cinta tanah air Indonesia.
Pertimbangan yang mendasari peneliti memilih SD Kristen 1 dan 2 Purwodadi sebagai tempat penelitian adalah:
1. Penelitian berjudul Prestasi Belajar Bahasa Jawa Ditinjau dari Persepsi terhadap Kompetensi Guru dan Dukungan Sosial Orangtua belum pernah dilakukan di SD Kristen 1 dan 2 Purwodadi.
2. Adanya permasalahan berkaitan dengan prestasi belajar terutama pada mata pelajaran bahasa Jawa.
3. Penulis telah mendapatkan ijin dari kepala sekolah untuk mengadakan penelitian
Berdasarkan pertimbangan diatas, maka peneliti memutuskan untuk mengadakan penelitian di SD Kristen 1 dan 2 Purwodadi dan
46
sebagai populasi penelitian adalah siswa-siswi SD Kristen 1 dan 2 kelas V.
B. Persiapan Penalitian
1. Penyusunan Alat Ukur
a. Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru
Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru terdiri dari 36 item yang berbentuk pernyataan favorable. Pernyataan favorable mempunyai nilai yang bergerak dari 4 ke 1. Nilai 4 untuk jawaban Sangat Sesuai (SS), nilai 3 untuk jawaban Sesuai (S), nilai 2 untuk jawaban Tidak Sesuai (TS), dan nilai 1 untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS). Adapun sebaran item skala persepsi terhadap kompetansi guru dapat dilihat pada tabel 3, sedangkan skala penelitian persepsi terhadap kompetensi guru dapat dilihat pada lampiran A-1.
Tabel 3
Sebaran Item Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru Aspek Item
Persepsi
Kompetensi Kognisi Afeksi Konasi
Jumlah Item
Pedagogik 1, 13, 25, 33 5, 17, 29 9, 21 9 Profesional 2, 14, 26, 34 6, 18, 30 10, 22 9 Kepribadian 3, 15, 27, 35 7, 19, 31 11, 23 9 Sosial 4, 16, 28, 36 8, 20, 32 12, 24 9
Jumlah 16 12 8 36
b. Skala Dukungan Sosial Orangtua
47
Skala dukungan sosial orangtua terdiri dari 20 item yang berbentuk pernyataan favorable. Pernyataan favorable mempunyai nilai yang bergerak dari 4 ke 1. Nilai 4 untuk jawaban Sangat Sesuai (SS), nilai 3 untuk jawaban Sesuai (S), nilai 2 untuk jawaban Tidak Sesuai (TS), dan nilai 1 untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS). Adapun sebaran item skala dukungan sosial orangtua dapat dilihat pada tabel 4, sedangkan skala penelitian dukungan sosial dapat dilihat pada lampiran A-2.
Tabel 4
Sebaran Item Skala Dukungan Sosial Orangtua
Aspek Jumlah Item
Dukungan emosional 1, 5, 9, 13, 17 Dukungan instrumental 2, 6, 10, 14, 18 Dukungan penghargaan 3, 7, 11, 15, 19 Dukungan informatif 4, 8, 12, 16, 20
Jumlah 20
2. Perijinan Penelitian
Sebelum pelaksanaan penelitian di Sekolah Dasar Kristen 1 dan 2 Purwodadi, peneliti mengadakan survey untuk mencari informasi terlebih dahulu, kemudian meminta izin untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut. Setelah pihak sekolah memberikan ijin peneliti untuk melakukan penelitian di SD Kristen 1 dan 2, penelitian pun dilaksanakan dan peneliti mengajukan surat ijin penelitian kepada pihak Fakultas. Pihak Fakultas memberikan surat ijin penelitian dengan tanda tangan dekan Fakultas Psikologi dengan nomor surat 945/B.7.3/FP/VI/2010 tertanggal 01 Juni 2010. Surat ijin penelitian ini diterima oleh kepala sekolah pada tanggal 5 Juni
48
2010. Kemudian bersama-sama dengan kepala sekolah dan didampingi oleh guru kelas mengatur penyebaran skala agar penyebaran skala ini tidak mengganggu jalannya kegiatan sekolah terutama kegiatan proses belajar mengajar, apalagi saat penelitian berlangsung bertepatan dengan pelaksanaan ujian semester dan class meeting. Berdasarkan hasil diskusi dengan kepala sekolah dan guru kelas penelitian diadakan pada tanggal 12 Juni 2010. Surat ijin ditujukan kepada kepala Sekolah dan dapat dilihat pada lampiran F-1.
C. Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan pengambilan data dilakukan pada tanggal 29 Mei, dan 12 Juni 2010. Pengambilan data disesuaikan dengan kegiatan belajar mengajar disekolah. Adapun cara yang digunakan untuk pengambilan data:
1. Untuk Tes Coloured Progressive Matrices
Tes Coloured Progressive Matrices dilaksanakan pada tgl 29 Mei 2010, karena adanya keterbatasan alat tes, peneliti membagi pelaksanaan tes menjadi dua sesi. Pemilihan siswa-siswi yang berada di sesi pertama atau kedua berdasarkan posisi tempat duduk, siswa-siswi yang duduk disebelah kanan masuk ke dalam sesi pertama dan yang berada disisi kiri masuk kesesi kedua. Selama sesi pertama siswa-siswi yang masuk ke sesi kedua berada diluar kelas bersama
49
guru kelas. Kemudian peneliti meminta kepada siswa-siswi untuk menyiapkan alat tulis.
Pelaksanaan tes, dimulai dengan pembagian lembar jawab CPM kepada siswa-siswi kemudian peneliti meminta siswa-siswi untuk mengisi identitas terlebih dahulu. Setelah peneliti memastikan semua siswa telah mengisi identitas, kemudian peneliti memberikan instruksi kepada siswa dan siswi. Setelah pemberian instruksi peneliti memastikan lagi bahwa siswa dan siswi sudah paham dengan instruksi yang diberikan dan peneliti menjelaskan bahwa tidak ada batasan waktu dalam pengerjaan tes ini sehingga siswa-siswi tidak mengerjakan tes dengan tergesa-gesa. Sesi pertama berjalan dari pk. 08.30 – 09.30 dan sesi ke dua pk 09.30 - 10.30.
2. Untuk Pengambilan data Skala Persepsi terhadap Kompetensi Guru dan Skala Dukungan Sosial Orangtua
Penelitian ini menggunakan try out terpakai sehingga dalam penelitian ini hanya satu kali pengambilan data baik untuk uji coba skala maupun uji hipotesis. Cara ini ditempuh peneliti karena adanya keterbatasan jumlah subyek penelitian. Kelemahan dari cara penelitian ini adalah bahwa item-item yang gugur dapat mempengaruhi item yang valid. Sebelum pelaksanaan penelitian terlebih dahulu angket diujicobakan kepada lima orang a