I. Pengertian Just In Time (JIT)
Just In Time (JIT) merupakan strategi produksi yang bertujuan meningkatkan Return On Investment (ROI) dengan menekan biaya persediaan, transportasi (dari dan ke industri), serta material handling. JIT diadopsi dari sistem produksi Toyota (The Toyota Way) dan diimplementasikan di berbagai industri manufaktur Jepang. Konsep inti JIT Toyota meliputi: menghilangkan aktivitas tak bernilai tambah, komitmen pada kualitas prima, perbaikan berkelanjutan untuk efisiensi, dan penyederhanaan aktivitas serta peningkatan visibilitas aktivitas bernilai tambah. Tujuan strategis JIT adalah meningkatkan laba dan daya saing perusahaan melalui pengendalian biaya, peningkatan kinerja pengiriman, dan peningkatan kualitas. Meskipun berfokus lebih dari sekadar manajemen persediaan, pengendalian persediaan merupakan keuntungan tambahan yang signifikan.
1.1 Dua Tujuan Strategis JIT
JIT memiliki dua tujuan strategis utama: peningkatan laba dan peningkatan daya saing. Kedua tujuan ini dicapai melalui pengendalian biaya yang ketat, peningkatan efisiensi pengiriman produk, dan peningkatan kualitas produk secara berkelanjutan. Pengurangan waktu distribusi bahan baku dan percepatan pengiriman produk ke konsumen merupakan kunci untuk meningkatkan ROI dan mempercepat perputaran modal. Sistem ini mendorong peningkatan produktivitas melalui penghapusan pemborosan dan variasi dalam proses produksi.
1.2 Kesia-siaan dan Variabilitas dalam Produksi
JIT secara aktif berupaya mengurangi kesia-siaan (waktu hilang) dan variabilitas (penyimpangan dari proses optimal) dalam produksi. Kesia-siaan sering terjadi karena waktu distribusi bahan baku yang tidak efisien. Variabilitas muncul dari berbagai faktor, termasuk ketidaksesuaian standar produksi oleh karyawan, mesin, atau pemasok; spesifikasi yang tidak akurat; produksi yang terburu-buru sebelum finalisasi spesifikasi; dan ketidakpastian permintaan konsumen. Persediaan seringkali menyembunyikan variabilitas, sehingga pengurangan persediaan menjadi kunci untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah.
1.3 Sistem Tarik (Pull System) dalam JIT
Sistem JIT didasarkan pada prinsip sistem tarik (pull system), di mana produksi dilakukan hanya ketika ada permintaan. Sistem ini menggunakan sinyal (misalnya, kanban) untuk meminta pengiriman bahan baku dari fasilitas hulu ke hilir. Dengan menarik bahan baku dalam jumlah kecil sesuai kebutuhan, sistem ini menghilangkan penumpukan persediaan, mengurangi investasi persediaan, dan memperpendek waktu siklus manufaktur. Waktu siklus manufaktur didefinisikan sebagai waktu antara penerimaan bahan baku hingga produk jadi keluar dari fasilitas produksi.
II. Elemen-Elemen Kunci Dalam JIT
Penerapan JIT melibatkan beberapa elemen kunci, baik internal maupun eksternal perusahaan. Elemen-elemen ini saling berkaitan dan berkontribusi pada efisiensi keseluruhan sistem.
2.1 Peran Pemasok
Kemitraan strategis dengan pemasok merupakan elemen kunci. JIT bertujuan untuk mengurangi kesia-siaan dalam sistem pasokan, penerimaan, dan inspeksi bahan baku. Kesia-siaan ini dapat berupa kelebihan persediaan, kualitas buruk, dan keterlambatan. Kolaborasi yang erat dengan pemasok memungkinkan pengurangan biaya dan peningkatan efisiensi di kedua belah pihak. Pemasok harus mampu menyediakan bahan baku tepat waktu dan sesuai spesifikasi.
2.2 Tata Letak Pabrik
Tata letak pabrik dalam sistem JIT dirancang untuk meminimalkan pergerakan bahan baku. Lini perakitan didesain dengan titik pengiriman di dekatnya untuk mengurangi jarak tempuh dan waktu transit. Pengurangan jarak ini menghemat ruang dan mencegah penumpukan persediaan yang tidak diinginkan. Tata letak yang efisien mendukung aliran material yang lancar dan mencegah pemborosan.
2.3 Manajemen Persediaan
Manajemen persediaan dalam JIT berfokus pada pengurangan persediaan seminimal mungkin. Persediaan hanya disimpan dalam jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan proses produksi yang lancar. Taktik persediaan JIT meliputi sistem tarik, lot kecil, pengiriman tepat waktu, pengiriman langsung ke titik penggunaan, penjadwalan yang ketat, pengurangan waktu setup mesin, dan teknologi kelompok. Tujuan utama adalah untuk memiliki barang yang tepat, dalam jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat.
2.4 Penjadwalan Produksi
Penjadwalan yang efektif sangat krusial dalam sistem JIT. Jadwal yang terkomunikasi dengan baik di dalam organisasi dan kepada pemasok mendukung kelancaran produksi. Teknik penjadwalan meliputi jadwal menggunakan bahan baku moderat (memproses lot kecil secara rutin) dan sistem kanban (kartu atau sinyal untuk meminta bahan baku). Sistem Kanban memungkinkan produksi yang responsif terhadap perubahan permintaan dan mengurangi lead time.
2.5 Pemeliharaan
Pemeliharaan preventif dan perbaikan berkelanjutan merupakan elemen penting untuk mencegah waktu henti produksi. Rutinitas pemeliharaan harian, perbaikan mutu, dan peningkatan tempat kerja yang dilakukan oleh semua pihak berkontribusi pada peningkatan efisiensi. Keterlibatan operator dalam pemeliharaan sangat penting untuk keberhasilan sistem JIT.
2.6 Kualitas Produk
JIT menekankan pada kualitas produk yang tinggi. Sistem ini mengurangi biaya mutu karena persediaan yang rendah meminimalkan cacat dan pekerjaan ulang. Kualitas buruk segera teridentifikasi, memungkinkan perbaikan cepat dan umpan balik kepada pemasok. Tujuan utama adalah untuk mencapai zero defect.
2.7 Pemberdayaan Karyawan
Karyawan memiliki peran penting dalam sistem JIT. Pemberdayaan karyawan, pelatihan silang, dan pengayaan pekerjaan (job enrichment) meningkatkan keterlibatan dan tanggung jawab. Filosofi peningkatan mutu berkelanjutan memberi kesempatan kepada pekerja untuk meningkatkan pekerjaan dan kehidupan mereka. Kolaborasi yang erat antara manajemen dan karyawan sangat penting untuk keberhasilan JIT.
2.8 Komitmen Semua Pihak
Komitmen dari semua pihak yang terlibat dalam elemen-elemen kunci di atas sangat penting. Hasil yang diharapkan meliputi pengurangan antrian dan keterlambatan, peningkatan mutu, penurunan biaya, pengurangan variabilitas, dan pengurangan pekerjaan ulang. Semua elemen ini berkontribusi pada peningkatan efisiensi dan daya saing perusahaan.
III. Hal yang Harus Diperhatikan dalam Penerapan JIT
Penerapan JIT membutuhkan perhatian pada beberapa aspek kritis untuk mencapai hasil yang optimal.
3.1 Aliran Material yang Lancar
Aliran material yang lancar dan efisien merupakan kunci keberhasilan JIT. Pengaturan total pada lini produksi dan akses langsung ke bagian penerimaan dan pengiriman sangat penting. Segala hal yang menghalangi aliran material harus diidentifikasi dan dihilangkan untuk memastikan proses produksi yang tidak terputus.
3.2 Pengurangan Waktu Setup
Waktu setup mesin yang panjang tidak dapat ditoleransi dalam sistem JIT. Pengurangan waktu setup secara signifikan memungkinkan pengurangan ukuran batch dan peningkatan fleksibilitas dalam merespon perubahan permintaan. Berbagai teknik untuk mengurangi waktu setup harus diterapkan.
3.3 Pengurangan Lead Time Vendor
Kerjasama dengan vendor untuk mengurangi lead time sangat penting. Penerimaan komponen tepat waktu sesuai kebutuhan produksi memerlukan kontrak jangka panjang dengan vendor yang andal. Pengelolaan rantai pasokan yang efisien adalah kunci untuk keberhasilan JIT.
3.4 Komponen Zero Defect
JIT tidak mentolerir komponen yang cacat. Kontrol statistik dan program sertifikasi vendor memastikan bahwa semua komponen, baik yang diproduksi sendiri maupun yang dibeli, memenuhi standar kualitas yang tinggi. Pendekatan zero defect harus menjadi prioritas utama.
3.5 Kontrol Lantai Produksi yang Disiplin
Sistem pengawasan lantai produksi dalam JIT berbeda dengan sistem tradisional. Penekanan pada utilitas mesin dan waktu produksi yang panjang digantikan dengan fokus pada pengurangan persediaan dan respons yang cepat terhadap perubahan. Manajemen harus siap untuk menyesuaikan diri dengan kemungkinan adanya waktu menganggur mesin dan operator.
IV. Prinsip-Prinsip JIT
JIT didasarkan pada beberapa prinsip utama yang saling berkaitan dan mendukung keberhasilan penerapannya.
4.1 Prinsip-Prinsip Utama JIT
Prinsip-prinsip JIT meliputi: penyederhanaan (simplification), kebersihan dan organisasi (cleanliness and organization), visibilitas (visibility), waktu siklus (cycle time), ketangkasan (agility), pengurangan variabilitas (variability reduction), dan pengukuran (measurement). Prinsip-prinsip ini membentuk dasar dari filosofi JIT dan membimbing penerapannya dalam praktik.
4.2 Delapan Prinsip Dasar Just In Time
Untuk mengaplikasikan JIT secara efektif, ada delapan prinsip dasar yang harus diperhatikan: produksi sesuai pesanan, produksi dalam jumlah kecil, pengurangan pemborosan, perbaikan aliran produk secara terus menerus, penyempurnaan kualitas produk, respek terhadap karyawan, pengurangan ketidakpastian, dan perhatian dalam jangka panjang. Prinsip-prinsip ini membentuk landasan filosofis dan operasional JIT.
V. Sejarah Toyota Motor Corporation dan Penerapan JIT
Sejarah Toyota memberikan konteks penting untuk memahami perkembangan dan penerapan JIT. Sistem produksi Toyota (TPS), yang mencakup JIT, berkembang dari inovasi-inovasi sebelumnya dan terus berevolusi seiring waktu.
5.1 Sejarah Singkat Toyota dan Perkembangan TPS
Sejarah Toyota dimulai dengan penemuan alat tenun otomatis oleh Sakichi Toyoda, yang menginspirasi prinsip jidoka (mesin berhenti sendiri jika terjadi masalah). Kiichiro Toyoda, putra Sakichi, memimpin pengembangan divisi otomotif dan memperkenalkan sistem produksi yang efisien. Perkembangan Toyota Production System (TPS) meliputi berbagai inovasi dan adaptasi, hingga menjadi sistem produksi yang terkenal efisien dan efektif.
5.2 Penerapan JIT di Pabrik Toyota dan Toyota Production System (TPS)
Penerapan JIT di pabrik-pabrik Toyota dikenal sebagai Toyota Production System (TPS). TPS mengendalikan produksi dengan sistem kanban, yang berperan integral dalam memastikan bahwa hanya barang yang dibutuhkan yang diproduksi dalam jumlah yang dibutuhkan, tepat waktu. TPS menekankan pada penghapusan limbah (muda) dalam semua aspek produksi, dengan tujuan untuk mencapai efisiensi maksimal dan kualitas produk yang tinggi. Kiichiro Toyoda, sebagai pengembang utama TPS, mengejar visi produksi tanpa limbah, menjadi dasar dari prinsip JIT.
VI. Manfaat dan Tujuan Penerapan JIT di Toyota
Penerapan JIT memberikan berbagai manfaat bagi Toyota, baik secara operasional maupun finansial.
6.1 Manfaat Penerapan JIT di Toyota
Manfaat penerapan JIT di Toyota meliputi peningkatan efisiensi seluruh sistem, pengurangan biaya tenaga kerja, pengurangan kebutuhan pengecekan, penyimpanan, dan pengembalian persediaan, penyederhanaan pekerjaan, peningkatan profitabilitas, keterlacakan biaya, dan peningkatan akurasi penentuan biaya produk. Penghapusan aktivitas tak bernilai tambah dan minimisasi persediaan juga berkontribusi pada peningkatan efisiensi.
6.2 Tujuan Sistem JIT di Toyota
Tujuan utama sistem JIT di Toyota adalah mengurangi biaya produksi dan meningkatkan produktivitas melalui penghapusan pemborosan secara berkelanjutan. Tujuan spesifik meliputi zero defect, zero setup time, zero lot excesses, zero handling, zero queues, zero breakdowns, dan zero lead time. Tujuan-tujuan ini mencerminkan komitmen Toyota terhadap efisiensi dan kualitas.
6.3 Tujuan JIT Menurut Monden
Menurut Monden, tujuan utama JIT adalah peningkatan laba melalui pengurangan biaya. Ini dicapai melalui penghapusan pemborosan dalam produksi dan pemenuhan tiga sub-tujuan: pengendalian jumlah, jaminan mutu, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Pengendalian jumlah memungkinkan penyesuaian terhadap fluktuasi permintaan, jaminan mutu menjamin kualitas produk, dan penghormatan terhadap kemanusiaan menekankan pentingnya sumber daya manusia.
VII. Dampak Penerapan JIT terhadap Akuntansi Biaya Manufaktur
Penerapan JIT memiliki implikasi signifikan terhadap sistem akuntansi biaya manufaktur.
7.1 JIT dan Penentuan Biaya Produk
JIT meningkatkan keterlacakan dan akurasi penentuan biaya produk. Pengurangan biaya tidak langsung dan peningkatan biaya langsung meningkatkan keakuratan perhitungan biaya. Alokasi pusat biaya jasa berkurang karena desentralisasi aktivitas jasa. Perilaku dan pentingnya biaya tenaga kerja langsung juga berubah.
7.2 JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa
Dalam JIT, banyak aktivitas jasa didesentralisasi, dengan tenaga kerja yang terampil ditugaskan langsung ke lini produksi. Hal ini mengurangi kebutuhan untuk mengalokasikan biaya pusat jasa, meningkatkan akurasi biaya produk, dan mengubah pentingnya biaya tenaga kerja langsung.
7.3 Pengaruh JIT pada Penilaian Persediaan
JIT mengurangi atau menghilangkan kebutuhan penilaian persediaan karena persediaan yang rendah atau tidak ada. Penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk pelaporan keuangan, meskipun penentuan harga pokok produk tetap dibutuhkan untuk tujuan manajerial.
7.4 Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan dan Penentuan Harga Pokok Proses
JIT mempengaruhi penentuan harga pokok pesanan dan proses. Untuk pesanan berulang, sel manufaktur dibentuk dan biaya dikelompokkan di tingkat selular. Ukuran lot kecil membuat penentuan harga pokok pesanan untuk setiap pesanan menjadi tidak praktis, sehingga sistem harga pokok proses lebih sesuai. JIT menyederhanakan penentuan harga pokok proses karena mengurangi persediaan barang dalam proses.
7.5 JIT dan Otomasi, serta Penentuan Harga Pokok Backflush
Otomasi meningkatkan kemampuan untuk menelusuri biaya pada berbagai produk secara individual. Sistem manufaktur fleksibel (FMS) merupakan contoh otomatisasi dalam lingkungan JIT. Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan membebankan biaya produksi langsung pada produk jadi. Metode ini sederhana dan cocok untuk produk dengan biaya standar yang telah ditentukan.
7.6 Meningkatnya Tuntutan Mutu dan Perbandingan Sistem Manajemen JIT dan Tradisional
JIT menuntut mutu yang tinggi dan pengendalian mutu total (TQC) untuk menjamin ketepatan waktu produksi dan penyerahan produk. Perbandingan sistem manajemen JIT dan tradisional menunjukkan perbedaan signifikan dalam hal sistem, persediaan, basis pemasok, kontrak, struktur manufaktur, dan keahlian karyawan. JIT menekankan pada sistem tarikan, persediaan rendah, dan kerjasama erat dengan sedikit pemasok. Sementara sistem tradisional menggunakan sistem dorongan, persediaan tinggi, dan banyak pemasok dengan kontrak jangka pendek.
7.7 Dampak JIT terhadap Akuntansi Manajemen
Secara singkat, dampak JIT terhadap akuntansi manajemen mencakup peningkatan keterlacakan biaya, perubahan cost pools, perubahan dasar alokasi biaya, pengurangan perhitungan selisih harga beli, pengurangan biaya administrasi, eliminasi cost pools untuk aktivitas tidak langsung, dan pengurangan frekuensi perhitungan dan pelaporan selisih biaya. JIT menyederhanakan sistem akuntansi dan meningkatkan efisiensi.
VIII. Lean Production
Lean Production, yang dipopulerkan oleh MIT, menggambarkan sistem produksi Toyota. Sistem ini memiliki efisiensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sistem produksi massal tradisional.
8.1 Lean Production vs. Mass Production
Lean Production memerlukan separuh usaha manusia, ruang pabrik, investasi peralatan, waktu engineering, dan waktu peluncuran produk baru dibandingkan dengan Mass Production. Paradigma Lean Production berbeda dengan Mass Production, yang menekankan pada peningkatan efisiensi dengan mengurangi pemborosan dan waktu henti produksi. Lean production mampu menghasilkan produk yang lebih baik, lebih cepat, dan dengan biaya yang lebih rendah.
8.2 Prinsip-Prinsip Lean Production
Prinsip Lean Production meliputi kerja tim, komunikasi, penggunaan sumber daya secara efisien, penghapusan muda (waste), dan perbaikan berkelanjutan. Budaya kerja kolektif dan disiplin di Jepang menjadi faktor kunci keberhasilan Lean Production. Lean Production menekankan pada penghapusan segala bentuk pemborosan, termasuk kelebihan persediaan, transportasi, gerakan yang berlebihan, waktu tunggu, dan pekerjaan ulang.
8.3 Contoh Penerapan Lean Production di Toyota
Contoh revolusioner penerapan Lean Production di Toyota adalah pemberian otorisasi kepada pekerja untuk menghentikan assembly line jika menemukan cacat. Hal ini menghasilkan produk dengan kualitas yang sangat tinggi karena masalah teridentifikasi dan diperbaiki segera. Sistem ini sangat kontras dengan sistem tradisional yang mengandalkan inspeksi akhir produk.
8.4 Penyebaran Lean Production
Konsep Lean Production telah tersebar luas, tidak hanya di industri otomotif, tetapi juga di berbagai industri lain seperti retail dan teknologi. Perusahaan seperti Dell dan Wal-Mart telah menerapkan prinsip-prinsip Lean Production dalam rantai pasokan mereka. Konsep Just In Time (JIT) dan Kanban menjadi elemen penting dalam penerapan Lean Production.
Referensi Dokumen
- The Machine That Changed The World ( International Motor Vehicle Program (IMVP) )