• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

10 A. Laporan Keuangan

1. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan Keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juni 2012 mendefinisikan laporan keuangan sebagai berikut :

Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan ( yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti, misalnya sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana ), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.

Pengguna Laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda.

(2)

2. Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan

Menurut Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juni 2012, tujuan dari penyusunan laporan keuangan adalah :

a. Tujuan Khusus

memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan Keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang di percayakan kepada mereka.

b. Tujuan Umum

1) menyediakan informasi menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.

2) menyediakan informasi untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin di butuhkan pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu. Dan tidak di wajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.

3) menyediakan informasi tentang apa yang dilakukan manajemen, atau

pertanggungjawaban manajemen atau sumber daya yang dipercayakan kepadanya, agar dapat membuat keputusan ekonomi

misalnya keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka

(3)

dalam entitas atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen

3. Komponen Laporan Keuangan

Laporan keuangan utama menurut Standar Akuntansi Keuangan No.1 per 1 Juni 2012 terdiri atas komponen-komponen berikut ini :

a. Laporan Posisi Keuangan ( Neraca ) Pada Akhir Periode

Neraca disebut juga posisi keuangan menggambarkan posisi keuangan perusahaan dalam suaru tanggal tertentu atau a moment of time, sering di sebut per tanggal tertentu, misalnya per tanggal 31 Desember 2011. Posisi yang digambarkan tersebut yaitu posisi harta, hutang, dan modal.

b. Laporan Laba Rugi Komprehensif Selama Periode

Laporan laba rugi komprehensif melaporkan seluruh hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil dan laba ( rugi ) perusahaan selama satu periode

c. Laporan Perubahan Ekuitas Selama Periode

Laporan perubahan ekuitas merupakan laporan yang menyajikan jumlah baik yang berkaitan peningkatan ataupun penurunan aktiva bersih atau kekayaan perusahaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan.

d. Laporan Arus Kas Selama Periode

Melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Laporan arus kas disajikan

(4)

sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.2 tentang laporan arus kas dan harus disusun berdasarkan kas selama periode laporan.

e. Catatan atas laporan keuangan

Merupakan laporan yang memberikan informasi apabila terdapat laporan keuangan yang memerlukan penjelasan tertentu, baik yang berasal dari pos dalam neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas.

f. Laporan Posisi Keuangan Pada Awal Periode Komparatif

Merupakan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan.

B. Auditing

1. Pengertian Auditing

Pengertian Auditing menurut Alvin A. Arens, dkk dalam bukunya Jasa Audit dan Anssurance Pendekatan Terpadu ( 2011 ), “Auditing adalah pengumpulan dan evaluasi bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian antara informasi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan. Audit harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen ’’.

Untuk melakukan audit, harus tersedia informasi dalam bentuk yang di verifikasikan dan beberapa standar ( kriteria ) yang dapat digunakan auditor untuk mengevaluasi informasi tersebut, yang dapat dan memang memiliki banyak

(5)

bentuk. Para auditor secara rutin melakukan audit atas informasi yang dapat di ukur, termasuk laporan keuangan perusahaan dan SPT Pajak Penghasilan Badan.

Kriteria untuk mengevaluasi informasi juga bervariasi, tergantung pada informasi yang sedang di audit. Dalam audit atas laporan keuangan historis oleh kantor akuntan publik ( KAP ), kriteria yang berlaku biasanya adalah prinsip- prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesia ( generally accepted accounting principles-GAAP ). Untuk informasi yang lebih subjektif, kriterianya lebih sulit ditetapkan. Biasanya auditor dan entitas yang di audit telah menyepakati kriteria yang akan di gunakan sebelum audit di mulai.

2. Jenis-Jenis Audit

Menurut Alvin A. Arens, dkk dalam bukunya Jasa Audit dan Anssurance Pendekatan Terpadu ( 2011 ), terdapat tiga jenis utama aktivitas audit yaitu : a. Audit Operasional

Audit operasional mengevaluasi efisiensi dan efektifitas setiap bagian dari prosedur dan metode operasi organisasi. Pada akhirnya audit operasional, manajemen biasanya mengharapkan saran-saran untuk memperbaiki operasi.

Dalam audit operasional, review atau penelahan yang dilakukan tidak terbatas pada akuntansi, tetapi dapat mencakup evaluasi atas struktur organisasi, operasi komputer, metode produksi, pemasaran, dan semua bidang lain dimana auditor menguasainya.

b. Audit Ketaatan

Audit ketaatan dilaksanakan untuk menentukan apakah pihak yang diaudit telah mengikuti prosedur, aturan, atau ketentuan tertentu yang ditetapkan

(6)

oleh otoritas yang lebih tinggi. Hasil dari audit ketaatan bisanya dilaporkan kepada manajemen, bukan kepada pengguna luar, karena manajemen adalah kelompok utama yang berkepentingan dengan tingkat ketaatan terhadap prosedur dan peraturan yang telah di gariskan.

c. Audit Laporan Keuangan

Audit laporan keuangan dilakukan untuk menentukan apakah laporan keuangan telah di nyatakan sesuai dengan kriteria tertentu. Biasanya yang berlaku adalah prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum ( GAAP ), walaupun auditor mungkin saja melakukan audit atas laporan keuangan yang di susun dengan menggunakan akuntansi dasar kas atau beberapa dasar lainnya yang cocok untuk organisasi tersebut. Dalam menentukan apakah laporan keuangan telah dinyatakan secara wajar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum, auditor mengumpulkan bukti untuk menetapkan apakah laporan keuangan itu mengandung kesalahan yang vital atau salah saji lainnya.

3. Jenis-Jenis Auditor

Menurut Alvin A. Arens, dkk dalam bukunya Jasa Audit dan Anssurance Pendekatan terpadu ( 2011 ), jenis auditor dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu :

a. Kantor Akuntan Publik

Kantor akuntan publik bertanggung jawab mengaudit laporan keuangan historis yang perusahaan serta dipublikasikan oleh semua perusahaan

(7)

terbuka, kebanyakan perusahaan lain yang cukup besar, dan banyak perusahaan serta organisasi nonkomersial yang lebih kecil.

b. Auditor Pemerintah

Auditor pemerintah yang bekerja untuk Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan ( BPKP ), guna melayani kebutuhan pemerintah.

c. Audit Pajak

Direktorat Jenderal Pajak bertanggung jawab untuk memberlakukan peraturan pajak. Salah satu tanggung jawab utama Ditjen pajak adalah mengaudit SPT wajib pajak untuk menentukan apakah SPT itu sudah mematuhi peraturan pajak yang berlaku. Auditor yang melakukan pemeriksaan ini di sebut audit pajak.

d. Auditor Internal

Auditor yang dipekerjakan oleh perusahaan untuk melakukan audit bagi manajemen, sama seperti BPK mengaudit untuk DPR. Tanggung jawab auditor internal sangat beragam, tergantung pada yang mempekerjakan mereka.

C. Laporan Audit

1. Pengertian Laporan Audit

Menurut Alvin A. Arens, dkk dalam bukunya Jasa Audit dan Anssurance Pendekatan terpadu ( 2011 ), Laporan Audit adalah produk utama atau hasil dari audit yang digunakan auditor dalam mengkomunikasikan kesimpulan tentang laporan keuangan yang diaudit kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Laporan

(8)

auditor diterbitkan apabila auditor telah memperoleh bukti yang cukup, audit dilakukan sesuai dengan standar audit yang berlaku umum dan laporan keuangan sesuai dengan GAAP. Menurut Standar Profesi Akuntan Publik per 1 Januari 2001 (SA Seksi 508) laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.

Dalam standar pelaporan keempat berbunyi demikian, “Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan atau memuat suatu asersi, bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dikemukakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab oleh auditor”.

Laporan auditor bentuk baku memuat suatu pernyataan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan suatu entitas, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan auditor bentuk baku harus menyebutkan laporan keuangan auditan dalam paragraf pengantar, menggambarkan sifat audit dalam paragraf lingkup audit, dan menyatakan pendapat auditor dalam paragraf pendapat.

(9)

2. Bagian dari bentuk baku laporan audit

Jenis yang paling umum dari laporan audit yang diterbitkan adalah

“laporan audit wajar tanpa pengecualian standard ” atau laporan auditor bentuk baku.

Laporan auditor bentuk baku memuat unsur-unsur penting menurut Alvin A. Arens, dkk dalam bukunya yang berjudul Auditing dan Jasa Assurance ( 2008 ) unsur penting laporan auditor bentuk baku adalah :

a. Judul Laporan

Standar auditing mensyaratkan bahwa laporan harus diberi judul yang mengandung kata independen. Sebagai contoh, judul yang tepat mencakup

“Laporan auditor independen,’’ atau “pendapat akuntan independen’’

kewajiban mencantumkan kata independen dimaksudkan untuk memberitahu para pemakai laporan bahwa audit tersebut dalam segala aspeknya dilaksanakan secara tidak memihak.

b. Alamat Laporan Audit

Laporan ini umumnya ditujukan kepada perusahaan, para pemegang saham, atau dewan direksi perusahaan. Dalam tahun-tahun terakhir ini, telah menjadi suatu kebiasaan mengalamatkan laporan ini kepada dewan direksi dan para pemegang saham untuk menunjukkan bahwa auditor independen terhadap perusahaan.

c. Paragraf Pendahuluan

Paragraf pertama laporan menunjukkan tiga hal yaitu : (a) laporan itu membuat suatu pernyataan yang sederhana bahwa kantor akuntan publik

(10)

bersangkutan telah melaksanakan audit supaya membedakan laporan audit dari laporan kompilasi atau laporan review. (b) kata-kata tentang laporan keuangan dalam laporan audit harus identik dengan yang digunakan oleh manajemen pada laporan keuangan tersebut. (c) laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen dan bahwa tanggung jawab auditor adalah menyatakan pendapat atas laporan keuangan itu berdasarkan audit.

d. Paragraf Ruang Lingkup

Dalam paragraf ini auditor menyatakan bahwa audit atas laporan keuangan didasarkan atas standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, penjelasan singkat tentang standar auditing, dan pernyataan tentang keyakinan auditor bahwa audit yang dilaksanakan memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan.

e. Paragraf Pendapat

Paragraf pendapat merupakan paragraf yang digunakan auditor untuk menyatakan pendapatnya mengenai laporan keuangan. Dalam paragraf ini auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan auditan, dalam semua hal yang material, yang didasarkan atas kesesuaian penyusunan laporan keuangan tersebut dengan prinsip akuntansi berterima umum.

f. Tanggal Laporan Audit

Tanggal yang tepat untuk dicantumkan dalam laporan audit adalah ketika auditor menyelesaikan prosedur audit di lokasi pemeriksaan. Tanggal ini

(11)

merupakan hal yang penting bagi para pemakai laporan karena menunjukkan hari terakhir dari tanggung jawab auditor untuk mereview atas peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan.

g. Nama KAP

Nama mengidentifikasikan Kantor Akuntan Publik ( KAP ) atau praktisi yang melaksanakan audit. Biasanya yang di tuliskan adalah nama kantor akuntan publik, karena seluruh bagian dari kantor akuntan publik mempunyai tanggung jawab hukum dan profesional untuk memastikan bahwa kualitas audit memenuhi standar profesional.

3. Opini audit

Menurut Standar Profesi Akuntan Publik ( SA Seksi 508 ), terdapat lima jenis opini audit, yaitu pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion), pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan yang ditambahkan dalam laporan audit bentuk baku (unqualified opinion with explanatory language), pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion), pendapat tidak wajar (adverse opinion), pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion).

(12)

Menurut Alvin A. Arens, dkk dalam bukunya yang berjudul Auditing dan Jasa Assurance ( 2008 ) terdapat empat jenis pendapat yang bisa diberikan auditor yaitu :

a. Laporan pendapat wajar dengan pengecualian ( qualified opinion )

Laporan pendapat wajar dengan pengecualian dapat diterbitkan hanya apabila auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar, laporan pendapat tidak wajar atau menolak memberikan pendapat harus diterbitkan jika auditor merasa yakin bahwa jika kondisi yang dilaporkan tersebut bersifat sangat material. Oleh karena itu pendapat wajar tanpa pengecualian dianggap sebagai penyimpangan yang paling ringan dari laporan wajar tanpa pengecualian.

b. Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)

Pendapat wajar tanpa pengecualian, dapat diberikan auditor apabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standar auditing, penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan tidak terdapat kondisi atau keadaan tertentu yang memerlukan bahasa penjelasan.

c. Pendapat tidak wajar ( adverse opinion )

Digunakan hanya apabila auditor yakin bahwa laporan keuangan secara keseluruhan mengandung salah saji yang material atau menyesatkan sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan atau hasil operasi dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).

Laporan pendapat tidak wajar hanya dapat diterbitkan apabila auditor

(13)

memiliki pengetahuan, setelah melakukan investigasi yang mendalam, bahwa tidak ada kesesuaian dengan GAAP/PSAK. Hal ini jarang terjadi sehingga pendapat tidak wajar jarang sekali diterbitkan.

d. Menolak memberikan pendapat ( disclaimer of opinion )

Diterbitkan apabila auditor tidak dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar.

kebutuhan untuk menolak memberikan pendapat akan timbul apabila terdapat pembatas ruang lingkup audit atau terdapat hubungan yang tidak independen menurut Kode Perilaku Profesional antara auditor dengan kliennya. Situasi ini menghalangi auditor untuk mengeluarkan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan. Auditor juga memiliki opsi untuk menolak memberikan pendapat pada masalah kelangsungan hidup perusahaan ( going concert )

D. Kep-460/BL/2008

Bursa Efek Indonesia ( BEI ) dan Badan Pengawas Pasar Modal ( Bapepam ) mewajibkan seluruh perusahaan publik yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia ( perusahaan go publik ) untuk mempublikasikan laporan keuangan auditan dalam periode tertentu setelah berakhirnya tahun buku.

berdasarkan keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal No. KEP-460/BL/2008 tanggal 10 November 2008, Lampiran No. X.E.1

Kewajiban Penyampaian Laporan Berkala Oleh Perusahaan Efek, batas waktu penyerahan laporan keuangan adalah sebagai berikut :

(14)

1. Laporan Keuangan Tahunan

a. Laporan keuangan tahunan harus disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat yang lazim dan disampaikan kepada Bapepam dan LK selambat-lambatnya pada akhir bulan ke-3 ( ketiga ) setelah tanggal laporan keuangan tahunan.

b. Dalam hal emiten atau perusahaan publik telah menyampaikan laporan tahunan sebelum batas waktu penyampaian laporan keuangan tahunan maka atau perusahaan publik tersebut tidak diwajibkan menyampaikan laporan keuangan secara sendiri.

2. Laporan Keuangan Tengah Tahun

a. Selambat-lambatnya pada akhir bulan pertama setelah tanggal laporan keuangan tahunan, jika tidak disertai laporan akuntan b. Selambat-lambatnya pada akhir bulan ke-2 ( kedua ) setelah tanggal

laporan keuangan tengah tahun, jika disertai laporan akuntan dalam rangka penelaahan terbatas, dan

c. Selambat-lambatnya pada akhir bulan ke-3 ( ketiga ) setelah tanggal laporan keuangan tengah tahunan, jika di sertai laporan akuntan yang memberikan pendapat tentang kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan.

(15)

E. Penelitian Terdahulu

Berikut ini merupakan penelitian-penelitian sebelumnya yang telah dilakukan yaitu :

Tabel 2.1

Peneliti Terdahulu Audit Delay

No Nama Peneliti Variabel Independen Hasil Penelitian 1. Ashton dan Elliot (1987)

dalam (Subekti & Novi, 2004)

Total pendapatan, jenis industri, status perusahaan publik atau non publik, bulan penutupan tahun buku, kualitas sistem pengendalian internal, kompleksitas operasional, kompleksitas keuangan, kompleksitas pelaporan keuangan, EDP, campuran relative antara waktu pemeriksaan pada interim dan akhir tahun.

Berpengaruh :

Jenis opini qualified, jenis perusahaan industri dibandingkan dengan perusahaan finansial, status perusahaan bukan publik, bulan penutupan tahun buku selain bulan Desember, SPI EDP yang lemah dan pekerjaan pemeriksaan relatif lebih banyak dilakukan setelah berakhirnya penutupan tahun buku berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

Tidak Berpengaruh : Kompleksitas perusahaan

(16)

kompleksitas,operasiona, kompleksitas keuangan, kompleksitas pelaporan

keuangan, EDP,

campuran relative antara waktu pemeriksaan pada interim dan akhir tahun.

2. Carslaw dan Kaplan (1991) dalam (Subekti & Novi, 2004)

Ukuran perusahaan, jenis industri, melaporkan laba atau rugi, adanya extraordinary item, jenis opini akuntan

publik, auditor, tahun buku perusahaan, kepemilikan perusahaan dan proporsi hutang terhadap asset.

Berpengaruh :

Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

Tidak Berpengaruh : Jenis industri, melaporkan laba atau

rugi, adanya

extraordinary item, jenis opini akuntan publik, auditor, tahun buku perusahaan, kepemilikan perusahaan dan proporsi hutang terhadap asset.

3. Halim (2000) dalam (Subekti & Novi, 2004)

Total revenue, jenis industri, bulan penutupan tahun buku, lamanya menjadi

klien KAP, rugi

atau rugi operasi, tingkat profitabilitas, jenis opini.

Berpengaruh :

Total revenue, jenis industri, bulan penutupan tahun buku, lamanya menjadi klien KAP, rugi atau rugi

(17)

operasi,tingkat

profitabilitas, jenis opini berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

4. Hanipah (2001) dalam (Subekti & Novi, 2004)

Ukuran perusahaan, jenis pendapat akuntan publik, tingkat profitabilitas, pelaporan laba atau rugi dan auditor.

Berpengaruh :

Ukuran perusahaan sangat berpengaruh signifikan terhadap audit delay

Tidak berpengaruh : Jenis pendapat akuntan publik, tingkat profitabilitas, pelaporan laba atau rugi

5. Monirul Alam Hossain dan Peter J. Tailor ( 1987 )

Ukuran perusahaan (log of total assets), Debt-equity Ratio, Profitabilitas, Subsidiaries of Multinational Companies, Ukuran KAP, Audit fee, jenis industry.

Berpengaruh :

Debt-equity ratio, profitabilitas, subsidiaris of multinational companies, ukuran KAP, jenis industry berhubungan signifikan terhadap audit delay Tidak Berpengaruh : Audit fee .

6. Petronila ( 2007 ) ukuran perusahaan, profitabilitas, ukuran KAP, opini audit,pos luar biasa, dan umur perusahaan.

Berpengaruh : Ukuran perusahaan, profitabilitas, ukuran KAP, opini audit,pos luar biasa, dan umur perusahaan berpengaruh

(18)

secara signifikan terhadap audit delay.

7.. Rachmawati ( 2008 ) Profitabilitas,solvabilitas,inter nal auditor,size perusahaan, dan ukuran KAP.

Berpengaruh :

Ukuran KAP dan size perusahaan mempunyai pengaruh signifikan terhadap audit delay Tidak berpengaruh Profitabilitas,solvabilitas , internal auditor tidak mempunyai pengaruh terhadap audit delay.

8. Subekti dan Novi (2004) Tingkat probabilitas, ukuran perusahaan, jenis industri perusahaan, jenis pendapat akuntan publik, ukuran auditor Kantor Akuntan Publik.

Berpengaruh :

Tingkat probabilitas, ukuran perusahaan, jenis industri perusahaan, jenis pendapat akuntan publik, ukuran auditor Kantor Akuntan Publik sangat berpengaruh signifikan terhadap audit delay.

9. Wiwik Utami ( 2006 ) Ukuran perusahaan, Jenis industri, Lamanya perusahaan menjadi klien sebuah KAP, Jenis opini yang diberikan auditor, Laba/rugi perusahaan,

Berpengaruh :

Ukuran perusahaan, Jenis industri, Rasio hutang terhadap ekuitas, Reputasi auditor .

(19)

Rasio hutang terhadap ekuitas, Reputasi auditor .

Tidak berpengaruh : Lamanya perusahaan menjadi klien sebuah KAP, Jenis opini yang diberikan auditor, Laba/rugi perusahaan

F. Pengembangan Hipotesis

Penelitian ini menggunakan variabel dependen yaitu audit delay, sedangkan variabel independen yang akan digunakan dalam penelitian adalah Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, Debt to Equity Ratio, Kualitas Kantor Akuntan Publik ( KAP ), Return On Investment ( ROI ).

1. Pengaruh ukuran Perusahaan dengan Audit Delay

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan seperti penelitian Courtis (1976),

Gilling (1977), Davies dan Whitterd (1980), dan lain sebagainya ( dalam Jeane dan Rustiana ) menunjukan bahwa audit delay memiliki hubungan

negatif dengan ukuran perusahaan menggunakan proksi total aktiva. Pengaruh ini ditunjukkan dengan semakin besar nilai aktiva perusahaan maka semakin pendek audit delay dan sebaliknya. Namun untuk perusahaan non go publik, audit delay berhubungan positif dengan ukuran perusahaan. Sebaliknya hasil penelitian Halim (2000) di Indonesia tidak berhasil membuktikan ukuran perusahaan yang menggunakan proksi yang sama yaitu total revenue mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap audit delay. Hasil penelitian Halim (2000) sejalan dengan penelitian Na’im (1998) seperti yang dikutip dari Halim (2000) yang menyatakan

(20)

bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh kuat terhadap audit delay, namun arah hubungannya positif.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Carslaw dan Kaplan (1991) di New Zelland yang menggunakan total aset sebagai proksi ukuran perusahaan menunjukkan bahwa audit delay mempunyai hubungan yang berkebalikan dengan ukuran perusahaan. Hal ini terjadi karena perusahaan yang lebih besar mempunyai pengendalian internal yang lebih kuat yang akan mengurangi kecenderungan kesalahan pelaporan keuangan yang mungkin terjadi dan memampukan auditor untuk mengendalikan pengendalian yang lebih luas dan untuk melakukan pekerjaan intern.

Selain itu menurut Dyer dan Mc Hugh (1975) seperti yang dikutip oleh Halim (2000) menyatakan bahwa manajemen dari perusahaan yang berskala besar cenderung diberikan insentif untuk mengurangi audit delay dikarenakan perusahaan-perusahaan tersebut dimonitor secara ketat oleh investor, pengawas permodalan dan pemerintah. Dengan demikian perusahaan berskala besar cenderung menghadapi tekanan eksternal yang lebih tinggi untuk mengumumkan laporan audit lebih awal sehingga

2. Pengaruh umur Perusahaan Dengan Audit Delay

Penelitian Petrolina ( 2007 ) menunjukkan bahwa umur perusahaan berpengaruh negative terhadap audit delay. Semakin lama umur suatu perusahaan makan jangka waktu pelaporan auditnya akan semakin cepat demikian pula sebaliknya. Namun, Owusu-Ansah ( dalam Petrolina 2007 ) menemukan bahwa adanya pengaruh positif antara umur perusahaan dengan ketepatan waktu

(21)

penyampaian laporan keuangan tahunan perusahaan. Courtis ( dalam Petrolina, 2007 ) menemukan bahwa umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit delay.

3. Pengaruh Debt to Equity Ratio dengan Audit Delay

Rasio debt to equity juga dikenal sebagai rasio financial leverage. Wetson dan Copeland (1995:238) menyatakan bahwa rasio leverage mengukur tingkat aktiva perusahaan yang telah dibiayai oleh penggunaan hutang. Menurut Eddy P.Soekardi (1990:61) debt to equity ratio digunakan untuk mengukur tingkat leverage yaitu perbandingan liability (penggunaan hutang) terhadap total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan.

Tingginya rasio debt to equity mencerminkan tingginya resiko keuangan perusahaan. Tingginya resiko ini menujukkan adanya kemungkinan bahwa perusahaan tersebut tidak bisa melunasi kewajiban atau hutangnya baik berupa pokok atau bunganya. Resiko perusahaan yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Kesulitan keuangan perusahaan merupakan berita buruk yang akan mempengaruhi kondisi perusahaan di mata masyarakat. Pihak manajemen cenderung akan menunda penyampaian laporan keuangan yang berisi berita buruk.

4. Pengaruh Kualitas Kantor Akuntan Publik ( KAP ) Dengan Audit Delay

Menurut Alvin A. Arens, dkk dalam bukunya Jasa Audit dan Anssurance Pendekatan terpadu (2011) Audit atas laporan keuangan yang bertujuan umum di Indonesia dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) kecuali atas

(22)

organisasi pemerintah tertentu. Hak legal untuk melakukan audit diberikan kepada kantor akuntan publik oleh Menteri Keuangan. Kantor akuntan publik juga memberikan banyak jasa lain klien, seperti jasa pajak dan konsultasi.

kalangan bisnis dan pengguna jasa Akuntan Publik mengelompokkan KAP menjadi dua yaitu :

(1) Big Four terdiri atas Hans, Tuanakott & Mustofa berafiliasi internasional dengan Deloitte Touche Tohmatsu; Prasetio, Sarwoko & Sandjaja berafiliasi internasional dengan Ernst & Young Global; Sidsharta Siddharta &

Widjaja berafiliasi internasional dengan KPMG International dan Drs. Hariyanto Sahari & Co. Berafiliasi internasional dengan PrincewaterhouseCoopers;

keempat kantor ini memiliki cabang di seluruh dunia. KAP empat besar ini mengaudit hampir semua perusahaan besar baik di Indonesia maupun dunia serta banyak perusahaan yang lebih kecil juga.

(2) non Big Four terdiri atas beberapa KAP nasional dengan afiliasi internasional misalnya BDO Global, Grant Thornton International, RSM Internasional, dan Moore Stephens International. KAP-KAP tersebut besar akan tetapi jauh lebih kecil dari pada Empat Besar. Mereka memberikan jasa yang sama seperti KAP empat besar dan bersaing secara langsung untuk mendapatkan klien.

Gilling ( 1997 ) menujukkan bahwa KAP internasional atau yang lebih dikenal sebagai Big Four membutuhkan waktu yang lebih singkat dalam menyelesaikan audit karena KAP tersebut dianggap dapat melaksanakan audit secara lebih efisien dan memiliki tingkat fleksibilitas jadwal waktu yang lebih

(23)

tinggi untuk menyelesaikan audit tepat pada waktunya. KAP yang besar biasa juga didukung oleh kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang lebih baik sehingga akan berpengaruh pada kualitas jasa yang dihasilkan ( Hossain, 1998 ).

Penelitian yang dilakukan oleh Wooten yang memaparkan teori De Angelo ( 1981 ) dalam Halim, 1999 menunjukkan bahwa KAP besar ( Big Four ) cenderung menyajikan audit yang lebih baik dibandingkan dengan KAP kecil ( non Big Four ), karena mereka memiliki nama baik yang dipertaruhkan. Selain itu, KAP besar lebih banyak mengeluarkan pendapat going concern daripada KAP kecil ( Yuliana dan Ardiati, 2004 ). Hal tersebut mengindikasikan bahwa KAP besar lebih menginginkan untuk mengambil sikap yang tepat dalam mengeluarkan pendapat sesuai dan memiliki kemampuan teknis untuk mendeteksi going concern perusahaan sehingga dapat lebih menarik klien yang lebih banyak.

5. Pengaruh Return On Investment ( ROI ) terhadap Audit Delay

Profitabilitas sering digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja manajemen perusahaan dalam menghasilkan laba dari kegiatan operasinya. Jika suatu perusahaan mengalami kerugian maka auditor cenderung akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam menyelesaikan proses audit atau membutuhkan jangka waktu pelaporan audit yang lebih lama, hal ini disebabkan karena auditor biasanya akan melakukan analisis yang lebih mendalam pada perusahaan tersebut. Auditor ingin memastikan adanya kemungkinan terjadi masalah keuangan atau manajemen fraud di perusahaan tersebut ( Ahmad dan kamarudin,2001 ). Selain itu juga adanya kemungkinan risiko-risiko tuntutan

(24)

terhadap auditor tersebut di masa mendatang. Johana dan Sylvia ( 2004 ) mengemukakan bahwa jangka waktu penyampaian laporan keuangan tidak di pengaruhi oleh profitabilitas yang diukur oleh return on investment karena pada masa tahun yang diteliti yakni antara tahun 1997-2001 terjadi krisis keuangan sehingga perusahaan lebih memusatkan perhatian untuk melakukan retrukturisasi atau melakukan perbaikan-perbaikan yang dianggap perlu agar perusahaan dapat tetap mempertahankan perusahaan dengan situasi saat itu walaupun laba yang di peroleh rendah.

Carslaw dan Kaplan (1991) menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh secara langsung terhadap jangka waktu pelaporan audit bagi perusahaan- perusahaan di New Zealand. Kinney dan Mc Daniel ( 1993 ) mengemukakan bahwa perusahaan dengan pendapatan yang menurun meningkatkan jangka waktu pelaporan audit.Selain itu Ahmad dan Kamarudin ( 2001 ) menemukan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap audit delay.

(25)

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Variabel independen Variabel dependen

ROI

Umur Perusahaan x2

Ukuran Perusahaan x1

Debt to Equity Ratio x3

Kualitas KAP x4

ROI x5

Audit Delay y

x1,x2,x3,x4,x5

Referensi

Dokumen terkait

Jika auditor menjumpai kondisi-kondisi berikut ini, maka ia memberikan pendapat wajar dengan pengecualian dalam laporan audit (Mulyadi, 2002). 1) Lingkup audit dibatasi oleh

Pendapat ini hanya dapat diberikan jika auditor berpendapat bahwa berdasarkan audit yang sesuai dengan standar auditing, penyajian laporan keuangan adalah sesuai

Menurut Standar Profesi Akuntan Publik Standar Auditing(Seksi 110), tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat

Auditor menyatakan opini wajar dengan pengecualian ketika setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, auditor menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik

Dari beberapa definisi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas audit merupakan segala kemungkinan pada saat seorang auditor melakukan auditing laporan

Sedangkan Standar Profesional Akuntan publik (2011) menyatakan tujuan audit laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat

Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified audit opinion), diberikan oleh auditor jika laporan keuangan yang disajikan klien adalah wajar, namun ketika mengaudit, auditor

Dalam menghasilkan jasa audit ini, auditor memberikan pernyataan pendapat positif tentang laporan keuangan tersebut sudah disajikan secara wajar dan sesuai dengan