BAB II
LANDASAN TEORI
A. Auditing
1. Pengertian Auditing
Auditing adalah suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai informasi tingkat keksesuaian antara tindakan atau peristiwa ekonomi dengan kriteria yang telah di tetapkan, secara melaporkan hasilnya kepada pihak yang membutuhkan, dimana auditing harus melakukan oleh orang yang kompeten dan independen.
Menurut Areas dan Loebbecke (2009)
Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti mengenai informasi yang dapat di ukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan tinggkat kesesuaian antara informasi tersebut dan kreteria yang ditetapkan.
Pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dengan kriteria-kriteria yang telah di tetapkan. Auditing seharusnya dilakukan oleh orang yang independen dan kompeten.
2. Jenis-jenis Auditing
Menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely (2010:4) jenis audit terdiri dari tiga macam, yaitu terdiri dari :
1. Audit atas laporan keuangan (financial statement Audit), Suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk menentukan apakah pelaporan keuangan telah disajikan secara wajar, sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu.
2. Audit oprational (Operational Audit) pemeriksaan audit yang bertujuan untuk membantu manajemen dalam mengendalikan oprational perusahaan.
3. Audit kepatuhan (Compliance audit) pemeriksaan yang berupa penentuan apakah pelaksanaan akuntansi telah mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan, peninjauan upah untuk menentukan kesesuain peraturan UMR, pemeriksaan surat perjanjian dengan kreditur dan memastikan bahwa perusahaan memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.
3. Peran Auditing
Dalam hal pengambilan keputusan–keputusan ekonomik, menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely (2010:42) auditing memainkan peranan penting yaitu:
a. Menumbuhkan kredibilitas atas informasi
Dalam hal ini kredibilitas berarti bahwa informasi dapat dipercaya sehingga bisa diandalkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
b. Menyediakan informasi yang andal dan relevan
Informasi andal dan relevan sangat di perlukan manakala pihak yang berkepentingan ingin mengambil keputusan menyangkut alokasi sumber daya. Pelaporan yang tidak memadai akan menyembunyikan serat menyuburkan keborosan sehingga akan menghambat alokasi terhadap sumber daya ekonomik.
c. Menyediakan laporan yang objektif dan independen
Laporan yang objektif dan independen akan mengurangi resiko bahwa informasi yang diberikan tidak relevan dan bebas dari penyimpangan
4. Standar Auditing
Akuntan publik harus berpendoman pada Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang titetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), dalam hal ini adalah standar auditing. Standar auditing terdiri dari standar umum, standar pekerjaan dan standar pelaporan (SPAP,2009;15:1)
a. Standar Umum
1. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.
2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
b. Standar Pekerjaan Lapangan
1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
3. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
c. Standar Pelaporan
1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor. 4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat
mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersil bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan.
B. Jenis-Jenis Auditor
Di dalam praktik di kenal beberapa tipe auditor dan jenis-jenis auditor menurut arrens Beasley (2008:15-16), yaitu:
a. Kantor akuntan publik, KAP (CPA firm) pada umumnya melaksanakan audit terhadap laporan keuangan instansi perusahaan Go public. Selain itu juga KAP mengaudit perusahaan - perusahaan besar maupun kecil. Istilah auditor sering kali diartikan sama dengan Kantor Akuntan Publik yang tetap bertanggung jawab atas laporan keuangan yang dibuat klientnya.
b. Auditor pemerintah, merupakan auditor yang dibentuk Negara dan bertugas melakukan audit terhadap instansi -instansi pemerintah. Auditor Negara merupakan lembaga negara yang independen diluar instansi pemerintah yang bertanggung jawab secara fungsional atas pengawasan terhadap kekayaan atau keuangan Negara
c. Auditor pajak merupakan auditor yang bekerja pada kantor layanan pajak. Tugas utamanya adalah melaksanakan audit ketaatan para wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban pajaknya, serta bertanggung jawab atas penerimaan Negara dari sektor perpajakan dan penegakan hukum dalam melaksanakan ketentuan pajaknya
d. Auditor internal, merupakan auditor yang berstatus sebagai karyawan instansi swasta dan bekerja untuk kepentingan instansi tersebut dan bertanggung jawab dalam menilai dan mengevaluasi efisiensi dan efektivitas kinerja organisasitersebut.
Dapat di simpulkan dari penjelasan diatas bahwa auditor independen yang bekerja pada kantor akuntan publik mengaudit perusahaan besar ataupun kecil dan bertanggung jawab atas laporan keuangan yang dibuat oleh klientnya.
C. Akuntan Publik
Menurut Suskrisno (2010:43) Kantor Akuntan Publik di definisikan sebagai suatu bentuk organiasasi akuntan public yang memperoleh izin sesuai dengan perundang-undangan yang berusaha di bidang pemberian jasa professional dalam praktik akuntan publik.
Menurut Kanaka Puradireja (2007:31) umumnya hirarki auditor dalam penugasan audit di dalam kantor akuntan publik di bagi menjadi berikut :
1. Partner
Partner menduduki jabatan tertinggi dalam penugasan audit, bertanggung jawab atas hubungan dan klient dan bertanggung jawab secara menyeluruh mengenai letter dan bertanggung jawab terhadap fee auditdari klien. 2. Manager
Manager bertindak sebagai pengawas audit, bertugas untuk membantu auditor senior dalam merencanakan program audit dan waktu audit, dan mereview kertas kerja laporan audit. Biasanya manager melakukan pengawasan terhadap pekerjaan beberapa auditor senior, pekerjaan tidak berada di kantor klient melainkan dikantor auditor dalam bentuk pengawasan terhadap pekerjaan yang di laksanakan para auditor senior. 3. Auditor Senior
Auditor senior bertugas untuk melaksanakan audit, bertanggung jawab untuk mengusahakan biaya audit dan waktu audit sesuai dengan rencana, bertugas untuk mengerahkan dan mereview pekerjaan auditor junior 4. Auditor Junior
Auditor Junior melaksanakan prosedur audit secara rinci, membuat kertas kerja untuk mendokumentasikan pekerjaan audit yang telah dilakasanakan. Pekerjaan ini biasanya di pegang oleh auditor yang baru saja melaksanakan pendidikan formalnya di sekolah. Dalam melaksanakan pekerjaannya seorang auditor junior harus bellajar secara rinci mengenai pekerjaan audit.
D. Hasil Audit
Data – data perusahaan akan lebih mudah dipercaya oleh investor dan pemakai laporan keuangan lainnya apabilla laporan keuangan yang mencerminkan kinerja dan kondisi keuangan perusahaan telah mendapat pernyataan wajar dari auditor. Pernyataan auditor diungkap melalui opini audit. (Agrianti Komalasari, 2007).
Menurut SPAP (PSA 29 SA Seksi 508:6), ada lima jenis pendapat akuntan yaitu:
1. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)
Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian di keluarkan jika auditor telah melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan standar auditing yang telah ditentukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, seperti yang terdaftar dalam standar professional akuntan publik dan telah mengumpulkan bahan – bahan pembuktian yang cukup serta tidak menemukan adanya kesalahan meterial atas penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesi.
2. Pendapat Wajar Tampa Pengecualian dengan Bahasa Penjelasan Yang Ditambahkan dalam Laaporan Audit Bentuk Baku (Unqualified Opini With Explanatory Language)
Pendapat ini diberikan jika terdapat keadaan tertentu yang mengharuskan auditor menambahkan paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan lain) dalam laporan audit meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian yang dinyatakan oleh auditor.
3. Pendapat Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Pendapat ini menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku di indonesia, kecuali untuk hal-hal yang dikecualikan seperti ketiadaan bukti yang kompeten, auditor yakin atas dasar auditnya dan jika auditor mengeluarkan pendapat ini semua alasan yang mengutakan harus dijelaskan dalam satu atau lebih paragraf secara terpisah.
4. Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Suatu pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansiyang berlaku umum di indonesia
5. Pernyataan Tidak memberikan pendapat (disclaimer Opinion)
Suatu pendapat menyatakan bahwa auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Auditor dapat tidak memberikan pendapat bilamana ia tidak dapat merumuskan atau tidak merumuskan suatu pendapat tentang kewajaran lapiran keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku di indonesia.
E. Pengetahuan Auditor dengan Audit Judgment
Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki yang lantas melekat dibenak seseorang. Selain itu pengalaman banyak memberikan dampak positif terhadap pengetahuan karena semakin banyak pengalaman yang dimilikinya maka semakin banyak pula pengetahunnya.
Menurut Herawati dan Susanto (2008) mengatakan bahwa pengetahuan akuntan publik bisa diperoleh dari berbagai pelatihan formal maupun dari pengalaman khusus, berupa kegiatan seminar, lokakarya serta pengarahan dari auditor senior kepada auditor juniornya. Seseorang yang melakukan pekerjaan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya akan memberikan hasil yang lebih baik daripada mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup memadai akan tugasnya. Pengetahuan akuntan publik digunakan sebagai salah satu kunci keefektifan kerja.
Untuk menjadi profesional dibutuhkan pelatihan dan pengembangan ditempat kerja sebagai proses pembelajaran dimana seseorang dituntut agar semakin baik tanggung jawabnya dengan pengetahuan yang dimilikinya dan keahlian yang membuat semakin terampil dalam bekerja, karena pendidikan akademisi memberikan pengetahuan tentang subyek tertentu dan sifatnya lebih umum serta terstruktur untuk jangka waktu yang jauh lebih panjang. Auditor sebagai pihak yang berkewajiban mendeteksi suatu kesalahan atau kekeliruan bahkan kecurangan yang menyebabkan salah saji material harus didukung dengan pengetahuan tentang apa dan bagaimana suatu kesalahan atau kekeliruan bahkan kecurangan tersebut bisa terjadi.
Menurut Tuanakotta (2007) Pengetahuan auditor dalam mendeteksi kecurangan merupakan penggabungan teori, praktek seorang auditor di bidang akuntansi/auditing dengan pemeriksaan yang secara spesifik dalam menemukan kecurangan.
Suatu kesalahan dapat terjadi karena ketidak sengajaan (kekeliruan) ataupun disengaja. Salah saji yang disengaja seperti kecurangan manajemen (menghilangkan data transaksi atau pengungkapan, pemalsuan angka atau salah saji angka yang dicatat), kecurangan karyawan (persekongkolan karyawan mengenai pemalsuan dokumen), pelanggaran hukum oleh klien.
Suatu salah saji dalam laporan keuangan dapat dianggap material jika salah saji tersebut dapat mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan yang rasional.
Mengapa orang melakukan kecurangan ?
Hal ini dapat digambarkan dalam bentuk segitiga dimana sering disebut segitiga kecurangan (The Fraud Triangle).
Sumber : William C. Boynton dalam Modern Auditing 2006
a. Incentive / Pressure = motivasi Masalah keuangan
Tekanan di lingkungan kerja Tekanan di keluarga
b.Opportunity = kesempatan Lemahnya pengendalian
Ketidakmampuan menilai kualitas kinerja organisasi Akses informasi tertutup
Ketidakperdulian / apatisme Opportunity (Kesempatan) The Fraud Triangle Rasionalization (Sikap) Incentive/pressure (Motivasi)
Ketiadaan / keterbatasan arsip dokumen c.Rasionalization / Attitude = sikap
Kantor berhutang pada saya
Saya hanya pinjam dan akan saya kembalikan Orang lain juga melakukan hal sama
Dengan uraian diatas, maka seorang auditor sebaiknya memiliki pengetahuan yang cukup banyak dan menggunakan prosedur –prosedur dalam menjalankan tugasnya.
Prosedur audit (audit procedures) adalah instruksi rinci untuk mengumpulkandan mengevaluasi informasi atau bukti bukti yang cukup relevan dan kompeten yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit. Menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2010:27) Adapun 10 jenis prosedur audit tersebut adalah sebagai berikut :
1) Prosedur analitis (analitical procedures)
Meneliti dan membandingkan hubungan diantara data atau informasi yang diterima.
2) Inspeksi (inspection)
Memeriksa secra rinci dokumen, catatan, atau informasi yang ada. 3) Konfirmasi (confirmation)
Permintan keterangan yang memungkinkan auditor memperoleh informsi secara langsung dari sumber independen di luar organisasi klien.
4) Permintaan keterangan (inquiry)
Permintaan keterangan baik secara lisan maupun tulisan kepada manajemen atau karyawan berupa pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah dilaksankan prosedur analitis.
5) Penghitungan (calculation)
Penghitungan fisik sumber daya berwujud seperti kas dan persediaan yang ada, serta kelengkapan catatan akuntansi seluruh dokumen dengan nomor yang telah dicetak.
6) Penelusuran (tracing)
Penelusuran ulang terhadap dokumen tang telah dibuat pada saat transaksi dan memastikan apakah telah dicatat dengan benar.
7) Pemeriksaan bukti pendukung (vouching)
Pemilihan ayat-ayat jurnal dalam pencatatan akuntansi. 8) Pengamatan (observation)
Memperhatikan dan menyaksikan pelaksanaan beberapa kegiatan atau proses.
9) Pelaksanaan ulang (reperforming)
Melakukan perhitungan dan merekonsiliasi yang dibuat oleh klien. 10)Teknik audit berbantuan computer (computer-assisted audit techniques)
Apabila catatan klien dilaksanakn melalui media elektronik, maka auditor dapat menggunakan teknik audit berbantuan komputer.
F. Pengalaman Auditor dengan Audit Judgment.
Pengalaman sebagai salah satu variabel yang banyak digunakan dalam berbagai penelitian.Pengertian pengalaman menurut Anoraga dalam buku
Manajemen sumber daya manusia adalah keseluruhan pelajaran yang dipetik oleh seseorang dari peristiwa yang dialami dalam perjalanan hidupnya.Dengan pengalaman seseorang dapat belajar tentang sesuatu hal yang bernilai sebagai modal dalam menjalani kehidupnnya.Selain itu, pengalaman dapat membantunya mengerjakan tugas-tugas dan memiliki struktur pengetahuan yang berkembang agar dapat fokus terhadap informasi yang ada dan bukti-bukti yang relevan.
Menurut Budi Susetyo (2009) Pengalaman auditor dalam mendeteksi kecurangan adalah pengetahuan seorang auditor yang didapat atau di peroleh dari
praktek kerja audit tentang prosedur, pengendalian dan hasil audit yang di peroleh sehingga dapat melaksanakan audit lebih baik.
Dengan pengalaman seorang auditor mampu memetakan informasi sehingga tidak “terjebak” terhadap informasi-informasi yang diterimanya. Pengalaman juga dapat mempengaruhi jenjang karir. Misalnya pada suatu KAP, dimulai dari Junior auditor, bagi mereka yang tidak memiliki pengalaman sama sekali. Setelah 3 – 4 tahun kemudian, tingkatannya bisa naik menjadi semi senior auditor. 1 – 2 tahun kemudian dapat menjadi senior auditor. Tak berhenti sampai disitu, jenjang karir senior auditor masih dapat meningkat hingga tingkat supervisor atau manajer dan akhirnya menjadi partner di KAP. Sebenarnya tidak ada standar waktu kapan seseorang dapat naik tingkat melainkan tergantung dengan kompetensinya, dan asalkan ia sering mengaudit dan mendapatkan pelatihan formal maupun non formal dengan demikian maka pengalaman bertambah dan pengetahuan serta kemampuannya pun ikut bertambah dan berkembang.
Orang yang ahli atau profesional adalah orang yang dengan keterampilannya mengerjakan suatu pekerjaan dengan cara mudah, cepat, menggunakan intuisinya dan sangat jarang melakukan kesalahan (Murtanto dan Gudono, 2009).
Profesional biasanya didapatkan karena memiliki pengetahuan yang luas dan telah berpengalaman kerja selama bertahun - tahun. Semakin berpengalaman seorang auditor mampu menghasilkan kinerja yang lebih baik dalam melaksanakan tugasnya yang semakin kompleks dan berperan dalam menentukan
akan lebih berhati-hati (berorientasi negatif) dibandingkan dengan auditor yang memiliki pengalaman lebih banyak.
Selain itu peneliti juga menghubungkan antara pengalaman dengan profesionalitas sebagai hal penting didalam menjalankan profesi akuntan publik.AICPA AU section 100-110 mengkaitkan profesional dan pengalaman dalam kinerja auditor :
“The professional qualification required of the independent auditor are those of person with the education and experience to practice as such. They do not include those person trained for qualified to engage in another profession or occupation”.
Arti :
Kualifikasi profesional dituntut dari auditor independen adalah mereka dari orang dengan pendidikan dan pengalaman untuk berlatih seperti itu. Mereka tidak termasuk orang orang yang terlatih untuk memenuhi syarat untuk terlibat dalam profesi atau pekerjaan lain.
Menurut The Institute of Chartered Account in Australia (2010:28) adalah:
“Membership of profession means commitment to asset of value that serve to define that professional as specific “moral community”. To be a good accountant one not only needs to have insight into one’s profession, but to have accepted and internalized those values. Professional value clarification is an activity both of a individual accountants, in identifying and gaining critical insight into the meaning and application of those values and activity of professional it self”.
Arti : Keanggotaan profesi berarti komitmen untuk aset nilai yang berfungsi untuk mendefinisikan bahwa profesional sebagai spesifik "masyarakat moral". Untuk menjadi salah satu akuntan yang baik tidak hanya perlu memiliki wawasan tentang profesi seseorang, tetapi telah diterima dan diinternalisasi nilai-nilai. Klarifikasi nilai profesional merupakan kegiatan kedua dari akuntan individu, dalam mengidentifikasi dan memperoleh wawasan kritis menjadi arti dan penerapan nilai-nilai dan aktivitas profesional itu sendiri..
Menurut Butts (dalam Sri Sularso dan Ainun Na’im, 2007:156), mengungkapkan bahwa akuntan pemeriksa yang berpengalaman membuat
judgment lebih baik dibandingkan dengan akuntan pemeriksa yang kurang berpengalaman, dan menyimpan peristiwa-peristiwa dalam ingatannya dan dapat menumbuh kembangkan kemampuannya serta pemahamannya terhadap suatu tugas.
Proses judgment tergantung pada banyaknya informasi, karena banyaknya informasi mempengaruhi pilihan dan bagaimana cara pilihan tersebut dibuat. Informasi yang terlalu banyak akan memunculkan pertimbangan baru dan keputusan atau pilihan yang baru juga. Sebagai gambaran, biasanya auditor membuat tiga sumber informasi yang potensial untuk membuat suatu keputusan. (1.) teknik manual, (2.) referensi yang lebih detail dan (3.) teknik keahlian.
Menurut Tan dan Libby (2011), keahlian auditor dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu :
1.) Keahlian teknis
Merupakan kemampuan mendasar seorang auditor
a. Komponen pengetahuan dengan faktor-faktor yang meliputi pengetahuan umum dan khusus, berpengalaman, mendapat informasi yang cukup relevan, selalu berusaha mencari tahu dan mempunyai visi.
b. Mampu menganalisis tugas yang mencakup ketelitian, tegas, profesional dalam tugas, menggunakan metode analisis, cermat, loyalitas dan idealisme.
2.) Keahlian non teknis.
a. Ciri-ciri psikologis yang meliputi rasa percaya diri, tanggung jawab, ketekunan, ulet dan enerjik, cerdik dan kreatif, adaptasi, jujur dan cekatan.
b. Mampu berfikir analitis dan logis, cerdas, tanggap dan berusaha meneyelesaikan masalah dan berfikir cepat.
c. Strategi penentuan keputusan yang mencakup independent, objektif dan memiliki integritas.
G. Indikator Pengetahuan, Pengalaman dan Audit Judgment
a. Menurut Astri Wijayatri (2010) Pengetahuan mempunyai 9 indikator yaitu : 1) Pengetahuan terhadap prosedur
2) Pengetahuan terhadap media elektronik 3) Kualitas kerja
4) Kreatifitas
5) Partisipasi dalam desain aktifitas 6) Pembuatan Judgment
7) Pelatihan 8) Pengalaman
9) Membaca publikasi dan jurnal
b. Menurut Astri Wijayatri (2010) Pengalaman mempunyai 6 indikator, yaitu : 1) Kemampuan prediksi dan Deteksi
2) Kemampuan mendeteksi kekeliruan 3) Kemampuan memetakan informasi 4) Keahlian / Profesionalisme
5) Pembuatan Judgment 6) Jenjang karir
c. Menurut Puspa (2007) audit judgment dimana indikatornya adalah : 1) Perhitungan fisik persediaan
2) Pencatatan informasi
3) Pengujian terhadap catatan piutang dan menyeleksi sampel 4) Proses konfirmasi
5) Penemuan salah saji material H. Penelitian Sebelumnya
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya yaitu Siti Jamilah (2007) yang mengamati tentang Pengaruh Gender, Tekanan Ketaatan dan Kompleksitas Tugas Terhadap Audit Judgment. Yang dilakukan di Propinsi Jawa Timur.
Pertama Gender tidak berpengaruh terhadap audit judgment, kondisi ini menunjukan bahwa perbedaan gender antara auditor pria dan wanita dengan perbedaan karakter dan sifat yang melekat pada individu masing-masing tidak berpengaruh terhadap judgment yang akan diambilnya. Kedua, tekanan ketaatan berpengaruh secara signifikan terhadap audit judgment. Hal ini menunjukan bahwa tekanan ketaatan yaitu perintah dari atasan dan keinginan klien untuk menyimpang dari standar profesional akan cenderung menaati perintah tersebut walaupun perintah tersebut tidak tepat dan bertentangan dengan standar profesional. Ketiga, kompleksitas tugas tidak berpengaruh secara dignifikan terhadap audit judgment artinya para auditor mengetahui dengan jelas atas tugas apa yang harus dilakukannya, tidak mengalami kesulitasn dalam melakukan tugas dan dapat melukannnya dengan baik.
Dengan demikian maka peneliti mengganti 2 variabel yaitu gender dan ketaatan dengan pengalaman dan pengetahuan, karena pengalaman dan pengetahuan merupakan faktor penting yang berkaitan dengan pemberian pendapat audit dan dapat mempengaruhi kemampuan prediksi dan deteksi terhadap kecurangan sehingga dapat mempengaruhi judgment yang diambil oleh auditor.
I. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan sintesis atau eksplorasi dari tinjauan teori dan penelitian terdahulu yang mencerminkan keterkaitan antar variabel yang diteliti dan merupakan tuntunan untuk memecahkan masalah penelitian secara merumuskan hipotesis. Kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Kerangka Konseptual Gambar 2.1
Variabel Independen Variabel Dependen
Pengalaman (X2)
Pengetahuan (X1)