MAKALAH KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA SD
“KETERAMPILAN MEMBACA”
Dosen Pembimbing : Dra. St. Rohana Hariana I..M.Pd.,Disusun Oleh :
Kelas III A – Pgsd Regular Pagi Kelompok IV
Aprina Hidayatul Laeli (E1E015011) Diah Ayu Wulandari (E1E015019)
Fitmi Kayanti (E1E015026) Heni Yuliani (E1E015034) I Komang Ardiana Yasa (E1E015039)
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan khadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul KETERAMPILAN MEMBACA. Penyusunan makalah ini bertujuan memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keterampilan Berbahasa Indonesia SD
Dengan segala kerendahan hati penyusun menyadari bahwa hasil yang dicapai dari makalah ini, masih banyak kekuranganya, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan. Akhir kata penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun pribadi maupun pembaca.
Mataram , Oktober 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...
BAB I menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Selanjutnya disebutkan pula bahwa ruang lingkup pembelajaran bahasa meliputi empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis.
Dalam pembelajarannya keempat aspek keterampilan berbahasa disajikan dalam porsi yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu. Bahan pembelajaran pemahaman diambil dari bahan mendengarkan dan membaca, yang meliputi pengembangan kemampuan untuk menyerap gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan perasaan yang dilisankan atau ditulis. Bahan pemahaman tersebut mencakup pula karya sastra, baik asli Indonesia maupun terjemahan (daerah/asing).
Keterampilan membaca adalah salah satu keterampilan reseptif di samping keterampilan mendengarkan. Sebagai salah satu keterampilan reseptif, membaca merupakan komponen pemahaman. Dalam kegiatan pembelajaran membaca, selain guru dituntut untuk memahami kurikulum yaitu memahami dan menguasai materi pembelajaran, guru juga harus mampu merancang pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimanakah hakikat membaca ? b. Apakah tujuan membaca ?
c. Bagaimanakah tahapan membaca ?
C. TUJUAN MASALAH
a. Menjelaskan hakikat membaca b. Menjelaskan tujuan membaca
BAB II
PEMBAHASAN
1. HAKIKAT MEMBACA
Membaca merupakan salah satu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Sebagai bentuk keterampilan reseptif, kegiatan membaca merupakan proses mengumpulkan dan menemukan informasi melalui suatu bacaan. Oleh sebab itu, salah satu tujuan membaca adalah mendapatkan informasi melalui suatu bacaan untuk memperkaya khasanah keilmuan, baik yang bersifat ilmiah maupun non ilmiah. Membaca merupakan suatu yang rumit karena melibatkan banyak hal. Tidak hanya melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktifitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai proses visual, membaca merupakan proses penerjemah symbol tulis (huruf) kedalam kata-kata lisan. Sebagai proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membacakritis, danpemahamankreatif.
Menurut klien dkk (dalam Rahim , 2005: 3) definisi membaca mencakup: (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca adalah setrategi, (3) membaca merupakan interaktif. Membaca sebagai suatu proses dimaksudkan yaitu informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna. Membaca merupakan suatu strategi berarti pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengkonstruksi makna dalam bacaan. Membaca adalah interaktif, artinya keterlibatan pembaca dengan teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks.
proses memetik serta memahami arti/makna yang terkandung dalam bahasa tulis. Batasan ini tepat dikenakan pada membaca literal. Di pihak lain, Thorndike (1967:127) berpendapat bahwa membaca merupakan proses berpikir atau bernalar.
Syafi’ie (1999:6–7) menyebutkan, hakikat membaca adalah: (1) Pengembangan keterampilan, mulai dari keterampilan memahami kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan memahami secara kritis danevaluatif keseluruhan isi bacaan. (2) Kegiatan visual, berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris-baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata dan kelompok kata untuk memperoleh pemahaman terhadap bacaan. (3) Kegiatan mengamati dan memahami kata-kata yang tertulis dan memberikan makna terhadap kata-kata tersebut berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dipunyai. (4) Suatu proses berpikir yang terjadi melalui proses mempersepsi dan memahami informasi serta memberikan makna terhadap bacaan. (5) Proses mengolah informasi oleh pembaca dengan menggunakan informasi dalam bacaan dan pengetahuan serta pengalaman yang telah dipunyai sebelumnya yang relevan dengan informasi tersebut. (6) Proses menghubungkan tulisan dengan bunyinyasesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. (7) Kemampuan mengantisipasi makna terhadap baris-baris dalam tulisan. Kegatan membaca bukan hanya kegiatan mekanis saja, melainkan merupakan kegiatan menangkap maksud dari kelompok-kelompok kata yang membawa makna.
Aktivitas membaca dilakukan pembaca dalam rangka: (a) menginginkan informasi untuk tujuan-tujuan tertentu, atau karena ingin tahu tentang beberapa topik; (b) memerlukan instruksi untuk dapat melaksanakan tugas dalam pekerjaan atau hidup sehari-hari; (c) ingin melaksanakan beberapa aktivitas yang menyenangkan, seperti ingin bermain drama atau permainan baru yang lain; (d) ingin akrab dengan teman, dengan berkorespondensi; (e) ingin tahu dimana dan kapan sesuatu yang terjadi; (f) ingin mencari/menemukan kesenangan dan kenikmatan (membaca karya sastra). Implikasi tujuan membca diuraikan berikut ini.
2. TUJUAN MEMBACA
orang melakukan aktivitas membaca dengan tujuan (a) mengijinkan informasi untuk tujuan-tujuan tertentu; (b) ingin mengetahui tentang beberapa topik atau masalah; (c) memerlukan instruksi untuk dapat melaksanakan beberapa tugas dlam pekerjaan atau kehidupan sehari-hari; (d) ingin melaksanakan beberapa aktifitas yang menyenangkan,seperti ingin bermain drama atau permainan peran yang lain; (e) ingin akrab dengan teman dengan berkorespondensi; (f) ingin mengetahui waktu dan tempat terjadinya suatu peristiwa; (g) ingin mencari/atau menemukan kesenangan dan kenikmatan (membaca karya sastra).Di samping itu,dalam aktivitas kegiatan membaca,beberapa tujuan lain dapat muncul misalnya sebagai berikut.
a. Program membaca yang bertujuan untuk (1) menambah kecepatan dan memperbaiki pemahaman, (2) mengajar siswa begaimana mengadaptasi pendekatan membaca dengan berbagai variasi bahan bacaan, (3) memperbaiki bacaan bagi semua ketrampilan berbahasa
b. Latihan membaca untuk dapat mengapresiasi dan memperoleh kesenangan estetis dari prosa atau puisi (karya sastra)
c. Program individual yang ditunjukkan untuk mendorong siswa agar membaca sebanyak-banyaknya dan memungkinkan siswa itu untuk dapat mengembangkan diri menjadi pembaca yang teliti sepanjang hayat.
Tujuan utama dalam membaca adalah mendapatkan informasi yang tepat dan benar. Hal ini ditegaskan oleh Rahim (2007: 11) membaca bertujuan untuk mendapatkan informasi atau pesan dari teks. Membaca dengan tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan yang tidak mempunyai tujuan. Menurut Tarigan (2008: 9) tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna, arti (meaning) erat sekali hubungannya dengan maksud tujuan atau intensif kita dalam membaca.
Hal ini sesuai pendapat Nurhayati (2009: 4) bahwa tujuan membaca mempunyai kedudukan yang sangat penting karena akan berpengaruh pada proses membaca dan pemahaman membaca. Resmini (2006: 94) menjelaskan bahwa pembelajaran membaca harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan tersebut yaitu:
a. menikmati keindahan yang terkandung dalam bacaan.
c. menggunakan strategi tertentu untuk memahami bacaan.
d. menggali simpanan pengetahuan atau schemata siswa tentang suatu topik.
e. menghubungkan pengetahuan baru dengan schemata siswa.
f. mencari informasi untuk pembuatan laporan yang akan disampaikan dengan lisan dan tertulis.
g. melakukan penguatan dan penolakan terhadap ramalan-ramalan yang dibuat oleh siswa sebelum melakukan perbuatan membaca.
h. memberikan kesempatan kepada siswa melakukan eksperimentasi untuk meneliti sesuatu yang dipaparkan dalam sebuah bacaan.
i. mempelajari struktur bacaan.
j. menjawab pertanyaan khususnya yang dikembangkan oleh guru atau sengaja diberikan oleh penulis bacaan.
3. TAHAPAN MEMBACA
Membaca merupakan proses yang kompleks. Proses ini melibatkan sejumlah kegiatan fisik dan mental. Proses membaca terdiri atas sembilan aspek, yaitu sensori, perseptual, urutan, pengalaman, pikiran, pembelajaran, asosiasi, sikap, dan gagasan. Proses membaca dimulai dengan sensori visual yang diperoleh dari pengungkapan simbol-simbol grafis melalui indra penglihatan. Anak-anak belajar membedakan secara visual di antara simbol-simbol grafis (huruf atau kata) yang digunakan untuk memrepresentasikan bahasa lisan.
memberi makna yang berbed. Aspek urutan dalam proses membaca merupakan kegiatan mengikuti rangkaian tulisan yang tersusun secara linear, yang umumnya tampil pada satu halaman dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah.
Pengalaman merupakan aspek penting dalam proses membaca. Anak-anak yang memiliki pengalaman yang banyak akan memiliki kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan pemahaman kosakata dan konsep ynag mereka hadapi dalam membaca dibandingkan dengan anak-anak yang mempunyai pengalaman terbatas.. Oleh sebab itu, guru atau orang tua sebaiknya memberikan pengalaman langsung atau tidak langsung kepada anak-anaknya, misalnya pengalaman tentang tempat, benda, dan proses yang dideskripsikan dalam materi bacaan sehingga materi bacaan akan lebih mudah mereka serap. Pengalaman konkret (pengalaman langsung) dan pengalaman tidak langsung akan meningkatkan perkembangan konseptual anak, namun pengalaman langsung lebih efektif daripada pengalaman tidak langsung.
Membaca merupakan proses berpikir. Untuk dapat memahami bacaan, pembaca terlebih dahulu harus memahami kata-kata dan kalimat yang dihadapinya melalui proses asosiasi dan eksperimental sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Kemudian pembaca membuat simpulan dengan menghubungkan isi preposisi yang terdapat dalam materi bacaan. Untuk itu, pembaca harus mampu berpikir secara sistematis, logis, dan kreatif (Syafi’ie, 1993: 44). Lebih lanjut dijelaskan bahwa mengenal hubungan antara simbol dengan bunyi bahasa dan makna merupakan aspek asosiasi dalam membaca. Anak-anak belajar menghubungkan simbol-simbol grafis dengan bunyi bahasa dan makna. Tanpa kedua kemampuan asosiasi tersebut siswa tidak mungkin dapat memahami teks.
Aspek berikutnya pada tahapan membaca ialah aspek pemberian gagasan. Aspek gagasan dimulai dengan penggunan sensor dan perseptual dengan latar belakang pengalaman dan tanggapan afektif. Dalam hal ini, pembaca membangun makna teks yang dibacanya secara pribadi. Makna dibangun berdasarkan pada teks yang dibacanya, tetapi tidak seluruhnya ditemui dalam teks. Teks tersebut ditransformasikan oleh pembaca dari informasi yang diambil dari teks. Pembaca dengan latar belakang pengalaman yang berbeda dan reaksi afektif yang berbeda akan meghasilkan makna yang berbeda dari teks yang sama.
BAB IV
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Padawa, Nurhayati,dkk.2009.Pembelajaran Membaca.Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional 2009.