BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan perekonomian di Indonesia berkembang pesat beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan perusahaan manufaktur di Indonesia semakin pesat, hal tersebut dapat dilihat dari jumlah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari periode ke periode semakin bertambah banyak karena melihat adanya prospek yang menjanjikan di Indonesia.
Persaingan industri manufaktur di era perkembangan bebas ini bukan hanya bersaing dengan pengusaha lokal tetapi juga pengusaha luar negeri. Di era masa kini, perusahaan tidak hanya berfokus untuk menghasilkan produk yang bermutu bagi konsumen tetapi juga memfokuskan pada kondisi profitabilitasnya maksimal dan stabil. Karena dengan profitabilitas yang stabil maka kelangsungan hidup perusahaan dapat dipertahankan dan berkembang dengan baik. Mengingat pentingnya profitabilitas bagi perusahaan maka perusahaan dituntut agar selalu meningkatkan efisiensi kerjanya sehingga tercapai profitabilitas yang diharapkan perusahaan.
Profitabilitas adalah adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri (Sartono, 1998). Besarnya laba digunakan untuk menilai kinerja perusahaan. Perusahaan dapat memaksimalkan labanya apabila manajer keuangan mengetahui faktor-faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap profitabilitas perusahaan. Menurut Munawir dalam Arioctafianti (2007) menyatakan bahwa selain dari efisiensi pengelolaan modal kerja, profitabilitas perusahaan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti jenis, skala, umur perusahaan, struktur modal, dan produk yang dihasilkan.
dana yang dikeluarkan tersebut diharapkan dapat kembali lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu singkat melalui hasil penjualan produksinya. Karena modal kerja sebagai salah satu komponen terpenting dari aktiva yang harus dikelola dan dimanfaatkan secara efektif dan produktif, sehingga mampu meningkatkan profitabilitas perusahaan.Pengelolaan modal kerja merupakan tanggung jawab setiap manajer atau pimpinan perusahaan. Manajer harus mengadakan pengawasan terhadap modal kerja agar sumber-sumber modal kerja dapat digunakan secara efektif di masa mendatang. Manajer juga perlu mengetahui tingkat perputaran modal kerja agar dapat menyusun rencana yang lebih baik untuk periode yang akan datang. Selain manajer, kreditor jangka pendek juga perlu mengetahui tingkat perputaran modal kerja suatu perusahaan. Dengan begitu, kreditor jangka pendek akan memperoleh kepastian kapan hutang perusahaan akan segera dibayar.
Likuiditas perusahaan diperoleh dengan membandingkan antara kewajiban jangka pendek (lancar) dengan sumberdaya jangka pendek. Kewajiban jangka pendek perusahaan terdiri dari utang usaha, wesel tagih jangka pendek, utang jatuh tempo yang kurang dari setahun dan beban- beban lainnya, sedangkan sumberdaya jangka pendek terdiri atas kas, sekuritas, piutang usaha, dan persediaan.
Setyo Budi Nugroho (2011) dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa Efisiensi modal kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan modal kerja tidak berdampak pada perubahan profitabilitas. Likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, Hal ini bahwa likuiditas yang tinggi tidak selalu menguntungkan karena berpeluang menimbulkan dana-dana yang menganggur yang sebenarnya dapat digunakan untuk berinvestasi dalam proyek-proyek yang menguntungkan perusahaan (Van Horne, 1998). solvabilitas juga tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan solvabilitas tidak berdampak pada perubahan profitabilitas.
Aris Setia Noor, Berta Lestari (2012) dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa efisiensi modal kerja berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Dan Leverage juga tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.
Dari hasil yang bermacam-macam tadi, penulis ingin membuat penelitian yang menganalisis tentang pengaruh efisiensi modal kerja dan likuiditas terhadap profitabilitas.
1.2 Perumusan Masalah
a. Apakah efisiensi modal kerja memiliki pengaruh terhadap profitabilitas? b. Apakah likuiditas memiliki pengaruh terhadap profitabilitas?
1.3 Tujuan Penelitian
a. Menganalisis pengaruh efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas b. Menganalisis pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Dilihat secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan, referensi dan sumbangan pemikiran yang dapat menambah pengetahuan mengenai analisa efisieinsi modal kerja dan likuiditas dalam pengaruhnya terhadap harga saham bagi suatu perusahaan.
1.4.2 Manfaat Praktis
Selain dilihat dari manfaat teoritis, penelitian ini diharapkan juga memberikan manfaat praktis,
a. Bagi investor
Untuk membantu investor memilih perusahaan yang memiliki prospek bagus masa mendatang melalui profitabilitas.
b. Bagi Perusahaan
1.5 Kajian Teori dan Hipotesis 1.5.1 Kajian Teori
1.5.1.1 Profitabilitas
Profitabilitas menurut Riyanto (2001) adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Weston dan Copeland (1999) mengemukakan bahwa profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan. Sedangkan Sartono (2001) mendefinisikan profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri.
Setiap perusahaan selalu berusaha untuk meningkatkan profitabilitasnya. Jika perusahaan berhasil meningkatkan profitabilitasnya, dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya secara efektif dan efisien sehingga mampu menghasilkan laba yang tinggi. Sebaliknya, sebuah perusahaan memiliki profitabilitas rendah menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya dengan baik,sehingga tidak mampu menghasilkan laba tinggi.
Rasio profitabilitas adalah rasio yang bertujuan untuk mengukur efektivitas manajemen yang tercermin pada imbalan hasil dari investasi melalui kegiatan penjualan (Djarwanto, 2001). Sedangkan menurut Weston dan Brigham (1994), rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan pengaruh gabungan dari likuiditas, pengelolaan aktiva dan pengelolaan hutang terhadap hasil-hasil operasional perusahaan.
1.5.1.2 Modal Kerja
menunjukkan kemungkinan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar daripada hutang jangka pendek dan menunjukkan tingkat keamanan bagi kreditur jangka pendek serta menjamin kelangsungan usaha di masa mendatang.
Menurut konsep fungsional, modal kerja ini adalah jumlah dana yang digunakan selama periode akuntansi yang dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan jangka pendek (current income) yang sesuai dengan maksud utama didirikan perusahaan tersebut. Definisi ini didasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan.
Modal kerja ini sebaiknya tersedia dalam jumlah yang cukup agar memungkinkan perusahaan dapat beroperasi secara ekonomis dan tidak mengalami kesulitan keuangan, misalnya dapat menutupi kerugian dan mengatasi keadaan krisis tanpa membahayakan keadaan keuangan perusahaan.
Efisiensi Modal Kerja (Handoko, 1999) adalah ketepatan cara (usaha dan kerja) dalam menjalankan sesuatu yang tidak membuang waktu, tenaga, biaya dan kegunaan berkaitan penggunaan modal kerja yaitu mengupayakan agar modal kerja yang tersedia tidak kelebihan dan tidak juga kekurangan. Untuk dapat menentukan jumlah modal kerja yang efisien, terlebih dahulu diukur dari elemen- elemen modal kerja. Menurut Esra dan Apriweni (2002), dalam pengelolaan modal kerja perlu diperhatikan tiga elemen utama modal kerja, yaitu kas, piutang dan persediaan. Dari semua elemen modal kerja dihitung perputarannya. Semakin cepat tingkat perputaran masing-masing elemen modal kerja, maka modal kerja dapat dikatakan efisien. Tetapi jika perputarannya semakin lambat, maka penggunaan modal kerja dalam perusahaan kurang efisien.
a. Kas
Kas merupakan rekening giro ditambah dengan mata uang. Kas adalah aktiva yang paling liquid, selain itu kas juga merupakan aktiva yang tidak menghasilkan. Kas dibutuhkan perusahaan untuk membayar tenaga kerja, bahanbaku, melunasi utang, membeli aktiva tetap, membayar pajak, membayar deviden, dan kebutuhan lainnya. Namun kas tersbut tidak menghasilkan bunga sehingga tujuan manajemen kas adalah untuk meminimalkan jumlah kas pada titik dimana kas tersebut cukup untuk menjalankan aktivitas bisnis secara normal. Walaupun kas tidak menghasilkan bunga, tetapi John Maynard Keynes menyebutkan tiga motif untuk menahan kas, yaitu motif transaksi, motif spekulasi, dan motif berjaga- jaga
b. Sekuritas
Sekuritas merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak kepemilikan untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan atas perusahaan yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang melaksanakan hak tersebut.
Menurut Bank Indonesia, sekuritas adalah surat berharga dalam bentuk fisik (warkat) yang mempunya inilai uang yang dapat diperdagangkan di pasar uang dan atau pasar modal. Selain dengan kas, perusahaan juga memerlukan sekuritas yang dapat diperjualbelikan sebagai cadangan bagi akun kas. Jika kas yang dimiliki kurang dari yang diperlukan, maka sekuritas tersebut dapat dijual untuk memenuhi kekurangan kas. Oleh karena itu, sekuritas ini dimaksudkan sebagai pertahanan pertama atas kebutuhan operasional yang tidak diperkirakan oleh perusahaan (James Van Horne dan John M. Wachowicz, 2009).
c. Persediaan
dari aktiva lancar yang paling kurang likuid bila dibandingkan dengan aktiva lancar lainnya. Persediaan akan menimbulkan biaya, baik biaya tetap maupun biaya variabel. Biaya tersebut antara lain adalah biaya sewa gudang, biaya perawatan, biaya asuransi, biaya pengangkutan, dan lain sebagainya. Selain biaya, persediaan juga akan menimbulkan resiko yang cukup tinggi yaitu resiko hilang, resiko rusak, dll. Untuk meminimalkan biaya dan resiko, banyak perusahaan berusaha meminimalkan jumlah persediaannya. Sistem yang sering dipakai adalah Just-in-Time (JIT) yang bertujuan untuk memperoleh barang yang diperlukan tepat waktu. Sehingga perusahaan mencari atau memperoduksi barang yang diperlukan hanya pada saat diperlukan saja, dengan begitu jumlah persediaan dapat diminimalisir.
d. Piutang
Piutang merupakan hak untuk menerima sejumlah kas pada waktu yang akan datang karena kejadian yang telah terjadi di masa lalu. Piutang muncul karena adanya penjualan secara kredit, pemberian pinjaman, porsekot dalam kontrak pembelian, dll. Jumlah piutang yang dimiliki oleh perusahaan erat hubungannya dengan volume penjualan secara kredit yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Perputaran piutang menjadi kas dipengaruhi oleh syarat pembayaran piutang tersebut, jika syarat pembayaran lunak maka jumlah piutang akan semakin besar tetapi perputaran piutang akan semakin rendah dan jika syarat pembayaran ketat akan berlaku sebaliknya. Sehingga syarat pembayaran piutang akan berpengaruh pada penjualan yang selanjutnya berimbas pada profitabilitas. Syarat pembayaran piutang memang bagai pisau bermata dua, karena makin tinggi perputaran piutang berarti makin efisien modal yang digunakan.
karena modal kerja yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut (Munawir, 2004): a. Sifat atau jenis perusahaan
Kebutuhan modal kerja tergantung pada jenis dan sifat dari usaha yang dijalankan oleh suatu perusahaan. Modal kerja dari perusahaan jasa relative lebih rendah bila dibandingkan dengan kebutuhan modal kerja perusahaan industri, karena untuk perusahaan jasa tidak memerlukan investasi yang besar dalam kas, piutang maupun persediaan. Kebutuhan uang tunai untuk membayar pegawai maupun untuk membiayai operasinya dapat dipenuhi daripenghasilan atau penerimaan-penerimaan saat itu juga, sedangkan piutang biasanya ditagih dalam waktu relatif pendek. Bagi perusahaan industri dibutuhkan modal kerja yang lebih besar karena perusahaan harus mengadakan investasi yang cukup besar dalam aktiva lancar agar perusahaan tidak mengalami kesulitan di dalam operasinya.
b. Waktu yang diperoleh untuk memproduksi barang yang akan dijual.
Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan berhubungan langsung dengan jangka waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang yang akan dijual. Semakin lama waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang, maka jumlah modal kerja yang diperlukan semakin besar.
c. Syarat pembelian dan penjualan
d. Tingkat perputaran persediaan
Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan maka jumlah modal kerja yang ditanamkan dalam bentuk persediaan (barang) akan semakin rendah. Untuk dapat mencapai tingkat perputaran yang tinggi, maka harus diadakan perencanaan dan pengawasan persediaan yang efisien. Semakin tinggi tingkatperputaran persediaan akan mengurangi risiko kerugian yang disebabkan karena penurunan harga atau perubahan selera konsumen, di samping itu akan menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan tersebut.
e. Tingkat perputaran piutang
Kebutuhan modal kerja juga dipengaruhi jangka waktu penagihan piutang. Apabila piutang terkumpul dalam waktu pendek berarti kebutuhan akan modal kerja semakin rendah atau kecil. Untuk mencapai tingkat perputaran piutang yang tinggi diperlukan pengawasan piutang yang efektif dan kebijaksanaan yang tepat sehubungan dengan perluasan kredit, syarat kredit penjualan, maksimum kredit bagi langganan serta penagihan piutang.
f. Volume Penjualan
Perusahaan membutuhkan modal kerja untuk mendukung kegiatan operasional pada saat terjadi peningkatan penjualan. Jika tingkat penjualan tinggi maka modal kerja yang diperlukan relatif tinggi, sebaliknya bila penjualan rendah dibutuhkan modal kerja yang rendah.
g. Faktor Musim dan Siklus
1.5.1.2 Likuiditas
Likuiditas merupakan salah satu faktor yang menentukan sukses atau kegagalan perusahaan. Penyediaan kebutuhan uang tunai dan sumber-sumber untuk memenuhi kebutuhan tersebut ikut menentukan sampai seberapakah perusahaan itu menanggung risiko. Menurut Wild (2005: 185) likuiditas merupakan kemampuan untuk mengubah aktiva menjadi kas atau kemampuan untuk memperoleh kas. Jangka pendek secara konvensional dianggap periode hingga satu tahun meskipun jangka waktu ini dikaitkan dengan siklus operasi normal suatu perusahaan (periode waktu yang mencakup siklus pembelianproduksi-penjualan-penagihan).
` Menurut Munawir (2002:31), “likuiditas adalah menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih”. Secara umum pengertian likuiditas (liquidity) mengacu pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Suatu perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi, dikatakan bahwa perusahaan tersebut adalah likuid, dan sebaliknya yang tidak mempunyai kemampuan membayar adalah ilikuid.
Kim et al.,(1998: 349) dalam penelitian Aldiyanti (2006) mengelompokkan faktor-faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi likuiditas perusahaan. Faktor-faktor tersebut dikelompokkan sebagai berikut:
a. cost of external financing
(1998: 349) menggunakan proxy ukuran perusahaan (firm size) dan kesempatan bertumbuh (growth opportunities) untuk mengukur faktor cost of external financing tersebut.
Barclay dan Smith (1996, dalam Kim et al., 1998) mengemukakan argumen bahwa, cost of external financing yang dihadapi oleh perusahaanperusahaan besar relatif lebih rendah dibanding perusahaan-perusahaan kecil, hal ini disebabkan perusahaan besar lebih mampu mencapai economic of scale terutama jika dikaitkan dengan biaya tetap pada saat melakukan emisi saham. Berdasarkan literatur tentang asymmetric information, pada perusahaanperusahaan yang menghadapi kondisi asymmetric information yang rumit antara insider dan outsider investors, maka perusahaan tersebut cenderung menghadapi cost of external financing yang besar. (Myers dan Majluf 1984, dalam Kim et al., 1998: 347), pada perusahaan-perusahaan yang nilainya sebagian besar ditentukan oleh growth opportunities akan menghadapi asymmetric information yang besar.
b. cash flow uncertainty
Cash flow uncertainty atau ketidapastian arus kas dapat menentukan keputusan manajer dalam menentukan tingkat likuditas perusahaan. Perusahaan-perusahaan dengan tingkat ketidakpastian arus kas yang tinggi akan cenderung melakukan investasi dalam aktiva likuid dengan jumlah yang besar.
c. Current and future investment opportunities
dalam bentuk aktiva tetap atau melakukan investasi dalam aktiva likuid.
d. Transactions demand for liquidity
Transactions Demand for Liquidity ini berkaitan dengan dana atau kas yang diperlukan perusahaan untuk tujuan transaksi. Faktor transactions demand for liquidity ini juga merupakan faktor yang dipertimbangkan manajemen dalam menentukan likuiditas perusahaan.
Untuk dapat menilai dan meningkatkan posisi Likuiditas suatu
perusahaan, maka perlu ditinjau lebih dahulu rasio-rasio yang
digunakan untuk mengukur Rasio Likuiditas tersebut, sebagaimana
yang telah ditemukan oleh Bambang Riyanto (2001:26) dapat diukur
melalui rasio-rasio sebagai berikut :
a. Current Ratio
Yaitu kemampuan suatu perusahaan untuk membayar hutang yang
harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar.
Apabila perusahaan menetapkan current rasio kurang dari 2:1 atau
200% dianggap kurang baik, karena jika aktiva lancer turun di
misalkan sampai lebih 50%, maka jumlah aktiva lancer tidak akan
mencukupi untuk menutupi hutang lancar, tetapi apabila suatu
perusahaan menetapkan current rasio yang harus dipertahankan.
b. Quick Ratio
Yaitu kemampuan perusahaan untuk membayar hutang yang segera
Rasio ini menunjukan aktiva lancar yang paling likuid mampu
menutupi utang lancar. Semakin besar rasio ini, maka akan semakin
baik. Angka rasio ini tidak harus 100% atau 1:1 apabila rasio ini
kurang 100% maka posisi Likuiditas dianggap kurang likuid.
c. Cash Ratio
Yaitu kemampuan untuk membayar hutang yang harus dipenuhi
dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek atau surat
berharga yang dapat diuangkan.
Cash ditambah efek merupakan alat likuid yang paling dipercaya.
Bertambah tingginya cash rasio berarti jumlah uang tunai yang
tersedia semakin besar, sehingga perlunasan hutang pada saatnya
1.5.2 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
Efisiensi modal kerja tidak berpengaruh signifikan
Likuiditas, dan Leverage Terhadap Profitabilitas. Profitabilitas. Noor, dkk. 2012.
Modal kerja Modal kerja berpengaruh
2012.
Perputaran modal kerja merupakan perbandingan antara penjualan dengan jumlah kas rata-rata. Perputaran kas menunjukkan kemampuan kas dalam menghasilkan pendapatan sehingga dapat dilihat berapa kali uang kas berputar dalam satu periode tertentu. Semakin tinggi perputaran modal kerja ini akan semakin baik. Karena ini berarti semakin tinggi efisiensi penggunaan kasnya dan keuntungan yang diperoleh akan semakin besar (Riyanto, 2001). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Wibowo (2012) yang menunjukkan bahwa perputaran modal kerja berpengaruh terhadap profitabilitas.
Menurut James C. Van Horne & Jhon M. Wachowicz (2005:323), yang diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan Deny Arnos Kwary mengemukakan “Semakin besar tingkat aktiva lancar, semakin besar juga likuiditas perusahaan, jika hal-hal lainnya sama. Dengan likuiditas yang lebih besar, resiko semakin kecil, namun profitabilitas juga semakin kecil atau likuiditas berbanding terbalik dengan profitabilitas”. Hal terssebut berarti bahwa bila likuiditas semakin tinggi maka keuntungan yang diperoleh semakin kecil, dan sebaliknya. Hal ini tidak sejalan dengan Nuugroho (2011), Wibowo (2012), dan Noor (2012) yang menyatakan bahwa likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan (Sugiyono, 2005: 51).
Hipotesis yang sesuai dengan latar belakang masalah dan tinjauan pustaka dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ho1 : Modal Kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas Ho2 : Likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas Ha1 : Modal Kerja berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas Ha2 : Likuiditas berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. 1.6 Metode Penelitian
Variabel dalam penelitian ini dibagi menjadi varibel dependen dan variabel independen. Variabel dependen/terikat dalam penelitian ini adalah profitabilitas. Profitabilitas menurut Riyanto (2001) adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Weston dan Copeland (1999) mengemukakan bahwa profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan. Sedangkan Sartono (2001) mendefinisikan profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri.
Variabel indepenenden/bebas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Modal Kerja
Modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka pendek. Kelebihan inilah yang disebut modal kerja bersih (net working capital). Kelebihan ini merupakan jumlah aktiva lancar yang berasal dari hutang jangka panjang dan modal sendiri. Tentunya definisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan kemungkinan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar daripada hutang jangka pendek dan menunjukkan tingkat keamanan bagi kreditur jangka pendek serta menjamin kelangsungan usaha di masa mendatang.
Menurut konsep fungsional, modal kerja ini adalah jumlah dana yang digunakan selama periode akuntansi yang dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan jangka pendek (current income) yang sesuai dengan maksud utama didirikan perusahaan tersebut. Definisi ini didasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan. b. Likuiditas
tahun meskipun jangka waktu ini dikaitkan dengan siklus operasi normal suatu perusahaan (periode waktu yang mencakup siklus pembelianproduksi-penjualan-penagihan).
Menurut Munawir (2002:31), “likuiditas adalah menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih”. Secara umum pengertian likuiditas (liquidity) mengacu pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya
1.6.2 Penentuan Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Sampel dalam penelitian ini adalah 20 perusahaan manufaktur di Indonesia yang terdaftar di BEI. Dengan pengambilan sampel secara random sampling.
1.6.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara atau pihak lain. Data tersebut diterbitkan secara berkala oleh BEI berupa laporan keuangan triwulan atau tahunan, dengan demikian keabsahan data tersebut merupakan tanggung jawab lembaga.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari laporan triwulanan perusahaan yang diterbitkan oleh BEI.
1.6.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode dokumentasi. Pengumpulan data dimulai dari penelitian terdahulu dengan melakukan studi kepustakaan dengan mempelajari jurnal, artikel, dan buku-buku yang berhubungan dengan permasalahan dalam penelitian ini.