BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Konsep
Menurut KBBI (2003 : 558) konsep adalah gambaran mental suatu objek, proses atau apapun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Sesuai bahasan dalam penelitian ini, maka ada beberapa konsep yang digunakan yaitu pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa kedua, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa Arab.
2.1.1 Pemerolehan Bahasa dalam perspektif Psikologi
Daulay dalam bukunya yang berjudul Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa (2010:59-60) menyebutkan bahwa pemerolehan bahasa jika dihubungkan dengan psikologi, ada tiga teori yang dapat menjelaskan pemerolehan bahasa pada seorang anak.
1. Teori pemerolehan bahasa yang behavioristik
Menurut toeri ini, struktur linguistik tidak ada yang dibawa sejak lahir. Anak yang baru dilahirkan belum mempunyai “modal” linguistik. Bahkan Brown (1980:68-72) berpendapat bahwa anak lahir ke dunia ini seperti kain putih tanpa catatan-catatan. Lingkungannyalah yang akan membentuknya secara perlahan-lahan dan kemudian dikukuhkan dengan tingkah lakunya. Pengetahuannya berbahasa diperoleh melalui pengalaman dan belajar. Oleh karena itu dapat dikatakan bahasa sebagai
suatu yang dipindahkan melalui pewarisan kebudayaan, sama halnya seperti orang yang belajar mengendarai sepeda(daulay,2010:60).
2. Teori bahasa yang mentalistik
Teori ini mengungkapkan bahwa anak yang baru lahir sudah mempunyai potensi berbahasa. Potensinya ini akan menentukan struktur bahasa yang akan digunakan selanjutnya. Menurut teori ini, ujaran anak-anak dapat dipengaruhi oleh kaidah-kaidah yang didengarnya.
3. Teori pemerolehan yang kognitivistik
Teori ini berpendapat bahwa kapasitas kognitif anak mampu menemukan struktur dalam bahasa yang didengar di sekelilingnya. Pemahaman dan produksi serta komprehensi bahasa pada anak dipandang sebagai hasil proses kognitif yang secara terus menerus berkembang dan berubah.
2.1.2 Pemerolehan Bahasa Kedua
(Chaer,2003:242) menyebutkan bahwa proses pemerolehan bahasa kedua (B2) setelah seorang kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya (B1). Untuk masalah yang dibicarakan ini ada pakar yang menyebut dengan istilah pembelajaran bahasa (language learning) dan ada pula yang menyebut pemerolehan bahasa
(language acquisition)kedua. Menurut KBBI (2008:30) pembelajaran adalah proses,
cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Adapun pengajaran adalah proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan. Sesuai dengan bahasan
pada penelitian ini maka penelitian ini tidak membahas bagaimana proses pengajaran akan tetapi membahas proses pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa kedua pada santri kelas 1 MTs Pesantren Modern Nurul Hakim Tembung Tahun Ajaran 2010/2011 .
Digunakannya istilah pembelajaran bahasa karena diyakini bahwa bahasa kedua dapat dikuasai hanya dengan proses belajar, dengan cara sengaja dan sadar. Hal ini berbeda dengan penguasaan bahasa pertama atau bahasa ibu yang diperoleh secara alamiah , secara tidak sadar di dalam lingkungan keluarga pengasuh kanak-kanak itu. Bagi mereka yang menggunakan pemerolehan bahasa kedua (ketiga,dan seterusnya) beranggapan bahwa bahasa kedua itu juga merupakan sesuatu yang dapat diperoleh, baik secara formal dalam pendidikan formal, maupun informal dalam lingkungan kehidupan.
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa
Berbagai faktor, variabel, dan kendala menentukan berhasil tidaknya pembelajaran bahasa kedua. Adapun faktor yang banyak dibicarakan orang karena berkaitan dengan keberhasilan pembelajaran bahasa kedua seperti yang diungkapkan Chaer (2009:251)berikut ini :
a. Faktor Motivasi
Dalam pemerolehan bahasa kedua ada asumsi yang menyatakan bahwa orang yang dalam dirinya ada keinginan, dorongan atau tujuan yang ingin dicapai dalam belajar bahasa kedua cenderung akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang
belajar tanpa dilandasi oleh suatu dorongan, tujuan, atau motivasi itu. Lambert dan Gardner (1972), Brown (1980), dan Ellis (1986), juga mendukung pernyataan bahwa belajar bahasa akan lebih berhasil bila dalam diri pembelajar ada motivasi tertentu itu. Dalam kaitannya dengan pemerolehan bahasa kedua, motivasi itu mempunyai dua fungsi, yaitu
(1) fungsi integratif dan (2) fungsi instrumental.
Motivasi berfungsi integratif kalau motivasi itu mendorong seseorang untuk mempelajari suatu bahasa karena adanya keinginan untuk berkomunikasi dengan masyarakat penutur bahasa itu atau menjadi anggota masyarakat bahasa tersebut. Dan motivasi berfungsi instrumental adalah kalau motivasi itu mendorong seseorang untuk memiliki kemauan untuk mempelajari bahasa kedua itu karena tujuan yang bermanfaat atau karena dorongan ingin memperoleh suatu pekerjaan atau mobilitas sosial pada lapisan atas masyarakat tersebut.
Para santri dalam memperoleh bahasa Arab di pesantren modern Nurul Hakim memiliki motivasi berfungsi intgratif dan motivasi berfungsi instrumental. Keinginan untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab merupakan motivasi berfungsi integratif, dan keinginan mendapatkan hadiah dan takut dihukum merupakan motivasi berfungsi instrumental.
b. Faktor usia
Ada anggapan umum dalam pemerolehan bahasa bahwa anak-anak lebih baik dan lebih berhasil dalam pemerolehan bahasa kedua dibandingkan dengan orang
dewasa (Bambang Djunaidi,1990).Anggapan ini telah mengarahkan pada adanya hipotesis mengenai usia kritis atau peroide kritis (Lenneberg,1967; Oyama 1976) untuk belajar bahasa kedua. Sejumlah argumen dari segi biologis, kognitif,
dan afektif telah dikemukakan oleh sejumlah pakar untuk mendukung hipotesis itu. Seperti oleh Penfield dan Roberts(1959) untuk argumentasi biologis, Rosansky(1975) dan Krashen (1975) untuk argumentasi kognitif;dan Taylor (1974) dan Schuman (1975) untuk argumentasi afektif.
c. Faktor Penyajian Formal
Yaitu tipe penyajian yang berlangsung secara formal di dalam kelas dengan guru, dengan kesengajaan, dan dengan berbagai perangkat formal pembelajarannya, seperti kurikulum,metode, guru, media belajar, materi pembelajaran, dan sebagainya.
Pemerolehan bahasa kedua dengan penyajian formal sering didapati di sekolah-sekolah dan tempat-tempat kursus bahasa. Proses pemerolehan bahasa kedua yang demikian sudah diatur oleh penyaji dengan metode dan kurikulum yang sedemikian rupa. Pemeroleh hanya menerima apa yang sudah ditetapkan oleh penyaji, penyampaiannya terkesan monoton dan membosankan sehingga hasil yang didapat terkadang kurang maksimal karena tingkat kesadaran berbahasa yang dihasilkan tidak tumbuh dengan baik. Tingkat kesadaran berbahasa kedua itu akan tumbuh jika ada motivasi yang besar dalam diri seseorang dalam pemerolehan bahasa kedua. Kemauan atau keinginan adalah istilah yang tepat untuk motivasi dalam diri
manusia. Pemerolehan bahasa Arab secara non formal akan lebih menumbuhkan motivasi dalam diri manusia.
d. Faktor Bahasa Pertama
Para pakar pembelajaran bahasa kedua pada umumnya percaya bahwa bahasa pertama (bahasa ibu atau bahasa yang lebih dahulu diperoleh) mempunyai pengaruh terhadap proses penguasaan bahasa kedua pembelajar (Ellis, 1986: 19)
e. Faktor Lingkungan
Dullay(1985:14) menerangkan bahwa kualitas lingkungan bahasa sangat penting bagi seorang pembelajar untuk dapat berhasil dalam mempelajari bahasa baru(bahasa kedua). Yang dimaksud dengan lingkungan bahasa adalah segala hal yang didengar dan dilihat oleh pembelajar sehubungan bahasa kedua yang sedang dipelajari(Tjohjono,1990).
Lingkungan yang berbahasa dapat memudahkan pemerolehan bahasa kedua. Seperti yang terdapat pada dunia pesantren, para santri diwajibkan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab atau bahasa Inggris setiap harinya. Para guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dikelas juga menggunakan bahasa tersebut, Bahkan seluruh bentuk tulisan disesuaikan dengan bahasa Arab atau bahasa Inggris. Sehingga tidak ada celah bagi para santri untuk berkomunikasi selain dengan bahasa tersebut. Situasi dan kondisi yang dihasilkan oleh pesantren sangat memungkinkan seseorang untuk cepat menguasai bahasa kedua. Karena lingkungan
pesantren secara tidak langsung membiasakannya untuk selalu menggunakan bahasa kedua yaitu bahasa Arab ataupun bahasa Inggris.
2.1.4 Aspek-aspek Pemerolehan Bahasa Kedua.
Cakrawala (2007 : 2) dalam artikelnya yang berjudul pemerolehan bahasa kedua menyebutkan bahwa ada beberapa aspek yang harus diperhatikan ketika memutuskan untuk mempelajari bahasa kedua:
1. Kemampuan bahasa.
Biasanya apabila seseorang memutuskan untuk mempelajari bahasa kedua secara formal, ia akan melalui tes kemampuan bahasa atau language aptitude test yang dilakukan oleh lembaga kursus bahasa untuk menilai kecakapan/bakat bahasa yang dimiliki oleh orang tersebut. Tes ini terbukti cukup efektif untuk memprediksi siswa-siswa mana yang akan sukses di dalam pembelajaran bahasa kedua. Meskipun demikian masih terdapat perbedaan pendapat mengenai kemampuan bahasa atau
language aptitude itu sendiri. Apakah kemampuan bahasa itu merupakan suatu
kesatuan konsep, suatu properti organik di dalam otak manusia atau suatu komplek faktor termasuk di dalamnya motivasi dan lingkungan. Penelitian mengenai kemampuan bahasa atau language aptitude sering dikritik karena tidak relevan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh para siswa di sekolah-sekolah bahasa yang harus berusaha sekuat tenaga untuk menguasai bahasa kedua terlepas dari apakah mereka memiliki bakat atau tidak untuk hal tersebut. Apalagi penelitian menemukan bahwa kemampuan bahasa atau language aptitude itu tidak dapat diubah.
Tes kemampuan bahasa atau language aptitude test tidak dilakukan secara khusus di lingkungan pesantren. Untuk mengukur kemampuan mereka berbahasa Arab, para pengurus bahasa mengadakan perlombaan-perlombaan secara berkala. Seperti mengadakan cerdas cermat bahasa, perlombaan pidato dalam bahasa Arab, Mengadakan lomba baca berita dan iklan, Mengadakan perlombaan pidato dalam bahasa Arab yang dilakukan setiap setiap bulan secara bergantian. Dari perlombaan-perlombaan itu akan diketahui siapa saja santri yang mempunyai bakat dalam berbahasa. Dari hasil usaha mereka, para pengurus bahasa memberikan reward yang sesuai.
2. Usia.
Sebagian besar masyarakat umum masih meyakini bahwa untuk belajar bahasa kedua akan lebih baik dilakukan ketika masih anak-anak. Belajar bahasa kedua ketika telah dewasa akan terasa lebih sulit. Tetapi penelitian-penelitian yang telah dilakukan mengenai hal ini gagal untuk membuktikan kebenaran keyakinan masyarakat umum tersebut.
Mereka yang mulai belajar bahasa kedua ketika telah dewasa tetap dapat mencapai tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Penelitian-penelitian yang dilakukan mengenai hal ini hanya mampu menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang belajar bahasa kedua ketika telah dewasa tidak mampu merubah aksen mereka seperti aksennya penutur asli, aksen orang dewasa adalah aksen bahasa pertama yang sulit untuk dirubah.
program pembelajaran bahasa kedua yang diberikan berupa immersion/ pembelajaran bahasa kedua dengan terjun langsung di lingkungan penutur asli, orang dewasa cenderung lebih cepat memperoleh bahasa kedua dibandingkan dengan anak-anak, hal ini dikarenakan otak orang dewasa berfungsi lebih sempurna dibandingkan dengan otak anak-anak dan orang dewasa memiliki lebih banyak pengalaman berbahasa dibandingkan dengan anak-anak.
3. Strategi yang digunakan.
Penggunaan strategi yang efektif sangat penting agar pembelajaran bahasa kedua dapat berhasil. Secara umum strategi pemerolehan bahasa kedua dibagi menjadi dua yaitu strategi belajar dan strategi berkomunikasi.
Strategi belajar adalah strategi yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar bahasa kedua, seperti penggunaan kamus atau penggunaan TV kabel untuk menangkap siaran-siaran TV yang menggunakan bahasa kedua. Sedangkan strategi berkomunikasi adalah strategi yang digunakan oleh siswa kelas bahasa kedua dan penutur asli untuk dapat saling memahami ketika terjadi kebuntuan di dalam berkomunikasi di antara mereka karena kurangnya akses terhadap bahasa yang benar, misalnya dengan menggunakan mimik dan gerakan tangan.
Strategi pemerolehan bahasa kedua yang dilakukan para santri dipesantren sanagat unik untuk diteliti. Karena mereka tidak dibolehkan menggunakan alat-alat elektronik seperti CD, TV kabel, Tape, dan yang lainnya secara pribadi, maka mereka berusaha dengan cara yang lain. Ide-ide cemerlangpun tumbuh dari mereka. Ada yang mulutnya selalu komat-kamit menghafal kosakata seperti membaca “mantra”,
membuat kelompok-kelompok bahasa dengan teman-temannya, dan lain sebagainya. Kondisi tersebut membuat mereka lebih kreatif dalam memperoleh bahasa kedua. 4. Motivasi.
Secara sederhana motivasi dapat diartikan sebagai mengapa seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu, berapa lama ia rela melakukan aktivitas tersebut dan sejauh mana usaha yang dilakukannya. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan mengenai motivasi menunjukkan bahwa motivasi terkait erat dengan tingkat keberhasilan seseorang di dalam pembelajaran bahasa kedua. Pelajar yang memiliki motivasi yang kuat akan sukses dan kesuksesan yang diperolehnya itu akan semakin meningkatkan motivasinya. Motivasi bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, tetapi sangat dipengaruhi oleh umpan balik dan lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi adalah tehknik instruksi yang digunakan oleh guru.
2.1.5 Metode pemerolehan Bahasa Kedua.
Masih menurut Cakrawala (2007 : 3) ada banyak metode atau cara yang dapat digunakan untuk mempelajari bahasa kedua. Metode atau cara yang dipilih akan tergantung pada seberapa cepat dalam menguasai bahasa kedua itu, dimana kita tinggal dan berapa banyak dana yang dapat kita alokasikan untuk mencapai tujuan kita tersebut. Gabungan dari beberapa metode atau cara di bawah ini tentunya akan memberikan hasil belajar yang lebih optimal dibandingkan dengan hanya menggunakan salah satu metode saja. Berikut ini metode atau cara yang digunakan untuk mempelajari bahasa kedua menurut cakrawala
1. Pembelajaran di dalam kelas.
Ketika kita melaksanakan pembelajaran bahasa kedua di dalam kelas, kita dibantu oleh guru yang senantiasa dapat memberikan materi, dorongan dan umpan balik serta dapat menjadi lawan untuk mempraktekkan kemampuan bahasa kedua kita. Agar dapat menyelenggarakan pembelajaran bahasa kedua yang baik di dalam kelas, guru membutuhkan sumber-sumber pembelajaran bahasa yang otentik. Ini terutama dibutuhkan ketika kita mempelajari bahasa kedua di negara kita sendiri. Sumber-sumber pembelajaran bahasa yang digunakan harus otentik dalam hal lafal, intonasi, aksen dan idiom. Tanpa adanya sumber-sumber pembelajaran bahasa seperti itu, akan sangat sulit bagi seorang guru bahasa kedua untuk dapat menyampaikan perasaan dan fikiran orang-orang yang menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa pertamanya. Untuk itu ketika mengajar, para guru bahasa kedua sebaiknya hanya menggunakan rekaman suara yang dituturkan oleh penutur asli. Bahan-bahan pengajaran visual seperti video atau film juga harus menampilkan kebudayaan orang kedua yang otentik. Jangan menggunakan video atau film yang hanya menampilkan keindahan negara penutur bahasa kedua, tetapi tidak ada kaitannya dengan masalah kebudayaan orang penutur bahasa kedua. Video atau film seperti itu biasanya ditujukan hanya kepada para turis saja.
Selain itu guru/pihak sekolah dituntut untuk mampu menyediakan koran dan majalah dalam bahasa kedua karena merupakan dua sumber bacaan yang valid dan selalu memberikan informasi terkini mengenai kebudayaan orang kedua.
Metode ini dapat dilakukan dengan cara membeli CD atau DVD pembelajaran bahasa kedua yang banyak di jual di toko-toko buku/kaset atau dapat dipesan online melalui Internet. Kelemahan mendasar dari metode belajar ini adalah tidak adanya guru yang mendampingi, sehingga ketika siswa perlu bertanya, tak ada seorang pun yang dapat menjawab. Namun demikian CD atau DVD pembelajaran bahasa kedua sekarang ini telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar sendiri. Keberhasilan siswa di dalam pembelajaran bahasa kedua dengan menggunakan metode ini akan sangat tergantung pada tingkat keseriusan siswa di dalam belajar dan kualitas CD atau DVD pembelajaran bahasa kedua yang siswa beli.
Namun pembelajaran dengan menggunakan CD ini tidak dapat dilakukan oleh pemeroleh bahasa kedua. Seperti yang terjadi pada para santri di pesantren, mereka tidak dibolehkan menggunakan CD atau alat-alat elektronik lainnya karena dikhawatirkan dapat disalahgunakan.
Para santri mempunyai cara sendiri dalam memperolehan bahasa Arab, Mereka memiliki buku notes untuk menulis setiap kosakata yang mereka dapat setiap harinya. Selain itu mereka dapat membaca berita-berita yang berbahasa Arab pada koran berbahasa Arab yang telah disediakan oleh pihak pesantren. Cara lain yang mereka gunakan adalah dengan membuat kelompok-kelompok diskusi, sehingga mereka terbiasa menggunakan bahasa Arab setiap harinya.
3. Pertukaran bahasa.
Belajar bahasa kedua dengan menggunakan metode ini menuntut siswa untuk mencari penutur asli bahasa kedua yang sedang dipelajarinya dan yang ingin
mempelajari bahasa ibu atau bahasa pertama siswa tersebut, sehingga keduanya dapat saling mengajari bahasanya masing-masing. Hal ini dapat dilakukan dengan mengakses beberapa situs di Internet yang menyediakan jasa tersebut. Alternatif lain dari metode ini adalah dengan mencari penutur asli sebagai teman berkorespondensi. Seorang guru bahasa kedua harus mendorong siswanya untuk berkorespondensi dengan orang penutur bahasa kedua.
Dengan berkorespondensi siswa dapat banyak berlatih bagaimana menulis dengan konteks situasi-situasi keseharian. Selain itu siswa akan dapat bertukar fikiran dengan penutur asli bahasa kedua, memahami sikap dan perilakunya yang merupakan gambaran dan budayanya. Korespondensi juga dapat memberikan motivasi kepada pelajar untuk melakukan perjalanan keluar negeri yang merupakan metode belajar yang terakhir.
Didalam lingkungan pesantren biasanya terdapat penutur asli yang sengaja didatangkan oleh pihak pesantren untuk membantu dalam pemerolehan bahasa kedua khususnya bahasa Arab. Seperti yang terdapat pada pesantren modern Nurul Hakim Tembung. Penutur bahasa Arab asli yang berkebangsaan Mesir menetap selama beberapa di pesantren tersebut, sehingga kegiatan-kegiatan pemerolehan bahasa Arab berjalan dengan baik.
4. Melakukan perjalanan dan tinggal selama beberapa waktu di luar negeri.
Dengan melakukan perjalanan ke luar negeri atau bahkan berkesempatan untuk tinggal selama beberapa waktu di luar negeri, siswa akan dapat memahami budaya orang-orang setempat. la dapat melihat dan menyadari persamaan maupun
perbedaan antara kebudayaan bangsanya dan kebudayaan bangsa yang bahasanya sedang ia pelajari. Selain itu perjalanan keluar negeri juga akan membuat siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa kedua dengan lebih baik dibandingkan dengan hanya mengandalkan pembelajaran bahasa kedua di dalam negeri saja, karena di lingkungan barunya ini siswa menemukan tak seorang pun mampu menggunakan bahasa pertamanya, sehingga ia "terpaksa" harus senantiasa menggunakan bahasa kedua untuk dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya agar dapat bertahan hidup.
Melakukan perjalanan dan tinggal selama beberapa waktu di luar negeri dapat dilakukan saat liburan, para santri di pesantren yang mempunyai orang tua yang berkecukupan dapat melakukan ibadah umrah atau wisata keluar keluar negeri. Kemampuan berbahasa Arab yang dimilikinya dapat diperaktekkannya langsung dengan penutur asli di negara tempat mereka berkunjung. Mereka akan mendengar langsung bagaimana bahasa Arab tersebut dituturkan oleh penutur aslinya.
Akan tetapi melakukan perjalanan keluar negeri ini tidak dapat dilakukan oleh banyak orang, karena membutuhkan materi yang tidak sedikit. Namun apabila hal ini dilakukan akan mendapatkan hasil pemerolehan bahasa Arab yang lebih baik.
Terampil dalam empat ketrampilan bahasa yang berbeda yaitu berbicara dan menulis (keterampilan aktif) serta mendengar dan membaca (keterampilan pasif) merupakan tujuan akhir dari setiap pembelajaran bahasa kedua.
2.1.6 Psikolinguistik
Secara etimologi psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan linguistik yaitu dua bidang ilmu yang berbeda namun keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya, hanya materinya yang berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa,sedangkan psikologi mengkaji prilaku berbahasa atau proses berbahasa. Psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya ketika berkomunikasi dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh manusia.(Slobin,1974;Meller 1964,Slama Cazahu 1973).
Maka secara teoritis tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya. Dengan kata lain psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam penuturan itu. Dalam prakteknya psikolinguistik mencoba menerapkan pengetahuan linguistik dan psikologi pada masalah-masalah seperti pengajaran dan pembelajaran bahasa, pengajaran membaca permulaan dan membaca lanjut , bahasa kedua dan sebagainya.
Dasar-dasar psikolinguistik menurut beberapa pakar dalam buku yang berjudul Psycholinguistic:A Survey of Theory and Reseach Problem pada tahun 1954 yang disunting Osgood dan Seboek yaitu:
1. Psikolinguistik adalah satu teori linguistik berdasarkan bahasa yang dianggap sebagai system elemen yang saling berhubungan erat.
2. Psikolinguistik adalah satu teori pembelajaran (menurut teori behaviorisme) berdasarkan bahasa yang dianggap sebagai suatu system tabiat dan kemampuan yang menghubungkan isyarat dengan prilaku.
3. Psikolinguistik adalah teori informasi yang menganggap bahasa sebagai sebuah alat untuk menyampaikan suatu benda.
Dengan perkembangan ilmu psikolinguistik Mehler dan Noizet dalam artikelnya “ Vers une Modelle Psycholinguistic du locuteur” Yang dimuat dalam
Textes Pour Une Psycholinguistique (Paris ,1974) menerangkan tiga generasi teori
psikolinguistik yaitu:
a. Teori Psikolinguistik Generasi pertama
Teori psikolingistik generasi pertama oleh C Osgood dan T Sebeok menitik beratkan pada teori aliran behaviorisme atau teori perilaku. Teori ini mengidentifikasikan bahasa sebagai satu sistem respon yang langsung dan tidak langsung terhadap stimulus verbal dan non verbal. Orientasi stimulus –respon (aksi- reaksi atau rangsangan –balasan) ini adalah orientasi psikologi.
Tokoh lain dari teori generasi pertama adalah L Bloomfield merupakan ahli linguistik Amerika yang menerima dan menerapkan teori behaviorisme (prilaku) dalam analis bahasa. Berikut beberapa pandangan Bloomfield tentang teori stimulus respon ini:
1. Bahasa adalah salah satu bentuk prilaku. Pernyataan ini menunjukkan bahwa bahasa adalah salah satu fenomena yang dapat ditangkap lewat panca indra yaitu indra pendengaran. Pernyataan ini sama dengan pernyataan bahwa bahasa adalah prilaku (Peri=kata,berperi=berkata dan laku= perbuatan.) Jadi pernyataan Bloomfield ini menyatakan bahwa bahasa adalah Verbal Behavior.
2. Dalam menganalisis bahasa perlu dibedakan tiga peristiwa beruntun sebagai berikut:
a. Peristiwa yang mendahului peristiwa berbahasa atau stimulus pertama, kode S.
b.Respon yang dilakukan terhadap stimulus pertama,salah satu respon adalah prilaku atau perbuatan berbahasa yang berwujud bunyi bahasa, kode r.
c. peristiwa yang terjadi setelah ada respon prilaku diberi kode R 3. Diantara peristiwa a dan c terdapat peristiwa bahas yang terdiri dari respon bahasa terhadap stimulus. Respon bahasa yang berubah menjadi stimulus(kedua) dan akhirnya respon R setelah stimulus (kedua) . Runtun stimulus dan respon itu dapat digambarkan:
S r...s R
Menurut Bloomfield r...s adalah bahasa karena laku yang berupa peri itulah yang ditangkap dengan indra pendengar dan melihat.
Aliran behaviorisme dalam psikologi merupakan aliran empiris , oleh karena
itu mereka menganggap bahwa bahasa merupakan salaha satu wujud tingkah laku manusia yang dinyatakan secara verbal atau dengan kata-kata kalimat-kalimat). Pandangan ini diterapkan dalam proses pemerolehan bahasa, melalui proses pembelajaran.
b. Teori Psikolinguistik Generasi kedua
Teori psikolinguistik generasi kedua dikemukakan oleh Noam Chomsky dan George Miller dengan teori kognitif. Mereka berpendapat bahwa dalam proses berbahasa bukanlah butir-butir bahasa yang diperoleh , melainkan kaidah dan kaidahlah yang diperoleh. Disini orientasi psikologis telah digantikan dengan orientasi linguistik. Beberapa pernyataan G.S Miller dan Noam Chomsky yang tetuang dalam artikel” Some Preliminaries in Psycholinguistics” yang dimuat dalam
American Psycholigist jilid 20 tahun 1985 menyangkut teori ini diantaranya:
1. Dalam komunikasi verbal, tidak semua ciri-ciri fisiknya jelas dan terang dan tidak semua ciri-ciri yang terang dalam ujaran mempunyai representasi fisik. Dengan kata lain tidak semua makna dapat diungkapkan dengan ujaran bahasa.
2. Makna sebuah tuturan tidak boleh dikacaukan dengan apa yang ditunjukkannya. Satu respon yang terpenggal – penggal terlalu menyederhanakan kekayaan makna atau makna secara keseluruhan.
4.Struktur sintaksis sebuah kalimat terdiri dari satuan-satuan yang menentukan interaksi antara makna-makna yang terdapat dalam kalimat tersebut.
5. Jumlah kalimat dan jumlah makna yang dapat diejawantahkan dengan bahasa tidak terbatas jumlahnya.
6. Harus dibedakan antara pendeskripsian sebuah bahasa dan pendeskripsian pemakaian bahasa. Dengan kata lain dalam menganalisis proses berbahasa perlu dibedakan struktur dalam yang menjadi struktu batin penutur dan struktur luar yang merupakan wujud luar dari bahasa.
7. Adanya komponen biologis yang besar untuk menetukan kemampuan berbahasa.
c. Teori Psikolinguistik generasi ketiga
Psikolinguistik generasi ketiga dilahirkan oleh G Werstch dalam bukunya
Two Problems for the NewPsycholinguistics diberi nama New Psycholinguistics atau
Psikolinguistik Baru mempunyai ciri-ciri yaitu:
1. Orientasi mereka kepada psikologi, tapi bukan psikolosi prilaku.
2. Keterlepasan mereka dari kerangka “psikolinguistik kalimat “ dan keterlibatan dalam psikolinguistik yang berdasarkan situasi dan konteks
3. Adanya satu pergeseran dari analisis mengenai proses ujaran yang abstrak(atau persepsinya) kesatu analisis psikologi mengenai komunikasi dan perpikiran.
Ketiga ciri utama dari psikolinguistik generasi ketiga ini menunjukkan telah terjadinya suatu peningkatan kualitatif dalam perkembangan psikolinguistik.
2.2 Kerangka Teoritik
2.2.1 Teori Pembiasaan Klasik dari Pavlov
Teori ini ditemukan secara kebetulan oleh Ivan P.Pavlov (1848-1936), seorang ahli fisiologi bangsa Rusia. Sewaktu beliau meneliti proses pencernaan hewan, dia mendapati seekor anjing keluar air liurnya disaat melihat makanan. Maka beliau ingin melatih anjing itu untuk mengeluarkan air liurnya walaupun tidak diberikan makanan.
Ekperimen Pavlov dengan anjing itu terdiri dari empat elemen terpisah yang selalu muncul dalam teori pembiasaan klasik, yaitu (1) Stimulus yang tidak
dibiasakan(STD) seperti makanan yang membangkitkan reaksi tertentu (2) Respons yang tidak dibiasakan (RTD) seperti mengeluarkan air liur disaat STD muncul; (3) Stimulus yang dibiasakan (SD) seperti bunyi lonceng, yaitu peristiwa yang
sebelumnya tidak membangkitkan reaksi; (4) Respons yang dibiasakan (RD) seperti mengeluarkan air liur jika lonceng dibunyikan, yaitu perilaku yang dilakukan anjing setelah mempelajari stimulus yang dibiasakan.
Menurut teori Pembiasaan Klasik ini kemampuan seseorang untuk membentuk respons-respons yang dibiasakan berhubungan erat dengan jenis sistem yang digunakan. Teori ini percaya adanya perbedaan-perbedaan yang dibawa sejak lahir dalam kemampuan belajar. Respons yang dibiasakan (RD) dapat diperkuat dengan ulangan-ulangan teratur dan intensif. Pavlov tidak tertarik dengan “pengertian” atau “pemahaman” atau apa yang disebut insight(kecepatan melihat
hubungan-hubungan didalam pikiran). Menurutnya RD adalah unit dasar pembelajaran yang paling baik.
2.2.2 Teori Pembiasaan Operan dari Skinner
Teori pembiasaan operan sering disebut juga pembiasaan instrumental diperkenalkan oleh B.F.Skinner sorang ahli psikologi Amerika yang dikenal sebagai tokoh utama aliran neobehaviorisme. Teori ini pun dikenal sebagai aliran neobehaviorisme karena sebenarnya teori ini adalah bentuk baru dari behaviorisme.
Teori tentang pembiasaan operan (operant conditioning) atau pembiasaan instrumental (instrumental conditioning) dijelaskannya dengan percobaan kepada tikus. Dia memasukkan sebuah kaleng makanan di dalam sebuah kotak yang disebutnya kotak skinner, dan di luar kotak terdapat alat untuk menjatuhkan biji-bijian ke dalam kaleng itu. Setiap biji-biji-bijian itu jatuh akan terdengar bunyi “ting” ; dan apabila terdengar bunyi “ting” berarti ada makanan yang jatuh ke dalam kaleng itu. Skinner memasukkan seekor tikus ke dalam kotak tersebut, dan meletakkan sebuah besi. Apabila besi itu tersentuh maka akan jatuhlah makanan ke dalam kaleng, secara kebetulan tikus itu menyentuh besi itu dan makanan pun jatuh ke kaleng. Setelah beberapa lama peristiwa itu sering terjadi maka tikus pun mengetahui bahwa apabila dia menekan batang besi akan jatuh makanan ke dalam kaleng.
Biji makanan itu adalah penguat (reinforcer); peristiwa penekanan batang besi disebut peristiwa penguatan (reinforcing event); munculnya makanan disebut
rangsangan penguat (reinforcing stimulus); sedangkan perilaku disebut perilaku yang dibiasakan (conditioned response).
Skinner menyimpulkan bahwa penguatan (reinforcement) akan selalu menambah kemungkinan berulangnya suatu perilaku. Dikarenakan penekanan memerlukan penguatan yang juga menjadi dasar teori ini,maka teori ini sering disifatkan sebagai model S – R – R yaitu stimulus – respons – reinforcement.
Skinner meyakini bahwa proses pembelajaran yang utama antara binatang dan manusia adalah sama. Bagi skinner, guru merupakan arsitek utama dalam pembentukan tingkah laku siswa agar bertutur sesuai dengan pembelajaran bahasa itu.
Teori ini pernah dicontohkan oleh Travers (Simanjuntak,1987:71)dari pembelajaran bahasa oleh kanak-kanak. Travers mencontohkan bahwa seorang kanak-kanak akan diberi hadiah jika menggunakan kata please .
Berdasarkan teori-teori di atas di dalam lingkungan pesantren teori pembiasaan klasik dari Pavlov dan teori Skinner secara tidak langsung diterapkan. Yaitu seorang santri dibiasakan mengucapkan beberapa kalimat berbahasa Arab yang sifatnya umum dan sering digunakan yaitu mengucapkan salamمﻼّﺴﻟا ﻢﻜﻴﻠﻋ
|
assalamu’alaikum| di saat berjumpa dengan siapa saja, mengucapkanﻼها ﻼﻬﺳو
|ahlan wa sahlan| jika menyambut tamu yang datang,mengucapkan
اﺮﻜﺷ
|syukran|untuk berterima kasih. Mereka juga dibiasakan menggunakan kataﺎﻧأ
ana saya,ﺖﻧ |anta| kamu,ﻢﺘﻧأ
أ
|
antum| kamu (jamak) diucapakan kepada orang yangdihormati,dan lain sebagainya. Selanjutnya pada malam hari akan diumumkan siapa saja dari para santri yang tidak menggunakan kata-kata di atas,dan selanjutnya mereka akan dihukum karena tidak menggunakan bahasa tersebut.
Hukuman adalah penguat (reinforcer), peristiwa penggunaan bahasa Arab tadi adalah penguatan (reinforcing event), adanya hukuman disebut rangsangan penguat (reinforcing stimulus) ,sedangkan perilaku santri disebut perilaku yang dibiasakan (conditioned response).
Menurut Skinner perilaku berbahasa lebih banyak dipengaruhi, atau disebabkan oleh rangsangan (stimulus) dari luar serta pengukuhan (reinforcement) dari rangsangan itu. Dia juga tidak menerima adanya “kepandaian yang dibawa sejak lahir”. Karena dalam pembelajaran berbahasa semata-mata diperoleh sebagai hasil rangsangan dan pengukuhan terhadap rangsangan itu.
Sebagai landasan teori pada penelitian ini penulis menggunakan teori Stimulus – Respons yakni teori pembiasaan Klasik dari Pavlov dan Teori Pembiasaan Operan dari Skinner.
2.3 Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang pemerolehan bahasa Arab secara khusus belum pernah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Mereka cenderung meneliti pemerolehan bahasa asing secara umum. Diantaranya Mulyani (2006) dalam penelitian yang berjudul Pemerolehan Bahasa Asing di Pesantren Modern. Beliau memilih tempat penelitian di pesantren modern Gontor Ponorogo. Adapun bahasa asing yang
ditelitinya adalah bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dalam penelitian ini beliau menemukan bahasa proses pemerolehan bahasa dipesantren dijelaskan dengan beberapa tahap. Tahap pertama adalah proses pemerolehan bahasa asing dengan cara terpimpin, yaitu para santri masih perlu banyak bimbingan dari para senior dan guru-gurunya. Dan tahap kedua secara tidak terpimpin, para santri tidak banyak dibimbing lagi oleh para senior dan guru-gurunya akan tetapi mereka berusaha memperolehnya sendiri dengan arahan-arahan dari senior dan guru-gurunya dan juga dengan menggunakan fasilitas-fasilitas pendukung untuk mengembangkan pemerolehan bahasa asing mereka.
Hayati Chalil(2001) dalam tesis yang berjudul Pemerolehan Past Tens Bahasa Inggris oleh Mahasiswa Jurusan Sastra Universitas Sumatera Utara dan Mahasaiswa English Language Institute Victoria University Melbourne:Studi kasus. Penelitian ini membahas bagaimana past tens dalam bahasa Inggris digunakan oleh pembelajar Indonesia dan non Indonesia, jenis verba past apa yang digunakan, apakah tugas yang berbeda mempengaruhi penggunaan verba past, bagaimana penggunaan verba
past yang benar, bagaimana penggunaan verba past yang tidak benar dan apakah ada
pengaruh lingkungan belajar terhadap sifat bahasa pembelajar.
Arifulhaq (2004) dalam tesis yang berjudul Pemerolehan Sintaksis Bahasa Inggris pada Siswa SMA Negeri 1 Gunung Sitoli. Penelitian ini membahas bagaimana sintaksis bahasa Inggris digunakan oleh para siswa,apakah tugas yang berbeda mempengaruhi penggunaan frase,klausa,kalimat,dan apakah ada pengaruh lingkungan belajar terhadap sifat bahasa para siswa.