DUNIA KITA YANG SEBENARNYA yang

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

DUNIA KITA YANG SEBENARNYA

"Kita bukanlah manusia yang mencoba belajar menjadi makhluk spiritual melainkan kita adalah makhluk spiritual yang mencoba belajar menjadi manusia."

MEMPERTANYAKAN MODEL

Seperti apa gambar Tata Surya menurut anda? Apakah anda akan menggambar sebuah lingkaran sebagai matahari, lalu menggambar lingkaran lagi dengan bulatan kecil sebagai merkurius, lalu menggambar lingkaran lagi dengan bulatan kecil sebagai venus, dan seterusnya? Tampaknya seperti itulah gambaran umum tentang Tata Surya. Sebuah gambar yang menggambarkan planet-planet mengorbit pada matahari. Namun bagaimana jika anda diberitahu bahwa gambar Tata Surya seperti itu yang sering anda lihat di buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah itu sebenarnya sama sekali tidak mirip Tata Surya yang sebenarnya? Gambar itu tidak mencerminkan skala jarak yang sebenarnya. Gambar Tata Surya yang anda lihat selama ini hanyalah model Tata Surya. Bukan gambar Tata Surya dengan skala yang tepat. Model Tata Surya yang demikian itu terpaksa dipilih karena sangat sulit

menggambarkan Tata Surya dengan skala yang tepat. Jadi, bagaimana menggambar Tata Surya dengan skala yang tepat? Anda tak akan bisa. Paling tidak, anda tak bisa

menggambarnya dengan kertas ukuran biasa.

Sama dengan Tata Surya, Atom juga digambarkan sebagai model, bukan dengan skala yang tepat. Jarak yang sebenarnya antara inti atom dengan elektron-elektron sangatlah jauh, dan sulit digambarkan di kertas kecuali digambar tanpa skala alias model saja. Jarak antar planet-planet juga sangatlah jauh.

Untuk menggambarkan skala atom yang tepat, kita perlu membayangkan seandainya atom tersebut diperbesar sebesar Bumi. Jika atom sebesar Bumi, maka inti atom kira-kira akan sebesar bola golf dan elektron akan sebesar kelereng kecil. Itulah ukuran dengan skala yang mendekati sebenarnya. Anda bisa membayangkan perbedaan ukurannya? Bumi, bola golf, dan kelereng! Sekarang bayangkanlah bola golf itu ditaruh di pusat perut Bumi dan kelereng kecil diletakkan di permukaan Bumi. Nah, jarak antara inti atom dengan elektron itu, jika atomnya sendiri sebesar Bumi, akan sama dengan jarak antara inti Bumi dengan permukaan Bumi. Bagaimana cara anda menyebut jarak yang memisahkan antara bola golf dan kelereng dalam contoh di atas? Kita sepakat, ini adalah jarak yang sangat fantastis. Sekarang anda mulai bertanya-tanya: apakah gerangan yang ada di dalam jarak yang fantastis tersebut? Kosong! Yang ada di antara inti atom dan elektron adalah ruang kosong.

Jarak antara matahari dengan bintang-bintang yang lain juga terdapat ruang kosong, jarak antara galaksi satu dengan galaksi yang lain juga ada ruang kosong. Bahkan seluruh alam semesta yang di dalamnya berisi galaksi dan bintang-bintang, kita menyaksikan ruang kosong mengisi jarak di antara semua benda-benda itu. Singkatnya, ruang kosong adalah bagian terbesar dari alam semesta, termasuk atom.

Sampai di sini kita mendapati kenyataan bahwa bagian terbesar penyusun alam semesta, dari atom hingga galaksi, ternyata adalah ruang kosong.

(2)

Sekarang bayangkanlah anda sedang memecah sebuah atom. Setelah atom itu terpecah, maka pecahkan lagi inti atomnya, setelah itu pecahkan lagi materi yang lebih kecil dari inti atom yaitu Kuark, dan jika Kuark itu kita pecah lagi, dan lantas kita pecah terus berkali-kali, maka ujung akhirnya akan benar-benar KOSONG.

SEMUA HANYALAH PENAMPAKAN

Ketika semua wujud materi kita lihat dalam ukuran sub-atomik ini, kita tak melihat apapun lagi kecuali kekosongan. Dalam fisika quantum, kekosongan ini digambarkan mirip serpihan gelombang. Di tingkat sub-atomik kita melihat serpihan gelombang namun di tingkat super-molekul kita melihat wujud materinya. Entah itu tubuh manusia, meja kursi, pesawat, planet-planet, semua yang kita lihat dengan mata itu pada tingkat sub-atomiknya hanyalah serpihan gelombang di ruang Kosong.

Apa artinya? Ini berarti bahwa sejatinya materi tidaklah sematerial kenyataannya. Materi bukan sesuatu yang nyata dalam arti hakikinya. Karena manusia bagian dari dunia materi, maka wujud manusia itu sendiri tidak sematerial (baca=sepadat) yang kita kira alias tidak sematerial kenyataannya. Apa yang kita anggap sebagai materi tubuh manusia, itu tak lain hanyalah gelombang penampakan konstan, yang kita persepsikan sebagai materi tubuh. Istilah 'penampakan' yang sering kita disandangkan untuk Jin, ternyata juga berlaku untuk manusia. Jika jin tidak bisa dilihat oleh mata manusia, itu karena komposisi atom-atom pembentuk materi Jin berbeda dengan atom-atom pembentuk materi manusia. Dalam hal ini, jarak antar atom-atom penyusunnya berbeda. Jika atom-atom penyusun tubuh manusia didekatkan satu sama lain jaraknya, maka tubuh manusia berangsur-angsur juga akan mengecil hingga akan sampai transparan saking kecilnya. Sebuah materi yang jarak antar atomnya berdekatan; maka materi ini akan sulit dilihat oleh materi lain yang rentang jarak antar atom-nya relatif lebih jauh.

Dengan rentang jarak antar atom penyusun materi yang berbeda, materi tubuh Jin akan menjadi 'ghoib' bagi manusia, meskipun ini bukan berarti Jin itu ghoib dalam arti sebenarnya. Hanya karena manusia tidak bisa melihatnya, bukan berarti jin bisa dinisbikan kehadirannya. Jin hidup di dunia yang sama dengan manusia, hanya saja manusia 'tak bisa' melihatnya. Dengan dimensi mikro tersebut, akan sangat mudah bagi Jin untuk bisa menyusup masuk ke dalam pembuluh darah manusia.

Saat ini Fisika Klasik Newton dan hukum-hukumnya masih relatif akurat untuk menerangkan dunia materi berukuran besar. Namun kenapa hukum-hukum fisika klasik tidak bisa

menjawab untuk permasalahan materi yang lebih renik, mikro, atau sub-atomik? Misalnya, kenapa fisika klasik tidak mampu menerangkan prediksi gerakan atom dan partikel cahaya? Jawabannya adalah karena pada tingkat atomik, apalagi sub-atomik, materi sesungguhnya tidak sematerial (=baca sepadat) kenyataannya. Pada dasarnya materi itu sendiri tidak benar-benar ada, melainkan hanya gelombang penampakan. Kini Fisika Quantum mungkin bisa membantu, akan tetapi tetap saja masih banyak misteri yang belum terjawab. Sebab semua sarana di alam dunia, semua alat bantu yang digunakan untuk merumuskan formulasi alam dunia, berikut manusianya itu sendiri, tak lebih hanyalah sebuah penampakan.

MANUSIA TERHIJAB OLEH PENAMPAKAN DUNIA

(3)

wujud ini. Manusia bukan berada di dalam dunia, sebaliknya, dunialah yang ”berada” di dalam ”benak” manusia. Kepada siapa Tuhan menampakkannya? Wujud yang solid dan tak bisa diurai adalah Ruh. Kepada Ruh-lah Tuhan menampakkan pengalaman dunia. Ruh-lah yang mengalami pemandangan dunia. Ruh tidak kemana-mana, Ruh tak bisa lepas dari 'genggaman' Tuhan, Ruh bukanlah materi yang sifat nyatanya hanyalah penampakan. Kita sering bertanya: Kenapa Tuhan disebut Yang Maha Ada? Jawabannya adalah: karena selain Tuhan sebenarnya tidak ada apa-apa lagi. Dalam artian, tidak benar-benar ada dalam arti yang sebenarnya. Selain Tuhan, semuanya hanyalah penampakan, tidak ”benar-benar ada” dalam arti hakikinya. Dan karena semua wujud materi hanyalah penampakan, maka yang terdekat dengan anda saat ini bukanlah layar monitor smartphone anda, juga bukan jari tangan anda sendiri, juga bukan urat leher anda. Yang terdekat dengan anda saat ini adalah Tuhan. Karena urat leher anda hanyalah penampakan. Yang benar-benar ada adalah Tuhan. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. 50:16)

Keberadaan Tuhan dan ‘keberadaan’ kita tidak berjarak, karena sesuatu Yang Maha Ada tidaklah berjarak dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dalam arti yang sebenarnya. Yang Maha Ada meliputi yang tidak benar-benar ada. Yang tidak benar-benar ada tidak bisa lepas dari Yang Maha Ada. Yang Maha Ada tidak mungkin diserupakan dengan yang tidak benar-benar ada. Dan yang tidak benar-benar ada tidak mungkin menjadi Yang Maha Ada. Penampakan ini, selain membuat manusia menyadari ‘keberadaan’-nya, yang membuatnya menjadi ‘entitas’ baru yang membedakannya dengan Tuhan, sekaligus juga menjadi tabir penghalang untuk menyadari keberadaan Tuhan. Penampakan ini bagaikan hijab terbesar antara manusia dengan Tuhan. Meskipun secara hakiki hijab materi ini sendiri hanyalah persepsi indera manusia, namun nyaris seluruh manusia akan sulit terbebas dari persepsi ini. Paham filsafat materialisme memperparah kondisi ini. Tak heran jika nyaris seluruh manusia akan tertipu dengan dunia penampakan ini. Nyaris tak ada manusia yang menyadari bahwa dirinya saat ini terhijab oleh penampakan dunia.

UJIAN ITU BERNAMA: “MENGALAMI DUNIA”

Semua hanyalah penampakan. Manusia bertemu dengan manusia lainnya, berkomunikasi, bersosialisasi, dan saling terhubung satu sama lain, adalah dalam tataran penampakan. Realitas ini mirip dengan ketika anda dan teman anda terhubung secara online di sosmed. Misalnya di facebook anda terhubung dengan teman anda, saat itu anda merasa telah

”bertemu” dengan teman anda itu. Secara online anda bertukar pikiran, berkomunikasi, tetapi akun facebook anda itu bukanlah anda yang sesungguhnya. Anda yang sejati mungkin sedang duduk di kursi di depan komputer dan tak kemana-mana. Begitu pula materi manusia satu bertemu dengan materi manusia yang lain, itu bukan pertemuan yang sebenarnya. Fisik materi tubuh manusia hanyalah alat Ruh untuk saling berkomunikasi. Ruh-ruh manusia seluruh jagat tetap saja di satu 'lokasi'. Ruh itu tak lepas dari 'genggaman' Tuhan, dan tak pernah sedetikpun terpisah dari 'genggaman'-Nya.

(4)

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. 67:1-2) Sesungguhnya manusia berasal dari Tuhan dan sesungguhnya kepada Tuhan akan kembali.

SEMUA SELAIN TUHAN HANYALAH PENAMPAKAN

Bagaimana dengan akhirat itu sendiri, apakah juga penampakan? Prinsipnya adalah hanya Tuhan yang Maha Ada, selain Dia sejatinya tidak benar-benar ada. Maksudnya, entitas selain Tuhan sesungguhnya tidak benar-benar ada dalam arti hakikinya, alias hanya penampakan. Dengan demikian, sebagai konsekuensi, alam akhirat juga hanyalah penampakan.

Perumpamaan pergantian penampakan alam dunia dengan penampakan alam akhirat, bagi Tuhan, itu akan sama mudahnya seperti misalnya ketika anda mengganti satu saluran TV ke saluran TV yang lain. Jika kepada Ruh bisa ditampakkan dunia dan mengalaminya, maka kepada Ruh juga bisa ditampakkan akhirat dan mengalaminya. Dengan mengubah

‘salurannya’, penampakan alam dunia dengan mudah menjadi penampakan alam akhirat. Sampai titik ini, yang perlu dipahami adalah, bahwa hanya karena alam akhirat sebuah penampakan bukan berarti di alam akhirat seseorang tidak akan merasakan sensasi apa-apa. Di alam dunia saja, meskipun saat ini anda sudah menyadari bahwa dunia hanyalah

penampakan, anda akan tetap bisa merasakan sensasi di pipi anda ketika tangan seseorang menampar pipi anda. Meskipun saat ini anda sudah menyadari bahwa dunia hanyalah penampakan, bukan berarti anda terbebas dari rasa sakit saat jatuh dari tempat tinggi. Setiap penampakan sebuah alam akan dilengkapi dengan hukum-hukum alam yang ada di dalamnya. Hanya karena anda menyadari fakta penampakan ini, bukan berarti anda terbebas dari hukum gravitasi yang berlaku di alam dunia ini. Tamparan tangan seseorang tetap akan bisa anda rasakan sakitnya di pipi anda. Meskipun anda menyadari bahwa darah hanya penampakan, rasa sakit saat darah itu keluar dari tubuh anda tetap anda rasakan sensasinya. Bagaimana dengan dahsyatnya siksa di alam neraka dan kenikmatan di alam surga? Tentu saja semua sensasi tetap akan bisa anda rasakan. Konsekuensi dari penampakan ini adalah anda akan dibikinkan indera khusus untuk mengalami dampak alam akhirat. Meskipun anda tahu semua adalah penampakan, jangan berani-berani punya cita-cita ingin merasakan pengalaman neraka. Adzab di sana akan sama ”nyata”-nya dengan misalnya ketika anda tiba-tiba kesetrum sengatan listrik bertegangan tinggi.

LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH

Tipuan terbesar dari dunia penampakan ini adalah mitos tentang daya dan kekuatan. Nyaris seluruh manusia meyakini bahwa mereka merasa memiliki daya dan kekuatan untuk

melakukan sebuah perbuatan. Sesungguhnya, manusia sebagai materi tidak memiliki sebenar-benar daya dan kekuatan untuk melakukan apapun.

(5)

Jika anda susah menerima realitas ini, dan anda pasti bukan satu-satunya di dunia ini, maka perhatikanlah padanan realitas ini yang mirip dengan ketika anda main game di PS atau di internet. Pada saat anda main game, sesungguhnya semua gerakan tokoh game yang anda mainkan sudah DISEDIAKAN oleh sang programmer game tersebut. Dalam game tersebut, peran anda hanyalah MEMILIH gerakannya, memilih salah satu alternatif gerakan yang telah tersedia sebelumnya, anda memilih menendang, memilih melompat, memilih berlari, ataupun memilih menggerakkan leher anda. Mustahil anda memilih gerakan di arena game tersebut yang gerakan itu sendiri tidak disediakan alternatifnya oleh sang progammer game. Sebuah gerakan di dalam game hanya bisa terjadi dalam dua syarat, yaitu gerakan itu sudah tersedia dalam programnya, dan gerakan itu dipilih oleh pemain gamenya.

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu."(QS. 37:96) Sebagai umat islam, saat kita mendengar seruan adzan, "Hayya ala Sholah” (Ayolah Sholat), maka kita akan menjawab: ”La Haula Wala Quwwata Illa Billah” (Tak ada daya dan tak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Alasan redaksi jawaban itu adalah karena bukan kita yang PUNYA gerakannya. Allah-lah yang memiliki daya dan kekuatan.

MANUSIA BUKAN WAYANG TANPA PILIHAN

Di dalam setiap pilihan yang tersedia, kita berperan dalam memilih. Di setiap pilihan kita, ada niat kita dalam memilihnya, dan itulah peran kita, atau “kehendak” kita. Peran manusia berada di dalam niatnya saat memilih setiap pilihan yang tersedia. Setiap perbuatan dinilai bergantung pada niatnya. Karena setiap manusia bisa memilih, maka Tuhan tidak bisa dituntut atas kejahatan yang telah dipilih oleh manusia oleh manusia itu sendiri melalui niat sang manusia tersebut.

“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. 91:8 )

SEGALA PUJI HANYA UNTUK ALLAH

Pada titik ini, kita perlu bersyukur apabila kita masih diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan berbagai pilihan yang baik-baik. Kita perlu bersyukur apabila kita masih dilimpahi daya dan kemampuan oleh Tuhan untuk bisa memilih pilihan yang baik di antara banyak pilihan. Pujian hanyalah untuk Allah dikarenakan Dialah yang menciptakan semua pilihan itu untuk kita pilih. Dan setelah kita menyelesaikan perbuatan baik itu, maka berharaplah untuk mendapatkan ridho-Nya. Sesungguhnya yang menyelamatkan kita kelak bukanlah amal dan perbuatan kita melainkan ridho Allah atas pilihan perbuatan kita.

Pada titik ini, ketika seseorang telah melakukan perbuatan baik, maka tidaklah layak dia berpikir bahwa dengan perbuatan baiknya itu dia telah merasa pantas untuk mendapatkan pahala dari Tuhan. Karena perbuatan itu adalah Tuhan yang menciptakan. Pahala dari Tuhan adalah bentuk kemurahan Tuhan atas niat kita atau atas pilihan yang kita pilih, bukan lantaran karena perbuatan kita itu sendiri, sebab sejatinya kita tak punya daya untuk menciptakan perbuatan itu, melainkan kita hanya bisa memilih gerakan itu setelah kita diberi kekuatan Tuhan untuk memilihnya. Manusia, tubuhnya, bahkan gerakan tubuhnya; hanyalah penampakan.

Itulah kenapa sifat Riya’ (membanggakan amal perbuatan) adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Tuhan. Sampai-sampai, pada tingkat tertentu, sifat ini bisa menjatuhkan

seseorang dalam jurang kesyirikan. Karena yang patut bangga atas perbuatan itu adalah Sang Pencipta perbuatan yaitu Allah. Kepada Allah-lah kembalinya segala pujian. Segala puji hanyalah untuk Allah.

(6)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Hutan diantara dunia-dunia