• Tidak ada hasil yang ditemukan

Turunan dalam Ruang Dimensi n

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Turunan dalam Ruang Dimensi n"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

T

URUNAN DALAM

R

UANG

D

IMENSI

-

n

A. Fungsi Dua Variabel atau Lebih

Dalam subbab ini, fungsi dua variabel atau lebih dikaji dari tiga sudut pandang:  secara verbal (melalui uraian dalam kata-kata)

 secara aljabar (melalui rumus eksplisit)

 secara visual (melalui grafik atau kurva ketinggian)

Suatu fungsi dua variabel adalah suatu aturan yang memberikan sebuah bilangan riil unik pada masing-masing pasangan bilangan terurut bilangan riil (x,y) di dalam sebuah himpunan

D; dan bilangan riil unik tersebut dinyatakan oleh f (x,y). Himpunan D merupakan daerah asal (domain) dari f.

Himpunan nilai yang digunakan f merupakan daerah hasil (range) dari f. Dengan kata lain,

f x y( , ) | ( , )x yD

Jika zf x y( , ), maka x dan y merupakan variabel bebas (independent variables) sementara z merupakan variabel tak bebas (dependent variable).

Fungsi dua variabel tidak lain adalah fungsi yang daerah asalnya berupa himpunan bagian dari ℝ2 dan daerah nilainya merupakan himpunan bagian dari ℝ. Perhatikan contoh berikut.

>> Contoh 1

Misalkan 2 2

( , ) 9

f x y  xy .

a. Hitunglah f(1, 2).

b. Carilah daerah asal fungsi f. c. Carilah daerah hasil fungsi f. Jawab:

a. 2 2

(1, 2) 9 1 2 4 2

f     

b. Fungsi f tidak akan terdefinisi jika kurang dari 0. Jadi,

( , ) 0

f x y  → 2 2

9xy 0

2 2 9xy 0

2 2

9xy 2 2

9

xy

Dengan demikian,

2 2

( , ) | 9

Dx y xy  .

2 2

9

xy

– 3

– 3 3

3

y

(2)

c. Misalkan 2 2

( , ) 9

zf x y  xy . Karena z merupakan akar kuadrat positif, maka 0

z . Dan,

2 2

9xy 9 → 2 2

9xy 3 → z3. Jadi, daerah hasilnya adalah:

z| 0 z 3

 

f x y( , ) | 0 f x y( , ) 3

.

Cara lain untuk meninjau perilaku suatu fungsi dua variabel adalah dengan meninjau grafik.

Jika f adalah suatu fungsi dua variabel dengan daerah asal D, maka grafik f adalah himpunan semua titik (x,y,z) di ℝ3 sedemikian sehingga z = f (x,y) dan (x,y) berada di D.

>> Contoh 2

Sketsakan grafik fungsi zf x y( , ) 6 3  x2y. Jawab:

Grafik f mempunyai persamaan z 6 3x2y atau 3x2y z 6 yang menyatakan bidang. Bagian dari grafik ini terletak pada oktan pertama, yang disketsakan pada gambar berikut.

>> Contoh 3

Sketsakan grafik fungsi 1 2 2 3 36 9 4

z  xy .

Jawab:

Perhatikan bahwa z0. Jika kedua ruasnya dikuadratkan dan kemudian disederhanakan,

maka diperoleh 2 2 2

9x 4y 9z 36 atau

2 2 2 1

4 9 4

x y z

   yang berbentuk elipsoida. Grafik

fungsinya adalah setengah bagian atas dari elipsoida, yang disketsakan pada gambar berikut.

2 2

1

3 36 9 4

z  xy

(0,0,6)

(0,3,0) (2,0,0)

z

y

(3)

Suatu sketsa yang berpadanan dengan grafik dari fungsi dua variabel zf x y( , )

seringkali sukar dibuat dalam ruang dimensi-3, sehingga sketsa dalam ruang dimensi-2 dibuat. Setiap bidang horizontal z = c memotong permukaan pada suatu kurva. Proyeksi dari perpotongan ini pada bidang xy disebut sebagai suatu kurva ketinggian, dan koleksi dari kurva-kurva ketinggian tersebut disebut sebagai suatu peta kontur.

>> Contoh 4

Gambarkan peta kontur untuk permukaan yang mempunyai fungsi 1 2 2 3 36 9 4

z  xy

dengan z0, z1, z1,5, z1, 75, dan z2. Jawab:

Saat z0, diperoleh 2 2

9x 4y 36 atau

2 2 1 4 9

x y

yang berbentuk elips.

Saat z1, diperoleh 9x24y2 27 atau

2 2

27 4

1 3

x y

  yang berbentuk elips.

Saat z1,5, diperoleh 2 2 63

9 4

4

xy  atau

2 2

63 63 36 16

1

x y

  yang berbentuk elips.

Saat z1,75, diperoleh 2 2 135

9 4

16

xy  atau

2 2

135 135 144 64

1

x y

  yang berbentuk elips.

Saat z2, diperoleh 2 2

9x 4y 0 yang berbentuk titik. Bidang

z = c

Kurva Ketinggian

f (x,y) = c

Permukaan

z = f (x,y)

(4)
(5)

Suatu fungsi tiga variabel adalah aturan yang memberikan sebuah bilangan riil unik kepada

Notasi untuk turunan parsial pertama dari fungsi dua variabel adalah sebagai berikut. Jika zf x y( , ), maka:

Simbol  merupakan simbol untuk turunan parsial dalam matematika.

Aturan untuk pencarian turunan parsial dari zf x y( , ) adalah sebagai berikut.  Untuk mencari fx, pandang y sebagai konstanta dan diferensialkan f x y( , ) terhadap x.

(6)

-2 8 turunan parsial. Demikian seterusnya, sampai turunan parsial ke-n, diperoleh 2n

turunan parsial.

>> Contoh 6

Tentukan turunan parsial kedua dari 3 2 ( , ) y sin x

Perhatikan pada Contoh 6 bahwa fxyfyx. Hal ini merupakan kasus khusus yang memiliki

kriteria sebagai berikut.

Teorema 1 Teorema Clairaut

Misalkan fxy dan fyx merupakan fungsi yang kontinu pada suatu himpunan buka S. Maka, dengan cara yang serupa.

(7)

C. Limit dan Kontinuitas

Berikut ini adalah definisi formal dari limit fungsi dua variabel.

( , )x ylim( , )a b f x y( , )L berarti jika untuk setiap bilangan  0, terdapat  0 sedemikian

Ada beberapa fungsi yang memerlukan penangan khusus. Perhatikan Contoh 9 berikut.

>> Contoh 9

 . Pertama, hampiri (0,0) sepanjang sumbu-x, yang berarti bahwa

0

 memiliki dua limit yang berbeda, maka

2 2

Fungsi polinomial dua variabel:

1 1

Fungsi rasional dua variabel:

(8)

Teorema 2

Berdasarkan Teorema 2, maka dapat dikatakan bahwa

2 2 Selanjutnya akan dibahas mengenai fungsi kontinu.

Fungsi dua variabel f x y( , ) disebut kontinu di (a,b) jika

Teorema 3 (Fungsi Komposisi)

(9)

Fungsi 3 2

( , ) 4

g x yxxyy , yang merupakan suatu fungsi polinom, adalah kontinu di mana-mana. Demikian pula dengan f t( ) cos t kontinu di setiap bilangan t pada ℝ. Berdasarkan Teorema 3, dapat disimpulkan bahwa f (x,y) = (f (g(x,y)) kontinu di semua titik (x,y) pada bidang.

D. Keterdiferensialan

Suatu fungsi f dikatakan dapat terdiferensialkan di 𝒑 jika terdapat suatu vektor 𝒎 sedemikian sehingga

f (𝒑 + 𝒉) = f (𝒑) + 𝒎  𝒉+|𝒉| 𝜀(𝒉)

dengan 𝜀 𝒉 →0 saat 𝒉 → 𝟎.

Jika vektor 𝒎 ada, maka sifatnya unik (tunggal). Vektor 𝒎 ini disebut sebagai vektor gradien f di 𝒑 dan dilambangkan ∇f (𝒑) [baca: grad f ]. Jadi, jika fungsi f terdiferensialkan di 𝒑 maka fungsi f memiliki gradien ∇f (𝒑) dan

f (𝒑 + 𝒉) = f (𝒑) + ∇f (𝒑)  𝒉+|𝒉| 𝜀(𝒉)

dengan 𝜀 𝒉 →0 saat 𝒉 → 𝟎.

Dari definisi di atas, dapat ditarik beberapa aspek, yaitu:

1) Turunan f x( ) merupakan suatu bilangan, sedangkan gradien ∇f (𝒑) merupakan suatu vektor.

2) ∇f (𝒑)  𝒉merupakan hasil kali titik dari dua vektor. 3) Definisi tersebut memiliki arti pada sembarang dimensi.

Teorema 4

Jika f fungsi dua variabel terdiferensialkan di 𝒑 = x y, , maka turunan parsial pertama dari

f ada di 𝒑 dan

f (𝒑) = f x

 (𝒑) 𝒊 + f y

  (𝒑) 𝒋

Serupa dengan fungsi dua variabel, Jika g adalah fungsi tiga variabel yang terdiferensialkan di 𝒑 = x y z, , , maka turunan parsial pertama dari g ada di 𝒑 dan

g (𝒑) = g x

 (𝒑) 𝒊 + g y

 (𝒑) 𝒋 + g

z

 (𝒑) 𝒌

Teorema 5

∇ adalah suatu operator linier. Maka, (i) ∇ [f (𝒑) + g (𝒑)] = ∇f (𝒑) + ∇g (𝒑) (ii) ∇ [𝛼 ∙f (𝒑)] = 𝛼 ∙ ∇f (𝒑)

(iii) ∇ [f (𝒑)∙g (𝒑)] = f (𝒑)∙ ∇g (𝒑) + g (𝒑)∙ ∇f (𝒑)

Teorema 6

(10)

>> Contoh 12

Carilah ∇f jika f x y z( , , )xsinyz. Jawab:

𝒑 = ( , , )x y z , maka:

f (𝒑) = f x

 (𝒑) 𝒊 + f y

 (𝒑) 𝒋 + f z

 (𝒑) 𝒌 ∇f (𝒑) = sinyz 𝒊 + xzcosyz 𝒋 + xycosyz 𝒌

E. Turunan Berarah dan Gradien

Untuk setiap vektor satuan 𝒖, misalkan

𝐷𝒖𝑓 𝒑 = lim𝑕→0𝑓 𝒑

+𝑕𝒖 − 𝑓(𝒑)

𝑕

Limit ini, jika ada, disebut sebagai turunan berarah dari f di 𝒑 dalam pada arah 𝒖.

Teorema 7

Misalkan f terdiferensialkan di 𝒑. Maka, f memiliki suatu turunan berarah di 𝒑 pada arah dari suatu vektor satuan 𝒖 dan

𝐷𝒖 f (𝒑) = 𝒖  ∇f (𝒑)

Jika f adalah fungsi dua variabel, maka Teorema 7 di atas menjadi 𝐷𝒖 f (x,y) = 𝑢1 f x (x,y) + 𝑢2 f y (x,y)

Jika f adalah fungsi tiga variabel, maka Teorema 7 di atas menjadi 𝐷𝒖 f (x,y,z) = 𝑢1 f x (x,y,z) + 𝑢2 f y (x,y,z) + 𝑢3 f z (x,y,z)

>> Contoh 13

Carilah turunan berarah fungsi f x y( , )x y2 34y di titik (2, 1) dalam arah vektor 𝒗= 2 𝒊+ 5 𝒋.

Jawab:

Diketahui 𝒑 = (2, 1) .

Langkah pertama, cari terlebih dahulu vektor gradien di (2, 1) , yaitu ∇f (2, –1).

f (𝒑) = f x

 (𝒑) 𝒊 + f y

  (𝒑) 𝒋 ∇f (𝑥,𝑦) = f

x

 (𝑥,𝑦) 𝒊 + f y

 (𝑥,𝑦) 𝒋 ∇f (𝑥,𝑦) = 2xy3 𝒊 + (3x y2 2 4) 𝒋

f (2, –1) = 4 𝒊 + 8 𝒋

(11)

|𝒗| = 2252  29

Berdasarkan Teorema 7, maka

𝐷𝒖 f (𝒑) = 𝒖  ∇f (𝒑)

Teorema 8A (Aturan Rantai Kasus Pertama)

Misalkan zf x y( , ) adalah fungsi dari x dan y yang terdiferensiasi, dengan xg t( ) dan

Bentuk di atas juga dapat dituliskan sebagai berikut:

dz z dx z dy

Teorema 8B (Aturan Rantai Kasus Kedua)

(12)

Teorema 8 (Aturan Rantai Versi Umum)

Teorema 9 (Teorema Fungsi Implisit)

(13)

Garis normal terhadap suatu permukaan S dengan kurva ketinggian F x y z( , , )k di titik P adalah garis yang melalui titik P dan tegak lurus terhadap bidang singgung. Karena itu, arah garis normal diberikan oleh vektor gradien F x y z( ,0 0, )0 , sehingga persamaan

Cari persamaan bidang singgung dan garis normal terhadap permukaan 2 2 2

2 23

Persamaan bidang singgungnya adalah:

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Dan, garis normalnya adalah:

0 0 0

(14)

Pentingnya dz adalah dari kenyataan bahwa jika dx = ∆x dan dy = ∆y, masing-masing mewakili perubahan kecil dalam x dan y, maka dz akan berupa suatu aproksimasi yang baik terhadap ∆z, perubahan padanannya dalam z. Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut ini.

Walaupun dz bukanlah merupakan suatu aproksimasi yang baik terhadap ∆z, dapat dilihat bahwa penghampiran ini akan semakin baik jika Δx dan Δy semakin kecil.

>> Contoh 19

Diketahui 3 3

( , ) 2

zf x yxxyy . Hitunglah Δz dan dz jika (x,y) berubah dari (2,1) ke

(2,03, 0,98). Jawab:

3 3 3 3

(2, 03, 0,98) (2,1)

2(2, 03) (2, 03)(0,98) (0,98) 2(2) 2(1) 1

0, 779062

z f f

  

 

     

2,03 2 0,03

x

     y 0,98 1  0,02

2

2

2 2

( , ) ( , )

6 3

6(2) 1 (0, 03) 2 3(1) ( 0, 02)

0, 77

x y

dz f x y dx f x y dy

x y x x y y

 

     

   

H. Maksimum dan Minimum

Misalkan 𝒑 = ( , )x y sebagai suatu titik variabel dan 𝒑𝟎 = ( ,x y0 0) sebagai suatu titik tetap pada ruang dimensi-2. (Hal berikut juga berlaku pada ruang dimensi-n.)

(15)

Misalkan 𝒑𝟎 suatu titik di S, yaitu wilayah dari f.

(i) Jika 𝑓(𝒑𝟎) ≥ 𝑓(𝒑) untuk semua 𝒑 di S, maka 𝑓(𝒑𝟎) adalah nilai maksimum global

dari f pada S.

(ii) Jika 𝑓(𝒑𝟎) ≤ 𝑓(𝒑) untuk semua 𝒑 di S, maka 𝑓(𝒑𝟎) adalah nilai minimum global dari f pada S.

(iii) Jika 𝑓(𝒑𝟎) adalah suatu nilai maksimum global atau minimum global, maka 𝑓(𝒑𝟎)

adalah nilai ekstrem global dari f pada S.

Misalkan 𝒑𝟎 suatu titik di S, yaitu wilayah dari f.

Untuk (i) dan (ii) jika NS, dengan N merupakan suatu lingkungan dari 𝒑𝟎.

(i) Jika 𝑓(𝒑𝟎) ≥ 𝑓(𝒑) untuk semua 𝒑 di S, maka 𝑓(𝒑𝟎) adalah nilai maksimum lokal dari f pada S.

(ii) Jika 𝑓(𝒑𝟎) ≤ 𝑓(𝒑) untuk semua 𝒑 di S, maka 𝑓(𝒑𝟎) adalah nilai minimum lokal dari f pada S.

(iii) Jika 𝑓(𝒑𝟎) adalah suatu nilai maksimum lokal atau minimum lokal, maka 𝑓(𝒑𝟎)

adalah nilai ekstrem lokal dari f pada S.

Gambar berikut memberikan tafsiran geometri dari kedua konsep di atas.

Teorema 10 (Teorema Keberadaan Maksimum-Minimum)

Jika f kontinu pada suatu himpunan tertutup yang terbatas S, maka f mencapai suatu nilai maksimum (global) dan suatu minimum (global) dua-duanya di sana.

Titik-titik kritis dari f pada S ada tiga jenis, yaitu: 1) titik-titik batas

2) titik-titik stasioner; 𝒑𝟎 disebut sebagai suatu titik stasioner jika 𝒑𝟎 adalah suatu titik dalam dari S dengan f terdiferensialkan dan ∇f (𝒑𝟎) = 𝟎. Pada titik ini, bidang singgung akan mendatar.

3) titik-titik singular; 𝒑𝟎 disebut sebagai suatu titik singular jika 𝒑𝟎 adalah suatu titik dalam dari S dengan f tidak terdiferensialkan.

S minimum lokal

minimum global maksimum lokal

(16)

Teorema 11 (Teorema Titik Kritis)

Jika f mempunyai maksimum atau minimum lokal di 𝒑𝟎 dan turunan parsial pertama dari f

ada, maka fx(𝒑𝟎) = 0 dan fy(𝒑𝟎) = 0.

Perhatikan Teorema 12 di atas. Jika diketahui 𝒑𝟎 merupakan suatu titik maksimum atau minimum lokal dari f, maka nilai fx(𝒑𝟎) dan fy(𝒑𝟎) pastilah sama dengan 0. Namun, jika

diketahui fx(𝒑𝟎) = 0 dan fy(𝒑𝟎) = 0, hal ini tidak menjamin terdapat ekstrem lokal di titik

𝒑𝟎. Untuk lebih jelasnya, simak Contoh 20 dan Contoh 21 berikut ini.

>> Contoh 20

Cari nilai-nilai maksimum atau minimum lokal dari

2

Selanjutnya, buatlah turunan parsial pertamanya sama dengan nol,

( , ) 2 2 0 2 2 1

sehingga diperoleh satu-satunya titik kritis, yaitu (1,0).

Perhatikan bahwa

(17)

Karena 2

f   adalah nilai minimum lokal sekaligus juga minimum global dari f.

>> Contoh 21

Cari nilai-nilai maksimum atau minimum lokal dari 2 2

( , )

Selanjutnya, buatlah turunan parsial pertamanya sama dengan nol,

( , ) 2 0 0 tidaklah memberikan keterangan mengenai suatu maksimum ataupun minimum dari f. Maka,

(0,0) 0

Untuk itu, terdapat kriteria untuk menentukan apa yang terjadi di suatu titik stasioner.

Teorema 13 (Uji Turunan Parsial Kedua)

Diketahui bahwa f (𝒑) mempunyai turunan parsial kedua kontinu di suatu lingkungan dari 𝒑𝟎, dan ∇f (𝒑𝟎) = 𝟎. Misalkan,

Untuk mengingat rumus D, akan lebih mudah bila dituliskan sebagai determinan:

2 Selanjutnya, nilai d dapat diminimumkan dengan persamaan yang lebih sederhana:

2 2 2 2

( , ) ( 1) (6 2 )

df x y  xy   x y

(18)

2( 1) 2(6 2 ) 4 4 14 0

Dengan proses eliminasi dari sistem persamaan: 4 4 14 0

diperoleh satu-satunya titik kritis

11 5

6,3 .

sehingga berdasarkan Teorema 13, f mempunyai nilai minimum lokal di titik

11 5

6 ,3 . Secara intuitif, dapat dilihat bahwa minimum lokal ini sebenarnya juga merupakan minimum global, karena pasti terdapat tepat satu titik pada bidang yang diberikan yang terdekat dengan titik

(1,0, 2) . Jadi, jarak terdekatnya adalah:

2 2 2

Cara lain untuk pengerjaan Contoh 22 akan dibahas pada subbab selanjutnya.

I. Metode Lagrange

Teorema 14 (Metode Pengali Lagrange)

Untuk mencari nilai maksimum atau minimum 𝑓(𝒑) terhadap kendala 𝑔 𝒑 = 0 , selesaikanlah sistem persamaan berikut:

∇𝑓 𝒑 = 𝜆 ∙ ∇𝑔(𝒑)

dan

𝑔 𝒑 = 0

untuk 𝒑 dan 𝜆. Setiap titik 𝒑 yang demikian adalah suatu titik kritis untuk masalah nilai ekstrem terkendala, dan 𝜆 yang berpadanan disebut sebagai pengali Lagrange. Hitunglah 𝑓 di semua titik 𝒑 yang dihasilkan; yang terbesar antara nilai-nilai yang didapat adalah nilai maksimum 𝑓, sementara yang terkecil adalah nilai minimum 𝑓,

Jika 𝒑 = ( , )x y dan persamaan vektor ∇𝑓 𝒑 = 𝜆 ∙ ∇𝑔(𝒑) dituliskan dalam bentuk komponennya, maka sistem persamaan pada Teorema 14 menjadi:

x x

f g ; fy gy ; g x y( , ) 0

(19)

x x

f g ; fy gy ; fz gz ; g x y z( , , )0

Jika terdapat lebih dari kendala yang ditekankan pada variabel-variabel suatu fungsi yang harus dimaksimumkan atau diminimumkan, digunakanlah pengali-pengali Lagrange tambahan (satu untuk setiap kendala). Misalnya, jika kita mencari nilai ekstrem dari suatu fungsi f dengan tiga variabel terhadap dua kendala g(x,y,z) = 0 dan h(x,y,z) = 0, maka sistem persamaan yang harus diselesaikan adalah:

1 2

Selanjutnya, nilai d dapat diminimumkan dengan persamaan yang lebih sederhana:

2 2 2 2

Dengan menggunakan Teorema 14,

f (𝒑) = 𝜆 ∙ ∇g (𝒑)

Titik kritis yang diperoleh adalah

11 5 7

(20)

L A T I H A N

1. Sketsakan grafik fungsi 2 2

( ) 16

f x  xy .

2. Tentukan turunan parsial kedua dari 2

( , ) 3 xcos

f x ye y.

3. Tentukan apakah limit di bawah ini memiliki hasil atau tidak. Jika memiliki hasil, tentukanlah limitnya.

a.

2 2

4 4 ( , )x ylim(0,0)

x y

x y

 b.

2 2

2 2 ( , ) (0,0)

sin( ) lim

5 5

x y

x y

x y

 

4. Carilah turunan berarah dari fungsi 2

( , , )

f x y zxyz di titik (1,1,1) dalam arah vektor 𝒗= 5,3,3 .

5. Tentukan  z/ x jika 3x z2 y3xyz3 0.

6. Jika wf r( s s t t,  , r), tentukanlah w w w

r s t

   .

7. Cari persamaan bidang singgung dan garis normal terhadap permukaan 2 2

2 8

xyzxy  di titik (2, 0, –3).

8. Diketahui fungsi 3 2

( , ) 3 9 4

F x yxyxy. Tentukanlah titik ekstrem fungsi

tersebut, kemudian tentukan jenis dari titik ekstrem tersebut.

9. Carilah volume maksimum dari suatu silinder yang memiliki luas permukaan 24𝜋.

10. Tentukanlah nilai maksimum dan minimum dari f x y z( , , )  x 2y2z pada elips 2 2

2

Gambar

Grafik f mempunyai persamaan z63x2y atau 3x2yz6 yang menyatakan bidang. Bagian dari grafik ini terletak pada oktan pertama, yang disketsakan pada gambar berikut
Gambar berikut memberikan tafsiran geometri dari kedua konsep di atas.

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi f adalah suatu aturan padanan yang menghubungkan tiap objek x dalam satu himpunan, yang disebut daerah asal, dengan sebuah nilai unik f(x) dari himpunan

d. ,.>) adalah fungsi yang mengaitkan setiap vektor di ruang vektor V dengan suatu bilangan riil dan memenuhi aksioma berikut... ALJABAR LINEAR

Suatu fungsi

Sekarang kita akan membicarakan suatu fungsi yang daerah asalnya adalah himpunan bagian dari bilangan riil dan daerah hasilnya adalah himpunan vektor. Fungsi bernilai vektor

Sebuah fungsi polinomial p adalah aturan yang memadankan tiap objek atau variabel x dari himpunan pertama (disebut dengan daerah asal, daerah de fi nisi ) dengan nilai unik y

– Suatu fungsi variabel x merupakan suatu aturan yang menguraikan bagaimana suatu nilai variabel x tersebut dimanipulasi untuk menghasilkan suatu nilai variabel y.. – Aturan

Definisi : Fungsi f adalah suatu aturan padanan yang menghubungkan tiap obyek x dalam suatu himpunan, yang disebut daerah asal, dengan sebuah nilai unik f(x)

• Hasil kali dalam dinotasikan adalah fungsi yang mengaitkan setiap vektor di ruang vektor V dengan suatu bilangan riil dan memenuhi aksioma berikut... • Dua buah vektor dan dalam