• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL AGROMET INDONESIA Vol. XXV No. 1, Juni 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL AGROMET INDONESIA Vol. XXV No. 1, Juni 2011"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

JURNAL AGROMET INDONESIA

Vol. XXV No. 1, Juni 2011

Dewan Redaksi/Editorial Board

Ketua/Editor in Chief

: I. Handoko

Anggota/Members

: Istiqal Amien

Rizaldi Boer

Yonny Koesmaryono

Irsal Las

Mansur Ma’shum

Hidayat Pawitan

Aris Pramudia

Abdul Rauf

Johannes E. X. Rogi

Redaksi Pelaksana/Executing editors

Rini Hidayati

Suciantini

Syamsu Dwi Jadmiko

Diterbitkan oleh/Published by

Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI)

Indonesian Association of Agricultural Meteorology (IAAM)

Alamat Redaksi/Editorial Address

Sekretariat PERHIMPI Pusat

Kampus IPB Darmaga Bogor Wing 19 Lv. 4, Darmaga, Bogor – 16680

Telp. (0251) 8623850, 8312760, Fax. (0251) 8623850, 8312760

E-mail: [email protected]

ISSN : 0126-3633

Catatan untuk pelanggan :

Jurnal AGROMET INDONESIA diterbitkan secara berkala 2 (dua) nomor dalam setahun.

Nomor lepas dan back issues dapat diperoleh dengan harga Rp. 100.000,-/nomor ditambah

ongkos kirim.

The AGROMET Journal is published twice a year. Separate and back issues are available at

csts US$ 15,00/issue plus postage.

(3)

Available online at:

http://journal.ipb.ac.id/index.php/agromet

J.Agromet 25 (1) : 24-28, 2011 ISSN: 0126-3633

PENDUGAAN FLUKS PANAS DAN EVAPOTRANSPIRASI DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN

HEAT FLUX AND EVAPOTRANSPIRATION ESTIMATION USING ARTIFICIAL NEURAL NETWORK Satyanto Krido Saptomo*

Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor

Fakultas Teknologi Pertanian, Kampus Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor 16680 * Corresponding Author. E-mail: [email protected]

Penyerahan Naskah: 14 Januari 2011 Diterima untuk diterbitkan: 27 Mei 2011

ABSTRACT

Artificial neural network (ANN) approach was used to model energy dissipation process into sensible heat and latent heat (evapotranspiration) fluxes. The ANN model has 5 inputs which are leaf temperature Tl, air

temperature Ta, net radiation Rn, wind speed uc and actual vapor pressure ea. Adjustment of ANN was

conducted using back propagation technique, employing measurement data of input and output parameters of the ANN. The estimation results using the adjusted ANN shows its capability in resembling the heat dissipation process by giving outputs of sensible and latent heat fluxes closed to its respective measurement values as the measured input values are given. The ANN structure presented in this paper suits for modeling similar process over vegetated surfaces, but the adjusted parameters are unique. Therefore observation data set for each different vegetation and adjustment of ANN are required.

Keyword: irrigation, hydrology, water balance, energy balance, artificial neural network PENDAHULUAN

Salah satu faktor yang sangat penting dalam menentukan kebutuhan air irigasi adalah evapotranspirasi. Berbagai metode evapotranspirasi telah dikembangkan, seperti metode Penmann-Monteith dan standarisasinya oleh asosiasi teknik sipil ASCE (Allen, 2005). Standarisasi ini menghasilkan nilai evapotranspirasi yang bukan aktual, melainkan kondisi potensial untuk satu tanaman referensi sehingga harus dicari koefisien untuk mendapatkan nilai sesungguhnya untuk tanaman tertentu.

Pengukuran evapotranspirasi secara aktual yang biasa dilakukan adalah menggunakan lysimeter. Penggunaan lysimeter ini tidak terlepas dari tujuan untuk mendapatkan hasil pengukuran setiap komponen neraca air dengan pengukuran yang akurat, sehingga dapat diperoleh nilai evapotranspirasi aktual dari suatu tanaman, manajemen lahan dan airnya.

Komponen evapotranspirasi selain terdapat dalam neraca air, juga terdapat dalam neraca energi. Evapotranspirasi dalam neraca energi

direpresen-tasikan dengan jumlah energi panas laten yang ada pada suatu neraca energi. Apabila porsi panas laten ini dapat ditentukan maka evapotranspirasi aktual juga bisa dihitung, dengan asumsi semua komponen energi panas lainnya seperti radiasi netto, gound heat dan panas terasa (sensible heat) dapat ditentukan dengan tepat.

Metode analisis neraca energi ini pada dasarnya juga digunakan dalam formulasi Penmann-Monteith. Sehingga parameter-parameter yang digunakan dalam formula tersebut menggambar kondisi lahan yang mempengaruhi evapotranspirasi, atau neraca energinya. Formulasi ini dapat digantikan dengan suatu fungsi lain, yang adaptif terhadap kondisi di lokasi tersebut dengan pendekatan kecerdasan buatan yaitu Jaringan Syaraf Tiruan (JST) atau Artificial neural networks (ANNs).

JST berusaha untuk mensimulasikan fungsi dari otak manusia dalam bentuk simpul-simpul syaraf (neuron) yang masif dan melakukan pengolahan informasi secara paralel dan menggunakan aturan pembelajaran (Lippmann, 1987). Aturan pembelajaran ini akan dapat memodifikasi perilaku neuron-neuron sebagai respon terhadap lingkungan

(4)

Pendugaan Fluks Panas dan Evapotranspirasi 25 mereka dan melakukan pengesetan sendiri

(self-adjust) guna menghasilkan respons yang konsisten. Kemampuan JST ini dapat digunakan sebagai pendekatan terhadap permodelan suatu sistem yang kompleks seperti proses-proses biologi dan klimatologi. Penggunaan teknik ini telah disajikan oleh beberapa peneliti untuk prediksi radiasi matahari harian (Elizondo et al. 1994) dan evaporasi (Tahir 1998). Dalam makalah ini disajikan pendekatan JST untuk pendugaan fluks panas evapot ranspirasi.

METODE PENELITIAN Arsitektur

Jaringan syaraf tiruan yang digunakan dalam studi ini adalah feed forward multi layered preceptron (MLP) yang merupakan model yang paling banyak dan mudah untuk digunakan. Dalam MLP terdapat lapisan-lapisan input, hidden dan output yang terbentuk dari unit-unit yang disebut neuron dan nodes. Neuron pada lapisan input berfungsi untuk menerima input dan mendistri-busikan menuju ke tahapan berikutnya dalam jaringan. Sinyal informasi yang diterima pada lapisan berikutnya adalah jumlah dari output lapisan sebelumnya yang telah diberi suatu bobot. Sehingga input x pada suatu node i pada lapisan l ditentukan sebagai berikut :

𝑥𝑖𝑙 = wijlyjl−1 𝑁𝑙−1

𝑗 =0

dimana N adalah jumlah node, wij adalah bobot

untuk koneksi antara node j dan node i dan yj output

node j. Output dari sebuah node diperoleh melalui fungsi aktivasi node dengan input ke node tersebut sebagai argumen. Fungsi aktivasi yang digunakan ini merupakan fungsi sigmoid 0 ke 1.

𝑦 = 1 1 + 𝑒−𝑥

Input dan output untuk JST ini ditentukan berdasarkan metode yang umum digunakan untuk penentuan panas sensible dan evapotranspirasi. Formula Penman-Monteith membutuhkan input temperatur udara Ta, ground heat flux G, tekanan

uap di udara ea dan didekat permukaan tanah eg, dan

radiasi netto Rn, untuk menghitung panas sensible

dan evapotranspirasi. Selain itu juga digunakan parameter-parameter resistansi yang terkait tanah dan indeks luas daun, kecepatan angin yang dibutuhkan sebagai input ke persamaan tersebut.

Beberapa input untuk formula Penman-Monteih dapat digantikan dengan data-data terukur apabila pendekatan JST digunakan, karena data-data tersebut sudah membawa infomasi-informasi yang kemudian bisa diolah dalam JST. Sehingga input untuk JST ini adalah ea (hPa)., Ta (oC), Rn (Wm-2),

kecepatan angin uc (m/s), dan temperatur daun Tl

(oC). Kelima input ini cukup untuk merepresentasikan informasi terkait jumlah energi, kelembaban udara dan keterserapan panas. Karena JST ini dibuat untuk tumbuhan tertentu, dalam hal ini rumput pasture, pada kondisi dalam hal pengolahan tanah dan manajemen air tertentu, maka parameter lainnya seperti ground heat flux, tekanan uap jenuh dan resitansi-resistansi perlakukan sebagai fungsi internal dalam JST.

(5)

26 Saptomo

Gambar 1 menunjukkan JST untuk pendugaan panas sensible dan evapotranspirasi, dengan 5 node input, 10 hidden node dan 2 node output. Output dari JST ini adalah panas sensible H dan evapotranspirasi LE dalam satuan Wm-2.

Training

Pengesetan bobot dari setiap koneksi antara input, hidden dan output dilakukan dengan menggunakan metode Back Propagation. Dalam metode ini dilakukan evaluasi error (tpj-opj) dimana

opj adalah output aktual dari preceptron j untuk

bagian dari set data training p, dan tpj adalah target

output. Proporsi dari sinyal error dialokasikan pada berbagai koneksi di dalam jaringan dan bobot dari setiap koneksi kemudian disesuaikan untuk mendapatkan error yang lebih kecil.

Fungsi error Ep didefinisikan sebagai:

𝐸𝑝 = 1

2 𝑡𝑛𝑗 − 𝑂𝑛𝑗 2 𝑗

untuk setiap unit. Bobor dari setiap koneksi pada stage (t+1) dari training berhubungan dengan bobotnya pada stage sebelumnya:

𝑤𝑖𝑗 𝑡+1 = 𝑤𝑖𝑗 𝑡 + 𝜂𝛿𝑝𝑗𝑂𝑝𝑗

dimana η adalah gain yang menentukan laju pembelajaran. Lapisan output δpj kemudian

dituliskan sebagai:

𝛿𝑝𝑗 = 𝑂𝑝𝑗 1 − 𝑂𝑝𝑗 𝑡𝑝𝑗 − 𝑂𝑝𝑗 dan untuk lapisan tersembunyi (hidden layer) :

δpj = 𝑂𝑝𝑗 1 − 𝑂𝑝𝑗 𝛿𝑝𝑘𝑤𝑗𝑘 𝑘

Algorima belajar seperti ini dapat ditemukan pada berbagai buku komputasi atau kecerdasan buatan seperti Kecman (2001), Cartwright (1993) and Haykin (1999).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Set data untuk training atau pembelajaran JST ini adalah data-data pengukuran Tl, Ta, Rn, uc, ea

(hPa) sebagai input pada node input dan LE (Wm-2) and H (Wm-2) untuk node output. Data-data ini diukur dengan peralatan pengukuran mikro-meteorologi dan Eddy Covariance System (ECS). Data-data training tersebut digunakan untuk melakukan adjustment dari JST melalui proses training dengan teknik Back Propagation.

Gambar 2 memperlihatkan perbandingan antara data pengukuran dengan hasil estimasi menggunakan JST untuk fluks panas sensible. Terlihat persamaan regresi dengan R2 yang mendekati 1. Nilai intercept pada persamaan regresi linier antara data dan estimasi memiliki nilai yang cukup kecil yaitu 1. Hasil yang serupa dapat dilihat pada Gambar 3 yang merupakan perbandingan antara data dan estimasi dari fluks panas evapotranspirasi, dengan R2 mendekati 1 dan intercept yang cukup rendah. Dari kedua gambar ini dapat disimpulkan bahwa JST telah cukup baik memodelkan proses ini dan dapat menghasilkan estimasi yang mendekati data pengukuran dengan input yang telah diberikan.

(6)

Pendugaan Fluks Panas dan Evapotranspirasi 27

Gambar 3 Perbandingan antara fluks panas evapotranspirasi antara pengukuran dan estimasi JST

Gambar 4. Fluks panas evapotranspirasi

(7)

28 Saptomo

Dengan mempergunakan JST yang telah dibuat, dilakukan estimasi nilai fluks panas sensible dan evapotranspirasi berdasarkan data pengamatan yang pernah dilakukan. Gambar 3 memperlihatkan fluktuasi fluks panas evapotranspirasi, dimana garis yang solid menunjukkan nilai yang terukur dengan ECS dan garis putus-putus menunjukkan hasil estimasi dengan mempergunakan JST. Dapat dilihat bahwa pengukuran tidak dapat dilakukan secara kontinyu karena keterbatasan operasional alat ukur. Namun dengan adanya pengukuran parameter-parameter input ke JST, nilai evapotranspirasi tetap dapat diperkirakan. Pada gambar tersebut juga dapat dilihat bahwa JST dapat memberikan estimasi yang cukup baik dibandingkan data pengukuran. Sehingga estimasi pada waktu dimana data evapotranspirasi tidak terukur dapat dilakukan selama parameter input yang dibutuhkan oleh JST dapat dipenuhi.

Seperti halnya Gambar 4, fluktuasi fluks panas sensible ditampilkan pada Gambar 5. Karena pengukuran menggunakan alat yang sama, maka data fluks panas sensible juga tidak dapat diperoleh melalui pengukuran pada waktu-waktu tertentu. Akan tetapi hasil estimasi JST menunjukkan kemampuannya dalam memberikan nilai estimasi panas sensible berdasarkan parameter input yang diberikan dan dapat memperkirakan nilai panas sensible tersebut pada hari-hari pengukuran langsung tidak dilakukan.

Pada JST ini tidak ada hubungan langsung dalam bentuk koneksi antar neuron di dalamnya antara LE dan H. Pada kenyataannya nilai LE dan H saling mempengaruhi dalam satu neraca energi, sehingga pergeseran porsi ke salah satu komponen panas akan menyebabkan pengurangan porsi dari komponen yang lain. Hal ini seharusnya dapat direpresentasikan dalam formulasi JST tersebut.

Walaupun JST dapat memberikan kemudahan dalam memodelkan sesuatu proses, seperti proses biologik dan neraca energi, tetapi JST memiliki keterbatasan yang harus dipahami. Pada kasus ini diketahui bahwa JST di-training dengan menggunakan set data tertentu. Hal ini menyebabkan JST ini hanya dapat digunakan pada rentang data yang digunakan dalam training tersebut. Selain itu JST dibuat sesuai dengan kondisi lapang tertentu, tanaman, kondisi fisik, pengolahan lahan dan

manajemen air tertentu yang menyebabkan JST ini tidak bisa digunakan untuk tumbuhan yang berbeda atau kondisi yang berbeda, walaupun struktur JST ini dapat digunakan secara umum

KESIMPULAN

Sebuah jaringan syaraf tiruan (JST) telah dibuat untuk estimasi fluks panas sensible dan evapotranspirasi. JST ini menunjukkan kemampuannya dalam mengestimasi fluks panas sensible dan evapotranspirasi dengan cukup baik. Struktur JST yang telah dibuat dapat digunakan untuk estimasi evapotranspirasi aktual selama data yang digunakan untuk training adalah data hasil pengukuran evapotranspirasi aktual dan data-data lain yang dibutuhkan sebagai input juga cukup baik. Akan tetapi satu kali adjustment hanya berlaku pada suatu kondisi yang serupa baik dalam hal jenis tanaman maupun manajemen lahan dan air, juga kondisi fisik dari tanaman tersebut. Sehingga untuk setiap kondisi yang berbeda harus dilakukan training dengan data yang sesuai pada kondisi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, R. G. I. A. Walter, R. Elliott, T. Howell, D. Itenfisu, M. Jensen. 2005. The Asce Standardized Reference Evapotranspiration Equation. Environmental and Water Resources Institute of the American Society of Civil Engineers.

Cartwright, H.M. 1993 Application of Artificial Intelligence in Chemistry. Oxford University Press, New York.

Elizondo, D., G. Hoogenboom and R.W. McClendon 1994 Development of a Neural Network model to predict daily solar radiation. Agricultural and Forest Meteorology, 71:155-132

Haykin, S. 1999 Neural Network : A Comprehensive Foundation. Prentice-Hall, New Jersey.

Kecman, V. 2001 Learning and Soft Computing. The MIT Press, London.

Tahir, S.A. 1998 “Estimationg potential evaporation using artificial neural network” Proceeding of The Tenth Afro-Asian Conference ICID, pp A-28.1-12.

(8)

J. Agromet 25 (1) : 2011 45

INFORMASI UNTUK PENULIS

1. Umum

Jurnal Agromet Indonesia diterbitkan dua kali dalam setahun oleh Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI). Jurnal Agromet Indonesia berisi naskah asli hasil penelitian atau

telaahan (review) yang belum pernah

dipublikasikan. Lingkup isi tulisan meliputi bidang meteorologi/klimatologi pertanian (kaitan antara pertanian dalam arti luas dengan aspek meteorologi atau klimatologi). Naskah yang berkaitan dengan meteorologi/klimatologi dan lingkungan (polusi dan kondisi atmosfer) dapat diterima secara selektif.

2. Hak Cipta

PERHIMPI sebagai pemilik Hak Cipta

(Copyright) dari seluruh naskah yang diterbitkan dalam Jurnal Agromet Indonesia.

3. Dewan Redaksi

Dewan Redaksi Jurnal Agromet Indonesia bertindak sebagai penyeleksi dan penelaah setiap

naskah yang akan diterbitkan serta

bertanggungjawab dalam memberi rekomendasi apakah suatu naskah layak diterbitkan, direvisi terlebih dahulu atau ditolak. Dewan Redaksi juga berperan menentukan Mitra Bestari sebagai pihak yang memberikan saran apakah suatu naskah layak diterbitkan terkait tema serta metodologinya. Saran tersebut yang akan menjadi bahan pertimbangan Dewan Redaksi dalam penerbitan artikel.

4. Naskah (artikel) a. Naskah Asli

Naskah asli adalah hasil penelitian yang belum pernah dipublikasikan atau sedang dalam proses publikasi pada penerbitan lain dan dapat terdiri atas paper penuh dan paper pendek.

b. Naskah Lain

Jurnal Agromet Indonesia juga dapat menerbitkan naskah lain dalam bentuk:

1) Diskusi, yaitu naskah tentang analisis dan kritik terhadap naskah asli yang diterbitkan 2) Forum Ilmiah, yaitu paper tentang konsep

dasar dan terapan yang berkaitan dengan

meteorologi pertanian,

meteorologi/klimatologi dan lingkungan 3) Bedah Buku atau abstrak dari jurnal lain,

yaitu naskah tentang buku baru atau hasil penelitian yang diterbitkan oleh penerbit lain.

c. Bahasa

Naskah Asli atau naskah lain harus ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris. Penggunaan Bahasa

Indonesia mengikuti cara penulisan yang baik dan

benar, sedangkan naskah berbahasa Inggris

diupayakan untuk menghindari kesalahan penulisan baik ejaan maupun tata bahasanya.

d. Biaya penerbitan dan panjang naskah

Setiap naskah yang diterima dan diterbitkan dikenakan biaya yang ditetapkan Dewan Redaksi yaitu Rp. 250.000 per naskah (maksimum 500 baris tidak termasuk tabel dan gambar). Tambahan baris akan dikenakan biaya Rp 200.000 per 100 baris.

5. Perbaikan oleh Penulis

Penulis bertanggung jawab terhadap perbaikan yang disarankan oleh Dewan Redaksi dan naskah hanya bisa diterbitkan setelah penulis mengirimkan kembali naskah hasil perbaikan dan diterima oleh Dewan Redaksi.

6. Tata Cara Penulisan Naskah

Naskah (manuscript) diketik dua spasi pada kertas berukuran A4 (21 x 29.7 cm) dengan huruf Arial 11 point. Maksimum 500 baris tanpa tabel dan gambar. Setiap baris harus diberi nomor. Tabel dan gambar di-upload secara terpisah dengan nama file berbeda. Naskah, tabel, dan gambar hanya

diserahkan (upload) secara online melalui

http://journal.ipb.ac.id/index.php/agromet. Gambar dalam format file *.jpg, sedangkan tabel dalam format *.xls. Nama file ditulis sebagai berikut:

1 Naskah : Nama keluarga penulis

utama_naskah.doc

Contoh : Handoko_naskah.doc

2 Gambar : Nama keluarga penulis

utama_gambar(i).jpg

Contoh : Handoko_gambar1.jpg

: Handoko_gambar2.jpg

3 Tabel : Nama keluarga penulis

utama_tabel(i).xls

Contoh : Handoko_tabel1.xls

i = 1, 2, 3 …

Komposisi naskah mengikuti urutan sebagai berikut : judul, identitas penulis, abstrak dan kata kunci, pendahuluan, bahan dan metode, hasil dan pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka. Tata cara penulisannya diuraikan sebagai berikut :

a. Judul diusahakan sesingkat mungkin maksimal 20 kata, menggambarkan masalah yang diteliti. Judul ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Di bawah judul dituliskan nama lengkap serta alamat (identitas) para penulis meliputi alamat pos dan email.

(9)

46 J. Agromet 25 (1) : 2011

b. Abstrak (Abstract) dan Kata Kunci (Keywords) ditulis dalam Bahasa Inggris. Abstrak tidak melebihi 300 kata, memuat secara ringkas latar belakang, tujuan, metode yang digunakan dan kesimpulan yang diperoleh. Kata Kunci ditulis di bawah abstrak, terdiri dari 5 (lima) buah kata penting terkait isi naskah, yang disusun berdasar abjad.

c. Pendahuluan mengandung latar belakang

penelitian, tinjauan pustaka dan tujuan penelitian disajikan secara ringkas dan jelas.

d. Metode Penelitian menggambarkan secara rinci tetapi ringkas, bahan dan metode yang digunakan serta mencantumkan waktu dan tempat pelaksanaan penelitian. Rancangan statistik dan Instrumentasi yang digunakan diuraikan dengan ringkas tapi jelas.

e. Hasil dan Pembahasan mengandung hasil-hasil yang diperoleh, menonjolkan hasil yang perlu mendapat perhatian, kemudian dibahas untuk menjelaskan artinya, membandingkan hasil dengan hasil penelitian lain untuk memberi arah bagi penelitian lebih lanjut. Uraian hasil dan

pembahasan dapat diperjelas dengan

menggunakan tabel dan gambar. Setiap tabel dan gambar harus diberi nomor sesuai urutannya dalam teks. Judul tabel ditulis di atas tabel dan judul gambar ditulis di bawah gambar yang bersangkutan.

f. Kesimpulan disusun secara ringkas dan jelas berdasarkan tujuan yang ditetapkan diikuti saran

apakah penelitian perlu dilanjutkan atau

merupakan masukan yang dapat dimanfaatkan masyarakat pengguna.

g. Daftar Pustaka disusun berdasarkan abjad nama pengarang. Daftar pustaka berupa jurnal urutannya adalah : nama pengarang, tahun terbit, judul lengkap, nama publikasi (sesuai dengan singkatan yang dibakukan), nomor publikasi dan halaman. Jika berupa buku, setelah judul adalah nama penerbit, tempat penerbit dan jumlah halaman buku. Diutamakan pustaka yang dirujuk 80% berupa pustaka primer (jurnal ilmiah). Semua referensi untuk kutipan dalam teks harus disajikan pada daftar pustaka. Sebaliknya, hanya referensi yang digunakan dalam teks yang disajikan dalam daftar pustaka.

7. Reprint

PERHIMPI akan memberikan cetak lepas (reprint) naskah yang diterbitkan dalam Jurnal

Agromet Indonesia kepada penulis pertama,

sebanyak 5 (lima) eksemplar. 8. Penjaminan Review

Untuk menjamin integritas telaahan (review) dari naskah yang diserahkan pada jurnal ini, diusahakan untuk selalu menghindari indentitas dari penulis dan mitra bestari (reviewer) yang saling mengenal. Hal ini menyangkut pengecekan penulis, editor, dan mitra bestari untuk mengetahui apakah tahapan berikut telah dilakukan sehubungan dengan isi naskah dan keterangan dari file tersebut :

a. Penulis telah menghilangkan identitasnya dari isi naskah, dengan menghindari pencantuman nama pada pustaka, catatan kaki, dan lain-lain. b. Pada naskah berformat Microsoft Office,

identitas penulis harus dihilangkan dari

(10)

J. Agromet 25 (1) : 2011 47

INFORMASI UNTUK PELANGGAN

Formulir Berlangganan/Subscription Form

Kepada Yth : Sekretariat PERHIMPI Pusat

Send to

Sekretariat PERHIMPI Pusat

Kampus IPB Darmaga Bogor Wing 19 Lv. 4, Darmaga, Bogor – 16680

Telp. (0251) 8623850, 8312760, Fax. (0251) 8623850, 8312760

E-mail: [email protected]

Mohon berlangganan terhitung mulai tahun ………

Please register my subscription starting ……….………

Nama/Name

: ………

Alamat/Address

: ………

Kota/City-Country

: ……….

Kode Pos/Post Code : ………

Tel./Telp.

: ………

Fax./Facs.

: ………

E-mail

: ………

Terlampir bukti pembayaran sebesar Rp. 100.000,-/eksp. ditambah 30% dari harga sebagai Ongkos

Kirim. Pembayaran dapat ditransfer melalui Rekening Pengurus Pusat PERHIMPI No.3887464,

Bank BNI 46 Cabang Bogor.

Subscription fee US $ 15,00/eksp. is payable to PERHIMPI, Bank Acc. 3887464, Bank BNI 46

Bogor Branch, Indonesia.

..………., ……….

Hormat kami,

Gambar

Gambar 1 JST untuk pendugaan panas sensible dan evapotranspirasi.
Gambar  1  menunjukkan  JST  untuk  pendugaan  panas  sensible  dan  evapotranspirasi,  dengan  5  node  input, 10 hidden node dan 2 node output
Gambar 3 Perbandingan antara fluks panas evapotranspirasi antara pengukuran dan estimasi JST

Referensi

Dokumen terkait

serta pemecahan masalah susut pasca panen. Tujuan umum penelitian ini adalah 1 ) memilih cara panen dan perontokan yang menguntungkan baik secara teknis maupun

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, proses, dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman

Untuk mengetahui exercise Half Semont Manuver lebih baik dari exercise Brandt-doroff Manuver dalam menggurangi keluhan vertigo pada gangguan fungsi Vestibular Posterior

Berserah harus dinyatakan dengan tindakan aktif menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah dan percaya bahwa Allah akan memelihara dan memberikan yang terbaik kepada kita..

Program Studi tidak memiliki dokumen/ kurikulum tentang besaran SKS untuk kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa dalam rangka tugas akhir yang telah

Panjang kabel pada sistem ESP menyebabkan arus hubung singkat daerah DOWNHOLE jauh lebih kecil dari daerah WELLHEAD dan menyebabkan LVCB WHPB-5A tidak dapat mengamankan

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 184 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahanan, sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan

Dari pengertian para ahli diatas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa biaya produksi, biaya yang digunakan dalam proses produksi yang terdiri dari bahan baku, biaya