• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1. Permasalahan

Pendidikan merupakan upaya yang dilakukan dalam mewujudkan manusia Indonesia secara utuh baik dari segi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup sehingga pendidikan menjadi salah satu kebutuhan bagi manusia, masyarakat dan negara. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-undang No. 2 tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan sasaran belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Dwi Siswoyo (2007 : 85) mengatakan bahwa fungsi pendidikan yang diatur dalam undang-undang No.20 tahun 2003 adalah mengembangkan kemampuan dalam membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan seperti dalam undang-undang tersebut perlu diperhatikan hal-hal yang terkait dengan proses pendidikan.

(2)

Dwi Siswoyo dkk (2007: 25) mengemukakan bahwa komponen-komponen vital dari pendidikan meliputi : (1) Tujuan Pendidikan, (2) Materi Pendidikan, (3) Peserta Didik, (4) Pendidik, (5) Metode, (6) Alat Pendidikan, (7) Lingkungan Pendidikan. Komponen-komponen tersebut saling terkait dan mendukung terhadap terlaksananya pendidikan yang baik, bila salah satu komponen dari pendidikan tersebut tidak ada maka tidak akan berjalan dengan baik. Salah satu contoh adalah penyediaan alat pendidikan yang dipakai untuk mendukung terlaksananya proses pendidikan, hasil tidak akan tercapai dengan baik apabila tidak ada alat dalam proses pendidikan yang mendukung, termasuk faktor-faktor yang lain yang mendukung proses pembelajaran apabila tidak diperhatikan akan menghambat proses pembelajaran.

Pendidikan olahraga sebagai suatu proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang berlangsung seumur hidup, dipandang sebagai salah satu sarana atau media untuk memberikan pengalaman belajar yang diarahkan untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

Pendidikan olahraga merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani terpilih yang direncanakan secara

(3)

sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (Maksum, 2009: 17). Peran penting pendidikan jasmani di sekolah adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani yang dipilih dan dilaksanakan dengan sistematis (Lutan, 2001: 17).

Husdarto (2010: 134) menyampaikan bahwa fungsi dan tujuan kegiatan olahraga adalah (1) olahraga pendidikan tujuannya bersifat mendidik, (2) olahraga rekreasi tujuannya untuk rekreasi, (3) olahraga kesehatan tujuan pendidikan kesehatan, (4) olahraga rehabilitasi tujuannya untuk merehabilitasi, dan (5) olahraga kompetitif tujuannya untuk mencapai prestasi. Pendidikan olahraga renang merupakan bagian dari pendidikan jasmani melalui aktivitas renang yang merupakan bagian dari materi yang ada dalam kurikulum pendidikan jasmani.

Pendidikan olahraga di sekolah pada masing-masing pendidikan diberikan dalam upaya membentuk manusia Indonesia seutuhnya, baik itu aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, emosi dan sosial. Kenyataan yang ada sekarang penilaian terhadap pendidikan jasmani kurang diperhatikan bahkan dikesampingkan. Bagaimana anak didik dapat menjadi manusia yang produktif apabila tidak didukung dengan kemampuan fisik yang cukup baik, karena kenyataan yang ada sekarang para orang tua hanya menuntut anaknya agar menjadi anak yang pintar dalam sisi pengetahuan saja tanpa memikirkan faktor yang lain diantaranya adalah faktor fisik.

(4)

Penyelenggaraan pendidikan olahraga dilakukan di sekolah diatur berdasarkan kurikulum sebagai alat penting dalam keberhasilan sistem pendidikan, artinya tanpa kurikulum yang baik dan tepat akan sulit mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang dicita-citakan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum KTSP adalah suatu proses penerapan ide, konsep dan kebijakan KTSP dalam suatu aktivitas pembelajaran sehingga siswa menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan (Mulyasa, 2006: 66). Husdarto (2010: 64) beranggapan bahwa diberikannya penjaskes dalam kurikulum sekolah bukan tanpa alasan, karena kurikulum ini merupakan seperangkat pengetahuan dan keterampilan dari suatu upaya yang dilandasi untuk membekali siswa mencapai tujuan menjadi manusia yang lengkap dan utuh, tidak ada pendidikan yang lengkap tanpa pendidikan jasmani dan tidak ada pendidikan jasmani tanpa media gerak. Salah satu ruang lingkup pendidikan jasmani berdasarkan kurikulum adalah aktivitas berenang.

Renang merupakan aktivitas yang diberikan pada anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani. Penyelenggaraan aktivitas renang merupakan faktor yang sangat kompleks untuk menentukan keterselenggaraannya, lebih-lebih faktor sarana dan prasarana yang digunakan dalam proses pendidikan. Aktivitas renang dapat dilakukan apabila mempunyai fasilitas kolam renang yang memadahi, oleh karena itu pelaksanaan pendidikan jasmani melalui aktivitas berenang sulit untuk dilaksanakan, nilai-nilai yang

(5)

dapat diperoleh melalui aktivitas berenang diantaranya adalah nilai keberanian, percaya diri serta nilai-nilai yang lain. Realita yang ada sekarang para orang tua dalam kehidupan sehari-hari anak-anak dimandikan, sehingga apabila anak akan melakukan aktivitas berenang di kolam renang akan mengalami kendala. Kendala tersebut baru sebatas dari perbedaan suhu air saja belum keadaan yang lain.

Aktivitas renang yang dilakukan di air tentu saja memiliki nilai-nilai baik secara fisik maupun secara psikologis, manusia bukan termasuk dari makhluk air tentu saja harus banyak yang diadaptasikan untuk melaksanakan aktivitas berenang, misalnya adaptasi terhadap suhu air, kedalaman air, hambatan yang terjadi di air dan hal-hal yang lain yang tidak biasa dihadapi manusia ketika beraktivitas di darat.

Renang pada mulanya dilakukan sebagai sarana untuk mempertahankan hidup atau untuk mencari nafkah karena keadaan masyarakat yang berada di wilayah perairan. Masyarakat yang tinggal di lingkungan perairan memaksa harus berada pada lingkungan air dan harus hidup dari lingkungan air pula, bagi masyarakat yang berada di lingkungan perairan aktivitas diair ini dipakai sebagai aktivitas ritual dengan maksud dan tujuan untuk dapat mempertahankan hidup dengan mencari nafkah yang digunakan sebagai alat transportasi. Renang merupakan salah satu aktivitas yang sangat baik untuk dilakukan, disamping semua anggota tubuh harus bergerak pengaturan nafas harus dapat dilakukan secara teratur. Melihat dari materi olahraga renang yang termasuk dalam kurikulum pendidikan jasmani maka pendidikan olahraga renang perlu diketahui

(6)

nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Soekarno (1979: 10) mengatakan bahwa untuk belajar berenang membutuhkan keberanian, percaya diri, keuletan dan kontinyuitas. Faktor-faktor tersebut di atas merupakan fakta yang bersifat psikis.

Memperhatikan pendapat para pakar olahraga yang sebagian telah dideskripsikan di atas, maka sangatlah penting untuk menggali dan mendalami nilai-nilai yang terkandung daam olahraga renang. Asumsi yang dibangun tentang kaitan olahraga renang dengan kenyataan manusia yang membutuhkan keseimbangan dikemukakan oleh Muthohir. Pendapat Muthohir (2002: 1) sebagai berikut:

Manusia dibangun oleh domain-domain, yaitu kognitif, motorik, afektif, dan emosional. Dalam menampilkan suatu perilaku atau tindakan, domain tersebut saling berinteraksi dan saling berpengaruh antara satu dan yang lain. Agar manusia tumbuh dan berkembang secara wajar, beberapa domain tersebut harus mendapatkan rangsangan dan perlakuan yang seimbang. Oleh karena itu, manusia dalam menampilkan gerak, khususnya dalam berolahraga, harus dipandang sebagai suatu totalitas sistem, yaitu manusia sebagai sistem bio-psiko-sosio-kultural.

Inilah apa yang dimaksud penulis “kegalauan filosofis”, yang terus-menerus menimbulkan pertanyaan yang menggelitik apakah dalam pendidikan olahraga renang terkandung nilai-nilai filsafati yang tidak saja meliputi aspek jasmaniah, tetapi juga aspek kejiwaan, mental-spiritual yang penting bagi manusia dan bagi perkembangan peradaban manusia.

(7)

2.

R

umusan Masalah.

Pokok-pokok permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Apa hakikat pendidikan olahraga renang?

b. Apa nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan olahraga renang?

c. Apa relevansi nilai-nilai pendidikan olahraga renang dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional?

3. Keaslian penelitian.

Penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu yang membahas secara khusus tentang objek material renang pernah dilakukan oleh:

a. R. Sunardianta, 1993, Faktor-faktor Penghambat dalam Pembelajaran Teknik Crawl bagi Mahasiswa PGSD Penjas. Teknik gerakan yang ada pada renang gaya crawl. Gerakan apa saja yang menurut mahasiswa sulit untuk dikuasai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kesulitan yang paling tinggi adalah gerakan pernafasan, gerakan kaki dan gerakan lengan dan posisi badan. Penelitian ini tidak membicarakan objek formal tetapi hanya membicarakan faktor faktor yang berkaitan dengan hambatan yang terjadi pada waktu belajar menguasai teknik gerakan renang khususnya renang gaya bebas, belum membicarakan masalah objek formal yang berkaitan dengan nilai.

(8)

b. Subagyo, 2003, Perbedaan Hasil Belajar Renang bagi Siswa SMPN 5 Berdasarkan Prosentase Lemak Tubuh dalam Pembelajaran Renang Gaya Crawl. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan hasil belajar renang gaya crawl bagi siswa yang komposisi tubuhnya banyak lemak sehingga mudah mengapung tetapi dalam belajar renang yang lebih berpengaruh adalah penguasaan teknik gerakan. Penelitian ini membahas tentang komposisi tubuh kaitannya dengan belajar renang gaya bebas, komposisi tubuh yang di maksud dalam penelitian ini adalah persentase lemak tubuh, jadi tidak membicarakan objek formal yang berkaitan dengan masalah nilai. c. Sismadiyanto, 2008, Perbedaan Hasil Belajar Renang Kelompok Umur. Perbedaan hasil belajar renang dengan berbagai macam pukulan kaki renang gaya crawl. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar renang dengan memberikan berbagai macam pukulan kaki. Dalam penelitian ini masalah yang dibahas adalah pengaruh dari berbagai fariasi pukulan kaki pada renang gaya bebas, juga belum membahas masalah yang ada kaitanya dengan objek formal yang membicarakan tentang nilai. d. Sumaryanto, 2012, Olahraga dalam Perspektif Aksiologi dan

Relevansinya bagi Pengembangan Karakter Bangsa. Penelitian ini membahas tentang objek material olahraga sebagai bahan kajian dan membahas objek formal tentang aksiologi. Penelitian

(9)

yang dilakukan dikemukakan bahwa olahraga adalah gerak insani yang perlu dikembangkan, sedangkan nilai-nilai yang menonjol dari olahraga meliputi: 1) sportivitas yang tercermin dalam fair play, 2) nilai kedisiplinan, 3) nilai kejujuran, 4) nilai keindahan dan 5) nilai patriotisme.

4. Manfaat Penelitian

Secara umum manfaat penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua macam manfaat yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis (Kaelan 2005 : 235). Manfaat penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Bagi ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi dunia pendidikan khususnya pendidikan renang.

b. Bagi filsafat, penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu filsafat khususnya bidang aksiologi.

c. Bagi bangsa Indonesia, penelitian ini implementasinya dapat digunakan sebagai sarana pemahaman dan pemikiran untuk pengembangan dunia pendidikan yang seutuhnya.

d. Bagi peneliti, hasil penelitian ini akan menambah wawasan peneliti sesuai dengan disiplin ilmu yang digeluti oleh peneliti

B.Tujuan Penelitian. Tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut:

(10)

2. Menganalisis secara kritis dan menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan olahraga renang.

3. Merefleksikan relevansi nilai-nilai pendidikan olahraga renang dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.

C.Tinjauan Pustaka.

Pendidikan dalam pengertian yang umum adalan proses pembentukan kepribadian. Proses pembentukan kepribadian meliputi seluruh aspek kepribadian, yaitu aspek jasmani dan kemampuan kejiwaan. Proses pembentukan kepribadian merupakan proses untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia.

Unsur-unsur pendidikan yang secara esensial yang terkandung di dalamya adalah sebagai berikut :

1. Pendidikan mengandung unsur pembinaan. Pembinaan disini berarti pembinaan kepribadian, pengembangan dalam arti pengembangan kemampuan atau prestasi yang dimiliki untuk dikembangkan. Adanya unsur peningkatan mentalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat melakukan menjadi dapat melakukan, dengan demikian adanya suatu perbuatan perubahan perilaku yang terjadi pada peserta didik. Selain itu dalam pendidikan terkandung tujuan, dengan adanya tujuan maka anak didik harus dapat memenuhi tujuan yang harus diharapkan secara optimal.

2. Kegiatan pendidikan di dalamnya terdapat hubungan antara anak didik sebagai orang yang dididik dan pendidik sebagai orang yang bertugas mendidik. Kegiatan pendidikan terjadi hubungan interaksi antara pendidik dan anak didik. Hubungan tersebut mempunyai fungsi masing-masing.

3. Pendidikan adalah suatu fase yang dapat terjadi sepanjang hayat yaitu pendidikan dapat terjadi dan dapat dilakukan sepanjang waktu

(11)

untuk terjadi proses pembentukan dan pengembangan segenap prestasi manusia sebagai individu dan makhluk sosial.

4. Proses pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Siswoyo 2007: 20).

Soekintaka (2004: 115) menjelaskan bahwa olahraga terdiri dari dua kata yaitu olah dan raga, olah berarti perbuatan, laku, kegiatan. Raga berarti anyaman, rangka atau laku badan, maka olahraga berarti bergerak badan. Aip Syarifuddin (1992: 4), menjelaskan pendidikan jasmani adalah suatu proses melalui aktivitas jasmani yang dirancang dan disusun secara sistematik untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan, meningkatkan kemampuan dan keterampilan jasmani, kecerdasan dan pembentukan watak serta nilai dan sikap yang positif bagi setiap warga negara dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikan olahraga menurut Aip Syarifuddin (1992: 5) meliputi beberapa tujuan sebagai berikut:

1. Membantu perkembangan sistem paru-paru dan jantung 2. Membantu pertumbuhan terhadap tinggi dan berat badan 3. Meningkatkan nilai-nilai disiplin kerjasama, sportif 4. Meningkatkan keterampilan

5. Meningkatkan kesegaran jasmani

6. Menanamkan kegemaran beraktivitas jasmani

Olahraga renang dalam kehidupan manusia termasuk salah satu sarana kegiatan budaya yang penting. Hampir semua kegiatan ritual yang seremonial di Cina selalu mengikutsertakan perlombaan renang. Perlombaan menyeberang sungai selalu diselenggarakan sebagai salah satu bagian upacara ritual yang seremonial (Huizinga, 1990: 78).

Renang pada masa kini merupakan aktivitas yang diajarkan di sekolah sebagai sarana pendidikan Oong Sui Tjiang (1956: 91) menjelaskan bahwa

(12)

renang Romawi dipakai sebagai pendidikan prajurit, sedangkan di Yunani renang dipakai sebagai pendidikan secara umum. Renang sebagai sarana pendidikan umum sehingga manusia secara keseluruhan harus mendapatkan pembelajaran renang apabila renang belum diberikan belum berarti pendidikan belum menyeluruh. Renang sebagai pendidikan prajurit diberikan pada tentara yang baru mendapatkan pendidikan militer untuk kesiapan perang.

Kasiyo (1979: 21) mengemukakan bahwa renang berdasarkan tujuan dapat dibedakan menjadi empat: Pertama, renang pendidikan. Kedua, renang prestasi. Ketiga, renang rekreasi, dan keempat adalah rehabilitasi.

Berenang adalah aktivitas fisik yang dilakukan di air dengan menggunakan anggota tubuh atau sebagian anggota tubuh. Seseorang dengan gerakan-gerakan tubuh di air untuk dapat berpindah-pindah tempat dikatakan berenang. Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 832) berenang adalah aktivitas menggunakan badan, mengapung melintas di air dengan menggunakan kaki dan tangan. Renang gaya adalah gerakan renang yang dilakukan pada saat perlombaan renang dalam kejuaraan renang. Gaya-gaya renang yang diperlombakan dalam kejuaraan renang meliputi gaya-gaya sebagai berikut; gaya crawl atau gaya bebas, gaya back crawl atau gaya punggung, gaya breaststroke atau gaya dada, gaya butterfly atau gaya kupu-kupu.

Berenang dengan gaya-gaya tersebut dapat dilakukan apabila sudah diajarkan terlebih dahulu melalui tahapan-tahapan yang secara khusus dalam metodik mengajar renang.Tahapan-tahapan dalam belajar renang meliputi pengenalan air dan dasar-dasar berenang. Manusia pada prinsipnya bukan

(13)

makhluk air sehingga perlu adanya persiapan secara fisik dan psikologis untuk menghadapi aktivitas di air. Hal ini berbeda dengan ikan sebagai binatang yang hidup di air. Pengenalan air sebagai awal untuk persiapan belajar berenang adalah suatu hal yang harus dilakukan. Pengenalan air ini mempersiapkan kepada yang mau belajar renang secara fisik dan mental. Sukarno (1979: 10), menjelaskan bahwa secara fisik harus dipersiapkan untuk mengenal sifat-sifat air, yaitu; air akan membasahi tubuh, bergerak di air menjadi hambatan, perlu ada keseimbangan bergerak di air, air bersifat tembus pandang, perlu memahami kedalaman.

Sifat-sifat air tersebut harus diberikan agar merasakan bagaimana sifat-sifat air tersebut terhadap tubuh. Bagi yang belum terbiasa karena kesehariannya mandi di rumah menggunakan air hangat tentu saja akan menghadapi kendala kedinginan, maka dari itu pengenalan terhadap suhu air yang ada di kolam perlu diberikan dengan perlahan-lahan sampai anak beradaptasi betul terhadap air yang ada di kolam yang digunakan sebagai tempat melakukan aktivitas renang.

Apa yang dikatakan hambatan apabila berjalan di darat, hambatan akan terasa apabila angin yang datang dari arah berlawanan, sedangkan apabila berjalan di air hambatan akan terasa sekali, baik itu hambatan depan maupun hambatan belakang dan hambatan dari tubuh karena pakaian yang digunakan. Semakin luas permukaan tubuh untuk bergerak ke depan semakin besar hambatan depan yang dihadapi ataupun didapatkan untuk bergerak maju ke depan. Suatu contoh akan dirasakan apabila berjalan ke depan waktu di dalam air akan lebih ringan apabila posisi badan miring atau berjalannya menyamping,

(14)

karena posisi menyamping luas permukaan depannya menjadi lebih sempit dan hambatannya menjadi lebih kecil.

Pengenalan air terhadap terjadinya gelombang mengakibatkan badan menjadi tidak seimbang. Untuk itu menjaga keseimbangan badan di air perlu diberikan kepada anak yang akan belajar berenang. Sebagai contoh anak tidak dapat tenggelam di air yang sebenarnya apabila kedalaman air masih dibawah tinggi badan, karena yang bersangkutan belum dapat menguasai keseimbangan di air.

Air mempunyai sifat tembus pandang yang kadang-kadang dengan kejernihan air segala sesuatu yang ada di dalam air menjadi kelihatan. Membuka mata sewaktu berenang di dalam air inilah yang seharusnya dilakukan sehingga tidak menutup mata atau memejamkan mata sewaktu beraktivitas di dalam air, dengan membuka mata sewaktu berada di air menjadikan dapat mengetahui arah, melihat apa dan sebagainya.

Dasar-dasar berenang yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum belajar gaya renang yang dipakai dalam perlombaan adalah sebagai berikut (Kurnia, 1991: 41) mengadakan latihan pengaturan nafas di dalam air, belajar mengapung dan melakukan latihan meluncur. Ketiga dasar berenang tersebut perlu untuk diberikan penjelasan. Pengaturan pernafasan waktu berenang di air perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Anak yang baru belajar berenang kemudian mendapatkan kendala dalam pernafasan akan menjadi takut dan trauma untuk tidak mau berenang kembali. Untuk itu perlu diberikan tahapan-tahapan bagaimana melakukan pengaturan nafas di air. Pengambilan nafas

(15)

dilakukan sewaktu mulut dan hidung berada di atas permukaan air dan masuk kembali ke dalam air untuk mengeluarkan nafas secara perlahan-lahan, ini harus dilakukan secara berulang-ulang sampai teratur agar terjadi kebiasaan yang teratur bagaimana mengambil nafas dan mengeluarkan nafas sewaktu beraktivitas di dalam air.

Mengapung salah satu unsur yang harus diperhatikan dalam berenang, karena dengan posisi terapung yang baik akan memudahkan sekali untuk bergerak dalam berenang. Sebuah perahu atau kapal karena sudah dalam posisi terapung di air maka diberi tenaga penggerak menjadi mudah bergerak. Kapal yang dalam posisi terapung dengan permukaan depan yang sedemikian rupa dibuat, maka akan memperkecil hambatan depannya, sehingga kapal mudah bergerak. Manusia pada prinsipnya mempunyai titik apung, titik apung manusia berada pada bagian dada. Oleh karena pada bagian dada terdapat rongga udara dalam paru-paru yang mengisi udara residual atau udara yang masih tertinggal dalam paru-paru. Dengan adanya titik apung tersebut, maka pada prinsipnya manusia akan terapung sewaktu di air. Posisi mengapung dapat dibedakan menjadi tiga posisi mengapung yaitu telungkup, telentang dan tegak.

Posisi mengapung tegak merupakan posisi mengapung yang sulit dilakukan, sehingga bagi yang sudah menguasai renang mengambil posisi mengapung telentang atau telungkup, sebaliknya bagi yang belum memahami berenang biasanya langsung mengambil posisi badan tegak. Meluncur adalah pergerakan di air dari satu tempat ke empat yang lain, gerakan meluncur ini dapat terjadi karena beberapa hal. Di dalam berenang gerakan luncuran dapat

(16)

terjadi akibat gerakan dari bagian anggota tubuh baik kaki maupun tangan. Apabila anggota tubuh memberikan aksi gerakan di air maka akan timbul reaksi sesuai dengan aksi yang diberikan.

Gerakan yang dilakukan dalam melakukan renang harus dipikirkan, bagaimana gerakan renang itu dilakukan. Gerakan meluncur supaya terjadi dengan baik dalam arti gerak tersebut efektif dan efisien, maka posisi badan waktu meluncur harus baik pula. Posisi badan yang baik waktu meluncur posisi badan harus sejajar dengan permukaan air. Posisi badan yang sejajar dengan air menjadikan hambatan lebih kecil, akibatnya gerakan yang dilakukan lebih efektif dan efisien.

Nilai berenang berdasarkan tujuan dari orang yang melakukan renang sesuai dengan tujuan melakukan renang dapat dibedakan menjadi beberapa nilai, Kasiyo (1979: 21) dalam bukunya Renang Pola dan Metode menyebutkan bahwa nilai renang berdasarkan tujuannya antara lain :

1. Nilai pendidikan bahwa renang dilakukan sebagai wahana pendidikan khususnya pendidikan jasmani. Salah satu tujuan pendidikan dengan pendidikan jasmani dikembangkan aspek fisik, kognitif, psikomotorik dan afektif dengan demikian renang sebagai salah satu aktivitas dalam pendidikan jasmani dan pendidikan jasmani sebagai bagian dari pendidikan.

2. Renang dilakukan sebagai tujuan prestasi dengan dinilai aktivitas renangnya yang dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan juara. Dengan meningkatkan prestasi dan mengikuti pertandingan untuk mendapatkan juara adalah tujuan dari renang prestasi. Prestasi tidak dapat diperoleh dengan begitu saja tanpa adanya upaya berlatih dan mengikuti pertandingan.

3. Renang rekreasi sebagai aktivitas yang dilakukan sebagai upaya untuk mengisi waktu luang untuk memperoleh kepuasan. Renang sebagai tujuan rekreasi sifatnya juga individu dengan keinginan orang melakukan berenang. Rasa senang kepuasan untuk mengisi

(17)

waktu luang yang sifatnya individu itulah yang menampilkan sifat rekreasi.

4. Renang terapi bahwa aktivitas renang juga dilakukan sebagai upaya untuk terapi atau penyembuhan. Penyembuhan terhadap cidera di kaki umpamanya dengan melakukan aktivitas berenang gerakan tetap dilakukan namun kaki tidak membawa beban dari berat badan sehingga gerakan dapat dilakukan tanpa resiko cidera yang lebih berat. Demikian pula aktivitas renang yang dilakukan sebagai aktivitas yang bertujuan untuk menyembuhkan sakit asma, bagi penderita asma beraktivitas di air sudah mendapatkan suhu yang dingin, selain melawan suhu dingin karena tubuh tertekan oleh tekanan air. Maka upaya pernafasan lebih berat apabila ini dapat diatasi maka akan terjadi perbaikan dari sistim pernafasan.

Renang sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan artinya dengan aktivitas renang diharapkan dapat mengembangkan kemampuan fisiknya dalam arti keterampilan, menumbuhkan keberanian oleh karena manusia tidak terbiasa untuk beraktivitas di air. Manfaat lain dari nilai pendidikan melalui aktivitas berenang adalah anak dapat menjadi percaya diri karena mampu beraktivitas di dalam air, yang berarti tidak sama dengan sebuah benda yang dimasukkan ke dalam air kemudian tenggelam, apabila berat jenisnya melebihi berat jenis air.

D. Landasan Teori

Sebagai ilmu pengetahuan, filsafat memiliki tiga (3) pilar penyangga utama, yakni epistemologi, ontologi, dan aksiologi. Aksiologi dengan demikian merupakan salah satu cabang utama ilmu filsafat. Dalam Encyclopedia Britannia (1987) dikatakan bahwa aksiologi, (dari axio Yunani, "layak", logo, "ilmu"), juga disebut Teori of Value. Secara etimologis aksiologi berarti studi filosofis tentang nilai dalam arti luas. Pat Amerson (2007: 5) menulis:

(18)

Axiology is the branch of philosophy that considers the nature of value and what kinds of things have value. The term derives from the Greek language: axios (worth or value) and logos (study of the nature and properties of, or logic or theory of). Axiologists are broadly concerned with all forms of value, including aesthetic values, ethical values, and epistemic values. In a narrow sense, axiologists are concerned with what is intrinsically valuable or worthwhile—what is desirable for its own sake.

Sejalan dengan itu, Titus, dkk (1986: 96) menandaskan bahwa aksiologi diartikan sebagai kajian tentang hakikat, kriteria, dan status ontologis nilai.

Nilai sebagai salah satu konsep inti dalam pemikiran kefilsafatan, memiliki beberapa pengertian mendasar. Pertama, nilai bukan merupakan benda atau pengalaman, juga bukan merupakan esensi. Nilai adalah sesuatu yang lahir dan muncul sebagai kualitas dari pengembannya. Dalam hal ini, nilai tidak dapat dikatakan sebagai benda atau unsur dari benda, melainkan sifat atau kualitas dari objek tertentu. Kedua, nilai sebelum melekat pada pembawanya merupakan eksistensi yang tidak nyata (Frondizi, 2007: 7-10).

Hal penting dalam pembicaraan tentang teori nilai adalah tentang dasar nilai dan letak nilai-nilai di dalam alam semesta. Dalam hal ini ada dua teori yang menonjol di dalam teori nilai, yaitu teori subjektivisme dan objektivisme (Frondizi, 2007: 19-30). Subjektivisme merupakan suatu paham yang beranggapan bahwa keberadaan nilai tergantung pada kesadaran yang menilai, dengan kata lain sesuatu itu dapat bernilai karena ada subjek yang menilai. Kelompok yang menganut teori ini beranggapan bahwa pernyataan nilai menunjukkan perasaan atau emosi dari suka atau tidak suka. Anggapan tersebut lahir dari aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, mendengarkan musik, melihat matahari terbenam, yang semua itu bernilai karena membangkitkan rasa

(19)

senang dan menimbulkan pengalaman-pengalaman yang disukai manusia, sehingga nilai tidak terletak pada benda-benda tetapi tergantung kepada subjek.

Berbeda dengan teori subjektivisme, teori objektivisme justru mengajarkan bahwa nilai sama sekali tidak tergantung kepada subjek, akan tetapi terletak pada benda-benda atau objek-objek yang memang sudah bernilai. Nilai dianggap sebagai sesuatu yang terletak di luar manusia, oleh karena itu manusia diwajibkan untuk menggali nilai tersebut. Dalam pemahaman penganut teori ini, manusia tertarik dan memperhatikan suatu objek disebabkan karena objek tersebut memiliki nilai, bukan karena ketertarikan atau perhatian manusia yang melahirkan nilai. Nilai dalam hal ini bersifat tetap, mutlak dan tidak berubah.

Ralph Barton Perry dalam tulisannya yang berjudul General Theory Of Value (dikutip dari Kattsoff, 1989: 337-338), mengatakan bahwa setiap objek yang ada dalam kenyataan maupun dalam pikiran dapat memperoleh nilai. Hal ini dapat terjadi jika suatu ketika objek tersebut berhubungan dengan subjek-subjek yang mempunyai kepentingan, maka hal tersebut kemudian mempunyai nilai. Nilai dikelompokkan dalam tiga kriteria kualitas objek yang terdapat pada diri subjek dan membuat objek tersebut bernilai. Kriteria tersebut antara lain, yaitu (1) Intensitas, misalnya anggur. (2) Preferensi, yaitu objek yang lebih baik dari objek yang lain, misalnya air jika anggur lebih disenangi dari pada air. (3) Luas, jika perhatian pada anggur lebih besar dari pada perhatian yang diberikan pada air (Frondizi, 2071: 66)

Salah satu persoalan mendasar dalam aksiologi ialah persoalan hierarki nilai. Ada suatu hierarki nilai dari tingkat lebih tinggi menurun ke tingkat lebih

(20)

rendah yang bersifat apriori. Sejalan dengan itu, Scheler (dikutip dari Frondizi, 2007: 138-139). dalam hal ini membagi hierarki nilai ke dalam empat tahap. Tahap Pertama, tingkatan nilai yang terendah yaitu nilai “kenikmatan” dan “ketidak nikmatan”. Kedua, nilai vital yang tidak tergantung dan tidak dapat direduksi dengan kenikmatan atau ketidaknikmatan. Ketiga, yaitu nilai spiritual. Dalam nilai ini, nilai vital dan nilai kenikmatan harus dikorbankan. Keempat, nilai kekudusan dan nilai profan. Dalam nilai ini, nilai religius tidak dapat direduksi menjadi nilai spiritual, dan memiliki keberadaan khas yang menyatakan diri kepada manusia sebagai hal “yang mutlak”.

Hierarki nilai tidak tergantung pada kemauan manusia, melainkan secara objektif dan seyogyanya memang seperti itu. Hal itu tidak dapat begitu saja diubah oleh manusia menurut kehendak sendiri karena manusia bukan sang pencipta hierarki itu sendiri melainkan hanya dapat menemukan, memahami, dan mewujudkannya.

Manusia dikatakan bertindak benar apabila dapat menghargai nilai yang lebih tinggi. Ada lima macam kriteria yang berbeda dengan preferensi untuk membedakan hierarki nilai aksiologis. Kriteria tersebut adalah; sifat tahan lama, dapat dibagi tanpa mengurangi makna, tidak tergantung pada nilai lain, membahagiakan, dan tidak tergantung pada kenyataan tertentu. Nilai-nilai yang memenuhi kriteria tersebut akan tinggi jenjang hierarkinya.

E. Metode Penelitian

Penelitian di bidang filsafat pada dasarnya berpijak pada gaya inventif yaitu mencari penemuan baru. Penelitian ini bersifat heuristis yaitu aktualisasi

(21)

pemikiran-pemikiran baru (Bakker, 1990: 17). Metodologi penelitian adalah cara untuk memperoleh data dengan kegunaan dan tujuan tertentu. Metodologi mempersoalkan apakah ada kaitan antara kegunaan tujuan suatu penyelidikan dengan metode yang harus dipakai. Filsafat sebagai metode artinya sebagai cara berpikir secara reflektif (mendalam), penyelidikan yang menggunakan alasan berpikir secara hati-hati dan teliti (Tim Dosen Filsafat Ilmu, 2007: 19).

Fungsi metodologi adalah menguji metode yang digunakan untuk menghasilkan pengetahuan yang valid. Metode deskripsi dilakukan dengan diuraikannya objek material penelitian dengan bahasa, karena ada kesatuan mutlak antara bahasa dan pikiran.

Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif bidang filsafat. Penelitian yang sumber datanya berasal dari sumber data yang ada di kepustakaan. Data-data tersebut adalah hasil karya yang sudah ada dari para peneliti yang terkait dengan manusia, nilai-nilai, pendidikan, teori renang, dan teori pembelajaran renang. 1. Sumber Data

Sumber yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu sumber pustaka primer dan sumber pustaka sekunder.

A. Sumber Primer, Sumber data yang berkaitan dengan objek formal. a) Filsafat pendidikan karya Imam Bernadib tahun 1994, 1996, 2002. b) Filsafat pendidikan karya Jalalludin tahun 2009.

c) Filsafat pendidikan Karya Uyoh sadullah tahun 2009. d) Filsafat olahraga karya Husdarto tahun 2010.

(22)

f) Ilmu Pendidikan Karya Dwi Siswoyo tahun 2007. g) Renang Karya Dadeng Kurnia tahun 1991.

h) The Principal of Physical Education karya Jesse Feiring Williams tahun 1954.

i) Homoludens karya Johan Huizinga tahun 1990. j) Teori Pendidikan Jasmani, Sukintaka tahun 2004. k) Practical philosophy of sport, R Scott Kretchmar 1967

l) Foundations of physical education adn sport,Charles A bucher 1995. m) Formalism in Ethics and Non formal Ethics of Value, Roger L.Funk and

Manfred S.Frings 1073.

n) Filsafat Manusia yang ditulis oleh Zainal Abidin tahun 2009. o) Filsafat Manusia yang ditulis Hardono Hadi tahun 1996. p) Filsafat Nilai karya Rosieri Frandisi tahun 2007.

q) Filsafat Nilai karya Rahmat Mulyana tahun 2004.

r) Pengantar Filsafat Pendidikan karya Uyoh Saduloh tahun 2009.

B. Sumber Sekunder

Data sekunder yaitu data yang berkaitan dengan objek material, data berupa buku dan jurnal yang ada hubungannya dengan pokok kajian dalam penelitian:

a) Kinesiology scentific basic of humans motions, Luttgens adn Well 1982. b) Renang, Ong Sioe Tjiang, 1958,

(23)

d) Recreasion and Leisure in Modern Society third edision, Ricard Kraus, 1984.

e) Renang, Kurnia, Dadeng dan Murni, Muhammad, 1991. f) Renang dan Metodik, Sukintoko dan Sukarno, 1983.

g) Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Aip Syarifuddin dan Muhadi, 1991, h) Swimming Faster: A Comprehensive Guide to the Science of Swimming,

Ernest W Maglischo, 1982.

i) Dasar Olahraga: untuk Membina, Pelatih dan Atlet, Soekarman, R., 1989

j) Pendidikan Kesegaran Jasmani, Sudarno, 1991.

k) Asma: Apa dan Bagaimana Pengobatannya? Heru Sundaru, 2002, l) Renang: Tingkat Pemula, David G Thomas., 1998

m) Apllyed Kinesiology and Biomechanics, Jensen, 1983

2. Jalannya Penelitian a. Pengumpulan Data

Pengumpulan data menggunakan sumber-sumber data yang berupa kepustakaan berhubungan dengan semua karya yang secara khusus mengulas pendangan tentang nilai-nilai olahraga. Selain itu sumber-sumber data kepustakaan yang secara khusus bercerita tentang olahraga berenang dalam perspektif aksiologi dan relevansinya dengan sistem pendidikan nasional.

Tahap pengumpulan data penelitian dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

(24)

1) Pembacaan pada tingkat simbolik

Pembacaan dilakukan untuk menangkap sinopsis isi buku, bab-bab yang menyusunnya, sub bab sampai pada bagian-bagian terkecil dalam buku yang dipergunakan sebagai sumber dalam penelitian.

2) Pembacaan pada tingkat semantik

Penelitian mengumpulkan data dengan membaca lebih terinci dan terurai untuk mengungkap esensi data tersebut. Pembacaan pada tahap semantik ini lebih mendahulukan data dari sumber primer dan sekunder yang sekaligus sudah disertai dengan anlisis.

3) Pencatatan pada kartu data yang dapat dilakukan secara; (a) paraphrase, yaitu menangkap secara keseluruhan intisari data kemudian mencatatnya pada kartu data dengan menggunakan kalimat sendiri yang mudah dimengerti; (b) quotasi; yaitu mencatat data dari sumber data secara langsung dan persis karena dianggap dan dipandang penting serta memiliki makna khusus; (c) sinoptik, yaitu mencatat data dari sumber dengan membuat ikhtisar atau ringkasan.

b. Reduksi Data

Tahap ini dimaksudkan supaya data penelitian yang sudah terkumpul direduksi, dipilah mana yang sesuai dan mana yang kurang atau bahkan tidak sesuai. Upaya ini dimaksudkan untuk menajamkan analisis, menonjolkan hal-hal yang penting, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak dibutuhkan, mengorganisasi data yang dibutuhkan agar lebih sistematis tanpa mengubah esensi maknanya. Hal ini dimaksudkan agar dari data yang ada,

(25)

peneliti dapat memperoleh kesimpulan yang bermakna sesuai ciri-ciri obyek formal penelitian.

c. Klasifikasi Data

Tahap ini dimaksudkan agar data kasar yang sudah disaring melalui proses reduksi dapat memberi gambaran tentang obyek material maupun formal penelitian secara lebih sistematis dan terarah.

d. Display Data

Tahap ini dimaksudkan untuk mengorganisasikan data sesuai dengan peta penelitian. Selanjutnya, terhadap data penelitian dilakukan skematisasi berkaitan dengan konteks data tersebut.

3. Analisis Data

Data dianalis dengan menggunkan dua metode utama, yakni hermeneutika dan Heuristika.

a. Hermeneutika

Analisis hermenutika diterapkan untuk mengungkap makna yang substansial sehingga makna tersebut dapat diterapkan pada masa sekarang. Unsur metodis yang digunakan:

1) Deskripsi, artinya data yang terkait dengan objek material dijelaskan dengan seobjektif mungkin.

2) Verstehen adalah langkah awal yang harus dilakukan dalam penelitian filsafat. Kaitannya dengan makna pemikiran filsafat Verstehen bagian untuk mengungkap kembali isi penelitian jikalau ada hubungannya dengan dimensi sejarah. Verstehen berguna untuk

(26)

menghidupkan kembali makna yang terkandung di dalam konsep filosofis.

3) Interpretasi, setelah dilakukan analisis data dengan metode Verstehen, berikutnya sebagai konsekuensi yang dilakukan adalah analisis interpretasi. Metode interpretasi diterapkan untuk mengkaji makna konsep-konsep dan pemikiran filosofis secara sistematis. Dalam tingkat analisis ini, peneliti tidak mengintroduksir ke dalam proses penalaran, pada tingkat analisis interpretasi ini, peneliti mendeskripsikan secara sistematis analisis ini untuk mewujudkan penangkapan makna secara sistematis ke arah terwujudnya konstruksi teoritis.

b. Heuristika

Tujuan dan fungsi dari metode heuristika ini adalah sebagai metode untuk menemukan suatu jalan baru, pemecahan, serta pemikiran baru.

F. Sistematika Penulisan

Disertasi ini dibagi dalam beberapa bab dan beberapa sub bab. Bab pertama adalah pendahuluan terbagi dalam beberapa sub bab, yakni latar belakang masalah penelitian memuat empat hal pokok: permasalahan penelitian, rumusan masalah, keaslian penelitian, dan manfaat penelitian. Sub bab berikutnya tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, dan metode penelitian yang memuat tiga hal pokok yakni sumber data, langkah-langkah penelitian, dan analisis data.

(27)

Bab ke dua berisi ruang lingkup dan persoalan –persoalan dasar firsafat nilai yang terbagi dalam subbab pengertian aksiologi, persoalan pokok aksiologi, hakikat nilai, karakteristik spesifikasi dan status metafisis nilai, hirarki nilai, dan aliran nilai. Bab ke tiga ada hakikat pendidikan olahraga renang yang berisi subbab beberapa pengertian pokok, sejarah pendidikan olahraga renang, prinsip dasar berenang, olahraga renang dalam kompetisi, pengenalan air untuk belajar renang, dasar-dasar berenang, jenis olahraga dalam renang, metode mengajar renang, hakekat olahraga renang. Bab ke empat pendidikan olahraga renang dalam sorotan aksiologi berisi subbab pengaruh renang dalam pertumbuhan tubuh, renang dan aspek-aspek teologis, nilai-nilai pendidikan olahraga renang, hirarki nilai dalam renang, evaluasi kritis terhadap kelebihan dan kekurangan olahraga renang. Bab ke lima relevansi pendidikan olahraga renang dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional berisi subbab pengertian pendidikan nasional, fungsi dan tujuan pendidikan nasional, pendidikan jasmani dan pendidikan olahraga renang, relevansi pendidikan olahraga renang dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Bab ke enam penutup berisi subbab kesimpulan dan saran.

Referensi

Dokumen terkait

pendidikan 37Yo responden menjawab ingin beke{a dan melanjutkan strata dua. Responden kurang berani untuk mengambil resiko memulai sebuah usaha dengan kendala-kendala

The students were reportedly enjoy studying in the Monolingual class and support the use of English–only in their English classes for enhancing learning. In spite of their

Berdasarkan pengamatan kemampuan berbahasa siswa pada siklus 1 telah mengalami peningkatan dari pratindakan walaupun belum mencapai persentase KKM yang telah ditentukan.

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Latar Belakang: Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat

[r]