METODE PENELITIAN
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) seluas ±50.000 ha, yang dikelola oleh CIMTROP (Centre for International Cooperation in Management of Tropical Peatland) Universitas Palangka Raya, di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah (Gambar 13).
Gambar 13 Lokasi penelitian
Kawasan LAHG terletak ±20 km arah selatan kota Palangkaraya dengan luas 50.000 ha, merupakan hutan bekas konsesi HPH PT. Setia Alam Jaya yang ditinggalkan sejak tahun 1996, dan kini menjadi bagian dari Taman Nasional Sebangau. Kawasan LAHG terdiri dari beberapa tipe hutan yaitu hutan rivarian (RF), hutan rawa campuran (MSF), hutan tegakan rendah (LPF), dan hutan tegakan tinggi (TIF) (Rieley et al. 1996, Rieley & Ahmad-Shah 1996, Shepherd et al. 1997, dan Page at al. 1999), seperti diilustrasikan pada Gambar 14.
TN SEBANGAU
1 km 5 km 13 km Gambar 14 Ilustrasi tipe hutan di LAHG
Hutan rivarian merupakan daerah genangan air ketika sungai meluap (musim hujan) dengan jarak sampai 1 km dari pinggir sungai, didominasi oleh tumbuhan herba dan semak. Hutan rawa gambut campuran (MSF) terletak antara 1-5 km dari pinggir sungai dengan kedalaman gambut 2-6 m. Lantai hutan selalu tergenang oleh luapan sungai di musim hujan rata-rata 0,3 m di atas permukaan gambut, dan pada musim kering muka air tanah 0,4 m di bawah permukaan gambut. MSF mempunyai vegetasi yang relatif tinggi (sampai 35 m) dengan lapisan kanopi yang bertingkat. Hutan tegakan rendah (LPF) terletak antara 5-13 km dari pinggir sungai dengan kedalaman gambut 6-10 m. Pada musim hujan, lantai hutan LPF juga tergenang air lebih dari 0,3 m di atas permukaan gambut, dan pada musim kering muka air tanah hanya 0,24 m di bawah permukaan gambut. Karakteristik vegetasi di LPF, antara lain: tinggi kanopi jauh lebih rendah dibanding MSF dan TIF, kanopi lapisan atas maksimum 20 m, sangat terbuka dan didominasi oleh tumih (Combretocarpus rotundatus); tinggi kanopi lapisan bawah rata-rata di bawah 15 m yang sebagian besar merupakan vegetasi tingkat tiang; dan lantai hutan rata-rata ditumbuhi oleh pandan yang cukup padat. Hutan tegakan tinggi (TIF) berjarak lebih dari 13 km dari pinggir sungai dengan kedalaman gambut 8-12 m. Berbeda kontras dengan MSF dan LPF, TIF tidak tergenang di musim hujan, hanya muka air tanah yang naik menjadi 0,2-0,3 m di bawah permukaan gambut, sedangkan di musim kering muka air tanah sekitar 1,5 m di bawah permukaan gambut. Karakteristik vegetasi di TIF, antara lain: terdiri atas pohon besar dengan kanopi yang tinggi (sampai 45 m), dan lapisan kanopi yang bertingkat dan relatif lebih tertutup. Lantai hutan relatif bersih dari pandan dan semak (Realey et al. 1996, Rieley & Ahmad-Shah 1996, Shepherd et al. 1997).
MSF sungai
Waktu Penelitian
Peninjauan lapangan dan survei awal dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan November 2004. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juli sampai dengan November 2005.
Materi Penelitian
Materi yang digunakan sebagai objek penelitian dalam analisis vegetasi adalah vegetasi yang terdapat di habitat kalawet di enam lokasi pengamatan di LAHG, sedangkan materi pengamatan populasi adalah 47 kelompok kalawet yang teridentifikasi di enam lokasi pengamatan di LAHG TN. Sebangau (Gambar 17). Untuk pengamatan tingkah laku harian, hanya satu keluarga yaitu kelompok KC (4 ekor) yang terdiri dari sepasang jantan-betina dewasa, seekor remaja dan seekor bayi. Untuk analisis vokalisasi, dilakukan perekaman suara dari 13 kelompok H. agilis albibarbis di LAHG, dua kelompok hibrida H. agilis albibarbis x H. muelleri di Barito Ulu, dua pasang dan satu betina dewasa H. muelleri di kandang rehabilitasi ‘Kalaweit Program’ Hampapak, Kalimantan Tengah.
Alat yang digunakan berupa 2 unit binokuler, 1 unit GPS (Global Positioning System) Etrex Garmin 12, 2 unit kompas, 1 unit rekorder kaset, 1 unit rekorder digital, dan 1 unit kamera digital, serta foto landsat dan sejumlah software pendukung.
Metode Penelitian
Habitat
1. Analisis vegetasi
Analisis vegetasi dilakukan pada daerah jelajah kalawet yang akan diamati. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode garis berpetak (Gambar 15). Petak contoh berbentuk empat persegi berukuran 20x20 m sebagai petak utama (untuk tingkat pohon), 10x10 m (tingkat tiang), dan 5x5 m (tingkat pancang), dan 2x2 m (tingkat semai) (Soegianto 1994; Soerianegara & Indrawan 1998). Jumlah ulangan setiap lokasi atau plot, lima petak.
C B A D D A B C
Gambar 15 Petak contoh bentuk garis berpetak. A = 2x2 m untuk tingkat semai, B = 5x5 m untuk tingkat pancang, C = 10x10 m untuk tingkat tiang, D = 20x20 m untuk tingkat pohon.
Identifikasi pohon didasarkan pada informasi dari beberapa enumerator berupa nama lokal kemudian ditelusuri nama latinnya di unit herbarium CIMTROP. Pohon yang tidak diketahui baik nama latin maupun nama lokalnya, diambil spesimennya untuk diidentifikasi di unit herbarium CIMTROP, Palangka Raya, dan Herbarium Bogoriense LIPI, Bogor. Genus dari setiap spesies diidentifikasi menurut Van Steenis (1987).
2. Pohon sumber pakan
Pohon pakan adalah pohon yang buah, bunga, atau daunnya dimakan oleh kalawet. Pengamatan dilakukan dengan mengikuti pergerakan kalawet mulai dari pohon tidur pada pagi hari sampai kembali ke pohon tidur pada sore hari. Di samping pengamatan langsung, jenis pohon pakan yang dimakan oleh kalawet dapat diperoleh juga dari informasi masyarakat yang mempunyai akses ke hutan lokasi penelitian, di antaranya pencari jelutung, bekas pencari kayu/penebang pohon, dan enumerator yang berpengalaman bekerja di lokasi penelitian. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah dan identifikasi jenis pohon yang dimakan, dan bagian pohon yang dimakan.
3. Pohon tidur
Pohon tidur adalah pohon-pohon dalam daerah jelajah yang dijadikan tempat istirahat/tidur pada malam hari. Pengamatan pohon tidur dilakukan
dengan menandai dan mengidentifikasi karakteristik pohon yang digunakan kalawet sebagai pohon tidur pada malam hari. Berdasarkan karakteristik pohon tidur yang diperoleh, selanjutnya digunakan untuk mengidentifikasi pohon yang potensial sebagai pohon tidur dalam plot pengamatan. Data yang dikumpulkan meliputi kerapatan dan identifikasi jenis pohon tidur.
4. Daerah jelajah
Daerah jelajah merupakan luas area dimana kelompok keluarga (family group) kalawet melakukan aktivitasnya sepanjang waktu, dan jelajah harian merupakan rata-rata jarak tempuh kelompok kalawet melakukan aktivitas harian dalam daerah jelajahnya ((NRC. 1981; Collinge 1993). Pengamatan jelajah harian dan daerah jelajah kalawet dilakukan pada satu kelompok yang diketahui berada antara transek A dan transek D (Gambar 16) sebagai kelompok C (KC).
Pengamatan jelajah harian dan daerah jelajah dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut ini.
a. Survei awal dilakukan untuk mengetahui lokasi adanya kelompok kalawet dan mendapatkan pohon tidurnya sebagai titik posisi awal.
b. Habituasi dilakukan dengan mengikuti pergerakan kelompok kalawet selama kurang lebih dua bulan sampai tidak merasa terganggu dengan kehadiran peneliti.
c. Pengukuran daerah jelajah dilakukan dengan mengikuti pergerakan kelompok kalawet dari pohon tidurnya dan memetakannya pada peta jalur transek pengamatan yang ada selama 36 hari sampai dapat dideterminasi batas terluar daerah jelajah pada semua arah.
d. Selain dipetakan pada peta pengamatan, daerah jelajah juga ditandai dengan GPS untuk selanjutnya dipetakan menggunakan program MapSource.
e. Panjang jelajah harian dan luas daerah jelajah juga dihitung menggunakan program ArcView GIS 3.2.
Gambar 16 Sistem transek dan lokasi daerah jelajah KC di LAHG (huruf A-L dan T0-T2 adalah nama transek, poligon KC adalah daerah jelajah kalawet KC)
Tingkah Laku
Pengamatan tingkah laku harian dilakukan pada satu kelompok keluarga kalawet (KC) yang berada ±750 m arah barat dari camp LAHG (Gambar 16), dari bulan Agustus sampai November 2005 (pertengahan musim kemarau sampai musim hujan). Tingkah laku yang diamati meliputi vokalisasi, makan, berpindah, dan istirahat, dengan cara mengikuti pergerakan kelompok tersebut dari pohon tidurnya menjelang pagi hari sampai mendapatkan pohon tidur kembali pada sore hari.
Tingkah laku harian kelompok diamati menggunakan metode scan sampling (Martin & Bateson 1993) dengan interval waktu lima menit. Penggunaan metode scan didasarkan pada pertimbangan bahwa kelompok kalawet hanya terdiri dari 2-6 ekor sehingga relatif mudah mengamatinya. Pada awal pengamatan, anggota KC tiga ekor terdiri dari sepasang jantan-betina dewasa dan satu remaja, namun pada pertengahan September 2005 anggota kelompok bertambah dengan lahirnya satu ekor bayi. Pengamatan dilakukan selama tiga bulan termasuk tahap habituasi.
U
Tingkah laku harian kalawet KC yang diamati, meliputi:
Vokalisasi :aktivitas bersuara yang dilakukan oleh anggota kelompok.
Bergerak :aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain baik dalam satu pohon maupun pindah pohon.
Makan :aktivitas mengambil, memegang, memakan dan mengunyah makanan, dibedakan berdasarkan jenis pakan yang dimakan, yaitu buah, daun, bunga, dan lainnya.
Istirahat :aktivitas selain vokalisasi, makan dan berpindah, meliputi : duduk diam, bergantung diam, dan berkutuan.
Pengamatan dilakukan dalam daerah jelajah kelompok KC seluas 29,5 ha, mulai pukul 05:00 menjelang pagi hari sampai pukul 17:00 sore hari. Pengamatan dilakukan selama 35 hari, dengan total waktu pengamatan 258 jam yang setara dengan 3.101 unit waktu amatan.
Estimasi populasi
Estimasi kepadatan kelompok dan populasi dilakukan dengan metode fixed point count berdasarkan vokalisasi (O’Brien et al. 2004; Buckley 2004, Buckley et al. 2006). Karakteristik suara yang digunakan sebagai indikator kelompok kalawet adalah duet call berupa great call betina dan coda jantan. Pengamatan vokalisasi dilakukan pada pagi hari antara pukul 04.00-08.00 selama empat sampai tujuh hari berturut-turut di setiap lokasi pengamatan. Waktu vokalisasi selama pengamatan antara pukul 04.15-07.40. Pada umumnya kalawet tidak atau lambat bervokalisasi pada pagi hari ketika turun hujan pada malam harinya, dan tidak bervokalisasi ketika hujan pada pagi hari. Terdapat dua asumsi yang berkaitan dengan metode ini (NRC. 1981, Haimoff et al. 1986), yaitu (1) setiap duet call merupakan satu kelompok keluarga kalawet; dan (2) setiap kelompok bervokalisasi minimal sekali selama periode pengamatan pada setiap lokasi. Asumsi tersebut digunakan juga oleh Buckley (2004) dalam pengamatan populasi kalawet di areal hutan MSF LAHG Sebangau.
Pengamatan dilakukan pada enam titik/lokasi yang tersebar dalam kawasan LAHG yaitu di transek T0-700, T2-1500, TA1-2400 (MSF); km 5 dan km 8 (LPF), dan km 14 (TIF) (Gambar 17). Penentuan lokasi pengamatan didasarkan pada pertimbangan sebaran tipe hutan dan jalur transek yang ada di LAHG.
Gambar 17 Denah lokasi pengamatan vokalisasi dan vegetasi
Gambar 18 Ilustrasi cara pengamatan kepadatan kelompok. (titik merah = titik pengamatan, Ai = luas area pengamatan,
DGi = kepadatan kelompok)
ri
D DGGii== mmii..((∅∅ii..∏∏rrii22))--11 Ai = ∅i . ∏ . ri2 Sungai Sebangau T0C T02 TA1 T14 U km 1 km 2 T08 T05 lokasi pengamatan km 5 km 8 km 14Berdasarkan arah dan volume suara tersebut, setiap sumber vokalisasi dipetakan posisinya dalam areal pengamatan seperti diilustrasikan pada Gambar 18, menggunakan program MapSource. Selain mengidentifikasi jumlah kelompok, dilakukan juga pengamatan terhadap jumlah individu anggota kelompok pada beberapa kelompok yang dapat teramati selama penelitian.
Untuk mendapatkan data estimasi populasi kalawet (jumlah individu) di kawasan LAHG dan TN Sebangau, maka dilakukan analisis foto landsat dengan program ArcView GIS 3.3, untuk mengetahui luas tutupan lahan atau kondisi vegetasi LAHG dan TN Sebangau yang dapat dihuni oleh kalawet.
1. Kalibrasi jarak vokalisasi
Posisi kelompok kalawet bervokalisasi (duet call) dideterminasi berdasarkan arah sumber vokalisasi menggunakan kompas, dan diprediksi jaraknya dari titik pengamatan (listening post) berdasarkan volume vokalisasi. Jarak dari titik pengamatan terhadap sumber vokalisasi diprediksi berdasarkan hasil latihan tim peneliti mendengar volume vokalisasi pada jarak yang berbeda-beda dari kelompok kalawet yang posisinya diketahui sebelumnya. Setiap titik pengamatan ditandai titik koordinatnya dengan GPS, untuk digunakan sebagai titik acuan dalam pemetaan lokasi vokalisasi setiap kelompok kalawet dalam areal pengamatan menggunakan program MapSource.
Estimasi ukuran populasi Hylobates yang didasarkan pada perhitungan jumlah vokalisasi, memungkinkan terjadinya perhitungan ganda terhadap satu kelompok. Hal ini disebabkan Hylobates tidak hanya bervokalisasi dari pohon tidurnya, tetapi kadang-kadang bervokalisasi juga setelah berpindah dari pohon tidur dan melakukan penjelajahan dalam daerah jelajahnya. Untuk menghindari penghitungan ganda tersebut, Brockleman & Srikosamatara (1993) menyarankan jarak antar vokalisasi lebih dari 500 m sebagai vokalisasi kelompok yang berbeda. Dalam survei populasi ungko di TN Bukit Barisan Selatan, Sumatera, O’Brien et al. (2004) menggunakan pendekatan diameter daerah jelajah sebagai jarak maksimum antar vokalisasi dari satu kelompok. Daerah jelajah diasumsikan berbentuk lingkaran dengan ukuran hipotetik lebih kecil atau sama dengan 70 ha, setara dengan diameter ±950 m. Selain itu, O’Brien et al. (2004) menggunakan
pendekatan jarak tempuh pergerakan dalam waktu tertentu, dan jarak antar posisi vokalisasi suatu kelompok yang bervokalisasi lebih dari 1 kali sebagai pertimbangan dalam membedakan vokalisasi antar kelompok siamang.
Dalam penelitian ini, determinasi vokalisasi dari kelompok kalawet yang berbeda tidak sepenuhnya didasarkan pada jarak lebih dari 500 m seperti disarankan oleh Brockleman & Srikosamatara (1993), dan juga tidak pada diameter daerah jelajah hipotetik seluas lebih kecil atau sama dengan 70 ha (O’Brien et al. 2004). Jarak vokalisasi lebih dari 500 m tidak dijadikan standar minimal untuk membedakan vokalisasi antar kelompok kalawet karena dalam pemetaan sebaran vokalisasi di setiap lokasi, beberapa diantaranya hanya berjarak sekitar 300 m dan sangat patut dipertimbangkan sebagai vokalisasi kelompok kalawet yang berbeda. Demikian halnya dengan penggunaan diameter daerah jelajah, disamping bentuknya yang tidak selalu berupa lingkaran, luas daerah jelajah hipotetik lebih kecil atau sama dengan 70 ha yang digunakan oleh O’Brien et al. (2004) dinilai terlalu besar, sehingga cenderung menghasilkan estimasi jumlah kelompok yang terlalu rendah (under estimate).
Oleh karena itu, dalam penelitian ini determinasi setiap vokalisasi sebagai kelompok kalawet yang berbeda di setiap lokasi pengamatan didasarkan pada pertimbangan waktu (saat) vokalisasi, interval waktu antar vokalisasi, jarak antar posisi sumber vokalisasi, saat turun dari pohon tidur, dan jarak tempuh jelajah kalawet setelah turun dari pohon tidur dalam kurun waktu tertentu, khususnya di pagi hari. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka posisi sumber vokalisasi dalam areal pengamatan yang memungkinkan dan paling berdekatan dideterminasi sebagai vokalisasi dari satu kelompok. Dari hasil determinasi kelompok, maka diketahui jumlah kelompok kalawet yang terdapat dalam luasan areal pengamatan di setiap lokasi.
2. Probabilitas vokalisasi kelompok kalawet
Probabilitas vokalisasi kelompok kalawet adalah peluang suatu kelompok kalawet bervokalisasi minimal sekali selama kurun waktu pengamatan tertentu. Estimasi probabilitas tersebut diperoleh dengan cara mengamati vokalisasi kelompok kalawet setiap hari selama pengamatan di setiap lokasi. Data vokalisasi
tersebut dipetakan menggunakan program MapSource untuk mendeterminasi jumlah kelompok berbeda yang bervokalisasi setiap harinya di setiap lokasi selama empat hari pengamatan. Dengan demikian, diperoleh jumlah kelompok kalawet yang sudah bervokalisasi minimal sekali selama empat hari pengamatan berturut-turut di setiap lokasi.
Untuk mengetahui kemungkinan masih ada kelompok kalawet yang belum bervokalisasi dalam empat hari pengamatan, maka pengamatan diperpanjang sampai tujuh hari di lokasi T0C dan T08. Perpanjangan waktu pengamatan tersebut, ternyata tidak diperoleh vokalisasi kelompok baru yang belum teridentifikasi sebelumnya. Dengan kata lain, semua kelompok kalawet yang terdapat dalam area pengamatan di setiap lokasi, dianggap sudah bervokalisasi minimal sekali dalam empat hari pengamatan berturut-turut. Oleh karena itu, jumlah kelompok yang teridentifikasi dalam kurun waktu tersebut, diperkirakan sebagai jumlah kelompok yang terdapat dalam area pengamatan dengan radius 1,2 km (4,52 km2).
Dengan demikian, probabilitas vokalisasi kelompok kalawet mencapai 100% pada pengamatan hari keempat. Probabilitas vokalisasi kelompok pada hari pengamatan sebelumnya, diperoleh dengan cara membagi jumlah kelompok berbeda yang bervokalisasi pada hari tersebut dengan jumlah kelompok teridentifikasi di setiap lokasi pengamatan.
3. Ukuran kelompok (group size)
Selain pengamatan kepadatan kelompok, juga dilakukan pengamatan terhadap besar kelompok atau jumlah individu dalam kelompok. Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah individu dari setiap kelompok kalawet yang dijumpai di hutan selama penelitian. Terdapat sebanyak 108 kali kesempatan berjumpa dengan kelompok kalawet sejak survei awal hingga selesainya penelitian ini. Sebagian besar diantaranya terjadi di tipe MSF, khususnya antara transek T01 (lokasi T0C) dan T02 (lokasi T02), dan hanya empat kali terjadi di tipe TIF. Rata-rata ukuran kelompok merupakan rata-rata jumlah individu yang teramati dari sejumlah kesempatan melihat kelompok kalawet (Buckley 2004).
Vokalisasi
Vokalisasi kategori great call betina dan solo jantan dari tiga ‘spesies’ Hylobates di Kalimantan, yaitu kalawet (H. agilis albibarbis) di LAHG TN.
Sebangau, H. muelleri di Hampapak, dan hibrida (H. agilis albibarbis x H. muelleri) di Barito Ulu; direkam dengan kaset rekorder tipe Aiwa TP-V5535,
dan rekorder digital Panasonic selama pengamatan. Perekaman di lapang atau di kandang rehabilitasi dilakukan dengan cara mendekati sumber suara sedekat mungkin sepanjang tidak mengusik Hylobates yang bervokalisasi, kemudian merekamnya dengan alat rekorder. Selanjutnya, vokalisasi direkam ke komputer menggunakan program JetAudio dalam format wave, kemudian divisualisasikan dalam bentuk sonagram dan dianalisis menggunakan program Adobe Audition 1.5, dan Raven 1.2.1 (Charif et al. 2004). Sonagram great call dikuantifikasi menjadi beberapa peubah berdasarkan jumlah not, durasi dan frekuensi setiap fase (Dallmann & Geissmann 2001), seperti dicontohkan pada Gambar 19. Peubah great call tersebut disajikan pada Tabel 2.
Fase pre- trill fase trill fase post-trill
great call male coda Gambar 19 Sonagram great call H. agilis albibarbis (Dallmann &
Geissmann 2001)
Analisis Data
Analisis Vegetasi
Ukuran-ukuran vegetasi dihitung berdasarkan rumus Soegianto (1994), Soerianegara & Indrawan (1998), sebagai berikut :
Jumlah individu
Kerapatan (K) =
Kerapatan suatu jenis
Kerapatan relatif (KR) = x 100% Kerapatan seluruh jenis
Jumlah bidang dasar Dominansi (D) =
Luas petak plot Dominansi suatu jenis
Dominansi relatif (DR) = x 100% Dominansi seluruh jenis
Jumlah plot ditemukannya suatu jenis Frekuensi (F) =
Jumlah seluruh petak plot Frekuensi suatu jenis
Frekuensi relatif (FR) = x 100% Frekuensi seluruh jenis
Indeks Nilai Penting (INP) = KR + DR + FR
Keragaman vegetasi dan pohon pakan dihitung menggunakan persamaan indeks keragaman Shannon-wiener (Ĥ) (Odum 1993; McConkey et al. 2003), sebagai berikut :
Ĥ = -∑[pi . log pi]
Keterangan : pi = proporsi nilai penting tiap spesies dalam petak contoh
Semakin tinggi nilai indeks Shannon-wiener (Ĥ), menunjukkan semakin tinggi keragaman vegetasi di lokasi tersebut.
Daerah jelajah ditampilkan dalam bentuk gambar peta, dan luasnya dihitung menggunakan program ArcView GIS 3.3.
Analisis Tingkah Laku
Data aktivitas harian, pola makan, vegetasi, pohon sumber pakan, pohon tidur, dan populasi kalawet, ditabulasi dan dihitung dalam bentuk nilai, persentase dan indeks; kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik atau gambar (Mattjik & Sumertajaya 2002).
Data aktivitas harian berupa frekuensi dan durasi aktivitas dalam unit-unit waktu (menit) dari kelompok, dihitung nilai rata-ratanya, dan dipersentasekan untuk setiap kategori aktivitas, kemudian nilai-nlai tersebut ditampilkan dalam
bentuk tabel dan grafik. Demikian halnya pada data pola makan berupa durasi waktu yang digunakan untuk memakan setiap jenis pakan, dihitung nilai rata-ratanya, dan dipersentasekan untuk setiap jenis pakan, kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.
Estimasi populasi
Estimasi kepadatan kelompok (DG) dan kepadatan populasi (P) dianalisis
dengan formula yang dimodifikasi dari O’Brien et al. (2004) sebagai berikut: DGi = mi . (∅i. ∏ ri2)-1
DG = (∑ Ai . DGi) . (∑ Ai)-1
Ai = ∅i . ∏ . ri2
P = DG . I Keterangan:
DGi = kepadatan kelompok pada lokasi ke-i (kelompok/km2)
mi = jumlah kelompok teridentifikasi pada lokasi ke-i
∅i = proporsi area lingkaran pengamatan vokalisasi
ri = jarak kelompok terjauh pada lokasi ke-i (km)
DG = kepadatan kelompok di LAHG dan TN Sebangau (kelompok/km2)
Ai = luas area pengamatan ke-i (km2)
P = kepadatan populasi di LAHG dan TN Sebangau (individu/km2)
I = rata-rata ukuran kelompok (individu/kelompok)
Analisis vokalisasi
Analisis dan kuantifikasi sonagram great call menurut peubah pada Tabel 2, dikerjakan menggunakan program Raven 1.2.1 (Charif et al. 2004) dengan cara memilih ukuran peubah seperti durasi dan frekuensi, kemudian memilih setiap pragmen sonagram yang akan dikuantifikasi. Dengan demikian, nilai setiap ukuran peubah dari setiap blok fragmen sonagram (fase great call) akan ditampilkan dalam bentuk tabel, seperti pada Gambar 20.
Ukuran peubah yang digunakan menurut Charif et al. (2004) dalam program Raven 2.2.1, didefinisikan sebagai berikut :
Delta time :selisih antara waktu mulai dan waktu akhir atau durasi dari fragmen sonagram terpilih (detik)
Low frequency :frekuensi terendah dari fragmen terpilih (Hz) High frequency :frekuensi tertinggi dari fragmen terpilih (Hz)
Delta frequency :selisih antara frekuensi tertinggi dan terendah atau frekuensi modulasi dari fragmen sonagram terpilih (Hz)
Tabel 2 Daftar peubah vokalisasi great call kalawet yang diamati
No Kode Peubah Uraian
1 DT Durasi total great-call
(s)
Interval waktu antara mulainya not pertama sampai not terakhir dari great-call
2 TNGC Total not great call Total not great call
3 KNGC Kecepatan not great
call (not/detik)
Jumlah not great call / durasi great call 4 DPrT Durasi fase pre-trill (s) Interval waktu antara mulainya not pertama
sampai not terakhir dari pre-trill 5 FHPrT Frekuensi tertinggi fase
pre-trill (Hz)
Frekuensi tertinggi dari fase pre-trill 6 FLPrT Frekuensi terendah fase
pre-trill (Hz)
Frekuensi terendah dari fase pre-trill 7 JNPrT Jumlah not fase pre-trill Jumlah not sebelum fase trill
8 MFPrT Modulasi frekuensi fase
pre-trill (Hz)
Frekuensi tertinggi minus frekuensi terendah fase pre-trill
9 KNPrT Kecepatan not fase
pre-trill (not/detik)
Jumlah not / durasi fase pre-trill
10 DFT Durasi fase trill (s) Interval waktu antara mulainya not pertama
sampai not terakhir fase trill 11 FHT Frekuensi tertinggi fase
trill (Hz)
Frekuensi tertinggi fase trill 12 FLT Frekuensi terendaj fase
trill (Hz)
Frekuensi terendah fase trill 13 MFT Modulasi frekuensi fase
trill (Hz)
Frekuensi tertinggi minus frekuensi terendah fase trill
14 JNT Jumlah not fase trill Jumlah not fase trill 15 KNT Kecepatan not fase trill
(not/detik)
Jumlah not / durasi fase trill
16 DPoT Durasi fase post-trill (s) Interval waktu antara mulainya not pertama
sampai not terakhir fase post-trill 17 FHPoT Frekuensi tertinggi fase
post-trill (Hz)
Frekuensi tertinggi fase post-trill 18 FLPoT Frekuensi terendah fase
post-trill (Hz)
Frekuensi terendah fase post-trill 19 MFPoT Modulasi frekuensi fase
post-trill (Hz)
Frekuensi tertinggi minus frekuensi terendah fase post-trill
20 JNPoT Jumlah not fase post-trill
Jumlah not fase post-trill 21 KNPoT Kecepatan not fase
post-trill (not/detik)
Gambar 20 Contoh tampilan analisis sonagram great call menggunakan program Raven 1.2.1
Variasi peubah sonagram vokalisasi antar individu dan antar spesies dianalisis secara deskriptif dan analisis ragam (one-way ANOVA) menggunakan program SPSS 11.