• Tidak ada hasil yang ditemukan

Morfologi dan Siklus Hidup Rajungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Morfologi dan Siklus Hidup Rajungan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MORFOLOGI DAN SIKLUS HIDUP RAJUNGAN (Portunus pelagicus)

NAMA MAHASISWA : Muhamad Rinaldi

NIM : AK816048

SEMESTER : IV

KELAS : IV B

MATA KULIAH : Parasitologi III PROGRAM STUDI :DIII Analis Kesehatan

DOSEN :Putri Kartika Sari, M.Si

YAYASAN BORNEO LESTARI

AKADEMI ANALIS KESEHATAN BORNEO LESTARI BANJARBARU

(2)

1. MORFOLOGI RAJUNGAN

Secara umum morfologi rajungan berbeda dengan kepiting bakau, di mana rajungan (Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Duri akhir pada kedua sisi karapas relatif lebih panjang dan lebih runcing. Rajungan hanya hidup pada lingkungan air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air. Bila kepiting hidup di perairan payau, seperti di hutan bakau atau di pematang tambak, rajungan hidup di dalam laut. Rajungan memang tergolong hewan yang bermukim di dasar laut, tapi malam hari suka naik ke permukaan untuk cari makan. Makanya rajungan disebut juga “swimming crab” alias kepiting yang bisa berenang.

(3)

Kaki jalan pertama tersusun atas daktilus yang berfungsi sebagai capit, propodos, karpus, dan merus.

Induk rajungan mempunyai capit yang lebih panjang dari kepiting bakau, dan karapasnya memiliki duri sebanyak 9 buah yang terdapat pada sebelah kanan kiri mata. Bobot rajungan dapat mencapai 400 gram, dengan ukuran karapas sekitar 300 mm (12 inchi), Rajungan bisa mencapai panjang 18 cm, capitnya kokoh, panjang dan berduri-duri. Rajungan mempunyai karapas berbentuk bulat pipih dengan warna yang sangat menarik. Ukuran karapas lebih besar ke arah samping dengan permukaan yang tidak terlalu jelas pembagian daerahnya. Sebelah kiri dan kanan karapasnya terdapat duri besar, jumlah duri sisi belakang matanya sebanyak 9, 6, 5 atau 4 dan antara matanya terdapat 4 buah duri besar.

Pada hewan ini terlihat menyolok perbedaan antara jantan dan betina. Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Yang jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat. Rajungan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih besar dan capitnya lebih panjang daripada betina. Perbedaan lainnya adalah warna dasar, rajungan jantan berwarna kebiru-biruan dengan bercak-bercak putih terang, sedangkan betina berwarna dasar kehijau-hijauan dengan bercak-bercak putih agak suram. Perbedaan warna ini jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa

KLASIFIKASI RAJUNGAN

(4)

Sub Famili : Portunninae Genus : Portunus

Spesies : Portunus pelagicus

(5)

2. SIKLUS HIDUP

Habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 65 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria.

Rajungan banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa. Perkawinan rajungan terjadi pada musim panas, dan terlihat yang jantan melekatkan diri pada betina kemudian menghabiskan beberapa waktu perkawinan dengan berenang. Sebagaimana halnya dengan kerabatnya, yaitu kepiting bakau, di alam makanan rajungan juga berupa ikan kecil, udang-udang kecil, binatang invertebrata, detritus dan merupakan binatang karnivora. Rajungan juga cukup tanggap terhadap pembeian pakan furmula/pellet. Sewaktu masih stadia larva, hewan ini merupakan pemakan plankton, baik phyto maupun zooplakton.

KETERKAITAN EKOSISTEM

Portunus pelagicus, juga dikenal sebagai bunga kepiting, kepiting biru, rajungan, kepiting manna biru atau kepiting pasir, adalah kepiting yang ditemukan di intertidal muara dari Hindia dan Samudra Pasifik (pantai Asia) dan Timur Tengah- pantai di Laut Mediterania. Kepiting-kepiting tersebar luas di bagian timur Afrika , Asia Tenggara , Asia Timur , Australia dan Selandia Baru .

Rajungan (swimming crab) memiliki tempat hidup yang berbeda dengan jenis kepiting pada umumnya seperti kepiting bakau (Scylla serrata), tetapi memiliki tingkah laku yang hampir sama dengan kepiting. Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan jenis kepiting perenang yang juga mendiami dasar lumpur berpasir sebagai tempat berlindung. Jenis rajungan ini banyak terdapat pada lautan Indo-Pasifik dan India. Sementara itu informasi dari panti benih rajungan milik swasta menyebutkan bahwa tempat penangkapan rajungan terdapat di daerah Gilimanuk (pantai utara Bali), Pengambengan (pantai selatan Bali), Muncar (pantai selatan Jawa Timur), Pasuruan (pantai utara Jawa Timur), daerah Lampung, daerah Medan dan daerah Kalimantan Barat.

(6)

Jika ia akan tumbuh lebih besar maka kulitnya akan retak pecah dan dari situ akan keluar individu yang lebih besar dengan kulit yang masih lunak. Rajungan yang baru berganti kulit, tubuhnya masih sangat lunak, diperlukan beberapa waktu untuk dapat membentuk lagi kulit pelindung yang keras. Masa selama bertubuh lunak ini merupakan masa paling rawan dalam kehidupan kepiting, karena pertahannya pun sangat lemah. Tidak jarang ia disergap, dirobek-robek dan dimakan oleh sesama jenisnya. Kanibalisme di kalangan rajungan tampaknya memang merupakan hal yang sering terjadi terutama dalam ruang terbatas, baik pada yang dewasa maupun yang masih larva. Seekor rajungan dapat menetaskan telurnya menjadi larva sampai lebih sejuta ekor. Larva yang baru menetas ini bentuknya sangat berlainan dari bentuk dewasa. Larva ini mengalami beberapa kali perubahan bentuk sampai mendapatkan bentuk seperti yang dewasa. Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang daripada rajungan. Di kepalanya terdapat semacam tanduk memanjang, matanya besar dan di ujung kakinya terdapat rambut-rambut. Tahap zoea ini sendiri lagi dari 4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa dengan bentuk yang lain lagi. Berbeda dengan yang dewasa yang hidup di dasar, larva rajungan berenang-renang, terbawa arus, dan hidup sebagai plankton. Pada tahap megalopa, bentuknya sudah mulai mirip rajungan, tubuhnya makin melebar, kaki dan capitnya sudah jelas wujudnya, matanya sangat besar (bahkan bisa lebih besar dari mata yang dewasa). Barulah pada perkembangan tahap berikutnya terbentuk juvenil yang sudah merupakan rajungan muda.

3. EPIDEMIOLOGI

Sampai saat ini rajungan (Portunus pelagicus Linn.) masih merupakan komoditas laut yang mempunyai nilai ekonomis yang penting. Penangkapan rajungan yang semakin intensif dapat mengakibatkan populasi alami rajungan mengalami penurunan . Akibat penangkapan di alam yang kurang terkendali, maka terjadi kelangkaan populasi rajungan di perairan Indonesia (Juwana, 2000). Oleh sebab itu peningkatan produksi rajungan harus segera dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar baik tingkat lokal maupun ekspor. Untuk itu budidaya rajungan merupakan alternatif yang bisa dilakukan. Akan tetapi teknologi budidaya rajungan masih banyak kendala dan belum memasyarakat (DKP, 2004). Permasalahan yang terjadi pada budidaya antara lain adalah kanibalisme yang tinggi terutama pada saat larva rajungan mengalami proses moulting. Kanibalisme dapat ditekan dengan salah satu cara yaitu pemberian tempat berlindung baik berupa shelter maupun substrat dasar yang cocok, grading dan pengurangan kepadatan larva selama pemeliharaan (Zmora et al, 2007).

(7)

masih relatif rendah (1,58 - 10,44%) pada rajungan stadia crablet (C-5). Tingginya mortalitas terutama pada saat moulting rajungan sangat lemah, karena tidak tersedianya shelter sehingga dimangsa oleh rajungan lain. ILMU KELAUTAN, Maret 2009 Vol. 14(1):23-26 ISSN 9853-7291 www.ik-ijms.com Diterima/Received: 05-12-2009 Disetujui/Accepted:10-01-2009 * Corresponding Author © Ilmu Kelautan, UNDIP Rajungan biasa hidup di pantai dengan substrat dasar pasir, pasir lumpur, dan juga di laut terbuka. Rajungan juga terdapat di daerah bakau dan di tambak-tambak air payau yang berdekatan dengan laut dengan substrat dasar lumpur (Juwana, 2000). Penggunaan pasir dan lumpur sebagai subtrat dasar telah digunakan untuk pemeliharaan Portunidae seperti, juvenil Scylla serata (Djunaedi dkk, 1997) dan dan crablet Scylla paramamosain (Djunaidah dkk, 2004). Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh substrat dasar terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan rajungan terutama pada stadia crablet.

(8)

Cholik, F., A.G. Jagatraya., R.P. Poernomo. dan A, Jauzi. 2005. Akuakultur: Tumpuan Harapan Masa Depan Bangsa. Penerbit Masyarakat Perikanan Nusantara dengan Taman Akuarium Air Tawar Taman Mini ”Indonesia Indah”. Jakarta. 415 h

Ikan Mania. 2007. Pengamatan Aspek Biologi Rajungan dalam Menunjang Teknik Perbenihannya. http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/31/ pengamatan- aspek-biologi-rajungan- dalam- menunjang- teknik perbenihannya. (Akses 11 Juni 2010).

Mirzads. 2009. Pengemasan Daging Rajungan Pasteurisasi dalam Kaleng. http://mirzads.wordpress.com/2009/02/12/pengemasan-daging-rajungan-pasteurisasi-dalam-kaleng/. (Akses 11 Juni 2010).

Pulau Seribu.net. 2008. kepiting dan Kerabatnya. http://www.pulauseribu.net/ modules/news/article.php?storyid=1154. (Akses 11 Juni 2010).

Roffi. 2006. Budidaya Rajungan. http://akuakultur.wordpress.com/2006/12/23/ budidaya-rajungan-2/. (Akses 11 Juni 2010).

Susanto, N. 2010. Perbedaan antara Rajungan dan Kepiting. http://blog.unila. ac.id/gnugroho/category/bahan-ajar/karsinologi/. (Akses 11 Juni 2010).

Tabloid Info. 2007. jalan pintas pembenihan rajungan. http://tabloid_info. sumenep.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=233&Itemid=28.

Djunaedi, A., Subandiono dan G.W. Santosa. 1997. Pengaruh Substrat dan Jenis Pakan terhadap Pertumbuhan Juvenil Kepiting Bakau (Scylla serrata) pada Pemeliharaan dengan Sistem Baterai. Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro, Semarang. (Laporan Penelitian) (Tidak dipublikasikan). 42 hlm.

Djunaidah, I.S., M.R. Toelihere., M.I. Effendie., S. Sukimin dan E. Riani. 2004. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih kepiting bakau (Scylla paramamosain) yang dipelihara pada substrat berbeda. Ilmu Kelautan. 9 (1) : 20-25.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul Pengaruh Kadar Protein dan Rasio Energi Protein Pakan Berbeda Terhadap Kinerja Pertumbuhan Benih Rajungan ( Portunus pelagicus

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul Pengaruh Kadar Protein dan Rasio Energi Protein Pakan Berbeda Terhadap Kinerja Pertumbuhan Benih Rajungan ( Portunus pelagicus

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa bakteri kitinolitik yang diisolasi dari cangkang rajungan ( Portunus pelagicus )

ANALISIS KANDUNGAN LOGAM BERAT KADMIUM (Cd), MERKURI (Hg), DAN TIMBAL (Pb) PADA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) YANG DIJUAL DI TPI

Dengan sumber daya hutan bakau yang membentang luas di seluruh kawasan pantai nusantara, maka tidak heran jika indonesia dikenal sebagai pengeskpor kepiting yang cukup besar

Tiga pasang kaki berikutnya, disebut kaki jalan yang selain berfungsi untuk berjalan saat kepiting bakau berada di darat, juga berfungsi dalam proses reproduksi, terutama pada

melakukan pencatatan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus pelagicus spp.) dalam kondisi bertelur sebagaimana dimaksud dalam Pasal

Hasil uji-t (α: 0.05) terhadap nilai koefisien b pada hubungan lebar karapas dan bobot tubuh rajungan diketahui bahwa pola pertumbuhan rajungan (Portunus pelagicus)